Latest Post



Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu?

1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, ا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298.

5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,

“Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah).

Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.




Membuat anak-anak senang ke masjid adalah bagian yang sangat penting dari upaya untuk membangun generasi yang shalih dan shalihah. Di masjid anak-anak dapat belajar mengaji al-Qur’an, belajar shalat (baik itu gerakan maupun bacaan) dengan baik, dasar-dasar penting dalam ilmu agama Islam, dan pembiasaan beraklak mulia.

Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk berusaha agar anak-anak senang ke masjid. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan :

Pesantren Ramadhan

Pesantren Ramadhan ini dilakukan setiap bulan Ramadhan. Yaitu setiap hari pukul 16.30 – 17.30 WIB. Dengan memberikan materi dasar tentang ke Islaman. Agar anak tetap semangat berikan juga games-games edukasi. Kemudian memberi jajajan sehat untuk anak setiap selasai pesantren. Bisa dimakan bersama-sama dimasjid sambi menunggu waktu berbuka atau di bawa pulang.

Khataman Al-Qur’an

Khataman Al-Qur’an ini dilakukan setiap ada anak yang khatam membaca Al-Qur’an 30 juz. Khataman ini dilaksanakan meski yang khatam hanya seorang anak. Hal ini penting agar anak yang khatam merasa senang, juga para temannya yang belum jadi bersemangat. Pada acara khataman ini anak yang khatam memimpin teman-temannya membaca surat-surat akhir di juz 30, ditutup dengan doa khatmil Qur’an, lalu makan bersama meski sederhana.

Mengundang Pendongeng

Agar anak mendapatkan selingan atau kesegaran dari cara belajar atau mengaji yang biasanya diampu oleh ustadz/ustadzahnya, secara berkala sebaiknya mengundang pendongeng profesional.

Mendengarkan Anak Bercerita

Anak-anak senang sekali bila ia bercerita lalu didengarkan dan ditanggapi dengan baik. Ini dapat di lakukan terhadap anak yang ingin bercerita di sela-sela mengaji atau pesantren Ramadhan. Di samping menambah keakraban, anak akan senang karena menjadi pribadi yang dihargai.

Memberi Hadiah

“Siapa yang mau balon?” Tentu anak-anak akan kompak menjawab, “Sayaaa…!” Hadiah tidak harus yang mewah, bisa balon, buku atau yang anak-anak suka. Misal memberikan hadiah kepada anak yang terpilih sebagai anak yang paling rajin datang ke masjid maupun yang menang dalam perlombaan. Hal ini penting agar anak yang bersangkutan senang dan membuat semangat anak yang lainnya

Berkunjung Ke Rumah Anak Bersama-Sama

Menjadwal untuk mengunjungi anak, atau ketika ada salah satu anak yang sakit, terkena musibah, atau bahkan anak putra dikhitan. Hal ini penting untuk mengasah kecerdasan emosional dan sosial anak lainnya, juga demikianlah indahnya persaudaraan dalam Islam.

Berkunjung ke Pesantren

Anak-anak perlu mengetahui juga bahwa di luar sana, ada anak-anak lain yang meninggalkan ayah dan ibunya untuk belajar agama Islam dan tinggal bersama di sebuah pesantren. Hal ini penting agar anak-anak mempunyai semangat dalam belajar berislam. Maka, kami sengaja mengisi salah kegiatan kami dengan berkunjung ke pesantren.

Mengadakan Lomba

Sebagai ajang mengasah bakat dan minat, kami sengaja mengadakan beberapa macam perlombaan. Biasanya dilakukan pada saat libur sekolah atau pada peringatan hari-hari besar Islam.

Buka Puasa Sebulan Penuh

Berbuka puasa selama sebulan penuh adalah kegiatan rutin kami selama Ramadhan. Sebelum berbuka puasa, anak mengaji atau melakukan kegiatan lain yang telah dijadwalkan. Kegiatan diakhiri dengan takbir keliling pada malam Idul Fitri.

Bermalam di Masjid

Biasanya inilah salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu anak, yakni mabit atau bermalam di masjid. Kegiatan ini biasanya di lakukan di bulan Ramadhan. Sungguh, di setiap kegiatan anak-anak menyatakan kegembiraannya karena bermalam di masjid adalah kenangan tersendiri. Kegiatan dalam mabit adalah shalat isya dan tarawih berjamaah, tadarus, malam kreativitas, tahajjud, shalat shubuh berjamaah, dan jalan pagi bersama.

Semoga bisa menjadi inspirasi...


Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu karena kemulian dan keutamaannya. Bagaimana tidak? Bulan ini adalah bulan pengampunan dan rahmat serta dimudahkan beramal sholih padanya. Simak saja sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila masuk bulan Ramadhan maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: pintu syurga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat.- ditutup pintu-pintu jahannam dan para syaitan dibelenggu. (HR al-Bukhori dan Muslim)

Hal ini ada sejak awal ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat ibnu majah yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

Apabila masuk awal malam dari bulan ramadhan maka para syeitan dan jin jahat dibelenggu dan ditutup pintu neraka jahannam.

Demikian juga sabda beliau:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menghidupkan malam qadar dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu dan siapa yang berpuasa dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhori)

Kalau demikian hendaknya kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai kesempatan untuk melihat keadaan kita dan berfikir tentang realita yang ada, agar kita dapat introspeksi dan memperbaiki yang telah rusak dan menerapi yang sakit.

Jadikanlah bulan ini sebagai awal menuju kebaikan di masa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.

Seandainya setiap orang merenungi dirinya dan memperhatikan kehidupan dan kondisinya, tentulah ia mendapatkan dirinya memiliki banyak pikiran dan sifat-sifat individu serta perilaku tertentu.

Pertanyaan yang wajib disampaikan kepada diri kita adalah:

Apakah kita ridho dengan keadaan kita sekarang ini ataukah tidak?


Apakah ia menganggap telah mencapai keadaan yang lebih baik dan sempurna atau malahan dalam keadaan lemah dan jauh dari kesempurnaan?

Apakah semua fikiran, sifat dan prilaku yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah dan sudah menjadi qudratnya ataukah kita sebagai manusia memiliki usaha dan ikhtiar dalam merubahnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terpendam di dalam jiwa kita untuk dicarikan kesempatan untuk dibedah dan diintrospeksi serta direnungkan.

Hal ini sangat dibutuhkan seseorang untuk maju dan berkembang kearah kebaikan, namun ironisnya kebanyakan orang tidak mau memberikan waktunya untuk merenung dan mengintrospeksi dirinya tersebut, karena dua hal:

Tenggelam dalam kesibukan mencari kehidupan.

Perenungan ini menuntut adanya kesiapan dan ketetapan perubahan yang banyak tidak diinginkan orang.

Upaya muhasabah (introspeksi diri) sangat dianjurkan dalam syariat Islam agar kita tidak tenggelam dalam kehidupan materi dan sibuk dengan kehidupan yang tiada batas. Anjuran ini diungkapkan khalifah Umar bin al-Khath-thab dalam pernyataan beliau: “Muhasabahlah terhadap dirimu sebelum kamu dihisab dan timbang-timbanglah sebelum kamu ditimbang.”

Demikian juga ungkapan kholifah Ali bin Abi Thalib: “Alangkah perlunya seorang memiliki satu saat yang tidak disibukkan dengan kesibukan (selain) untuk introspeksi diri. Ia melihat apa yang dilakukannya berupa kebaikan dan keburukan di waktu siang dan malamnya.”

Sebenarnya introspeksi diri ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui kesalahan dan titik kelemahan kita, lalu dapat mendorong kita menjadi lebih baik lagi. Hal ini disampaikan khalifah Ali bin Abi Thalib: hasil dari introspeksi diri adalah perbaikan diri.

Nah, tidak ada satu bulan yang menandingi ramadhan dalam masalah ini. Ramadhan adalah bulan terbaik dan pas untuk melakukan muhasabah. Bayangkan, di bulan yang mulia ini kita dilarang makan dan minum serta syahwat lainnya yang biasa kita lakukan keseharian. Hal-hal ini tentunya dapat menumbuhkan kesadaran dan memberikan kesempatan untuk perbaikan diri.

Demikian juga ibadah-ibadah yang ada pada bulan ini, seperti sholat malam adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah, membaca al-Qur`an yang dianjurkan dibulan ini akan membantu terciptanya suasana kondusif untuk perbaikan diri kita. Tapi hal ini bisa ada kalau dilakukan dengan tadabbur dalam membacanya dan memperhatikan isi kandungannya serta komitmen dengan perintah dan larangannya. Sehingga ketika membaca ia senantiasa mempertanyakan keadaannya dari kandungan ayat yang dibacanya.

Banyaknya berdoa dan ibadah di bulan ini tentunya memberikan pembinaan dan pendidikan ruhiyah kepada diri kita. Harapannya dengan melaksanakan amalan ibadah di bulan mulia ini kita semua bisa berubah menjadi lebih baik dan mendapatkan ampunan ilahi.

Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akherat.




Tidak terasa Bulan Ramadan, bulan suci penuh berkah sudah berlalu beberapa hari. Adakah target yang sudah kita rancang bersama keluarga di Ramadan kali ini? Jika Belum membuat target, maka tidak ada kata terlambat. Sekarang saatnya kita membuat target Ramadhan...!

Mari kita lihat bagaimana para salafus shalih melaksanakan ibadah saat ramadan tiba. Sebagai contah, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).

Generasi salafus shalih termasuk dalam generasi terbaik setelah khulafur rasyidin yang terdapat dalam nubuah Rasulullah. Mungkin sedikit mustahil bagi kita mengikuti target mereka. Karena selain azam (niat) dan lingkungan pendidikan yang baik mereka juga memiliki karomah. Namun, bukan mustahil bagi kita dan keluarga untuk menetapkan target dan meningkatkan ibadah masing-masing anggota keluarga selama Bulan Ramadan tahun ini.

Ramadan sangat singkat hanya 29 atau 30 hari jangan biarkan berlalu tanpa konsolidasi, tanpa perbaikan dalam keluarga, tanpa target yang terukur. Berikut yang dapat kita lakukan dalam membuat ramadan produktif bersama keluarga.

1. Evaluasi status ibadah masing-masing keluarga

Sebelum menentukan target, mari kita duduk bersama dan mengevaluasi sampai dimana tingkatan ibadah masing-masing anggota keluarga dan apa yang dibutuhkan. Buatlah chart untuk memudahkan setiap orang melihatnya. Buat kolom nama-nama anggota keluarga, status saat ini, target ramadan, pencapaian.

Misalnya, ayah saat ini belum istiqomah shalat 5 waktu berjamaah dan membaca Alquran padahal ayah yang paling bagus dan benar bacaannya diantara anggota keluarga yang lain. Target ramadan ayah, shalat berjamaah 5 waktu, Khatam Alquran 2x, Menambah hafalan 1/2 juz.

Untuk ibu, misalnya saat ini lebih banyak waktu menonton dan memasak, serta bacaan Alqurannya belum betul tajwidnya. Maka target ibu menonton tv hanya 1 jam sehari, belajar tajwid dan khatam 1x. Untuk ananda dapat disesuaikan misalnya jika masih dibawah 5 tahun berarti orang tua lebih banyak mengenalkan dan memperlihatkan berbagai ibadah seperti shalat, puasa dan tilawah sebagai kegiatan yang positif dan menyenangkan. Memberikan banyak cerita atau membuat kreasi ramadan.

Jika ananda sudah dapat belajar Iqro atau bahkan sudah membaca Alquran, bisa dibuat target, menyelesaikan 2 hal Iqro sehari, atau tilawah 1-2 lembar sesuai kemampuan. Menambah hafalan surat. Mengenal atau menghafal hadits-hadits dengan tema tertentu.

2. Buatlah target yang realistis


Membuat target yang realistis artinya kita mengukur diri dan kemampuan yang ada pada kita juga pada anggota keluarga yang lain. Meski diawal diceritakan bagaimana para salafus shalih dalam menghadapi ramadhan, tentu tidak serta merta kita mengikutinya, padahal ilmu dan kemampuan kita belum memadai.

Membuat target sesuai kemampuan diri dan yang paling realistis juga tentu dengan peningkatan yang dapat terukur. Meski ayah harus tetap bekerja atau ibu pun demikian, maka mulailah mengatur waktu dan menghitung berapa lama setiap kegiatan dilakukan dan pada waktu kapan dapat menjalankan target-target yang telah ditetapkan.

Misal jika ayah bekerja naik kereta atau bus maka saat perjalanan dapat diisi dengan tilawah atau menghafal, begitu pun dengan ibu. Jika ayah membawa kendaraan sendiri maka dalam perjalanan bisa digunakan untuk menghafal melalui MP3 atau CD di mobil.

3. Tentukan waktu halaqah keluarga

Ramadan ini bulan yang istimewa, terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Suasana ramadan sangat kenal hingga acara televisi, bilboard dijalan bertema religius sepanjang bulan. Belum lagi berbagai penganan khas yang tiba-tiba hadir di sepanjang jalan-jalan ramai.

Inilah momen kebersamaan, karena saat berbuka dan sahur umumnya ingin selalu bersama keluarga. Jika pada bulan lain momen kebersamaan hanya pada saat akhir pekan, maka ramadan ini tentu akan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Manfaatkan momen ini untuk membuat halaqah keluarga. Ayah sebagai pemimpin bertugas menjadi nara sumber. Buatlah tema harian, atau tema untuk berapa kali halaqah selama ramadan. Pastikan tema yang disesuaikan untuk seluruh anggota keluarga. Misalnya tema halaqah pekan pertama memperdalam tauhid, tema pekan kedua indahnya shalat atau bisa juga taddabur juz 30 atau tentang sirah Nabawiyah.

4. Waktu ibadah bersama keluarga

Ramadan adalah waktunya meningkatkan ibadah. Jika di hari-hari biasa sangat jarang melakukan ibadah bersama, maka ramadan tahun ini saatnya melakukan ibadah bersama.

Lakukanlah ibadah-ibadah sunnah bersama, misalnya bersama-sama ke mesjid untuk tarawih. Jika lapang bisa juga bersafari tarawih ke mesjid-mesjid agung atau mesjid raya yang dekat dengan rumah untuk variasi. Lakukan tilawah atau dzikir bersama keluarga saat setelah ashar atau menunggu berbuka diwaktu akhir pekan. Bisa juga melakukan qiyamul lail bersama.

5. Silaturahmi dan berbagi


Selain ibadah tentu ramadan juga adalah bulannya berbagi, bulannya untuk bersilaturahmi. Lakukan kegiatan ini bersama keluarga, keluarga besar, tetangga atau komunitas. Buka bersama adalah tradisi yang selalu dilakukan setiap ramadan tiba. Aturlah waktu buka bersama sebagai ajang silaturahmi. Pilihlah tempat yang kondusif, baik untuk mempererat kekeluargaan juga untuk saling menyemangati dan mempertebal iman kita.

Sisihkanlah harta kita dan berbagilah. Lakukan bersama-sama anggota keluarga. Berbagi dari hal kecil, misalnya membuat makanan berbuka lebih banyak dan diberikan pada mereka yang tidak dapat berbuka bersama keluarga, misal petugas parkir, petugas pintu lintasan kereta, atau siapa yang sering kita jumpai.

6. Istiqomah

Setelah evaluasi, membuat target dan menentukan berbagai kegiatan yang kita perlukan adalah semangat untuk istiqomah menjalankannya. Ajaklah semua keluarga untuk saling mengingatkan karena semangat bisa saja menurun sehingga target tidak tercapai.

Hindari hal-hal yang melemahkan semangat ibadah kita, seperti duduk seharian menonton tv, berlama-lama bersama gadget, media sosial dan games. Hadirilah kajian-kajian atau tempat yang dapat meningkatkan semangat ibadah kita, seperti majlis ilmu, mesjid-mesjid atau berkunjung pada rumah sahabat yang shalih.

Ayo raih ramadan terbaik tahun ini. Jangan sampai terlewatkan. Niatkan ramadan ini adalah bulan konsolidasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu bersama keluarga.

Semoga Allah memberi kekuatan dan rahmatnya kepada seluruh keluarga muslimin di dunia, aamiin. 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget