Latest Post


Tonggak kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh generasi penerusnya, yakni kaum muda yang siap menopang intelektualisme bangsa. Yang mana merupakan pencetus masa depan sesungguhnya. Generasi muda ini dimulai dari masa kanak-kanak hingga menjadi pribadi dewasa yang berkualitas. Sebagai agent of change, anak-anak adalah investasi berharga dengan potensi dan bakat yang masih tersamarkan. Hingga nantinya akan menjadi manifestasi dari unsur potensi diri yang luar biasa dan tangguh ketika dipoles sedemikian baiknya.

Kaum muda adalah kunci dan jendela baru yang akan membuka peradaban dunia serta menyokong terciptanya negara yang makmur dan bijak. Dari tangan-tangan kecil mereka sebagai lonceng kehidupan yang akan menaburkan bumbu-bumbu renyah untuk bangsa yang lebih beradab. Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan dan pengembangan karakter semasa kanak-kanak untuk mencetak generasi insani yang bermartabat dan berpemikiran luas. Demi negeri yang kokoh dan makmur.

Setiap anak yang terlahir ke dunia, dibekali dengan kemampuan dan karakter yang unik. Sesuai yang telah digariskan oleh sang mahakuasa. Memang ada beberapa yang istimewa, tidak seperti anak kebanyakan. Justru dari setiap sisi yang diberikanNya mengandung sebuah pembelajaran bahwa mereka adalah anugerah terindah dengan bakat dan potensi mencengangkan. Apabila menilik pada kehidupan sehari-hari, seorang autis diberikan kemampuan dalam memainkan alat musik dan sejenisnya. Tentu itu adalah sebuah hadiah istimewa yang diberikan olehNya untuk menutupi kekurangannya.

Di usia kanak-kanak, perkembangan otak anak sangat kompleks terutama dalam menerima dan meneruskan stimulus-stimulus ke seluruh bagian-bagian tubuh. Sejatinya, rentang-rentang usia di bawah 10 tahun merupakan usia produktif dalam pendalaman karakter anak. Hal ini karena adanya kecenderungan bahwasanya sikap dan pola perilaku yang terbentuk akan bertahan lebih lama sehingga pada jenjang ke depannya juga ikut terpengaruh. Bertolak pada itu perlu optimalisasi yang spesifik dalam memberikan stimulan positif agar anak dapat merespon setiap asupan memori dan pemahaman yang diberikan. Karena diketahui bahwasanya pertumbuhan dan perkembangan anak akan berjalan cukup baik ketika diberikan stimulan dari lingkungannya secara terus-menerus terlebih unsur yang membangun. Oleh karenanya orang tua harus mengenal karakter anak secara lebih dalam. Dapat dimulai dari memahami pribadi anak, gaya belajar, kemampuan berkomunikasi, interaksi sosial, dan penguasaan mental. Melalui proses pengenalan ini orang tua akan menemukan celah-celah yang mampu merobohkan semangat dan kepercayaan anak. Orang tua bisa menjadi batu loncatan dalam menggali potensi-potensi pada diri anak.


Sebagai pintu gerbang dalam membangun kawah dunia yang mutakhir sesuai dengan harapan para pemimpin-pemimpin terdahulu dan pedoman hidup yang ada, anak-anak akan terlatih dan siap membangun insan berkemajuan ketika orang tua atau keluarga turut ambil bagian. Kenapa? Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang mengenalkan segala polah dan tanggung jawab bermoral untuk kehidupan yang lebih interaktif dan berperan nyata.

Setelah pendidikan dalam keluarga, modal lain pengembangan potensi anak dapat diterapkan melalui sistem pendidikan anak usia dini (PAUD). Sistem pendidikan ini memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam memacu perkembangan saraf motorik dan sensorik pada anak. Di sana, setiap anak diperkenalkan bagaimana mengingat suatu hal dengan cara-cara yang mudah dan sederhana, seperti menyanyi, menggambar, dan berhitung. Di samping itu dapat melalui tipe pembelajaran story telling, yakni melalui cerita-cerita yang menghibur dan menarik untuk terus diulang. Sehingga amanah yang terkandung di dalamnya bisa diterapkan untuk kehidupan nyata.

Dari masing-masing yang telah dijabarkan di atas, ke semuanya merupakan langkah awal dalam membentuk generasi berkemajuan melalui sesuatu yang sederhana tetapi kaya akan makna. Disadari atau tidak, wawasan atau informasi baru yang diberikan akan mencetak bibit-bibit unggul di masanya. Informasi akan tersematkan dari wawasan-wawasan yang terkelumat ke dalam memori anak. Dan akan berjalan lebih optimal ketika diselaraskan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Selain perkembangan kognitif anak akan terlatih, daya imajinasi dan olah pikirnya juga kian terbentuk. Di masa anak-anak inilah, kecerdasan akan terasah dengan baik. Oleh karenanya sebagai generasi kekinian atau dewasa perlu mempersiapkan betul-betul tentang bagaimana pola pengasuhan anak yang seharusnya, khususnya dalam mempelopori pertumbuhan dan perkembangan anak secara padu. Dari sinilah dapat diketahui bahwa anak-anak merupakan masa emas dalam menanamkan pendidikan karakter. Tentu gagasan dan pemikiran untuk mencetak insan cemerlang akan termotori ketika menilik pada kondisi generasi saat ini.

dakwatuna





Buah hati dalam sebuah pernikahan tentu dapat menambah keindahan dalam rumah tangga. Berjuta alasan kebahagiaan akan terpancar dari setiap pasangan suami istri yang telah memiliki anak.

Salah satu yang menjadi kebahagiaan bagi orang tua adalah memiliki anak yang mahir dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Karena betapa banyak keutamaan para penghafal Al Quran itu. Di antara hadits yang menyatakan tentang ini adalah hadis dari nabi Muhammad SAW berikut ini:

Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim. Bacalah dengan hatimu “Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quran.”

Subhanallah, orang tua yang memiliki anak Hafizh Al-Quran akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Namun terkadang kita bingung bagaimana cara mendidik anak agar mudah dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Quran.

Berikut kiat-kiat agar anak dapat menghafal Al-Quran:
  1. Pilih pasangan yang sholeh dan sholehah (bagi yang belum berkeluarga), Penghafal Al-Quran lebih baik.
  2. Perbanyak berinteraksi dengan Al-Quran. Mendengarkan, membaca, menghafal dan mempelajari ayat-ayat Al-Quran. Terutama pada saat awal hamil hingga menyusui. Janin ibarat kotak hitam pada pesawat, dia mampu merekam semua yang dilakukan Ibunya. Ketika menyusui, Ayat-ayat Al-Quran yang diperdengarkan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI yang dikeluarkan.
  3. Lingkungan yang mendukung. Biasakan dengan lingkungan yang baik, berada di lingkungan penghafal Al-Quran serta lingkungan keluarga yang sesuai dan mendukung.
  4. Memilih guru yang tepat. Karena anak akan selalu melihat, merekam, dan meniru, perilaku guru mereka.
         Guru harus memiliki kriteria sebagai berikut:
         a. penyayang
         b. penyabar
         c. peduli
         d. berakhlak
         e. cerdas

         Note: bukan hanya guru tetapi orang tua juga harus bisa memberi contoh yang baik, karena                  anak lebih mencontoh perilaku orang tua daripada lisan.
  1. Agar tidak mudah lupa, Menghafal jangan terlalu banyak, sedikit-sedikit misal 1 hari 5 ayat dan dibaca yg dihafal tersebut pada waktu shalat fardu/ sholat sunnah. dan jadikan 1 pekan sekali khusus mengulang yang sudah dihafal (muroja’ah).
  2. Metode Talqin. Minta anak untuk mendengar kemudian menirukan langsung.
  3. Orang tua juga harus memperbaiki bacaan sambil menghapal.
  4. Peran GURU hanya 20%, sedang peran KELUARGA 80%.
  5. Berikan anak kasih sayang. Berikan nama yang baik. Nama dan julukan/panggilan akan mempengaruhi alam bawah sadar anak, akan tertanam agar menjadi atau sesuai dengan panggilannya. Beri tau anak arti dari nama dan julukan yang biasa kita gunakan untuk memanggil mereka. Misalkan wahai hafidz/haafidzah dan lain-lain.
  6. Pilih waktu khusus dan waktu yang paling tepat di setiap harinya untuk membaca Al-Quran dengan keluarga yang wajib dihadiri oleh semua anggota keluarga.
  7. Berikan motivasi, berikan reward sesekali. Jangan menyebutkan apa rewardnya agar anak tidak kecewa apabila kita tidak bisa memberikan yang sudah dijanjikan. Sampaikan apabila semakin banyak yang dicapai atau yang dihafal maka semakin besar dan bagus reward yang akan diterima. Berikan reward sesuai dengan kemampuan kita.
  8. Setelah semua usaha tersebut diatas, jangan lupa perbanyak doa untuk anak kita, sebut nama anak kita di setiap doa kita.
  9. Jangan katakan sesuatu yang buruk kepada anak kita ketika kita marah, tapi sebaliknya.
  10. Untuk menghindari kebosanan anak dalam menghafal, sebaiknya membuat variasi pada kegiatan menghafalnya, beri anak waktu untuk istirahat dan bermain. Misalkan dalam waktu 20 menit anak diperbolehkan untuk bermain, kemudiaan setelah itu mulai menghafal lagi.
  11. Mutabaah.

baca juga :

Informasi Penerimaan Siswa Baru Bina Amal


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Quran telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjuknya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim …”                    [al-Ankabût/29:49].

Dahulu, para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Quran, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Quran, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Quran, (yaitu) berupa janji dan ancaman.


dakwatuna.



Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

1. Hakekat Kesuksesan Sejati

Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak.

Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Allah Yang Maha Mencipta berfirman dalam KitabNya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

2. Tahapan dan Sifat

Setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
Tahap BERMAIN (“laa-‘ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

3. Metode Pendidikan

Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah
Yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah
Yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh
Yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh
Sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sanksi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

4. Isi Pendidikan

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.

Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah:
Pendidikan Keimanan
Pendidikan Akhlaq
Pendidikan Fikroh/ Pemikiran
Pendidikan Fisik
Pendidikan Sosial
Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian
Pendidikan Kejenisan (sexual education).

Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

5. Target Pendidikan

Kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:

Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan memberikan kita ganjaran dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

baca juga :

Hartono, SH.MH
Kasat Reskrim Polres Semarang
(orang tua siswa)
Anak saya Firman pada awalnya biasa saja dan belum ada kelebihan yang menonjol.

Alhamdulillah perubahan signifikan pada anak saya mulai terlihat. 

Dia lebih disiplin dalam beribadah serta mulai tumbuh jiwa kemandiriannya. 

Peningkatan prestasi melejit baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler. 

Semua berkat arahan dan bimbingan para ustadz dan ustadzah. Kami sangat bangga dengan SMP IT Bina Amal.




dr. Didik Indiarso, SpPD
(orang tua siswa)
Alhamdulillah anak-anak kami, Azhar dan Alya tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, santun dan terjaga amaliyah ibadah kesehariannya. 

Kegiatan outdoor yang demikian beragam juga sangat ditunggu dan dinikmati anak-anak, menjadi sarana bagi mereka untuk dekat dengan lingkungan dan masyarakat. 

Pembinaan karakter Islam yang kuat menjadikan anak-anak kita generasi sholih-sholihah, pejuang agama dimanapun kelak mereka berkarya.






Annisa Hanafiyanti Ahmad (Alumni angkatan 2)
Mahasiswa Matematika/FMIPA UI 2015 & hafidzoh


SMP IT Bina Amal adalah tempat pertama belajar hidup mandiri. Belajar mengorganisir waktu, dari bangun sampai tidur lagi berasal dari sini. Bertemu guru-guru, dan teman-teman yang sama-sama belajar menuju surga Allah, saling mengingatkan bila, yang satu mulai lelah dan keluar dari orbitnya. Insya Allah akan terus berproses menjadi sekolah yang berkualitas, dunia dan akhirat.
Thufail Addausi (Alumni angkatan 3)
Mahasiswa Teknik Komputer Vistula University Polandia 2016
Tiga tahun di Bina Amal memang bukan waktu yang lama, tetapi di Bina Amal dalam waktu yang sesingkat itu memberikan pelajaran yang berharga, menjadi insan yang berakhlak mulia dan menjadi pribadi yang bermanfaat. 
Saya berterima kasih kepada seluruh ustadz dan ustadzah yang telah membimbing saya. 
Semoga Bina Amal bisa menjadi sekolah yang menghasilkan insan-insan unggulan. Dan juga bisa mewujudkan visi-misi yang dimiliki.


Sampai sekarang saya masih merasa menjadi orang yang paling beruntung pernah bersekolah di Bina Amal, 

Bahkan rindu yang teramat sangat apabila mengingat masa-masa di asrama. 

Dengan bangga saya ceritakan pada teman-teman saya dan akan terus saya ceritakan. Merupakan pengalaman hidup yang luar biasa.

Abdul Hafiz Arif (Alumni angkatan 3)
Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Andalas 2016






MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget