Mei 2015


Langkah awal mengajarkan kemandirian pada anak adalah dengan memberi anak kesempatan. Biarkan ia melakukan berbagai hal yang ingin dan boleh dilakukan anak seusianya.

Sedikit kilas balik saat anak berusia 6 bulan, saat tangan anak mulai menggapai-gapai untuk meraih sesuatu. Pada saat tersebut, ia sudah belajar untuk mandiri. Kemudian, ketika usianya 1 tahun, anak sudah bisa memasukan sendok ke mulutnya. Tak ada salahnya membiarkan dia untuk belajar makan sendiri. Bukan berarti Anda sama sekali tak boleh menyuapinya. Tapi, beri anak kesempatan untuk melatih kemampuan makannya sendiri.

“Kadang, orang tua enggan membiarkan anaknya makan sendiri dengan alasan takut jadi berantakan dan belepotan. Padahal, hal ini justru akan menghambat kesempatan anak untuk menjadi mandiri,” kata psikolog Nessi Purnomo, M.PSi.

Tak masalah jika semua hal yang dilakukan anak masih jauh dari kategori sempurna. Anggap saja semua berantakan dan keribetan yang Anda dan anak alami merupakan sebuah proses menuju kemandirian yang seutuhnya. Kadangkala, orang tualah yang justru menjadi penghambat kemandirian anak karena merasa tak tega membiarkan anaknya berusaha sendiri. Anda berpikir bahwa anak masih terlalu kecil untuk melakukan segalanya sendiri. Padahal, memberikan sedikit kesempatan padanya memungkinkan ia untuk belajar berusaha sendiri.

Ketika anak sudah bersekolah, pelajaran tentang kemandirian yang bisa Anda ajarkan padanya menjadi lebih banyak lagi. Dimulai dengan latihan berpakaian, memakai sepatu, hingga membawa tas sekolahnya sendiri. “Banyak orang tua yang tidak sabar pada tahap ini. Mereka gemas jika harus menunggu lama anak kelar melakukan semua ritual ini. Padahal, ini proses penting yang harus dilalui anak,” jelas Nessi. Takut anak malah jadi terlambat masuk sekolah? Anda bisa membangunkan anak lebih pagi dan melakukan ini semua lebih awal, kan, Ma?


Meski pemerintah dan pihak sekolah serta orang tua murid sudah berupaya menyediakan jajanan sehat bagi anak-anak sekolah, misalnya lewat kantin sehat atau catering sekolah, tetap saja pedagang yang menjual jajanan mengandung zat berbahaya masih ditemukan di sekitar sekolah.

Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Usaha Kecil-Menengah dan Perdagangan DKI Jakarta, Joko Kundaryo. Menurutnya salah satu bahan berbahaya yang sering ditemui pada jajanan anak adalah zat pewarna yang bukan untuk makanan.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, berkata akan menindak pedagang yang ketahuan menjual makanan yang mengandung zat berbahaya. Jika sudah tiga kali mendapat teguran dan kedapatan masih menjual makanan tersebut, maka izin berdagangnya akan dicabut. Beberapa kepala daerah lain di Indonesia juga melakukan langkah yang serupa dengan Gubernur DKI.

Bukan mencabut izin berdagang, Dinas Usaha Kecil-Menengah dan Perdagangan juga siap menjerat para pedagang tidak bertanggung jawab tersebut dengan UU Perlindungan Konsumen dan UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009.

Mungkin memang sulit ya, Ma, mengontrol pedagang-pedagang yang umumnya berjualan di luar pagar sekolah anak kita itu. Tapi untuk di dalam sekolah Mama masih bisa mendorong pihak sekolah untuk menyediakan kantin sehat dan bersama para orang tua murid yang lain ikut aktif mengontrol kebersihan dan kandungan gizi jajanan yang dijual di kantin sekolah.


Seiring dengan bertambahnya usia anak, psikolog Nessi Purnomo, M.PSi menyarankan agar anak diberi tantangan atau tugas yang lebih rumit. Tujuannya untuk mencegah anak menjadi bosan sekaligus meningkatkan keragaman keterampilan anak. Misal, jika anak sudah mahir makan sendiri menggunakan sendok dan garpu, kini saatnya beralih untuk menggunakan sumpit.


Ketika anak perlahan sudah mulai menujukkan kemandiriannya, sah-sah saja jika Anda ingin memberinya semacam reward. Tapi, hati-hati pada reward yang sifatnya situasional. Menurut Nessi, sering kali orang tua terjebak untuk memberikan reward situasional. Misalnya, meminta anak mandi sendiri dengan embel-embel akan dibelikan sesuatu sesudahnya. Yang benar adalah, berikan reward ketika anak sudah konsisten menunjukkan kemandiriannya. Misalnya, ia sudah berhasil mandi sendiri tanpa bantuan mbak selama 2 minggu berturut-turut, dan akan berlangsung begitu seterusnya. “Reward seperti inilah yang disarankan, karena jauh lebih efektif untuk memacu semangat anak,” kata Nessi.


Jadi, pastikan Anda memberi banyak kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal yang dia sudah mampu lakukan. Itulah kunci untuk membantu anak memiliki karakter mandiri, percaya diri, dan mampu mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab penuh.



Pada beberapa anak, kesulitan dalam menulis terkadang merupakan indikasi adanya gangguan dalam proses tumbuh kembang ataupun gangguan belajar. Tapi perlu diingat, ini hanya merupakan salah satu gejala, dan tidak dengan serta merta menunjukkan bahwa anak mengidap kondisi berikut ini:

- Gangguan memori, yang membuat anak kesulitan mengingat ejaan kata, tata bahasa, atau tanda baca.

- Masalah bahasa, yang mengakibatkan kesulitan dalam mengucapkan serta mengeja kata dan memahami struktur kalimat.

- Masalah visualisasi & organisasi. Jenis gangguan ini bisa membuat anak kesulitan memisahkan jarak antar kata dan mengurutkan kata-kata secara logis di dalam kalimat.

- Gangguan menulis (disgrafia). Anak pengidap disgrafia menemui kesulitan dalam menyusun kata serta mengkoordinasikan gerak motorik halusnya untuk menulis. Beberapa cirinya antara lain adalah besar huruf tidak konsisten, kesulitan memegang pensil, jarak antar huruf tidak sama, serta perbedaan mencolok antara kemampuan menulis dan berbicara.

- ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Ini adalah gangguan perkembangan dalam bentuk peningkatan aktivitas motorik anak sehinga mengakibatkan aktivitas fisik yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Menulis adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama, sehingga sulit dilakukan oleh pengidap ADHD.




Mendengarkan adalah salah satu elemen komunikasi yang sangat penting. Anak akan merasa memperoleh perhatian dari Anda. Dengan mendengarkan, Anda juga telah menunjukkan sikap menghargai dirinya. Namun, seperti apa sih, seorang pendengar yang efektif itu? Bagaimana Anda bisa menjadi pendengar yang efektif baginya? Ini dia triknya:

- Jangan pernah ‘mengusir’-nya ketika ia ingin bicara dengan Anda. Sesibuk apapun, menjelang deadline penting di kantor sekalipun, berhentilah sejenak dari kegiatan Anda, dan dengarkanlah dia. Sekali saja Anda menolak, seterusnya ia akan kapok datang pada Anda.

- Berikan perhatian penuh. Menghadaplah padanya dan tatap matanya, agar ia tahu bahwa Anda siap mendengarkannya. Kalau pikiran Anda sedang benar-benar tak bisa diajak konsentrasi untuk menanggapi masalah yang akan disampaikan anak Anda, beritahu padanya. Katakan bahwa Anda akan memikirkan dulu masalah itu sebelum kembali bicara dengannya.

- Perhatikan bahasa tubuhnya. Dari gerak-gerik dan ekspresi wajah, Anda bisa tahu, seberapa ‘darurat’ ia butuh perhatian dan respon Anda. Jangan tunda menanggapi, bila ia memang benar-benar terlihat sangat membutuhkan dukungan Anda.

- Jadilah pendengar aktif. Biasanya, ada dua hal penting dari apa yang disampaikan anak, yaitu makna yang tersurat dan tersirat. Renungkan dulu sejenak, agar Anda bisa menanggapi keduanya. Jangan sampai Anda hanya menanggapi apa yang ia sampaikan tanpa memahami ada apa sebenarnya di balik semua itu. 



Setelah Harris (7 tahun) masuk SD, Eka Rahma dari Ciputat mulai ikut pusing membantu anak semata wayangnya ini belajar. “Saya yakin Harris cukup cerdas, tapi memang banyak sekali pelajaran yang membutuhkan hapalan. Ada IPS, bahasa, PPKN, sampai agama, yang perlu dihapal.” 

Dulu ketika bersekolah, kita mungkin biasa menghapal pelajaran dengan mengucapkan keras-keras berulangkali materi apa yang berusaha kita ingat. Hasilnya, ketika ulangan diadakan esok harinya kita masih ingat, tapi seminggu berikutnya kita sudah lupa sama sekali.

Menurut JR Anderson penulis buku Learning & Memory: An Integrated Approach, sekadar mengulang-ulang apa yang ingin kita ingat sebetulnya memang cara yang paling tidak efektif untuk menghapal karena hanya menggunakan sedikit bagian otak. 

Nah, supaya anak lebih mudah mengingat pelajaran, ada baiknya ia menggunakan sebanyak mungkin bagian otak. Bagaimana caranya? Sebetulnya otak kita tak hanya bisa mengingat serentetan kata. Otak kita mampu memproses gambar, warna, struktur, bau, rasa, sentuhan, posisi, emosi, dan bahasa. Jadi supaya bisa mengingat, kita perlu mengenali semua ini dari hal yang ingin kita ingat. Biar lebih praktis, kita coba beberapa contoh di bawah ini:
  • Proses terjadinya hujan: cari atau buat gambar tentang laut yang menguap menjadi awan sampai awan yang bergerak dan tertiup angin, minta anak untuk mencium bau rumput setelah terjadinya hujan, mencicipi sedikit air hujan, menadahkan tangan untuk tetesan air hujan sambil bernyanyi ‘tik…tik…tik… bunyi hujan…”
  •  Perbedaan antara benda hidup dan tak hidup: ajak anak berkeliling rumah sambil menebak apakah benda yang ia temui hidup atau tak hidup, minta anak memperhatikan karakteristiknya dan menyebutnya keras-keras.
  • Penggunaan huruf besar: Ajak anak membaca buku dan mencari di mana saja huruf besar dituliskan, tanyakan kenapa untuk menulis kata tersebut perlu digunakan huruf besar.
  • Warna pelangi: bisa digunakan jembatan keledai ‘mejikuhibiniu’ (merah jingga kuning hijau biru nila ungu), lihat warna dan bentuk pelanginya, tanya kapan saja pelangi terlihat sambil menunjukkan bukti bahwa hujan baru saja usai,
  • Struktur pemerintahan seperti kecamatan atau kelurahan: ajak anak berjalan-jalan sambil memperhatikan papan nama toko, tugu, atau tanda penunjuk jalan. Tunjukkan tulisan mana yang disebut kecamatan, kelurahan, RW atau RT. Setelah itu minta anak menebak sudah ada di daerah mana kita berjalan.


Di usia sekolah, umumnya mulai di usia 7 tahun, anak ingin punya media sosial biasanya karena pressure peer group, teman-temannya yang lain punya juga. Roslina mengatakan, alasan anak ingin punya media sosial berbeda dari orang dewasa. “Perasaan kompetisi pada anak masih tinggi. Ia ingin punya pencapaian, tidak mau ketinggalan dengan temannya. Ingin punya banyak teman. Mengumpulkan follower sebanyak-banyaknya.”

Menurut psikolog Roslina Verauli, berpendapat, tentu layak di usia tertentu, dengan catatan setelah memperoleh sejumlah bimbingan dan arahan dari orang tua.

Sebelum mama memutuskan layak atau tidak anak punya akun media sosial, pikirkan beberapa hal berikut ini, Ma:

· Jika tujuannya untuk bermain game yang ada di media sosial misalnya farmville, cukup menggunakan akun milik orang tua, atau carikan game lain yang lebih cocok dengan fase tumbuh kembang anak dan tidak berbasis media sosial. 

· Kalau hanya untuk tempat memunggah foto-foto terbaru anak di online, tempat yang tepat bukan media sosial, melainkan blog. Bantu anak untuk punya blog-nya sendiri. “Meski sama-sama online dan bisa dilihat siapa saja, dari segi keamanan, lebih baik. Blog tidak berhubungan dengan orang-orang tak dikenal,” Roslina menjelaskan.

· Melepas anak di media sosial tanpa memberi arahan dan persiapan, ibarat melepas anak menyetir mobil sendiri dan memberi mereka kunci tanpa mengajarkan mereka terlebih dahulu cara menyetir.


Ada cara tepat agar piranti rumah tangga, ketenangan, dan energi Anda tidak habis terkuras.

Baru-baru ini, kami merenovasi rumah, dan kelihatannya kedua putri kami punya cara baru menguji otoritas mereka. Hanya beberapa menit setelah kami pindah ke rumah lagi seusai renovasi, Lucy, 4 tahun, sudah main perosotan di pegangan tangga bergaya awal tahun 1900-an, sementara Olivia, 9 tahun, langsung menuju ruang tamu yang masih kinclong sambil membawa sekantong cracker dan remah-remahnya pun langsung berjatuhan selagi ia berjalan.

Melihat ulah mereka, saya langsung terpana, wah, harus ada beberapa aturan baru, nih. Tapi, larangan seperti apa yang bisa diterima oleh semuanya?

Haruskah main perosotan di pegangan tangga dilarang? Atau, ada gunanya nggak ya, melarang sesuatu yang sangat menggoda untuk dilakukan?

Bagaimana dengan larangan makan di ruang keluarga? Konyolkah kalau menganggap aktivitas menonton TV tidak boleh digabung dengan ngemil?

Dan apakah saya dan suami, harus mematuhi aturan yang sama seperti yang kami terapkan pada anak-anak?
Mengingat proses pembentukan peradaban memang tidak selalu berjalan mulus, berikut ini beberapa cara—bila memang Anda perlukan—untuk menerapkan peraturan di rumah.

Menjadi diri sendiri

Tentu saja saya akan senang seandainya rumah saya seindah rumah-rumah di majalah desain dan interior. Tetapi dengan dua anak, saya tak bisa membayangkan apa yang harus saya korbankan demi mewujudkannya. Suami dan saya memang mengenal beberapa orangtua yang bisa mempertahankan rumahnya tetap bersih mengilat. Tetapi karena kami tak punya kekuatan untuk mewujudkannya, kami bahkan tidak mencoba melakukannya.

Jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang Anda anggap paling penting. “Kadang-kadang, orang menerapkan aturan karena dulu orangtua mereka  juga menerapkannya saat mereka masih kanak-kanak, atau karena sepertinya itulah hal yang tepat untuk dilakukan. Tapi, peraturan yang dipaksakan akan sulit ditegakkan,” kata Marvin Berkowitz, Ph.D., pengarang Parenting for Good. “Fokuskan pada beberapa peraturan yang terpenting saja, yang memprioritaskan keselamatan.”

Aprilia Kirana dari Kota Wisata, Cibubur, sama sekali tak mengizinkan putrinya, Sharen, 5 tahun, main lompat-lompatan di tempat tidur. Dan itu memang beralasan. “Neneknya pernah membiarkan dia pecicilan di tempat tidur, dan akibatnya dia terlempar dari kasur dan terluka,” kata Aprilia.

Tentunya Anda tak perlu menerapkan aturan tertentu karena terlanjur ada kejadian yang kurang menyenangkan. Intinya, masing-masing orangtua bisa menerapkan disiplin yang berbeda tergantung kebutuhan. Jadi, lakukan apa yang paling sesuai untuk keluarga Anda.

Bersikaplah logis

Apakah seharusnya ada satu set aturan untuk semua anak di rumah Anda? Tidak juga. “Pertimbangkan perkembangan masing-masing anak,” saran Karen Gouze, Ph.D., psikolog anak di Children’s Memorial Hospital di Chicago, yang juga ibu tiga anak.

Sarah dari Green Garden, misalnya, membolehkan sulungnya, Carla, 8 tahun, untuk mencuci piringnya sendiri sehabis makan, tetapi hal itu terlarang bagi adiknya. Caren, 5 tahun belum diijinkan membantu, karena takut piring yang sedang dicucinya justru meluncur jatuh. Biasanya Caren hanya akan berdiri di samping Carla dan sesekali ikut menjulurkan tangan untuk bermain-main dengan air yang mengucur dari keran.

Sesuaikan hukuman dengan pelanggaran

Anak-anak di bawah 8 tahun memiliki rasa keadilan yang kaku, dan tampaknya akan bersedia menerima konsekuensi asalkan terlihat adil dan berhubungan langsung dengan pelanggarannya, kata Gouze. “Jika seorang anak tidak mau berbagi mainan ketika temannya main ke rumah, konsekuensi yang logis adalah mencoret acara main bareng sampai beberapa hari,” katanya.

Mungkin Anda dapat mencoba memasang peraturan agar semua terlihat jelas. “Jika Anda bisa menjaga untuk tidak memakai suara otoriter Anda sebagai orangtua, posisi Anda akan lebih baik, dan Anda dapat menghindari ribut-ribut soal wewenang,” ujar Gouze. “Anak-anak tidak semudah itu melanggar peraturan yang tertulis hitam di atas putih.”

Bersikaplah fleksibel

Jika Anda memutuskan untuk mengubah suatu aturan—entah membuatnya lebih tegas atau lebih longgar—sebaiknya Anda menjelaskan alasannya. (“Mama tahu Mama pernah mengizinkan kalian makan di ruang keluarga, tapi karena ada ‘kecelakaan’ jus anggur tumpah, Mama sekarang memutuskan makan di ruang keluarga itu bukan ide yang bagus.”)  “Anda bisa menunjukkan simpati atas kekecewaan anak-anak, tapi tetap tegas dengan keputusan Anda,” kata Virginia Shiller, Ph.D., pengarang Rewards for Kids! Ready-to-Use Charts & Activities for Positive Parenting.

Sebaliknya, anak-anak yang usianya lebih besar, bisa saja ‘melobi’ agar peraturan berubah. “Kami punya peraturan ‘makanan tidak boleh dibawa ke lantai atas’, tapi baru-baru ini putri saya, 9 tahun, mengajak temannya menginap, dan ia bertanya apakah boleh makan di atas kalau mereka mengalasi lantai dengan karpet plastik terlebih dulu. Saya mengizinkan, karena solusi itu langsung mengatasi masalah yang telah memunculkan peraturan tersebut," kata seorang ibu di Virginia.

Lakukan hal yang sama

Agar menjadi panutan yang baik dan Anda tidak terlihat munafik, lakukan apa yang Anda ajarkan (meski jelas orang dewasa berhak punya beberapa kelonggaran, misalnya menonton TV sampai larut, semata karena mereka sudah dewasa).

Maria dari Serpong ingat ketika ia dan suaminya tertangkap basah bicara dengan mulut penuh oleh putri mereka, Jasmine, 5. Padahal Jasmine tahu peraturan di meja makan melarang hal itu. “Sesekali kami juga melanggar, dan sudah mengaku kami salah,” ujar Marietta, seorang ibu asal Georgia. “Saya rasa akan sangat membantu bagi anak-anak untuk percaya bahwa peraturan di rumah berlaku untuk semua anggota keluarga.”

Suami dan saya pun berusaha untuk selalu hati-hati menaati peraturan-peraturan baru yang kami buat bagi kedua putri kami, khususnya setelah Lucy menangkap basah saya main perosotan di pegangan tangga. Percaya, deh, tertangkap basah itu ternyata sungguh tidak enak.

Tamu boleh tak patuh?

Anda tidak dapat mengontrol apa yang diizinkan (atau tidak diizinkan) keluarga lain di rumah mereka sendiri, tapi Anda punya hak untuk menegakkan peraturan di rumah Anda.

Ketika Anda melihat ada anak yang melanggar peraturan, katakan dengan tenang, “Di rumah ini, kami berbuat A.” Kalau ia protes, bilang bahwa orangtuanya mengizinkan ia berbuat B, “ jelaskan padanya, ‘Di rumahmu, orangtuamu yang membuat peraturan. Tapi di rumah ini, kami yang membuatnya’,” jelas Marvin Berkowitz, Ph.D., pengarang Parenting for Good.

Sebagian besar anak akan patuh begitu mereka diberitahu aturannya, yang sebaiknya sudah Anda jelaskan sebelumnya. Namun, jika si anak tetap membangkang, berarti sudah saatnya untuk bicara pada orangtuanya (misalnya, saat si anak dijemput), atau bilang padanya ia takkan diundang bermain lagi ke rumah Anda, kecuali ia mau mematuhi aturan keluarga Anda.


Setiap kali mengerjakan PR dengan soal bacaan, Aldo (8) yang duduk di kelas tiga SD pasti tak henti bertanya. Padahal, jawaban yang ia tanyakan seharusnya bisa ia cari dan temukan sendiri di buku pelajarannya. “Tapi, ya, itulah... kalau disuruh membaca agak panjang sedikit, dia pasti banyak alasan. Padahal saya sudah berkali-kali menyuruhnya, ‘Baca dulu dong... jawabannya pasti ada di buku!’” kata Amie, mamanya, dari Bintaro, Tangerang, dengan kesal.

Anak sekarang memang lebih terekspos dengan gambar dibanding tulisan, Ma. Mulai dari film kartun, cerita komik, hingga aneka game, semua dipenuhi oleh gambar. Tulisan memang ada, tapi sangat sedikit. Akibatnya, banyak anak tidak betah membaca tulisan yang panjang-panjang. Bagi mereka, hal itu sama sekali tidak asyik, atau bahkan membosankan.

Daripada ‘bergerak’ menelusuri deretan huruf-huruf, lebih seru ‘bergerak’ cepat bersama gerakan tokoh-tokoh game di dunia virtual. Pantaslah kalau soal-soal yang menuntut mereka untuk membaca pun jadi terasa kurang menarik. Tak heran ketika ada PR dengan soal-soal seperti itu, jalan pintasnya, ya, tanya mama saja!

Bila ini terjadi pada anak Anda, tentu menegurnya sekali dua kali masih tak masalah buat Anda. Tapi kalau terus-terusan? Lebih baik tidak. Lagipula, hal itu tampaknya tidak akan cukup efektif untuk membuat anak Anda berubah. Coba ikuti saran berikut:

- Perbanyak mengekspos anak dengan buku. Anda bisa membawa anak ke toko buku atau ke perpustakaan. Lewatkan waktu di tempat-tempat tersebut tanpa terburu-buru karena ditunggu acara lain. Dengan melihat beraneka-ragam buku, termasuk yang disukainya, sedikit demi sedikit minat bacanya akan lebih terasah. Bila ia sudah suka membaca, bacaan demi bacaan akan lebih mudah ia ‘lahap’ tanpa merasa terbebani.

- Sepakati jadwal membuat PR yang ‘bebas gangguan’. Artinya, selama waktu itu, ia harus benar-benar fokus menyelesaikan PR tanpa terburu-buru ingin bermain atau menonton acara TV favoritnya.   

- Ajak anak membuat rangkuman dari setiap bab yang ia baca dan pelajari. Jadi, ketika ia harus mengerjakan PR atau mau ulangan, ia tak perlu lagi membaca keseluruhan bacaan. Selain itu, proses membuat rangkuman juga akan membuat anak mau tak mau harus membaca dulu keseluruhan bab, kan? Itu berarti ia sudah mengasah kemampuan membaca, melatih kelancaran menulis, sekaligus melatih ketekunannya dalam menghadapi rangkaian huruf-huruf yang semula mungkin kurang menarik baginya.  

Usahakan untuk mendampingi dia belajar ya, Ma. Meski tak bisa setiap hari, adakan saat-saat spesial ‘belajar bersama mama’, agar ia tahu betapa Anda sangat menghargai kemauan dan usahanya untuk belajar, termasuk menyelesaikan PR dan tugas-tugas sekolahnya dengan baik.


Sah-sah saja sih, usaha orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi anak. Namun, sebelum belajar baca tulis, ada persiapan yang harus dilewati dulu agar anak lebih termotivasi untuk belajar.

Anak perlu menyukai buku terlebih dulu sebelum belajar membaca. Karena itu, bacakan buku setiap hari pada anak dan jadwalkan kunjungan rutin ke toko buku.

Anak punya kemampuan untuk menggunakan dan menikmati bahasa dengan baik. Misalnya, menggunakan bahasa untuk bernyanyi atau berpantun.

Anak punya kontrol yang baik atas tubuhnya, terutama tangan agar ia mudah menulis.

Pilih buku yang tepat:

Untuk si 3-4 tahun
  • Isi cerita sebaiknya berhubungan dengan kejadian sehari-hari dalam kehidupan anak, misalnya hari pertama sekolah atau adik baru.
  • Pada rentang usia ini, isi cerita juga sebaiknya memperluas pengetahuan anak, misalnya cerita tentang anak-anak di negara lain.
  • Buku yang berkaitan dengan emosi juga bisa bermanfaat, misalnya menghadapi teman yang nakal, dan lain-lain. Tapi, jangan lupa untuk selalu mempertimbangkan minat anak agar buku yang Anda beli membuatnya tertarik.

Untuk si 4-5 tahun
  • Di usia ini anak membutuhkan buku yang bisa mengembangkan pemahaman terhadap kehidupan orang lain. Contoh: cerita tentang profesi polisi.
  • Isi cerita sebaiknya sudah lebih panjang dan plotnya lebih kompleks serta lebih banyak tulisan daripada gambar.
  • Pilih buku dengan bahasa yang baik dan sederhana karena anak usia ini sudah mulai belajar bahasa yang baik dan benar. Cerita humor juga bisa jadi pilihan.


Pernah dengar lagu yang ada liriknya “Sorry is the hardest word to say?” Ternyata itu bukan omong kosong si pencipta lagu saja, lho. Maaf, baik meminta maupun memberi, adalah hal sulit untuk dilakukan. Dibutuhkan keberanian dan pengorbanan harga diri untuk minta maaf, terlebih lagi untuk memaafkan. Memaafkan apalagi melupakan, lebih sulit dilakukan khususnya oleh anak-anak.

Sebagai orangtua, Anda bisa mengajarkan pada anak dan memberi contoh. Jika Anda berbuat salah, cepatlah minta maaf. Sebaliknya jika Anda sudah memaafkan, biasakan tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan orang tersebut.

Ketika memaafkan kesalahan, Anda tidak hanya membantu orang itu, tapi juga meringankan beban diri sendiri. Nah, hal inilah yang perlu ditanamkan pada anak. Dengan memaafkan, kita bisa menjalani hidup lebih positif dan tidak terbebani rasa marah. Tapi, memaafkan itu tetap tak mudah.

Berikut beberapa tip agar anak mudah memaafkan:
  • Ajari anak untuk memahami dan menyalurkan perasaan dengan cara yang tepat. Jangan biasakan untuk memendam. Ajak anak membicarakan masalahnya, dan ajarkan cara aman untuk melampiaskan marah seperti mencoret-coret kertas, meninju bantal atau berteriak di kamar mandi.
  • Ajari anak untuk berterus terang pada orang yang membuatnya sakit hati. Contoh, dorong anak untuk meminta teman yang merusak mainannya untuk membantu memperbaiki mainan itu atau dorong anak untuk mengatakan pada temannya, ia tidak suka dikatai “bodoh”.
  • Dorong anak untuk memaafkan dan melupakan. Katakan, dengan memaafkan ia akan cepat terlepas dari perasaan marahnya.
  • Dorong anak untuk berbuat baik pada orang yang berbuat salah padanya. Ini mungkin paling sulit dilakukan dan terkesan tidak masuk akal bagi anak. Beritahu dasar pemikirannya, orang yang menyakiti orang lain adalah orang yang mengalami penderitaan di dalam dirinya. Karena itu, justru patut dikasihani dengan harapan kebaikan dapat mengubah keburukan dalam diri orang itu.

Persiapan Ujian setiap pagi dengan berdzikir dan doa
Ujian Nasional untuk Sekolah Dasar telah diselenggarakan dari hari senin tanggal 18-10 Mei 2015. UN serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia.

Bina Amal menyambut UN dengan persiapan matang. Dari tempat pelaksaan yang terjamin kondusif, rapi dan bersih membuat siswa mengikuti ujian fokus dan nyaman.

Bina Amal juga menyiapkan siswa untuk menghadapi ujian dengan bedah materi, try out dan berdoa sama. Harapannya siswa menjawab soal dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Dukungan orangtua juga menjadi semangat siswa agar tidak stres. Ujian Nasional menjadi momok menakutkan sebagian besar siswa.

Hasil UN biasanya menjadi patokan untuk masuk sekolah favorit SMP di semarang. Harapan untuk siswa gara mengerjakan dengan jujur dan mendapat nilai tertinggi.
Serta Bina Amal dapat meluluskan 100%.



Pagi yang bebas keributan

Mungkin Anda juga mengalami hal ini. Si kecil sulit dibangunkan, sementara si kakak ribut mencari kaos kaki kesayangannya. Anda sendiri juga harus segera bersiap menuju kantor. Memang, akhirnya semua berhasil terlampaui. Tapi, ada cara yang lebih baik untuk memudahkan hari Anda:

Sambut dengan ceria
Hindarkan sedapat mungkin membangunkan si kecil sambil marah-marah. Awal yang buruk bisa mempengaruhi seluruh harinya. Cobalah membangunkan dia dengan penuh kelembutan, gelitiki pelan perutnya, ajak ia bercanda, atau tanyakan di mana mainan yang semalam asyik ia mainkan sebelum tidur. “Lho, ke mana mainanmu, bukankah semalam kamu letakkan di sini?” Ia pasti akan langsung membuka mata.

Buat morning list bergambar
Setelah si sulung selesai mandi dan berpakaian, kini giliran adiknya. Bangunkan si adik sambil mempersiapkan diri Anda sendiri. Gunakan daftar bergambar untuk memudahkan anak mematuhi jadwal yang Anda susun bersama mereka untuk dilaksanakan di pagi hari.

Siapkan cadangan makanan praktis
Adakalanya semua berjalan mulus dan anak Anda menyantap apa yang tersaji di meja makan tanpa banyak komentar. Tapi, adakalanya Anda tak seberuntung itu. Belum lagi mencicipi apa yang ada di piringnya, ia sudah menolak dan bilang bosan. Tak apa kali ini Anda sedikit mengalah. Tawarkan padanya apa yang Anda miliki sebagai makanan pengganti. Tentu hanya makanan yang tidak membutuhkan persiapan yang repot.

Jangan lupa bekal yang sehat dan yummy!

Agar anak tak tergoda untuk jajan, pastikan bekalnya tak kalah menarik dan lezat. Pesan pada pembantu sehari sebelumnya, apa yang Anda ingin ia siapkan sebagai bekal untuk si kecil. Biarkan ia menyiapkan semua bahan malam sebelumnya, sehingga pagi harinya tinggal diolah. Jangan lupa sajikan dengan menarik agar si kecil lebih bersemangat menyantapnya!

Nah, kini si kecil siap berangkat ke sekolah, dan Anda bisa berangkat ke kantor, atau melakukan aktivitas lain dengan tenang.


Setelah menghabiskan 7 jam di dalam kelas, siapa yang sudi duduk dan mengerjakan PR? Pasti anak usia 6-8 tahun lebih memilih bermain bersama teman, mengikuti ekstrakulikuler, atau bermalas-malasan di depan televisi. Yang kita hadapi: Pekerjaan rumah memang membantu pembelajaran anak tapi tetap saja itu adalah tugas berat bagi anak. Pada usia tersebut, anak mulai terbiasa mengerjakan pekerjaan yang dia suka. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai sosialisasi daripada tugas-tugas sekolah. Jadi jangan terlalu kaget jika anak Anda mengeluhkan beban pekerjaannya.

Berdasarkan survei sebuah lembaga penelitian nirlaba AS, hampir separuh jumlah orang tua beradu argumen dengan anak mereka seputar PR. Tapi bukan berarti PR menjadi sumber ketegangan antara Anda dan anak. Kiat berikut akan membuat kegiatan belajar menjadi lebih mudah.
  • Mulai dengan kudapan dan aktivitas fisik. Anda tidak bisa memaksa anak berkonsentrasi dalam keadaan perut kosong. Selalu siapkan kudapan di dalam mobil dan biarkan ia menyantap selama dalam perjalanan pulang dari sekolah. Kemudian, biarkan anak bermain sebentar dan ia akan siap mengerjakan PR begitu sampai di rumah.
  • Jalankan rutinitas. Tanyakan kepada anak saat yang tepat untuk mengerjakan PR. Sesuaikan juga jadwal membuat PR dengan aktivitas lain seperti les piano atau latihan sepak bola. Jika si kecil kedatangan teman bermain, ajak mereka mengerjakan PR bersama.
  • Bentuk keteraturan. Ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan: meja belajar, rautan, penghapus, kamus, dan gunakan warna untuk mengelompokkan buku. Biarkan anak mengerjakan PR di dapur jika dia menginginkan namun pastikan ia bekerja mandiri bukan menghujani Anda dengan pertanyaan saat Anda sedang memasak.
  • Izinkan dia pegang kendali. Prinsip utama mengerjakan PR adalah mengajarkan tanggung jawab kepada anak untuk menyelesaikan tugas. Jika dia lupa halaman yang harus ia kerjakan, izinkan dia menelpon dan menanyakan kepada teman satu kelas. Anda boleh mengingatkan secara halus (“Ingat kan kakak punya PR matematika dan bahasa yang harus dikumpulkan Rabu?”), jangan paksa anak untuk segera menyelesaikan tugasnya. Biarkan ia menghadapi konsekuensi jika dia tidak mengerjakan PR.
  • Beri kelonggaran. Jika anak Anda mengikuti segudang kegiatan ekstrakulikuler, ia akan kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan PR. Dia juga bisa kehilangan watu istirahat yang penting bagi kreativitas. Agar anak tidak kelelahan, Anda bisa membantu dia memilihkan ekstrakulikuler yang tidak memakan terlalu banyak waktu latihan: dua kali dalam satu minggu cukup. Saat tidak mengikuti ekstrakulikuler, anak pulang sekolah, mengerjakan PR, dan bermain bersama teman.
  • Jangan biarkan terputus. Begitu si kecil duduk dan mengerjakan PR, beri dia semangat untuk menyelesaikan seluruh soal sebelum bermain komputer. Bukan menyegarkan konsentrasi anak, “gangguan” sejenak atau dalam waktu lama justru membuyarkan konsentrasi dan membuat pekerjannya tidak kunjung selesai.
  • Beri contoh. Misalnya, ketika anak sedang mengerjakan PR matematika, Anda bisa menyortir surat atau menghitung tagihan. Dengan duduk di sampingnya dan memberi contoh nyata aplikasi matematika, ia mengetahui bahwa PR-nya berguna untuk keseharian.
  • Berpikir positif. Beri apresiasi atas pencapaian anak dan jangan menghardik jika dia melakukan kesalahan. Jika ia berhasil menjumlahkan angka dengan benar, beri pujian “hebat”. Dan jika ia salah, ucapkan “hampir”, beri jawaban benar, dan beri satu tebakan lagi.
  • Beri petunjuk, bukan jawaban. Anda bisa memberi jalan untuk mencari jawaban tapi jangan kerjakan PR dia. Hal itu membuat anak tidak punya kebanggaan terhadap jerih payah dan tanpa sadar Anda menciptakan kebiasaan yang sulit diubah. PR adalah tugas anak, bukan Anda.



Berikut tahap perkembangan moral pada anak yang perlu Anda ketahui:

1. Bayi

Seorang bayi belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan moralnya. Yang ia miliki hanyalah rasa benar dan salah terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri. Contohnya: Bagi bayi, rasa lapar itu adalah salah, sehingga ia menangis saat lapar.

2. Batita

Menginjak satu tahun, anak belum memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu sebagai benar atau salah. Patokan baginya hanyalah apa yang mama dan papa katakan padanya.

3. Prasekolah (3 - 7 tahun)

Inilah saat di mana anak mulai memasukkan nilai-nilai keluarga ke dalam dirinya. Apa yang penting bagi mama dan papa juga akan menjadi penting baginya. Di sinilah Anda mulai dapat mengarahkan perilakunya, sehingga sesuai dengan aturan dalam keluarga. Dalam tahap inilah seorang anak mulai memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan memengaruhi orang lain.

4. Usia sekolah (7 - 10 tahun)

Otoritas orang dewasa (mama, papa, guru, dsb) tidak lagi terlalu ‘menakutkan’ buat anak usia sekolah. Mereka tetap tahu bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati, tetapi mereka juga tahu bahwa jika melanggar aturan, maka mereka harus memperbaikinya.

Perasaan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’ sudah mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Dan, satu lagi seperti yang telah dikatakan Nessi di atas, anak usia sekolah ini juga mulai memilah mana saja perilaku yang akan mendatangkan ‘keuntungan’ buat mereka.

5. Praremaja dan remaja

Di usia ini, anak akan berusaha untuk menjadi populer. Tekanan teman sebaya dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya akan membuat mereka terus memilah mana nilai-nilai akan menjadi bagian dari diri mereka.

Praremaja dan remaja mungkin akan terombang-ambing dan mencoba nilai yang berbeda dengan nilai keluarga untuk melihat mana yang cocok. Bisa jadi, nilai keluarga yang telah dianutnya sejak lama justru dibuang karena ‘kalah’ dengan nilai baru yang dikenalnya di luar.


 PENGUMUMAN
HASIL SELEKSI I CALON GURU
DAN PEGAWAI BARU 2015


    Berikut kami sampaikan daftar nama calon guru dan pegawai baru 2015 yang dinyatakan berhak mengikuti seleksi lanjutan guru dan pegawai dilingkungan Yayasan Wakaf Bina Amal adalah Sebagai Berikut:

Calon guru SMPIT Bina Amal

  1. Catur Isriyantono, S.Pd
  2. Sarah juni Susanti, S.pd
  3. Faezal Reza Nugraha, S.Pd
  4. Yulista, S.Pd
  5. Mustakim, S.E
  6. Septi Nurul Aeni, S.Pd
  7. Ina Oktavia, S.Psi
  8. Akhmad Sholikin, S.Pd
  9. Maulina wijayanti, S.Pd
  10. Cecep Yudistria, S.Pd

Calon guru SDIT Bia Amal

  1. Wiwik Setyorini, S.Pd
  2. Siti Maesaroh, S.Pd
  3. Eka Prihantini Ngusman. S.Pd SD
  4. Sapti Ambarsari, S.Sos I
  5. Vita Ani Pratiwi, S.Pd
  6. Yulia Rosyida Ekowati, S.Pd

Calon Pegawai/ Karyawan SMP IT Bina Amal

  1. Hariyanto
  2. Purwanto

Calon Pegawai / Karyawan SDIT Bina Amal
 
  1. Rifki Aria
  2.  Nur Kusumo C
  3.  Heri Riswanto

Calon Musyrif/Musyrifah

  1. Muhammad Iqbal
  2. Asma’ Hanifah
Bagi calon guru yang lolos seleksi I harap hadir untuk mengikuti test microteaching dan BTAQ sesuai jadwal pada lampiran, bagi pegawai atau karyawan yang lolos seleksi I harap hadir untuk mengikuti seleksi lanjutan pada tanggal 1 Juni 2015 dikampus satu (Jl. Kyai Saleh no.8), bagi calon Musyrif/Musyrifah harap hadir tanggal 1 Juni 2015 dikampus dua (SMPIT Bina Amal).

Dowload 

Jadwal Guru Baru
Jadwal Microteaching SMP 14-15


Studi menunjukkan, anak yang makan makanan tinggi glikemik, gula darahnya akan meningkat lalu mendadak turun–membuatnya merasa lebih lapar. Ini akan berujung kepada makan berlebihan dan kegemukan.

Coba diet karbohidrat rendah atau medium glikemik, dan kurangi makanan tinggi glikemik.

Contohnya:

RENDAH Brokoli, wortel, alpukat, apel, beri, kacang polong, steel-cut oatmeal, hummus, kacang-kacangan, selai kacang tanpa pemanis buatan, yogurt tanpa rasa (boleh diberi madu dan buah), susu, keju.

MEDIUM Nanas, ubi, pisang, buah kering, saus apel, selai kacang dengan pemanis buatan, pasta, sereal berserat tinggi, stone-ground bread, beras merah, es krim.

Jagung, kentang, beras putih, kentang goreng, keripik kentang, jus, selai, yogurt dengan pemanis buatan, roti-rotian, panekuk, waffle, pizza, popcorn, pretzel, taco shell, oatmeal instan, sereal, yogurt beku.


Cara terbaik mengamankan anak dari risiko terluka adalah melengkapinya dengan pelindung khusus sesuai cabang olah raga.

Pelindung lengan, siku, dan  lutut – Semuanya penting untuk bermain sepatu roda, skateboard, atau hockey.

Pelindung tungkai kaki – Jika anak bermain sepakbola, ia membutuhkan pelindung tungkai untuk mencegah memar dan tergores.

Pelindung antara paha – Anak laki-laki perlu menggunakan pelindung ini saat bermain baseball atau olah raga dengan kontak fisik keras, seperti rugby atau hockey.

Kacamata pelindung – Anak-anak yang memakai kacamata atau lensa kontak sebaiknya menggunakan kacamata pelindung berbahan polikarbonat atau lensa Trivex untuk berolah raga.

Helm pelindung – Anak harus memakai helm untuk bermain sepeda, sepatu roda, skateboard, baseball, rugby, dan hockey. Pastikan helm yang dikenakannya pas di kepala, berjarak sekitar dua jari di atas alis, dan tidak mudah terlepas.

Pelindung mulut – Semua pemain gulat, rugby, dan hockey harus menggunakan pelindung mulut untuk mencegah luka di gigi, pipi, lidah, dan rahang.


Obrolan seputar gaji dan keuangan memang masih tabu untuk dibicarakan dengan anak. Namun, jika ternyata hal tersebut dapat membantu anak agar ia cerdas finansial, mengapa tidak?

Pernah memberitahu berapa gaji Anda kepada anak? Memang, topik seputar gaji adalah hal yang sensitif untuk dibicarakan – meski dengan orang terdekat sekalipun. Namun, Ron Lieber, penulis buku “The Opposite of Spoiled” sekaligus kolumnis keuangan di New York Times menyarankan untuk membicarakan soal uang sebelum anak-anak beranjak dewasa, meskipun hal ini mendorong orang tua keluar dari zona nyaman mereka.

Membicarakan mengenai uang, menurutnya, akan menghilangkan banyak teka-teki yang ada dan mempermudah anak-anak membuat pilihan cerdas tentang keuangan untuk diri mereka sendiri.

Terinspirasi dari buku Lieber, Steve Schaffer – CEO website Offers.com – membuat sebuah sistem tunjangan keuangan yang unik untuk mengajari anak-anaknya. Schaffer dan istrinya memberikan sejumlah uang untuk masing-masing anak yang besarnya disesuaikan oleh usia setiap anak. Misalnya anak usia 10 tahun mendapat uang $10, 12 tahun mendapat $11 dan 14 tahun mendapat $12.

Lalu setiap anak harus menyerahkan seperempat dari uangnya untuk ‘pajak keluarga’, sedangkan 15% dari uang tersebut akan disimpan di tabungan. Sepuluh persen dari uang tersebut harus disedekahkan kepada orang lain, lalu sisanya bisa dipergunakan oleh anak. Dengan cara ini, anak-anak akan mengerti nilai dari uang yang mereka miliki sehingga mereka tak akan sembarangan dalam membelanjakannya.
Jika Anda tertarik mengikuti cara Schaffer ini, beberapa strategi berikut mungkin bisa menjadi tambahan ide untuk mengajarkan anak mengenai keuangan:

1. Tunjukkan pada anak bagaimana membelanjakan uang sesuai kemampuan mereka.

Meskipun Anda memberi kebebasan penuh pada anak untuk membelanjakan milik mereka, namun harus tetap sesuai budget. Salah satu anak Schaffer sempat minta ijin untuk membeli iPhone dengan menggunakan uang tunjangan yang ia miliki. Schaffer pun bertanya: “Apakah kamu juga sanggup membeli pulsa bulanan dengan uangmu sendiri?” Ternyata hal tersebut terasa memberatkan sehingga anak mengurungkan niatnya membeli iPhone (setidaknya sampai ia cukup dewasa!).

2. Biarkan anak melakukan kesalahan ketika membeli barang
Mungkin Anda sadar bahwa anak akan menghabiskan uang untuk membeli mainan yang hanya ia mainkan satu dua kali saja. Anda tak perlu mencegahnya. Tetapi dari pengalaman tersebut ia akan belajar sesuatu dan tak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

3. Ajak anak berbelanja bersama
Rasanya mungkin ribet harus mengajak anak pergi belanja bulanan, namun anak dapat melihat bagaimana Mama membuat pilihan dan mencari diskon. Hati-hati juga, Ma, untuk tidak cepat menyerah pada keinginan impulsif anak. Ia akan menyalahartikan bahwa uang miliknya bisa digunakan untuk membeli barang-barang tidak penting tanpa dipertimbangkan dulu sebelumnya.

4. Dorong anak untuk menetapkan target
Misalnya ia ingin membeli mainan robot yang sudah lama diincarnya. Jadikan itu sebagai target untuknya menyisihkan uang yang ia miliki. Memiliki target membantu anak menunda kepuasan, dan juga latihan yang bagus agar mereka menabung untuk yang lebih besar seperti uang pension atau liburan saat dewasa nanti.

5. Cari alternatif pengganti celengan
Salah satunya dengan botol plastik bekas yang disulap untuk menjadi celengan. anak bisa melihat dengan jelas pertumbuhan uangnya sehingga ia makin bersemangat menabung.

6. Hindari iklan televisi
Iklan tv terutama yang diputar selama acara anak-anak biasanya muncul bertubi-tubi dan sangat mengganggu. Lieber dalam bukunya menjelaskan dampak negatif dari iklan TV, salah satunya mengganggu nilai-nilai yang sudah Anda ajarkan selama ini kepada anak.

7. Gunakan kalimat: “Mengapa kamu bertanya?”
Setiap kali anak melemparkan pertanyaan menantang seputar keuangan, kalimat tersebut membuat Mama mudah mencari tahu dulu apa sebenarnya yang ada di pikiran anak atau pernah didengarnya. Selain itu, Anda juga jadi punya waktu untuk memikirkan jawabannya.

 
Apakah Anda kesulitan meminta anak memakan sayuran dan buah? Nah, para peneliti dari Harvard School of Public Health di Boston, menemukan fakta bahwa memasang stiker tokoh kartun pada tempat makanan atau kulit buah akan menarik minat anak. Menurut David Just, dari Cornell Center for Behavioral Economics in Child Nutrition Programs di Ithaca, New York, penelitian tersebut diinspirasi oleh pola marketing perusahaan makanan ringan. "Kebanyakan perusahaan makanan menggunakan tokoh-tokoh kartun dan bungkus yang menarik mata anak. Jika kita mencoba untuk mempromosikan makanan sehat, kita harus sepintar perusahaan yang menjual kurang sehat makanan," papar David.

Menggunakan stiker pada buah-buahan dan sayuran bisa menjadi salah satu pilihan murah untuk membantu meningkatkan diet sehat anak. "Ide ini sebenarnya sederhana dan bisa diterapkan semua orang, terutama jika Anda sedang berjuang untuk mengusahakan anak-anak untuk makan makanan sehat," lanjutnya. Ia juga menyarankan, untuk lebih menarik minat anak, gunakan sebutan lain untuk buah dan sayuran. "Ciptakan nama imajiner yang sesuai dengan usia anak. Misalnya wortel energi atau brokoli pengubah wujud," ujar David.


Kita tahu bahwa asam lemak omega-3, seperti DHA, baik untuk perkembangan otak bayi, tetapi penelitian baru dari University of Oxford, Inggris, menemukan bahwa lemak itu juga dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak yang sedang berlatih untuk meningkatkan kemampuannya. Dalam studi tersebut, anak-anak berusia 7 sampai 9 tahun diberi suplemen 600 mg DHA setiap hari selama 16 minggu.

Anak-anak yang terdeteksi memiliki kemampuan membaca rendah mengalami peningkatan sebanyak 20 persen dalam kemampuan membaca secara signifikan dalam jangka waktu 16 minggu percobaan. Tak ada rekomendasi tentang asupan omega-3 bagi anak-anak secara harian, tapi Sarah Krieger, RD, seorang ahli diet yang bersertifikat menunjukkan bahwa anak-anak dapat terpenuhi gizinya dengan mengonsumsi 3 ons ikan setiap minggu, seperti salmon atau tuna kalengan. Jika ikan sulit didapatkan, cobalah telur atau susu yang telah difortifikasi omega-3.


Definisi cerdas sudah berkembang pesat. Patokan kecerdasan seseorang tak lagi dilihat dari IQ (Intellegence Quotient) semata, tetapi telah merambah ke EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), hingga CQ (Creativity Quotient).

Seperti belum cukup itu semua, kini muncul aspek baru yang akan menambah kualifikasi kecerdasan seseorang, yang disebut MQ (Moral Quotient) atau kecerdasan moral.

Michele Borba, Ed.D, dalam bukunya Building Moral Intelligence, mendefinisikan kecerdasan moral sebagai kemampuan untuk memahami benar dan salah, serta  pendirian yang kuat untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan norma moral.

Sederet kualifikasi di atas mungkin terdengar bagai PR berat bagi orang tua. Selain mengisi otak anak dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, Anda juga dituntut mengisi hatinya dengan sederet kebaikan. Empati, jujur, adil, dan masih banyak lagi. Akan menjadi ringan jika Anda mulai konsisten mengajarkannya sejak dini.


‘Bekal’ sukses seorang anak kelak tak hanya ditentukan oleh isi otaknya, tetapi juga ‘isi hatinya’.


Sejak penggunaan media sosial meningkat pesat, kasus pelecehan di dunia maya juga semakin tinggi. Celakanya kasus pelecehan melalui internet sering sekali menimpa anak-anak. Para predator internet tersebut sengaja mengincar anak-anak karena mereka masih polos dan mudah dipengaruhi. Tujuan predator itu mengincar anak-anak sebagian besar adalah untuk mencuri data pribadi orangtuanya.

Sebagai orangtua, kita wajib waspada terhadap ancaman predator ini. Membatasi penggunaan internet pada anak perlu solusi terbaik. Bilang pada anak bahwa menjaga privasi dunia maya sangat diperlukan. Bila Anda belum tahu cara mengajarkan privasi pada anak, kami berikan cara-caranya di bawah ini.
  • Ajarkan anak mengatur setting privasi di media sosial yang dia ikuti, misalnya Facebook dan Twitter. Beri pengertian kenapa itu harus dilakukan, yaitu untuk mencegah agar data mereka tidak bisa diakses sembarang orang.
  • Awasi foto dan video yang diunggah anak-anak Anda. Walau sudah diberitahu bahwa mereka tidak boleh mengunggah foto dalam pose terbuka atau video yang terlalu pribadi, kadang anak lupa atau sengaja melanggar. Tetap awasi mereka, dan segera tegur jika masih melakukan hal yang sudah dilarang. Beri tahu apa akibatnya jika masih mengunggah foto yang terlalu pribadi.
  • Ingatkan anak-anak untuk tidak memposting alamat email dan nomor telepon di social media, apalagi yang masih ber-setting publik.
  • Katakan bahwa password hanya boleh diberitahu pada orang tua saja, bukan ke teman, atau orang lain.
  • Minta anak agar tidak membalas email yang meminta informasi pribadi, dan langsung menghapus email yang berasal dari pengirim tak dikenal.
  • Ajari anak untuk membuat nama user email yang tidak langsung bisa ditebak. Jangan gunakan username uang yang mengandung nama lengkap, tanggal lahir, bahkan alamat. Buatlah username yang tidak dapat dikenali apakah pemiliknya lelaki atau perempuan.
  • Ingatkan anak agar segela melapor pada Anda atau guru jika ada yang berbuat tidak menyenangkan atau membuatnya merasa terancam di dunia maya.


Semua orangtua tidak ingin melihat anaknya berada dalam kesulitan, bahkan sedetik pun. Tapi, ingat bahwa yang Anda lakukan hari ini adalah untuk masa depan mereka (dan juga Anda sendiri):

1. Amati
Dahulukan mengamati sebelum memberi bantuan. Anak tahu batas kemampuannya dan mereka akan memberi tahu Anda jika sudah siap melakukan suatu tugas perkembangan.

2. Jadilah sekutunya
Berikan bantuan yang sesuai dengan daya pikir, emosi dan kemampuan usia anak. Bonnie Harris, pengarang buku Confident Parents, Remarkable Kids, menyarankan, “Daripada memaksanya membereskan mainan, lebih baik ajak anak bermain,  ‘Aku akan mengambil yang berwarna merah, dan kamu yang biru, ya.” Jangan lupa memujinya saat ia berhasil melakukan permintaan Anda.

3. Pilih waktu yang tepat
Minggu sore yang santai adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan cara menyikat gigi. Ajarkan teknik yang benar saat ia sedang bersantai, bukan ketika lapar atau justru sudah mengantuk.

4. Tahap demi tahap
Anak ingin memasak? Ajarkan untuk memulai dengan yang paling sederhana: roti panggang. Pastikan ia sudah memahami konsep panas-dingin, kapan mengoles margarin, dan mengapa margarin leleh jika terkena panas.

5. Berikan kendali
Saat anak sudah mahir melakukan suatu hal, berikan ia suatu tanggung jawab. Jika ia butuh mengingat beberapa detailnya, ajarkan. Anak butuh untuk mencoba sendiri dan bertanggung jawab.

6. Selalu mendukung
Ketika ia sudah berulang kali mencoba dan tetap gagal, tunjukkan dukungan Anda tanpa berlebihan. Kegagalan membuatnya belajar bahwa ia punya keterbatasan, yang selanjutnya akan mempengaruhi bagaimana ia membuat keputusan saat menghadapi masalah.



Latihlah tahapan hipnosis berikut dan lakukan berulang-ulang agar sugesti yang Anda tanamkan bisa bekerja efektif. Hasilnya, si kecil akan memiliki sikap terpuji seperti yang Anda harapkan. Selamat mencoba.

1 Keyakinan. Pertama kali, Anda perlu yakin metode ini bisa bekerja. Dengan keyakinan, Anda akan menjiwai sugesti yang Anda bisikan ke anak. Jika Anda ragu, percuma saja.

2 Rileks. Tidak hanya ucapan Anda yang ditangkap alam bawah sadar anak, melahirkan energi Anda. Ketika Anda merasa rileks dan nyaman, si kecil akan menangkap energi tersebut dan dia pun mendengarkan sugesti Anda dengan tenang.

3 Menuliskan Sugesti. Supaya Anda tidak perlu berpikir untuk merangkai kata-kata saat melakukan hipnosis, ada baiknya Anda menuliskan sugesti yang ingin Anda sampaikan. Ketika mempraktikan hipnosis, Anda tinggal membacakan kalimat yang sudah Anda tulis.

4 Kalimat positif. Susun kata-kata positif yang pendek, singkat, dan jelas. Hindari pemakaian kata “jangan”, “tidak”, dan “bukan”. Misalnya, ketika Anda ingin memasukkan sugesti agar anak rajin belajar, katakan, “besok, adik jadi anak rajin, ya.”  Atau, ketika si kecil kerap memukul temannya, katakan, “Sayangi temanmu, ya, nak”.

5 Amati tarikan napas. Sebelum memberikan sugesti, hitung tarikan napas anak. “Sebaiknya antara 6-8 tarikan napas per menit. Ini untuk menjamin anak sudah tidur pulas.

6 Lewati critical area. Dekati anak dengan lembut, pegang dagunya, lalu goyangkan dagu anak sedikit ke kiri dan ke kanan sambil mengucapkan kalimat berikut dengan mantap disertai nada rendah datar: “Ini mama yang bicara. Kamu bisa dengar mama tapi tetap tutup mata. kamu bisa dengar mama tapi tetap tutup mata. kamu bisa dengar mama tapi tetap tutup mata.

7 Menunggu respons. Jika anak tidur sangat lelap, kalimat di atas mungkin perlu diulangi beberapa kali sehingga Anda bisa menembus pikiran bawah sadarnya. Lanjutkan dengan kalimat, ”Jika kamu dengar, gerakan telunjuk yang mama sentuh. Jika kamu dengar, gerakkan telunjuk yang mama sentuh, kamu bisa dengar mama tapi tetap tutup mata.

8 Bacakan sugesti. Setelah pikiran bawah sadar anak merespons, bacakan sugesti yang telah Anda susun sebanyak tiga atau empat kali untuk memastikan sugesti tersebut sampai ke pikiran bawah sadar anak.

9 Kalimat penutup. Setelah semua tahapan itu selesai, tutup dengan kalimat berikut, “kalau mama berhenti bicara, kamu akan kembali tidur nyenyak seperti tadi. Kamu tidak akan ingat apa yang baru saja mama sampaikan tapi kamu merasakan perubahan dalam dirimu ketika bangun besok pagi dengan sangat segar.Segera tidurlah kembali dengan sangat nyenyak.


Banyak hal yang bisa dipelajari dari perbedaan. Keberagaman membuat pikiran kita semakin terbuka. Jika anak Anda berada satu kelas dengan anak yang normal/berkebutuhan khusus, hal-hal berikut ini perlu Anda pertimbangkan.

Jika anak Anda berkebutuhan khusus, sebaiknya Anda…
  • Memahami anak. Tahu betul di mana kekurangan dan kekuatan anak Anda. Jangan menaruh harapan yang melebihi kemampuan anak karena ia bisa merasa terbebani dengan target yang Anda patok.
  • Meneruskan pelajaran yang didapat anak di sekolah. “Jam sekolah hanya sebentar, anak paling banyak menghabiskan waktunya di rumah,” kata Dra. Satiti Sabarwati, guru inklusi di SDN Pela Mampang 01 Pagi. Karena itu, anak bisa berkembang optimal jika orang tua meneruskan materi yang diberikan di sekolah. “Murid saya yang menderita keterbelakangan mental maju pesat karena ibunya telaten. Dia sekarang sudah bisa menulis berkat ibunya yang tidak pernah lelah mengulang pelajaran ketika di rumah,” ujarnya.
  • Jaga hubungan baik dengan sekolah. Komunikasi dengan pengajar dan manajemen sekolah harus dijaga agar Anda dapat mengetahui perkembangan anak, punya kesempatan memberi dan menerima masukan.
  • Jangan jadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak. Keikutsertaan Anda dalam kegiatan pembelajaran akan membawa dampak yang sangat positif. Partisipasi Anda bisa diwujudkan dengan menyumbangkan gagasan dalam berbagai kegiatan sekolah, menjadi donatur, atau mulailah dengan hal-hal yang tampaknya sepele, seperti mendampingi anak ketika ia ambil bagian dalam acara yang diadakan di sekolah.
  • Jangan membandingkan anak Anda dengan teman sebayanya. Kalimat seperti, “Tuh, si Andi saja bisa, kenapa kamu tidak? Padahal kalian kan satu kelas,” bisa menyakiti anak Anda. Lebih jauh lagi, perkataan tersebut bisa mematahkan semangat, membuat anak merasa minder, dan enggan bersosialisasi.
  • Beri si kecil pujian. Sekecil apapun kemajuan yang dibuat anak, hargai usahanya. Beri dia pujian atas prestasinya dan umumkan di depan seluruh anggota keluarga. Penghargaan Anda akan memacu semangatnya untuk terus belajar.

Jika anak Anda normal, sebaiknya Anda…
  • Jangan paranoid. Membiarkan anak Anda yang normal belajar satu atap dengan anak berkebutuhan khusus sama sekali tidak merugikan. Keadaan itu justru membantu Anda menanamkan sifat-sifat terpuji kepada anak.
  • Meringankan beban orang tua anak berkebutuhan khusus. Bercakap-cakap dengan orang tua yang anaknya menderita autisme ketika menjemput anak Anda pulang, membuktikan bahwa Anda tidak memandang rendah orang lain dan itu amat membantu.
  • Memberi pengertian kepada anak. Sikap anak di sekolah tentunya dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditanamkan di rumah. Karena itu, teruslah ingatkan anak Anda untuk bersikap baik terhadap siapapun di sekolah. Dan, jangan lupa, Anda juga harus memberi contoh sikap toleransi karena anak adalah peniru ulung.
  • Lebih bersyukur. Kesempatan berinteraksi dengan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus bisa membuat Anda lebih bersyukur dengan keadaan anak Anda. Membesarkan anak berkebutuhan khusus jelas tak mudah dan memerlukan kesabaran ekstra. Petik hikmahnya dari kesempatan itu dan jadikan sebagai pengalaman yang semakin mendekatkan Anda dengan buah hati.



Yang disebut dengan susu kedelai dan susu almond sebenarnya adalah sari yang diperoleh dari kedua jenis kacang tersebut. Teknik pembuatannya pun sama, yaitu dengan cara menghaluskan kacang yang sudah dicampur air, kemudian memeras sarinya.

Susu kedelai sudah lebih dulu dikenal di Indonesia, jauh sebelum susu almond yang muncul bersamaan dengan tren mengonsumsi raw food alias makanan mentah belakangan ini.

Meski demikian, kedua jenis susu ini sama-sama lezat rasanya dan sama-sama bisa dikonsumsi sebagai sumber protein alternatif dari susu sapi.

Manakah yang lebih baik?

Kedelai merupakan sumber protein yang paling unggul dibandingkan jenis kacang-kacangan lainnya, termasuk almond. Secara umum, kandungan protein di dalam kedelai bernilai setidaknya 2 kali lebih banyak dibandingkan kandungan protein di dalam almond.

Kedelai juga memiliki kandungan lemak dan kalori yang relatif  lebih tinggi dibandingkan almond. Karenanya, pastikan dulu kondisi kebutuhan nutrisi anak sebelum Anda memutuskan untuk memberi susu kedelai atau susu almond padanya.


Apakah karakter di bawah ini sesuai dengan anak Anda yang berusia 6-9 tahun? Jika benar demikian, ada beberapa tip mudah untuk menangani kebiasaannya yang jelek ini.

Pecundang

Meninggalkan buku di sekolah atau sering tertukar alat tulis dengan milik temannya.

Cara memerbaiki: namai semua barang-barang milik anak, mulai dari topi sampai dengan kaus kakinya. Jika menuliskan inisial, biarkan dia membantu Anda.

Pemenang

Menyukai permainan hanya jika dia bisa memenangkannya.

Cara memerbaiki: Alih-alih menciptakan kompetisi, lebih baik berikan permainan yang bersifat kooperatif, misalnya jigsaw puzzle.

Bos Besar

Baginya, yang terpenting adalah caranya, dan bukan cara orang lain. Dan hal ini akan mengganggu semua orang, mulai dari kawan-kawannya sampai anjingnya.

Cara memerbaiki: Berikan dia tanggung jawab! Tentukan waktu tertentu dimana dia boleh menentukan segalanya. Biarkan dia yang memutuskan jenis permainan yang ingin dimainkan, DVD yang ingin ditonton atau sayur untuk makan malam.


Kebaikan itu sangat luas maknanya, tapi Borba menyebutkan bahwa ada 7 kebaikan utama yang diperlukan untuk membangun kecerdasan moral seseorang. Inilah 7 kebaikan utama versi Borba:

1. Empati
Merupakan inti emosi moral yang membantu anak memahami perasaan orang lain.

2. Hati nurani
Suara hati yang membantu anak memilih jalan yang benar, serta tetap berada di jalur yang bermoral, membuat dirinya merasa bersalah ketika menyimpang dari jalur yang semestinya..

3. Kontrol diri
Membantu anak menahan dorongan dari dalam dirinya dan berpikir sebelum bertindak, sehingga dapat melakukan hal yang benar dan kecil kemungkinan mengambil tindakan yang akan menimbulkan akibat buruk.

4. Menghormati orang lain
Kebaikan ini mengarahkan anak memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain memperlakukan dirinya, sehingga mencegah anak bertindak kasar, tidak adil, dan bersikap memusuhi.

5. Kebaikan hati
Membantu anak untuk mampu menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan dan perasaan orang lain.

6. Toleransi
Membuat anak mampu menghargai perbedaan kualitas dalam diri orang lain, membuka diri terhadap pandangan dan keyakinan baru, serta menghargai orang lain tanpa membedakan suku, gender, penampilan, budaya, kepercayaan, kemampuan, atau orientasi seksual.

7. Keadilan
Menuntun anak agar memperlakukan orang lain dengan baik, tidak memihak, adil, mematuhi aturan, mau bergiliran dan berbagi, serta mendengar semua pihak secara terbuka sebelum memberi penilaian apapun.


Seiring dengan bertambahnya usia, anak semakin mampu mengikuti petunjuk dan senang sekali menunjukkan sikap yang sopan. Di sekolah, misalnya, ia akan selalu diminta untuk diam, mengantre, dan mengacungkan jari saat ditanya guru. Berikut cara untuk membantu anak bersikap sopan:

1. Bicarakan tentang harapan.

Keterampilan berbahasa anak memang terus berkembang, sehingga Anda bisa bertanya padanya tentang bagaimana seharusnya kita menjaga sopan santun. Beritahu apa harapan Anda, dan dengarkan apa yang sulit dia lakukan.

Bila ia tidak bisa duduk diam saat anggota keluarga lain menghabiskan makan malam, biarkan dia meninggalkan meja makan untuk bergerak ke sana sini. Hanya saja, ia harus berada di dalam jangkauan pandangan Anda. (Juga, anak sering mengikuti aturan yang mereka pikir diciptakannya, sehingga minta dia untuk mengatakan aturan sopan santun apa saja yang akan dipikirkannya.)

2. Jaga batasan-batasan.

Mungkin Anda tergoda untuk mengatakan pada anak bahwa Anda sedih ketika ia mengatakan baju Anda jelek. Meski begitu, tetap berusahalah membuka diskusi tentang apa yang bisa dan tidak bisa diterima.

Cara yang lebih baik untuk mengatasinya adalah mengatakan, “Tidak sopan untuk berbicara dengan Mama seperti itu.” Mengajarkan anak sopan santun merupakan proses yang berlangsung terus menerus. Cobalah untuk bersabar dan tetap yakin bahwa anak bisa melakukannya di usia ini.

Waktu dan kesabaran Anda akan terbayar, kok, setiap kali ia mengatakan, “Tolong…..” atau menggunakan serbet saat makan (tanpa Anda suruh!).



Ini bukan situasi yang asing: Anda membiarkan anak-anak menyalakan TV sebelum mereka berangkat ke sekolah. Ketika Anda meminta anak untuk bersiap-siap, dia akan merengek, “Hanya sepuluh menit lagi. Boleh? Tolooooooong!“ Yang kemungkinan terjadi, Anda akan berteriak: “Tidak, kamu berhenti menonton. Titik.” Anak Anda berusaha membujuk. Dan Anda akan berteriak, “Kataku tidak!” Kemudian, anak Anda mengemis lagi, dan Anda berkata, “Kamu sudah punya waktu nonton televisi lebih banyak dari adikmu. Kamu tidak bersyukur.”

Episode seperti itu biasa terulang setiap hari. Apakah ada cara yang lebih baik? Ada. Berikan mereka batasan dan biarkan anak-anak tahu rencana Anda sebelumnya. Beritahu anak seperti ini: “Setelah kamu menggosok gigi dan berpakaian rapi dan siap untuk pergi, kamu dapat menonton TV sebentar, sementara aku mengenakan pakaian adikmu. Nah, kamu akan tepat waktu untuk sekolah.”  Selalu beritahu anak rencana Anda sebelumnya dan apa yang Anda harapkan ia lakukan.

Di lain waktu, anak Anda yang sebelumnya tampak bergembira bermain meniup gelembung dengan seorang teman, tiba-tiba menyerbu ke dalam ruangan, meratap. "Ani tidak memberi aku giliran bermain!". Mungkin Anda tergoda mengatakan sesuatu seperti, 'Tidak ada alasan untuk menangis seperti ini'. Alih-alih tenang, anak Anda menangis lebih kencang dan kemungkinan merusak suasana bermain tersebut.

Yang terjadi sebenarnya: Anda tidak mendengarkan anak. “Semua orang ingin tahu mereka telah didengar dan dimengerti,” kata Adele Faber, pengarang How to Talk and Liberated Parents, Liberated Children. Meminta anak untuk berhenti menangis, menunjukkan pesan bahwa perasaannya tidak penting. Anak-anak sering menangis (atau merengek, berteriak, atau menginjak-injak) karena mereka tidak dapat berkomunikasi mengapa mereka marah atau tidak tahu bagaimana menangani emosinya. “Anda harus memberi mereka kata-kata untuk mengungkapkannya,” kata Faber.

Cara yang lebih baik? Tatap mata anak untuk mengetahui perasaannya, dan akui perasaannya itu. “Sepertinya kamu benar-benar putus asa/kecewa/sedih/marah.” Dan tahan lidah Anda untuk tidak memberikan nasihat (Kamu harus…), membela temannya (Ani juga layak mendapat giliran), atau mulai berfilsafat (Itulah hidup). Diskusikan bersama anak bagaimana cara yang adil baginya dan temannya.

Kalimat seperti, “Kamu tidak pernah mendengarkan Mama.” dan “Berapa kali Mama harus memberitahumu?” menjadi tertanam dalam otak kita dan sepertinya keluar secara otomatis saat menghadapi anak. Kita perlu sedikit latihan untuk berhenti mengucapkan banyak kata-kata. Tapi itulah intinya: dengan mengubah cara kita berbicara kepada anak-anak, sehingga mereka tidak hanya memahami apa yang kita katakan, tetapi benar-benar ingin mendengarkan.



Lebih baik terapkan time-out daripada menyetrap anak dengan cara mengurungnya di kamar mandi. Yang dimaksud time-out di sini adalah menghentikan kegiatan anak Anda sejenak sebagai peringatan. Ikuti langkah-langkah berikut agar penerapannya efektif.

BUAT ATURAN DASAR

Putuskan kapan tepatnya menerapkan time-out (contoh: setiap kali anak Anda memukul, atau mengejek orang lain, atau menantang Anda) dan tentukan tempatnya agar jauh dari anak-anak lain, mainan, dan televisi. Taman bermain atau pekarangan di rumah yang sepi cocok untuk batita; anak tangga paling bawah atau sudut ruang makan cocok untuk anak usia prasekolah.

BERI PERINGATAN

Supaya adil, Anda sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kelakuannya sebelum menerapkan time-out itu. Terangkan secara singkat apa yang salah dan kenapa perbuatannya itu tidak bisa diterima, dan katakan bahwa dia akan dikenai sanksi kalau tidak patuh.

FLEKSIBEL DENGAN WAKTU

Para ahli menyarankan agar lamanya time-out disesuaikan dengan usia anak (misalnya, anak usia 4 tahun cukup 4 menit). Sebagian anak-anak merespons lebih baik pada time-out yang singkat, sebagian lainnya harus disetrap lebih lama. Jika anak Anda yang berusia 3 tahun tidak terpengaruh oleh time-out  3 menit, coba perpanjang menjadi 5 menit (tambahan waktu mungkin akan lebih efektif). Sebaliknya, kalau dia minta maaf setelah duduk 2 menit di pojok ruangan, langsung hentikan time-out.

AKHIRI DENGAN LUNAK

Sebelum memaafkan anak dan menghentikan time-out, ulangi pesan Anda dengan kalimat yang positif. Jangan berkata, “Ibu tidak suka cara kamu merebut bola dari tangan adik,” tapi katakan, “Kamu bisa gantian? Bagus. Ayo kita keluar, biar adik melempar bola duluan.”

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget