Latest Post




Mungkin masih banyak yang menganggap belajar sains identik dengan mata pelajaran IPA di sekolah, berhubungan dengan hafalan mati, rumus-rumus, dan hitungan yang panjang serta ribet. Bagi mereka yang tidak berminat, sains seringkali hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang menyusahkan semasa sekolah, tidak menarik karena hanya menghafal dan menghitung tanpa tahu nantinya akan digunakan untuk apa.

Padahal, sains sebenarnya lebih dari sekedar mata pelajaran. Demikian menurut Dr. Neil de Grasse Tyson, direktur Hayden Planetarium di American Museum of Natural History New York, AS. “Sains memberikan ‘seperangkat alat’ untuk memahami bagaimana dunia di sekitar kita berjalan. Intinya, belajar sains bukanlah bertujuan agar anak nantinya menjadi seorang ahli kimia atau ahli astronomi (walaupun bagus juga kalau ia nanti menjadi ilmuwan), tapi lebih pada pemahaman bahwa sains itu selalu ada di mana-mana dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Belajar sains untuk anak bukanlah belajar secara textbook, dengan hapalan, rumus dan hitungannya.  Bukan juga sekedar konsep atau pengetahuan. Berbekal rasa ingin tahu yang besar, anak bisa didorong untuk belajar sains dengan cara mengamati, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menyelidiki, mencatat ‘penemuan’ mereka, dan mengeksplorasi dunia sekitarnya untuk menemukan jawaban.

Jadi penekanannya adalah doing science, agar anak mampu berpikir dan bertindak secara logis. Keterampilan ini akan sungguh bermanfaat di kemudian hari karena walau kelak ia tidak berprofesi sebagai ilmuwan, keterampilan tersebut tetap bisa diterapkan dalam semua aspek kehidupan.



Perhatikan jumlah tidur dan waktu tidur anak-anak Anda. Apakah mengalami penurunan?

Memang Anak-anak mengalami penurunan waktu tidur, begitu pula orangtuanya. Secara garis besar, jumlah waktu tidur berdasarkan usia terus menurun sebanyak 0.71 menit setiap tahunnya.

Jumlah waktu ini hampir serupa dengan penurunan jumlah waktu tidur anak, yaitu 0.73 menit per tahunnya. Penurunan ini dikhawatirkan akibat gaya hidup modern yang menuntut manusia untuk tidur lebih sedikit dari waktu yang sebenarnya mereka butuhkan.


Jangan keburu senang jika anak tampak lahap mengonsumsi makanan apa pun yang Anda hidangkan. Apalagi, jika ia hampir tak pernah berhenti mengunyah, atau terus-menerus merasa lapar.

Seperti yang terjadi pada 3 anak asal India, yang pada akhirnya didiagnosa mengalami sindroma Prader-Willi. Ini merupakan kondisi genetik yang langka dan menyebabkan berbagai macam masalah, seperti rasa ingin makan terus-menerus, yang dipicu oleh perasaan lapar yang menetap, dan bisa mengarah pada kenaikan berat badan yang berbahaya. Lalu, pertumbuhan menjadi terbatas sehingga perawakan tubuh pun menjadi pendek.

Sindroma ini juga mengurangi massa otot, membuat penderitanya mengalami kesulitan belajar, kurang perkembangan seksual, dan masalah perilaku, seperti mudah marah atau keras kepala. Sindroma ini disebabkan oleh cacat genetik pada kromosom nomor 15, yang terjadi murni secara kebetulan, dan biasanya didiagnosis dengan melakukan tes genetik. Sayangnya, tidak ada obat untuk kondisi tersebut.

Seorang dokter anak di Mandavia Children's Hospital, Gujarat, India, dr. Akhsay Mandavia, mengatakan, "Ada akumulasi abnormal lemak pada anak yang menderita sindroma ini. Mereka akhirnya tidak mampu bernapas secara normal sehingga timbul mengi."


Ingat bagaimana Anda ketika masih di kelas 1 SD? Dan ternyata, Anda mungkin saja tidak jauh berbeda pada saat ini. Menurut penelitian yang dilakukan di University of California, ciri-ciri kepribadian yang ditunjukkan pada saat Anda berada di kelas 1 tidak akan terlalu berubah.

Penelitian membandingkan evaluasi guru terhadap murid-muridnya dari tahun 1960 hingga wawancara via video yang dilakukan 40 tahun kemudian dengan 144 topik yang sama. Penelitian meliputi apakah anak suka bicara, bagaimana kemampuannya beradaptasi, apakah ia impulsif atau mengikuti kata hatinya, dan apakah ia termasuk anak yang rendah hatiatau sombong.

Hasilnya? Penelitian menunjukkan, anak yang senang bicara cenderung menunjukkan minat pada masalah intelektual, berbicara secara fasih, mencoba mengendalikan situasi, dan menunjukkan kecerdasan yang tinggi saat dewasa.

Anak yang keterampilan berbicaranya rendah akan menjadi orang dewasa yang sering mencari nasihat, menyerah ketika menghadapi berbagai hambatan, dan agak kaku saat bersosialisasi dengan orang lain. Lalu, anak yang mudah beradaptasi, sebagai orang dewasa setengah baya nantinya akan berperilaku ceria, fasih berbicara, dan menunjukkan minat pada masalah intelektual.

Mereka yang kemampuan beradaptasinya rendah akan menjadi orang dewasa yang akan berbicara berbagai hal negatif tentang dirinya, mencari nasihat, dan kurang pandai bersosialisasi.

Bagaimana dengan anak yang impulsif? Mereka akan vokal, memiliki banyak minat dan sedang berbicara saat dewasa. Sebaliknya, anak yang kurang impulsif cenderung takut atau malu-malu, menjaga jarak dengan orang lain, dan merasa tidak aman saat dewasa.

Nah, anak yang rendah hati cenderung menunjukkan rasa bersalah, mencari pembenaran, mengatakan hal negatif  tentang dirinya, dan menunjukkan rasa tidak aman saat dewasa. Sementara mereka yang agak sombong, cenderung vokal, menunjukkan minat terhadap masalah intelektual, dan rendah saat dewasa.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget