Latest Post

 
Siswa Bina Amal Memperbaiki Bacaan Quran
Siswa Bina Amal Memperbaiki Bacaan Quran



binaamal.or.id - Setiap Paginya , Siswa Siswi Bina Amal memiliki kegiatan rutin untuk memperbaiki bacaan quran mereka dengan dibimbing oleh guru guru Bina Amal.

Karena Al Quran merupakan salah satu cara untuk mendidik akhlak anak ,  dengan adanya kegiatan rutin memperbaiki bacaan quran seperti ini diharapkan lahir generasi generasi yang rabbani seperti visi yang dimiliki oleh Bina Amal.



Perilaku anak-anak dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya kondisi lingkungan, biologis, dan genetik. Dalam banyak kasus sulit sekali mengetahui faktor penentu perilaku anak tanpa melakukan terapi atau tes psikologi sebelumnya.

Lalu apa saja faktor yang bisa memengaruhi perkembangan perilaku anak? Simak penjelasan di bawah ini.

Biologi Faktor biologis memainkan peran yang kuat dalam membentuk perilaku anak. “Sebagai contoh, genetika dapat membentuk temperamen dan psikofisiologi anak,” kata Barbara Kaiser dalam bukunya “Challenging Behavior in Elementary and Middle School.”  Selanjutnya, beberapa ciri kepribadian, seperti keterbukaan adalah sifat diwariskan. Selain itu, genetika dapat memainkan peran penting dalam perkembangan kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar dan kecemasan, yang semuanya mempengaruhi cara anak berperilaku. Selanjutnya, paparan alkohol pada saat masih di kandungan dan cacat lahir juga dapat mempengaruhi interaksi antar anak.

Pengasuhan Gaya pengasuhan juga memiliki efek kuat pada perilaku anak. Misalnya, orang tua yang menaruh harapan terlalu tinggi pada anak-anak mereka mungkin akan membesarkan anak-anak yang memiliki perilaku cemas atau pemberontak karena mereka tidak bisa mengikuti keinginan orangtua. Demikian juga, orangtua yang menetapkan harapan yang terlalu rendah pada anak-anak akan memiliki anak yang tidak berprestasi karena anak tidak mampu menunjukkan potensi terbaiknya. Sedangkan orangtua yang mengasuh anaknya secara kasar bisa menumbuhkan sifat antisosial pada anak-anak mereka, seperti sifat agresif dan tertutup. Orangtua yang memberikan batas-batas realistis serta menegakkan aturan dalam rumah juga dapat menumbuhkan perilaku positif pada anak-anak mereka.

Lingkungan Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang tidak aman, seperti lingkungan dengan tingkat kejahatan dan kekerasan yang tinggi serta tingginya aktivitas obat terlarang dapat menunjukkan perilaku cemas, khawatir atau perilaku antisosial. Demikian juga, anak-anak tumbuh dalam kemiskinan dan kurangnya sumber pendidikan akan membuat anak memiliki rasa percaya diri, mudah putus asa atau depresi. Selainnya itu kurangnya sumber daya keluarga diantara kurangnya makanan bergizi, dan kondisi hidup yang tidak sehat dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan sikap depresi atau perilaku melawan.

Hidup tertekan Perceraian orangtua, hidup yang selalu pindah-pindah, penggencetan, dan interaksi negatif dengan rekan-rekan sebaya, semuanya dapat memengaruhi perilaku anak
. Jika anak-anak terus menerus mengalami hidup tertekan mereka akan mengembangkan perilaku depresi, sering menangis, minder. Namun efek stres akibat hidup tertekan ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Dalam beberapa kasus, anak-anak mungkin perlu berkonsultasi dengan profesional untuk mengatasi perilakunya.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik cenderung  belajar lebih baik sambil bergerak.  Duduk tenang dan menyalin untuk berlatih membentuk huruf selama beberapa waktu  bisa menjadi tantangan yang besar bagi anak-anak dengan gaya belajar kinestetik. Hm, sebenarnya gaya berlatih menulis dengan duduk tenang dan menyalin kata atau kalimat adalah sebuah tantangan bagi anak-anak, terutama bagi orang dewasa yang menemani mereka belajar.

Saya belajar beberapa hal dari murid-murid saya tentang berlatih menulis bagi pemula. Beberapa hal berikut ini mungkin bisa Anda coba bersama anak-anak di rumah.

1. Menulis harus Bermakna
Menyalin kalimat berulang-ulang adalah kegiatan yang kurang bermakna untuk anak-anak. Pendeknya, mungkin mereka bertanya-tanya, “Kenapa sih, aku harus menulis yang itu-itu terus?” 
Maka membuat kegiatan menulis yang bermakna untuk mereka menjadi penting. 

Pada dasarnya, menulis adalah salah satu cara berkomunikasi. Minta anak menulis surat pendek atau kartu ucapan.  Minta anak menuliskan daftar mainan atau makanan yang mereka suka. Esok hari, minta anak mencatat bagian-bagian dari seri mainan atau tokoh kartun yang mereka suka. Lain hari, diktekan daftar belanjaan Anda untuk ditulis anak.

2. Menulis harus Menyenangkan
Ubahlah waktu berlatih menulis menjadi waktu bermain yang seru.  Umumkan waktu permainan bernama Super Paper. Tidak boleh bicara, tapi harus menulis di kertas. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan lucu yang membuat anak tertarik menuliskan jawabannya di kertas. 
Ciptakan permainan-permainan yang baru. Tulislah sebuah kata, kemudian minta anak menulis kata lain yang dimulai dengan huruf terakhir dari kata yang Anda tulis.

Misalnya, saya menulis : BUKU. Binar akan menulis ULAR. Saya lanjutnya dengan RAMAI. Binar bisa melanjutkan dengan kata lain berawalan I.

3. Menulis dengan Target Kecil

Murid-murid kecil saya mengeluh bila diminta menulis satu halaman. “Panjang sekali, Bu.” “Aku kan sudah capek, Bu.” Suatu hari, saya buatkan pola daun sebagai tempat menulis. Saya beri beberapa lembar daun dan minta mereka menulis cerita.

Daun-daun ditempelkan menjadi sebuah pohon yang cantik. Hari itu, mereka menulis sebanyak dua halaman tanpa mengeluh dan tanpa mereka sadari. Yang mereka ketahui, delapan lembar daun yang mereka punya sudah penuh dengan cerita.

4. Stasiun Menulis
Buat sebuah pojok istimewa untuk menulis. Lengkapi dengan kertas dan aneka alat tulis berwarna. Barangkali, kotak surat kecil untuk setiap anggota keluarga akan memberi semangat baru. Jika Mama atau Papa ikut terlibat saling mengirim atau berbalas kartu, anak-anak tentu bersemangat turut serta.

5. Kreatif dengan aneka barang
Anak-anak yang sedang belajar menulis huruf akan senang sekali jika boleh menulis dengan jari di atas baki berlapis tepung. Membuat huruf di lantai dengan bekas-bekas amplop atau selebaran dari bank juga akan menyenangkan.

6. Sedikit Kritik, Banyak Pujian
Ingat, Ma. Anak-anak tidak bisa serta merta menulis dengan sempurna. Beri mereka waktu untuk berkembang menjadi penulis yang handal. Anda tidak perlu memperbaiki semua hal dalam satu waktu.

Minggu ini, fokuskan kegiatan menulis untuk berlatih membuat bentuk huruf yang benar. Maka biarkan saja jika tulisan anak anda tak sama besarnya, atau ia lupa memberi spasi antar kata. Minggu depan, pilih satu hal lagi sebagai fokus latihan.

Biarkan anak menyelesaikan tugas menulisnya. Jika terlalu panjang, pecahlah menjadi beberapa bagian. Pada akhir setiap bagian, ajak anak mengevaluasi kembali hasilnya. Apa yang kamu tulis? Apa yang bisa dilakukan agar tulisanmu lebih baik? Bagaimana membuat huruf “y” yang benar? Dengan demikian, Anda tidak perlu mengomentari setiap langkahnya dalam berlatih menulis.

Jangan lupa, beri pujian bila anak anda membuat kemajuan meskipun kecil.

Tak ada yang lebih menyenangkan bagi anak-anak dibanding melakukan kegiatan yang sama dengan Mama dan Papa. Jika Anda sedang mengajak anak-anak belajar menulis, Anda perlu bermain dan menulis bersama mereka. Polisi yang ngomel dan mengkritik semua gerakan anak saat sedang menulis, apalagi sambil sibuk dengan gadget, tentu bukan partner menulis yang menyenangkan! 

Belajar, tidak harus selalu duduk tenang. Belajar bisa dilakukan sambil bersenang-senang!

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Saya salut pada orang tua yang anaknya diajari untuk bertanggung jawab pada perbuatannya. Itu bagus dan sifatnya sangat positif. Hanya saja, memaksakan anak untuk meminta maaf tidak pas untuk anak usia ini,” kata Kim John Payne, M.Ed., pakar perilaku anak dan penulis Simplicity Parenting. Ada alasan seputar perkembangan tentang hal ini: Sebelum mereka berumur 8 atau 9 tahun, anak tidak bisa merasa benar-benar menyesal.

Respons yang lebih efektif adalah menyatakan ketidaksetujuan sambil memuji anak karena telah melakukan sesuatu yang sangat baik. Misalnya, “Biasanya, kamu menjaga adik kamu dengan baik.” Kata Payne, “Jika ketidaksetujuan diikuti dengan pernyataan yang positif, Anda akan mendapat anak yang suka membangkang atau yang sering merasa gagal dan sedih.”

Katakan pada kedua anak bahwa Anda akan membicarakan masalah ini setelah keduanya tenang. Pisahkan mereka, mungkin dengan cara memberi keduanya tugas ringan, dan dekati mereka sehingga mereka bisa menceritakan versi masing-masing. “Dengarkan saja, namun jangan berkomentar apa pun,” nasehat Payne. “Bila Anda bicara terlalu banyak, ini berarti Anda sudah berpihak dengan salah satu dari mereka.”

Pada akhirnya, katakan pada anak 7 tahun Anda kalau dia harus bersikap baik pada kakaknya, dan bertanya tentang ide yang dimilikinya. Ia bisa, misalnya, meminta si kakak untuk jalan-jalan bersama anjing mereka barengan. ‘Berbuat baik’ atau ‘melakukan semuanya dengan benar’ adalah frase yang lebih efektif untuk anak ketimbang mengatakan, ‘Maaf, ya’,” kata Payne. “Ini merupakan tindakan yang konkrit, bukan perasaan yang sifatnya abstrak.”

Sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget