Articles by "Artikel"

Pemuda dan Penggerak Perubahan
Oleh : Kiswanto Guru Sosiologi SMA IT Bina Amal Semarang

Menurut data Bappenas pada Mei 2017, Indonesia diprediksi mengalami keadaan bonus demografi antara tahun 2030-2040. Dimasa ini, jumlah penduduk usia produktif mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang ada. Hal tersebut akan menjadi keuntungan untuk Indonesia jika kualitas SDM dapat dipersiapkan dengan baik khususnya pada anak-anak muda generasi milenial saat ini. Namun, mendorong kualitas SDM dikalangan milenial bukanlah sesuatu yang mudah. Hal ini dikarenakan sifat dan perilaku yang ada pada milenial saat ini. Generasi ini cenderung tidak peduli dengan keadaan sosial sekitar seperti dunia politik dan perkembangan sosial ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari mereka, membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis. 

Ditambah lagi sifatnya yang kurang kritis, tidak jarang mereka terpancing informasi yang bahkan belum diketahui kebenarannya “Hoax” sehingga melakukan perilaku yang anarkis. Tentu, semua ini karena dampak negatif dari kemajuan teknologi yang ada. Ketika informasi masuk, kebanyakan dari mereka tidak mencari tahu kebenaran dan kronologi yang sebenarnya terjadi. Parahnya lagi, ada beberapa yang hanya membaca judul nya saja tanpa memahami isinya. Jika ini terus dibiarkan, maka kerukunan antar warga negara akan sangat terganggu. Bukan tidak mungkin, Indonesia bisa saja gagal dalam memanfaatkan bonus demografi seperti yang terjadi pada Afrika Selatan dan Brazil.
Jumlah penduduk yang lebih dari setengahnya adalah anak muda, dan sifat yang mudah terprovokasi berita-berita bohong atau hoax, akan menyebabkan bangsa ini mudah dipecah belah oleh pihak-pihak asing yang ingin menghancurkan kedaulatan NKRI. “Pada era ini, ketika informasi tersedia dengan sangat bebas, sebaiknya kita membuka luas-luas pikiran kita dengan membaca dan memahami secara teliti, sehingga tidak mudah tersulut oleh pikiran-pikiran orang lain yang belum tentu terbukti kebenarannya. ”Tim Wesfix (2016:49). Mulailah dengan mengenali diri sendiri. Setelah itu tentukan visi yang akan dicapai. Karena, Indonesia membutuhkan banyak anak muda dengan visi yang jelas dan eksekusi yang nyata.

Langkah selanjutnya adalah merencanakan alur yang akan dilakukan untuk mencapai visi tersebut. Disinilah inti dari produktivitas. Segala aktivitas akan terarah, terukur dan terstruktur sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Millenial adalah kunci dan tokoh utama dalam bonus demografi nanti. Keberhasilan atau bahkan kegagalan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi ada dipundak generasi ini. Dengan menjadi millenial yang produktif tentu akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan NKRI. 

Dunia  pendidikan sangat berperan bagaimana para pihak di sektor pendidikan memberikan kontribusi  terbaiknya dalam menyiapkan generasi terbaik. Mari kita manfaatkan waktu, tenaga, dan semangat yang ada sekarang ini untuk menjadi bagian dari sejarah kebangkitan dan keberhasilan Indonesia dalam menghadapi puncak bonus demografi tahun 2030 nanti. Perjalanan ke arah itu tentulah tidak mudah. Hal tersebut terjadi karena pemuda saat ini dihadapkan pada era dimana akses dunia maya yang tidak hanya menyediakan konten-konten positif akan tetapi berjubel konten negatif memenuhi ruang yang ada di media sosial. Kemudian yang kedua adalah perilaku yang menyukai sesuatu yang instan memberikan dampak seseorang malas untuk bekerja keras.

Sejarah telah mencatat kegemilangan peradaban karena peran dari para pemuda. Sejarah awal perkembangan Islam di Jazirah arab sampai perjalanan Negara Republik Indonesia tidak terlepas dari tangan-tangan pemuda. Pemuda memang minim pengalaman tetapi mereka memiliki semangat dan idealisme yang tak terbatas. Daya dorong mereka sangatlah kuat untuk menghasilkan karya-karya besar selama mereka bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap aktifitas. 

Kita tidak asing dengan ungkapan berikut. "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia." (Ir. Soekarno). Ungkapan yang mengguncang dunia ini bukanlah tanpa sebab. Para pemuda merupakan sekelompok orang yang memiliki bahu yang kuat untuk memanggul beban persoalan serta perjuangan yang tidak ringan. Mereka sangat identik dengan kerja cepat, cerdas dan menuntaskan setiap amanah yang diberikan kepadanya.
Di perayaan sumpah pemuda yang ke-91 tahun kita berharap upacara atau  ceremonial tidak hanya sesaat, akan tetapi yang terpenting adalah implementasi dari semangat pemuda-pemuda pencetus Sumpah Pemuda 1928. Semangat mereka senantiasa menghiasi setiap langkah  kita dalam rangka mengisi kemerdekan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semarang, SMPIT Bina Amal mengadakan life skill yaitu menanam tanaman buah dan sayur. Agenda tersebut dilaksanakan disamping Green House pada hari ahad, 19 Agustus 2018. Peserta merupakan siswi kelas 8 dan 9.

Life Skill merupakan salah satu program unggulan SMPIT Bina Amal sebagai sekolah boarding. Tujuan Life Skill kali ini adalah untuk melatih ketrampilan anak-anak supaya mandiri dalam bercocok tanam, memetik hasil panen sendiri, serta menjaga keseimbangan lingkungan supaya tetap asri.

Anak-anak dijelaskan teori singkat mengenai cara budidaya tanaman sayur  dan buah khususnya tanaman tomat, cabai dan strawberry. Kemudian anak mempraktikan cara persiapan dan proses menanam dengan baik dan benar hingga benih dan bibit tanaman siap ditanam pada media tanam (pupuk dan tanah) yang sudah disediakan.  Pengisi Life Skill merupakan alumni sekaligus guru asrama, Ustadzah Shafyra berasal dari Jurusan Pertanian UNDIP.

Semarang, SMPIT Bina Amal berpartisipasi dalam Kirab Merah Putih yang diselenggarakan oleh  Kodim 0733 BS Semarang bersama Pemkot Semarang (13/8). Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke-72.

Menurut Tiara Pangesti D, Waka 3 bidang kesiswaan dan kehumasan, siswa dapat merenungi perjuangan para pahlawan sehingga mereka bersemangat untuk meneruskan perjuangan pahlawan serta mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif.

Kirab Merah Putih dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko, dengan rute dari Halaman Balaikota Semarang dan berakhir di Halaman Kantor Gubenur Jateng. 

Kirab tersebut menyedot perhatian masyarakat Kota Semarang dengan dimeriahkan iring-iringan mobil lapis baja milik TNI, tank, mobil Barakuda milik Gegana Polri, marching band serta pelajar SMP.

Hanifah Rifda, peserta kirab mewakili SMPIT Bina Amal, dengan mengikuti kegiatan kirab dapat mengingat kembali perjuangan pahlawan dan salah satu bentuk penghargaan perngorbanan pahlawan dengan meraih cita-cita.


Pada dasarnya, manusia itu suka ngemil, jadi memperkenalkan kebiasaan snacking kepada anak seharusnya tidak terlalu sulit. Perkenalkan secara perlahan, misalnya dengan menyiapkan snack di 3-4 jam setelah makan besar, lalu bawakan ke sekolah/ taruh di meja makan tanpa paksaan. Dengan demikian, anak akan menyadari bahwa jika dia lapar atau butuh camilan saat dia sedang belajar, yang dia perlukan sudah tersedia. Cara ini termasuk pasif, namun paling aman, sehingga tidak menimbulkan tekanan kepada orang tua maupun anak. Di sini bisa dilatih motto bahwa orang tua yang menentukan jam dan pilihan makan, sementara anak yang memilih untuk makan dan porsinya.

Tidak kalah penting adalah secara aktif mengajak anak menikmati snack time. Jika anak enggan, mama atau papa bisa mengonsumsi snack sambil ngobrol dengan anak, sehingga melibatkan anak dalam pola snacking. Dengan demikian, anak juga bisa melihat bahwa orang tuanya menikmati snacking, dan bisa tertarik untuk ikut mencoba.

Untuk anak-anak yang lebih besar, mengubah snack mereka menjadi lebih sehat tentu perlu trik juga, apalagi jika dia tidak terbiasa atau di sekolah sudah ada pengaruh dari teman-temannya yang membawa atau jajan snack tidak sehat. Apa yang harus Anda lakukan? Untuk anak besar maupun anak usia dini yang lebih memilih jajanan tidak sehat, cara bernegosiasinya adalah dengan menyiapkan 2 atau 3 pilihan snack untuk mereka. Salah satunyanya adalah snack yang dia pasti suka. Awalnya dari 2 atau 3 pilihan tersebut berjumlah sama banyak, setelah seminggu atau 2 minggu, mulai dikurangi porsi snack yang kurang sehat, sehingga pilihannya adalah untuk memakan pilihan lainnya.

Namun, snacking tidak dapat menggantikan makanan utama. Jika Anda menyadari di jam snacking anak justru dapat makan lebih banyak/ dengan porsi besar, sebaiknya diakomodasi dengan mengganti jam itu menjadi makanan utama dan jam makan berikutnya menjadi snacking. Karena, mungkin saja anak lebih merasa paling lapar saat pulang sekolah, misalnya, sementara waktu menunjukkan pukul 3 sore. Ikuti insting Anda dan tanda yang diberikan anak.

Anak-anak adalah individu yang harus didengar dan dihargai keinginan serta pendapatnya. Tak terkecuali dalam hal makanan, sebaiknya orang tua menghormati keputusan anak. Tentu saja, anak-anak masih memerlukan bantuan orang tuanya untuk membuat keputusan terbaik. Yang perlu Anda ingat adalah bahwa masing-masing mempunyai tugas. Tugas orang tua adalah menyiapkan dan memilih makanan (tentu yang sehat mengandung gizi seimbang, ya), serta menentukan jam makan. Sementara, tugas anak adalah menentukan akankah dia makan dan seberapa banyak porsi yang akan dimakan. Mama tidak perlu khawatir dan memaksa anak yang tidak mau makan atau hanya makan sedikit. Mungkin saat itu dia memang sedang tidak lapar. Anak perlu mengenali sendiri sinyal lapar dalam dirinya.

Anda merasa khawatir jika anak akan menolak makan sama sekali jika tidak diomeli atau dengan paksaan? Jangan khawatir. Anak akan dengan sangat cepat belajar untuk makan jika dia tahu bahwa orang tuanya konsisten hanya mengeluarkan makanan di jam makan. Lewat dari jam makan, harus tunggu ke jam makan berikutnya. Dengan saling menghormati tugas masing-masing pihak, kegiatan makan akan menjadi lebih sehat dan relaks.
Sumber : parenting.co.id

Banyak hal yang bisa dipelajari dari perbedaan. Keberagaman membuat pikiran kita semakin terbuka. Jika anak Anda berada satu kelas dengan anak yang normal/berkebutuhan khusus, hal-hal berikut ini perlu Anda pertimbangkan.

Jika anak Anda berkebutuhan khusus, sebaiknya Anda…
  • Memahami anak. Tahu betul di mana kekurangan dan kekuatan anak Anda. Jangan menaruh harapan yang melebihi kemampuan anak karena ia bisa merasa terbebani dengan target yang Anda patok.
  • Meneruskan pelajaran yang didapat anak di sekolah. “Jam sekolah hanya sebentar, anak paling banyak menghabiskan waktunya di rumah,” kata Dra. Satiti Sabarwati, guru inklusi di SDN Pela Mampang 01 Pagi. Karena itu, anak bisa berkembang optimal jika orang tua meneruskan materi yang diberikan di sekolah. “Murid saya yang menderita keterbelakangan mental maju pesat karena ibunya telaten. Dia sekarang sudah bisa menulis berkat ibunya yang tidak pernah lelah mengulang pelajaran ketika di rumah,” ujarnya.
  • Jaga hubungan baik dengan sekolah. Komunikasi dengan pengajar dan manajemen sekolah harus dijaga agar Anda dapat mengetahui perkembangan anak, punya kesempatan memberi dan menerima masukan.
  • Jangan jadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak. Keikutsertaan Anda dalam kegiatan pembelajaran akan membawa dampak yang sangat positif. Partisipasi Anda bisa diwujudkan dengan menyumbangkan gagasan dalam berbagai kegiatan sekolah, menjadi donatur, atau mulailah dengan hal-hal yang tampaknya sepele, seperti mendampingi anak ketika ia ambil bagian dalam acara yang diadakan di sekolah.
  • Jangan membandingkan anak Anda dengan teman sebayanya. Kalimat seperti, “Tuh, si Andi saja bisa, kenapa kamu tidak? Padahal kalian kan satu kelas,” bisa menyakiti anak Anda. Lebih jauh lagi, perkataan tersebut bisa mematahkan semangat, membuat anak merasa minder, dan enggan bersosialisasi.
  • Beri si kecil pujian. Sekecil apapun kemajuan yang dibuat anak, hargai usahanya. Beri dia pujian atas prestasinya dan umumkan di depan seluruh anggota keluarga. Penghargaan Anda akan memacu semangatnya untuk terus belajar.

Jika anak Anda normal, sebaiknya Anda…
  • Jangan paranoid. Membiarkan anak Anda yang normal belajar satu atap dengan anak berkebutuhan khusus sama sekali tidak merugikan. Keadaan itu justru membantu Anda menanamkan sifat-sifat terpuji kepada anak.
  • Meringankan beban orang tua anak berkebutuhan khusus. Bercakap-cakap dengan orang tua yang anaknya menderita autisme ketika menjemput anak Anda pulang, membuktikan bahwa Anda tidak memandang rendah orang lain dan itu amat membantu.
  • Memberi pengertian kepada anak. Sikap anak di sekolah tentunya dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditanamkan di rumah. Karena itu, teruslah ingatkan anak Anda untuk bersikap baik terhadap siapapun di sekolah. Dan, jangan lupa, Anda juga harus memberi contoh sikap toleransi karena anak adalah peniru ulung.
  • Lebih bersyukur. Kesempatan berinteraksi dengan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus bisa membuat Anda lebih bersyukur dengan keadaan anak Anda. Membesarkan anak berkebutuhan khusus jelas tak mudah dan memerlukan kesabaran ekstra. Petik hikmahnya dari kesempatan itu dan jadikan sebagai pengalaman yang semakin mendekatkan Anda dengan buah hati.

Psikolog anak, Amelia Hirawan, dalam satu kesempatan menegaskan, ada dua faktor yang memengaruhi perilaku anak, yaitu faktor internal (pembawaan) dan eksternal (lingkungan, orang tua dan keluarga, budaya). Faktor internal ini bersifat potensi, sehingga bila tidak mendapatkan stimulus dari luar, maka lazimnya tetap akan terpendam. “Karena itu, saya cenderung berkeyakinan, bahwa faktor eksternal-lah yang lebih penting,” tandasnya. Ada banyak hal yang dapat dilakukan orang tua, sebagai faktor eksternal terpenting bagi anak. Contoh peran orang tua untuk mengontrol rivalitas:

♥ Orang tua bukan juru damai
Bisa dimengerti bila orang tua ingin segera turun tangan melerai ketika anak bertikai. Namun, ada baiknya kita menahan diri dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih menyelesaikan konflik antar mereka sendiri. Kapan orang tua boleh terjun? Tergantung usia anak dan perkembangan konfliknya. Adu mulut itu biasa, biarkan saja. Apabila situasi sudah mulai memanas, orang tua dapat mengingatkan tentang aturan dan batas yang sudah disepakati, kemudian memberikan beberapa opsi penyelesaian masalah dan meminta anak-anak memilih sendiri. Bilamana kondisi berkembang jadi membahayakan, maka kita sebaiknya memisahkan anak yang bertengkar antar keluarga.

Bagaimana pun, anak-anak ini saudara sekandung, tinggal serumah, tiap hari hidup bersama. Semestinya, ada ikatan emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan temanbiasa di luar sana. Tugas orang tualah untuk terus-menerus memupuk ikatan kasih sayang tersebut. Terkait dengan hal ini, coba membiasakan anak menyebut nama saudaranya ketika membaca doa sebelum tidur.  Akan lebih baik lagi jika mendoakan saudara, orang tua, juga keluarga atau teman yang disayangi. Dengan cara demikian, secara tidak langsung anak diingatkan, bahwa mereka bersaudara dan saling menyayangi satu sama lain, walaupun kadang berselisih paham.

♥ Tidak memicu rivalitas
Kadang, justru orang tualah penyebab munculnya rivalitas di dalam rumah. Tanpa disadari, bisa jadi kita mengeluarkan kalimat-kalimat yang memaksa anak membandingkan dirinya sendiri dengan saudaranya. Seperti, “Kakakmu bisa, kenapa kamu tidak?” Dhian, mama Damian (9) dan Dimitri (7) mengaku, sebagai anak sulung, orang tua sering menjadikannya teladan bagi adik-adiknya. Belakangan dia mengetahui, bahwa adik-adiknya ternyata tidak menyukai hal itu, dan justru akhirnya memilih melakukan yang sebaliknya. “Tiap anak memiliki potensi masing masing, dan tugas orang tua membimbing dan bantu mengembangkannya,” tutur Dhian.

♥ Adil
“Idealnya, memang orang tua harus berlaku adil,” ujar Amelia. Adil bukan berarti harus sama rata untuk tiap anak, melainkan sesuai porsi kebutuhan masing-masing. Menurut Ajeng, mama Lisa (8) dan Shelly (7) Lisa yang perfeksionis dan kritis sering protes kenapa jatah waktu Mama untuk Shelly (misalnya untuk membantu mengerjakan PR) harus lebih banyak dibandingkan dengan jatah waktunya. “Saya berikan pengertian kepadanya, bahwa memang Shelly lebih memerlukan bantuan, karena kebutuhan khususnya. Setelah itu, Lisa bisa mengerti.” Ajeng juga memiliki jadwal me-time berdua, bersama tiap anak. Tidak perlu kegiatan mewah dan canggih, cukup seperti yang sederhana seperti makan es krim berdua dan ngobrol. Yang penting adalah anak merasa mama sepenuhnya milik dia pada waktu yang berharga tersebut. Lain lagi dengan Dhian, yang selalu konsisten memosisikan dirinya di antara kedua anak, manakala mereka sedang bersama-sama, sehingga tidak ada yang merasa dikesampingkan.
Sumber : www.parenting.co.id

TV dan video games adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Apalagi, TV sekarang ini hadir dengan berbagai fitur canggih yang memanjakan mata dan telinga, bahkan terkoneksi dengan internet dan perangkat canggih lainnya. Games pun tak kalah heboh. Beragam console, seperti Wii, Nintendo, XBox, PlayStation (PS), PSP, hingga games yang bisa di-download secara online utk PC dan tablet bertebaran.
Sayangnya, baik TV dan games sering kali --entah sengaja maupun tidak—menampilkan adegan yang tidak mendidik, bahkan berbau kekerasan, yang tak pantas dilihat anak, baik fisik atau verbal. Reality show yang harusnya cuma menghibur, tak lepas dari adegan dan candaan yang tak pantas. Bahkan, nonton berita saja tak aman! Adegan kekerasan ditayangkan secara nyata dan berulang-ulang. TKP bunuh diri dengan bekas-bekas alat bunuh diri pun ditayangkan.

Untuk video games, tayangan kekerasan dan berbau pornografi bertebaran.  Misalnya, games Tomb Raider yang dirilis Mei lalu. Dalam ulasannya, dengan gamblang menyebutkan memiliki unsur kekerasan yang kuat, seperti kesakitan dan kematian sosok Lara bisa menyeramkan, lengkap dengan teriakan yang kuat. Alasan Tomb Raider memerlukan unsur kekerasan, menurut Ian Livingstone sebagai bos perilis games, agar cerita yang ingin disampaikan serta petualangan Lara menjadi penuh perjuangan, dan penderitaannya bisa dirasakan nyata oleh gamers.

Jika pengaruh TV dan games begitu kuat, apakah perangkat TV dan games harus dibuang dari rumah? Tidak perlu seekstrim itu! Di sinilah pengawasan dan kontrol orang tua terhadap kebiasaan anak menonton TV dan bermain games perlu dilakukan. Tak hanya sebagai mandor, orang tua juga siap menjadi pembimbing untuk memilih tayangan yang pas.

1. Buat pembatasan waktu, yakni:- Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh menonton atau main games yang ada di layar, termasuk iPad, tablet, dll. - Usia 2 - 6 tahun: Diperbolehkan sampai 1 jam, tapi dipecah-pecah. Misalnya, 15 - 30 menit menonton atau main, lalu istirahat. Setelah itu, baru main lagi. - Di atas usia itu: Maksimal 3 jam. Sebaiknya, dipecah-pecah sebab anak butuh melakukan hal lain dan beraktivitas fisik.

2. Pembatasan konten. Larang anak menonton tayangan mengandung unsur horor, seksual, dan pornografi. Pilih tayangan dan video games yang bermanfaat dan mendidik bagi anak.

3. Jika anak sudah terlanjur terpapar? Mau tak mau orang tua harus berupaya mengembalikan anak kembali ke track-nya. Secara konsisten (bukan galak ya. Ma...), tegaskan pada anak bahwa perilaku dia tidak benar. Selanjutnya, dampingi secara intensif. Saat menonton, tanyakan: Menurut dia, apakah perilaku itu pantas dilakukan atau tidak? Apa akibatnya? Dan seterusnya. Diskusi semacam ini bisa mendewasakan anak sekaligus mendengar pandangannya, yang kadang-kadang bisa di luar dugaan. Cara ini untuk anak yang usianya lebih besar, ya.

4. Untuk pembatasan menonton TV dan main video games, terutama untuk usia anak yang lebih besar, bisa juga dengan cara menunjukkan hak dan kewajibannya. Misalnya, Ia boleh main games setelah belajar, membuat PR, dan membereskan barang-barangnya untuk sekolah. Jika sudah beres, buat perjanjian hingga jam berapa Ia boleh bermain. Tegas, konsisten, tapi tetap ramah, ya. Aturan pembatasan ini jangan mundur atau batal hanya karena rengekan anak.

5. Kenalkan anak pada aktivitas yang real, seperti berenang, bermain bola, sepeda, bulutangkis, berenang, permainan tradisional (petak umpet, gobak sodor, dll), ballet, dll.


Sumber : www.parenting.co.id

Apakah Anda tahu anak tetangga yang sepertinya tidak pernah sakit? Apakah orangtuanya tahu cara menjaga kesehatan anaknya sementara Anda tidak? Para ahli menyarankan untuk mengikuti enam kebiasaan anak-anak sehat di bawah ini untuk menghindari penyakit.

Menjaga kebersihan tangan

Mencuci tangan secara rutin secara drastis akan mengurangi penyakit yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan pencernaan. Segerakan anak-anak Anda untuk menyikat tangan (atau menggunakan pembersih tangan) ketika mereka meninggalkan tempat penitipan anak, setelah bermain, dan sebelum mereka makan. Ajarkan anak-anak menyanyikan "selama ulang tahun" untuk diri mereka sendiri sehari dua kali sebelum membilas tangan. Mencuci tangan selama 15-20 detik sudah bisa membuat tangannya bersih.

Jadilah anak yang aktif

Studi menunjukkan bahwa olahraga ringan dapat mengurangi risiko terkena penyakit pilek dan flu mencapai angka 25-50 persen per tahun. Mungkin olahraga bisa meningkatkan sirkulasi sel yang melawan infeksi. Olahraga lebih baik daripada obat di iklan atau mukjizat.

Tidur Cukup

Pastikan anak-anak tetap dalam jadwal tidur lebih awal. Kurang tidur bisa meningkatkan risiko terkena pilek dan flu hampir dua kali lipat. Kebanyakan bayi membutuhkan waktu tidur selama 14 jam per hari. Sementara anak-anak prasekolah membutuhkan 11-13 jam tidur.

Hindari Menyentuh wajah

Virus flu masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Pastikan tangan anak Anda tetap jauh dari daerah tersebut. Memang hal itu sulit dilakukan. Mencuci tangan pada saat-saat strategis adalah hal yang paling penting. Ajarkan anak Anda untuk tidak pernah berbagi sedotan, gelas, atau sikat gigi.

Mengonsumsi makanan sehat

Makanan seperti buah dan sayuran berwarna akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak Anda. Carilah makanan yang kaya vitamin C (brokoli, stroberi, dan jeruk) dan vitamin D (tuna, susu, dan sereal). Makan yogurt yang mengandung probiotik juga dapat membantu membangun sistem pertahanan tubuh.

Vaksinasi

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah flu. Jadi apa yang Anda tunggu?

Sumber : parentsindonesia.com

Menonton televisi tidak selamanya buruk bagi anak. Namun sebaiknya dibatasi. Menurut penelitian anak-anak yang menonton televisi setidaknya selama 1,5 jam sehari bisa mengalami kurang tidur dibandingkan anak yang tidak menonton televisi atau menonton televisi kurang dari 1,5 jam sehari.

Menurut penelitian yang dilakukan lebih dari 1.700 anak ini, jam menonton televisi di kalangan anak semakin meningkat. Dan hal ini mulai berdampak pada penurunan waktu tidur mereka.

"Televisi bisa mengubah waktu tidur pada anak-anak," kata pemimpin penelitian Marcella Marinelli yang melakukan penelitian bersama peneliti dari Center for Research in Environmental Epidemiology di Barcelona. Kurangnya waktu tidur bisa menjadi faktor penyebab obesitas dan masalah perilaku seperti ADHD, tambah Marinelli.

Menurut Dr. Adriana Cadilla, dokter anak di Miami Children's Hospital di Florida, menonton televisi juga memengaruhi banyak perilaku pada anak-anak, termasuk kegiatan belajar di sekolah, berat badan, dan perkembangan. Dr. Cadilla menyarankan orang tua tidak menggunakan TV sebagai babysitter untuk membuat anak diam dan teruslah memantau acara yang mereka tonton.

"Ada banyak teori tentang televisi. Salah satunya adalah warna-warna cerah dapat memengaruhi pikiran anak sebelum tidur. Belum lagi ada banyak adegan kekeran, bahkan dalam film kartun. Hal itu tentu dapat mempengaruhi tidur anak," katanya.

Orang tua harus bisa menawarkan alternatif lain selain televisi.  Seperti melibatkan anak-anak dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berbeda seperti kegiatan olahraga atau musik. Atau menghabiskan banyak waktu bersama keluarga.

"Beberapa kartun bertema pendidikan bisa membantu anak-anak meningkatkan kemampuan bahasa mereka dan harus digunakan untuk tujuan pendidikan. Tetapi orang tua harus bersama anak-anak mereka saat menonton dan berkomunikasi dengan mereka selama menonton," kata Marinelli .

Sumber : parentsindonesia.com


Bermain internet bisa menjadi satu kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Tapi Anda juga harus waspada. Jika Anda menemukan minimal satu perilaku anak di bawah ini terjadi pada anak, Anda perlu waspada dan mengajak dia berdiskusi. Karena bisa saja, anak sedang mengobrol dengan orang asing di chat room atau mengunduh konten kategori berbahaya.

Inilah perilaku di depan komputer yang harus Anda curigai.
  • Online larut malam.
  • Menggunakan internet dengan durasi panjang secara konstan.
  • Menutup aplikasi komputer ketika Anda atau orang lain melintas di dekat layar monitor.
  • Mengunduh program dengan ekstensi .jpg, .gif, .bmp, .tif, .pcx, .png, .psd, yang mengindikasikan gambar atau foto.
  • Kerap mendapat telepon atau email dari orang asing.
Risiko yang Bisa Timbul dari Internet

Mungkin pornografi adalah hal yang paling Anda khawatirkan dari pemberian akses internet kepada anak. Selain itu, ternyata masih ada beberapa hal yang perlu Anda waspadai.
  • Anak bisa terpapar berbagai konten yang tidak layak (pornografi, materi SARA, hasutan berbuat negatif, iklan merokok atau meminum minuman beralkohol, bahkan cara membuat materi berbahaya seperti racun dan bahan peledak). Konten berbahaya dan tidak pantas dikonsumsi anak bisa datang dari manapun melalui Internet. Melalui email atau pesan instan, pop-up yang tiba-tiba muncul di layar monitor, chatroom, atau advertorial berbagai situs.
  • Eksploitasi atas anak dalam berbagai bentuk, dari penipuan hingga pelecehan seksual.
  • Dengan semakin mudah dan semakin banyaknya konten musik dan game yang bisa diunduh, maka semakin tinggi pula risiko terkena serangan virus.
  • Tanpa disadari, beberapa aktivitas download berbagai materi dari Internet merupakan pencurian hak atas kekayaan intelektual (hak cipta).

Ramadhan menjadi momentum yang pas untuk mengajarkan anak bersedekah. Orang tua dapat menjelaskan keutamaan bersedekah. Sehingga meningkatkan rasa empati dalam diri anak.

Lalu apa sajakah manfaat bersedekah yang luar biasa untuk hidup kita? seperti dilansir dari ummi-online.com :

1. Menyembuhkan penyakit

Benarkah sedekah dapat menyembuhkan diri kita dari penyakit?

Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah!” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Ada sebuah kisah dalam Shahih At Targhib, Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat, ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh.”

Cobalah bersedekah dengan niat minta disembuhkan dari penyakit, sesungguhnya Allah Maha Pemberi Kesembuhan.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan Prof. David M Clelland, ditemukan hasil bahwa dengan melakukan sesuatu yang positif untuk orang lain seperti bersedekah akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menyebabkan tubuh lebih kuat menghadapi penyakit. Maka, perbanyaklah bersedekah untuk menyehatkan diri kita!

2. Memberi rasa bahagia

Siapa yang lebih bahagia? Orang yang menerima sedekah, atau justru yang memberi sedekah?

Yap, tentu saja orang yang memberi sedekah akan lebih berbahagia. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian.

Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Public Health pada 2013, ditemukan bahwa orang yang membantu orang lain dapat lebih terlindungi dari dampak negatif stres.

Selain itu, dalam bukunya, Allan Luks mengatakan bahwa dengan menolong orang lain akan meringankan rasa sakit kita sendiri, mengurangi stres, dan memberi rasa bahagia.

Dengan memberikan bantuan secara sukarela akan meningkatkan produksi hormon endorfin, hal itu baik untuk kesehatan jiwa kita. Penelitian yang dilakukan Allan Luks ini melibatkan 3000 sukarelawan, dan 90%-nya merasakan betul manfaat berbagi dengan orang lain.

3. Memperpanjang usia dan meringankan sakaratul maut

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

4. Mendekatkan pada terkabulnya hajat

“Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari kecepatan gerakan sedekahnya.” (Hadist Qudsi)

5. Menolak bencana

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan: “Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim atau bahkan orang kafir, karena Allah SWT akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantara sedekah tersebut…”

Hadits lainnya, "Bersegeralah bersedekah! Sebab, musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.”

6. Menambah rezeki

Rasulullah SAW pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah r.a., Nabi SAW pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

7. Mendapat naungan di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dari Uqbah bin Amir ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Setiap individu berada dalam naungan sedekahnya sampai dia diadili di antara manusia."

Nabi pernah menyebutkan bahwa tujuh hal yang akan menjadi payung yang menaungi pada hari kiamat antara lain seseorang yang bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya. (HR. Bukhari Muslim)

“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484)

Demikian banyak manfaat sedekah untuk hidup kita, semoga kita dipermudah untuk mengeluarkan sedekah.

Anak terbiasa dengan pola makan sehari-hari, bahkan ngemil di waktu-waktu tertentu. Itulah sebabnya belajar berpuasa akan mengubah kebiasaan mereka. Tak hanya perubahan perilaku, ibadah puasa juga membutuhkan perubahan kesadaran pada anak. Biasanya anak masih terarah pada pemuasan kesenangan. Namun saat belajar berpuasa, anak belajar menahan diri. Itulah sebabnya melatih anak berpuasa perlu memperhatikan kesiapan fisik maupun psikologis mereka.

Apa yang perlu Ayah Ibu perhatikan saat melatih anak berpuasa untuk pertama kalinya? Sebaiknya kita lebih fokus pada kesiapan anak, ketimbang menuntut hasil yang harus diraihnya selama belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Nah, berikut ini adalah 6 tips yang dilansir dari temantakita.com dapat dimanfaatkan Ayah Ibu dalam melatih anak berpuasa.

1. Bercerita Makna Puasa

Melatih anak berpuasa dapat diawali dengan bercerita kepada mereka tentang makna puasa itu sendiri. Ayah Ibu dapat mengemasnya dalam berbagai cerita yang menarik, termasuk pengalaman Ayah Ibu berpuasa saat masih kecil.

2. Jelaskan Pengertian Puasa

Anak bisa menerima perubahan apabila ia siap menghadapi perubahan tersebut, termasuk saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, Ayah Ibu perlu menjelaskan pengertian puasa dan mengingatkan pada anak beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai. Gunakan kata-kata sederhana pada anak yang baru pertama kali belajar berpuasa, seperti tidak makan dan tidak minum setelah sahur sampai waktu berbuka. Ceritakan juga apa saja yang Ayah Ibu lakukan di rumah saat berpuasa, agar anak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Ekspresikan ibadah puasa dengan positif dan menyenangkan, sehingga anak tertarik melakukannya juga.

3. Tawarkan Anak untuk Belajar Berpuasa

Saat makna dan pengertian puasa telah disampaikan kepada anak, Ayah Ibu dapat menawarkan anak berpuasa untuk pertama kalinya. Tidak dengan memerintah, namun tawarkan sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan. Mengajak anak dengan cara yang menyenangkan itu seperti saat mengajak anak bermain. Mengajak anak dengan cara yang membanggakan itu seperti menantangnya melakukan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Pesannya tetap sama, mengajak anak belajar berpuasa.

4. Ciptakan Suasana Berpuasa yang Menyenangkan

Selain kesadaran diri, anak juga akan melihat bagaimana orangtuanya menjalani ibadah puasa. Menciptakan suasana berpuasa yang menyenangkan dapat membuat anak mau terlibat. Ayah Ibu dapat memulainya dengan sahur yang menyenangkan, dengan persiapan dan waktu yang tidak terburu-buru. Lakukan sahur dengan gembira dan penuh syukur agar anak pun menikmati sahur, dan tidak melihat orangtuanya lesu. Selama seharian berpuasa, tunjukkan pada anak bahwa Ayah Ibu pun dapat melakukan berbagai kegiatan dengan semangat meskipun tidak makan dan tidak minum.

5. Menyiapkan Makanan yang Tepat

Makanan yang tepat untuk anak yang belajar berpuasa itu sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Siapkan makanan kesukaan anak yang sekaligus bisa memenuhi kebutuhan energinya, dan jika memungkinkan, sajikan di piring favorit anak agar anak semangat makan saat sahur dan buka puasa.

6. Apresiasi Tiap Capaian Anak

Saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya, ia mungkin tak langsung berhasil berpuasa sehari penuh. Anak mungkin hanya bisa bertahan sampai pukul 9 pagi, 12 siang, atau 3 sore. Apapun capaian anak, beri apresiasi bahwa anak telah berusaha, dari belum pernah berpuasa menjadi berpuasa selama beberapa jam. Saat anak berhasil berpuasa lebih lama di hari berikutnya, apresiasi kemajuannya. Apresiasi adalah upaya menumbuhkan perilaku positif anak, termasuk saat anak belajar berpuasa. Gunakan kata-kata positif yang mengacu pada perilaku spesifik. Jangan menjanjikan hadiah pada anak. Pemberian hadiah hanya akan membuat kenikmatan berpuasa berpindah menjadi kenikmatan mendapat hadiah.

Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi kaum muslim yang sudah baliq. Tidaklah mudah menjalankan puasa untuk pertama kali, apalagi untuk anak-anak. Untuk itu ada baiknya jika kita dapat mengajarkan puasa pada anak sejak dini. Berikut beberapa tips mendidik anak untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
  1. Ajaklah anak-anak kita sahur bareng bersama keluarga, ini untuk membiasakan diri agar mereka dapat memahami waktu sahur. Pastikan untuk selalu melakukan sahur agar mendapatkan sumber energi.
  2. Menu makanan sahur dibuat sesuai dengan kesukaan anak, tentunya dengan mengutamakan kandungan gizi, karbohidrat dan nutrisi yang cukup. Ini untuk merangsang anak agar mau makan sahur.
  3. Buat suasana saat sahur menyenangkan buat anak karena pada saat ini anak masih terasa sangat mengantuk.
  4. Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung lemak untuk membantu menghindari rasa lapar dan serat untuk memperlancar buang air besar.
  5. Berikan minuman yang mengandung gula seperti teh manis, susu, atau jus buah. Karena gula mudah larut dan diserap oleh tubuh sehingga dapat dengan cepat digunakan sebagai sumber energi.
  6. Tidak memberikan vitamin penambah nafsu makan saat sahur karena dapat membuat anak cepat lapar.
  7. Di siang hari jika anak kita merasa lapar dan tidak bisa menahan lapar, biarkan mereka makan lalu dilanjutkan puasanya sampai waktu berbuka.
  8. Berikan motivasi dan penghargaan kepada anak-anak jika mereka berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa tambahan uang saku tapi bisa juga dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka.
  9. Saat berbuka puasa, mulailah dengan memakan atau minum yang manis seperti buat kurma atau teh manis. Dianjurkan untuk minum yang hangat tidak dingin (es).
  10. Makan saat berbuka jangan sampai kekenyangan karena akan membuat perut sakit sehingga anak menjadi trauma. Makanlah secara bertahap. Misalnya setelah sholat magrib lalu dilanjutkan setelah sholat isya.

Sumber : kambingaqiqah.com

Bisa jadi, Anda merasa bingung ketika anak 6 tahun Anda bilang kalau dia bosan. “Banyak sekali yang harus dilakukan,” begitu alasannya. Seorang mama sampai melihat anaknya menghibur dirinya dengan berpura-pura menjadikan tongkat golf sebagai roket. “Ya, kedengarannya mustahil anak usia ini benar-benar merasakan bosan,” kata

Susan Zuckerman, Ph.D., psikolog anak di White Plains, New York. "Masih banyak hal yang menarik di dunia ini untuk dieksplorasi dan benar-benar baru untuk si kecil.” Nyatanya, ketika anak mengatakan bahwa dirinya bosan, bisa jadi ia bahkan tidak tahu arti bosan itu sendiri. Yang ia tahu bahwa frase ini – yang dipelajarinya dari orang dewasa dan TV – menyatakan rasa tidak puas terhadap sesuatu. “Anak menggunakannya sebagai ekspresi kalau ada sesuatu yang mengganggunya,” kata Zuckerman. Jadi, apa yang sebenarnya ingin dikatakan anak? Berikut ini beberapa kemungkinan:

"Project ini terlalu susah.”
Kebanyakan anak tidak mau (atau benci) mengakui ketika ia sedang berusaha menyelesaikan suatu project. Ketimbang mengakui kalau bingung dengan soal matematika, misalnya, ia memilih bilang, “Aku bosan,” dan mendorong bukunya. “Hal ini akan melindungi egonya sekaligus membuatnya terlepas dari sesuatu yang tidak menyenangkan,” kata Zuckerman.

"Aku sendirian."

Bisa jadi, anak mengatakan, “Aku bosan” ketika ingin Anda bermain dengannya. “Kata-kata tersebut sebenarnya berarti ‘Aku mau cinta dan perhatian Mama,” kata Laurie Segal, pakar perkembangan anak usia dini di Great Neck, New York. Apakah si kecil mau Anda menutup telepon, mengajaknya jalan-jalan, atau Anda bertanya apa yang dilakukannya pada hari itu, ia mungkin tidak akan mengatakannya secara langsung karena ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan apa yang disukainya dan bagaimana caranya mengatakannya pada Anda.

"Aku kecapekan."

Orang dewasa tahu bila tiba waktunya untuk berhenti melakukan sesuatu dan pergi ke kamar untuk membaca buku, misalnya. Tidak demikian halnya dengan anak-anak. Jadi, apa yang dibutuhkannya diekspresikannya dalam bentuk mengatakan bahwa dirinya bosan.

"Aku sedih" or "Aku marah."

Anak tidak selalu bisa memahami apa yang dirasakan, terutama merasa sedih atau marah. Dan, rasa tidak nyaman ini diekspresikannya sebagai “Aku bosan.”

Untuk memahami apa yang sebenarnya anak sedang rasakan, amati saja bahasa tubuhnya: Apakah dia murung atau termenung? Bisa jadi, ini berarti ada masalah yang cukup berat. Apakah ia mengeryitkan dahi dengan kedua tangan terlipat? Ya, tebakan Anda benar. Ia sedang marah. Atau, bertanyalah padanya apa yang dimaksudkannya. Jika ia tidak memberi jawaban yang jelas, berikan beberapa pertanyaan: “Apakah ada sesuatu di sekolah yang membuat kamu frustrasi? Apakah kamu ingin istirahat dulu?” Begitu menemukan faktor penyebabnya, Anda bisa membantunya mengatasi masalah yang dihadapi.
Sumber : parenting.co.id

Beberapa hari lagi Ramadhan akan tiba. Sejak dini, kita harus mengenalkan puasa dan manfaatnya. Dengan kesabaran, kita melatih anak untuk menahan lapar dan haus.

Berikut ini ada beberapa cara mendidik atau melatih anak belajar puasa di bulan Ramadhan sejak dini seperti dikutip dari hikmahkebersamaan.blogspot.co.id :
  • Sosialisasikan kepada anak tentang manfaat dan pentingnya berpuasa secara perlahan dan singkat sehingga anak bisa memahami apa itu puasa dan manfaatnya.
  • Mulai mengajak anak anda sahur berbarengan bersama keluarga, cara ini  dilakukan supaya  membiasakan diri agar mereka dapat memahami waktu sahur dan pastikan untuk selalu melakukan sahur agar mendapatkan sumber energi sehingga nantinya daya tahan tubuh akan kuat
  • Membuat menu makanan sahur sesuai dengan kesukaan anak anda, dan tentunya dengan mengutamakan kandungan gizi, karbohidrat dan nutrisi yang cukup. cara ini dilakukan untuk merangsang anak agar mau makan sahur.
  •  Membuat suasana atau momen sahur menyenangkan buat anak karena pada saat ini anak masih terasa sangat mengantuk.Apabila tidak dilakukan demikian anak akan cepat bosan dan memilih untuk tidur kembali
  • Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung lemak untuk membantu menghindari rasa lapar dan serat untuk memperlancar buang air besar. Hal ini supaya anak tetap bugar sehat sehingga dapat melaksanakan ibdah puasa
  • Beri minuman yang mengandung gula seperti teh manis, susu, atau jus buah. Karena gula mudah larut dan diserap oleh tubuh sehingga dapat dengan cepat digunakan sebagai sumber energi kepada anak anda.
  • Jangan  memberikan vitamin penambah nafsu makan saat sahur karena hal ini dapat membuat anak cepat lapar dan nantinyya memilih untuk berbuka sebelum waktunya tiba.
  • Apabila siang hari anak merasa lapar dan tidak bisa menahan lapar, Biarkan mereka makan lalu dilanjutkan puasanya sampai waktu berbuka.
  • Berikan motivasi dan penghargaan kepada anak-anak jika mereka berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa tambahan uang saku tapi bisa juga dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka.
  • Biarkan anak beraktifitas atau main seperti biasa dan usahakan jangan terlalu capek dan juga hindari dari kebanyakan tidur karena akan membuat fisik anak lesu.
  • Saat berbuka puasa, mulailah dengan memakan atau minum yang manis seperti buat kurma atau teh manis. Dianjurkan untuk minum yang hangat tidak dingin atau air es
  • Apabila saat berbuka jangan sampai kekenyangan karena hal ini akan membuat perut sakit sehingga anak menjadi trauma.
  • Makanlah secara bertahap. Misalnya setelah sholat magrib lalu dilanjutkan setelah sholat isya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya”.

Karena ilmu itu lebih didahulukan dari perkataan dan perbuatan.Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah.

Dengan menimba ilmu, Allah akan mempermudah jalan menuju syurga.  “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).


Berikut tahap perkembangan moral pada anak yang perlu Anda ketahui:

1. Bayi

Seorang bayi belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan moralnya. Yang ia miliki hanyalah rasa benar dan salah terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri. Contohnya: Bagi bayi, rasa lapar itu adalah salah, sehingga ia menangis saat lapar.

2. Batita

Menginjak satu tahun, anak belum memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu sebagai benar atau salah. Patokan baginya hanyalah apa yang mama dan papa katakan padanya.

3. Prasekolah (3 - 7 tahun)

Inilah saat di mana anak mulai memasukkan nilai-nilai keluarga ke dalam dirinya. Apa yang penting bagi mama dan papa juga akan menjadi penting baginya. Di sinilah Anda mulai dapat mengarahkan perilakunya, sehingga sesuai dengan aturan dalam keluarga. Dalam tahap inilah seorang anak mulai memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan memengaruhi orang lain.

4. Usia sekolah (7 - 10 tahun)

Otoritas orang dewasa (mama, papa, guru, dsb) tidak lagi terlalu ‘menakutkan’ buat anak usia sekolah. Mereka tetap tahu bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati, tetapi mereka juga tahu bahwa jika melanggar aturan, maka mereka harus memperbaikinya.

Perasaan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’ sudah mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Dan, satu lagi seperti yang telah dikatakan Nessi di atas, anak usia sekolah ini juga mulai memilah mana saja perilaku yang akan mendatangkan ‘keuntungan’ buat mereka.

5. Praremaja dan remaja

Di usia ini, anak akan berusaha untuk menjadi populer. Tekanan teman sebaya dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya akan membuat mereka terus memilah mana nilai-nilai akan menjadi bagian dari diri mereka.

Praremaja dan remaja mungkin akan terombang-ambing dan mencoba nilai yang berbeda dengan nilai keluarga untuk melihat mana yang cocok. Bisa jadi, nilai keluarga yang telah dianutnya sejak lama justru dibuang karena ‘kalah’ dengan nilai baru yang dikenalnya di luar.
Sumber : parenting.co.id

Orangtua harus mengajarkan pelajaran hidup kepada anak. Pelajaran hidup ini merupakan pengalaman pribadi yang pernah dialami orangtua. Jika Anda ingin mengajarkan tentang kehidupan, Anda harus mulai sejak mereka anak-anak. Inilah beberapa pelajaran hidup yang penting diajarkan kepada anak.

Menghormati orang lebih tua. Ini adalah salah satu pelajar paling penting dalam hidup. Mengajar anak-anak untuk menghormati orang lebih tua akan membuat mereka berperilaku baik. Perilaku anak Anda akan mencerminkan apa yang telah Anda ajarkan kepada mereka.

Kejujuran. Anda mungkin telah mendengar "Kejujuran adalah kebijakan terbaik". Jika Anda tidak mengajari kejujuran masa depan anak bisa tidak baik. Sifat jujur akan tertanam pada anak sampai mereka dewasa.

Kegagalan adalah bagian dari hidup. Anak-anak harus diajarkan bahwa mereka pasti akan merasakan kegagalan pada beberapa titik kehidupan. Tapi banyak orang tua justru resah jika anak mereka mengalami kegagalan. Baik itu dalam hal pendidikan, olahraga atau kegiatan lain. Buatlah anak Anda bisa menerima kegagalan yang merupakan bagian dari kehidupan. Kegagalan adalah kunci keberhasilan, demikian kata-orang-orang yang sudah sukses. Jadikan kegagalan sebagai motivasi anak untuk bekerja lebih keras dan supaya mental lebih kuat.

Empati. Anak harus diajarkan untuk tidak berpikir tentang diri mereka sendiri, tetapi juga memikiran orang lain. Jangan lupa menekankan kalimat seperti ini:  Jika kamu egois, kamu akan sendirian dan tidak akan mendapatkan bantuan dari orang lain. Pelajaran empati ini akan membuat mereka menjadi orang yang dermawan sampai mereka dewasa.

Berbagi adalah Peduli. Anak-anak harus diajarkan untuk selalu menawarkan makanan, mainan dan lain-lain kepada siapapun yang ada di sekitar mereka. Hal ini akan membuat mereka sebagai individu sosial yang aktif karena mereka telah memelajari cara berbaur dengan orang lain.

Kerja Keras. Kemalasan saat kecil membuat anak menjadi pemalas saat dewasa. Anak tidak boleh dimanjakan untuk semua hal. Buat mereka lebih bertanggung jawab pada hal-hal yang mereka lakukan dalam hidup. Memanjakan baik untuk beberapa hal. Tapi memanjakan berlebihan hanya akan membuat mereka malas.

Sopan di tempat umum. Anak harus diajarkan untuk berperilaku baik di depan umum dan menahan diri dari berteriak dan membuat tindakan yang tidak perlu. Jika anak bisa berperilaku baik di tempat umum Ini akan membuktikan bahwa mereka telah dilatih dengan baik dari orangtua.

Sebagian siswa berpendapat sekolah merupakan hal yang menyeramkan terutama saat bertemu dengan guru killer maupun pelajaran yang susah.

Inilah tantangan terbesar guru yaitu menciptakan sekolah merupakan tempat belajar yang menyenangkan. Dengan menciptakan suasana  belajar yang menyenangkan maka akan melahirkan semangat belajar dari para siswa dan pastinya akan menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih baik

Seperti yang telah dijelaskan pula dari Quantum Learning sendiri bahwa belajar itu haruslah mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira  sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekam dengan baik. Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati. Ini diperoleh melalui perlakuan guru dan orang tua melalui dorongan dan motivasi mereka. Sebenarnya yang diperlukan oleh siswa dalam belajar adalah rasa percaya diri.

Guru pun tidak perlu menjadi killer agar siswa mau mengerjakan PR, tidak ribut dan lainnya. Keberhasilan guru adalah membuat siswa merasa pelajaran sulit menjadi mudah, bukan momok yang menakutkan.


Anak yang tidak memiliki rasa percaya diri akan mengalami berbagai macam kesulitan dan hambatan dalam proses interaksi sosialnya. Sifat pemalu pada anak akan menghambat mereka untuk bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, anak yang tidak percaya diri akan memiliki rasa takut ketika harus berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga. 

Tips meningkatkan anak untuk percaya diri :

Pujian. Semakin sering memuji anak, semakin ia menjadi percaya diri. Hindari untuk terlalu sering menunjukkan keburukannya dan perbanyak memuji perilaku baiknya. Alihkan sikap kritis Anda kea rah yang lebih baik-selalu katakana padanya, bahwa Anda yakin dia pasti bisa.

Penerimaan. Berusaha menerima anak Anda apa adanya dan selalu menyampaikan kata-kata yang mendorongnya untuk maju. Melihat anak lain tampil lebih “bersinar” daripada anak Anda sendiri kadang-kadang bisa membuat Anda jadi cenderung ingin menuntut anak Anda lebih banyak. Padahal, tekanan yang terlalu besar malah akan membuat anak Anda frustasi.

Pemahaman. Tempatkan diri Anda pada posisi anak, Anda pun dulu juga pernah seusia dia, dan ingat kembali hal-hal yang bisa membuat Anda menjadi kurang percaya diri, ingat kembali perasaan apa yang bisa membuat Anda bisa demikian. Lalu, terapkan pada balita.

Positif. Segala hal yang positif akan membawa hasil yang positif pula. Jika Anda memberi perhatian lewat senyuman tulus, selalu menatap matanya dengan semangat, dan menunjukkan rasa tertarik akan apa yang ia lakukan itu membuatnya merasa aman dan nyaman, sehingga dengan sendirinya bisa berkreasi tanpa hambatan emosional apa pun. 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget