April 2015


Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan lebih dari 1 miliar anak berisiko kehilangan pendengaran akibat mendengarkan musik dengan volume tinggi. Untuk menandai hari Perawatan Telinga Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Maret lalu, lembaga PBB tersebut mengimbau orang tua agar memastikan anak-anaknya menurunkan volume saat mendengarkan musik, untuk mencegah kerusakan permanen pada pendengaran mereka.

Mendengarkan musik dengan keras, bila dilakukan secara berulang-ulang, dapat merusak sel-sel sensorik sehingga kerusakan pendengaran tak dapat lagi disembuhkan.  WHO mengatakan, level suara yang tidak aman bisa bermacam-macam, mulai dari level suara 85 desibel selama 8 jam per hari, atau 100 desibel selama 15 menit.

WHO mengatakan bahwa ada beberapa langkah mudah untuk melindungi anak-anak dari tingkatan suara yang tidak aman. Salah satunya adalah dengan mengenakan penyumbat telinga (ear plugs) saat menghadiri konser (Jangan salah, saat ini sudah banyak bayi yang dibawa mama papanya nonton konser musik!).

Sedangkan pada anak yang sudah mendengarkan musik lewat alat pemutar musik atau gadget, selain menurunkan volume, penggunaannya juga sebaiknya tak lebih dari satu jam sehari. Sebagai ‘bantuan’, Anda juga bisa mengunduh aplikasi yang dapat memantau level suara yang aman di gadget anak.


Memasuki usia 5 tahun ke atas, anak sudah mulai aktif memilih makanan, anak usia ini juga sudah mulai aktif melakukan kegiatan fisik yang menguras banyak energi. Bertambahnya tinggi badan yang signifikan terjadi di masa ini. Karena itu, vitamin dan mineral yang bermanfaat untuk memberikan energi ekstra sangatlah penting. Beri anak asupan kalsium yang baik, perlu Anda ketahui bahwa kekurangan kalsium pada anak dapat meningkatkan risiko osteoporosis di kemudian hari.

Bagi anak usia sekolah, makanan seimbang yang memadai dari segi kualitas dan kuantitas, olahraga teratur, dan gaya hidup yang baik juga bersih dapat memengaruhi tumbuh kembangnya. Menurut Dr. Budi Purnomo, SpA (K) dari RSAB Harapan Kita, defisiensi zat besi pada anak usia ini dapat menurunkan HB dan IQ anak walau tidak drastis. Dr. Budi menambahkan bahwa jika anak kekurangan zat besi maka ia akan terlihat lesu dan rentan infeksi, berikan makanan seperti hati sapi untuk menghindari risiko ini. “Defisiensi zat besi pada ibu hamil dapat membuat bayi kekurangan sel-sel otak dan oksigen sehingga berisiko mengalami disfungsi otak. Zinc yang tergolong dalam mineral juga tidak boleh dilupakan karena defisiensi zinc dapat menyebabkan gangguan proses belajar dan daya ingat anak,” tambah  Dr. Matheus Tatang Puspanjono, SpA, dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk.


Yang namanya di-bully, bisa terjadi karena alasan apa pun, bahkan yang tidak masuk akal sekali pun. Tapi, menurut penelitian, anak-anak yang kegemukan dan anak-anak yang kurus-kecil lebih berisiko menjadi korban bullying.

Sering terjadi, olok-olokan soal bentuk tubuh itu akhirnya membuat anak mempunyai masalah dengan body image. Body image berkaitan dengan bagaimana seseorang memaknai bentuk tubuhnya. Dan, bagaimana anak memaknai bentuk tubuhnya akan memengaruhi bagaimana ia memaknai diri seutuhnya. Jika ia memaknai tubuhnya secara negatif, kepercayaan dirinya akan rendah dan lebih besar kemungkinan mengalami depresi.

Bagi anak yang gemuk (dan bagi tiap orang yang kegemukan atau pernah gemuk) menurunkan berat badan bukan tugas yang mudah. Ditambah ejekan dan bullying, ‘tugas’ itu semakin susah. Parahnya lagi, bukan hanya para ‘mean girls’ yang melakukan bullying. Sebuah penelitian menemukan, orang tua, saudara, guru, dan teman akrab bisa juga ikut mem-bully tanpa disadari. Mungkin niatnya baik, sehingga orang tua, tante, atau nenek merasa ‘berhak mengomentari’ berat badan si kecil, apa yang dimakan, dan aktivitasnya untuk ‘menyadarkan’ dan memotivasi anak mencapai berat badan sehat. Sayangnya, komentar itu sering kali terdengar sebagai kritikan yang menghakimi. Anak pun sedih dan kesal.

Banyak juga penelitian yang menemukan, anak yang kegemukan dan sering diolok-olok justru makin enggan berolahraga dan beraktivitas fisik. Masalahnya bukan karena mereka malas, tapi lebih karena khawatir akan menjadi bahan tertawaan di lapangan atau playground. Mereka takut ‘ditonton’ saat berlatih, apalagi dengan tatapan meremehkan soal seberapa cepat mereka bisa berlari atau bisa tidak melompat seperti anak-anak lain.

Jika anak diolok-olok soal bentuk tubuhnya, baik itu gemuk atau kurus, cobalah berempati padanya. Misalnya, dengan berkomentar, “Aduh, kamu pasti sakit hati, ya, Sayang?” Tapi, jangan menyangkal bahwa si kecil memang punya masalah berat badan. Pilih momen yang pas untuk mengobrol soal berat badan, seperti saat berbelanja bersama di supermarket. Kalau anak sudah lebih besar, boleh juga beri ‘pendahuluan’ beberapa hari sebelumnya dengan membahas artikel-artikel kesehatan di majalah dan internet bersamanya.
Saat membahas masalah berat badan dengan anak, tegaskan bahwa bentuk tubuhnya itu bukan salah mereka. Hati-hati, ya, Ma! Jangan sampai Anda mengaitkan tubuh langsing dengan kecantikan dan kesuksesan. Pastikan si kecil paham bahwa masalah berat badan, baik itu kelebihan atau kekurangan berat badan, merupakan masalah kesehatan.



Pernahkan anak Anda yang sudah duduk di sekolah dasar lupa mengerjakan PR? Lupa membawa barang penting ke sekolah? Atau sederhananya pernahkan mereka bilang, “oh, iya lupa?” Atau saat Anda bertanya, “di sekolah belajar apa saja?” kemudian ia blank dan menjadi tidak komunikatif? Waspada! Itu tandanya memori anak Anda kurang kuat. Sebaiknya jangan dibiarkan.

Berpikir adalah proses yang rumit. Anak usia 6 sampai 8 tahun sedang berkembang otak dan cara berpikirnya. Ia perlu waktu beberapa saat untuk mengumpulkan informasi. Kemampuan mengumpulkan informasi dalam waktu beberapa detik disebut short-term memory, kemudian kemampuan mengumpulkan dan memanipulasi informasi disebut active working memory, tahap berpikir berikutnya yang lebih lama disebut long term memory. Sebagai contoh, saat anak diminta meng-copy kata dari papan tulis. Pertama-tama mereka harus mengingat urutan kata yang ditulis kemudian mereka harus menulis kata tersebut di kertas supaya hafal. Bergumam dan mengatakan kata-kata tersebut dengan keras akan membantu mereka mengingat.

Semakin sering anak-anak melatih otot berpikirnya, akan semakin mudah menerima pelajaran di sekolah. Inilah beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir anak.

Buat Pertanyaan Spesifik


“Hasil penelitian menyatakan, orang tua punya pengaruh jangka panjang bagi perkembangan memori anak dengan cara sering memberikan banyak pertanyaan yang spesifik saat mereka kecil,” kata Catherine Haden, Ph.D, guru besar psikologi dari Loyola, University Chicago. Contoh: usai dari kebun binatang, tanyakan pada anak Anda, “apa warna binatang favoritnya?” atau tanyakan, “seperti apa bentuk kandang burung elang? upaya memberikan pertanyaan detail akan membantu ingatannya.

Lakukan Permainan yang Berhubungan dengan Ingatan

Bermain kartu akan melatih konsentrasi anak. Atau saaat di mobil, buatlah permainan sederhana seperti mengatakan “saya akan pergi ke kebun binatang, di sana saya akan melihat binatang…..” biarkan anak melengkapi kalimat tersebut. Sebelumnya mereka harus mengikuti kata-kata yang Anda ucapkan.

Lakukan dengan Gerakan

Aktivitas melihat atau mengamati akan membantu menguatkan pikiran si kecil. Contoh, saat mengajarkan arah kiri coba minta kedua tangan anak Anda membentuk huruf L (left=kiri). Atau saat bilang kanan minta tangan kanannya menunjuk arah kanan. Atau gunakan alat peraga untuk mengajarkanya benda-benda yang ada di rumah seperti handuk, sapu, atau lampu.

Lakukan Terlebih Dahulu yang Lebih Berat
Jika diberi tugas membaca puisi tanpa menggunakan teks oleh sekolahnya, bantu si anak dengan cara menghafal bagian puisi yang kata-katanya panjang lebih dahulu. Jika anak terbiasa dengan sesuatu yang berat, saat diberikan yang ringan, ia akan cepat mengingat.

Latihan, latihan, latihan
Buatlah kuis mengenai susunan huruf dan angka dalam tabel. Kemudian minta mereka menyebutkan angka-angka dan huruf yang ada di tabel tersebut tanpa melihat. Usai mengetes kemampuan mengingatnya, mita mereka menulis kata yang paling sulit diingat di tabel itu. Si anak akan merasa kalau berpikir adalah proses aktif. Saat mereka bisa menyebut semua angka dan huruf dengan benar, mereka akan minta yang lebih sulit lagi, artinya memorinya akan terus dilatih.


Anak kelebihan berat badan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan. Tapi, apakah itu berarti lebih baik anak kurus dibanding gemuk? Mengatasi kegemukan memang lebih sulit ketimbang mengatasi 'masalah kurus'. Tapi, hal ini tergantung juga... apakah anak memang kurus atau hanya terlihat kurus.

Untuk memastikannya, sama seperti metode untuk memastikan apakah anak kegemukan, yaitu dengan membuat plot berat badannya di kurva pertumbuhan berat badan dan tabel Indeks Massa Tubuh. Yang pasti, anak yang kekurangan berat badan akibat kurang asupan nutrisi lebih rentan terserang penyakit dibanding anak dengan berat badan normal.
Sistem imunitas tubuh yang harusnya melawan kuman penyakit dan melindungi tubuh si anak akan lebih lemah jika asupan gizi dan berat badannya kurang. Peneliti Ayodele Ogunleye dan Gavin Sandercocok dari University of Essex menemukan, anak yang berat badannya di bawah normal juga lebih berisiko terkena osteoporosis.

Yang paling dikhawatirkan adalah berat badan kurang bisa juga menyebabkan tinggi anak badan rendah dan gagal tumbuh. Tapi,  sekali lagi, untuk memastikannya, perlu pantauan serius dengan melihat kurva pertumbuhan anak, bahkan konsultasi dengan dokter. Dokter akan memeriksa asupan nutrisi dan ada tidaknya kelainan organ tubuh. Jika perlu, akan dilakukan berbagai pemeriksaan untuk mencari penyebab berat badannya tidak bertambah, seperti pemeriksaan darah untuk melihat ada tidaknya anemia (kekurangan sel darah merah), kecukupan zat besi, ada tidaknya infeksi, pemeriksaan hormon, pemeriksaan bone age, dll.

Bila dari hasil pemeriksaan anak tidak didapati penyakit atau kelainan fungsi tubuh yang mengganggu perkembangannya, Anda harus meningkatkan asupan nutrisinya melalui pemberian makanan tinggi kalori. Cobalah lebih sering memberinya makan, seperti 6 kali sehari. Pastikan jenis makanannya juga bergizi, mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral yang cukup. Hanya karena anak underweight, ini tidak juga berarti ia boleh sepuasnya melahap junk food dan fast food tiap kali makan, lho.


Jangan buru-buru cemas kalau anak sering terlihat melamun. Selama melamun tidak mengganggu aktivitasnya sehari-hari, ternyata banyak juga lho, manfaatnya. Coba saja lihat beberapa poin di bawah ini.
  • Menjadi sumber kesenangan anak khususnya saat mereka sedang tidak bahagia dengan kehidupan nyata. Jadi, melamun bisa menjadi salah satu cara mengurangi stres di mana dalam lamunan semua terlihat indah dan menyenangkan hati.
  • Menjadi pemenuhan sementara dari keinginan yang tidak bisa dicapai anak (wish-fulfillment experience). Misalnya, anak dilarang main basket di suatu sore, maka lewat lamunan dia bisa seolah berada di lapangan sedang main basket.
  • Mengalami ketertarikan dan keasyikan tersendiri yang di dunia nyata tidak dia temukan. Contoh, anak bisa melamunkan perjalanan yang menantang bak Indiana Jones.
  • Menjadi media untuk katarsis (pencurahan beban emosi) bagi anak. Contoh, anak yang takut tampil di depan banyak orang akan melamun berani tampil di depan banyak orang. Jadi, anak seolah melakukan ‘latihan’ sebelum benar-benar mempraktekkan.
  • Merangsang kreativitas. Lewat lamunan, tidak jarang anak memperoleh ide-ide cemerlang. Misalnya, anak mewujudkan lamunan dalam bentuk gambar atau karya nyata lain.


American Academy of Pediatrics baru-baru ini menciptakan panduan baru untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dimulai dari masa kanak-kanak, termasuk rekomendasi berikut ini.

Usia 2 tahun ke atas. Dokter akan mengukur tinggi, berat, dan body mass index (BMI) si kecil setiap kali Anda membawanya untuk mengontrol kesehatan. Mintalah dokter membahas hasilnya bersama Anda, dan jika perlu, utarakan perubahan pola makan dan aktivitas apa yang dapat bermanfaat untuk anak Anda.

Usia 3 tahun ke atas. Tekanan darah anak Anda harus diperiksa setiap tahun. Sebagaimana BMI, mintalah dokter agar mendiskusikan hasil pemeriksaannya dengan Anda.

Usia 9 sampai 11 tahun. Disarankan untuk melakukan skrining kolesterol pertama. Anak Anda mungkin perlu diperiksa kadar kolesterolnya selekas mungkin bila dia memiliki orang tua yang memiliki kadar kolesterol 240 atau lebih atau memiliki hubungan yang relatif dekat dengan orang yang terkena serangan jantung atau stroke sebelum usia 55 tahun (pada pria) atau 65 tahun (pada wanita).


Disiplin tidak harus terasa negatif, kata pengarang buku dan DVD yang berjudul The Happiest Toddler on the Block, Harvey Karp MD,  dengan tegas.
  •     Menyerah kepada keinginan anak –dalam  fantasi. Lain waktu jika anak Anda melawan Anda, misalnya ketika ia mau berangkat ke sekolah, Dr.Karp menyarankan Anda mengatakan sesuatu seperti, “Wow, Apakah kamu benar-benar tidak ingin berangkat sekolah? Bukanlah nanti di sekolah akan menyenangkan mewarnai gambar dan bermain di playground?” Kemudian jelaskan bahwa Anda akan tetap berada di sana selama lima menit sampai guru berkata sudah waktunya Anda meninggalkannya.
  •     Suplailah lebih banyak pengajaran “Jika Anda menginginkan lebih sedikit menyetrap anak,” kata Dr.Karp, ”Anda harus memberikan lebih banyak waktu untuk kasih sayang.” Berilah banyak pelukan, sentuhan lembut, senyuman, dan perhatian kepada anak sepanjang hari. Biarkan batita Anda memunyai kemenangan kecil selama saat-saat yang menyenangkan, dan Anda akan mengurangi saat-saat yang tidak menyenangkan.


Meski Anak terbiasa makan dengan porsi superbesar, Anda tetap bisa memulai kebiasaan baru dengan memberikannya porsi makan normal, Ma. Beberapa langkah di bawah ini bisa Anda coba:

- Sajikan makanan dalam piring berukuran lebih kecil untuk membuat hidangan tampak lebih banyak.

- Jangan biarkan anak membawa sekantong keripik kentang atau satu kotak es krim untuk menemaninya menonton televisi. Sebagai gantinya, ambilkan camilan tersebut dalam wadah kecil setiap kali ia hendak menyantapnya.

- Memberikan potongan buah dan sayuran sebelum acara makan dimulai adalah cara cerdas untuk mencukupi kebutuhan vitamin anak serta mengendalikan porsi makannya.

- Hati-hati ketika Anda makan di luar rumah. Pasalnya, jumlah porsi dalam menu restoran sering kali jauh lebih banyak daripada porsi ideal, bahkan bisa sampai dua kalinya atau lebih. Untuk menyiasatinya, Anda bisa memesan menu yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak, memesan satu menu untuk disantap bersama-sama, atau membungkus sebagian makanan untuk dibawa pulang sebelum mulai menyantapnya.


Mengajarkan konsep uang pada anak harus dilakukan sesuai tahapan usianya. Simak tip dari pakar keuangan dan penulis buku Beth Kobliner.

USIA 4
Balita siap belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Saat Mama membawa si kecil pergi berbelanja, ajak ia melihat apa yang dapat dibeli dengan uang Rp 20.000 - misalnya tiga buah pisang atau sebotol saus tomat. Mana yang merupakan keinginan? Mana yang termasuk kebutuhan? Nah, Anda dapat melakukan hal ini juga saat berada di lorong camilan anak di mana ÔkebutuhanÕ  sering kali diperdebatkan.

USIA 6

Si kecil mulai memahami konsep nilai uang dan perbandingan harga ketika berbelanja, terutama ketika ia mempunyai uang sendiri.
Jika si kecil mendapatkan uang angpao hari raya atau pemberian nenek ketika ulang tahun, biasanya ia tak sabar ingin membeli mainan yang telah lama diincarnya.

Maka, ini saat yang tepat untuk mengajarinya satu hal baru lagi. Ajak anak melihat mainan impiannya di toko online untuk mengetahui perkiraan harga. Jangan hanya berhenti pada satu toko, ajak ia berdiskusi mana harga yang paling murah dari beberapa tempat. Perhitungkan juga ongkos kirim bila ia memilih untuk membelinya secara online. Dan mungkin Mama bisa mengajaknya ke toko mainan dan membeli langsung jika ternyata harga yang ditawarkan sama.

USIA 8

Di usia ini anak mulai bisa menabung untuk membeli sesuatu.
Buka sebuah rekening tabungan khusus anak yang banyak ditawarkan oleh bank. Sebuah rekening di bank tentu terasa lebih keren dibanding menabung di celengan dan tentu membuatnya lebih bersemangat. Dorong ia untuk terus menabung, namun beri sedikit kebebasan padanya dalam menentukan kapan ia boleh menggunakan uangnya dan untuk keperluan apa. Ini adalah kunci untuk membangun tanggung jawab finansial pada anak.

USIA 11

Ajari pra-remaja Anda tentang bahaya memiliki utang kartu kredit.
Sebelum si kecil memiliki kartu kredit, Anda harus menjelaskan tentang risiko yang membayangi. Jelaskan dengan sederhana: penggunaan kartu kredit masuk akal hanya jika kita sanggup membayarnya setiap bulan sebelum jatuh tempo.

Jika kita menggunakannya untuk membeli barang-barang yang tak sanggup kita bayar, seperti yang dilakukan banyak orang, maka kita akan terjebak dalam utang besar dan bencana keuangan. Mama juga bisa menceritakan seorang teman (ganti namanya) yang terlilit utang kartu kredit. Dan jelaskan juga pada anak perbedaan antara kartu debit dan kredit.


Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap anak usia 10 - 14 tahun yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Pediatrics menyebutkan bahwa fasilitas televisi di kamar anak akan membuat mereka menjadi lebih gemuk sekitar 0,4 kg dibandingkan anak lain yang tidak memiliki fasilitas televisi di kamarnya.

Bahkan, meski anak-anak itu jarang menonton. Menurut Diane Gilbert-Diamond dari Geisel School of Medicine di Dartmouth, Lebanon, yang melakukan penelitian, pertambahan berat badan ini sebenarnya tidak berhubungan dengan berapa lama waktu yang dihabiskan anak-anak untuk menonton televisi, tapi lebih disebabkan oleh pola tidur yang terganggu akibat adanya benda elektronik di dalam kamar tidur anak.

Temuan ini mungkin akan kembali mengingatkan Anda, sebagai para orang tua, bahwa mengeluarkan televisi dari kamar anak merupakan langkah penting dalam melawan obesitas pada anak.



Menurut penelitian yang dilakukan American Academy of Pediatrics (AAP) penggunaan layar terutamasmartphone dan komputer tablet meningkat pada usia anak-anak batita. Pada 2013, 75 persen anak-anak memiliki akses ke perangkat mobile di rumah. Padahal dua tahun lalu jumlah anak yang memiliki akses ke perangkat mobile hanya 52 persen.

Televisi, laptop, tablet, dan smartphone bisa menjadi "racun" bagi anak jika penggunaannya tidak diawasi oleh orangtua. Menurut Dra. Ratih Andjayani Ibrahim MM, psikolog dari lembaga psikologiPersonal Growth, seperti yang dikutip dari Parents Indonesia, orangtua harus techno-ready. Artinya, orangtua harus mengajarkan kepada anak bagaimana cara tepat menggunakan gadget agar anak tidak kecanduan.

“Lakukanlah diet gadget,” kata Ratih. Anak-anak yang terlalu dalam terlibat dengan gadget akan terganggu konsentrasinya. Sebagai contoh, layar yang berkedip begitu memanjakan mata, namun begitu lepas dari gadget akan membuat mereka bosan. Meski begitu anak masih boleh bersentuhan dengan gadget. Misalnya, 2 jam per akhir pekan. Jika si anak merenggek meminta bermain gadget, berikan waktu selama satu jam.

Suruh anak melakukan aktivitas-aktivitas fisik di dunia nyata ketimbang sibuk bersama komputer tablet atau smartphone. Atau lakukan aktivitas fisik bersama. Hal itu bagus untuk kebersamaan dan juga kesehatan. "Tidak memberikan waktu menatap layar kepada anak di bawah usia 2 tahun. Hal ini mungkin sulit dilakukan tapi Anda harus berusaha demi kebaikan anak di masa depan," katanya.


Cara terbaik menghadapi rengekan putra Anda adalah membungkukkan badan hingga sejajar mata anak dan jelaskan mengapa dia perlu mengubah perilakunya. Namun putri Anda lebih agresif dan enggan mendengarkan.

SOLUSI Ciptakan metode berbeda. Memang mudah menyalahkan anak saat Anda gagal menerapkan teknik disiplin. Namun “Anda mungkin perlu menerapkan disiplin dengan cara yang berbeda untuk tiap anak,” kata Avivia Pflock, coauthor Mommy Guilt.

Jika satu anak bisa merespons peringatan lisan, anak lain mungkin perlu diberi konsekuensi jika dia melanggar aturan–misalnya Anda mencabut izin bermain Wii. Bersikap tegas kepada satu anak dan penuh perasaan kepada anak lain bukan berarti Anda tidak konsisten; itulah cara menyesuaikan kebutuhan dan gaya belajar yang berbeda pada tiap anak, kata Pflock. “Hukuman harus sesuai dengan “kejahatan”–dan karakter anak.”

Sudah tidur dari pukul 8 malam tetapi anak masih terus menerus menguap di pagi harinya. Bagaimana mengetahui apakah anak kurang tidur? Menurut dr. Bernie Endyarnie Medise, Sp.A(K), MPH, dari Divisi Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ada beberapa gejala yang dapat Mama lihat:

- Hiperaktif dan sulit dikontrol.
Tak seperti orang dewasa yang cenderung tak masalah jika kurang tidur, anak yang mengantuk justru menjadi hiperaktif dan sulit dikendalikan. Beberapa malah rentan tantrum. Sepanjang hari, anak akan terpacu adrenalinnya hingga terus menerus berlari dan menyentuh berbagai benda.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas Helsinki di Finlandia terhadap anak-anak berusia tujuh hingga delapan tahun menemukan bahwa kurang tidur pada anak-anak bisa jadi berhubungan dengan gejala ADHD. Anak-anak yang waktu tidurnya singkat, kurang dari 7,7 jam setiap malam biasanya lebih hiperaktif dan kurang fokus dibanding mereka yang lebih lama tidurnya.

- Sulit berkonsentrasi.
Anak jadi sering lupa mengerjakan PR dan tidak bisa mengingat apa yang dikatakan oleh gurunya. Bahkan mungkin ia sempat ketiduran di tengah-tengah pelajaran. Tanpa tidur yang memadai, memori, konsentrasi, dan fokus anak akan menurun yang memberi pengaruh terhadap prestasinya di sekolah.

- Berat badan sulit naik.
Kurang tidur untuk periode yang lama akan menghambat pertumbuhan anak. Hormon pertumbuhan atau human growth hormone biasanya dikeluarkan ketika anak tidur, terutama di fase deep sleep. Jika tidurnya terganggu, pertumbuhan fisiknya juga akan terpengaruh.


Anda mendengar anak-anak saling mengejar berkeliling rumah dan Anda seketika berteriak. Anda khawatir mereka berkelahi dan segera turun tangan untuk menghentikan aksi tersebut. Para ahli menilai hal seperti itu bukan tindakan yang tepat.

Seringkali orang tua merasa perlu ikut serta setiap kali anak melakukan sesuatu. Selalu menjadi bad guy itu melelahkan, kata Michele Borba, EdD, penulis The Big Book of Parenting Solutions.

Ingat bahwa anak-anak terkadang melakukan sesuatu yang mengganggu karena mereka memelajari keterampilan baru. (Si batita bisa saja menumpahkan jus ke dalam sereal karena dia sedang belajar soal benda cair.) Di lain waktu, mereka mencari perhatian. Lalu kapan waktu yang tepat untuk bereaksi?

Dr. Borba punya aturan wajib: Jika keselamatan anak tidak terancam, cobalah menunggu sambil mengawasi. Jika si anak 6 tahun memutar alat perekam dengan hidungnya, usahakan untuk tidak berteriak. Lihat apa yang terjadi jika Anda melanjutkan pekerjaan seperti tidak terjadi apa-apa. Kemungkinan besar, jika Anda tidak merespons, dia akan menghentikan kegiatannya–dan Anda akan merasa lebih tenang karena terhindar dari kontes berteriak.


Saat Anda menghukum si anak 3 tahun masuk kamar karena dia memukul adiknya, dia mulai membentur-benturkan kepala di lantai dengan kemarahan. Tampaknya penerapan time-out atau menyetrap tidak efektif bagi anak.

SOLUSI: Coba pendekatan time-in.

Time-out atau setrap bertujuan memberi kesempatan anak untuk menenangkan diri, bukan menghukum. Sebagian anak merespons time-out dengan baik. Mereka diam di kamar sampai merasa tenang. Namun sebagian anak lain melihat cara itu sebagai penolakan, dan mereka menjadi marah. Plus, time-out tidak mengajari anak cara bersikap yang baik. Sebagai alternatif, Dr. Sonna menyarakankan “time-in,” yaitu Anda duduk tenang bersama anak. Jika dia sangat marah, peluk dia hingga merasa tenang, kata Linda Sonna, PhD, penulis The Everything Toddler Book.

Begitu dia rileks, jelaskan dengan lembut bahwa perilakunya tidaklah baik. Anda terlalu marah untuk menenangkan anak? Terapkan time-out untuk diri Anda; begitu Anda rileks, jelaskan perilaku yang Anda harapkan dari anak. Anda bisa mulai dengan mengatakan, “Apa yang bisa kamu lakukan selalin memukul saat Milo mengambil mainanmu?”



“Matikan televisi…Mama serius kali ini…Sungguh!”

Anak akan melanjutkan sikap buruknya jika Anda memberi peringatan dengan samar-samar, sama seperti alasan Anda tetap melaju saat lampu kuning menyala. Tidak ada konsekuensi.

Buat batasan dan ikuti aturan.
Mengeluh, kesempatan kedua, dan negosiasi semuanya memberi arti bahwa kerjasama merupakan sebuah pilihan, kata Robert MacKenzie, PhD, penulis Setting Limits With Your Strong Willed Child. Untuk mengajari anak mengikuti aturan, perjelas ekspektasi Anda, lalu ambil sikap jika ada aturan yang dilanggar.

Jika Anda menginginkan anak untuk, misalnya, beranjak dari sofa dan mengerjakan PR, mulailah dengan arahan yang sopan (“Tolong matikan teve sekarang dan kerjakan PR-mu”). Jika dia mau menuruti Anda, ucapkan terima kasih. Jika tidak, berikan konsekuensi: “Mama matikan televisi sekarang. Sebelum PR-mu selesai, izin menonton teve dicabut.”


Sekolah memang penting, tapi sekolah bukan satu-satunya tempat untuk anak memeroleh pendidikan. Di luar sekolah ada tempat-tempat yang bisa meningkatkan pendidikan anak. Inilah cara meningkatkan pendidikan anak di luar sekolah

Kenalkan pada perpustakaan umum

Perpustakaan umum adalah sumber ilmu paling berharga yang menyediakan pendidikan gratis melalui koleksi buku atau arsip. Perpustakaan adalah jembatan untuk mendapatkan informasi dan topik menarik. Di perpustakaan umum semuanya tersedia dab siap dibagikan kepada anak. Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membimbing anak pada ilmu pengetahuan.

Jelajahi dunia di setiap kesempatan


Ketika Anda bepergian dengan anak-anak—apakah itu perjalanan sehari atau liburan selama seminggu—mereka dapat belajar banyak tentang dunia. Anda dapat mengajarkan anak tentang sejarah, geografi, keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat. Cara Anda melakukan perjalanan bersama keluarga dapat memicu rasa ingin tahu anak.

Pendidikan setiap hari

Kegiatan sehari-hari dapat membuka pintu untuk pelajaran baru yang menarik. Misalnya, memanggang kue dapat mempraktikan ilmu matematika, fisika, dan gizi. Menonton pertandingan olahraga dapat mengajarkan statistik, sejarah, dan kerja sama tim.

Kenalkan kepada Kebudayaan

Kenalkan anak-anak pada sesuatu yang bersifat artistik dan sosial sebanyak mungkin. Museum, kebun binatang, situs sejarah, dan acara budaya seperti drama, opera, balet, dan konser adalah cara yang bagus untuk mengajar dan menghibur anak. Sering kali, anak-anak menemukan petualangan lebih menyenangkan daripada duduk di meja kelas. Plus, mereka dapat memerluas wawasan dan mungkin membangkitkan hobi dan passion.

Ikuti kegiatan keagamaan


Jika keluarga Anda merupakan bagian dari komunitas agama, ajak anak-anak Anda terlibat dalam kelas keagamaan, retret, dan kelompok pemuda. Anak-anak akan belajar tentang agama melalui konteks sejarah serta konsep religius dan spiritual.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget