Latest Post

 
Ada anak kisaran umur 10 tahun selalu menjadikan apa pun menjadi suatu lomba. Bukan hanya game, namun juga pekerjaan rumah tangga dan PR. Mengapa?

Sementara anak yang lebih kecil masih menguji kemampuannya, si praremaja lebih menyadari keterampilan yang dimiliki orang lain dan juga kesuksesan yang diraihnya. Jadi, mereka akan lebih memperhatikan bagaimana caranya mereka bisa memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan untuk mencapai semua itu, kata Audrey Nathan, clinical family social worker di Wellesley, Massachusetts, Amerika.

Nah, anak-anak usia ini juga memiliki lebih banyak pengalaman dengan perasaan saat menang sesuatu. Akibatnya? Mereka serius mengikuti berbagai lomba, atau menciptakan lomba sendiri dari berbagai hal yang ada di sekitarnya, seperti menaruh piring dalam lemari.

Sedikit kompetisi memang menyehatkan: Hal ini bisa menantang anak untuk mencoba sesuatu yang baru, lalu membuatnya mengerahkan berbagai kemampuan yang dimilikinya. Namun, bila anak selalu berambisi untuk memenangkan semua lomba, dan merasa sangat terpukul jika seseorang lebih baik dari dirinya, ini petunjuk ia sebenarnya merasa tidak aman.

Ia juga melupakan sisi fun di balik mengikuti suatu lomba dan pentingnya menjalani proses tersebut, karena terlalu fokus pada memenangkan semua lomba. Biasanya, hal ini dilakukannya semata-mata untuk menyenangkan orang tua atau untuk menyombongkan diri. Jadi, ketimbang mendorong dia untuk mendominasi sekolah atau lapangan, doronglah dia untuk melakukan yang terbaik, sesuai kemampuannya. 


Sebuah studi di Australia menemukan bahwa 1 dari 16 anak usia pra-sekolah mempunyai masalah penglihatan. Masalah yang paling umum adalah astigmatisma (mata silindris), rabun jauh, dan amblyopia atau ‘mata malas’.

Hasil penelitian tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini dan tindakan untuk mengoreksi masalah penglihatan sedini mungkin agar saat masuk sekolah anak memiliki sepasang mata sehat, demikian saran para peneliti yang dimuat dalam jurnal Ophthalmology.

 “Pada usia dini, masalah penglihatan yang ringan masih mudah diperbaiki, misalnya dengan penggunaan kacamata. Tapi jika masalah dibiarkan, bisa jadi sudah tidak bisa diperbaiki saat anak lebih besar. Apalagi jika masalah penglihatan cukup berat, kemungkinan besar justru akan bertambah parah,” ujar Dr.Rohit Varma, salah satu peneliti dari University of Southern California, AS.

Anak mengalami masalah penglihatan karena berbagai sebab, “Beberapa di antaranya merupakan faktor genetik, dan kemungkinan dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan,” ujar Dr. Michael Repka dari Wilmer Eye Institute Johns Hopkins., Baltime, Maryland, AS.


Banyak kesalahpahaman bisa diperbaiki, karena kesediaan meminta maaf. Ketika Putra (7) secara tak sengaja menabrak petugas kebersihan di sekolahnya, wanita itu tersenyum dan tak jadi marah, karena Putra langsung meminta maaf.

Orangtua mengajari anak mengatakan “maaf”, karena ingin anak belajar bersikap sopan, menunjukkan sikap menghargai orang lain, serta memperlihatkan sikap bertanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan. Minta maaf menunjukkan kesediaan anak mengoreksi dan memperbaiki diri.

Namun, semudah itukah mengajarkan anak meminta maaf? Berikut tipsnya:

- Maaf bukanlah sekadar kata-kata. Ajari anak mengatakan maaf, bila ia memang setulusnya ingin minta maaf.. Maaf berarti lebih daripada sekadar kalimat “Maafkan saya…” Ketika anak Anda berebut mainan dengan temannya sampai si teman menangis, lalu Anda ‘memaksa’nya minta maaf, benarkah ia akan minta maaf dengan sungguh-sungguh? Anda sekadar merasakan tekanan sosial dan merasa malu atau tak nyaman dengan apa yang dilakukan anak Anda, sehingga memaksa anak Anda minta maaf.

Bila demikian, sebetulnya Anda justru mengajari anak untuk bersikap tidak tulus alias ‘berbohong’. Alih-alih memaksanya, berlututlah di sisinya dan katakan, “Lihatlah betapa sedih temanmu, karena kamu telah mengambil mainannya. Lihat betapa keras tangisnya. Apa kamu mau bilang maaf padanya? Kamu bahkan bisa meminjamkan mainanmu sebagai gantinya.” Jika Anda melakukan hal ini, kalau akhirnya ia jadi minta maaf, itu artinya ia memang benar-benar ingin minta maaf.

- Menunjukkan penyesalan dengan cara lain. Bantu anak menemukan cara lain meminta maaf selain dengan kata “maaf”. Kadang-kadang, anak sebetulnya menyesal, namun merasa ‘gengsi’ untuk minta maaf atau mengalami kesulitan mengutarakan penyesalannya. Tak perlu memaksanya minta maaf, tapi tawarkan cara lain untuk memperbaiki keadaan. Misalnya, “Lihat kakakmu. Ia marah, karena kamu membuat kamarnya berantakan. Mengapa kamu tak membantunya membereskan kamar,
dan setelah itu menemaninya membaca salah satu buku favoritnya?”

Minta maaf memang membutuhkan keberanian. Jadi, anak pun membutuhkan dorongan dari Anda agar mampu melakukannya dengan setulus hati. Tentu saja, tujuan akhirnya adalah mengasah kepekaan anak, agar ia bisa menjaga sikap sehingga tak sampai harus minta maaf karena telah melakukan suatu kesalahan.


Ratusan teori mungkin sudah Anda baca, walau hanya beberapa saja yang berhasil Anda terapkan.

Nah, tip kali ini datang dari ahli nutrisi, Annabel Karmel, yang juga telah menerbitkan beberapa buku tentang anak dan makanan. Berikut sarannya tentang cara yang bisa dilakukan untuk mendorong anak makan sayuran:

1. Daripada membeli makanan cepat saji, cobalah membuat makanan cepat saji versi sehat sendiri. Gunakan kualitas bahan makanan yang baik, segar, dan alami. Misalnya, nugget ayam dicampur bayam, bakso ikan tuna dicampur wortel, dsb.

2. Ceritakan pada anak fakta-fakta menarik dan manfaat dari sayur dan buah yang Anda sajikan. Jangan sekadar memaksanya mengonsumsinya, tapi ceritakan bahwa wortel yang segar dan berwarna orange akan membuat matanya cemerlang dan terhindar memakai kacamata sampai tua. Anak pasti lebih tertarik untuk mencobanya.

3. Ketertarikan anak pada makanan bukan hanya dari rasanya yang lezat, tapi juga penampilannya yang menarik. Buatlah versi mini dari makanan biasa – bisa juga bentuk lucu yang disukainya - agar anak lebih berselera.

4. Anak-anak suka membuat makanannya sendiri. Jadi, cobalah bereksperimen membuat resep makanan bersamanya.

5. Sekali-kali, libatkan anak saat Anda memasak. Minta bantuannya untuk melakukan hal-hal mudah seperti mengocok telur atau memeras jeruk. Anak-anak akan lebih terstimulisasi untuk makan ketika ikut andil dalam proses pembuatannya

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget