Articles by "Serba-Serbi"



Kunci meraih keluasan rezeki adalah dengan bertakwa kepada Allah. Berikut upaya meraih derajat ketakwaan di sisi Allah sebagai ikhtiar menjemput rezeki di bulan Syawal.

1. Puasa Syawal

Jika bulan Ramadhan kita mampu berpuasa selama sebulan penuh, maka puasa 6 hari di bulan Syawal tentunya akan lebih mudah.

Hanya niat dan kemauan yang kuat. Adakah kita punya niat dan kemauan sebagaimana saat berpuasa di bulan Ramadhan. Jika niat itu pudar, maka paksa diri dan bulatkan tekad bahwa kita pasti bisa untuk berpuasa 6 hari di bualan Syawal ini.

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh,” (HR Muslim).

Puasa Syawal menjadi penyempurna amalan Ramadhan, jika dilaksanakan menjadi bukti ketaatan seorang hamba, yang dengan itu ridha Allah turun padanya. Jika Allah sudah ridha, maka Allah akan mudahkan urusannya (rezeki).

2. Menjaga konsistensi amaliyah Ramadhan

Allah menjadikan Ramadhan sebagai bulan “training” umat Muslim untuk menjadi hamba yang bertakwa. Bila selama Ramadhan kita mampu berpuasa, shalat malam, bersedekah, dan ibadah lainnya, maka bulan Syawal jadi pembuktian berhasil tidaknya "training" tersebut—apakah amalan-amalan itu tetap konsisten dilakukan atau tidak.

Maka berdoalah, mintalah untuk menjadi hamba yang Istiqomah. Diberi hidayah agar tetap melakukan ketaatan. 

"Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa min ladunka rohmatan, innaka antal wahhaab"

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (Q.S. Ali Imran: 8)

3. Silaturahim

Jika pada hari-hari biasa terlalu sibuk sehingga sulit bersilaturahim dengan kawan dan kerabat, manfaatkan dengan baik momen libur Lebaran yang cukup panjang ini. Dengan bersilaturahim, dapat saling berinteraksi, bertukar informasi, dan menguatkan hubungan. Persaudaraan pun salah satu bentuk dari rezeki, karena semakin banyak kawan, semakin terbuka pintu-pintu untuk dimudahkan datangnya rezeki.

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim,” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).

4. Berbisnis


Berbisnis merupakan upaya ikhtiar menjemput rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan,” (HR Ahmad. Imam As Suyuthi menghasankan hadits ini dalam Al Jami' Ash Shaghir, 1/30)

Bulan Syawal adalah hari raya, di mana biasanya permintaan pasar meningkat pesat. Ambil peluang tersebut dengan berbisnis musiman yang paling banyak dicari di bulan itu, seperti bisnis kue kering, pakaian, rental mobil, dan sebagainya.

Wallahu a'lam bisshowab

ummionline


Bulan Syawal ini banyak yang telah mengetahui adanya amalan yang utama dilakukan, akan tetapi meskipun sudah populer... sudahkah kita melakukan amalan berikut ini? Ehemm... khusus amalan kedua, mudah-mudahan dilakukan seumur hidup satu kali saja yaa.


1. Berpuasa 6 hari di bulan Syawal

Ini adalah amalan yang sangat utama di bulan Syawal, sudahkah kita memprioritaskannya? Dibandingkan halal bi halal, semestinya kita bisa mendahulukan puasa sunah 6 hari di bulan Syawal, terutama saat awal-awal sampai pertengahan bulan. Sehingga bagi yang punya utang puasa Ramadhan, bisa melakukan puasa qadha juga di bulan Syawal ini.

Hadits mengenai amalan ini sungguh luar biasa:

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh.”(HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

2. Menikah

Tentu saja ini diutamakan untuk para pemuda yang masih single, menikahlah, dan jangan takut untuk mengadakan akad nikah di bulan Syawal. Adat jahiliyah dulu meyakini bulan Syawal adalah bulan membawa sial untuk pernikahan, namun demikian pernikahan Aisyah dan Rasulullah in syaa Allah telah menjadi bukti pada kita keutamaan menikah di bulan ini.

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Itulah 2 amalan utama di bulan Syawal yang amat populer di kalangan umat muslim, namun tidak cukup hanya populer... sudahkah kita mengamalkannya, terutama yang poin pertama. Semoga Allah mudahkan.

ummionline



Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang penuh berkah. Bulan dimana syetan di belenggu sehingga manusia dimudahkan untuk berbuat amal kebaikkan. Sebagai orang tua, sudah seharusnya moment bulan ramadhan ini di manfaatkan untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah mendidik anak agar tidak marah.

Lantas bagaimana caranya ? berikut beberapa tips yang bisa ayah bunda lakukan :

1. Pelajari ilmu tentang marah

Setiap hal pasti ada ilmunya, tidak terkecuali marah. Jelaskan ke anak bahwa marah itu adalah perbuatan buruk dan berakibat buruk. Jelaskan ke anak ketika kita marah, orang-orang disekitar kita jadi takut dan tidak suka kepada kita. Dan teman-teman akan menjauhi. Jelaskan bahwa marah merupakan akhlak buruk. Nabi bersabda : laa tagdhob walakal jannah. “Jangan marah bagimu surga”

Jelaskan bahwa ketika sering marah, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Wajah jadi jelek, dada sesak sulit bernafas, mudah terkena serangan jantung, mudah pusing dan masih banyak lagi.

Namun, terkadang banyak hal yang membuat anak mudah marah. Ada saja yang membuat anak marah. Apalagi dibulan ramadhan seperti sekarang ini. Saat dibangunkan untuk sahur,karena masih ngantuk, anak marah. Ketika disuruh mandi, marah. Pulang sekolah karena lapar, marah.. marah kepada adik atau kakaknya karena berebut maianan, dll.

Sebagai orang tua cobalah untuk tidak terpengaruh, tetaplah tenang, duduk disamping anak,ambil nafas panjang dan peluklah anak. Buat anak merasa nyaman, biarkan anak mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Setelah anak tenang baru kita tanya kenapa sayang ? kuncinya adalah oarang tua sabar dan tidak terpancing untuk ikut marah. 

2. Menjadi teladan untuk bisa menahan marah

Ayah bunda, tanpa disadari anak itu marah karena meniru orang tuanya. Seringkali sebagai orang tua tidak menyadari bahwa semua yang ayah bunda lakukan pada dasarnya adalah mengajari anak untuk berbuat sama. Ketika ayah bunda marah ketika anak sulit dinasehati, misal “ Kalau kakak tidak mau mandi, nanti ditinggal sendirian dirumah!! Kalau adek nangis terus, diluar saja, biar nanti ditemani kucing!! Atau ungkapan-ungkapan yang sering ayah bunda katakan ke anak.

Maka akan terpola ke pikiran anak bahwa biasanya kalau ada masalah seperti itu maka penyelesaiannya begitu. Maka berikanlah teladan. Ingatlah ketika ayah bunda akan marah, nanti pasti akan di contoh anak. Ingatlah bahwa anak adalah amanah, ingatlah bahwa anak adalah aset yang akan menolong ayah bunda di dunia dan akhirat.

3. Berlatih bersama anak untuk saling mengingatkan ketika akan marah

Berlatih bersama anak adalah hal yang sangat menyenangkan. Carilah waktu yang terbaik bersama anak untuk berdiskusi tentang peraturan rumah. Terutama soal marah. Mana marah yang boleh dan yang tidak boleh. Tulis hadis nabi tentang larangan marah dan tempel di tempat yang sering dilihat. Jadi ketika anak marah, langsung ingatkan dan perlihatkan tulisan hadis tentang larangan marah tersebut.

Tantanganya adalah ketika ayah bunda atau anak yang tetap marah ketika di ingatkan. Salah satu solusinya adalah membuat kesepakatan dengan anak. Bisa dengan memberikan hadiah atau hukuman. Dan biasanya anak akan senang jika ada rangsangan hadiah. Mereka biasanya akan menagih hadiah tersebut. 


Ayah bunda yang di rahmati Allah. Marah adalah fitrah manusia. Ada marah yang di bolehkan dan ada yang tidak dibolehkan. Tentunya sebagai orang tua harus bijak, kapan saatnya marah dan kapan saatnya menahan marah. Alangkah baiknya ayah bunda dikenal dan dikenang anak sebagai orang tua yang baik dan bisa menjadi teladan.

Wallahu a’lam bishowab





Suasana Tadarusan Anak-Anak Bina Amal
Bila Ramadhan tiba, masyarakat menyambutnya dengan antusias. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, momen Ramadhan bisa jadi sarana yang cukup efektif. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, sertakan anak ikut berbagai acara dan kegiatan menyambut Ramadhan yang marak dan meriah, baik di sekolah maupun di masjid atau musholla lingkungan rumah.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, ajak mereka untuk terlibat dengan kegiatan ibadah Ramadhan. Kegiatan tarawih, menjadi sebuah rutinitas yang mengasyikkan pada setiap malam di bulan Ramadhan. Kita bisa keliling berpindah-pindah masjid dan musholla. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an kita bisa memilih masjid dengan kualitas imam yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Saat ini banyak masjid yang menyelenggarakan tarawih dengan dipimpin seorang imam yang Hafizh Al-Qur’an sebanyak 30 juz.

Agar anak kita cinta dengan Al-Qur’an, bagaimana upaya dan cara yang harus kita lakukan? 
Mari kita coba beberapa kiat berikut:

A.Yakin dengan Kebenaran Al-Qur’an

Agar anak kita dekat dengan Al-Qur’an, perlu sebuah keyakinan yang mendalam akan kebenaran Al-Qur’an. Keyakinan ini harus kita bangun dan tancapkan dalam hati sebagai bentuk keimanan kita kepada rukun iman yang ke 3. Setiap saat ketika kita akan membaca Al-Qur’an, siapkan hati, jiwa dan raga kita untuk menerima dan mengimani wahyu Allah yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sebuah kebenaran yang pasti dan mutlak.

Dari keyakinan ini akan membentuk mindset dan cara pandang kita dalam memahami persoalan hidup. Kita akan menjadi hamba yang tunduk dan berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita. Jika ada masalah sosial di masyarakat, seperti kesenjangan kaya dan miskin, solusinya ada pada zakat

Jika ada masalah dengan hubungan suami istri, solusinya ada pada surat At-Tahrim yang mengisahkan persoalan riak-riak kehidupan dalam rumah tangga junjungan Nabi berikut solusinya.

Jika ada masalah dengan kesulitan hidup, sempitnya rezeki, banyaknya masalah, solusinya ada pada surat Ath-Tholaq, siapa yang bertaqwa Allah akan beri rezeki dari tempat yang tidak disangka dan akan memberinya kemudahan dalam segala urusan. Pendek kata, apapun persoalan yang membelit hidup kita, baik individu maupun masyarakat ada solusinya dalam Al-Qur’an. Jika sikap ini sudah tertanam kuat dalam diri kita, maka tidak ada masalah yang tidak menemukan jalan keluar.

B. Mulai sedini mungkin mendidik anak.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, timbul sebuah pertanyaan, sejak kapan kita mendidik anak? Biasanya orang akan menjawab, mendidik anak sejak dalam kandungan. Jawaban ini tidak salah namun belum tepat. Karena sejatinya mendidik anak yang benar adalah sejak memilih pasangan. Lho… apa iya…?

Teori terdahulu mengatakan sifat bawaan seseorang diwarisi dari bapak ibunya 50:50, artinya ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetisnya kepada anak, sedangkan seorang ayah hanya 25%. Oleh karena itu sifat baik, kecerdasan, kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh ibunya. Dalam kisah dua orang nabi yang anaknya durhaka yaitu nabi Nuh dan nabi Luth, keduanya memiliki istri yang tidak beriman. Ini memberi bukti kebenaran Al-Qur’an.

Bandingkan dengan nabi Ibrahim, meskipun istrinya Siti Hajar adalah bekas seorang budak, namun melahirkan keturunan yang baik yaitu nabi Ismail. Meskipun nabi Ibrahim sangat sedikit berkontribusi dalam pengasuhan Ismail, namun Siti Hajar tidak mengeluh, bahkan mampu memerankan dirinya dua peran sekaligus yaitu peran ayah dan peran ibu.

Kisah Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail menguatkan bukti bahwa gen ibu banyak menurun kepada anak, 
Maka sekali lagi pentingnya memilih pasangan yang baik agar dapat keturunan yang baik. Karena sperma itu dititipkan dirahim seorang perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

C. Ciptakan suasana kondusif untuk belajar di rumah.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, perlu kita ciptakan suasana yang mendukung untuk terselenggaranya sebuah proses belajar yang nyaman di rumah. Proses itu kita yang lakukan sebagai orang tua, bukan orang lain. Tidak cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah Islam, atau menyediakan guru untuk privat belajar Al-Qur’an.

Agar anak cinta Al-Qur’an, dia butuh contoh teladan, bukan sekedar retorika belaka. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, dia memotret segala perilaku dan aktifitas orang tuanya setiap hari, maka tidak cukup hanya menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah dan guru. Perlu keterlibatan orang tua, guru dan lingkungan bekerja sama saling melengkapi.

Rumah yang hinggar-binggar dengan suara bising , atau situasi lingkungan yang rusak, banyak orang nongkrong menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna, begadang, apalagi ditambah dengan pergaulan yang merusak, makin menjauhkan anak dari Al-Qur’an.

Kisah anak yang sering dibawa oleh ibunya ikut teraweh di sebuah majelis yang menyelenggarakan sholat taraweh satu malam satu juz. Sang ibu memberi kebebasan kepada puterinya yang berusia balita untuk ikut berdiri sholat, atau sholat sambil duduk, bahkan walau hanya sekedar berbaring disisi bundanya yang sedang mengikuti imam taraweh.

Rupanya sang anak menyimak dan menikmati suasana sholat teraweh yang khusyu’ dengan bacaan satu jus Al-Qur’an setiap malam. Tanpa disangka anak usia balita tersebut ingin menjadi seorang hafizhah, menghafal 30 juz Al-Qur’an.

D. Jadilah sosok teladan di rumah

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, alihkan perhatian anak kita dari gedjet maupun alat komunikasi yang serba cangggih. Ajak anak duduk bersama, mengaji dan tadarus di depan orang tuanya. Sebaik-baik guru ialah orang tua yang menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Jika setiap hari anak melihat sosok orang tua yang akrab degan Al-Qur’an, tentu sedikit banyak nilai-nilai itu akan terekam dalam jiwa anak. Interaksi yang intensif orang tua kepada Al-Qur’an akan memberi dampak positif pada perilaku dan akhlak orang tua sebagai pribadi. Sambil makan malam bersama, atau sambil jalan-jalan sehat di hari libur, kita bisa menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada anak.

E. Kenalkan anak dengan sosok berprestasi khususnya prestasi yang diraih oleh anak yang cacat dan memiliki keterbatasan.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, kita perlu mengenalkan anak-anak dengan teman-teman sebayanya yang bersemangat menghafal dan mengkaji Al-Qur’an. Misalnya seorang anak yang tuna netra, tetapi sangat bersemangat menghafal Al-Qur’an. Sehingga timbul rasa empati dan rasa syukur bahwa anak kita lebih berntung dikaruniakan Allah tubuh yang sempurna dan sehat.

F. Bangun dan rangsang anak untuk memiliki wawasan ilmu yang luas.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, kita perlu membangun motivasi dan semangat nya dengan menanamkan kebanggaan akan peradaban dan kejayaan Islam. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an perlu sering kita membacakan kisah-kisah dalam Al-Quran. Ada banyak sekali kisah yang bisa kita ambil dari Khazanah Peradaban Islam, agar kebanggaan itu tumbuh dalam jiwa anak.

Kisah para Nabi, Kisah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, kisah pahlawan Islam, Kisah- kisah yang terhampar luas dalam Al-Qur’an dan hadits. Jangan sampai anak lebih mengenal tokoh artis sinetron, tokoh penyanyi korea, tokoh sepak bola dari pada tokoh- tokoh pahlawan Islam.

Kisah Muhammad Al-Fatih, sang penakluk yang mampu mewujudkan ramalan dan Hadits Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik panglima dan sebaik-baik tentara adalah yang dapat menaklukkan benteng kuat Konstantinopel milik imperium Romawi.

Pada usia 23 tahun, Muhammad Al-Fatih berhasil mewujudkan ramalan tersebut pada bulan Mei 1453H, delapan abad setelah ramalan yang diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Muhammad Al-Fatih, pastilah sosok yang cinta dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya dihafalnya, bahkan nilai-nilai isi kandungan Al-Qur’an mendarah daging dalam dirinya, sabda nabi menjadi impian yang selalu menghiasi tidurnya, bahkan ingin Kecintaannya kepada junjungan Nabi, memberinya energi untuk mewujudkan sabda nabi yang dicita-citakannya.

Muhammad Al-Fatih mampu melakukan kerja besar setelah berjuang keras. Sejak belia dia sudah digembleng dengan berbagai ilmu oleh guru-guru yang terbaik. Dalam usia 21 tahun Muhammad Al-Fatih sudah memantaskan diri menerima anugerah menjadi seorang penakluk. Ia mampu dan menguasai lima bahasa di dunia, dan faham berbagai ilmu seperti astronomi, fisika, tafsir, hadist, matematika, ilmu perang, sosiologi, antropologi dan berbagai ilmu yang dibutuhkan untuk memiliki kemampuaan menaklukkan negeri raksasa yang memiliki benteng yang kokoh.

Rasa cinta dan kebanggaan akan kejayaan para leluhur yang berjuang memajukan Islam akan menumbuhkan rasaa cinta kepada Islam, dan cinta Al-Qu’an sebagai sumber kekuatan ummat.

Semua hal tersebut tidaklah didapat dengan sekedarnya, namun membutuhkan kerja keras dan kesabaran menempuh segala kesulitan. Kesabaran itu dipupuk dengan banyak membaca kisah dan perjuangan para pendahulu.

Mari kita semangat mengajak keluarga kita untuk cinta dengan Al-Qur’an. Mulai dengan diri kita sebagai sosok yang dilihat dan ditiru oleh anak-anak kta. Bismillah… ayo kita mulai sejak sekarang, agar anak kita cinta dengan Al-Qur’an. 

Wallahu a'lam bishowab...





Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu?

1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, ا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298.

5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,

“Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah).

Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.




Membuat anak-anak senang ke masjid adalah bagian yang sangat penting dari upaya untuk membangun generasi yang shalih dan shalihah. Di masjid anak-anak dapat belajar mengaji al-Qur’an, belajar shalat (baik itu gerakan maupun bacaan) dengan baik, dasar-dasar penting dalam ilmu agama Islam, dan pembiasaan beraklak mulia.

Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk berusaha agar anak-anak senang ke masjid. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan :

Pesantren Ramadhan

Pesantren Ramadhan ini dilakukan setiap bulan Ramadhan. Yaitu setiap hari pukul 16.30 – 17.30 WIB. Dengan memberikan materi dasar tentang ke Islaman. Agar anak tetap semangat berikan juga games-games edukasi. Kemudian memberi jajajan sehat untuk anak setiap selasai pesantren. Bisa dimakan bersama-sama dimasjid sambi menunggu waktu berbuka atau di bawa pulang.

Khataman Al-Qur’an

Khataman Al-Qur’an ini dilakukan setiap ada anak yang khatam membaca Al-Qur’an 30 juz. Khataman ini dilaksanakan meski yang khatam hanya seorang anak. Hal ini penting agar anak yang khatam merasa senang, juga para temannya yang belum jadi bersemangat. Pada acara khataman ini anak yang khatam memimpin teman-temannya membaca surat-surat akhir di juz 30, ditutup dengan doa khatmil Qur’an, lalu makan bersama meski sederhana.

Mengundang Pendongeng

Agar anak mendapatkan selingan atau kesegaran dari cara belajar atau mengaji yang biasanya diampu oleh ustadz/ustadzahnya, secara berkala sebaiknya mengundang pendongeng profesional.

Mendengarkan Anak Bercerita

Anak-anak senang sekali bila ia bercerita lalu didengarkan dan ditanggapi dengan baik. Ini dapat di lakukan terhadap anak yang ingin bercerita di sela-sela mengaji atau pesantren Ramadhan. Di samping menambah keakraban, anak akan senang karena menjadi pribadi yang dihargai.

Memberi Hadiah

“Siapa yang mau balon?” Tentu anak-anak akan kompak menjawab, “Sayaaa…!” Hadiah tidak harus yang mewah, bisa balon, buku atau yang anak-anak suka. Misal memberikan hadiah kepada anak yang terpilih sebagai anak yang paling rajin datang ke masjid maupun yang menang dalam perlombaan. Hal ini penting agar anak yang bersangkutan senang dan membuat semangat anak yang lainnya

Berkunjung Ke Rumah Anak Bersama-Sama

Menjadwal untuk mengunjungi anak, atau ketika ada salah satu anak yang sakit, terkena musibah, atau bahkan anak putra dikhitan. Hal ini penting untuk mengasah kecerdasan emosional dan sosial anak lainnya, juga demikianlah indahnya persaudaraan dalam Islam.

Berkunjung ke Pesantren

Anak-anak perlu mengetahui juga bahwa di luar sana, ada anak-anak lain yang meninggalkan ayah dan ibunya untuk belajar agama Islam dan tinggal bersama di sebuah pesantren. Hal ini penting agar anak-anak mempunyai semangat dalam belajar berislam. Maka, kami sengaja mengisi salah kegiatan kami dengan berkunjung ke pesantren.

Mengadakan Lomba

Sebagai ajang mengasah bakat dan minat, kami sengaja mengadakan beberapa macam perlombaan. Biasanya dilakukan pada saat libur sekolah atau pada peringatan hari-hari besar Islam.

Buka Puasa Sebulan Penuh

Berbuka puasa selama sebulan penuh adalah kegiatan rutin kami selama Ramadhan. Sebelum berbuka puasa, anak mengaji atau melakukan kegiatan lain yang telah dijadwalkan. Kegiatan diakhiri dengan takbir keliling pada malam Idul Fitri.

Bermalam di Masjid

Biasanya inilah salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu anak, yakni mabit atau bermalam di masjid. Kegiatan ini biasanya di lakukan di bulan Ramadhan. Sungguh, di setiap kegiatan anak-anak menyatakan kegembiraannya karena bermalam di masjid adalah kenangan tersendiri. Kegiatan dalam mabit adalah shalat isya dan tarawih berjamaah, tadarus, malam kreativitas, tahajjud, shalat shubuh berjamaah, dan jalan pagi bersama.

Semoga bisa menjadi inspirasi...


Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu karena kemulian dan keutamaannya. Bagaimana tidak? Bulan ini adalah bulan pengampunan dan rahmat serta dimudahkan beramal sholih padanya. Simak saja sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila masuk bulan Ramadhan maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: pintu syurga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat.- ditutup pintu-pintu jahannam dan para syaitan dibelenggu. (HR al-Bukhori dan Muslim)

Hal ini ada sejak awal ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat ibnu majah yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

Apabila masuk awal malam dari bulan ramadhan maka para syeitan dan jin jahat dibelenggu dan ditutup pintu neraka jahannam.

Demikian juga sabda beliau:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menghidupkan malam qadar dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu dan siapa yang berpuasa dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhori)

Kalau demikian hendaknya kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai kesempatan untuk melihat keadaan kita dan berfikir tentang realita yang ada, agar kita dapat introspeksi dan memperbaiki yang telah rusak dan menerapi yang sakit.

Jadikanlah bulan ini sebagai awal menuju kebaikan di masa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.

Seandainya setiap orang merenungi dirinya dan memperhatikan kehidupan dan kondisinya, tentulah ia mendapatkan dirinya memiliki banyak pikiran dan sifat-sifat individu serta perilaku tertentu.

Pertanyaan yang wajib disampaikan kepada diri kita adalah:

Apakah kita ridho dengan keadaan kita sekarang ini ataukah tidak?


Apakah ia menganggap telah mencapai keadaan yang lebih baik dan sempurna atau malahan dalam keadaan lemah dan jauh dari kesempurnaan?

Apakah semua fikiran, sifat dan prilaku yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah dan sudah menjadi qudratnya ataukah kita sebagai manusia memiliki usaha dan ikhtiar dalam merubahnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terpendam di dalam jiwa kita untuk dicarikan kesempatan untuk dibedah dan diintrospeksi serta direnungkan.

Hal ini sangat dibutuhkan seseorang untuk maju dan berkembang kearah kebaikan, namun ironisnya kebanyakan orang tidak mau memberikan waktunya untuk merenung dan mengintrospeksi dirinya tersebut, karena dua hal:

Tenggelam dalam kesibukan mencari kehidupan.

Perenungan ini menuntut adanya kesiapan dan ketetapan perubahan yang banyak tidak diinginkan orang.

Upaya muhasabah (introspeksi diri) sangat dianjurkan dalam syariat Islam agar kita tidak tenggelam dalam kehidupan materi dan sibuk dengan kehidupan yang tiada batas. Anjuran ini diungkapkan khalifah Umar bin al-Khath-thab dalam pernyataan beliau: “Muhasabahlah terhadap dirimu sebelum kamu dihisab dan timbang-timbanglah sebelum kamu ditimbang.”

Demikian juga ungkapan kholifah Ali bin Abi Thalib: “Alangkah perlunya seorang memiliki satu saat yang tidak disibukkan dengan kesibukan (selain) untuk introspeksi diri. Ia melihat apa yang dilakukannya berupa kebaikan dan keburukan di waktu siang dan malamnya.”

Sebenarnya introspeksi diri ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui kesalahan dan titik kelemahan kita, lalu dapat mendorong kita menjadi lebih baik lagi. Hal ini disampaikan khalifah Ali bin Abi Thalib: hasil dari introspeksi diri adalah perbaikan diri.

Nah, tidak ada satu bulan yang menandingi ramadhan dalam masalah ini. Ramadhan adalah bulan terbaik dan pas untuk melakukan muhasabah. Bayangkan, di bulan yang mulia ini kita dilarang makan dan minum serta syahwat lainnya yang biasa kita lakukan keseharian. Hal-hal ini tentunya dapat menumbuhkan kesadaran dan memberikan kesempatan untuk perbaikan diri.

Demikian juga ibadah-ibadah yang ada pada bulan ini, seperti sholat malam adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah, membaca al-Qur`an yang dianjurkan dibulan ini akan membantu terciptanya suasana kondusif untuk perbaikan diri kita. Tapi hal ini bisa ada kalau dilakukan dengan tadabbur dalam membacanya dan memperhatikan isi kandungannya serta komitmen dengan perintah dan larangannya. Sehingga ketika membaca ia senantiasa mempertanyakan keadaannya dari kandungan ayat yang dibacanya.

Banyaknya berdoa dan ibadah di bulan ini tentunya memberikan pembinaan dan pendidikan ruhiyah kepada diri kita. Harapannya dengan melaksanakan amalan ibadah di bulan mulia ini kita semua bisa berubah menjadi lebih baik dan mendapatkan ampunan ilahi.

Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akherat.




Tidak terasa Bulan Ramadan, bulan suci penuh berkah sudah berlalu beberapa hari. Adakah target yang sudah kita rancang bersama keluarga di Ramadan kali ini? Jika Belum membuat target, maka tidak ada kata terlambat. Sekarang saatnya kita membuat target Ramadhan...!

Mari kita lihat bagaimana para salafus shalih melaksanakan ibadah saat ramadan tiba. Sebagai contah, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).

Generasi salafus shalih termasuk dalam generasi terbaik setelah khulafur rasyidin yang terdapat dalam nubuah Rasulullah. Mungkin sedikit mustahil bagi kita mengikuti target mereka. Karena selain azam (niat) dan lingkungan pendidikan yang baik mereka juga memiliki karomah. Namun, bukan mustahil bagi kita dan keluarga untuk menetapkan target dan meningkatkan ibadah masing-masing anggota keluarga selama Bulan Ramadan tahun ini.

Ramadan sangat singkat hanya 29 atau 30 hari jangan biarkan berlalu tanpa konsolidasi, tanpa perbaikan dalam keluarga, tanpa target yang terukur. Berikut yang dapat kita lakukan dalam membuat ramadan produktif bersama keluarga.

1. Evaluasi status ibadah masing-masing keluarga

Sebelum menentukan target, mari kita duduk bersama dan mengevaluasi sampai dimana tingkatan ibadah masing-masing anggota keluarga dan apa yang dibutuhkan. Buatlah chart untuk memudahkan setiap orang melihatnya. Buat kolom nama-nama anggota keluarga, status saat ini, target ramadan, pencapaian.

Misalnya, ayah saat ini belum istiqomah shalat 5 waktu berjamaah dan membaca Alquran padahal ayah yang paling bagus dan benar bacaannya diantara anggota keluarga yang lain. Target ramadan ayah, shalat berjamaah 5 waktu, Khatam Alquran 2x, Menambah hafalan 1/2 juz.

Untuk ibu, misalnya saat ini lebih banyak waktu menonton dan memasak, serta bacaan Alqurannya belum betul tajwidnya. Maka target ibu menonton tv hanya 1 jam sehari, belajar tajwid dan khatam 1x. Untuk ananda dapat disesuaikan misalnya jika masih dibawah 5 tahun berarti orang tua lebih banyak mengenalkan dan memperlihatkan berbagai ibadah seperti shalat, puasa dan tilawah sebagai kegiatan yang positif dan menyenangkan. Memberikan banyak cerita atau membuat kreasi ramadan.

Jika ananda sudah dapat belajar Iqro atau bahkan sudah membaca Alquran, bisa dibuat target, menyelesaikan 2 hal Iqro sehari, atau tilawah 1-2 lembar sesuai kemampuan. Menambah hafalan surat. Mengenal atau menghafal hadits-hadits dengan tema tertentu.

2. Buatlah target yang realistis


Membuat target yang realistis artinya kita mengukur diri dan kemampuan yang ada pada kita juga pada anggota keluarga yang lain. Meski diawal diceritakan bagaimana para salafus shalih dalam menghadapi ramadhan, tentu tidak serta merta kita mengikutinya, padahal ilmu dan kemampuan kita belum memadai.

Membuat target sesuai kemampuan diri dan yang paling realistis juga tentu dengan peningkatan yang dapat terukur. Meski ayah harus tetap bekerja atau ibu pun demikian, maka mulailah mengatur waktu dan menghitung berapa lama setiap kegiatan dilakukan dan pada waktu kapan dapat menjalankan target-target yang telah ditetapkan.

Misal jika ayah bekerja naik kereta atau bus maka saat perjalanan dapat diisi dengan tilawah atau menghafal, begitu pun dengan ibu. Jika ayah membawa kendaraan sendiri maka dalam perjalanan bisa digunakan untuk menghafal melalui MP3 atau CD di mobil.

3. Tentukan waktu halaqah keluarga

Ramadan ini bulan yang istimewa, terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Suasana ramadan sangat kenal hingga acara televisi, bilboard dijalan bertema religius sepanjang bulan. Belum lagi berbagai penganan khas yang tiba-tiba hadir di sepanjang jalan-jalan ramai.

Inilah momen kebersamaan, karena saat berbuka dan sahur umumnya ingin selalu bersama keluarga. Jika pada bulan lain momen kebersamaan hanya pada saat akhir pekan, maka ramadan ini tentu akan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Manfaatkan momen ini untuk membuat halaqah keluarga. Ayah sebagai pemimpin bertugas menjadi nara sumber. Buatlah tema harian, atau tema untuk berapa kali halaqah selama ramadan. Pastikan tema yang disesuaikan untuk seluruh anggota keluarga. Misalnya tema halaqah pekan pertama memperdalam tauhid, tema pekan kedua indahnya shalat atau bisa juga taddabur juz 30 atau tentang sirah Nabawiyah.

4. Waktu ibadah bersama keluarga

Ramadan adalah waktunya meningkatkan ibadah. Jika di hari-hari biasa sangat jarang melakukan ibadah bersama, maka ramadan tahun ini saatnya melakukan ibadah bersama.

Lakukanlah ibadah-ibadah sunnah bersama, misalnya bersama-sama ke mesjid untuk tarawih. Jika lapang bisa juga bersafari tarawih ke mesjid-mesjid agung atau mesjid raya yang dekat dengan rumah untuk variasi. Lakukan tilawah atau dzikir bersama keluarga saat setelah ashar atau menunggu berbuka diwaktu akhir pekan. Bisa juga melakukan qiyamul lail bersama.

5. Silaturahmi dan berbagi


Selain ibadah tentu ramadan juga adalah bulannya berbagi, bulannya untuk bersilaturahmi. Lakukan kegiatan ini bersama keluarga, keluarga besar, tetangga atau komunitas. Buka bersama adalah tradisi yang selalu dilakukan setiap ramadan tiba. Aturlah waktu buka bersama sebagai ajang silaturahmi. Pilihlah tempat yang kondusif, baik untuk mempererat kekeluargaan juga untuk saling menyemangati dan mempertebal iman kita.

Sisihkanlah harta kita dan berbagilah. Lakukan bersama-sama anggota keluarga. Berbagi dari hal kecil, misalnya membuat makanan berbuka lebih banyak dan diberikan pada mereka yang tidak dapat berbuka bersama keluarga, misal petugas parkir, petugas pintu lintasan kereta, atau siapa yang sering kita jumpai.

6. Istiqomah

Setelah evaluasi, membuat target dan menentukan berbagai kegiatan yang kita perlukan adalah semangat untuk istiqomah menjalankannya. Ajaklah semua keluarga untuk saling mengingatkan karena semangat bisa saja menurun sehingga target tidak tercapai.

Hindari hal-hal yang melemahkan semangat ibadah kita, seperti duduk seharian menonton tv, berlama-lama bersama gadget, media sosial dan games. Hadirilah kajian-kajian atau tempat yang dapat meningkatkan semangat ibadah kita, seperti majlis ilmu, mesjid-mesjid atau berkunjung pada rumah sahabat yang shalih.

Ayo raih ramadan terbaik tahun ini. Jangan sampai terlewatkan. Niatkan ramadan ini adalah bulan konsolidasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu bersama keluarga.

Semoga Allah memberi kekuatan dan rahmatnya kepada seluruh keluarga muslimin di dunia, aamiin. 

Siswa KBIT-TKIT Bina Amal Gembira Menyambut Ramadhan

ALHAMDULILLAH, tidak ada kata terlambat untuk bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Tentu ini adalah suatu anugerah yang sangat luar biasa. Semoga Allah mempertemukan kita dengan bulan agung penuh ampunan tersebut. Bahkan, mudah-mudahan di Bulan Ramadhan 1438 H ini kita semua bisa benar-benar menjadi insan takwa.

Seorang Muslim yang benar imannya, tentu akan sangat bergembira mendengar Ramadhan akan datang. Sebab bulan mulia ini adalah bulan yang sangat dinanti-nantikan. Tetapi, bagaimana bergembira dengan Ramadhan itu? Inilah yang mungkin belum begitu banyak dipahami manivestasinya.

Jika diilustrasikan kegembiraan itu mungkin sama dengan kegembiraan seorang istri yang setahun tidak berjumpa suaminya. Lantas kemudian datang informasi bahwa tidak lama lagi sang suami akan datang.

Tentu gembira luar biasa perasaan sang istri. Dan, bentuk dari kegembiraannya itu dia akan menjadikan rumahnya sedemikian bersih, rapi, indah dan wangi. Bahkan tidak saja rumah, tetapi juga halaman, bunga-bunga atau tanaman yang mengitari rumahnya.

Mengapa hal itu dilakukan? Tidak lain dan tidak bukan untuk mempersiapkan kedatangan sang suami agar sang suami yang sangat dicintainya.

Dari ilustrasi di atas kita dapat ambil pemahaman bahwa bergembira terhadap Ramadhan bukan sekedar bersenang-senang atau sekedar apa adanya yang bersifat lahiriah, seperti akan bertemu teman, jam belajar lebih pendek, atau bisa ngabuburit bareng teman-teman sebaya. Jelas bukan itu yang dimaksud dengan bergembira.

Wujud Kegembiraan


Bergembira yang dimaksud adalah setiap Muslim benar-benar mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan. Bagaimana caranya, tentu tidak bisa lepas dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alayhiwasallam. Seperti hadits yang diriwayatkan Siti Aisyah Radhiyallahu Anha.

“Aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu Alayhiwasallam berpuasa sebulan penuh selain puasa Ramadhan, dan aku juga tidak pernah melihat beliau begitu banyak berpuasa selain pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Artinya, ada persiapan fisik dan mental untuk menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan puasa yang di dalamnya banyak keutamaan, tentu sayang jika dilalui tanpa produktivitas tinggi yang penuh arti. Apalagi, dilalui dengan banyak kemalasan dan kemubadziran.

Guna menyongsong Ramadhan dengan fisik tetap prima, maka puasa harus dilatih sejak sekarang (tepatnya bulan Sya’ban), sehingga kala memasuki Ramadhan, fisik dan mental tidak sedang dalam kondisi beradaptasi, tetapi sudah terkondisi, sehingga Ramadhan tidak lagi menjadi alasan seorang Muslim menurun produktivitasnya. Oleh karena itu, perbanyaklah puasa sedari sekarang.

Membangun Komitmen Ibadah

Seperti kita pahami bersama bahwa ibadah di Bulan Ramadhan juga menyediakan balasan pahala yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap Muslim memiliki rencana untuk membangun komitmen ibadah.

Hal ini seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alayhiwasallam sebagaimana hadits yang disampaikan oleh Siti Aisyah Rhadiyallahu Anha.

“Nabi Shallallahu Alayhiwasallam tidak pernah berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Bahkan beliau biasa berpuasa Sya’ban sebulan penuh. Beliau bersabda, “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak bosa sampai kalian sendiri ang merasa bosan. Shalat yang paling disukai oleh Nabi Shallallahu Alayhiwasallam ialah shalat yang dilakukan secara lestari meskipun hanya sedikit dan jika melakukan suatu shalat, beliau akan terus melestarikannya.” (HR. Bukhari).

Hadits di atas memberikan satu petunjuk bagaimana seorang Muslim mengisi bulan Sya’ban. Selain dengan pembiasaan puasa, sangat dianjurkan untuk membiasakan diri melakukan komitmen ibadah, yang bisa dilakukan secara konsisten dan tersu-menerus. Dalam konteks hadits di atas ibadah yang dicontohkan adalah shalat.

Apabila Ramadhan dianggap bulan penempaan diri, maka sangat baik jika seorang Muslim tidak meninggalkan komitmen ibadah yang telah dibangun sejak Sya’ban hingga menjadi karakter di Bulan Ramadhan. Tetapi terus dipertahankan atau dilestarikan. Misalnya komitmen sholat Dhuha atau Tahajjud.

Membangun Tradisi Ilmu

Satu hal yang kadang terlupakan adalah Ramadhan bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Dan, ayat pertama yang diturunkan adalah perintah Iqra’ (membaca). Artinya, Bulan Ramadhan mesti direncanakan sedemikian rupa agar puasa kita lebih bermakna, yakni dengan membangun kecintaan terhadap ilmu.

Berlatihlah untuk berminat mendatangi kajian-kajian keilmuan di masjid, musholla atau pun di televisi dan media massa lainnya. Jangan merasa diri puas dengan sekedar berpuasa. Tetapi sempurnakanlah puasa kita dengan peningkatan keilmuan.

Untuk itu, kala sahur, sebaiknya kita tidak menonton acara televisi yang tidak menyajikan siaran keilmuan. Atau, usai shalat Shubuh kita tidak semestinya tidur lagi. Bahkan, usai Isya’ sebaiknya kita ikut sholat tarawih di masjid, sebab kalau tidak sebagian dari kita mungkin akan tergoda melihat sinetron dan berbagai acara televisi yang tidak konstruktif.

Tetapi, lakukanlah aktivitas-aktivitas keilmuan; membaca Al-Qur’an beserta terjemahnya, syukur Alhamdulillah lengkap dengan tafsirnya. Membaca buku sejarah Nabi dan sahabat atau buku apa pun yang memotivasi kita lebih giat dalam beribadah.
Apabila beberapa langkah di atas dapat dilakukan, insya Allah kita termasuk Muslim yang bergembira kala menyambut dan mengisi Ramadhan. Dan, semoga dengan cara sederhana di atas kita dapat meraskaan kemukjizatan Bulan Ramadhan yang sangat luar biasa. Allahu A’lam.*


PENGUMUMAN
DARI HASIL SELEKSI TERTULIS, WAWANCARA, BTAQ DAN KOMITMEN KELEMBAGAAN
NAMA BERIKUT DITERIMA SEBAGAI GURU / PEGAWAI DI YAYASAN WAKAF BINA AMAL TAHUN 2017
GURU TKIT
1. Laksma Septi Ana 
2. Arina Kurniawati
3. Arsita Putri Dwi Idiyani
GURU KBIT
1. Hakiki Naresa Putri
GURU DAN PEGAWAI SDIT
1. Dina Agustin Guru Wali
2. Umi Qoniah Guru Wali
3. Totok Hadi Fitoyo Guru Wali
4. Aryun Nailun Nasikhah Guru Wali
5. Mardhiyah Guru Qiroaty
6. Yoyok Sugiarso PSB
7. Teguh Sunarjo Lab Komputer
GURU DAN PEGAWAI SDIT 02
1. Linda Puji Lestari  Guru Wali
2. Eramdani Mamuda Putri Guru Wali
3. Dwi Novita Sari Guru Qiroaty
PEGAWAI TKIT 02
1. Suharno CS
GURU SMPIT
1. Rondiyah Guru Bahasa Indonesia
2. Desianita Kumalasari Guru IPS
3. Nurul Hitoniah Guru Bahasa Inggris
4. Siti Hasmah Guru Matematika
5. Fazka Khoiru Rizal Guru Asrama ( PAI )
6. Elfa Aizah Arum Pangestika Guru TIK
GURU SMAIT
1. Rico Prasetya Kurniawan Guru Matematika
2. Roni Prasetyo Candrawan  Guru Fisika
3. Khairul Akbar Guru Sejarah
4. Siti Ermawati Guru Bahasa Inggris
5. Resti Fajrin Guru BK
6. Fikri Faila Sufah Guru PJOK
STAFF LPIT
1. Ishmah Zahroh Firdausi Staff HRD
2. Alfian Hari Susatya Staff Kelembagaan
3. Suci Tita bela Sukowati Staff Kesekretariatan
PT BAS
1. Tri Rahmawati Keuangan
Untuk Selanjutnya masuk  tanggal 2 Juni 2017 pukul 07.00 di unit masing-masing 


‘Rumah’ adalah salah satu kunci utama, bukan hanya meningkatkan prestasi belajar anak, tapi juga penguatan konsep dirinya. Dari ‘rumah’ pula, mood anak dalam menuntut ilmu bisa hilang, atau yang lebih parah hilang harga dirinya. Berapa banyak anak yang pergi ke sekolah dalam keadaan ‘kacau’ karena kondisi keluarga yang tidak harmonis? Menuntut ilmu dengan beban karena dianggap bodoh dan tidak dihargai, atau ke sekolah tanpa bekalan tujuan yang jelas untuk masa depannya?

Peran keluarga sangat penting menguatkan kepribadian dan kecerdasan anak. Tak hanya cerdas intelegensianya, namun juga spiritual dan emosionalnya. Sistem pendidikan nasional bisa saja tak henti dari problem, tapi jangan sampai problem itu diawali dari tidak kokohnya sistem berkeluarga di rumah.

Keharmonisan dalam suatu keluarga harusnya selalu dijaga, karena hubungan yang baik dalam suatu keluarga memiliki korelasi yang positif bagi anak dalam prestasi atau keberhasilan pada proses belajarnya. Begitu pula sebaliknya, jika keharmonisan suatu keluarga itu menurun maka prestasi siswa atau semangat dalam proses pembelajaran pun di khawatirkan akan menurun pula.

Anak akan belajar dari interaksi dan budaya yang ada. Sedangkan budaya yang pertama kali di rasakan oleh anak adalah budaya dalam keluarga. Maka dari itu budaya yang baik dalam keluarga sangat berpengaruh. Misalnya budaya sholat berjamah yang dilakukan rutin dalam suatu keluarga. Maka anak-anaknya juga akan membiasakan budaya rutin sholat berjamaah.

Sehingga peranan keluarga sangat mempengaruhi proses perkembangan anak, utamanya dalam hal belajar dan perilaku serta pemikirannya. Begitu pula dengan perhatian orang tua (keluarga) maksudnya adalah interaksi yang baik dan perhatian yang intensif anak akan lebih tenang emosionalnya karena tidak tertekan sehingga proses belajar anak akan alami berlangsung dengan baik. Untuk itu keharmonisan dalam suatu keluarga harus tetap terjaga agar proses pebelajaran anak pun tetap stabil dan berjalan dengan baik sesuai tujuan yang diinginkan.

Jika, di rumah ia sudah bisa teratur dalam belajar maka di sekolah pun ia juga akan mengikuti pembelajaran dengan baik pula. Namun, masih banyak orang tua yang belum mengerti akan hal ini. Masih banyak dari mereka (orang tua) cenderung memaksa dengan keras dan mengejar-ngejar si anak untuk belajar.

Padahal cara ini dapat membuat anak merasa ketakutan dan akan benci terhadap kegiatan belajar. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya jika sekolah selalu melakukan interaksi pada orang tua terkait masalah-masalah atau kesulitan yang di hadapi peserta didik, selain itu juga memberikan arahan-arahan bagaimana seharusnya memberikan perhatian dan mendidik anak secara efektif. Agar adanya kesesuaian pembelajaran antara dirumah dan di sekolah dan berjalan sejalan secara berdampingan

Dan Alhamdulillah di Sekolah Islam Terpadu Bina Amal sudah ada beberapa kegiatan yang rutin dilakukan. Di antaranya kegiatan parenting, yaitu penyamaan persepsi tentang cara mendidik anak baik di sekolah maupun dirumah. Kemudian ada pengajian Majelis Sekolah, yaitu kegiatan parenting dengan mengundang pakar untuk bersama-sama membahas tentang pendidikan anak dan permasalahannya.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dalam keluarga yang diberikan oleh orang tua terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa kasih sayang dan perhatian untuk merangsang dan membina kreativitas.


Wallahu a’lam bishowab....





Memiliki anak yang bertanggung jawab dan dapat membantu pekerjaan orang tua adalah dambaan setiap orang. Sekalipun memiliki Asisten Rumah Tangga, membiasakan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa dilakukan anak akan membuat ia tumbuh jadi orang yang mandiri saat ia dewasa nanti.

Banyak orang tua yang masih membedakan pekerjaan rumah anak laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap lebih bertanggung jawab terhadap pekerjaan dapur dan kegiatan bersih-bersih rumah, sedangkan laki-laki hanya diajari untuk mengerjakan sesuatu yang ada hubungannya dengan otomotif dan mesin.

Padahal, laki-laki dan perempuan sama-sama menyenangi masakan enak dan ruang yang rapi, lalu kenapa yang dianggap bertanggung jawab hanya satu jenis kelamin saja? Pada dasarnya, ada banyak pekerjaan rumah yang bisa dilakukan anak lelaki dan perempuan yang akan berguna untuk masa depannya nanti.

Suatu hari, ia akan tinggal di asrama maupun sendirian di kos-an. Tak ada asisten rumah tangga yang akan menemaninya di perantauan.

Maka, membekali anak dengan kemampuan-kemampuan dasar rumah tangga dan hidup pada umumnya adalah sebuah keharusan bagi para orangtua.

Latih mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang bisa dilakukan anak sesuai dengan usianya. Semakin ia dewasa, tugas yang perlu ia laksanakan akan makin banyak, tapi itu juga dapat meningkatkan kemampuannya untuk hidup lebih mandiri dari sebelumnya.

Memberikan hadiah saat anak melakukan pekerjaannya memang akan membuatnya bersemangat. Tapi, jangan sampai membuat anak merasa bahwa hadiah adalah salah satu motif yang ia kejar saat membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah.

Berbagi tugas dengan kakak maupun adiknya juga akan melatih kemampuan kerja tim dan melatih jiwa kepemimpinannya. Kemampuan ini akan sangat berguna untuk pekerjaannya di masa depan.

Mengajari anak melaksanakan pekerjaan rumah akan membuat ia memiliki keterampilan hidup dan etos kerja yang akan jadi bekalnya di masa depan. Maka, mulailah tangga kesuksesannya sedini mungkin, mulai dari sekarang.


theasianparent










Jiwa muda adalah jiwa keberanian, jiwa penasaran, jiwa penuh harapan. Bener, nggak sih? Iya, dong.

Coba kita tanyain ke diri masing-masing, ntar jawabannya pasti iya. Kalo sampe enggak, wah, artinya perlu asupan motivasi dosis tinggi tuh. Karena idealnya sifat anak muda emang kayak gituh.

Kaum muda adalah kesegaran dalam kehidupan. Raga dan jiwanya menggugah dinamisasi peradaban. Masa muda bukanlah situasi diam, ia bergerak tanpa henti, n nggak mau dihentiin.

Dalam catatan sejarah, nabi n rasul mulai diutus saat mereka masih muda. Mayoritas ulama mulai bergelut di dunia ilmu sejak mereka remaja, bahkan kanak-kanak. Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata,

“Tak ada seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah, melainkan ia dipilih di kalangan pemuda saja. Begitu pula tidak seorang ulama pun yang diberi ilmu, melainkan ia hanya dari kalangan pemuda.”

Nabi Ibrahim alaihissalam berdialog soal ketuhanan (ketuhanan loh, nggak main-main nih) ama kaumnya yang rajin nyembah berhala, berusaha ngelurusin aqidah mereka, saat doi masih muda.

“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun), telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk. Dan Kami telah mengetahui dia. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?’ Mereka menjawab, ‘Kami dapati nenek moyang kami menyembahnya.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan nenek moyangmu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka berkata, ‘Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran, atau engkau main-main?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya Tuhanmu adalah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dia-lah) yang telah menciptakannya. Dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas hal itu.'” (al-Anbiya’: 51-56).

Muhammad shalallahu alaihi wassalam Allah angkat jadi rasul waktu berumur 40 tahun. Pengikut-pengikut beliau yang paling awal kebanyakannya pemuda, bahkan ada juga yang remaja. Sejarawan Barat, Montgomery Watt, bilang, “Banyak pemuda yang masuk Islam. Mereka dari kabilah terhormat. Dan pikiran utama yang bisa kita kemukakan dari sejarah kaum Muslim pertama adalah bahwa Islam pada dasarnya adalah gerakan pemuda.”

Generasi muda adalah aset peradaban. Padanyalah potensi besar tersimpan. So, siapa yang ngaku remaja, harus sadar akan hal ini. Juga harus berusaha ngenalin diri sendiri, ngenalin potensinya apa aja, yang paling nonjol di bidang apa? Gituh.

N, dalam pada itu remaja juga harus sadar akan hakikat kehidupan yang sebenernya tuh kayak apa. Buat apa, sih, umur harus dipake? Ini mesti dipahami bener. Jangan sampe kita gagal paham akan hakikat kehidupan, karna itu pasti bakal bikin rugi. Kalo sampe salah ngemaknain hidup, potensi yang besar banget dari remaja bakalan tersalahgunakan. Kacau deh jadinya. Rugi deh semua…

Abul A’la al-Maududi rahimahullah dalam Tahaddiyatul Ashril Jadid wa asy-Syabab ngingetin kita,

“Potensi pemuda tak ubahnya seperti pedang tajam. Ia dapat digunakan oleh pejuang di jalan Allah, dan dapat dipakai pula oleh perampok.”

Tuh, kan… So, sekali lagi kita bilang dengan bahasa yang berbeda, generasi muda harus sadar di mana letak kemuliaan. Makanya kita harus mau belajar Islam sedini mungkin, biar paham arti kehidupan. Siap?! Remaja masa kini harus bercermin ke para shahabat radhiyallahu anhuma kayak yang terlukis di dalam ayat ini,

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, (mereka) berjihad dengan harta dan jiwa. Mereka itu memeroleh kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (at-Taubah: 88).

Yup! Generasi muda harus berperan aktif di dalam dakwah. Dakwah tuh ngajakin orang ke yang baik-baik n yang bener-bener. Pelakunya disebut da’i. Caranya pun nggak melulu berupa ceramah. Di zaman canggih ini banyak banget cara yang bisa ditempuh, n banyak banget media atau alat yang bisa dipake buat berdakwah. Makanya kreatifitas sangat dibutuhin banget di sini. Artinya, potensi generasi muda, potensi remaja, sangat layak dijadiin andalan. Daya kreatifitas yang tinggi, jaringan pertemanan yang banyak, dan wawasan yang luas di berbagai bidang, bagus banget kalo didayagunain dalam dakwah. So, yuk terjun di medan dakwah, karna remaja adalah da’i andalan! 

Wallahu a’lam. [IB]




Winarni
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan menjadi tonggak penting bagi kemajuan sebuah bangsa dan negara. Masa depan suatu bangsa sangat tergantung pada mutu sumber daya manusianya dan kemampuan peserta didiknya untuk menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hal tersebut dapat kita wujudkan melalui pendidikan dalam keluarga, pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah.(Umiati,2015)

Anies Baswedan dalam sambutannya untuk buku Gurunya Manusia (Munif Chatib, 2014: xiii) menyebutkan bahwa pendidikan yang berkualitas akan mampu mencetak generasi masa depan yang juga berkualitas. Pelaksanaan pendidikan yang meluas adalah pelaksanaan program pendidikan yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh anak bangsa untuk dapat memperoleh pendidikan. Pendidikan yang merata dimaksudkan bahwa akses pendidikan dapat diterima oleh semua anak di negeri ini. Intinya pendidikan harus dapat dinikmati semua anak. Pendidikan yang merata adalah persamaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bisa diakses dari Sabang sampai Merauke. Berkeadilan menjadi azas pendidikan agar tidak terjadi penumpukan dan sentralisasi pusat-pusat pendidikan.

Apakah di Indonesia pendidikan sudah meluas, merata dan berkeadilan? Pendidikan masih menjadi persoalan yang cukup pelik di negeri ini. Berbagai permasalahan mewarnai dunia pendidikan. Mulai dari anak putus sekolah, kurikulum yang berganti ganti, gedung sekolah yang tidak layak, komersialisasi pendidikan dan lain-lain. Jika kita mengunjungi daerah perbatasan maupun pedalaman maka akan terlihat ketimpangan itu.

Permasalahan tidak meluas dan meratanya pendidikan di negeri ini disebabkan karena beberapa hal diantaranya: pertama penyebaran tenaga pendidik yang tidak proporsional. Setiap tenaga pendidik menginginkan ditempatkan di wilayah kota karena fasilitas dan sarana yang ada di kota lebih lengkap dan tertata. Kedua lemahnya kompetensi guru. Guru menjadi faktor yang paling penting dalam proses transformasi nilai-nilai, kurikulum apapun yang dijadikan acuan, selengkap apapun media jika guru tidak berkompeten, maka tujuan pendidikan sulit untuk tercapai. Menurut Anies Baswedan, seorang guru mesti menguasai dua konsep dasar yaitu kepengajaran (pedagogi) dan kepemimpinan. Seorang guru harus mengerti dan dapat mempraktekkan dasar-dasar pedagogi yang efektif. Ketiga akses jalan menuju lokasi sekolah, dan gedung beserta sarana pendukung yang tidak layak. Keempat dukungan dari orangtua. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk bekerja mencari uang daripada sekolah karena banyak hal seperti kurang mampu ataupun karena kesadaran menyekolahkan masih rendah. Untuk hal ini perlu adanya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan.

Pemerataan pendidikan

Seluruh komponen harus menyatukan gerak langkah dan mendekatkan persepsi untuk mempersiapkan generasi masa depan. Membenahi pendidikan saat ini untuk mempercepat pembangunan akses pendidikan agar dapat dinikmati oleh semua anak usia sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah. 

Beberapa solusi yang bisa dilakukan diantaranya : 

Pertama dengan melakukan rekrutmen guru yang bersedia ditempatkan di daerah yang membutuhkan. Selain itu juga diperbanyak program untuk meningkatkan kualitas guru seperti workshop, pelatihan, seminar, lomba kompetensi guru dan diklat. Juga pemberian penghargaan untuk guru berprestasi. 

Kedua alokasi dana BOS yang tepat. Walaupun telah ada dana BOS, sekolah tetap saja memungut bayaran dan hal itu tentu memberatkan siswa terutama bagi yang tidak mampu. Untuk itu, perlu ada monitoring sistematik dari pemerintah agar program ini dapat efektif. 

Ketiga perlu digalakkan kembali partisipasi dari perusahaan baik swasta maupun pemerintah untuk mengalokasikan dana pendidikan ataupun beasiswa untuk siswa berprestasi dan tidak mampu. 

Keempat mendorong semua elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial dengan program anak asuh yang bisa berupa dukungan dana, dukungan pemikiran maupun dukungan buku serta membentuk pusat sumber belajar yang bisa dijangkau oleh masyarakat setempat. 

Kelima perlu di buat program pendampingan usaha yang praktis yang mudah dilakukan oleh orangtua walimurid setempat untuk menambah penghasilan. Adanya program “bali ndesa mbangun ndesa” yaitu anak didik yang merantau jika sudah lulus kembali ke daerah asal untuk membangun daerahnya akan menambah semangat dan memotivasi anak-anak untuk sekolah juga bisa menambah sumberdaya manusia untuk membangun dan memajukan daerahnya. 

Jika kelima komponen tersebut bisa berjalan dengan baik maka pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan akan terwujud. 

Winarni, Guru SDIT Bina Amal Semarang



















Ayah Bunda, sudah mengajarkan apa saja pada putra-putri kita? Tentu saja Islam sebagai agama yang menjadi pedoman hidup tidak melulu memerintahkan pada hal-hal yang bersifat ruhiyah semata, melainkan pada seluruh bidang kehidupan.

Termasuk mengajarkan keterampilan fisik pada anak-anak kita, berikut ini beberapa hal yang perlu kita ajarkan pada anak-anak sejak usia dini:

1. Dzikir dan shalat

Setiap ada keluhan atau kesyukuran, apakah anak-anak kita sudah terampil berdzikir? Ketika jatuh beristighfar, ketika dipuji mengucap hamdalah, melihat keindahan mengucap maa sya Allah.

Dan sudahkah anak-anak kita melaksanakan shalat 5 waktu?

Keterampilan untuk senantiasa mengingat Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang pantas disembah dan dimintai segala permintaan merupakan hal utama yang perlu diajarkan pada buah hati kita.

Banyak orangtua yang sudah mengajarkan anak terampil baca tulis dan hitung sejak kecil, namun belum mengajarkan anak terampil mengingat Allah di waktu sempit dan lapang.

2. Latihan memanah dan berenang

Untuk melatih ketangkasan fisik, anak bisa diajarkan olahraga memanah dan berenang.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang." (HR. Imam An Nasa'i)

3. Amar ma'ruf nahi munkar

Kita bisa mengajarkan keterampilan untuk beramar ma'ruf dan nahi munkar pada anak-anak sejak dini. Agar mereka tahu bahwa orang dewasa pun tidak selalu benar, ada kalanya orang dewasa lalai dan perlu diingatkan. Berikan kesempatan pada anak-anak untuk mengingatkan orangtua jika sedang malas shalat misalnya.

Jangan mengatakan, "Kamu masih kecil sok-sokan ingetin abi dan umi..." padahal amar ma'ruf nahi munkar jika tidak kita ajarkan pada anak sejak kecil, kapan ia akan terbiasa?

ummi online

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget