Latest Post


Tentunya, anak Anda pasti tahu kalau dua tambah dua sama dengan empat. Tapi jika temannya mengatakan “tiga”, apakah anak akan berubah pikiran? Ini cara atasi tekanan pergaulan teman-teman anak.

Studi terbaru dari Jerman menemukan, banyak anak memiliki situasi sama. “Anak ingin diterima dan dapat menyesuaikan diri dengan temannya,” ujar Neil Bernstein, Ph. D., psikologi anak dan ahli orangtua di Washington, DC. Untuk membantu anak menilai opini diri sendiri:

Ketika anak mengeluh bahwa dia bosan, katakan padanya, untuk menyenangkan dirinya sendiri dibandingkan dengan memberikan terlalu banyak ide Anda untuknya. “Anak akan mulai berpikir untuk lebih memikirkan dirinya sendiri,” jelas Bernstein.

Jika anak Anda hebat di bidang kreasi Lego atau akhirnya belajar piano di kelas tertinggi, doronglah dia untuk merasa dihargai. “Menghargai kemampuannya akan membangun kepercayaan dirinya dan membuat dia tidak terlalu tertarik  dan ikut-ikutan dalam pergaulan dengan temannya,” kata Bernstein.

Katakan dan ajak bicara anak Anda, ketika anda merasa sesuatu mengganggu Anda tentunya perihal anak Anda dan temannya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Di sekolah dulu, kita mungkin biasa menghapal pelajaran dengan mengucapkan keras-keras berulangkali materi apa yang ingin kita ingat. Hasilnya, ketika ulangan keesokan harinya, kita masih ingat. Sayangnya, seminggu kemudian semuanya sudah kita lupakan.

Menurut JR Anderson penulis buku Learning & Memory: An Integrated Approach, sekadar mengulang-ulang apa yang ingin kita ingat sebetulnya memang cara yang paling tidak efektif untuk menghapal karena hanya menggunakan sedikit bagian otak. Nah, supaya anak lebih mudah mengingat pelajaran, ada baiknya ia menggunakan sebanyak mungkin bagian otak. Bagaimana caranya?
  
Sebetulnya otak kita tak hanya bisa mengingat serentetan kata. Otak mampu memproses gambar, warna, struktur, bau, rasa, sentuhan, posisi, emosi, dan bahasa. Jadi supaya bisa mengingat, kita perlu mengenali semua ini dari hal yang ingin kita ingat.

Coba beberapa contoh di bawah ini:
  • Proses terjadinya hujan: cari atau buat gambar tentang laut yang menguap menjadi awan sampai awan yang bergerak dan tertiup angin, minta anak untuk mencium bau rumput setelah terjadinya hujan, mencicipi sedikit air hujan, menadahkan tangan untuk tetesan air hujan sambil bernyanyi ‘tik…tik…tik… bunyi hujan…”
  • Perbedaan antara benda hidup dan tak hidup: ajak anak berkeliling rumah sambil menebak apakah benda yang ia temui hidup atau tak hidup, Minta anak memperhatikan karakteristiknya dan menyebutnya keras-keras.
  • Penggunaan huruf besar: Ajak anak membaca buku dan mencari di mana saja huruf besar dituliskan, tanyakan mengapa untuk menulis kata tersebut perlu digunakan huruf besar.
  • Warna pelangi: bisa digunakan jembatan keledai ‘mejikuhibiniu’ (merah jingga kuning hijau biru nila ungu), lihat warna dan bentuk pelanginya, tanya kapan saja pelangi terlihat sambil menunjukkan bukti bahwa hujan baru saja usai,
  • Struktur pemerintahan seperti kecamatan atau kelurahan: ajak anak berjalan-jalan sambil memperhatikan papan nama toko, tugu, atau tanda penunjuk jalan. Tunjukkan tulisan mana yang disebut kecamatan, kelurahan, RW atau RT. Setelah itu minta anak menebak sudah ada di daerah mana kita berjalan.
 Sumber : http://www.parenting.co.id/


Olahraga yang paling favorit, termasuk favorit putra Anda, pastilah sepakbola. Selain menyenangkan, sepakbola mendorong anak aktif bermain bersama teman-teman sebayanya. Jadi, selain bermanfaat bagi fisik, ketrampilan sosial anak pun ikut diasah.
Manfaat Sepakbola untuk Anak:
  • Latihan aerobik yang konsisten bagus untuk jantung.
  • Meningkatkan kecepatan dan keuletan.
  • Fleksibilitas dan koordinasi menjadi lebih baik.
  • Meningkatkan stamina.
  • Lebih berdisiplin.
  • Belajar teamwork.
  • Melatih sportivitas.

Bagaimana Anda tahu anak Anda siap untuk berolahraga?
American Academy of Pediatrics merekomendasikan Anda untuk menunggu anak berumur 6 tahun untuk bermain olahraga tim. Sebagian besar anak di bawah usia 6 tahun tidak mengerti konsep permainan tim. Untuk anak yang lebih tua, Anda bisa memutuskan berdasarkan perkembangan fisik dan emosi mereka serta minat terhadap olahraga tersebut. Dokter anak Anda bisa ikut membantu Anda memutuskan. Yang jelas, risiko cidera lebih besar jika Anda mendorong anak ikut berolahraga padahal mereka belum siap atau mereka tidak berminat.

Sumber:  http://parentsindonesia.com/


Siap menerjang kerumunan orang saat musim diskon di mal? Pertama, belajarlah cara menjaga anak Anda tetap aman selama Anda berbelanja.

Anda tidak akan pernah membiarkan anak di dalam mobil tanpa sabuk pengaman, tapi bagaimana ketika di dalam kereta belanja? Anda selalu menggandeng tangannya saat menyeberang jalan, tapi seberapa sering Anda meraih tangannya saat naik eskalator di mal? Berbicara tentang keamanan anak, kita mudah cemas menghadapi ancaman-ancaman yang besar dan nyata, seperti kecelakaan mobil, penarikan mainan, dan alat-alat berbahaya di taman bermain. Alasannya jelas, semuanya sering bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa banyak anak. Namun jalan-jalan di mal bisa berisiko mengakibatkan cedera parah saat perhatian orang tua kerap terpecah sementara anak-anak penasaran melihat lift, eskalator, serta barang-barang pajangan. Kami bertanya kepada ahli bagaimana cara mengendalikan empat area berbahaya ketika Anda dan si kecil pergi ke mal.

Pajangan di Toko

Pajangan yang menjulang tinggi, seperti di toko-toko perkakas, bisa menjadi ancaman. Tapi pajangan yang relatif pendek juga bisa berbahaya. Jennifer Keller dari Mesa, Arizona, mengalami hal itu ketika dia dan temannya ke toko kacamata. Rupanya, rak pajangan di sana hanya terbuat dari tiang-tiang renggang dipenuhi beban kacamata. “Putra teman saya bersandar ke salah satu rak dan rak itu jatuh,” katanya. “Kacamata menimpa kakinya dan dia menjerit sangat keras.”  Untung, putranya tidak mengalami cedera serius.

Strategi keamanan:

Bermain aman. Jangan biarkan anak Anda menyentuh barang yang dipajang. “Tidak semua toko mengamankan manekin dan pajangan mereka,” kata Denise Dowd, MD, kepala pencegahan cedera di Children’s Mercy Hospitals and Clinics, Kansas City, Missouri. “Ini berarti benda-benda itu mudah rubuh.”

Cegah keinginan mengeksplorasi. Anak Anda mungkin berpikir bahwa merangkak di bawah pajangan atau rak pakaian itu menyenangkan, tapi dia bisa tidak sengaja menariknya sehingga semua benda jatuh menimpa dia. Dan, jangan biarkan dia mencoba meraih sesuatu di atas konter dan kepalanya mendongak, karena dia bisa terpentok atau mejanya terguling.

Eskalator

Anak-anak yang masih kecil kerap takut terhadap eskalator, dan itu wajar saja: Sekitar dua ribu anak-anak, kebanyakan balita, cedera akibat eskalator setiap tahunnya. Kebanyakan disebabkan oleh jatuh, dan sisanya karena tangan, kaki, atau pakaian anak terperangkap di bagian eskalator yang bergerak. Sementara sebagian luka tergolong kecil, misalnya tergores dan memar karena jatuh, cedera yang disebabkan terperangkap bisa merusak kaki anak, bahkan memerlukan amputasi.

Strategi keamanan:

Pegang tangan anak Anda agar bisa menuntunnya naik dan turun dari eskalator, dan pastikan jari-jarinya tidak menyentuh pegangan eskalator.

Katakan kepada anak untuk diam dan menatap ke depan. Jika dia duduk di tangga, jari-jari dan kakinya akan berada lebih dekat dengan bagian eskalator yang berputar.

Punya stroller? Gunakan lift. “Hanya dua roda yang bisa muat di satu tangga,” kata Karen Sheehan, MD, direktur medis di Injury Prevention and Research Center di Children’s Memorial Hospital, Chicago. “Jika ada orang di atas atau di bawah menabrak Anda, Anda akan mudah kehilangan kendali terhadap stroller.” Bila Anda harus naik eskalator, minta bantuan seseorang untuk menaikkan stroller dan menahannya selama eskalator bergerak.

Periksa pakaian anak Anda. Pastikan tali sepatunya terikat kencang, dan jangan biarkan dia menyeret mantel atau syal di lantai. Apabila pakaian yang longgar tersangkut di eskalator, dia bisa ikut tertarik. Bila anak Anda terperangkap, tekan tombol emergency stop (biasanya ada di atas atau di bawah eskalator) atau berserulah kepada seseorang untuk melakukannya apabila Anda tidak berada di dekat tombol tersebut.

Kereta Belanja

Membiarkan anak di dalam kereta belanja terlihat praktis, bukan berbahaya. Tapi, menurut American Academy of Pediatrics, kecelakaan yang terjadi sehubungan dengan kereta belanja mengakibatkan hampir 21 ribu anak balita masuk ke UGD setiap tahun, kebanyakan cedera kepala dan leher. Sebagian masalah terletak pada rancangan kereta belanja yang tidak seimbang. “Kereta itu berat dan lebar di bagian pegangan dan menjadi lebih ringan seiring dengan menyempitnya keranjang,” kata Dr. Sheehan. “Bila anak Anda berdiri di atas kereta belanja atau bertengger di sisi ataupun di bagian belakang kereta, dia bisa mudah tergelincir.”
 
Strategi keamanan:

Biarkan anak di luar kereta. Ikat dia di kursi yang bisa dilipat di dalam kereta belanja (pastikan sabuk pengamannya berfungsi). Apabila ada, lebih baik pilih kereta belanja yang bisa mendudukkan anak di depan dan posisinya cukup rendah. Sebagian kereta dirancang seperti mobil atau truk sehingga pembelanja kecil kita akan dengan senang hati duduk diam. Bila anak Anda terjatuh, setidaknya dia tidak akan mengalami cedera serius.

Jangan izinkan anak Anda bertengger di tepi atau di bagian belakang kereta. Membiarkan anak mendorong kereta belanja juga bisa mengarah ke kecelakaan.

Jangan tempatkan baby carrier di atas kereta belanja. Berat carrier bisa membuat kereta terjungkal.
Selalu berada di posisi yang bisa menjangkau anak ketika berbelanja. Hanya dibutuhkan satu detik untuk dia jatuh dari kereta belanja atau terjungkal saat Anda membalikkan badan.

Lift

Hampir 2 ribu anak terluka karena lift setiap tahun, umumnya ketika tangan atau kaki mereka terjepit di pintu. “Kebanyakan pintu lift akan terbuka jika sensor mendeteksi sesuatu yang menghalangi, tapi tangan atau jari anak bisa tidak dikenali karena terlalu kecil,” kata Dr. Sheehan.
Strategi keamanan:

Jangan coba menghentikan pintu lift yang akan menutup dengan tangan, kaki, tas, atau stroller. Meski kebanyakan lift dilengkapi fitur pengaman dan dijaga dengan baik, mata fotoelektrik di dalam lift bisa saja tidak berfungsi menyebabkan pintu tetap menutup walau sesuatu menghalanginya.

Waspadai celah. Pastikan lift sejajar dengan lantai sebelum Anda keluar. Anak Anda bisa tergelincir atau kakinya tersangkut di celah.

Jika memungkinkan, berdirilah di belakang. Jangan pernah membiarkan anak menyentuh atau bersandar pada pintu lift karena di sinilah paling sering terjadi kecelakaan.

Anak Senang berkelana?

Mal adalah tempat yang memukau bagi anak-anak, dan mereka tak akan berpikir dua kali untuk berlari demi melihat dari dekat apapun yang tampak menarik. Berikut adalah cara menghindari dan mengatasi anak hilang di mal.
  • Buatlah anak tetap sibuk. Bawa serta buku dan mainan kecil untuk menghiburnya selama Anda berbelanja. Anak yang bosan cenderung akan melanglang pergi ketika Anda lengah.
  • Beri dia nomor ponsel Anda. Jika anak Anda masih terlalu kecil untuk mengingat, tulis nomor di secarik kertas dan masukkan ke dalam sakunya. Dengan cara ini, siapapun yang menemukan dia bisa segera menghubungi Anda.
  • Buat rencana tindakan. Pastikan anak Anda tahu yang harus dilakukan ketika kehilangan Anda. Katakan agar dia tetap berdiri di tempatnya dan memanggil nama Anda. Jika tidak berhasil, dia harus memberitahu pegawai toko (jelaskan bahwa dia bisa mengenali staf dan satpam melalui label nama atau seragam). Kalau dia masih terlalu kecil, minta dia mencari “ibu” yang lain untuk minta tolong.
  • Jangan panik. Apabila anak Anda berkelana, beritahu staf toko dan satpam mal. Mereka mungkin punya prosedur setempat untuk menolong Anda menemukan si kecil. Selain itu, kembalilah ke tempat Anda melihat dia terakhir kali. Panggil namanya sambil berjalan ke sana.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget