Latest Post

Ratusan Anak Antusias mengikuti manasik Haji di Kampus KBIT-TKIT Bina Amal

Bina Amal: Pada hari Sabtu, 3 September 2016, kampus Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Amal kelihatan memutih dengan adanya ratusan anak kecil yang memakai pakaian ihrom sedang melaksanakan kegiatan manasik haji di kampus tersebut. 

Ratusan anak kecil usia dini yang terdiri dari 3 institusi pendidikan usia dini bergabung untuk melaksanakan kegiatan manasik haji bagi anak didik yang bersekolah pada institusi tersebut. 

Kegiatan manasik haji, merupakan kegiatan tahunan di TKIT Bina Amal, diharapkan dengan kegiatan tersebut akan menanamkan nilai-nilai islami dan akhlaq islami kepada anak-anak terutama rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. 


MS TKIT Bina Amal juga ikut berperan dalam kegiatan ini, dengan ikut menjaga di Air Zam-zam dan mudzdalifah. 

Pada kegiatan tersebut juga dihadiri oleh kepala UPTD Pendidikan Semarang Selatan Dra. Hj. Musrini Puspowati, M.Pd yang sekaligus memberi sambutannya, juga dihadiri oleh Pengawas pendidikan Semarang selatan Bp Dedy Kristianto, Mp.d, dan Ibu Dra. Rosi, M, Pd. 

 Anak anak usia dini tersebut yang terdiri dari TKIT Bina Amal I : 143 anak, TKIT Bina Amal 2 : 43 anak dan TK MutiaraI bunda : 100 anak, dengan antusias mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan manasik haji itu ditutup dengan kegiatan tahallul memotong rambut dan menyembelih hewan kurban.




















Siswa-siswi Bina Amal  Latihan Manasik Haji dan Ber Qurban


Dalam beberapa hari ke depan, kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Satu di antara sekian banyak amalan yang disunnahkan di dalam bukan kedua belas kalender Hijriyah ini adalah berqurban.

Bagi kaum Muslimin yang hendak berqurban, taujih ini amat bermanfaat. Bagi yang belum memiliki rezeki, tetaplah membaca nasihat ini agar semakin bersemangat untuk mengumpulkan dana untuk berqurban.

Inilah 9 hikmah agung ibadah qurban yang diungkap oleh dai kharismatik Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham.

1. Bukti Nyata Syukur

“Supaya mereka menyebut nama Allah atas apa yang Allah rezekikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (Qs. al-Hajj [22]: 34)

2. Bukti Cinta kepada Allah

“Kalian tidak akan meraih kebaikan sempurna kecuali dengan infaqkan apa yang paling kalian cintai.” (Qs Ali ‘Imran [3]: 92)
3. Bukti Hamba yang Bertaqwa

“Daging-daging unta dan darahnya itu, sekali-sekali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah. Tetapi ketaqwaan dari kamulah yg dapat mencapainya.” (Qs. al-Hajj [22]:37)
4. Meneladani Rasulullah

Orang beriman yang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘ALaihi Wa sallam berhak mendapatkan syafaat.

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs Ali ‘Imran [3]: 31)
5. Berhak Beribadah kepada Allah

“Barang siapa yang mempunyai keluasan (harta) dan tidak mau berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami!” (Hr Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Majah, Imam al-Hakim, Imam ad-Daruquthni dan Imam al-Baihaqi)
6. Meraih Ampunan atas Dosa

“Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan.” (Hr. Imam Abu Daud dan Imam at-Tirmidzi)
7.Pahalanya Sangat Besar

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Majah Rahimahumallahu Ta’ala, “Pada tiap-tiap lembar bulunya itu, kita memperoleh satu kebaikan.”

Kesaksian Hewan Qurban

“Sesungguhnya ia (hewan qurban) akan datang pada Hari Kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban akan jatuh pada sebuah tempat di dekat Allah sebelum darah mengalir menyentuh tanah. Maka berbahagialah jiwa dengannya.”(Hr Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah dan Imam al-Hakim)
8. Meneladani Kemuliaan Nabi Ibrahim dan Keluarganya

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (aqil baligh) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku memotong lehermu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia (Nabi Ismail ‘Alaihis salam) menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabra.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami memanggilnya, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs ash-Shaffat [37]: 100-110)

Wallahu a’lam.





Ibrahim muda belum ditetapkan Allah SWT menjadi nabi dan rasul. Usianya baru sekitar 16 tahun. Meski belum jadi apa-apa, idealisme dan semangat juang membuatnya harus turun ke gelanggang menegakkan nilai-nilai aqidah. Bukan hanya masyarakat biasa yang harus dihadapinya, tapi raja Namruz yang dihormati dan disegani rakyatnya.

Hancurnya berhala bukanlah tujuan, tapi trik untuk membuka hati dan pikiran semua orang. Itu berhasil dilakukan Ibrahim muda.

Tapi, kekuasaan dan kesombongan membuat orang sulit menerima kebenaran, karenanya Namruz yang zhalim justru menuduh zhalim orang yang berjasa membuka hati dan pikiran, begitulah kesan dari kisah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala hingga ia divonis mati dengan eksekusi dibakar.

Tanpa kedudukan, jabatan dan nama besar, Ibrahim telah berjuang menegakkan nilai-nilai kebenaran. Sekarang, banyak orang punya jabatan, gelar dan pengaruh, tapi tidak berjuang, lebih tragis justru menghambat perjuangan dakwah.

Daging Hewan Qurban Sekolah Islam Terbapu  siap di bagikan kepada yang berhak

Momentum Hari Raya Idul Adha merupakan momentum untuk berbagi kepada sesama dari yang berpunya kepada yang kurang beruntung. Selain untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama, momentum Idul Adha yang ditandai dengan pemotongan hewan qurban merupakan perwujudan secara simbolis untuk membuang sifat “kebinatangan” yang menghalalkan segala cara dan memakan segalanya.

“Berqurban adalah salah satu cara, atau salah satu metode bagaimana kita peduli, kemudian membagi dari yang berpunya kepada yang membutuhkannya. Serta bentuk rasa syukur seorang muslim sekaligus bentuk kepedulian terhadap sesama manusia, dengan berbagi rezeki yang dianugerahkan Allah.


Makna qurban, yang mesti disembelih adalah sifat-sifat kebinatangan kita. Diantara sikap “kebinatangan” yang harus disingkirkan antara lain, sikap keserakahan, sifat tidak tahu tatakrama, kesewenang-wenangan yang merasa kuat menindas yang lemah, yang merasa kaya merampas hak orang miskin.

Hilangnya sifat kebinatangan tersebut pada akhirnya akan dapat menjadikan manusia insan yang baik sesuai dengan fitrahnya. Keikhlasan dalam ber-qurban juga sudah seyogyanya dimiliki setiap manusia yang berqurban seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. “Keikhlasan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail hanya loyal kepada perintah Allah, perintah Allah mengorbankan dirinya tapi juga ada pembelajaran lain bahwa apabila kita bisa menyingkirkan sifat-sifat kebinatangan untuk menjadi betul-betul manusia seutuhnya maka insya Allah pekerjaan kita akan terjaga dari hal hal yang tidak terpuji.






MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget