Latest Post


Anak sehari-hari memiliki beragam aktivitas serta jenis olahraga yang bermacam-macam seperti bola, tenis, lari dan lainnya. Saat liburan atau waktu kosong coba perkenalkan anak dengan jenis olahraga yang tidak biasa ia temui pada aktivitas sehari-hari.

Fitkids merupakan salah satu jenis olahraga yang mengandalkan berat anak serta memacu anak untuk banyak bergerak. Olahraga ini membantu anak meningkatkan potensi tubuhnya dari sisi power, strength, speed, dan endurance. Kegiatan yang dilakukan dalam Fitkids juga tidaklah sulit bahkan merupakan olahraga yang biasa dilakukan anak sehari-hari seperti berlari, melompat , menarik dan gerakan-gerakan lainnya. Aktivitas yang dilakukan setiap pertemuan pun berbeda-beda sehingga Mama tidak perlu khawatir jika anak Anda mudah merasa bosan. Anda bisa membawa anak mencoba Fitkids.

Anda biasa berolahraga yoga? Tahukah Anda bahwa terdapat banyak hal-hal positif  untuk anak seperti, mengurangi tingkat stress, meningkatkan fokus dan konsentrasi, serta menerapkan cara hidup sehat pada anak. Dengan manfaat-manfaat yang diberikan yoga kepada anak, diharapkan anak dapat berprestasi lebih optimal dan menjadi anak yang lebih sehat. Yuk kenalkan yoga kepada anak.

Olahraga apa sih yang sedang booming diperkenalkan oleh Hollywood? Katniss dari Hunger Games dan Hawkeye dari The Avengers sama-sama menggunakan panah sebagai senjata utama mereka. Mama jangan khawatir dengan kemungkinan anak terluka dengan olahraga panah, karena olahraga ini tidak seseram yang dibayangkan Mama kok. Panah dapat membantu anak melatih disiplin, fokus dan konsentrasi, memanah juga dapat membantu mengontrol emosi serta melatih ketenangan anak. Ajak anak Anda mencoba olahraga panah.Siapa tahu dengan mencoba olahraga panah, anak merasa seperti jagoan karena melakukan kegiatan yang sama dengan idolanya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Apakah anak Mama berperilaku buruk di sekolah, padahal di rumah ia selalu berperilaku baik? Kepribadian ganda seperti itu memang bisa saja terjadi pada beberapa anak. Hal tersebut dapat disengaja oleh anak, namun dapat juga dilakukan secara tidak sadar.

Sayangnya, penyebab terbesar anak berkepribadian ganda datang dari orang tuanya sendiri. Oleh sebab itu, orang tua perlu lebih cermat dalam mengurus anak, agar perilaku anak di rumah maupun di sekolah, dan dimanapun ia berada, adalah selalu perilaku yang positif. Orang tua perlu:

1. Memahami anak.
Sebagai orang tua, mungkin Anda merasa sebagai orang yang paling dekat dengan si kecil. Coba perhatikan lagi, apakah Anda sudah benar-benar memahaminya? Bagaimanakah kepribadian si kecil? Temperamental, easy-going, atau pemalu? Tahukah Anda tentang minatnya, kekuatan dan kelemahannya, serta apa yang ia sukai dan tidak disukai.

2. Meluangkan lebih banyak waktu dengan anak
 sekaligus cobalah mengenal teman sepergaulannya di rumah atau sekolah. Ini dapat memperkuat bonding orangtua dan anak juga, lho.

3. Mengajak anak bersosialisasi.
Ajarkan berperilaku baik di mana saja. Misal berempati ketika ada teman yang sedang sedih, menghormati orang yang lebih tua, tidak menghina atau merendahkan orang lain.

4. Berkomunikasi dengan anak.
Buatlah waktu khusus untuk “curhat-curhatan” dengan anak. Bisa juga dilakukan saat menjelang tidur atau setelah makan malam.

5. Bekerja sama dengan sekolah.
Sesekali tanyakan kepada guru di sekolahnya, bagaimana perkembangan anak, terbukalah dengan guru apa yang menjadi kekhawatiran Anda soal si kecil dan bersama-sama mencari solusinya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Membuat pensil kakak patah, memukul teman karena tak mau berbagi mainan, menjatuhkan bedak mama ke lantai hingga berhamburan, duh… banyak hal dilakukan si kecil yang membuat ia harus minta maaf, kan? Tapi, ternyata tak semudah itu, lho, membuatnya minta maaf. Anak-anak yang pemalu dan lebih pendiam biasanya lebih mudah diajari meminta maaf. Sebaliknya, si pemberani yang lebih keras kepala mungkin lebih sulit bilang maaf.

Minta maaf memang pelajaran berharga yang harus dipelajari anak. Meski tampaknya sepele, minta maaf bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dalam waktu singkat. Anda mungkin bisa membuat anak berkata “maaf” pada temannya saat ini juga, tapi apakah ia menyadari arti maaf yang ia katakan? Lagi pula, minta maaf harus datang dari kesungguhan hati, kan? Karena itu, sebaiknya Anda tidak memaksa anak melakukannya kalau ia memang menolak. Memaksa minta maaf hanya akan membuatnya mengatakan sesuatu yang tidak tulus, sementara kelakuannya belum tentu berubah.

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap orang tua agar anak bersedia minta maaf?

- Beritahu sikapnya yang keliru. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana mengapa sikap itu keliru, dan bagaimana sikap yang seharusnya. Tanpa memahami bahwa sikapnya keliru, anak tidak akan merasa bersalah sehingga tidak merasa perlu minta maaf.

- Ajak ia bicara tentang perasaan dan empati. Ketika ia membuat temannya menangis, tunjukkan betapa yang ia lakukan telah membuat si teman sedih atau terluka sehingga menangis. Meminta maaf akan membuatnya mengerti, si teman bisa terhibur, dan ia sekaligus telah belajar bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan.

- Tunjukkan Anda tetap mencintainya. Biarpun menegur, tunjukkan itu bukan karena Anda tidak menyayanginya, tapi karena sikapnya yang memang keliru. Justru karena sayang, Anda perlu menunjukkan padanya sikap yang baik yang harus ia lakukan.
Kunci untuk membuat ia mengerti mengapa harus minta maaf tetaplah komunikasi yang baik dari Anda. Jadi, buatlah ia mengerti dengan cara yang lembut dan penuh kesabaran.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Anak sudah memiliki rasa percaya diri. Namun, tak jarang orang tua sulit memercayai ke-pede-an seorang anak. Psikolog keluarga dan anak dari Lembaga Psikologi Terapan UI, Anna Surti Ariani menyarankan, orang tua harus memercayai keyakinan anak atas pede dirinya.

Untuk menaruh kepercayaan ini, Anda bisa membuat parameter atau ukuran yang disepakati bersama. Misalnya, melepas anak untuk naik angkutan umum ke sekolah. Banyak orang tua tak mudah melepas anak. Bayangan anak terserempet saat menyeberang jalan, jatuh dari angkutan hingga risiko penculikan. Apalagi jika punya anak semata wayang.

Nah, cobalah buat parameter seperti ini: Apakah angkutan umum memang membuat anak lebih cepat tiba di sekolah daripada memakai mobil jemputan sekolah? Apakah angkutan umum ini cukup aman bagi anak? Sudahkah anak memahami dan menjalankan naik turun angkutan secara benar? Adakah teman untuk pergi naik angkutan umum ini? Atau jika naik ojek, apakah tukang ojek ini bisa dipercaya dan tidak ngebut? Apakah anak mau mengurangi tingkat kekhawatiran orang tua misalnya dengan mengirim SMS atau BBM jika sudah tiba di sekolah atau di rumah? “Jika semua itu terpenuhi dan sepertinya aman-aman saja, orang tua harus memiliki keberanian untuk melepaskannya,” ujar Nina.

Sebaliknya, jika Anda menilai anak belum mampu untuk memenuhi itu semua secara faktanya, tak ada salahnya Anda katakan: “Nak, saat ini bukan waktu yang tepat untuk kamu naik angkutan umum. Nanti akan ada waktunya kamu untuk melakukannya sendiri.”

Penolakan ini bukan kata mati. Sebab, anak akan kecewa dan merasa tidak dipercaya. Pelan-pelan Anda pun perlu mengajarkan hal-hal yang bisa membuat Anda memercayai anak. Sehingga, dia memiliki target untuk mencapainya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget