November 2015

Masalah body image umum dibicarakan di kalangan anak perempuan praremaja. Sementara itu, anak laki-laki sebayanya merasa stres tentang bagaimana mereka tampil juga, sih (meski mereka lebih sering merasa khawatir kalau menjadi gemuk dan tidak terlalu pusing dengan ‘urusan’ menguruskan badan). Anda memang tidak bisa melindungi anak dari paparan image wanita yang terlalu kurus di TV dan media lainnya sehingga terpiculah pertanyaan “Aku gemuk, ya, Ma?” Berikut ini berbagai hal yang bisa dilakukan jika anak mulai merasa khawatir dengan tubuhnya:

1. Cari tahu masalahnya. Kadangkala anak perempuan mengatakan bahwa mereka tidak menyukai tubuhnya karena merasa cemas dengan perubahan yang terjadi saat pubertas. Dengan mengatakan, “Apa yang Anda tidak disukai tentang tubuh kamu?” atau “Ohh.. yaaa? Kenapa bisa begitu?”, Anda bisa mendapat inti permasalahan yang sedang dialami dan membantunya menjadi lebih percaya diri.

2. Jangan sepelekan kecemasannya. Ia akan merasa kalau Anda tidak mendengarkannya bila Anda hanya bilang, “Tapi, kamu, kan, tidak gemuk!” Dan, jika alasannya tidak masuk akal sekalipun, biarkan ia menceritakan segala sesuatunya, dan katakan padanya mengapa Anda merasa lebih baik ia menerima dirinya apa adanya saja.

3. Tekankan pentingnya arti kesehatan, dan bukan masalah berat badan. Bila anak merasa tidak puas dengan berbicara dengan Anda atau mengatakan kalau ia mau diet, tawarkan dia untuk berjalan cepat atau melakukan inline skating. Jangan sekali-kali menyebut soal timbangan atau lainnya. Katakan padanya, ini bukan soal  dia harus lebih kurus, namun itu merupakan cara terbaik untuk merawat tubuhnya.

4. Jaga perkataan Anda. Anda mungkin tidak akan mengatakan bahwa ia harus menguruskan badan, tapi Anda sendiri selalu merasa kegemukan or ingin memakai baju yang berukuran lebih kecil. Bagaimana pun, anak akan mendengarkan apa yang Anda katakan atau keluhkan. Ingat, Anda merupakan role model yang paling berpengaruh baginya –dan yakinkan dia kalau tujuan Anda memberitahunya benar, kok. Dan, tak perlu merasa terlalu stres dengan kelebihan berat badannya.
Sumber : parenting.co.id

Sebenarnya, ada perbedaan yang sangat signifikan antara menjadi pemimpin dan bossy. Berikut trik untuk menyiasatinya anak yang keras kepala:

1. Biarkan dia didengar. Kadang kala, hanya dengan mendengarkan anak saja, hal ini sudah cukup membantu. Dan, anak yang keras kepala sebenarnya memiliki kecenderungan yang kuat terhadap sesuatu. Jadi, biarkan anak mengatakan apa yang diinginkan. Jadi, lebih mudah bagi Anda berdua untuk +menentukan apa yang bisa dilakukan bersama.

2. Buka komunikasi. Sering kali, anak hanya ingin didengarkan. Dengan mendengarkan, Anda bisa tahu kalau argumen anak pantas dihargai. Jadi, pertimbangkan apa yang dikatakan anak.

3. Ajarkan anak untuk memberi dan mengambil. Mengatakan pada anak untuk selalu menjadi anak yang ‘baik’, bisa membuatnya menjadi pemberontak. Sebaliknya, anak perlu mengerti bahwa ia harus memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Dan, menjadi anak yang penuntut berisiko tidak disukai siapa pun. Bila anak menolak berbagi mainannya, misalnya, katakan kalau ia melakukan hal tersebut, temannya juga akan melakukan hal yang sama. Namun, bila mereka saling bergantian memainkan setiap mainan, mereka bisa bermain dengan kedua mainan tersebut.

4. Beri contoh. Sementara Anda selalu berpikir bahwa anak Anda sering tidak masuk akal dalam keluarga, pepatah ‘apel jatuhnya tidak jauh dari pohon’ itu benar adanya. Mungkin saja, keras kepala bersifat genetik—atau anak hanya ingin memberitahu sesuatu pada Anda. Jadi, cobalah untuk mengendalikan si keras kepala Anda.
Sumber : parenting.co.id

Sebenarnya, ada perbedaan yang sangat signifikan antara menjadi pemimpin dan bossy. Berikut trik untuk menyiasatinya anak yang keras kepala:

1. Biarkan dia didengar. Kadang kala, hanya dengan mendengarkan anak saja, hal ini sudah cukup membantu. Dan, anak yang keras kepala sebenarnya memiliki kecenderungan yang kuat terhadap sesuatu. Jadi, biarkan anak mengatakan apa yang diinginkan. Jadi, lebih mudah bagi Anda berdua untuk +menentukan apa yang bisa dilakukan bersama.

2. Buka komunikasi. Sering kali, anak hanya ingin didengarkan. Dengan mendengarkan, Anda bisa tahu kalau argumen anak pantas dihargai. Jadi, pertimbangkan apa yang dikatakan anak.

3. Ajarkan anak untuk memberi dan mengambil. Mengatakan pada anak untuk selalu menjadi anak yang ‘baik’, bisa membuatnya menjadi pemberontak. Sebaliknya, anak perlu mengerti bahwa ia harus memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Dan, menjadi anak yang penuntut berisiko tidak disukai siapa pun. Bila anak menolak berbagi mainannya, misalnya, katakan kalau ia melakukan hal tersebut, temannya juga akan melakukan hal yang sama. Namun, bila mereka saling bergantian memainkan setiap mainan, mereka bisa bermain dengan kedua mainan tersebut.
4. Beri contoh. Sementara Anda selalu berpikir bahwa anak Anda sering tidak masuk akal dalam keluarga, pepatah ‘apel jatuhnya tidak jauh dari pohon’ itu benar adanya. Mungkin saja, keras kepala bersifat genetik—atau anak hanya ingin memberitahu sesuatu pada Anda. Jadi, cobalah untuk mengendalikan si keras kepala Anda. 
Sumber : parenting.co.id

Bapak Ibu guruku...
Kuberikan rasa hormatku setinggi-tingginya
Engkaulah yang telah mengajari kami

Sepenggal bait puisi yang dibacakan siswi Bina Amal ini membuat hati para guru bergetar. Untaian kata yang tulus diutarakan untuk memperingati hari guru pada 25 November.

Bukan sekedar kata-kata, tetapi inilah kado terindah dari siswa untuk guru Bina Amal. Hubungan tidak hanya sebatas guru siswa tetapi sebagai orangtua dan anak.

Tidak hanya puisi, siswa juga memberikan surat untuk semua guru. Surat yang mewakili perasaan siswa.
Inilah cinta yang lahir dari ketulusan... Terimakasih anakku...

Dibalik kesuksesan siswa salah saatnya adalah guru. Guru profesional menjadikan teladan bagi guru lainnya dan siswa. Guru adalah Pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi.

Bagaimanapun guru adalah digugu lan ditiru. Menjadit contoh bagi siswa. Sudah selayaknyalah guru tak sekedar menjadi penjembatan materi materi sekolahan. 

Bina Amal mendorong para guru untuk profesional. Oleh karena itu selama beberapa hari diadakan lomba guru dengan berbagai kriteria penilaian. Harapannya ini memacu semangat guru untuk menjadi lebih baik.


Tanggal 25 November adalah hari istimewa. Karena pada tanggal tersebut diperingati hari guru nasional. Ini hanya salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan kepada guru yang telah berjasa mendidik generasi muda sebagai insan cendekiawan.

Guru yang lebih dikenal sebagai pahlawan tanpa jasa tidak pamrih atas pengorbanannya. Tidak mengenal balas budi tetapi  mencintai serta mengantarkan muridnya pada kesuksesan.

Refleksi di hari guru yaitu kesejahteraan guru yang kurang diperhatikan, belum meratanya pendidikan di Indonesia dan masih banyak polemik lainnya. Harapannya di hari guru ini bukan hanya seremonial yang mengharu biru tetapi sebagai tonggak kebangkitan pendidikan Indonesia.

Bina Amal melaksanakan upacara pada hari Rabu, 25 November 2015 yang diikuti oleh siswa maaupun guru serta pegawai sekolah. Selamat Hari Guru....

Menonton tayangan berita, seperti berita kriminal, pengeboman, kecelakaan lalu lintas, pesawat terbang jatuh, bencana alam, peperangan, tawuran, dan topik mengguncangkan lain, bisa menjadi hal menakutkan bagi anak-anak. Tapi sebagai orang tua, Mama dan Papa bisa meredam efek negatif tayangan berita tersebut, dan membantu anak memahami kejadian terkini dengan benar.  Tayangan berita di media massa memang bisa menjadi sarana edukasi bagi anak, membuat dia mengenal belahan dunia lain, berbagai kejadian, gambaran situasi serta kondisi yang mungkin berbeda dengan yang ada di sekitarnya. Sayangnya, media seringkali hanya melaporkan hal yang buruk.

Padahal, anak-anak rentan meniru perilaku yang didengar, dilihat, serta diberitakan di tayangan berita. Paparan berulang secara terus-menerus terhadap tindak kekerasan pun bisa membuat anak mengalami ketakutan, bahkan trauma, yang pada anak-anak tertentu, malah bisa membuat mereka tumbuh menjadi lebih agresif dan kasar. Oleh sebab itu, Irma Gustiana A.,MPsi, psikolog anak dan keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan ibu dari dua anak, menyarankan Mama dan Papa mewaspadai dan membatasi tayangan berita yang dikonsumsi anak. Pertimbangkan umur, tingkat perkembangan, pengalaman hidup serta “kerentanan” anak dalam menentukan jenis pemberitaan yang boleh dilihat anak, serta seberapa banyak. Jangan biarkan anak sendirian di depan televisi, terutama saat menonton tayangan berita.
Sumber : parenting.co.id

Anak susah tidur malam, atau tidurnya kerap gelisah dan tidak nyenyak? Berikan makanan yang penuh dengan nutrisi ini saat anak susah tidur :

1. Ikan. Salmon dan tuna kaya vitamin B6 dan asam lemak omega-3 yang membantu produksi hormon melatonin untuk membuat tidur anak jadi lebih nyenyak. Kedua nutrisi juga bisa didapat dari kacang-kacangan, avokad, biji-bijian, dan minyak sayur.

2. Daging. Mama dapat memasukkan hidangan berprotein tinggi dengan kandungan zinc, seperti daging, pada menu makan malam anak. Protein dan zinc membantu anak tidur nyenyak karena dapat menstabilkan kadar gula darah dan mencegah mereka terbangun di tengah tidur.

3. Teh. Walau dapat membuat tubuh menjadi lebih segar dan berenergi, teh di sisi lain juga bisa membuat tidur nyenyak. Kandungan theanine membantu menciptakan tidur berkualitas dan optimal.

4. Pisang. Kaya akan kandungan magnesium dan potasium yang membantu merilekskan otot tubuh. Juga bisa menyeimbangkan hormon di otak sehingga membuat anak tidur nyenyak dan berkualias.

5. Produk susu. Kebiasaan mengonsumsi susu sebelum tidur juga dapat meningkatkan kualitas tidur, karena susu mengandung kalsium yang akan membantu mengurangi stres dalam tubuh. Dalam kondisi relaks, tidur pun jadi lebih berkualitas. Tidak hanya itu, protein telur membangun dan memperbaiki sel dan jaringan tubuh serta melawan infeksi.
Sumber : parenting.co.id

Orang tua sering memberi banyak makanan yang dianggap sehat tapi sebenarnya tidak disukai anak. Selain itu, pastikan kebutuhan kalori anak tercukupi, ya. Karena, di usia ini, anak sedang aktif-aktifnya dan senang bermain, namun pertambahan berat badannya tak lagi sepesat di tahun pertama atau kedua. Apa yang harus dilakukan?

1. Makan bersama keluarga. Selalu sediakan waktu untuk makan bersama anak di meja makan setidaknya sekali setiap hari. Makanlah makanan yang sama dengan yang dimakannya, sehingga ia akan meniru Anda.

2. Buat waktu makan menyenangkan. Bukan berarti anak boleh makan sambil nonton televisi. Tapi, cobalah berkreasi dengan bentuk makanan yang dibuat menarik atau sedikit bermain-main ketika menyuapinya. Misalnya, bermain pesawat terbang.

3.Waktu makan yang konsisten. Beri makan anak di waktu yang sama setiap harinya, termasuk waktu mengemilnya. Lalu, batasi waktu makan hanya selama 30 menit. Lebih dari waktu yang ditetapkan, sudahi makannya. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Anda untuk mendisiplinkan anak dalam hal makan.

4. Jangan memaksa, apalagi mencecokinya makanan ke dalam mulut, ketika ia menolak. Cara ini tidak akan berhasil. Sebaliknya, malah akan membuat anak semakin tidak mau makan.

5.Jangan mengiming-iminginya. “Ayo makan. Nanti dikasih cokelat!” Familiar dengan kalimat itu, Ma? Sebagian anak mungkin tergoda dengan tawaran itu. Tapi, hal ini sebaiknya tidak Anda lakukan. Lain waktu, jika Anda tak lagi mengiming-iminginya dengan sesuatu, ia bisa saja kehilangan selera pada makanannya.

6.Jangan menyerah. Inilah yang paling penting. Ketika Anda sudah mencoba berulang kali memberinya satu jenis makanan, namun anak tetap menolak. Bukan berarti ia selamanya akan menolak. Cobalah kembali memberikannya di lain waktu.
Sumber : www.parenting.co.id

Hal paling penting dan utama dalam kesehatan anak adalah cukup tidur. Untuk usia sekolah dasar, anak harus mendapat waktu tidur 10-11 jam semalam. Seperti terlihat mudah, ya, Ma. Tapi ini tidak akan berjalan mulus ketika anak sudah mulai sekolah dan mempertahankan pola jam tidurnya dengan jadwal barunya.

Ketika orang tua terlambat pulang ke rumah, biasanya pola tidur anak terpaksa harus diatur kembali. Hal yang harus Anda pastikan adalah si kecil bisa menjalani hari-harinya tanpa harus tertidur di meja belajarnya. Caranya, seluruh keluarga di rumah harus mulai bergantian mengatur ulang jadwal mereka untuk menemani si kecil tidur.

Donald Schiff, M.D., seorang profesor di bidang kedokteran anak di University of Colorado School of Medicine menyarankan, “Anda tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Wah, besok kita sudah mulai sekolah. Kamu harus tidur lebih awal malam ini, Nak.“Anda tak perlu khawatir ketika si kecil lesu karena kecapekan ketika pulang ke rumah, terutama pada minggu pertama dia masuk sekolah.

Menurut Greg Prazar, M.D., dokter anak di Exeter, NH, “Hal tersebut terjadi karena proses penyesuaian untuk anak. Banyak anak-anak akan memerlukan istirahat setelah pulang sekolah untuk menolong mereka saat penyesuaian dengan rutinitas sekolah yang baru.
Sumber : parenting.co.id

Berlalu sudah masa-masa anak  membangunkan Anda di pagi hari. Sekarang, Anda yang justru menghabiskan (hampir) seluruh energi untuk membuat dia bangun dari tempat tidur. Ada apa, sih? Pola tidur si praremaja memang berbeda dengan orang dewasa dan anak-anak yang lebih kecil.

Dan, ini caranya untuk membangunkan anak:

- Atur ulang alarm Ketimbang membiarkan alarm berbunyi pas waktunya bagi anak untuk keluar pintu, atur ulang alarm dengan cara memainkan musik favoritnya sekitar 15 menit sebelum dia bangun. Hal ini akan membantunya untuk lebih tenang menjalani hari.

- Berikan alasan yang tepat untuk bangun ‘Sogok’ dia dengan nasi goreng daging kesukaannya (selera makannya juga terus meningkat) atau aturlah dia berangkat bareng dengan sahabatnya (teman juga besar perannya dalam ‘urusan’ tidur anak!).

- Jadikan bangun pagi sebagai tanggung jawabnya Jelaskan bahwa Anda menyadari kalau ia sudah cukup besar untuk bangun sendiri, sehingga Anda akan memanggilnya hanya sekali saja. Lalu, tetaplah konsisten dengan hal itu. Bagaimana pun, banyak anak yang senang dianggap mandiri. Sementara itu, anak lain belajar dengan cepat bahwa mereka akan sangat kehilangan sekolah ketika tidak tiba tepat waktu.

Anak tiba-tiba terserang batuk dan pilek? Jangan khawatir mah berikan makanan ini untuk anak Anda yang terserah batuk dan pilek :

1. Ikan. Asam lemak omega-3 yang banyak ditemukan terutama pada ikan laut seperti salmon, tuna, dan makarel, merupakan nutrisi yang dapat meningkatkan imunitas dan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Makanan kaya asam lemak esensial ini dapat meningkatkan aktivitas sel darah putih yang menghancurkan bakteri berbahaya dalam tubuh. Selain itu juga memberikan perlindungan terhadap kerusakan yang disebabkan reaksi berlebih terhadap infeksi.

2. Buah dan sayur. Mengandung zat gizi tinggi untuk daya tahan tubuh, seperti vitamin C dan bioflavonoid. Vitamin C meningkatkan produksi sel darah putih yang berfungsi mencegah infeksi dan sebagai antibodi. Bioflavonoid berperan mengatur pertumbuhan dan kematian sel.

3. Telur. Mengandung iodine dan vitamin B6 yang bekerja mendukung sel B dan sel T, yaitu sel-sel yang membantu memperkuat daya tahan tubuh. Sementara vitamin E pada telur dapat meningkatkan konsentrasi sel T.
Sumber : parenting.co.id

Kerap kali anda mendapati anak sedang berbicara dengan teman imajinasinya, bahkan dia sibuk mengeksplorasi bersama dengan sesuatu yang tidak bisa anda pahami. Bahkan di usianya yang memasuki 4 tahun kerap kali kebiasaan berbicara sendiri semakin sering dilakukan. Sebagai orang tua kebiasaan anak ini membuat anda cemas, dikhawatirkan merupakan kebiasaan abnormal yang berkaitan dengan psikisnya, sehingga timbul pertanyaan normalkah apabila anak dalam usia balita mempunyai kebiasaan berbicara sendiri?

Usia untuk menentukan kemampuan anak untuk berbicara memang berbeda-beda, akan tetapi pada dasarnya usia 4 tahun kemampuan anak anda sudah dapat berekplorasi dan juga bermain dengan benda favoritnya. Meskipun memiliki banyak teman kerap kali anda menjumpai anak anda sedang berbicara sendiri, menurut ahli perkembangan anak usia 4 tahun memang sering kali berbicara sendiri. Hal ini berhubungan dengan imajinasi, ekspresi dari emosinya dan juga fantasi. Anda jangan buru-buru menganggap hal ini negatif, dikarenakan dengan bicara sendiri anak anda sedang berlatih untuk membimbing diri sendiri dalam mempersiapkan kemampuannya berbicara di lingkungannya.

Sebenarnya tidak saja anak-anak yang sering kali berbicara sendiri, orang dewasa sekalipun sering kali mempunyai kebiasaan berbicara sendiri, akan tetapi bedanya orang dewasa lebih banyak berbicara didalam hatinya sehingga tidak ada yang mengetahui kapan sedang berbicara, berbeda dengan anak-anak yang lebih banyak mengungkapkan secara langsung. Bicara sendiri pada anak anak merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan kognitif. Dengan berbicara sendiri, anak sering kali sedang melakukan proses berpikir dalam menghadapi situasi yang akan ditemukan dilingkungannya. Selain itu berbicara sendiri berperan pada kemampuan anak untuk mengontrol dirinya, kemudian juga dapat meningkatan kemampuan anak dalam problem .

Penelitian yang dilakukan pada anak-anak yang sering bicara sendiri sangat berhubungan dengan kehidupan sosial anak kelak. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh psikolog Rusia, Vygotsky yang menemukan anak sering bicara sendiri sering kali berinteraksi dikarenakan kemampuan bicara sendirinya diambil dari pengalaman sosialnya. Sehingga memungkinkan anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan lebih mudah ketimbang anak yang memiliki kebiasaan berbicara sendiri. Kemampuan anak berbicara sendiri akan hilang dengan sendirinya seiring dengan pertumbuhan anak memasuki lingkungan sekolah. Meskipun demikian ada pula anak yang mempunyai teman fantasi pseudosains yaitu apa yang dianggapnya nyata oleh anak padahal tidak ada sama sekali, biasanya anak yang memiliki kemampuan indra ke enam yang memiliki teman fantasi pseudosains ini. Bahkan kemampuannya akan berlanjut hingga usianya dewasa.

Dalam membedakan teman fantasi anak anda, anda dapat mengikuti beberapa langkah dibawah ini :

1.   Ketika berimijinasi sering kali anak bermain dengan objek
Pada usia anak 4 tahun biasanya sering kali bicara sendiri dengan memegang objek. Sesekali akan bercerita dengan beberapa benda favoritnya, ini sering kali menandakan anak anda sedang melatih kemampuan sedangkan apabila anak anda bermain tanpa memegang objek sedangkan dia sedang memandang objek atau teman fantasinya sering kali mengarah pada teman fantasi pseudosains.

2.   Teman imajinasi dari tokoh favorit
Apabila anak anda sering kali mempunyai teman khayalan seperti tokoh superhero, tokoh komik atau teman sepermainannya ini merupakan imajinasi yang sedang berlangsung. Akan tetapi jika anak anda menyebutkan bukan dari tokoh favorit atau teman bahkan sering kali disebut berulang-ulang dalam waktu yang lama, dicurigai merupakan teman fantasi pseudosains.

3.   Imajinasi anak masih dalam normal
Apabila anak anda sedang bermain dengan menggunakan benda favorit tanpa merasakan ketakutan dan berhenti ketika bosan, anak anda sedang berbicara sendiri dengan imajinasinya sedangkan pada anak yang memiliki teman pseudosains sering kali anak berteriak teriak, menangis, bahkan ketakutan karena teman imajinasinya.
Sumber :  Bidanku.com

Sariawan adalah terjadinya luka pada kulit di dalam mulut. Karena banyaknya bakteri dalam rongga mulut, luka mudah terinfeksi dan terjadilah sariawan. Apa pemicunya?

Faktor keturunan diduga ikut berperan dalam seringnya anak menderita sariawan. Biasanya, anak yang mempunyai frekuensi terjadinya sariawan tinggi juga mempunyai orang tua yang sering mengalami sariawan berulang. Selain itu, trauma karena tergigit, menyikat gigi dengan kasar, atau konsumsi makanan yang terlalu panas juga memicu terjadinya sariawan. Apa lagi? Gigi yang  tajam dengan posisi yang kurang baik bisa menyebabkan terjadinya sariawan berulang di tempat yang sama.

Anak bisa juga sering sariawan karena alergi terhadap bahan makanan, daya tahan tubuhnya menurun, lelah, stres, rendahnya kadar zat besi, vitamin B12, dan asam folat dalam tubuh, atau ada kelainan sistem daya tahan tubuh. Walau begitu, sariawan bisa pula terjadi tanpa alasan yang jelas.
Sumber : parenting.co.id

Perokok memang bukan pekerjaan mudah. Bila aturan yang dibuat pemerintah berikut dengan sanksinya saja masih dilanggar, apalagi jika kita para mama yang menegur secara langsung.

Bagaimana cara efektif menegur orang yang merokok di sekitar anak?

1. Pastikan Anda dan anak bukan berada di area khusus merokok. Perda yang mengatur ketentuan merokok di tempat umum memang melarang orang merokok di pusat perbelanjaan, bandara, terminal, tempat kerja, sarana pendidikan, perkantoran, dan rumah ibadah. Namun, di beberapa tempat disediakan ruangan khusus untuk merokok. Jangan berada di ruangan tersebut bila tak ingin terpapar asap rokok.

2. Bila Anda tidak berada di ruangan khusus merokok namun ada orang yang merokok dekat Anda (dan anak), tegur secara baik-baik.Ingatkan mengenai perda larangan merokok di tempat umum. Katakan juga sebaiknya tidak merokok dekat anak-anak. Gunakan kalimat-kalimat langsung yang lugas seperti: “Tolong matikan rokok Anda, ini tempat umum yang bebas asap rokok.” atau “Mohon tidak merokok di sini, saya dan anak-anak merasa terganggu.”

3. Sudah menegur tetapi dianggap angin lalu? Pura-pura batuk di dekat si perokok. Teruslah batuk hingga ia merasa risih dan terganggu. Bila perlu mulailah batuk-batuk meski si perokok jaraknya masih tiga meter dari Anda dan anak.

4. Tataplah si perokok dengan memicingkan mata dan lontarkan komentar sinis sambil berbisik dengan orang tua lain yang juga berada di dekat area.

5.Mulailah membuat daftar komplikasi penyakit akibat rokok dan bicarakan hal tersebut dengan orang yang sedang bersama Anda. “Ternyata, merokok bukan cuma menyebabkan kanker, lho, liver juga bisa ikutan rusak. Belum lagi stroke, tekanan darah tinggi, penyakit , dan sebagainya.”

6.Jelaskan pada anak tentang bahaya rokok, bila perlu sambil menunjuk pada si perokok, bahwa merokok adalah pilihan buruk. Lakukan hal itu setiap kali melihat perokok ada di dekat kita.

Jika anak kerap menolak makanan yang Anda berikan, pastikan terlebih dulu apakah makanan yang Anda sajikan dalam porsi yang pas untuk mereka ataukah berlebih. Orang tua sering memberi banyak makanan yang dianggap sehat tapi sebenarnya tidak disukai anak. Selain itu, pastikan kebutuhan kalori anak tercukupi, ya. Karena, di usia ini, anak sedang aktif-aktifnya dan senang bermain, namun pertambahan berat badannya tak lagi sepesat di tahun pertama atau kedua. Apa yang harus dilakukan?

1. Makan bersama keluarga. Selalu sediakan waktu untuk makan bersama anak di meja makan setidaknya sekali setiap hari. Makanlah makanan yang sama dengan yang dimakannya, sehingga ia akan meniru Anda.

2. Buat waktu makan menyenangkan. Bukan berarti anak boleh makan sambil nonton televisi. Tapi, cobalah berkreasi dengan bentuk makanan yang dibuat menarik atau sedikit bermain-main ketika menyuapinya. Misalnya, bermain pesawat terbang.

3.Waktu makan yang konsisten. Beri makan anak di waktu yang sama setiap harinya, termasuk waktu mengemilnya. Lalu, batasi waktu makan hanya selama 30 menit. Lebih dari waktu yang ditetapkan, sudahi makannya. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi Anda untuk mendisiplinkan anak dalam hal makan.

4. Jangan memaksa, apalagi mencecokinya makanan ke dalam mulut, ketika ia menolak. Cara ini tidak akan berhasil. Sebaliknya, malah akan membuat anak semakin tidak mau makan.

5.Jangan mengiming-iminginya. “Ayo makan. Nanti dikasih cokelat!” Familiar dengan kalimat itu, Ma? Sebagian anak mungkin tergoda dengan tawaran itu. Tapi, hal ini sebaiknya tidak Anda lakukan. Lain waktu, jika Anda tak lagi mengiming-iminginya dengan sesuatu, ia bisa saja kehilangan selera pada makanannya.

6.Jangan menyerah. Inilah yang paling penting. Ketika Anda sudah mencoba berulang kali memberinya satu jenis makanan, namun anak tetap menolak. Bukan berarti ia selamanya akan menolak. Cobalah kembali memberikannya di lain waktu.
Sumber : parenting.co.id

Selama ini ada anggapan anak perempuan yang asma diturunkan secara genetic dari pihak Papa, atau sebaliknya anak laki-lak idari Mama.  Benarkah? Sebenarnya menurut Prof. Dr.Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K) Direktur  -COPD Center dalam acara seminar "Asma Sukar Sembuh?", faktor yang paling mempengaruhi penyakit asma adalah genetik.  Apabila anak mengidap asma, salah satu dari Mama Papa  juga mengidap asma. Namun, tidak berarti anak perempuan asma diturunkan dari  Papa,  atau sebaliknya. Anak perempuan asma  juga bisa diwariskan dari Mama. Jadi, tidak dipengaruhi oleh gender orang tua dan anak.

Meski bersifat genetis, bila orang tua asma, belum tentu anaknya pasti mengidap asma, lho. Tapi hati-hati, bagi ibu hamil yang juga perokok dan mengidap asma, kemungkinan besar bayi yang  dilahirkan anak mengidap asma. Asma merupakan gangguan inflamasikronik saluran napas yang melibatkan banyak seldan elemennya.  Inflamasikronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodic berulang berupa, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.

“Faktor pada ibu hamil akan menurunkan asma kepada janinnya selain disebabkan ibu sudah asma, adanya hormone tidak seimbang, dan janin semakin bertumbuh besar sehingga membuat paru-parunya terbatas untuk bernapas,  serta stress pada ibu hamil,” ujar Prof. Dr. Hardianto. Faktor lingkungan juga mempengaruhi individu dengan kecenderungan asma untuk berkembang menjadi asma, menyebabkan terjadinya batuk yang bertambah buruk yang  menyebabkan gejala-gejala asma menetap.  Termasuk dalam faktor lingkungan yaitu, alergen, sensitif pada lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksipernapasan (virus).
Sumber : www.parenting.co.id

Terapkan cara ini setelah mengetahui anak alami gangguan sensori integrasi.

SENSORI PERABAAN
1. Menyikat tubuh anak dengan sikat khusus (bisa dilakukan di rumah atau tempat terapi). Hanya saja, perlu diperhatikan perbedaan tekanan saat menyikat untuk anak yang hipersensitif (merasa kesakitan meski disentuh normal) dan hiposensitif (tidak merasakan apa-apa meski dicubit atau dipukul).
2. Menyeka tubuh dengan spons yang dibasahi dengan air hangat/air dingin.
3. Memijat.4. Berjalan dengan telapak tangan (harus dibantu oleh terapis berpengalaman).
5. Tidur telentang/tengkurap di atas bola Bobath (bola karet untuk terapi).
6. Bermain dengan bola bergerigi.
7. Bermain playdough

SENSORI PENDENGARAN
1. Kombinasi dengan terapi musik. Untuk anak hipersensitif: Musik lembut ke keras (volume rendah ke tinggi). Untuk anak hiposensitif: Musik keras ke lembut (volume tinggi ke rendah).
2. Bermain bisik-bisik.

SENSORI PENCIUMAN DAN PENGECAPAN
1. Pijat oral (pengecapan).
2. Sikat oral (pengecapan) dengan sikat bertekstur sesuai tahapannya.
3. Menghindarkan anak dari bau-bauan yang tajam.

SENSORI VISUAL
1. Terapi Snoezelen atau terapi stimulasi multisensory berupa gerakan lampu.
2. Kombinasi dengan brain gym (fokus dan konsentrasi kontak mata).
3. Ruangan diberi distraksi. Untuk anak hipersensitif: Dari kosong ke banyak/ berantakan. Untuk anak hiposensitif: Dari
banyak ke sedikit/kosong.

SENSORI PROPRIOSEPTIF
1. Menyikat badan anak.
2. Memijat.
3. Bermain dengan bola Bobath.
4. Mengangkat kursi.
5. Mendorong kursi/benda yang diberi beban (misalnya, galon).
6. Merangkak/merayap dengan beban di punggungnya.
7. Mendorong dinding dengan tangan dan kaki bergantian.
Sumber : parenting.co.id

Gigi gigis atau terkikis adalah rampan karies atau gigi berlubang pada anak yang secara cepat meluas, terutama pada gigi atas. Keadaan ini sering disebut sebagai sindroma botol susu (baby bottle syndrome). Nah, gigi gigis terjadi karena membiarkan anak menghisap botol susu dalam jangka waktu yang lama. Padahal, susu mengandung gula. Umumnya, gigi gigis dialami anak usia 3 - 6 tahun dan hal ini sebenarnya tidak normal. Kenapa? Karena gigi yang sehat adalah gigi tanpa karies.

Bagaimana menanganinya? Biarkan saja sampai gigi tetap anak tumbuh sambil tetap menjaga kebersihan gigi dan mulutnya. Gigi gigis tidak memengaruhi kesehatan gigi tetap yang akan tumbuh nantinya. Hanya saja, jika kondisi giginya sudah telanjur sakit, bawalah ke dokter gigi untuk dilihat apakah giginya perlu dicabut atau tidak. Bagaimana pun, gigi susu adalah gigi petunjuk arah untuk gigi tetapnya nanti tumbuh. Jadi, konsultasikan dengan dokter gigi untuk usia pertumbuhan gigi tetapnya nanti.

Sebenarnya kondisi gigi gigis bisa dihindari dengan cara membiasakan anak berkumur dengan air putih sesudah minum susu dari botol susu. Atau, bila ia sudah tertidur, ganti botol susunya dengan botol yang berisi air putih. Apa lagi? Biasakan anak minum susu dengan gelas, hindari mengonsumsi makanan yang manis, rajin menyikat gigi, dan biasakan memeriksakan gigi anak ke dokter gigi.
Sumber : parenting.co.id

Anda sering kali dibuat jengkel dengan tingkah laku anak anda yang sulit untuk diatur apalagi jika anak cenderung lebih manja ketika bersama dengan anda. Jangan terburu menyalahkan anak anda, mungkin saja ada beberapa perilaku anda yang justru membuatnya seperti demikian. Bagi anda yang sering memenuhi segala keinginan anak nantinya akan berdampak buruk sehingga menjadikannya cenderung lebih manja dan memiliki sifat materialistik. Pola pengasuhan seperti ini harus anda hindari agar membentuk pribadi anak yang mempunyai  kerja keras terlebih dahulu untuk mendapatakan  keinginannya. Selain itu kurang menerapkan disiplin bisa menjadi alasan anak anda mempunyai sikap yang kurang baik, disipilin tidak hanya dengan anjuran dan larangan tapi lebih ke aksi nyata yang anda terapkan di lingkungan keluarga.

Terlalu sering membantunya dalam segala kesusahan tidak akan memupuk rasa percaya dirinya, sehingga dia cenderung lebih manja karena merasa dibela oleh orang tua. Sikap-sikap tersebut dapat membuat anak anda terkesan nakal dan sulit untuk memberikan pengawasan. Sebelum anda menyimpulkan bahwa anak anda nakal, anda harus melihatnya dari dua sisi karena tidak selamanya anak nakal merupakan anak pembangkang yang tidak memiliki kemampuan. Nakal memang memiliki dua arti yaitu kreatif, banyak akal sehingga anak anda yang diberikan anjuran seakan memiliki pendapatnya sendiri untuk menyelesaikan kegiatannnya. Nakal yang harus anda waspadai dalam mengawasi anak adalah nakal yang cenderung memiliki arti ke arah kriminal, kejahatan, kurang memiliki tata sopan.

Dalam ilmu psikologi anak nakal disebut gangguan tingkah laku (GTL) yaitu penyimpangan perilaku dalam bentuk yang merugikan orang lain. Nakal yang dilakukan oleh anak anda dapat karena pribadinya, berkelompok baik secara spontan atau terencana. Ciri khas nakal yang memiliki gangguan tingkah laku biasanya cenderung keras kepala, sulit ditaklukan, tidak patuh, dapat merencanakan kekerasan dan dia tidak menyesal dengan tingkahnya. Setiap anak membutuhkan pengawasaan orang tuanya, tidak menutup kemungkinan lingkungan dapat membuat anak anda menjadi nakal. Sebaiknya pengawasan anda dimasa tumbuh kembang anak dengan lingkungan harus selalu diperhatikan meskipun bukan berarti melarang atau membatasi interaksinya dengan sosial, alangkah baiknya mengawasi anak nakal dilakukan lebih ekstra ketimbang anak lainnya.

Berikut adalah cara untuk memberikan pengawasan anak nakal yang dapat anda lakukan :

1.    Memberikan contoh perilaku
Waktu anda tidak memungkinkan untuk menemani anak anda baik di rumah atau lingkungannya sehingga pengawasan yang tepat untuk anda adalah memberikan bekal kepribadian yang kuat sebelum anak anda berinteraksi dengan lingkungan. Tentu saja dilakukan semenjak  bayi untuk mendapatkan teladan yang terbaik dari orang tuanya. Berikan contoh perilaku yang baik di dalam beberapa buku cerita sebelum dia tidur berikan makna positif yang bisa dia ambil, biasakan untuk mendampinginya ketika menonton tv, pengaruh buruk bisa saja terjadi dari penggunaan teknologi yang kurang bijak. Ajak anak anda menonton dan mendengar perilaku yang positif.

2.    Pengawasan bukan berarti kekerasan
Ketika anak anda membangkang dengan nasihat anda, jangan terburu buru emosi karena dengan kekerasan justru memberikan contoh buruk dan membentuk pribadi anak yang tempramental. Bagi anda yang sering menyelesaikan masalah dengan kekerasan sebaiknya dihindari ini akan menjadikan kedekatan anda dan anak menjadi renggang hingga anak cenderung tertutup dengan masalahnya, anda akan kesulitan dalam mengawasinya.

3.    Pengawasan bukan berarti mengekang
Memberikan pengawasan bagi anak nakal bukan berarti memberikan kekangan.Memberikan tanggung jawab, kebebasan dan juga pengontrolan yang terarah. Terkadang anda justru memberikan pengawasan yang berleih sampai mengintainya disetiap aktivitasnya ini akan membentuk pribadi yang kurang percaya diri. Jika memang anak anda tergolong nakal menurut anda, ambil cara yang terbaik untuk mengelolanya agar dapat tumbuh dengan baik dan wajar.

Sumber : Bidanku.com

Setiap orang tua pasti merasa super bangga melihat anaknya berlaga di ajang perlombaan. Pada akhirnya, ia bisa menang, atau malah kalah. Ketika ia menang, Anda langsung memuji-muji atau bahkan melimpahinya berbagai hadiah. Bagaimana ketika ia kalah? Bukannya membesarkan hatinya, Anda malah memarahi anak, menuduh juri atau wasit berlaku curang, dll. Berikut ini sikap salah mama ketika anak ikut dalam kompetisi dan apa yang harus dilakukan yaitu:

1. Menuduh juri berbuat curang tanpa ada bukti bukti yang jelas
Ingin agar anak menang, sih, sah-sah saja. Tapi, menuduh juri berbuat curang tanpa bukti-bukti yang jelas? Eiittsss.. nanti dulu. Bila Anda memang melihat ada indikasi kecurangan terjadi dalam proses kompetisi, coba kumpulkan bukti bukti yang jelas dulu.

Yang disebut bukti yang jelas adalah bukti yang memang bisa dipertanggung jawabkan, ya, dan bukan bukti yang dibuat berdasarkan prasangka semata. Setelah bukti-bukti tersebut terkumpul, laporkan secara sistematis dan baik, sehingga hasil dari proses penilaian bisa di-review ulang. Bila Anda langsung main tuduh saat mencurigai adanya kecurangan yang dilakukan juri, anak akan menginternalisasi prinsip ‘kalau merasa mengetahui sesuatu, langsung sampaikan saja, tidak perlu dipikir, direnungkan, dan dicari data penguatnya dulu.’

2. Mendorong anak untuk berbuat curang selama kompetisi berlangsung
Hasrat Anda agar anak menang dalam sebuah kompetisi kadang lebih besar dari keinginan anak itu sendiri. Akibatnya? Tidak jarang Anda malah mendorong si kecil untuk berbuat curang selama kompetisi, atau bahkan melanggar peraturan yang ada. Ia didorong untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak diizinkan oleh panitia dengan 1 tujuan yang jelas, yakni menang.

Jika hal ini dilakukan,anak akan belajar bahwa dalam hidup, kemenangan adalah hal yang utama, apa pun caranya. Ia akan menginternalisasi prinsip ‘menghalalkan segala cara’ untuk mencapai tujuan. Beberapa orangtua kadang berargumen, “Ah, nggak apa-apa, kan? Cuma pertandingan tingkat RT! Nggak pentinglah. Curang sedikit nggak apa-apa. Panitianya nggak tahu, kok.” Di satu sisi, Anda mengatakan tidak penting, namun di sisi lain Anda sendiri menghalalkan semua cara untuk menang.

3. Membantu anak secara diam-diam agar menang dalam kompetisi
Sebenarnya, hal ini mirip dengan penjelasan pada poin 2. Akan tetapi, dalam poin ini, Anda lebih aktif terlibat dalam proses terjadinya kecurangan. Perilaku Anda ini sangat berpotensi menimbulkan konflik. Selain itu, anak juga berpotensi didiskualifikasi dari kompetisi jika hal ini kemudian diketahui oleh pihak panitia.
Sumber : www.parenting.co.id

Tak semua orang tua mendapat jatah cuti yang panjang, atau waktu cuti yang bersamaan dengan liburan sekolah anak. Jika kebetulan tak sejalan, siap-siap saja acara liburan keluarga yang sudah dirancang terancam batal.

Jangan sampai anak kecewa karena orang tuanya tak bisa cuti. Manfaatkan waktu-waktu berikut untuk berlibur bersama keluarga:
  • Bekerja sambil membawa keluarga. Bila Anda akan ke luar kota untuk perjalanan dinas, ajak saja anak dan pasangan pergi bersama Anda. Tapi, pastikan biaya perjalanan papa dan anak berasal dari kantong Anda sendiri, ya, dan bukannya nebeng biaya kantor. Nah, ketika urusan pekerjaan sudah beres, saatnya menikmati kota itu bersama keluarga.
  • Liburan sambil bekerja. Mungkin terkesan tak enak untuk tetap berkutat dengan pekerjaan padahal Anda sedang dalam suasana liburan. Namun, bagi para freelancer, hal ini sangat mungkin dilakukan. Mama yang pekerja freelance memiliki kebebasan mengatur waktu, misalnya mengajak anak bermain ke taman sembari Anda bekerja di laptop.
  • Sebelum mulai bekerja di tempat baru. Beri jarak kira-kira satu minggu dari hari terakhir Anda bekerja di kantor lama. Pergunakan waktu tersebut untuk pergi berlibur bersama keluarga.

Anak pra remaja Anda mulai pilih-pilih berbagai barang untuk perawatan kulitnya. Apa yang perlu diperhatikan?

Pada era globalisasi dan informasi seperti saat ini, sangatlah wajar bagi praremaja ingin mencoba berbagai macam produk. Sebelum memilih produk yang sesuai kulit sendiri, kenali tipe kulit masing-masing. Apakah normal, berminyak, kering, atau kombinasi? Saat ini, kulit sensitif banyak sekali dijumpai, sehingga perlu mengetahui apakah kulit kita termasuk kulit yang sensitif atau tidak.

Apa cirinya? Mudah iritasi (perih dan merah) dan alergi (gatal, merah). Dan, bila anak mempunyai riwayat penyakit alergi, seperti asma, rhinitis alergika (alergi yang berkaitan hidung), eksem atopik pada kulit, dan biduran, ada kemungkinan kulitnya termasuk yang sensitif. Kulit sensitif memerlukan perawatan khusus dan tidak boleh memakai bahan-bahan tertentu pada produk perawatan kulitnya.

Bagaimana cara memilih produk perawatan kulit? Yang pasti, sesuaikan dengan tipe kulit. Sebaiknya, pilih produk yang ‘hypo allergenic’ dan ‘non comedogenic’. Pada kulit sensitif, gunakan produk yang khusus untuk kulit sensitif. Biasanya, pembersihnya bersifat ‘mild’, dan anak memerlukan pelembap. Bila perlu, berkonsultasilah ke dokter kulit dan kelamin untuk mengetahui tipe kulit dan produk seperti apa yang dibutuhkan.
Sumber : parenting.co.id

Mengajarkan matematika adalah hal sulit jika kita tidak tahu cara mengajarkan matematika dengan menarik dan menyenangkan. Demikian juga bagi anak, terkadang matematika dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan, sulit untuk dipelajari dan membingungkan.

Padahal jika kita mengetahui triknya, mengajar matematika akan terasa mudah dan mengasyikkan. Berikut 15 tips mengajarkan matematika pada anak :

1. Mengajarlah matematika dengan bercerita
Ada baiknya guru bisa membuat cerita tentang sebuah permasalahan. Misalnya, anak-anak diminta untuk berimajinasi berada dalam sebuah bola atau prisma, mintalah mereka untuk merasakan permukaan, tepi dan sudut-sudutnya.

Untuk mendramatisasi masalah aritmatika misalnya, mintalah anak untuk berpura-pura bagaimana jika ia melompat ke dalam kolam, kemudian melompat lagi dan satu lagi. Berapakah jumlah keseluruhan lompatan mereka. Jika perlu gunakan buku cerita anak-anak untuk membantu kamu mengilustrasikan ceritanya.

2. Gunakan bagian tubuh mereka
Beritahu anak-anak untuk menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya yang mereka miliki. Ketika diminta untuk menunjukkan jumlah mereka ‘tiga tangan’ pasti mereka akan menanggapi protes keras, dan kemudian memberitahu berapa banyak yang mereka memiliki dan menunjukkan tangan-tangan mereka.

Kemudian mengajak anak-anak untuk menunjukkan angka dengan jari, misalnya dimulai dengan, ‘Berapa umurmu?’ Untuk menampilkan angka dalam cara yang berbeda, misalnya, lima sebagai tiga di satu sisi dan dua di sisi lain.

3. Ajaklah anak-anak bermain
Libatkan anak-anak dalam bermain secara bersamaan yang memungkinkan mereka untuk melakukan perhitungan matematika dengan berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan kesebangunan, membuat pola, dan sebagainya.

Kemudian perkenalkan mereka dengan permainan Toko Dinosaurus. Suruhlah anak-anak berpura-pura membeli dan menjual mainan dinosaurus atau benda kecil lainnya. Hal ini berarti mereka telah belajar berhitung, aritmatika, dan konsep uang.

4. Gunakan pengalaman anak-anak
Cobalah untuk menggali pengalaman anak-anak dan doronglah agar pengalaman tersebut berhubungan dengan Matematika. Selanjutnya, mintalah mereka menceritakan pengalaman itu.

5. Ajak anak lomba mengerjakan soal
Nasehat yang paling baik adalah contoh atau teladan. Sesekali ajaklah anak berlomba mengerjakan soal dengan batas waktu yang ditentukan. Ini bisa memberi motivasi kepada anak agar bisa menyelesaikan soal dengan cepat dan tentu saja harus benar. Bukan berarti cepat selesai tapi asal-asalan lho.

6. Gunakan kreativitas alami dari anak-anak
Ide-ide anak-anak berkaitan dengan matematika harus didiskusikan dengan semua anak. Misalnya “percakapan matematika” antara dua anak laki-laki, masing-masing 6 tahun: “Pikirkan jumlah terbesar kamu dapat sekarang tambahkan lima lalu dan seterusnya.

7. Gunakan kemampuan untuk memecahkan masalah matematika
Mintalah anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah misalnya, berapa banyak snack yang mereka butuhkan jika ada teman lain yang bergabung dengan kelompok. Dorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau memanipulasi apapun yang mungkin berguna
untuk pemecahan masalah.

8. Gunakan berbagai strategi
Bawalah konsep Matematika kemanapun kamu pergi ke kelas, dari menghitung anak-anak pada pertemuan pagi, untuk mengatur meja, untuk meminta anak-anak untuk membersihkan nomor tertentu atau bentuk barang.

Juga, menggunakan kurikulum berbasis penelitian untuk menggabungkan serangkaian kegiatan belajar diurutkan ke dalam program kamu.

9. Manfaatkan teknologi
Cobalah kamera digital untuk merekam karya matematika anak-anak, dalam bermain mereka dan dalam kegiatan yang direncanakan, dan kemudian menggunakan foto untuk membantu diskusi dan refleksi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Manfaatkan juga komputer secara bijaksana.

10. Gunakan penilaian untuk mengukur kemampuan anak
Gunakan pengamatan, diskusi dengan anak-anak, dan kegiatan kelompok kecil untuk belajar tentang berpikir matematika anak-anak dan untuk membuat keputusan tentang apa sehingga setiap anak mungkin dapat belajar dari pengalaman mereka.

11. Tanamkan sugesti matematika itu menyenangkan dan tidak sulit
Satu hal yang tidak kalah penting adalah menanamkan sugesti bahwa matematika itu menyenang dan tidak sulit. Seperti mata pelajaran lainnya.

12. Katakan: Aku suka matematika
Selain mengenalkan matematika sejak dini, yang tak kalah penting adalah menanamkan rasa suka kepada matematika. Kuncinya ada pada bagaimana kita mengajarkan matematika pada anak. Kalau kita suka matematika maka dengan senang hati akan mengajari anak belajar matematika.

13. Matematika tetap dipakai dimanapun dan kapanpun
Disela-sela mengajarkan matematika pada anak, sisipkan juga pesan moral tentang matematika. Tekankan bahwa matematika akan tetap dipakai dimanapun dan dimanapun. Pada prinsipnya matematika adalah seni mengasah logika dan ketajaman berpikir. Dengan bahasa yang mudah, cobalah untuk menjelaskan kepada anak tentang pentingnya matematika. Di semua mata pelajaran sekolah ada unsur matematikanya. Dalam pelajaran agama saja ada matematikanya, contohnya jika ditanya ada berapa rukun islam? Dalam IPA juga begitu, berapakan jumlah planet dalam tata surya kita? Begitu seterusnya.

14. Bisa matematika karena tebiasa
Dengan bahasa yang mudah dan sederhana terangkan juga bahwa seseorang itu menjadi bisa karena terbiasa. Tidak ada yang sulit dan tidak bisa dikerjakan kalau sudah biasa dilakukan. Ajak anak untuk sering berlatih mengerjakan soal-soal. Tipsnya adalah: 4 x 2 lebih baik dari 2 x 4

Maksudnya, akan lebih baik jika berlatih 4 kali dalam satu hari meskipun hanya 2 soal yang dikerjakan daripada hanya berlatih 2 kali dalam sehari dan mengerjakan 4 soal. Resep ini juga,dapat diterapkan untuk metode belajar pelajaran lainnya. Lebih baik 4 kali belajar dengan 2 materi pelajaran daripada hanya 2 kali belajar dengan 4 mata pelajaran sekaligus.

Daya serap otak tentu akan lebih baik mereka yang belajar 4 kali sehari daripada yang hanya 2 kali dengan berbagai mata pelajaran. Tentu saja yang belajar 2 kali masih lebih baik daripada yang tidak belajar sama sekali. Iya kan?

15. Jangan mengajari anak dalam kondisi lelah dan tertekan
Biasanya jika orang tua dalam kondisi lelah dan tertekan akan mudah emosional. Jadi jangan pernah mengajak anak belajar bersama dalam situasi seperti ini.

Anak bagaikan kertas putih. Apa yang dicoret orang tua akan membekas. Apalagi ingatan anak bagaikan spons yang menyerap apapun yang diterimanya. Jadi, orang tua perlu belajar agar tindakannya yang bertujuan membentuk karakter dan memotivasi anak memang baik.

Untuk itu, menurut Rosdiana Setyaningrum Tarigan M.Psi, MHPEd, psikolog anak dari Rumah Sakit Pluit, terutama sekali orang tua harus menghapus budaya bullying di rumah. Bullying yang menggunakan kekerasan, ancaman, atau mengintimidasi anak, baik secara fisik, verbal maupun psikologis, harus dihentikan. Perundungan fisik itu antara lain menampar, memukul, mencubit, bahkan menyentil anak. Perundungan verbal --biasanya disertai menyerang psikologi anak juga—seperti memaki, menghardik atau mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan, membanding-bandingkan anak, serta kata-kata yang bersifat mengintimidasi.

“Budaya bullying tidak mendatangkan efek jera atau membuat anak jadi patuh, justru mendatangkan efek negatif pada anak” ujar Rosdiana. Efek negatif itu antara lain:

1. Mengganggu ikatan antara orang tua dan anak. Ikatan yang seharusnya didasari atas cinta, akhirnya dilandasi ketakutan dan kebencian. Anak pun merasa tak dihargai. Padahal, harga diri jadi modal penting agar mentalnya berkembang sehat.

2. Kekerasan bisa melahirkan resistensi pada kekerasan. Artinya, yang tadinya anak sakit dan takut setelah ditampar, di kali berikutnya tak takut lagi, malah cenderung berontak. Parahnya, di saat yang sama, kelakuan orang tua selaku pelaku bully juga cenderung meningkat. Sekali tamparan melayang, kali lain tangan terasa lebih ringan untuk menampar.

3. Anak akan belajar bahwa cara yang keras, entah memukul atau menghardik, itu cara ekspresikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Pem-bully melahirkan pem-bully juga. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan, anak yang mendapat perlakuan keras dari orang tuanya tanpa disadari akan melakukan cara yang sama untuk anak-anaknya. Siklus kekerasan pun akan berulang dari generasi ke generasi.

4. Selain berpotensi menjadi pelaku kekerasan, anak di-bully di rumah juga rentan menjadi mangsa para pelaku bully. Kenyataan ini didapat dari 70 penelitian dengan mengamati 200 ribu anak yang dimuat di Jurnal
Sumber : parenting.co.id

Anak Anda susah makan sayur? Jika iya, mungkin Anda adalah salah satu dari sebagian besar para ibu yang mengalami masalah tersebut. Membuat anak-anak mau makan sayuran memang hal yang cukup sulit dan berat.

Namun, bukan berarti Anda harus menyerah. Jika Anda punya cara yang kreatif dan unik, buah hati Anda akan mau makan sayuran dengan senang hati tanpa ada paksaan sedikit pun. Mau tahu bagaimana caranya? Berikut 10 trik untuk membuat anak Anda mau makan sayuran yang dikutip dari Mag for Women.

1. Jadilah kreatif.
Untuk membuat buah hati Anda mau makan sayuran, Anda harus kreatif dalam mengatur menu makanan mereka. Caranya, buatlah menu mereka menyerupai tokoh kartun kesukaan mereka, burung Angry Birds misalnya. Dengan begitu, perhatian anak Anda akan tertuju pada makanan tersebut. Ceritakan pula mengapa tokoh kesukaannya tersebut bisa ada di menu makanannya agar lebih dramatis.

2. Mintalah mereka meminum sayuran.
Seringkali anak-anak menghindari sayuran karena mereka beralasan jika mengunyah sayuran itu membosankan. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah mintalah mereka memakan sayur dengan cara yang berbeda.

Caranya mudah, tuangkan sup sayuran ke dalam gelas minum yang mewah. Biarkan mereka meminumnya seperti biasa mereka lakukan. Meskipun mereka tidak akan mendapatkan banyak serat yang mereka butuhkan dari minum sayuran, tapi itu lebih baik kan daripada tidak sama sekali?

3. Berikan sayuran sebagai makanan pembuka.
Ketika Anda menyiapkan makan malam, taruhlah beberapa wortel, mentimun dan seledri di piring mereka. Mintalah mereka untuk memakannya. Pada saat anak merasa sangat lapar, mereka tidak akan mempedulikan apa yang mereka makan. Jadi, manfaatkan momen tersebut.

4. Beri mereka pilihan.
Masukan wortel, brokoli, tomat dan sayuran lainnya dalam gaya prasmanan dan biarkan mereka memilih apa yang mereka sukai. Anak-anak suka memilih dan membuat keputusan seperti orang dewasa. Ketika Anda membiarkan mereka untuk membuat pilihan, mereka akan senang untuk memakannya.

5. Biarkan mereka membuat karya seni.
Anak-anak suka bermain dengan warna. Jadi tawarkan mereka sayuran dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna. Kemudian beritahu mereka untuk membuat karya seni dari sayuran di piring mereka. Dengan cara ini, mereka akan memakan sayuran karya mereka sendiri.

6. Libatkan mereka saat memasak.
Libatkan mereka di dapur saat Anda memasak. Mintalah mereka mencuci sayuran, mengaduk atau apapun yang mereka bisa lakukan. Mereka akan bersemangat untuk mencoba semua masakan yang mereka masak.

7. Menyembunyikan sayuran dalam makanan lain.
Jika semua ide di atas gagal, tumbuk sayuran dan tambahkan ke makanan lain. Anak Anda tidak akan menyadari jika mereka telah memakan sayuran.

8. Tambahkan saus pada salad.
Terkadang Anda perlu menambahkan saus kesukaan anak Anda pada salad yang Anda buat. Minta mereka berkreasi dengan saus pada sayuran mereka.

9. Dorong mereka untuk bercocok tanam sayuran.
Cara ini tidak hanya akan mengajarkan mereka berkebun dan merawat lingkungan, tetapi mereka juga akan senang memakan apa yang telah mereka tanam.

10. Didiklah mereka tentang manfaat sayuran.
Katakan kepada mereka alasan mengapa sayuran baik untuk kesehatan. Jika perlu buatlah diagram tubuh agar presentasi Anda terlihat menarik. Setelah itu, mintalah jenis sayuran tertentu untuk ditempel pada bagian tubuh yang membutuhkan sayuran tersebut. Sebagai contoh, setelah makan wortel, mintalah mereka menempelkan stiker pada mata.
Sumber : tonfeb.com

Peralatan makanan dan minuman yang higienis atau BPA Free adalah pilihan utama bagi orang tua sebelum membelinya agar anak-anak mereka tidak mengalami kejadian-kejadian yang tidak di inginkan, seperti keracunan yang disebabkan bahan-bahan yang terkandung dalam peralatan tersebut. Padahal sebenarnya, cara mengenali mana peralatan makan dan minuman yang sehat itu sangat mudah.

Tips Aman Memilih Peralatan Makan untuk Anak
Kekhawatiran para orang tua akan kandungan BPA atau Bisphenol A dalam peralatan makan, minum dan botol plastik membuat mereka harus mencari alternatif yang aman. Ada beberapa ciri yang dapat mudah dikenali oleh Anda untuk mengetahui peralatan yang akan Anda beli mengandung BPA atau tidak. Berikut ciri-cirinya:
 Lihatlah bagian bawah gelas, piring plastik, botol plastik atau mangkok.
Akan ada segitiga yang berbentuk dengan panah yang berisi nomor. Nomor yang ada pada bagian ini adalah kode tujuan daur ulang untuk memberitahukan kepada Anda jenis plastik tersebut. Jika menunjukan angka 7 atau tanda huruf “PC”, maka peralatan tersebut mengandung BPA.
Pilihlah warna dari perlengkapan makan plastik yang tidak berwarna terang atau pudar.
BPA digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih keras dan bening / berwarna terang. Plastik yang terlihat pudar dan tidak bening berarti sudah terbebas dari BPA dan aman digunakan untuk keperluan peralatan makan dan minum sehari-hari untuk si anak.

Jadikan peralatan makan dan minum berdasar bahan melamin.
Melamin adalah jenis plastik yang berbeda dengan plastik yang lain dan merupakan sebuah alternatif yang sangat aman dengan jenis plastik lainnya. Melamin terbuat dari bahan-bahan daur ulang dan dapat kembali digunakan sebagai bahan daur ulang. Namun, yang terpenting adalah melamin tidak membuat BPA bocor dan larut ke dalam minuman atau makanan.
Sumber : tonfeb.com

Bagaimana caranya memotivasi anak agar mau belajar dan disiplin selaras dengan keinginan orang tua tanpa kekerasan? Berikut beberapa caranya Untuk memotivasi disiplin:

1. Buat aturan yang jelas. Tanpa aturan, anak akan bingung dan tidak fair juga jika Anda menyalahkannnya. Aturan juga memudahkan Anda untuk memperingatkan anak bila melakukan kesalahan.

2. Aturan harus realistis. Aturan ini jangan mengada-ada, menyulitkan anak,dan mengabaikan haknya sebagai anak. Misalnya, tiap hari anak harus belajar meski waktu liburan sekolah. Atau, anak masih usia 3 tahun, tapi sudah harus bisa membereskan pakaian sendiri. Tentu saja, dia akan kesulitan. Ada baiknya, jika aturan ini dibicarakan bersama anak. Beri alasan mengapa aturan itu dibuat. Misalnya, ia wajib membereskan buku-buku dan baju sekolah di malam hari agar tidak ada buku atau alat tulis yang tertinggal dan bisa berangkat sekolah on time.

3. Aturan harus konsisten diterapkan. Jangan angin-anginan sesuai suasana hati orang tua. Misalnya, karena kebetulan ada acara TV bagus pada waktu jam belajar anak, Anda membiarkan TV dihidupkan. Anak menangkap bahwa aturan bisa dibelokkan.

4. Ada konsekuensi jika melanggar. anak boleh ikut menentukan konsekuensi jika melanggar disiplin. Orang tua harus mengingatkan dan menjalankan tegas konsekuensi ini. Namun, buatlah konsekuensi biasanya hukuman yang adil, logis, dan bisa memberi efek jera, bukan menyiksa anak. Hukuman juga jangan mempermalukan atau merendahkan dirinya. Saat hukuman usai, tak perlu memaksa anak untuk minta maaf atau menceramahinya. Dorong dia untuk berperilaku sesuai aturan.

5. Beri contoh terbaik. Anak wajib membereskan kamar tidurnya, tetapi Anda mengandalkan ART untuk membereskan ruang tidur Anda. Ya, Anda tidak memberi contoh namanya. Buat diri Anda dan pasangan disiplin terlebih dulu sebelum mendisiplinkan anak Anda.
Sumber : Parenting.co.id


Terkadang orang tua sengaja atau tidak sengaja menjadi pem-bully atau perundung bagi anaknya. Bully, yang biasanya berupa ancaman, intimidasi bahkan kekerasan, orang tua lakukan untuk mengontrol anak agar mengikuti kemauannya. Persoalan akademik atau pendidikan memang sering mendorong orang tua di Asia bersikap keras terhadap anaknya. “Penyebabnya, karena patokan di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, umumnya memang pada nilai akademik.

Nilai yang bagus, apalagi dari sekolah terbaik, dipercaya bisa mengantarkan anak memasuki dunia pekerjaan yang terbaik dan sukses. Inilah yang membuat para orang tua Asia terlihat lebih keras daripada para orang tua dari belahan barat,” kata Rosdiana Setyaningrum Tarigan M.Psi, MHPEd, psikolog anak dari Rumah Sakit Pluit. Akibatnya, tekanan orang tua agar anak bisa berprestasi dalam belajar pun tinggi. Satu sisi, tuntutan ini memacu anak berprestasi. Tapi, di sisi lain, menurut Rosdiana, akan membuat anak stres dan depresi hingga memilih mengakhiri hidupnya. Di Jepang, misalnya, sudah sering terdengar anak-anak memilih bunuh diri karena gagal dalam urusan studi.

Selain Jepang, Korea selatan dan Cina juga akhir-akhir ini disorot. Data di Kementerian Pendidikan di negara Kpop itu menunjukkan, sepanjang tahun 2009 – tahun 2014, ada 878 kasus siswa bunuh diri. Pada tahun 2014, angkanya bahkan mencapai 118 anak! Jadi, Korea Selatan tercatat memiliki angka bunuh diri pada usia anak-anak tertinggi dari 34 negara anggota Organisasi untuk Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD). Sementara di negara tirai bambu, kebijakan memiliki anak hanya 1 juga memacu orang tua menjadi begitu ambisius agar anak semata wayangnya berhasil dalam pendidikan.

Selain masalah pendidikan, Rosdiana menuturkan, orang tua cenderung juga keras bila bicara soal disiplin. “Ia ingin anaknya berlaku dan bersikap seperti standar yang diinginkannya. Jika tidak, kekerasan pun terjadi atas nama penegakan disiplin.”

Cara mendidik anak yang bernuansa bully ini sudah menjadi perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak). Pasalnya, menurut Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, di Indonesia pun korban mulai berjatuhan, bahkan sudah dikategorikan darurat. Lantaran kasus bunuh diri di di kalangan anak Indonesia terus meningkat. Tahun 2014 saja, Arist menyebutkan, ada sebanyak 89 anak meninggal sia-sia karena kasus bunuh diri.

Sembilan kasus pada anak usia 5 – 10 tahun, 39 kasus pada rentang usia 12 - 15 tahun, dan 27 kasus pada usia 15 tahun. “Anak memilih mengakhiri hidup karena tak tahan pada bimbingan oang tua yang mengedepankan teriakan dan marah-marah,“ ujarnya. Tapi, apakah ini berarti orang tua Asia lebih mem-bully dari orang tua dari belahan barat? “Jawabannya: Tidak juga! Yang dipandang barat sebagai bully belum tentu oleh Asia. Begitu juga sebaliknya.

Orang barat yang  anaknya tak boleh melanjutkan makan jika bertingkah tak sopan saat makan malam mungkin dipandang Asia kejam dibandingkan bila memarahi anak.” Rosdiana juga menggarisbawahi, perlu berhati-hati mencap orang tua pem-bully. Bisa jadi, orang tua tersebut tak tahu bahwa perlakuan mereka terhadap anak sebagai bullying. Mengingat, sewaktu kecil mereka diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya.

Cerita Ina, misalnya. “Jika Dinda tak mau belajar, tangan saya gatal mencubitnya. Jujur, saya tak merasa perbuatan ini salah. Dulu, ibu saya sering mencubit saya kalau malas belajar. Dan, saya tak merasa di-bully ibu,” ujar Ina. “Tapi, suatu malam, saat Dinda tertidur, saya melihat bekas cubitan yang saya lakukan. Baru tersadar betapa jahatnya saya,” ujarnya lagi.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Berikut ini poin-poin ciri khas penerapan pola asuh positif dalam keluarga:

1. Waktu berkualitas
Sempatkan menikmati waktu bersama anak di sela-sela kesibukan harian Anda. “Ciptakan kebersamaan pada waktu waktu khusus secara rutin, misalnya mendongeng untuk anak sebelum tidur atau saling bercerita mengenai aktivitas pada hari tersebut,” ujar Irma.

2. Jangan pelit memuji
Pujian akan membuat anak merasa dirinya dianggap penting oleh orang tuanya, bahagia, dan bersemangat untuk mengulang perilaku baik. Namun, hindari pujian berlebihan karena anak bisa mendeteksi ketidaktulusan kata-kata Anda. Pujian harus spesifi k, sehingga anak tahu perilaku baik yang mendapat penghargaan dari orang tuanya.

3. Ajari konsekuensi logis
Hindari sikap terlalu reaktif ketika anak melakukan kesalahan atau melanggar aturan. Ada kalanya anak melanggar peraturan ketika sedang mengeksplor lingkungan atau menjajaki kekuatannya. Ingatkan saja secara bijak tanpa menghukumnya. “Misal, ketika menumpahkan makanan, minta anak membersihkannya sebagai konsekuensi perbuatannya. Dengan demikian, anak belajar bertanggung jawab,” jelas Irma.

4. Tanamkan kebiasaan positif 
Misalnya, mengucapkan salam ketika masuk rumah, gosok gigi sebelum tidur, membereskan mainan. Untuk menguatkan perilaku positif tersebut, berikan pujian secara spesifi k agar anak termotivasi untuk mengulanginya.

5. Disiplin positif
Berdiskusilah dengan anak sebelum menerapkan peraturan. Capai kesepakatan mengenai konsekuensi jika aturan dilanggar. Aturan harus jelas, spesifik, tidak kaku. “Jika anak protes atau bernegosiasi terhadap konsekuensi yang dirasakannya berat, jangan marah dulu. Bernegoisasi baik untuk merangsang kemampuan anak berpikir strategis. Dengarkan pendapatnya dan cari solusi bersama,” kata Irma.

sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget