Latest Post


Jum'at - Sabtu (27-28 November 2015) SMP IT Bina Amal menyelenggarakan kegiatan Perjusa yang bertemakan "Kemah Bakti dan Peduli Lingkungan" di Lapangan Siroto, Gunungpati. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam acara yang berlangsung dua hari satu malam adalah pemberian materi kepramukaan, pemberian sembako, api unggun&pentas seni, senam, jelajah alam, dan pemberian bantuan mukena&alat-alat kebersihan ke masjid dan TPQ di desa setempat.(Ds)


 
Pembagian sembako


Api unggun dan pentas seni

Senam bersama

Games menarik
Pemberian bantuan mukena dan alat kebersihan ke Masjid dan TPQ

Peserta kemah mengikuti semua kegiatan dengan happy dan enjoy








Anak suka memaki dan berkata kasar? Ini dilakukan anak, terutama usia praremaja karena ia meniru orang lain. Penyebab: Pengaruh nonton film. Umumnya, anak usia ini sudah boleh nonton film remaja yang notabene untuk anak di atas usia mereka. Bukan tidak mungkin ada katakata yang tidak seharusnya mereka dengar. Selain itu, mungkin saja ia melakukannya karena meniru omongan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Lakukan ini!
Ajak anak bicara. Katakan kepadanya bahwa apa yang dikatakan itu tidak pantas dan tidak bisa diterima oleh orang lain. Dari sini, buatlah aturan main, yang disepakati bersama. “Atau, beritahu dia kalau lebih baik melakukan aktivitas lain, seperti berolahraga, ketimbang duduk-duduk nonton TV. Bila perlu, masukkan anak ke dalam klub olahraga,” katanya lagi.

Tip:
Bila anak ngomong kasar, jangan langsung marah. Tanyakan dulu apa arti kata yang diucapkan tersebut. Mungkin saja, ia asal meniru dan sama sekali tidak tahu artinya. Tanyakan lagi dari mana ia tahu kata tersebut dan mengapa ia harus mengatakannya? Ingat, ya, Ma. Dalam beberapa kasus, anak berkata kasar secara sengaja karena sama sekali tidak menghargai orang tuanya. Dan, ini bisa terjadi karena ia terlalu dimanjakan. Jadi, orang tua harus bercermin pada diri sendiri dulu.
Sumber : parenting.co.id

Bingung melihat anak selalu santai? Ia bisa berlama-lama memandangi batu-batu. Bisa juga, ia mengubah perjalanan dari mobil hingga tokok dari 5 mwnit menjadi 20 menit. Semakin diburu-buru, semakin lama ia berjalan. kalau dipaksa, bisa-bisa malah jadi tantrum. Lalu, mengapa anak begitu santai?

Baginya, segala seuatunya sangat menyenangkan dan dinikmatinya (meskipun ia sudah melihatnya jutaan kali!). Mulai dari bagaimana mobil menikung di sudut jalan, mengamati daun yang berguguran di depannya, adanya retakan aspal di parkiran, dll. Ia tidak pernah bosan melihat hal-hal yang ada di sekitarnya dan juga belum mengerti apa itu 'jadwal'?

Bagaimana menyiasatinya? Selalu pergi lebih awal dari seharusnya, sehingga anak bisa santai mengamati kondisi di sekitarnya. Jika Anda tidak bisa melakukannya, ingatkan dia sebelumnya bahwa ini waktunya untuk berjalan lagi, entah itu dalam hitungan menit atau berdasarkan ‘tugas’ yang dilakukannya.

Misalnya, “Kamu boleh mencium 10 bunga, lalu kita pergi, ya.” Bila Anda tidak mempunyai waktu untuk berlambat-lambat, katakan, “Mama tahu kalau kamu mau melihat awan itu, tapi ayo masuk ke dalam mobil dan hitunglah berapa banyak awan lagi yang bisa kita lihat sepanjang jalan menuju rumah.”

Tentu saja, bahkan rencana yang paling matang sekalipun tidak selalu berakhir dengan sukses. Jika hal ini terjadi, Anda sebaiknya memburunya (meskipun ini berarti Anda harus menggendongnya!). Yang perlu diingat bahwa apa yang dilakukan anak tidak berarti ada kesalahan dalam pola pengasuhan Anda. Batita memang memiliki cara unik untuk mencari perhatian orang tuanya.
Sumber : parenting.co.id

Salah satu hal terpenting yang bisa Anda berikan pada anak adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Bersikap sopan, bertutur halus, dan kontak mata merupakan dasar dari berhasilnya suatu hubungan dengan orang lain. Jadi, inilah yang harus Anda berikan pada sebagai bagian dari tugas Anda sebagai orang tua. Namun, yang membuat frustrasi adalah beberapa anak tidak bisa melakukannya walau Anda sudah bersusah payah mencobanya. Berikut tip untuk membantu Anda:

1. Terapkan prinsip ‘kita’. Anak usia 5 – 10 tahun sedang belajar mengenali norma-norma yang ada dalam masyarakat: Mana yang benar dan salah, dan bagaimana mereka diharapkan berperilaku. Salah satu solusinya adalah menerapkan prinsip ‘kita’: “Inilah bagaimana kita berbicara, berperilaku, percayai, makan, dll.” Nah, norma ‘kita’ ini menjadi akar dalam kepribadian anak dan secara alami akan menjadi bagian dari perilakunya. Yang pasti, jangan pernah meremehkan sejauh mana peran Anda sebagai teladan yang bisa memengaruhi anak. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sopan memang tidak selalu bersikap sopan di sekitar orang tuanya ketimbang dengan orang lain. Meski begitu, Anda akan menuai pujian karena teman atau guru akan bilang, “Wah, anak benar-benar sopan, ya?”

2. Berharap bisa menghargai orang lain. Berperilaku sopan menunjukkan bahwa kita menghargai atau respek pada orang lain. Anak perlu belajar menatap seseorang pada matanya saat berbicara dengannya dan menyapa dengan nama atau gelar untuk menunjukkan respek. Ajarkan si kecil untuk, misalnya, mengatakan, “Miss Sandra, bolehkah saya….” Atau “Terima kasih, dr. Rama….” Bagaimana pun, anak ingin disukai oleh orang yang ditemuinya. Katakan padanya, “Ketika kamu berbicara sopan pada seseorang, ini menunjukkan bahwa kamu menghargainya, dan orang tersebut akan suka sama kamu karena apa yang kamu lakukan itu.”

3. Manfaatkan peer group-nya. Bangun pertemanan dengan anak dan keluarga yang bisa menjadi teladan perilaku dan juga perkataannya. Jadi, anak bisa belajar dari mereka. Ya, menghabiskan waktu dengan teman yang sopan akan membuat anak berpikir kalau semua orang harus berperilaku seperti itu juga.

4. Gunakan kontak mata. Ketika memberi arahan pada anak, misalnya memintanya untuk membereskan kamar atau membantu di dapur, berjongkoknya hingga mata Anda selevel dengannya dan tunggu hingga matanya berkontak langsung dengan mata Anda. Untuk mendapatkan perhatiannya, gunakan namanya dan buka pembicaraan dengan, “Mama perlu mata kamu. Mama perlu telinga kamu.” Pastikan tatapan mata ke mata ini terjadi secara langsung dan ramah.

Ingat, jangan terlalu intens menatapnya sebab anak bisa mengartikannya sebagai Anda mengendalikan dirinya dan bukan sedang membuka komunikasi atau hubungan dengannya. Bicaralah pada anak sebagaimana Anda ingin ia berbicara dengan Anda dan orang lain.
Sumber : parenting.co.id

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget