Latest Post

Peralatan makanan dan minuman yang higienis atau BPA Free adalah pilihan utama bagi orang tua sebelum membelinya agar anak-anak mereka tidak mengalami kejadian-kejadian yang tidak di inginkan, seperti keracunan yang disebabkan bahan-bahan yang terkandung dalam peralatan tersebut. Padahal sebenarnya, cara mengenali mana peralatan makan dan minuman yang sehat itu sangat mudah.

Tips Aman Memilih Peralatan Makan untuk Anak
Kekhawatiran para orang tua akan kandungan BPA atau Bisphenol A dalam peralatan makan, minum dan botol plastik membuat mereka harus mencari alternatif yang aman. Ada beberapa ciri yang dapat mudah dikenali oleh Anda untuk mengetahui peralatan yang akan Anda beli mengandung BPA atau tidak. Berikut ciri-cirinya:
 Lihatlah bagian bawah gelas, piring plastik, botol plastik atau mangkok.
Akan ada segitiga yang berbentuk dengan panah yang berisi nomor. Nomor yang ada pada bagian ini adalah kode tujuan daur ulang untuk memberitahukan kepada Anda jenis plastik tersebut. Jika menunjukan angka 7 atau tanda huruf “PC”, maka peralatan tersebut mengandung BPA.
Pilihlah warna dari perlengkapan makan plastik yang tidak berwarna terang atau pudar.
BPA digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih keras dan bening / berwarna terang. Plastik yang terlihat pudar dan tidak bening berarti sudah terbebas dari BPA dan aman digunakan untuk keperluan peralatan makan dan minum sehari-hari untuk si anak.

Jadikan peralatan makan dan minum berdasar bahan melamin.
Melamin adalah jenis plastik yang berbeda dengan plastik yang lain dan merupakan sebuah alternatif yang sangat aman dengan jenis plastik lainnya. Melamin terbuat dari bahan-bahan daur ulang dan dapat kembali digunakan sebagai bahan daur ulang. Namun, yang terpenting adalah melamin tidak membuat BPA bocor dan larut ke dalam minuman atau makanan.
Sumber : tonfeb.com

Bagaimana caranya memotivasi anak agar mau belajar dan disiplin selaras dengan keinginan orang tua tanpa kekerasan? Berikut beberapa caranya Untuk memotivasi disiplin:

1. Buat aturan yang jelas. Tanpa aturan, anak akan bingung dan tidak fair juga jika Anda menyalahkannnya. Aturan juga memudahkan Anda untuk memperingatkan anak bila melakukan kesalahan.

2. Aturan harus realistis. Aturan ini jangan mengada-ada, menyulitkan anak,dan mengabaikan haknya sebagai anak. Misalnya, tiap hari anak harus belajar meski waktu liburan sekolah. Atau, anak masih usia 3 tahun, tapi sudah harus bisa membereskan pakaian sendiri. Tentu saja, dia akan kesulitan. Ada baiknya, jika aturan ini dibicarakan bersama anak. Beri alasan mengapa aturan itu dibuat. Misalnya, ia wajib membereskan buku-buku dan baju sekolah di malam hari agar tidak ada buku atau alat tulis yang tertinggal dan bisa berangkat sekolah on time.

3. Aturan harus konsisten diterapkan. Jangan angin-anginan sesuai suasana hati orang tua. Misalnya, karena kebetulan ada acara TV bagus pada waktu jam belajar anak, Anda membiarkan TV dihidupkan. Anak menangkap bahwa aturan bisa dibelokkan.

4. Ada konsekuensi jika melanggar. anak boleh ikut menentukan konsekuensi jika melanggar disiplin. Orang tua harus mengingatkan dan menjalankan tegas konsekuensi ini. Namun, buatlah konsekuensi biasanya hukuman yang adil, logis, dan bisa memberi efek jera, bukan menyiksa anak. Hukuman juga jangan mempermalukan atau merendahkan dirinya. Saat hukuman usai, tak perlu memaksa anak untuk minta maaf atau menceramahinya. Dorong dia untuk berperilaku sesuai aturan.

5. Beri contoh terbaik. Anak wajib membereskan kamar tidurnya, tetapi Anda mengandalkan ART untuk membereskan ruang tidur Anda. Ya, Anda tidak memberi contoh namanya. Buat diri Anda dan pasangan disiplin terlebih dulu sebelum mendisiplinkan anak Anda.
Sumber : Parenting.co.id


Terkadang orang tua sengaja atau tidak sengaja menjadi pem-bully atau perundung bagi anaknya. Bully, yang biasanya berupa ancaman, intimidasi bahkan kekerasan, orang tua lakukan untuk mengontrol anak agar mengikuti kemauannya. Persoalan akademik atau pendidikan memang sering mendorong orang tua di Asia bersikap keras terhadap anaknya. “Penyebabnya, karena patokan di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, umumnya memang pada nilai akademik.

Nilai yang bagus, apalagi dari sekolah terbaik, dipercaya bisa mengantarkan anak memasuki dunia pekerjaan yang terbaik dan sukses. Inilah yang membuat para orang tua Asia terlihat lebih keras daripada para orang tua dari belahan barat,” kata Rosdiana Setyaningrum Tarigan M.Psi, MHPEd, psikolog anak dari Rumah Sakit Pluit. Akibatnya, tekanan orang tua agar anak bisa berprestasi dalam belajar pun tinggi. Satu sisi, tuntutan ini memacu anak berprestasi. Tapi, di sisi lain, menurut Rosdiana, akan membuat anak stres dan depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya. Di Jepang, misalnya, sudah sering terdengar anak-anak memilih bunuh diri karena gagal dalam urusan studi.

Selain Jepang, Korea selatan dan Cina juga akhir-akhir ini disorot. Data di Kementerian Pendidikan di negara Kpop itu menunjukkan, sepanjang tahun 2009 – tahun 2014, ada 878 kasus siswa bunuh diri. Pada tahun 2014, angkanya bahkan mencapai 118 anak! Jadi, Korea Selatan tercatat memiliki angka bunuh diri pada usia anak-anak tertinggi dari 34 negara anggota Organisasi untuk Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD). Sementara di negara tirai bambu, kebijakan memiliki anak hanya 1 juga memacu orang tua menjadi begitu ambisius agar anak semata wayangnya berhasil dalam pendidikan.

Selain masalah pendidikan, Rosdiana menuturkan, orang tua cenderung juga keras bila bicara soal disiplin. “Ia ingin anaknya berlaku dan bersikap seperti standar yang diinginkannya. Jika tidak, kekerasan pun terjadi atas nama penegakan disiplin.”

Cara mendidik anak yang bernuansa bully ini sudah menjadi perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak). Pasalnya, menurut Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, di Indonesia pun korban mulai berjatuhan, bahkan sudah dikategorikan darurat. Lantaran kasus bunuh diri di di kalangan anak Indonesia terus meningkat. Tahun 2014 saja, Arist menyebutkan, ada sebanyak 89 anak meninggal sia-sia karena kasus bunuh diri.

Sembilan kasus pada anak usia 5 – 10 tahun, 39 kasus pada rentang usia 12 - 15 tahun, dan 27 kasus pada usia 15 tahun. “Anak memilih mengakhiri hidup karena tak tahan pada bimbingan oang tua yang mengedepankan teriakan dan marah-marah,“ ujarnya. Tapi, apakah ini berarti orang tua Asia lebih mem-bully dari orang tua dari belahan barat? “Jawabannya: Tidak juga! Yang dipandang barat sebagai bully belum tentu oleh Asia. Begitu juga sebaliknya.

Orang barat yang  anaknya tak boleh melanjutkan makan jika bertingkah tak sopan saat makan malam mungkin dipandang Asia kejam dibandingkan bila memarahi anak.” Rosdiana juga menggarisbawahi, perlu berhati-hati mencap orang tua pem-bully. Bisa jadi, orang tua tersebut tak tahu bahwa perlakuan mereka terhadap anak sebagai bullying. Mengingat, sewaktu kecil mereka diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya.

Cerita Ina, misalnya. “Jika Dinda tak mau belajar, tangan saya gatal mencubitnya. Jujur, saya tak merasa perbuatan ini salah. Dulu, ibu saya sering mencubit saya kalau malas belajar. Dan, saya tak merasa di-bully ibu,” ujar Ina. “Tapi, suatu malam, saat Dinda tertidur, saya melihat bekas cubitan yang saya lakukan. Baru tersadar betapa jahatnya saya,” ujarnya lagi.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Berikut ini poin-poin ciri khas penerapan pola asuh positif dalam keluarga:

1. Waktu berkualitas
Sempatkan menikmati waktu bersama anak di sela-sela kesibukan harian Anda. “Ciptakan kebersamaan pada waktu waktu khusus secara rutin, misalnya mendongeng untuk anak sebelum tidur atau saling bercerita mengenai aktivitas pada hari tersebut,” ujar Irma.

2. Jangan pelit memuji
Pujian akan membuat anak merasa dirinya dianggap penting oleh orang tuanya, bahagia, dan bersemangat untuk mengulang perilaku baik. Namun, hindari pujian berlebihan karena anak bisa mendeteksi ketidaktulusan kata-kata Anda. Pujian harus spesifi k, sehingga anak tahu perilaku baik yang mendapat penghargaan dari orang tuanya.

3. Ajari konsekuensi logis
Hindari sikap terlalu reaktif ketika anak melakukan kesalahan atau melanggar aturan. Ada kalanya anak melanggar peraturan ketika sedang mengeksplor lingkungan atau menjajaki kekuatannya. Ingatkan saja secara bijak tanpa menghukumnya. “Misal, ketika menumpahkan makanan, minta anak membersihkannya sebagai konsekuensi perbuatannya. Dengan demikian, anak belajar bertanggung jawab,” jelas Irma.

4. Tanamkan kebiasaan positif 
Misalnya, mengucapkan salam ketika masuk rumah, gosok gigi sebelum tidur, membereskan mainan. Untuk menguatkan perilaku positif tersebut, berikan pujian secara spesifi k agar anak termotivasi untuk mengulanginya.

5. Disiplin positif
Berdiskusilah dengan anak sebelum menerapkan peraturan. Capai kesepakatan mengenai konsekuensi jika aturan dilanggar. Aturan harus jelas, spesifik, tidak kaku. “Jika anak protes atau bernegosiasi terhadap konsekuensi yang dirasakannya berat, jangan marah dulu. Bernegoisasi baik untuk merangsang kemampuan anak berpikir strategis. Dengarkan pendapatnya dan cari solusi bersama,” kata Irma.

sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget