Maret 2014

Siswa bina amal saat Tarhib Ramadhan
Anak-anak di usia balita mudah marah. Hal kecil apapun bisa memicu kemarahan anak di usia 2-5 tahun. Saat marah, si kecil akan menunjukkan berbagai sikap mulai dari berteriak, memukul hingga menangis.

Penyebab kemarahan anak di usia balita ini biasanya karena mereka belum bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran atau keinginan mereka. Inilah yang akhirnya menyebabkan anak yang sebenarnya anak manis bisa berubah menjadi emosi karena frustasi.

Anak juga bisa marah karena tindakan Anda, sebagai orangtuanya. Hal yang ibu anggap biasa saja atau kecil, bisa sangat penting untuk mereka. Ketika anak marah-marah ini, orangtua pun bisa ikut terpancing emosinya. Cukup banyak orangtua yang ikut frustasi menghadapi anak saat marah-marah. Kunci untuk menghadapi anak saat dia marah-marah adalah bersabar dan konsisten dengan berbagai trik untuk menenangkannya.

Agar orangtua tidak ikut terpancing emosinya, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menenangkan anak saat dia marah-marah seperti dipaparkan eHow:

1. Cari tahu apa yang membuat anak marah
Kelelahan adalah penyebab paling umum anak menjadi mudah emosi. Entah itu karena waktu tidur siangnya sudah lewat atau tidak cukup tidur di malah hari, bisa jadi penyebab dia mengalami tantrum saat beraktivitas. Selain kelelahan, lapar juga jadi pemicu kemarahan anak. Sama seperti orang dewasa, anak-anak pun bisa jadi mudah marah saat perutnya lapar. Anda perlu ingat, anak belum bisa memahami soal rasa lapar tersebut. Dia hanya merasa perutnya sakit. Jadi sebaiknya Anda selalu memberi makan anak di waktu yang sama setiap harinya atau memberinya camilan sehat di sela-sela waktu makan.

2. Pelajari rutinitasnya
Jika anak tiba-tiba saja marah, jangan langsung terpancing emosi. Pelajari dulu rutinitasnya hari itu. Apakah dia baru saja diasuh oleh pengasuh baru? Apakah Anda atau ayahnya terlalu sering meninggalkannya? Adakah anggota keluarga yang baru saja meninggal? Anak balita membagi kehidupannya dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Jadi jika beberapa bagian dari kesehariannya berubah atau orang yang dicintainta menghilang, marah menjadi hal yang paling umum dilakukannya untuk mengekspresikan ketidaknyamanan dari perubahan tersebut.

3. Jangan berteriak
Saat anak marah, akan sangat mudah untuk orangtua terpancing emosinya dan membalas kemarahan anak dengan memarahinya sambil berteriak. Jika ini yang Anda lakukan, ini akan semakin memicu anak berteriak lebih keras. Ketika ini terjadi, memang bisa saja dia akhirnya menurut. Tapi tentunya bukan cara yang tepat untuk mengatasi kemarahan anak

4. Pilih cara terbaik
Saat akan menenangkan anak yang marah-marah, pilihlah cara terbaik. Kenapa? Karena memang pada dasarnya ada berbagai cara untuk meredakan emosi anak. Bisa dengan memeluknya, membujuknya, 'mengancamnya', dan lain-lain. Tapi cara-cara tersebut belum tentu bisa diterapkan di setiap kesempatan. Apa yang Anda gunakan untuk menenangkan anak saat dia marah-marah di rumah, belum tentu bisa dilakukan ketika anak marah-marah saat diajak makan di restoran.

5. Alihkan Perhatiannya
Ketika anak marah karena suatu hal, langsung gendong anak dan alihkan perhatiannya pada hal lain. Berikan anak mainan yang lain, makanan atau minuman. Terkadang anak butuh bantuan untuk melupakan kemarahannya.

6. Diamkan
Jika Anda memilih cara ini, sebelumnya pastikan anak dalam kondisi aman, tidak ada benda membahayakan di dekatnya. Baru setelah itu Anda bisa meninggalkan anak sebentar di ruangan tempat dia marah-marah. Ketika tidak ada lagi orang yang menonton, biasanya perlahan-lahan anak akan berhenti tantrum. Pastikan Anda dan suami konsisten menerapkan cara ini sehingga anak paham kalau dia marah-marah, dirinya akan didiamkan saja.

7. Gunakan time out
Pilih tempat di rumah yang tidak bisa membuat anak bersenang-senang atau konotasinya bukanlah tempat menyenangkan. Lalu taruh kursi di pojok ruangan tersebut. Saat anak tantrum, dengan nada tenang katakan padanya kalau dia perlu mendapat timeout di ruangan itu. Katakan padanya juga kalau dia bisa keluar dari area timeout tersebut dan mendapat pelukan dari Anda jika dia sudah selesai marah-marah. Taktik ini memberikan anak kesempatan untuk meredakan tantrumnya sendiri. Tujuan Anda melakukan ini adalah untuk mengajarkan anak mengungkapkan dengan kata-kata apa yang sebenarnya membuatnya emosi.

8. Jangan menenangkan dengan memberinya hadiah
Orangtua biasanya memilih cara yang mudah untuk menenangkan anak dengan memberinya 'hadiah' Misalnya ketika anak marah-marah saat diajak berbelanja di supermarket, Anda akan berusaha mengatasinya dengan membelikannya balon. Cara ini umum dilakukan orangtua untuk menghindari malu karena anak marah atau agar dia cepat tenang.

Jika terus dilakukan, cara yang dilakukan di atas bisa memberi pemahaman yang keliru pada anak. Dia akan merasa bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan marah-marah. Saat anak tantrum di tempat umum, langsung tinggalkan tempat tersebut, meski anak masih berteriak-teriak. Cari tempat lain yang lebih tenang untuk memberinya pemahaman apa yang dilakukannya itu tidak akan menyelesaikan masalah.

9. Konsisten dan sabar
Tetaplah sabar dan konsisten menerapkan langkah-langkah di atas ketika menenangkan anak yang marah-marah. Ingatlah anak di usia balita belum memiliki perbendaharaan kata yang cukup untuk menjelaskan penyebab kemarahannya. Sehingga baginya lebih mudah untuk berteriak atau menendang ketimbang menemukan kata yang bisa menjelaskan penyebab emosinya.

Siswa Bina Amal saat Perkemahan




Percaya diri adalah modal utama dalam menjalani kehidupan ini. Sebaiknya rasa percaya diri harus sudah ditanamkan pada diri setiap anak agar kelak mereka dapat menemukan jati dirinya dan dapat mempercepatkan menemukan kesuksesannya.
Orang tua sangat berperan dalam menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. nah bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri  pada anak?

1. Berikan cinta dan kasih sayang anda dengan tulus
Didiklah anak anda dengan memberikan pujian bila mereka melakukan kebaikan. namun bila mereka melakukan kesalahan jangan memarahinya dengan begitu keras. cukup berikan penjelasan mengenai efek perbuatannya. Dengan demikian mereka akan belajar bagaimana bersikap yang benar dengan percaya diri bahwa apa yang dilakukannya itu benar.

2. Berikan perhatian.
Sesibuk apapun anda sehari – hari cobalah berikan perhatian yang lebih kepada anak anda. jangan membeda – bedakan perhatian anda  dengan saudara – saudaranya. Cara paling mudah memberikan perhatian adalah dengan menanyakan apa saja aktivitasnya di sekolah. menanyakan pelajaran yang didapatkannya selama 1 hari di sekolah.

3. Hindari bantuan secara lamngsung
Sebgai orang tua didiklah anak anda agar dapat menyelesaikan masalahnya sendirian. Jangan selalu membantunya, biarkanlah ia mengeluarkan segala kreativitasnya. Saat mengerjakan puzzel cobalah amati dan jagnan sekali – sekali membantunya sampai ia berhasil menyelesaikan puzzelnya.

4. Biarkan anak anda salah
masa kanak – kanak adalah masa untuk belajar banyak hal. Selama proses belajar tersebut anak akan mengalami banyak kesalahan. Nah tugas orang tua adalah mengajarkan dan memperbaiki kesalahan yang dilakukannya. jangan pernah marah karena mereka selalu salah. Tapi ajarkan kebenaran itu dengan tulus dan ikhlas agar mereka dapat belajar dengan baik.

5. Berikan kata – kata semangat
Saat belajar kadang – kadang anak – akan akan kehilangan semangat. Nah tuas orang tua adalah menjadi motivator bagi mereka. Berikanlah motivasi dan semangat secara rutin agar mereka dapat mencapai cita – citanya.

6. Ajarkan keadilan
Banyak kesalahan yang sering dilakukan orang tua yaitu dengan membanding – bandingkan anaknya dengan adik atau kakak – kakaknya. Nah hal ini adalah sesuatu yang berbahaya bagi masa depan seorang anak, bisa jadi anak tersebut akan nakal selama di sekolah dan lingkungannya. jadi ajarkanlah keadilan.

7. Berikan penghargaan
Berikanlah penghargaan saat anak anda telah melakukan hal – hal yang positif dan baik sehingga dapat memicu semangatnya untuk terus belajar dan berkarya.
Itulah 7 cara menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Selamat mencoba.

 

Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang (baca: semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan perbaikan.
Inilah ciri-ciri karakter tersebut :

1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling Nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.

2. Kurang terbuka pada pada Orang Tua
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.

3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.

4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering Menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.

5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama da kasih contoh berulang-ulang”.

6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah, kemanakah orangtua?



Anak-anak cenderung memilih kegiatan yang menyenangkan dan menggembirakan dibandingkan membaca, padahal membaca adalah kegiatan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pada anak nantinya. Tetapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan maka mereka akan bersemangat untuk memulai kegiatan tersebut.

Penulis buku anak terkenal, Peter Corey, menyarankan salah satu kunci sukses agar suasana kegiatan membaca dapat menyenangkan adalah bacalah bersama-sama dengan anak Anda. Membaca bersama si kecil adalah kegiatan yang positif dan edukatif, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca anak Anda.

Seperti yang dikutip dari femalefirst, Peter Corey juga memberikan tips lainnya untuk Anda meningkatkan minat baca untuk Anak Anda, yaitu:

1. Kegiatan membaca bersama lebih efektif bila dilakukan 10-15 menit setiap harinya. Bila Anda tidak menemukan waktu yang tepat selama satu hari penuh, maka manfaatkanlah waktu sebelum tidur untuk membaca bersama buah hati Anda.

2. Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan, jadi hindari memaksakan anak untuk membaca saat si kecil lelah dikarenakan banyak kegiatan. Biarkan ia memiliki inisiatif untuk memulai membaca.

3. Setelah kegiatan membaca selesai, sebaiknya gunakan waktu untuk si kecil memberikan pendapat, kesan, ide tentang cerita tersebut dan dengarkan apa yang diutarakannya kemudian diskusikan. Dengan begitu Anda dapat mengetahui apakah ia mengerti isi buku yang ia baca.

4. Gunakanlah fasilitas yang mendukung cerita, seperti nikmati setiap gambar pada buku cerita tersebut. Anak akan lebih mudah mendapatkan pemahaman dengan bantuan gambar.

5. Selalu memilih cerita yang sederhana, lucu dan menarik untuk anak. Bila perlu pilihlah buku cerita yang menjadi tema kesukaannya.

6. Tema cerita buku anak-anak sangat beragam. Jadi belilah buku tersebut di toko buku bagian khusus anak agar dapat menemukan tema cerita yang menarik.

7. Sederhanakanlah penggunaan kata-kata yang Anda ucapkan. Hindari membacakan kalimat yang panjang dan sulit dimengeri anak. Bila anak Anda tidak paham dengan alur cerita, maka gunakan bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.

8. Jangan ragu untuk menilai buku dari sampul dan siapa penulisnya. Ini dapat menolong Anda untuk memutuskan apakah buku tersebut layak Anda beli.

9. Jangan khawatir jika anak Anda ingin membaca buku yang sama setiap saat. Anak-anak biasanya menikmati kegiatan pengulangan karena dapat membantu mereka untuk lebih memahami cerita.

10. Berikanlah pujian kepada anak Anda yang telah berusaha untuk membaca. Biarkan ia tahu apa kesalahannya saat membaca. Dengan begitu, ia akan semakin sempurna dalam membaca.

Siswa Bina Amal bersama orang tuanya
Siapa yang Panik?
Sudah menjadi rahasia umum, bila anak memasuki jenjang akhir sekolah, banyak orang tua sibuk melakukan persiapan menjelang ujian akhir. Dari melakukan survei lembaga bimbingan belajar, sampai dengan mencari informasi tentang syarat masuk sekolah yang nantinya akan dituju.  Keinginan mendapatkan sekolah yang diidamkan untuk anak dan kekhawatiran bila nilai anak tidak mencukupi, membuat orang tua menjadi panik. Kepanikan orang tua inilah yang secara tidak sadar menular kepada anak, sehingga banyak anak merasa bahwa ujian akhir adalah sebuah beban, bahkan momok yang menakutkan.

Ujian Akhir Bukan Segalanya
Orang tua sering melupakan bahwa Ujian bukanlah Akhir dari Segalanya. Kepanikan orang tua membuat mereka mencari berbagai cara supaya anak bisa mendapatkan nilaii terbaik saat ujian akhir. Mereka seringkali lupa, bahwa sebenarnya ujian adalah bagian dari proses belajar anak. Jangan pernah berharap anak yang tidak pernah belajar tiba-tiba mendapatkan nilai sempurna saat ujian. Ujian akhir merupakan evaluasi terhadap pembelajaran yang dilakukan anak selama di sekolah, bukan hanya di kelas terakhir. Ujian akhir hanyalah merupakan bagian dari proses yang harus mereka hadapi untuk melajutkan sekolah.

Hindari Stres Anak
Kekhawatiran yang berlebihan membuat anak menjadi stres atau tertekan saat menghadapi ujian. Pelajaran tambahan dan bimbingan belajar menjadi tidak artinya karena anak belajar di bawah tekanan dan bayang-bayang ketakutan gagal menghadapi ujian. Apa yang yang harus dilakukan oleh orang tua supaya anak bebas stres saat menghadapi ujian? Dety Anggraeny S.Sos, Kepala Sekolah Sabilina Islamic School memberikan tips kepada para orang tua supaya :
  1. Orang tua bersikap tenang. Kepanikan orang tua bisa menular kepada anak, dan anak menjadi tertekan setiap mengingat akan menghadapi ujian akhir.
  2. Hubungi guru untuk mendapatkaninformasi mengenai ujian. Orang tua perlu mengetahui informasi mengenai materi apa saja yang menjadi ujian, jadwal ujian, dan program sekolah menghadapi ujian akhir, supaya bisa mengkondisikan anak di rumah.
  3. Membentuk iklim belajar di rumah. Iklim belajar hendaknya dibangun bukan hanya menjelang ujian saja, tapi memang menjadi keseharian di rumah. Bila anak sudah terbiasa dengan pola belajar dengan waktu-waktu tertentu, maka tidak ada lagi istilah belajar dengan sistem kebut semalam menjelang ujian.
  4. Lingkungan rumah yang mendukung. Saat anak belajar di rumah, hendaknya tidak diganggu dengan aktivitas atau suara-suara yang bisa memecah konsentrasinya seperti program televisi dan lain sebagainya.  Berikan asupan gizi yang cukup untuk anak.
  5. Berikan pendampingan. Tunjukkan bahwa keluarga mendukungnya dan mengahargai usahanya. Berikan pujian atas setiap kemajuan yang dia lakukan.
  6. Berikan motivasi positif. Bila kondisi anak belum stabil, kadang mengalami peningkatan, kadang penurunan, tetap berikan semangat kepada anak dengan pesan-pesan positif seperti, “Kamu pasti bisa!” atau “Lakukan yang Terbaik!”
  7. Bersikap Jujur. Ajarkan kepada anak untuk bersikap jujur saat mengerjakan latihan soal maupun saat ujian. Tunjukkan kepada anak, bahwa Anda menghargai hasil kerja kerasnya meski hasilnya belum sempurna. Berikan penghargaan atas kejujurannya dan tunjukkan bahwa Anda bangga saat  dia mampu melawan godaan teman untuk menyontek atau mendapatkan bocoran jawaban.
  8. Bimbinglah untuk selalu berdoa. Setelah usaha dilakukan, bimbinglah anak untuk berdoa kepada Tuhan. Kegiatan spiritual seperti melaksanakan sholat tahajud, puasa, misa kebaktian, atau doa bersama, akan mempertebal keyakinan anak dan membuat anak semakin tenang saat menghadapi ujian.
  9. Berikan kesempatan untuk bermain. Persiapan menghadapi ujian jangan sampai membuat anak kehilangan kesempatan bermain. Jadwalkan waktu-waktu tertentu supaya anak bisa menikmati hobinya seperti bermain bola, berenang, berjalan-jalan dan lain sebagainya. Bermain membuat anak merasa senang, dan otak menjadi lebih segar dan terbuka.
Orang tua memegang peranan penting supaya anak tetap tenang menghadapi ujian. Berikan pendampingan, motivasi, dan pemahaman bahwa ujian bukanlah akhir dari segalanya, tapi proses menuju jenjang selanjutnya

Penyaluran Nasi bungkus kepada korban banjir
Alhamdulillah Yayasan Wakaf Bina Amal telah menyalurkan bantuan bencana banjir kepada mereka pada korban dalam berbagai bentuk kegiatan. Kami mengucapan terimakasih kepada masyarakat yang telah berpartisipasi memberikan bantuan dan donasi melalui Yayasan Wakaf Bina Amal.

Berikut ini kami lampirkan laporan keuangan donasi dan penyaluran Bantuan Bencana Banjir Semarang :

Lihat Laporan

Siswa Bina Amal memilih membaca di Perpus saat Istirahat
Anak hobi jajan tentunya sangat membuat para orangtua kewalahan untuk mengendalikannya. Apalagi jika anak-anak sering jajan sembarangan. Anak yang hobi jajan ini akan mempengaruhi anak berprilaku konsumtif.

Jika anak yang sering sekali hobi jajan otomatis anak dengan sendirinya menjadi orang berprilaku konsumtif pada usia dewasa nanti. Sebagai orangtua tentunya harus menekan kebiasaan anak yang sering jajan di luar ketimbang makan-makanan sehat yang disajikan di rumah.

Salah satu hal yang menjadi penyebab anak sering jajan di luar, lantaran makanan yang disajikan di rumah tidak berselera atau merangsang anak untuk makan. Padahal makanan yang dibuat sendiri jauh lebih sehat ketimbang jajanan di luar. Atau penyebab lainnya adalah prilaku orangtua yang terlalu royal di depan anak, sehingga anak akan mudah terpengaruh dengan prilaku yang ditunjukan orangtuanya.

Jaminan kesehatan saat anak jajan di luar memang tidak bisa dipertimbangkan, pasalnya orangtua sering lepas kontrol dalam mengawasi anak jajan di luar, apalagi ketika mereka berada di sekolah.

Demi mengatasi hal ini, maka para orangtua khususnya para ibu lebih pandai dalam mengatur pola jajan anak di luar:

Membuat Makanan Kesukaan
Membuat makanan enak yang disukai anak merupakan hal utama yang bisa dilakukan orangtua, untuk mengehentikan kebiasaan anak jajan di luar. Sebagai ibu sudah sepatutnya untuk bisa menguasai urusan dapur, khususnya membuat makanan enak. Dengan begitu, ketika anak pergi untuk beraktivitas ada baiknya untuk membawakan bekal makanan anak yang sudah dibuat sendiri dari rumah.

Memberikan Pemahaman Efek Buruk Jajan di Luar
Memberikan beberapa contoh gejala penyakit yang disebabkan makanan jajanan, akan memberikan pemahaman anak tentang efek buruknya jika jajan sembarangan. Dengan begitu anak akan merasa takut, apabila dirinya jajan sembarangan.

Memberikan Uang Jajan Secukupnya
Memberikan uang jajan secukupnya mampu menekan prilaku anak yang hobi jajan. Dengan begitu anak tidak bisa royal dengan uang yang mereka miliki.

Justru orangtua bisa mengalihkan sisas uang jajan anak untuk menabung. Pemahaman ini penting karena, secara tidak langsung anak akan menjadi seorang yang hemat.

Batasi Keinginan Anak untuk Membeli Sesuatu
Banyak iklan yang mengiurkan anak untuk jajan, misalnya saja ketika anak melihat iklan permen atau es krim yang ada di telivisi dan dirinya meminta untuk dibelikan produk tersebut. Sebagai orangtua jangan langsung mengabulkan keinginan mereka, berikan anak suatu janji ketika ingin membeli produk tersebut.

Sebagai contoh "Adik boleh es krim itu asalkan makannya tidak boleh banyak dan sebelum makan itu adik makan sayur ini dulu". Dengan melakukan perjanjian itu maka anak akan menuruti kemauan orangtua agar keinginannya dikabulkan. (jun)

Siswa Bina Amal saat acara perkemahan
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membuat anak kita menjadi kreatif  dan Cerdas, lakukanlah berbagai hal yang sederhana dengan anak kita tercinta, tidak butuh sesuatu yang mahal, yang di perlukan adalah kreatifitas dan kemauan kita untuk membuat ruang bagi anak-anak tercinta melakukan aktifitas yang menyenangkan, sekaligus mampu membangun anak menjadi kreatif dan cerdas.

Dirumah kita biasanya ada keretas-keretas sisa kita mencetak (nge-print) tidak terpakai, nah biar ada manfaatnya gunakanlah keretas tersebut sebagai media anak-anak kita untuk menjadi lebih kreatif dengan menulis dan membuat gambar pada keretas yang kita tempel di dinding rumah. menulis dan menggambar adalah aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak, biasanya anak-anak kita mencoret-coret dimana saja seperti di dingding rumah. tentu ini adalah salah satu solusi agar tembok rumah kita tidak kontor oleh coretan tangan kreatif anak-anak kita tercinta.

Menyediakan ruang bagi anak-anak kita untuk kreatifitas adalah bagian upaya terpenting untuk membangun anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. coba lakukanlah di rumah anda, rasakan bagaimana Indahnya rumah kita di hiasi dengan berbagai kreatifitas yang anak-anak kita telah hasilkan. mereka akan lebih cepat bisa menulis, menggambar, membaca dan menuangkan ide dan gagasanya lewat coretan kreatifnya.

Tidak ada anak yang merasa terpaksa untuk belajar menulis dan menggambar dan jangan memaksa mereka untuk menulis dan menggambar, karena hal itu akan secara alami tumbuh dari diri mereka, asal kita orang tua mau membimbingnya.

Belajar Origami dengan Mr Raj
Pengetahuan bukan hanya ada di buku pelajaran dan guru, namun ilmu pengetahuan sangatlah luas. Apalagi di era globalisasi dimana perkembangan zaman sangatlah cepat, perkembangan iptek juga lebih cepat perkembangannya. Untuk itu agar para siswa memiliki pengetahuan yang global, Sekolah Bina Amal tidak jarang mendatangkan guru tamu ke sekolah.

Selain mengusir kejenuhan siswa dengan rutinitas sekolah, guru tamu kadang juga dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan baru. Mereka bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Sehingga diharapkan para siswa semakin haus dengan ilmu.

Pengetahuan itu sangatlah luas, banyak potensi di siswa yang harus di kembangkan. Kreatifitas anak sebenarnya akan mudah muncul apabila di berikan peluang.

Siswa Bina Amal bersalaman dengan guru
Mari kita ajari si kecil apa artinya toleransi dan rasa hormat kepada orang lain yang bisa saja menganut pemahaman berbeda darinya.
Toleransi adalah kemampuan seseorang untuk menerima perbedaan dari orang lain. Hal ini baru bisa dilakukan oleh seseorang jika ia sudah merasakan dan memahami keterikatan, regulasi diri, afiliasi, dan kesadaran. Ketika ia sudah mampu menjaga hubungan yang sehat dan dekat, merasa berada dalam sebuah kelompok, serta merasa nyaman di dalamnya, juga mampu menilai sebuah situasi, melihat kekuatan, kebutuhan, dan ketertarikan orang lain.
Rasa hormat, merupakan kemampuan untuk melihat serta merayakan nilai di dalam diri kita dan orang lain. Butuh emosi, kognitif, serta kematangan sosial. Membangun rasa menghormati adalah tantangan seumur hidup, namun prosesnya dimulai sejak dini.
Berikut adalah hal yang perlu diingat oleh orangtua mengenai cara mengajarkan toleransi dan rasa hormat pada orang lain kepada anak oleh Bruce D. Perry, M.D, Ph.D, profesor di Thomas S. Trammell, Texas, Amerika.

Rasa aman
Toleransi dan rasa hormat tumbuh ketika anak merasakan keamanan. Ada dua faktor dalam diri anak untuk merasakan keamanan dalam dirinya. Pertama, adalah ia harus merasa bahwa dirinya spesial, berharga, dan diterima. Jika ia merasa diterima oleh orang lain, akan lebih mudah untuknya bisa menerima orang lain.
Yang kedua adalah level keterancaman anak dalam situasi baru. Otak memiliki sistem saraf yang menilai dan merespon pada ancaman potensial. Otak secara langsung akan memroses pengalaman baru sebagai hal yang negatif dan menilainya sebagai ancaman hingga terbukti kebalikannya. Jika ia berada dalam lingkungan yang ia kenal, pengalaman baru akan dinilainya sebagai keadaan aman dan menarik. Namun, jika keadaannya tak ia kenal dan mengancam, ia akan menilainya sebagai keadaan menakutkan.

Menghormati diri
Dalam hidup, kita pasti pernah merasa rendah diri dan tidak diingini. Ini adalah hal yang wajar. Dalam hidup, kita akan bertemu banyak orang. Semua orang tersebut akan kita jadikan parameter untuk menilai diri kita sendiri. Dari cara mereka memberi perhatian, dukungan, pujian, akan membuat kita merasa positif. Namun, saat seseorang memberi komentar negatif dan perasaan disakiti, kita akan menilai diri sebagai orang yang tak menarik dan inkompeten. Begitu pun anak kita.

Anak yang butuh dorongan
Anak yang tak bisa bertoleransi akan menjadi tipe orang yang main hakim sendiri terhadap orang yang tidak serupa dengannya. Alhasil, ia akan cenderung mengejek orang lain, usil, bahkan bully atau jahat kepada anak lain. Anak yang tak memiliki kemampuan bertoleransi akan merasa insecure terhadap statusnya, kemampuannya, kepercayaannya, dan nilai yang ia miliki.

Sementara anak yang punya masalah dengan rasa hormat akan terlihat sebagai anak yang sulit bekerja sama, dan sulit menerima saudara kandungnya, orangtuanya, dan otoritas orangtuanya. Kebanyakan, anak semacam ini memiliki masalah dengan rasa hormat kepada diri sendiri dan tak percaya diri. Namun ia akan menutupinya dengan kesombongan dan membanggakan kekuatan serta kemampuannya. Hal-hal ini ia lakukan untuk menutupi kerapuhan dirinya.

Ciri-ciri lain adalah ketika anak mulai mengatakan, "Aku payah", "Aku nakal", "Aku enggak bisa bikin itu", "Aku bodoh", atau "Rafa lebih pintar dari aku". Anak yang rendah diri akan membatasi dirinya untuk berkembang. Ia tak mencoba cukup keras, hingga pada hasilnya, ia akan ketinggalan dari teman-temannya, lalu menilai rendah dirinya sendiri.
Yang bisa dilakukan:
  • Buat anak merasa bahwa dirinya spesial, aman, dan dicintai. Jangan menghemat kata-kata pujian saat ia memang melakukan hal yang baik dan membanggakan. Anak yang dikasihi akan belajar mengasihi orang lain.
  • Ciptakan sarana belajar tempat baru, orang-orang baru, dan budaya berbeda. Paparkan si kecil pada banyaknya perbedaan di dunia ini. Ada banyak buku, makanan, event budaya dan perayaan untuk dikenalkan padanya. Ajak ia ke acara-acara budaya, kenalkan ia akan ritual agama lain. Ajar anak untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda darinya dengan cara yang sehat. Tak ada yang salah kok dari perbedaan, asal saling menghormati dan toleransi.
  • Gunakan komentar positif untuk membentuk sikap si anak. Hindari penggunaan kata-kata "menuduh", seperti "Jangan begitu, dong!" Coba gunakan kata-kata alternatif yang mendidik tetapi tidak menyuruh dan membuatnya merasa rendah diri, misal, "Yang lembut ke adik, ya, dia masih kecil, gampang terluka."
  • Tunjukkan caranya. Anak akan belajar untuk bersikap lebih baik, sensitif, dan menghormati orang lain dengan melihat Anda, orangtuanya, berdiskusi, berpikiran terbuka, dan menghargai orang lain (tidak pula menjelek-jelekkan orang lain karena golongannya berbeda dengan Anda)

Siswa Bina Amal Pemenang Lomba



Motivasi belajar sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi seorang anak.  Dalam hal ini, anak membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat, seperti orangtua, guru di sekolah maupun lingkungan keluarga yang sering berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari si anak.  Idealnya kita bukan hanya sebagai penentu aturan bagi anak, tetapi bisa lebih dari itu yaitu sebagai fasilitator dan motivatornya anak-anak. Sebagai fasilitator bahwa kita mampu memfasilitasi hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, baik secara fisik dan mental. Sedangkan menjadi motivator, bahwa kita harus mampu menstimulasi dan memberikan motivasi kepada anak agar mereka bisa mencapai prestasi lebih dari yang sekarang sudah mereka raih.
Berikut ini ada beberapa cara memotivasi yang baik bagi anak, yaitu :

Mengakui prestasi yang dilakukan anak
Berilah penghargaan atas prestasi yang berhasil dilakukan oleh anak. Bila kita mau memberikan penghargaan untuk  anak walaupun dari hal kecil sekalipun, akan membangkitkan motivasi mereka untuk melakukan hal-hal yang lebih besar lagi.  Misalnya ketika anak berhasil memakai baju sendiri, tetapi terbalik. Jangan anggap remeh prestasi mereka, apalagi kita sampai berkomentar yang merendahkan mereka “Ah, begini saja kok gak bisa!”,  “katanya bisa pakai baju sendiri, kok begini saja terbalik ?”.
Padahal bagi seorang anak yang baru belajar memakai baju sendiri, tentu bukanlah hal yang mudah untuk mengkoordinasikan antara motorik halus dan kasar. Komentar bijaksana, seperti “Ayo, Nak. Sedikit lagi kamu pasti bisa pakai baju sendiri.”  Membuat anak merasa dihargai usahanya dan mendapat dukungan orang tuanya untuk melakukan prestasi yang lebih dari itu. Bila mereka berhasil memakai baju dengan sempurna, tidak terbalik lagi, ini merupakan satu prestasi lain yang berhasil mereka lakukan

Jangan membandingkan anak dengan orang lain
Hindari memotivasi dengan cara membandingkan prestasi anak dengan prestasi temannya. Misalnya “Tuh, contoh dong si Dita.. dia saja bisa dapat A, … masa kamu nggak..” Kalimat-kalimat seperti ini dapat langsung menjatuhkan mental anak.  Bila kita mau membuat perbandingan, bandingkanlah si anak dengan dirinya mereka sendiri. Misalnya, “kemarin kamu berhasil mendapat A, kok sekarang nggak ya?” Jadi yang dibandingkan adalah ia dengan dirinya saat berprestasi bukan dengan prestasi orang lain sehingga tidak akan tersinggung.

Jangan mengklaim prestasi anak sebagai hasil kerja orang tua
Ketika anak mendapatkan nilai bagus di sekolah, seringkali orang tua mengatakan “Anaknya siapa dulu dong… Anak Mama…” Seolah prestasi itu bukan merupakan hasil karya dan kerja keras si anak, tetapi karena “Anak Mama.”
Bertanyalah ketika anak tidak berprestasi
Ketika anak sedang tidak berprestasi sebaiknya orang tua tidak memberi nasihat tetapi bertanya dan mendengarkan jawaban mereka. Misalnya ketika nilai anak turun, orang tua bisa bertanya “kenapa ya, nilai Dita turun?”.   Bila anak tidak mau menjawab, jangan dipaksa. Tunggulah saat yang tepat, misalnya ketika si anak sedang santai. Kita bisa bertanya lagi untuk hal yang sama. Mencobalah untuk empati dengan apa yang mereka ceritakan agar kita benar-benar tahu permasalahannya. Ketika anak sedang bercerita sebaiknya jangan dipotong atau memberikan komentar seperti “Ah, itu sih bisa-bisanya kamu aja”,   “kamu ngeles yaa?”,  atau  “Kalau itu,  karena kamunya aja yang malas.”
Jadikan posisi kita sebagai orang tua yang siap membantu atas permasalahan anak bukan hanya sekedar mengatur atau mendikte mereka saja. Kalau mereka sudah selesai bercerita, kita bisa tanyakan “Apa yang bisa mama bantu, Nak ?” atau libatkan peran mereka untuk bisa berpendapat dan mengeluarkan idenya atas kasus yang dialami oleh si anak itu sendiri, misalnya dengan menanyakan,  “Lalu menurut kamu bagaimana solusi yang terbaik ya sayang?”
Bila si anak minta nasihat dari kita, barulah kita bisa sharing, berbagi pengalaman dengan memberikan contoh-contoh masalah yang pernah kita alami pada masa kecil.  Kita juga bisa memberikan contoh pengalaman orang lain yang pernah mengalami hal serupa dengan anak kita.

Membuat surat rahasia
Untuk memberikan motivasi anak, kita bisa membuat surat rahasia yang hanya diketahui oleh orangtua dan anaknya. Misalnya, “Nak, Mama mempunyai surprise untuk kamu, mama telah meletakkan sebuah surat di bawah bantal tidurmu, yang tahu isinya hanya mama dan kamu, nanti sebelum tidur kamu baca ya”.   Isi surat tersebut bisa berupa kalimat penyemangat dan  pujian untuk mereka berkaitan dengan kegiatan belajar dan sekolahnya.

Tidak memotivasi berlebihan
Anak yang sudah termotivasi, memiliki efek tekanan yang tinggi. Semakin dimotivasi, semakin tinggi beban yang ia tanggung. Hal ini justru akan mengganggu prestasinya. Oleh karena itu sebaiknya orang tua tidak perlu memotivasi lagi bila kondisi anak sudah termotivasi agar mereka tidak merasa terbebani.  Misalnya “Ma, aku ingin dapat nilai 100.”   Mintalah mereka untuk lebih santai,  “Tenang saja Nak, kalau dapat 100 bagus, kalau nggak juga nggak apa-apa.” Dengan begitu anak akan lebih merasa nyaman dan tetap termotivasi.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget