Februari 2014

 

Anak bisa hafal Al-Quran merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tua yang merindukan hadirnya generasi penerus mereka sebagai pecinta Al-Quran.

Agar kita mendapatkan banyak kemudahan dalam mendidik anak agar bisa bisa menghafal Al-Quran maka hendaknya kita menanamkan akidah, ilmu pengetahuan agama, dan pengajaran Al-Quran kepada anak-anak kita sejak mereka masih berusia dini.

Pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak dan memori mereka yang masih polos. Mereka bagaikan kaset kosong yang siap diisi oleh apa saja. Apa pun yang didengar sang anak, pasti akan terekam dalam memorinya.

Oleh karena itu, kita perdengarkan kepada buah hati kita bacaan Al-Quran seoptimal mungkin, baik dengan cara kita langsung yang membacanya atau dengan menggunakan kaset atau semacamnya. Cara itu pula yang pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dan telah menjadi tradisi dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka.

Para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in memiliki perhatian sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak.

Kalau kita membaca kitab-kitab klasik berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang para ulama yang berhasil menghafal Al-Quran pada usia sebelum mencapai 10 tahun.  Imam Syafi’i rahimahullahu misalnya. Peletak Madzhab Asy-Sayfi’iyyah ini berhasil menghafal Al-Quran 30 juz pada usia tujuh tahun.  Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, di antaranya Tafsir Jalalain dan Tafsir Al-Durrul Mantsur, hafal Al-Quran 30 juz pada saat usianya belum genap delapan tahun.

Ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan dalam mengajari anak usia 6 -8 tahunan dalam hal hafalan Al-Quran.

Pertama, harus kita pahami, anak-anak seusia ini lebih suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming, atau apalah namanya. Yang jelas, mereka sangat menyukai hadiah atau memperoleh sesuatu bila selesai mengerjakan tugas. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pendekatan ancaman atau pukulan bila si anak tidak mau atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Berikan mereka hadiah apa saja –tidak harus yang harganya mahal. Yang penting, bentuk perhatian dari seorang guru atau orangtuanya.

Baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang anak itu berkaitan erat dengan program tahfizh Al-Quran, walaupun harganya agak mahal, seperti Al-Quran digital, MP4, atau HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 juz. Tentunya itu akan membuat anak lebih bersemangat dalam belajar dan menghafal Al-Quran.

Kedua, selalu memuji dan menyanjung sang anak atas keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas atau telah mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. Jangan sampai kita berlaku tidak adil terhadap anak. Jangan sampai terjadi, ketika dia melakukan kesalahan atau tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya dan membuat dia berputus asa dan akhirnya mengakibatkan sang anak tidak mau lagi menghafal. Jadi, harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut selalu senang dalam proses menghafal.

Ketiga, yang juga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar atau menghafal yang menyenangkan dan senyaman mungkin.  Hal itu agar anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Bila hal pemaksaan atau penekanan itu dilakukan, maka bukan saja anak tidak mau menghafal, tapi juga bisa jadi dia nanti akan benci dan trauma saat disuruh menghafal.

Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, guru atau orangtua yang mengajarkannya bercerita secara ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. Dengan cara demikian, dia akan menjadi lebih tertarik dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah-kisah tertentu di dalam Al-Quran.

Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk merangsang anak dalam menghafal Al-Quran, yakni buatlah gambar-gambar yang berkaitan erat dengan ayat atau surat yang akan dihafal agar mereka dapat membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang terjadi.

Keenam, memilih guru yang kompeten –memiliki kapasitas cukup. Idealnya guru tersebut sudah hafal 30 juz. Itu pula yang pernah dilakukan oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, saleh, hafal Al-Quran, dan banyak menghafal hadits dan disiplin ilmu lainnya, untuk mengajari anaknya.

Seorang guru harus berpenampilan menarik dan menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, motivasi yang tinggi, dan akrab dengan anak-anak, tetapi juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, inovatif, dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak.

Disiplin memang harus dibiasakan sejak sedini mungkin pada anak. Tapi apakah perlu dipakai hukuman fisik jika anak tidak disiplin?

Disiplin pada dasarnya adalah perilaku kebiasaan, sehingga tanpa disuruh, secara otomatis anak masuk ke dalam pola kebiasaan tertentu. Penting untuk memudahkan hidup anak, karena hidup jadi ada teratur dan polanya dengan disiplin waktu. Lima komitmen orangtua untuk membentuk perilaku disiplin anak sedini mungkin:
  • Kasih yang tulus, terima anak secara realistis dan apa adanya agar terukur dalam mendidik  anak dan melandaskannya pada kepentingan anak sekarang dan nanti.
  • Konsekuen. Contoh, jika kita bilang A, maka kita juga melakukan A.  
  • Konsisten. Pembentukan kebiasaan butuh waktu, sampai perilaku itu tertanam.
  • Kompak. Harus dilakukan seluruh anggota keluarga  sehingga tidak terjadi kesenjangan perilaku  antara ayah, ibu dengan  pengasuh.
  • Kompromi. Kompromi tetap bisa dipertimbangkan. Misalnya ketika anak demam, dia tidak perlu mandi seperti biasanya.
Semua pembelajaran kedisiplinan pada anak tersebut bisa dengan mudah Anda terapkan dirumah. Anak jadi disiplin tanpa perlu menerima hukuman fisik.

Dampak Buruk Televisi dan Video Game pada Anak

Apakah anak Anda sering menghabiskan waktu di depan layar televisi? Jika iya, sebaiknya mulai sekarang Anda harus membatasi waktu anak Anda untuk menonton televisi
The American Academy of Pediatrics melarang penggunaan media pada anak-anak mulai usia 2 tahun. Lembaga tersebut juga merekomendasikan agar anak-anak memiliki waktu tidak lebih dari satu hingga dua jam perhari di depan layar televisi, karena terlalu lama menghabiskan waktu di depan televisi bisa berdampak buruk pada anak-anak.
Dilansir dari Mayo Clinic, berikut ini adalah dampak yang ditimbulkan jika anak Anda terlalu lama berada di depan layar televisi.

1. Obesitas
Dengan memberikan TV di kamar tidur anak dapat membuat anak semakin sering menonton Tv. Semakin lama anak Anda di depan layar TV, semakin besar risikonya mengalami obesitas. Anak Anda bisa saja mengembangkan selera makannya untuk mengonsumsi junk food yang dipromosikan dalam iklan TV. Dan yang sering terjadi adalah makan berlebihan sambil menonton TV.

2. Tidur tidak teratur
Semakin lama anak-anak menonton TV, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kesulitan tidur. Sehingga anak-anak akan memiliki jadwal tidur yang tidak teratur, kurang tidur , pada gilirannya , dapat menyebabkan kelelahan dan meningkatkan nafsu untuk mengemil.

3. Masalah perilaku
Murid Sekolah Dasar yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari menonton TV atau menggunakan komputer lebih mungkin memiliki masalah emosional, sosial, dan perhatian. Tak hanya TV, penggunaan video game juga terkait dengan peningkatan risiko masalah perhatian pada anak-anak.


Atas perkembangan dan kemajuan sekolah yang cukup baik, banyak pihak telah memberikan apresiasi dan dukungan agar sekolah Bina Amal lebih maju dan melahirkan banyak prestasi. Salah satu apresiasi adalah dengan adanya bea siswa GOTA-AQ kepada siswa Bina Amal. Fajri dan adinda Fatimatuzzahro dari SDIT Bina Amal kali ini yang mendapatkan beasiswa tersebut. 

Penanggung jawab kegiatan sosial Yayasan Bina Amal Junianto mengatakan, SDIT sekarang ini alhamdulillah telah berhasil meningkatkan kualitas belajar dan mengajar terbukti dengan banyaknya prestasi siswa yang di hasilkan sehingga banyak pihak ke tiga yang memberikan apresiasi dengan memberikan bantuan.

 

Fase ‘No, no, no’ itu akan berakhir seiring bertambahnya usia anak. Menghadapi ulahnya yang sering membantah, lebih baik Anda  menggunakan cara-cara berikut:
  • Merespon dengan humor. Jangan terpancing untuk marah, apalagi bila anak ngotot melakukan sesuatu yang tidak berbahaya.  Cukup katakan, ”Oh, kamu memasukkan kue ke gelas supaya kuenya berenang ya? Padahal kuenya lebih senang bila berada di perut kamu, lho.”
  • Tetap ingatkan kewajibannya. Untuk hal-hal yang memang harus dilakukan anak, jangan biarkan dia bebas dan ingatkan terus. Semisal tugas membereskan mainan atau menggosok gigi, katakan dengan nada tegas namun tidak berteriak.
  • Gunakan psikologi terbalik. Ketika anak menolak mandi, Anda bisa bilang begini, ”Oh, kamu tidak mau mandi. Okey, tidak apa-apa. Biar saja nanti badannya bau dan digigiti nyamuk.” Dengan psikologi terbalik, anak akan berpikir bahwa Anda tidak peduli terhadap reaksinya. Itu akan memancing ia berbuat sebaliknya untuk mendapat respon Anda.
  • Menyuruh dalam nada meminta, misalnya, ”Boleh ibu minta buku kamu?” lebih baik untuk  ego anak daripada nada memerintah seperti “Ayo, bawa sini bukunya!”
  • Terangkan dengan spesifik apa yang Anda ingin anak lakukan.  Misalnya, katakan “Yuk, taruh bonekamu di dalam kotaknya,” daripada “Ayo, kembalikan mainannya!”
  • Ajarkan anak kata-kata  untuk mengekspresikan perasaan. Terkadang anak memberondong  Anda dengan kata "tidak"  hanya untuk menunjukkan perasaan tidak senang, protes, atau  marah pada sesuatu. Coba cek dengan bertanya padanya, ”Kamu lagi marah, ya? Apa yang membuat kamu marah? Coba bilang sama Bunda." Lalu, dengarkan perkataan anak sambil membantunya memilih kata-kata.
  • Lupakan sifat bossy Anda. Tidak ada orang yang senang diperintah, bukan? Karena itu, wajar jika anak  menolak duduk di car seat karena nada perintah Anda seperti diktator: "Duduk di kursimu!". Lebih efektif bila menyampaikan instruksi secara bersahabat, namun jelaskan konsekuensi bila anak melanggar, misalnya, “Okey, kita sudah duduk di mobil. Tapi kamu harus  duduk di kursimu, supaya kalau ibu merem mendadak, kamu tidak mental".  Jangan lupa, nada suara juga penting. Tidak perlu berteriak atau membentak.
  • Angie T.Cranor, Ph.D, asisten professor dari jurusan perkembangan di universitas North Carolina di Greensboro, AS, mengatakan, daripada melarang anak untuk melakukan sesuatu,  lebih baik minta dia melakukan sesuatu. Kalimat seperti “Jangan berguling di lantai dengan baju barumu” dapat memancing argumentasi. Lebih baik katakan,  “Coba kamu duduk di kursi, supaya baju baru kamu tidak kotor.”  
  • Mengalihkan perhatian ketimbang melarang. Suatu hari, Alya bermain-main dengan gelas minumannya. Berkali-kali ia memasukkan kue, permen dan lainnya, ke dalam gelas. Dua puluh kali bundanya mengatakan ‘jangan’, tidak mempan. Akhirnya, bunda Alya menyadari bahwa kata ‘jangan’ tidak bisa digunakan untuk membuat Alya menghentikan tindakan impulsifnya. Ia pun mengalihkan perhatian Alya dengan melakukan aktivitas yang mirip, seperti memberi makan ikan di akurium atau bermain dengan bebek-bebek plastik di bak mandi. Berhasil!
  • Cari kata spesifik selain “jangan”,  untuk mencegah aktifitas yang membahayakan anak. Misalnya, ketika dia bermain-main dengan tempat sampah, reaksi Anda mungkin mengatakan “Jangan!”.  Cobalah memilih kata lain yang lebih efektif, misalnya, “Hi, jijik! Main kotak sampah bisa membuatmu sakit.”  Katakan dengan ekspresi yang mendukung.
  • Berikan kata positif dengan kata awal yang mengandung konotasi negatif. Misalnya, “Kamu tidak boleh main pisau, tapi kamu boleh main bola.” Atau “Kamu tidak boleh menyeberang jalan sendiri tapi kamu boleh menemani Mama menyeberang jalan.” Gunakan ekspresi meyakinkan untuk menekankan bahwa ia boleh melakukan sesuatu  tetapi dalam cara yang positif. Ini adalah cara kreatif dalam memberi anak pilihan tanpa melarangnya terus-menerus. 



Sifat anak yang pemarah bisa menjadi masalah bagi ibu dan anak. Karena itu orangtua perlu memaklumi sifat anaknya tersebut. Seperti dikutip dari The baby Book karangan William dan Martha Sears, Jumat (19/3/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah, yaitu:
  1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah. Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, seperti lapar, bosan, suasana lingkungan yang tidak mendukung atau lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak.
  2. Memberikan contoh sikap tenang padanya. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya. Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar.
  3. Ketahui siapa yang sedang marah. Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali.
  4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum. Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
  5. Memeluk dan merangkulnya erat seperti pelukan gaya beruang. Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah.
  6. Menahan diri adalah terapi yang baik. Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah.


 
Ada beberapa kesalahan yang harus kita hindari dalam mendidik anak menurut islam agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang beriman, soleh dan berakhlak mulia. Berikut 10 kesalahan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka menurut islam.
1. Memberi didikan yang tidak seimbang
Tidak seimbang antara didikan jasmani (fisik), rohani (keagamaan) dan keilmuan. Saat ini banyak orang tua yang lebih mementingkan pendidikan ilmu (misalnya matematika, ipa, bahasa inggris, dll) dari pada pendidikan keagamaan.
2. Menegur anak secara negatif
Mengeluarkan kata-kata kasar dan makian kepada anak-anak saat kita marah karena kesalahan yang diperbuat anak. Janganlah kita membandingkan anak kita dengan saudaranya atau anak orang lain.
3. Tidak tegas dalam mendidik anak
Tidak menjadwalkan kegiatan harian yang positif bagi anak dan terlalu memfokuskan anak-anak kepada sesuatu aktivitas saja tanpa memperhatikan perasaan mereka.
4. Kurang mengawasi acara TV ataupun video yang ditonton anak.
Pengawasan terhadap apa yang ditonton anak sangat penting, kerena saat ini banyak acara TV menonjolkan akhlak yang kurang baik, seperti pergaulan bebas, pakaian yang tidak sesuai kaidah agama dan perbuatan yang tidak pantas ditonton anak-anak.
5. Tidak mengajarkan kebiasaan yang baik di rumah 
Tidak pernah mengajar anak untuk memberi dan membalas salam, makan bersama, solat berjemaah, beribadah bersama-sama, dan sebagainya. 
6. Kurang memberi sentuhan kepada semua anak.
Rasulullah sering membelai cucu-cucunya dan mencium mereka. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a.:
Pada suatu hari Rasulullah SAW mencium Al-Hassan atau Al Hussien bin Ali r.a. Ketika itu Agra' bin Habis At-Tamimiy sedang berada di rumah baginda. Berkata Agra' : "Ya Rasulullah! Aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorang pun dari mereka." Rasulullah melihat kepada Agra' kemudian berkata : "Siapa yang tidak mengasihi tidak akan dikasihi."-(Maksud Al-Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)
7. Terlalu bergantung kepada pembantu rumah untuk mendidik anak-anak.
Sebagai orang tua kitalah yang akan ditanyakan mengenai anak-anak kiata di akhirat kelak. Oleh karena itu menjadi kepentingan kita untuk berusaha memastikan anak-anak terdidik dengan didikan Islam.
8. Bertengkar di depan anak-anak.
Ini akan menyebabkan anak-anak tertekan dan membenci salah seorang dari ibu bapaknya.
9. Penampilan diri yang kurang baik dan kurang pantas.
Orang tua tidak menunjukkan cara berpakaian yang pantas dan yang sesuai syariat bila berada di rumah, yaitu berpakaian yang tidak rapih dan seksi di hadapan anak-anak.
10. Membiarkan orang yang tidak baik sikap dan perbuatannya masuk ke dalam rumah kita, balk dari kalangan sahabat sendiri ataupun sahabat anak-anak.
Hal ini akan memberikan contoh yang tidak baik kepada anak-anak.


Tidak semua anak pandai  menghafal. Ada banyak faktor yang  menyebabkan anak sulit untuk menghafal  sesuatu, bisa karena faktor keturunan, memang memiliki kemampuan mengingat  atau belajar yang  lemah, kondisinya sedang  dalam keadaan stress atau  tertekan atau bisa karena sulitnya berkonsentrasi (biasanya  terjadi  pada anak yang  aktif). 
Sebagai orang  tua, kita jangan hanya  diam saja dan menyerah pada nasib. Kita harus  membantu anak, meskipun bukan dengan cara memaksa mereka untuk bisa mengingat. Namuan kita  harus membimbingnya agar anak mengalami perkembangan yang  berarti.  Bagaimana caranya? Berikut tips-tips dari  Kak Zepe:

1. Melatih  Anak Untuk Fokus
Melatih anak untuk bisa  focus, bukan berarti  memaksa anak untuk memperhatikan apa yang kita jelaskan. Hal yang terpenting disini adalah memberikan sesuatu yang  menarik, sehingga anak bisa dengan senang  hati memperhatikan apa yang kita jelaskan.

2. Mengajarkan anak untuk terbiasa mengulang pelajaran
Untuk tingkat  anak usia  dini, mungkin tidak banyak yang  harus diingat. Namun setidaknya kita bisa memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana,”Tadi  bermain dengan siapa saja? Ada teman baru  tidak? Namanya siapa teman barunya? Tadi  belajar apa saja?“

3. Tidak Membanding-bandingkan
Hindari membanding-bandingkan dengan anak yang lain, apalagi saudaranya sendiri. Hal ini bisa melemahkan semangat  anak untuk belajar. Yang patut kita pahami disini adalah bahwa setiap  anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam hal mengingat  sesuatu, setiap  anak memiliki kemampuan yang  berbeda-beda, ada yang bisa mengingat  dengan cepat, ada juga yang  membutuhkan waktu lebih lama. Karena ada kemungkinan anak mengalami “low memorizing” karena kurang  perhatiannya kita sebagai orang tua, sehingga anak merasa terbebani disaat  harus menghadapi  segala masalahnya sendiri.

4. Mendampingi Anak Saat  Menonton TV
Sebelum anak menonton TV, pastikan kita tahu acara apa yang  akan dia tonton. Kita juga harus berusaha memilihkan tontonan-tontonan yang  mendidik pada anak. Bila di stasiun TV minim acara yang  mendidik, kita bisa membelikan VCD di toko-toko penjualan CD. Setalah anak menonton TV, kita bisa menanyakan beberapa hal yang  berhubungan dengan apa yang  telah anak-anak tonton. Hal yang terpenting dalam poin ini, kita jangan terlalu  lama membiarkan anak nonton sendirian. Sehingga  beberapa  hal yang  belum anak-anak tahu  tentang  apa yang  dia tonton bisa kita jelaskan. Dan bila anak bertanya sesuatu tentang  apa yang  dia tonton, kita bisa menjawabnya.

5. Mengenal  Potensi
Potensi setiap  anak berbeda-beda. Sebagai orang tua kita harus peka dalam hal ini. Kita  harus bisa memotivasi  anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya, sehingga anak merasa memiliki  sesuatu yang bisa dibanggakan di depan orang  tua, saudara, dan teman-temannya. Sehingga anak tidak merasa rendah  diri karena memiliki kemampuan yang  istimewa dan unik.

6. Memilihkan Sekolah Yang  Tidak Meminta  Anak Menghafal melulu
Menghafal memang  penting. Layaknya sebuah computer yang  terlalu  penuh  dengan file-file yang  terlalu banyak. Speed computer lama kelamaan akan menjadi semakin lemot. Demikian  juga buah hati kita  yang  terlalu banyak disuruh menghafal, bisa menjadi  stress dan memiliki  kemampuan mengingat  yang  lemah.

Dan berikut  ini adalah tips praktis penanganan bagi anak agar memiliki  kemampuan mengingat  yang  baik:

1. Memberikan Pola Rutinitas
Memberikan jadwal makan,  tidur, bermain, belajar, dan aktivitas-aktivitas lainnya juga bisa memacu  daya ingat  anak. Anak-anak lama kelamaan bisa belajar secara mandiri  apa yang  yang harus dilakukan setelah selesai  melakukan suatu aktivitas.

2. Memberikan Ruang  Yang  Tepat
Berikan suasana yang kondusif bagi anak. Misalnya dengan menyediakan ruang  perpustakaan dan ruang belajar yang  terpisah  dengan ruang tamu  atau  jauh dari  suara bising, misalnya suara radio dan TV. Hal ini bisa memacu anak untuk bisa berkonsentrasi  dengan baik.

3. Belajar menggunakan semua  indra
Guru yang mengajar secara konvensional (guru mengajar, anak didik memperhatikan) adalah suatu cara yang  sudah ketinggalan jaman. Semakin banyak indra yang  digunakan pada anak untuk belajar, maka anak akan semakin mudah mengingat  sesuatu. Misalnya saat belajar tentang  magnet. Kita bisa menjelaskan dahulu  apa itu  magnet, fungsinya, dan segala sesuatu  tentang  magnet. Setelah itu kita bisa menunjukkan magnet yang  sebenarnya, dan pengaruhnya bia berdekatan dengan bermacam-macam benda. Sehingga selain belajar tentang  magnet, anak-anak juga semakin banyak  mengenal benda-benda yang  lain.

4. Mengenal  gaya belajar anak
Anak memiliki gaya belajar yang  bermacam-macam. Sebagai guru saya mengenal betul anak-anak saya. Ada yang  merasa tertarik saat saya menjelaskan sesuatu dengan cara yang konvensional,, namun ada beberapa yang tidak tertarik. Namun saat saya menggunakan media berwarna atau menggunakan lagu, beberapa anak yang  tadinya  tidak  tertarik, menjadi  tertarik untuk memperhatikan.  Macam gaya  belajar anak antara lain: auditory (mendengar), visual (melihat), kinestetik (meraba), musical (mendengar music), action (bergerak), dan masih banyak lagi. Setelah kita memahami macam-macam metode belajar anak, kita jadi  tahu bagaimana cara mengajar buah hati kita dengan sekreatif mungkin dan memberikan media-media pendukung yang  memungkinkan semua metode belajar  itu bisa digunakan. Meskipun anak lebih suka belajar secara auditory, bukan berarti mereka tidak suka belajar dengan cara visual. Karena hal  yang  menarik  bagi anak adalah sesuatu  yang baru. Sehingga variasi  cara belajar sangat   penting kita berikan pada  sang  buah hati.

5. Menggunakan Mind Mapping
Mind Mapping adalah sebuah metode belajar modern yang  memungkinkan anak untuk lebih mudah  mengingat  sesuatu. Dengan mind mapping, tulisan yang  seharusnya  ditulis  menjadi 5 halaman, bisa diringkas menjadi  1 halaman dan bisa dihiasi dengan gambar-gambar yang menarik.






Yayasan Wakaf Bina Amal kembali menyalurkan bantuan banjir kepada para korban bencana banjir di Kota Semarang. Bantuan di berikan di posko Semarang Timur dan Gayamsari. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Yayasan Wakaf Bina Amal terhadap masyarakat yang telah menjadi korban banjir. Bantuan yang di berikan kepada korban banjir diantaranya, paket sembako, mie instan dan juga nasi bungkus.  

Penanggung jawab kegiatan sosial Yayasan Wakaf Bina Amal mengatakan, hingga sekarang sudah terkumpul dana 13 juta dan kemungkinan akan bertambah karena bantuan masih di buka, sampai banjir benar-benar surut, bantuan akan terus di salurkan. "Kegiatan kepedulian ini sudah menjadi kewajiban kami, setiap ada bencana banjir atau longsor, Yayasan Wakaf Bina Amal selalu berupaya untuk hadir dan melayani masyarakat" ungkapnya. 

Bagi anda yang ingin membantu korban bencana dapat memberikan bantuan dengan menghubungi nomer berikut :  085641023867


Untuk semakin meningkatkan kualitas iman dan taqwa siswa, Bina Amal secara rutin mengadakan acara Mabit, yaitu malam bina iman dan taqwa. Kegiatan ini adalah kegiatan yang bertujuan untuk membiasakan siswa bangun malam dan mendirikan solat malam. Siswa di latih untuk terbiasa memanfaatkan malam untuk banyak beribadah.

Kegiatan di mulai sore hari di awali dengan dzikir sore, kemudian setelah jamaah isya' di lanjutkan dengan tausiah yang bertemakan tentang semangat beribadah dan amal soleh. Kemudian siswa di bangunkan saat dini hari untuk di ajak mendirikan solat malam.

Dengan kegiatan ini siswa akan terbiasa dengan solat malam dan mengetahui bagaimana pentingnya malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kegiatan tambahan ini adalah salah satu upaya untuk membentuk karakter siswa.


Anak Anda mulai menangis saat masuk ke preschool, tapi gurunya berkata ia baik-baik saja. Apa yang terjadi? Ini strategi atasi tangisan anak saat masuk sekolah.
Jika merasa ada keanehan pada perilaku anak, Anda harus berpikir terlebih dahulu tentang segala perubahan yang terjadi dan menimbulkan rasa cemas pada anak. 
Memiliki bayi baru, pindah ke rumah baru, ayahnya ke luar kota, atau segala kejadian  lain akan mengakibatkan anak Anda terguncang. Bahwa dunianya sama sekali tidak terduga. Hal tersebut merupakan perubahan yang sangat cepat. 
Selama saat-saat tersebut, anak akan menjadi lebih mudah ketakutan dan rewel, meskipun yang anak lakukan merupakan aktivitas  yang disukainya, bahkan ketika masuk ke sekolahnya. 
Ketika Anda mengetahui bahwa anak Anda masih merasa takut di sekolah, hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah melanjutkan rutinitasnya. Anda harus mengajarkan anak  bagaimana rasanya berpisah dan segalanya ternyata masih sama. Hal ini dibutuhkan untuk membangun kemampuan amannya. Strategi ini dapat membantu anak Anda beradaptasi:
1. Katakan padanya “Mama tahu kok, kamu sedih untuk meninggalkan rumah dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi tidak hanya kamu saja, Mama juga sedih.”
2. “Kamu nanti pasti senang di sana, nanti kamu bisa menggambar (ganti dengan kegiatan yang disukai anak Anda).”
3. “Setelah waktu snack, Mama akan ke sekolah dan kita bisa menyelesaikan puzzle yang kita mulai pagi ini.” (Penulis: Cheryl Pricilla Bensa/foto: dok. Feminagroup)

Siswa Bina Amal memberikan bantuan
Pendidikan bukanlah cuma mata pelajaran dan nilai-nilai, namun juga karakter. Karakter yang di bentuk dalam sistem pendidikan di Bina Amal adalah karakter kepedulian terhadap sesamanya. Seorang siswa di harapkan memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungannya dan berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Untuk itu Bina Amal secara rutin mengadakan kunjungan sosial ke yatim piatu ataupun lembaga sosial lainnya. Siswa di ajak untuk melihat bahwa dirinya masih lebih beruntung di bandingkan dengan orang lain yang sekarang ini mengalami banyak kesusahan. Sehinga dalam hati siswa muncul kesadaran sosial yang baik.

Pembentukan karakter sosial ini juga di bentuk dengan mengajak siswa menyisihkan uang jajannya untuk bersedekah dan membantu saudaranya yang tidak mampu. Kegiatan-kegiatan yang sederhana ini dilakukan dalam upaya pembentukan karakter yang nantinya di harapkan terbawa dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketika pagi hari tiba, terkadang seringkali si anak malas jika disuruh berangkat sekolah. Sesekali malas untuk berangkat ke sekolah merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, jika hal tersebut berlangsung terus-menerus tentunya akan berdampak buruk pada masa depan si anak nantinya. Untuk menghadapinya, terkadang orangtua membujuk anak dengan iming-iming barang. Selain itu, ada juga orangtua yang menghukum si anak yang malas sekolah. Cara tersebut memang cukup efektif untuk membujuk anak agar mau pergi ke sekolah, tapi tak menumbuhkan kesadaran anak betapa pentingnya sekolah.

1. Jangan biarkan tidur larut malam Agar si anak tidak lesu dan malas bangun pagi, biasakan agar dirinya tidur cepat pada malam hari. Usahakan agar si anak sudah tertidur pada jam 8 atau 9 malam. Jika si anak terbiasa tidur larut malam, maka membuatnya telat bangun keesokan paginya dan jadi malas untuk pergi ke sekolah.
2. Memperhatikan sekolahnya Salah satu penyebab anak malas sekolah adanya ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Untuk itu, Anda harus memberi perhatian dan bimbingan belajar pada anak. Dengan begitu, si anak akan merasa diperhatikan oleh kedua orangtuanya. Selain itu, si anak juga jadi berpikir bahwa sekolah bukan beban dan mereka akan berangkat sekolah dengan hati riang.

3. Menumbuhkan rasa percaya diri anak Si anak yang malas sekolah bisa jadi dikarenakan dirinya diejek oleh teman-temannya. Untuk itu, sebagai orangtua Anda harus bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya. Katakan kepadanya bahwa dirinya harus mensyukuri apa yang dimiliki dan tak perlu minder. Selain itu, Anda juga harus memberitahukan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh si anak. Namun, jika ejekan itu masih terus diterima oleh anak, maka coba Anda laporkan kepada pihak sekolah demi kenyamanan si anak. Itulah cara mudah mengatasi anak malas sekolah. Bagaimanapun juga sebagai orangtua, Anda harus selalu mendukung si anak dan memberikan nasihat untuknya. Pastikan si anak mau pergi ke sekolah dengan hati riang gembira. Jika si anak terpaksa untuk pergi ke sekolah, maka pelajaran tidak akan masuk ke otaknya.


CiriCara.com – Ketika pagi hari tiba, terkadang seringkali si anak malas jika disuruh berangkat sekolah. Sesekali malas untuk berangkat ke sekolah merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, jika hal tersebut berlangsung terus-menerus tentunya akan berdampak buruk pada masa depan si anak nantinya. Untuk menghadapinya, terkadang orangtua membujuk anak dengan iming-iming barang. Selain itu, ada juga orangtua yang menghukum si anak yang malas sekolah. Cara tersebut memang cukup efektif untuk membujuk anak agar mau pergi ke sekolah, tapi tak menumbuhkan kesadaran anak betapa pentingnya sekolah.

Read more at: http://ciricara.com/2013/05/27/cara-mudah-mengatasi-anak-malas-sekolah/
Copyright © CiriCara.com
CiriCara.com – Ketika pagi hari tiba, terkadang seringkali si anak malas jika disuruh berangkat sekolah. Sesekali malas untuk berangkat ke sekolah merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, jika hal tersebut berlangsung terus-menerus tentunya akan berdampak buruk pada masa depan si anak nantinya. Untuk menghadapinya, terkadang orangtua membujuk anak dengan iming-iming barang. Selain itu, ada juga orangtua yang menghukum si anak yang malas sekolah. Cara tersebut memang cukup efektif untuk membujuk anak agar mau pergi ke sekolah, tapi tak menumbuhkan kesadaran anak betapa pentingnya sekolah.

Read more at: http://ciricara.com/2013/05/27/cara-mudah-mengatasi-anak-malas-sekolah/
Copyright © CiriCara.com


Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau mungkin Anda malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Mengingat begitu banyaknya penawaran, inilah beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengambil keputusan:

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang ‘serius’ bagi anak, agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.

Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love. Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya. 

Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman (experiential learning), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah-sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung ‘terjun’ ke alam untuk mempelajari apa yang hendak dipelajari; seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi, atau kalau belajar menggambar, itu dilakukan di halaman atau di alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam.

Ada pula sekolah yang mengedepankan konsep belajar aktif (active learning), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda di sekitarnya. Contoh, kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman. Namun yang jelas, sekolah yang baik tidak harus selalu yang gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. Sekolah yang baik adalah yang bisa mendorong kemandirian anak, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya
Bagaimana dengan soal bahasa? Benarkah sekolah bilingual lebih baik? Ternyata sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan efektivitas mengajarkan dua bahasa (Inggris dan Indonesia) pada masa golden age anak (sampai usia 5 tahun). Bila anak tepat waktu dalam perkembangan bahasanya (cooing muncul di usia sekitar 2-3 bulan, babbling di usia sekitar 6-8 bulan, kata pertama di usia sekitar 1 tahun), kemungkinan besar ia tidak akan mengalami telat bicara. Dan bagi anak-anak ini, bersekolah di sekolah bilingual tidak akan jadi masalah. Sebaliknya, bila tahapan-tahapan itu tidak muncul di usia yang tepat, bahasa asing yang harus dia serap selain bahasa ibu, bisa-bisa malah membuat ia jadi telat bicara.

Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat si kecil bila bersekolah di situ. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut ternyata kurang memadai. Tapi, semahal apa pun, jangan lupa untuk mempertimbangkan bahwa sekolah mahal dan fasilitas yang aduhai pun bukanlah segalanya.

 

Menjaga kesehatan anak saat musim hujan menjadi hal yang perlu diperhatikan.Apalagi jika ternyata anak kita rentan penyakit.Banyaknya penyakit "musim hujan" seperti demam,flu dan pilek yang gampang menular membutuhkan penangkal berupa daya tahan tubuh yang OK.

Jadi bagaimana kita harus menjaga kesehatan anak kita?Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan.Berikut ulasannya.


1.Perhatikan pakaian anak.

Pakaikan baju, topi, sarung tangan, kaos kaki dan sepatu hangat pada bayi dan anak-anak ketika sedang melakukan kegiatan di luar rumah.
Disarankan untuk memakaikan lapisan pakain yang lebih tebal pada bayi dan anak kecil daripada orang dewasa dalam kondisi cuaca yang sama.Pemakaian selimut tebal dan bantal, kadang dapat menyebabkan Sindrom Kematian Bayi Mendadak sehingga dianjurkan untuk memakaikan baju berbentuk piyama hangat untuk bayi
Jika memang terpaksa harus menggunakan selimut, maka tepi selimut harus diselipkan di kasur, sehingga dapat dipastikan selimut hanya menutupi dada bayi dan tidak dapat menutupi wajah bayi dan mengurangi resiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak.


2.Cuaca dingin sebenarnya tidak menyebabkan pilek atau flu. Tapi virus yang menyebabkan pilek dan flu cenderung lebih banyak muncul di musim penghujan atau udara dingin. Sehingga biasakan anak untuk menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi, istirahat yang cukup serta mencegah penyebaran pilek dan flu dengan selalu mencuci tangan, memakai masker dan membuang bekas tisu setelah bersin atau batuk ke tempat sampah dengan baik.
Nutrisi yang cukup, sesuai dengan usia, berat badan dan aktivitas anak anda akan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.


3.Tetapkan batas waktu yang wajar untuk bermain di luar rumah pada musim penghujan untuk mencegah hipotermia. Mintalah anak-anak untuk kembali secara periodik pada waktu tertentu untuk menghangatkan badan


4.Mengantar anak-anak ke sekolah dengan perlengkapan hujan yang tepat. Memiliki payung, jas hujan, dan sepatu bot hujan adalah suatu keharusan bagi anak-anak Anda selama hari-hari hujan untuk melindungi mereka dari hujan dan genangan air hujan yang mengalir di jalan-jalan, yang sangat mungkin terkontaminasi dengan berbagai bakteri.


5.Mengosongkan atau menutup wadah air. DBD (Demam berdarah Dengue) disebabkan adanya nyamuk berkembang biak di genangan air. Itulah mengapa perlu untuk mengosongkan atau menutupi wadah air di sekitar rumah untuk mencegah nyamuk berkembang biak di dalamnya, sehingga menurunkan risiko anak-anak Anda digigit.


6.Pastikan anak-anak Anda hanya minum air bersih. Sejumlah penyakit, seperti diare dan kolera, yang disebabkan oleh asupan air yang terkontaminasi. Selalu pastikan bahwa anak-anak minum air yang bersih dan aman untuk menghindari infeksi dan tertular penyakit dari bakteri udara.


7.Membimbing dan mengajari anak-anak mencuci tangan yang benar dapat membantu melindungi mereka dari kuman dan infeksi virus ditularkan melalui kontak dengan orang yang terinfeksi.


8.Carilah saran dari dokter tentang vaksinasi untuk anak-anak Anda. Bawa anak-anak Anda ke dokter dan mencari rekomendasi untuk mendapatkan vaksinasi yang tepat guna meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka terhadap penyakit anak pada umumnya.


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget