Latest Post


Setiap manusia, tidak saja orangtua tetapi juga anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. sebagai orangtua tentu bisa menjadi sahabat menjadi anak-anak yang bisa menjadi partner dalam lingkungannya. Beban pelajaran yang berat saat ini yang dihadapi oleh anak-anak disekolah semakin hari semakin cepat daripada desah nafas kita. Sebagai orang terdekat anak orangtua harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat anak, pola asuh orangtua dan keluarga sangat memengaruhi kepribadian anak. Semua berawal dari rumah. lalu bagaimana cara menjadi sahabat yang baik buat anak?.

Kita kenali dulu beberapa type menjadi orangtua, selama ini kita bergerak sesuai bahwa setiap type-type orangtua sebagai berikut :

1. Orangtua yang ditakuti refleksnya anak menjadi takut, ini pun kurang tepat dijadikan sahabat oleh anak

2. Orangtua yang ingin dihormati refleksnya anak menjadi segan hingga type ini sangat sulit untuk dijadikan sahabat

3. Orangtua yang disegani refleksnya anak menjadi enggan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

4. Orangtua yang dicintai, refleksnya anak menjadi nyaman menceritakan segala sesuatu perkembangan dalam kehidupannya.

Salah satu fase perkembangan manusia yang pertama egosentris fase ini dialami pada masa bayi sampai usia TK,. Fase serba harus dikabulkan segala keinginannya. Pada saat type ini terbawa pada usia SD atau SMP maka perilaku orang terdekat yang harus merubah perilaku hidupnya. contohnya terapkan Reward dan Funishment untuk mengurangi rasa egosentrisnya.

Sejak dari TK, SD sampai SMA pun tidak ada ilmu pembelajaran mengenai mengenal manusia secara filosofis hanya secara biologis. Coba lihat deh di kebun binatang, banyak ahli yang sengaja mempelajari tentang hewan, namun sayangnya sampai saat ini masih belum banyak ilmu yang memahami tentang menjadi manusia sejak dini. adapun ilmu mengenai manusia dikenal apabila manusia itu sendiri berminat mengetahuinya dengan cara mengambil jurusan ilmu psikologi pada tingkat pendidikan tinggi, namun tidak semua dapat mengenyam pendidikan ini dan yang terjadi dalam kehidupan manusia hanya Trial and Error. Penyebab utama adalah ketidak tahuan ilmu menjadi manusia.

Kembali ke pola asuh menjadi sahabat anak, ketidak hadiran ayah dalam pola asuh pendidikan anak-anak menurut Elly Risman, cenderung seringkali mengakibatkan pendidikan seks rentan terkontaminasi lingkungan yang kurang baik misalnya dari tontonan dan sebaran internet yang sampai pada genggaman. Peran ibu menjadi salah satu tonggak dalam pendidikan anak seperti disebutkan "ummi madrosatul ulla". Sejak dari kecil tidak banyak orangtua yang memberikan pembelajaran mengenai filosofi, cara menjadi hidup cara menjadi manusia seutuhnya, selama ini kita sebagai manusia berbicara tentang superior dan interior atau kekuasaan dan materi.

Bagaimana cara tepat untuk menjadi sahabat anak adalah dengan mencontoh hubungan kita dengan pasangan, berbicara heart to heart berbicara tentang kasih sayang begitupun dalam memperlakukan anak sebagai sahabat. Sebagai contoh kita bisa bergerak adalah berdasarkan konsep pikiran. salah satu anggota tubuh kita, tangan tidak pernah egois selalu menuruti apa yang ada dalam pikiran. Memakaikan kacamat, mengambil maknan dimasukkan ke dalam mulut itu atas dasar konsep pemikiran.

Apapun anggota tubuh yang kita miliki sebagai manusia punya filosofi didalamnya. filosofi itu mendasari setiap perilaku manusia. Hal yang sama berlaku untuk menerapkan anak sebagai sahabat. Penerapan konsep yang baik dari kedua orangtua menjadi dasar anak menuruti apa yang menjadi pemikiran orangtua, menuruti agar mereka mencintai dirinya, ayah bundanya lingkungan dan keluarganya. Dengan konsep ini anak dapat mendapat dukungan penuh dari orangtua dan mendapatkan kenyamanan untuk menvceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

Saran penulis, tanamkan sebanyak mungkin filosofi hidup pada anak-anak kita semenjak dari kandungan bukan sejak dini ya.

Semoga bermanfaat ...

Majalah Ummi


Kurang lebih 58 hari lagi Ramadhan segera hadir. Mari kita siapkan diri agar Ramadhan tidak berlalu tanpa memaksimalkan ibadah.

Dilansir dari dakwatuna.com, ada beberapa hal yang penting untuk dipersiapkan antara lain adalah sebagai berikut

Persiapan Ruhiyah. Rasulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa mempersiapkan diri untuk menyambut puasa. Aisyah pernah berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari).

Persiapan Jasadiyah. Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan sya’ban ini mari persiapkan fisik seperti olah raga teratur, membersihkan rumah, makan-makanan yang sehat dan bergizi.

Persiapan Maliyah. Persiapan harta ini bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan hara adalah untuk melipatgandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

Persiapan Fikriyah. Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan yang benar tentang Ramadhan. Mu’adz bin Jabal r.a berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.





Kita sering menganggap bahwa sikap mandiri pada anak akan terbentuk dengan sendirinya saat mereka dewasa. Mungkin saja benar. Namun tidak ada salahnya jika kita mengajarkan kemandirian pada anak sejak dini. Hal ini tentunya akan membuat si anak menjadi terbiasa, dengan begitu, sikap mandiri akan lebih cepat ditunjukkan oleh si anak.

Sikap mandiri yang ditanamkan sejak kecil akan sangat berguna bagi anak. Ia tidak akan terlalu bergantung pada orang tuanya untuk melakukan hal-hal sederhana, seperti memakai baju, memakai dan melepas sepatu, mengambil minuman, dan sebagainya. Ia juga tidak akan terlalu menuntut pada orang tuanya, shingga menghindarkan dirinya dari sifat manja yang berlebihan.

Meskipun terkesan sederhana, namun mendidik anak untuk mandiri tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak sekali hambatan yang akan ditemui oleh orang tua saat mengajarkan kemandirian kepada buah hatinya. Dan hambatan yang paling besar adalah sikap ‘tidak tega’ dan ‘tidak sabar’yang ditunjukkan orang tua terhadap anaknya.

Berbagai upaya dapat dilakukan orang tuanya untuk mengajari anaknya mandiri. 

Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mendorong anaknya menjadi anak yang mandiri diantaranya adalah:


• Beri kesempatan dan kepercayaan

Kita sebagai orang tua sering memberikan petunjuk dan perintah kepada anak untuk melakukan suatu hal. Bahkan, kadang kita ‘memaksa’ anak tersebut untuk melakukannya. Tentunya hal tersebut sebagai salah satu cara kita untuk melindungi si anak. Hal ini tidaklah salah, apabila masih dalam batas-batas yang wajar.

Namun jika kita terlalu sering memberikan perintah dan larangan pada si anak, terlebih lagi tanpa adanya penjelasan yang jelas akan hal tersebut, tentunya ini hanya akan menghambat perkembangan anak. Tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan dan kepercayaan pada si anak untuk melakukan suatu kegiatan. Selain dapat meningkatkan keprecayaan diri pada anak, hal tersebut juga akan meberikan kemandirian bagi dirinya, sehingga ia tidak akan terlalu bergantung pada orang lain. Tentunya kita sebagai orang tua tetap harus memberikan pengawasan pada si anak dalam melakukan aktivitasnya.

• Hargai usahanya

Hargailah sekecil apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya otang tua memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung sendok, misalnya. Kesempatan yang anda berikan ini akan dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.

• Memberi contoh

Anak akan selalu mencontoh, hal ini juga berlaku ketika kita ingin anak berani dan mandiri. Jika orang tua memiliki kepribadian yang tertutup misal tidak suka melakukan hal-hal yang baru, takut menghadapi tantangan sebaiknya tidak untuk terlalu mengharapkan balitanya tumbuh dengan memiliki kepribadian berani dan mandiri. Misal kita ingin anak belajar berenang sedangkan orang tua-nya sendiri takut masuk air, hal ini tentu akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Dengan memberi contoh yang konkret kepada anak, anak akan memahaminya dan semakin mudah dia menirunya. Namun jika orang tua tidak atau belum bisa memberi contoh yang konkret kepada anak, sebaiknya jangan menunjukkan “ketakutan” dan “ketidakmandirian” kepada si anak, baik secara langsung atau tidak langsung.

• Tidak terlalu memaksa

Semua yang kita lakukan untuk melatih keberanian dan kemandirian anak memerlukan waktu dan proses, hal itu dapat berkembang secara perlahan sehingga jangan kita memaksa si anak untuk menguasai segala hal yang diajarkan pada saat itu juga. Misal melatih anak untuk selalu bangun tidur langsung mandi, jangan memaksa anak saat itu juga untuk menguasai hal tersebut, perlu beberapa hari hingga lancar. Orang tua selalu dampingi dan mengingatkan si anak untuk melakukan hal yang benar tersebut. Tetapi perlu diingat agar jangan terlalu sering/keras mengkritik si anak karena hal itu akan membuat nyali/keberanian si anak akan turun/down.

• Hindari Banyak bertanya

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua , yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari sekolah, akan kesal bila diserang dengan pertanyaan – pertanyaan seperti, “Belajar apa saja di sekolah?”, dan “Kenapa seragamnya kotor? Pasti kamu berkelaihi lagi di sekolah!” dan seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima apabila disambut dengan kalimat pendek : “Assalamu alaikum... anak ibu ynag sholih sudah pulang sekolah!” Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada orang tua, tanpa harus di dorong-dorong.

• Memberi semangat dan dorongan

Semandiri apapun anak kita, ia akan tetap membutuhkan dorongan dari orang tuanya. Terlebih lagi bila anak kita sedang belajar mandiri. Dorongan semangat yang kita berikan akan membuat semangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Dan hal ini juga akan meningkatkan kemandiriannya.

Untuk memudahkan mendidik kemandirian pada anak, sebaiknya anak dilatih bertahap dari yang mudah terlebih dahulu. Setelah terbiasa, baru kemudian berlanjut ke hal-hal yang merupakan kegiatan sehari-hari. 

Beberapa cara untuk melatih anak mandiri diantaranya adalah:


1. Mintalah merapikan kamar tidur sendiri

Setiap pagi, mintalah anak untuk merapikan kamar tidurnya sendiri. Selimut supaya dilipat yg baik, demikian pula bantal dan guling. Buku dan alat tulis di meja ditata rapi. Mintalah membuka jendela agar sirkulasi udara lancar.

2. Mempersiapkan diri sebelum ke sekolah

Setiap malam sebelum tidur, pastikan anak menyediakan kelengkapan sekolah sendiri. Misalnya, baju sudah disetrika, buku-buku dan peralatan sekolah dimasukkan kedalam tas. Hal ini agar anak tidak kalang kabut pada pagi hari.

3. Ajari meletakkan barang pada tempatnya

Ajari anak meletakkan barang pada tempatnya. Karena itu sediakan rak-rak barang di sudut kamar tidur, ruang tamu dan dapur supaya anak tidak kesulitan meletakkan barang miliknya. Dengan cara seperti itu, anak mudah mengambil kembali barang itu bila diperlukan.

4. Menyiapkan makanan di meja makan

Ketika anda menyiapkan makanan dimeja makan, mintalah anak ikut membantu. Pastikan barang-barang yg di pegang anak tidak mudah pecah. Setelah makan, mintalah anak membawa piring ke tempat cuci piring sekaligus mencucinya sendiri.

5. Mintalah meletakkan pakaian kotor pada tempatnya

Mintalah anak memasukkan pakaian kotor pada tempatnya. Ingatkan, bila sembarangan meletakkan pakaian kotor, pakaiannya tidak akan dicuci. Sediakan tempat pakaian kotor, dan pastikan anak memasukkan pakaian kotor setiap hari.

6. Ajari ambil makan sendiri

Anak2 dalam masa tumbuh kembang suka makan. Karena itu siapkan makanan, termasuk makanan camilan. Ajarkan anak untuk mengambil makanan sendiri.

7. Bersih-bersih bersama di hari libur

Pada hari minggu ajari anak bersih2 seluruh rumah bersama anggota keluarga yg lain. Pilihlah pekerjaan yg harus dilakukan anak sesuai usianya. Kegiatan itu bisa dua tiga jam setelah sarapan pagi. Sesudah selesai ajak anak jalan2 untuk rekreasi.





Sukses menjadi guru tak semata-mata karena menenteng ijazah dari fakultas keguruan atau mendapat sertifikasi profesional. Guru keren di mata dan hati siswa juga beken dan dijadikan favorit karena metode mengajar asyik dan menarik. Mau tahu 20 metode mengajar yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW ? 

Salah satu faktor penting kejayaan pendidikan Rasulullah SAW adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Tentu, guru yang baik seharusnya menjadi teladan dan model bagi siswanya. Ucapan dan tindakan guru harus sejalan dan sejujurnya. 

Ingat ungkapan ini 'jangan ada dusta diantara guru dan siswa'. Nio Gwan Chung (Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec) dalam bukunya Muhammad SAW The Super Leader Super Manager menuliskan 
20 metode dan teknik pengajaran sebagai 'holistic learning methods', yaitu : 

1. Learning conditioning (meminta diam untuk mengingatkan, menyeru secara langsung dan perintah untuk menyimak dan diam dengan cara tidak langsung); 

2. Active interaction (interaksi pendengaran : teknik berbicara, tidak bertele-tele pada ucapan dan tidak terlalu bernada puitis, memperhatikan intonasi, diam sebentar ditengah-tengah penjelasan; interaksi pandangan : eye contact dalam mengajar, memanfaatkan ekspresi wajah, tersenyum); 

3. Applied-learning (metode praktikum yang diterapkan oleh guru dan yang dilakukan oleh siswa); 

4. Scanning and levelling (memahami siswa secara individu sesuai tingkat kecerdasannya); 

5. Discussion and feed-back (metode yang logis dalam memberikan jawaban dan membuat contoh sederhana yang mudah dipahami); 

6. Story telling (bercerita); 

7. Analogy and case study (memberikan perumpamaan dan studi kasus nyata di sekitar kehidupan); 

8. Teaching and Motivating (meningkatkan gairah belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi); 

9. Body language (membuat penyampaiannya bertambah terang, lebih pasti dan jelas; menarik perhatian pendengar dan membuat makna yang dimaksud melekat pada pikiran; mempersingkat waktu); 

10. Picture and graph technology (penjelasan diperkuat dengan gambar atau tulisan); 

11. Reasoning and argumentation (mengungkapkan alasan akan memperjelas sesuatu yang sulit dan berat agar dipahami oleh siswa); 

12. Self reflection (memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab sendiri suatu pertanyaan agar siswa dapat mengoptimalkan kerja otak dan mengasah pikiran); 

13. Affirmation and repetition (pengulangan kalimat dan ucapan nama); 

14. Focus and point basis ( menggunakan teknik berdasarkan rumusan-rumusan besar atau poin akan membantu siswa dalam menyerap ilmu dan menjaganya dari lupa); 

15. Question and answer metodh (teknik bertanya untuk menarik perhatian pendengar dan membuat pendengar siap terhadap apa yang akan disampaikan kepadanya); 

16. Guessing with question (penting untuk memperkuat pemahaman dan memperbesar keingintahuan); 

17. Encouraging student to ask (guru memberikan kesempatan dan motivasi kepada siswa untuk berani mengajukan pertanyaan : bertanya dapat menghapus kebodohan serta memperbaiki pemahaman dan pemikiran dan menjadi alat evaluasi guru atas cara penyampaian pelajarannya); 

18. Wisdom in answering question (menyikapi orang-orang yang mengajukan pertanyaan sesuai dengan tingkat pengetahuannya; menyikapi si penyanya dengan sikap yang bermanfaat baginya); 

19. Commenting on student question (memberikan komentar terhadap jawaban siswa); 

20. Honesty (seorang guru harus menanamkan sikap mulia berani mengakui ketidaktahuan ke dalam diri siswanya. ucapan 'aku tidak tahu adalah bagian dari ilmu') 

Wallahu a'lam bishowab

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget