Latest Post

Perilaku anak sepenuhnya bergantung pada bagaimana cara orangtua mendidik dan membesarkan mereka. Berbohong atau tidak berkata jujur adalah salah satu hal dasar yang biasanya akan dengan mudah berkembang pada setiap anak. Bahkan ketika sedang tidak melakukan kesalahan, anak-anak terkadang akan belajar untuk melakukan kebohongan baik itu dari teman atau dari lingkungan sekitar yang dapat memberikan pengaruh terhadap sikap dan pembentukan karakter seorang anak.

Disinilah peran orang tua, terutama ibu amat dibutuhkan, para ibu harus senantiasa mengawasi tumbuh kembang anak guna memastikan bahwa anak mereka tidak memiliki kebiasaan buruk berbohong. Jika anda mendapati kebohongan pertama anak, maka akan lebih mudah untuk mengubah perilaku buruk tersebut sebelum mereka mengembangkan kebiasaan tersebut menjadi lebih parah. Sama halnya dengan pola pengasuhan lainnya, orang tua tentu membutuhkan kesabaran yang ekstra ketika berhadapan denga anak-anak. Anda perlu untuk berkomunikasi dengan baik guna memaham bila anak anda sedang berbohong.
Untuk mengatasi hal tersebut, ada beberapa perilaku dan bahasa tubuh yang harus diamati guna membantu anda memahami jika anak anda sedang berbohong.

1. Tidak Konsisten

Ketika anda mendapati ada sesuatu yang tidak konsisten dalam cerita-cerita yang dibuat anak anda. Atau ketika anak mengulang-ngulang kalimat yang sama, maka yakinlah bahwa anak anda sedang menciptakan sebuah kebohongan. Orangtua mungkin akan merasa tersakiti ketika menyadari bahwa anak mereka harus menutupi kebenaran dan merangsang sebuah kebohongan, namun untuk mendidik dan mengajarkannya pada arah yang lebih baik, orang tua harus kuat dan terus meyakinkan anak agar dapat menghindari kebiasaan tersebut.

2. Perhatikan Kontak Mata

Ketika seorang anak berbohong, maka secara atau tidak, ia akan cenderung menghindari kontak mata dengan anda. Hal ini merupakan tahap awal ketika mereka berbohong dan bila kebiasaan ini terus berlanjut dan dibiarkan, maka saat tumbuh dewasa mereka akan dapat mengatasi hal ini yang kemudian belajar untuk berbohong dengan menatap langsung pada mata anda. Jadi amat penting untuk menangkap perilaku tersebut pada tahap awal dan mencoba membuat anak mengerti berbohong adalah perilaku yang tidak baik dan todak seharusnya mereka lakukan.

3. Kebanyakan Mengedipkan Mata

Ketika anda berbicara dengan kedipan yang terlalu banyak disertai dengan senyum nakal diwajahnya, maka ini bisa menjadi salah satu tanda adanya kebohongan yang dibuat oleh anak. Selain itu, ketika berbohong, anak juga akan cenderung melakukan gerakan-gerakan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Sebab ini, biasanya dilakukan untuk mengalihkan perhatian anda agar tidak terus-terusan membicarakan topik yang sama.

4. Merasa Gelisah

Gelisah adalah perilaku lain uang dapat anda simpulkan ketika anak sedang bebohong. Jika mereka terlihat gelisah atau tidak tenang serta menggeliat saat melontarkan alasan, maka ini dapat berarti bahwa mereka mengatakan suatu kebohongan. Begitupun ketika anak cenderung diam tak banyak bicara. Hal ini bisa menandakan bahwa anak sedang menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh anda.

Kebohongan biasnaya akan dimulai ketika anak berada pada masa sekolah, alasan yang dituaipun hampir serupa dengan orang dewasa, untuk mendapatkan perhatian atau ketika mereka merasa takut menerima akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya.

Sumber : Bidanku.com

Saat ini kita hidup diera digital dimana internet menyumbangkan banyak hal dalam kehidupan kita.

Ada banyak hal yang mempengaruhi kehidupan kita dengan adanya internet, salah satunya adalah mempermudah seseorang dalam melakukan banyak hal, termasuk dalam hal berkomunikasi. Dengan hadirnya internet, seseorang yang berada dibelahan dunia yang berbeda dapat dan mampu melakukan komunikasi secara langsung, dengan adanya internet sumber informasi menjadi semakin mudah didapat dan diakses.

Internet memang menyimpan sejuta manfaat yang baik untuk kehidupan. Namun disamping itu, juga adapula sejuta ancaman yang bisa diberikan internet dalam kehidupan ini, salah satunya adalah kejahatan dalam internet dan penyalah gunaan fungsi internet yang dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan seseorang.

Jika tak diawasi dan dikontrol dengan baik, penggunaan internet dapat menjerumuskan seseorang pada kesesatan. Dunia di internet bak sebuah hutan belantara dimana didalamnya terdapat banyak jalan. Jika seseorang menggunakannya untuk tujuan yang baik dan memiliki tujuan yang pasti, maka mereka akan mampu mecapai tujuan mereka dan tidak tersesat di belantara hutan tersebut. Sebaliknya, bagi seseorang yang tidak punya arah dan tujuan internet dapat menjerumuskan dan menjebak seseorang dalam kesesatan.

Jaringan internet bukan hanya dapat diakses lewat komputer dan laptop saja. Apalagi saat ini sudah hadir ponsel cerdas yang telah dilengkapi dengan fitur didalamnya yang memungkinkan si ponsel untuk dapat mengakses internet. Nah, mengingat ada banyak ancaman yang tersimpan di internet, membuat kekhawatiran pada orangtua untuk memberikan fasilitas ponsel kepada anak-anaknya semakin besar. Mereka takut, jika keputusan mereka memberikan ponsel cerdas pada anak-anaknya bisa menjadi awal penyimpangan moral dan perilaku anak-anak. Belum lagi, banyak kasus saat ini ketika orangtua memberikan fasilitas ponsel pada anak-anaknya, tumbuh kembang mereka khususnya perkembangan sosialisasi anak bersama dengan lingkungannya semakin terganggu.

Sementara itu, jika melihat dari sisi manfaat, internet saat ini bak kebutuhan setiap orang untuk mempermudah kehidupan sehari-harinya. Terutama dalam hal mengakses informasi dan komunikasi. Nah, jika sudah dihadapkan pada permasalahan seperti ini, terkadang orangtua dibuat bingung. Manfaat dari ponsel terutama ponsel cerdas sebenarnya banyak, salah satunya adalah membantu anak dalam belajar, karena ponsel dilengkapi dengan aplikasi yang menarik seperti halnya puzzle.

Selain itu, memiliki ponsel juga membantu orangtua untuk dapat mengawasi anaknya di rumah sementara mereka berada di kantor. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan disini adalah kemampuan anak dalam mengadopsi tekhnologi yang begitu cepat tidak sejalan dengan kemampuannya dalam mengemban tanggung jawab saat mereka menggunakannya. Lantas, apa sajakah yang perlu dilakukan orangtua sewaktu anak mereka meminta fasilitas ponsel?

1. Menunda dan Mengulur Waktu

Seorang edukator Parenting bernama Judy Arnall menunjukan untuk para orangtua yang berhubungan dengan generasi digital, menyarankan agar mereka sebisa mungkin menunda dan mengulur waktu selama mungkin ketika memberikan fasilitas ponsel atau gadget untuk anak-anak mereka.

Ada begitu banyak alasan mengenai hal ini, selain alasan finansial dan sosial. Sebab hal yang perlu diingat dan dipelajari dari banyak kasus terdahulu adalah, bukan hanya pada anak-anak, secara nyata kehadiran ponsel pintar nyatanya mampu membuat orang dewasa kecanduan dan bahkan berubah menjadi "anti-social" sewaktu mereka menggunakannya. Untuk itulah, ketika anda memberikannya kepada anak-anak maka bukan hal mustahil bagi mereka mengalami hal yang serupa.

Dengan demikian, sewaktu si buah hati meminta anda untuk memfasilitasi mereka dengan ponsel pintar, ada baiknya pertimbangkan banyak hal dan sebisa mungkin ulur-ulur waktu ini selama keinginan si kecil bisa diredam dan dialihkan pada sesuatu hal yang lain yang lebih membuat mereka tertarik. Sebab kami yakin, anda para orangtua tidak ingin menyaksikan masa kecil anak-anak anda hanya dihabiskan dikamar dan tidak mampu bersosialisasi.

2. Pertimbangkan Faktor Finansial

Bukan hanya biaya yang dihabiskan sewaktu membeli ponsel. Hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah masa depan si kecil bersama dengan ponsel pintarnya. Ada kalanya, biaya pulsa pada anak bisa membengkak dan tak terkendali, meskipun orangtua sudah mengawasinya. Jika hal ini terus-menerus terjadi pada si kecil, maka siapkah anda untuk membiayai hal tersebut? Nah, hal inilah yang penting diperhatikan dengan seksama. Untuk itu, perlu sekali bagi orangtua untuk mengevaluasi sejauh mana ponsel yang dipegang anak itu memang mereka butuhkan.

Selain itu, pertimbangkan pula apakah anda perlu untuk menghapus beberapa aplikasi internet dan email pada ponsel pintarnya atau mungkin mengganti ponsel pintar dengan ponsel biasa saja. Untuk hal ini, sebaiknya diskusikan hal ini bersama dengan anak anda agar mereka memahami bahwa ponsel tersebut tidak bisa digunakan sepuasnya mengingat biaya yang dikeluarkan untuk hal tersebut sangatlah mahal.

3. Jika Setuju Membeli, Berikan yang Sesuai

Jika setelah anda menunda-nunda terlalu lama dan keinginan anak sudah tidak bisa lagi dialihkan pda hal yang lain. Maka, jika saja anda setuju untuk memfasilitasi mereka dengan ponsel, maka berikan ponsel yang sesuai dengan anak. Carilah model yang tepat untuk mereka, cermati pula fitur-fitur yang ada didalamnya dan upayakan hal untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul.

Selain itu, bila perlu anda juga bisa memberikan mereka nomor ponsel pra-bayar sehingga anda bisa mengontrol tagihan pulsa yang mereka keluarkan setiap bulannya. Hanya karena ini adalah zaman yang canggih, anda lantas menuruti keinginan anak untuk dibelikan ponsel paling canggih dan mahal. Ingatkan kembali, anak-anak umumnya masih begitu ceroboh, jika anda memberikan fasilitas mewah dengan membelikan ponsel mahal. Tidakkah anda khawatir jika mereka bisa menghilangkannya? Untuk itu, sebaiknya belikan ponsel yang sesuai untuk anda dengan dilengkapi fitur yang mereka butuhkan, buka mereka inginkan.

4. Ajari Penggunaan yang Tepat dan Awasi

Mengajari anak cara mengoperasikan ponsel yang benar adalah hal yang penting. Hal ini selain untuk membuat anak bisa dengan benar menggunakan ponsel yang telah anda belikan, juga sekaligus memberikan tanggung jawab untuk mereka. Misalkan, ajarkan anak untuk mengenal tatakrama dan sopan santun saat mengoperasikannya. Beritahukan pada mereka bahwa mengoperasikan ponsel dihadapan lawan bicara adalah hal yang tidak terpuji.

Selain itu, tetap awasi penggunaan dan tidak ada salahnya sesekali mengecek ponsel anak untuk mengetahui jika saja ada aplikasi atau hal yang tidak seharusnya ada diponsel mereka.

Kehadiran ponsel memang bak kebutuhan yang memudahkan seseorang untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Termasuk pada si kecil. Akan tetapi sebagai orangtua terkadang kita bingung memfasilitasi anak dengan barang ini karena takut di salah gunakan. Nah, mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan sewaktu anak meminta ponsel untuk fasilitas mereka adalah solusi yang baik untuk anda dalam mendidik, mengurus dan membesarkan anak di era digital

Pada usia berapa anak-anak mulai boleh diberikan gadget seperti ponsel?

Pada kenyataan inilah yang banyak menuai pro dan kontra dan menjadi perdebatan dikalangan orangtua. Ada yang mengatakan bahwa anak boleh diberikan ponsel dan gadget lainnya selama berada dibawah pengawasan orangtua. Namun, adapula yang menolak dengan tegas untuk tidak memfasilitasi anak mereka dengan peralatan tersebut.

Sementara, jika kita amati jaman saat ini, sudah menjadi sebuah hal yang biasa, ketika sebuah keluarga menggelar makan malam bersama di meja makan. Mereka duduk bersama dan ibunya mulai mempersiapkan menu makanan yang sudah dimasaknya. Ketika ibunya hendak mengambilkan nasi dan lauk untuk anaknya, mereka harus terus berulangkali menanyakan mau makan dengan lauk apa. Sementara anak mereka malah asyik dengan terus memainkan gadget yang ada digenggamannya. Bahkan, setelah makanan tersebut ada dihadapan mereka, anak-anak bukan langsung menyantap dan menghabiskan makanannya, melainkan malah asyik memainkan gadgetnya terus menerus.

Nah dari sinilah, muncul bayak kekhawatiran dari banyak orang. Apakah hal ini akan dapat menghambat tumbuh kembang si anak jika mereka sudah difasilitasi dengan ponsel sejak mereka masih kecil? Lantas, diusia berapakah anak-anak boleh diberikan ponsel atau gadget sejenisnya?

Anak-anak kita saat ini lahir pada zaman internet sudah ada dan tersedia serta gadget juga telah hadir dengan semakin canggih. Artinya, sebagai orangtua kita yang baik, sikap kita pun harus mampu berpikir dinamis dengan mengikuti perkembangan zaman anak-anak dengan bantuan tekhnologi dalam dunia digital.

Sehingga yang menjadi hal penting dalam kasus ini adalah bukan gadgetnya yang harus anda khawatirkan, melainkan apa yang ada didalamnya serta aturan yang bisa anda terapkan dalam penggunaan gadget yang kita berikan pada anak. Dengan demikian, orangtua tetap bisa mengontrol dan mengawasi anak-anaknya dalam mengoperasikan gadgetnya.

Hanya saja, tentunya juga tidak bijak jika fasilitas pemberian gadget anda berikan ketika anak-anak masih begitu kecil. Dengan alasan mengikuti perkembangan zaman di dunia digital, anda lantas terpacu untuk memfasilitasi anak balita anda dengan ponsel cerdas dan gadget canggih yang sudah anda siapkan.

Mengutip dari Psychoterapist Frand Walfish menjelaskan bahwa usia minimal seorang anak memiliki ponsel adalah di usia 10 tahun, namun idealnya adalah di usia 12 atau 13 tahun. Dengan demikian, ini berarti anda bisa mempertimbangkan kembali sewaktu hendak memberikan ponsel pada anak-anak balita. Selain itu, ada beberapa hal yang penting untuk dipertimbangkan sebelum anda memfasilitasi mereka dengan ponsel cangih dan gadget lainnya. Apa sajakah hal tersebut? Yuk, kita simak beberapa hal berikut ini.

1. Perhatikan Apakah Anak-Anak Benar-Benar Membutuhkannya atau Tidak

Memberikan anak fasilitas ponsel di era digital ini, mungkin anda maksudkan untuk membantu mereka dalam mempermudah segala hal dalam kehidupannya, terutama berkomunikasi. Hanya saja, hal ini perlu dipertimbangkan kembali. Diusia anak yang masih begitu kecil, kehidupan mereka umumnya akan lebih banyak dihabiskan bersama dengan orangtua. Selain itu, ruang gerak anak juga masih cukup mudah untuk dijangkau orangtua. Untuk itulah, sewaktu anda hendak memberikan fasilitas ponsel untuknya, coba pertimbangkan kembali, apakah anak anda benar-benar membutuhkannya atau tidak?

Mengingat anda selalu bersama dengan mereka dan senantiasa mendampingi mereka. Untuk itu, rasanya anak tidak akan terlalu jauh dan membutuhkan ponsel untuk berkomunikasi dengan anda. Selain itu, jika saja mereka memang membutuhkannya. Akan lebih baik jika anda menggunakan ponsel sesuai dengan kebutuhannya. Daripada membeli, untuk beberapa kebutuhan mendesak yang tidak terlalu sering, mereka bisa menggunakan ponsel anda dan meminjamnya sementara.

2.  Perhatikan Lingkungan Anak

Sebelum anda memberikan ponsel sebagai hadiah untuknya. Sebaiknya, baca kembali situasi dilingkungannya. Apakah sudah banyak teman anak-anak anda yang menggunakan ponsel atau tidak. Jika ya, anda tentu tidak ingin jika anak anda menajdi satu-satunya orang yang belum memiliki fasilitas ini. Apalagi jika fasilitas ini membantu mempermudah segala urusanya. Hanya saja, jika anda berpikir anak masih terlalu kecil untuk diberikan fasilitas ini. Maka sebaiknya, ikuti kata hati anda dan tentukan apa yang terbaik yang bisa anda berikan kepada sang anak.

Namun, jika teman-temannya di sekolah belum memiliki ponsel, maka ini tidak menjadi pilihan untuk anak untuk lebih dini diberikan fasilitas ponsel.

3. Perhatikan Apakah Anak Anda Akan Setuju Diberika Peraturan Menggunakan Ponsel?

Banyak orangtua yang memilih memberlakukan berbagai aturan pada anak-anaknya sewaktu menggunakan ponsel. Hal ini tentu saja dilakukan dalam rangka mengontrol dan terus mengawasi anak-anak dalam mengoperasikan gadgetnya, agar jangan sampai mereka melenceng dari fungsi gadget dan ponsel yang sesungguhnya.

Selain berguna, hal ini juga bisa menjadi alternatif bagi anda yang sudah memberikan ponsel pada anak sejak mereka masih dini

Sayangnya, jika anak sulit diatur, dan kehadiran ponsel ini malah menjadi perdebatan bersama orangtua, alangkah lebih baik untuk memikirkan dan mempertimbangkan kembali keputusan anda memberikan ponsel pada mereka. Jangan sampai keputusan awal anda memberikan fasilitas ini pada anak, menjadi awal mimpi buruk anda dengan membangun sikap negatif dalam diri anak.

4. Perhatikan Apakah Ponsel yang Diberikan Akan Bertahan Lama

Anak-anak seringkali lupa dan ceroboh akan sesuatu hal yang menjadi milik pribadinya. Ketika mereka asyik bermain dengan membawa barang-barang pribadi mereka, terkadang mereka tidak menyadari jika barang-barang tersebut tetap ada dalam genggaman mereka dengan aman. Ini pulalah yang dikhawatirkan terjadi dengan anak anda sewaktu mereka memiliki ponsel. Kecerobohan anak ditakutkan membuat barang-barang berharga yang ibu berikan pada mereka tidak bisa tahan lama. Jika mereka menghilangkannya, maka berapa kali anda harus menggantinya. Apalagi jika mengingat, ponsel bukanlah barang dengan harga yang murah. Untuk itulah, sewaktu anda hendak memberikan ponsel untuk fasilitasnya, sebaiknya dipertimbangkan kembali, apakah anda anda termasuk tipikan orang yang ceroboh atau tidak.

Memberikan ponsel pada anak-anak seringkali menjadi perdebatan. Banyak orangtua yang memiliki masalah mengenai kapan waktu terbaik dan diusia berapa anak-anak boleh difasilitasi dengan barang ini.

Disatu sisi, fasilitas ini bisa mempermudah dan membantu anak-anak dalam berkomunikasi. Namun di sisi lain, orangtua takut jika barang ini mereka salah gunakan. Nah, beberapa hal diatas diharapkan mampu menjadi pertimbangan ayah dan ibu sebelum memberikan ponsel untuk mereka. Semoga bermanfaat.

Sumber : Bidanku.com

Apakah anak Anda bisa mengikat tali sepatu? Menangkap bola? Memegang pensil dengan benar? Semua tahapan perkembangan yang kelihatannya sepele ini ternyata sangat penting dan serinkali tidak disadari para orang tua manfaatnya, demikian menurut penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 8.000 anak usia sekolah di Finlandia.

Memiliki kesulitan dengan keterampilan ini merupakan pertanda dari buruknya keterampilan motorik yang dikuasainya, masalah yang banyak dialami anak dan cenderung terus meningkat. Penelitian, yang pertama kali melihat berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, dan fungsi keterampilan motorik anak pada usia 8 tahun, melihat prestasi akademis pada anak tersebutpada usia 16 tahun dan menemukan kalau buruknya keterampilan motorik anak erat kaitannya dengan prestasi yang buruk di sekolah.

Apa hubungannya, sih? Sejumlah penelitian menemukan (dan kedengarannya, sih, masuk akal), bahwa anak yang kelebihan berat badan agak akan ketinggalan perkembangan beberapa keterampilan fisiknya. Mereka memang tidak banyak melatihnya seperti anak-anak lain di kelompok peer-nya.
Nah, hubungan ke prestasi akademisnya memang terbukti—anak-anak yang kegemukan memiliki prestasi yang lebih buruk. Hubungannya memang lebih kompleks, namun banyak pakar yang menduga anak-anak ini memiliki rasa percaya diri yang rendah, sehingga merasa tidak berharga lagi di kelas. Dan, gampang untuk melihat efek dominonya di sini: Anak memiliki kesulitan dengan keterampilan motorik karena kurang melakukan aktivitas fisik, mengakibatkan kenaikan berat badan, serta menurunnya rasa percaya diri.

Namun, jangan panik dulu. Ini tidak berarti anak yang tidak piawai mengikat tali sepatunya akan berakhir hidupnya. Satu tugas tidak berhasil dilakukannya tidak akan membuat keterampilan motoriknya terlambat. Anda harus melihat kombinasi dari gejala-gejala yang serupa dan berkonsultasi dengan dokter anak. Dan, kalau memang ada keterlambatan, bisa segera ditangani, kok, secara dini. Nantinya, anak bisa mengejar ketinggalannya di TK.
Sumber : www.parenting.co.id

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget