Januari 2014

Yayasan Wakaf Bina Amal berikan Nasi bungkus ke korban banjir
Tidak hanya di dunia pendidikan, Yayasan Wakaf Bina Amal juga berkiprah dalam aksi-aksi sosial. Banyaknya bencana banjir yang terjadi di Kota Semarang menggerakkan para murid, guru dan donatur Bina Amal menggalang dana untuk korban banjir. Bantuan yang di berikan kepada korban adalah Nasi bungkus, mie instan, roti dan juga beras.

Kegiatan sosial ini terus berlangsung hingga banjir benar-benar surut, apabila anda ingin berpartisipasi dalam program ini, ada dapat mengirimkan banjuan dalam bentuk makanan atau dalam bentu dana dengan menghubungi call center 085641023867.

Pelatihan Kearsipan diikuti oleh guru dan staf yayasan wakaf bina amal

Untuk meningkatkan kualitas Management yayasan, Yayasan Wakaf Bina Amal melaksanakan kegiatan pelatihan pengelolaan kearsipan. Pengelolaan arsip adalah salah satu faktor penting sebagai indikator tingkat keteraturan pengelolaan organisasi. Untuk itu, Yayasan Wakaf Bina Amal akan menerapkan pengelolaan Arsip sesuai dengan Standar SMM ISO 9001 dan Akreditasi.

Tumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak sejak dini. Salah satu cara ciptakan suasana membaca yang kental di rumah

JAKARTA - Rumah yang diisi buku-buku bacan adalah satu cara baik mendidik anak menjadi antusias dan lancar dalam membaca. Lalu buku macam apa yang seharusnya dikoleksi? 

Tanyalah kepada si kecil anda, apa minat dan ketertarikan mereka. Jika anak-anak terlalu muda untuk memilih, anda bisa mengisi perpustakaan rumah anda dengan buku-buku yang masuk segala golongan usia anak. 
 
Ada beberapa tips untuk membantu orang tua, pertama masukkan berbagai variasi pilihan buku bagi anak. Koleksi pula buku-buku papan atau buku dengan kaca dan tekstur berbeda-beda untuk balita. Sementara anak lebih dua akan menikmati berbagai macam fiksi, nonfiksi, puisi termasuk kamus dan berbagai macam buku referensi lain. 
 
Anak-anak sebenarnya dapat memahami cerita, namun kadang tak bisa dilakukan bila mereka membacanya sendiri. Jika ada buku menarik yang menantang anak anda, cobalah membaca bersama. Anak-anak lebih muda dapat melihat ilustrasi dan gambar-gambar untuk memahami sesuatu. Dengan ilustrasi dan gambar, orang tua bisa menanyakanbeberapa hal ketika mereka membaca. 
 
Dan juga, jangan batasi materi bacaan hanya seputar buku. Anak-anak bisa jadi dapat menikmati, majalah, buku audio, kartu pos dari saudara, album foto, koran, komik, bahkan internet. Meski tentunya orang tua harus selalu mengawasi keamanan isi bacaan yang sesuai usia anak-anak. 
 
Pilihlah materi bacaan yang mudah dibawa. Simpanlah buku-buku berbobot dengan mainan agar anak muda mengeksplorasi. Buku-buku dekat meja dan kursi tinggi sangat membantu mengalihkan perhatian anak kecil di saat yang tepat. 

Buku plastik pun dapat dibawa ke kamar mandi. Simpan pula buku-buku dekat kursi yang nyaman atau sofa dimana anda dapat memeluk anak anda setelah acara makan dan tidur siang.

Ciptakan Ruang Khusus 
 
Untuk menciptakan suasana berbeda, bila perlu, ciptakan ruang khusus untuk membaca, terutama bila ruang di rumah anda mengijinkan. Ketika anak-anak tumbuh, tetap taruh-taruh buku sesuai usia dan majalah di raknya sehingga mereka mampu meraih bacaan favorit di rumah. 

Buat rak dapat terlihat dan aturlah buku sebaik mungkin sesuai kategorisasi. Tempatkan beberapa buku dengan cover menghadap depan sehingga mudah dilihat. Letakkan keranjang berisi buku-buku atau majalah di dekat tempat favorit mereka saat duduk. Sebagai orang tua ada baiknya membuat pojok membaca yang nyaman serta mendorong anak-anak menggunakannya dengan menjadwalkan "waktu pojok-membaca" setiap hari. 
 
Pastikan area membaca memiliki cukup penerangan. Agar tak bosan ubahlah materi bacaan, menambah buku-buku sesuai musim, merotasi tatanan buku dalam rak, memasukkan buku-buku yang berkaitan dengan minat anak atau pelajaran di sekolah. Sangat menarik lagi bila pojok-membaca diberi hiasan hasil karya si anak. Jangan lupa pula taruh pemutar musik di dekat koleksi buku audio anda. 

Membaca melatih fokus
 
Salah satu cara mendorong anak gemar membaca iala mengajak mereka menulis. Biasakan mereka menulis, bisa dengan membuat pusat seni dan menulis kecil dalam rumah di mana anak merasa nyaman berkreasi membuat tulisan, puisi, poster dan sebagainya. Anak-anak selalu menyukai membaca hasil tulisan yang mereka buat atau membagi karya mereka dengan keluarga dan teman. 
 
Kiat lain tak kalah penting adalah pikirkan tentang atmosfer. Beri waktu pad anak untuk diam beberapa saat setiap hari untuk membaca atau menulis. Batasi kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar--termasuk TV, komputer, video games--demi memastikan mereka memiliki waktu untuk membaca. 
 
Membacalah bersama dengan anak anda. Ini tak ada salahnya, justru kebiasaan ini akan semakin melekat, sebab anak menganggap itu adalah kebiasaan keluarga. Tawarkan ia membaca dengan suara keras, atau minta anak anda membacakan topik menarik dari majalah favoritnya. Buatlah kebiasaan berkumpul untuk kegiatan membaca dan berbagi waktu sunyi bersama-sama.

sumber: republika

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, prevalensi gizi kurang dan gizi buruk balita di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 17,9 persen sedangkan yang tergolong pendek sebesar 35,6 persen. Selain itu, sebanyak 14,2 persen balita dengan berat badan lebih. Angka ini tentu memprihatinkan.
“Jika tidak teratasi kita akan menghadapi generasi dengan masalah gizi dalam kurun waktu 20 – 25 tahun mendatang," tegas Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Made Astawan.
Seperti kita tahu, gizi buruk dapat menimbulkan risiko mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kondisi malnutrisi dapat menyebabkan beragam penyakit seperti obesitas atau penyakit regeneratif yang timbul karena menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh. Karena itulah, pengetahuan, pemahaman bahkan kepedulian akan gizi perlu ditingkatkan.
“Hal yang sangat berperan adalah faktor ekonomi dan pendidikan gizi. Tak sedikit masyarakat yang berkecukupan secara finansial akan tetapi tingkat pengetahuan gizi rendah, sehingga yang terjadi anak mengalami obesitas, begitupun masyarakat yang memang kurang secara finansial sehingga gizinya pun kurang,” papar Prof. Astawan.
Beliau menegaskan, dalam konsep gizi, tak ada satu pun makanan yang bisa mencakup semua gizi yang diperlukan tubuh. Sebenarnya sifat dari bahan pangan mengandung kelebihan dan kekurangan. Ada yang tinggi dan rendah.  Hal yang juga perlu diperhatikan adalah selalu berupaya memenuhi komposisi makanan yang dianjurkan sesuai dengan piramida makanan.
“Kita harus meramunya melalui konsep komplementer, yakni saling melengkapi. Contohnya bubur kacang hijau yang dilengkapi dengan ketan hitam. Begitu juga ada konsep suplementasi, yaitu menambahkan sesuatu yang kurang pada bahan pangan tertentu, untuk mempertinggi kadarnya,” ujar Prof. Astawan.
Nah, dalam praktiknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para orangtua untuk menanamkan pentingnya gizi sejak usia dini.  Berikut beberapa langkah di antaranya :
-Ajarkan mengonsumsi makanan sehat sejak dini
Sejak ibu hamil, upayakan untuk menyantap makanan bergizi karena berpengaruh pada kesejahteraan janin. Kemudian, setelah ia lahir, upayakan untuk memberikan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan. Pada usia selanjutnya, pastikan kita membuat makanan sendiri untuk si kecil. Hindari menggunakan bahan pengawet atau pewarna.
-Ajak anak mengonsumsi makanan bervariasi
Buat daftar makanan yang disukai anak, pun buat menu yang perlu dicoba agar suka. Misal, bila ada sayur atau buah yang tak disukai, kita bisa coba mencari cara mengolahnya sehingga ia dapat menyukai makanan tersebut.
Minta ia memilh dua warna buah atau sayuran di piringnya setiap kali makan. Agar tak monoton, pastikan makanan beraneka warna, buah-buahan dan sayuran yang berwarna-warni, seperti hijau dari sayur, kuning dari jagung, serta putih, kuning, dan merah dari buah-buahan.
-Ajak anak menyiapkan makanan     
Bila anak sudah lebih besar, libatkan ia dalam ragam aktivitas, misalnya mengajak ia ke pasar membeli bahan pangan, bagaimana mencuci atau mengupas, hingga ajak ia untuk mempersiapkan meja makan dan menghidangkan atau menyusun makanan. Ajak si koki kecil bagaimana memasak yang sehat, misal mengajari menggunakan oven untuk mengukus atau merebus.
-Belajar warna makanan
Saat makan bersama, kenalkan pula pada anak-anak tentang warna makanan beserta manfaatnya. Misalnya, wortel berwarna oranye kaya akan kandungan Vitamin A dan bermanfaat dalam menyehatkan penglihatan dan seterusnya.  

Warna hijau pada brokoli mengandung beragam vitamin dan antioksidan yang berguna untuk mencegah penyakit seperti kanker. Demikian pula dengan warna merah dan kuning pada semangka merupakan lycopene, salah satu komponen karotenoid sama halnya dengan betakaroten yang bermanfaat sebagai antioksidan.
sumber: kompas


Hampir tidak ada orangtua yang mau anaknya menjadi picky eater alias suka pilih-pilih makanan. Namun bagaimana pun anak yang sudah mampu membedakan makanan, secara naluriah akan cenderung memilih makan makanan yang dia suka saja.

Karena itu, orangtua perlu pintar-pintar menyajikan makanan sehat yang bervariasi agar bisa disukai secara keseluruhan oleh anak. Namun menurut ahli gizi dr Saptawati Bardosono, anak juga memiliki hak untuk menolak makanan.

"Anak boleh saja menolak suatu jenis makanan kalau dia benar-benar tidak suka. Hanya saja, makanan tersebut tidak memiliki zat gizi yang esensial bagi tumbuh kembangnya," ungkap Tati (sapaan akrabnya), di sela peluncuran produk susu, Kamis (26/9/2013), di Jakarta.

Tati menjelaskan, misalnya anak menolak makan buah sawo, keadaan itu masih bisa ditoleransi. Pasalnya, gizi dalam buah sawo bisa digantikan dari buah lain yang anak suka.

Tetapi hal ini berbeda dengan pepaya atau pisang. Zat gizi dalam buah-buah ini sangat tinggi dan padat. Maka menurut Tati, jika anak tidak menyukai dan menolaknya, orangtua perlu mengupayakan agar anak bisa belajar menyukainya.

Waktu makan, kata Tati, juga mempengaruhi keinginan anak untuk melahap makanan. Saat masih kenyang, si kecil cenderung lebih sulit disuruh makan, apalagi makanan yang kurang disukainya. Berbeda dengan saat lapar, anak biasanya lebih mau menerima apa saja menu yang dihadirkan.

"Kalau anak belum mau makan, tidak apa-apa. Jangan dipaksa, karena jam makan anak berbeda dengan orang dewasa. Yang perlu diusahakan adalah perlahan-lahan menggeser waktu makannya mendekati orang dewasa," tuturnya.

Karena itu, Tati mengimbau untuk tidak memarahi anak saat meminta makan di luar jam makan orang dewasa. Dia mengatakan, saat belum lapar di jam makan dewasa, anak tidak akan makan. 

"Tapi kalau sudah lapar dan minta makan, meski bukan jamnya ya jangan dimarahi," tegasnya.

Tati mengatakan, memarahi anak di saat anak mau makan, dan menyuruh makan saat anak tidak lapar akan membuat anak tidak mampu membedakan kenyang dan lapar. Ini tentu berbahaya, karena akan memicu gangguan metabolik, seperti obesitas, di kemudian hari.

sumber: kompas

Tak sedikit orang tua yang kerepotan menghadapi anaknya yang mengalami masalah makan. Berikut ini beberapa problem yang sering dialami dan bagaimana cara penanganannya :
-Makan diemut
Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah karena anak mengalami sariawan, sakit gigi, atau radang tenggorokan. Selain itu, kemungkinan mengalami kelainan sensorik pada mulut, gangguan sistem pencernaan, atau merasa bosan dengan makanan yang disajikan.
Untuk penangannnya, hindari memaksa anak mengunyah atau menelan. Berikan penjelasan bahwa makanan yang masuk ke mulut haurs dikunyah lalu ditelan. Beri makanan dalam suapan kecil, sajikan menu bervariasi, dengan penyajian menarik dan menggugah selera. Tak kalang penting, hindari makanan dengan rasa dan bau menyengat yang dapat memicu rasa mual.
-Menolak makan
Beberapa anak menolak makan karena diduga sebelumnya mengalami kejadian trauma yang terkait dengan rasa, tekstur, bau atau penampilan makanan. Dalam hal ini, anak memiliki sensitivitas berlebihan terhadap rasa dan aroma makanan.
Adapun penanganan yang bisa dilakukan diantaranya member contoh kebiasaan makan sehat. Kemudian, ciptakan waktu makan tanpa ada gangguan misalnya mematikan teve.   Selanjutnya berikan variasi makanan untuk menambah wawasan dan memberi pilihan berbagai makanan baru.
Yang jelas, pastikan anak mendapat asupan zat gizi dan kalori harian yang cukup. Untuk anak, beri makanan dalam porsi kecil tapi sering. Hindari terlalu banyak minuman manis karena menurunkan nafsu makan. Sediakan makanan yang menggugah selera dengan tampilan yang menarik.
-Pilih-pilih makanan
Pemilih makanan atau picky eater yaitu kebiasaan hanya mau makan itu-itu saja. Hal ini terjadi karena anak sedang belajar mengunyah, sedang sakit, sedang mengembangkan selera makan, atau karena menu yang disajikan kurang variatif dan tak menggugah selera.
Sebagai solusi, coba kenalkan kenalkan jenis makan variatif pada anak sesuai tahap keterampilan makan. Tak perlu memaksa atau menghukum bila ia menolak makan. Sajikan makanan dengan menarik, menggugah selera, dengan peralatan makan dan minum yang lucu serta hiasan makanan. Manfaat waktu makan bersama untuk menjelaskan manfaat aneka jenis makanan bagi tubuh. Terakhir, ciptakan suasana makan yang menyenangkan.
-Alergi makanan
Ada beberapa penyebab alergi makanan di antaranya karena sistem pencernaan belum matang. Pada sistem pencernaan yang matang, terdapat selaput usus dan gerak peristaltik usus yang berfungsi melindungi dan menghalangi alergen masuk tubuh. Pada sistem pencernaan belum matang sistem pelindung itu belum berfungsi.
Beberapa gangguan kesehatan sering dikaitkan dengan alergi, misal penyakit asma, daya tahan tubuh menurun dan faktor psikologis. Alergi juga bisa dipengaruhi factor genetik.
Untuk penanganannya, cari faktor penyebab melalui tes alergi, misal tes kulit. Hindari makanan allergen atau pemicu alergi. Bila alergi disebabkan faktor keturunan, rujuk pada jenis makanan yagn dihindari orangtua. Ciptakan suasana makan menyenangkan, riset membuktikan, hati gembira meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Selain hal di atas, hal lain yang perlu diperhatikan adalah selalu memantau berat badan (BB) secara teratur. Hal ini diperlukan karena berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan. Bahkan pada anak bayi dan balita, indikator BB/U (berat badan menurut umur) menandakan status gizi di masa sekarang. 
sumber: kompas


MUSIM hujan sudah kembali melanda berbagai daerah di Indonesia. Selain dihadapkan dengan masalah banjir, beberapa penyakit juga akan tumbuh subur di musim hujan, seperti influenza atau flu, demam berdarah, dan diare. Banyak kasus penyakit yang semula tak ada di musim hujan kemudian timbul karena sebab tersebut, contohnya penyakit leptospirosis, yang berasal dari tikus. Mulanya agent penyakit tak ada, kalau kuman pada urin tikus tak keluar terbawa air musim hujan. Namun, karena hujan, kuman tersebut bisa jadi berada di genangan-genangan air yang terinjak kaki.
Jika kita terinjak oleh kotoran tikus dan kebetulan kaki kita ada yang lecet atau terluka, kuman tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kita. Contoh lainnya adalah mengenai kemungkinan tercemarnya sumber air bersih. Air hujan akan membawa kotoran ke berbagai tempat, juga bisa mencemari berbagai sumber air bersih, Akibatnya tentu akan menurunkan kualitas air menjadi tak layak konsumsi.
Hujan juga akan menyebabkan timbulnya genangan-genangan air baru. Yang ternyata menjadi tempat potensial untuk hidupnya nyamuk Aides aegypti, yang dikenal sebagai pemicu lahirnya penyakit demam berdarah.
Jadi sudah siapkah kita melakukan pencegahan dari penyakit utama musim hujan tersebut ?

Mencegah Flu

  • Cuci Tangan, Sebagian virus flu menyebar lewat kontak langsung, jadi usahakan untuk mencuci tangan sesering mungkin pakai sabun dan kalau bisa dengan air hangat.
  • Jangan Menyentuh Muka, Biasanya virus flu masuk ke tubuh lewat mata, hidung atau mulut. Jadi usahakan jangan terlalu sering menyentuh bagian muka.
  • Mengkonsumsi makanan dan minuman hangat, terutama menu empat sehat lima sempurna. Konsumsi makanan yang mengandung Phytochemical, yaitu bahan kimia alami yang ada pada tumbuhan yang memberi vitamin pada makanan. Zat jenis ini terdapat pada buah dan sayur segar berwarna hijau, merah dan kuning gelap.
  • Minum Banyak Air Putih, Air berfungsi mengangkat racun-racun yang ada dalam tubuh. Orang dewasa butuh delapan gelas air dalam sehari.
  • Terapkan pola hidup sehat  dan berolahraga secara teratur, tak perlu olahraga berat. Yang penting dapat dilakukan secara teratur, seperti jogging ataupun senam ringan. Beristirahat cukup. Istirahat yang cukup akan memperkuat daya tahan tubuh.
  • Hindari kontak dengan penderita. Virus flu tersebar juga melalui udara dan air liur. Oleh karena itu, hindari pertemuan jarak dekat dengan penderita flu.
  • Jangan merokok. Perokok berat lebih rentan terserang flu. Asap rokok dapat menyebabkan bagian sistem pernapasan kering, sehingga lebih mudah terserang virus.
  • Bila Anda menggunakan AC, sering-seringlah membersihkan penyaringnya agar debu, jamur, dan berbagai hal yang mungkin dapat mencetuskan alergi dapat dikurangi. Demikian juga dengan karpet dan sofa.
  • Kenakan jas hujan atau payung ketika hujan. Gunakan penutup hidung bila berada di daerah rawan polusi.

Mencegah Demam Berdarah

  • Rajin-rajinlah membersihkan selokan, bak-bak air tadah hujan maupun kamar mandi, membuang sampah pada tempatnya dan menyiangi kebun untuk menghindari nyamuk berkembang biak.
  • Usir nyamuk dengan obat nyamuk sebelum berangkat tidur, atau Anda bisa menggunakan obat nyamuk gosok, atau tidur menggunakan kelambu.
  • Bak atau tempat penampungan air harus ditutup untuk mencegah nyamuk bertelur di tempat itu dan dikuras paling tidak dua kali seminggu, supaya telur-telur nyamuk tidak menetas menjadi jentik.
  • Jaga kerapian. Jangan menggantung baju. Lebih baik lipat saja, sebab pakaian yang tergantung bisa menjadi tempat persembunyian nyamuk aedes aegypti. Bersihkan setiap hari meja dan laci yang ada di kamar Anda. Buanglah kertas-kertas yang tak terpakai sebab laci meja yang kotor dan tak terurus juga bisa menjadi sarang nyamuk.
  • Abatisasi. Abatisasi adalah menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air. Abatisasi bisa diulang setiap 2-3 bulan sekali. Abate tidak berbahaya bagi manusia. Abatisasi hanya pada tempat-tempat air tergenang, seperti bak mandi, jambangan bunga, dan selokan kecil. Jangan taburkan abate ke air yang mengalir. Abate juga baik ditaburkan ke tempat-tempat air yang sulit dikuras atau dibersihkan.

Cegah Diare

Kita harus memperhatikan lingkungan agar tetap terhindar dari potensi timbulnya penyakit. Kuman atau bibit penyakit akan tumbuh subur pada lingkungan yang kotor. Pada keadaan tersebut kalau kita perhatikan lingkungan sekitar bahwa lalat dan kecoa akan lebih banyak. Kita tahu bahwa lalat dan kecoa merupakan vector penting membawa kuman penyakit, terutama kuman penyakit yang menyerang pencernaan kita. Saat musim hujan, permukaan air naik. Jika air tersebut tercemar dan masuk ke dalam sumur atau sumber air lainnya yang dikonsumsi masyarakat, maka rentan terserang diare.
Berikut beberapa tips untuk mencegah diare:
  • Saat hujan turun tiap hari, selokan-selokan yang tersumbat biasanya meluap, dan membawa parasit cacing serta amoeba turut terangkat. Untuk mencegah diare biasakan untuk menjaga kebersihan dengan cuci tangan dan kaki setelah berpergian. Cuci tangan sebelum makan dengan sabun
  • Kenakan alas kaki untuk mencegah penyebaran dan masuknya kotoran atau parasit lewat kulit.
  • Hindari membeli makanan di sembarang tempat. Minumlah hanya minum air matang atau  air yang sudah mendidih, mengkonsumsi makanan yang telah dimasak.  Tutup makanan yang disajikan dengan tudung saji.
  • Jaga kebersihan lingkungan dengan membersihkan selokan, terutama yang tersumbat, buang sampah pada tempatnya.
  • Perbanyak minum vitamin dan asupan nutrisi untuk menjaga kondisi tubuh.
  • Sediakan selalu oralit di rumah.

sumber: bayisehat

Penipuan di Facebook, penculikan remaja oleh teman Facebook, bahkan perkosaan, dan pembunuhan, sudah jadi hal “biasa” yang kita dengar di berita. Benarkah teknologi sekejam itu? 

Tidak, teknologi tak pernah kejam. Manusia pelakunya lah yang sadis, tega melakukan apa saja demi tujuannya. Dan sang korban lah yang terlalu lengah, mempercayakan semua pada teknologi.

Barangkali akibat anak-anak Indonesia jarang dipesan; “Do not talk to stranger!”. Orang tua di sini justru cenderung berpesan, “Ramahlah pada orang lain.” Apa betul? 

Apapun itu, anak-anak dan remaja wajib dibekali wawasan bahwa internet adalah belantara maya yang tak semua penggunanya orang baik. Kasus-kasus kriminal di atas tadi contohnya. Dan itu bukan dominasi kota besar. Bahkan pembunuhan dua wanita oleh “teman” Facebook justru terjadi di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Bagaimana mengajarkan anak dan remaja untuk menjaga privasi di dunia maya?
  1. Ceritakan pada mereka soal kasus-kasus kriminal yang terjadi akibat dipicu “teman” Facebook, atau “teman” di internet lain. Cukup googling saja, Anda akan menemukannya.
  2. Pesan untuk tidak mudah percaya ke “teman” di dunia maya, sebaik apapun dia. Justru semakin baik, semakin layak dicurigai.
  3. Jangan berbagi data pribadi seperti nomor telepon rumah, nomor ponsel, alamat rumah, alamat sekolah, nomor rekening, atau semua yang memungkinkan “teman” dunia maya melacak jejak anak kita
  4. Tekankan betapa berbagi foto pribadi, terlebih lagi yang dalam pose vulgar, akan merugikan si anak di kemudian hari. Bahkan anak di bawah umur pun bisa jadi objek kaum pedofil.
  5. Pesan wanti-wanti betapa berbahayanya menemui “teman” dunia maya di dunia nyata, kendati sebaik apapun atau sedahsyat apapun rayuannya. Bangkitkan kembali kisah-kisah kejahatan oleh “teman” dunia maya yang pernah ada.
  6. Komunikasi yang baik, terbuka, antara anak dengan orang tua tetap jadi kunci utama. Mayoritas anak atau remaja yang mudah percaya dengan “teman” dunia maya adalah mereka yang merasa kurang diperhatikan oleh orang tua.
Enam langkah di atas memang selintas mudah dilakukan, namun jika dipraktikkan, akan banyak tantangannya. Sebab anak atau remaja bukanlah anak panah yang dengan mudah kita sasarkan ke target.

Seperti kata Kahlil Gibran, anakmu bukanlah milikmu. Mereka punya jiwa, raga, dan dunia sendiri. Namun, dengan cinta kasih, segala hal yang sulit bukanlah tidak mungkin. Apalagi, sudah pasti orang tua tak ingin anak-anaknya menjadi korban kriminal “teman” dunia maya.

* Tentang Penulis: Merry Magdalena, pengamat social media, founder Netsains.Net, penulis buku Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul (Gramedia Pustaka Utama), Melindungi Anak dari Seks Bebas (Grasindo), UU ITE, Don’be The Next Victim (Gramedia Pustaka Utama), dan empat buku lain.

sumber: kompas

Keluarga bermain internet (ilustrasi)
Mencari informasi melalui internet kini, harus diakui, menjadi lebih menyenangkan. Sebagai kelompok digital imigran, generasi yang lahir sebelum ada internet, Nina Mutmainah merasakan sangat terbantu dengan kehadiran internet. Pengamat media ramah keluarga ini mendapatkan berbagai informasi melalui internet. Tidak hanya urusan pekerjaan, informasi keluarga, kesehatan, anak-anak, dan segala hal dengan mudah bisa didapat.
Namun dengan fasilitas digital yang 'serba' tersebut, menurut dia, orang tua sebagai pengguna internet dituntut untuk cerdas. Tidak hanya asal percaya dengan informasi yang ada di internet. Setingkat Wikipedia saja, dosen ilmu komunikasi FISIP UI ini  menekankan kepada mahasiswanya untuk tidak dijadikan rujukan ilmiah. "Karena siapa pun bisa menulis di situ."
Oleh karena itu, saran dia, "ketika membuka suatu situs atau blog telaah lebih dulu apakah informasi tersebut bisa dijadikan rujukan atau tidak, valid atau tidak." Misalkan, situs kesehatan perhatikan narasumbernya, apakah orang tersebut kompeten menulis masalah kesehatan.
Demikian juga situs yang menyajikan tentang anak-anak, apakah narasumbernya paham tentang anak-anak, bagaimana latar belakangnya. "Karena kalau kita langsung percaya, ternyata informasi itu salah, bagaimana? Akan merugikan diri sendiri. Makanya, hal ini menjadi bagian kecerdasan orang tua untuk memahami dunia digital," paparnya
sumber: republika


Oleh: Diah Harianti 
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012, Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pengembangan kurikulum, metodologi pembelajaran, dan perbukuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. 

Secara teknis, Puskurbuk melakukan koordinasi kegiatan pendidikan karakter di tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), termasuk koordinasi dengan unit-unit utama. Kemdikbud juga mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum yang sudah ada dengan kegiatan-kegiatan penguatan pendidikan karakter dan penyusunan buku panduannya.

Ada beberapa strategi yang dilakukan Kemdikbud untuk penguatan pelaksanaan pendidikan karakter, yaitu dengan memperkuat panduan bagaimana melaksanakannya (pendidikan karakter), lalu mengakomodasi lembaga yang sudah melaksanakan pendidikan karakter walaupun dengan nama yang berbeda-beda. Ketiga, menguatkan kegiatan yang sudah ada di sekolah, disamping Kemdikbud tetap melakukan koordinasi menyeluruh.  

Sejak 2011, Puskurbuk sudah mengidentifikasi berbagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan unit-unit utama untuk pendidikan karakter. Pada umumnya, mereka lebih ke menyosialisasikan dokumen-dokumen pendidikan karakter dan bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter itu dalam kurikulum. 

Berdasarkan hasil monitoring, hampir 100 persen sekolah di kabupaten/kota maupun provinsi sudah mengetahui pentingnya penerapan pendidikan karakter. Artinya, sosialisasi yang dilakukan oleh Pusat sudah berhasil. Keberhasilan itu juga didukung oleh unit-unit utama yang disetiap kegiatan mereka yang melibatkan banyak peserta dari seluruh Indonesia, seperti pelatihan atau sosialisasi hal lainnya, selalu menyisipkan waktu untuk sosialisasi pendidikan karakter. Jadi, sosialisasi pendidikan karakter sudah cukup masif.  

Nah, bagaimana pelaksanaannya di sekolah pada saat ini? Mengingat konsep dasarnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum, maka tidak ada penambahan mata pelajaran. Semua guru, kepala sekolah maupun tenaga pendidikan yang lain bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah masing-masing. Jadi, nilai-nilai dalam pendidikan karakter diintegrasikan dalam mata pelajaran atau pembiasaan-pembiasaan dengan beragam cara yang tepat. 

Untuk kedisiplinan, misalnya. Anak diharuskan mengerjakan PR, datang tepat waktu, tidak menyontek, dan sebagainya. Di samping itu, kepala sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan yang kita sebut sebagai pembudayaan sekolah. Seperti, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan toilet dengan benar, penyediaan tempat sampah dan pembiasaan anak-anak membuang sampah pada tempatnya, termasuk membiasanya budaya bersih-rapi-nyaman-disiplin-sopan santun. 

Saat ini, Pemerintah Pusat telah menunjuk 300 sekolah di 33 provinsi dan 44 kabupaten/kota yang dijadikan sekolah perintis pendidikan karakter. Sekolah perintis tersebut terdiri dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, PLB, dan PKBM. 

Pusat juga sudah bekerja sama dengan Dikti untuk pendidikan karakter di perguruan tinggi. Adapun pendidikan karakter di tingkat pendidikan tinggi agak berbeda dengan pendidikan dasar dan menengah. Meskipun penerapannya tidak terlalu berbeda, tetapi strateginya harus berbeda mengingat mahasiswanya dinilai sudah dewasa. Ada juga yang dimasukkan untuk mata kuliah tertentu, seperti bela negara. 

Pemerintah memunculkan gerakan pendidikan karakter tentu setelah melalui pertimbangan matang berdasarkan kajian mendalam. Di tengah masyarakat terdapat anggapan, bahwa hasil pendidikan hanya melahirkan anak pintar, namun berperilaku tidak sopan, tidak peduli, kurang cinta pada tanah air, dan cenderung radikal. Dengan begitu, pembelajaran di sekolah dianggap lebih menekankan pada aspek kognitif. 

Sekolah juga dinilai kurang menekankan siswa pada sikap untuk berbuat baik. Oleh karena itulah pemerintah mencanangkan gerakan pendidikan berbasis karakter dengan harapan bahwa peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga memiliki sikap dan nilai-nilai yang baik.

Kajian lapangan 

Bertujuan melihat perkembangan pendidikan karakter di sekolah, Kemdikbud telah melakukan kajian lapangan di berbagai jenis sekolah, termasuk sekolah yang kurang bagus. Bahkan, di Jakarta ada sebuah SMP yang muridnya dari golongan ekonomi bawah dan berlokasi dekat tempat pembuangan akhir sampah. 

Namun demikian, kepala sekolah mempunyai tekad kuat untuk membentuk  anak didiknya mempunyai karakter yang bagus, seperti disiplin, bersih, dan sebagainya. Ternyata, semua itu berhasil.  

Pemilihan sekolah sebagai perintis pendidikan karakter diserahkan kepada dinas masing-masing. Di daerah piloting, sosialisasi ditujukan kepada seluruh warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin dalam pendidikan karakter ini, sehingga kepala sekolah yang harus selalu mengingatkan. 

Jadi, kunci keberhasilan pendidikan karakter itu ada di karakter kepala sekolah. Kalau dia berniat berubah menjadi yang lebih baik, maka seterusnya akan menularkan perilaku baik bagi guru-guru dan murid-muridnya. 

Prinsipnya, tentu dimulai dari diri sendiri, diawali dari yang mudah, dan dilakukan saat ini juga. Misalnya, datang tepat waktu. Itu dulu yang dilakukan sebagai contoh. Jika tidak dilakukan, hanya akan menjadi konsep saja. 

Diimplementasikan di sekolah, Kemdikbud tidak menginginkan pendidikan karakter dinilai sama dengan mata pelajaran lainnya. Tentu saja, karena ini menyangkut pengembangan sikap, nilai, dan pembiasaan. Namun, Kemdikbud mengharapkan guru bisa mengamati anak itu. 

Kemdikbud tidak mempermasalahkan penilainya. Hal terpenting adalah, lingkungan sekolah, baik murid, guru, dan tenaga kependidikannya, menjadi lebih baik karena menerapkan pendidikan karakter.  

Hasil dari pendidikan karakter tidak dapat dirasakan atau dilihat seketika, karena hal ini memerlukan waktu  lama. Penerapan pendidikan karakter memerlukan kerja sama berbagai pihak dan juga memerlukan contoh dari pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua. Setidaknya, ada koordinasi antara sekolah dengan orang tua, misalnya melalui momen mengambil rapor, atau buku penghubung. Jika kerja sama antara yang di sekolah dengan yang di rumah sudah terjalan baik, nanti hasilnya akan menjadi lebih baik lagi.  

Melihat pendidikan karakter amat penting dalam kehidupan anak didik, orang tua hendaknya jangan hanya ngotot putranya lulus ujian nasional (UN) dengan nilai bagus. Para orang tua hendaknya juga berharap putranya memiliki moral dan perilaku lebih baik, cerdas dan berhati mulia. 

Demikianlah kitanya generasi emas dambaan. Kita menaruh harapan besar pada generasi seperti ini dalam kehidupan bernegara dan berbangsa pada masa mendatang. Semoga harapan ini terwujud. (ARIFAH/RATIH)  
Penulis adalah Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud
sumber: kompas

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget