Latest Post


Sebuah temuan menunjukkan bahwa anak praremaja, khususnya usia 7 – 12 tahun, memiliki kecenderungan untuk mengurangi konsumsi susu karena adanya pilihan minuman lain yang lebih menarik.

Faktanya, usia tersebut memang merupakan fase saat anak-anak mulai memiliki keinginan untuk bebas memilih. Dan sayangnya, minum susu termasuk dalam pilihan yang kurang populer karena dianggap sebagai kebiasaan anak-anak yang lebih kecil.

Padahal, susu merupakan minuman kaya gizi yang masih diperlukan untuk pertumbuhan anak. Salah satu nutrisi di dalam susu, yaitu kalsium, memiliki peran penting dalam menjaga kualitas tulang anak. Sebuah penelitian di Beijing terhadap anak berusia 10 tahun menunjukkan bahwa Bone Mineral Density (BMD)-salah satu parameter kualitas tulang- anak yang minum susu lebih baik dibanding anak yang tidak minum susu.

Tak hanya itu, berkat kandungan nutrisinya yang kaya, susu juga dapat membantu meningkatkan kecerdasan dan menurunkan angka kejadian malnutrisi pada anak.

Nah, dengan sederet manfaat di atas, Anda tentu tidak akan membiarkan begitu saja penolakan si praremaja Anda terhadap susu, kan?

Anda hanya perlu sedikit kreativitas agar anak mau minum susu, misalnya dengan cara:
- Gunakan susu-dan bukannya air-untuk mengaduk sereal atau minuman cokelat.
- Buat aneka makanan kesukaan anak dengan bahan dasar susu, seperti puding, es krim, cake, dsb.
- Ganti snack atau dessert dengan smoothies buah-buahan yang dicampur susu.
- Biarkan anak memilih sendiri susu yang diinginkannya, baik dari segi rasa, jenis, maupun gambar kemasannya.


Tentunya, anak Anda pasti tahu kalau dua tambah dua sama dengan empat. Tapi jika temannya mengatakan “tiga”, apakah anak akan berubah pikiran? Ini cara atasi tekanan pergaulan teman-teman anak.

Studi terbaru dari Jerman menemukan, banyak anak memiliki situasi sama. “Anak ingin diterima dan dapat menyesuaikan diri dengan temannya,” ujar Neil Bernstein, Ph. D., psikologi anak dan ahli orangtua di Washington, DC. Untuk membantu anak menilai opini diri sendiri:

Ketika anak mengeluh bahwa dia bosan, katakan padanya, untuk menyenangkan dirinya sendiri dibandingkan dengan memberikan terlalu banyak ide Anda untuknya. “Anak akan mulai berpikir untuk lebih memikirkan dirinya sendiri,” jelas Bernstein.

Jika anak Anda hebat di bidang kreasi Lego atau akhirnya belajar piano di kelas tertinggi, doronglah dia untuk merasa dihargai. “Menghargai kemampuannya akan membangun kepercayaan dirinya dan membuat dia tidak terlalu tertarik  dan ikut-ikutan dalam pergaulan dengan temannya,” kata Bernstein.

Katakan dan ajak bicara anak Anda, ketika anda merasa sesuatu mengganggu Anda tentunya perihal anak Anda dan temannya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Di sekolah dulu, kita mungkin biasa menghapal pelajaran dengan mengucapkan keras-keras berulangkali materi apa yang ingin kita ingat. Hasilnya, ketika ulangan keesokan harinya, kita masih ingat. Sayangnya, seminggu kemudian semuanya sudah kita lupakan.

Menurut JR Anderson penulis buku Learning & Memory: An Integrated Approach, sekadar mengulang-ulang apa yang ingin kita ingat sebetulnya memang cara yang paling tidak efektif untuk menghapal karena hanya menggunakan sedikit bagian otak. Nah, supaya anak lebih mudah mengingat pelajaran, ada baiknya ia menggunakan sebanyak mungkin bagian otak. Bagaimana caranya?
  
Sebetulnya otak kita tak hanya bisa mengingat serentetan kata. Otak mampu memproses gambar, warna, struktur, bau, rasa, sentuhan, posisi, emosi, dan bahasa. Jadi supaya bisa mengingat, kita perlu mengenali semua ini dari hal yang ingin kita ingat.

Coba beberapa contoh di bawah ini:
  • Proses terjadinya hujan: cari atau buat gambar tentang laut yang menguap menjadi awan sampai awan yang bergerak dan tertiup angin, minta anak untuk mencium bau rumput setelah terjadinya hujan, mencicipi sedikit air hujan, menadahkan tangan untuk tetesan air hujan sambil bernyanyi ‘tik…tik…tik… bunyi hujan…”
  • Perbedaan antara benda hidup dan tak hidup: ajak anak berkeliling rumah sambil menebak apakah benda yang ia temui hidup atau tak hidup, Minta anak memperhatikan karakteristiknya dan menyebutnya keras-keras.
  • Penggunaan huruf besar: Ajak anak membaca buku dan mencari di mana saja huruf besar dituliskan, tanyakan mengapa untuk menulis kata tersebut perlu digunakan huruf besar.
  • Warna pelangi: bisa digunakan jembatan keledai ‘mejikuhibiniu’ (merah jingga kuning hijau biru nila ungu), lihat warna dan bentuk pelanginya, tanya kapan saja pelangi terlihat sambil menunjukkan bukti bahwa hujan baru saja usai,
  • Struktur pemerintahan seperti kecamatan atau kelurahan: ajak anak berjalan-jalan sambil memperhatikan papan nama toko, tugu, atau tanda penunjuk jalan. Tunjukkan tulisan mana yang disebut kecamatan, kelurahan, RW atau RT. Setelah itu minta anak menebak sudah ada di daerah mana kita berjalan.
 Sumber : http://www.parenting.co.id/


Olahraga yang paling favorit, termasuk favorit putra Anda, pastilah sepakbola. Selain menyenangkan, sepakbola mendorong anak aktif bermain bersama teman-teman sebayanya. Jadi, selain bermanfaat bagi fisik, ketrampilan sosial anak pun ikut diasah.
Manfaat Sepakbola untuk Anak:
  • Latihan aerobik yang konsisten bagus untuk jantung.
  • Meningkatkan kecepatan dan keuletan.
  • Fleksibilitas dan koordinasi menjadi lebih baik.
  • Meningkatkan stamina.
  • Lebih berdisiplin.
  • Belajar teamwork.
  • Melatih sportivitas.

Bagaimana Anda tahu anak Anda siap untuk berolahraga?
American Academy of Pediatrics merekomendasikan Anda untuk menunggu anak berumur 6 tahun untuk bermain olahraga tim. Sebagian besar anak di bawah usia 6 tahun tidak mengerti konsep permainan tim. Untuk anak yang lebih tua, Anda bisa memutuskan berdasarkan perkembangan fisik dan emosi mereka serta minat terhadap olahraga tersebut. Dokter anak Anda bisa ikut membantu Anda memutuskan. Yang jelas, risiko cidera lebih besar jika Anda mendorong anak ikut berolahraga padahal mereka belum siap atau mereka tidak berminat.

Sumber:  http://parentsindonesia.com/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget