Latest Post


Sebetulnya apa sih yang membuat permainan rakyat atau permainan tradisional tidak populer di dunia anak-anak sekarang? Menurut Mohammad Zaini Alif, pendiri Komunitas Hong, bukan karena anak-anak sekarang tidak mau memainkannya, tapi lebih karena tidak adanya narasumber (orangtua atau orang dewasa lainnya) yang mengajari mereka serta keterbatasan bahan-bahan yang digunakan untuk bermain. 

“Misalnya anak ingin bermain kelom batok (batok kelapa dijadikan alas kaki), di kota relatif susah mencari batok kelapa, kalaupun ada, batok biasanya dijual sebagai arang batok,” jelasnya memberi contoh.

Selain karena keterbatasan bahan baku dan narasumber, makin berkurangnya lahan terbuka untuk tempat bermain anak serta cukup kuatnya pengaruh budaya luar negeri yang masuk ke kota-kota besar memang menjadi faktor yang membuat permainan tradisional Indonesia jarang dimainkan. Sayang sekali ya, Ma.

Banyak nilai-nilai positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional yang bisa menjadi dasar pembentukan karakter anak. Misalnya:

- Anak mudah beradaptasi, imajinatif dan kreatif
Bahan-bahan yang digunakan untuk bermain permainan tradisional umumnya adalah benda-benda yang terdapat di lingkungan alam sekitarnya. Mereka harus membuat benda itu menjadi sesuatu (ingat nggak Ma, mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali?) atau berimajinasi bahwa benda-benda tersebut adalah
peralatan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ingin bermain masak-masakan, anak perempuan akan menggunakan batu, genteng dan ranting sebagai alat masak, daun-daunan sebagai piring saji, bunga dan biji-bijian sebagai ‘bahan masakan’.

- Melatih ketrampilan sosialisasi dan negosiasi
Permainan rakyat umumnya dimainkan secara berkelompok. Saat seorang anak ingin bermain gobak sodor misalnya, ia harus mengajak 5 orang kawan atau lebih agar bisa membentuk 2 regu pemain. Artinya ia harus pandai bersosialisasi dan ‘mengumpulkan massa’.

Setelah itu, ia harus bisa bernegosiasi untuk menentukan anggota tim, mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan diri sendiri serta teman-temannya agar terbentuk 2 regu yang seimbang. Kemampuan manajerialnya pun terasah.

- Mensimulasikan peran sosial dalam masyarakat
Ada nggak, Ma, teman masa kecil yang menjadi panutan dan menduduki hirarki tertinggi di antara anak-anak lain karena selalu menang dalam bermain? Pokoknya kalau satu regu dengan si jagoan bakalan menang deh, main apa saja. Kemudian ada teman yang usianya paling muda atau yang keterampilan bermainnya kurang, sering disebut anak bawang.

Biasanya si jagoan akan melindungi anak bawang dan mengajarinya bermain. Proses ini menanamkan nilai pada anak bahwa orang yang menjadi pemimpin harus melindungi yang lemah, yang pandai harus membagi ilmunya, dan yang kedudukannya masih di bawah harus mau terus belajar.

- Membiasakan aktivitas fisik
Dibandingkan dengan permainan modern yang umumnya bersifat individual dan sedenter, permainan tradisional jelas lebih unggul dalam soal aktivitas fisik. Bermain gobak sodor, benteng, kasti, dampu, dan sebagainya mengharuskan pemainnya berlari, melompat, melempar dan memukul. Bersenang-senang sekaligus melatih kekuatan dan ketangkasan fisik si kecil.

- Belajar menerima kekalahan dengan lapang dada
Karena peraturan permainan umumnya sudah disepakati sebelumnya, regu atau pemain yang kalah bisa menerima dengan sportif. Pemain bahkan terkadang mendapat ‘hukuman’ memberikan sesuatu misalnya kelereng kepada yang menang. Anak yang ketahuan bermain curang biasanya menerima sanksi sosial berupa tidak diajak bermain lagi. Jadi semua anak berusaha bermain dengan jujur.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Kenyataanya, beberapa anak memang terlahir dengan karakter senang mengatur.

Biasanya, anak tipe ini mudah terbawa suasana saat sedang bermain atau belajar bersama. Hati-hati, jika Anda ­ingin mengintervensi saat terjadi gesekan dengan temannya. “Sikap yang terlalu berpihak akan membuat anak semakin keras kepala,” ungkap Claire Lerner, spesialis perkembangan anak di Zero to Three. Berikut beberapa tip menghadapinya:

- Pahami persoalan yang muncul. Jangan memutuskan apapun sebelum Anda bertanya padanya dan juga temannya mengenai apa sebenarnya yang sedang terjadi.

- Jadilah pemberi solusi, bukan pendisiplin. Mungkin sekali Anda merasa kesal dengan sikapnya, namun memarahi atau mengomeli anak di depan temannya juga tidak akan membantu menyelesaikan masalah.

- Ajak ia memikirkan pemecahannya. Awali dengan pendekatan, “Wah, sepertinya kalian sedang asyik bermain, ya?”, lalu mulailah mengajak anak untuk berempati pada temannya, ”Mama lihat tadi kamu ingin temanmu melakukan ini ya, sedangkan temanmu juga ingin kamu melakukan itu. Hmm... bagaimana ya sebaiknya?” Ajukan kemungkinan agar mereka saling bergantian mengikuti keinginan satu sama lain.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Ada anak yang memang seolah terlahir dengan bakat memimpin. Namun sebetulnya, kepemimpinan adalah sebuah keahlian yang bisa diasah dan dikembangkan pada setiap anak.

Nindy (6) suka sekali memerintah. Tak cuma si mbak yang sering diperintahnya untuk mengambilkan minum atau mainannya, Nindy juga suka memberi perintah kepada teman-temannya. Dalam hal permainan, misalnya, Nindy akan menentukan jenis permainan yang akan dimainkan, mengatur jalannya permainan, sekaligus membuat peraturannya. Ia sangat jarang mau mendengarkan pendapat atau masukan teman-temannya. Bagi Nindy, semua harus berjalan sesuai keinginannya.

Sekilas Anda mungkin akan mengambil kesimpulan bahwa Nindy adalah anak berjiwa pemimpin. Tapi sebenarnya tidak. Meski Nindy memiliki kepercayaan  diri, serta bersedia mengambil wewenang dan tanggung jawab, ia bersikap bak diktator dan mendominasi, serta tidak menghargai perasaan dan keinginan orang lain.

Sikap ini disebut sebagai bossy. Berbeda dari pemimpin, ketika pemimpin haruslah mempertimbangkan kebutuhan orang lain, mendengarkan orang lain, serta memiliki tujuan positif yang menguntungkan semua pihak, dan bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Anak yang berjiwa pemimpin biasanya tampak menonjol di antara teman-teman sebayanya, baik dalam hal kemampuan kognitif, ketrampilan berkomunikasi, inisiatif, dan tanggung jawab. Mereka juga menyukai tantangan dan kreatif dalam menemukan cara-cara pemecahan masalah.

Nah, karena kepemimpinan merupakan kemampuan yang bisa diasah dan dikembangkan, maka anak-anak berjiwa ‘bos’ alias bossy seperti Nindy sebenarnya bisa ‘dipupuk’ agar menjadi anak-anak dengan jiwa pemimpin. Lalu, bagaimana dengan anak yang biasa-biasa saja? Sama saja, mereka pun bisa Anda latih untuk memiliki jiwa pemimpin.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

 
Tak perlu menetapkan standar terlalu tinggi pada kemampuan anak saat ia telah masuk TK. Seperti yang dikatakan Alzena Masykouri, MPSi., psikolog anak dan pendidikan, konsep taman kanak-kanak sebenarnya adalah mempersiapkan anak untuk bisa belajar. Jadi, anak memang belum waktunya untuk mempelajari hal-hal yang serius dan berat. 

Nah, cara termudah untuk membuat anak suka sekolah dan menyenangi proses belajar adalah membuat proses belajar ini menjadi menarik dan menyenangkan. Dengan begitu, ia bahkan tidak menyadari  sedang belajar. Jika Anda ingin membantu anak dalam proses belajarnya, inilah ide-ide untuk mengubah momen belajar ke dalam permainan: 

• Hitung ada berapa banyak mobil biru yang Anda lihat dalam perjalanan ke toko swalayan. 

• Memberi nama warna dan bentuk segala benda yang Anda temui di dalam rumah. 

• Tuliskan masing-masing huruf A sampai Z, serta angka 0 sampai 10 di secarik kertas, dan masukkan ke dalam topi. Minta dia mengambil secarik kertas dan menyebutkan angka atau huruf yang diambilnya. 

• Urutkan mata uang logam mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Minta ia untuk menyebutkan nilainya. 

• Ajak anak menghitung sampai 100 ketika Anda berdua sedang menunggu bathtub terisi penuh. 

Sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget