Latest Post


Anda mendengar anak-anak saling mengejar berkeliling rumah dan Anda seketika berteriak. Anda khawatir mereka berkelahi dan segera turun tangan untuk menghentikan aksi tersebut. Para ahli menilai hal seperti itu bukan tindakan yang tepat.

Seringkali orang tua merasa perlu ikut serta setiap kali anak melakukan sesuatu. Selalu menjadi bad guy itu melelahkan, kata Michele Borba, EdD, penulis The Big Book of Parenting Solutions.

Ingat bahwa anak-anak terkadang melakukan sesuatu yang mengganggu karena mereka memelajari keterampilan baru. (Si batita bisa saja menumpahkan jus ke dalam sereal karena dia sedang belajar soal benda cair.) Di lain waktu, mereka mencari perhatian. Lalu kapan waktu yang tepat untuk bereaksi?

Dr. Borba punya aturan wajib: Jika keselamatan anak tidak terancam, cobalah menunggu sambil mengawasi. Jika si anak 6 tahun memutar alat perekam dengan hidungnya, usahakan untuk tidak berteriak. Lihat apa yang terjadi jika Anda melanjutkan pekerjaan seperti tidak terjadi apa-apa. Kemungkinan besar, jika Anda tidak merespons, dia akan menghentikan kegiatannya–dan Anda akan merasa lebih tenang karena terhindar dari kontes berteriak.


Saat Anda menghukum si anak 3 tahun masuk kamar karena dia memukul adiknya, dia mulai membentur-benturkan kepala di lantai dengan kemarahan. Tampaknya penerapan time-out atau menyetrap tidak efektif bagi anak.

SOLUSI: Coba pendekatan time-in.

Time-out atau setrap bertujuan memberi kesempatan anak untuk menenangkan diri, bukan menghukum. Sebagian anak merespons time-out dengan baik. Mereka diam di kamar sampai merasa tenang. Namun sebagian anak lain melihat cara itu sebagai penolakan, dan mereka menjadi marah. Plus, time-out tidak mengajari anak cara bersikap yang baik. Sebagai alternatif, Dr. Sonna menyarakankan “time-in,” yaitu Anda duduk tenang bersama anak. Jika dia sangat marah, peluk dia hingga merasa tenang, kata Linda Sonna, PhD, penulis The Everything Toddler Book.

Begitu dia rileks, jelaskan dengan lembut bahwa perilakunya tidaklah baik. Anda terlalu marah untuk menenangkan anak? Terapkan time-out untuk diri Anda; begitu Anda rileks, jelaskan perilaku yang Anda harapkan dari anak. Anda bisa mulai dengan mengatakan, “Apa yang bisa kamu lakukan selalin memukul saat Milo mengambil mainanmu?”



“Matikan televisi…Mama serius kali ini…Sungguh!”

Anak akan melanjutkan sikap buruknya jika Anda memberi peringatan dengan samar-samar, sama seperti alasan Anda tetap melaju saat lampu kuning menyala. Tidak ada konsekuensi.

Buat batasan dan ikuti aturan.
Mengeluh, kesempatan kedua, dan negosiasi semuanya memberi arti bahwa kerjasama merupakan sebuah pilihan, kata Robert MacKenzie, PhD, penulis Setting Limits With Your Strong Willed Child. Untuk mengajari anak mengikuti aturan, perjelas ekspektasi Anda, lalu ambil sikap jika ada aturan yang dilanggar.

Jika Anda menginginkan anak untuk, misalnya, beranjak dari sofa dan mengerjakan PR, mulailah dengan arahan yang sopan (“Tolong matikan teve sekarang dan kerjakan PR-mu”). Jika dia mau menuruti Anda, ucapkan terima kasih. Jika tidak, berikan konsekuensi: “Mama matikan televisi sekarang. Sebelum PR-mu selesai, izin menonton teve dicabut.”


Sekolah memang penting, tapi sekolah bukan satu-satunya tempat untuk anak memeroleh pendidikan. Di luar sekolah ada tempat-tempat yang bisa meningkatkan pendidikan anak. Inilah cara meningkatkan pendidikan anak di luar sekolah

Kenalkan pada perpustakaan umum

Perpustakaan umum adalah sumber ilmu paling berharga yang menyediakan pendidikan gratis melalui koleksi buku atau arsip. Perpustakaan adalah jembatan untuk mendapatkan informasi dan topik menarik. Di perpustakaan umum semuanya tersedia dab siap dibagikan kepada anak. Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membimbing anak pada ilmu pengetahuan.

Jelajahi dunia di setiap kesempatan


Ketika Anda bepergian dengan anak-anak—apakah itu perjalanan sehari atau liburan selama seminggu—mereka dapat belajar banyak tentang dunia. Anda dapat mengajarkan anak tentang sejarah, geografi, keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat. Cara Anda melakukan perjalanan bersama keluarga dapat memicu rasa ingin tahu anak.

Pendidikan setiap hari

Kegiatan sehari-hari dapat membuka pintu untuk pelajaran baru yang menarik. Misalnya, memanggang kue dapat mempraktikan ilmu matematika, fisika, dan gizi. Menonton pertandingan olahraga dapat mengajarkan statistik, sejarah, dan kerja sama tim.

Kenalkan kepada Kebudayaan

Kenalkan anak-anak pada sesuatu yang bersifat artistik dan sosial sebanyak mungkin. Museum, kebun binatang, situs sejarah, dan acara budaya seperti drama, opera, balet, dan konser adalah cara yang bagus untuk mengajar dan menghibur anak. Sering kali, anak-anak menemukan petualangan lebih menyenangkan daripada duduk di meja kelas. Plus, mereka dapat memerluas wawasan dan mungkin membangkitkan hobi dan passion.

Ikuti kegiatan keagamaan


Jika keluarga Anda merupakan bagian dari komunitas agama, ajak anak-anak Anda terlibat dalam kelas keagamaan, retret, dan kelompok pemuda. Anak-anak akan belajar tentang agama melalui konteks sejarah serta konsep religius dan spiritual.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget