November 2017

Video Panduan Pendaftaran Online


Cara Pendaftaran ONLINE Siswa Baru Bina Amal 2018/ 2019                          

2. Klik PENDAFTARAN ONLINE SISWA BARU  di pojok kanan atas.

3. Klik gambar Unit yang dipilih

4. Mohon dibaca Alur Pendaftaran dengan cermat.

5. Klik Disini atau Klik untuk Daftar untuk mengisi Form Awal dan mendapatkan Username dan password.

6. Transfer biaya pendaftaran sesuai dengan angka unik (misal Rp.200.690)- ke Nomor Rekening yang di sediakan atau dapat membayar langsung ke BMT.

7. Setelah melakukan pembayaran
Login ke www.binaamal.info dengan username dan password yang sudah dimiliki.

8. Upload foto kuitansi pembayaran ke website dengan Klik tulisan disini berwarna biru.

Selalu Klik SAVE setiap melakukan pengisian data

9. Pilih menu Next dengan melengkapi formulir pendaftaran dan mengisi :
    a. Quesioner
    b. Biodata Siswa
    c. Riwayat Pendidikan
    d. D ata Ayah
    e. Data Ibu
    f. Data Wali (apabila wali bukan orangtua kandung).
    g. Upload Foto CloseUp Calon Peserta Didik

Setelah selesai mengisi formulir  semua.

10. Klik menu DOWNLOAD dan pilih wali Penandatangan Formulir.

sebelum dicetak silakan di cek kembali 

11. Selesai

Belajar Fisika Bersama Ustadz Roni di SMAIT Bina Amal

Menjadi  Guru yang menyenangkan bagi siswa memang menjadi harapan besar setiap guru. Untuk menjadi guru yang menyenangkan bagi anak didiknya bisa dikatakan mudah bisa juga dikatakan susah.

Menjadi figur Guru yang menyenangkan bagi siswa artinya adalah pembelajaran akan berlangsung menyenangkan serta tujuan pembelajaran akan mudah untuk tercapai.

Tapi realita tak selamanya sesuai dengan harapan karena berdasarkan fakta, ternyata masih banyak guru yang belum memahami pentingnya menjagi guru yang menyenangkan di mata siswanya, alhasil proses pembelajaran kadang menjenuhkan dan membuat siswa merasa cepat bosan dalam belajar.

Bahkan sebagian guru malah jauh dari persepsi menyenangkan bagi siswanya malah sebaliknya sebagian guru malah menjadi figur yang menakutkan di mata siswanya. Hal ini jelas akan berdampak pada kondisi psikologis siswa serta membentuk suatu persepsi yang keliru tentang guru di mata para siswa.

Jadi bagaimana caranya untuk bisa menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa! Sebenarnya ada banyak cara untuk menjadi guru menyenangkan bagi siswa namun terkadang beberapa cara hanya efektif jika diterapkan pada situasi dan kondisi tertentu.

Berikut 9 Cara menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa :

1. Guru Harus Tegas Bukan Keras

Banyak guru yang dalam mendidik siswanya menggunakan cara-cara yang keras sehingga muncul trauma dalam diri siswa jika diajar oleh guru tersebut. bentuk kekerasan yang biasanya dilakukan oleh sebagian guru seperti mencubit siswa, memukul, menghardik dengan kata-kata yang tidak baik. kondisi atau pola pengajaran seperti ini justru akan menciptakan tekanan mental bagi siswa sehingga pembelajaran terkesan kaku dan potensi yang dimiliki siswa juga akan sulit untuk tereksplorasi. Oleh karena agar bisa menjadi guru yang menyenangkan seorang guru tidak boleh keras namun harus tegas, karena keras dan tegas memiliki makna yang sangat berbeda. Guru yang tegas adalah guru yang biasanya telah membuat suatu aturan cara mengajar yang telah dipahami siswanya.

2. Lemah Lembut Dalam Mengajar dam Mendidik Siswa

Siswa adalah pribadi yang memiliki kepekaan hati, sekali saja siswa dimarahi maka bisa jadi akan sangat sulit dilupakan oleh karena itu guru harus meminimalisir berbagai hal yang berpotensi menyababkan siswa mengalami down dalam pembelajaran. Untuk itu guru dalam mengajar sebaiknya menampilkan sikap yang lemah lembut terhadap siswanya, dengan sikap lemah lembut pembelajaran lebih menyenangkan serta lebih kondusif serta siswa akan merasa lebih termotivasi untuk belajar. selain itu ketika mengajar dengan cara lemah lembut secara konsisten maka akan menghadirkan mindset dalam diri siswa bahwa guru tersebut sangat menyenangkan dan bersahabat, sehingga tidak ada rasa was-was ketika siswa ingin bertanya, berpendapat dan bahkan siswa mau berbagi hal yang lebih bersifat pribadi kepada guru tersebut.

3. Menjadi Guru Teladan

Untuk menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa seorang guru harus menjadi contoh bagi siswanya atau menjadi teladan bagi siswa, tidak hanya menjadi guru yang mengarahkan dan mengajarkan teori namun lebih dari itu guru harus tampil sebagai suri tauladan sehingga siswa bisa meniru perilaku gurunya. misalkan ketika meminta muridnya disiplin maka gurulah yang harus menunjukan perilaku disiplin terlebih dahulu, ketika guru meminta siswanya datang tepat waktu ke sekolah maka seorang gurulah harus memberi contoh kepada siswanya dengan tidak datang terlambat kesekolah. Dengan memperlihatkan perilaku yang santun dan bersahabat serta merealisasikan segala ucapannya sejatinya guru telah mengajar siswanya tentang bagaimana bersikap dan berperilaku yang baik dan benar. Karakter guru yang demikian akan mampu menyentuh hati siswanya dan membuatnya menjadi guru yang dirindukan dan menyenangkan

4. Guru harus mampu memposisikan dirinya dalam banyak situasi

Peran guru di sekolah sangat sentral jadi tak heran jika sebagian orang mengatakan bahwa guru adalah orang tua kedua bagi siswa. Tidak hanya memposisikan diri sebagai guru, kadang dalam keadaan tertentu atau situasi tertentu seorang guru harus mampu menempatkan dirinya dalam berbagai sudut pandang, misalkan terkadang guru harus tampil sebagai orang tua bagi siswa, guru memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak didiknya, guru menjadi pemimpin bagi anak didiknya, menjadi motivator, menjadi mediator dan menjadi katalisator bagi siswanya, dengan mampu memposisikan diri dalam berbagai situasi guru akan menjadi sahabat bagi anak didiknya, selalu menjadi solusi bagi masalah anak didiknya sehingga siswa merasa senang dengan keberadaan gurunya dan guru menjadi sosok yang menyenangkan bagi siswanya.

5. Guru Harus Inovatif dan Kreatif

Hal yang cukup sulit untuk dijaga dalam proses pembelajaran adalah semangat dan motivasi belajar siswa, apalagi ketika kondisi pembelajaran yang kurang kondusif seperti cuaca yang panas, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai. Solusi nyata yang bisa membangkitkan kembali motivasi dan semangat belajar siswa adalah kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan melalui ide-ide kreatif dan inovatif sehingga siswa selalu bersemangat meskipun sarana dan prasarana sangat terbatas.

6. Perhatian dan komunikatif

Guru yang yang menyenangkan bagi siswa adalah guru yang selalu memberi perhatian kepada siswanya meskipun hal tersebut terlihat kecil dan basa-basi namun berangkat dari sikap perhatian inilah akan muncul rasa kagum dan cinta dari seorang siswa terhadap gurunya, selain itu guru harus komunikatif yakni mudah untuk menjalin komunikasi dengan siswanya sehingga tidak ada dinding pemisah yang membuat siswa merasa takut dan segang untuk berkomunikasi dengan gurunya.

7. Adil dan bijaksana dalam memperlakukan siswa

Sebagian guru terkadang tidak terlalu adil memperlakukan siswanya entah karena siswa tersebut anak orang kaya, anak pejabat atau anak kepala sekolah hal itu sangat tidak bijak dan membuat merasa siswa tidak adil. oleh karena itu sebagai seorang guru harus bisa adil terhadap semua siswa tanpa terkecuali dan selalu tampil bijaksana dalam menyelesaikan setiap masalah sehingga membuat siswa merasa diperlakukan sama dan memperoleh hak yang sama. jika hal tersebut bisa direalisasikan oleh guru tak telak kondisi kelas dan pembelajaran akan selalu menyanangkan siswa

8. Menjadi Guru Yang Kekinian

Menjadi guru yang kekinian maksudnya adalah guru yang selalu mengikuti perkembangan zaman, seperti mengetahui model pembelajaran terbaru, mengetahui berbagai teknologi pembelajaran yang terbaru, pekah terhadap isu-isu yang lagi hangat tentang pendidikan sehingga ilmu dan pengetahuan yang diajarkan oleh guru kepada siswanya selalu ter-up-to-date. karena tidak jarang kita menemukan guru yang mengajar dengan metode lama atau sudut pandang yang tidak terlalu efektif lagi jika digunakan dalam pola pengajaran sehingga sulit menemukan chemistry antara guru dan siswa.

9. Banyak tersenyum

Salah satu syarat mutlak untuk menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa adalah harus banyak tersenyum dan selalu menampilkan gestur yang bersahabat bagi siswa. senyuman seorang guru mampu menghangatkan suasana dan menyemangati siswa. jadi sebagai seorang guru akan lebih bijak jika murah senyum kepada siswa, hal ini akan membuat siswa iba dan simpati kedapa gurunya.

Sudahkah menjadi Guru yang menyenangkan dan di rindukan siswa ?

Pak Rico dan Pak Said Guru SMAIT Bina Amal Juara 1 dan 3 Pembelajaran Berbasis IT Tingkat JSIT JATENG


GURU adalah teladan bagi generasi masa depan.
Teladan pembelajar yang terus belajar.
Dengan karya seorang guru, maka akan ada jutaan anak Indonesia yang karakternya terbentuk dengan dengan etos kerja berbasis karya.

GURU mulia karena karya

Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu,
tapi GURU yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang orang hebat.

InsyaAllah bapak ibu GURU ustadz ustadzah SMAIT BINA AMAL SEMARANG menjadi GURU yang hebat dan bermutu sehingga menghasilkan karya yang bermutu dan melahirkan orang orang hebat yang sholih dan berprestasi yang mampu menjadi pemimpin bangsa di masa depan

GURU Hebat Indonesia Bermartabat

Selamat hari Guru Nasional 2017

Dan dalam rangka hari guru 2017. Alhamdulillah Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.
GURU SMAIT BINA AMAL SEMARANG menjadi Juara Lomba Media pembelajaran berbasis Informasi dan Teknologi tingkat provinsi JSIT Jawa Tengah

Atas nama
Ust. Rico Prasetyo Kurniawan Juara 1
Ust. Said Abdillah Juara 3

Barakallah untuk kita semua. Semoga dapat menginspirasi dan memberikan motivasi bagi GURU dan siswa.

InsyaAllah Bina Amal Senantiasa mampu melahirkan Guru-guru dan. Siswa-siswa yang berprestasi

ppdb.binaamal.info

#binaamalberprestasi
#binaamaljuara

Video Panduan Pendaftaran Online



Informasi Pendaftaran Online Siswa Baru 2018/2019

KBIT-TKIT-SDIT-TKIT 02-SDIT 02-SMPIT-SMAIT Bina Amal

Pendaftaran Online 20 November 2017 - 28 Januari 2018

Pendaftaran online : www.binaamal.info

KBIT : 085875108466

TKIT : 085740289124

SDIT : 085799872424

TKIT 02 : 085876124427

SDIT 02 : 082314567009

SMPIT : 0895377771077

SMAIT : 081578268108


#PPDB Bina Amal 2018/2019
#SekolahJuara
#Cerdas-Sholih










Tim Basket SMPIT Bina Amal
Kiprah tim basket Bina Amal di ajang WALIKOTA CUP terbilang sensasional. Sebagai tim medioker, di perempat final mampu menjinakkan perlawanan singa basketnya kota semarang SMP Terang Bangsa yang notabene sebagai tim unggulan dalam turnamen ini dengan skor tipis 28-29.

Kemudian kemarin di semifinal pebasket belia ini kembali menunjukkan tajinya dengan mengkandaskan perlawanan tim dominico savio kembali dengan skor tipis 27-26, dan jumat hari ini kiprah pemuda-pemuda sholeh jago basket ini bertanding di babak final melawan SMP Tri Tunggal

Hari Ini Adalah Mimpi 5 Tahun Yang Lalu (Catatan Seorang Guru)

Suasana semakin memanas. Aura ketegangan semakin merayap di menit terakhir! Dengan skor 24:24. Dua pemain inti masing-masing kubu tumbang seketika dengan permainan yang menekan jiwa.Jujur ada perasaan kami harus menang. Kami haus kemenangan sebagai sekolah islam satu-satu yang mampu bertahan di babak ini. 

Apakah kami membawa nama pribadi? Tidak!Saat itu entah knapa kami ingin menyanyikan lagu kebangsaan kami. Mars sekokah kami Mars Bina Amal. Dulu mungkin kami selalu malu ketika menyebutkan nama sekolah kami dihadapan tim elit basket Se-Kota Semarang. Waktu pun semakin mencekik. Aku pun tak kuasa menahan kaca dalam mataku. Aku tertunduk. Ya Allah aku tidak tega melihat mereka seperti ini! 

Point pun mulai bertambah dari Tim menjadi 26:24 hingga rasanya gedung sahabat seolah runtuh dengan suara amukan dari sporter dari pihak lawan.Ya Allah. Aku semakin tertunduk skor pihak lawan kini merangkak menjadi 26:26. Layaknya menonton film ghost. Jujur aku takut. Aku mau pergi saat itu. Aku tak tega. Jika kekalahan di pihak tim kami. Aku tertunduk kurapalkan doa apapun yang kubisa. Supporter Domsav semakin memanas. 

Mereka merutuk kami dan permainan semakin memanas dengan shoot Domsav dan Fitro mereka yang tak mampu merobek pertahanan Bina Amal. Detik pun mulai berjalan dengan cepat kedua kubu semakin tegang dengan Sabiq yang dimainkan kembali dengan cidera kakinya. Karena tim kami sangatlah pincang. Kami terpaksa kehilangan Fahri di detik terakhir dengan cidera yang dialami nya 1...2...3..Waktu berjalan cepat. Kami. .Ya Allah. .

Antara sadar dan tidak sadar suasana lapangan sudah dipenuhi sujud syukur antara tim dan kedua orangtua mereka. Ya Allah terima kasih atas pertolongan mu malam ini. Kupeluk tubuh Umi Intan hingga kami terisak bersama dan haru bersama. Kemenangan semalam adalah mukjizat dari Allah. Ya Allah engkau memenangkan agamamu di depan sekolah nashara.

Kini apapun yang terjadi. Berikanlah yang terbaik untuk agamamu dan sekolahmu. Perebutan Juara 1 Bina Amal melawan Tri Tunggal.Jumat,17 November 2017, pukul 14.45 di GOR Sahabat dalam ajang basket paling bergengsi di kota Semarang WALIKOTACUP

By: Ustadzah Nisa



Semua orang tua sewaktu-waktu bisa marah kepada anak-anaknya. Dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada saja hal-hal yang membuat kita stres: terlambat datang ke suatu acara, lupa membawa sesuatu yang penting, masalah kesehatan dan keuangan, dan masih banyak lagi. 

Di tengah-tengah kondisi yang memusingkan itu, muncul anak kita, yang mengeluh kehilangan sepatunya, atau tiba-tiba baru teringat harus membeli buku untuk tugas hari itu juga, atau si Kakak iseng mengganggu si Adik, atau memang ia dengan sengaja membuat masalah. 

Dan kita pun meledak. Bila kita sedang dalam kondisi tenang, tentunya kita bisa mengatasi semua masalah dengan anak-anak tadi dengan lebih baik. Tapi karena kita sedang dalam kondisi stres, kita seringkali merasa berhak untuk melampiaskan kemarahan pada anak. Kenapa sih anak ini susah sekali dinasehati dan tidak tahu terima kasih?! 

Walaupun perilaku anak kita rasakan sangat menyebalkan, sebenarnya bukan itu yang menyebabkan kemarahan kita. Kita melihat anak berperilaku tertentu (Aduh, ia memukul adiknya lagi!), lalu kita menyimpulkan (Nanti ia akan tumbuh menjadi seorang psikopat!), dan kesimpulan itu akan membawa kita ke kesimpulan berikutnya (Aku telah gagal menjadi orangtua!). Pemikiran semacam ini memicu munculnya serangkaian emosi seperti rasa takut dan rasa bersalah. 

Kita tidak sanggup menghadapi perasaan-perasaan ini dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah melampiaskan kemarahan kepada anak kita. Seluruh proses psikologis tersebut memakan waktu hanya sekitar dua detik. Mungkin saja anak kita memang membuat kesal dan menguji kesabaran kita, tapi bukan dia penyebab munculnya respon kemarahan kita. 

Cara kita mengatasi masalah berasal dari apa yang sudah kita pelajari dalam kehidupan kita. Ketika kita masih kanak-kanak, orangtua kita mungkin saja bersikap sama ketika kita melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat mereka marah. Tanpa disadari, kita sudah mengalami ‘luka’ psikologis akibat kesalahan pola asuh di masa kanak-kanak, dan sekarang anak-anak kita juga akan mengalami ‘luka’ tersebut.

MENGAPA Kita Bisa Marah pada Anak?

Orangtua dan anak memiliki hubungan yang unik di mana keduanya bisa saling memicu kemarahan bahkan untuk hal yang sangat sepele. Tak jarang kita sebagai orang dewasa suka bertindak irasional kalau sudah menghadapi anak. Dan bahkan membuat kita berperilaku kekanakan. Begitu pula halnya dengan anak kita. 

Mereka sering berperilaku menyebalkan dan seolah menguji kesabaran kita karena ya mereka memang anak kita. Psikolog menyebut fenomena inidengan istilah “ghosts in the nursery,” yaitu anak membangkitkan perasaan kemarahan yang terpendam dari masa kanak-kanak kita, dan membuat kita secara tidak sadar berespon sedemikian rupa untuk ‘melawan’ kemarahan itu. 

Rasa takut dan marah dari masa kanak-kanak ini sedemikian kuatnya sehingga merupakan suatu tantangan tersendiri untuk melupakannya. Dengan memahami semua ini, akan membantu kita mengatasi dan mengendalikan kemarahan kita. Dengan memahami bahwa kemarahan orangtua bisa ‘melukai’ anak secara psikologis, kita jadi lebih bisa mengendalikan diri.


Apa yang Terjadi pada Anak Saat Kita Berteriak atau Memukul


Bayangkan suami atau istri Anda marah dan berteriak pada Anda. Lalu bayangkan ia berukuran tubuh tiga kali lebih besar daripada Anda. Bayangkan Anda bergantung sepenuhnya pada orang tersebut untuk memperoleh makanan, tempat tinggal, rasa aman, dan perlindungan. Bayangkan ia adalah sumber utama bagi Anda untuk mendapatkan kasih sayang, percaya diri, dan informasi tentang dunia, di mana Anda tidak punya tempat lain untuk bertanya. 

Setelah membayangkan semua itu, kalikan semua perasaan yang muncul dalam diri Anda dengan 1000. Seperti itulah kira-kira yang terjadi di dalam diri anak Anda ketika Anda marah padanya. Tentu saja, kita semua pasti pernah marah pada anak, bahkan terkadang marah besar. Yang menjadi masalah di sini adalah, bagaimana menggunakan kedewasaan kita untuk mengendalikan ekspresi kemarahan kita dan memperkecil dampak negatifnya. 

Kemarahan itu bisa menjadi sangat menakutkan. Kekerasan verbal yang terjadi saat kita berbicara keras atau membentak anak akan berdampak negatif pada kepribadian anak, terutama karena anak sangat bergantung pada orangtuanya dalam hal pembentukan konsep dirinya. Anak yang mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, terbukti menunjukkan perilaku negatif di kemudian hari sebagai dampak dari kekerasan fisik yang pernah dialaminya dulu. 

Bila anak Anda tidak terlihat takut pada kemarahan Anda, itu merupakan indikasi bahwa ia sudah terlalu sering melihatnya dan sudah membangun usaha pertahanan diri untuk melawannya — dengan cara melawan Anda. Hasilnya adalah anak akan semakin tidak berminat untuk berperilaku positif yang bisa menyenangkan hati Anda, dan akan membuka dirinya ke luar sehingga lebih mudah terpengaruh oleh teman-temannya dan juga dunia luar. Artinya, Anda memiliki tugas yang lebih berat untuk memperbaiki ‘kerusakan’ ini. 

Ditunjukkan atau tidak — dan semakin sering kita marah padanya, ia akan semakin defensif dan semakin enggan menunjukkan perasaannya — kemarahan kita merupakan hal yang menakutkan bagi anak kita.

Bagaimana Anda Bisa Mengendalikan Kemarahan Anda?

Sebagai seorang manusia, dalam mengatasi suatu masalah terkadang kita berada dalam kondisi “fight or flight (bertempur atau melarikan diri), dan anak kita yang menyebalkan itu akan terlihat sebagai musuh yang harus kita hadapi. Di saat kita diliputi kemarahan, secara fisik tubuh kita siap untuk berkelahi. 

Hormon dan neurotransmitter membanjiri tubuh kita. Otot menegang, detak jantung meningkat, napas terengah-engah. Sulit untuk tetap tenang bila berada dalam kondisi ini, namun kita semua tahu bahwa memarahi anak — walaupun akan membuat lega dan emosi terlampiaskan — bukanlah sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Jadi mulai sekarang, buatlah komitmen untuk Tidak memukul, Tidak menyumpah, Tidak memanggil anak dengan sebutan kasar, atau Tidak memberikan hukuman apa pun di saat kita sedang marah. 

Bagaimana dengan berteriak? Jangan pernah melakukannya pada anak Anda, itu artinya Anda sedang tantrum. Bila Anda memang butuh untuk berteriak, pergilah ke mobil, tutup semua jendela, dan berteriaklah di mana tidak ada orang yang bisa mendengarnya, dan jangan berteriak menggunakan kata-kata, karena akan membuat Anda menjadi lebih marah. Anak Anda juga bisa merasa marah. 

Kemarahan Anda tidak hanya akan menyakitinya tapi juga akan dicontoh olehnya. Anak Anda akan sering melihat Anda marah, dan cara Anda mengatasi situasi itu akan dilihat dan ditiru oleh anak. Apakah Anda akan memberikan contoh yang benar? 

Bahwa orangtua juga bisa mengalami tantrum? Marah meledak-ledak? Atau bahwa marah itu adalah hal yang manusiawi, dan belajar mengendalikan kemarahan adakah bagian dari proses kedewasaan? Mari kita simak bersama.


1. Tentukan batasan/aturan SEBELUM Anda marah.
Seringkali, ketika kita marah pada anak, disebabkan karena kita belum menentukan batasan/aturan di keluarga. Pada saat Anda mulai merasa marah, itu adalah sinyal untuk melakukan sesuatu. Tidak, bukan berteriak. Lakukan sesuatu yang positif untuk mencegah munculnya perilaku anak yang membuat Anda kesal. 

Bila sumber kekesalan itu berada pada diri Anda — misalnya Anda baru saja pulang kantor dan masih sangat lelah — cobalah untuk menjelaskan kondisi ini pada anak Anda dan memintanya untuk jangan bertingkah, setidaknya untuk sementara waktu. Bila anak Anda melakukan sesuatu yang lama-lama semakin membuat Anda kesal — misalnya memainkan sesuatu yang berbahaya, menolak ketika Anda memintanya melakukan sesuatu, mengoceh saat Anda tengah menerima telepon penting — sebaiknya Anda menghentikan dulu kegiatan Anda, jelaskan lagi pada anak bagaimana peraturan yang berlaku di keluarga Anda atau arahkan anak Anda, supaya situasi tidak semakin memburuk dan Anda tidak semakin marah.

2. Buatlah daftar cara yang baik untuk mengatasi rasa marah.

Bila Anda merasa sangat marah, Anda memerlukan suatu cara untuk menenangkan diri. Banyak orang bisa menenangkan diri dengan cara: berhenti, tarik napas, ingatkan diri Anda bahwa ini bukanlah kondisi yang gawat. Lepaskan ketegangan dengan menggoyang-goyangkan tangan Anda. Tarik napas dalam-dalam sebanyak sepuluh kali. Bila Anda perlu bersuara saat melakukannya, tarik napas dan hembuskan sambil berkata, “hum”. 

Cari cara yang bisa membuat Anda tertawa, yang akan menghilangkan ketegangan dan mengubah mood Anda. Bahkan memaksa diri Anda untuk tersenyum akan mengirimkan pesan ke sistem saraf Anda bahwa yang sedang Anda hadapi bukanlah hal yang gawat dan itu akan menenangkan Anda. Bila Anda merasa perlu melampiaskan kemarahan secara fisik, pasanglah musik dan mulai berjoget. Anda juga bisa meninju bantal, namun sebaiknya dilakukan di dalam kamar atau tempat yang tersembunyi, karena bisa membuat anak Anda takut. Ia tahu bahwa bantal itu benda tempat meletakkan kepalanya saat tidur, dan bayangan ayah atau ibunya memukuli bantal membabi buta akan terekam di ingatannya.

3. Ambil waktu Lima Menit.

Pahami bahwa menasehati Anak dalam kondisi marah bukanlah hal yang bagus. Lebih baik Anda menyendiri dulu sesaat dan kembali ketika Anda sudah lebih tenang. Menjauhlah dari anak supaya Anda tidak tergoda untuk melakukan kekerasan padanya. Cukup katakan setenang mungkin, “Mama terlalu marah saat ini dan belum bisa bicara. 

Mama akan ke kamar sebentar dan menenangkan diri.” Menghindari anak bukan berarti membiarkan ia menang. Justru akan membuat ia berpikir betapa serius masalah ini dan memberikan contoh pengendalian diri padanya. Gunakan waktu tersebut untuk menenangkan diri, bukan membangun kemarahan untuk menunjukkan bahwa Anda benar. Jika anak Anda sudah cukup besar untuk ditinggal beberapa saat, Anda bisa pergi ke kamar mandi, mencuci muka, dan tariklah napas. 

Tapi bila anak Anda masih kecil dan akan merasa ditinggalkan, Anda cukup pergi ke dapur. Kemudian duduklah di sofa dekatnya sekama beberapa menit, tarik napas dalam-dalam dan perlahan ucapkan kata-kata yang bisa menenangkan Anda berulang-ulang, misalnya “Ini bukanlah hal yang gawat… Anak-anak justru membutuhkan kasih sayang kita pada saat ia bertingkah menyebalkan… Ia hanya bertingkah karena membutuhkan perhatianku… Semua ini akan segera berakhir.” Dengan bertindak demikian, anak akan melihat bagaimana cara kita mengatasi dan mengatur emosi kita.

4. Dengarkan kemarahan Anda, bukan melampiaskannya.


Perasaan marah, sama seperti perasaan lainnya, merupakan pemberian Tuhan sebagaimana halnya kedua tangan dan kaki kita. Kita bertanggung jawab atas bagaimana kita menggunakan pemberian Tuhan itu, apakah untuk hal positif atau yang negatif. Rasa marah sebenarnya seringkali memiliki hikmah yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita di kemudian hari, namun bertindak gegabah di saat kita sedang marah, kecuali apabila memang kita harus melawan untuk mempertahankan diri, umumnya bersifat destruktif karena kita membuat suatu keputusan dalam kondisi yang tidak rasional. 

Cara yang baik untuk mengatasi rasa marah adalah dengan membatasi ekspresi kemarahan kita, dan di saat kita sudah lebih tenang pikirkan hal-hal seperti: apa yang salah dengan kehidupan kita sehingga kita bisa merasa begitu marah, dan apa yang perlu dilakukan untuk mengubah kondisi tersebut? Kadangkala jawaban dari pertanyaan tersebut berhubungan erat dengan cara kita mengasuh anak: kita harus menetapkan aturan sebelum terjadi hal-hal yang di luar kendali, atau mulai membiasakan anak-anak tidur sejam lebih awal, atau memperbaiki hubungan dengan anak kita yang berumur 12 tahun supaya ia berhenti bersikap kasar pada kita. 

Atau bisa juga ternyata sumber kemarahan berasal rasa kesal terhadap pasangan kita yang tidak bisa diandalkan sebagai mitra dalam mendidik anak, atau terhadap bos di kantor. Atau bisa jadi kita tidak memahami apa sebenarnya penyebab kemarahan kita, dan kita perlu mencari bantuan untuk mengatasinya melalui tenaga profesional atau komunitas support group.

5.Ingat bahwa “melampiaskan” kemarahan Anda pada orang lain justru akan membuat Anda semakin marah.

Walaupun konon kita perlu “melampiaskan” kemarahan dan jangan dipendam agar kesehatan jiwa kita tidak terganggu, sebenarnya tidak ada hal positif atau hal bermanfaat dari melampiaskan kemarahan pada orang lain. Studi penelitian menunjukkan bahwa mengekspresikan rasa marah di saat kita sedang emosi justru akan membuat kita semakin marah. 

Akibatnya, orang lain akan merasa sakit hati, ketakutan, atau marah, dan menyebabkan hubungan kita dan dia menjadi rusak. Jadi keluarkan kemarahan Anda jika memang dibutuhkan, tapi segera tenangkan diri Anda dan pikirkan apa “pesan” dari kemarahan Anda sebelum Anda mulai berbicara dengan orang tersebut. 

Kita sering berpikir bahwa bila kita mengekspresikan kemarahan pada orang lain membuktikan bahwa kita benar dan orang itu salah, dan hal ini biasanya malah akan membuat kemarahan kita memuncak. Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mencari tahu dengan cara yang konstruktif, apa yang sebenarnya membuat kita marah sehingga masalah tersebut bisa diselesaikan, dan kemarahan kita pun mereda.

6.TUNGGU DULU sebelum memberikan hukuman.

Anda cukup mengatakan hal seperti, “Kenapa kamu masih memukul adikmu? Padahal kan kita sudah pernah membicarakan bahwa memukul itu dilarang. Ibu perlu waktu untuk berpikir mengenai masalah ini, dan kita akan bicara lagi nanti sore. Sementara itu, kamu harus menunjukkan sikap yang baik di rumah ini.” Setelah Anda menyendiri selama sekitar 10 menit dan ternyata masih belum cukup tenang untuk bisa berbicara baik-baik, Anda bisa mengatakan, “Ibu mau berpikir dulu tentang apa yang baru saja terjadi, dan kita bicarakan lagi nanti. 

Sekarang Ibu harus menyiapkan makan malam dan kamu juga harus mengerjakan PR,” Selesai makan malam, duduklah di samping anak Anda dan mulailah berbicara baik-baiik dengannya. Anda akan lebih bisa mendengar apa alasan anak Anda bertingkah demikian, dan bisa lebih berespon secara positif dan terkendali terhadap tingkah lakunya.

7. Hindari kekerasan fisik, dalam bentuk apa pun.


Delapan puluh lima persen orang dewasa mengakui bahwa mereka pernah ditampar atau dipukul oleh orangtuanya (Journal of Psychopathology, 2007). Berbagai penelitian pun telah membuktikan bahwa memukul memberikan dampak negatif pada perkembangan anak sampai ia dewasa nanti. American Academy of Pediatrics sangat menentang pemukulan pada anak. Saya pribadi juga berpikir apakah semakin meningkatnya gangguan kecemasan dan depresi pada orang dewasa saat ini juga sedikit banyak disebabkan oleh banyaknya anak yang menerima kekerasan fisik dari orangtuanya. Banyak orangtua berusaha menyimpan pengalaman kekerasan fisik yang dialaminya, karena ‘luka’ emosional yang dirasakan begitu dalam. Namun memendam perasaan sakit tersebut justru akan membuat kita lebih mudah memukul anak-anak kita. 

Memukul akan membuat Anda merasa lebih baik sesaat, karena kemarahan Anda terlampiaskan, namun dampaknya akan sangat buruk bagi anak, dan langsung ‘menghilangkan’ semua hal positif yang sudah Anda lakukan sebagai orangtua. Memukul, dan bahkan menampar, dapat meningkatkan kemarahan menjadi kekerasan yang seringkali bisa fatal akibatnya. Lakukan apa pun yang Anda mampu untuk mengendalikan diri, termasuk meninggalkan ruangan tempat Anda marah. Bila Anda tidak dapat mengendalikan diri dan akhirnya memukul, mintalah maaf pada anak Anda, katakan padanya bahwa memukul itu salah dan tidak dapat dibenarkan, dan segeralah Anda mencari bantuan.

8. Hindari memberikan ancaman.

Ancaman yang dibuat pada saat Anda marah, biasanya aneh dan tidak masuk akal. Ancaman hanya akan efektif bila Anda memang akan melakukannya. Bila tidak, otoritas Anda sebagai orangtua tidak akan dianggap oleh anak dan mereka cenderung tidak akan mempedulikannya di masa mendatang. Akan lebih baik bila Anda mengatakan pada anak bahwa Anda perlu waktu untuk memikirkan hukuman apa yang pantas diberikan atas kesalahan / pelanggaran peraturan yang sudah ia lakukan. Anak akan lebih merasa takut dan tegang mendengarnya daripada hanya mendengarkan ancaman kosong yang ia tahu pasti tidak akan benar-benar Anda lakukan.

9. Kendalikan nada bicara dan pilihan kata Anda.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin tenang kita berbicara, semakin tenang juga perasaan kita, dan orang lain akan meresponnya dengan tenang pula. Sebaliknya, bola kita banyak menggunakan kata-kata kasar, akan membuat kita dan juga orang yang mendengarkan merasa semakin kesal, dan situasi pun akan ikut memanas. Kita memiliki kekuatan untuk menenangkan atau semakin membuat marah baik untuk diri kita maupun lawan bicara kita dengan mengendalikan nada bicara dan juga pemilihan kata yang digunakan. (Ingat, sebagai orangtua Anda adalah panutan bagi anak.)

10. Anggap saja Anda adalah bagian dari masalah yang muncul.

Bila Anda membuka diri untuk selalu memperbaiki kondisi emosional Anda, anak Anda akan selalu dapat menunjukkan di bagian mana dalam diri Anda yang perlu diperbaiki. Bila Anda enggan untuk memperbaiki diri, maka akan sulit untuk menjadi orangtua yang layak dicontoh oleh anak. Dalam setiap interaksi dengan anak, kita memiliki kekuatan untuk menenangkan atau membuat panas situasi. Anak Anda mungkin akan bertingkah memancing kemarahan, namun Anda bisa melakukan sesuatu terhadap hal tersebut. 

Bersikaplah sebagai orangtua yang bertanggung jawab dengan berusaha mengatur kondisi emosi Anda terlebih dulu. Anak Anda tentunya tidak akan langsung berubah sikapnya dalam waktu sekejap, namun perilakunya akan berubah drastis segera setelah Anda berhasil belajar untuk tetap tenang dalam situasi apa pun.

11. Masih marah?

Cari tahu apa sebenarnya perasaan yang ada di balik semua kemarahan itu. Jangan terlalu terikat dengan kemarahan Anda. Ketika Anda sudah berhasil menemukan apa yang sebenarnya melatarbelakangi kemarahan Anda dan membuat perubahan/perbaikan terhadap kondisi tersebut, lupakan semuanya. Ikhlaskan yang sudah terjadi. Bila terasa sulit, ingatlah bahwa rasa marah sebenarnya adalah upaya kita untuk melindungi diri. Rasa marah membentengi diri kita dari dari perasaan rapuh. 

Untuk menyingkirkan rasa marah, cari rasa ‘sakit’ atau ‘takut’ yang ada di balik kemarahan tersebut. Bisa jadi penyebab sebenarnya adalah putri Anda yang menjadi terlalu sering bermain dengan teman-temannya, sehingga ia menjauh dari keluarga dan hal ini membuat Anda merasa sedih dan sakit hati. Atau mungkin penyebab Anda marah adalah kondisi tantrum putra Anda yang sebenarnya membuat Anda takut. Belajarlah mengatasi perasaan-perasaan dan situasi tersebut. Setelah Anda bisa mengatasi perasaan yang sebenarnya Anda rasakan, kemarahan Anda pun akan hilang.

12. Pilih apa yang sebenarnya penting.

Setiap interaksi negatif dengan anak Anda dapat dapat mengubah pemahaman anak tentang bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain. Fokus pada apa yang lebih penting: Anda bisa melampiaskan kemarahan atau bagaimana anak Anda memperlakukan orang lain di masa mendatang. Lebih penting yang mana? Misalnya, Anda marah karena anak meletakkan barangnya berserakan di lantai, lalu Anda memukulnya. Anak akan belajar bahwa memukul itu hal yang dibolehkan bila seseorang melakukan kesalahan. Setelah dewasa nanti, ia akan menjadi orang yang juga mudah memukul. Apakah ini yang Anda inginkan?

13. Carilah cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak dan mendorong munculnya perbaikan perilaku.

Ada banyak cara yang lebih efektif untuk mendisiplinkan anak ketimbang hanya dengan marah-marah saja, dan sebenarnya, memarahi anak justru akan memunculkan perilaku lain yang salah. Banyak orangtua yang bingung, bagaimana mungkin ada keluarga yang anak-anaknya berperilaku baik, walaupun orangtua tidak pernah menggunakan kekerasan baik fisik maupun verbal. Pada kenyataannya, dari hasil observasi yang saya lakukan (walaupun penilitian ini masih belum bisa dikatakan valid karena jumlah respondennya terlalu sedikit) dalam keluarga di mana orangtua tidak pernah membentak anaknya dan menerapkan saling empati satu sama lain, justru menghasilkan anak-anak yang penuh tanggung jawab pada usia yang masih sangat muda dan secara emosional mudah ‘diatur’. Kita semua tahu bahwa hukuman pada dasarnya memang bersifat negatif.

14. Bila Anda harus terus-menerus berusaha untuk menahan marah, mungkin Anda membutuhkan bantuan konseling.


Tidak ada salahnya dan tidak perlu malu untuk mencari bantuan. Justru Anda malah harus merasa malu bila Anda melupakan tanggung jawab sebagai orangtua dengan ‘merusak’ anak secara fisik maupun psikologis.


Penulis: Dr. Laura Markham, psikolog klinis dari Columbia University


Anak-anak perlu di didik untuk menjaga lingkungan. Salah satunya dengan membuat mereka mau membuang sampah pada tempatnya. Nah apakah masih suka menjumpai anak-anak masih sulit membuang sampah pada tempatnya? Jangan risau, simak tips berikut ini :

1. Jadilah Contoh
Anak-anak mungkin bisa salah mengerti. Tapi mereka tidak pernah salah mengcopy. Anak-anak adalah peniru ulung. Ummi, selalu tunujukkan contoh untuk membuang sampah pada tempatnya. Dengan begitu mereka akan mencontohnya. Mereka akan membuang sampah pada tempatnya.

2. Beri Tau Manfaatnya
Ceritakan pada anak, tentang manfaat membuang sampah pada tempatnya. Bila mereka tahu manfaatnya, mereka akan mau melakukannya.
3. Jelaskan Akibatnya
Ceritakan juga pada anak, apa saja akibat bila kita membuang sampah tidak pada tempatnya. Ummi boleh membacakan buku atau memberikan video tentang akibat membuang sampah pada tempatnya. Dengan begitu, mereka akan merasa bersalah bila tidak membuang sampah pada tempatnya.
4. Latih Terus
Latih anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Berikan anak tempat sampah lucu. Agar mereka suka membuang sampah pada tempatnya.
5. Belajar Sampah
Ajari anak tentang jenis-jenis sampah. Bila anak sudah bisa membuang sampah pada tempatnya. Ajari mereka untuk membuang sampah sesuai jenisnya. Bahwa sampah terdiri dari sampah basah dan sampah kering.

Nah , mudah bukan. Yuk tetap semangat mengajari anak untuk membuang sampah pada tempatnya.



SMPIT Bina Amal mengikuti Kemah Ukhuwah Daerah (Kemda) 1 Satusan Komunitas Pramuka SIT Sekaresidenan Semarang selama 2 hari, 10-12 November 2017. Bina amal mendelegasikan 1 regu putra dan 1 regu putri.

Berbagai lomba direbutkan oleh berbagai sekolah, dari lomba Cerdas Cermat Agama Islam, panahan, PBB, lomba memasak dan lainnya. Doa dan kerja keras peserta didik dari Bina Amal membuahkan hasil yang tidak mengecewakan.

Dan hasilnya yaitu cabang panahan, juara 3 putra dan putri. CCAI, juara 2 putra dan juara 3 putri. Orasi, juara 2 putra. Paradise, juara 2 putra. Pionering, juara 2 putra dan juara 1 putri. TTG, juara 3 putra dan putri. Tahfidz, juara 2 putra dan juara 3 putri. PBB, juara 2 putra dan juara 3 putri. Dan terakhir memasak, juara 3 putri.

Dari hasil tersebut, regu putra meraih juara umum 2 dan regu putri meraih juara 3 putri.
"Alhamdulillah, apapun hasilnya kami bangga atas perjuangan anak-anak, semoga tim  Bina Amal bisa menjadi lebih baik ke depannya", ungkap Rondiyah, pembina pramuka Bina Amal.


#YukSekolahDiBinaAmal
#PPDBOnline (20 Nov 2017-28 Jan 2018)
#DHumas



Jumat-Ahad, 10-12 November 2017 SDIT Bina Amal mendelegasikan 10 siswa putra dan 10 putri ikut KEMDA 1 Se-Karesidenan Semarang di Bumper Griya Pawening Jati Mijen, Kota Semarang. Alhamdulillah SDIT Bina Amal berhasil menjadi Juara Umum ke 3 Putra dan Putri serta dapat membawa 9 piala.

Ketua Kontingen, Kak Adzki menuturkan, "Alhamdulillah ala kulihal.. Alloh memudahkan langkah kita dan mengijinkan kita menjadi Juara Umum Putra dan Putri sekaligus. Ini semua berkat kerja keras seluruh tim squad bina amal, wabil khusus dukungan para orang tua yg luar biasa".

Kegiatan ini diikuti SD IT maupun SMP IT se-Karesidenan Semarang. SDIT Bina Amal mendapatkan 9 piala diantaranya, juara umum 3 putra dan putri, juara 3 Hastakarya putra dan putri, juara 2 Paradise Tent Putra dan Putri, Juara 2 PBB Putra, Juara 2 Kitchen Band Putri dan Juara 3 Kitchen Band Putra.

Para siswa Sekolah Islam Terpadu se-Karesidenan Semarang bertemu dalam ukhuwah dan simulasi peperangan penakhlukan konstatinopel oleh Muhammad Al Fatih. Seluruh siswa dan pendamping bekerja sama dalam kelompok masing2 dengan gigih dan semangat melaksanakan simulasi ini. Pakaian bercampur lumpur dan kotoran tak menghalangi kebahagian dan perjuangan mereka. Dan pada akhirnya pasukan Muhammad Al Fatih lah yang memenangkan peperangan ini.

"Pramuka SIT Tidak hanya identik dengan piala2 aja. Tetapi lebih dari itu, persaudaraan dan nuansa keislaman terjaga dengan baik. Kegiatan Simulasi Pembebasan Benteng Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih ini menjadi pionir untuk sekolah dan wilayah lain," ungkap Kak Zulfa sebagai Ketua Pinsakocab Kota Semarang.

#YukSekolahDiBinaAmal
#PPDBOnline (20 Nov 2017-28 Jan 2018)
#DHumas


Saat anak disebut sebagai cobaan hidup dalam Al Quran (Al Anfal: 28 dan At Taghabun: 15), maka para orangtua harus berhati-hati. Layaknya sebuah cobaan, seringkali menjerumuskan jika tidak lulus dari ujian tersebut. Potensi keburukan yang disebabkan oleh ujian tersebut harus diketahui sehingga bisa dijaga sedini mungkin oleh para orangtua, agar lulus dengan sempurna dari ujian anak.

Keasyikan orangtua menikmati keindahan anak. Kesibukan orangtua mengurus anak. Waktu dan kemampuan yang tersita untuk memakmurkan anak dan sebagainya menjadi masalah yang berakhir buruk bagi kehidupan orangtua jika tidak mengerti.

Ada 5 potensi keburukan dari keberadaan anak bagi orangtua yang tidak lulus dalam mendidik mereka menjadi anak yang baik dan menyejukkan mata. Berikut ini ke 5 potensi buruk itu:

1. Menjauhkan dari dzikir kepada Allah


Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Qs Al Munafiqun: 9)

Dzikir adalah kewajiban seorang hidup di dunia. Mengingat Allah dalam keadaan apapun. Sedang dalam aktifitas apapun. Dan dengan berbagai cara; lisan, hati dan bukti perbuatan yang sesuai dengan keridhoan Nya.

Dzikir adalah bukti orangtua telah menjadi seorang hamba Allah yang baik.
Anak berpotensi menjadi penjauh dan penghalang orangtua dari dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga para orangtua harus menyeimbangkan dirinya antara menjaga amanah anak tersebut dengan kepentingan dirinya untuk menjadi hamba Allah yang baik.

2. Menyebabkan munculnya sifat pelit
Rasululloh bersabda:

إن الولد مبخلة مجبنة مجهلة محزنة

“Sesungguhnya anak menjadi penyebab sifat pelit, pengecut, bodoh dan sedih.” (HR. Hakim dan Thabrani, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ hadits no. 1990)

Pelit pada akhirnya berhubungan dengan harta. Orangtua yang merasa terbebani dengan amanah anak yang memerlukan biaya besar dalam mendidik mereka, berubah menjadi orangtua yang pelit. Padahal pada harta kita tidak hanya ada hak anak. Tetapi ada banyak orang lain yang berhak terhadap harta kita.

Ini artinya, para orangtua harus tetap menjaga sifat dermawan walaupun tugas membesarkan anak-anak memerlukan biaya yang tidak kecil

3. Penyebab munculnya sifat pengecut

Dalam hadits tersebut di atas, Rasululloh menyebutkan bahwa anak bisa menyebabkan tumbuhnya sifat pengecut dalam hati orangtua.

Kecintaan orangtua terhadap anak. Rasa takut kehilangan mereka. Tidak mau berpisah jauh dari mereka. Semua ini bisa membuat orangtua mendadak menjadi seorang pengecut dalam menghadapi kehidupan ini. Rasa takut begitu dominan. Takut mati tiba-tiba hadir. Tidak berani bertindak tegas dalam hidupnya dengan alasan keberadaan anak-anak.

Maka, para orangtua harus tetap memiliki sifat berani dalam mengarungi dan memutuskan langkah dalam hidup ini. Ada saat harus bahagia bersama mereka. Ada saat harus berpisah jauh dari mereka. Ada saat mereka bisa dipenuhi kebutuhannya. Ada saat keputusan harus diambil dalam hidup orangtua walau berisiko kehidupan anak-anak harus lebih prihatin.

Bersandar kepada Allah yang Maha Pemberi dan keyakinan bahwa apa saja yang dititipkan kepada Allah tak akan pernah rusak dan hilang, akan membuat orangtua tidak kehilangan keberaniannya dalam mengarungi tugas hidup di dunia.

4. Penyebab kebodohan

Hadits Nabi di atas menyebutkan bahwa anak juga bisa menyebabkan kebodohan bagi orangtuanya. Kebodohan berhubungan dengan ilmu.

Orangtua yang terlalu sibuk mengurusi anaknya, memperhatikan mereka, sering menjadikan anak sebagai alasan dari ketidakberilmuan dirinya. Kesempatan belajar memang jadi berkurang. Minat belajar juga mulai pupus, seiring kelelahan fisik yang mendera karena kesibukan bersama anak-anak dan untuk mereka.

Tetapi kebodohan tidak boleh terjadi pada kehidupan orangtua. Apalagi ilmu adalah modal untuk mendidik mereka. Bagaimana diharapkan keberhasilan pendidikan anak, jika orangtuanya menghapus ilmu baik mereka dengan tindakan dan lisan orangtua tanpa disadari. Semuanya berawal dari kosongnya kepala orangtua dari ilmu.

Sehingga, anak tidak boleh menjadi alasan orangtua hilang kesempatan menuntut ilmu. Orangtua harus tetap mempunyai waktu dan tenaga untuk belajar dan terus belajar.

5. Penyebab kesedihan

Di akhir hadits disebutkan bahwa anak bisa menyebabkan kesedihan bagi orangtua. Banyak faktornya. Anak sakit umpamanya, bisa jadi hanya sakit panas biasa. Tetapi orangtua bisa sangat panik karenanya. Kepanikan itu menyebabkan terhentinya banyak kebaikan. Atau kesedihan yang disebabkan oleh ulah anak di rumah atau di luar rumah.

Kesedihan sering bermunculan disebabkan oleh anak. Maka ini peringatan dari Nabi, agar para orangtua menjaga kestabilan jiwanya. Kesedihan adalah hal yang manusiawi. Tetapi kesedihan tidak boleh terus menerus meliputi seluruh kehidupan kita bersama anak-anak. Juga, kesedihan tidak boleh menghentikan potensi kebaikan dan amal shaleh para orangtua.

Ya jadikanlah anak-anak kami kebaikan bagi kami.
Aamiin...



Meski Di Iringi gerimis di malam hari, Kegiatan Mabit Perdana Kelas 4 berjalan dengan baik. Tangisan haru mengalir di hangatnya malam kala.itu. Bersama pak Ahmad, mereka mencurahkan seluruh isi hatinya, memohon kepada Allah akan kelancaran belajarnya, kesehatan keluarganya, terutama ibu dan ayahnya.

.Jum'at, 3 November 2017/21 Shafar 1439 H, Rangkaian kegiatanpun dimulai. Sholat ashar berjamaah, disambung dengan al ma'tsurot sore menjadi awalannya. Keakraban dengan teman, serta guru dibalut games yang seru dan menantang.

.Tanggung Jawab menjadi tema utama mabit perdana ini, bagaimana bisa bertanggung jawab akan diri sendiri, pekerjaannya sendiri maupun tugasnya sendiri. Semoga kelas dapat berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan keluarga.

.Makan bersama, sholat berjamaah, tilawah bersama menjadi agenda yang harus diikuti. Mencoba berbisik pada tanah namun didengar oleh penduduk langit. Di sepertiga malam akhir, Allah bangunkan untuk melaksanakan Sholat Tahajjud yang dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah.

.Hingga esok harinya kegiatan mabit ditutup dengan pemberian hadiah kepada para peserta mabit yang berprestasi. "Mabitnya Asik" kata Raffadzaki salah satu peserta yang berprestasi dengan total tilawah 3.5 Juz.

.Allah, turunkan kebaikan kepada anak-anak-anak kami. Mudahkan mereka dalam belajar. Jadikan mereka generasi penerus yang tidak latah akan kemajuan dunia. Yang punya pendirian pribadi muslim, dan bangga akan agamanya. ( #THF )



Alumni adalah para siswa yang telah lulus dari SDIT Bina Amal yang manjadi aset bangsa. SDIT Bina Amal berkomitmen ingin menjaga "aset" tersebut agar terus istiqomah dalam ibadah dan pergaulan yang baik.

Sabtu, 4 November 2017 kemarin menjadi hari berkumpulnya para alumnus angkatan X yang melakukan cap 3 jari ijazah. Setelah cap 3 jari, di siang harinya mereka berjumpa dalam kesempatan yang diiringi keberkahan hujan di aula SDIT Bina Amal untuk mendengarkan taujih dan motivasi.

"Siapa yang ingin jadi penghafal al quran? Kalau anak yang mondok dan boarding school itu menjadi keharusan untuk istiqomah beribadah dan menghafal quran, namun kalau kalian yang berada di sekolah negeri yang telah berupaya menghafal quran itu luarrrr biasa. Ingin tidak, masuk surga bersama orang-orang yang kalian sayangi?", tutur Ustdaz Joko Winarso yang berkesempatan memberikan motivasi.

Ustadz Naev yang menjadi MC kala itu juga menuturkan, "Yang ingin dijaga hafalannya dan terus ingin diingatkan ibadah dan pergaulannya, ayo datang lah ke sekolah dan datanglah reuni setiap pekan. Ustadz ustadzah siap membantu kalian yang saat ini sekolah di negeri."

Ayah bunda..Tentunya bangga punya anak yang sopan. Dan setiap orang tua pasti menginginkan putra-putrinya mempunyai akhlak yang terpuji. Tapi, sudahkah kita mengajari mereka sopan santun ? Sudah benarkah cara kita ? Atau kita ingin punya anak sopan tetapi justru kebalikkannya..

Ada kisah menarik seorang ibu yang menceritakan perilaku anaknya,yang bisa menjadi contoh dalam mendidik anak kita. berikut kisahnya..

Kami sedang di sebuah toko, memilih mainan untuk hadiah ultah teman  anak saya.
Tiba-tiba ia berkata," Sebentar Mi..."
Tentu saja saya kaget dan melihat kemana ia berlari.
Anak saya hanya keluar ke halaman toko. Berdiam sebentar di bawah terik matahari. Kemudian berlari balik ke tempat saya masih terlongong.

Ia lantas berbisik di telingaku:
"Umi, aku tadi kentut dulu..."
"Ooh anak pintar, anak sopan " sambil kuacungkan jempol.
Yah sebagaimana anak biasa lainnya, Anak saya tidak selalu sopan. Kadang ada tingkahnya yang kurang berkenan di hatiku. Dan tentu saya akan menegurnya dengan cara yang sebaik mungkin menurut situasi dan kondisi.

Terkadang saya melihat ada orang tua yang kalah kuasa dari anaknya.
Seorang ibu muda pembeli di apotek, tidak berkutik ketika anaknya meminta ini itu. Mula-mula anak ini minta vitamin kunyah. Setelahnya ia minta permen yang berharga cukup mahal.
Ibunya lantas mengeluh bahwa anak ini selalu demikian. Jika tidak dituruti akan marah dan mengamuk. Kadang mogok makan.

Saat si anak menarik-narik tangan ibunya untuk pulang, sang ibu terpaksa menurutinya sekalipun urusannya belum selesai. Benar-benar kulihat ia dalam kendali anaknya.
Pada kesempatan lain saya menyarankan pada si ibu untuk ikut pengajian atau klub parenting di tempat saya. Menurut saya, apa yang terjadi pada si anak bermula dari kesalahan ibu. Hehe salah asuhan lah.

"Maaf bu saya tidak bisa. Kalau saya bawa dia, saya hanya akan sibuk bolak-balik ke warung karena ia selalu minta jajan ini itu. Apalagi jika sedang diajak pergi."
"Ibu beli jajannya saat berangkat dan sebagian dijanjikan saat pulang kalau ia berlaku manis..."
" Tidak bisa bu. Dia diajak acara PKK yang cuma sebentar saja malah rewel bikin malu karena minta ini itu apalagi pengajian yang agak lama....:
Kulihat nada putus asa pada alasannya.

Di kasus lain ada orang tua yang lebih permisif lagi. Dua anaknya heboh luar biasa. Mau di rumah, di sekolah atau sedang bertamu, sama saja.
Ada saja ulah mereka yang menyisakan kekacauan.
Kulihat pangkal masalahnya adalah sikap orang tua.

"Jangan nak."Sudah.Saat anaknya tidak patuh atau tidak mendengarkan, si ibu tidak melanjutkan.

"Maaf bu, tolong anaknya diingatkan..." kataku saat si anak sudah sangat mengganggu forum."Lha, sudah kan bu, tapi dia enggak nurut" jawab si ibu tenang.

Sebenarnya bagaimana sikap orang tua dalam mengajar sopan santun pada anak? Dan mulai kapan?

Mulai kapan adalah sejak sedini mungkin. Anak meniru dan belajar dari orang tua dan sekitarnya. Perlakukan anak dengan sopan sebagai individu. Jangan karena masih kanak-kanak maka orang tua dan lingkungan mengabaikan dan memperlakukannya seenaknya.
Bagaimana sih memperlakukan seenaknya itu?

Misal nih, ada anak giginya ompong. Lalu orang dewasa menyapanya:
"Yee siapa nih namanya yang giginya ompong...?"
Kali lain si anak melihat ada orang dewasa yang giginya ompong. Lalu ia menyapa:
"Bapak siapa namanya yang giginya ompong?"
Lantas orang akan mengatai dia sebagai anak yg tidak sopan.

Atau ibu yang menegur dan membentak anaknya di depan orang banyak. Lantas anak meniru memanggil ibunya dengan suara keras, ibunya mengatakan bahwa si anak itu tidak sopan karena membentak ibunya di depan orang banyak. Yah logikanya kalau si ibu saja tidak malu membentak anak di depan orang banyak, maka kira-kira ia mudah membentak anak di rumahnya sendiri.

Ada saja orang tua yang enggan minta maaf pada anak saat berbuat salah, tetapi selalu menuntut anak untuk minta maaf.

Intinya pertama adalah sejak dini perlakukan anak dengan sopan dan mencontohkan bersikap sopan kepada siapapun. Itulah keteladanan.

Kedua, berikan arahan. Bisa jadi anak berlaku tidak sopan karena belum tahu cara lain yang lebih sopan. Misal ia salim jabat tangan dengan tangan kiri, lalu kita kasih contoh dengan tangan kanan. Misal dia merebut mainan, kita ajari untuk meminjam dengan baik-baik. 

Jika kita akan mengajak anak ke suatu acara penting, dari awal beritahukan dan contohkan bagaimana nantinya harus bersikap. Berikan gambaran situasinya nanti dan siapa saja yang akan hadir, bagaimana ia berlaku dsb.

Ketiga, memakai sarana cerita atau analisa kasus.

Suatu ketika kami sedang di sebuah pet shop. Anak pemiliknya seusia dengan Anak saya. Ia berjingkrak-jingkrak dari satu kursi ke kursi yang lain. Ia mendominasi meja karyawan hingga mereka terganggu pekerjaannya.

Saat saya berbisik:
"Sayang, itu ada anak kecil seperti kamu..."
"Enggak, " tolak Anak saya "Dia enggak sopan. Aku kan enggak lompat-lompat di kursi....". "Oh iya benar..." kataku penuh syukur.

Walaupun pada masa kecilnya Anak saya pernah lakukan hal yang serupa. Rupanya ia sudah tidak ingat masa-masa itu. Dialog kita dengan anak saat melihat kasus itu akan membentuk kefahaman anak.

Keempat dengan reward dan punishment.
Berikan penghargaan pada anak atas setiap kesopanannya. Dan kita juga bisa mensepakati hukuman untuk ketidak sopanan. Tapi sebaiknya hukuman memang disepakati agar orang tua tidak terjebak pada hukuman yang emosional.

Kelima dengan doa.
Yakinlah doa orang tua itu "bekerja" dengan cara yang istimewa.
Telah banyak bukti keajaiban doa. Anak-anak bersama kita tapi jiwa mereka digenggam Sang Pemilik. Mohon kepada Allah untuk menjaga dan menuntun anak kita. Bisa saja suatu saat mereka baik, lalu menurun pada masa yang lain. Bermohon pada Allah agar hidayah dapat menetap di hati kita dan anak-anak kita.

Semoga lima hal diatas dapat mengantarkan kita mendidik anak-anak yang sopan.
Amiin.




Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Bina Amal bermaksud mengadakan kegiatan Kursus bahasa Inggris di Al-Fitrah English Course Jl.Flamboyan no 53 desa Tulungrejo, kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur selama 1 minggu. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Widya Wisata di Malang.

Kegiatan ini bertujuan untuk mencetak generasi generasi yang handal yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik, Insyaa Allah harapan kami , peserta didik mampu menjadi penerus Muhammad Al-Fatih selanjutnya, sekaligus sebagai pijakan awal dalam upaya mencetak generasi robbani yang mampu mencerdaskan bangsa menuju masyarakat mandiri dan mensyiarkan ke seluruh penjuru dunia.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 gelombang, gelombang 1 untuk siswa putra dan gelombang 2 untuk siswa putri. Gelombang 1 berangkat 17 Oktober 2017 jam 18.00. Belajar Bahasa Inggris di Pare 18 23 Oktober 2017, Study Tour Selasa , 24 Oktober 2017. Gelombang 2 berangkat 23 Oktober 2017 jam 18.00. Belajar Bahasa Inggris di Pare 24 29 Oktober 2017, Study tour Senin , 30 Oktober 2017

Sasaran kegiatan ini adalah siswa siswi Kelas VIII SMP IT Bina Amal dengan jumlah 98 siswa dengan rincian siswa putra 54anak, siswa putri 44 anak yang didampingi oleh 7 Guru Putra dan 3 Guru Putri. Mustakim, Humas SMP IT Bina Amal Semarang.


Alhamdulillahirabbilalamiin, SMP IT Bina Amal memperoleh prestasi berturut-turut dalam Lomba Gebyar Bahasa dan Budaya Bulan Bahasa SMA N 12 Semarang Tahun 2017, Rabu 1 November 2017

Berikut Juara yang berhasil di raih :
Juara 1 Musikalisasi Puisi
Juara II Mural Putra
Juara Harapan II Mural Putri

Juara I Lomba Musikalisasi Puisi yang diikuti oleh ananda Alizza Afra siswi Kelas IX, Zalfa Indira, Almazaya siswi Kelas IX, Naura siswi Kelas IX dan Diva Mahayu siswi Kelas VII, 

Juara II Lomba Mural Putra yang diikuti oleh ananda Mufid Faqihuddin siswa Kelas IX, Miqdad siswa Kelas IX dan Naza siswa Kelas VIII 

Serta Juara Harapan II Lomba Mural Putri yang diikuti oleh ananda Shafa Nabila siswi Kelas IX, Nurul Aini siswi Kelas IX dan Maritza siswi Kelas VII

Kegiatan lomba ini merupakan serangkaian acara dari Gebyar Bahasa dan Budaya Bulan Bahasa SMA N 12 Semarang Tahun 2017. Untuk hari Rabu 1 November 2017 diadakan Festifal Musikalisasi Antar SMP, Lomba Lukis Dinding (Mural) antar SMP, Lomba Tari Denok Antar SMP dan berbagai acara lainya.
Persiapan SMP IT Bina Amal Semarang untuk lomba Mural Putra dan Putri dilatih oleh Kak Faiz yang persiapannya dilakukan hanya dalam waktu kurang lebih satu minggu. Sedangkan Lomba Musikalisasi Puisi dilatih oleh Kak Nesya, beliau juga selaku Pengampu Ekstra Kurikuler Paduan Suara SMP IT Bina Amal Semarang.
Terima kasih kepada ananda yang telah mewakili sekolah dalam masing-masing cabang lomba dan mempersembahkan usaha terbaiknya. Terimakasih atas doa dan dukungan dari Bapak Ibu semua dan atas partisipasinya.Mustakim, Humas SMP IT Bina Amal Semarang.

Foto SD Islam Terpadu Bina Amal.

Sesuai namanya, puncak tema kali ini adalah berkunjung ke Bandara Achmad Yani pada divisi Pemadam Kebakaran Bandara pada hari Selasa, 31 Oktober 2017 dengan tujuan memberikan pengalaman yang mengesankan kepada anak-anak.

Acara dimulai dengan doa bersama, mengucapkan ikrar, menyanyikan mars anak-anak Bina Amal dan asmaul husna sebelum berangkat. Kemudian anak-anak diarahkan untuk baris tertib menuju mobil masing-masing sesuai pembagian. Anak-anak juga diminta untuk menghafal teman-teman semobilnya agar ketika pulang, masuk ke mobil yang sama sambil saling memeriksa kelengkapan teman-teman satu mobilnya. Perjalanan menggunakan 8 mobil antar jemput sekolah ditambah 2 mobil dari wali murid yang ikut berpartisipasi mengantar.

Sesampainya di bandara, sekitar pukul 08.30 WIB, anak-anak langsung diminta berbaris di depan kantor General Manager PT. Angkasa Pura dan disambut oleh para Duta Bandara Achmad Yani yang selanjutnya akan mengarahkan dan mendampingi kunjungan anak-anak ke pemadam kebakaran bandara.

Selesai pengarahan, anak-anak langsung dipandu menuju tempat pemadam kebakaran bandara yang letaknya di dekat landasan pacu pesawat terbang. Anak-anak langsung antusias walaupun cuaca sudah panas. Anak-anak mendapatkan pengarahan bagaimana pemadam kebakaran bandara bekerja. Anak-anak juga diberi kesempatan untuk menaiki salah satu mobil pemadam kebakaran secara bergiliran. Tentu saja hal ini membuat anak-anak langsung berlomba ingin masuk. Selain masuk, anak-anak juga boleh mencoba untuk naik ke atas mobil pemadam. Dengan pengawasan ketat oleh petugas saat naik dan turun tangga mobil, anak-anak dengan rapi berbaris menunggu giliran. Wajah-wajah mereka menggambarkan betapa menariknya pengalaman mereka hari ini.

Selain itu, beberapa anak arrijal juga mencoba alat latihan angkat beban yang berbentuk seperti alat fitnes di tempat kebugaran. Di antara semua pengalaman tadi, anak-anak sesekali langsung terpana ketika ada pesawat dan helikopter yang mendarat maupun yang akan terbang. Mereka bahkan mengikuti sampai ke landasan pacu sejauh pesawat bisa terlihat.

Yang paling menyenangkan, mungkin adalah pada saat anak-anak diberi kesempatan untuk mencoba menggunakan selang pemadam kebakaran. Arrijal dan annisa semuanya antri mencoba. Mereka baris kemudian maju satu-satu bergantian arrijal dan annisa. Mereka dipakaikan helm pelindung dan memegang nozel atau bagian depan selang yang mengatur keluarnya air dengan menarik dan mendorong tuasnya. Cuaca yang panas tak menyurutkan semangat anak-anak antri mendapat giliran maju mencoba selang pemadam kebakaran.

Dunia anak adalah dunia ekplorasi. Jika anak diberi ruang yang luas untuk bermain sambil belajar, mereka akan menemukan banyak pengalaman mengesankan versi mereka sendiri, bukan berdasarkan buku pelajaran ataupun cerita orang dewasa. Ibarat kata, merekalah yang menemukan dan memutuskan bahwa yang mereka alami berkesan untuk mereka.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menggali eksplorasi anak adalah dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan seperti kunjungan hari ini.

Acara diakhiri dengan ucapan serentak terima kasih dari anak-anak kepada para Duta Bandara dan segenap tim yang berpartisipasi dalam kegiatan puncak tema kali ini.

Semua senang, semua bergembira, dan semua mendapatkan pengalaman berharga.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget