Maret 2018

Apa yang perlu dilakukan oleh orangtua agar anak kita tidak seperti “lepas” kontrol setelah kita didik dengan baik di masa kecilnya?

Jika jiwa anak adalah sebuah bangunan, bagaimana kita membangunnya sehingga ia menjadi pribadi tangguh di era digital? Yang akan tetap berdiri kokoh tak hancur diterpa badai.

Ayah Bunda kami menemukan sekurang-kurangnya ada 7 Pilar Pengasuhan yang mendukung seorang anak agar mampu tumbuh secara tangguh di era digital ini, sehingga dapat mencegahnya dari penyimpangan perilaku (termasuk perilaku seksual).

Tangguh yang dimaksudkan disini adalah : 

1. Kokoh keimanannya, baik ibadahnya, mulia akhlaknya
2. Merasa dirinya berharga dan percaya diri
3. Cerdas : Berfikir kritis dan solutif
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Mandiri
6. Bertanggung jawab pada Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, serta
7. Bijak berteknologi

Jika salahsatu pilar pengasuhan itu keropos, mungkin tidak akan merobohkan seluruh bangunan. Namun kita tidak tahu dengan pasti, pilar mana yang menjadi penopang utama bangunan jiwa anak kita.

Selayaknya bangunan, pilar itu hanya akan mengokohkan bangungan jika dibangun di atas pondasi yang kuat. Jika pondasinya rapuh, mudah pula lah bangunan itu amblas, meski kokoh pilar-pilarnya.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas pondasi pengasuhan seperti apa yang menjadi landasan agar jiwa anak kita kokoh dan tangguh.

Sebenarnya, ketika kita diberi amanah seorang anak, bersama itu pula Allah memberi kita ‘modal’ agar kita menjadi hamba yang amanah.
.
Tidak mungkin Allah memberi ‘tantangan’ yang tidak dapat ditanggung oleh hambanya, mengapa? Mari kita cek Al-Baqarah 286.

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

Maka, sudah pasti ketika amanah diberikan, kita sudah diberi petunjuk perawatannya. Analoginya seperti produsen gadget ketika mengeluarkan produk, setiap produk yang kita beli pasti memiliki buku manual sebagai petunjuk perawatan agar gadget diperlakukan selayaknya.

Begitu pula dengan Pencipta anak kita. Anak kita adalah produk ciptaan Allah, maka Allah pun membuatkan buku manual agar ciptaanNya diperlakukan selayaknya.

Apa bentuk buku manual tersebut? Tentu saja firmanNya : kitab suciNya dan keteladanan dari utusanNya.

Selain itu, ada modal lain yang sudah tertanam dalam tubuh kita, berupa bagian otak bernama Pre Frontal Cortex (PFC) yang diciptakan khusus untuk manusia sehingga kita mampu menggunakan intuisi kita sebagai orangtua, serta kinerja otak dan hormon yang spesifik antara laki-laki dan perempuan, sebagai hardware-nya.

Sebagai software-nya, Allah juga mengajarkan Ilmu dan memberikan kefahaman dari lautan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ia memberi ilham dari suara hati kita maupun dari orang lain yang tiba-tiba berbagi ilmu meskipun tidak kita minta.

Dengan hardware dan software tersebut, Allah meng-install perangkat kemanusiaan untuk mendukung peran seseorang (menjadi orangtua) dengan sempurna.

Jika di dalam buku manual gadget, kita diberi rekomendasi untuk mematuhi do’s and don’ts dalam memperlakukan gadget kita agar mesin utamanya tetap terawat dan tidak cepat rusak, begitu pula dalam buku manual yang Allah berikan pada kita.

Ada banyak rekomendasi dalam memperlakukan dan merawat anak kita agar terawat “mesin utama” nya. Apa mesin utama seorang manusia? Tepat sekali, OTAKnya.

Maka, sangat penting bagi kita untuk memperlakukan anak kita sesuai dengan cara kerja dan perkembangan otaknya.

Saat kita memutuskan membeli gadget dengan merk tertentu, lokasi “service center” yang mudah dijangkau juga menjadi salahsatu pertimbangan.

Dalam pengasuhan, petugas “service center” adalah pelaku pengasuhan, yaitu kedua orang tua.

Khusus dalam kasus pengasuhan, petugas perawatan harus lengkap (dual parenting).

Yang perlu ditekankan adalah bukan lengkap jumlah atau person-nya yang paling penting, tapi lengkap fungsi dan perannya.

Dan orang-orang yang mengasuh anak (significant other) harus kompak dan KONSISTEN.

Jika kita ada pada suatu kondisi tidak lengkap secara person, tetap lengkapi dengan mencari penggantinya: ayah/ibu baru, kakek/nenek, paman/bibi atau seseorang yang bisa jadi panutan.

Umat Islam sudah mendapat teladan langsung dari Rasulullah saw mengenai dual parenting ini.

Inilah pondasi yang harus kuat dalam pengasuhan. Yaitu, kitab suci-Nya dan teladan dari utusan-Nya (spiritual based), cara kerja dan perkembangan otak (brain based), dan dual parenting.

Pondasi ini lah yang menjadi GUIDELINE kita dalam mengasuh.

Tokoh dan artikel mengenai pengasuhan saat ini sudah sangat berlimpah. Carilah ilmu dari siapa saja dan apa saja. Namun, biasakan diri untuk kroscek setiap ilmu yang kita peroleh apakah sesuai guideline (spiritual based, brain based, dan dual parenting).

Kita selalu punya pilihan untuk mengulang sejarah pengasuhan orangtua kita, ikut pendapat orang lain tanpa kroscek, atau terus belajar ilmu yang sesuai guideline kita. Keputusan akhir ada di tangan kita.

Ketika kita sudah bertawakal dalam mengasuh sesuai dengan apa yang dimaui-Nya, sertakan selalu doa yang tertulis dalam ayat yang kita petik di atas :

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Mudah-mudahan kita sekeluarga dapat berkumpul kembali di akhirat dalam keadaan bahagia di surgaNya.

Bukankah ini tujuan akhir dari pengasuhan kita? SEKELUARGA DI SURGA.

yayasan kita



Semarang, 25 Maret 2018, dua perwakilan SDIT Bina Amal berhasil menyisihkan puluhan lawan dalam ajang Festival Robotik Se Kota Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan di Sri Ratu Pemuda Semarang.

Daffa Rizky Al Fatah, Kelas 4 Ibnu Abbas berhasil meraih Juara 1 Lomba Roboting Kategori Pin Box. Disusul M. Rasydan Zikri Kelas 3 Sa'ad meraih Juara III Kategori Pin Box. Semoga prestasi tersebut memotivasi siswa lain untuk berprestasi di bidang masing-masing.

.





Jumat, 23 Maret 2018, Selama kurang lebih 60 menit KBIT, TKIT Bina Amal praktik jual beli di Mini Market dengan harga terjangkau dan makanan yang dijualpun merupakan makanan yang disukai anak-anak.

Menurutt Bu Arin S.Pd, humas PAUD IT Bina Amal, “Setiap pergantian tema, KBIT, TKIT Bina Amal mengadakan puncak tema. Hal ini dikarenakan dengan adanya puncak tema diharapkan anak dapat memberikan gambaran awal tentang tema apa yang akan dibahas di pekan berikutnya, dan tema yang akan dikupas dipekan selanjutnya adalah Pasar”.

“Sebanyak 170 siswa berlatih berbelanja sendiri, berlatih menjadi kasir dan menjadi pramuniaga. Selain melatih keberanian, anak anak juga diajarkan adab-adab ketika berbelanja, berlatih antri menunggu giliran, dan berlatih kejujuran.” Tuturnya.

Aku senang bisa belanja di mini market Bina Amal, aku berani belanja sendiri’, kata mas Gege salah satu siswa TKIT Bina Amal.

Dipandu oleh dua MC yang berasal dari asatidazh TK, lapangan TK pun disulap bak minimarket dengan barang-barangnya yang siap untuk dijual.

Dengan diadakannya puncak tema pasar, diharapkan anak-anak bisa berlatih mandiri, jujur dan bersabar.






Dalam rangka menyambut hari mulut sedunia yang jatuh pada tanggal 20 Maret 2018, PAUD IT Bina Amal menyelenggarakan kegiatan sosialisasi cara merawat dan menjaga kesehatan gigi yang baik.

Menurut Sakdiyah, S.Pd, kegiatan ini bekerjasama dengan Telkomedika yaitu divisi Telkom bidang kesehatan. Kegiatan ini ikuti kelompok A TKIT Bina Amal yang terdiri dari 2 kelas dan berjumlah 40 anak. Alhamdulillah anak-anak antusias selama kegiatan berlangsung. Anak-anak tanpa takut menjawab beberapa pertanyaan yang di ajukan drg Nafisah.

“ Harapannya dengan kegiatan ini, anak-anak semakin rajin dalam merawat kesehatan giginya, minimal menggosok gigi 2 kali dalam sehari, “ ungkap Sakdiyah.

Dalam Kegiatan tersebut anak2 diberikan penjelasan terlebih dahulu oleh drg. Nafisah tetang cara merawat dan menjaga kesehatan gigi yang baik dan benar.

Kemudian anak diperlihatkan dengan menggunakan alat peraga bagaimana cara menggosok gigi yang benar.

Selanjutnya anak praktik satu persatu menggosok gigi yg benar dipandu oleh drg. Nafisah langsung.

Diakhir kegiatan, setiap anak mendapat hadiah pasta gigi dan sikat gigi sebagai pengingat dan penyemangat untuk rajin gosok gigi.











Yogyakarta – Alhamdulillah SMP IT Bina Amal Semarang memperoleh  5 medali dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Lomba Karate di Yogyakarta tahun 2018. Penyelenggara kegiatan ini adalah Wahana Beladiri Club. Peserta yang mengikuti kejuaraan lomba karate ini berasal dari daerah Purwakarta, Bekasi, Semarang, Yogyakarta dan Jawa Barat.

Kejuaraan Tingkat Nasional diadakan di SDIT Alam Nurul  Islam Yogyakarta. Pada kesempatan kali ini, SMP IT Bina Amal Semarang mengirimkan beberapa siswanya untuk mengikuti lomba karate tersebut. Daftar siswa yang dikirim untuk mengikuti lomba karate yaitu: Fais Romadhon Ar-Royyan, Najmuddin Nur Aryana, Ananda Rizki Pradana, Muhammad Abdan Syakuuron, Nayla Nur Rahmah, Hana Syakira, Fatimah Izzatul H. dan Firyal Firdausi.

Rombongan dari SMP IT Bina Amal berangkat hari Sabtu,17 Maret 2018 jam 13.00 dan malamnya menginap di Yogyakarta karena pelaksanaan lombanya hari Ahad,18 Maret 2018.

Alhamdulillah, SMP IT Bina Amal dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Lomba Karate di Yogyakarta  memperoleh prestasi: Fais Romadhon Ar-Royyan sebagai Juara 3 Kelas +40 kg, Ananda Rizki Pradana sebagai Juara 1 Kelas -40 kg, Muhammad Abdan Syakuron sebagai Juara 2 Kelas -40 kg, Nayla Nur Rahmah sebagai Juara 1  Kelas -40 kg, Fatimah Izzatul H. sebagai Juara 2 Kelas +40 kg.

Semoga ini adalah sebagai modal awal untuk menumbuhkan semangat berprestasi dan memajukan nama baik SMP IT Bina Amal. Kami mengucapkan terima kasih kepada ananda yg telah mewakili sekolah dalam masing-masing cabang lomba dan mempersembahkan usaha terbaiknya. Serta terimakasih atas doa dan dukungan dari Bapak/Ibu Guru Pendamping dan Pembina serta Orang Tua Siswa. Semoga kedepan mendapatkan prestasi yang gemilang.






Barokalloh! Muhammad Hanif Al Hakim Meraih Juara 1 dan Maju ke Lomba Siswa Berprestasi tingkat Kota Semarang

Seperti tahun-tahun sebelumnya, UPTD Kecamatan Semarang Selatan menyelenggarakan Lomba Siswa Berprestasi selama 2 hari dan 2 tahap. Alhamdulillah 5 dari 8 Siswa yang mengikuti Lomba Siswa Berprestasi Tingkat Kecamatan Semarang Selatan berhasil masuk final. Barokallah kepada ananda Hanun Dzafirrajwa, I Gusti Ayesha Safa G, M Akmal Fauza, Habibi Siraj Rabbani.

Sebelumnya Luthfi Shabran R. telah meraih Juara 1 Siswa berprestasi Putra Tahun 2017. Kini M. Hanif Al Hakim yang duduk di kelas 5 Zaid mengharumkan SDIT Bina Amal di kancah pemilihan siswa berprestasi UPTD Kec. Semarang Selatan.

Dia patut mendapat gelar Sispres karena kesolihannya dan kepribadiannya. Lebih-lebih dalam Tilawatil quran. Suara emasnya seringkali menghantarkan dia Juara 1 lomba Tilawatil Quran. Tidak hanya juara tingkat kecamatan, dia juga pernah juara MHQ tingkat Kota dan Mendapat Penghargaan dari Pemerintahan Kota Semarang.

Selain juara Tilawatil, yang tidak diragukan lagi adalah ketrampilan dalam kegiatan pramuka. Tahun 2017 dia berhasil meraih Juara 2 Putra dalam lomba Pesta Siaga. Selain itu, ia juga menjadi Tim Inti Pramuka Elkiewa SDIT Bina Amal.

Semangat Maju Untuk Siswaku,
Sukses selalu, Doa guru menyertaimu.
Berjuang dalam Lomba Siswa berprestasi Tingkat Kota Semarang, 27 Maret 2018.






Interaksi Orang Tua dan Guru dalam Penerimaan Rapor

Jumat 16 Maret 2018 adalah momen istimewa bagi siswa, orang tua dan guru-guru SDIT Bina Amal. Hari diterimanya Laporan Perkembangan Siswa selama tengah semester 2 di tahun pelajaran 2017/2018.

Eka Mulyanto, S.Pi selaku Kepala Sekolah SDIT Bina Amal menyampaikan bahwa pendidikan merupakan upaya menumbuhkembangkan fitrah anak, secara langsung maupun tidak langsung, agar anak memahami siapa dirinya, Penciptanya dan lingkungannya. Kefahaman yang akan mengantarkan anak menemukan peran peradabannya kelak. Tujuan pendidikan ini akan tercapai jika terdapat sinergi yang baik antara orang tua dan sekolah.

Momen penerimaan Rapor Tengah 2 di tahun pelajaran 2017/2018 ini merupakan salah satu bentuk sinergi tersebut. Kegiatan ini menjadi sarana komunikasi antara orang tua dan sekolah mengenai capaian pendidikan siswa, kendala yang dihadapi serta solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Ia juga menuturkan untuk memberikan laporan perkembangan siswa yang utuh, maka format rapor SDIT Bina Amal selain menyertakan capaian nilai akademik, juga menyertakan perkembangan kepribadian siswa. Dari rapor ini, misalnya orang tua akan mengetahui bagaimana keseharian anaknya dari sisi emosi; apakah mudah memaafkan, memiliki sikap peduli atau lainnya.

Rosidah, S.Sos, Ketua panitia Penerimaan rapor ini juga menuturkan bahwa respon orang tua sangat baik. Terbukti dengan tingkat partisipasi orang tua sekitar 80% dari 730 wali murid. Dan meski di undangan tertera pukul 08.30 sd 10.30, bisa dipastikan kegiatan penerimaan rapor melebihi jam yang ditentukan. Hal ini terjadi karena orang tua tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bincang-bincang, konsultasi atau curhat.

Kegiatan ini memang istimewa. Bukan karena angka-angka tinggi yang tertera di kertas, tapi lebih karena adanya kefahaman, sinergi dan kerja sama yang padu antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak. #ftr







Bencana alam tanah longsor dan banjir melanda sebagian wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (Jateng). Berdasarkan data yang dihimpun, bencana tersebut setidaknya melanda tujuh kecamatan di Kabupaten Brebes. Menyebabkan sungai Pemali Brebes, Jawa Tengah, meluap. Dua titik tanggul Sungai Pemali jebol.

Hal ini mengundang keprihatinan semua pihak, termasuk Bina Amal yang tergerak untuk memberikan bantuan. Dan Alhamdulillah untuk Bencana Banjir dan Longsor di Brebes terkumpul dana sebesar Rp. 5.629.000 disalurkan melalui Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

Bantuan Kemanusian Ghouta Suriah

Sementara itu serangan udara yang terus menerus menggempur Ghouta Timur dinilai sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu. Jet tempur secara intens membombardir rumah warga hingga fasilitas umum lainnya seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya.

Sebanyak 400 ribu penduduk Ghouta Timur terperangkap dalam zona merah konflik. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh mereka, yang sebagian besar merupakan para pengungsi internal (IDP). Bahkan, untuk sekadar melindungi diri dari hantaman roket perang pun mereka sulit.

Kembali Yayasan Wakaf Bina Amal tergerak dengan menyerahan bantuan untuk Selamatkan Ghouta Suriah dari anak-anak Bina Amal sebesar 18.000.000 delapan belas juta rupiah + 50 dirham Qatar.
Bantuan ini disalurkan melalui lembaga kemanusian ACT (Aksi Cepat Tanggap).





Empat rumah di wilayah Lempongsari Kecamatan Gajahmungkur Semarang longsor akibat hujan lebat pada Jumat dini hari (23/2/2018) dan menimpa dua rumah, milik Septiana Dwi Cahyo dan Afi Muhyiddin (suami Ibu Mila )

Beberapa keluarga korban longsor untuk sementara rencananya akan dipindahkan ke tempat tinggal yang aman,.Warga setempat bergotong royong untuk mengevakuasi bagian rumah yang hancur karena reruntuhan puing-puing akibat longsor.

Afif Muhyiddin mengaku kejadiannya pukul 01.15 saat itu sedang istirahat bersama istri dan anaknya di kamar. Tiba-tiba ada suara keras brukk.. Kemudian mereka menyelamatkan diri keluar rumah.
Akibat kejadian tersebut dapur miliknya menjadi rusak karena tertimpa material talut.

Ibu Muntafingah selaku humas  wakaf bina amal mengungkapkan turut berbela sungkawa atas musibah ini, kemudian bersyukur karena semua keluarga selamat dalam musibah tersebut.

Kemudian segenap pengurus yayasan wakaf bina amal beserta bapak eka mulyanto selaku kepala sekolah dan beberapa guru bersama mengunjungi lokasi kejadian untuk melihat kondisi  dan memberikan bantuan ibu Mila beserta keluarga.

Semoga Ibu Mila sekeluarga di beri kesabaran atas musibah dan di beri ganti dengan yang lebih baik.





Semarang – SMP IT Bina Amal Semarang kembali boyong 4 juara pada ajang seleksi MTQ tahun 2018 Tingkat Kecamatan Gunungpati yang diadakan oleh Pemerintah Kecamatan Gunungpati pada hari Sabtu (10/3). Lomba yang diadakan di kantor kecamatan Gunungpati ini diikuti oleh beberapa lembaga pendidikan di Kecamatan Gunungpati.

Pada kesempatan kali ini, SMP IT Bina Amal Semarang mengirimkan beberapa santrinya untuk mengikuti Lomba MTQ tersebut. Daftar santri yang mengikuti lomba yaitu untuk Cabang Tilawah : Diva Mahayu Pramesthi kelas 7 dan Muhammad Dzulfikar Al Faruq kelas 7. Untuk Cabang Tartil : Muhammad Hilman Sidqi kelas 7 dan Shalsa Sabira kelas 8. Untuk Cabang Tahfid: Baihaqi Ramadhani kelas 7 dan Fidela Fairuz Zulfaa kelas 8.

Adapun juara yang berhasil diraih siswa adalah Juara 3 Tartil pa: Muhammad Hilman Sidqi kelas 7, Juara 2 Tartil pi: Shalsa Sabira kelas 8, Juara 1 tahfidz pi: Fidela Fairuz Zulfaa kelas 8 dan Juara 2 Tilawah pi: Diva Mahayu Pramesthi kelas 7.

Harapan kami ini adalah sebagai modal awal untuk menumbuhkan semangat berprestasi dan memajukan nama baik SMP IT Bina Amal.

Kami mengucapkan terima kasih kepada ananda yg telah mewakili sekolah dalam masing-masing cabang lomba dan mempersembahkan usaha terbaiknya. Serta terimakasih atas doa dan dukungan dari Bapak/Ibu Guru Pendamping dan Pembina serta Orang Tua Siswa. Semoga kedepan mendapatkan prestasi yang gemilang.


Beberapa hari lalu, seluruh siswa kelas II SDIT Bina Amal mengikuti kegiatan puncak tema "Merawat Hewan dan Tumbuhan" dengan mengadakan pameran Flora dan Fauna. Pameran ini diikuti oleh berbagai macam jenis hewan dan tumbuhan yang diciptakan Alloh yang seyogyanya kita rawat.

"Hewan dan tumbuhan yang mengikuti pameran flora dan fauna ini sangatlah beragam. Harapannya para siswa dapat mencintai dan merawat hewan peliharaannya masing-masing dengan ilmu yang tepat. Selain hewan, tumbuhan pun juga harus dirawat karenanya kita semua merasakan manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari", ujar Koordinator Paralel Kelas II, Ustadzah Sarah.

Tidak hanya sekadar memamerkan berbagai macam hewan dan tumbuhan yang mereka miliki, masing-masing kelompok juga diwajibkan untuk berlatih menjelaskan cara merawat, dan apa saja yang tidak boleh dilakukan kepadanya. Terdapat beberapa juri untuk menilai cara presentasi atau penjelasan dari setiap kelompoknya.

Ada yang menjadi perhatian lebih dari siswa-siswa kelas lain yang menyaksikan pameran ini. Mereka ada yang merasa geli, gemes, takjub kepada berbagai macam hewan dan tumbuhan yang dipamerkan meliputi kura-kura besar, kadal, tokek, burung cantik, warna-warni tumbuhan dan lain-lain. Ada juga yang penasaran dengan proses pembibitan bayam, sawi sampai pada pemindahan tempat dan proses perawatannya.









Ayah Bunda, terutama kaum ayah, apa yang biasa Anda lakukan sepulang kerja? Apakah Anda telah memiliki waktu khusus untuk berbincang bersama istri dan anak-anak?

Tidak sedikit para ayah yang langsung tidur atau asyik sendiri dengan gadgetnya begitu sampai rumah, ketika istrinya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini suami malah menolak mendengarkan, apalagi ketika anak minta gendong, ada saja ayah yang langsung marah-marah karena merasa dirinya sudah terlalu capek di kantor. Padahal ada banyak kebaikan yang bisa diperoleh ketika seorang pria mau meluangkan waktu untuk keluarganya.

Berikut ini beberapa alasan mengapa para ayah sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mendengarkan cerita dari istri dan anaknya sekalipun dianggapnya menjemukan:

1. Sunah Rasulullah shalallaahu 'alaihissalam

Rasulullah bukanlah seorang yang tidak ada pekerjaan, beliau memiliki luar biasa banyak agenda setiap harinya, akan tetapi beliau tidak pernah lupa untuk berbincang dan bercanda dengan istrinya.

“Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istri beliau.” (HR. Thabrani)

Bahkan sekalipun berbincang sehabis shalat Isya' adalah hal yang dibenci oleh Rasulullah, akan tetapi hal ini tidak berlaku jika dipergunakan untuk ngobrol bersama istri, Imam Bukhari menjelaskan bolehnya begadang dalam rangka melayani tamu dan ngobrol bersama istri. (Shahih Bukhari, bab no. 41).

Para ulama mengatakan, obrolan yang makruh setelah isya adalah obrolan yang tidak ada maslahatnya. Adapun kegiatan yang ada maslahatnya dan ada kebaikannya, tidak makruh. Seperti belajar ilmu agama, membaca cerita orang soleh, ngobrol melayani tamu, atau pengantin baru untuk keakraban, atau suami ngobrol dengan istrinya dan anaknya, mewujudkan kesih sayang dan hajat keluarga. (Syarh Shahih Muslim, 5/146).

2. Membawa keberkahan

Jika Anda memiliki proyek di kantor atau usaha bisnis, bisa jadi ridho istri dan anak Anda lah yang menjadikan semua hal tersebut lancar dan mudah Anda jalankan. Jangan terlalu sombong segala kesuksesan Anda adalah karena kehebatan diri sendiri. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita dari bibir istri dan anak setiap harinya, ketika mereka merasa bahagia karena didengarkan dan diperhatikan, in syaa Allah ridho mereka itu bisa melancarkan dan memberi keberkahan untuk pekerjaan Anda.

3. Hak istri dan anak


”Segala sesuatu yang dijadikan permainan oleh anak Adam adalah bathil, kecuali tiga perkara, melepaskan panah dari busurnya, latihan berkuda, dan senda gurau (mula’abah) bersama keluarganya, karena itu adalah hak bagi mereka.” (HR. Thabrani)





Binaamal.info - Rabu, 7 Maret 2018 Bidang Dakwah Yayasan Wakaf Bina Amal bersama Kelompok Majlis Taklim Wali Murid Bina Amal melakukan Kunjungan ke Rumah Singgah Pasien Inisiatif Zakat Indonesia ( RSP IZI). Yang beralamat di Jalan Puspanjolo Tengah X No. 75 Bojongsalaman, Bojongsalaman, Semarang Bar., Kota Semarang, Jawa Tengah 50141.

Dalam kunjungan itu, Ibu Rahayu S.Pd selaku ketua Bidang Dakwah Yayasan Wakaf Bina Amal mengatakan bahwa kegiatan kunjungan ini Insyaallah merupakan agenda rutin tiap semester yang bekerja sama dengan Majelis Taklim Wali Murid Sekolah Islam Terpadu Bina Amal.

“Dalam kunjungan ke rumah singgah pasien kanker ini, kami memberikan penguatan dan semngat kepada para pasien untuk terus bersabar dan tidak putus asa. Bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Dan sakit itu merupakan penggugur dosa”, paparnya.

Kemudian dalam kunjungan ini juga memberikan perhatian kepada para pasien dengan menyerahan bantuan berupa sembako, perkap kesehatan, selimut, sprei, dll.

Djoko Adhi selaku Ketua IZI Jawa Tengah menyampaikan banyak terima kasih atas kunjungan tersebut. Beliau menyampaikan bahwa pasien memang butuh penguatan dari semua pihak. Agar terus optimis dan mempunyai semangat untuk sembuh. 

Karena kebanyakan pasien kanker terdoktrin bahwa penyakit kanker itu penyakit yang berbahaya dan kemungkinan sembuhnya sangat kecil. Semoga dengan kunjungan, bantuan dan doa dari masyarakat mereka jadi lebih bersemangat dalam proses pengobatan.






Ayah bunda mungkin dibuat kewalahan menghadapi buah hati yang suka jajan. Jika memang benar demikian, jangan keburu menyalahkan anak dan orang lain. Sebab, bisa jadi Ayah bundasendiri yang menyebabkan mereka gemar jajan!

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45% jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia. Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Peran orang tua

Jika ditelusuri, ternyata penyebab anak jajan boleh jadi adalah orang tua sendiri. Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa bisa begitu? Saat lahir, anak tidak mengenal kata jajan sampai ada beberapa tindakan orang tua yang akhirnya membuat anak mengenal kata itu dan menjadikannya kebiasaan.
Berikut ini, beberapa hal yang membuat anak “mengenal” jajan pada usia dini:
- Beberapa orang tua bila anak rewel akhirnya mengajak anak jajan untuk mendiamkan anak.
- Beberapa orang tua punya kebiasaan jajan yang akhirnya ditiru oleh anak.
- Orang tua sengaja mengajak anak jajan.
- Orang tua memberi jajanan yang berlebihan untuk bekal sekolah.
Jadi, sebenarnya jika keempat hal tersebut dihindari, anak tidak akan tahu tentang jajan. Ketika anak rewel, sebenarnya yang dia butuhkan adalah perhatian orang tua. Apabila anak rewel tersebut kita ajak bicara, kita dengarkan keluhannya, kita ajak bermain, kita ajak bercanda, kita ajak bercerita, anak tidak akan ingat lagi dengan jajan. Jadi, mulailah menghilangkan solusi jajan untuk mendiamkan anak sementara, tapi merusak mentalnya di masa depan menjadi anak yang konsumtif.

Bagaimana mencegahnya?

Untuk mencegah kebiasaan jajan anak, harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.

Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, Ayah bundaharus dapat menata kegiatan makan, membuat camilan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan. Ayah bundajuga harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan. kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat. Bahkan, meski masih balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. Sampai menangis berguling-guling pun, biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran.

Jajan boleh, asal…

Anak adalah peniru yang baik. Oleh karena itu, orang tua juga harus memperlihatkan contoh tidak jajan kepada anaknya. Apalagi sengaja mengajak anak jajan secara teratur, sehingga anak terbiasa jajan. Sebenarnya, jajan itu boleh. Tapi, ada beberapa syaratnya, yaitu :
1. Tidak untuk jadi satu kebiasaan (hanya sesekali)
2. Tidak berlebihan
3. Pilih jajanan yang sehat

Selain itu, akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih jajanan untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batasan jumlah uang. Hal ini, membuat anak berpikir bahwa jumlah uang ada batasnya.
Baiklah Ayah bunda, sebagai penutup bersabarlah untuk konsisten dalam hal ini, karena betapa besar penghematan yang orang tua akan dapatkan karena memiliki anak yang shalih, yang tidak hobi jajan. (***)





Wahai ayah dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan …

Wahai ayah dan ibu, ketika kita dapati anak kita tidak sesuai dengan harapan, maka terlebih dahulu hendaknya kita melihat diri kita. Barangkali pada diri kita masih ada kesalahan atau dosa-dosa yang masih sering kita lakukan. Karena sesungguhnya amalan-amalan yang dilakukan orangtua akan memberi pengaruh terhadap keshalihan anak.

Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berdzikir, mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir niscaya akan menirunya mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.

Demikian juga seorang anak yang diutus orang tuanya untuk memberi sedekah kepada orang-orang miskin dirumah-rumah berbeda dengan seorang anak yang disuruh orang tuanya membeli rokok dan barang-barang memabukkan. Seorang anak melihat ayahnya berpuasa senin kamis dan melaksanakan shalat jumat dan jama’ah tidak sama dengan anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di kafe, diskotik, dan bioskop.

Kita bisa membedakan antara seorang anak yang sering mendengar adzan dengan seorang anak yang sering mendengar ayahnya bernyanyi. Anak-anak itu pasti akan meniru apa yang sering mereka dengar.

Bila seorang ayah selalu berbuat baik kepada orang tuanya, mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, selalu berusaha tahu kabar mereka, menenangkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, memperbanyak berdoa, “rabbighfirli wa li wali dayya..”,berziarah ke kuburan mereka bila telah meninggal, dan bersedekah untuk mereka, serta tetap menyambung hubungan dengan teman-teman mereka dan member hadiah dengan orang-orang yang biasa diberi hadiah oleh mereka dahulu. Maka anak yang melihat akhlak ayahnya seperti ini dengan seizin Allah akan menontohnya dan juga akan memohonkan ampunan untuk orangtuanya.

Seorang anak yang diajari shalat tidak sama dengan anak yang dibiasakan nonton film, musik, dan sepak bola.

Seorang anak yang melihat ayahnya shalat di malam hari, menangis karena takut kepada Allah, membaca Al Qur’an, pasti akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah tidur meninggalkan ranjangnya yang enak lalu berwudhu dengan air dingin di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan dan diliputi kecemasan?”

Semua pertanyaan ini akan berputar dibenaknya dan akan selalu hadir dalam pikirannya. Selanjutnya dia akan mencontoh apa yang dilakukan ayahnya.

Demikian juga dengan seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahramnya, menutup aurat di hadapan mereka, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri. Dia akan mempelajari dari ibunya akhlak tersebut.

Beda dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, tersenyum, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Dia akan mempelajari semua itu dari ibunya.

Karena itu takutlah kepada Allah wahai Ayah Ibu, dalam membina anak-anak kalian! Jadilah Anda berdua teladan yang baik, berhiaslah dengan akhlak yang baik, tabiat yang mulia, dan sebelum itu semua berpegang teguh dengan agama ini dan cintailah Allah dan rasul-Nya.

Penjagaan Allah Terhadap Keturunan Orang Tua yang Shalih

Keshalihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi keshalihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya amal-amal jelek dan dosa-dosa besar yang dilakukan orangtua akan berpengaruh jelek terhadap pendidikan anak-anaknya.

Pengaruh-pengaruh tersebut diatas datang dengan berbagai bentuk. Diantaranya berupa keberkahan amal-amal shalih dan pahala yang Allah sediakan untuknya. Atau sebaliknya berupa kesialan amal-amal jelek dan kemurkaan Allah serta akibat jelek akan diterimanya.

Jika orang tua shalih dan gemar melaksanakan amalan baik maka akan mendapatkan ganjaran dan pahala yang dapat dirasakan anak. Ganjaran tersebut dapat berupa penjagaan, rizki yang luas, dan pembelaan dari murka Allah. Adapun amal jelek orang tua, akan berdampak jelek terhadap anak. Dampak tersebut dapat berupa musibah, penyakit, dan kesulitan-kesulitan lain.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperbanyak amal shaleh karena pengaruhnya akan terlihat pada anak. Bukti pengaruh ini dapat dilihat dari kisah nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman memberitakan perkataan nabi Khidhir,

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS. Al Kahfi: 82)

Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, berkat ketaatannya dan syafaatnya kepada mereka maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orangtuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan as sunnah.”

Allah telah memerintahkan kepada kedua orangtua yang khawatir terhadap masa depan anak–anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai macam amal ketaatan lainnya. Sehingga dengan amalan-amalan itu, Allah akan menjaga anak cucunya. Allah berfirman,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (An Nisa: 9)

Dari said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas berkata: “Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” ( Ath Thuur : 21) [1]

Karena itu bertakwalah dan beramal shalihlah agar doa untuk kebaikan anak Anda diterima!

Diceritakan bahwa sebagian orang-orang salaf dahulu pernah berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, aku akan membaguskan shalatku agar engkau mendapat kebaikan.”Sebagian ulama salaf menyatakan bahwa makna ucapan itu adalah aku akan memperbanyak shalatku dan beroda kepada Allah untuk kebaikanmu.

Kedua orangtua bila membaca Al-Qur’an, surat Al Baqarah dan surat-surat Al Mu’awwidzat(Al-Ikhlash, Al Falaq, An Naas), maka para malaikat akan turun mendengarnya dan setan-setan akan lari. Tidak diragukan bahwa turunnya malaikat membawa ketenangan dan rahmat. Dan jelas ini member pengaruh baik terhadap anak dan keselamatan mereka.

Tetapi bila Al-Qur’an ditinggalkan, dan orangtua lalai dari dzikir, ketika itu setan-setan akan turun dan memerangi rumah yang tidak ada bacaan Al-Qur’an, penuh dengan musik, alat-alat musik, dan gambar-gambar haram. Kondisi seperti ini jelas akan berpengaruh jelek terhadap anak-anak dan mendorong mereka berbuat maksiat dan kerusakan.

Sehingga dari itu semua, cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Serta kita harus senantiasa berbuat baik kepada orangtua kita serta menjauhi sikap durhaka kepadanya, agar anak-anak kita nantinya menjadi anak yang berbakti, selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua dimasa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.

Selanjutnya, hal yang tidak boleh kita lupakan adalah senantiasa berdoa, mengharap pertolongan kepada Allah dalam mendidik anak-anak kita, janganlah kita sombong terhadap kemampuan yang kita miliki. Karena hidayah itu berada ditangan Allah dan Allahlah yang membolak balikkan hati hamba-hambaNya.

muslimah

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget