April 2014


Murid Bina Amal melaksanakan Sholat Malam berjamaah
Punya anak merupakan kebahagiaan dan tantangan tersendiri bagi para orangtua. Apalagi, jika anak Anda sudah sekolah. Tantangan bertambah satu, yakni membangunkan mereka di pagi hari untuk berangkat ke sekolah. Apalagi setelah liburan panjang seperti sekarang ini.

Kalau setiap hari Anda harus marah-marah kepada mereka, tentunya akan menguras emosi.
“Bila setiap pagi harus dimulai dengan emosi tinggi, bisa jadi Anda akan kehilangan energi untuk menjalani sisa hari,” kata Helene Emsellem, penulis buku Snooze… or Lose! 10 “No-War” Ways to Improve Your Teen’s Sleep Habits.

Anak-anak, terutama remaja, butuh tidur sekitar 9 jam sehari dan secara biologis baru akan tertidur pada sekitar pukul 23.00. Namun, Anda sendiri tahu bahwa jam sekolah dimulai jauh sebelum waktu istirahat mereka selesai. Itu sebabnya, sulit untuk meminta mereka segera membuka mata, kemudian mandi dan bersiap ke sekolah.

“Sulit bangun pagi pada anak remaja itu bukanlah masalah kebiasaan, melainkan masalah biologis,”.
Lantas, apa “obat” supaya Anda tidak perlu berteriak-teriak setiap pagi? Ada beberapa cara yang bisa ditempuh agar hal ini terlaksana:

1. Lakukan Hypnosleep.

Pada saat anak anda terlelap maka bisikan kata-kata sugestif misal :“Mulai besok dan seterusnya mudah bagi kamu untuk bangun jam 6 pagi dan berseiap berangkat ke sekolah dengan gembira”

2. Waspadai akhir minggu.

Kebanyakan anak dan remaja ingin menunda waktu tidurnya di akhir minggu, karena merasa esok harinya mereka bisa bangun lebih siang.

mereka cenderung ingin bangun agak siang tidak masalah, beri kelonggaran waktu bangun hanya sekitar 1-2 jam lebih siang daripada hari sekolah. Yang pasti, jangan biarkan mereka bangun setelah pukul 10.00. Hal ini dapat mencegah gangguan pada pola tidur mereka.

3. Jauhkan komputer dan TV dari kamar mereka.

Selain itu, jangan biarkan mereka berinteraksi dengan dua alat elektronik ini beberapa saat sebelum tidur, sebab ini justru dapat membuat mereka jadi sulit tidur. Sementara itu, pastikan kamar tidur anak memiliki jendela yang menghadap keluar, sehingga sinar matahari di luar dapat membantu mereka bangun setiap pagi (jika memungkinkan saja)

Solat Jamaah saat acara malam bina iman taqwa di Bina Amal
Diriwayatkan, Umar bin Khattab setiap kali membangunkan anaknya untuk shalat beliau membaca ayat dalam surah Thaha yang artinya, “Dan, perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan, akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS Thaha : 132).

Rupanya, ayat ini yang mendasari motivasi Amirul Mukminin Umar bin Khattab sehingga tak pernah merasa lelah dalam menegakkan shalat dalam rumah tangganya. Setidaknya, ada empat pelajaran berharga yang dipetik dari ayat di atas.

Pertama. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (berislam). Maknanya setiap anak pada hakikatnya berpotensi senang shalat dan merasa membutuhkan shalat. Orang tuanyalah yang dengan atau tanpa sadar telah memalingkan fitrah anaknya selama ini.

Penghasilan dan makanan yang haram atau bercampur yang haram, tontonan dan hiburan yang bercampur maksiat, gaya hidup hedonis (serbaenak dan mudah), pergaulan bebas, dan lingkungan sosial yang permisif terhadap kemaksiatan. Semua itu menjadi sebab-sebab kerasnya hati dan jauhnya hidayah dari anak dan keluarga.

Karenanya, orang tua harus menjadi teladan dan terdepan dalam ketakwaan dan ketaatan. Bentuk kasih sayang tertinggi orang tua adalah berjuang melindungi anak dan keluarga dari berbagai penyebab yang dapat menjerumuskan mereka ke dalam siksa api neraka.

Kedua. Pada kata washthabir‘alayha yang artinya dan “bersabarlah dalam mengerjakannya” menyiratkan pesan untuk bersabar yang banyak dalam perjuangan menegakkan shalat sampai Allah melihat kesungguhan kita sebagai orang tua.

Lalu, Dia berkenan menundukkan hati dengan hidayah-Nya sehingga seisi keluarga dapat menegakkan shalat atas izin dan pertolongan-Nya. Bersabar yang dinamis untuk menegakkan shalat dalam keluarga bisa berupa bersabar menerangkan ilmu tentang tata cara serta nilai-nilai dan manfaat shalat kepada mereka.

Bersabar yang banyak, yakni dalam membangunkan, membimbing, dan memotivasi yang malas atau yang sedang sakit dan perjalanan. Bersabar dalam menegakkan disiplin shalat berjamaah pada waktunya di masjid.

Bersabar dalam mencintakan anak pada masjid dan mencarikan lingkungan sosial yang mendidik anak pada kesalehan dan ketakwaan. Bersabar dalam mencarikan guru yang berkah untuk membantu orang tua mendidik anak serta menyediakan biaya besar untuk itu.

Bersabar dalam memberikan pujian dan teguran, memberikan hadiah dan hukuman kepada seisi keluarga yang mendirikan dan meninggalkan shalat.
Bersabar dalam menjadikan nilai-nilai shalat sebagai standar penilaian. Sebagaimana Allah ta’ala menjadikan shalat sebagai standar penilaian dan yang pertama kali dihisab di akhirat kelak.   

Ketiga. Pada kalimat “Kami tidak meminta rezeki kepadamu”, Ibnu Katsir menafsirkan jika telah tegak nilai-nilai shalat dalam keluarga, maka Allah akan mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka kepada keluarga itu.
Anak-anak harus dibuat paham, shalat mereka juga sangat memengaruhi perolehan rezeki melalui orang tua. Dan, sebaik-baik ikhtiar dalam memperbaiki perekonomian keluarga adalah mendirikan shalat. Hal ini akan semakin memotivasi semangat anak untuk mendirikan shalat.

Keempat. Balasan kebajikan dari Allah berupa surga dan kebahagiaan rumah tangga akan diberikan kepada mereka yang menegakkan takwa.

Kita dapat mengambil contoh ketakwaan Nabi Ismail AS yang dimuliakan Allah ta’ala karena menyuruh seisi keluarganya untuk mendirikan shalat dan zakat.

Di antara bentuk ketaqwaan Rasulullah adalah memberikan bimbingan bagi umatnya, bagaimana membiasakan anak untuk mendirikan shalat sejak usia dini.


Untuk mengatasi perilaku membual pada anak, berikut tujuh caranya:

1. Jangan memojokkan perilaku anak dengan mengatakan, "Kamu berbohong, ya? Kenapa sih kamu berbohong?" Jika disikapi seperti ini, anak akan berusaha membela dan mempertahankan diri. Ini membuat anak semakin tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, karena ia takut dimarahi.

2. Tidak memberikan respons positif atau membiarkan apa yang dikatakan atau diceritakan, karena anak akan menganggap wajar perilaku seperti itu. Ia tidak akan tahu mana yang baik dan tidak, bahkan ada kecenderungan anak akan mengulangi kembali perilaku membualnya.

3. Ajak anak bicara baik-baik. Orangtua perlu memberi tahu sikap dan perilaku yang seharusnya. "Kak, Mama dengar kamu cerita nonton konser Justin Bieber pada temanmu. Padahal Mama kan tidak membelikanmu tiket. Kenapa harus bicara seperti itu sama temanmu? Lain kali, kalau bicara harus yang sebenarnya, ya. Jangan diulangi lagi, lo." Jadi, pilihlah kata-kata yang juga tidak bersifat tuduhan langsung atau memojokkan.

4. Cari latar belakang perilaku membual tersebut. Sebetulnya dari obrolan dengan anak, orangtua bisa menggali penyebab anak membual, apakah karena mencontoh, anak merasa rendah diri sehingga ingin dianggap hebat, atau ada sebab lain. Bila karena mencontoh, orangtua perlu melakukan instrospeksi diri. Beri tahukan sikap mana yang benar dan tidak. Bila ia ingin mendapatkan perhatian, beri tahukan cara-cara yang bisa dia lakukan dengan baik untuk mendapatkan perhatian dari lingkungannya. Bila karena rasa rendah dirinya, bantu anak meningkatkan self esteem-nya dengan menggali atau menonjolkan kelebihan yang dimilikinya.

5. Buat kesepakatan bersama, beri anak konsekuensi bila berperilaku membual. Caranya dengan mengambil apa yang sangat disukainya, semisal tidak diberi uang jajan, tidak boleh main games di akhir pekan, dan sebagainya. Jadi anak belajar, dengan berperilaku tak baik ia akan mendapatkan sesuatu yang tak menyenangkan.

6. Beri contoh-contoh pemahaman atas perilaku tersebut. Bisa lewat cerita tentang dampak negatif yang diterima bila seseorang membual. "Kak, kalau kamu sering mengatakan tentang sesuatu secara berlebihan dan tidak sebenarnya, ketika temanmu mengetahuinya, mereka jadi tak percaya lagi. Nanti mereka tak mau main dan berteman lagi, bagaimana? Sedih, kan? Diaharapkan dengan cara ini anak mau mengambil secara perlahan-lahan perilaku membualnya.

7. Bekerja sama dengan guru di sekolah untuk membantu memperbaiki perilaku anak yang suka membual. Ceritakan pada guru tentang perilaku yang diharapkan dari si anak. Guru bisa memperhatikan perilaku si anak dan membantu memperbaiki perilakunya itu di sekolah.(Tabloid Nakita)


Anak yang optimis adalah anak yang percaya diri. Dia akan selalu percaya bahwa yang dia lakukan adalah baik. Dia tidak takut untuk mencoba. Bila melakukan kesalahan, dia tidak akan larut dalam perasaan bersalah. Bila mengalami kegagalan,
dia tidak akan ngembek, dan akan terus mencoba  untuk mencapai keberhasilan.

 Menjadi pribadi yang optimis tentu tidaklah mudah. Membutuhkan peran serta aktif dari orang tua. Bagaimana caranya?

1.Pujian dan Penghargaan
Bila anak melakukan hal yang baik, jangan jual mahal kata-kata pujian. Meskipun yang telah dilakukan anak adalah hal  sepele menurut kita, namun bagi anak-anak itu bisa jadi sesuatu yang luar biasa. Misalnya, pada saat anak selesai bermain. Lalu anak kita mengembalikan mainan yang selesai dia mainkan ke dalam kotak mainan. Pujilah buah hati kita. Buatlah dia merasa bila apa yang dia lakukan sangatlah baik dan harus terus dilakukan. Tidak perlu kata-kata yang panjang. Cukup dengan tersenyum lalu katakana,”Wah…keren… Anak Mama memang pinter.” Atau pada saat anak mendapatkan juara kelas, kita bisa memberikan hadiah sebagai reward.

2.Teladan Positif
Lebih mudah berbicara daripada melakukan. Itulah yang kadang menjadi kebiasaan manusia. Sebagai orang tua kita juga harus belajar untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak. Bila kita bisa memuji anak saat dia melakukan hal yang baik, seperti contoh poin 1, kita juga harus member contoh pula. Tentu saat kita selesai menggunakan sesuatu atau mengambil sesuatu, terutama di depan anak-anak, kita juga harus mengembalikan pada tempatnya. Agar anak tahu, setelah kita mengembalikan barang yang kita pakai, kita bisa berkata dengan suara agak keras (agar anak denger),”Lihat… Papa sudah selesai menggunakan gunting. Jadi Papa akan mengembalikan ke tempat semula.” Dengan begitu anak akan semakin sadar, bila mengembalikan barang yang telah kita pakai pada tempatnya adalah suatu kebiasaan yang baik. Hal ini juga mengurangi kata-kata yang bersifat “perintah”. Karena terlalu banyak perintah bisa membebani sang anak.

3.Menegur dan Memberi Solusi
Semua manusia pasti pernah salah. Tidak terkecuali anak kita. Bila buah hati kita melakukan kesalahan, jangan segan untuk menegur. Misalnya saat buah  hati kita mencoret-coret tembok. Pastikan teguran anda jangan terlalu keras, apalagi bila kita belum pernah menasihati kalau mencoret-coret tembok adalah hal yang tidak baik. Karena kebanyakan anak melakukan kesalahan berasal dari ketidaktahuan, bukan karena kenakalan atau kesengajaan. Bila buah hati kita kedapatan mencoret-coret tembok, hal yan harus kita lakukan adalah menegur secara halus. Agar anak juga belajar bertanggungjawab, maka kita bisa mengajak anak untuk mengecat ulang tembok yang dia coret-coret secara bersama. Kemudian, bila buah hati kita memang menyukai bidang seni rupa, kita bisa membelikannya kertas putih yang besar (misalnya kertas manila), lalu kita tempelkan ke dinding rumah. Supaya sang anak bisa menggambar di atas kertas tersebut sepuasnya. Atau kita bisa menyediakan dinding khusus (misalnya dinding belakang rumah), agar sang anak benar-benar bisa berekspresi di atas dinding beneran. Untuk membersihkannya, kita tinggal mengecatnya ulang.

4.Menceritakan Tokoh-tokoh Hebat Yang Pernah Gagal
Beberapa tokoh hebat, misalnya Albert Einstein, pernah mengalami kegagalan dan terkucilkan. Tokoh ini bisa menjadi tokoh yang inspiratif bagi anak-anak yang memberikan nilai positif. Bila kita sering-sering menceritakan kisah tokoh-tokoh hebat dengan kegagalan dan keberhasilan mereka, diharapkan anak-anak pun bisa selalu optimis. Sehingga anak-anak pun akan tahu bagaiman mereka harus bersikap saat menghadapi kegagalan.

5.Dongeng dan Lagu Anak Yang Motivatif
Dongeng dan lagu anak yang motivatif, bisa memberikan nilai-nilai moral yang baik pada anak. Ini bisa menumbuhkan pengetahuan dan kedewasaan anak. Dongeng dan lagu akan menjadi media hiburan yang menyenangkan bagi anak. Mereka bisa belajar banyak melalui otak bawah sadar mereka tentang nilai-nilai yang positif.

6.Menanamkan Nilai-nilai Agama
Nilai-nilai agama juga bisa menjadi jurus yang ampuh agar anak bisa selalu optimis. Kita bisa memberikan ayat-ayat kitab suci (sesuai dengan agama dan kepercayaan) pada sang anak. Hal ini juga bisa kita lakukan dengan menempelkan ayat-ayat kitab suci di dinding kamar anak yang berisikan hal-hal yang bisa membuat anak optimis. Mengajarkan anak berdoa sebelum melakukan aktivitas juga akan  memberikan nilai positif kepada anak.

7.Sering Mengikutkan Lomba
Semakin banyak kita mengikutkan anak pada acara lomba-lomba, maka anak akan semakin belajar bagaimana menjadi berhasil, dan bagaimana bersikap saat mengalami kegagalan. Berikan dukungan penuh pada setiap usaha anak untuk memperoleh kemenangan, dan berikan motivasi penuh saat anak memperoleh kekalahan. Yang terpenting kita, sebagai orang tua, harus selalu menemani anak dan memberikan motivasi.

8.Tidak Membanding-bandingkan dengan Saudaranya
Anak-anak akan banyak mendapatkan banyak pelajaran di dalam rumah.  Bila kita memiliki beberapa anak, jangan meng-“anakemas”-kan buat hati kita. Biasa bila kita menganakemaskan salah satu anak, maka yang akan sering kita lakukan adalah terlalu membanding-banding anak yang satu dengan yang lain. Misalnya dengan mengatakan,”Lihat… Si A aja bisa. Masa kamu nggak bisa? Si A aja selalu juara kelas, masa kamu tidak pernah?”  Hal ini akan sangat menyakitkan bagi anak, dan bisa menyebabkan anak menjadi minder. Bila di dalam rumah aja anak merasa minder, apalagi di luar rumah.  Sebagai orang tua, kita harus memahami kelebihan dan kelemahan tiap anak, dan sifat-sifat mereka. Untuk apa? Supaya kita tidak membanding-bandingkan anak hanya dalam satu persepsi saja. Misalnya, Si A bisa juara kelas. Si B tidak bisa juara kelas. Jangan menganggap Si B adalah anak yang bodoh. Namun kita harus berusaha membantu si B, menemukan kelebihannya. Bila si B jago menggambar, dukunglah si B agar bisa menggambar dengan lebih baik. Atau bila kita lihat dari sifat sang anak. Dengan menemukan kelebihan setiap anak, maka kita akan membuat mereka semakin berharga dan semakin optimis dalam menjalani hidup. Karena pada dasarnya, setiap anak akan menjadi optimis bila mereka memiliki sesuatu yang dibanggakan di depan orang tua dan teman-teman mereka.

Jadi marilah kita  sebagai orang tua, untuk memulainya dari sekarang dan melalui hal-hal kecil. Jadi janganlah kita merasa malu, segan, atau gengsi untuk memotivasi buah hati kita. Apa yang kita lakukan pada anak, akan memperngaruhi karakter dan tentu saja masa depan anak. Salam cinta  lagu2anak.

Siswa Bina Amal bermain dan belajar saat istirahat
Memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Bagi Sasty yang Masih TK mungkin Jam belum bisa ditentukan. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Dan ciri khas yang berbeda.

KELAS 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.
Anak-anak sering mengalami schoolphobia. Ilustrasi: freewebs.com
Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. “Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas.”
Berkaitan dengan masa transisi ini pula, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah “ketakutan”.

Belajar sambil bermain itu menyenangkan.

Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1 - 3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:
Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. “Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar di belakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, misalnya.

Manfaatkan PR

Manfaatkan kesempatan ini.

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang sering menjadi beban bagi anak.

Beri dukungan

Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas.

Beri dukungan sepenuhnya, saat mereka belajar.
Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak. “Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 50.

Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 50 itu berarti kurang.” Lalu tetaplah beri dukungan. “Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 50. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar.”
Jadilah model yang baik

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. “Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. ‘Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?" Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak “belajar”, seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.
Menetapkan jam belajar yang rutin salah satu kunci suksesnya.

Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk  beristirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton TV, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation.

ANAK 4-6 SD

Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.

Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberikan alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:

Kaitkan dengan Hobinya

Kalau hobi anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. “Dia bisa dapat menang dandapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!
Membuat jadwal, yuk!

Ajak untuk Mmembuat Jadwal

Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.

Rencanakan Masa Depan

Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak untuk mengadakan rencana masa depan. “Kamu mau masuk SMP mana? Kira-kira di situ NEM-nya berapa, ya? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!”

Namun, perlu di ingat agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu tinggi, maka harus didiskusikan. “Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. ‘Kalau enggak keterima di situ, kamu mau masuk sekolah mana lagi?’ Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar lebih baik.”

Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.

Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. “Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar,” .


Jika kita mengenal cara belajar efektif anak usia prasekolah (4-5 tahun), orangtua akan paham, “Oh, pantesan dia suka berbuat yang aneh-aneh,” atau, “Oh, pantesan dia suka minta dibacakan cerita melulu setiap akan tidur.”

Nah, berikut adalah aneka cara belajar efektif bagi si prasekolah yang harus kita ketahui dan pahami. Dengan memahaminya, selain  tidak akan lagi menganggap anak usia ini aneh, tidak akan membuat kita kaget, sebal, dan naik pitam, juga orangtua bisa memberikan stimulasi atau pendidikan padanya dengan tepat.

3 CARA BELAJAR EFEKTIF

  • Cara belajar efektif dengan meniru.
Cara belajar efektif yang paling awal dikenal manusia adalah meniru. Pertama anak akan melakukan pengamatan pada sesuatu yang menarik. Lalu mereka mulai belajar menirukan apa telah dilihatnya.
Jadi boleh dibilang, anak prasekolah itu seperti karet busa (spon), yang menyerap setiap tetes informasi ditemuinya, dan kemampuan untuk mengikuti sangat mengagumkan. Meniru adalah salah satu cara belajar efektif bagi anak.
Orangtua memiliki dampak langsung terhadap cara belajar ini. Sebab, orangtua adalah contoh pertama dan utama bagi mereka. Maka dari itu dalam keseharian, paling tidak selama terpantau olehnya, sebisa mungkin kita harus menjadi contoh yang baik. Karena apa yang kita katakan dan lakukan di depan anak akan membentuk pikirannya.
Selain orangtua, guru, lingkungan, dan teve sangat memberikan pengaruh yang kuat pada anak.  Oleh karena itu pilihlah lingkungan serta tontonan yang baik untuk anak. Dengan begitu, cara belajar anak tidak hanya efektif, tapi juga positif bagi tumbuh kembangnya.
Adapun manfaat cara belajar ini bagi anak antara lain; meniru sesuatu yang baik akan menjadi pondasi belajar yang baik. Meniru dan menerapkan perilaku yang baik juga akan mengembangkan perilaku sosial yang baik, misalnya dengan melihat dan meniru saat orangtua membantu orang yang kesusahan, anak pun belajar mengembangkan kepekaan sosial.

  • Cara belajar efektif dengan eksperimen
Selain meniru, anak juga belajar melalui eksperimen. Anak prasekolah mengeksplorasi setiap hal yang dapat mereka sentuh, lihat, dengan cium, rasakan dan lakukan. Cara belajar mereka yaitu bereksperimen serta bereksplorasi. Contohnya; mengenal dingin dengan cara ekplorasi es, mengenal panas dengan cara memegang batu yang sudah terpanggang lama sinar matahari. Bisa juga kita ajak anak berekplorasi warna; putih dengan merah dicampur lalu akan melahirkan warna pink.
Manfaat cara belajar ini bagi anak, dia mengalami langsung. Dengan seperti ini apa yang dia pelajari, amati, eksplorasi akan lebih mengena dan membekas, dibandingkan dengan cara belajar melalui serangkaian teori. Pun, dengan cara belajar ini anak bisa mendapatkan hasil seketika itu juga dari rasa ingin tahunya.
Selain itu, cara belajar melalui eksperimen, mencoba dan mengalami sesuatu, mengajarkan anak untuk belajar menikmati proses. Sehingga kreativitas dan rasa ingin tahunya menjadi lebih berkembang.
Jika orangtua mendukung, bisa saja kreativitas dan rasa ingin tahu anak tidak menjadi lebih berkembang dan terpuaskan. Sebaliknya, tanpa pengarahan yang tepat dari orangtua dan guru, mungkin saja anak belajar/mencoba hal yang salah. Jadi, cara belajar ini memerlukan pengarahan orangtua.

  • Cara belajar efektif melalui integrasi
Di usia sekitar tiga tahun, anak-anak mulai menggunakan apa yang sudah dipelajari untuk membuat generalisasi. Tingkat pemahaman yang baru ini lalu dialihkan, dimanfaatkan dalam situasi baru, lalu digunakan untuk memecahkan masalah baru.
Perlu diketahui juga, sementara otak seorang anak prasekolah berkembang, terbentuklah sambungan-sambungan baru di dalam otaknya yang didasari proses belajar dan pengalaman sebelumnya. Hal ini terjadi karena anak usia prasekolah sudah mampu menggabungkan yang sudah mereka pelajari dengan mengikuti contoh yang mereka pelajari lewat eksperimen dan eksplorasi untuk membentuk informasi baru. Itulah proses cara belajar efektif terjadi pada anak.
Sebab itu, mulailah menyadari apa yang dipelajari anak dan bagaimana mereka berperilaku. Perhatikan apa yang mereka lakukan dan dengarkan, serta apa yang mereka katakan.  Jangan sesekali mengabaikan atau tidak merespons dengan baik semua pertanyaannya ataupun tanggapannya tentang sesuatu hal. Tunjukkan hal-hal baik yang telah dilakukannya. Ini dimaksudkan untuk mendorong dan memberikan umpan balik yang positif pada anak.
Sama seperti belajar melalui pengalaman, cara belajar dengan integrasi membuat anak mengalami langsung konsep-konsep yang telah mereka ketahui sebelumnya.

Salah satu tantangan kita sebagai orangtua adalah mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki anak. Bakat atau potensi adalah karunia dan titipan Tuhan pada setiap individu untuk menjalani peran uniknya di dunia ini.

multiple-intelligences
a. Potensi Anak Unik & Beragam

Sebagaimana setiap anak adalah unik, demikian pula bakat dan potensi yang dimilikinya. Keunikan setiap anak ini harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, sehingga orangtua tak jatuh pada tindakan membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Padahal, sudah jelas setiap anak berbeda dan unik, baik keunikan yang berasal genetika maupun lingkungan tempatnya bertumbuh sejak bayi.
Potensi dan bakat anak itu sendiri sangat beragam. Bakat itu bisa terkait dengan hal-hal akademis yang bisa dikenali dengan nilai-nilai rapor, tetapi bisa juga tak berhubungan dengan akademis. Penilaian bakat dan prestasi anak yang didasarkan pada nilai rapor adalah terlalu menyempitkan makna kecerdasan dan potensi anak.
Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) menyebutkan ada 8 jenis kecerdasan anak, yaitu: kecerdasan logika/matematika, kecerdasan verbal/bahasa, kecerdasan interpersonal, kecerdasan fisik/kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan alam.  Tapi kalau kita bicara tentang potensi anak, tentu saja cakupannya bisa lebih luas dari itu.
Jadi, kesempatan bagi anak-anak kita untuk berkembang itu sangat luas dan tak terbatas. Yang penting dia tekun dan bekerja keras pada hal-hal yang diminatinya.

b. Peran orangtua sebagai pembantu

Bakat anak adalah titipan yang diberikan Tuhan kepada anak. Titipan itu melekat pada anak dan menjadi milik anak, bukan milik orangtua. Oleh karena itu, setiap saat orangtua harus menyadari bahwa fungsinya adalah membantu anak.
Orangtua bukanlah penentu masa depan anak. Tetapi orangtua berperan untuk membantu agar potensi-potensi yang dititipkan Tuhan kepada anak itu bisa keluar, ditemukan, dan tumbuh berkembang.
Membantu menemukan dan menumbuhkan bakat, berarti orangtua perlu berfokus pada kekuatan (strength) anak, bukan pada kelemahannnya. Menumbuhkan bakat adalah usaha untuk mengasah kekuatan anak. Ibaratnya, mengembangkan bakat adalah seperti membangun bukit, bukan menutupi jurang.

c. Menciptakan Lingkungan, memberikan Stimulasi

Untuk mengenali bakat dan potensi anak, peran orangtua utama adalah memberikan lingkungan yang nyaman untuk tumbuh dan berkembangnya potensi anak itu. Anak tidak merasa takut mengeluarkan dirinya. Anak juga merasa nyaman untuk berproses dengan hal-hal yang menjadi minatnya, yang terkadang masih berubah-
ubah.
Karena anak masih berkembang, tugas orangtua adalah mendampingi. Terkadang orangtua mengekspos anak pada sebuah hal tertentu, terkadang menemani, menyemangati, menjadi teman diskusi, menguatkan anak agar terus bersemangat menempa diri. Tapi terkadang, orangtua juga berperan membantu anak untuk
mengeksplorasi hal-hal baru di luar bidang yang selama ini digelutinya.

d. Bertumbuh bersama Waktu

Karena setiap anak tumbuh dengan cara dan kecepatan yang berbeda-beda, demikian pula perkembangan potensi anak tumbuh dengan cara yang beragam pula. Ada anak yang cepat kelihatan dan mudah dikenali bakatnya. Ada anak yang tak tahu dan terus mencari apa yang menjadi kesenangannya. Ada anak yang sudah
tetap minatnya. Ada yang anak yang masih berubah-ubah.
Demikianlah memang dunia anak-anak. Orangtua memang perlu memfasilitasi anak, tetapi pada saat bersamaan perlu memelihara kesabaran dan kelapangan hati kala anak tak berkembang seperti yang diharapkannya.
Yang penting, jangan berhenti berharap. Jangan berhenti berusaha dan memberikan stimulasi pada anak. Kita tak pernah tahu kapan benih itu merekah dan benih apa yang merekah diantara beragam benih kebajikan yang kita sebarkan pada anak.

e. Antara Kepentingan Anak & Ambisi Orangtua

Dalam proses pengembangan bakat pada anak, peran orangtua sangat dominan. Sebab, anak masih sangat bergantung pada orangtua. Apa yang disukai dan didorong orangtua, anak akan berusaha memenuhinya. Anak akan berusaha menggapai harapan-harapan yang digantungkan orangtua kepadanya.
Di sinilah fungsi orangtua menjadi penting untuk menjaga agar aktivitas-aktivitas pengembangan bakat anak itu berada dalam koridor yang sehat. Koridor yang sehat berarti aktivitas itu memang betul-betul untuk kepentingan anak, bukan sekedar wujud ambisi orangtua. Ukuran sederhananya adalah anak menikmati proses yang dijalaninya, bukan melakukan kegiatannya dengan terpaksa.
Dengan menjaga agar pengembangan bakat berada dalam koridor yang sehat, pertumbuhan potensi anak bisa terus berkembang dalam jangka panjang. Kalau tidak, setiap waktu anak dapat memberontak karena tak mau dipaksa lagi oleh orangtuanya.
Tentunya kita tak menginginkan hal seperti ini, kan?

Minat dan bakat merupakan dua hal yang berbeda. Sederhananya, bakat adalah sesuatu yang sudah terbawa sejak seseorang lahir ke dunia. Sedangkan, minat merupakan sesuatu yang disukai atau yang membuat anak tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam. Ketika misteri minat dan bakat terkuak sejak dini, kelak anak tak akan kebingungan menentukan hal yang ingin dicapainya.

Ada beberapa metode yang bisa diterapkan orang tua dalam mengenali minat dan bakat anak. Cara termudah ialah melakukan observasi. “Amati perkembangan anak, pantau ekspresinya saat ber kegiatan, dan jalin komunikasi yang baik dengannya,” saran psikolog Katarina Ira Puspita MPsi.
Orang tua perlu memfasilitasi agar anak dapat mencoba beragam kegiatan. Dengan begitu, anak akan memiliki pengalaman yang kaya. Antusiasme anak ketika menjalani suatu aktivitas dapat memperlihatkan kecenderungan minatnya. Kemahirannya dalam beraktivitas ataupun kecepatannya dalam menyerap informasi di bidang tertentu menunjukkan bakatnya. “Begitu anak mengetahui warna-warni dunia, ia bisa memilih yang dia sukai,” ujar psikolog yang tergabung dalam Kasandra and Associates Psychological Practice ini.

Selain itu, orang tua dapat membantu membuka kunci potensi bakat anaknya melalui permainan kegemaran si kecil. Anak yang senang bermain dengan pensil warna dan buku gambar, misalnya, mungkin saja memiliki minat dan bakat dalam seni lukis. Anak yang berminat menjadi pemain alat musik pastinya senang mendengarkan musik dan jika ia berbakat, ia akan mudah sekali menguasai instrumen yang dipelajari. “Kemungkinan tersebut bisa diarahkan oleh orang tua,” kata Katarina
Andaikan ada dua bidang yang digemari si kecil, kemungkinan ia memang memiliki bakat dan minat dalam keduanya. “Tidak menutup kemungkinan seseorang memiliki bakat dan minat lebih dari dua bidang,” komentar psikolog yang juga dosen psikologi Universitas Bina Nusantara itu.

Belakangan, banyak sekali perusahaan yang menawarkan jasa untuk menguak bakat dan minat anak. Dua yang paling populer ialah penelusuran melalui tulisan tangan dan sidik jari. “Keandalan metode tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah,” ujar Katarina.

Jika sudah pernah menyertakan anak ke tes semacam itu, jangan jadikan hasil penelusurannya sebagai penilaian mutlak terhadap bakat dan minat anak. “Yang penting, beri kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi sendiri keinginannya, beri bimbingan, kawal, dan dukung anak dalam me laku kannya,” kata Katarina.

Lingkungan juga sangat memengaruhi anak dalam menemukan minatnya. Orang tua harus mengawasi pergaulan dan lingkungan anak. Seimbangkan aktivitas anak dengan kegiatan sekolah sehingga tidak mengganggu pencapaian akademiknya.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget