Latest Post

Aksi Peduli Palestina Siswa Bina Amal
Alhamdulillah donasi sudah disalurkan langsung melalui lembaga resmi kemanusian ACT dan PKPU.

Jazakumulloh khoiron katsir kepada seluruh orang tua wali siswa yang luar biasa juga antusiasnya. Kepada semua siswa-siswi KBIT-TKIT-SDIT-TKIT 02-SDIT 02-SMPIT-SMAIT, yang penuh semangat mendukung perjuangan rakyat Palestina. Dimulai dengan sholat dhuha bersama kemudian berdoa dan pembacaan puisi tentang Palestina

Semoga sedikit ikhtiar ini, menjadi catatan amal sholih, menguatkan karakter kebaikan diri dan anak-anak kita. Aamiiin.

Berikut puisi tentang Palestina karya Taufik Ismail

Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer dengan suara gemuruh menderu,

serasa pasir dan batu bata dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor agraria, serasa kebun kelapa dan pohon manggaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau

tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi airmataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka,

menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,

siapakah yang tak menjerit

serasa anak-anak kami

Indonesia jua yang dizalimi mereka –

tapi saksikan tulang muda mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,

pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta,

jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu,

darah kamipun memancar ke atas lalu meneteskan guratan kaligrafi

‘Allahu Akbar!’ dan ‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi dusta, menebarkannya ke media cetak dan elektronika,

mengoyaki tenda-tenda pengungsi

di padang pasir belantara, membangkangit resolusi-resolusi majelis terhormat di dunia, membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser Arafat dan semua pejuang negeri anda,

aku pun berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at sedunia:

doakan kolektif dengan kuat seluruh

dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,

yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu dengan kukuh kita bacalah

‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu

Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu

Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu

Serasa terdengar di telingaku.

Palestina adalah negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia. Jangan lupakan sejarah itu!







Usamah bin Zaid bin Haritsah la juga biasa dipanggil Abu Muhammad. la memiliki gelar Hibb Rasulullah (jantung hati Rasulullah) dan Ibnu Hibb Rasulullah (putra dari jantung hati Rasulullah). Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah r.a, anak angkat Rasulullah Saw yang sangat beliau cintai. Ibunya adalah Ummu Aiman, seorang budak hitam yang mengasuh Muhammad kecil dan dimerdekakan oleh Rasulullah Saw. Zaid lebih memilih tinggal bersama Muhammad dari pada kembali kepada ayahnya, Haritsah. 

Setelah selesai Rasulullah Saw menyelesaikan haji Wada', beliau mempersiapkan pasukan muslimin untuk menghadapi tentara Romawi. Tentara Romawi dengan sadis membunuh salah seorang kepala daerah mereka bernama Farwah bin Umar Al-Judzami ketika diketahui memeluk Islam. Di antara pasukan muslim terdapat pejuang Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Umar bin Khaththab ra. Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Abul A'war Zaid bin Zaid, dan Sa'ad bin Abi Waqqash ra. 

Dari sekian banyak muslimin yang andal dalam peperangan, Rasulullah Saw memilih Usamah bin Zaid ra yang masih muda belia untuk memimpin pasukan muslimin. Usamah ra waktu itu berusia 18 tahun Tentu saja hal tersebut menuai keheranan dan protes dari sebagian kaum muslimin yang meragukan kepemimpinan Usamah ra. Mendengar gunjingan yang menyangsikan kepemimpinan Usamah r.a, 

Rasulullah Saw bersabda di hadapan kaum muslimin, "Wahai sekalian manusia, aku mendengar pembicaraan kalian mengenai pengangkatan Usamah. Apabila kalian meragukan kemampuannya dalam memimpin, mengapa kalian sebelumnya tidak meragukan kepemimpinan Zaid bin Haritsah, ayahnya? Demi Allah, jika ayahnya pantas menjadi seorang pemimpin, anak ini juga pantas menjadi pemimpin. Jika ayahnya seorang yang kucintai, anaknya juga orang yang paling kucintai sesudahnya. Mereka berdua adalah orang baik maka perlakukanlah Usamah dengan baik pula!" 

Setelah teguran tersebut, kaum muslimin yang pada awalnya meragukan keputusan beliau segera bergabung dengan pasukan Usamah ra. Saat itu mereka hendak berangkat menuju Juraf di luar kota Madinah untuk membangun perkemahan sesuai dengan perintah Rasulullah Saw. Sebelum berangkat, para pasukan terlebih dahulu menemui Rasulullah yang terbaring sakit. Ummu Aiman, menyarankan agar Usamah tidak diberangkatkan sampai beliau sehat agar tenang dalam perjalanannya. Namun, Rasulullah Saw. bersikeras dan berkata, "Biarkan Usamah berangkat sekarang juga!" 

Pasukan pun berangkat menuju Juraf dan bermalam di sana. Keesokan harinya, sebelum pasukannya bergerak, Usamah ra. menyempatkan diri untuk menengok Rasulullah Saw. yang sakitnya bertambah parah. Usamah ra. mencium wajah pucat Rasulullah Saw. dan beliau pun mendoakannya. 

Setelah itu, Usamah ra. kembali menuju pasukannya yang telah siap berangkat meninggalkan Juraf. Namun, tiba-tiba berita duka menyergap seluruh pasukan muslimin. Seorang utusan Ummu Aiman membawa berita bahwa Rasulullah Saw telah tiada. Usamah ra. segera menghentikan pasukan dan menunda keberangkatannya. Bersama Umar bin Khaththab ra. dan Abu Ubaidah bin Jarrah ra., Usamah ra. kembali menuju kediaman Rasulullah Saw. diikuti oleh prajurit-prajuritnya. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, umat Islam mengadakan musyawarah untuk mengangkat khalifah pengganti Rasulullah Saw. 

Mereka sepakat untuk mengamanahkan jabatan tersebut kepada Abu Bakar ra. Ia pun bertindak cepat untuk mengatur keberangkatan Usamah ra. Begitu pula, mengamankan kota Madinah. Pada waktu itu umat Islam ada yang setuju dan tidak setuju untuk keberangkatan pasukan Usamah, dengan alasan masing-masing. 

Menyikapi hal tersebut, Abu Bakar ra. memberikan pendapatnya, "Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seandainya aku tahu akan dimakan binatang buas sekalipun, aku akan tetap mengirim pasukan ini ke tujuannya. Insya Allah, mereka akan kembali dengan selamat. Bukankan Rasulullah Saw. telah memerintahkan untuk segera memberangkatkan pasukan Usamah? Mengenai keamanan di Madinah, biarkan Umar bin Khaththab tetap tinggal bersamaku di sini untuk membantuku. Apakah kalian setuju dengan pendapatku?" 

Keyakinan kuat yang terpancar dari Abu Bakar ra menular ke seluruh kaum muslimin sehingga mereka menyetujui pendapatnya. Tanpa membuang waktu, Usamah ra. segera bersiap untuk berangkat bersama 3.000 orang prajurit, 1.000 orang di antaranya menunggang kuda. Abu Bakar ra. mendatangi mereka untuk melepas kepergian pasukan muslimin dengan doa keselamatan. Usamah ra. yang melihat Abu Bakar ra datang dengan berjalan kaki segera turun dari kudanya untuk memberikan tumpangan kepada sang Khalifah. 

Namun, Abu Bakar ra segera mencegahnya dengan berkata, "Demi Allah, jangan turun, wahai Usamah! Aku ingin telapak kakiku ini dipenuhi debu sabilillah beberapa saat. Bukankah setiap langkah pejuang akan memperoleh imbalan tujuh ratus kebaikan dan menghapus tujuh ratus kesalahan?" 

Mereka pun berangkat diiringi doa dan duka mendalam. Meskipun Rasulullah Saw. telah tiada, hal itu tidak menyurutkan semangat jihad fi sabilillah yang berkobar dalam jiwa mereka dalam menyiarkan panji Islam. Pasukan Usamah ra. bergerak cepat meninggalkan kota Madinah dan melalui beberapa kota yang masih tetap memeluk Islam. 

Di Wadil Qura, Usamah r.a mengirim Huraits dari suku Hani Adzrah untuk memantau keadaan di Ubna yang menjadi target mereka. Dari hasil pengintaiannya, ternyata penduduk Ubna tidak mengetahui kedatangan mereka dan tidak ada persiapan untuk berperang sama sekali. Ia pun mengusulkan kepada Usamah ra agar secepatnya melakukan serangan selagi musuh lengah. Usamah ra menyetujuinya dan segera menyusun strategi penyerangan. 

Hanya dalam empat puluh hari mereka dapat menaklukkan kota tersebut tanpa jatuh korban seorang pun dengan membawa harta rampasan perang yang besar ke Madinah. Sejak saat itu sosok Usamah ra makin bersinar di mata kaum muslimin. Bahkan, Umar bin Khaththab ra memberinya hadiah lebih besar daripada apa yang ia berikan kepada putranya, Abdullah bin Umar ra. 

Ketika ditanya tentang perihal tersebut oleh putranya, Umar menjawab, "Usamah lebih dicintai Rasulullah Saw. daripada engkau dan ayahnya lebih disayangi daripada ayahmu!" 

Demikianlah  kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah Saw sebagai panglima perang dalam usia masih muda. Ini membuktikan bahwa semangat juang pemuda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan bernegara. Ini juga membuktikan bahwa Rasulullah Saw memberikan pembelajaran kepada kita tentang regenerasi.




Inilah beberapa contoh pemuda Islam di zaman salafus sholeh.

1. Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
2. Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun. Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro.

3. Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.
4. Zubair bin Awwam 15 tahun. Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya.

5. Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

6. Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun.

7. Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun. Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

8. Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

9. Muhammad Al Fatih 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.

10. Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

11.Muhammad Al Qasim 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Kisah yang tak terhitung dalam goresan sejarah Islam. Cukuplah hal itu sebagai pengingat keagungan pemuda dalam masyarakat Islam. Semoga Allah membimbing kita & anak-anak kita menjadi pemuda Islam yang tangguh.

Ayo..bangkitlah pemuda Islam...



Kejuaraan sepatu roda memperebutkan piala walikota Solo 2017 digelar, Sabtu – Ahad (22-23/7/2017). Kejuaraan tersebut diselenggarakan di Velodrome Manahan, Solo.

Menariknya juara 1 - 3 diborong Siswa Siswi SDIT Bina Amal semua

Berikut juara kompetisi sepatu roda tingkat Jateng di Solo kategori kelompok umur 8

Khilma Nafisa (Kelas 2 Maliki ) Juara 1 Kelompok Putri
Khilma nabila (Kelas 2 Maliki) Juara 3 Kelompok Putri
Muhammad Fakhri Zaidan (Kelas 2 Hanafi) Juara 2 Kelompok Putra

Barokalloh para Juara 1-3 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget