Januari 2018



Alhamdulillah Selasa, 30 Januari 2018 SDIT Bina Amal mendelegasikan 4 siswa terdiri dari 2 putra dan 2 putri di seleksi POPDA Cabang Panahan Kecamatan Semarang Selatan, dengan hasil  :

🎯Juara 1 Putri - *Hafizah Nadhira P* (skor : 122)
🎯Juara 2 Putri - *Airyputeri TJ* (skor : 88)
🎯Juara 2 Putra - *M. Hilmy Fa'iq* (skor : 183)
🎯Juara 3 Putra - *Ibrahim* (skor : 147)

Menurut Bu Adzki, Pelatih Panahan SDIT Bina Amal, selanjutnya Tim Panahan Bina Amal Insyaallah akan melangkah ke tingkat Kota. Untuk itu mohon doa dari seluruh civitas Sekolah.

Semoga anak-anak Bina Amal terus berprestasi...



SEMARANG-Atlet anggar putri Jateng Rana Az-Syahra menyumbangkan medali emas bagi tim beregu putri Indonesia nomor degen dalam Kejuaraan Anggar Asia Tenggara (SEAFF) yang berakhir Senin (22/1) malam di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ketua Umum Ikasi Jateng Kukuh Birowo mengatakan, prestasi tersebut terhitung membanggakan mengingat belum adanya pelatda anggar Jateng. Selama ini para fencer, berlatih di kabupaten/kota masing-masing. ’’Ini tentu prestasi yang membanggakan. Memang tak ada target khusus, tapi nyatanya ada yang berhasil membawa pulang medali emas. Saya akan mengapreasi dengan memberikan penghargaan bagi atlet yang berprestasi di kejuaraan tersebut,’’ kata Kukuh di Semarang, Selasa (23/1).

Ditambahkannya lebih lanjut, secara keseluruhan, atlet yang dikirim Jateng dalam ajang Asia Tenggara tersebut meraih satu medali emas, tiga perak dan empat perunggu. Tiga medali perak masing-masing dipersembahkan oleh Yusuf Aprilian (floret junior individu putra), Putri Faradilah (sabel beregu putri) dan Naufal Arrasyid (degen beregu putra). Adapun medali perunggu diraih Ichwan Zulkarnain (sabel individu putra, sabel beregu putra), Yulian Muhammad Adhitama (sabel beregu putra), Naufal Arrasyid (kadet individu putra) dan Nathalie Kurniagraha (floret beregu putri).

Kualitas Teknik

Kukuh berharap, prestasi yang dicapai di Kuala Lumpur akan makin menambah kualitas teknik para atletnya. Apalagi, mereka kelak diharapkan tampil di sejumlah event nasional seperti PON XX Papua 2020. Kukuh yang juga anggota Komisi E DPRD Jateng itu mengatakan, saat ini pihaknya tengah berupaya mebangkitkan prestasi anggar Jateng.

Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan regenerasi atlet. ’’Raihan pada SEAFF ini menunjukkan perkembangan yang positif pada fencer kadet dan yunior Jateng. Mereka akan kami terus bina dan proyeksi PON XX mendatang. Kami juga terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar olahraga ini makin dikenal di kalangan pelajar,’’ pungkasnya.(H85,mam-64)


sumber : suara merdeka


Shalat gerhana merupakan sholat sunah yang dilakukan sebanyak dua raka’at ketika terjadi gerhana. Dan Alhamdulillah pada Rabu, 31 Januari 2018 akan terjadi gerhana bulan mulai pukul: 18:48-22:11 WIB

Tata Cara Mengerjakan Sholat Gerhana

Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 raka’at.
setiap rakaat dilakukan dengan 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud.

Adapun cara mengerjakannya adalah sbb:

1. Berniat
2. Takbiratul Ihram
3. Doa Iftitah
4. Surat Al Fatihah
5. Membaca Surat yang Panjang yang dikeraskan (HR.Bukhori No. 1065, dan Muslim No. 901)
6. Ruku (dianjurkan yang lama)
7. Bangkit dari Ruku' (I'tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’
8. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, tetapi tetap Berdiri, Membaca ALFATIHAH kembali.
9. Membaca Surat (yg lebih singkat dari sebelumnya)
10. RUKU' lebih Singkat dari sebelumnya
11. Bangkit dari Ruku' (I'tidal).
12. SUJUD yang lamanya seperti Ruku',
13. Duduk diantara 2 Sujdu dan Sujud Kembali
14. Bangkit dari Sujud lalu melanjutkan Rokaat kedua seperti Rokaat Pertama.
15. Tasyahud
16. Salam

Khutbah

Di sunnahkan ada khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk 

1. berdzikir,
2. berdo’a,
3. beristighfar,
4. sedekah.

Dalil
"Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya." (QS. Fushshilat : 37)

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu." (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

"Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-Shalatu jamiah". (HR. Bukhari).

Mari Gerakkan Ummat untuk Melakukan Sholat GERHANA (Khusuf) Berjamaah di Masjid2 dan Musholla

sumber : kemenag



Sabtu, 27 Januari 2018 Sekolah Islam Terpadu Bina Amal mengadakan Upgrading untuk seluruh Guru Bina Amal. Mulai dari KBIT sampai SMAIT. Kegiatan yang di beri nama Bina Kembang ini rutin diadakan setiap bulan.

Menurut Eka Hariyani, ketua HRD Sekolah Islam Terpadu Bina Amal, Bina Kembang merupakan salah satu sarana pembinaan Guru dan Pegawai Bina Amal. Pembinaan ini dilakukan setiap bulan sekali dengan Pembicara dari dalam dan luar Yayasan Wakaf Bina Amal. Dan pada kesempatan kali ini, bina kembang di isi oleh pakar konseling yang sudah berpengalaman. Yang akan memberikan materi tentang Teknik Konseling. Beliau adalah Heri Saptadi Ismanto, S.Pd., M.Pd., Kons.

Berikut beberapa materi Teknik Konseling yang di sampaikan.

1. Teknik umum

-Attending
-Empati
-Refleksi (perasaan,pikiran,pengalaman)
-Eksplorasi
-Paraphrasing
-Pertanyaan terbuka/tertutup
-Konfrontasi
-Asertif

2. Teknik Khusus

-Teknik Kursi Kosong
-Role Playing
-Bermain Peran
-Teknik DS / Disensitisasi Sistematis
-Assertif Trainning
-Teknik Restructuring
-Building Kognitif

Menurut Heri Saptadi Ismanto, menjadi guru di jaman now merupakan tidak hanya suatu pekerjaan tetapi amanah yang harus di tunaikan dengan sebaik-baiknya. Karena siswa jaman now disebut juga I-Generation, generasi net atau generasi internet. 

Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka

Mau tidak mau seorang guru harus melek teknologi, melek dengan dunia maya dan harus punya akun di sosial media. Karena siswa cenderung lebih suka curhat di sosial media daripada dengan orang tuanya, apalagi dengan bapak ibu gurunya. Pantaulah akun sosmed, jika perlu jadikan sebagai teman atau follower. 

Menjadi Guru di Jaman Now begitu banyak tantangannya. Dibutuhkan banyak kemampuan yang tidak sekedar  berkaitan dengan mata pelajaran. Karena saat ini begitu mudahnya informasi di dapat, entah itu yang baik maupun yang buruk. Banyak hal yang harus diketahui, diantaranya :
Arus globalisasi informasi , Teknologi Informasi , Bullying , Regulasi Pendidikan , Konformitas , LGBT, SDM, Eksploitasi,Narkoba dan masih banyak lagi.

Kemudian bagaimana menjadikan diri sebagai guru jaman now?

-Yang Selalu Dinanti Kehadirannya
-Yang Selalu Dicari Bila Tak Ada
-Yang Selalu Didoakan
-Yang Selalu Di-idolakan
-Yang Selalu Dirindukan kebersamaannya
-Yang Selalu Dikenang Sepanjang Masa

Salah satu caranya adalah dengan mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu
-Siapa yang menciptakan,
-Mengapa diciptakan dan
-Untuk apa diciptakan.

Berusahalah mengenal siswa tidak hanya dari sisi lahirnya saja, tetapi lihatlah dari sisi psikisnya juga. berusahalah akrab dengan anak tapi tetap menjaga profesionalitas sebagai guru dan siswa. Tetaplah berpagang pada al Quran dan Hadis sebagai sumber rujukan. Dan menjadi teladan dengan adab dan karakter Islam.






Every thursday adding vocab and short expression, every Friday practice coneversation
And on Saturday english performence

Merupakan performance siswa/kelas yang dilaksanakan setiap selasa pagi yang berkonsep penampilan acara berbahasa inggris. Adapun beberapa hal yang dapat dilatih dalam program pekan bahasa ini adalah :

1) MC ; 
2) Berdiskusi dengan Berbahasa Inggris ; 
4) Penambahan Kosakata/Ungkapan.

Kemudian melakukan percakapan bahasa Inggris sesuai dengan kemampuan pada percakapan sesuai tema. Program ini wajib dilaksanakan tiap pekan oleh guru dan siswa di kelas bahasa.

Setiap siswa akan di bantu dan di bimbing oleh Guru dan akan di evaluasi tentang sikap berbahasa siswa. Kemudian siswa yang berprestasi akan diumumkan tiap minggu.






Meskipun sudah lebih dari satu pekan berlalu, namun sepertinya kenangan akan Kota Malang dan seisinya masih terngiang dengan jelas. Waaahh memangnya ada apa sih dengan Kota Malang?? Jadi penasaran deh!

Jadi gini loh teman-teman, hari Jumat s.d Ahad tanggal 12 s.d 14 Januari 2018 kemarin kami kelas VI SDIT Bina Amal bertolak ke Kota Malang untuk melaksanakan kegiatan eduwisata. Berangkat dari sekolah pukul 16.30 WIB kami langsung berpamitan dengan orang tua dan bapak ibu guru kami yang ada di sekolah. Tiga bus besar sudah menunggu kami, dengan menenteng barang bawaan kami, kami segera menuju kursi masing2.

Ternyata bepergian bersama teman-teman tanpa didampingi orang tua melatih kemandirian kami, kami harus sigap menjaga barang bawaan kami, menyiapkan keperluan kami sendiri, dan lainnya.

Di Malang, kami berkesempatan berkunjung ke agrowisata petik apel, ternyata rasa apel yang dipetik langsung dari pohon dengan apel yang dijual di pasar sangat berbeda loh! Apel yang langsung di makan dari pohonnya memiliki rasa yang lebih segar dan lebih renyah, saat digigit akan terdengar suara 'kress.. kress.. kress..', pokoknya 'crunchy' banget deh! Hihihi. Tidak lupa kami membelikan oleh2 buah apel untuk orang tua dan keluarga kami di rumah.

Kemudian, kami juga menikmati suasana dan wahana seru serta mengasyikkan di Jatim Park 2. Ternyata di sana bukan hanya taman hiburan saja loh! Banyak juga sarana belajar khususnya ilmu pengetahuan alam dan teknologi, termasuk kebun binatang. Selain itu, kami juga asyik berfoto di Museum Angkut, berpose dengan alat transportasi dari zaman dahulu sampai yang paling up to date, ada mobil antik, becak, kereta kuda, dan banyak lagi.

Semoga setelah kegiatan eduwisata ini semangat kami jadi penuh kembali dan siap tempur menghadapi ujian sekolah di depan mata. Doakan kami selalu ya Bapak Ibu Guru, Ayah, Bunda, dan teman-teman! Semoga kami menjadi anak sholih dan sholihah kebanggaan bagi semua! Doakan ujian kami lancar!

#humassdit


Berlokasi di Dusun Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Candi Gedong Songo berada di ketinggian 1.200 mdpl dengan suhu yang cukup dingin.

Rabu, 17 Januari 2018 siswa putra dan putri Kelas VII SMP IT Bina Amal Semarang melakukan kegiatan Puncak Tema ke Candi Gedong Songo karena berkaitan dengan tema kelas VII yaitu "Bhineka Tunggal Ika"

Menurut Mustaqim SE, humas SMPIT Bina Amal, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk melengkapi pembelajaran di kelas, memfasilitasi keingintahuan anak yang besar, dan menghilangkan kejenuhan pada anak.

Selain itu, manfaat lainnya yaitu dapat merangsang minat anak terhadap suatu hal, memperluas informasi yang telah diperoleh di kelas, memberikan pengalaman nyata pada anak, dan menambah wawasan serta siswa diharapkan memahami bentuk keragaman sosial dan budaya Indonesia.

Sebelum masuk ke lokasi candi, siswa dikumpulkan dan diberikan penjelasan tentang kegiatan serta tugas selama di lokasi, diantaranya siswa disuruh menulis sejarah dan penjelasan tentang Candi Gedong Songo serta menuliskan kosakata dari pengamatan yang ada di lingkungan dengan Bahasa Inggris.
Candi Gedong Songo ini dibangun pada masa Mataram Kuno oleh Raja Putera Sanjaya. Coraknya Hindu, karena banyak arca-arca yang mengarah kesana, seperti Lingga Yoni. Selain Lingga Yoni, di Candi Gedong Songo ini juga ditemukan banyak arca Dewa-Dewa Hindu, diantaranya arca Syiwa Mahaguru, Syiwa Mahakala, Syiwa Mahadewa, Maharsi Agastya, Ganesha Durgamahesasuramardhani.
Kompleks candi ini dinamakan Gedong Songo karena dulunya terdiri dari 9 kompleks bangunan. Namun ketika kami berkunjung kesana, kami hanya menjumpai 5 kompleks candi yakni Candi Gedong I – Candi Gedong V. Keempat candi lainnya sudah tidak bisa dilihat.
Candi ini dibangun berderet-deret dari bawah hingga atas, maka untuk mencapai bangunan candi kami harus berjalan kaki mengikuti jalur yang ada. Karena terletak di kawasan pegunungan, maka udara di tempat ini sangat sejuk dan segar, bahkan diwaktu-waktu tertentu terbilang dingin. Semilir angin gunung dan angin lembah bertiup kencang bergantian. Walau terasa lelah siswa sangat senang karena puas menikmati pemandangan yang ada dan dapat belajar bersama-sama tentang khasanah budaya Indonesia salah satunya yaitu Candi Gedong Songo.

#humas smpit



Selasa (23/1/18), seluruh siswa kelas 1 SDIT Bina Amal melangsungkan kegiatan puncak tema "Pengalamanku". Kali ini mereka berkesempatan berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang menjadi salah satu ikon Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.

Diawali dengan berdoa bersama di sekolah, mereka berangkat menuju MAJT pukul 07.30 WIB. Sesampainya di MAJT, mereka tidak lupa menunaikan sholat dhuha berjamaah dan menjelajahi setiap jengkal masjid, waahhh masjid yang megah!

Puncaknya, mereka menikmati pemandangan Kota Semarang dari atas menara masjid yang tingginya mencapai 99 meter sama seperti 99 asmaul husna. Di sana mereka menggunakan teropong untuk melihat keindahan Kota Semarang, mulai dari sawah dan laut bisa terlihat dari teropong loh!

Sering mengajak anak ke masjid akan membuat mereka terbiasa untuk selalu menunaikan sholat atau beribadah di masjid. Hal tersebut lama kelamaan akan membuat anak terbiasa untuk mengunjungi masjid secara teratur, dan akan menumbuhkan kecintaan pada masjid. Tutur Bu Ana, koordinator kunjungan ke MAJT.

Pengalaman yang mengesankan! Nanti ajak aku ke MAJT lagi ya, Ayah, Bunda! 

#humas sdit



Ada seorang ayah, setiap kali pulang kerja, merasa begitu lelah dan emosi, mudah sekali tersinggung.
Berkali-kali terjadi, hampir setiap hari. Ayah tersebut merasa marah akan hari yang dilaluinya. Setelah itu, ketika melihat anaknya sedang bermain, ia pun meledak.

“Ngapain kamu main mobil-mobilan terus? Mana PR-mu?”
“Aku enggak dapat PR apa pun hari ini.”

“Kenapa enggak ada PR? Ayah akan adukan ini ke sekolahmu. Bayar sekolah mahal-mahal, enggak dikasih PR. Bagaimana kamu bisa pintar?”

Bisa kita bayangkan keadaan rumah tersebut. Setiap kali ia pulang, keluarganya menjadi ketakutan. Tidak ada ketenangan, bahkan mereka hidup di bawah tekanan. Bukan tekanan dari rentenir atau penagih utang, melainkan tekanan dari ayahnya, tekanan dari suaminya sendiri.

Sejatinya, seorang ayah harus menjadi sebab keluarganya bahagia. Seorang anak harusnya berlari memeluk ketika ayahnya pulang. Seperti itulah seharusnya hubungan antara ayah dan anak.Luangkanlah waktu untuk buah hati sesibuk apa pun diri kita.

Sudahkah Anak Kita Memeluk dan Terlihat Sangat Bahagia Setiap Kali Kita Pulang Kerja?

Zaman telah berkembang sangat pesat. Pada 20, 30, atau 40 tahun yang lalu, seorang ayah bisa dengan mudah memerintah anaknya. Menjadi begitu tegas dan berwibawa hingga anak menjadi segan padanya. Namun, di zaman teknologi ini, ketika semua orang dengan mudah terpapar informasi, seorang ayah pun harus ikut berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Seorang ayah harus mampu menjadi teman sekaligus pengatur bagi anak-anaknya.

Saat kita kecil, ayah kita bukanlah sahabat kita. Ia adalah seseorang yang mengatur sebagian besar aspek kehidupan kita, tetapi tidak menjadi tempat kita bercerita ataupun seorang sahabat. Di tahun 2015 ini, kita tidak bisa melakukan hal yang sama. Saat kita hanya mengatur-ngaturnya tanpa mau mendengarkan atau mengusahakan untuk dekat dengannya, anak akan mencari tempat nyaman yang lain untuk berbagi cerita, ide, bahkan keinginannya.

Ini zaman teknologi. Ini zaman gadget. Ini zaman Google. Ini zaman media sosial. Kita harus menerima kenyataan bahwa anak-anak kita menerima begitu banyak informasi dengan mudah sekarang. Jangan biarkan anak kita dibesarkan oleh informasi yang kita tidak tahu dari mana sumbernya.

Ayahlah yang akan mengajarkan anaknya tentang Islam, indahnya Islam. Jangan sampai anak menjadi jauh dari agamanya karena kita yang lupa mengenalkannya. Untuk mengenalkan Islam agar lekat dihatinya, kita harus menjadi seorang sahabat untuknya.
Jika Kita Terlanjur Jauh dari Anak, Bagaimana Cara Mendekatinya?Jangan sampai kita melewatkan masa kecilnya.

Kuasailah permainan yang disukainya. Ikutlah bermain bersamanya. Berbagilah cerita dengannya. Dengarkan ide dan impiannya. Tidak perlu terlalu banyak menonton berita ketika berada di rumah. Cukup dengarkan di mobil saja. Jangan pulang, lalu menonton TV! Luangkan waktu untuk anak-anak.

Di rumah, ayah adalah milik anak-anaknya. Bukan TV, bukan kantor, bukan gadget.

Pulang dan bermainlah dengan anak-anak. Kerjakan PR bersamanya. Mengobrol dengannya. Ajak anak ke masjid ketika azan. Lakukan banyak hal bersamanya. Buatlah ia mencintai ayahnya.

Sudah siap menjadi ayah idaman yang menyejukkan hati anak-anaknya?




“Anisykurlillah” merupakan satu kalimat yang powerfull bagi kita jika kalimat ini mampu kita terapkan dalam keseharian kita. Termasuk dalam upaya kita membawa bahtera rumah tangga menuju ridha Allah Swt. Kalimat ini powerfull dalam upaya kita mengajak anak untuk mencintai islam, mencintai Allah, dan mencitai Rasulullah.

Tapi sebelum kita bahas lebih dalam tentang kalimat ini, mari kita bicarakan sedikit tentang warisan. Apa yang terpikir di benak Anda ketika kita berbicara mengenai warisan?

Betulkah perkiraan saya jika saya katakan bahwa ketika berbicara tentang warisan, yang terpikir dalam benak kita adalah bagaimana anak-anak memiliki kehidupan aman secara finansial. Maka Ayah dan Bunda berusaha mati-matian banting tulang mencukupi kebutuhan dunianya. Sandangnya, pangannya, papannya, primer, tersier, sekunder, dsb.

“Apa yang Akan Engkau Makan, Nak?"

Banyak dari kita yang selalu bertanya. “Apa yang akan engkau makan setelah aku pergi nanti, nak?” Maka saat masih hidup kita mati-matian bekerja dari pagi hingga malam agar dapat mewariskan sesuatu bagi anak-anak kita. Tidak ada yang salah dengan “pengorbanan” ini. Namun jangan pernah mau dibutakan oleh kehidupan dunia wahai Ayah dan Bunda. “Pengorbanan” ini akan sia-sia saja jika anak tidak ridha orang tuanya tidak punya waktu untuknya. Allah tidak akan ridha pada “pengorbanan” ini sebab ia lebih banyak mengingat deadline dari pada mengingat-Nya.

“Apa yang Akan Kamu Sembah Sepeninggalku?”

Diceritakan dalam surat Al-Baqarah ayat 133. yang Yakub tanyakan pada anak-anaknya bukanlah tentang harta atau urusan perut saja, melainkan yang lebih penting dari itu. Yakni, “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?”

Bukan warisan berupa kekayaan harta yang ia khawatirkan. Melainkan sebuah warisan yang lebih berharga lagi dari itu. Sebuah pemahaman tentang keimanan, ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan kepada Allah yang akan berujung bahagia kelak di akhir hidup kita setelah dunia.

Setelah bertanya “Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka (putra nabi Yakub) pun menjawab. “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapakmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq. Yaitu Tuhan Yang Tunggal, dan kepada-Nyalah kami akan menyerah diri.”

Anak Kita Akan Jawab Apa?

Lalu jawaban apa yang akan kita dapat jika hal itu kita tanyakan kepada anak-anak kita? Mampukah uang yang kita wariskan menyelamatkan mereka di akhirat nanti? Sudikah kiranya Allah menerima kita dan keluarga kita untuk bertemu dengan-Nya jika yang kita pedulikan selama di dunia ini hanyalah urusan kemewahan dunia?

Atau barang kali kita merasa sudah berusaha mengenalkan siapa Tuhan kita kepada anak-anak kita dengan menyuruhnya ibadah ini dan itu tanpa memahami ilmunya? Bagaiamana seharusnya kita menyampaikan hal itu?

Ada yang Salah Dari Kita

Mari kita berkaca. Jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita. Kupikir banyak dari kita yang sibuk menyuruh mereka salat tanpa menjelaskan alasan mengapa manusia harus salat. Kita marah karena anak tak kunjung menurut akan perintah kita. lalu dengan mudah kita marah dan berkata. “Kamu jangan melawan ya sama orang tua, itu dosa!” (sambil melotot dan tolak pinggang). Belum selesai dengan pelajaran salat, anak sudah dijejali lagi dengan pelajaran birul walidain yang seharusnya itu adalah perintah Allah kepada anak, bukan perintah orang tua kepada anak.

Belajar dari Good Father yang Diceritakan di Alquran

Ayah, Bunda, be wise. Semua ada caranya, dan pendidikan anak telah sempurna Allah jelaskan dalam Alquran. Telah ada seseorang yang Allah ceritakan dalam Alquran untuk kita teladani.

Mari kita buang sejenak teori-teori barat yang selama ini telah kita kumpulkan dalam ingatan kita. Mari kita kembali, kita kembalikan lagi tuntunan hidup kita pada sebaik-baiknya ilmu, yaitu Alquran. Mari kita sepakati bahwa the truth parenting adalah menjadi orang tua yang selalu kembali pada Alquran.

Pertanyaannya saat ini adalah apa yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita setelah kita meninggal nanti? Hal apa yang paling penting untuk mereka miliki dalam menjalani kehidupan di masa depan?

Jawaban Ada pada Surat Luqman Ayat 12

Jawabannya adalah “Anisykurlillah,” Sebuah kalimat yang saya pikir sangat powerful untuk diucapkan dan powerful untuk diamalkan. Bunyi kalimat Anisykurlillah dalam surat Luqman ayat 12 seperti ini. “Dan sungguh, telah kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! . . .”

Ayah dan Bunda, ajaran islam adalah apa yang muncul di hati kita. Dan hal ini yang dilakukan oleh Luqman, saat ia mengajarkan tentang iman kepada putranya. Dalam surat itu Allah mengatakan sesuatu yang harus kita mulai dengan hati kita pertama-tama adalah bersukurlah.

Saat kita mulai bersyukur, maka yang akan muncul dalam hati adalah pikiran-pikiran positif yang berujung pada sikap-sikap positif dalam diri ketika menjalani kehidupan ini.

Syukur akan mengubah cara pandang kita terhadap diri kita sendiri. Kita akan lebih banyak menangkap hal baik dalam diri kita yang telah Allah karuniakan. Kita akan senantiasa bersyukur atas apa yang Ia berikan kepada kita. Baik buruk, susah senang, tangis dan tawa, dengan syukur maka kita akan mudah sekali menerima apapun yang terjadi lalu berusaha lagi dan lagi.

Masihkah Kita Berpikir Bahwa Warisan Terpenting Adalah Harta?

Jadi ajaran tentang iman ini adalah mengenai persepsi positif terhadap diri kita sendiri. Dan hal ini akan mudah kita dapatkan adalah dengan bersyukur.

Apa yang kita inginkan dari anak-anak kita? Kita ingin ia tidak menyekutukan Allah? Kita ingin ia berbakti pada orang tua? Kita ingin ia rajin salat? Mampu bersabar? Menjaga diri dari dosa? Banyak kan yang kita ingin anak kita pelajari? Bersabarlah, untuk mengajarkan tentang iman dan islam, ingatlah untuk memulai dengan Anisykurlillah. Ketika anak sudah pandai bersyukur, ia pasti sudah tahu kepada Siapa ia bersyukur. Dan ia akan lebih mudah diajarkan pada kewajiban-kewajiban lainnya.

Setelah membaca ini, masihkah kita berpikir bahwa warisan terpenting bagi anak kita adalah harta? Masihkah kita bertanya. “Apa yang akan kamu makan setelah aku tiada?” Tidakkah kita ingin mewariskan pamahaman mengenai pentingnya bersyukur pada anak agar kelak ada atau tidak adanya kita, anak tetap merasa bahagia dalam kondisi apapun karena mereka telah terbiasa dengan bersyukur.

Sebab syukur adalah hikmah yang paling tinggi. Bersyukur adalah nikmat dari Allah yang lebih nikmat dari apa yang disyukuri itu sendiri.



Ini Dia Kemampuan yang Harus Dimiliki Orangtua Jaman Now


Seiring dengan perkembangan teknologi dan zaman saat ini, peran orangtua pun juga sudah seharusnya ikut berkembang. Orangtua dalam mlaksanakani perannya perlu memiliki beberapa kemampuan yang juga sesuai dengan zaman. Yuk simak hal berikut ini mengenai kemampuan apa saja yang harus dimiliki orangtua zaman now.

1. Mampu menjaga komunikasi dengan baik

Dewasa ini komunikasi merupakan kunci utama dalam mendidik seorang anak. Orangtua harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anaknya. Berkomunikasilah secara terbuka dengan anak secara rutin. Jalin kedekatan dengan buah hati agar mereka nyaman untuk bercerita banyak hal kepada orangtua. Jika anak sudah percaya, maka kita juga akan mengetahui keadaan anak kita yang sebenarnya.

2. Paham akan mendidik dengan baik

Sahabat Ummi, mendidik adalah proses memberikan pengertian dan pemahaman makna kepada anak agar ia dapat memahami lingkungan sekitarnya serta dapat mengembangkan dirinya dengan baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, orangtua perlu memiliki pemahaman mendidik yang baik agar sang anak dapat terdidik dengan baik pula.

3. Hindari mengancam, membujuk/menjanjikan hadiah serta bersikap otoriter, acuh tak acuh dan memanjakan dalam mendidik anak

Hal ini perlu dilakukan karena beerdampak buruk pada kepribadian sang anak. Perlu diketahui sikap membujuk dapat melahirkan sifat ketergantungan, sementara sikap mengancam dapat mematikan inisiatif, motivasi maupun kreativitas anak.

Selain itu, sikap otoriter dapat menimbulkan tekanan pada diri anak dan ketakutan sementara sikap acuh tak acuh membuat sang anak merasa tidak dipedulikan. Serta sikap memanjakan dapat menimbulkan sifat tidak mandiri pada anak.

4. Memahami bahasa non verbal

Sahabat Ummi memarahi anak karena melakukan suatu kesalahan bukanlah solusi yang efektif. Memahami apa yang menjadi penyebab kesalahan itu terjadi serta perasaan sang anak. Bahasa non verbal yang dimaksud ialah dengan memberikan sentuhan, senyuman, pelukan, menatap dan meletakkan tangan di bahu untuk menenangkan sang anak.

5. Memahami kemampuan atau bakat yang dimiliki anak.

Orangtua perlu memahami dan melihat kemampuan atau potensi bakat yang dimiliki sang anak. Selain itu juga perlunya dukungan dan dorongan yang diberikan oleh orangtua sehingga sang anak dapat mengasah kemampuan atau bakatnya.

6. Memiliki visi

Memiliki visi yang jelas dalam mendidik dan mengembangkan anak agar dapat menentukan pendidikan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang anak. Serta mencapai ilmu pendidikan karakter yang dinginkan.





Setiap manusia, tidak saja orangtua tetapi juga anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. sebagai orangtua tentu bisa menjadi sahabat menjadi anak-anak yang bisa menjadi partner dalam lingkungannya. Beban pelajaran yang berat saat ini yang dihadapi oleh anak-anak disekolah semakin hari semakin cepat daripada desah nafas kita. Sebagai orang terdekat anak orangtua harus bisa memosisikan diri sebagai sahabat anak, pola asuh orangtua dan keluarga sangat memengaruhi kepribadian anak. Semua berawal dari rumah. lalu bagaimana cara menjadi sahabat yang baik buat anak?.

Kita kenali dulu beberapa tipe menjadi orangtua, sebagai berikut :

1. Orangtua yang ditakuti refleksnya anak menjadi takut, ini pun kurang tepat dijadikan sahabat oleh anak

2. Orangtua yang ingin dihormati refleksnya anak menjadi segan hingga type ini sangat sulit untuk dijadikan sahabat

3. Orangtua yang disegani refleksnya anak menjadi enggan menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

4. Orangtua yang dicintai, refleksnya anak menjadi nyaman menceritakan segala sesuatu perkembangan dalam kehidupannya.

Salah satu fase perkembangan manusia yang pertama egosentris fase ini dialami pada masa bayi sampai usia TK,. Fase serba harus dikabulkan segala keinginannya. Pada saat type ini terbawa pada usia SD atau SMP maka perilaku orang terdekat yang harus merubah perilaku hidupnya. contohnya terapkan Reward dan Funishment untuk mengurangi rasa egosentrisnya.

Sejak dari TK, SD sampai SMA pun tidak ada ilmu pembelajaran mengenai mengenal manusia secara filosofis hanya secara biologis. Coba lihat deh di kebun binatang, banyak ahli yang sengaja mempelajari tentang hewan, namun sayangnya sampai saat ini masih belum banyak ilmu yang memahami tentang menjadi manusia sejak dini. adapun ilmu mengenai manusia dikenal apabila manusia itu sendiri berminat mengetahuinya dengan cara mengambil jurusan ilmu psikologi pada tingkat pendidikan tinggi, namun tidak semua dapat mengenyam pendidikan ini dan yang terjadi dalam kehidupan manusia hanya Trial and Error. Penyebab utama adalah ketidak tahuan ilmu menjadi manusia.

Kembali ke pola asuh menjadi sahabat anak, ketidak hadiran ayah dalam pola asuh pendidikan anak-anak menurut Elly Risman, cenderung seringkali mengakibatkan pendidikan seks rentan terkontaminasi lingkungan yang kurang baik misalnya dari tontonan dan sebaran internet yang sampai pada genggaman. Peran ibu menjadi salah satu tonggak dalam pendidikan anak seperti disebutkan "ummi madrosatul ulla". Sejak dari kecil tidak banyak orangtua yang memberikan pembelajaran mengenai filosofi, cara menjadi hidup cara menjadi manusia seutuhnya, selama ini kita sebagai manusia berbicara tentang superior dan interior atau kekuasaan dan materi.

Bagaimana cara tepat untuk menjadi sahabat anak adalah dengan mencontoh hubungan kita dengan pasangan, berbicara heart to heart berbicara tentang kasih sayang begitupun dalam memperlakukan anak sebagai sahabat. Sebagai contoh kita bisa bergerak adalah berdasarkan konsep pikiran. salah satu anggota tubuh kita, tangan tidak pernah egois selalu menuruti apa yang ada dalam pikiran. Memakaikan kacamat, mengambil maknan dimasukkan ke dalam mulut itu atas dasar konsep pemikiran.

Apapun anggota tubuh yang kita miliki sebagai manusia punya filosofi didalamnya. filosofi itu mendasari setiap perilaku manusia. Hal yang sama berlaku untuk menerapkan anak sebagai sahabat. Penerapan konsep yang baik dari kedua orangtua menjadi dasar anak menuruti apa yang menjadi pemikiran orangtua, menuruti agar mereka mencintai dirinya, ayah bundanya lingkungan dan keluarganya. Dengan konsep ini anak dapat mendapat dukungan penuh dari orangtua dan mendapatkan kenyamanan untuk menvceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri dan lingkungannya.

Saran penulis, tanamkan sebanyak mungkin filosofi hidup pada anak-anak kita semenjak dari kandungan bukan sejak dini ya.

Semoga bermanfaat ...

ummionline



Sahabat Abi Ummi, anak adalah salah satu karunia besar yang Allah titipkan sebagai rezeki pada kita. Tentu, tidak semua orang beruntung dapat menjadi orang tua. Namun, di balik itu, ada hal yang lebih penting dari memiliki seorang anak, yaitu dapatkah kita menjadi orang tua yang amanah. Dapatkah kita membesarkan, menjaga, dan mendidik amanah itu agar tumbuh berkembang menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri dan keluarganya, baik di dunia maupun akhirat. Anak juga menjadi hiasan hidup seperti firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Agar dapat mencapai keindahan ini, kita harus dapat mengembangkan kepribadian anak ke arah positif, mendukung terciptanya akhlak yang mulia, dan memberikan pendidikan yang memadai. Salah satu yang kita patut perhatikan adalah mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri dengan tujuan membuat mereka percaya akan kemampuan diri dan berkembang menuju prestasi gemilang yang membanggakan. Lalu, bagaimana mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri?

1. Bantu Anak Menemukan Aktivitas yang Membuat Mereka Nyaman dan Senang

Kecerdasan anak berbeda-beda, ada yang berbakat dalam bidang kinestetik, musik, matematis, bahasa, hingga bakat dalam menjalin hubungan sosial. Dengan kecerdasan berbeda, minat anak juga akan beragam. Sejak dini, kebanyakan dari kita sudah mengenalkan anak pada banyak aktivitas, seperti menari, membaca, olahraga, atau bermain peran. Dari situ, kenalilah kecenderungan bakat anak. Selanjutnya, tugas orang tua adalah membantu anak menggali bakatnya lebih dalam dan tidak memaksakan sesuatu yang tidak mereka sukai hanya karena kita suka.

2. Setelah Menemukan Bakatnya, Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak dengan Pujian

Di saat dewasa, kita masih kerap membandingkan apa yang kita miliki dengan orang lain. Begitupun yang terjadi pada anak, apalagi pergaulan mereka yang masih diwarnai oleh celoteh saling pamer dan unjuk kebolehan. Cara lain dalam mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri adalah dengan meyakinkan mereka bahwa mereka memiliki keunikan masing-masing yang tidak boleh dianggap sepele. Misalnya, ketika anak berhasil menggambar atau mewarnai satu pola secara penuh beri penghargaan dengan mengatakan, “Wah, anak Ummi pintar sekali menggambarnya, sudah besar punya cita-cita melukis, ya?”

3. Biarkan Anak Melakukan Hal-Hal yang Dapat Dilakukannya secara Mandiri

Anak-anak memiliki sifat ingin dipercaya dan dianggap mampu melakukan tugas tertentu. Namun, terkadang sebagai orang tua kita kerap khawatir dan selalu ingin mendampingi anak dalam tugasnya. Malahan, kita juga sering kali melarang anak melakukan banyak hal karena pelbagai alasan. Coba mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri dengan membiarkan mereka melakukan banyak hal secara mandiri. Hal ini juga dapat membantu orang tua menemukan apa bakat dan kemampuan yang anak kuasai. Misalnya, tidur sendiri, meminta maaf lebih dulu, atau membuat susu sendiri.

4. Jangan Bandingkan Bakat Anak dengan Orang Lain dan Jangan Mencela Kekurangannya

Jika anak dianggap kurang berhasil atau berprestasi dalam satu hal, coba jangan langsung menilai mereka gagal dengan memarahi atau memprotes, apalagi membandingkan dengan anak lain. Dengan cara ini, anak akan mencari-cari kekurangan dan minder, lalu selalu merasa orang lain lebih baik dari dirinya. Daripada memarahi, lebih baik ajak anak mengevaluasi apa yang membuat mereka kurang di bidang tersebut, apakah mereka tidak memiliki minat atau justu pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat. Ajak anak berbicara dari hati ke hati dan tetap berikan dukungan moral.

Tanggung jawab yang dipikul orang tua dalam membesarkan anak membuat posisi anak juga menjadi cobaan dari Allah. Kewajiban kita adalah menjalankan amanah itu dengan sebaik mungkin dan tetap berpegang teguh pada ajaran agama. Warnai tumbuh kembang anak dengan mengajarkan anak cara menjadi diri sendiri. Buat mereka bangga dengan bakatnya dan selalu mensyukuri bakat tersebut sebagai nikmat dari Allah.

abiummi



Pembelajaran SDIT Bina Amal
Nak, kemarilah… Duduklah di samping Ibu. Ibu akan kenalkan kepadamu para sahabat Rasulullah. Pejuang Islam yang lebih patut engkau kagumi dan teladani dibanding tokoh kartun yang sarat kejanggalan.

Nak, kemarilah… Belajarlah dari mereka. Belajar tentang kezuhudan yang terpatri kuat sebagai karakter diri, tentang kecerdasan akal dan kejernihan hati yang saling bertaut, tentang cara berlemah lembut kepada sesama muslim dan keras terhadap orang kafir sebagaimana Allah perintahkan.

Nak, kemarilah… Kali ini kita akan berpetualang dalam kisah Mush’ab bin Umair. Salah seorang sahabat Rasululah yang masuk dalam golongan As-Sabiqun al Awwaluun. Bagaimana Nak, siap berkenalan dengan beliau?

Pemuda Tampan yang Rela Menukar Kenyamanan Dunia dengan Manisnya Iman

Nama lengkap sahabat Rasulullah ini adalah Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf. Beliau dikenal sebagai pemuda Quraisy terkemuka, seorang yang paling gagah dan tampan, cerdas dan visioner. Ketika zaman jahiliyyah, gemerlap pakaiannya dan keluwesannya dalam bergaul sungguh memesona, membuat setiap orang mudah menaruh hati padanya.

Suatu hari Mush’ab mendengar berita mengenai pengakuan seseorang sebagai utusan Allah yang membawa berita dan mengajak umat untuk beribadah kepada Allah, dialah Muhammad Al-Amin. Dengan cepat Mush’ab mengetahui bahwa Rasulullah biasa mengadakan pertemuan dengan pengikutnya di rumah Arqam bin Abil Arqam, rasa penasaran menggerakkan hatinya untuk mengikuti. Saat ayat-ayat Alquran dibacakan oleh Rasulullah, hati Mush’ab dipenuhi rasa haru dan gembira, kemudian berislamlah beliau dengan penuh keyakinan.

Sejak masuk Islam, kemewahan tak lagi menghiasi keseharian sahabat Rasulullah ini. Jubah bertabur emas telah berganti menjadi pakaian sederhana, bahkan usang dan bermotif tambalan di sana-sini. Namun, sejak itu pula, jiwanya telah dihiasi dengan akidah suci dan cemerlang yang menjadikannya manusia yang terhormat, disegani, dan penuh wibawa. Rasulullah menatapnya penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, beliau tersenyum seraya bersabda,“Dahulu saya melihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Saat Keislamannya Tak Direstui Ibu, dengan Tegas Beliau Nyatakan Ridho Allah yang Utama

Mush’ab dilahirkan dari rahim seorang wanita yang memiliki kepribadian kuat dan pendirian teguh. Beliau adalah Khunas binti Malik, wanita yang tak hanya disegani, namun juga ditakuti. Begitu mengetahui keislaman sang anak, beliau memenjarakan Mush’ab dan menghentikan semua pemberian yang biasa dilimpahkan pada Mush’ab. Akhir pertemuannya dengan sang ibu adalah saat ibunya hendak mengurungnya lagi sepulang Mush’ab dari Habsyi. Mush’ab bersumpah dan bertekad akan membunuh orang suruhan ibunya jika rencana tersebut dijalankan. Usaha keras sang ibu untuk mengembalikan Mush’ab kepada agama leluhur dikalahkan oleh kebulatan tekad Mush’ab dalam mempertahanan keimanan. Ketika sang ibu mengusir, Mush’ab kembali menyampaikan ajakan berislam, namun ibunya semakin murka dan bersumpah tidak akan masuk Islam.

Potensi Diri yang Beliau Miliki Membawanya Menjadi Duta Islam yang Pertama di Madinah.

Mush’ab terpilih untuk menjadi duta atau utusan Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang Anshar yang sudah memeluk Islam, berdakwah dan mempersiapkan Madinah untuk menyambut hijrah Rasul sebagai peristiwa besar. Mengapa Mush’ab yang terpilih, bukan sahabat Rasulullah yang lain? Hal itu tidak lain karena karunia Allah yang dititipkan padanya berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran, dan kesungguhan hati, beliau berhasil melunakkan hati penduduk Madinah hingga berduyun-duyun berislam.

Dalam salah satu episode dakwahnya, Mush’ab didatangi oleh Usaid bin Hudlair, kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah yang menganggap Mush’ab telah mengacau dan membuat anak buahnya ingkar pada Tuhannya. Dengan murka, ia mengusir dan mengancam akan membunuh Mush’ab jika tidak segera meninggalkan tempat tersebut. Tanpa gentar, sahabat Rasulullah ini justru menawarkan Usaid untuk duduk dan mendengarkannya dahulu dengan konsekuensi Mush’ab akan pergi jika Usaid tidak menerima pemaparannya. Usaid bersedia dan mulai mendengarkan. Tak lama, Islam memiliki pejuang baru bernama Usaid. Keislaman Usaid disusul oleh Sa’ad bin Muadz, Sa’ad bin Ubadah dan para pengikut mereka.

Akhirnya Beliaupun Menjemput Syahid di Perang Uhud

Di Perang Uhud, ketidaktaatan pasukan panah umat muslim di celah bukit membuka kesempatan pasukan berkuda Quraisy untuk menyerang dan membalikkan keadaan. Melihat pasukan muslim porak poranda, musuh mengarahkan serangan ke Rasulullah. Melihat situasi genting ini, Mush’ab mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan berupaya menarik perhatian musuh.

Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata, ‘Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.” Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.’”

Demikianlah, sahabat Rasulullah ini telah menjemput syahid dengan gagah berani. Saat peperangan usai, Rasulullah bersama para sahabat meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan salam perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Seorang yang saat di Mekah tak ada yang menandingi kehalusan pakaian dan kerapian rambutnya, kini meninggal dengan rambut yang kusut dan hanya berbalut sehelai kain burdah yang nyaris tak cukup menutupi seluruh badannya.

Apa yang menelusup di dadamu setelah mendengar kisah Mush’ab, Nak? Semoga engkau bisa seperti sahabat Rasulullah yang satu ini. Jadilah anak yang mampu menjadi pasukan terdepan dalam membela agamanya, rela meninggalkan keindahan dan kenikmatan dunia. Insya Allah belajar dari kisah perjuangan sahabat Rasulullah akan menjadi aktivitas harian kita ya, Nak.

abiummi



Sahabat Abi dan Ummi, bagaimana kabarnya? Semoga kita semua selalu berada dalam naungan Allah Swt. Sahabat Abi dan Ummi, coba kita lihat beberapa tahun belakangan ini? Bagaimana kondisi para remaja Indonesia yang nanti akan menjadi pemuda –pemudi Indonesia? Remaja kita banyak yang tawuran, rasa kepedulian kepada sesama sudah berkurang, terlibat narkoba, dan pergaulan bebas.

Kita melihat lebih jauh ke belakang, pada zaman Rasulullah Saw, pemuda-pemuda Islam menyibukkan diri untuk menuntut ilmu dan berjuang di jalan Allah. Ada seorang pemuda yang keberanian dan loyalitasnya dalam berjuang membela agama Allah sangat luar biasa. Beliaulah Tahlah bin Ubaidillah. Dari beliau kita bisa mengetahui karakter para pemuda Islam pada zaman itu sangat mulia. Bagiamana kisah Thalhah bin Ubaidillah?

Thalhah bin Ubaidillah, beliaulah syahid yang berjalan di muka bumi

Ketika perang Uhud, Thalhah bin Ubaidillah menjadi pelindung utama Rasulullah Saw. dari serangan anak panah yang bertubi-tubi membidik Rasulullah Saw. Dengan keberanian, Thalhah bin Ubaidillah melompat dan memeluk Rasulullah dengan tangan kirinya, bersegera menuju bukit untuk menyelamatkan Rasulullah Saw. Tangan kanan Thalhah bin Ubaidillah dengan sigap menghalangi pedang dan anak panah dari kaum musyrikin. Atas izin Allah SWT, Rasulullah Saw. terselamatkan. 

Thalhah bin Ubaidillah kembali ke medan perang untuk melanjutkan perjuangan hingga beliau ditemukan pingsan dengan puluhan tusukan anak panah. Orang-orang mengira beliau telah gugur, namun ternyata ia belum wafat hingga Rasulullah Saw mengatakan “ siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi setelah kematiannya, maka lihatlah Thalhah,” sabda Rasulullah. Hingga saat itu beliau diberi gelar syahid yang berjalan diatas bumi.

Nah, Abi dan Ummi, dari kisah ini, kita dapat mengetahui keberanian dan loyalitas tinggi untuk membela agama Allah dan melindungi Rasulullah telah terpatri pada diri Thalhah bin Ubaidillah. Bagaimana dengan kondisi pemuda kita saat ini? Melihat semakin kacaunya negeri ini, para remaja yang berada di bangku sekolah sibuk dengan tawuran antar sesama pelajar. Tidak ada rasa empati pada diri mereka hingga dengan beraninya menyerang, menyakiti, hingga membunuh teman-temannya atas dasar ‘kesetiaan pada suatu kelompok’. Keberanian dan loyalitas mereka berada pada jalur yang salah. Seharusnya keberanian itu berada di jalur yang postif. Keberanian untuk menunjukkan diri dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. 

Abi dan Ummi, disinilah peran kita sebagai orang tua untuk mengasuh dan mendidik dengan penanaman nilai-nilai kebaikan hingga menjadi suatu kebiasaan yang pada akhiranya terbentuk sebuah karakter mulia pada anak-anak kita.

Bagaimana cara menanamkan karakter berani pada anak kita?

Contoh sederhana, ketika anak ingin bermain cat air. Bagi kita orang dewasa, itu permainan yang dapat membuat baju anak akan kotor sehingga kita melarang anak untuk bermain. Padahal tahukah kita? Itu merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi anak, ia dapat berkreasi dengan berbagai macam warna, menemukan warna-warna baru, atau hanya sekedar bermain coret-coretan. Orang tua seharusnya tidak melarang, namun diarahkan bermain di tempat yang sudah disediakan sebagai wahana coret-coretan. Kebiasaan membangun sikap berani bertindak positif pada anak hingga ank tumbuh dewasa, terkait hal apapun, membuat anak nanti kelaknya akan menjadi orang yang berani mengekpresikan diri dengan prestasi yang dimiliki.

Bagaimana menumbuhkan sikap loyalitas pada anak?

Loyalitas atau kesetiaan biasanya muncul dari rasa cinta. Rasa cinta inilah yang akan kita tumbuhkan pada anak. Cinta pada Allah, cinta pada Rasul, cinta pada orang tua, dan cinta pada sesama makhluk, serta alam sekitar. Rasa cinta dapat tumbuh dari rasa empati. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai empati kepada anak dengan cara sederhana.

Ketika anak bermain dengan temannya. Kemudian temannya sedih karena tidak mempunyai mainan yang sama dengan anak kita. Kita sebagai orang tua yang menyaksikan itu, memberikan pengertian kepada anak kita,

“adek sedih gak kalau gak punya mainan?”,
“Iyaa… tapi adek mau main juga”
“kasihan kan kalau temannya gak punya mainan?”
“iya”
“kalau begitu hal apa yang adek bisa lakukan?”, Abi dan Ummi, kita perlu mengarahkan anak untuk meminjamkan atau bermain bersama. Hal kecil seperti ini ketika orang tua membiasakan kepada anak untuk berempati hingga tumbuh rasa cinta dan loyalitas yang tinggi.

Nah, Abi dan Ummi, dari kisah Thalhah bin Ubaidillah kita mendapatkan karakter berani dan loyal pada diri beliau. Kita pun bisa menanamkan karakter tersebut pada anak kita dengan cara sederhana sesuai dengan zaman dan usia anak dan dimulai sedini mungkin. 

Semoga bermanfaat…



Siswa SMPIT Bina Amal sedang bermain

Ayah Bunda yang berbahagia, kids jaman now beda dengan jaman old. Begitu juga dengan pola didik dan pendekatannya.

Ketika anak lebih menyukai lingkungan yang lebih menyendiri, berarti ada yang perlu di khawatirkan pada anak kita. Karena perkembangan anak butuh bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas.

Sebenarnya tidaklah sepenuhnya anak yang salah. Rasa kekhawatiran yang besar orangtua terhadap lingkungan, kesibukan orangtua yang keduanya bekerja di luar, atau memilih gadget lebih praktis untuk menemani hari-harinya lah yang membuat anak memilih bermain dengan dunianya sendiri ketimbang bersama teman-teman. Maka sesibuk apapun, luangkan waktu bersama buah hati tercinta dan mengajaknya bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Dikala anak bersama teman-teman sebayanya, banyak pelajaran yang ia dapatkan. Berinteraksi dengan sesama, menumbuhkan rasa percaya diri, saling berbagi, bekerjasama dan menambah pengalaman masa kecil yang menyenangkan. Anak jadi mudah bergaul dengan siapa saja.

Tapi bagaimana jika anak terlanjur lebih menyukai gadget daripada bermain dengan temannya? 

Beberapa tips ini dapat dilakukan, antara lain:

1. Ajak bermain di taman yang banyak anak-anak.
2. Dampingi ia bermain.
3. Ajak anak bergabung dengan teman sebaya.
4. Perlahan meninggalkan kebersamaan mereka.
5. Awasi cukup dari jarak yg terjangkau pengawasan orangtua.
6. Jika belum mau ditinggal bersama teman barunya jangan di paksakan.
7. Ulangi keesokan harinya sampai si anak mampu beradaptasi.
8. Dan batasi penggunaan gadget anak pada waktu-waktu tertentu.

Ketika anak yang sudah mulai nyaman beradaptasi dengan temannya, karena pengaruh kesendiriannya biasanya dia cenderung dominan. Untuk itu terus berikan pengertian padanya bahwa kita harus bisa mengalah dan gantian. Agar teman-teman kita tak kapok bermain dengan kita.

Dan jika si anak mengambil mainan teman dengan paksa, sebaiknya si ibu tidak begitu saja memakluminya. Ambil kembali mainan itu dan berikan pada temannya dan beri pengertian pada anak. Jangan dibiasakan si anak mendapatkan apa yang dia mau. Apalagi dengan jalan memaksa. Sama saja kita mengajarinya egois.

Membangkitkan kepercayaan diri pada anak bukan berarti kita membiarkan dia berbuat semaunya. Bagaimana kemudian jika dia menjadi mengamuk atau tantrum? Biasakan beri pengertian anak di rumah apa saja yang boleh dilakukannya dan apa saja yang tak boleh dia lakukan. Beri konsekuensi jika si anak membantah atau melawan. Misalnya, besok tidak diajak main keluar lagi dan gak boleh pegang gadget selama sehari atau seminggu. Dab kita harus konsekuen dengan hukuman yang diterapkan agar efektif. Jika tidak, pasti akan di sepelekan anak karna tahu itu cuma gertakan belaka.

Oke Ayah Bunda, semoga pengalaman diatas bermanfaat untuk kita semua.



Memiliki rasa tertarik, suka, ataupun jatuh cinta adalah hal yang wajar dan dapat dirasakan oleh siapapun tidak terkecuali anak-anak. Anak juga dapat mengalaminya ketika mereka mulai tumbuh dewasa. Mereka mulai merasakan tertarik, suka lalu jatuh cinta kepada lawan jenis. Sang anak pun mulai galau begitu pula dengan orang tua yang mengatasinya. Lalu bagaimanakah cara mengatasi anak yang menyukai lawan jenis? Simak ulasan berikut.

1. Memahami fase pubertas atau perkembangan anak
Sebagai orang tua kita perlu memahami fase pubertas ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak termasuk psikologisnya. Lakukanlah pendekatan kepada anak dengan melihat keadaan psikologisnya.

2. Tetap bersikap waspada dan berilah anak pengertian tentang pacaran
Berikanlah pemahaman bahwa dalam islam tidak mengenal pacaran. Ayah Bunda dapat menjelaskan hal tersebut dengan baik. Tuntun sang anak untuk mengerti dan paham akan hal tersebut. Berikanlah dukungan, perhatian dan selalu waspada serta peka terhadap segala perubahan yang terjadi pada sang anak.

3. Jadilah teman curhat yang menyenagkan bagi sang anak
Ketika sang anak mulai terbuka terhadap perasaan yang dialaminya, kita harus menjadi teman curhat yang menyenangkan baginya. Berilah pengertian dan perhatian serta dengarkan bagaimana pendapat dan keluh-kesah mengenai perasaan yang dirasakannya. Sayyidina Ali radhiyallahu anhu mengajarkan agar mendidik anak sesuai usianya yakni tujuh tahun pertama jadikan anakmu “raja”, tujuh tahun kedua didik dan disiplinkan mereka seperti tentara, dan tujuh tahun ketiga posisikan mereka seperti teman.

4. Jalinlah komunikasi yang baik dan erat
Ketika telah menjadi teman curhat bagi sang anak, tetap jalin hubungan baik tersebut. Jaga komunikasi dengan baik dan erat kepada sang anak. Dengan menjalin komunikasi yang erat dan baik Sahabat Ummi telah memberikan perhatian, kasih sayang dan kewaspadaan kepada sang anak agar dapat memantaunya atas perasaan jatuh cinta yang sedang dimilikinya.

5. Mulailah mengenalkan kriteria jodoh islami
Saat anak jatuh cinta dan membuka dirinya untuk bercerita kepada orang tua adalah suatu keberanian yang luar biasa. Ketika sang anak curhat, sisipkan pesan yang mengenalkannya pada kriteria jodoh. 

Terdapat 3 garis besar kriteria jodoh islami, yakni baik agamanya, berilmu dan baik akhlaknya, serta bertanggung jawab. Ayah Bunda dapat memberikan pemahaman kriteria tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Berikan motivasi dan arahan kepada anak untuk mengikuti kegiatan positif.

Terlepas dari gejolak rasa jatuh cinta yang dirasakan oleh sang anak, Ayah Bunda dapat membimbingnya dan memberikan motivasi serta arahan untuk mengikuti kegiatan yang lebih positif. Hal ini juga berguna bagi sang anak untuk mengoptimalkan waktu yang dimilikinya dibanding galau dengan perasaannya. Selain itu juga memanfaatkan potensi dan usia produktif yang dimiliki sang anak.

republika

 

Senin, 8 Januari 2018 pukul 07.45 WIB bertempat dilapangan basket Ikhwan / Putra SMA IT Bina Amal mengadakan upacara bendera dan Kepala Sekolah sebagai pembina upacara. Acara diikuti seluruh santri dan guru SMA IT Bina Amal Semarang

Setelah upacara sekitar pukul 08.30 WIB para santri tidak langsung menuju kelas masing-masing. Mereka bersiap untuk mengikuti Rihlah keluar sekolah. Tempat acara dibagi dua yakni di pemandian air panas Citra Asri untuk Ikhwan (Putra) dan di Cilosia Bandungan untuk Akhwat (Putri). Santri yang berpartisipasi dalam agenda ini sejumlah 42 Ikhwan dan 60 Akhwat.

Dengan wajah ceria para santri antusias mengikuti games yang disiapkan panitia. Games putra berupa estafet sarung, nampan air ajaib dan di akhir mereka berenang bersama. Sementara untuk Akhwat gamenya berupa pesan berbisik dan estafet tepung. Rangkaian acara berjalan dengan lancar. Tujuan acara Rihlah kali ini adalah untuk menjalin keakraban dan ajang saling memaafkan antar anggota sekolah serta asrama. Hal ini penting agar perjalanan selama satu semester kedepan dapat berjalan dengan lebih baik. (Kis)



Salah satu permasalahan yang dialami orang tua ialah menghadapi anak yang malas sekolah. Anak-anak menganggap bahwa sekolah bukanlah kegiatan yang menyenangkan. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik, harus mengambil tindakan tepat dalam menghadapi permasalahan tersebut. Berikut beberapa tips dalam menghadapi anak yang malas sekolah:

1. Dengarkan Perasaan Si Anak
Ketika menghadapi masalah tersebut, sebaiknya tidak perlu memarahi anak, ajaklah ia bicara dari hati ke hati dan dengarlah isi perasaannya. Anak pasti akan memberikan beberapa alasan. Jika ia beralasan merasa tubuh kurang sehat, kamu harus memahaminya. Kamu harus menggali lebih dalam apa yang sebenarnya ia rasakan saat bersekolah. Dengan mendengarkan perasaan anak, kamu akan menemukan solusi dari permasalahan tersebut.

2. Atur Pola Istirahat
bisa mengatur pola istirahat anak secara teratur agar ia tidak terlalu malam dan esoknya tidak malas pergi ke sekolah. Usahakan durasi tidur anak 8 sampai 9 jam per hari.

3. Latihlah Keterampilan Sosial
Kamu bisa mengajarkan kepada sang anak untuk menyatakan keinginannya kepada teman atau guru, baik menyatakan keinginan dalam bermain, aktif di kelas maupun sesuatu hal yang tidak diinginkan dan tidak disukai. Ingatkanlah si anak untuk selalu melaporkan kejadian kepada guru jika ia mendapat gangguan atau perlakuan tidak menyenangkan dari teman.

4. Bicarakan dengan GuruJika penyebab anak malas sekolah karena faktor lingkungan atau pertemanan di sekolah, bicarakanlah kepada guru. Bicarakanlah mengenai bagaimana keadaan anak di kelas dan pola pertemanannya.

5. Mengatasi Kekerasan di Sekolah
Jika si anak malas sekolah karena adanya perselisihan atau pertengkaran dengan teman, segeralah selesaikan masalah tersebut dengan menemui guru atau kepala sekolah. Kamu tidak perlu menemui anak dan temannya yang bermasalah. Hal ini dapat memperkeruh keadaan si anak.

6. Bantu Anak Dapatkan Teman
Kesulitan mencari teman ialah salah satu alasan anak malas sekolah. Jika sudah seperti itu, dapat membantu mencarikan teman dengan mengadakan pesta kecil di rumah dan mengundang teman-teman kelasnya.

7. Beri Penghargaan
Jika si anak sudah mulai rajin ke sekolah, berilah ia penghargaan, seperti memberikan cemilan, hadiah kecil-kecilan atau mengajaknya pergi ke tempat yang diinginkan. Cara ini bisa membuat anak lebih semangat untuk pergi ke sekolah.

Itulah  tips cerdas dalam menghadapi anak yang malas sekolah. Bagaimana pun juga sebagai orang tua, harus selalu mendukung dan memberikan nasihat kepada anak. Pastikan anak berangkat sekolah dengan perasaan bahagia. Karena jika ia bahagia, pelajaran yang diterima pun akan mudah diterima. 

ummi online



MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget