2016


Ketika Nabi SAW memobilisasi pasukan ke Tabuk, ada beberapa orang tertinggal atau tidak mengikuti beliau dalam pertempuran tersebut. Sebagian besar memang orang-orang yang tertuduh sebagai kaum munafik, mereka ini berjumlah sekitar delapan puluh orang. Ada juga sejumlah sahabat yang tidak memperoleh tunggangan dan perbekalan untuk berangkat, seperti sekelompok sahabat yang dipimpin Abdullah bin Ma'qil al Muzanni. Termasuk juga sepuluh orang dari Bani Muqrin. Mereka ini datang kepada Nabi SAW, tetapi beliau tidak memiliki apa-apa lagi untuk bisa memberangkatkan mereka, baik kendaraan atau perbekalan. Mereka pulang dengan berlinang air mata karena tidak bisa menyertai beliau berjihad. Namun demikian ada enam atau tujuh sahabat lainnya, yang tertinggal karena berbagai alasan yang tidak tepat, namun mereka menyadari kesalahannya ini, antara lain adalah Abu Lubabah.

Setelah beberapa hari berlalu sejak Nabi SAW dan pasukannya meninggalkan Madinah menuju Tabuk, Abu Lubabah beserta tiga (atau dua, dalam riwayat lainnya) temannya menyadari kesalahannya. Mereka menyesal, tetapi tidak mungkin untuk mengejar atau menyusul pasukan tersebut. Abu Lubabah berkata, "Kita di sini berada di naungan pohon yang sejuk, hidup tentram bersama istri-istri kita, sedangkan Rasulullah beserta kaum muslimin sedang berjihad…sungguh, celakalah kita…."

Tak habis-habisnya mereka menyesal, mereka yakin bahwa bahaya akan menimpa karena ketertinggalannya ini. Untuk mengekspresikan penyesalannya ini, Abu Lubabah berkata kepada kawannya, "Marilah kita mengikatkan diri ke tiang masjid, kita tidak akan melepaskan diri kecuali jika Rasulullah sendiri yang melepaskannya…!!"

Teman-temannya, Aus bin Khudzam, Tsa'labah bin Wadiah dan Mirdas (atau tanpa Mirdas, pada riwayat dua orang temannya) menyetujui usulan ini. Mereka tetap terikat pada tiang tersebut sampai Nabi SAW pulang, kecuali ketika mereka akan melaksanakan shalat. Ketika Nabi SAW pulang dari Tabuk dan masuk ke Masjid, beliau berkata, "Siapakah yang diikat di tiang-tiang masjid itu?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak menyertai engkau berjihad, ya Rasulullah," Kata seorang sahabat, "Mereka berjanji tidak akan melepaskan diri, kecuali jika tuan yang melepaskannya…!!"

Nabi SAW bersabda, "Aku tidak akan melepaskan mereka kecuali jika mendapat perintah dari Allah…!!"

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi SAW bersabda tentang mereka, "Aku tidak akan melepaskannya sampai saatnya ada pertempuran lagi…!!" Suatu hari menjelang subuh, ketika itu Nabi SAW sedang berada di rumah Ummu Salamah, tiba-tiba beliau tertawa kecil. Ummu Salamah heran dengan sikap beliau ini dan berkata, "Apa yang engkau tertawakan, Ya Rasulullah?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya diterima taubatnya…!!" Kata Nabi SAW.

Saat itu Nabi SAW memang menerima wahyu, Surah Taubah ayat 102, yang menegaskan diterimanya taubat mereka yang berdosa karena ketertinggalannya menyertai jihad bersama Nabi SAW. Ummu Salamah berkata, "Bolehkah aku memberitahukan kepada Abu Lubabah, ya Rasulullah..?" "Terserah engkau saja..!!" Kata Nabi SAW

Ummu Salamah berdiri di depan pintu atau jendela kamarnya yang memang menghadap masjid dan berkata, "Hai Abu Lubabah, bergembiralah karena telah diampuni dosamu, telah diterima taubatmu…!!"

Mereka bergembira, begitu juga dengan para sahabat yang telah berkumpul di masjid untuk shalat shubuh. Mereka ini ingin melepaskan ikatan Abu Lubabah dan teman-temannya, tetapi Abu Lubabah berkata, "Tunggulah sampai datang Rasulullah dan melepaskan sendiri ikatanku…!!" Nabi SAW masuk masjid dan melepaskan sendiri ikatan-ikatan mereka. Pagi harinya, Abu Lubabah dan tiga temannya menghadap Nabi SAW sambil membawa harta yang dipunyainya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, inilah harta benda kami, shadaqahkanlah atas nama kami, dan tolong mintakan ampunan bagi kami…."

Nabi SAW bersabda, "Aku tidak diperintahkan untuk menerima harta sedikitpun (berkaitan dengan penerimaan taubat ini)…!!" Tetapi tak lama berselang, Nabi SAW memperoleh wahyu, Surah Taubah ayat 103, yang memerintahkan agar beliau untuk menerima shadaqah dari Abu Lubabah dan teman-temannya, dan mendoakan mereka. Beliau melaksanakan perintah ayat tersebut, dan itu membuat Abu Lubabah dan teman-temannya menjadi lebih gembira dan tentram hatinya.

wallahu a'lam bishawab

Alhamdulillah, seolah tak mau ketinggalan untuk berlomba-lomba dalam kebaikkan, Kakak SDIT Bina Amal dan TKIT 02 serta SDIT Bina Amal 02 menggalang dana untuk membeikan donasi kepada saudara muslim Rohingnya.

Sebelumnya donasi Adek-adek TKIT Bina Amal 28 November 2016 berhasil mengumpulkan Rp 3.960.000,-.
(baca http://www.binaamal.info/2016/11/siswa-siswi-paud-bina-amal-galang-dana.html)

Dan Alhamdulillah untuk galang dana Aksi peduli Rohingya di TKIT 02 dan SDIT BA 02 terkumpul dana Rp. 1.838.000,-. Serta Rp.17.168.300 dari SDIT Bina Amal. Insyaallah Sekolah Islam Terpadu Bina Amal masih menerima donasi untuk Rohingnya sampai hari Jumat 2 Desember 2016.

Penumbuh Karakter Melalui Infak

Salah satu Hadits menyebutkan bahwa sesama muslim itu bersaudara..

Senyum Muslim Rohingya adalah senyum kami. Duka mereka adalah duka kami.

Tangan-tangan kecil siswa Sekolah Islam Terpadu  Bina Amal menunjukkan budaya Karakter "Peduli Sesama" melalui infaq. Sebelumnya peduli Aleppo, kini peduli Rohingya. Banyak keutamaan berinfak, diantaranya menumbuhkan keberkahan harta dan menjadi penghuni syurga dari pintu sedekah.

humas@binaamal.info
humassditbinaamal
humastkit02binaamal
humassdit02binaamal

galeri foto








Hari Guru di Sekolah Islam Terpadu Bina Amal begitu istimewa. 
Ada banyak kejutan dari siswa kepada Bapak Ibu Gurunya.
Mereka rela patungan untuk membuat bahagia Bapak Ibu Gurunya
Mereka rela berkeringat, bersusah payah membuat berbagai macam karya untuk di persembahkan kepada Bapak Ibu Gurunya
Tak terasa setitik air mata jatuh membasahi 

Ada yang mempersembahkan bunga...
Ada yang mempersembahkan puisi...
berbagai macam karya mereka buat...

Bapak Ibu Guru pun begitu gembira dan terharu...
Berbagai tanda cinta dari murid mereka terima dengan suka cita
Tak ketinggalan berbagai hadiah dan  Lomba dipersiapkan oleh anak-anak...
Mereka tertawa bersama...
Mereka bermain bersama...
tak ada sekat..
tak ada batasan...

Guruku....
Engkaulah pahlawanku...
Engkaulah inspirasiku...
Engkaulah...
Teladanku...

humas@binaamal.info
humaskbtkit
humassdit
humastkit02
humassdit02
humassmpit
humassmait




Sejak Oktober 2016 Operasi militer Myanmar terhadap kaum muslimin di negara bagian Rakhine kembali terjadi, menyisakan nestapa buat etnis muslim Rohingya, ribuan rumah-rumah dibakar.

Kondisi di tempat pengungsian mengalami krisis air bersih, Paud Bina Amal membuka donasi peduli kemanusiaan untuk kaum muslimin di Rohignya, Insyaa Allah bantuan akan di salukan di tempat-tempat pengungsian.

Dan Alhamdulillah donasi Adek-adek TKIT Bina Amal pagi ini 28 November 2016 berhasil mengumpulkan donasi Rp 3.960.000,-.

Mari berbagi dan peduli dengan membantu sebagian harta yang kita miliki dan jangan lupakan mereka dalam doa sujud kita.

#Peduli Rohingya
#Paud Bina Amal

galeri foto







Kenapa Sang Guru awet muda?
Karena selalu bekerja dengan penuh kebahagiaan serta ketulusan mendampingi siswa yang dinamis.

Kenapa Sang Guru selalu selamat?

Karena tiap pagi menyambut anak dan siswa mendoakan "Assalamu'alaikum".

Kenapa Sang Guru banyak amalannya?

Karena setiap saat ia dengan ikhlas menginfakkan ilmunya pada siswa.

Kenapa Sang Guru sangat berjasa?

Karena kita semua hadir bisa membaca dan menulis serta berprofesi apapun karena jasanya.

Kenapa Sang Guru kelak dijanjikan kebahagiaan oleh-Nya?

Karena meski telah wafat ia masih dapat kiriman pahala karena amal jariyah ilmunya yang diamalkan siswanya.

Maka .....

Berbahagialah wahai para guru, ibu bapak akan dapat kemuliaan di dunia dan akherat. Dengan syarat kita menjalankan tugas diniati ibadah serta dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing/mendampingi siswa yang diamanahkan pada kita.

Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran, ketulusan dan keikhlasan bagi kita semua wahai Sang Guru.... Aamiin ya Robb...

" Selamat menyambut Hari Guru Nasional 25/11/2016 : Guru Mulia karena Karya...!!! "



Banyak sekali kisah tauladan pada zaman Rasullah dan sahabat nabi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk menambah keimanan kita semua salah satunya Kisah tauladan sahabat nabi yang bernama zahid ra. Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.
“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini. bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah..!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini.

Karena ingat firman Allah dalam Al-Quran surat 24 : 51. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah. Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Quran surat 3 : 169-170 dan 2:154). Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS 3: 169-170).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”





Setelah Perang Badar usai, kaum Muslimin menawan sejumlah pasukan musuh. Di antara orang-orang Quraisy yang tertawan adalah seorang yang bernama Wahab bin Umair bin Wahab Al-Jumahy.

Ayahnya, Umair bin Wahab Al-Jumahy, adalah pahlawan Quraisy dan seorang yang sangat memusuhi Rasulullah SAW.

Yang membuat Umair sangat sedih, putra kesayangannya, Wahab, kini ditawan pasukan kaum Muslimin. Bagaimana nasib anaknya ditangan pasukan lawannya? Pikirannya selalu gelisah.

Setiap hari, siang dan malam Umair selalu resah dan gelisah. Pikirannya selalu melayang ke buah hatinya yang sangat disayanginya itu.

Pada suatu hari ia duduk-duduk bersama sahabat karibnya, Shafwan bin Umayah, seorang pemuda anak seorang pemimpin Quraisy. Saat itu Shafwan juga sedang dalam duka yang mendalam karena ayah kesayangannya mati di Perang Badar.

Kedua orang yang sedang dalam duka ini berkumpul dan berbincang-bincang mengenai langkah apa yang seharusnya dilakukan.

Di dekat Ka’bah (Hijr) Umair dan Shafwan duduk termenung bersama, lalu keduanya selalu menyebut nama pahlawan-pahlawan Quraisy yang terbunuh di Badar. Di tengah kesempatan itu Shafwan berkata, “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik sesudah mereka kini, sesudah kematian pahlawan-pahlawan Quraisy.”

“Demi Allah, memang begitu,” timpal Umair. “Amat benarlah katamu itu wahai Shafwan. Demi Allah, seumpama aku tidak punya pinjaman yang banyak, yang kini aku belum dapat melunasinya. Dan seumpama aku tidak punya banyak anak yang selalu aku khawatirkan makannya jika aku tinggal mati, niscaya aku datang kepada Muhammad, dan aku bunuh dia. Hatiku amat sakit padanya. Mengapa dia sampai berani menawan anak yang kucintai?”

Sebagai sahabat yang baik dan didorong oleh rasa dendam yang sama kepada seorang Muhammad, Shafwan berkata, “Ah, kalau betul-betul kau hendak membunuh Muhammad aku sanggup membayar lunas semua pinjamanmu. Adapun anak-anakmu biar bersama-anak-anakku dan orang-orang yang jadi tanggunganku. Akulah yang menanggung makannya selama aku masih hidup.”

Umair dengan pandangan yang berbinar senang menyahut, “Betulkan begitu, hai Shafwan?”

“Mengapa tidak? Aku tokh seorang laki-laki bukan, Kau jangan khawatir!”
Umair menyahut, “Kalau memang betul-betul kamu sanggup, baiklah sekarang hal ini kita rahasiakan jangan sampai ada seorang pun yang mendengar!”

Shafwan berkata, “Ya, baiklah! Dan segera kerjakanlah!”

Keduanya kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sesampai di rumah Umair segera berkemas-kemas dan menyediakan alat-alat dengan selengkapnya. Pada pagi harinya, berangkatlah Umair dengan membawa senjata yang amat tajamnya, di antara yang dibawanya adalah pedang beracun.

Di Madinah, selagi Umar bin Khathab bercakap-cakap dengan sekelompok kaum Muslimin tentang Perang Badar dan mereka menyebut-nyebut pertolongan Allah kepada mereka, tiba-tiba terdengar suara datangnya seseorang.

Ketika Umar menoleh, tampaklah olehnya Umair bin Wahab yang sedang bergerak menuju ke arah masjid. Umar berkata kepada para sahabat, “Itu dia si Umair bin Wahab, musuh Allah!”

“Demi Allah, pasti kedatangannya untuk maksud jahat. Dialah yang menghasut orang banyak dan mengerahkan mereka untuk memerangi kita di Perang Badar!” kata Umar berang.

Pandangan Umar terus tertuju pada setiap langkah unta yang ditunggangi Umair. Umair terus bergerak ke arah masjid, tempat sekelompok Kaum Muslimin berkumpul. Pandangannya di arahkan ke kiri dan ke kanan, mencari tahu di mana tempat Nabi Muhammad SAW.

Pedang beracun andalannya dihunuskan, dengan mata dan muka merah seolah-olah sedang mabuk. Ia duduk tegak di atas untanya. Kemudian setelah ia sampai di masjid, turunlah ia dan mengikat untanya.

Saat itu, Rasulullah ada di dalam rumah. Dengan cepat Umar RA berlari menuju ke sana dan masuk ke dalam rumah, sambil berkata dengan suara yang sangat nyaring, “Ya Rasulullah, itulah seteru Allah si Umair bin Wahab telah datang dengan menyelempangkan pedangnya.”

Lalu Umar membawa masuk Umair menghadap Nabi. Bagai harimau yang kehilangan gigi, Umair sama sekali tidak berkutik ketika tali pedang beracunnya dipegang oleh Umar RA . Ada ketakutan yang tidak bisa disembunyikan ketika Umair berhadapan dengan Umar.

Ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Memang, selamanya pahlawan-pahlawan bangsa Quraisy takut kepada Umar. Sesampai di hadapan Nabi, lalu beliau bersabda, “Lepaskanlah dia, hai Umar!” Umar segera mematuhi perintah Rasulullah SAW.

“Selamat pagi untukmu, hai Muhammad!” kata Umair.

Ucapan penghormatan seperti itu adalah seperti yang lazimnya dilakukan masyarakat jahiliyah. Lalu Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari ucapanmu itu, hai Umair. Penghormatan itu ialah Salam.”

Selanjutnya Nabi bertanya kepada Umair, “Hai Umair sesungguhnya kamu ini datang kemari untuk apa?”

Ia menjawab, “Ya Muhammad, aku datang kemari ini hendak bertemu dengan anakku yang sekarang ada di tanganmu.”

Nabi SAW berkata, “Tidak! Sebenarnya saja. Kamu jangan berdusta.”

“Betul, ya Muhammad,” jawab Umair. “Sesungguhnya aku hendak bertemu dengan anakku, dan aku hendak meminta kepadamu supaya engkau berbuat baik kepadanya.”

Nabi berkata lagi, “Apa gunanya pedang yang kamu bawa itu?”

“Pedang ini tidak ada gunanya sedikit jua pun bagiku. Mudah-mudahan Allah menjelekkan pedang ini,” jawab Umair.

“Tidak begitu, ya Umair! Adakah kamu membenarkan, jika aku mengatakan (menerangkan) segala apa maksudmu datang kemari.”

“Aku tidak datang kemari melainkan untuk itu, Muhammad.”

Nabi dengan tersenyum lalu berkata, “Ah, tidak begitu! Mesti ada maksud lain yang kamu simpan. Cobalah dengarkan, beberapa saat yang lalu, kamu duduk bersama-sama dengan Shafwan bin Umayyah di Hijr, lalu kamu dan Shafwan menyebut kaum Quraisy yang tertanam semuanya di sumur Badar. Selanjutnya, kamu berkata begini dan begitu, dan Shafwan juga berkata begini dan begitu. Lantas kamu menyahut begini. Bukankah begitu?”

Keterangan Nabi sedikit pun tidak berselisih dari apa yang diperbincangkan oleh Umair kepada Shafwan pada waktu itu.

Umair lalu bertanya, “Ya Muhammad, Mengapa engkau tahu begitu jelas? Padahal waktu itu tidak ada seorang pun yang tahu.”

“Tentu saja aku tahu, karena ada yang memberitahukan kepadaku. Dan betulkan semua yang kukatakan itu!”

Saat itu, benih kebencian yang semula ada berubah menjadi kagum terhadap sosok Muhammad SAW. Dan seketika itu juga Umair mengucapkan dua kalimat syahadat. “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tuan itu Pesuruh Allah. Sungguh aku dulu mendustakan engkau Muhammad, dengan segala apa yang telah engkau datangkan dari langit dan segala apa yang diturunkan atas engkau.”

“Perkara yang engkau katakan tadi, sungguh ketika aku bercakap-cakap dengan Shafwan, tidak ada seorang pun yang tahu, melainkan aku sendiri dan Shafwan. Sesungguhnya demi Allah, aku sekarang mengerti dan sangat percaya, bahwa segala apa yang datang kepadamu itu tidak lain dan tidak bukan, melainkan dari Allah sendiri.”

Membela agama Allah
Selanjutnya, Umair meminta izin kepada Nabi hendak pulang bersama anaknya (yang telah dibebaskan oleh Rasulullah). “Ya Rasulullah,” ujarnya. “Dulu aku seorang pembela bagi pemadam cahaya Allah yang sangat menyakitkan kepada orang-orang yang mengikuti agama Allah dan amat menyakitkan kepada tuan yang nyata-nyata pesuruh Allah.”

“Oleh sebab itu, aku hendak pulang ke Makkah, dan sengaja memohon izin kepada tuan. Di Makkah akan kusampaikan kepada kawan-kawan Quraisy supaya mereka ikut kepada utusan Allah dan Rasul-Nya. Supaya mereka memeluk Islam. Mudah-mudahan saja mereka mendapat petunjuk dari Allah. Dan jika tidak suka mengikuti, aku akan menyakiti mereka sebagaimana aku dulu menyakiti sahabat-sahabat Tuan.”

Darah syuhada telah mengalir ke dalam setiap sel tubuh Umair. Dengan semangat kepahlawanan, ia berusaha ingin menutupi segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya di masa jahiliyah kemarin.

Umar bin Khathab pun berubah menjadi sangat cinta kepadanya. “Demi Allah yang diriku di tangan-Nya. Sesungguhnya aku lebih suka melihat babi daripada si Umair sewaktu mula-mula muncul di hadapan kita. Tapi sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakkku sendiri.”

Sementara itu, berita keislaman Umair sudah mulai ramai dibicarakan. Setiap rombongan yang datang dari Madinah, tidak ada kata yang terlewat, selain membicarakan kepindahan Umair ke agama Muhammad SAW. Bumi terasa berputar bagi Shafwan.

Peristiwa yang diharap-harapkannya akan dapat menggembirakan kaumnya dan melupakan kejadian Perang Badar dengan meninggalnya Muhammad, kenyataan yang datang bagai petir menyambar.

Sesampai di Makkah, Umair dengan sungguh-sungguh berseru kepada kaum musyrikin Quraisy, terutama kepada Shafwan.

Dan pada suatu hari ia datang kepadanya seraya berkata, “Hai Shafwan, kau itu seorang ketua (penghulu) kaum Quraisy, tapi mengapa kamu menyembah kepada batu-batu dan berhala itu? Demi Allah, sekarang aku telah menyaksikan, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah dan menyaksikan pula bahwa sesungguhnya Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu, hendaklah kamu mengikuti Muhammad!”

Shafwan ketika itu tidak menjawab sepatah kata pun (seperti yang sudah diikrarkannya sendiri). Ia sangat marah kepada Umair. Ia bahkan bermaksud akan menyerangnya karena merasa dikhianati. Tapi niat itu segera urung melihat Umair masih mengusung pedangnya.

Shafwan menghindar dan mengambil sikap berseberangan dengan Umair. Sebagai sahabat karib, Umair merasa sangat kasihan dengan kenyataan itu. Setelah beberapa lama Shafwan tidak lagi terlihat batang hidungnya.

Sementara jumlah orang-orang Quraisy yang masuk Islam dan mengikuti jejak Umair semakin banyak. Mereka dibawa secara berombongan menuju Madinah untuk menghadap Rasulullah SAW dan belajar Alquran langsung kepada beliau.

Ketika Fathu Makkah, Umair mencium berita rencana Shafwan berangkat ke Jeddah untuk berlayar ke Yaman. Ia akan melakukan bunuh diri dengan terjun ke laut karena diburu rasa takut kepada Muhammad SAW. Umair kemudian menghadap Rasulullah dan mengadukan akan hal ini.

Umair berkata, “Ya Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah penghulu kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri dengan terjun ke laut karena takut kepada Anda. Maka mohon Anda beri ia keamanan dan perlindungan, semoga Allah melimpahkan karunia-Nya kepada anda.”

Jawab Nabi, “Dia Aman!”

Umair pun segera pergi mengejar Shafwan yang hendak berangkat berlayar. Sembari membawa sorban yang dikenakan Rasulullah ketika memasuki Kota Makkah, ia menunjukkannya kepada Shafwan sebagai jaminan. Umair mengatakan bahwa Rasulullah bersedia menjamin keamanan dan perlindungan kepadanya. Karena belum, yakin Shafwan akhirnya diajak menghadap Rasulullah SAW.

Sejak saat itu, Shafwan mengucapkan dua kalimat syahadat, mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Umair bin Wahab Al-Jumahi. Umair pun melanjutkan perjalanan hidupnya yang penuh berkah. Ia berjuang menegakkan agama Allah untuk melepaskan umat manusia dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang, Islam.

khasanah republika

Ustadzah Samsiati, SKM, Ustadzah Heru Damayanti S.Pd, Ustadzah Tutik Hariyanti S.Pd

Alhamdulillah, barokallah kembali  Sekolah Islam Terpadu Bina Amal  berhasil meraih juara pada Lomba yang di selenggarakan oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu  Jawa Tengah.

Lomba tersebut di laksanakan pada tanggal 19 November 2016 di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional.

Dan Alhamdulillah Guru Bina Amal berhasil meraih juara pada lomba :

1. Tutik Harianti S.Pd, juara 2 membuat buku cerita kategori PAUD IT
2. Samsiati, SKM juara 2 lomba PTK Kategori SDIT
3. Heru Damayanti S.Pd Guru berprestasi SMPIT Se Jawa Tengah.

Barokallah, semoga ilmunya semakin bermanfaat...

humas@binaamal.info
humas kbit-tkit
humas smpit





Tim Juara Karya Ilmiah Remaja SMAIT Bina Amal Winda Nur Lathifah, Khairunnisa Redinta dan Inayatun Fitri 

Barokallah kepada Ananda Khairunnisa Redinta, Winda Nur Lathifah, Inayatun Fitri, Tim Lomba Karya Ilmiah SMAIT Bina Amal Semarang meraih Juara 2 Lomba Karya Ilmiah Tingkat Nasional di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta 19 Nopember 2016.

Lomba karya tulis ilmiah ini diperuntukkan bagi siswa siswi SMA/MA/SMK se-DIY dan Jawa Tengah sebagai wadah pengembangan ide-ide kreatif dan inovatifnya kedalam suatu karya ilmiah. diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan yang termasuk dalam rangkaian kegiatan dari Milad Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan ke 20 tahun. Dengan mengangkat tema “Teknologi Tepat Guna dalam Problematika Global di Indonesia” dengan maksud memberikan output positif kepada negara mengenai tantangan global yang sedang dihadapi negara Indonesia.

Tim SMAIT Bina Amal ini meneliti tentang pembuatan abon dari jantung pisang. Jantung pisang juga dikenal sebagai bunga pisang yang akan bertukat menjadi buah pisang jika sudah matang. 

Menurut penelitian, jantung pisang bernutrisi tinggi. Tiap 25 gram jantung pisang, mengandung 31 kkal kalori, 7.1 gram karbohidrat, 0.3 gram lemak, dan 1.2 gram protein. Selain itu, ada kandungan mineral (fosfor, kalsium, dan zat besi) serta vitamin (A, B1, dan C), dan serat pangan. Jantung pisang baik dikonsumsi oleh orang yang sedang diet lemak karena rendah lemak dan memberi rasa kenyang lebih lama. 

Penderita diabetes juga bisa makan jantung pisang karena indeks glikemik (GI) nya rendah. Kandungan serat dalam jantung pisang dapat memperlancar pencernaan serta mengikat lemak dan kolesterol untuk dibuang bersama kotoran. Juga dapat mencegah penyakit jantung dan stroke karena dapat memperlancar sirkulasi darah dan bersifat antikoagulan (mencegah penggumpalan darah).

Karena begitu banyak kandungan nutrisi dan manfaatnya, maka Ananda Khairunnisa Redinta, Winda Nur Lathifah, dan Inayatun Fitri melakukan penelitian lebih lanjut. Bagaimana agar jantung pisang yang bermanfaat ini juga di sukai masyarakat, seperti mereka menyukai buah pisang. Salah satunya idenya adalah dengan membuat abon dari jantung pisang. Mungkin pekan depan abon jantung pisang sudah tersedia di kantin Bina Amal. Atau menjadi salah satu menu favorit makan siang anak-anak Bina Amal. 

Barokallah ya, semoga ilmunya bermanfaat.

humas@binaamal.info
humas smait bina amal

galeri foto






Abbad bin Bisyr adalah seorang sahabat yang tidak asing dalam sejarah dakwah Islam. Ia tidak hanya termasuk di antara para ‘abid (ahli ibadah), tapi juga tergolong kalangan para pahlawan yang gagah berani dalam menegakkan kalimah Allah. Tidak hanya itu, ia juga seorang penguasa yang cakap, berbobot dan dipercaya dalam urusan harta kekayaan kaum Muslimin.

Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, Abbad bin Bisyr Al-Asyhaly masih muda. Dalam kegiatan sehari-hari dia memperlihatkan tingkah laku yang baik, bersikap seperti orang-orang yang sudah dewasa, kendati usianya belum mencapai dua puluh lima tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang dai dari Makkah, yaitu Mush’ab bin Umair. Dalam tempo singkat, hati keduanya terikat dalam ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai belajar membaca Al-Qur'an kepada Mush’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Oleh karena itu, ia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur'an.

Pada suatu malam ketika Rasulullah Saw sedang melaksanakan shalat tahajud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid. Terdengar oleh beliau suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur'an dengan suara yang merdu.

“Ya Aisyah, suara Abbad bin Bisyrkah itu?” tanya Rasulullah.

“Betul, ya Rasulullah!” jawab Aisyah.

Rasulullah berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia!”

Abbad bin Bisyr turut berperang bersama Rasulullah Saw dalam tiap peperangan yang beliau pimpin. Dalam peperangan-peperangan itu dia bertugas sebagai pembawa Al-Qur'an.

Ketika Rasulullah kembali dari Perang Dzatur Riqa’, beliau beristirahat dengan seluruh pasukan Muslim di lereng sebuah bukit. Setibanya di tempat perhentian di atas bukit Rasulullah bertanya, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?”

Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir berdiri, “Kami, ya Rasulullah!” kata keduanya serentak. Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.

Ketika keduanya keluar ke pos penjagaan, Abbad bertanya kepada Ammar, “Siapa di antara kita yang berjaga terlebih dahulu?”

“Aku yang tidur lebih dahulu,” jawab Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat penjagaan.

Dalam suasana malam yang tenang dan hening, Abbad shalat malam dan larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacanya. Dalam shalat itu ia membaca surat Al-Kahfi dengan suara memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Ketika Abbad tenggelam dalam mahabbah dengan Rabb-nya, seorang laki-laki datang dengan tergesa-gesa dan melihat seorang hamba Allah sedang beribadah. Lelaki itu yakin bahwa Rasulullah ada di tempat itu dan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu menyiapkan anak panah dan memanah Abbad dengan tepat mengenai tubuhnya. Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad kembali mencabut anak panah lalu meneruskan ibadahnya. Kemudian orang itu memanah lagi. Abbad mencabut lagi anak panah dari tubuhnya seperti dua anak panah terdahulu.

Giliran jaga bagi Ammar bin Yasir pun tiba. Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur, lalu membangunkannya seraya berkata, “Bangunlah! Aku terluka parah dan lemas.”

Sementara itu, melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. Ammar menoleh ke arah Abbad dan melihat darah bercucuran dari tiga luka di tubuhnya. “Subhanallah! Mengapa engkau tidak membangunkan aku ketika panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.

“Aku sedang membaca Al-Qur'an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas jaga yang dibebankan Rasulullah, menjaga pos perkemahan kaum Muslimin, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan dalam shalat,” jawab Abbad.

Ketika perang memberantas orang-orang murtad berkecamuk pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Kadzab. Abbad bin Bisyr termasuk pelopor dalam pasukan tersebut.

Abbad dan pasukannya menyerbu dan memecah pasukan musuh, serta menebar maut dengan pedangnya. Kemunculannya menyebabkan pasukan Musailamah Al-Kadzab terdesak mundur dan melarikan diri ke Kebun Maut.

Di sana, dekat pagar tembok Kebun Maut, Abbad gugur sebagai syahid. Tubuhnya penuh dengan luka bekas bacokan pedang, tusukan lembing, dan panah yang menancap. Para sahabat hampir tak ada yang mengenalinya, kecuali setelah melihat beberapa tanda di bagian tubuhnya yang lain.



Kehadiran Mush’ab disambut oleh kaum Muslimin dan mereka yang belum masuk Islam. Mush’ab segera berbicara.

Ia menyampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang mau beriman dan menyampaikan kabar menyedihkan bagi mereka yang tidak mau beriman. Semua orang khusyuk mendengarkan.

Belum lama majelis dimulai, As’ad bin Zurarah melihat Usaid bin Hudhair menuju ke tempat mereka. Ia segera memberi tahu Mush’ab, “Kebetulan wahai Mush’ab, itu pemimpin kaum telah datang,” ujarnya.

“Ia seorang yang sangat cemerlang otaknya dan cerdas akalnya. Dia adalah Usaid bin Hudhair. Jika dia masuk Islam, tentu akan banyak orang mengikutinya. Berdoalah kepada Allah dan hadapilah dia dengan bijaksana.”

Setibanya di hadapan majelis itu, Usaid bin Hudhair langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Tatapan matanya tajam memandang ke arah Mush’ab dan orang-orang yang ada di situ. As’ad bin Zurarah juga tidak luput dari sorotan matanya yang nyaris tak berkedip. Ia menyimpan kemarahan yang sangat besar kepada pendatang dari Makkah ini.

“Apa maksud Tuan-tuan datang ke sini? Kalian hendak memengaruhi rakyat kami? Pergilah kalian sekarang juga, jika kalian masih ingin hidup!” teriak Usaid.

Mush’ab menoleh kepada Usaid dengan wajah sejuk. Tampak sekali cahaya iman memantul dan berseri-seri. Dengan gayanya yang simpatik dan menawan, dia mulai bicara. “Wahai Tuanku, maukah engkau mendengarkan yang lebih baik dari itu?”

“Apa itu?” sergah Usaid dengan mimik sinis.

Mush’ab melanjutkan, “Silakan duduk bersama-sama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika engkau suka apa yang kami perbincangkan, silakan ambil. Dan jika engkau tidak suka, kami akan meninggalkan kampung halaman ini dan tidak akan kembali lagi.”

“Anda memang pintar,” jawab Usaid. Hatinya mulai sedikit lumer. Ia menancapkan tombaknya ke tanah, kemudian duduk dengan tenang.

Mush’ab mengarahkan pembicaraan kepadanya tentang hakikat Islam sambil membaca ayat-ayat Alquran di sela-sela pembicaraannya.

Beberapa saat kemudian, tampak rasa gembira terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, “Alangkah bagusnya apa yang engkau katakan. Apa yang kamu baca sungguh sangat indah. Apa yang kulakukan jika aku masuk Islam?”

Dengan senang Mush’ab menjawab, “Mandilah, bersihkan pakaianmu, lalu ucapkan dua kalimat syahadat! Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, sesudah itu shalat dua rakaat.”

Usaid langsung berdiri dan pergi ke telaga di sebelah kebun itu. Ia segera menyucikan badan. Sekembalinya di hadapan Mush’ab, ia mengu­capkan dua kalimat syahadat dan mengerjakan shalat dua rakaat.

Mulai hari itu, bergabunglah ke dalam barisan kaum Muslimin seorang bangsawan Arab, penunggang kuda terkenal, pemimpin suku Aus yang dikagumi; Usaid bin Hudhair.

Tidak lama setelah Usaid masuk Islam, Sa'ad bin Mu'adz masuk Islam pula. Islamnya kedua tokoh ini menyebabkan seluruh masyarakat dari suku Aus masuk Islam. Sesudah itu, jadilah Madinah tempat hijrah Rasulullah SAW dan tempat berdirinya pemerintahan Islam yang besar.


Usaid bin Hudhair sangat mencintai Alquran. Ia bagai orang kehausan di padang yang panas, lalu mendapatkan jalan menuju mata air yang sejuk.

Dicintai Malaikat

Suatu malam, Usaid duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di dekatnya. Kuda yang selalu siap untuk berperang ti sabilillah, diikat tidak jauh dari tempat duduknya.

Suasana malam tenang dan hening. Permukaan langit jernih tanpa mendung. Usaid tergerak untuk membaca ayat AI-Qur'an yang suci.

“Alif lam miim, Inilah Kitab (Alquran) yang tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib yang menegakkan shalat, dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka yang yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (QS. Al-Baqarah: 1-4).

Mendengar bacaan tersebut, tiba-tiba kuda yang sedang ditambat lari berputar-putar. Hampir saja tali pengikatnya putus. Ketika Usaid diam kuda itu diam dan tenang. Usaid melanjutkan lagi bacaannya...

“Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 5).

Kembali kuda Usaid berputar-putar lebih hebat dari semula. Ketika ia memandang ke langit, ia mendapati pemandangan bagai payung yang mengagumkan. Ia belum pernah melihat pemandangan serupa itu sebelumnya.

Awan itu indah berkilau, bergantung seperti lampu memenuhi ufuk, bergerak naik dengan sinarnya yang terang. Kemudian perlahan-lahan menghilang dari pandangan.

Esok harinya, Usaid pergi menemui Rasulullah SAW menceritakan peristiwa yang dialaminya. Rasulullah berkata, “Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran. Seandainya engkau teruskan, pastilah akan banyak orang yang bisa melihatnya. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.” (HR. Bukhari-Muslim).

Usaid bin Hudhair hidup sebagai seorang ahli ibadah. Harta benda dan jiwa raga yang dimilikinya diserahkan sepenuhnya untuk perjuangan Islam. Bagi Usaid tidak ada puncak keindahan dan kemenangan dalam perjalanan hidupnya selain bila cahaya Islam terus bersinar.

Pandangan hidup yang seperti itu mengantarnya memperoleh julukan sebagai, “Sebaik-baik laki-laki, Usaid bin Hudhair!” kata Rasulullah SAW.

Usaid ditakdirkan Allah sempat melihat kepemimpinan Khalifah Umar Al-Faruq yang tegas, adil dan bijaksana. Dan pada bulan Sya’ban tahun 20 Hijriyah, ia berpulang keharibaan Allah SWT menyusul syuhada-syuhada yang telah mendahuluinya.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab tidak mau ketinggalan turut serta memikul sendiri jenazah tokoh Anshar ini di atas bahunya menuju taman makam syuhada di Baqi....(end)





Secara khusus, kaum Anshar ialah mereka yang secara tulus berjihad dengan harta dan jiwa mereka untuk menolong Rasulullah dalam menegakkan panji-panji Islam.

Mereka bukan sekadar menolong kehadiran kaum Muhajirin dari Kota Makkah, tetapi sudah menganggap bahwa kaum Muhajirin adalah saudara seiman yang amat mereka cintai.

Setelah Rasulullah SAW wafat, terdapat segolongan Anshar yang dikepalai oleh Sa’ad bin Ubadah, yang mengumumkan bahwa mereka lebih berhak memegang Khalifah atas kelompok Muhajirin.

Alasannya, bukankah kaum Anshar yang telah membantu Nabi SAW di awal kehadirannya di Madinah dulu. Sehingga mereka merasa lebih pantas menerima amanah mulia memegang kepemimpinan atas kaum Muslimin.

Ungkapan tersebut tentu saja mengundang reaksi dari kaum Muhajirin. Apalagi suasana kaum Muslimin sedang dalam keadaan berkabung. Adu debat pun tidak lagi dapat dielakkan. Siapakah yang lebih berhak memegang tampuk kekuasaan umat Islam, kaum Anshar atau Muhajirin.

Ketika suasana semakin memanas, maka Usaid bin Hudhair sebagai salah seorang tokoh dari kalangan Anshar tampil mendinginkan suasana. Kepada kaumnya ia berkata, “Bukankah tuan-tuan mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah dari golongan Muhajirin? Karenanya Khalifah juga sewajarnya dari golongan Muhajirin! Dan kita adalah pembela Rasulullah, maka kewajiban kita sekarang adalah membela Khalifahnya.”

Kata-kata kunci yang disampaikan Usaid mengakhiri percekcokan yang nyaris memecah belah persaudaraan itu.

Siapakah lelaki penyelamat berotak cerdas bernama Usaid ini? Dia adalah seorang pemimpin suku Aus, kabilah dari Yaman yang bertransmigrasi ke Madinah bersama saudaranya suku Khazraj. Belakangan kedua kabilah ini kemudian menetap di sana.

Ayahnya adalah Hudlairul Kata’ib, seorang sesepuh Aus dan salah seorang bangsawan Arab di zaman jahiliyah. Sebelum kehadiran Islam, kendati bersaudara, kedua suku besar tersebut selalu terlibat bentrok satu sama lain. Sekalipun begitu, di saat lain mereka sama-sama menghadapi musuh bebuyutan dari golongan Yahudi.

Yahudi ini merupakan minoritas nonpribumi yang menguasai perekonomian di Madinah. Sedikit banyak hal itu membuat golongan pribumi merasa iri. Sakit hati itu bertambah membengkak karena orang-orang Yahudi bersikap angkuh dan takabur.

Ayah Usaid, Hudhairul Kata’ib termasuk pahlawan yang sangat gigih menentang keangkuhan dan kecongkakan Yahudi. Kegigihan dan keberanian itu mendatangkan kekaguman di kalangan kaumnya.

Bagi Hudhair, tidak ada persahabatan dengan dedengkot-dedengkot Yahudi yang dikenalnya rakus dan selalu menghalalkan segala cara. Sikap yang tegas tanpa kompromi itu mengalir ke putranya. Wajar kalau darah kepahlawanan seperti itu pun dimiliki juga oleh Usaid bin Hudhair.

Awal keislaman Usaid

Ketika Mush’ab bin Umair diutus Rasulullah ke Madinah, untuk membina kelompok Anshar yang telah berbaiat kepada Nabi di Baitul Aqabah pertama, berita kedatangan beliau sudah sampai juga ke telinga Usaid.

Mush’ab bin Umair tinggal di rumah As’ad bin Zurarah, seorang bangsawan suku Khazraj. As’ad kebetulan keluarga dekat Sa’ad bin Mu’adz (anak bibinya). Sedang Sa’ad bin Mu’adz adalah sahabat Usaid bin Hudhair di tampuk kepemimpinan suku Aus.

Di rumah itu, keberadaan Mush’ab bin Umair dijamin. Di rumah itu pula Mush’ab menebarkan dakwah Islamiyah dan menyampaikan berita gembira mengenai Nabi Muhammad SAW.

Tidak sedikit penduduk yang mendatangi majelis Mush’ab. Gaya bicaranya yang menawan, hujjahnya yang jelas dan masuk akal, ditambah dengan halus budinya, membuat daya tarik yang kuat bagi penduduk Yatsrib. Apalagi sinar iman di wajahnya menyejukkan siapa saja yang memandangnya.

Di atas semua itu, yang lebih menarik hati adalah ayat-ayat yang dibacakan Mush’ab bin Umair di sela-sela pembicaraannya. Hati yang keras bisa melunak. Orang yang merasa berlumuran dosa menyesali perbuatan masa lalunya yang gelap. Bahkan karenanya tidak ada orang yang meninggalkan majelis itu kecuali telah menyatakan dirinya bersyahadat memilih Islam sebagai jalan baru.

Perkembangan yang begitu cepat itu membuat gusar Sa’ad bin Mu’adz. Ia segera menemui sahabatnya, Usaid bin Hudhair, dan berkata cemas, “Hai Usaid, sebaiknya engkau datangi pemuda Makkah itu. Dia telah memengaruhi rakyat kita dan membodoh-bodohi mereka. Tuhan kita dijelek-jelekkan. Cegahlah dia dan ingatkan jangan tinggal di negeri ini, sejak hari ini!”

Setelah berhenti sejenak, Sa’ad melanjutkan bicaranya, “Seandainya dia bukan tamu anak bibiku (As’ad bin Zurarah), sungguh akan aku bereskan sendiri.”

Mendengar itu, Usaid segera mengambil tombaknya, lalu pergi mencari Mush’ab. Saat itu, As’ad bin Zurarah sedang menyertai Mush’ab bin Umair menemui Bani Abdul Asyhal untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Keduanya masuk ke sebuah kebun milik Bani Abdul Asyhal, lalu duduk-duduk di bawah pohon kurma di pinggir sebuah telaga.....(bersambung...)

khasanah republika



Adalah di zaman Rasulullah saw ada seorang munafik bernama Abi Sarah yang ditugaskan untuk menulis wahyu. Abi Sarah berbalik menjadi murtad dan kafir, kemudian mengumumkan kemurtadannya terhadap Islam dan berbalik pada kelompok orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah.

Manakala Abi Sarah ditanya oleh para kafir musyrikin terhadap pengalamannya pernah diminta untuk menuliskan wahyu, dengan bangganya Abi Sarah mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu dapat aku “bodohi”. Ketika dia mengimlakan kepadaku ayat [عزيز حكيم] “Aziizun Hakim” aku justru menuliskan [عليم حكيم]  “Alimun Hakim” dan Muhammad mempercayainya begitu saja.

Tentu saja lelucon Abi Sarah yang bermaksud menghinakan al-Qur’an sekaligus mencemooh nabi Muhammad Saw disambut gelak tawa kepuasaan pembenci Islam. Mereka seakan menganggap bahwa Rasulullah gampang dibodohi dan dibohongi hanya oleh seorang bernama Abi Sarah.

Berita kebohongan yang disampaikan oleh Abi Sarah pun telah sampai ke telinga Rasulullah dan para sahabat. Apa yang terjadi kemudian? Apakah berita itu dianggap kabar angin saja? Ternyata tidak! Penghinaan dan penistaan terhadap kalamullah sekaligus Rasulullah Saw memiliki hukum tersendiri di dalam Islam.

Beberapa tahun kemudian, ketika kekuatan umat Islam telah bertambah semakin kuat dan banyak hingga menyebar ke beberapa jazirah di negara Arab, ekspansi selanjutnya adalah menaklukkan kota Makkah yang lebih dikenal dengan istilah Fath Makkah.

Ketika umat Islam telah berhasil menguasai kota Makkah, kaum kafir Quraisy menyerah tanpa syarat. Mereka tunduk atas segala ketentuan serta balasan terhadap permusuhan mereka terhadap kaum muslimin puluhan tahun yang lalu.

Rasulullah Saw memaafkan segala bentuk kekerasan, kekejaman serta permusuhan kafir Quraisy Makkah. Namun, ada satu hal yang tidak terlupakan. Ingatan kaum muslimin terhadap penghinaan serta penistaan Islam yang pernah dilakukan seorang munafik bernama Abi Sarah tidak serta merta hilang begitu saja. Apa tindakan balasan atas penghinaan Abi Sarah terhadap al-Qur’an?

Rasulullah saw dengan tegasnya memerintahkan para pasukan elit untuk mencari Abi Sarah serta beberapa orang yang melakukan penistaan yang sama, seperti Abdullah bin Hilal bin Khatal dan Miqyas bin Shubabah. Rasulullah saw menginstruksikan ketiga orang ini untuk dieksekusi mati sekalipun mereka bergantung di sisi Ka’bah.

Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama sepakat bahwa hukuman bagi penghina al-Qur’an, maupun penghina Rasulullah Saw adalah hukuman eksekusi mati. Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina al-Qur’an dan penghina Rasulullah Saw.

Diantara kitab yang terkenal adalah karangan Imam as-Subki [683-756 H] yang berjudul “As-Syaif al-Maslul ‘Ala Man Sabb ar-Rasul” [Pedang yang Terhunus atas Pencela Rasul] dan selanjutnya lebih dari 350 tahun berikutnya seorang ahli muhadits Imam Muhammad Hasyim bin Abdul Gafhur [1104-11743 H] juga menulis sebuah kitab yang berjudul “as-Saif al-Jali ‘ala Man Sabb an-Nabi “ [Pedang yang Berkilat Atas Penghina Nabi].

Sikap Para Ulama Terhadap Penghina al-Qur’an

Para Ulama sepakat bahwa memuliakan dan mensucikan al-Quran adalah wajib. Karenanya, siapa saja kaum Muslim yang menghina al-Quran, berarti telah melakukan dosa besar, bahkan telah dinyatakan murtad dari Islam.

Imam an-Nawawi, dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Qur’an, menyatakan: “Para ulama telah sepakat tentang kewajiban menjaga mushaf al-Quran dan memuliakan-nya. Para ulama Mazhab Syafii berkata, “Jika ada seorang Muslim melemparkan al-Quran ke tempat kotor maka dihukumi kafir (murtad).”

Di antara penyebab kekufuran (murtad) bagi seorang Muslim adalah mencaci-maki dan menghinakan perkara yang diagungkan dalam agama, mencaci-maki Rasulullah saw, mencaci-maki malaikat serta menistakan mushaf al-Quran dan melemparkannya ke tempat yang kotor. Semua itu termasuk penyebab kekufuran (murtad).

Al-Qadhi Iyadh pernah berkata, “Ketahuilah bahwa siapa saja yang meremehkan al-Quran, mushafnya atau bagian dari al-Quran, atau mencaci-maki al-Quran dan mushafnya, ia telah kafir (murtad) menurut ahli Ilmu.” (Asy-Syifa, II/1101).

Dalam kitab Asna al-Mathalib dinyatakan, mazhab Syafii telah menegaskan bahwa orang yang sengaja menghina, baik secara verbal, lisan maupun dalam hati, kitab suci al-Quran atau hadis Nabi saw. dengan melempar mushaf atau kitab hadis di tempat kotor, maka dihukumi murtad.

Dalam kitab Al-Fatawa al-Hindiyyah, mazhab Hanafi menyatakan, bahwa jika seseorang menginjakkan kakinya ke mushaf, dengan maksud menghinanya, maka dinyatakan murtad (kafir).

Dalam Hasyiyah al-‘Adawi, mazhab Maliki menyatakan, meletakkan mushaf di tanah dengan tujuan menghina al-Quran dinyatakan murtad.

Dalam kitab Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah dinyatakan, ulama telah sepakat bahwa siapa saja yang menghina al-Quran, mushaf, satu bagian dari mushaf, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan satu saja hukum atau informasi yang dinyatakannya, atau meragukan isinya, atau berusaha melecehkannya dengan tindakan tertentu, seperti melemparkannya di tempat-tempat kotor, maka dinyatakan kafir (murtad).

Inilah hukum syariah yang disepakati oleh para fukaha dari berbagai mazhab, bahwa hukum menghina al-Quran jelas-jelas haram, apapun bentuknya, baik dengan membakar, merobek, melemparkan ke toilet maupun menafikan isi dan kebenaran ayat dan suratnya.

Jika pelakunya Muslim, maka dengan tindakannya itu dia dinyatakan kafir (murtad). Jika dia non-Muslim, dan menjadi Ahli Dzimmah, maka dia dianggap menodai  dzimmah- nya, dan bisa dijatuhi sanksi yang keras oleh negara.

Jika dia non-Muslim dan bukan Ahli Dzimmah, tetapi Mu’ahad, maka tindakannya bisa merusakmu’ahadah-nya, dan negara bisa mengambil tindakan tegas kepadanya dan negaranya. Jika dia non-Muslim Ahli Harb, maka tindakannya itu bisa menjadi alasan bagi negara untuk memaklumkan perang terhadapnya dan negaranya.

Karena itu, sanksinya pun berat. Orang Muslim yang menghina al-Quran akan dibunuh, karena telah dinyatakan murtad. Jika dia non-Muslim Ahli Dzimmah, maka dia harus dikenai ta’zir yang sangat berat, bisa dicabut  dzimmah-nya, hingga sanksi hukuman mati.

Bagi non-Muslim non-Ahli Dzimmah, maka negara wajib membuat perhitungan dengan negaranya, bahkan bisa dijadikan alasan Khalifah untuk memerangi negaranya, dengan alasan menjaga kehormatan dan kepentingan Islam dan kaum Muslim.

Disebabkan negara kita menganut paham demokrasi yang berasas pada ketentuan hukum perundangan-undangan, maka sikap terbaik kita juga harus berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku di Indonesia sesuai dengan pasalUU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (“UU 1/PNPS/1965”). Pasal 1 UU 1/PNPS/1965 menyatakan:

“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan dan mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari pokok-pokok ajaran agama itu.”
Wallahu A'lam Bishawab



Siswa SDIT Bina Amal Sedang Membaca Al Quran

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah Swt turunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai umat islam, tentu Al-Qur’an tidak tidak akan dibiarkan begitu saja, hanya diperlakukan ala kadarnya, dianggap seperti benda biasa layaknya pajangan atau koleksi.

Ternyaa, sebagai umat muslim, kita punya kewajiban terhadap Al-Qur’an lho. Kewajiban tersebut merupakan bentuk tindakan yang harus kita lakukan sebagai upaya memanfaatkan keberadaan kitab suci tersebut.

Apa saja kewajiban kita terhadap Al-Qur’an?

1. Membaca

Mengapa kita wajib membaca Al-Qur’an? Sebab tanpa dibaca, mustahil bagi kita untuk mengerti maknanya, dapat mengamalkannya, bahkan menyampaikannya. Sedangkan Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup bagi umat muslim.

Adapun hukum membaca Al-Qur’an dengan benar, yaitu dengan memakai tajwid adalah fardhu ‘ain (wajib untuk setiap orang).

Sementara hukum mempelajari ilmu tajwidnya adalah fardhu kifayah. Maksudnya, apabila apabila sudah ada sekelompok orang yang menjalankan, maka gugurlah kewajiban untuk sekelompok orang yang lain.

Jadi, mempelajari ilmu tajwid akan sangat memudahkan kita untuk semakin cepat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.

2. Menghapal
Siswa-Siswi Bina Amal sedang Tes Menghapal

Menghapalkan Al-Quran akan semakin memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkannya.

Menghapal Al-Qur’an juga akan membuat kita terlindung dari siksa kubur dan api neraka. Hapalan yang kita miliki akan memberikan banyak sekali kemuliaan di dunia maupun di akhirat, seperti kedua orang tua yang akan dipakaikan mahkota dari emas di surga kelak.

3. Memahami

Memahami Al-Qur’an wajib bagi setiap muslim. Mengapa? Sebab Al-Quran memang diturunkan kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Bagaimana akan menjadikannya sebagai pedoman, jika paham saja tidak?

Sebelum kita mengamalkan sesuatu pun, kita harus memahami dulu sesuatu itu, supaya tidak salah ketika mengerjakannya.

4. Mengamalkan

Seorang yang memahami dan mengerti tentang sebuah kebaikan namun tidak mengamalkannya, maka ia laksana lebah yang tidak menghasilkan madu.

Begitu juga dengan Al-Qur’an. Kitab suci tersebut ada sebagai pedoman hidup manusia untuk diamalkan isinya, supaya manusia dapat menjalani hidup dengan benar.

5. Menyampaikan

Kebaikan bukanlah hanya untuk diri sendiri. Alangkah indahnya apabila kebaikan yang kita miliki dapat dirasakan juga oleh orang lain.

Kebaikan yang terus menyebar ini akan menjadi lahan pahala mengalir terus-menerus, bahkan apabila kita sudah meninggal.

Ketika semakin sedikit umat muslim yang menyadari kewajibannya terhadap Al-Qur’an, maka sudah sepatutnya bagi sebagian muslim lain yang mengetahui untuk membuat yang tidak tahu menjadi tahu.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang enggan memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim terhadap pedoman suci yang telah Allah turunkan ke muka bumi.

Dari Kiri ke kanan Ustadzah Ika Retno S.Pd, Wiwik Setyorini, S.Pd, Ustadzah Samsiati, S.KM.

Hari Pahlawan kali ini benar-benar istimewa. Guru dan siswa Sekolah Islam Terpadu Bina Amal berhasil meraih juara dalam berbagai ajang lomba, baik tingkat kota maupun tingkat Propinsi.

(baca : http://www.binaamal.info/2016/11/barokallah-parade-juara-sekolah-islam.html)

Setelah Ibu Guru KBIT-TKIT yang menjadi juara umum dalam lomba kreativitas guru Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia di Jawa Tengah, Koordinator Daerah (Korda) Semarang 1 yang terdiri atas Demak, Semarang, dan Kendal. Kali ini giliran Ibu Guru SDIT yang berhasil meraih juara umum dalam ajang tersebut. Berikut perolehan juaranya :

Juara 1* Inovasi Pembelajaran : Ustadzah Ika Retno, S.Pd

Juara 1* Alat Peraga Edukasi : Ustadzah Wiwik Setyorini, S.Pd.

Juara 1* Penelitian Tindakan Kelas : Ustadzah Samsiati, S.KM.

SDIT Bina Amal meraih Juara Umum

(baca : KBIT-TKIT Juara Umum)

Seakan tidak mau kalah dengan Gurunya, Siswa-Siswi SMPIT Bina Amal juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Jauh-jauh ke Surabaya siswa-siswi SMPIT Bina Amal menunjukan semangat dan Prestasi dalam ajang jambore nasional PMR Laga Praja Airlangga di Surabaya. Berikut hasil perolehan juara :

Juara 1 Kesehatan Remaja
Juara 2 Pameran Mini
Juara 3 Cerdas Cermat
Peringkat 1 LPA ( Laga Praja Airlangga) 2016

berikut Tim Juara SMPIT Bina Amal

HAIKAL AMMAR MUSLIM
KHOLID RAHMATULLAH
M. DAFFA ADHAM R
KHOIRUL HAFID P
SAFRIL ISNAINI
TUBAGUS NUR AZIZ
SANYA PRAMUDITA
LINA FAIQUNNISA
SABRINA GABRIELLA
NAJWA AZIZUL FAUZIA
AULIYA RIZQI M
SALMA NAFIDA
DELLA FADHILLA
YASMIN ARIFIA


Galeri Foto








Siswa-Siswi Bina Amal Long March Sambut Hari Pahlawan 

Memperingati hari pahlawan tahun ini ada yang istimewa bagi siswa-siswi TKIT Bina Amal. Ya, semua siswa-siswi TKIT Bina Amal ini dengan penuh semangat melakukan Long march. Long March adalah jalan jauh. Mereka melakukan perjalanan mulai dari Kampus Bina Amal, bergerak ke Jalan Gergaji di perkampungan penduduk kemudian Jalan Menteri Supeno dan di akhiri dengan berkumpul di Taman KB

Semua siswa-siswi berjalan dengan riang di dampingi oleh Gurunya. Semua tetap semangat walau tubuh berkeringat dan kelelahan. Mereka bertambah semangat manakala penduduk kampung yang dilewati menonton penuh rasa penasaran. “Ini ada apa Bu...?” tanya seorang warga. Ada pawai atau long march menyambut hari Pahlawan Bu.

Iring-iringan para pejuang itu tambah meriah dan ramai karena di ikuti beberapa sekolah TK di sekitar Kampus Bina Amal. Yang jumlah keseluruhan peserta Long March adalah 251 Anak. Sepanjang perjalanan mereka tampak bersemangat menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan menerikan yel-yel. Merdeka! Merdeka! Merdeka.

Koordinator kegiatan Sakdiyah S.Pd. mengatakan bahwa long march ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. “Sejak dini, anak-anak harus di perkenalkan dengan para Pahlawan Negeri ini, bahwa perjuangan mereka merebut kemerdekaan ini sangant berat. Salah satunya adalah long March. Dengan kegiatan ini kami berharap anak-anak mendapatkan pengalaman empiris betapa heroiknya perjuangan para pahlawan pada waktu itu”.

Lebih lanjut memperingati Hari Pahlawan bukan hanya sekedar perayaan belaka tetapi merupakan momentum bagi generasi muda untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan pahlawan dalam mengusir penjajah, tidak bisa dibayar dan dinilai dalam bentuk apapun.Mereka rela bertempur mati-matian di medan perang dan tak pernah gentar meski nyawa menjadi taruhannya.

Dan sebagai generasi muda, semangat itu dilanjutkan dengan rajin belajar dan tidak mudah putus asa.

"Guruku...Engkaulah Pahlawanku....!!"

“Merdeka....Merdeka..Merdeka..Allahu Akbar...!



humas@binaamal.info
humasKBIT-TKIT Bina Amal


galeri foto











MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget