Juli 2015

Anak-anak jaman sekarang memang lebih cepat mengalami perkembangan fisik dan mental dibandingkan dengan anak-anak jaman satu dekade yang lalu, hal ini tentu saja dipengaruhi karena faktor kemajuan tekhnologi dan perkembangan jaman yang begitu pesat.

Sehingga tak heran jika masa puber akan lebih cepat dan lebih dini banyak dialami oleh anak-anak jaman sekarang.

Masa puber dapat menciptakan kesulitan untuk anak anda beserta dengan seluruh keluarga anda. Dimana ketika anak anda menjalani periode perubahan tersebut dalam kehidupannya, akan ada banyak hal yang terjadi dalam diri anak diantaranya adalah kenaikan emosi, mengalami perubahan jasmani yang signifikan, serta terpengaruh oleh hormon dalam tubuhnya.

Berbeda saat si anak masih kecil, anak-anak yang sudah masuk kedalam tahapan pubertas akan membuat si anak lebih kritis dan lebih cepat dalam menyikapi sebuah masalah atau kasus yang mereka temui. Jika saja, saat anak-anak masih seringkali merengek dan manja-manja bersama dengan orangtua dan seringkali akan menangis atau gelisah saat orangtua mereka tak ada disampingnya, hal ini akan berbeda dengan anak yang telah mengalami masa pubertas. Mereka akan cenderung lebih tertutup disamping emosi dan perubahan mereka yang sudah memiliki cara pandang sendiri mengenai sesuatu hal. Maka jangan heran, sewaktu anda menghampiri anak-anak dan hendak membelai atau bercengkrama bersama dengan mereka seperti saat dulu sering anda lakukan. Kali ini anak-anak lebih memilih mengurung diri dikamar dan senang sekali jika kita berikan ruang.

Hanya saja, meskipun saat ini kedekatan orangtua sudah tidak sedekat dan seintens dulu, namun hal ini bukan berarti anda bisa melepaskan dan membebaskan anak dengan sepenuhnya tanpa ada campur tangan dan kontrol dari anda para orangtuanya.

Anak-anak yang sudah menginjak masa pubertas, emosinya akan meledak-ledak, selain itu rasa penasaran akan sesuatu dan mencoba hal baru akan cenderung lebih besar. Untuk itulah, peran orangtua dalam membimbing dan senantiasa memberikan pengawasan pada anak-anak adalah hal penting yang harus mampu dilakukan.

Nah, selain itu agar anak tidak kaget dengan perubahan yang akan ia alami dalam masa pubertasnya, maka penting juga bagi orangtua mempersiapkan beberapa hal pada anak untuk menghadapi masa pubernya. Beberapa poin dibawah ini penting ibu terapkan pada anak-anak yang menghadapi masa pubertasnya.

1. Berikan Penjelasan Pasa Anak Tentang Perubahan Fisik dan Kesehatannya

Sebagai orangtua, anda perlu membantu anak-anak untuk siap dengan perubahan biologis yang akan ia hadapi saat dirinya menginjak masa pubertas. Pastikan anak anda mendapatkan pendidikan dan penjelasan mengenai perubahan yang terjadi dengan bagian tubuhnya yang mungkin pada awalnya perubahan in akan menyebabkan ketidaknyamanan pada diri anak juag mengenai sistem, proses dan fungsi dari reproduksi.

Tanpa pengetahuan yang diberikan oleh orang yang sudah mengalami hal ini, anak-anak mungkin akan merasa bingung dan bahkan ketakutan jika saja perubahan tersebut merupakan gejala yang akan mengindikasikan ada sesuatu yang tidak benar dengan tubuhnya. Jelaskan pula pada anak bahwa perubahan fisik yang terjadi secara alamiah terhadap setiap orang dan masa puber adalah bagian dari proses pertumbuhan yang lumrah.

2. Pentingnya Pendidikan Agama dan Moral dalam Diri Anak

Dewasa ini, pergaulan anak-anak remaja terbilang cukup mengkhawatirkan dan membuat siapa saja merasa risau dengan pergaulan bebas yang tak beraturan yang terjadi dalam kehidupan remaja saat ini. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari pengaruh media seperti program TV yang kurang mendidik, majalah dan bahkan pengaruh ajakan teman-teman sebaya mereka. Selain itu, kecenderungan untuk sulit menolak ajakan tersebut karena dilandasi dengan sikap persahabatan, membuat anak akan dengan mudah terjerumus dan terjebak dalam pergaulan yang keliru.

Untuk itulah, membekali anak-anak dengan nilai-nilai agama sejak mereka masih kecil adalah hal yang penting. Dengan begini, orangtua sudah menyiapkan dan melatih daya serap anak agar kuat keimanannya sehingga si anak dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang ada dilingkungannya.

Penting sekali bagi para remaja memilki benteng pertahanan diri berupa nilai dan moral yang baik dalam dirinya, hal ini guna mengontrol sikap dan etikanya dalam bermasyarakat.

3. Ajarkan Anak Untuk Merawat Dirinya

Pelajaran lain yang juga tak kalah penting diterapkan dalam diri anak-anak guna menghadapi masa pubertasnya adalah dengan mengajarkan anak untuk mulai memelihara kesehatannya dan merawat dirinya sendiri. Hal ini termasuk dengan menjaga kebersihan tubuh, menjaga konsumsi makanan yang baik dan mintalah anak untuk tidak sungkan bertanya bila saja mereka mengalami perubahan tubuh yang terasa berbeda.

Dengan mengontrol kebersihan dan asupan makanan akan berpengaruh pula pada produksi hormon dalam tubuh mereka. Mengingat saat masa puber memang kesehatan dna perawatan fisik menjadi bagian yang penting yang harus dijaga dan dirawat. Hal ini akan membuat para orangtua menjadi lebih mudah dalam mengawasi anak-anak mereka dan memberikan anak-anak remaja landasan yang baik dalam hal merawat tubuh mereka.

4. Berikan Buku Pengetahuan Tentang Pubertas

Meskipun anda sudah memberitahu mereka untuk tidak sungkan bertanya pada anda tentang perubahan yang terjadi dengan tubuh mereka saat anak-anak memasuki masa pubertas. Namun tak jarang, banyak anak yang merasa malu dan sungkan untuk menanyakan hal tersebut. Mereka menganggap hal tersebut terlalu memalukan untuk diungkapkan termasuk pada orangtua mereka. Namun disamping lain, anak-anak juga butuh jawaban yang pasti yang akan membuat mereka mengerti akan apa yang terjadi dengan tubuhnya.

Nah, untuk mengatasi hal ini, maka orangtua bisa memberikan buku mengenai pubertas untuk anak-anak. Dengan demikian meskipun orangtua tidak bisa menjawabnya, mereka akan mendapatkannya dari buku yang ibu berikan.
5. Peran Ayah dan Ibu

Ibu untuk anak-anak perempuan dan ayah untuk anak laki-laki. Seringkali anak-anak merasa sungkan jika harus menanyakan sesuatu yang menyangkut dengan bagian terdalam tubuhnya termasuk perubahan tubuh yang mereka alami. Apalagi saat seorang anak remaja laki-laki harus bertanya pada ibu mereka mengenai perubahan tubuh yang mereka alami, hal ini sedikit banyak membuat mereka merasa canggung melakukan hal tersebut.

 Nah, untuk itulah, inilah saat yang tepat dimana peran orangtua baik ayah ataupun ibu amat dibutuhkan untuk menjadi sahabat mereka. Bantu anak menghadapi masa pubertas mereka dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan dan gambaran apa saja yang akan mereka alami dimasa pubertas tersebut.

Misalkan, pada anak perempuan, ibu bisa memberitahu anak mereka bahwa masa puber pada anak permpuan ditandai dengan munculnya darah atau yang disebut dengan mentruasi. Begitupun pada anak laki-laki, ayah mereka bisa memberitahukan bahwa benjolan yang ada pada leher mereka adalah hal yang wajar sebagai pertanda bahwa anak mereka bertumbuh menjadi seorang remaja. Selain itu, ajarkan pula mereka untuk senantiasa menjaga kebersihan mereka dan bagaimana memilih makanan yang sehat dan sebagainya.

Membantu anak menghadapi masa pubertasnya adalah yang penting yang perlu dilakukan orangtua, meskipun anak terkadang merasa malu berbagi masalah yang terjadi dengan perubahan tubuhnya. Namun peran orangtua dan cara mereka menghadapi anak-anak yang mengalami pubertas adalah hal yang penting.

Sumber : Bidanku.com

Sehabis liburan panjang, biasanya kita merasa ‘berat’ untuk kembali beraktivitas. Ini yang disebut sebagai post holiday blues. Dan sindrom ini melanda siapapun, termasuk anak-anak. Maraton liburan, mulai dari liburan sekolah, libur awal puasa, hingga libur Lebaran menghasilkan liburan yang sangat panjang untuk anak.

Setelah masa-masa menyenangkan ini usai, anak mungkin merasa sedih harus kembali ke rutinitasnya yang biasa. Bantu anak mengatasi sindrom post holiday blues:

Cari tahu tanda-tandanya. Misalnya nafsu makan berkurang, sulit tidur, moody, malas beraktivitas, bahkan tantrum. Jika hal ini berlangsung lebih dari tiga minggu, Anda harus curiga dan menemui ahli.

Dengarkan anak. Berikan perhatian penuh pada anak. Ia akan merasa didukung karena Anda mendengarkan apa yang diutarakan dan dirasakannya.

Buat aktivitas menarik. Meski ia malas kembali beraktivitas seperti biasa, Mama harus tetap mengajaknya melakukan sesuatu. Buatlah kegiatan yang bisa menarik minatnya seperti dulu lagi. Menghabiskan waktu bersama akan membuat mood anak membaik.

Berusahalah kembali ke rutinitas. Meskipun terasa berat, bantu ia agar terbiasa lagi dengan jadwal sekolah, kursus, dan bermain. Lama-kelamaan ia akan lupa dengan sindrom pasca liburan ini.

Kembali ke pola hidup sehat. Setelah selama liburan anak makan banyak makanan manis, keripik, soda, dan sebagainya, ajak ia makan makanan sehat lagi. Masukkan buah dan sayur dalam menu makanan harian. Mama juga perlu mengajaknya kembali berolahraga dengan cara yang asyik. Misalnya dengan main kejar-kejaran atau petak umpet. Dengan kembali ke kebiasaan hidup sehat, anak akan lebih mudah mengatasi perasaan sedih dan tantrumnya.
Sumber : parenting.co.id

Meski Anak terbiasa makan dengan porsi superbesar, Anda tetap bisa memulai kebiasaan baru dengan memberikannya porsi makan normal. Beberapa langkah di bawah ini bisa Anda coba:

- Sajikan makanan dalam piring berukuran lebih kecil untuk membuat hidangan tampak lebih banyak.

- Jangan biarkan anak membawa sekantong keripik kentang atau satu kotak es krim untuk menemaninya menonton televisi. Sebagai gantinya, ambilkan camilan tersebut dalam wadah kecil setiap kali ia hendak menyantapnya.

- Memberikan potongan buah dan sayuran sebelum acara makan dimulai adalah cara cerdas untuk mencukupi kebutuhan vitamin anak serta mengendalikan porsi makannya.

- Hati-hati ketika Anda makan di luar rumah. Pasalnya, jumlah porsi dalam menu restoran sering kali jauh lebih banyak daripada porsi ideal, bahkan bisa sampai dua kalinya atau lebih. Untuk menyiasatinya, Anda bisa memesan menu yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak, memesan satu menu untuk disantap bersama-sama, atau membungkus sebagian makanan untuk dibawa pulang sebelum mulai menyantapnya.

Kebaikan itu sangat luas maknanya, tapi Borba menyebutkan bahwa ada 7 kebaikan utama yang diperlukan untuk membangun kecerdasan moral seseorang. Inilah 7 kebaikan utama versi Borba: 

1. Empati 
Merupakan inti emosi moral yang membantu anak memahami perasaan orang lain. 

2. Hati nurani 
Suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar, serta tetap berada di jalur yang bermoral, membuat dirinya merasa bersalah ketika menyimpang dari jalur yang semestinya.

3. Kontrol diri 
Membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan berpikir sebelum bertindak, sehingga dapat melakukan hal yang benar dan kecil kemungkinan mengambil tindakan yang akan menimbulkan akibat buruk. 

4. Menghormati orang lain 
Kebaikan ini mengarahkan anak memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain memperlakukan dirinya, sehingga mencegah anak bertindak kasar, tidak adil, dan bersikap memusuhi. 

5. Kebaikan hati 
Membantu anak untuk mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain. 

6. Toleransi 
Membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain, membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru, serta menghargai orang lain tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya, kepercayaan, kemampuan, atau orientasi seksual. 

7. Keadilan 
Menuntun anak agar memperlakukan orang lain dengan baik, tidak memihak, adil, mematuhi aturan, mau bergiliran dan berbagi, serta mendengar semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian apapun.
Sumber : www.parenting.co.id

Tips kali ini datang dari ahli nutrisi, Annabel Karmel, yang juga telah menerbitkan beberapa buku tentang anak dan makanan. Berikut sarannya tentang cara yang bisa dilakukan untuk mendorong anak makan sayuran:

1. Daripada membeli makanan cepat saji, cobalah membuat makanan cepat saji versi sehat sendiri. Gunakan kualitas bahan makanan yang baik, segar, dan alami. Misalnya, nugget ayam dicampur bayam, bakso ikan tuna dicampur wortel, dsb.

2. Ceritakan pada anak fakta-fakta menarik dan manfaat dari sayur dan buah yang Anda sajikan. Jangan sekadar memaksanya mengonsumsinya, tapi ceritakan bahwa wortel yang segar dan berwarna orange akan membuat matanya cemerlang dan terhindar memakai kacamata sampai tua. Anak pasti lebih tertarik untuk mencobanya.

3. Ketertarikan anak pada makanan bukan hanya dari rasanya yang lezat, tapi juga penampilannya yang menarik. Buatlah versi mini dari makanan biasa – bisa juga bentuk lucu yang disukainya - agar anak lebih berselera.

4. Anak-anak suka membuat makanannya sendiri. Jadi, cobalah bereksperimen membuat resep makanan bersamanya.

5. Sekali-kali, libatkan anak saat Anda memasak. Minta bantuannya untuk melakukan hal-hal mudah seperti mengocok telur atau memeras jeruk. Anak-anak akan lebih terstimulisasi untuk makan ketika ikut andil dalam proses pembuatannya

Anak Anda telah bekerja keras selama setahun demi mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, serta nilai yang baik. Ia telah bekerja keras mengembangkan dirinya, dan itu juga perlu apresiasi, misalnya dengan:

-Membuat galeri. Pajang hasil karya terbaik anak Anda di dinding yang bisa dilihat semua orang di rumah. Sertakan hasil ulangan dengan nilai-nilai yang bagus, hasil prakarya mereka, gambar dan penghargaan lain yang mereka peroleh selama satu tahun ajaran tersebut. Kerjakan saat anak tidur di malam sebelum hari terakhir masuk sekolah sehingga menjadi kejutan saat ia bangun di pagi harinya.

-Scrapbook berisi foto-foto anak dalam kegiatan sekolah, hasil karya anak, dan quotes atau komentar-komentar lucu tentang sekolah yang ia katakan. Jadikan tradisi di tiap akhir tahun ajaran dansaat anak menjadi orang dewasa yang sukses kelak, Anda punya kenang-kenangan indah berisi perjalanan anak menuntut ilmu.

-Goodie bag perlengkapan liburan. Anak mana yang tidak senang mendapat hadiah kenaikan kelas? Siapkan goodie bag atau keranjang berisi mainan, buku,camilan atau perlengkapan lain yang bisa ia gunakan untuk mengisi liburan sekolah. Berikan saat ia pulang dari hari terakhir masuk sekolah di tahun ajaran itu.
Sumber : parenting.co.id

Anak sulit beradaptasi dari prasekolah ke SD? Apa penyebabnya?

Tentu saja berbeda ketidaksesuaian sekolah pada anak di masa prasekolah dengan anak di masa sekolah dasar. Tujuan masing-masing sekolah, kan, berbeda. Tujuan prasekolah adalah memberi stimulasi yang sesuai usia anak.

Jadi, tujuannya bukan untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dan bukan juga untuk memberi materi pelajaran yang sifatnya formal. Sementara itu, tujuan SD alias Sekolah Dasar adalah memulai pelajaran yang sifatnya lebih formal, sebagai dasar pendidikan yang nantinya akan dilanjutkan ke SMP dan SMA.

Pada anak prasekolah, ketidakcocokan mungkin saja terjadi akibat ketidakmampuan anak mengikuti pelajaran. Misalnya, ia mempunyai kebutuhan khusus atau keterlambatan perkembangan. Pada anak SD, biasanya ketidakcocokan terjadi karena cara belajarnya sangat khusus. Misalnya, anak yang mengalami kesulitan membaca akan lebih pas di sekolah yang tidak menuntut anak untuk membaca dan  bisa melisankan tuntutan pelajarannya.
Sumber : parenting.co.id

Semarang. SMP IT Bina Amal tahun ini turut andil dalam kegiatan kepramukaan tingkat internasional. Salsabila Tatya Rizky Aulia siswi kelas 9 dari Sekolah Islam Terpadu yang berlokasi di kecamatan Gunung Pati ini menjadi salah satu dari tiga perwakilan Semarang (SMP Nasima dan SMA N 3 Semarang) yang akan berangkat guna mengikuti 23rd World Scout Jamboree atau Jambore Pramuka Sedunia ke 23 tahun 2015, di Kirara-Hama, Yamaguci, Jepang.
“Saya senang bisa menjadi perwakilan dari Jawa Tengah, pastinya akan menambah pengalaman dan teman-teman baru. Harapan saya bisa mengenalkan budaya Indonesia terutama keunikan yang hanya ada di Jawa Tengah ke seluruh Dunia”. Tutur Acha (panggilan akrab Salsabila Tatya) usai mengikuti acara penglepasan di kantor gubernur Jawa Tengah lantai dua. 

Penglepasan siswa-siswi terpilih dari Semarang dilakukan langsung oleh Gubernur Ganjar Pranowo bersamaan dengan 10 anak pilihan lainnya yang berasal dari seluruh wilayah Jawa Tengah pada hari ini, Kamis (23/7). Beliau berharap siswa-siswi terpilih ini “banyak bicara” serta aktif dalam menjadi duta negara terutama duta dari wilayah Jawa Tengah.


Acara yang mengusung tema “WA: a spirit of unity” yang memiliki arti harmoni, kesatuan atau kebersamaan ini akan berlangsung pada 28 Juli hingga 8 Agustus mendatang. Dengan mengirimkan 450 anggota kontingen, Indonesia akan mempertemukan mereka dengan para peserta dari 119 negara lainnya. Penglepasan oleh presiden Joko Widodo telah dijadwalkan dilaksanakan hari Jum’at (24/7) dan mereka akan langsung bertolak ke Jepang hari Sabtu (25/7).


Pada perkembangannya, ada warna tertentu yang identik dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya, pink. Ya, warna ini memang sangat erat kaitannya dengan anak perempuan. Seolah-olah hanya merekalah yang boleh mengenakan berbagai atribut berwarna pink. Misalnya, baju, aksesoris, sepatu, tas, dll.

Bagaimana dengan anak laki-laki? Ia harus mengenakan sesuatu yang berwarna gelap. Misalnya, biru, cokelat, dan hitam. Padahal, ini hanya ‘aturan’ yang dianut oleh masyarakat kita saja.

Lalu, apakah hal ini akan mempengaruhi masalah maskulinitas atau feminitasnya? Tidak. Jika anak laki-laki suka warna pink, ini tidak berarti ia pasti feminin. Biarkan saja ia menyukainya. Sementara itu, Anda mencoba mencari tahu seputar hal ini.

Bukan tak mungkin, ia senang warna tersebut karena orang yang paling disayanginya sangat menyukainya, yakni Anda, mamanya. Yang pasti, jangan melarang anak laki-laki menyukai warna pink. Bisa jadi ia akan terus menerus mencecar Anda dengan seabrek pertanyaan tentang hubungan antara warna pink dan perempuan.
Sumber : parenting.co.id

Bagaimana pun, pertemanan dan permusuhan merupakan variasi dari sosialisasi anak. Ia akan menampilkan kedua hal ini dengan variasi yang berbeda-beda. Variasi tersebut bisa berupa perbedaan perilaku, frekuensi, dan durasi permusuhan. Beberapa variasi perlu mendapat perhatian khusus dari orang tua, yakni perilaku agresif yang muncul ketika bermusuhan dengan teman (misalnya, mengucapkan kata-kata kasar, memukul, menendang, menggigit, mengucilkan seseorang, dan berbagai perilaku lain yang bertujuan untuk menyakiti orang lain), frekuensi permusuhan yang terlalu sering (seperti setiap hari atau 2 - 3 kali dalam seminggu bisa disebabkan anak sulit beradaptasi dengan lingkungan dan temannya atau conflict resolution anak kurang baik sehingga sering muncul pertengkaran akibat penyebab yang sangat remeh sekalipun), serta durasi permusuhan yang panjang (durasi tersebut bisa menunjukkan tingkat keparahan kerusakan sebuah pertemanan).

Permusuhan yang muncul pada usia ini juga bisa karena instabilitas hormon yang dialami anak. Ia masih menyesuaikan diri dengan perubahan fisik dan hormon yang membuatnya merasa tidak nyaman dan menjadi sensitif pada hal-hal yang terjadi di lingkungannya, termasuk pertemanan. Apa yang bisa dilakukan? Anda bisa mendiamkan permusuhan yang terjadi pada anak yang tidak berbahaya (tidak melibatkan perilaku agresif atau menyakiti salah satu dari kedua anak yang bermusuhan). Diharapkan ia mencoba-coba berbagai jalan keluar untuk kembali berteman dengan teman atau saudaranya. Selain itu, Anda bisa melakukan pembicaraan bersama dengan anak, yakni membantunya untuk mencari jalan keluar).

Jangan lupa, Anda harus bersikap adil, menjadi model yang baik (seperti berdiskusi atau mengajak lawan konflik berbicara dan bukan menampilkan perilaku agresif), dan  mengajarkan anak untuk berempati pada teman. Jika pertengkaran terus berlanjut, sebaiknya bawa anak ke psikolog agar diketahui alasan yang mendasari permusuhan yang dirasakan oleh anak.
Sumber : parenting.co.id

Umumnya, anak pemalu ketika bersekolah karena hanya bertemu dan bermain dengan orang-orang yang ada di rumah. Cara mengatasinya mudah, kok. Ajak dia bermain ke rumah tetangga, saudara, atau teman Anda. Selain itu, Anda bisa mengajaknya bermain dengan playground. Dengan cara ini, anak akan belajar bersosialisasi dengan anak atau orang lain. Sambil melakukan hal tersebut, perhatikan proses penyesuaian si kecil dengan lingkungan barunya. Sebenarnya, ia lebih nyaman di tempat baru yang ramai atau sepi? Jika si kecil rewel di tempat baru yang sepi, sering-seringlah membawanya ke tempat yang baru. Bagaimana pun, kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya dipengaruhi oleh faktor fisik atau sosialnya.

Anak mungkin, kok, berubah. Yang penting, orang tua dan pengasuhnya bukan pemalu. Jika Anda berdua adalah pemalu, besar kemungkinan si kecil ‘belajar’ juga menjadi pemalu. Jadi, bantulah anak untuk mengatasi rasa malu. Jangan sekali-kali mengejeknya, karena hal ini akan membuatnya semakin malu dan juga kehilangan rasa percaya dirinya.

Selain membantu anak, pujilah setiap hal yang berhasil dilakukannya. Misalnya, ia sudah berani bersalaman dengan orang lain atau berbicara dengan anak di sebelahnya saat bermain di playground. Lama kelamaan, ia akan piawai bergaul dan memiliki banyak teman.
Sumber : parenting.co.id

Sebenarnya, anak usia 7 tahun berada di masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa praremaja. Di usia ini, ia sudah meninggalkan TK, di mana ia baru saja belajar suatu pengalaman baru, yakni masuk sekolah. Pada saat bersamaan, anak harus menyesuaikan diri sebagai anak yang usianya lebih besar daripada sebelumnya. Tak mengherankan kalau perilakunya juga seolah berada di masa transisi tahapan perkembangan. Banyak anak usia 7 tahun yang sudah bisa berkonsentrasi lebih lama dan lebih sabar. Ini karena anak usia ini memiliki rentang perhatian yang jauh lebih panjang dan sudah lebih bisa memusatkan perhatian pada berbagai aktivitas.

Bagaimana dengan keterampilannya? Ia memiliki keterampilan kognitif (berpikir) dan motorik yang jauh lebih baik. Jadi, si kecil bisa lebih mudah melakukan berbagai tugas sehari-hari. Ini berarti anak tidak akan cepat frustrasi saat melakukan tugas sekolah, ekstrakurikuler, dll.

Nah, usia 7 tahun memang masa di mana perkembangan anak masih seputar bagaimana ia belajar mengendalikan hal-hal yang membuatnya frustrasi dan mengatur dirinya sendiri. Selain itu, si kecil masih tetap bersemangat untuk mengeksplorasi berbagai batasan yang ada sekaligus mencari identitas dirinya. Yang pasti, ia sudah tahu, kok, bedanya antara benar dan salah. Nah, sesekali orang tua akan menghadapi berbagai masalah anak. Di antaranya adalah ia senang membantah. Keterampilan berbahasanya sudah lebih ‘canggih’, sehingga ia tak ragu-ragu untuk mengerahkan seluruh kosa kata yang ada. Bukan hanya itu. Ia akan mengekspresikan seluruh pikiran yang ada. Masalah lainnya adalah anak mungkin akan coba-coba berbohong.

Sesekali, anak juga akan merasa frustrasi bila tidak bisa mencapai prestasi tertentu atau menyelesaikan tugasnya dengan baik. Anak usia 7 tahun memang cenderung jadi prefeksionis. Selain itu, mood –nya bisa berubah-ubah seiring dengan berkembangnya rasa percaya diri dan saat ia menghadapi tekanan dari peer. Ini normal, kok!
Sumber : parenting.co.id

Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting, menekankan pentingnya menguasai keterampilan dasar akademis yang tepat, sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. “Jika anak dipaksakan belajar dengan cara dan di waktu yang tidak tepat, bisa jadi ia belum siap, jadi cepat jenuh, tidak percaya diri, dan menjadi pribadi yang kaku.”

Ia mencontohkan metode belajar calistung (baca-tulis-hitung) di usia dini. “Belajar calistung di usia dini harusnya mengajarkan konsep, bukan cara menulis atau praktek berhitung. Misalnya, konsep letak, bentuk, ukuran, dan volume. Jadi, anak diajari kanan dan kiri, bentuk persegi atau lingkaran, besar dan kecil, serta banyak atau sedikit.”

Belajar keterampilan yang tepat di tahap perkembangan yang tepat akan membantu anak memupuk minat terhadap bidang akademis. Selain fisiknya yang lebih mendukung, ia juga akan memiliki modal kognitif yang membantunya lebih mudah menguasai keterampilan.

Apakah ada keterampilan lain yang dianggap penting untuk anak? World Health Organization (WHO) menyebutkan, ada 10 keterampilan hidup utama (core life skills) yang perlu dimiliki seseorang untuk mampu menjawab tantangan hidup sehari-hari, yaitu:
- Problem solving
- Critical thinking
- Effective sommunication
- Decision-making
- Creative thinking
- Interpersonal relationship
- Self-awareness building
- Empathy
- Coping with stress and emotions

Seluruh keterampilan hidup di atas saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Seorang anak yang memiliki self-awareness, self-esteem, dan self-confidence yang baik akan mampu menelaah kekuatan dan kelemahan pada dirinya.

Sehingga, ia akan mampu mengenali kesempatan yang terdapat di hadapannya, sekaligus menyiapkan dirinya untuk menghadapi ancaman dari luar. Pada akhirnya, anak bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul dalam lingkungan dan menemukan pemecahan masalah yang tepat. Jadi, kenali keterampilan yang dimiliki anak, lalu kembangkan secara optimal.

Perlu tidaknya bantuan profesional tergantung dari persepsi orang tua mengenai berat atau tidaknya masalah motivasi belajar pada anak.

Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting, bercerita, ada orang tua yang membawa anaknya bertemu psikolog karena dilaporkan kurang konsentrasi di kelas. Setelah melakukan asesmen, ia menemukan bahwa masalah si anak ternyata tidak serius.

Hanya ada kebutuhan belajar yang tidak terpenuhi. Di sisi lain, ada pula anak yang jelas-jelas memiliki masalah belajar yang lebih serius, tetapi tidak dibawa ke tenaga profesional terkait. “Persepsi orang tua berhubungan erat dengan pengetahuan. Orang tua harus rajin menambah pengetahuan mengenai anak. Misalnya dengan ikut seminar atau lokakarya.”

Ada dua pilihan tenaga profesional yang dapat dituju orang tua untuk membantu anak menemukan kembali motivasinya.

• Pedagog/ahli pendidikan: Seorang pedagog akan membantu untuk mengajarkan keterampilan dasar belajar pada anak. Misalnya, menulis, berhitung, dan membaca.

• Psikolog: Seorang psikolog akan berusaha mencari penyebab rendahnya minat anak dari sisi psikologis. Ia akan mencari tahu pengalaman yang kurang menyenangkan yang mungkin dialami anak. Psikolog juga akan memberi saran-saran yang harus dilaksanakan oleh orang tua dan guru, sebagai pendamping utama anak di rumah dan sekolah.

Sebenarnya, tersedia tes psikologis untuk mengetahui minat belajar anak pada saat ini hanya tersedia untuk remaja, saat minat sudah mulai mengkristal. Sedangkan untuk anak usia dini hingga sekolah, tidak perlu perangkat tes khusus karena pada usia tersebut minat anak masih mudah berubah. Jadi untuk meningkatkan minat belajar anak, Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting menyarankan orang tua untuk:
  • Melakukan kegiatan eksplorasi bersama anak-anak. Misalnya, berjalan-jalan ke museum, mengenalkan berbagai profesi yang ada di masyarakat, dan mengikutkan anak ke kegiatan ekstrakurikuler.
  • Tetap tenang. Masa depan anak tidak berakhir ketika nilainya turun. Bicarakan hal ini bersama anak dalam suasana santai dan menyenangkan.
  • Konsultasi pada guru kelas. Guru adalah orang yang paling tahu sikap belajar anak selama di sekolah. Diskusikan perilaku dan sikap belajar anak yang menjadi masalah untuk menemukan penyebabnya.
  • Introspeksi diri. Orang tua juga harus melakukan introspeksi diri. Apakah Anda sudah membantu anak menciptakan mindset belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan?
  • Hubungi profesional yang bisa membantu Anda apabila merasa tidak dapat menangani masalah anak secara mandiri.

Anak sudah tidur siang selama dua jam. Pukul delapan malam pun ia sudah berada di tempat tidur dan siap mendengarkan dongeng yang akan Anda bacakan sebelum tidur. Tetapi mengapa pagi ini ia tampak kelelahan dan mengantuk? Berkali-kali ia terlihat menguap dan tak bersemangat.

Tidur merupakan kebutuhan penting setiap orang, terutama anak-anak. Namun, tak jarang Mama seperti kesulitan untuk membuat anak mau tidur. Berbagai alasan dan jurus dikeluarkan agar ia bisa segera terlelap. Mungkin Anda (atau bahkan ibu Anda dulu!) sering menggunakan alasan bahwa anak yang tidak mau tidur siang akan sulit tumbuh tinggi.

Memang tak sepenuhnya hal tersebut salah, sih. Menurut dr. Bernie Endyarnie Medise, Sp.A(K), MPH, dari Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ada human growth hormone yang memang dikeluarkan saat anak tidur. Jika anak kurang tidur atau tidurnya tak berkualitas, maka proses tumbuh kembangnya terhambat.

Tidur tak hanya perkara menutup mata saja. Lama waktu tidur serta kualitasnya perlu diperhatikan. Aktivitas tidur dibagi dalam dua fase, yaitu Non-Rapid Eye Movement (NREM) alias tidur tenang dan Rapid Eye Movement. Anak dianggap tidur nyenyak atau deep sleep jika telah melalui semua fase dengan baik.

Mama perlu memperhatikan apakah gejala kurang tidur pada anak terjadi berulang-ulang. Misalnya ia selalu rewel dan tampak lelah saat dibangunkan di pagi harinya, saatnya Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mencari tahu apa penyebab anak kurang tidur. Dengan begitu, persoalan ini dapat diatasi dengan segera. Gangguan yang terlalu lama akan mempengaruhi pertumbuhan anak maupun prestasinya di sekolah.

Yang disebut dengan susu kedelai dan susu almond sebenarnya adalah sari yang diperoleh dari kedua jenis kacang tersebut. Teknik pembuatannya pun sama, yaitu dengan cara menghaluskan kacang yang sudah dicampur air, kemudian memeras sarinya.

Susu kedelai sudah lebih dulu dikenal di Indonesia, jauh sebelum susu almond yang muncul bersamaan dengan tren mengonsumsi raw food alias makanan mentah belakangan ini.

Meski demikian, kedua jenis susu ini sama-sama lezat rasanya dan sama-sama bisa dikonsumsi sebagai sumber protein alternatif dari susu sapi.

Manakah yang lebih baik?

Kedelai merupakan sumber protein yang paling unggul dibandingkan jenis kacang-kacangan lainnya, termasuk almond. Secara umum, kandungan protein di dalam kedelai bernilai setidaknya 2 kali lebih banyak dibandingkan kandungan protein di dalam almond.

Kedelai juga memiliki kandungan lemak dan kalori yang relatif  lebih tinggi dibandingkan almond. Karenanya, pastikan dulu kondisi kebutuhan nutrisi anak sebelum Anda memutuskan untuk memberi susu kedelai atau susu almond padanya.

Anak Anda telah bekerja keras selama setahun demi mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, serta nilai yang baik. Ia telah bekerja keras mengembangkan dirinya, dan itu juga perlu apresiasi, misalnya dengan:
  1. Membuat galeri. Pajang hasil karya terbaik anak Anda di dinding yang bisa dilihat semua orang di rumah. Sertakan hasil ulangan dengan nilai-nilai yang bagus, hasil prakarya mereka, gambar dan penghargaan lain yang mereka peroleh selama satu tahun ajaran tersebut. Kerjakan saat anak tidur di malam sebelum hari terakhir masuk sekolah sehingga menjadi kejutan saat ia bangun di pagi harinya.
  2. Scrapbook berisi foto-foto anak dalam kegiatan sekolah, hasil karya anak, dan quotes atau komentar-komentar lucu tentang sekolah yang ia katakan. Jadikan tradisi di tiap akhir tahun ajaran dansaat anak menjadi orang dewasa yang sukses kelak, Anda punya kenang-kenangan indah berisi perjalanan anak menuntut ilmu.
  3. Goodie bag perlengkapan liburan. Anak mana yang tidak senang mendapat hadiah kenaikan kelas? Siapkan goodie bag atau keranjang berisi mainan, buku,camilan atau perlengkapan lain yang bisa ia gunakan untuk mengisi liburan sekolah. Berikan saat ia pulang dari hari terakhir masuk sekolah di tahun ajaran itu.
Sumber : www.parenting.co.id

Anak tiba-tiba mengubah penampilannya, dari tomboi menjadi lebih feminin. Apakah ini pertanda ia memasuki masa pubertas dan menyukai seseorang?

Pada usia 6 - 11 tahun, hubungan pertemanan dan popularitas merupakan hal yang penting bagi anak. Ia mulai memahami sudut pandang orang lain dan  membandingkan kompetensi dirinya dibanding teman-temannya.

Pendapat teman menjadi semakin penting dibanding orang tua dan pada umumnya mereka akan berkelompok sesuai jenis kelamin masing-masing. Khusus pada sebagian besar anak perempuan, usia 9 - 11 tahun merupakan masa dimulainya perubahan tubuh karena pubertas.

Hal tersebut menyebabkan mereka lebih menyadari bentuk tubuh mereka. Kelompok pertemanan berjenis kelamin sama membantu anak mempelajari perilaku dan peran yang diharapkan sesuai dengan jenis kelaminnya. Khususnya dalam kasus ini, anak perempuan akan lebih populer jika berperilaku dan tampil dengan feminin, sesuai dengan stereotipe perempuan. Jadi, perubahan yang terjadi pada anak Anda merupakan hal yang wajar.

Pada usia ini, anak sudah mulai tidak suka bila digurui oleh orang tua dan lebih nyaman jika peraturan disusun bersama. Kalau memang ada kekhawatiran mengenai berpacaran, Anda bisa bertanya pada anak mengenai kegiatan-kegiatannya sehari-hari.

Usahakan komunikasi dilakukan 2 arah, tidak menggurui, tidak menilai, dan tidak menuduh agar anak merasa aman untuk menceritakan hal apa pun.

Bila anak tidak berpacaran (namun Anda masih khawatir!), Anda bisa mengenalkan pada anak tentang nilai-nilai dalam berpacaran atau tidak berpacaran sambil mengobrol santai, misalnya sambil menonton TV atau film, sehingga anak tidak merasa dituduh berpacaran padahal ia sudah mengatakan kalau ia tidak berpacaran.
Sumber : www.parenting.co.id

Setelah beberapa bulan anak belajar di sekolah, saatnya Anda menjalin hubungan dengan guru anak Anda.

Lakukan tips ini:
1. Jadilah orang tua kelas anak. Bangunlah hubungan yang lebih dekat dengan guru maka Anda dapat melihat apa yang terjadi di kelas tanpa harus bersusah payah. Orangtua kelas biasanya mengorganisasikan sukarelawan orangtua untuk pesta dan acara sekolah, membantu guru untuk membuat surat, ataupun dokumen foto dalam buku tahunan sekolah. Tanyakan guru apa yang benar-benar mereka perlukan tahun ini.

2. Koneksikan anak dengan guru. Banyak sekolah yang merencanakan pertemuan antara orang tua dan guru. Datang ke pertemuan tersebut merupakan prioritas untuk orang tua dan wali.

Ini merupakan kesempatan Anda untuk melihat apa yang terjadi dengan anak Anda dan untuk bersama-sama memajukan anak Anda. Tanyakan kepada guru Anda: “Apa yang dapat dilakukan di rumah untuk dapat melatih apa yang sudah mereka pelajari?” Susun pertanyaan yang dapat didiskusikan dalam pertemuan orang tua dan guru.

3. Kenali masalah anak di sekolah. Apakah anak Anda memiliki masalah di sekolahnya? Tanyakan gurunya tentang program bimbingan belajar untuk membantu pemahaman anak Anda tentang pelajarannya di sekolah.

Saat anak mengalami trauma terhadap suatu hal, mungkin beberapa orang tua akan bingung  memikirkan bagaimana cara untuk mengatasinya. Jangan khawatir, berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma yang dialami oleh anak.

1.Perbolehkan anak untuk mengekspresikan kesedihannya lewat permainan, seperti boneka atau koleksi robotnya.

Mungkin saja, tema yang menyebabkan trauma pada dirinya akan mengisi permainannya. Misalnya, hal yang menyebabkan anak trauma adalah kematian salah satu keluarga. Saat bermain mungkin anak akan menjadikan salah satu bonekanya mati.

Ini wajar saja sebagai bagian dari proses usaha menerima kematian. Dalam permainan itu, ia juga bisa diingatkan untuk memperhatikan dan menjalin hubungan lebih baik dengan mereka yang masih hidup. Dengan begitu, anak tak terus berduka.

2. Anak tak harus dibawa ke psikolog.

Anak yang mengalami trauma tak selalu harus dibawa ke psikolog. Namun, jika ia terus-menerus menunjukkan hal negatif berlebihan lebih dari 2 minggu berturut-turut tanpa memperlihatkan perubahan ke arah positif ada baiknya dipertimbangkan mengajaknya berkonsultasi ke psikolog anak.

Selain itu, Mama bisa kembali mengingatkannya bahwa orang yang telah meninggal tak akan kembali bermain bersamanya. Mama juga bisa memberi contoh ketika menemukan ada binatang atau tumbuhan yang mati.

Jelaskan pula bahwa kita biasanya menyebut binatang atau tumbuhan mati, sementara pada manusia kita sebut meninggal. Itu artinya sama, kok. Yang penting,  anak mampu memahami kematian lewat apa yang terjadi pada binatang dan tumbuhan.

Agar anak tidak mendapatkan efek negatif dari menonton TV dan video games, ini rambu-rambunya

1. Buat pembatasan waktu, yakni:
- Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh menonton atau main games yang ada di layar, termasuk iPad, tablet, dll.

- Usia 2 - 6 tahun: Diperbolehkan sampai 1 jam, tapi dipecah-pecah. Misalnya, 15 - 30 menit menonton atau main, lalu istirahat. Setelah itu, baru main lagi.

- Di atas usia itu: Maksimal 3 jam. Sebaiknya, dipecah-pecah sebab anak butuh melakukan hal lain dan beraktivitas fisik.

2. Pembatasan konten. Larang anak menonton tayangan mengandung unsur HOROR, SEKSUAL dan PORNOGRAFI. Pilih tayangan dan video games yang bermanfaat dan mendidik bagi anak.

3. Jebakan kekerasan selalu ada, meski dalam tayangan film kartun. Jebakan ini bisa berupa perilaku atau kata-kata yang tak sopan. Bisa juga, sesuatu yang belum dimengerti anak karena usianya. Jadi, pendampingan orang tua sangat diperlukan.

4. Bagaimana jika mama dan papa bekerja? Tetap sempatkan waktu untuk sesekali menonton. Atau, Mama merekam film kesukaan anak, lalu melihatnya dulu. Jika ada unsur kekerasan, laranglah menonton. Cobalah menggali topik-topik kekerasan yang umum dialami dan akibatnya di dunia nyata.

5. Berikan kegiatan dan fasilitas pengalih untuk mengalirkan energi anak. Mungkin saja, anak belum tahu apa yang bisa dilakukannya. Fasilitas ini tak harus barang, tapi bisa berupa taman, sepeda, atau teman untuk bermain. 

6. Jika anak sudah terlanjur terpapar? Mau tak mau orang tua harus berupaya mengembalikan anak kembali ke track-nya. Secara konsisten, tegaskan pada anak bahwa perilaku dia tidak benar. Selanjutnya, dampingi secara intensif.

Saat menonton, tanyakan: Menurut dia, apakah perilaku itu pantas dilakukan atau tidak? Apa akibatnya? Dan seterusnya. Diskusi semacam ini bisa mendewasakan anak sekaligus mendengar pandangannya, yang kadang-kadang bisa di luar dugaan. Cara ini untuk anak yang usianya lebih besar, ya. 

7. Untuk pembatasan menonton TV dan main video games, terutama untuk usia anak yang lebih besar, bisa juga dengan cara menunjukkan hak dan kewajibannya. Misalnya, ia boleh main games setelah belajar, membuat PR, dan membereskan barang-barangnya untuk sekolah.

Jika sudah beres, buat perjanjian hingga jam berapa ia boleh bermain. Tegas, konsisten, tapi tetap ramah, ya. Aturan pembatasan ini jangan mundur atau batal hanya karena rengekan anak.

8. Kenalkan anak pada aktivitas yang real, seperti berenang, bermain bola, sepeda, bulutangkis, berenang, permainan tradisional (petak umpet, gobak sodor, dll), ballet, dll.





Gunung pati. Para peserta didik SMP IT Bina Amal akhirnya memulai tahun ajaran baru 2015/2016 pada tanggal 29/6 dengan diadakannya apel pembukaan MOS 2015 senin pagi. Apel yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah SMP IT Bina Amal, M. Bajuri, S.Pd. itu sekaligus membuka rangkaian acara MOS Pendidikan Karakter yang akan berlangsung selama 3 hari, dengan tabuhan rebana yang disambut tepuk tangan meriah para peserta apel.

“Hal yang wajib dipersiapkan peserta didik dalam kehidupan berasrama adalah kedisiplinan”, tegas Bapak Kepala sekolah dalam Amanah Apel. Selain itu Bapak Kepala Sekolah juga menghimbau agar anak-anak memperhatikan materi yang disampaikan oleh bapak/ ibu guru nantinya. Adapun alasan diadakannya MOS pendidikan Karakter ini disamping untuk orientasi menanamkan dan memerbaiki kematangan akhlak juga untuk mengingatkan kembali (re-orientasi), karena kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh peserta didik baru, akan tetapi seluruh siswa-siswi SMP IT Bina Amal Kelas 7, 8, dan 9.


Khusus untuk peserta didik baru, kegiatan orientasi ini selain dilaksanakan di sekolah, juga terdapat beberapa kegiatan penunjang pengenalan lingkungan baru yang dilaksanakan di asrama, mulai dari ta’aruf guru, wali asrama, kakak kelas, pegawai, maupun pengenalan asrama itu sendiri. Nantinya akan dipilih sepuluh peserta teraktif yang melibatkan para pengurus osis SMP IT Bina Amal.
Tak hanya mempersiapkan MOS pendidikan Karakter 2015, SMP IT Bina Amal juga menyambut tahun ajaran baru ini dengan Kegiatan Belajar Mengajar untuk Kelas 8 dan 9, dan Matrikulasi untuk kelas 7 pada tanggal 2/7 - 3/7.


Pada tanggal 4/7 pukul 07.30 pagi, siswa siswi kelas 7 melaksanakan postest. Adapun kelas 8 dan 9 mempersiapkan kegiatan demo ekspo yang mana memiliki tujuan untuk memperkenalkan ekstra kurikuler – ekstra kurikuler di SMP IT Bina Amal kepada peserta didik baru. Demo Ekspo berlangsung meriah. Siswa-siswi kelas 8 dan 9 ramai-ramai menawarkan dan melakukan promosi ekstrakurikuler yang mereka ikuti masing-masing kepada adik-adik mereka kelas 7 selepas melaksanakan postest.


“Demo ekspo ini adalah kegiatan yang sangat menarik, seru, rame. Tapi sayang, ada beberapa ekstrakurikuler yang kurang meriah. Usul saya, untuk tahun selanjutnya lebih kreatif lagi dalam melakukan promosi”. Tutur Alizza Afra Afifah, siswi baru yang mengaku tertarik untuk mengikuti ektra rebana, teater, robotik, kaligrafi, dan paduan suara.
Untuk selanjutnya SMP IT Bina Amal juga tengah mempersiapkan kegiatan Gebyar Ramadhan 1436 H, yang dilaksanakan 6/7 sampai dengan 11/7 2015.

Seiring dengan bertambahnya usia, anak semakin mampu mengikuti petunjuk dan senang sekali menunjukkan sikap yang sopan. Di sekolah, misalnya, ia akan selalu diminta untuk diam, mengantre, dan mengacungkan jari saat ditanya guru. Berikut cara untuk membantu anak bersikap sopan:

1. Bicarakan tentang harapan.

Keterampilan berbahasa anak memang terus berkembang, sehingga Anda bisa bertanya padanya tentang bagaimana seharusnya kita menjaga sopan santun. Beritahu apa harapan Anda, dan dengarkan apa yang sulit dia lakukan.

Bila ia tidak bisa duduk diam saat anggota keluarga lain menghabiskan makan malam, biarkan dia meninggalkan meja makan untuk bergerak ke sana sini. Hanya saja, ia harus berada di dalam jangkauan pandangan Anda. (Juga, anak sering mengikuti aturan yang mereka pikir diciptakannya, sehingga minta dia untuk mengatakan aturan sopan santun apa saja yang akan dipikirkannya.)

2. Jaga batasan-batasan.

Mungkin Anda tergoda untuk mengatakan pada anak bahwa Anda sedih ketika ia mengatakan baju Anda jelek. Meski begitu, tetap berusahalah membuka diskusi tentang apa yang bisa dan tidak bisa diterima.

Cara yang lebih baik untuk mengatasinya adalah mengatakan, “Tidak sopan untuk berbicara dengan Mama seperti itu.” Mengajarkan anak sopan santun merupakan proses yang berlangsung terus menerus. Cobalah untuk bersabar dan tetap yakin bahwa anak bisa melakukannya di usia ini.

Waktu dan kesabaran Anda akan terbayar, kok, setiap kali ia mengatakan, “Tolong…..” atau menggunakan serbet saat makan (tanpa Anda suruh!).
Sumber : parenting.com

Sebagai orang tua kita akan prihatin dengan kondisi masyarakat. Karena bagaimanapun anak akan berinteraksi dengan orang lain yang berbeda latar belakang. Kondisi ini bisa membawa dampak positif maupun negatif bagi perkembangan anak.

Bagaimanapun kita tidak akan mengekang anak agar dirumah saja. Membatasi pertemanan di lingkunggannya agar anak tidak salah jalan. Ini akan memicu anak akan minder, malu bahkan memberontak.

Ketakutan- ketakutan yang berkecamuk di hati orang tua sangatlah wajar. Cara menanganinya yaitu bentengin anak kita dengan agama. Agama menjadi penghalang untuk anak untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang.

Bina Amal mendidik siswanya agar siap menghadapi tantangan ini. Sesungguhnya Islam memerlukan generasi yang berpendidikan dengan akhlak yang baik. Bisa jadi di lingkungan sekolah terjaga, tetapi anak terpengaruh oleh pertemanan di lingkungan rumahnya atau tontonan acara tv.

Disinilah letak peran orangtua untuk mengontrol. Mengontrol bukan berarti mengikat. Kerjasama guru dan orang tua dapat menjaga generasi muda Indonesia untuk tetap di koridor sesuai ajaran agama Islam.

Ingat bagaimana Anda ketika masih di kelas 1 SD? Dan ternyata, Anda mungkin saja tidak jauh berbeda pada saat ini. Menurut penelitian yang dilakukan di University of California, ciri-ciri kepribadian yang ditunjukkan pada saat Anda berada di kelas 1 tidak akan terlalu berubah.

Penelitian membandingkan evaluasi guru terhadap murid-muridnya dari tahun 1960 hingga wawancara via video yang dilakukan 40 tahun kemudian dengan 144 topik yang sama. Penelitian meliputi apakah anak suka bicara, bagaimana kemampuannya beradaptasi, apakah ia impulsif atau mengikuti kata hatinya, dan apakah ia termasuk anak yang rendah hatiatau sombong.

Hasilnya? Penelitian menunjukkan, anak yang senang bicara cenderung menunjukkan minat pada masalah intelektual, berbicara secara fasih, mencoba mengendalikan situasi, dan menunjukkan kecerdasan yang tinggi saat dewasa.

Anak yang keterampilan berbicaranya rendah akan menjadi orang dewasa yang sering mencari nasihat, menyerah ketika menghadapi berbagai hambatan, dan agak kaku saat bersosialisasi dengan orang lain. Lalu, anak yang mudah beradaptasi, sebagai orang dewasa setengah baya nantinya akan berperilaku ceria, fasih berbicara, dan menunjukkan minat pada masalah intelektual.

Mereka yang kemampuan beradaptasinya rendah akan menjadi orang dewasa yang akan berbicara berbagai hal negatif tentang dirinya, mencari nasihat, dan kurang pandai bersosialisasi.

Bagaimana dengan anak yang impulsif? Mereka akan vokal, memiliki banyak minat dan sedang berbicara saat dewasa. Sebaliknya, anak yang kurang impulsif cenderung takut atau malu-malu, menjaga jarak dengan orang lain, dan merasa tidak aman saat dewasa.

Nah, anak yang rendah hati cenderung menunjukkan rasa bersalah, mencari pembenaran, mengatakan hal negatif  tentang dirinya, dan menunjukkan rasa tidak aman saat dewasa. Sementara mereka yang agak sombong, cenderung vokal, menunjukkan minat terhadap masalah intelektual, dan rendah saat dewasa.

Setiap orangtua tentunya menginginkan kelak anaknya bisa menjadi seorang pemimpin, tak terkecuali kita. Pada suatu waktu, kita pasti penah berkata dalam hati, bahwa kita berharap suatu hari nanti anak kita kelak akan menjadi seseorang yang berada digaris depan dan membawa perubahan yang positif. Apalagi belakangan kita melihat begitu banyak pemimpin negeri ini yang tersandung berbagai kasus.

Fenomena seperti ini nampaknya semakin mempertegas anggapan yang menyebut bahwa negara kita Indonesia ini tengah mengalami krisis kepemimpinan. Tak bisa dipungkiri mencari dan menemukan sosok pemimpin yang baik bukanlah sebuah perkara yang mudah. Untuk itulah mendidik, menerapkan dan membangun sikap kepemimpinan yang baik, jujur dan amanah haruslah dibangun sejak dini. Tidak bisa tidak, hal ini haruslah dilakukan oleh orangtua sebagai kerabat terdekat untuk anak. Pada dasarnya setiap anak, baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk itulah orangtua sedapat mungkin harus bisa mempersiapkan untuk mendukung anak agar tumbuh menjadi pemimpin yang baik.
Nah, berikut adalah beberapa cara membangun sikap kepemimpinan pada anak.

1. Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Agar anak berani tampil dan menunjukan apa yang 'dimilikinya', maka membangun rasa percaya dirinya adalah hal penting yang harus anda lakukan. Ketika mengkritik ana, hindari kata-kata atau tingkah laku yang menjatuhkan harga diri anak. Misal ketika si anak terlalu banyak makan, maka hindari memberikan peringatan "Awas nanti gemuk!", lebih baik berikan nasihat dengan berkata "Kamu nati sulit berlari".

2. Tanamkan Kejujuran

Kejujuran merupakan benih utama untuk mendidik seseorang agar manjadi pemimpin yang baik. Oleh karena itu penting sekali menanamkan kejujuran kepada anak sejak dini, tanamkan kejujuran dalamsetiap aspek kehidupan dan perkembangan anak. Mengajarkan anak untuk selalu jujur mungkin akan lebih mudah jika dimulai dari diri orangtua dengan memberikan contoh atau menjadi teladan.

3. Ajarkan Akan Toleransi

Seorang pemimpin yang baik sejatinya adalah pemimpin yang dapat menerima dengan lapang dada setiap pendapat dan keputusan mesk berlainan dengan apa yang diharapkannya. Diusia anak, mungkin mereka masih tumbuh dengan emosi dan egonya masing-masing, untuk itu, mengajarkan dan mendidiknya sikap toleransi sejak dini akan sangat penting. Bantu anak menghargai perbedaan yang ada sehingga mereka akan lebih bika untuk menghargai dan enghadapi setiap percedaan.

4. Ajarkan Anak Untuk Berani Beropini

Untuk dapat menjadi seorang pemimpin, seorang anak harus diajarkan untuk dapat mengemukakan pendapat atau opiniya. Selain itu, ajarkan juga anak untuk dapat bertoleransi dan menerima secara lapang dada jika pendapat yang disampaikannya tidak dapat diterima oleh orang lain. Mengajarkan anak untuk dapat mengemukakan pendapat bisa dilakukan dengan memberikan kebebasan bagi anak untuk selalu terbuka dan menyatakan alasan dari setiap tindakannya. Dengan begini mereka akan berlajar untuk berani berpendapat.

Demikian beberapa cara membangun sikap kepemimpinan pada anak. Orangtua adalah pendidik yang tak tersiapkan. Tidak ada pendidikan atau sekolah untuk menjadi orang tua. Untuk itu, membangun karakter baik pada anak akan lebih baik jika karakter baik tersebut sudah terlebih dulu ada pada diri orangtua. Sebab anak-anak cenderung akan meniru dan mencontoh perlikau orangtuanya.

Sumber : Bidanku.com

Berdasarkan pemaparan www.parenting.co.id, Pertumbuhan konten negatif di internet sangat tinggi. Tiap menit, ada 30.000 halaman pornografi baru yang muncul! Menurut Donny Budi Utoyo, Direktur Eksekutif Indonesian ICT Partnership Association (ICT Watch), bahaya pornografi yang mengintai dunia digital adalah puncak gunung es yang perlu diwaspadai para orang tua. Tak sedikit konten pornografi itu muncul secara tidak sengaja.

Lalu, ada ancaman pedofilia online. Menurut Donny, ada modus yang disebut sexual online grooming, yakni ‘pemangsa’ yang mengajak berteman dengan anak lewat media sosial, sebelum mulai beraksi meminta foto-foto anak.

Terkait isu privasi, studi yang dilakukan Kominfo dan UNICEF pada tahun 2014 menemukan, banyak anak dan remaja di Indonesia yang memberi informasi pribadi, seperti alamat rumah, nomor telepon, atau alamat sekolah. Masalah privasi ini berkaitan dengan keamanan anak dari kejahatan target penculikan. 

Lalu, ada ancaman cyberbullying. Tahun 2014 lalu, seorang gadis usia remaja di India melakukan bunuh diri setelah mengalami cyberbullying yang dilakukan oleh temannya di Facebook. Survei yang dilakukan situs nobullying.com terhadap 10 ribu anak dan remaja mengungkap, 7 dari 10 anak dan remaja menjadi korban cyberbullying.

Kesimpulannya, orang tua tetap memperhatikan anaknya terutama yang masih duduk di Sekolah Dasar sampai Menengah Atas. Mengontrol untuk mencegah dan melindungi anak kita.

Masalah gangguan belajar kerapkali dijumpai pada anak-anak. Masalah ini bisa timbul dimanapun baik disekolah maupun diluar sekolah. Anak yang mengalami gangguan belajar, biasanya akan cenderung mengalami gangguan pemusatan perhatian atau konsentrasi, gangguan membaca, menulis, berhitung dan lain sebagainya. Namun satu hal yang perlu kita ingat dengan baik bahwa anak yang mengalami gangguan belajar bukanlah dicirikan sebagai gangguan penyakit, akan tetapi mereka hanya mengalami masalah pada proses pembelajarannya.

Dampak yang dialami oleh anak yang mengalami gangguan belajar, bukan hanya terjadi pada proses tumbuh kembangnya, akan tetapi juga berdampak pada sosilasasi dan interaksi si anak dengan lingkungannya. Kondisi keharmonisan dalam keluarga terkadang juga dapat terganggu. Perselisihan dan saling menyalahkan antara kedua orang tua, merasa frustasi, kecewa, putus asa, marah atau bahkan menolak kejadian yang menimpa mereka.
Nah, untuk mengenal lebih jelas mengenai jenis-jenis gangguan belajar yang mungkin dapat terjadi pada anak, maka simak penjelasan dibawah ini

1.    Expresive Language Disorder

Atau yang disebut dengan gangguan berbicara muncul ketika seorang anak harus melakukan komunikasi verbal dan bahkan bahasa isyarat. Pada kondisi seperti ini, perilakuk atau kemunduran berbahasa anak tidak mencerminkan nilai mereka saat mereka melakukan kemampuan menulis yang normal. Pada anak yang mengalami gangguan berbicara mereka akan menunjukan gejala seperti diantanya keterlambatan berbicara, sulit menghafal dan mengingat kata yang baru, minim kosa kata dalam berbicara, seringnya melakukan kesalahan dalam mengucap kata dan kalimat, sulit berbicara lancar dengan orang lain, hanya dapat menyusun kalimat yang sederhana serta kemampuan bicara yang lebih laban dibandingkan anak dnegan usianya. Seorang ahli menjelaskan kondisi keterbatasan ini berkaitan dengan sistem syaraf dan juga dapat disebabkan oleh kondisi medis akibat si anak mengalami trauma atau mengalami benturan dibagian kepala.

2.    Diseleksia

Diseleksia merupakan gangguan membaca yakni sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada anak yang disebabkan oleh kesulitan melakukan aktivitas membaca dan menulis. Akan tetapi pada kondisi ini anak tidak mengalami gangguan atau keterbatasan aspek lainnya. Diseleksia dapat terjadi akibat adanya kondisi dari biokimia atau juga bisa dipicu sebagai faktor keturunan yang diwariskan oleh orang tuanya. Secara fisik para penderita diseleksia tidak menunjukan keluhan atau tanda-tandanya. Penderita diseleksia tidak hanya terbatas pada kesulitan membaca, menulis serta menyusun kata dan kalimat secara terbalik tetapi juga dalam berbabagai macam urutan, baik tulisan atau kalimat yang dibuat urutan menjadi terbalik kanan ke kiri dan bentuk lain-lain. Sehingga para penderita diseleksia kerap kali dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal.

3.    Mathematics Disorder

Gangguan yang juga menyerang sistem syaraf ini dicirikan dengan ketidakmampuan seorang anak untuk menghitung, penempatan angka yang sering terbolak-balik, pusing dan sering marah ketika mengerjakan soal matematika atau pelajaran lain yang berkaitan dengan perhitungan. Selain itu, penderita mathematic disorder cenderung membutuhkan penjelasan perhitungan berulang-ulang agar mereka dapt memahami apa yang mereka kerjakan. Namun demikian, anak-anak tetap dapat dikenalkan dengan pelajaran berhitung meski akan mengalami adaptasi dan memahami materi dengan waktu yang lebih lama.

Itulah dia beberapa jenis gangguan belajar yang mungkin terjadi pada anak. Dengan mengetahui beberapa jenis gangguan diatas, orangtua diharapkan mampu mengenali jika salah satu gejalanya terlihat pada anak, dan segeralah bawa anak untuk mengkuti terapi, agar keterbatasan mereka segera bisa diatasi.

Sumber : Bidanku.com

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget