Articles by "Parenting"



Siapa yang tidak kenal Ikrimah? Putra Abu Jahal ini demikian keras memusuhi Rasulullah saw. Bahkan, aktif mengangkat senjata bersama pasukan kaum musyrikin Makkah menyerang kaum Muslimin Madinah. Namun keadaan berbalik saat Rasulullah saw. bersama pasukan Muslimin mengepung Makkah. Ikrimah sadar betul, jika Makkah jatuh dalam penguasaan Rasulullah saw., keselamatannya terancam. Pasti ia akan dieksekusi atas semua kejahatannya terhadap kaum Muslimin
PELARIAN IKRIMAH BIN ABU JAHAL

Ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman kerana ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya.”

Rasulullah saw. menjawab, “Dia akan berada dalam keadaan aman!” Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah.

Saat diajak berduaan oleh Ikrimah, Ummu Hakim berkata: “Wahai Ikrimah, sesungguhnya kamu musyrik, sedang aku muslimah. Allah telah mengharamkan diriku atasmu.” Kata-kata yang seperti panah ini telah menancap di hati Ikrimah, sehingga hati Ikrimah pun terluka dan pikirannya menjadi kacau balau.

Sementara di Makkah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri diantara para sahabatnya sambil bersabda: “Sesungguhnya Ikrimah bin Abi Jahal akan datang kepadamu dalam keadaan beriman dan berhijrah, maka janganlah kamu mencela ayahnya, karena mencela orang yang sudah mati dapat menyakitkan orang yang masih hidup, walaupun celaan itu tidak sampai kepada orang yang sudah mati.”

MASUK ISLAMNYA IKRIMAH BIN ABU JAHAL


Ikrimah pun datang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamat datang, pengendara yang berhijrah.”Beliau berdiri kepadanya, meluaskan kain untuknya, dan menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan.


Ikrimah berkata: “Aku mendengar bahwa engkau telah menjamin keamananku, wahai Muhammad ?”

“Ya sungguh kamu aman,” jawab Rasul

“Untuk apa kamu menngajakku ?” tanya Ikrimah.

“Untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, melaksanakan shalat, membayar zakat, menunaikan puasa, dan berhaji di Baitullah,” kata Rasul.

Ikrimah berkata: “Demi Allah, engkau tidak mengajakku, kecuali kepada kebenaran; dan engkau tidak memerintahku, kecuali kepada kebaikan.” Ikrimah mengulur tangannya dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, aku memohon kepadamu untuk mengampuniku atas setiap permusuhanku terhadapmu, setiap jejak langkahku, setiap kesempatan aku bertemu denganmu, dan setiap perktaan yang aku ucapkan dihadapanmu atau tidak dihadapanmu.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk Ikrimah:

“ Ya Allah ampunilah setiap permusuhan yang dilakukannya terhadapku, setiap jejak langkahnya yang ia inginkan untuk memadamkan cahaya-Mu. Ampunilah perkataan yang diucapkan guna merendahkan martabatku, baik ketika dia berada di hadapanku maupun tidak dihadapanku.”

Ikrimah berkata: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mengeiuarkan satu hartapun yang telah aku gunakan untuk memusuimu, kecuali aku juga akan menginfakkan harta yang sama di jalan Allah.”

Setelah masuk Islam, Ikrimah bersumpah: “Demi Dzat yang telah menyelamatkanku saat perang Badar.” Ia bersyukur kepada Tuhannya karena ia tidak mati terbunuh dalam perang Badar (karena pada waktu itu Ikrimah masih dalam keadaan kafir, red). Ia masih tetap hidup sampai akhirnya Allah pun memuliakannya dengan Islam. Ia selalu membawa mushaf sambil menangis: “Kitab Tuhanku ! Kitab Tuhanku !“

SYAHIDNYA IKRIMAH BIN ABU JAHAL

Pada saat perang Yarmuk meletus dengan hebatnya dan pasukan Romawi hampir mengalahkan pasukan Islam dan tidak ada jalan lain kecuali menembus ribuan pasukan Romawi dengan resiko mati,  maka singa buas Ikrimah pun bangkit. Khalid bin Walid berkata, “Jangan kamu lakukan hal itu. Karena bahaya yang akan menimpamu adalah lebih besar!”

Ikrimah menjawab, “Wahai Khalid, engkau telah terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah saw., maka biarlah hal ini aku lakukan!”Biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”

Ikrimah berteriak: “Siapa yang akan membaiatku untuk mati ? “

Pamannya Harits bin Hisyam, dan juga Dhirar bin Al-Azwar berdiri untuk membaiatnya. Ikut bersama mereka 400 pasukan muslim. Mereka memasuki arena peperangan hingga mereka dapat mengalahkan pasukan Romawi, dan Allah pun memberikan kemenangan dan kemuliaan bagi pasukan-Nya.

Ikrimah tetap pada pendiriannya. Ia bertempur dengan gigih hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Di tubuhnya terdapat sekitar tujuh puluh luka bekas tikaman pedang, tombak, dan anak panah.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka yang bertiga orang itu, masing-masing mereka berkata, ‘Berikan air itu kepada sahabat di sebelahku.’ Demikianlah keadaan mereka seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir dalam keadaan belum sempat meminum air itu.”

Dalam riwayat lain ditambahkan, sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air tersebut. Akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail dan Suhail pun melihat ke arahnya pula. Ikrimah berkata, “Berikanlah saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya daripadaku.” Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat kepadanya. Akhirnya Suhail berkata, “Berikanlah air minum ini kepada siapa saja. Barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku.” Begitulah keadaan mereka. Sehingga tidak seorangpun di antara mereka yang meminum air tersebut. Ketiganya mati syahid.

wallahu a'lam



Ayah Bnda, kita tentu mengharapkan anak-anak saling akur dan menyayangi. Akan tetapi ada 4 sikap keliru orangtua yang justru bisa membuat seorang kakak membenci adiknya. Hal ini berlaku bagi putra-putri kita yang masih kecil ataupun sudah beranjak dewasa.

Apa saja 4 kesalahan yang dimaksud?

1. Selalu meminta kakak mengalah pada sang adik

“Kak… kamu kan udah gede, ngalah dong sama adik!”

Sikap orangtua yang seperti ini sebenarnya tidak adil, baik kakak maupun adik harus sama-sama diajarkan mengalah, tergantung siapa yang lebih dulu menggunakan mainan/barang tersebut.

Misalnya Kakak baru saja membaca buku cerita, kemudian adik merebutnya. Orangtua harus menjelaskan pada adik untuk bersabar, karena kakak terlebih dahulu yang sedang membacanya. Atau, bujuklah anak agar mau baca bersama.

Menyuruh kakak terus-terusan mengalah hanya akan menanamkan kebencian dalam dirinya terhadap sang adik.

2. Menyuruh-nyuruh kakak untuk membantu kebutuhan sang adik

“Kak, ambilin pampers adik…”

“Jagain adikmu yaa…”

“Adik haus, ambilkan minum ya Kak…”

Tidak ada salahnya memang memperbantukan sang kakak untuk mengurus adiknya, tapi sebaiknya diberi pengertian mengapa Kakak perlu membantu ibu melakukannya.

“Dulu… Ibu mengurus kakak seperti ini juga waktu kakak kecil lho, sekarang kita gantian mengurus adik bareng yaa…”

Jika tidak ada komunikasi yang baik, dan tidak ada penjelasan yang membuat sang kakak mengerti, maka orangtua sedang menanamkan bibit kebencian dalam hati sang kakak terhadap adiknya sendiri.

“Ibu gak adil… kenapa aku selalu disuruh-suruh untuk menjaga adik.”

3. Tidak mengingatkan bahwa orangtua tetap mencintai Kakak walau kini ada adik

Rutinlah menyatakan sayang pada anak. Anak sangat memerlukan pelukan dan kata sayang dari kedua orangtuanya.

“Ummi Abi sayang Kakak… ummi abi juga sayang adik. Adik juga sayaaang sekali sama kakak…”

Kelihatan sepele, tapi bermakna besar.

4. Membanding-bandingkan kakak dengan adik

“Tuh lihat adikmu… duduk anteng, kamu kok dari tadi lari-lari terus, kayak adik dong!”

Baik anak-anak maupun dewasa paling anti dibanding-bandingkan, jadi… orangtua perlu menghentikan kebiasaan buruk ini.

Jika ingin kakak duduk anteng, perintahkan saja… tidak perlu membanding-bandingkannya dengan si adik. Ia akan merasa kecewa jika orangtua terlalu sering membandingkannya dengan adiknya sendiri.

ummi

Apa yang perlu dilakukan oleh orangtua agar anak kita tidak seperti “lepas” kontrol setelah kita didik dengan baik di masa kecilnya?

Jika jiwa anak adalah sebuah bangunan, bagaimana kita membangunnya sehingga ia menjadi pribadi tangguh di era digital? Yang akan tetap berdiri kokoh tak hancur diterpa badai.

Ayah Bunda kami menemukan sekurang-kurangnya ada 7 Pilar Pengasuhan yang mendukung seorang anak agar mampu tumbuh secara tangguh di era digital ini, sehingga dapat mencegahnya dari penyimpangan perilaku (termasuk perilaku seksual).

Tangguh yang dimaksudkan disini adalah : 

1. Kokoh keimanannya, baik ibadahnya, mulia akhlaknya
2. Merasa dirinya berharga dan percaya diri
3. Cerdas : Berfikir kritis dan solutif
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Mandiri
6. Bertanggung jawab pada Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, serta
7. Bijak berteknologi

Jika salahsatu pilar pengasuhan itu keropos, mungkin tidak akan merobohkan seluruh bangunan. Namun kita tidak tahu dengan pasti, pilar mana yang menjadi penopang utama bangunan jiwa anak kita.

Selayaknya bangunan, pilar itu hanya akan mengokohkan bangungan jika dibangun di atas pondasi yang kuat. Jika pondasinya rapuh, mudah pula lah bangunan itu amblas, meski kokoh pilar-pilarnya.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas pondasi pengasuhan seperti apa yang menjadi landasan agar jiwa anak kita kokoh dan tangguh.

Sebenarnya, ketika kita diberi amanah seorang anak, bersama itu pula Allah memberi kita ‘modal’ agar kita menjadi hamba yang amanah.
.
Tidak mungkin Allah memberi ‘tantangan’ yang tidak dapat ditanggung oleh hambanya, mengapa? Mari kita cek Al-Baqarah 286.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

Maka, sudah pasti ketika amanah diberikan, kita sudah diberi petunjuk perawatannya. Analoginya seperti produsen gadget ketika mengeluarkan produk, setiap produk yang kita beli pasti memiliki buku manual sebagai petunjuk perawatan agar gadget diperlakukan selayaknya.

Begitu pula dengan Pencipta anak kita. Anak kita adalah produk ciptaan Allah, maka Allah pun membuatkan buku manual agar ciptaanNya diperlakukan selayaknya.

Apa bentuk buku manual tersebut? Tentu saja firmanNya : kitab suciNya dan keteladanan dari utusanNya.

Selain itu, ada modal lain yang sudah tertanam dalam tubuh kita, berupa bagian otak bernama Pre Frontal Cortex (PFC) yang diciptakan khusus untuk manusia sehingga kita mampu menggunakan intuisi kita sebagai orangtua, serta kinerja otak dan hormon yang spesifik antara laki-laki dan perempuan, sebagai hardware-nya.

Sebagai software-nya, Allah juga mengajarkan Ilmu dan memberikan kefahaman dari lautan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ia memberi ilham dari suara hati kita maupun dari orang lain yang tiba-tiba berbagi ilmu meskipun tidak kita minta.

Dengan hardware dan software tersebut, Allah meng-install perangkat kemanusiaan untuk mendukung peran seseorang (menjadi orangtua) dengan sempurna.

Jika di dalam buku manual gadget, kita diberi rekomendasi untuk mematuhi do’s and don’ts dalam memperlakukan gadget kita agar mesin utamanya tetap terawat dan tidak cepat rusak, begitu pula dalam buku manual yang Allah berikan pada kita.

Ada banyak rekomendasi dalam memperlakukan dan merawat anak kita agar terawat “mesin utama” nya. Apa mesin utama seorang manusia? Tepat sekali, OTAKnya.

Maka, sangat penting bagi kita untuk memperlakukan anak kita sesuai dengan cara kerja dan perkembangan otaknya.

Saat kita memutuskan membeli gadget dengan merk tertentu, lokasi “service center” yang mudah dijangkau juga menjadi salahsatu pertimbangan.

Dalam pengasuhan, petugas “service center” adalah pelaku pengasuhan, yaitu kedua orang tua.

Khusus dalam kasus pengasuhan, petugas perawatan harus lengkap (dual parenting).

Yang perlu ditekankan adalah bukan lengkap jumlah atau person-nya yang paling penting, tapi lengkap fungsi dan perannya.

Dan orang-orang yang mengasuh anak (significant other) harus kompak dan KONSISTEN.

Jika kita ada pada suatu kondisi tidak lengkap secara person, tetap lengkapi dengan mencari penggantinya: ayah/ibu baru, kakek/nenek, paman/bibi atau seseorang yang bisa jadi panutan.

Umat Islam sudah mendapat teladan langsung dari Rasulullah saw mengenai dual parenting ini.

Inilah pondasi yang harus kuat dalam pengasuhan. Yaitu, kitab suci-Nya dan teladan dari utusan-Nya (spiritual based), cara kerja dan perkembangan otak (brain based), dan dual parenting.

Pondasi ini lah yang menjadi GUIDELINE kita dalam mengasuh.

Tokoh dan artikel mengenai pengasuhan saat ini sudah sangat berlimpah. Carilah ilmu dari siapa saja dan apa saja. Namun, biasakan diri untuk kroscek setiap ilmu yang kita peroleh apakah sesuai guideline (spiritual based, brain based, dan dual parenting).

Kita selalu punya pilihan untuk mengulang sejarah pengasuhan orangtua kita, ikut pendapat orang lain tanpa kroscek, atau terus belajar ilmu yang sesuai guideline kita. Keputusan akhir ada di tangan kita.

Ketika kita sudah bertawakal dalam mengasuh sesuai dengan apa yang dimaui-Nya, sertakan selalu doa yang tertulis dalam ayat yang kita petik di atas :

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Mudah-mudahan kita sekeluarga dapat berkumpul kembali di akhirat dalam keadaan bahagia di surgaNya.

Bukankah ini tujuan akhir dari pengasuhan kita? SEKELUARGA DI SURGA.

yayasan kita



Ayah Bunda, terutama kaum ayah, apa yang biasa Anda lakukan sepulang kerja? Apakah Anda telah memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama istri dan anak-anak?

Tidak sedikit para ayah yang langsung tidur atau asyik sendiri dengan gadgetnya begitu sampai rumah, ketika istrinya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini suami malah menolak mendengarkan, apalagi ketika anak minta gendong, ada saja ayah yang langsung marah-marah karena merasa dirinya sudah terlalu capek di kantor. Padahal ada banyak kebaikan yang bisa diperoleh ketika seorang pria mau meluangkan waktu untuk keluarganya.

Berikut ini beberapa alasan mengapa para ayah sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita dari istri dan anaknya sekalipun dianggapnya menjemukan:

1. Sunah Rasulullah shalallaahu 'alaihissalam

Rasulullah bukanlah seorang yang tidak ada pekerjaan, beliau memiliki luar biasa banyak agenda setiap harinya, akan tetapi beliau tidak pernah lupa untuk berbincang dan bercanda dengan istrinya.

“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.” (HR. Thabrani)

Bahkan sekalipun berbincang sehabis shalat Isya' adalah hal yang dibenci oleh Rasulullah, akan tetapi hal ini tidak berlaku jika dipergunakan untuk ngobrol bersama istri, Imam Bukhari menjelaskan bolehnya begadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau pengantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

2. Membawa keberkahan

Jika Anda memiliki proyek di kantor atau usaha bisnis, bisa jadi ridho istri dan anak Anda lah yang menjadikan semua hal tersebut lancar dan mudah Anda jalankan. Jangan terlalu sombong segala kesuksesan Anda adalah karena kehebatan diri sendiri. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita dari bibir istri dan anak setiap harinya, ketika mereka merasa bahagia karena didengarkan dan diperhatikan, in syaa Allah ridho mereka itu bisa melancarkan dan memberi keberkahan untuk pekerjaan Anda.

3. Hak istri dan anak


”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.” (HR. Thabrani)




Ayah bunda mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Ayah bundasendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua

Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.
Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?

Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.

Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Ayah bundaharus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Ayah bundajuga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…

Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.
Baiklah Ayah bunda, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)





Wahai ayah dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan …

Wahai ayah dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan atau dosa-dosa yang masih sering kita lakukan. Karena sesungguhnya amalan-amalan yang dilakukan orangtua akan memberi pengaruh terhadap keshalihan anak.

Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.

Demikian juga seorang anak yang diutus orang tuanya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dirumah-rumah berbeda dengan seorang anak yang disuruh orang tuanya membeli rokok dan barang-barang memabukkan. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa senin kamis dan melaksanakan shalat jumat dan jama’ah tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di kafe, diskotik, dan bioskop.

Kita bisa membedakan antara seorang anak yang sering mendengar adzan dengan seorang anak yang sering mendengar ayahnya bernyanyi. Anak-anak itu pasti akan meniru apa yang sering mereka dengar.

Bila seorang ayah selalu berbuat baik kepada orang tuanya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, selalu berusaha tahu kabar mereka, menenangkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, memperbanyak berdoa, “rabbighfirli wa li wali dayya..”,berziarah ke kuburan mereka bila telah meninggal, dan bersedekah untuk mereka, serta tetap menyambung hubungan dengan teman-teman mereka dan member hadiah dengan orang-orang yang biasa diberi hadiah oleh mereka dahulu. Maka anak yang melihat akhlak ayahnya seperti ini dengan seizin Allah akan menontohnya dan juga akan memohonkan ampunan untuk orangtuanya.

Seorang anak yang diajari shalat tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton film, musik, dan sepak bola.

Seorang anak yang melihat ayahnya shalat di malam hari, menangis karena takut kepada Allah, membaca Al Qur’an, pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah tidur meninggalkan ranjangnya yang enak lalu berwudhu dengan air dingin di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan dan diliputi kecemasan?”

Semua pertanyaan ini akan berputar dibenaknya dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Selanjutnya dia akan mencontoh apa yang dilakukan ayahnya.

Demikian juga dengan seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahramnya, menutup aurat di hadapan mereka, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri. Dia akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut.

Beda dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, tersenyum, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Dia akan mempelajari semua itu dari ibunya.

Karena itu takutlah kepada Allah wahai Ayah Ibu, dalam membina anak-anak kalian! Jadilah Anda berdua teladan yang baik, berhiaslah dengan akhlak yang baik, tabiat yang mulia, dan sebelum itu semua berpegang teguh dengan agama ini dan cintailah Allah dan rasul-Nya.

Penjagaan Allah Terhadap Keturunan Orang Tua yang Shalih

Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.

Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.

Jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan baik maka akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang dapat dirasakan anak. Ganjaran tersebut dapat berupa penjagaan, rizki yang luas, dan pembelaan dari murka Allah. Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek terhadap anak. Dampak tersebut dapat berupa musibah, penyakit, dan kesulitan-kesulitan lain.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shaleh karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari kisah nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman memberitakan perkataan nabi Khidhir,

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatannya dan syafaatnya kepada mereka maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orangtuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan as sunnah.”

Allah telah memerintahkan kepada kedua orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya. Sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah akan menjaga anak cucunya. Allah berfirman,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa: 9)

Dari said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” ( Ath Thuur : 21) [1]

Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!

Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan membaguskan shalatku agar engkau mendapat kebaikan.”Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan beroda kepada Allah untuk kebaikanmu.

Kedua orangtua bila membaca Al-Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat(Al-Ikhlash, Al Falaq, An Naas), maka para malaikat akan turun mendengarnya dan setan-setan akan lari. Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan jelas ini member pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.

Tetapi bila Al-Qur’an ditinggalkan, dan orangtua lalai dari dzikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.

Sehingga dari itu semua, cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Serta kita harus senantiasa berbuat baik kepada orangtua kita serta menjauhi sikap durhaka kepadanya, agar anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berbakti, selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua dimasa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.

Selanjutnya, hal yang tidak boleh kita lupakan adalah senantiasa berdoa, mengharap pertolongan kepada Allah dalam mendidik anak-anak kita, janganlah kita sombong terhadap kemampuan yang kita miliki. Karena hidayah itu berada ditangan Allah dan Allahlah yang membolak balikkan hati hamba-hambaNya.

muslimah


.
Anak kita adalah amanah. Kita hanyalah fasilitator yang ditugasi memastikan ia mengenal tempat kembalinya : Allah swt. 

Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya agar baik fisik dan jiwanya. 

Lalu, bagaimana agar kita menjadi fasilitator yang baik?

Yang paling utama adalah terus mengenal diri sendiri dan mengenal anak kita. Mengenal perasaan diri sendiri dan anak kita, mengenal kecenderungan diri sendiri dan anak kita, mengenal pola pikir diri sendiri dan anak kita, mengenal kemampuan diri sendiri dan anak kita, mengenal tingkat dan jenis kecerdasan diri sendiri dan anak kita, mengenal gaya belajar diri sendiri dan anak kita, dan segala seluk beluk tentang diri kita sendiri dan anak kita.

Bagaimana caranya? 

1. BACA BAHASA TUBUH DAN SAPA PERASAAN

Perhatikan baik-baik mimik wajah dan bahasa tubuhnya, terutama saat kita sedang bersamanya.

Dari mimik dan bahasa tubuh yang tertangkap, sapa perasaan anak kita.
“Wah, kayaknya lagi girang banget nih?”
“Duh mukanya kusut banget, BeTe di sekolah?”
“Bau acemmmm.. abis main bola ya? Capek banget dong”.

2. WAKTU YANG BERKUALITAS

Milikilah waktu bersama BERDUA SAJA dengan anak kita, minimal 2 jam setiap pekan. Dating time.

Manfaatkan kebersamaan itu untuk saling terbuka dan saling mendengarkan. Ngobrol.

Pastikan kita tidak berkomunikasi dengan siapapun melalui media apapun ketika sedang berdua saja dengan anak kita. Seperti buka whatsapp, buka facebook, buka sosmed lainnya, BIG NO!

Jangan disambil-sambil, bisa-bisa anak kita merasa tidak dihargai.

Kadang ada hal-hal yang kelu bagi anak kita untuk menceritakannya. Hadiahi ia buku diary yang hanya dia dan orangtua saja yang tau isinya.

Pada saat dating time, kita bisa membahas isi buku tersebut.

Apresiasi keterbukaannya pada kita. Beri semangat ketika ia membutuhkan. Terima ia ketika ia berbuat kesalahan. Dukung nilai perjuangan anak meski sepele apa yang dikerjakannya menurut kita.

3. FALSAFAH KI HAJAR DEWANTARA

Fasilitator yang baik adalah seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara :

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi contoh/teladan, di tengah memberi motivasi, dan di belakang memberi dorongan/dukungan.

Fasilitator yang baik mengarahkan anak dengan teladan perbuatan, bukan perkataan. Elly Risman mengatakan 1 teladan bersuara lebih nyaring daripada berjuta kata-kata.

Allah swt pasti punya tujuan mengapa telinga kita diciptakan lebih banyak dari pada mulut kita. Dan ternyata menurut ahli komunikasi dunia, kata-kata hanya ditangkap 7% saja oleh yang mendengarkan!

4. MENDENGARKAN DENGAN HATI

Jika kita ingin anak kita patuh dan mendengarkan kata-kata kita, mulailah dengan mendengarkan perasaan dan kata-katanya.

Jika kita ingin anak kita melakukan sesuatu, mulailah dengan melakukannya terlebih dahulu. Anak kita bisa saja salah mengerti maksud kata-kata kita, tapi ia tidak pernah gagal meniru perilaku kita.

5. BERIKAN VALIDASI DAN APRESIASI
Fasilitator yang baik memotivasi anak dengan memberi validasi bahwa anak adalah BINTANG.

Setiap anak perlu diakui potensi dan kemampuannya yang unik, yang berbeda dengan anak lainnya maupun orangtuanya. Ia perlu diterima dan dihargai, bagaimanapun dan seberapapun kemampuannya.

Fasilitator yang baik juga selalu memberi dukungan berupa apresiasi dan kesempatan untuk mencoba atau melakukan sesuatu.

Beri dia kepercayaan untuk mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Misal, biarkan anak kita mengancingkan sendiri bajunya meski agak lama ia mengerjakan. Biarkan ia menalikan tali sepatunya meski panjang sebelah memitanya. Lalu, puji hasil kerjanya.

Jika rumah kita berantakan karena ia sedang asyik ‘mengerjakan proyek’ yang sedang menjadi minatnya, biarkan saja. Percayalah, saat ia beranjak remaja, kita akan merindukan masa-masa rumah yang superberantakan itu.

Validasi dan apresiasi tak selalu hadiah yang berupa materi, bisa juga pujian yang tulus dan pelukan yang hangat.

Pelukan tak hanya efektif membuat anak merasa diterima. Virginia Satir, seorang psikolog dan terapis keluarga mengatakan :
“4 pelukan dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup
8 pelukan dibutuhkan seseorang untuk memperbaiki diri dan hidupnya
12 pelukan dibutuhkan seseorang untuk tumbuh”

6. LIBATKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Ketika akan membuat keputusan apapun tentang anak kita, libatkan dia dengan menanyakan pendapatnya.

Anak akan merasa sangat berharga ketika diminta pendapatnya meski keputusan akhir selalu di tangan orangtua.

Selain merasa dihargai, menanyakan pendapat anak dalam pengambilan keputusan dapat menstimulus kematangan otak bagian Pre Frontal Cortex (PFC), yaitu bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang karena berfungsi membentuk kepribadian, menimbang benar-salah, baik-lebih baik, pengelolaan adab nilai dan moral, mengelola emosi, merencanakan masa depan, memperkirakan konsekuensi dari tindakan, serta pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, melibatkan anak dalam pembuatan keputusan yang sesuai usia, misalnya dalam membuat menu selama seminggu, memilih pakaian yang akan dikenakan, memilih sepatu yang akan dibeli, dll, merupakan satu langkah memanusiakan kemanusiaannya. Tidak dijadikan robot yang siap menjalankan program.

Selamat menjadi fasilitator terbaik. Semoga Allah bangga dan memperkenankan kita memasuki surgaNya berkat susah payahnya kita menjaga amanahNya dengan baik.



yayasankitadanbuahhati



Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai guru juga, saya sering kali menjumpai siswa yang "berulah" (baca: bermasalah). Biasanya saya menemukan hal ini ketika sedang mengajar ataupun saat berpapasan dengan siswa saat waktu istirahat maupun waktu lain selama di sekolah. Beberapa di antara masalah yang terlihat yakni: nyeletuk, berbicara kasar, baju seragam di keluarkan atau dicoret-coret, rambut laki-laki yang terlalu panjang, atau banyak pelanggaran lain yang tentunya tak mungkin saya sebutkan semuanya.

Lalu, bagaimana sikap kita sebaiknya? Berikut hasil pengalaman saya yang dirangkum menjadi tips agar bisa dipraktekkan dalam mengajar siswa zaman now. Tips ini saya tulis spesial untuk para guru semua, berkenaan dengan Hari Guru Nasional. Cara ini juga bisa dilakukan oleh ayah bunda di rumah, karena ayah bunda juga merupakan guru kehidupan bagi anak-anaknya. Silahkan simak tips berikut :

1. LAKUKAN PENDEKATAN


Seringkali saya melihat guru menegur siswa dari jauh jika melakukan suatu pelanggaran.

Misalnya:
"Hai Jono (sambil menunjuk siswa) jangan bercanda di belakang!"

"Ardi (sambil menunjuk siswa yang berada di depan pintu kelas) kenapa kamu terlambat?"

Padahal siswa zaman now sangat mementingkan yang namanya connect (hubungan) dekat. Yaps, soalnya mereka terbiasa terkoneksi dengan media sosial dan lebih sering menatap gadget begitu dekat. Jadi, mendekatlah ke siswa tersebut dan rendahkanlah volume bicara kita. Jangan sampai terdengar siswa lain, karena bisa membuat harga diri siswa ini menjadi tercerabut.

2. GUNAKAN KALIMAT TANYA


Ketika siswa melakukan pelanggaran, maka tugas guru sebaiknya memberikan penyadaran bahwa apakah perbuatan yang dilakukan boleh atau tidak boleh. Selain itu siswa juga harus mempertimbangkan baik buruknya perilaku yang dilakukan. Beberapa kali saya melihat guru yang langsung mengatakan kesalahan anak.

Seperti:

"Jono, kamu ini baju seragam di keluarin! Masukin sekarang!"

Kalimat-kalimat seperti itu justru membuat siswa di awasi dan kurang menyadari kesalahannya. Buatlah siswa sadar dan berpikir apa yang salah terhadap dirinya dengan mengajukan kalimat tanya. Kalimat tanya membuat anak menjadi Berpikir, Memilih dan Memutuskan (BMM) serta introspeksi terhadap dirinya.

Contoh yang Benar :

Guru : "Jono, menurutmu jika berada di sekolah sebaiknya baju seragam di keluarkan atau di masukkan?"

Siswa : "Di masukkan Pak."

Guru : "Terima kasih kamu sudah berkata benar. Lalu bagaimana keadaan seragammu saat ini?"

Siswa : (melihat kondisi/memeriksa seragamnya) "Oh iya Pak ini keluar bajunya"

Guru : "Lalu sekarang apa yang harus kamu lakukan?"

Siswa : (otomatis memasukkan baju)

Setelah terjadi perubahan perilaku maka tugas kita yakni memberikan harapan agar siswa tersebut tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Contoh :
"Sebenernya Bapak/Ibu sedih melihat kamu berpakaian tidak rapih dengan mengeluarkan baju seragam. Bapak/ibu berharap kamu bisa selalu berpakaian dengan rapih, memasukkan baju seragammu setiap saat."

Hal ini perlu disampaikan agar siswa memahami apa yang kita harapkan. Jadi, setelah siswa menyadari kekeliruannya dan memahami harapan kita, ajaklah untuk berperilaku sesuai yang kita harapkan.

3. BERIKAN PENGUATAN POSISTIF


Penguatan positif merupakan reward yang sangat efektif untuk merubah perilaku. Berikan kata-kata positif untuk menguatkan perilaku positif.

Rumusnya :
"Kalo kamu (perilaku perubahan) kamu terlihat (kata-kata positif)"

Sebagai contoh :

"Nah, kalo kamu berpakaian rapih memasukkan seragam, kamu terlihat keren banget Jon. Bapak bangga banget sama kamu jika seperti ini."

Ulangilah perkataan tersebut setiap kali kita memergoki anak yang berubah perilakunya menjadi lebih baik. Jadi, jangan hanya siswa yang bermasalah saja yang ditegur atau diperingati. Kita juga harus memberikan penguatan positif saat kita melihat siswa yang melakukan perubahan perilaku yang baik.

Selamat menjadi Guru Zaman Now semoga pendidikan Indonesia semakin berkembang dan maju di kancah Dunia!



Dari pembahasan sebelumnya, kita sudah memahami bahwa anak adalah amanah Allah.

Ia bukanlah milik kita. Bukan semata-mata hadiah yang dapat diperlakukan sesuka kita. Bukan. Kita sebagai pihak yang dititipi akan diminta pertanggungjawaban atas titipan tersebut.

Dengan cara apa? Apakah cukup dengan menjamin kebutuhan materinya, makanannya, dan menyekolahkannya dan mefasilitasinya dengan les tambahan?

Banyaknya kasus kenakalan dan kejahatan yang dilakukan anak dan remaja, seakan menceritakan kenyataan bahwa anak dan remaja kita sehat badannya, cerdas otaknya, namun hampa jiwanya. Adriano Rusfi, seorang praktisi pendidikan, menyebut mereka dengan sebutan “Aqilnya tidak berbarengan (lebih lambat) dengan Balighnya”.

Yang kita inginkan adalah saat kita harus mempertanggungjawabkan anak kita kepada Pemiliknya, hati kita bangga dan tenang karena anak kita kembali dalam keadaan yang terbaik (BEST). Baik iman, budi, dan perilakunya (BEHAVE), baik hati dan kata-katanya (EMPHATIC), baik otaknya (SMART), serta baik fisik, mental, dan jiwanya (TOUGH).

Yaitu anak yang kokoh keimanannya, baik ibadahnya, dan mulia akhlaknya. Anak yang merasa dirinya berharga dan percaya diri. Anak yang cerdas : berfikir kritis dan solutif.

Anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan tutur katanya menghargai orang lain, mandiri, bertanggung jawab pada Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, serta bijak berteknologi.

Jadi, dengan cara apa kita melaksanakan tanggungjawab sebagai orangtua?

Pertama, yang perlu kita sadari bahwa mengasuh adalah aktifitas menunaikan amanah sang Pencipta yang dilakukan orangtua dalam rangka mempersiapkan anaknya menjadi dewasa, yaitu mampu berpikir, memilih, dan mengambil keputusan dengan dilandasi ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akhlak yang baik sebelum anak kita baligh (bagi anak laki-laki) dan hingga menikah (bagi anak perempuan).

Kesadaran kedua adalah bahwa anak kita membawa takdirnya sendiri. Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya. Peran kita sebatas FASILITATOR yang membantu anak kita menemukan jalan hidup yang Allah takdirkan kepadanya. Tak lebih dari itu.

Kita sama sekali tidak punya mandat memilihkan jalan hidup bagi anak kita. Sekali lagi, kita sama sekali tidak diberi mandat menentukan jalan hidup anak kita oleh Penciptanya.

Tidak dibenarkan jika kita menitipkan mimpi-mimpi kita yang tak tercapai kepada hidup anak kita. Masa depan laksana dinding putih yang anak itu sendiri yang mewarnainya.

Oleh karena itu, kenali anak kita. Bagaimana mungkin kita bisa mendampinginya jika kita tidak mengenali anak kita sendiri.

Kita juga perlu terus mengenali diri sendiri dan jalan hidup yang digariskan Allah pada kita, agar kita bisa menjadi fasilitator terbaik yang siap mengawal anak kita sepanjang ia berproses menemukan jalan hidupnya sendiri.

Akhirnya, kita menyadari tugas mengasuh adalah tanggungjawab yang sangat serius. Olehkarena itu, rasanya kita tidak lagi bisa menggunakan gaya populer : mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak kita ke tangan orang lain.

Jika oleh karena satu dan lain hal kita menitipkan anak kita pada pengasuh (babysitter, kakek nenek, Asisten Rumah Tangga), sebelum meninggalkannya di pagi hari, pastikan anak tercukupi kebutuhan jiwanya hingga orangtuanya kembali ke rumah.

Pastikan kita tetap menjadi guru pertama dan penjaga utama dari makhluk mungil yang kita bangga-banggakan itu.

Pastikan kita tidak kehilangan momen-momen berharga anak kita. Jika direnungkan kembali, sesungguhnya kita-lah yang merugi jika momen-momen berharga anak kita terlewat sedangkan ia terus tumbuh hari demi hari.

...they won't be kids forever, which makes today that much more important.

Menjadilah orangtua yang ada, ibu yang ada, ayah yang ada. Yang siap memberikan kebutuhan pada saat yang diperlukan, dalam jumlah yang cukup.



Ada kalanya anak tumbuh tidak sesuai dengan harapan, suka melawan, tak betah di rumah, pemalas, dan berbagai perangai buruk lainya. Kondisi ini kerap memunculkan rasa sesal, bingung, dan kecewa pada diri orangtua.

Ironisnya, orangtua sering lupa bahwa hulu dari semua kekecewaan itu adalah diri mereka sendiri. Saat sang buah hati hadir, kebanyakan orang menganggap dirinya sedang mendapatkan “kado” dari Tuhan untuk bisa mereka nikmati. Ia terlupa bahwa hakikatnya ia baru saja dibebani tugas, amanah, dan ujian yang amat berat di pundaknya.

Tugas Mendidik

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS At-Taghabun [64]: 14).

Anak yang shalih adalah amanah untuk dijaga agar tidak menjadi nakal. Anak yang tidak shalih adalah amanah untuk dididik dengan benar. Anak yang shalih adalah anugerah untuk bersyukur kepada Allah.” Karena itulah, yang seharusnya pertama kali dipikirkan oleh orangtua saat dianugerahi seorang anak bukanlah bagaimana membahagiakan anak itu tapi bagaimana mendidiknya agar dapat memenuhi tujuan penciptaan, yaitu menjadi penghamba kepada Allah dan pemakmur bumi (khalifah).

Untuk bisa memenuhi tujuan ini hanya ada satu jalan, yaitu mendidiknya dengan sungguh-sungguh. Prinsip utama yang harus dipegang oleh orangtua saat mendidik adalah keteladanan. “Dalam mendidik, prinsip yang paling utama adalah memberikan keteladanan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw,” .Adanya keteladanan,“Memang tidak menjamin anak otomatis menjadi shalih. Namun tanpa keteladanan akan lebih sulit lagi mendidik anak untuk menjadi shalih.”

Selanjutnya, yang juga harus diperhatikan dalam mendidik adalah lebih banyak memberikan “setoran” kebaikan daripada “penarikan” keburukan. “Setoran kebaikan maksudnya bersikap positif pada anak, memberikan apresiasi, bantuan sewajarnya, dan komunikasi dengan positif. Sedangkan penarikan keburukan sebaliknya, lebih sering memberikan ancaman, kecaman, dan hukuman yang membuat anak merasa sakit hati.

Hadapi Ujian

Saat ikhtiar dalam mendidik belum memperlihatkan hasil yang memuaskan, jangan pernah berkata gagal. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana cerita hidup anak-anak kita akan ditutup. Hayatilah setiap kendala dan belum tercapainya cita dalam mendidik sebagai sebuah ujian yang berpotensi menaikkan derajat kita, terlepas dari apa pun hasilnya. Karena sampai kapan pun anak tetap menjadi ujian, amanah, dan anugerah bagi orang tuanya. Ketika anak menjadi nakal maka orangtua harus menjalani ujian kesabaran.”

Ketika anak menjadi ujian dengan berbagai permasalahannya, mungkin muncul rasa nelangsa yang membuat kita terpuruk, merasa seperti orang paling sengsara di dunia. Padahal, banyak orang yang diberi ujian serupa bahkan jauh lebih berat, para nabi, misalnya. “Dari Mush’ab bin Sa’id dari ayahnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau saw menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa,” (HR Tirmidzi).

Maka, kita lihat, bagaimana Nuh as diuji lewat putranya, Kan’an. Terekam juga kisah Ya’qub as dengan anak-anaknya yang mencoba membunuh Yusuf as. Serta Luth as yang dikhianati istri dan anaknya. Namun, apakah perilaku anak-anak itu menurunkan derajat orangtua mereka? Tidak, ayah mereka tetap menjadi Nabi yang mulia.

Jadi, fokus kita adalah bagaimana meneladani para utusan Allah itu.

Di antara yang perlu diteladani antara lain:

1. Tak henti menasihati
Jangan pernah putus asa memberikan nasihat. Lihatlah Nuh as yang terus menasihati sang anak hingga detik-detik terakhir ketika air bah menenggelamkannya. Kekukuhan yang sama pun terlihat ketika Ya’qub dengan lembut berkata pada anak-anaknya yang mencelakakan Yusuf as, “…Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku,..” (QS Yusuf [12]: 18).

2. Maafkan anak
Allah telah memfirmankan dengan jelas pada surat At-Taghabun di atas, “Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Pemaaf adalah karakter mutlak seorang dai, seperti yang tertera di surat Al-A’raf ayat 199, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” Sedangkan kita tahu, orangtua adalah dai bagi anak-anaknya.

3. Koreksi diri
Koreksi diri diperlukan karena setiap masalah sebenarnya tergantung bagaimana seorang hamba menyikapinya. Setiap perubahan sikap ke arah yang lebih positif dan diiringi kesungguhan doa, Insya Allah mendatangkan hasil terbaik.

4. Dekati Allah
Jadikanlah ujian pengasuhan itu sebagai bahan aduan kepada Allah. "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi," (QS Al-Munafiqun [63]: 9).

ummi online


Penelitian menunjukkan kehilangan peran ayah dalam mendidik anak berdampak negatif terhadap perkembangan karakter dan kepribadian anak lho. Seberapa penting peran ayah bagi kehidupan seorang anak? Simak pembahasan lengkapnya.

Dalam perspektif psikologi, tanggung jawab seorang ayah adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarga, termasuk kebutuhan mendidik, memberi rasa aman, memberikan kasih sayang, dan bukan hanya kebutuhan ekonomi saja (sandang, papan, pangan). Berbagi peran dengan istri dalam mendidik anak boleh-boleh saja, namun tanggung jawab sepenuhnya tetap pada ayah. Sebab, dalam mendidik, ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh ibu, khususnya dalam hal keterampilan sosial, seperti kemandirian, kepemimpinan, komunikasi, keberanian, pengambilan keputusan, daya juang, dan keterampilan hidup lainnya yang keteladanannya dominan dimiliki oleh seorang ayah.

Ayah bukan hanya kepala keluarga, namun juga sosok yang sangat penting dalam proses perkembangan anak. Beberapa peran ayah dalam keluarga adalah sebagai penyedia kebutuhan keluarga, sosok pemimpin ideal, mentor dalam kehidupan beragama dan karier, teladan dalam akhlak, motivator kesuksesan, teman curhat, pemberi perhatian, pelindung, dan pemberi rasa aman, komunikator dalam keluarga, contoh dalam menjaga sikap dan disiplin, penyelesai masalah, pengambil keputusan, pendidik, penjaga norma, nilai dan budaya.

Penelitian Tentang Ayah-Anak

Beberapa penelitian oleh ilmu kesehatan dan ilmu psikologi yang dilakukan oleh para ahli menyimpulkan bahwa:

1. Ayah yang terlibat dalam proses tumbuh kembang anaknya akan memiliki anak yang lebih sedikit masalah dibandingkan dengan anak yang dalam proses tumbuh kembangnya tidak didampingi oleh sosok ayah.

2. Anak yang didampingi oleh ayah dalam proses tumbuh kembangnya memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dan memiliki sedikit masalah terkait perilaku.

3. Ayah yang terlibat langsung dalam membacakan buku cerita, memiliki acara spesial dengan anaknya, tertarik dengan pendidikan anaknya, dan mengambil peran yang sama dengan ibu dalam mengelola anaknya akanmemiliki anak yang lebih berprestasi di sekolah.

4. Anak laki-laki yang memiliki keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik, dengan kendali emosi yang cukup baik pula saat anak tersebut dewasa.

5. Anak perempuan yang proses tumbuh kembangnya didampingi ayah akan memiliki kemandirian dan rasa percaya diri yang lebih baik saat dewasa.

Bila anak tidak memiliki figur ayah yang kuat dalam dirinya, maka yang terjadi adalah anak akan berusaha mencari figur lain, misalnya paman, kakek, guru, tetangga, atau teman senior. Namun yang menyedihkan adalah banyak anak akhirnya mencari figur dari dunia hiburan, seperti artis, tokoh fiktif, tokoh asing yang mereka tidak pernah bertemu dan bertatap muka. Berbagai permasalahan yang dialami anak, mulai dari terpapar pornografi, adiksi game online, kecanduan gadget, manipulasi di sosial media, LGBT, hingga perundungan (bullying), salah satu penyebabnya adalah juga karena kurangnya peran ayah dalam mendidik anak di tengah keluarga.

Itulah mengapa ayah harus hadir dalam proses tumbuh kembang anak. Anak dan remaja yang tumbuh dan berkembang, mereka sedang menjalani proses pembentukan hingga remaja akhir. Bila Ayah tidak memiliki peran yang signifikan dalam proses pembentukan tersebut dan tidak memiliki kedekatan, maka ketika remaja dan dewasa anak akan susah untuk diarahkan ke sesuatu yang dianggap orangtua baik bagi dirinya.

Salah satu indikator bahwa figur ayah hadir dalam diri anak adalah anak mengidolakan ayah dalam akhlak, ibadah, karier, karakter, dan kepribadian. Ketika dia bermain bersama temannya, anak selalu menjadikan perkataan ayah sebagai rujukan dalam mengingatkan teman-temannya yang tidak baik, misalnya, “Kata ayahku itu tidak baik, lho.”

Lalu di era modern ini, dengan kesibukan yang tinggi, bagaimana peran ayah sebaiknya? Sebenarnya peran ayah yang kita bahas bukanlah hanya soal kehadiran fisik, namun juga kehadiran psikis. Di tengah kesibukannya, ayah tetap bisa meluangkan waktu khusus bagi anak, komunikasi yang berkualitas dan suportif, dialog dan memahamkan anak mengenai pekerjaan yang dilakukannya, bila perlu suatu waktu ajak anak ke tempat kerja ayah sehingga dia tahu apa yang ayahnya lakukan, juga sering memeluk dan memberi apresiasi termasuk hadiah. Buatlah anak nyaman dan berikan rasa aman dan kasih sayang.Ingat, cinta itu harus diungkapkan, tidak cukup hanya dengan memberi uang.

ummi online



Tahukah bahwa tidak semua ibu menjadi idaman bagi anak-anaknya? Misalnya karena terlalu galak, menggunakan kekerasan dalam perkataan maupun perbuatan, ataupun terlalu cuek terhadap anak.

Tapi ada pula ibu yang menjadi sosok idaman bagi anak-anaknya. Berikut ini ciri-cirinya:

1. Perhatian penuh pada anak

Ketika anak membutuhkannya, ibu senantiasa siap mendengarkan celoteh mereka dengan sepenuh hati. Bukankah hal ini sudah jarang kita temukan?

Saat ini TV dan hp tampaknya menjadi saingan utama anak-anak, karena begitu banyaknya ibu yang lebih fokus ke hp dan tayangan TV ketika anak minta diperhatikan olehnya.

2. Berinteraksi dengan anak

Yang disebut interaksi adalah adanya komunikasi dua arah. Banyak ibu yang sekadar menyuapi, memandikan, dan mengantar anak sekolah tanpa ada komunikasi sama sekali.

Cobalah review bagaimana interaksi kita dengan anak-anak. Apakah kita lebih banyak diam daripada bercanda dan bercerita dengan anak-anak?

3. Bahagia dan tak banyak mengeluh

Ibu yang selalu terlihat muram serta mengeluh dan banyak komplain akan membuat anak enggan untuk menyukainya. Sebaliknya, ibu dengan karakter bahagia dan ceria akan mudah disukai anak-anak.

4. Sabar

Namanya juga anak-anak, tentu saja banyak tingkah polahnya, ibu yang bersabar biasanya bisa tetap tenang ketika anaknya melakukan kesalahan, dan bisa menasihati sang anak dengan baik. Ada tipe ibu yang mudah main tangan, pukul atau cubit ketika anaknya berbuat kesalahan, tentunya hal ini menyakiti harga diri anak.

5. Gemar bercerita

Ibu yang suka bercerita biasanya menjadi idaman anak-anak karena membuka cakrawala berpikir mereka. Apakah kita sudah menjadi ibu yang gemar bercerita?

6. Adil

Membagi sama rata bukanlah ciri-ciri adil, adil itu berarti mampu memberikan sesuai porsinya. Ada ibu yang menyamakan kebutuhan si kakak dengan si adik, padahal kebutuhan kakak bisa jadi lebih besar daripada si adik.

Ada pula ibu yang selalu memenangkan si anak laki daripada anak perempuan. Atau sebaliknya, ketidakadilan ini tentu menyakitkan untuk sang anak.

7. Mengenalkan anak pada Allah dengan kasih sayang


Ada ibu yang mengenalkan Allah sebagai zat yang 'menakutkan', kalau tidak shalat akan dipanggang di neraka, kalau tidak pakai jilbab akan digantung rambutnya di atas api neraka, tentunya anak-anak menjadi takut pada Allah karena kesadisan cerita yang didengar dari sang ibu.

Namun ada pula Ibu yang mengenalkan Allah sebagai zat yang maha pengasih dan penyayang, "Kita bisa makan setiap hari karena rezeki dari Allah, kita bisa aman di rumah berlindung dari panas dan hujan karena rezeki dari Allah." Dengan demikian, anak mengetahui bahwa segala kebaikan yang ia nikmati adalah pemberian Allah.

Bagaimana , sudah berapa sifat ibu idaman yang kita miliki? Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. 

Yuk sama-sama berbenah.




Situasi: Bella buka kulkas nyari makanan, nemu jelly dan hendak memakannya
Mama: "Bukannya jelly punya Bella udah dimakan tadi?"
Bella: "Tapi Bella suka"
Mama: "Silakan ijin dulu ke Berry. Kalo diijinkan, Bella boleh makan, kalo enggak balikin lagi ke kulkas. Itu bukan punya Bella."

*Sudah, tidak apa-apa cuma jajanan sedikit. Nanti Berry bisa di belikan lagi

Tidak!
Justru mereka sedang belajar tentang hak milik. Agar kelak tidak asal serobot sana sini atas sesuatu yang bukan haknya.

Situasi: Rebutan mainan
Mama: "Silakan gantian mainnya. 10 menit-an. Kalo gak bisa gantian mama ambil mainannya. Dua-duanya gak bisa main."

*Anaknya dua, mainannya juga harus dua. Susah bener, beliin aja mainan yang sama biar gak rebutan.

Tidak!
Justru mereka sedang belajar untuk saling berbagi dan tidak egois. Agar kelak hati mereka lebih peka terhadap sesama.

Situasi: berantem
Mama: "Siapa yang salah? gimana critanya?"
Bla bla bla bla.... ketemunya Bella yang salah
Mama: "Bella yang salah karena ini ni ni ni.... Silakan minta maaf ke Berry."

*Udaah... masalah kecil aja diributin. Yang kakaknya dong yang ngalah.

Tidak!
Justru mereka sedang belajar tentang keadilan, mengalahkan ego dan berani megaku salah. Agar kelak tak mudah mencari kambing hitam dan tak gengsi saat harus meminta maaf.

Situasi: Mainan berserakan di lantai
Mama: "Ini siapa yang tadi ambil mainan? Silakan dibalikin masing-masing. Tadi udah janji. Yang masih di lantai nanti kalo kesapu gak usah marah."

*Cuma beresin mainan ini, selesein pas mereka tidur juga langsung beres.

Tidak!
Justru mereka sedang belajar bertanggung jawab terhadap konsekuensi yang harus mereka terima dari setiap keputusan yang mereka ambil.

Kadang solusi semu itu tampak menggiurkan, mudah dan tidak merepotkan. Langsung beres sekarang juga. Tapi tidak untuk 20 atau 30 tahun lagi.

Apakah setelah ditanamkan hal-hal seperti ini terus mereka jadi anak2 manis yang nurut dan jarang nangis?
Enggak!! Bocah tetaplah bocah. Berebut, bertengkar, berantem, mengadu, menangis, ngambek, tiap menit.

Tapi paling tidak, sejak awal mereka sudah mulai belajar mengerti bahwa hidup itu ada aturannya, tidak bisa suka-suka mereka. Hidup bukan tentang mereka saja. Ada pemahaman-pemahaman baik yang harus mereka junjung. Ada prinsip-prinsip hidup yang harus mereka pegang. Pemahaman dan prinsip yang disemai saat ini dan dituai di kelak kemudian hari. Karena attitude itu hasil tempaan belasan tahun. Dia tidak datang secara instan.

Kita hanya diwajibkan mengupayakan yang terbaik yang kita bisa untuk mereka. Adapun hasil, itu sudah bukan ranah kita lagi.



Ada 14 permintaan anak yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan:

1. Cintailah aku sepenuh hatimu.
2. Jangan marahi aku di depan orang banyak.
3. Jangan bandingkan aku dengan kakak atau adikku atau orang lain.
4. Ayah Bunda jangan lupa, aku adalah fotocopy-mu.
5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.
6. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku bila salah.
7. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.
8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.
9. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar dari mulutmu sebagai orang tua adalah doa bagiku?
10. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.
11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.
12. Jangan ikutkan aku dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.
13. Aku ingin kau sayangi cintai karena engkaulah yang ada di kehidupanku dan masa depanku.
14. Berilah aku pendidikan agama, agar lepas tanggung jawabmu kelak, dan sebagai anak shaleh kita akan saling tarik menarik ke surga-Nya



Ada seorang ayah, setiap kali pulang kerja, merasa begitu lelah dan emosi, mudah sekali tersinggung.
Berkali-kali terjadi, hampir setiap hari. Ayah tersebut merasa marah akan hari yang dilaluinya. Setelah itu, ketika melihat anaknya sedang bermain, ia pun meledak.

“Ngapain kamu main mobil-mobilan terus? Mana PR-mu?”
“Aku enggak dapat PR apa pun hari ini.”

“Kenapa enggak ada PR? Ayah akan adukan ini ke sekolahmu. Bayar sekolah mahal-mahal, enggak dikasih PR. Bagaimana kamu bisa pintar?”

Bisa kita bayangkan keadaan rumah tersebut. Setiap kali ia pulang, keluarganya menjadi ketakutan. Tidak ada ketenangan, bahkan mereka hidup di bawah tekanan. Bukan tekanan dari rentenir atau penagih utang, melainkan tekanan dari ayahnya, tekanan dari suaminya sendiri.

Sejatinya, seorang ayah harus menjadi sebab keluarganya bahagia. Seorang anak harusnya berlari memeluk ketika ayahnya pulang. Seperti itulah seharusnya hubungan antara ayah dan anak.Luangkanlah waktu untuk buah hati sesibuk apa pun diri kita.

Sudahkah Anak Kita Memeluk dan Terlihat Sangat Bahagia Setiap Kali Kita Pulang Kerja?

Zaman telah berkembang sangat pesat. Pada 20, 30, atau 40 tahun yang lalu, seorang ayah bisa dengan mudah memerintah anaknya. Menjadi begitu tegas dan berwibawa hingga anak menjadi segan padanya. Namun, di zaman teknologi ini, ketika semua orang dengan mudah terpapar informasi, seorang ayah pun harus ikut berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Seorang ayah harus mampu menjadi teman sekaligus pengatur bagi anak-anaknya.

Saat kita kecil, ayah kita bukanlah sahabat kita. Ia adalah seseorang yang mengatur sebagian besar aspek kehidupan kita, tetapi tidak menjadi tempat kita bercerita ataupun seorang sahabat. Di tahun 2015 ini, kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Saat kita hanya mengatur-ngaturnya tanpa mau mendengarkan atau mengusahakan untuk dekat dengannya, anak akan mencari tempat nyaman yang lain untuk berbagi cerita, ide, bahkan keinginannya.

Ini zaman teknologi. Ini zaman gadget. Ini zaman Google. Ini zaman media sosial. Kita harus menerima kenyataan bahwa anak-anak kita menerima begitu banyak informasi dengan mudah sekarang. Jangan biarkan anak kita dibesarkan oleh informasi yang kita tidak tahu dari mana sumbernya.

Ayahlah yang akan mengajarkan anaknya tentang Islam, indahnya Islam. Jangan sampai anak menjadi jauh dari agamanya karena kita yang lupa mengenalkannya. Untuk mengenalkan Islam agar lekat dihatinya, kita harus menjadi seorang sahabat untuknya.
Jika Kita Terlanjur Jauh dari Anak, Bagaimana Cara Mendekatinya?Jangan sampai kita melewatkan masa kecilnya.

Kuasailah permainan yang disukainya. Ikutlah bermain bersamanya. Berbagilah cerita dengannya. Dengarkan ide dan impiannya. Tidak perlu terlalu banyak menonton berita ketika berada di rumah. Cukup dengarkan di mobil saja. Jangan pulang, lalu menonton TV! Luangkan waktu untuk anak-anak.

Di rumah, ayah adalah milik anak-anaknya. Bukan TV, bukan kantor, bukan gadget.

Pulang dan bermainlah dengan anak-anak. Kerjakan PR bersamanya. Mengobrol dengannya. Ajak anak ke masjid ketika azan. Lakukan banyak hal bersamanya. Buatlah ia mencintai ayahnya.

Sudah siap menjadi ayah idaman yang menyejukkan hati anak-anaknya?




“Anisykurlillah” merupakan satu kalimat yang powerfull bagi kita jika kalimat ini mampu kita terapkan dalam keseharian kita. Termasuk dalam upaya kita membawa bahtera rumah tangga menuju ridha Allah Swt. Kalimat ini powerfull dalam upaya kita mengajak anak untuk mencintai islam, mencintai Allah, dan mencitai Rasulullah.

Tapi sebelum kita bahas lebih dalam tentang kalimat ini, mari kita bicarakan sedikit tentang warisan. Apa yang terpikir di benak Anda ketika kita berbicara mengenai warisan?

Betulkah perkiraan saya jika saya katakan bahwa ketika berbicara tentang warisan, yang terpikir dalam benak kita adalah bagaimana anak-anak memiliki kehidupan aman secara finansial. Maka Ayah dan Bunda berusaha mati-matian banting tulang mencukupi kebutuhan dunianya. Sandangnya, pangannya, papannya, primer, tersier, sekunder, dsb.

“Apa yang Akan Engkau Makan, Nak?"

Banyak dari kita yang selalu bertanya. “Apa yang akan engkau makan setelah aku pergi nanti, nak?” Maka saat masih hidup kita mati-matian bekerja dari pagi hingga malam agar dapat mewariskan sesuatu bagi anak-anak kita. Tidak ada yang salah dengan “pengorbanan” ini. Namun jangan pernah mau dibutakan oleh kehidupan dunia wahai Ayah dan Bunda. “Pengorbanan” ini akan sia-sia saja jika anak tidak ridha orang tuanya tidak punya waktu untuknya. Allah tidak akan ridha pada “pengorbanan” ini sebab ia lebih banyak mengingat deadline dari pada mengingat-Nya.

“Apa yang Akan Kamu Sembah Sepeninggalku?”

Diceritakan dalam surat Al-Baqarah ayat 133. yang Yakub tanyakan pada anak-anaknya bukanlah tentang harta atau urusan perut saja, melainkan yang lebih penting dari itu. Yakni, “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?”

Bukan warisan berupa kekayaan harta yang ia khawatirkan. Melainkan sebuah warisan yang lebih berharga lagi dari itu. Sebuah pemahaman tentang keimanan, ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan kepada Allah yang akan berujung bahagia kelak di akhir hidup kita setelah dunia.

Setelah bertanya “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka (putra nabi Yakub) pun menjawab. “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq. Yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepada-Nyalah kami akan menyerah diri.”

Anak Kita Akan Jawab Apa?

Lalu jawaban apa yang akan kita dapat jika hal itu kita tanyakan kepada anak-anak kita? Mampukah uang yang kita wariskan menyelamatkan mereka di akhirat nanti? Sudikah kiranya Allah menerima kita dan keluarga kita untuk bertemu dengan-Nya jika yang kita pedulikan selama di dunia ini hanyalah urusan kemewahan dunia?

Atau barang kali kita merasa sudah berusaha mengenalkan siapa Tuhan kita kepada anak-anak kita dengan menyuruhnya ibadah ini dan itu tanpa memahami ilmunya? Bagaiamana seharusnya kita menyampaikan hal itu?

Ada yang Salah Dari Kita

Mari kita berkaca. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita. Kupikir banyak dari kita yang sibuk menyuruh mereka salat tanpa menjelaskan alasan mengapa manusia harus salat. Kita marah karena anak tak kunjung menurut akan perintah kita. lalu dengan mudah kita marah dan berkata. “Kamu jangan melawan ya sama orang tua, itu dosa!” (sambil melotot dan tolak pinggang). Belum selesai dengan pelajaran salat, anak sudah dijejali lagi dengan pelajaran birul walidain yang seharusnya itu adalah perintah Allah kepada anak, bukan perintah orang tua kepada anak.

Belajar dari Good Father yang Diceritakan di Alquran

Ayah, Bunda, be wise. Semua ada caranya, dan pendidikan anak telah sempurna Allah jelaskan dalam Alquran. Telah ada seseorang yang Allah ceritakan dalam Alquran untuk kita teladani.

Mari kita buang sejenak teori-teori barat yang selama ini telah kita kumpulkan dalam ingatan kita. Mari kita kembali, kita kembalikan lagi tuntunan hidup kita pada sebaik-baiknya ilmu, yaitu Alquran. Mari kita sepakati bahwa the truth parenting adalah menjadi orang tua yang selalu kembali pada Alquran.

Pertanyaannya saat ini adalah apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita setelah kita meninggal nanti? Hal apa yang paling penting untuk mereka miliki dalam menjalani kehidupan di masa depan?

Jawaban Ada pada Surat Luqman Ayat 12

Jawabannya adalah “Anisykurlillah,” Sebuah kalimat yang saya pikir sangat powerful untuk diucapkan dan powerful untuk diamalkan. Bunyi kalimat Anisykurlillah dalam surat Luqman ayat 12 seperti ini. “Dan sungguh, telah kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! . . .”

Ayah dan Bunda, ajaran islam adalah apa yang muncul di hati kita. Dan hal ini yang dilakukan oleh Luqman, saat ia mengajarkan tentang iman kepada putranya. Dalam surat itu Allah mengatakan sesuatu yang harus kita mulai dengan hati kita pertama-tama adalah bersukurlah.

Saat kita mulai bersyukur, maka yang akan muncul dalam hati adalah pikiran-pikiran positif yang berujung pada sikap-sikap positif dalam diri ketika menjalani kehidupan ini.

Syukur akan mengubah cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Kita akan lebih banyak menangkap hal baik dalam diri kita yang telah Allah karuniakan. Kita akan senantiasa bersyukur atas apa yang Ia berikan kepada kita. Baik buruk, susah senang, tangis dan tawa, dengan syukur maka kita akan mudah sekali menerima apapun yang terjadi lalu berusaha lagi dan lagi.

Masihkah Kita Berpikir Bahwa Warisan Terpenting Adalah Harta?

Jadi ajaran tentang iman ini adalah mengenai persepsi positif terhadap diri kita sendiri. Dan hal ini akan mudah kita dapatkan adalah dengan bersyukur.

Apa yang kita inginkan dari anak-anak kita? Kita ingin ia tidak menyekutukan Allah? Kita ingin ia berbakti pada orang tua? Kita ingin ia rajin salat? Mampu bersabar? Menjaga diri dari dosa? Banyak kan yang kita ingin anak kita pelajari? Bersabarlah, untuk mengajarkan tentang iman dan islam, ingatlah untuk memulai dengan Anisykurlillah. Ketika anak sudah pandai bersyukur, ia pasti sudah tahu kepada Siapa ia bersyukur. Dan ia akan lebih mudah diajarkan pada kewajiban-kewajiban lainnya.

Setelah membaca ini, masihkah kita berpikir bahwa warisan terpenting bagi anak kita adalah harta? Masihkah kita bertanya. “Apa yang akan kamu makan setelah aku tiada?” Tidakkah kita ingin mewariskan pamahaman mengenai pentingnya bersyukur pada anak agar kelak ada atau tidak adanya kita, anak tetap merasa bahagia dalam kondisi apapun karena mereka telah terbiasa dengan bersyukur.

Sebab syukur adalah hikmah yang paling tinggi. Bersyukur adalah nikmat dari Allah yang lebih nikmat dari apa yang disyukuri itu sendiri.



Ini Dia Kemampuan yang Harus Dimiliki Orangtua Jaman Now


Seiring dengan perkembangan teknologi dan zaman saat ini, peran orangtua pun juga sudah seharusnya ikut berkembang. Orangtua dalam mlaksanakani perannya perlu memiliki beberapa kemampuan yang juga sesuai dengan zaman. Yuk simak hal berikut ini mengenai kemampuan apa saja yang harus dimiliki orangtua zaman now.

1. Mampu menjaga komunikasi dengan baik

Dewasa ini komunikasi merupakan kunci utama dalam mendidik seorang anak. Orangtua harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anaknya. Berkomunikasilah secara terbuka dengan anak secara rutin. Jalin kedekatan dengan buah hati agar mereka nyaman untuk bercerita banyak hal kepada orangtua. Jika anak sudah percaya, maka kita juga akan mengetahui keadaan anak kita yang sebenarnya.

2. Paham akan mendidik dengan baik

Sahabat Ummi, mendidik adalah proses memberikan pengertian dan pemahaman makna kepada anak agar ia dapat memahami lingkungan sekitarnya serta dapat mengembangkan dirinya dengan baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, orangtua perlu memiliki pemahaman mendidik yang baik agar sang anak dapat terdidik dengan baik pula.

3. Hindari mengancam, membujuk/menjanjikan hadiah serta bersikap otoriter, acuh tak acuh dan memanjakan dalam mendidik anak

Hal ini perlu dilakukan karena beerdampak buruk pada kepribadian sang anak. Perlu diketahui sikap membujuk dapat melahirkan sifat ketergantungan, sementara sikap mengancam dapat mematikan inisiatif, motivasi maupun kreativitas anak.

Selain itu, sikap otoriter dapat menimbulkan tekanan pada diri anak dan ketakutan sementara sikap acuh tak acuh membuat sang anak merasa tidak dipedulikan. Serta sikap memanjakan dapat menimbulkan sifat tidak mandiri pada anak.

4. Memahami bahasa non verbal

Sahabat Ummi memarahi anak karena melakukan suatu kesalahan bukanlah solusi yang efektif. Memahami apa yang menjadi penyebab kesalahan itu terjadi serta perasaan sang anak. Bahasa non verbal yang dimaksud ialah dengan memberikan sentuhan, senyuman, pelukan, menatap dan meletakkan tangan di bahu untuk menenangkan sang anak.

5. Memahami kemampuan atau bakat yang dimiliki anak.

Orangtua perlu memahami dan melihat kemampuan atau potensi bakat yang dimiliki sang anak. Selain itu juga perlunya dukungan dan dorongan yang diberikan oleh orangtua sehingga sang anak dapat mengasah kemampuan atau bakatnya.

6. Memiliki visi

Memiliki visi yang jelas dalam mendidik dan mengembangkan anak agar dapat menentukan pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang anak. Serta mencapai ilmu pendidikan karakter yang dinginkan.





Setiap manusia, tidak saja orangtua tetapi juga anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. sebagai orangtua tentu bisa menjadi sahabat menjadi anak-anak yang bisa menjadi partner dalam lingkungannya. Beban pelajaran yang berat saat ini yang dihadapi oleh anak-anak disekolah semakin hari semakin cepat daripada desah nafas kita. Sebagai orang terdekat anak orangtua harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat anak, pola asuh orangtua dan keluarga sangat memengaruhi kepribadian anak. Semua berawal dari rumah. lalu bagaimana cara menjadi sahabat yang baik buat anak?.

Kita kenali dulu beberapa tipe menjadi orangtua, sebagai berikut :

1. Orangtua yang ditakuti refleksnya anak menjadi takut, ini pun kurang tepat dijadikan sahabat oleh anak

2. Orangtua yang ingin dihormati refleksnya anak menjadi segan hingga type ini sangat sulit untuk dijadikan sahabat

3. Orangtua yang disegani refleksnya anak menjadi enggan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

4. Orangtua yang dicintai, refleksnya anak menjadi nyaman menceritakan segala sesuatu perkembangan dalam kehidupannya.

Salah satu fase perkembangan manusia yang pertama egosentris fase ini dialami pada masa bayi sampai usia TK,. Fase serba harus dikabulkan segala keinginannya. Pada saat type ini terbawa pada usia SD atau SMP maka perilaku orang terdekat yang harus merubah perilaku hidupnya. contohnya terapkan Reward dan Funishment untuk mengurangi rasa egosentrisnya.

Sejak dari TK, SD sampai SMA pun tidak ada ilmu pembelajaran mengenai mengenal manusia secara filosofis hanya secara biologis. Coba lihat deh di kebun binatang, banyak ahli yang sengaja mempelajari tentang hewan, namun sayangnya sampai saat ini masih belum banyak ilmu yang memahami tentang menjadi manusia sejak dini. adapun ilmu mengenai manusia dikenal apabila manusia itu sendiri berminat mengetahuinya dengan cara mengambil jurusan ilmu psikologi pada tingkat pendidikan tinggi, namun tidak semua dapat mengenyam pendidikan ini dan yang terjadi dalam kehidupan manusia hanya Trial and Error. Penyebab utama adalah ketidak tahuan ilmu menjadi manusia.

Kembali ke pola asuh menjadi sahabat anak, ketidak hadiran ayah dalam pola asuh pendidikan anak-anak menurut Elly Risman, cenderung seringkali mengakibatkan pendidikan seks rentan terkontaminasi lingkungan yang kurang baik misalnya dari tontonan dan sebaran internet yang sampai pada genggaman. Peran ibu menjadi salah satu tonggak dalam pendidikan anak seperti disebutkan "ummi madrosatul ulla". Sejak dari kecil tidak banyak orangtua yang memberikan pembelajaran mengenai filosofi, cara menjadi hidup cara menjadi manusia seutuhnya, selama ini kita sebagai manusia berbicara tentang superior dan interior atau kekuasaan dan materi.

Bagaimana cara tepat untuk menjadi sahabat anak adalah dengan mencontoh hubungan kita dengan pasangan, berbicara heart to heart berbicara tentang kasih sayang begitupun dalam memperlakukan anak sebagai sahabat. Sebagai contoh kita bisa bergerak adalah berdasarkan konsep pikiran. salah satu anggota tubuh kita, tangan tidak pernah egois selalu menuruti apa yang ada dalam pikiran. Memakaikan kacamat, mengambil maknan dimasukkan ke dalam mulut itu atas dasar konsep pemikiran.

Apapun anggota tubuh yang kita miliki sebagai manusia punya filosofi didalamnya. filosofi itu mendasari setiap perilaku manusia. Hal yang sama berlaku untuk menerapkan anak sebagai sahabat. Penerapan konsep yang baik dari kedua orangtua menjadi dasar anak menuruti apa yang menjadi pemikiran orangtua, menuruti agar mereka mencintai dirinya, ayah bundanya lingkungan dan keluarganya. Dengan konsep ini anak dapat mendapat dukungan penuh dari orangtua dan mendapatkan kenyamanan untuk menvceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

Saran penulis, tanamkan sebanyak mungkin filosofi hidup pada anak-anak kita semenjak dari kandungan bukan sejak dini ya.

Semoga bermanfaat ...

ummionline



Sahabat Abi Ummi, anak adalah salah satu karunia besar yang Allah titipkan sebagai rezeki pada kita. Tentu, tidak semua orang beruntung dapat menjadi orang tua. Namun, di balik itu, ada hal yang lebih penting dari memiliki seorang anak, yaitu dapatkah kita menjadi orang tua yang amanah. Dapatkah kita membesarkan, menjaga, dan mendidik amanah itu agar tumbuh berkembang menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri dan keluarganya, baik di dunia maupun akhirat. Anak juga menjadi hiasan hidup seperti firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Agar dapat mencapai keindahan ini, kita harus dapat mengembangkan kepribadian anak ke arah positif, mendukung terciptanya akhlak yang mulia, dan memberikan pendidikan yang memadai. Salah satu yang kita patut perhatikan adalah mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri dengan tujuan membuat mereka percaya akan kemampuan diri dan berkembang menuju prestasi gemilang yang membanggakan. Lalu, bagaimana mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri?

1. Bantu Anak Menemukan Aktivitas yang Membuat Mereka Nyaman dan Senang

Kecerdasan anak berbeda-beda, ada yang berbakat dalam bidang kinestetik, musik, matematis, bahasa, hingga bakat dalam menjalin hubungan sosial. Dengan kecerdasan berbeda, minat anak juga akan beragam. Sejak dini, kebanyakan dari kita sudah mengenalkan anak pada banyak aktivitas, seperti menari, membaca, olahraga, atau bermain peran. Dari situ, kenalilah kecenderungan bakat anak. Selanjutnya, tugas orang tua adalah membantu anak menggali bakatnya lebih dalam dan tidak memaksakan sesuatu yang tidak mereka sukai hanya karena kita suka.

2. Setelah Menemukan Bakatnya, Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak dengan Pujian

Di saat dewasa, kita masih kerap membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain. Begitupun yang terjadi pada anak, apalagi pergaulan mereka yang masih diwarnai oleh celoteh saling pamer dan unjuk kebolehan. Cara lain dalam mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri adalah dengan meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki keunikan masing-masing yang tidak boleh dianggap sepele. Misalnya, ketika anak berhasil menggambar atau mewarnai satu pola secara penuh beri penghargaan dengan mengatakan, “Wah, anak Ummi pintar sekali menggambarnya, sudah besar punya cita-cita melukis, ya?”

3. Biarkan Anak Melakukan Hal-Hal yang Dapat Dilakukannya secara Mandiri

Anak-anak memiliki sifat ingin dipercaya dan dianggap mampu melakukan tugas tertentu. Namun, terkadang sebagai orang tua kita kerap khawatir dan selalu ingin mendampingi anak dalam tugasnya. Malahan, kita juga sering kali melarang anak melakukan banyak hal karena pelbagai alasan. Coba mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri dengan membiarkan mereka melakukan banyak hal secara mandiri. Hal ini juga dapat membantu orang tua menemukan apa bakat dan kemampuan yang anak kuasai. Misalnya, tidur sendiri, meminta maaf lebih dulu, atau membuat susu sendiri.

4. Jangan Bandingkan Bakat Anak dengan Orang Lain dan Jangan Mencela Kekurangannya

Jika anak dianggap kurang berhasil atau berprestasi dalam satu hal, coba jangan langsung menilai mereka gagal dengan memarahi atau memprotes, apalagi membandingkan dengan anak lain. Dengan cara ini, anak akan mencari-cari kekurangan dan minder, lalu selalu merasa orang lain lebih baik dari dirinya. Daripada memarahi, lebih baik ajak anak mengevaluasi apa yang membuat mereka kurang di bidang tersebut, apakah mereka tidak memiliki minat atau justu pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat. Ajak anak berbicara dari hati ke hati dan tetap berikan dukungan moral.

Tanggung jawab yang dipikul orang tua dalam membesarkan anak membuat posisi anak juga menjadi cobaan dari Allah. Kewajiban kita adalah menjalankan amanah itu dengan sebaik mungkin dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama. Warnai tumbuh kembang anak dengan mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri. Buat mereka bangga dengan bakatnya dan selalu mensyukuri bakat tersebut sebagai nikmat dari Allah.

abiummi



MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget