Januari 2017




Siapa yang tidak berdebar ketika menghadapi Ujian Nasional, yah ujian yang dilaksanakan menjelang akhir proses pembelajaran anak.

Tapi berbeda dengan anak-anak SMPIT Bina Amal Semarang, mereka justru senang dan menunggu-nunggu Ujian Nasional. Lho kok?

He..he.. ternyata Ujian Nasional sekarang tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Tetapi meskipun demikian siswa diharuskan untuk serius belajar dan tetap memberikan yang terbaik.

Nah..sebelum itu, siswa-siswi SMPIT Bina Amal Semarang, mengadakan acara AMT. Apa itu AMT? AMT itu acara yang asyik, acara yang di tunggu-tunggu semua siswa, bahkan Bapak Ibu Guru pun senang dengan AMT.

Achievment Motivation Training, yap itulah kepanjangannya. Intinya adalah kegiatan yang mengajak siswa untuk termotivasi dalam menghadapi segala hal, semua kondisi, melatih kerjasama tim dan masih banyak lagi.

Acara AMT SMPIT Bina Amal Semarang sendiri dilaksanakan di Nglimut Gonoharjo Kendal dari hari Jumat- Sabtu, 28 – 29 Januari 2017.

Apa saja kegiatannya? Yang pasti asyik dan menyenangkan. Ada games-games menantang, Outbond, muhasabah, target ibadah, baca quran dan ditutup dengan hiking ke Medini.

Sukses untuk angkatan VII SMP IT Bina Amal

galeri foto















Bagaimana caranya memotivasi anak agar mau belajar dan disiplin selaras dengan keinginan orang tua tanpa kekerasan? Berikut beberapa caranya Untuk memotivasi disiplin:

1. Buat aturan yang jelas.

Tanpa aturan, anak akan bingung dan tidak fair juga jika Anda menyalahkannnya. Aturan juga memudahkan Anda untuk memperingatkan anak bila melakukan kesalahan.

2. Aturan harus realistis.

Aturan ini jangan mengada-ada, menyulitkan anak,dan mengabaikan haknya sebagai anak. Misalnya, tiap hari anak harus belajar meski waktu liburan sekolah. Atau, anak masih usia 3 tahun, tapi sudah harus bisa membereskan pakaian sendiri. Tentu saja, dia akan kesulitan. Ada baiknya, jika aturan ini dibicarakan bersama anak. Beri alasan mengapa aturan itu dibuat. Misalnya, ia wajib membereskan buku-buku dan baju sekolah di malam hari agar tidak ada buku atau alat tulis yang tertinggal dan bisa berangkat sekolah on time.

3. Aturan harus konsisten diterapkan.

Jangan angin-anginan sesuai suasana hati orang tua. Misalnya, karena kebetulan ada acara TV bagus pada waktu jam belajar anak, Anda membiarkan TV dihidupkan. Anak menangkap bahwa aturan bisa dibelokkan.

4. Ada konsekuensi jika melanggar.

Anak boleh ikut menentukan konsekuensi jika melanggar disiplin. Orang tua harus mengingatkan dan menjalankan tegas konsekuensi ini. Namun, buatlah konsekuensi biasanya hukuman yang adil, logis, dan bisa memberi efek jera, bukan menyiksa anak. Hukuman juga jangan mempermalukan atau merendahkan dirinya. Saat hukuman usai, tak perlu memaksa anak untuk minta maaf atau menceramahinya. Dorong dia untuk berperilaku sesuai aturan.

5. Beri contoh terbaik.

Anak wajib membereskan kamar tidurnya, tetapi Anda mengandalkan ART untuk membereskan ruang tidur Anda. Ya, Anda tidak memberi contoh namanya.

parenting



Menurut para guru, keterlibatan orangtua adalah kombinasi dari komitmen dan partisipasi aktif Anda sebagai orangtua bagi anak, yang merupakan bagian dari peran Anda sebagai orangtua murid. Berikut adalah hal-hal kecil yang dapat Anda lakukan sehari-hari di rumah dan di mana saja, dan tetap aktif terlibat dalam pendidikan anak:

- Menjadi Contoh yang Baik
Perlu Anda ketahui, anak-anak lebih memandang dan meniru perilaku orang dewasa di dekatnya, daripada mendengarkan nasihat kita. Maka, jika kita memberi contoh nyata tentang bagaimana menggunakan sopan santun pada orang lain, mengikuti peraturan dengan tertib, serta makan dengan menu sehat, anak-anak pun akan meniru dengan baik, kok.

-Banyak Mengobrol dengan Anak
Tidakkah Anda ingin memiliki anak yang punya kosakata kaya, bisa berempati pada orang lain dan lingkungan, serta kritis menanggapi berbagai permasalahan?Bicarakan banyak hal dengan mereka, dengarkan pendapatnya, sampaikan pendapat Anda. Ajak anak melihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Lucky, guru kelas 6, anak yang aktif terlibat dalam diskusi kelas, dan cepat tanggap pada isu yang sedang hangat, biasanya banyak mengobrol dengan orangtuanya.

-Dorong Anak Melakukan yang Terbaik
Sebagai orangtua, tentu kita ingin yang terbaik untuk anak kita. Tunjukkan pada anak bahwa pendidikan itu penting, dan sampaikan bahwa Anda berharap mereka agar bersungguh-sungguh. "Perhatikan juga bagaimana orangtua memberi reward pada hasil kerja anak, apakah fokus pada hasil, atas fokus pada usahanya. Hasilnya bisa berbeda, lho," tambah Ella, guru kelas 2.

-Memberi Kesempatan Anak untuk Berbuat Salah
Tidak apa-apa bila anak Anda tidak mendapat nilai 100. Tak masalah bila sesekali mereka lupa mengerjakan PR-nya. Jangan terlalu berkecil hati bila si juara kelas semester ini nilai rapornya turun. "Anak-anak perlu belajar salah, dan menerima konsekuensi dari kesalahannya. Karena anak yang selalu dibantu orangtua untuk sempurna, justru mudah menyerah ketika menemukan kesulitan," kata Andin, guru kelas 5.

-Mendukung Sekolah
Usahakan untuk selalu mematuhi tata tertib dan kebijakan sekolah, sehingga anak belajar menghargai sekolah dan disiplin. Jika anak Anda dirasa punya masalah atau hambatan di sekolah, segera bicarakan dengan walikelasnya. Percayalah bahwa walikelas tahu apa yang terjadi di kelas.

parenting



Salah satu hal terpenting yang bisa Anda berikan pada anak adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Bersikap sopan, bertutur halus, dan kontak mata merupakan dasar dari berhasilnya suatu hubungan dengan orang lain. Jadi, inilah yang harus Anda berikan pada sebagai bagian dari tugas Anda sebagai orang tua. Namun, yang membuat frustrasi adalah beberapa anak tidak bisa melakukannya walau Anda sudah bersusah payah mencobanya. Berikut tip untuk membantu Anda:

1. Terapkan prinsip ‘kita’. Anak usia 5 – 10 tahun sedang belajar mengenali norma-norma yang ada dalam masyarakat: Mana yang benar dan salah, dan bagaimana mereka diharapkan berperilaku. Salah satu solusinya adalah menerapkan prinsip ‘kita’: “Inilah bagaimana kita berbicara, berperilaku, percayai, makan, dll.” Nah, norma ‘kita’ ini menjadi akar dalam kepribadian anak dan secara alami akan menjadi bagian dari perilakunya. Yang pasti, jangan pernah meremehkan sejauh mana peran Anda sebagai teladan yang bisa memengaruhi anak. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sopan memang tidak selalu bersikap sopan di sekitar orang tuanya ketimbang dengan orang lain. Meski begitu, Anda akan menuai pujian karena teman atau guru akan bilang, “Wah, anak benar-benar sopan, ya?”

2. Berharap bisa menghargai orang lain. Berperilaku sopan menunjukkan bahwa kita menghargai atau respek pada orang lain. Anak perlu belajar menatap seseorang pada matanya saat berbicara dengannya dan menyapa dengan nama atau gelar untuk menunjukkan respek. Ajarkan si kecil untuk, misalnya, mengatakan, “Miss Sandra, bolehkah saya….” Atau “Terima kasih, dr. Rama….” Bagaimana pun, anak ingin disukai oleh orang yang ditemuinya. Katakan padanya, “Ketika kamu berbicara sopan pada seseorang, ini menunjukkan bahwa kamu menghargainya, dan orang tersebut akan suka sama kamu karena apa yang kamu lakukan itu.”

3. Manfaatkan peer group-nya. Bangun pertemanan dengan anak dan keluarga yang bisa menjadi teladan perilaku dan juga perkataannya. Jadi, anak bisa belajar dari mereka. Ya, menghabiskan waktu dengan teman yang sopan akan membuat anak berpikir kalau semua orang harus berperilaku seperti itu juga.

4. Gunakan kontak mata. Ketika memberi arahan pada anak, misalnya memintanya untuk membereskan kamar atau membantu di dapur, berjongkoknya hingga mata Anda selevel dengannya dan tunggu hingga matanya berkontak langsung dengan mata Anda. Untuk mendapatkan perhatiannya, gunakan namanya dan buka pembicaraan dengan, “Mama perlu mata kamu. Mama perlu telinga kamu.” Pastikan tatapan mata ke mata ini terjadi secara langsung dan ramah.

Ingat, jangan terlalu intens menatapnya sebab anak bisa mengartikannya sebagai Anda mengendalikan dirinya dan bukan sedang membuka komunikasi atau hubungan dengannya. Bicaralah pada anak sebagaimana Anda ingin ia berbicara dengan Anda dan orang lain.
Sumber : parenting.co.id




Sebenarnya, anak yang percaya diri memiliki keinginan yang kuat, hobi, dan ambisi. Terdengar bagus, kan? Sebaliknya, anak yang kurang percaya diri akan tetap tergantung pada orang lain, bossy, dan secara terus menerus merasa tidak puas.

Jenis anak apa yang akan Anda hasilkan? Semua ini tergantung pada bagaimana Anda membimbingnya. Untuk menghindari anak yang terlalu permisif atau ia bermetamorfosa menjadi monster kecil, pertimbangan 6 hal berikut ini:

1.Berikan anak apa yang dibutuhkan, dan bukan semua yang diinginkannya. Membanjiri anak dengan hadiah memang membuat Anda merasa senang, namun hal ini sekaligus akan membuat anak merasa boleh meminta hadiah kapan pun. Padahal, semakin banyak hadiah yang didapat, anak akan semakin kurang menghargainya, serta semakin banyak meminta. Jadi, begitu berurusan dengan hadiah, paling baik, ya, berikan secukupnya.

2.Jangan biarkan anak bersikap atau berkata tidak sopan. Anak yang berbicara tidak sopan pada orang tuanya sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang rendah, hubungan dengan peer-nya buruk, dan merasa depresi. Jadi, bila anak Anda sering berkata tidak sopan pada Anda, jangan berharap apa pun. Segera hentikan kebiasaan itu. Bersikap tegaslah pada perilakunya yang tidak bisa diterima itu.

3. Jangan menjadi ‘orang tua yang bisa memperbaiki apa pun’. Ini adalah superhero yang akan melakukan apa pun untuk anaknya, termasuk menyelamatkan anak dalam situasi yang penuh frustrasi. Akibatnya? Anak menjadi tergantung padanya, kehilangan berbagai peluang untuk berkembang, dan menciptakan gap dalam perkembangan emosinya. Anak dengan orang tua seperti ini tidak perlu berpikir dua kali untuk bersikap bossy atau memanipulasi orang tuanya. Sebaiknya, Anda mengajari anak untuk mengatasi frustasinya dan mencari solusi terbaik. Ingat, frustrasi akan membuat anak lebih matang kepribadiannya. Jadi, bantulah anak melalui frustrasinya, bukan menyelamatkannya dari frustrasi.Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

4. Tidak pernah mendapat hadiah, misalnya, bisa membuat anak tidak percaya diri. Keinginan merupakan awal dari timbulnya ambisi dan kreativitas. Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan sendiri, lalu bantulah untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dan berusaha mencapai tujuan tersebut.

5. Jangan takut untuk tidak populer. Menjadi orang tua yang baik juga termasuk membuat keputusan tidak popular. Bila Anda menyerah pada tantrum anak atau menghindari konflik agar segalanya tetap tenang dan damai, sebenarnya Anda membuat masalah yang lebih besar di masa mendatang. Ia belajar bahwa berperilaku negatif akan membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, jangan khawatir untuk tidak popular, Ma! Pada akhirnya, anak akan memahaminya dan juga lebih menghargai Anda.

6. Tunjukkan siapa yang memimpin. Menjadi orang tua membutuhkan sikap kepimpinan yang kuat. Semakin percaya diri Anda dengan keputusan Anda, semakin anak akan menghargai Anda. Bagaimana pun, anak yang menghargai orang tuanya akan membangun landasan yang kuat, yakni menghargai diri sendiri, membuat keputusan yang dipikirkan secara matang, serta menunjukkan perhatian saat berhubungan dengan orang lain.

Jadi, akhiri perilaku anak yang terlalu percaya diri, Ma. Ciptakan lingkungan yang saling mendukung dalam keluarga dan dorong anak untuk memiliki kebiasaan yang baik sepanjang hidupnya.

parenting



Yayasan Wakaf Bina Amal Semarang telah memiliki sekolah dari jenjang Kelompok Bermain, TK, SD, dan SMP. Di tahun ajaran 2017/2018 akan di buka untuk jenjang SMA jurusan IPA dan IPS. Khusus SMP dan SMA, Bina Amal Semarang menerapkan sistem boarding school atau sekolah berasrama.

Apa bedanya Bina Amal dengan sekolah lainnya?

Bina Amal merupakan sekolah berbasis Islam. Tidak hanya pendidikan ilmu pengetahuan umum yang diajarkan tetapi juga dibekali ilmu agama seperti pendampingan qiroati, hafalan surat dan lainnya. Anak perlu dibekali ilmu agama yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman sekarang. Siswa bina Amal Semarang menjadi teladan dan contoh untuk siswa sekolah lainnya. Bukan hanya orientasi prestasi yang bagus tetapi disertai akhlak yang baik.

Guru Bina Amal Semarang terpilih bukan sekedar dilihat dengan IPK yang bagus. Tetapi dipilih setelah melewati rentetan tes berupa materi, tes baca Al-Qur'an, muroja'ah hafalan dan lainnya. Karena guru menjadi contoh bagi siswanya. Teladan dalam perkataan dan perilaku. 

Inilah komitmen besar Bina Amal Semarang untuk mendidik siswa agar menjadi generasi muda Islam yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.


Dongeng membantu anak mengatasi masalah emosi dan persoalan hidup sehari-hari. Waktu untuk mendongeng menjadi momen spesial untuk anak dan Anda, dan ia akan mengingatnya seumur hidup.

Cerita atau dongeng, apakah itu karangan Anda atau dibacakan dari buku, merupakan salah satu cara anak belajar menyukai buku. Buku dan tokoh-tokoh dalam buku bisa menjadi teman anak. Anak-anak juga belajar bahwa buku adalah sumber informasi penting dan paling mudah.  Apa saja manfaat dongeng bagi Anda dan anak?

1. Bersama dengan membaca
  • Bahasa kita adalah alat komunikasi dengan orang lain. Bahasa membantu kita  memahami diri kita dan lingkungan. Membaca adalah salah satu cara untuk belajar bahasa dan mempelajari lingkungan.
  • Membaca adalah kegiatan yang disukai kebanyakan orang, dan kita juga harus dapat membaca. Kemanapun kita pergi, kita akan bertemu tulisan: surat kabar, brosur, papan penunjuk jalan, majalah, panduan perkakas rumah tangga, dan sebagainya.
  • Membacalah di dekat anak, apapun itu; surat, brosur, kartu, resep masakan, memberi pesan pentingnya membaca.
  • Membacakan buku atau mendongeng untuk anak bisa menjadi momen spesial bagi anak dan orang tua, dan membantu anak mengembangkan rasa aman dan harga diri yang baik.
  • Dongeng dapat membantu anak mengatasi persoalan dan ketakutan yang mereka alami setiap hari.
2. Membantu anak belajar
  • Bicara dan berpikir
  • Mengenal lingkungannya lewat gambar-gambar.
  • Tahu nama-nama benda.
  • Mengenal warna, ukuran, bentuk, mahkluk hidup dan kehidupannya.
  • Angka dan ukuran, misalnya “Keluarga Ikan.” Anak belajar tentang ayah ikan, ibu ikan, anak ikan. Ikan besar dan ikan kecil.
  • Mengembangkan imajinasi
3. Mengatasi masalah emosi
  • Ketika Anda menceritakan dongeng yang berkisah tentang perasaan, anak dibantu menerima dan memahami perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Anak belajar bahwa ia tidak sendirian, karena anak lain mungkin juga mengalami hal yang sama dengannya. Anak akan mengerti bahwa perasaannya wajar-wajar saja.
  • Anda belajar memahami perasaan anak ketika ia menanggapi perasaan tokoh dalam dongeng. Misalnya ketika anak sangat suka dongeng itu, mmungkin karena dongeng itu sangat berarti baginya dalam membantu masalah emosinya.
  • Saat Anda bercerita, anak merasa Anda memahami perasaannya. Misalnya ketika tokoh cerita takut pada gelap, anak sadar bahwa anak kecil takut gelap itu normal.
  • Dongeng membantu mengatasi rasa takut. Cerita tentang mengatasi rasa takut, mendorong anak untuk belajar mengatasi rasa takutnya.
4. Mengembangkan rasa percaya diri
  • Bagian dari membangun rasa percaya diri dan harga diri adalah tahu tempat Anda berpijak. Cerita tentang sejarah keluarga Anda, misalnya “Masa Kecil Bunda”, membantu anak mengembangkan rasa memiliki. Dari mana asal usul Anda dan pasangan Anda, juga penting bagi anak.
  • Waktu khusus untuk mendongeng menjelang tidur dapat membantu anak menikmati kebersamaannya dengan Anda, santai dan siap tidur.
  • Dongeng bisa menjadi pelarian anak sementara dari dunia yang menegangkan, karena dongeng membuatnya berkelana ke alam imajinasi yang bebas, yang bisa membantunya meredakan ketegangan. Masalah terpecahkan, anak tumbuh rasa percaya dirinya.
  • Membacakan cerita atau mendongeng bisa memicu kecintaan anak pada buku, dan mengembangkan diri menjadi pribadi yang dicintai. Banyak anak mengingat dongeng masa kecilnya hingga ia dewasa.



Pendidikan anak sangat penting untuk masa depannya. Tuntutan zaman yang telah berubah menawarkan persaingan yang sengit. Sehingga orang yang berpendidikanpun harus berusaha keras karena daya saing yang tinggi di masyarakat. Masyarakat mulai menyadari bahwa pendidikan adalah kebutuhan.

Efek langsung dari sebuah pendidikan adalah memberi pengetahuan. Pendidikan memberi kita banyak pengetahuan tentang berbagai hal dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini, pendidikan juga dapat memberikan pandangan bagi kehidupan. Membantu kita membentuk sudut pandang kehidupan,dlsb.

Pendidikan itu sangat penting bagi kita, karena tidak hanya memberi kita pengetahuan akan tetapi mengajarkan kita pada sopan santun dan hal- hal yang benar. Pendidikan memupuk kita menjadi individu dewasa; individu yang mampu merencanakan masa depan dan mengambil keputusan yang tepat dalam hidup. Dan pendidikan yang baik akan membuat kita lebih manusiawi.

Bina Amal tidak hanya menawarkan pendidikan yang dterapkan sekolah pada umumnya, tetapi bekal ilmu agama untuk mengimbangi siswa dalam menjalani tantangan kedepan. Berbagai program yang telah berjalan seperti hafalan, tahsin dan lainnya.











Memberikan pengetahuan Efek langsung dari sebuah pendidikan adalah memberi pengetahuan. Pendidikan memberi kita banyak pengetahuan tentang berbagai hal dan segala sesuatu yang berhu ungan dengan dunia ini, pendidikan juga dapat memberikan pandangan bagi kehidupan. Membantu kita membentuk sudut pandang kehidupan,dlsb.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/henyharyati/5-alasan-pentingnya-pendidikan_552e374c6ea834cb238b457d



Memang dalam proses belajar terdapat rasa bosan, hal tersebut memang merupakan suatu hal yang manusiawi. Biasanya jika sudah merasakan rasa bosan, para Orang tua seharusnya mengarahkan lagi betapa pentingnya belajar. Motivasi belajar adalah kunci utama siswa atau pelajar akan mempunyai semangat lagi dalam proses belajar. Biasanya motivasi belajar di berikan pada anak ketika anak malas dalam belajar.

Nah untuk anda yang memperlukan bagaiamana cara untuk memotivasi semangat belajar pada anak, berikut adalah tips  Meningkatkan Motivasi Belajar Anak :

Memberikan Hadiah

Hadiah memang paling di sukai oleh anak apalagi jika yang memberikan adalah orang tua. Dengan cara ini anda sebagai orang tua dapat meningkatkan semangat belajar pada anak, namun anda perlu memberikannya setelah anak anda mendapatkan nilai memuaskan dalam sekolahnya. Dengan begitu biasanya anak akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hadiah yang menarik dari orang tua.

Membentuk Kebiasaan Belajar Secara Baik dan Efektif

Cara ini memang dapat meningkatkan motivasi untuk belajar apalagi jika dengan kebiasaan yang baik dan benar saat belajar. Sehingga apabila anak mulai malas dalam belajar dia mempunyai sebuah motivasi baru dalam proses belajarnya.

Menggunakan Berbagai Metode yang Bervariasi

Metode yang di gunakan dalam belajar jangan tersudut pada satu buah metode saja, melainkan mempunyai banyak variasi dalam proses belajar. Hal ini memang bertujuan agar sang anak dalam belajarnya tidak terlalu bosan dan terasa menjenuhkan. Apalagi jika guru di sekolah mempunyai banyak metode untuk membuat motivasi belajar anak menjadi tinggi.

Membantu Anak Ketika Kesulitan Dalam Belajar

Orang tua dan guru memang di haruskan dalam mendampingi anak dalam belajar. Hal ini bertujuan agar memperhatikan proses belajar si anak dan bagaimana hasil dari belajarnya tersebut. Biasanya anak akan menyukai dengan adanya gambar dan beberapa macam warna untuk proses belajarnya. Cara ini merupakan metode menarik untuk mengajak anak supaya dia mau untuk mempelajari pelajaran tersebut, dan mencatatnya.

Memberikan Hukuman

Cara meningkatkan motivasi belajar pada anak selanjutnya adalah memberikan hukuman. Hukuman ini akan di berikan kepada siswa bagi yang melakukan kesalahan atau pelanggaran yang ada. Contohnya siswa tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah yang di berikan gurunya maka siswa tersebut akan mendapatkan hukuman dari guru. Hukuman yang di berikan harus bersifat mendidik misalnya dengan cara membuat kliping dalam bahasa inggris dengan tema pendidikan, mencari artikel dengan tema cara belajar efektif, mengarang, dan lain sebagainya. Tujuan dari hukuman ini adalah supaya siswa mau belajar dengan rajin dan meningkatkan kedisiplinan dalam belajar.

Memberikan Ulangan Materi Pelajaran

Biasanya jika sudah menyelesaikan suatu Bab guru akan memberikan penilaian dalam bentuk ulangan atau praktek bagi pelajaran tertentu. Dengan cara ini maka anak di haruskan mendapatkan nilai baik dan jika mendapatkan nilai jelek maka guru wajib melaporkan dan meminta tanda tangan kepada orang tua setelah penilaian ulangan di lakukan. Dengan ini siswa akan merasa mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan nilai yang bagus dan mempunyai motivasi baru dalam belajarnya.

Motivasi belajar ini memang sangat di perlukan bagi setiap pelajar yang ada entah itu di bangku Kelas Dasar atau SD, SMP, SMA bahkan di Perguruan Tinggi. Namun cara belajar yang baik dan efektif alangkah baiknya jika di perkenalkan anak sejak usia dini, sehingga anak akan terbiasa belajar dengan baik dan benar ketika dia sudah besar.

media-online



Mendekati ajaran baru, Bina Amal menyiapkan pendaftaran siswa siswi baru tahun 2017/2018. 
Bagi orangtua yang ingin memilih sekolah yang tepat bagi putra putrinya dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

Visi Misi Sekolah
Melihat visi misi sekolah menjadi gambaran putra putri anda dididik.

Fasilitas pendidikan
Sekolah yang baik memiliki fasilitas pendidikan yang bukan hanya lengkap, tetapi juga aman digunakan. Dengan demikian, anak-anak dapat menggunakannya dengan nyaman.

Rekam jejak
Sebelum memilih sebuah sekolah untuk putra-putri Anda, sebaiknya Anda mempelajari rekam jejak sekolah tersebut. Prestasi apa saja yang pernah diraih siswa dan gurunya.
Perhatikan lingkungan sekolah
Sekolah yang baik terlihat rapi dan bersih, dengan anak-anak yang memiliki disiplin dan perilaku positif.

Baca juga :

Informasi Pendaftaran Online Siswa Baru 2017/2018



SETIAP ANAK DILAHIRKAN DALAM FITRAH

" Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi." (HR Bukhari & Muslim)

Ayah dan Bunda, sesungguhnya orang tualah yang membentuk anak. Baik atau buruk, semua tergantung bagaimana Ayah dan Bunda mendidiknya. 

Berikut tips mendidik anak dari Ketua Yayasan Wakaf Bina Amal, Bapak H Joko Widodo SE yang merupakan Ayah dari 10 Anak :

1. Dengan Keteladanan

Nabi Muhammad Saw merupakan guru besar bagi umat manusia, demikian pula dengan Nabi Ibrahim as, keduanya merupakan dua nabi yang memiliki gelar “Uswatun Hasanah” yang Allah catat di dalam Al-Quran. Setiap oang tua yang menerapkan pola Uswatun Hasanah (memberikan teladan baik) dalam pendidikan anak, maka proses dakwah dan pendidikan keluarga akan berjalan secara normal dan efektif.

Sebelum orang tua menyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu, maka sudah seharusnya orang tuanyalah yang harus lebih dulu melakukan. Ketika ingin anaknya rajin sholat, rajin ngaji dan sayang dengan saudaranya, maka mulailah Ayah dan Bunda membiasakan diri untuk sholat, biasakan diri untuk rajin membaca Al Quran, biasakan diri untuk bersikap lembut kepada orang lain. Dan biasanya tanpa disuruh anak akan mengikuti apa yang kita kerjakan. Karena tiap anak adalah peniru yang hebat. Jika Ayah dan Bunda melakukan kebaikan maka anak akan merekam dan melakukannya, begitu juga sebaliknya.
2.Mengutamakan Ibadah 

Mengajari anak untuk selalu taat terhadap agama sangat penting. Anak yang rajin beribadah akan memiliki pola pikir yang lebih baik dari pada yang jarang atau tidak sama sekali. Pentingnya peran mendekatkan untuk beribadah sangat menunjang untuk menjadikan anak cerdas dan patuh untuk melakukan hal baik.

Misalnya untuk rajin sholat. Jelaskan bahwa sholat sangat penting, saking pentingnya nabi pernah menjelaskan jika sudah berumur 7 tahun keatas anda dapat memukulnya dengan pukulan yang ringan dan tidak mencederai. Ajak anak untuk mencintai Masjid, contohkan juga bagaimana berwudzu yang baik. Berikan motivasi untuk beribadah, misal bersedekah, berpuasa dan menghapal Al Quran. Jika anak melakukannya maka berilah hadiah. Tapi jika belum, maka teruslah memotivasinya dan mintalah kepada Allah SWT agar melembutkan hati anak sehingga mudah menerima nasehat.

3.Berlatih Ukhuwah 

Yaitu dengan membangun kepedulian kepada sesama dan lingkungan sekitar. Jelaskan ke anak bahwa manusia hidup itu harus tolong-menolong. Di mulai dari sayang dan peduli kepada kakak atau adik, kemudian teman dan orang lain. Ayah Bunda, ajarkan anak-anak untuk saling berbagi, menyapa lebih dahulu, suka membantu, silaturahim. Sesekali atau bisa di jadwal, ajak anak untuk ke panti asuhan, jelaskan kondisi mereka, ajari anak untuk berbagi mainan yang dimiliki kepada anak-anak panti.

4. Membiasakan Dialog

Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang. Kita dengarkan pembicaraan anak, memberikan umpan balik kepadanya, dan bila diperlukan kita pun dapat menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang dia. Melalui dialog itu kita lebih mengetahui perasaan anak sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima.

Ayah Bunda, kita bisa mengawali disaat makan bersama, tanyalah pengalaman anak pada hari itu, hal apa yang disukai dan yang tidak disukai. Dengarkan, inilah yang patut dilakukan jika menginginkan anak memiliki sikap hormat (respek) kepada orangtua. Merasa didengarkan dan dihargai justru menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orang tua.

Sebaliknya, cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Bahkan dapat terjadi, anak mengembangkan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Boleh jadi ia menunjukkan ketaatan di depan orang tua, tetapi memberontak meledak-ledak di luar rumah. Ini ketika anak takut kepada orang tua. Dan sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua ini mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orang tua tidak melihatnya.

5.Piknik Utama Ke Toko Buku

Toko buku? Ayah Bunda, buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku anak akan mendapat banyak ilmu. Bahkan ini merupakan salah satu cara mengajari anak untuk membaca sejak usia dini. Biasakan sepekan sekali atau aturlah jadwal untuk mengunjungi toko buku atau pameran buku.
Sebelum anak-anak dikuasai gadget, TV, game yang hanya akan berdampak buruk/negatif.

Biarkan anak memilih buku yang disukainya. Arahkan dan dampingi ketika membaca buku. Kalau perlu berdiskusilah tentang isi buku tersebut.

Sesekali belilah buku tentang cerita Islami, ajak anak membaca bersama. Berdiskusilah tentang isi buku tersebut. Insya Allah anak akan lebih mudah untuk menambah wawasan dan daya pikirnya.

Wallahu a'lam bishawab.




Memiliki teman ataupun sahabat adalah salah satu pondasi dalam kehidupan.

Seorang teman yag baik akan dapat memberikan pengaruh dan mengubah kehidupan anda kearah yang lebih baik. Untuk dapat memiliki teman, seseorang harus memiliki keterampilan sosial yang harus dilatih sejak usia dini, begitupun dengan anak-anak. Usia mereka yang masih begitu dini, terkadang membuat anak-anak kesulitan bersosialisasi dan mendapatkan teman dilingkungannya yang baru.

Saat mudik liburan tiba adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturahmi dengan keluarga besar, yang mana anda akan membawa serta buah hati anda. Kegiatan ini sebelumnya telah direncanakan akan menjadi kegaitan yang menyenangkan dan membuat si kecil senang bereksplorasi dengan lingkungannya yang baru.

Akan tetapi, sesampaianya di kampung halaman, ketika kegiatan bersilaturahmi selesai dan tibanya untuk bersantai, si kecil malah terlihat muram di pojok kursi. Meskipun ada banyak keponakan anda dan anak saudara anda yang bermain ceria, anak anda malah terlihat lesu dan tidak bergairah. Dan sewaktu dihampiri, anak-anak malah menjadi rewel dan merengek bosan. Kebosanan yang menimpa anak-anak terjadi karena suasana yang baru membuat mereka belum terbiasa, selain itu pada intinya adalah mereka merasa kesepian karena tidak ada teman bermain.

Nah, untuk mengatasi hal ini maka orangtua perlu sekali mengupayakan dan membantu anak-anak agar bisa bergabung dan bermain bersama yang lainnya. Anda sebagai orangtua, bisa meminta anak-anak untuk bergabung bersama dengan anak yang lain. Jika anak-anak lain masih terikat hubungan keluarga dengan anda, maka beri tahukan pada anak anda bahwa mereka adalah saudara anak anda yang mana menjalin hubungan baik dengan keluarga anda hal yang harus senantiasa dijaga.

Anak-anak mungkin akan merasa canggung dan menarik diri untuk bisa bersosialisasi dengan teman-teman dilingkungannya yang baru. Akan tetapi, percayalah, hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Hanya diperlukan sedikit kerja keras dan bantuan dari orangtua untuk menjembatani perkenalan anak dengan teman-temannya, selepas itu mereka akan menemukan kecocokannya dan pada akhirnya bisa bermain bersama-sama.

Anak-anak yang pandai bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru, tentunya tidak hanya membuat mereka akan muda memiliki teman. Namun juga, akan membuat mereka tidak akan kesulitan dibawa berkunjung ke tempat-tempat yang baru. Salah satu faktor yang mudah membuat anak bersosialisasi dengan lingkunganya juga dipengaruhi oleh kepribadian si anak. Akan lebih mudah bagi anak bisa menjadi pertemanan dengan lingkungannya tanpa bantuan orangtua jika anak anda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Lain halnya, dengan anak yang pemalu. Mereka akan cenderung kesulitan bisa bergabung dan berbaur dengan anak lainnya. Untuk itulah, sudah menjadi tugas seorang orang tua dalam membantu anak mengatasi masalahnya, termasuk masalah untuk bersosialisasi.

Nah, bagaimana sudahkah anda melatih dan mangajarkan anak bersosialisasi sejak mereka masih berusia dini? Jika belum, maka ajarkan mereka mulai saat ini juga yang bunda. Untuk mengetahui beberapa tips mengajarkan anak untuk bersosialisasi, berikut ini kami akan berbagi tipsnya.

Jadilah Role Model Untuk Anak Anda

Anak-anak biasanya akan mencontoh segala perilaku dan sikap yang mereka lihat dari lingkungannya, yang mana disini lingkungan terdekat anak adalah keluarga, maka jangan heran jika anak akan cenderung meniru dan mengadaptasi sikap anda para orangtunya. Nah, dalam membantu anak untuk bisa bersosialisasi lebih mudah dengan lingkungannya, maka orang tua perlu menjadi role model yang baik untuk anak-anak.

Berikan contoh yang baik pada anak-anak bagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain. Ketika anak-anak melihat kedua orangtuanya mampu menjalin persahabatan dan pertemanan dengan lingkungannya, maka akan secara otomatis hal ini juga diadaptasi oleh anak-anak. Perlihatkan pada anak bagaimana menyapa dan memulai percakapan dengan oranglain. Buat mereka memahami bagaimana bersosialisasi yang baik dengan oranglain.

Ikut Sertakan Anak Dalam Berbagai Kegiatan

Anak-anak umumnya akan dapat menikmati dan menunjukan minatnya dalam sebuah kegiatan jika didalamnya ada anak-anak lain. Hal ini bisa dijadikan sebagai media yang menjembatani anak agar mudah bersosialisasi dengan teman-temannya. Untuk itu, carilah kegiatan yang bisa dilakukan oleh si anak bersama dengan teman-temannya. Selain akan mendapatkan keterampialn baru untuknya, anak juga akan memiliki kesempatan utnuk dapat berinteraksi dan menemukan teman baru.

Kegiatan tersebut tidak perlu hal yang susah atau memerlukan dana yang mahal, anda tetap bisa merancang sebuah kegiatan yang mudah dan murah, seperti mengikut sertakan anak dalam playgroup, mengikut sertakan mereka dalam kegiatan camp musim dan lain sebagainya. Permainan atau kegiatan yang diambil juga bisa anda seleksi, semisal kegiatan yag interaktif dimana anak-anak dituntut untuk melatih dan mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan teman barunya.

Jelaskan Pada Anak Makna Penting Memiliki Teman

Jelaskan pada anak akan arti penting memiliki teman dalam kehidupan. Hal ini akan membuat anak menyadari bagaimana pentingnya bersosialisasi dan mendapatkan teman. Hanya saja, jika anak anda adalah tipikal anak yang pemalu, maka anda tidak perlu memaksakan mereka. Anak yang pemalu umumnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuka diri dan memulai berinteraksi, apalagi dengan lingkungannya yang baru. Untuk itulah, orangtua harus mengerti dan memberikan mereka apa yang mereka inginkan. Akan ada waktunya, dimana mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungannya, mereka akan mulai bersosialisasi dengan lingkungannya.

Latih Anak

Anda dapat melatih si buah hati bagaimana membuat dan berinteraksi dengan orang lain. Terkadang, tidak sedikit orangtua yang merasa greget dan kesal saat anak-anak mereka hanya berdiam diri dan tidak mencoba berbaur dengan teman lainnya. Sehingga anda malah akan memaksakan anak untuk terburu mendapatkan teman. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil dan tidak membuat anak-anak dengan mudah mendapatkan teman. Sebaliknya, hal ini malah akan memberikan tekanan dan membuat anak-anak semakin mundur untuk mulai bersosialiasi dengan orang lain.

Nah, untuk itulah, sebaiknya kontrol emosi anda. Daripada anda memaksakan kehendak, akan lebih baik terus memberikan dorongan dan memfasilitasi anak agar bisa berteman dan berinteraksi dengan yang lainnya.

Biarkan Anak Untuk Berekspresi

Membantu anak untuk mudah bersosialisasi tidak berarti harus terus menerus mendorong anak dan menyeret mereka kelingkungan yang ramai dimana terdapat banyak anak-anak didalamnya. Berikan kesempatan bagi anak untuk dalam berkumpul dengan teman-temannya sesuai dengan keinginan mereka. Akan ada waktu dimana mereka memulai interaksi sesuai dengan minat dan keinginannya. Selain anak akan dapat memulai pertemanan, mereka juga akan mudah untuk dapat mendapatkan teman yang sesuai dan sejalan dengan pemikirannya.

Membantu anak-anak untuk bersosialisasi sejak mereka usian dini adalah hal yang baik. Dengan begini, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan mereka dan mendapatkan teman dengan lebih mudah meski dilingkungan yang baru mereka singgahi.

Sumber : Bidanku.com



Orangtua mana yang tidak menginginkan jika buah hati yang dimilikinya tumbuh menjadi seorang yang pintar dan cemerlang serta berani tampil dengan prestasi yang gemilang.

Sudah pasti ini menjadi anugerah terbesar yang membuat bangga setiap orangtua. Hanya saja, memiliki anak yang cerdas dan tumbuh menjadi seseorang yang cemerlang tidak didapat dengan mudah seperti menjentikan ibu jari dan jari tengah, semuanya perlu pengorbanan dan perjalanan panjang. Melalui didikan dan pola asuh orangtualah seorang anak yang hebat dengan kecerdasan yang cemerlang bisa lahir. Untuk itu, peran kedua orangtua terutama pola asuh anda adalah hal yang akan menentukan mau dibawa kemana masa depan anak anda dan karakter seperti apa yang ingin anda tumbuhkan pada diri anak-anak.

Ada banyak faktor yang akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak, baik tumbuh kembang secara mental ataupun etika dan moralnya dimasyarakat yang tentunya kesemua hal tersebut ditunjang dengan cara mendidik dan pola asuh anda sebagai orangtua. Walaupun nantinya kecerdasan dan perkembangan akademik seorang anak akan diasah disekolah, namun pendidikan dirumah sebelum anak-anak masuk sekolah akan menjadi hal yang sangat penting. Kemampuan ibu dan ayah dalam menumbuhkan ketertarikan anak dan interaksinya dilingkungan anak akan menentukan kemampuan sosialisasinya dimasyarakat.

Semua orangtua tentunya menginginkan jika anak yang dimilikinya adalah anak yang cerdas, cemerlang dan mampu bergaul dimasyarakat sehingga ia bisa diterima dilingkungannya dengan baik. Nah, untuk itu mendidik anak dengan beberapa hal berikut ini akan mampu menumbuhkan kecerdasan dan menjadikan anak tumbuh menjadi cemerlang.

Beberapa hal ini tentunya perlu diterapkan saat anak-anak masih bayi terutama di tahun kedua periode anak atau yang sering disebut dengan periode emas anak dimana periode inilah yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak secara optimak demi masa depan anak yang cemerlang. Dimasa ini, nutrisi yang lengkap akan dapat menunjang pertumbukan otak anak sebagai modal masa depannya. Namun, kendati demikian, stimulus juga tidak kalah mengambil peranan yang sangat penting untuk menunjang kecerdasannya.

1.  Jalin Ikatan Emosional yang Erat Sejak Anak Masih Bayi

Menjalin ikatan emosional dengan anak akan dapat memberikan naluri rasa yang aman dengan begini mereka akan merasa terlindungi tanpa merasakan ancaman bahaya yang mengancam diri mereka. Untuk itu, upayakan untuk menjalin ikatan emosional yang erat bersama dengan si anak sewaktu mereka masih bayi. Hal ini tentu saja bukan hanya berlaku bagi ibu, peranan ayah juga tak kalah pentingnya untuk memberikan sentuhan skin to skin contact kepada bayi. Berikan mereka belaian yang lembut dengan penuh kasih.

Selain sentuhan anda juga bisa mengaplikasikan kontak ini dengan cara memberikan pijatan yang lembut pada tubuh bayi, memakaikan pakaian bayi sendiri pada tubuhnya serta mengajak bayi berbicara sejak awal. Hal ini difungsikan ujntuk memicu rasa aman untuk naluri bayi. Dan satu hal yang penting adalah hindarkan pertengakaran dan segala bentuk perselisihan dihadapan bayi. Meskipun anda berpikiran tubuh bayi yang mungil dan jiwa mereka yang masih kecil tidak akan mengerti semua hal yang terjadi dihadapannya, namun kegaduhan dan ketegangan yang anda nampakan dihadapan mereka akan memberikan tekanan yang hebat sehingga membuat bayi anda shock dan naluri rasa aman tidak lagi mereka dapatkan dari anda.

2. Optimalkan Ekspresi Wajah Sewaktu Berkomunikasi dengan Anak Saat Masih Bayi

Meskipun mereka belum mengerti semua perkataan dan ucapan yang kita sampaikan pada bayi, namun bayi akan dapat menangkap ekspresi wajah yang ada disekitar mereka. Hal ini terjadi sewaktu bayi sudah menginjak usia 3 hingga 4 bulan dimana kemampuan membaca ekspresi wajah inilah yang disebut dengan dasar komunikasi non verbal pada anak. Dengan demikian ketika anda memunculkan ekspresi senang atau lucu pada bayi mereka akan cenderung terlihat gembira karena membaca ekspresi wajah anda meskipun mereka belum mengerti apa yang anda ucapkan. Untuk itulah, optimalkan memberikan ekspresi wajah pada bayi sewaktu anda berkomunikasi dengan mereka.

3. Seringlah Mengajak Anak Berbicara Bahkan Sewaktu Mereka Masih Bayi

Sewaktu anak masih bayi tidak ada salahnya jika ibu mulai 'cerewet'. Cerewet disini maksudnya bukanlah berarti negative, melainkan cerewet dengan sering mengajak ngobrol bayi anda. Meskipun mereka belum memahami semua ucapan dan perkataan yang anda sampaikan padanya, namun dengan semakin banyak kosa kata yang mereka dengan sejak awal, maka akan semakin dini untuk anak dalam mengembangkan kemampuan bicaranya. Selain itu, mereka juga akan dengan lebih cepat belajar segala hal yang baru termasuk ucapan dan ekspresi wajah ibu dan lingkungannya. Hal ini tetu saja akan membuat anak banyak belajar yang membuatnya tumbuh lebih cemerlang.

4. Hindari Terlalu Sering Menggunakan Stroller dan Car Seat

Kebanyakan ibu modern saat ini lebih memilih memberikan fasilitas stroller dan car seat sewaktu membawa serta buah hati mereka yang masih bayi untuk berpegian. Namun alangkah lebih baik jika ibu menggendong mereka dibandingkan dengan menggunakan peralatan ini. Menggunakan stroller dan car seat saat membawa buah hati berpergian memang terkesan lebih praktis dan lebih simple, namun dampak yang lebih baik akan lebih dirasakan bayi sewaktu ibu menggendong mereka. Dengan menggendong si bayi saat berpergian, mereka akan mampu berotasi sesuka hati mereka dan bergerak lebih leluasa serta dapat melihat ke banyak sisi seperti yang mereka inginkan dimana hal inilah yang tentunya akan membuat si bayi belajar banyak dari lingkungan sekitarnya dan membuatnya semakin cerdas dan cemerlang.

5. Membacakan Cerita Pada Anak

Umumnya anak-anak akan memiliki ketertarikan tertentu saat mereka sudah mulai mengerti dengan lingkungannya, hal ini biasanya berlangsung sejak anak berusia 3 atau empat tahun hingga sebelum remaja. Anak-anak diusia ini cenderung sudah mulai memiliki ketertarikan dan imajinasinya sendiri. Nah, dengan memberikan mereka cerita atau dongeng bukan hanya membantu mereka mengenal ketertarikan saja, namun juga ikut megembangkan imajinasi anak-anak dan memperkaya perbendaharaan katanya serta melatih keterampilan berbahasanya. Dengan demikian, tidak ada salahnya jika ibu atau ayah membacakan cerita pada buah hatinya terutama saat mereka hendak tidur dimalam hari.

Nah, demikianlah beberapa kiat dan tips penting dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik dengan kecerdasan yang cemerlang. Anak yang baik, penurut dan tumbuh menjadi seseorang yang berprestasi tentunya menjadi dambaan untuk orangtua. Untuk itulah, memberikan pendidikan yang baik adalah kewajiban yang harus senantiasa diberikan orangtua kepada buah hati tercintanya. Semoga kiat dan tips diatas bermanfaat untuk semua orangtua dan bunda dirumah.
Seperti : bidanku.com



Ada banyak sekali cara yang dapat Anda lakukan untuk membuat anak-anak lebih senang untuk mempelajari Al Quran, berikut ini adalah beberapa tips yang dapat anda coba seperti dikutip darihijapedia.com :
  1. Sering-seringlah membaca Al Quran di depan anak Anda. Seorang anak memiliki naluri untuk mengikuti, dengan rutin membaca Al Quran di depan mereka, mereka pun akan penasaran dan secara tidak terencana alam bawah sadarnya pun akan menuntunnya untuk mengikuti orang tua membaca Al Quran.
  2.  Sering memperdengarkan Ayat-ayat Al Quran kepada anak, baik melalui bacaan maupun media pemutar suara. Apabila anak terbiasa mendengar ayat Al Quran, mereka pun akan terbiasa dengan bahasa Al Quran. Sehingga akan lebih mudah baginya untuk belajar membaca Al Quran.
  3. Menceritakan kisah-kisah yang ada di dalam Al Quran kepada anak. Al Quran menggunakan bahasa Arab, sehingga anak-anak tidak dapat memahami apa maksud dari bacaan tersebut. Triknya adalah, Anda dapat menceritakan kepadanya mengenai kisah-kisah yang terdapat di dalam Al Quran, dengan demikian mereka akan lebih antusias untuk mempelajari Al Quran.
  4. Selain mengajarkan Al Quran secara langsung kepada anak, TPA juga bisa menjadi pilihan. Disini anak Anda akan bertemu dengan banyak teman, sehingga proses belajar pun menjadi lebih menyenangkan.
  5.  Terus picu semangat anak untuk belajar Al Quran dengan memberinya apreasiasi seusai ia membaca atau ketika belajar Al Quran.
  6. Janjikan hadiah menarik untuknya. Tidak berlebihan untuk menjanjikannya hadiah ketika ia telah berhasil menyelesaikan satu tahap pembelajaran Al Quran. Hadiah justru akan membuatnya menjadi lebih bersemangat dalam belajat Al Quran


“Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina! ” Ujar seorang pemuda yang baru saja datang menghampiri Rasulullah.

Mendengar pernyataan pemuda tersebut, orang-orang yang ada di sekitarnya menghampiri dan memaki, “Celaka engkau, celaka engkau!”

Rasulullah saw mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. Kemudian terjadilah dialog yang panjang antara Rasulullah saw dengan pemuda itu.

Rasulullah: “Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?”

Pemuda: “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.”

Rasulullah : “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka. Apakah engkau ingin hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?”

Pemuda: “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.”

Rasulullah: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudari-saudari mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan bapakmu?”

Pemuda: “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.”

Rasulullah: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan bapak mereka. Apakah engkau ingin hal ini terjadi pada saudara perempuan ibumu?”

Pemuda: “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.”

Rasulullah: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada saudara perempuan ibu mereka.”

Kemudian Rasulullah saw memegang dada pemuda itu seraya berdoa: “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya!” Setelah peristiwa itu, pemuda tadi menjadi orang yang arif. (HR. Ahmad)

Fase anak muda (remaja) adalah fase dimana seseorang beralih dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Jiwa mereka bergejolak, ingin mencari hal berbeda, dan organ-organ seksual dan reproduksi pun mulai berfungsi dengan baik.

Secara emosi, remaja mengalami puncak emosionalitasnya. Perkembangan emosi remaja awal menunjukkan sifat sensitif, reaktif yang kuat, kadang mudah tersinggung, marah, sedih, dan murung.

Dari dialog di atas kita bisa lihat bagaimana cara Rasulullah menyikapi gejolak emosi anak muda. Rasulullah saw merupakan pendidik yang menguasai semua aspek psikis objek dakwahnya. Mendengar pertanyaan sang pemuda, beliau tidak marah seperti yang dilakukan para sahabat. Bahkan, beliau memperkenankan pemuda tadi duduk di dekatnya. Ini merupakan langkah awal yang baik dalam memecahkan masalah pemuda tersebut.

Berkomunikasi dengan anak remaja (pemuda) bukanlah hal yang mudah. Orang tua harus membangun hubungan yang nyaman terlebih dahulu sebelum memulai komunikasi. Langkah inilah yang pertama kali dilakukan Rasulullah. Sebelum memulai dialog, Rasulullah mengajak pemuda tersebut untuk duduk di sampingnya agar suasana menjadi “cair” dan “tidak berjarak”. Dengan duduk berdekatan, Rasulullah ingin memperlihatkan bahwa beliau mampu menjadi sahabat yang menyenangkan. Dan beliau siap menjadi pendengar yang baik dan menerima anak muda itu apa adanya. Inilah kunci yang harus dimiliki orang tua untuk bisa berkomunikasi dengan anak remaja.

Selanjutnya pendekatan yang dilakukan Rasullullah kepada anak muda tersebut adalah dengan metode dialog. Anak muda biasanya tidak suka didikte dan dihakimi. Masa remaja adalah masa pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan secara fungsional. Remaja secara intelektual mulai dapat berfikir logis dan memiliki fungsi analitis yang lebih matang ketimbang usia kanak-kanak. Dengan dialog diharapkan, pemuda itu mampu menganalisis masalahnya dengan baik dan menemukan solusi dari permasalahannya.

Rasulullah saw melakukan diskusi dengan sistem tanya jawab. Cara seperti ini merupakan solusi pendidikan yang paling cemerlang karena jawaban akan langsung keluar dari mulut anak muda itu sendiri. Ketika Rasulullah saw bertanya: “Apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?” Jawaban pemuda tersebut: “Sekali-kali tidak! Demi Allah yang menjadikan saya sebagai tebusan tuan.” Anak muda tersebut tidak ingin jika zina terjadi pada ibunya. Rasullullah kemudian menegaskan: “Begitu pula orang lain, tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka.”

Rasulullah menggunakan banyak pertanyaan. Banyaknya dalil merupakan salah satu kiat pendidikan yang memperkuat hujjah dan alasan. Juga supaya pesan yang ingin disampaikan bisa diterima kepada pendengar dengan baik.

Dalam hal ini, kalimat tanya yang digunakan Rasulullah adalah kalimat tanya retoris. Kalimat tanya retoris tidak memerlukan jawaban, karena jawabannya sudah diketahui oleh penanya maupun pihak yang ditanya. Pertanyaan retoris yang digunakan Rasulullah bertujuan untuk menggugah hati dan memberi kesadaran pemuda itu.

Setelah pemuda tersebut diajak dialog dari hati ke hati, Rasulullah kemudian mendoakan agar Allah mengampuni dosa dan mensucikan hatinya dan memelihara kemaluannya.

Subhanallah, demikian mempesona akhlak Rasulullah. Dengan cara bijaksana dan sabar ia sampaikan kebenaran. Dengan hatinya ia sampaikan seruan dan ajakan kepada anak muda. Maka seruan itu sampai pula ke hati. Tidak ada sekat dan hijab yang dapat menghalangi kuatnya kata-kata yang disampaikan dari hati.

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS 3:159).

dakwatuna


Tonggak kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh generasi penerusnya, yakni kaum muda yang siap menopang intelektualisme bangsa. Yang mana merupakan pencetus masa depan sesungguhnya. Generasi muda ini dimulai dari masa kanak-kanak hingga menjadi pribadi dewasa yang berkualitas. Sebagai agent of change, anak-anak adalah investasi berharga dengan potensi dan bakat yang masih tersamarkan. Hingga nantinya akan menjadi manifestasi dari unsur potensi diri yang luar biasa dan tangguh ketika dipoles sedemikian baiknya.

Kaum muda adalah kunci dan jendela baru yang akan membuka peradaban dunia serta menyokong terciptanya negara yang makmur dan bijak. Dari tangan-tangan kecil mereka sebagai lonceng kehidupan yang akan menaburkan bumbu-bumbu renyah untuk bangsa yang lebih beradab. Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan dan pengembangan karakter semasa kanak-kanak untuk mencetak generasi insani yang bermartabat dan berpemikiran luas. Demi negeri yang kokoh dan makmur.

Setiap anak yang terlahir ke dunia, dibekali dengan kemampuan dan karakter yang unik. Sesuai yang telah digariskan oleh sang mahakuasa. Memang ada beberapa yang istimewa, tidak seperti anak kebanyakan. Justru dari setiap sisi yang diberikanNya mengandung sebuah pembelajaran bahwa mereka adalah anugerah terindah dengan bakat dan potensi mencengangkan. Apabila menilik pada kehidupan sehari-hari, seorang autis diberikan kemampuan dalam memainkan alat musik dan sejenisnya. Tentu itu adalah sebuah hadiah istimewa yang diberikan olehNya untuk menutupi kekurangannya.

Di usia kanak-kanak, perkembangan otak anak sangat kompleks terutama dalam menerima dan meneruskan stimulus-stimulus ke seluruh bagian-bagian tubuh. Sejatinya, rentang-rentang usia di bawah 10 tahun merupakan usia produktif dalam pendalaman karakter anak. Hal ini karena adanya kecenderungan bahwasanya sikap dan pola perilaku yang terbentuk akan bertahan lebih lama sehingga pada jenjang ke depannya juga ikut terpengaruh. Bertolak pada itu perlu optimalisasi yang spesifik dalam memberikan stimulan positif agar anak dapat merespon setiap asupan memori dan pemahaman yang diberikan. Karena diketahui bahwasanya pertumbuhan dan perkembangan anak akan berjalan cukup baik ketika diberikan stimulan dari lingkungannya secara terus-menerus terlebih unsur yang membangun. Oleh karenanya orang tua harus mengenal karakter anak secara lebih dalam. Dapat dimulai dari memahami pribadi anak, gaya belajar, kemampuan berkomunikasi, interaksi sosial, dan penguasaan mental. Melalui proses pengenalan ini orang tua akan menemukan celah-celah yang mampu merobohkan semangat dan kepercayaan anak. Orang tua bisa menjadi batu loncatan dalam menggali potensi-potensi pada diri anak.


Sebagai pintu gerbang dalam membangun kawah dunia yang mutakhir sesuai dengan harapan para pemimpin-pemimpin terdahulu dan pedoman hidup yang ada, anak-anak akan terlatih dan siap membangun insan berkemajuan ketika orang tua atau keluarga turut ambil bagian. Kenapa? Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang mengenalkan segala polah dan tanggung jawab bermoral untuk kehidupan yang lebih interaktif dan berperan nyata.

Setelah pendidikan dalam keluarga, modal lain pengembangan potensi anak dapat diterapkan melalui sistem pendidikan anak usia dini (PAUD). Sistem pendidikan ini memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam memacu perkembangan saraf motorik dan sensorik pada anak. Di sana, setiap anak diperkenalkan bagaimana mengingat suatu hal dengan cara-cara yang mudah dan sederhana, seperti menyanyi, menggambar, dan berhitung. Di samping itu dapat melalui tipe pembelajaran story telling, yakni melalui cerita-cerita yang menghibur dan menarik untuk terus diulang. Sehingga amanah yang terkandung di dalamnya bisa diterapkan untuk kehidupan nyata.

Dari masing-masing yang telah dijabarkan di atas, ke semuanya merupakan langkah awal dalam membentuk generasi berkemajuan melalui sesuatu yang sederhana tetapi kaya akan makna. Disadari atau tidak, wawasan atau informasi baru yang diberikan akan mencetak bibit-bibit unggul di masanya. Informasi akan tersematkan dari wawasan-wawasan yang terkelumat ke dalam memori anak. Dan akan berjalan lebih optimal ketika diselaraskan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Selain perkembangan kognitif anak akan terlatih, daya imajinasi dan olah pikirnya juga kian terbentuk. Di masa anak-anak inilah, kecerdasan akan terasah dengan baik. Oleh karenanya sebagai generasi kekinian atau dewasa perlu mempersiapkan betul-betul tentang bagaimana pola pengasuhan anak yang seharusnya, khususnya dalam mempelopori pertumbuhan dan perkembangan anak secara padu. Dari sinilah dapat diketahui bahwa anak-anak merupakan masa emas dalam menanamkan pendidikan karakter. Tentu gagasan dan pemikiran untuk mencetak insan cemerlang akan termotori ketika menilik pada kondisi generasi saat ini.

dakwatuna





Buah hati dalam sebuah pernikahan tentu dapat menambah keindahan dalam rumah tangga. Berjuta alasan kebahagiaan akan terpancar dari setiap pasangan suami istri yang telah memiliki anak.

Salah satu yang menjadi kebahagiaan bagi orang tua adalah memiliki anak yang mahir dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Karena betapa banyak keutamaan para penghafal Al Quran itu. Di antara hadits yang menyatakan tentang ini adalah hadis dari nabi Muhammad SAW berikut ini:

Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim. Bacalah dengan hatimu “Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quran.”

Subhanallah, orang tua yang memiliki anak Hafizh Al-Quran akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Namun terkadang kita bingung bagaimana cara mendidik anak agar mudah dalam menghafal ayat-ayat suci Al-Quran.

Berikut kiat-kiat agar anak dapat menghafal Al-Quran:
  1. Pilih pasangan yang sholeh dan sholehah (bagi yang belum berkeluarga), Penghafal Al-Quran lebih baik.
  2. Perbanyak berinteraksi dengan Al-Quran. Mendengarkan, membaca, menghafal dan mempelajari ayat-ayat Al-Quran. Terutama pada saat awal hamil hingga menyusui. Janin ibarat kotak hitam pada pesawat, dia mampu merekam semua yang dilakukan Ibunya. Ketika menyusui, Ayat-ayat Al-Quran yang diperdengarkan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI yang dikeluarkan.
  3. Lingkungan yang mendukung. Biasakan dengan lingkungan yang baik, berada di lingkungan penghafal Al-Quran serta lingkungan keluarga yang sesuai dan mendukung.
  4. Memilih guru yang tepat. Karena anak akan selalu melihat, merekam, dan meniru, perilaku guru mereka.
         Guru harus memiliki kriteria sebagai berikut:
         a. penyayang
         b. penyabar
         c. peduli
         d. berakhlak
         e. cerdas

         Note: bukan hanya guru tetapi orang tua juga harus bisa memberi contoh yang baik, karena                  anak lebih mencontoh perilaku orang tua daripada lisan.
  1. Agar tidak mudah lupa, Menghafal jangan terlalu banyak, sedikit-sedikit misal 1 hari 5 ayat dan dibaca yg dihafal tersebut pada waktu shalat fardu/ sholat sunnah. dan jadikan 1 pekan sekali khusus mengulang yang sudah dihafal (muroja’ah).
  2. Metode Talqin. Minta anak untuk mendengar kemudian menirukan langsung.
  3. Orang tua juga harus memperbaiki bacaan sambil menghapal.
  4. Peran GURU hanya 20%, sedang peran KELUARGA 80%.
  5. Berikan anak kasih sayang. Berikan nama yang baik. Nama dan julukan/panggilan akan mempengaruhi alam bawah sadar anak, akan tertanam agar menjadi atau sesuai dengan panggilannya. Beri tau anak arti dari nama dan julukan yang biasa kita gunakan untuk memanggil mereka. Misalkan wahai hafidz/haafidzah dan lain-lain.
  6. Pilih waktu khusus dan waktu yang paling tepat di setiap harinya untuk membaca Al-Quran dengan keluarga yang wajib dihadiri oleh semua anggota keluarga.
  7. Berikan motivasi, berikan reward sesekali. Jangan menyebutkan apa rewardnya agar anak tidak kecewa apabila kita tidak bisa memberikan yang sudah dijanjikan. Sampaikan apabila semakin banyak yang dicapai atau yang dihafal maka semakin besar dan bagus reward yang akan diterima. Berikan reward sesuai dengan kemampuan kita.
  8. Setelah semua usaha tersebut diatas, jangan lupa perbanyak doa untuk anak kita, sebut nama anak kita di setiap doa kita.
  9. Jangan katakan sesuatu yang buruk kepada anak kita ketika kita marah, tapi sebaliknya.
  10. Untuk menghindari kebosanan anak dalam menghafal, sebaiknya membuat variasi pada kegiatan menghafalnya, beri anak waktu untuk istirahat dan bermain. Misalkan dalam waktu 20 menit anak diperbolehkan untuk bermain, kemudiaan setelah itu mulai menghafal lagi.
  11. Mutabaah.

baca juga :

Informasi Penerimaan Siswa Baru Bina Amal


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjamin kemurnian Al-Quran telah memudahkan umat ini untuk menghafal dan mempelajari kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya agar membaca ayat-ayat-Nya, merenungi artinya, dan mengamalkan serta berpegang teguh dengan petunjuknya. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hati para hamba yang shalih sebagai wadah untuk memelihara firman-Nya. Dada mereka seperti lembaran-lembaran yang menjaga ayat-ayat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim …”                    [al-Ankabût/29:49].

Dahulu, para sahabat Radhiyallahu ‘anhum yang mulia dan Salafush-Shalih, mereka berlomba-lomba menghafal Al-Quran, generasi demi generasi. Bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka dalam naungan Al-Quran, baik belajar maupun menghafal disertai dengan pemantapan ilmu tajwid, dan juga mentadabburi yang tersirat dalam Al-Quran, (yaitu) berupa janji dan ancaman.


dakwatuna.



Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

1. Hakekat Kesuksesan Sejati

Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak.

Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Allah Yang Maha Mencipta berfirman dalam KitabNya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

2. Tahapan dan Sifat

Setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
Tahap BERMAIN (“laa-‘ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.

Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

3. Metode Pendidikan

Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah
Yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah
Yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh
Yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh
Sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sanksi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

4. Isi Pendidikan

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.

Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah:
Pendidikan Keimanan
Pendidikan Akhlaq
Pendidikan Fikroh/ Pemikiran
Pendidikan Fisik
Pendidikan Sosial
Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian
Pendidikan Kejenisan (sexual education).

Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

5. Target Pendidikan

Kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:

Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan memberikan kita ganjaran dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

baca juga :

Hartono, SH.MH
Kasat Reskrim Polres Semarang
(orang tua siswa)
Anak saya Firman pada awalnya biasa saja dan belum ada kelebihan yang menonjol.

Alhamdulillah perubahan signifikan pada anak saya mulai terlihat. 

Dia lebih disiplin dalam beribadah serta mulai tumbuh jiwa kemandiriannya. 

Peningkatan prestasi melejit baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler. 

Semua berkat arahan dan bimbingan para ustadz dan ustadzah. Kami sangat bangga dengan SMP IT Bina Amal.




dr. Didik Indiarso, SpPD
(orang tua siswa)
Alhamdulillah anak-anak kami, Azhar dan Alya tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, santun dan terjaga amaliyah ibadah kesehariannya. 

Kegiatan outdoor yang demikian beragam juga sangat ditunggu dan dinikmati anak-anak, menjadi sarana bagi mereka untuk dekat dengan lingkungan dan masyarakat. 

Pembinaan karakter Islam yang kuat menjadikan anak-anak kita generasi sholih-sholihah, pejuang agama dimanapun kelak mereka berkarya.






Annisa Hanafiyanti Ahmad (Alumni angkatan 2)
Mahasiswa Matematika/FMIPA UI 2015 & hafidzoh


SMP IT Bina Amal adalah tempat pertama belajar hidup mandiri. Belajar mengorganisir waktu, dari bangun sampai tidur lagi berasal dari sini. Bertemu guru-guru, dan teman-teman yang sama-sama belajar menuju surga Allah, saling mengingatkan bila, yang satu mulai lelah dan keluar dari orbitnya. Insya Allah akan terus berproses menjadi sekolah yang berkualitas, dunia dan akhirat.
Thufail Addausi (Alumni angkatan 3)
Mahasiswa Teknik Komputer Vistula University Polandia 2016
Tiga tahun di Bina Amal memang bukan waktu yang lama, tetapi di Bina Amal dalam waktu yang sesingkat itu memberikan pelajaran yang berharga, menjadi insan yang berakhlak mulia dan menjadi pribadi yang bermanfaat. 
Saya berterima kasih kepada seluruh ustadz dan ustadzah yang telah membimbing saya. 
Semoga Bina Amal bisa menjadi sekolah yang menghasilkan insan-insan unggulan. Dan juga bisa mewujudkan visi-misi yang dimiliki.


Sampai sekarang saya masih merasa menjadi orang yang paling beruntung pernah bersekolah di Bina Amal, 

Bahkan rindu yang teramat sangat apabila mengingat masa-masa di asrama. 

Dengan bangga saya ceritakan pada teman-teman saya dan akan terus saya ceritakan. Merupakan pengalaman hidup yang luar biasa.

Abdul Hafiz Arif (Alumni angkatan 3)
Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Andalas 2016






MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget