Juni 2017

Pekan ini menjadi hari yang menyenangkan sekali bagi siswa/i SMP IT BINA AMAL. Mengapa? karena Pesantren Ramadhan kali ini kedatangan  ustadz muda penghapal Alquran dan mengusai Suara 40 Imam Besar, yaitu Taqy Malik.

Bagi para youtubers, nama Taqy Malik sudah tidak asing lagi karena ka Taqy ini sering kali share video-video hapalan Qurannya dengan niat untuk memotivasi anak-anak seluruh Indonesia agar semangat untuk penghapal Quran.

Mari kita kenal lebih jauh siapa sih Ka Taqy ini. Taqy Malik ini adalah seorang penghapal Al Quran. Beliau menghapalkan Quran sebanyak 30 Juz ini selama 4 tahun.

Kepatuhan Taqy kecil kepada ibunya menjadi wasilah akan dimudahkannya dia dalam menghapal Quran, sehingga dalam kurun waktu empat tahun, dia sudah hapal Al Quran sebanyak 30 Juz. Usia 13 tahun Taqy kecil memulai hapalan Quran, hingga usia remaja, 17 tahun, kitab suci umat Islam itupun rampung dihapalkannya.

Menghapal quran itu bisa dilakukan siapa saja. Syaratnya hanya niat dan kemauan. Insyaallah, akan diberi kemudahan oleh Allah. Apalagi jika mengetahui begitu besarnya pahalanya.

Ada hadiah terbaik untuk kedua orangtua kita di akhirat kelak. Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim,  “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.”

Subhanalloh, orangtua yang memiliki anak Hafidz Al-Qur’an akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia.

Berjuanglah dengan sungguh-sungguh dan selalu bertekad untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Kuatkan azzam, “Saya ingin menjadi Hafidz Al-Qur’an, agar saya bisa memuliakan kedua orangtua di dunia dan akhirat.” Senantiasa istiqomah dalam membaca Al-Qur’an, mempelajari, dan mengamalkannya, serta menghafalkannya. Ikutilah Halaqah Al-Qur’an, agar terus termotivasi untuk mempelajari Al-Qur’an dan senantiasa menajga diri dari kemaksiatan. Mudah-mudahan Alloh menolong kita semua, dan menjadikan kita menjadi anak yang bisa memuliakan kedua orangtua dengan menjadi penghafal Al-Qur’an.

Allohumma bariklana bil Qur’an (Ya Alloh berkahilah kami semua dengan Al-Qur’an)

Wallohu’alam bisshowab.



Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang penuh berkah. Bulan dimana syetan di belenggu sehingga manusia dimudahkan untuk berbuat amal kebaikkan. Sebagai orang tua, sudah seharusnya moment bulan ramadhan ini di manfaatkan untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah mendidik anak agar tidak marah.

Lantas bagaimana caranya ? berikut beberapa tips yang bisa ayah bunda lakukan :

1. Pelajari ilmu tentang marah

Setiap hal pasti ada ilmunya, tidak terkecuali marah. Jelaskan ke anak bahwa marah itu adalah perbuatan buruk dan berakibat buruk. Jelaskan ke anak ketika kita marah, orang-orang disekitar kita jadi takut dan tidak suka kepada kita. Dan teman-teman akan menjauhi. Jelaskan bahwa marah merupakan akhlak buruk. Nabi bersabda : laa tagdhob walakal jannah. “Jangan marah bagimu surga”

Jelaskan bahwa ketika sering marah, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Wajah jadi jelek, dada sesak sulit bernafas, mudah terkena serangan jantung, mudah pusing dan masih banyak lagi.

Namun, terkadang banyak hal yang membuat anak mudah marah. Ada saja yang membuat anak marah. Apalagi dibulan ramadhan seperti sekarang ini. Saat dibangunkan untuk sahur,karena masih ngantuk, anak marah. Ketika disuruh mandi, marah. Pulang sekolah karena lapar, marah.. marah kepada adik atau kakaknya karena berebut maianan, dll.

Sebagai orang tua cobalah untuk tidak terpengaruh, tetaplah tenang, duduk disamping anak,ambil nafas panjang dan peluklah anak. Buat anak merasa nyaman, biarkan anak mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Setelah anak tenang baru kita tanya kenapa sayang ? kuncinya adalah oarang tua sabar dan tidak terpancing untuk ikut marah. 

2. Menjadi teladan untuk bisa menahan marah

Ayah bunda, tanpa disadari anak itu marah karena meniru orang tuanya. Seringkali sebagai orang tua tidak menyadari bahwa semua yang ayah bunda lakukan pada dasarnya adalah mengajari anak untuk berbuat sama. Ketika ayah bunda marah ketika anak sulit dinasehati, misal “ Kalau kakak tidak mau mandi, nanti ditinggal sendirian dirumah!! Kalau adek nangis terus, diluar saja, biar nanti ditemani kucing!! Atau ungkapan-ungkapan yang sering ayah bunda katakan ke anak.

Maka akan terpola ke pikiran anak bahwa biasanya kalau ada masalah seperti itu maka penyelesaiannya begitu. Maka berikanlah teladan. Ingatlah ketika ayah bunda akan marah, nanti pasti akan di contoh anak. Ingatlah bahwa anak adalah amanah, ingatlah bahwa anak adalah aset yang akan menolong ayah bunda di dunia dan akhirat.

3. Berlatih bersama anak untuk saling mengingatkan ketika akan marah

Berlatih bersama anak adalah hal yang sangat menyenangkan. Carilah waktu yang terbaik bersama anak untuk berdiskusi tentang peraturan rumah. Terutama soal marah. Mana marah yang boleh dan yang tidak boleh. Tulis hadis nabi tentang larangan marah dan tempel di tempat yang sering dilihat. Jadi ketika anak marah, langsung ingatkan dan perlihatkan tulisan hadis tentang larangan marah tersebut.

Tantanganya adalah ketika ayah bunda atau anak yang tetap marah ketika di ingatkan. Salah satu solusinya adalah membuat kesepakatan dengan anak. Bisa dengan memberikan hadiah atau hukuman. Dan biasanya anak akan senang jika ada rangsangan hadiah. Mereka biasanya akan menagih hadiah tersebut. 


Ayah bunda yang di rahmati Allah. Marah adalah fitrah manusia. Ada marah yang di bolehkan dan ada yang tidak dibolehkan. Tentunya sebagai orang tua harus bijak, kapan saatnya marah dan kapan saatnya menahan marah. Alangkah baiknya ayah bunda dikenal dan dikenang anak sebagai orang tua yang baik dan bisa menjadi teladan.

Wallahu a’lam bishowab





Suasana Tadarusan Anak-Anak Bina Amal
Bila Ramadhan tiba, masyarakat menyambutnya dengan antusias. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, momen Ramadhan bisa jadi sarana yang cukup efektif. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, sertakan anak ikut berbagai acara dan kegiatan menyambut Ramadhan yang marak dan meriah, baik di sekolah maupun di masjid atau musholla lingkungan rumah.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, ajak mereka untuk terlibat dengan kegiatan ibadah Ramadhan. Kegiatan tarawih, menjadi sebuah rutinitas yang mengasyikkan pada setiap malam di bulan Ramadhan. Kita bisa keliling berpindah-pindah masjid dan musholla. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an kita bisa memilih masjid dengan kualitas imam yang bagus bacaan Al-Qur’annya. Saat ini banyak masjid yang menyelenggarakan tarawih dengan dipimpin seorang imam yang Hafizh Al-Qur’an sebanyak 30 juz.

Agar anak kita cinta dengan Al-Qur’an, bagaimana upaya dan cara yang harus kita lakukan? 
Mari kita coba beberapa kiat berikut:

A.Yakin dengan Kebenaran Al-Qur’an

Agar anak kita dekat dengan Al-Qur’an, perlu sebuah keyakinan yang mendalam akan kebenaran Al-Qur’an. Keyakinan ini harus kita bangun dan tancapkan dalam hati sebagai bentuk keimanan kita kepada rukun iman yang ke 3. Setiap saat ketika kita akan membaca Al-Qur’an, siapkan hati, jiwa dan raga kita untuk menerima dan mengimani wahyu Allah yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sebuah kebenaran yang pasti dan mutlak.

Dari keyakinan ini akan membentuk mindset dan cara pandang kita dalam memahami persoalan hidup. Kita akan menjadi hamba yang tunduk dan berusaha menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita. Jika ada masalah sosial di masyarakat, seperti kesenjangan kaya dan miskin, solusinya ada pada zakat

Jika ada masalah dengan hubungan suami istri, solusinya ada pada surat At-Tahrim yang mengisahkan persoalan riak-riak kehidupan dalam rumah tangga junjungan Nabi berikut solusinya.

Jika ada masalah dengan kesulitan hidup, sempitnya rezeki, banyaknya masalah, solusinya ada pada surat Ath-Tholaq, siapa yang bertaqwa Allah akan beri rezeki dari tempat yang tidak disangka dan akan memberinya kemudahan dalam segala urusan. Pendek kata, apapun persoalan yang membelit hidup kita, baik individu maupun masyarakat ada solusinya dalam Al-Qur’an. Jika sikap ini sudah tertanam kuat dalam diri kita, maka tidak ada masalah yang tidak menemukan jalan keluar.

B. Mulai sedini mungkin mendidik anak.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, timbul sebuah pertanyaan, sejak kapan kita mendidik anak? Biasanya orang akan menjawab, mendidik anak sejak dalam kandungan. Jawaban ini tidak salah namun belum tepat. Karena sejatinya mendidik anak yang benar adalah sejak memilih pasangan. Lho… apa iya…?

Teori terdahulu mengatakan sifat bawaan seseorang diwarisi dari bapak ibunya 50:50, artinya ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak.

Akan tetapi penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetisnya kepada anak, sedangkan seorang ayah hanya 25%. Oleh karena itu sifat baik, kecerdasan, kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh ibunya. Dalam kisah dua orang nabi yang anaknya durhaka yaitu nabi Nuh dan nabi Luth, keduanya memiliki istri yang tidak beriman. Ini memberi bukti kebenaran Al-Qur’an.

Bandingkan dengan nabi Ibrahim, meskipun istrinya Siti Hajar adalah bekas seorang budak, namun melahirkan keturunan yang baik yaitu nabi Ismail. Meskipun nabi Ibrahim sangat sedikit berkontribusi dalam pengasuhan Ismail, namun Siti Hajar tidak mengeluh, bahkan mampu memerankan dirinya dua peran sekaligus yaitu peran ayah dan peran ibu.

Kisah Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail menguatkan bukti bahwa gen ibu banyak menurun kepada anak, 
Maka sekali lagi pentingnya memilih pasangan yang baik agar dapat keturunan yang baik. Karena sperma itu dititipkan dirahim seorang perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

C. Ciptakan suasana kondusif untuk belajar di rumah.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, perlu kita ciptakan suasana yang mendukung untuk terselenggaranya sebuah proses belajar yang nyaman di rumah. Proses itu kita yang lakukan sebagai orang tua, bukan orang lain. Tidak cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah Islam, atau menyediakan guru untuk privat belajar Al-Qur’an.

Agar anak cinta Al-Qur’an, dia butuh contoh teladan, bukan sekedar retorika belaka. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, dia memotret segala perilaku dan aktifitas orang tuanya setiap hari, maka tidak cukup hanya menyerahkan urusan pendidikan anak kepada sekolah dan guru. Perlu keterlibatan orang tua, guru dan lingkungan bekerja sama saling melengkapi.

Rumah yang hinggar-binggar dengan suara bising , atau situasi lingkungan yang rusak, banyak orang nongkrong menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna, begadang, apalagi ditambah dengan pergaulan yang merusak, makin menjauhkan anak dari Al-Qur’an.

Kisah anak yang sering dibawa oleh ibunya ikut teraweh di sebuah majelis yang menyelenggarakan sholat taraweh satu malam satu juz. Sang ibu memberi kebebasan kepada puterinya yang berusia balita untuk ikut berdiri sholat, atau sholat sambil duduk, bahkan walau hanya sekedar berbaring disisi bundanya yang sedang mengikuti imam taraweh.

Rupanya sang anak menyimak dan menikmati suasana sholat teraweh yang khusyu’ dengan bacaan satu jus Al-Qur’an setiap malam. Tanpa disangka anak usia balita tersebut ingin menjadi seorang hafizhah, menghafal 30 juz Al-Qur’an.

D. Jadilah sosok teladan di rumah

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, alihkan perhatian anak kita dari gedjet maupun alat komunikasi yang serba cangggih. Ajak anak duduk bersama, mengaji dan tadarus di depan orang tuanya. Sebaik-baik guru ialah orang tua yang menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Jika setiap hari anak melihat sosok orang tua yang akrab degan Al-Qur’an, tentu sedikit banyak nilai-nilai itu akan terekam dalam jiwa anak. Interaksi yang intensif orang tua kepada Al-Qur’an akan memberi dampak positif pada perilaku dan akhlak orang tua sebagai pribadi. Sambil makan malam bersama, atau sambil jalan-jalan sehat di hari libur, kita bisa menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada anak.

E. Kenalkan anak dengan sosok berprestasi khususnya prestasi yang diraih oleh anak yang cacat dan memiliki keterbatasan.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, kita perlu mengenalkan anak-anak dengan teman-teman sebayanya yang bersemangat menghafal dan mengkaji Al-Qur’an. Misalnya seorang anak yang tuna netra, tetapi sangat bersemangat menghafal Al-Qur’an. Sehingga timbul rasa empati dan rasa syukur bahwa anak kita lebih berntung dikaruniakan Allah tubuh yang sempurna dan sehat.

F. Bangun dan rangsang anak untuk memiliki wawasan ilmu yang luas.

Agar anak cinta dengan Al-Qur’an, kita perlu membangun motivasi dan semangat nya dengan menanamkan kebanggaan akan peradaban dan kejayaan Islam. Agar anak cinta dengan Al-Qur’an perlu sering kita membacakan kisah-kisah dalam Al-Quran. Ada banyak sekali kisah yang bisa kita ambil dari Khazanah Peradaban Islam, agar kebanggaan itu tumbuh dalam jiwa anak.

Kisah para Nabi, Kisah Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat, kisah pahlawan Islam, Kisah- kisah yang terhampar luas dalam Al-Qur’an dan hadits. Jangan sampai anak lebih mengenal tokoh artis sinetron, tokoh penyanyi korea, tokoh sepak bola dari pada tokoh- tokoh pahlawan Islam.

Kisah Muhammad Al-Fatih, sang penakluk yang mampu mewujudkan ramalan dan Hadits Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik panglima dan sebaik-baik tentara adalah yang dapat menaklukkan benteng kuat Konstantinopel milik imperium Romawi.

Pada usia 23 tahun, Muhammad Al-Fatih berhasil mewujudkan ramalan tersebut pada bulan Mei 1453H, delapan abad setelah ramalan yang diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Muhammad Al-Fatih, pastilah sosok yang cinta dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya dihafalnya, bahkan nilai-nilai isi kandungan Al-Qur’an mendarah daging dalam dirinya, sabda nabi menjadi impian yang selalu menghiasi tidurnya, bahkan ingin Kecintaannya kepada junjungan Nabi, memberinya energi untuk mewujudkan sabda nabi yang dicita-citakannya.

Muhammad Al-Fatih mampu melakukan kerja besar setelah berjuang keras. Sejak belia dia sudah digembleng dengan berbagai ilmu oleh guru-guru yang terbaik. Dalam usia 21 tahun Muhammad Al-Fatih sudah memantaskan diri menerima anugerah menjadi seorang penakluk. Ia mampu dan menguasai lima bahasa di dunia, dan faham berbagai ilmu seperti astronomi, fisika, tafsir, hadist, matematika, ilmu perang, sosiologi, antropologi dan berbagai ilmu yang dibutuhkan untuk memiliki kemampuaan menaklukkan negeri raksasa yang memiliki benteng yang kokoh.

Rasa cinta dan kebanggaan akan kejayaan para leluhur yang berjuang memajukan Islam akan menumbuhkan rasaa cinta kepada Islam, dan cinta Al-Qu’an sebagai sumber kekuatan ummat.

Semua hal tersebut tidaklah didapat dengan sekedarnya, namun membutuhkan kerja keras dan kesabaran menempuh segala kesulitan. Kesabaran itu dipupuk dengan banyak membaca kisah dan perjuangan para pendahulu.

Mari kita semangat mengajak keluarga kita untuk cinta dengan Al-Qur’an. Mulai dengan diri kita sebagai sosok yang dilihat dan ditiru oleh anak-anak kta. Bismillah… ayo kita mulai sejak sekarang, agar anak kita cinta dengan Al-Qur’an. 

Wallahu a'lam bishowab...





Suri teladan kita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak bersedekah dan berderma di bulan Ramadhan. Bahkan ada berbagai faedah jika seseorang bertambah semangat bersedekah ketika berpuasa di bulan penuh berkah tersebut.

Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Al juud berarti rajin dan banyak memberi (berderma)” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 291). Jadi maksud hadits adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– rajin memberi sedekah pada orang lain di bulan Ramadhan.

Ibnu Rajab juga menyebutkan, “Pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkumpul berbagai macam sifat dermawan. Beliau gemar berderma dengan ilmu dan harta beliau. Beliau juga mengorbankan jiwa untuk memperjuangkan agamanya. Beliau juga memberikan manfaat pada umat dengan menempuh berbagai macam cara. Bentuk kemanfaatan yang beliau berikan adalah dengan memberi makan pada orang yang lapar, menasihati orang yang bodoh, memenuhi hajat dan mengangkat kesulitan orang yang butuh.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 293).

Di halaman lainnya dari kitab Lathaif Al-Ma’arif (hlm. 295), semangat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berderma lebih besar lagi di bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Apa yang mendorong beliau lebih bersemangat seperti itu?

1- Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

2- Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa, ا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3- Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

4- Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1: 155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298.

5- Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,

“Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6- Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

7- Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah).

Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah untuk rajin berbuat kebajikan di bulan Ramadhan.




Membuat anak-anak senang ke masjid adalah bagian yang sangat penting dari upaya untuk membangun generasi yang shalih dan shalihah. Di masjid anak-anak dapat belajar mengaji al-Qur’an, belajar shalat (baik itu gerakan maupun bacaan) dengan baik, dasar-dasar penting dalam ilmu agama Islam, dan pembiasaan beraklak mulia.

Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk berusaha agar anak-anak senang ke masjid. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan :

Pesantren Ramadhan

Pesantren Ramadhan ini dilakukan setiap bulan Ramadhan. Yaitu setiap hari pukul 16.30 – 17.30 WIB. Dengan memberikan materi dasar tentang ke Islaman. Agar anak tetap semangat berikan juga games-games edukasi. Kemudian memberi jajajan sehat untuk anak setiap selasai pesantren. Bisa dimakan bersama-sama dimasjid sambi menunggu waktu berbuka atau di bawa pulang.

Khataman Al-Qur’an

Khataman Al-Qur’an ini dilakukan setiap ada anak yang khatam membaca Al-Qur’an 30 juz. Khataman ini dilaksanakan meski yang khatam hanya seorang anak. Hal ini penting agar anak yang khatam merasa senang, juga para temannya yang belum jadi bersemangat. Pada acara khataman ini anak yang khatam memimpin teman-temannya membaca surat-surat akhir di juz 30, ditutup dengan doa khatmil Qur’an, lalu makan bersama meski sederhana.

Mengundang Pendongeng

Agar anak mendapatkan selingan atau kesegaran dari cara belajar atau mengaji yang biasanya diampu oleh ustadz/ustadzahnya, secara berkala sebaiknya mengundang pendongeng profesional.

Mendengarkan Anak Bercerita

Anak-anak senang sekali bila ia bercerita lalu didengarkan dan ditanggapi dengan baik. Ini dapat di lakukan terhadap anak yang ingin bercerita di sela-sela mengaji atau pesantren Ramadhan. Di samping menambah keakraban, anak akan senang karena menjadi pribadi yang dihargai.

Memberi Hadiah

“Siapa yang mau balon?” Tentu anak-anak akan kompak menjawab, “Sayaaa…!” Hadiah tidak harus yang mewah, bisa balon, buku atau yang anak-anak suka. Misal memberikan hadiah kepada anak yang terpilih sebagai anak yang paling rajin datang ke masjid maupun yang menang dalam perlombaan. Hal ini penting agar anak yang bersangkutan senang dan membuat semangat anak yang lainnya

Berkunjung Ke Rumah Anak Bersama-Sama

Menjadwal untuk mengunjungi anak, atau ketika ada salah satu anak yang sakit, terkena musibah, atau bahkan anak putra dikhitan. Hal ini penting untuk mengasah kecerdasan emosional dan sosial anak lainnya, juga demikianlah indahnya persaudaraan dalam Islam.

Berkunjung ke Pesantren

Anak-anak perlu mengetahui juga bahwa di luar sana, ada anak-anak lain yang meninggalkan ayah dan ibunya untuk belajar agama Islam dan tinggal bersama di sebuah pesantren. Hal ini penting agar anak-anak mempunyai semangat dalam belajar berislam. Maka, kami sengaja mengisi salah kegiatan kami dengan berkunjung ke pesantren.

Mengadakan Lomba

Sebagai ajang mengasah bakat dan minat, kami sengaja mengadakan beberapa macam perlombaan. Biasanya dilakukan pada saat libur sekolah atau pada peringatan hari-hari besar Islam.

Buka Puasa Sebulan Penuh

Berbuka puasa selama sebulan penuh adalah kegiatan rutin kami selama Ramadhan. Sebelum berbuka puasa, anak mengaji atau melakukan kegiatan lain yang telah dijadwalkan. Kegiatan diakhiri dengan takbir keliling pada malam Idul Fitri.

Bermalam di Masjid

Biasanya inilah salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu anak, yakni mabit atau bermalam di masjid. Kegiatan ini biasanya di lakukan di bulan Ramadhan. Sungguh, di setiap kegiatan anak-anak menyatakan kegembiraannya karena bermalam di masjid adalah kenangan tersendiri. Kegiatan dalam mabit adalah shalat isya dan tarawih berjamaah, tadarus, malam kreativitas, tahajjud, shalat shubuh berjamaah, dan jalan pagi bersama.

Semoga bisa menjadi inspirasi...


Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu karena kemulian dan keutamaannya. Bagaimana tidak? Bulan ini adalah bulan pengampunan dan rahmat serta dimudahkan beramal sholih padanya. Simak saja sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apabila masuk bulan Ramadhan maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: pintu syurga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat.- ditutup pintu-pintu jahannam dan para syaitan dibelenggu. (HR al-Bukhori dan Muslim)

Hal ini ada sejak awal ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat ibnu majah yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ

Apabila masuk awal malam dari bulan ramadhan maka para syeitan dan jin jahat dibelenggu dan ditutup pintu neraka jahannam.

Demikian juga sabda beliau:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang menghidupkan malam qadar dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu dan siapa yang berpuasa dalam keadaan iman dan mencari pahala maka Allah ampuni dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhori)

Kalau demikian hendaknya kita jadikan bulan ramadhan ini sebagai kesempatan untuk melihat keadaan kita dan berfikir tentang realita yang ada, agar kita dapat introspeksi dan memperbaiki yang telah rusak dan menerapi yang sakit.

Jadikanlah bulan ini sebagai awal menuju kebaikan di masa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.

Seandainya setiap orang merenungi dirinya dan memperhatikan kehidupan dan kondisinya, tentulah ia mendapatkan dirinya memiliki banyak pikiran dan sifat-sifat individu serta perilaku tertentu.

Pertanyaan yang wajib disampaikan kepada diri kita adalah:

Apakah kita ridho dengan keadaan kita sekarang ini ataukah tidak?


Apakah ia menganggap telah mencapai keadaan yang lebih baik dan sempurna atau malahan dalam keadaan lemah dan jauh dari kesempurnaan?

Apakah semua fikiran, sifat dan prilaku yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah dan sudah menjadi qudratnya ataukah kita sebagai manusia memiliki usaha dan ikhtiar dalam merubahnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terpendam di dalam jiwa kita untuk dicarikan kesempatan untuk dibedah dan diintrospeksi serta direnungkan.

Hal ini sangat dibutuhkan seseorang untuk maju dan berkembang kearah kebaikan, namun ironisnya kebanyakan orang tidak mau memberikan waktunya untuk merenung dan mengintrospeksi dirinya tersebut, karena dua hal:

Tenggelam dalam kesibukan mencari kehidupan.

Perenungan ini menuntut adanya kesiapan dan ketetapan perubahan yang banyak tidak diinginkan orang.

Upaya muhasabah (introspeksi diri) sangat dianjurkan dalam syariat Islam agar kita tidak tenggelam dalam kehidupan materi dan sibuk dengan kehidupan yang tiada batas. Anjuran ini diungkapkan khalifah Umar bin al-Khath-thab dalam pernyataan beliau: “Muhasabahlah terhadap dirimu sebelum kamu dihisab dan timbang-timbanglah sebelum kamu ditimbang.”

Demikian juga ungkapan kholifah Ali bin Abi Thalib: “Alangkah perlunya seorang memiliki satu saat yang tidak disibukkan dengan kesibukan (selain) untuk introspeksi diri. Ia melihat apa yang dilakukannya berupa kebaikan dan keburukan di waktu siang dan malamnya.”

Sebenarnya introspeksi diri ini memberikan kesempatan kepada kita untuk mengetahui kesalahan dan titik kelemahan kita, lalu dapat mendorong kita menjadi lebih baik lagi. Hal ini disampaikan khalifah Ali bin Abi Thalib: hasil dari introspeksi diri adalah perbaikan diri.

Nah, tidak ada satu bulan yang menandingi ramadhan dalam masalah ini. Ramadhan adalah bulan terbaik dan pas untuk melakukan muhasabah. Bayangkan, di bulan yang mulia ini kita dilarang makan dan minum serta syahwat lainnya yang biasa kita lakukan keseharian. Hal-hal ini tentunya dapat menumbuhkan kesadaran dan memberikan kesempatan untuk perbaikan diri.

Demikian juga ibadah-ibadah yang ada pada bulan ini, seperti sholat malam adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah, membaca al-Qur`an yang dianjurkan dibulan ini akan membantu terciptanya suasana kondusif untuk perbaikan diri kita. Tapi hal ini bisa ada kalau dilakukan dengan tadabbur dalam membacanya dan memperhatikan isi kandungannya serta komitmen dengan perintah dan larangannya. Sehingga ketika membaca ia senantiasa mempertanyakan keadaannya dari kandungan ayat yang dibacanya.

Banyaknya berdoa dan ibadah di bulan ini tentunya memberikan pembinaan dan pendidikan ruhiyah kepada diri kita. Harapannya dengan melaksanakan amalan ibadah di bulan mulia ini kita semua bisa berubah menjadi lebih baik dan mendapatkan ampunan ilahi.

Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akherat.




Tidak terasa Bulan Ramadan, bulan suci penuh berkah sudah berlalu beberapa hari. Adakah target yang sudah kita rancang bersama keluarga di Ramadan kali ini? Jika Belum membuat target, maka tidak ada kata terlambat. Sekarang saatnya kita membuat target Ramadhan...!

Mari kita lihat bagaimana para salafus shalih melaksanakan ibadah saat ramadan tiba. Sebagai contah, Imam Syafi’i (204 H), beliau dalam bulan Ramadhan biasa menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam semalam, dan itu dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an enam puluh kali dalam sebulan (Tahdzib Al Asma’ wa Al Lughat, 1/ 45)

Al Qazwini (590 H), seorang ulama madzhab Syafi’i yang masuk golongan mereka yang bermujahadah dalam bulan Ramadhan, akan tetapi aktivitas beliau agak berbeda dengan amalan-amalan para ulama lain. Setelah shalat tarawih, beliau membuka majelis tafsir yang dihadiri banyak orang. Beliau menafsirkan surat demi surat semalam suntuk, hingga datang waktu shubuh. Kemudian beliau melakukan shalat shubuh bersama para jama’ah dengan wudhu isya’. Sekan tidak memiliki rasa lelah, setelah itu beliau mengajar di madrasah Nidhamiyah sebagaimana biasanya. (Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra, 6/10).

Ali Khitab bin Muqallad (629 H), seorang ulama Bagdad yang hidup di masa khalifah Al Muntashir, dalam Ramadhan mampu menghatamkan Al Qur’an 90 kali, dan di hari biasa beliau menghatamkan sekali dalam sehari. (Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 8/294).

Generasi salafus shalih termasuk dalam generasi terbaik setelah khulafur rasyidin yang terdapat dalam nubuah Rasulullah. Mungkin sedikit mustahil bagi kita mengikuti target mereka. Karena selain azam (niat) dan lingkungan pendidikan yang baik mereka juga memiliki karomah. Namun, bukan mustahil bagi kita dan keluarga untuk menetapkan target dan meningkatkan ibadah masing-masing anggota keluarga selama Bulan Ramadan tahun ini.

Ramadan sangat singkat hanya 29 atau 30 hari jangan biarkan berlalu tanpa konsolidasi, tanpa perbaikan dalam keluarga, tanpa target yang terukur. Berikut yang dapat kita lakukan dalam membuat ramadan produktif bersama keluarga.

1. Evaluasi status ibadah masing-masing keluarga

Sebelum menentukan target, mari kita duduk bersama dan mengevaluasi sampai dimana tingkatan ibadah masing-masing anggota keluarga dan apa yang dibutuhkan. Buatlah chart untuk memudahkan setiap orang melihatnya. Buat kolom nama-nama anggota keluarga, status saat ini, target ramadan, pencapaian.

Misalnya, ayah saat ini belum istiqomah shalat 5 waktu berjamaah dan membaca Alquran padahal ayah yang paling bagus dan benar bacaannya diantara anggota keluarga yang lain. Target ramadan ayah, shalat berjamaah 5 waktu, Khatam Alquran 2x, Menambah hafalan 1/2 juz.

Untuk ibu, misalnya saat ini lebih banyak waktu menonton dan memasak, serta bacaan Alqurannya belum betul tajwidnya. Maka target ibu menonton tv hanya 1 jam sehari, belajar tajwid dan khatam 1x. Untuk ananda dapat disesuaikan misalnya jika masih dibawah 5 tahun berarti orang tua lebih banyak mengenalkan dan memperlihatkan berbagai ibadah seperti shalat, puasa dan tilawah sebagai kegiatan yang positif dan menyenangkan. Memberikan banyak cerita atau membuat kreasi ramadan.

Jika ananda sudah dapat belajar Iqro atau bahkan sudah membaca Alquran, bisa dibuat target, menyelesaikan 2 hal Iqro sehari, atau tilawah 1-2 lembar sesuai kemampuan. Menambah hafalan surat. Mengenal atau menghafal hadits-hadits dengan tema tertentu.

2. Buatlah target yang realistis


Membuat target yang realistis artinya kita mengukur diri dan kemampuan yang ada pada kita juga pada anggota keluarga yang lain. Meski diawal diceritakan bagaimana para salafus shalih dalam menghadapi ramadhan, tentu tidak serta merta kita mengikutinya, padahal ilmu dan kemampuan kita belum memadai.

Membuat target sesuai kemampuan diri dan yang paling realistis juga tentu dengan peningkatan yang dapat terukur. Meski ayah harus tetap bekerja atau ibu pun demikian, maka mulailah mengatur waktu dan menghitung berapa lama setiap kegiatan dilakukan dan pada waktu kapan dapat menjalankan target-target yang telah ditetapkan.

Misal jika ayah bekerja naik kereta atau bus maka saat perjalanan dapat diisi dengan tilawah atau menghafal, begitu pun dengan ibu. Jika ayah membawa kendaraan sendiri maka dalam perjalanan bisa digunakan untuk menghafal melalui MP3 atau CD di mobil.

3. Tentukan waktu halaqah keluarga

Ramadan ini bulan yang istimewa, terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Suasana ramadan sangat kenal hingga acara televisi, bilboard dijalan bertema religius sepanjang bulan. Belum lagi berbagai penganan khas yang tiba-tiba hadir di sepanjang jalan-jalan ramai.

Inilah momen kebersamaan, karena saat berbuka dan sahur umumnya ingin selalu bersama keluarga. Jika pada bulan lain momen kebersamaan hanya pada saat akhir pekan, maka ramadan ini tentu akan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Manfaatkan momen ini untuk membuat halaqah keluarga. Ayah sebagai pemimpin bertugas menjadi nara sumber. Buatlah tema harian, atau tema untuk berapa kali halaqah selama ramadan. Pastikan tema yang disesuaikan untuk seluruh anggota keluarga. Misalnya tema halaqah pekan pertama memperdalam tauhid, tema pekan kedua indahnya shalat atau bisa juga taddabur juz 30 atau tentang sirah Nabawiyah.

4. Waktu ibadah bersama keluarga

Ramadan adalah waktunya meningkatkan ibadah. Jika di hari-hari biasa sangat jarang melakukan ibadah bersama, maka ramadan tahun ini saatnya melakukan ibadah bersama.

Lakukanlah ibadah-ibadah sunnah bersama, misalnya bersama-sama ke mesjid untuk tarawih. Jika lapang bisa juga bersafari tarawih ke mesjid-mesjid agung atau mesjid raya yang dekat dengan rumah untuk variasi. Lakukan tilawah atau dzikir bersama keluarga saat setelah ashar atau menunggu berbuka diwaktu akhir pekan. Bisa juga melakukan qiyamul lail bersama.

5. Silaturahmi dan berbagi


Selain ibadah tentu ramadan juga adalah bulannya berbagi, bulannya untuk bersilaturahmi. Lakukan kegiatan ini bersama keluarga, keluarga besar, tetangga atau komunitas. Buka bersama adalah tradisi yang selalu dilakukan setiap ramadan tiba. Aturlah waktu buka bersama sebagai ajang silaturahmi. Pilihlah tempat yang kondusif, baik untuk mempererat kekeluargaan juga untuk saling menyemangati dan mempertebal iman kita.

Sisihkanlah harta kita dan berbagilah. Lakukan bersama-sama anggota keluarga. Berbagi dari hal kecil, misalnya membuat makanan berbuka lebih banyak dan diberikan pada mereka yang tidak dapat berbuka bersama keluarga, misal petugas parkir, petugas pintu lintasan kereta, atau siapa yang sering kita jumpai.

6. Istiqomah

Setelah evaluasi, membuat target dan menentukan berbagai kegiatan yang kita perlukan adalah semangat untuk istiqomah menjalankannya. Ajaklah semua keluarga untuk saling mengingatkan karena semangat bisa saja menurun sehingga target tidak tercapai.

Hindari hal-hal yang melemahkan semangat ibadah kita, seperti duduk seharian menonton tv, berlama-lama bersama gadget, media sosial dan games. Hadirilah kajian-kajian atau tempat yang dapat meningkatkan semangat ibadah kita, seperti majlis ilmu, mesjid-mesjid atau berkunjung pada rumah sahabat yang shalih.

Ayo raih ramadan terbaik tahun ini. Jangan sampai terlewatkan. Niatkan ramadan ini adalah bulan konsolidasi untuk meningkatkan ibadah dan ilmu bersama keluarga.

Semoga Allah memberi kekuatan dan rahmatnya kepada seluruh keluarga muslimin di dunia, aamiin. 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget