Oktober 2015



Gunakan panduan ini untuk menanamkan sikap pada anak melalui tindakan nyata sehari-hari:
SIKAP YANG DIHARAPKANTINDAKAN ORANG TUA
1. Berani dan percaya diri
Dukung anak untuk berani, mantap, dan yakin akan kemampuan dirinya. Dukungan tanpa kritikan tajam serta arahan yang positif membuat anak lebih mudah beradaptasi, berani mencoba, tidak mudah menyerah.
•Beri pujian spesifi k sesuai usahanya.
•Dukungan dan semangati anak jika mulai tampak cemas saat akan
memulai sesuatu yang baru.
•Arahkan minat anak pada hal-hal yang disukainya.
•Latih anak berani mengemukakan pendapat dengan sering mengajaknya berdiskusi
2. Berempati
Sikap empati terkait dengan kemampuan anak untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Anak yang memiliki empati akan lebih mudah menjalin kerja sama, bertoleransi, serta memiliki sudut pandang yang lebih beragam ketika memandang suatu persoalan.
• Ajak anak mengunjungi panti asuhan
untuk berbagi dengan teman-teman
yang kekurangan Membagi tugas
di rumah dengan seluruh anggota
keluarga, sesuai kemampuan masing masing.
• Ajari anak untuk memberikan
ucapan selamat kepada teman
yang sedang berbahagia serta
mengunjungi teman yang sedang
mengalami kesedihan.
3. Jujur
Kejujuran adalah salah satu nilai kehidupan yang sangat penting untuk diajarkan kepada anak anak sejak dini. Jika terbiasa mengatakan sesuatu yang benar dan tidak berbohong, selain menjadi mudah dipercaya, anak akan memupuk dirinya menjadi manusia yang berintegritas.
 • Ajari anak untuk terbuka dan mengungkapkan isi hati apa adanya.
• Beri contoh. Jika Anda berjanji kepadanya, tepati. Jika Anda tidak yakin bisa menepati sebuah janji,
lebih baik tidak berjanji.
• Jangan bereaksi berlebihan jika
anak berbohong. Ajak bicara dari hati ke hati, bantu dia berani mengungkapkan kebenaran
4. Bertanggung jawab dan Mandiri
Memiliki rasa tanggung jawab akan mendukung perkembangan kemandirian pada anak sehingga ia tidak akan selalu bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalahnya.
• Berikan tanggung jawab sesuai usia anak. Misal, ajari balita membereskan
mainan dan buku-bukunya.
• Beri contoh tindakan bertanggung jawab, misal dengan selalu menepati
janji Anda pada anak. Ketika anak melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan, ajak ia
memperbaikinya dan belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Coba beberapa langkah ini agar anak selalu bersemangat saat waktu mandi telah tiba:

1. Beri waktu untuk bersiap-siap
Salah satu hal yang bisa membuat anak-anak enggan mandi adalah karena tidak mau waktu bermainnya terganggu. Makanya, biasakan memberi waktu bagi anak untuk bersiap-siap sebelum menyuruhnya mandi. Misalnya, dengan mengajaknya mandi sekitar 5 menit sebelum acara mandi dimulai. Dengan begitu, anak punya kesempatan untuk menyelesaikan permainannya dulu sebelum beranjak ke kamar mandi.

2. Sederhanakan prosesnya
Memangkas tahapan yang membuat acara mandi terasa kompleks dan ’ribet’ akan membuat acara mandi terasa lebih menyenangkan. Memisahkan acara mandi dengan sikat gigi, misalnya, akan membuat anak-anak yang usianya kecil memfokuskan perhatian pada acara bermain air. Pada anak yang lebih besar, Anda bisa membantu memutarkran air panas dan dingin pada shower hingga mencapai suhu ideal sebelum anak mulai mandi.

3. Pilih perangkat mandi yang sesuai
Sabun mandi dewasa bisa mengakibatkan rasa sakit jika terpercik ke dalam mata dan hidung. Pengalaman buruk itu bisa membuat anak menghindari acara mandi. Untuk menghindarinya, gunakan produk mandi—sabun dan shampoo, sesuai usia anak. Produk yang tak pedih di mata dan mengandung pelembap adalah pilihan ideal untuk memelihara kulit balita.

4 Gayung vs pancuran
Jika biasanya Anda memandikan anak dengan menggunakan bak mandi dan gayung, cobalah sesekali menyelinginya dengan shower. Lakukan sebaliknya jika Anda terbiasa memandikan anak dengan air pancuran. Sesekali, tak ada salahnya pula mengizinkan anak mandi dengan menggunakan selang air di kebun belakang. Berbagai variasi cara ini terkadang bisa menjadi cara jitu untuk menghilangkan rasa bosan dan membuat si kecil tertarik untuk mandi.

5. Mandi sambil bermain
Jadikan acara mandi sebagai bagian dari ajang permainan. Kapal-kapalan, bebek mainan, ikan-ikanan dari karet, boneka plastik, dan pistol air biasanya sukses menjadi magnet untuk memikat anak di kamar mandi. Minta anak memilih sendiri mainan apa saja yang hendak dibawanya dan biarkan ia memandikan, mengeramasi, ataupun mengajak mainannya belajar berenang sama-sama. Membuat ‘ramuan ajaib’ dari campuran sabun, shampoo, dan pasta gigi juga bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan baginya.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Coba praktikkan beberapa tip ini untuk membersihkan kamar mandi agar selalu bersih dan sehat.

Pilih-pilih pembersih kamar mandi.
Pilih pembersih yang kandungan zatnya aman untuk anak. Jika ingin menggunakan pembersih yang alami, gunakan cuka. Kadar asamnya bisa membersihkan kotoran dan minyak. Larutkan cuka dalam air dan masukkan ke dalam alat semprot yang terbuat dari plastik. Praktis dan mudah dibawa. Pas untuk membersihkan ubin, bathtub, wastafel, dll. Bahan lain yang juga sangat berguna adalah baking powder. Selain membersihkan, bahan ini bisa menghilangkan aroma tidak sedap.

Membuat bathtub dan wastafel mengkilat.
Biasakan untuk membersihkan bathtub dan wastafel segera setelah digunakan agar tidak licin dan kemungkinan menumpuknya kotoran menjadi berkurang. Lap dengan larutan cuka agar tetap berkilat. Lapisan bathtub perlu perhatian lebih agar tidak tergores.

Membersihkan keran.
Caranya? Gunakan sikat gigi lama untuk bersihkan jamur. Lalu, gosoklah dengan lemon (sekitar ½ bagian). Selain bersih dan mengilap, aromanya pun segar.

Menghilangkan jamur di kamar mandi.
Ambil sikat gigi, lalu celupkan di dalam pemutih. Bisa juga, celupkan dalam larutan air dan baking soda. Biarkan selama 15 menit, lalu mulai gosok setiap bagian dari kamar mandi. Biarkan lagi selama 30 – 60 menit, kemudian lap.

Membersihkan toilet.
Buat campuran boraks dan cuka, dengan perbandingan yang sama. Siramkan pada toilet. Biarkan selama 2 jam, lalu bersihkan menggunakan sikat toilet.

Membersihkan kaca.
Paling gampang, sih, lap dengan larutan cuka dan air. Gosok kaca dengan koran atau lap.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Hal paling penting dan utama dalam kesehatan anak adalah cukup tidur. Untuk usia sekolah dasar, anak harus mendapat waktu tidur 10-11 jam semalam. Seperti terlihat mudah, ya, Ma. Tapi ini tidak akan berjalan mulus ketika anak sudah mulai sekolah dan mempertahankan pola jam tidurnya dengan jadwal barunya.

Ketika orang tua terlambat pulang ke rumah, biasanya pola tidur anak terpaksa harus diatur kembali. Hal yang harus Anda pastikan adalah si kecil bisa menjalani hari-harinya tanpa harus tertidur di meja belajarnya. Caranya, seluruh keluarga di rumah harus mulai bergantian mengatur ulang jadwal mereka untuk menemani si kecil tidur.

Donald Schiff, M.D., seorang profesor di bidang kedokteran anak di University of Colorado School of Medicine menyarankan, “Anda tidak bisa sekadar mengatakan, ‘Wah, besok kita sudah mulai sekolah. Kamu harus tidur lebih awal malam ini, Nak.“Anda tak perlu khawatir ketika si kecil lesu karena kecapekan ketika pulang ke rumah, terutama pada minggu pertama dia masuk sekolah.

Menurut Greg Prazar, M.D., dokter anak di Exeter, NH, “Hal tersebut terjadi karena proses penyesuaian untuk anak. Banyak anak-anak akan memerlukan istirahat setelah pulang sekolah untuk menolong mereka saat penyesuaian dengan rutinitas sekolah yang baru.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Ketika anak sekolah, berarti anak akan berada jauh dari perhatian Anda dalam jangka waktu tertentu. Jadi, sangat penting untuk memeriksa kembali hal-hal penting untuk menjaga keamanan anak. Jika jarak rumah dengan sekolah bisa dilalui dengan berjalan kaki, berjalanlah bersama dengan anak. Ini untuk mengantisipasi ‘bahaya’ apa saja yang mungkin terjadi di perjalanan, terutama jika harus melewati jalanan yang ramai.

Dr. Schiff mengatakan jangan biarkan anak berjalan sendirian menuju sekolahnya. Selain itu, usahakan Anda yang mengantar anak ke sekolah saat hari pertamanya masuk sekolah, bukan diantar oleh kakaknya yang masih berusia 7-9 tahun. “Ini karena kemampuan mereka untuk bertanggung jawab sangat terbatas,” ujar Dr. Schiff. Ketika harus menggunakan mobil ke sekolah, sabuk pengaman adalah peralatan wajib digunakan. Mama juga harus memastikan, jika ternyata anak harus menggunakan mobil jemputan, tetap saja keamanan menjadi nomor satu. Ingatkan anak untuk selalu duduk manis ketika mobil sedang berjalan.

Anda bisa menitipkan anak pada orang dewasa untuk membantu dia turun dan naik mobil. Untuk melindungi anak dari orang asing, hindari menuliskan nama pada tasnya atau jaketnya. Dr. Prazar mengingatkan hal ini justru menjadi risiko terjadinya kejahatan. Jadi, Ma, akan lebih baik tidak membuat anak ketakutan ketika namanya dipanggil oleh orang asing. “Beberapa orang tua sangat terobsesi dengan ini,” kata Dr. Prazar. Jika anak tetap menginginkan untuk menuliskan nama pada tas barunya, bicaralah padanya. Tidak apa-apa, kok, kalau Mama harus memberi pengertian setiap tahun ajaran baru dengan tas barunya.

sumber : http://www.parenting.co.id/



Dengan alasan agar lebih bebas beraktivitas, banyak orang memilih menggunakan soft lens atau lensa kontak dibanding kacamata. Jika anak punya banyak aktivitas, apakah ia juga sudah boleh menggunakan soft lens?

Menurut dr. Retno, soft lens punya sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, soft lens memang berfungsi mengkoreksi penglihatan yang tidak normal. Sisi negatifnya, soft lens adalah benda asing yang ditempelkan ke mata jadi berisiko menimbulkan iritasi dan infeksi.

“Biasanya anak diberikan soft lens apabila ukuran minus antara mata kanan dan kiri terlalu jauh perbedaannya sehingga tidak bisa diberi kacamata. Perbedaan ukuran minus antara mata kanan dan kiri untuk menggunakan kacamata adalah maksimal tiga. Pemakaian soft lens juga tidak disarankan kalau kondisi mata terlalu kering, karena jadi rentan iritasi, atau kalau anak punya bakat alergi berat karena dikhawatirkan pemakaian soft lens bisa memicu alergi timbul. 

Faktor lain yang jadi pertimbangan adalah sifat anak. Kalau anak suka teledor dan tidak telaten menjaga kebersihan, tidak disarankan untuk menggunakan soft lens. Lebih baik anak sudah masuk usia remaja ketika menggunakannya. Itupun kembali lagi ke sifat anak, meski sudah SMA kalau anaknya suka teledor, lebih baik tidak usah memakai soft lens.”

sumber : http://www.parenting.co.id/



Sensori integrasi merupakan bekal bagi anak untuk belajar. Tapi bagaimana bila anak mengalami keterlambatan saat belajar? Kemungkinan ia mengalami gangguan sensori integrasi. Apa saja jenisnya?

SENSORI PERABAAN
Semua informasi yang diterima lewat reseptor di kulit, bisa berupa sentuhan, gesekan, tekanan, suhu, atau rasa sakit. Jika sensori perabaan mengalami gangguan, si kecil umumnya akan menunjukkan gejala:
1. Tidak mau atau tidak suka disentuh.
2. Menghindari kerumunan orang.
3. Tidak menyukai bahan-bahan tertentu (rumput, pasir, dsb).
4. Tidak betah dengan segala hal yang kotor.

SENSORI PENDENGARAN
Semua informasi yang diterima lewat suara suara di luar tubuh. Gangguan pada sensori ini akan menimbulkan gejala:
1. Takut mendengar suara air ketika menyiram toilet, suara vaccum cleaner, hair dryer, blender, suara gonggongan anjing, dsb.
2. Menangis atau menjerit berlebihan ketika mendengar suara yang tiba-tiba.
3. Sering berbicara sambil berteriak ketika ada suara yang tidak disukainya.

SENSORI PENCIUMAN
Semua informasi yang didapat dari aroma atau bau yang tercium. Gangguan pada sensori penciuman akan menimbulkan gejala seperti:
1. Menolak masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya.
2. Tidak menyukai makanan tertentu hanya karena baunya.
3. Selalu menciumi barang-barang atau orang di sekitarnya.
4. Sulit membedakan bau.

SENSORI PENGLIHATAN
Semua informasi yang ditangkap oleh mata, seperti warna, cahaya, gerakan, dsb. Gangguan pada sensori penglihatan akan menunjukkan gejala:
1. Mudah teralih oleh stimulus penglihatan dari luar.
2. Senang bermain dalam suasana gelap.
3. Sulit membedakan warna, bentuk, dan ukuran
4. Menulis naik turun di kertas tanpa garis.

SENSORI PENGECAPAN
Semua informasi yang didapat dari semua hal yang masuk ke mulut dan lidah. Gangguan di sensori pengecapan akan menunjukkan gejala:
1. Suka memilih-milih makanan (picky eater) dan menolak mencoba makanan baru sehingga lebih senang dengan makanan yang itu-itu saja.
2. Tidak suka atau menolak untuk sikat gigi.
3. Suka mengemut makanan karena ada kesulitan dengan mengunyah, mengisap, dan menelan.
4. Mengiler.
5. Sering memasukkan benda ke mulut.

sumber : http://www.parenting.co.id/



Mama dan Papa harus mengetahui apakah anak memiliki masalah penglihatan ketika dia harus duduk di belakang atau masalah pendengaran ketika gurunya mengajar. Kalau ini terjadi, anak pasti akan sangat terganggu. Jadi, pastikan Anda memiliki laporan kesehatan dari dokter anak anak sebelum dia siap sekolah.

“Jika dokter anak yang Anda pilih tidak punya peralatan lengkap untuk memeriksa penglihatan dan pendengaran anak, itu berarti Anda tidak mempertimbangkan (memilih dokter) dengan baik sebelumnya,” ucap David A. Cimino, M.D., seorang direktur di All Children’s Hospital di St. Petersburg, FL.

“Sebagai orang tua, Anda harus ‘keras kepala’ dalam hal memilih dokter anak.” Menurut Dr. Cimino, kebanyakan dokter anak malah memberi rujukan ke dokter spesialis mata dan telinga dengan alasan peralatan di sana lebih memadai. Jika memang seperti itu keadaanya, pastikan dokter spesialis yang direkomendasikan sudah Anda dapatkan jauh hari sebelum anak masuk sekolah.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Anak pra remaja Anda mulai pilih-pilih berbagai barang untuk perawatan kulitnya. Apa yang perlu diperhatikan?

Pada era globalisasi dan informasi seperti saat ini, sangatlah wajar bagi praremaja ingin mencoba berbagai macam produk. Sebelum memilih produk yang sesuai kulit sendiri, kenali tipe kulit masing-masing. Apakah normal, berminyak, kering, atau kombinasi? Saat ini, kulit sensitif banyak sekali dijumpai, sehingga perlu mengetahui apakah kulit kita termasuk kulit yang sensitif atau tidak.

Apa cirinya? Mudah iritasi (perih dan merah) dan alergi (gatal, merah). Dan, bila anak mempunyai riwayat penyakit alergi, seperti asma, rhinitis alergika (alergi yang berkaitan hidung), eksem atopik pada kulit, dan biduran, ada kemungkinan kulitnya termasuk yang sensitif. Kulit sensitif memerlukan perawatan khusus dan tidak boleh memakai bahan-bahan tertentu pada produk perawatan kulitnya.

Bagaimana cara memilih produk perawatan kulit? Yang pasti, sesuaikan dengan tipe kulit. Sebaiknya, pilih produk yang ‘hypo allergenic’ dan ‘non comedogenic’. Pada kulit sensitif, gunakan produk yang khusus untuk kulit sensitif. Biasanya, pembersihnya bersifat ‘mild’, dan anak memerlukan pelembap. Bila perlu, berkonsultasilah ke dokter kulit dan kelamin untuk mengetahui tipe kulit dan produk seperti apa yang dibutuhkan.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Time flies, tak terasa sebentar lagi si kecil akan masuk sekolah. Saatnya ‘school shopping’ untuk mengetahui sekolah yang cocok bagi anak. Hmm… ternyata tidak semudah itu, banyaknya metode sekolah saat ini, tentu bisa bikin Mama dan Papa bingung memilih.  Sekolah nasional plus, internasional, atau pilih sekolah alam ya?

Tak peduli sebagus dan secanggih apapun metode yang diterapkan sekolah, itu semua tak akan berguna jika metode tersebut tidak cocok dengan kebutuhan, tipe kepribadian, dan tipe kecerdasan anak. Misalnya bila anak termasuk anak pemalu, ia pasti tak akan nyaman bila harus berada di kelas yang berisi 20 anak. Atau bila ia termasuk anak penjijik, tak suka kotor-kotoran, Anda tentu tak akan memilih sekolah alam yang menghabiskan sebagian besar waktu belajarnya di luar ruangan, kan?

Untuk mengetahui apakah anak cocok dengan sekolah pilihan Anda, ia tentu harus mencobanya dulu. Jadi, jangan pernah menolak kesempatan untuk mengikuti trial class, Ma. Inilah kesempatan untuk mengetahui apakah anak merasa nyaman dan cocok dengan sekolah ini. Beberapa sekolah, bahkan ada yang mengizinkan orang tua untuk ikut ‘mengawasi’ ketika anak mengikuti trial class (tentu saja dari luar kelas, ya!).

Metode sekolah yang bisa Anda pilih, antara lain adalah sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus, sekolah internasional, sekolah alam, dan beberapa metode lainnya yang lebih spesifik untuk kebutuhan khusus.
Sedangkan dari sisi kurikulum, ada sekolah yang mengacu pada kurikulum Montessori, pendidikan karakter, pendekatan multiple intelligences, atau active learning.

Nah, ketika sudah menemukan sekolah terbaik untuk anak, mulailah berhitunglah dengan cermat. Cari tahu total biaya yang harus Anda keluarkan untuk sekolah terpilih, mulai dari uang masuk, formulir pendaftaran, uang kegiatan, sampai uang SPP.  Coba kita berhitung. Misalnya sebagai ilustrasi, uang pangkal masuk SD nasional plus saat ini sudah mencapai Rp 15 juta dengan biaya uang sekolah per bulan sekitar Rp 1,8 juta. Itu belum termasuk biaya ekstrakurikuler. Dari uang sekolah saja dijumlahkan bisa mencapai Rp 21,6 juta per tahun.

Asumsi sekarang anak kelas 1 SD, dalam waktu 6 tahun (saat anak 6 SD), biaya uang sekolah dapat mencapai Rp 50 juta per tahun (asumsi peningkatan 15% per tahun). Itu baru SD nasional plus. Belum lagi bila Anda berencana mendaftarkan anak ke sekolah internasional, yang tentunya biaya sekolah lebih mahal.

Maka itu, sekolah yang cocok untuk anak harus diimbangi dengan persiapan dana agar anak tidak terpaksa masuk ke sekolah yang tidak sesuai dengan karakter dan tipe kecerdasannya, hanya karena ketidakcukupan dana. Jangan sampai uang menjadi penghalang antara si kecil dan cita-citanya ya, Ma. Tanggung jawab Anda sebagai orang tua terhadap pendidikan anak tidak hanya saat ini, ketika anak masuk TK atau SD. Masih ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, SMP, SMA, dan kuliah. Anda harus memastikan si kecil mendapat pendidikan terbaik di semua jenjang tersebut.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Anak sering ikut lomba? Ini yang perlu Anda lakukan untuk persiapkan anak sebelum bertanding:

1. Dorong dia melakukan latihan yang cukup sesuai jenis kompetisi yang akan diikuti.

2. Bekali anak dengan sikap positif dan mental juara, sehingga ia punya semangat yang besar dalam mengikuti kompetisi.

3. Persiapkan si kecil untuk bisa menerima kekalahan. Anda perlu membangun semangat ‘evaluasi dan pelajari lagi’, namun di sisi lain juga siap belajar dari kesalahan yang ia lakukan dan makin memperbaiki diri.

4. Secara konsisten memperlihatkan dan menyampaikan pada anak agar terus berupaya melakukan yang terbaik.

5. Yakinkan anak bahwa Anda secara konsisten akan tetap mendukungnya, walaupun ia kalah nantinya.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Sepatu, baju, tas, aksesori, mainan. Ya ampun, anak sekarang berubah menjadi tukang belanja. Jangan kaget, Ma, terutama bila Anda juga punya hobi yang sama. Baginya tak adil jika Mama bisa belanja sepatu dan tas baru sementara ia tidak. Memang, Mama tak butuh izin dari anak saat membeli sesuatu. Tetapi tetap saja, komentarnya membuat Anda merasa bersalah. Daripada semakin pusing, coba praktekkan strategi berikut yuk.

CARA 1: BERI CONTOH YANG BAIK
Ketika Anda membeli apa pun yang Anda inginkan tanpa meminta persetujuan dari anak, kenyataannya anak akan terpengaruh oleh kebiasaan Anda tersebut. Saat Anda berdua berbelanja bersama dan membeli apa pun yang Anda lihat tanpa bisa menahan diri, anak pasti ingin melakukan hal yang sama. Sebaliknya, bila Anda memberi contoh yang baik dengan bijak melakukan pembelian dan tidak berlebihan, maka ia pun akan belajar untuk menahan diri.

CARA 2: TANYAKAN SEKALI LAGI APAKAH IA YAKIN DENGAN KEINGINANNYA
Mama perlu bertanya pada si kecil mengapa ia menginginkan benda itu. Dorong ia untuk memberi jawaban yang pasti dan jangan biarkan ia hanya menjawab: “Soalnya aku pengen banget punya tas itu.” Tunggu sampai ia menjawab, karena ia belum punya rok dengan warna itu atau karena jaketnya sudah terlalu sempit. Ini akan membuatnya berpikir ulang sebelum membeli sesuatu. Dan, ia harus punya alasan yang cukup bagus sebelum menginginkan sebuah benda.

CARA 3: CAPAI KESEPAKATAN
Si kecil tak bisa membeli baju pink hari ini karena minggu lalu ia baru saja membeli kaos ungu. Buat daftar pembelian yang dilakukan si kecil akhir-akhir ini. Ia mungkin sebal dengan apa yang Anda lakukan. Namun, jika Mama melakukannya secara konsisten, ia pelan-pelan akan menyadari bahwa terkadang tak semua keinginannya akan dikabulkan, meski lebih sering Mama memenuhi kebutuhannya itu dibanding memberi jawaban tidak.

CARA 4: MINTA IA IKUT MEMBAYAR SEPARUH DARI HARGA BARANG
Si kecil pasti ragu-ragu untuk membeli barang bila ia disuruh membayar sebagian harganya. Mama bisa memberi saran kepadanya untuk menyisihkan sebagian uang sakunya agar bisa membeli barang yang diinginkan. Anda akan terkejut melihat bagaimana cara ini mampu mengubah pola konsumtif si kecil.

CARA 5: BERTAHAN DENGAN PENDAPAT ANDA DAN KATAKAN ‘TIDAK’ JIKA PERLU
Anda sudah memberi alasan untuk tidak membeli suatu barang, tapi si kecil bersikeras memintanya. Anda boleh berkata ‘tidak’ padanya. Tak perlu merasa bersalah. Anda adalah orang tuanya dan memiliki hak – dan kewajiban – untuk membuat keputusan. Lagipula, si kecil akan belajar untuk lebih bijak dalam membelanjakan uangnya. Percayalah, Ma, sesekali menolak permintaan si kecil untuk berbelanja tak akan berdampak buruk secara psikologis padanya. Justru, hal itu akan membantunya di kemudian hari.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Hal pertama yang harus kita lakukan sebagai orang tua, agar tidak ikut membandingkan anak kita dengan anak lain atau standar tertentu, adalah menyadari bahwa setiap anak unik. Perkembangan setiap anak berbeda-beda. Ini disebabkan karena bakat,minat, dan kekuatan mereka berbeda-beda pula. “Yang penting orang tua tahu dulu, bahwa membandingkan anak lebih banyak dampak negatifnya daripada positifnya,”. Dengan menyadari efek negatifnya, orang tua harus belajar mengerem komentarnya pada anak dan berlatih dalam keseharian untuk mengubah perilaku. Beberapa cara ini bisa membantu:

1. Hargai kekuatan anak Anda.
Melihatnya dari sisi terlemah dan membandingkannya dengan anak lain membuat mata Anda tertutup dari kemahiran dan kekuatannya di sisi lain. Saya begitu mengkhawatirkan Kayla yang belum bisa berjalan di usia satu tahun tiga bulan, sehingga lupa bahwa ia sudah bisa berbicara dengan cukup jelas pada usia 10 bulan. Sementara itu, jika Anda melihatnya dari sisi positif, sebaiknya jangan dibandingkan dengan anak lain. Cukup katakan, “Wah, hebat! Kamu sudah bisa mandi sendiri”. Dengan demikian, dia belajar bahwa Anda mencintai dia apa adanya, bukan karena dia lebih hebat dari sepupunya.

2. Gali terus kelebihannya.
Nina memiliki dua anak yang karakternya jauh berbeda. Untuk lebih fokus pada kelebihan setiap anak, suatu hari ia mengadakan ‘permainan’ menyebutkan kelebihan setiap anggota keluarga. “Masing-masing orang, termasuk saya dan suami, bergiliran menyebutkan kelebihan setiap anggota keluarga lainnya. Misalnya, saya harus menyebutkan kelebihan suami, anak yang tua dan anak yang kecil. Kami melakukannya dengan gembira sambil bercanda”. Dengan demikian, Anda bisa mengetahui kelebihan anak-anak, yang selama ini mungkin luput dari perhatian Anda. Permainan ini bisa Anda lakukan pada anak-anak yang sudah lebih besar, misalnya SD ke atas.

3. Bandingkan dengan perilakunya sendiri.
Saat Anda ingin si kecil merapikan tempat tidurnya seperti yang dilakukan kakaknya, jangan katakan, “Kamu tidak seperti kakakmu yang rajin membereskan kamar”. Tapi, coba katakan, “Ayo, kemarin kamu sudah bisa, kok, membereskan tempat tidur. Hari ini juga pasti bisa”. Saat Sinta pada kesempatan lain menemani anaknya ke pesta ulang tahun, ia berkata, “Kemarin anak Mama sudah berani nonton ondel-ondel. Sekarang pasti lebih berani lagi, bisa berfoto dengan badut”. Walau masih harus ditemani, Naomi akhirnya mau berfoto dengan badut.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Cobalah berjalan di papan keseimbangan. Berjalan melangkah dari kursi ke kursi ( jarak lebar dan tinggi kursi semakin ditingkatkan). Khusus anak hipersensitif: Lebarnya dibuat dari dekat ke jauh, dan tingginya dibuat dari rendah ke tinggi. Sedangkan untuk anak hiposensitif: Lebarnya dibuat dari jauh ke dekat, dan tingginya dibuat dari tinggi ke rendah.

Cobalah tidur telentang/tengkurap di atas bola Bobath. Untuk anak hipersensitif: Ayunan pelan ke keras. Anak hiposensitif: Ayunan keras ke pelan. Terapi akan membantu anak untuk memproses semua informasi yang masuk melalui indra, sehingga semua informasi tersebut bisa bekerjasama 1 dengan yang lainnya. Saat aktivitas yang dilakukan seorang anak meningkat menjadi aktivitas yang lebih bermakna, baik dalam segi intensitas, durasi ( jangka waktu), maupun kualitas sensasinya, maka perilaku adaptif semakin meningkat dan ketidaksesuaian perilaku pun akan semakin berkurang.

Ini berarti sensori integrasi anak akan semakin baik. Anak akan semakin mampu merencanakan, mengatur, dan melaksanakan apa yang harus dan ingin anak tersebut lakukan. Tanpa penanganan terapi, masalah disfungsi sensori integrasi ini akan menghambat perkembangan anak.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Sebenarnya, anak yang percaya diri memiliki keinginan yang kuat, hobi, dan ambisi. Terdengar bagus, kan? Sebaliknya, anak yang kurang percaya diri akan tetap tergantung pada orang lain, bossy, dan secara terus menerus merasa tidak puas.

Jenis anak apa yang akan Anda hasilkan? Semua ini tergantung pada bagaimana Anda membimbingnya. Untuk menghindari anak yang terlalu permisif atau ia bermetamorfosa menjadi monster kecil, pertimbangan 6 hal berikut ini: 

1.Berikan anak apa yang dibutuhkan, dan bukan semua yang diinginkannya. Membanjiri anak dengan hadiah memang membuat Anda merasa senang, namun hal ini sekaligus akan membuat anak merasa boleh meminta hadiah kapan pun. Padahal, semakin banyak hadiah yang didapat, anak akan semakin kurang menghargainya, serta semakin banyak meminta. Jadi, begitu berurusan dengan hadiah, paling baik, ya, berikan secukupnya.

2.Jangan biarkan anak bersikap atau berkata tidak sopan. Anak yang berbicara tidak sopan pada orang tuanya sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang rendah, hubungan dengan peer-nya buruk, dan merasa depresi. Jadi, bila anak Anda sering berkata tidak sopan pada Anda, jangan berharap apa pun. Segera hentikan kebiasaan itu. Bersikap tegaslah pada perilakunya yang tidak bisa diterima itu.

3. Jangan menjadi ‘orang tua yang bisa memperbaiki apa pun’. Ini adalah superhero yang akan melakukan apa pun untuk anaknya, termasuk menyelamatkan anak dalam situasi yang penuh frustrasi. Akibatnya? Anak menjadi tergantung padanya, kehilangan berbagai peluang untuk berkembang, dan menciptakan gap dalam perkembangan emosinya. Anak dengan orang tua seperti ini tidak perlu berpikir dua kali untuk bersikap bossy atau memanipulasi orang tuanya. Sebaiknya, Anda mengajari anak untuk mengatasi frustasinya dan mencari solusi terbaik. Ingat, frustrasi akan membuat anak lebih matang kepribadiannya. Jadi, bantulah anak melalui frustrasinya, bukan menyelamatkannya dari frustrasi.Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. 

4. Tidak pernah mendapat hadiah, misalnya, bisa membuat anak tidak percaya diri. Keinginan merupakan awal dari timbulnya ambisi dan kreativitas. Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan sendiri, lalu bantulah untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dan berusaha mencapai tujuan tersebut.

5. Jangan takut untuk tidak populer. Menjadi orang tua yang baik juga termasuk membuat keputusan tidak popular. Bila Anda menyerah pada tantrum anak atau menghindari konflik agar segalanya tetap tenang dan damai, sebenarnya Anda membuat masalah yang lebih besar di masa mendatang. Ia belajar bahwa berperilaku negatif akan membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, jangan khawatir untuk tidak popular, Ma! Pada akhirnya, anak akan memahaminya dan juga lebih menghargai Anda.

6. Tunjukkan siapa yang memimpin. Menjadi orang tua membutuhkan sikap kepimpinan yang kuat. Semakin percaya diri Anda dengan keputusan Anda, semakin anak akan menghargai Anda. Bagaimana pun, anak yang menghargai orang tuanya akan membangun landasan yang kuat, yakni menghargai diri sendiri, membuat keputusan yang dipikirkan secara matang, serta menunjukkan perhatian saat berhubungan dengan orang lain.

Jadi, akhiri perilaku anak yang terlalu percaya diri, Ma. Ciptakan lingkungan yang saling mendukung dalam keluarga dan dorong anak untuk memiliki kebiasaan yang baik sepanjang hidupnya.

sumber : parenting.co.id



Saat ini banyak suplemen yang dianggap bisa menambah tinggi badan. Perlukah anak mengonsumsinya? Apa kandungannya? Kandungan utama biasanya adalah kalsium yang berfungsi mengoptimalkan pertumbuhan tulang anak. Selain itu, ada pula zinc yang berfungsi membantu mengoptimalkan kinerja dari hormon pertumbuhan yang mendukung kerja dari kalsium.

Kapan memberikannya? Suplemen penambah tinggi badan sebaiknya tidak diberikan pada balita. Namun, waktu optimal pemberiannya adalah sebelum anak berusia 18 tahun, di mana tulang-tulangnya hampir selesai tumbuh dan berkembang.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Lampu merah dari disfungsi sensori integrasi adalah adanya respons yang tidak lazim terhadap sentuhan dan gerakan. Perilaku anak yang mengalami gangguan sensori integrasi ini kadang sulit dipahami oleh orang tua. Bahkan, gejala disfungsi ini sering kali salah ditafsirkan sebagai masalah psikologis. Karenanya, masalah ini haruslah ditangani seorang profesional yang tepat atau yang memang mendalami masalah sensori integrasi. Bila tidak segera dilakukan intervensi, anak bisa saja berkembang dengan ketidakmampuan untuk mengatasi kesulitan emosional, fisik, dan sosial kelak.

Anak dikatakan mengalami disfungsi sensori integrasi jika menunjukkan 1 atau lebih gejala yang umum muncul, dengan frekuensi, intensitas, atau durasi tertentu. Frekuensi artinya gejala tersebut itu muncul beberapa kali dalam sehari. Intensitas artinya anak sangat menghindari stimulasi sensori tertentu dengan keras dan sangat tegas, atau justru meleburkan dirinya ke dalam stimulasi sensorik yang diinginkannya.

Sedangkan durasi artinya ia tetap melakukan perilaku atau respons yang tidak lazim itu dalam waktu yang cukup lama. Beberapa anak dengan disfungsi sensori integrasi juga memiliki masalah dengan perilaku.

Anda bisa mendeteksinya lewat beberapa masalah berikut:
1. Mempunyai tingkat kegiatan yang sangat tinggi/rendah.
2. Mudah terdistraksi.
3. Ada masalah dengan tonus otot dan koordinasi motorik.
4. Kesulitan menggunakan satu pilihan tangan yang sebenarnya sudah dikuasai saat usia 4 atau 5 tahun.
5. Koordinasi mata dan tangan buruk.
6. Kesulitan berpindah dari 1 situasi ke situasi yang lain.
7. Tingkat frustasi tinggi.
8. Problem pengaturan diri.
9. Masalah akademis.
10.Masalah sosial.
11.Masalah emosional.

sumber : http://www.parenting.co.id/

Ketika memasuki usia prasekolah atau TK, anak-anak mulai terlihat sifat sosialnya. Di dalam kelompok anak-anak di kelas, akan terlihat anak mana yang lebih agresif, lebih pasif, cepat akrab, atau anak pendiam dan penyendiri.

Guru TK sudah bisa mengenali sikap-sikap ini sejak awal. Kita juga harus mengetahui tergolong kelompok manakah sifat sosial anak kita?

Anak pendiam biasanya tidak terlalu berbaur dengan teman dan lingkungan sekitarnya. Ia menyendiri entah hanya memperhatikan teman – teman lainnya atau asyik dengan kegiatannya sendiri. Isolasi diri ini dalam jangka panjang akan membentuk dampak yang negatif.

Penelitian menemukan bahwa anak yang memiliki masalah dalam berinteraksi dengan teman sebayanya cenderung mengalami guncangan emosi yang lebih besar dibandingkan anak yang lebih bersosialisasi.

Pada kondisi ekstrim, setelah dewasa guncangan emosi yang tidak dapat diatasi sendiri dapat menyebabkan tindakan vandalisme, kriminal, bahkan bunuh diri. Jadi, perhatikanlah anak sejak dini supaya kita dapat memberikan bimbingan yang ia perlukan.

Bagaimana cara mengajak anak pendiam bersosialisasi?

Untuk menolong anak pendiam bersosialisasi, orang tua harus bekerja sama dengan gurunya. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk melatih anak pendiam untuk bersosialisasi, yaitu :

1. Memasangkannya dengan yang bertolak belakang

Dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, anak pendiam dipasangkan dengan anak yang lebih populer. Dengan cara ini, anak pendiam akan lebih cepat diterima di lingkungannya.
2. Memasangkannya dengan yang lebih muda

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak pendiam berusia 4-5 tahun bila dipasangkan dengan anak yang lebih muda, popularitasnya meningkat sebanyak 50%. Popularitas ini membantu dirinya untuk membangun rasa percaya diri yang lebih baik.

3. Kelompok kecil

Membuat kelompok bermain kecil akan lebih efektif untuk memfasilitasi pertemanan anak-anak dibandingkan kelompok besar. Di dalam kelompok besar, anak pendiam cenderung menarik diri di luar percakapan dan permainan, sedangkan di dalam kelompok kecil, setiap anak mendapat perhatian dari teman sekelompoknya. Guru dapat melatihnya mulai dari kelompok kecil lalu secara bertahap meningkatkan jumlah anggota kelompoknya.

4. Memberi tanggung jawab penting

Guru dapat memberikan tugas penting di dalam kelas kepada anak pendiam. Misalnya, tugas mengawasi piket bersih-bersih kelas bersama.
5. Menolong bila terjadi bullying

Bullying di sekolah dapat berakibat serius pada perkembangan mental anak. Anak pendiam yang diolok-olok teman-temannya, tidak dapat membalas dan bisa menjadi takut serta menolak untuk sekolah. Ajarkan dan latih anak Anda agar menjadi dirinya sendiri dan melawan bullying yang diterimanya. Bila bullying sudah di luar batas, kita harus ikut bertindak.

Beberapa contoh cara di atas adalah strategi dan terapi yang baik untuk melatih anak pendiam untuk lebih bersosialisasi. Sedangkan di luar lingkungan sekolah, orang tua memegang peranan penting. Inilah beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua :

1. Sering mengajak anak pada kegiatan luar rumah

Ajak anak berkumpul dengan anak-anak lain serta orang dewasa, dan praktekkan trik memasang-masangkan anak seperti yang dibahas di atas.

2. Memberi tugas untuk berbicara dengan orang lain

Kita dapat menugaskan anak kita mengangkatkan telepon rumah bila berdering, sehingga ia dilatih untuk berbicara dengan orang yang mungkin ia belum kenal.

3. Tugas membaca cerita

Bila anak memiliki adik atau kakak, mintalah ia untuk membacakan cerita sebelum tidur untuk saudara-saudara lainnya. Sebaiknya berikanlah setiap anak giliran untuk melakukan hal ini.
Anak pendiam cenderung menyendiri. Bila dibiarkan terus hingga dewasa, akan berdampak negatif. Inilah tips bagi orang tua agar melatih mereka bersosialisasi
4. Tugas membukakan pintu dan menyambut tamu

Bila kita tahu akan kedatangan tamu yang kita kenal, mintalah anak kita yang membukakan pintu dan menyambut mereka. Dengan hal-hal kecil seperti ini, anak pendiam dilatih untuk lebih bersosialisasi.

5. Perbanyak kegiatan bersama orang lain

Perhatikan berapa lama anak pendiam duduk sendiri di depan komputer atau TV? Usahakan permainan anak-anak yang melibatkan beberapa anak lainnya, supaya ia berinteraksi dengan sesamanya.

Mengajarkan arti toleransi pada anak sangat penting dilakukan mengingat ramainya dinamika perbedaan dalam setiap ruang kehidupan manusia. Sikap toleransi pada anak harus tumbuh dengan baik sehingga interaksi dengan budaya dan tradisi yang majemuk dapat berjalan dengan baik pula.

Dengan membangun pola hidup yang toleran, sosialita anak akan lebih baik dan dapat menerima lingkungan secara terbuka. Menurut informasi dari Boldsky, ketika anak lebih toleran, mereka pasti bisa hidup dengan santai di lingkungannya dan dapat menerima berbagai perbedaan yang ada.

Oleh sebab itu, para ahli memberikan beberapa tips dalam mengajarkan anak hidup dengan toleransi seperti:
Pertama, sikap orang tua. Untuk melatih anak hidup bertoleransi, orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan tingkat toleransi melalui perilaku. Dengan begitu, anak akan mencoba belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya.

Kedua, orang tua harus tahu memilih musik, film dan buku yang senantiasa digeluti anak sehingga pola pikir mereka tidak tergiring pada perspektif negatif yang antipati terhadap perbedaan.

Ketiga, menjadi toleran tidak berarti bahwa seorang anak harus diam ketika melihat perilaku seseorang tidak pantas. Oleh karena itu, orang tua harus menjelaskan prinsip-prinsip toleransi agar anak memahami arti toleransi yang sejati. Dengan demikian, biarkan anak Anda berbaur dengan anak lainnya karena itu menjadi wahana yang nyata untuk membangun jiwa toleransi mereka.

Pengaruh Teman Bagi Anak,
Menurut Meri Wallace, direktur Heights Center for Adult and Child Development, Brooklyn, New York, “Keterampilan sosial itu dipelajari. Saya sering mendengar orang dewasa mengatakan, ‘Biarkan anak mengatasi masalahnya sendiri.’ Namun, sering kali mereka tidak tahu bagaimana caranya.”

Hingga TK, kebanyakan anak merupakan makhluk sosial, dengan sejumlah teman yang mereka sayangi dan yang menyayangi mereka. “Meski sudah bisa memilih temannya sendiri, mereka masih harus belajar untuk mengatakan sesuatu dan memilih teman, yakni memperlakukan mereka dengan baik dan juga membuatnya merasa senang,” kata Mindy Bostick, yang memiliki pusat pendidikan di Morgan Hill, California.

Bisa jadi, anak selalu bermain dengan anak yang tidak pernah membuatnya bisa memimpin, misalnya. “Ini adalah usia di mana Anda sudah bisa mulai berbicara dengan anak tentang apa yang dirasakan dan jenis pertemanan yang diinginkannya,” kata Wallace.

Ajari anak kalimat-kalimat yang bisa membantunya mendapatkan apa yang diinginkan, seperti “Sekarang, giliran aku yang jadi pemimpin” atau “Hari ini, aku mau jadi yang pertama, ya.” Atau, katakan padanya bahwa ia bisa mencoba bermain dengan anak lain yang lebih pintar mengatur giliran bermain.
Jika Anda agak khawatir dengan bagaimana si prasekolah Anda bergaul, ikut saja field trip atau kegiatan di sekolahnya. Jadi, Anda bias melihat sendiri apa yang dilakukannya. Yang pasti, anak tertarik pada orang-orang yang asyik dan memerhatikannya.

sumber : parenting.co.id


Gangguan kesehatan pada mata — mulai dari iritasi, infeksi, hingga gangguan penglihatan, bisa amat mengganggu aktivitas sehari harinya. Karenanya, tindak pencegahan perlu diprioritaskan untuk mengantisipasi timbulnya masalah pada mata.

Cara membersihkannya:
Tidak ada ritual tertentu yang perlu dilakukan untuk membersihkan mata. Kotoran yang keluar dari mata (biasanya saat bangun tidur) bisa dibersihkan dengan mencuci muka menggunakan air atau menyekanya dengan waslap yang sudah dibasahi air matang. “Pelihara juga kesehatan organ penglihatan dengan membatasi waktu menonton televisi dan bermain gadget, yaitu idealnya kurang dari 2 jam per hari. Hindari membaca sambil berbaring dan ingatkan si kecil untuk selalu membaca di bawah cahaya yang cukup terang,” jelas dr. Kartika.

Ayo, latihan!
Ajari si kecil untuk tidak menggosok matanya yang gatal dengan tangan yang kotor. Jika ada debu atau kotoran yang masuk ke dalam mata, bantulah ia menyingkirkannya dengan membasuh wajah dengan air bersih. Biasakan pula anak mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin A seperti wortel, tomat, dan pepaya untuk merawat kesehatan matanya.


Banyak kandungan dan manfaat suplemen multivitamin untuk anak, apa saja?

Apa kandungannya? Jenis suplemen tunggal biasanya hanya berisi 1 jenis vitamin atau mineral saja, sedangkan multivitamin merupakan gabungan dari berbagai macam vitamin ataupun zat lain atau non vitamin (seperti mineral, asam amino, atau herbal tertentu yang memiliki khasiat terapetik tertentu).Beberapa jenis vitamin dan mineral yang kerap ditemui pada suplemen anak-anak adalah:

1. Vitamin A untuk mendukung pertumbuhan normal, perbaikan jaringan dan tulang, serta kesehatan kulit mata, dan respons imun.
2. Vitamin B, termasuk keluarganya seperti B2, B3, B6, dan B12. Berfungsi membantu metabolisme, produksi energi, dan sistem peredaran darah dan saraf yang sehat.
3. Vitamin C untuk meningkatkan kekuatan otot, jaringan ikat, serta kesehatan kulit.
4. Vitamin D membantu pembentukan tulang dan gigi, serta membantu tubuh menyerap kalsium.
5. Kalsium membantu membangun tulang yang kuat pada anak yang sedang tumbuh.
6. Zat besi berfungsi dalam membangun otot yang kuat dan penting untuk pembentukan sel-sel darah merah yang sehat. Kekurangan zat besi sering ditemui pada remaja, terutama anak perempuan yang telah menstruasi.

Kapan memberikannya?
Ketika anak mengalami gangguan penyerapan zat gizi dan dikhawatirkan mengalami kondisi kekurangan gizi. Hal ini bisa terjadi pada anak yang mengalami gangguan kebiasaan makan, seperti picky eater, anak yang sakit, serta anak yang baru sembuh dari sakit.

sumber : www.parenting.co.id


Berikut penjelasan tentang FUNCTIONAL ABDOMINAL PAIN, salah satu jenis sakit perut yang perlu diwaspadai pada anak bersama dr.Fatima Safira Alatas, Ph.D, Sp.A, spesialis anak dari Divisi Gastrohepatologi Departemen ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo.

FUNCTIONAL ABDOMINAL PAIN (FAP)
Pada sakit perut fungsional ini anak merasakan sakit di daerah sekitar pusat, berlangsung terus menerus pada anak usia sekolah bahkan remaja. Sakit perut ini tidak berhubungan dengan keadaan makan, defekasi (BAB), atau menstruasi. Pada pemeriksaan, biasanya dokter juga tidak menemukan tanda-tanda pembengkakan, penyumbatan maupun infeksi (umumnya ditandai dengan demam atau rasa sakit).Jika ini yang terjadi, mungkin si kecil menderita sakit perut fungsional. Saluran cerna dianggap oleh beberapa peneliti merupakan otak kedua. Jika stres datang, perut Anda akan bereaksi. Selain stres, kemungkinan usus si kecil sensitif pada makanan yang mengandung gas dan pedas seperti cabai.

Diagnosis
Diagnosis sakit perut fungsional biasanya hanya dinilai berdasarkan riwayat penyakit (gejala klinis), pemeriksaan fisik, serta bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengevaluasi kelainan pada darah, urin dan tinja. Namun, bila sakit perut disertai muntah, diare, diare berdarah, atau gejala lain yang mengacu pada alergi makanan dan Infl ammatory Bowel Disease (IBD),sejumlah pemeriksaan tambahan perlu dilakukan, seperti melakukan rontgen, USG atau endoskopi.

Penanganan
FAP ini hanya berlangsung beberapa menit, tidak lebih dari 1 jam. Meski demikian, tetap saja mengganggu aktivitas anak, terlebih jika kesakitan ini dirasakan pada waktu ia seharusnya tidur. Anak bisa kurang istirahat, sehingga emosinya pun terganggu. Namun, pemakaian obat-obatan dibatasi untuk FAP. Orang tua lebih disarankan untuk membimbing anak mengenal makanan yang memicu FAPnya. Anak pun dikenalkan cara-cara mengatasi stres. Misalnya, dikenalkan terapi musik, jika ia perfeksionis diajarkan untuk lebih realistis, dan orang tua pun
jangan mematok harapan yang terlalu tinggi kepada anak.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Jika tidak rajin dibersihkan, kuman penyakit yang menempel pada tangan yang kotor bisa berpindah ke berbagai area tubuh lainnya dan menimbulkan penyakit, mulai dari gangguan pencernaan, sakit mata, flu, penyakit kulit, dll.

Cara membersihkannya:
Rajin mencuci tangan adalah perlu ditanamkan pada diri si kecil. Jangan lupa, bersihkan dan rapikan kuku tangan untuk menghindari kotoran ‘bersembunyi’ di baliknya. Secara bertahap, bimbing dia untuk menghentikan kegemaran menghisap jempol tangan atau menggigiti kuku untuk menghindari masuknya kuman penyakit melalui mulut.

Ayo, latihan!
Mencuci tangan sendiri sudah bisa dilakukan sejak anak berusia 2 - 3 tahun. Nah, latihan menggunting kuku bisa dilakukan setelah anak agak besar (sekitar 8 - 10 tahun) atau ketika Anda yakin koordinasi tangannya sudah mantap. Hingga anak bisa melakukannya secara sempurna, Anda mungkin masih perlu mengawasi kegiatan mencuci tangan ini untuk menghindari sisa-sisa busa sabun yang masih menempel.

Agar anak tidak tergesa-gesa mencuci tangan (dan tangannya masih kotor!), ajak mengukur durasi mencuci tangan dengan cara menyanyikan lagu ‘Happy birthday’ sebanyak 2 kali. " Anda juga bisa mengajak si kecil menonton video lucu tentang tarian mencuci tangan yang benar dari situs Youtube. Ia bisa menirunya ketika akan mencuci tangan sendiri,” saran dr. Kartika.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Penggunaan YouTube sebagai sarana belajar oleh generasi muda saat ini banyak dipengaruhi oleh karakteristik mereka sebagai digital native. YouTube sebagai hasil dari perkembangan teknologi tentunya tidak luput dari pandangan generasi ini. Mereka punya kecenderungan untuk berpaling ke internet ketika mencari jawaban atas sesuatu yang menarik dibandingkan bertanya pada orang lain atau membaca buku. Keterbatasan waktu dan biaya juga menjadi pertimbangan pilihan ketika berguru ke YouTube.

Ketika saya sibuk mencari tempat kursus fotografi digital, seorang teman menyarankan untuk belajar melalui YouTube. “Murah, meriah, efi sien,” katanya saat itu. Ini juga menjadi alasan Ayu, mama Rasa memperbolehkan anaknya berselancar di YouTube.“Daripada anak anak main ke mal dan uang habis, lebih baik  di rumah dan menghasilkan sesuatu, kan,” katanya lagi. Lagipula, di mana lagi bisa mendapat berbagai ‘kursus’ menarik di satu tempat?

Wendy melanjutkann, melalui YouTube, Syasya jadi anak yang lebih berani mencoba, rasa ingin tahunya semakin besar, sekaligus belajar membuat kategorisasi. “Ketika mencari video, ia belajar memasukkan kata kunci yang tepat, Di situ, ia sebenarnya belajar mengelompokkan informasi,” kata Wendy. Apa lagi? Dalam keseharian, yang paling mudah diamati adalah Syasya jadi lebih percaya diri berekspresi melalui bernyanyi dan juga berpakaian.

“Tampaknya, permainan dress-up yang suka ia mainkan membuatnya lebih paham lagi mengenai prioritas, selera, dan estetika,” lanjutnya. Ayu pun mengungkapkan hal yang sama. Selain lebih hemat, Rasa jadi lebih mandiri. “Ia bisa membuat makanan sendiri, mengatur kamar, sampai membuatkan mainan yang bisa digunakan bersama adiknya. Asyik, kan,” katanya.

sumber : http://www.parenting.co.id/


Tinggal di negara beriklim tropis membuat kita terbiasa melakukan berbagai aktivitas di bawah hangatnya sinar matahari dengan kelembapan udara tinggi. Akibatnya, kotoran dari keringat dan debu mudah menumpuk bila tidak rajin dibersihkan. Tubuh yang tidak rajin dibersihkan amat berisiko terserang berbagai jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur, virus, dan bakteri.

Cara membersihkannya:
Biasakan anak untuk menepati jadwal mandi 2 kali sehari (bisa lebih jika ia banyak berkeringat dan amat aktif melakukan berbagai aktivitas fisik). Jika mau, gunakan air hangat yang secara bertahap dikurangi kadar kehangatannya untuk membiasakan si kecil mandi dengan temperatur air yang berbeda-beda. Ini berguna jika kelak Anda mengajaknya bepergian ke tempat yang memiliki keterbatasan dari segi akomodasi. Bagi Anda yang sudah punya anak praremaja, pertimbangkan penggunaan deodorant (yang diproduksi khusus untuk anak seusianya) guna mengantisipasi aroma tubuh menyengat yang mulai hadir pada masa puber.

Ayo, latihan!
Anak yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak biasanya sudah mulai tertarik untuk melakukan berbagai hal secara mandiri—termasuk mandi sendiri. Bimbing dia membersihkan tubuhnya dengan cara mengawasinya ketika mandi. Ingatkan anak untuk membasuh daerah lipatan kulit (leher, ketiak, selangkangan, belakang lutut) yang menjadi tempat berkumpulnya keringat. Agar lebih bersih (dan lebih fun!), izinkan ia menggunakan peralatan mandi milik Anda, yakni sabun cair dengan beraneka jenis keharuman. Sesekali, boleh juga, kok, membawa serta mainan (boneka, mobil-mobilan, dinosaurus) untuk ikut mandi bersama Anak.

sumber : http://www.parenting.co.id/


ORANGTUA akan lebih mudah mengarahkan pendidikan maupun kegiatan anak jika telah diketahui bakat serta minatnya. Karena itu, penting melakukannya sejak dini.
Pendidikan merupakan bagian terpenting untuk kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, setiap warga negara, khusunya orangtua, harus menyadari arti pentingnya pendidikan bagi seorang anak.
Fredrikson Horo, pemerhati pendidikan dari Komunitas Sahabat Anak, mengatakan bahwa ketika anak berusia empat tahun, orangtua harus sudah mengetahui minat dan bakat anaknya. Bagaimana cara mengenali bakat dan minat anak?
Berikut beberapa cara mengenali bakat dan minat seorang anak sejak usia dini yang perlu diketahui oleh para orangtua:
Periode penting
Usia antara 4-14 tahun merupakan usia dimana orangtua harus mengetahui bakat danminat seorang anak. Rata-rata seorang anak baru akan tahu minat masing-masing pada saat mereka menginjak bangku SMP hingga duduk di bangku Kuliah.
Periode ini merupakan saat-saat yang kritis bagi anak. Perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa.
Amati tipe kecerdasan pada anak
Kecerdasan seorang anak tidak hanya diukur melalui ukuran IQ (Intelligence Quotient). Setiap anak memiliki kecerdasan yang majemuk, yakin kecerdasan intelektual (IQ) maupun kecerdasaan emosional (Emotional Quotient/EQ).
Ada beberapa kecerdasan pada anak yang harus orangtua ketahui. Di antaranya adalah kecerdasan musikal. Kecerdasan ini ditunjukkan saat seorang anak dengan mudah mengikuti dan mengingat lagu. Cara melatihnya adalah dengan mendengarkan musik dan bernyanyi.
Kedua, kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan ini berkaitan dengan daya tahan untuk tidak mudah down, gigih berusaha, dan tidak minder. Ketiga, kecerdasan visual spasial, yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan memahami pandangan ruang. Dalam kecerdasan ini, anak mampu membedakan posisi, letak, serta membayangkan ruang di kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang, dan samping.
Keempat, kecerdasan Interpersonal (sosial), yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan anak beradaptasi, bekerjasama, berelasi dengan lingkungan teman sebaya, dan orang di sekitarnya. Terakhir, kecerdasan kinestetik tubuh. Seorang anak memiliki kemampuan untuk melakukan kegiatan yang melibatkan tubuh. Misalnya, gerakan tubuh saat berdoa, menggambar, melompat, belari, dan olahraga yang menggerakkan tubuh, seperti menari, bersenam ,dan sebagainya.
Mengikuti lomba dan latihan
Mengetahui potensi bakat dan minat dan anak bukanlah hal yang instan. Semakin sering melakukan berbagai macam latihan, lomba, atau kompetisi, potensi serta bakat akan semakin teruji dan terasah. Peranan orangtua dalam meningkatkan prestasi belajar anak dan memberikan pendidikan yang baik, serta arahan yang tepat dapat membantu mengasah minat dan kemampuan seorang anak dalam bidang tertentu.
Libatkan hobi
Orangtua tidak diperbolehkan menjadi seorang yang egois dengan apapun yang disukai oleh anaknya. Belajarlah untuk saling berbagi kesenangan dengan anak. Salah satunya dengan cara menghargai hobi yang dipilih si anak. Dari situ bisa diketahui minat dan hobi anak ke depannya.



Kemah Ukhuwah Pramuka Penggalang / KEMNAS adalah kegiatan rekreasi edukatif di alam terbuka dalam bentuk perkemahan besar Pramuka Penggalang. Perkemahan ini merupakan sarana pembinaan Pramuka Penggalang yang menitikberatkan pada pengembangan diri peserta yang terdiri atas bidang spiritual, emosional, sosial, intelektual, fisik (SESOSIF) baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Kemah Ukhuwah Nasional III Sako Pramuka SIT 2015 diselenggarakan untuk mewujudkan generasi muda Indonesia yang TAQWA, TANGGUH, TANGKAS dan TEGUH serta untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
    
Kemah Ukhuwah Nasional III Sako Pramuka SIT 2015 bertujuan untuk meningkatkan karakter kemandirian, ketangguhan dan keterampilan, jiwa kepemimpinan, semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan Pramuka Penggalang dalam bingkai nilai-nilai ke Islaman serta memiliki komitmen terhadap penghayatan dan pengamalan Kode Kehormatan Pramuka yaitu Tri Satya dan Dasa Darma.

Kegiatan  KEMNAS III dilaksanakan pada hari Selasa-Sabtu tanggal 3 – 7 November 2015 di Bumi Perkemahan Coban Rondo – Malang, Jawa Timur. Tema KEMNAS kali ini adalah “Berbekal Taqwa meraih cita, menjalin ukhuwwah membangun bangsa”

SDIT Bina Amal akan mengikuti Kemah Ukhuwah Nasional III ini, dengan mengirimkan 2 regu penggalang terbaik yang terdiri dari 10 putra/arrijal dan 10 putri/annisa. Berbagai persiapan telah dilakukan, baik persiapan fisik maupun mental peserta agar dapat membentuk karakter kemandirian, ketangguhan dan keterampilan, jiwa kepemimpinan, semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan Pramuka Penggalang dalam bingkai nilai-nilai ke Islaman.

Adapun siswa-siswi terbaik yang akan mengikuti Kemah Ukhuwah Nasional III ini sebagai berikut :

No Nama
1 Moh. Satrio Arif Wicaksono
2 Yahya Abdul Hafidz
3 Zufar Nabiil Akram
4 Luthfi Muhammad Rizky
5 Yuan Nadhif Athallah
6 Muhammad Alif Auriansyah
7 Majiid Reza Herlambang
8 Maulidani Haidar Al Furqon
9 Muhammad Hilman Sidqi
10 Daffa Afarell Putera Wijaya
11 Salma Nabilatuz Zahra
12 Nasywa Afrilia Dhiyaa Ulhaq
13 Adila Salsabila
14 Shabrina Salma Khairunisa 
15 Sabrina Putri Sekar Alim 
16 Laila Najma Rahmatika
17 Nadia Rizki Ramadhina
18 Adiba Sanie Nayyara
19 Millati Azka
19 Aqilla Nadiva Salsa

Semoga harapan-harapan pada kegiatan ini dapat tercapai untuk menjadikan pribadi yang luar biasa. 
Selamat Kemnas Untuk Pramuka SIT.
(ADZ)


Daun telinga adalah salah satu bagian tubuh yang paling sering luput dibersihkan. Padahal, daerah sekitar daun telinga yang sering tertutup rambut atau topi akan lembap oleh keringat sehingga menjadi tempat ideal untuk bakteri berkembang biak. Indikasi telinga yang jarang dibersihkan adalah adanya timbunan kotoran (daki) pada permukaan daun telinga serta biang keringat atau iritasi pada daerah belakang telinga.

Cara membersihkannya:
Cuci daun telinga dengan air dan sabun (hati-hati, jangan sampai air sabun masuk ke dalam lubang telinga!) setiap kali mandi. Seminggu sekali, bersihkan pula daun telinga menggunakan waslap hangat. Kapas bertangkai (cotton bud) bisa digunakan untuk menjangkau kotoran pada lekuk daun telinga. Ingat, cukup bersihkan daun telinga saja dan hindari merogoh lubang telinga dengan benda apa pun. Telinga kita memiliki mekanisme pembersihan secara alami sehingga kotoran di dalam bisa keluar dengan sendirinya. Memasukkan kapas bertangkai ke dalam lubang telinga malah berisiko mencederai bagian dalam telinga atau mendesak kotoran telinga ke arah dalam sehingga menimbulkan sumbatan.

Ayo, latihan!
Begitu anak mulai mandi sendiri, Anda bisa mengingatkannya untuk mencuci daun telinga dan menggosoknya agar bersih. Cukup gunakan air dan waslap—tanpa sabun, pada saat-saat awal berlatih untuk memudahkan si kecil melakukannya. Tak perlu panik jika air masuk ke dalam lubang telinga. Setelah mandi, minta si kecil berbaring miring dengan sisi telinga yang tersumbat menghadap ke bawah. Air akan keluar dengan sendirinya.

sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget