Latest Post



Ada yang istimewa dari AMT SDIT Bina Amal kali ini. Achievement Motivation Training (AMT) siap menghadapi Ujian Nasional yang biasanya di ikuti oleh siswa, kali ini di ikuti oleh orang tua siswa atau wali. Ya, Bapak dan Ibu orang tua siswa pun ikut AMT siap UN.

Bertempat di auditorium Erlangga Semarang, Sabtu 11 Pebruari 2017 AMT siap UN ini diikuti seluruh orang tua siswa kelas VI SDIT Bina Amal. Acara ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama seputar anak dan sekolah yang di sampaikan oleh Bapak Waimin S.Pd, Ketua Litbang Sekolah Islam Terpadu Bina Amal. Sesi Kedua tentang motivasi mendidik, disampaikan oleh bapak Dimas Anafadli C.NNLP. Seorang motivator keluarga samara sekaligus orang tua wali murid SDIT Bina Amal.

Sesi pertama menjelaskan untuk memberikan bukti cinta secara nyata kepada anak yaitu dengan menjadi fasilitator terbaik, menyiapkan pendidikan yang berdimensi ke depan untuk anak, mendekatkan anak dengan teknologi dan informasi, membangun komunikasi positif dan doa yang panjang untuk anak selepas sholat dan dimalam saat sendiri.

Sesi ke dua diisi dengan pentingnya menjadi orang tua yang sholih, karena kalau ingin anak yang sholih, maka kedua orang tuanya harus sholih terlebih dahulu. Orang tua diajak lebih banyak berdiskusi tentang anak. Apakah anak kita itu sebagai beban atau Anugrah. Apakah anak kita itu banyak memberi atau meminta. Kemudian bagaimana cara kita membentuk karakter anak, apakah dengan cara sering melarang, membentak, memarahi, menuntut atau dengan lembut, sabar , tidak menuntut.

Di akhir sesi kedua, di isi dengan muhasabah, selama ini sudah menjadi orang tua yang sholihkah? Sudah menjadi idola untuk anak kita kah? Sudah menjadi tempat curhat yang terpercayakah untuk anak? 

Dan yang spesial adalah orang tua dipertemukan dengan anak-anak mereka. Mereka dipersilahkan untuk berdiskusi antara anak dan orang tua. Apa harapan anak kepada orang tua dan apa harapan orang tua kepada anak. Mereka kemudian saling berjanji dan saling mendoakan...

Wallahu a’lam bishowab

Galeri Foto























Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa siapa yang tidak baik kepada orang muda maka bukan termasuk golongan kita, dan ajaran terbaik dari orang tua pada anaknya adalah mengajari mereka untuk memiliki akhlak dan karakter yang baik.
Sabda Rasulullah SAW :
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimipin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. (Diriwayatkan oleh : Ibnu Umar)

Hadits di atas mengingatkan kita terhadap amanah yang dipikulkan di pundak kita yaitu amanah untuk mendidik anak. Kenyataan yang banyak ditemui adalah bahwa orangtua dan pendidik lalai terhadap amanah Nya. Tidak jarang anak mendapat perlakuan tidak manusiawi dari orangtuanya hanya karena berbuat salah. Kadang-kadang orangtua atau pendidik lainnya bersikap berlebihan terhadap kesalahan anak bahkan sampai terjadi penganiayaan fisik ataupun penganiyaan verbal .

Sampai di pemahaman ini mungkin banyak dari kita akan merasa ‘diingatkan’ untuk tidak berkiblat kecuali hanya pada Allah yang telah menurunkan Al Quran dan kepada sabda rasulullah dalam Hadits2nya.

Oleh karena itu penting rasanya kita sebagai orangtua dan pendidik mengetahui bagaimana kiat mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang seperti yang selallu dicontohkan oleh “The Living Qur’an” junjungan kita Rasulullah SAW. Buku Pendidikan Anak Dalam Islam oleh Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan tujuh segi dalam mendidik anak yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah :

1. Segi keimanan
• menanamkan prinsip ketauhidan (mengokohkan fondasi iman)
• mencarikan teman yang baik
• memperhatikan kegiatan anak

2. Segi moral
• menanamkan kejujuran (tidak munafik)
• amanah, tidak mencuri, tidak menipu
• menjaga lisan, berakhlak mulia

3. Segi mental dan intelektual
• Melatih kreativitas anak
• mempelajari fardhu ‘ain dan fardhu kifayah
• mempelajari sejarah Islam
• menyenangi bacaan bermutu yang dapat mengingkatkan kualitas diri
• menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal

4. Segi jasmani
mendapatkan nafkah wajib yaitu berupa kebutuhan dasar anak seperti :
• Makanan yang halal dan baik
• Tempat tinggal yang nyaman
• Adanya kepedulian terhadap kesehatan
• Memakai pakaian yang menutup aurat dan layak pakai
• Sarana pendidikan yang sebaik-baiknya

5. Segi psikologis
mengantisipasi gejala psikologis seperti : malu, takut, minder, manja, egois, dan pemarah

6. Segi sosial
• melatih anak untuk menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan
• dibiasakan mengenal etika sosial
• memberikan contoh pelaksanaan akhlaqul karimah

7. Segi spiritual anak
• menanamkan pengertian bahwa Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat 
  setiap gerak-geriknya, mengetahui apa yang dirahasiakan
• menekankah pada kebiasaan untuk khusyu’, beribadah dan bertakwa

Semoga kita diberi hidayah untuk dapat mendidik anak-anak menjadi anak yang sholih dan sholihah...amin

wallahu a'lam bishowab



Ternyata bagi anak usia sekolah, ada hal  yang menakutkan, diantaranya yaitu PR atau tugas sekolah dan pelajaran tertentu.

Kadang jika ada PR atau tugas dari sekolah, ada beberapa anak yang siap dan segera mengerjakan. Namun ada juga yang menjadi gelisah, takut dan akhirnya "rewel" . padahal bisa jadi tugas tersebut adalah tugas yang mudah atau dikumpulkan masih beberapa hari lagi.

Jika anak takut pada mata pelajaran tertentu, maka bisa ditebak kelanjutannya, yaitu anak akan malas menekuni pelajaran tersebut, bahkan sebisa mungkin menghindarinya. Namun, yang paling dikhawatirkan adalah anak akan merasa tertekan.

Apa yang harus dilakukan orangtua? Selain bekerja sama dengan guru, ada beberapa hal yang perlu orangtua lakukan untuk membantu si buah hati mengatasi ketakutannya terhadap mata pelajaran tertentu:

1. Kenali dan hadapi ketakutan yang dialami anak
Ada anak yang suka bercerita semua yang ia alami di sekolah, ada yang tidak tidak. Amati perubahan perilaku anak. Anak yang takut pada pelajaran tertentu biasanya cenderung mengalami perasaan-perasaan tak nyaman yang melibatkan kondisi fisik, seperti: sakit perut, tangan basah berkeringat, pusing. Juga masalah psikis, semisal: panik, takut saat bertemu gurunya, menangis, enggan sekolah.

2. Diskusikan dengan anak secara terbuka dan jujur.
Katakan bahwa setiap orang punya rasa takut, tak apa sesekali merasa takut. Tegaskan bahwa rasa takut itu wajar, tetapi pastikan pada anak bahwa ia akan bisa mengatasi rasa takut itu. Pastikan pula padanya bahwa orangtuanya akan membantunya mengatasi hal tersebut.

3. Cari tahu seperti apa gaya belajar anak.
Ada anak yang sangat visual, auditori, atau kinestetik. Dampingi anak saat mengerjakan PR atau tugas lainnya, lakukan dengan pendekatan yang kita pahami, pakai cara yang paling sesuai dengan kondisi anak.

4. Selipkan pelajaran yang ditakuti dalam rutinitas sehari-hari.
Bukan dengan menyuruhnya belajar-duduk-baca-latihan soal, tetapi lihat dari aktivitas sehari-hari, pasti banyak hal yang bisa menjadi "laboratorium mini" anak.
Contoh:
- Untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam: minta ia menyirami tanaman di halaman, lalu minta ia mencari tahu apa nama tanaman tersebut.
- Untuk pelajaran Bahasa Indonesia: Ajak anak berbelanja ke pasar, minta ia yang mengatakan pada penjual barang apa yang ia hendak beli.
- Untuk pelajaran membaca: Selama perjalanan di mobil, minta anak mengeja dan membaca plang toko-toko yang ia lihat.

Satu hal yang perlu diingat, dalam menjalankan "laboratorium mini", yang paling penting adalah tunjukkan melalui sikap Mama Papa bahwa ketakutan anak terhadap pelajaran bisa diatasi. Selain itu, manfaatkan kecanggihan teknologi dengan menyiapkan aplikasi belajar yang seru di PC/laptop/tablet di rumah.

5. Bisa juga dengan melakukan permainan.
Contoh: permainan monomopi mengajari anak mengenal nilai mata uang dan bagaimana mengelolanya. Atau permainan tradisional seperti congklak dan bola bekel bisa menyenangkan untuk belajar berhitung.

6. Cara lainnya, meski mengirim surat tak begitu populer. 
Tapi cara ini bisa membantu anak belajar mengatasi rasa takutnya saat mengerjakan tugas mengarang. Minta anak menuliskan surat untuk kakek/nenek/paman/saudara sepupu, biarkan ia menulis apa yang ingin diceritakan.

Ayah, bunda...demikian beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu buah hati kita. Sebisa mungkin sebelum tidur, ajak anak berdialog tentang apa saja pengalamannya di sekolah, kemudian bertanyalah, apakah ada tugas dari bapak ibu guru hari ini.




Mendididik anak tanpa membentak...? Mungkin ga ya...pasti susah, pasti sulit nih...!!!

Tahukah ayah, bunda beberapa literatur dan artikel anak mengungkapkan bahwa bahaya membentak anak sangat berefek negatif pada keadaan psikologisnya, mereka akan merasa tertekan dan terus memendam rasa tertekannya tersebut. Selain berpengaruh buruk terhadap psikologisnya, membentak juga akan membuat renggang ikatan batin antara orangtua dengan anak, bahkan bentakan tidak akan mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Anak yang berusia di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak, sifat pasif mereka inilah yang menjadi alasan tidak bisa diukur seberapa besarnya dampak yang terjadi terhadap psikologis anak akibat dibentak.

Anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengarnya, seorang anak yang dibentak dan diomeli atau dimarahi dengan berteriak cenderung akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, gampang tersinggung, cepat marah, bahkan mungkin akan menganggap sah-sah saja berkomunikasi menggunakan bentakan, omelan dan kemarahan kepada orang-orang di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Banyak faktor yang menjadi penyebab orangtua paling sering melakukan kesalahan dalam mendidik anaknya, salah satunya mengabaikan faktor-faktor penting dalam teknik berkomunikasi yang akhirnya menganggap seolah-olah anaknya seperti anak nakal yang tidak mau mendengarkan perkataan orangtuanya. Lalu apa saja faktor-faktor penting dan cara mendidik anak yang baik tersebut? Berikut di antaranya:

Faktor komunikasi dua arah.

Pastikan bahwa saat Anda berbicara dengan sang anak, Anda benar-benar menatap matanya, begitupula dengan mereka. Hindari berbicara saat salah satu dari Anda atau keduanya saling melakukan aktivitas lain seperti, mengajak bicara anak tetapi Anda malah sambil bermain gadget, atau sebaliknya. Hentikan semua aktivitas apapun saat Anda berusaha untuk berbicara dengan mereka. Pegang kedua tangannya lalu minta mereka untuk berdiri menghadap Anda atau duduk di hadapan Anda saat ingin berbicara dengan mereka, pastikan mereka terpusat perhatiannya pada Anda yang hendak berbicara. Setelah mereka terpusat perhatiannya, mulai ajak bicara dengan lembut. Contoh: “sayang, ibu mau berbicara sebentar. Dengarkan baik-baik ya…” (sambil tetap memegang tangannya).

Faktor kesepakatan bersama.

Buat aturan main yang jelas serta konsekuensinya saat anak sudah tepat untuk dikenalkan dengan sebab dan akibat. Anak di atas 5 tahun harus sudah dikenalkan dengan konsekuensi, mulailah dengan hal-hal yang sepele dan ringan agar mereka merasa tidak berat dalam menjalaninya. Misalnya, saat mereka bermain berikan aturan yang jelas untuk membereskan mainannya jika mereka telah selesai menggunakannya. Jika mereka tidak melakukannya, berikan konsekuensi untuk dikurangi jatah jam menonton TV dan lain sebagainya. Pastikan ada tekanan konsistensi waktu dimulai dan sampai kapan konsekuensi tersebut akan dihentikan. Misal, “Jika kamu tetap tidak membereskan mainannya sendiri, mulai hari ini dan seterusnya kamu hanya boleh menonton TV selama 2 jam dalam sehari.” Dan beritahu sanksi yang akan mereka jalani jika melanggar kesapakatan tersebut.

Gunakan suara datar dan bahasa yang mudah dimengerti.

Sebisa mungkin, berkomunikasilah dengan suara yang lemah lembut tanpa berteriak dan disertai bentakan seperti cara mendidik anak secara islami meskipun Anda dalam kondisi kesal dan marah karena keteledoran sang anak. Ingatlah bahwa mereka masih belum mengetahui apapun di dunia ini, mereka adalah makhluk baru yang serba ingin tahu, cobalah untuk mengarahkannya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tenangkan diri jika Anda merasa kesal dan marah agar anak-anak tak menjadi sasaran kemarahan.

Gunakan kekuatan bisikan.

Saat semua yang telah dilakukan terasa tidak mempan untuk memberitahu anak mengenai apa yang telah dilakukannya, jurus terakhir adalah dengan menggunakan jurus “bisikan”. Misalnya dengan membisikkan perihal kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, “Kakak sayang, masih mau nonton TV kan? Mama ingatkan Kakak ya, kalau besok Kakak masih mau nonton TV mainannya segera dibereskan jika sudah selesai.” Jika sang anak tetap tidak mengindahkan usaha Anda dan melakukan pelanggaran secara kontinyu maka sudah tidak perlu banyak bicara lagi, lakukan tindakan yang riil. Contohnya dengan mengamankan TV agar mereka tidak bisa lagi menonton TV saat itu, hal ini perlu dilakukan untuk menunjukkan sikap tegas dan konsisten Anda sebagai orangtua dalam mendidiknya.

Anak memiliki sifat "peniru" terhadap orang tua, guru, teman atau masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu dalam pembentukan karakter dalam usia dini, kita harus berhati-hati.

Memberi contoh yang baik agar anak dapat meniru hal-hal yang positif merupakan sesuatu yang sulit. Bahkan tanpa sadari, kita membawa dampak negatif. Misalnya kita membentak anak saat melakukan kesalahan. Jika sering dilakukan maka anak akan memiliki sifat pemarah.

Sebisa mungkin berkomunikasilah dengan suara yang lemah lembut tanpa berteriak dan disertai bentakan, bagaimanapun anak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga melakukan kesalahan. Cobalah untuk mengarahkannya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tenangkan diri jika kita merasa kesal dan marah agar anak tak menjadi sasaran kemarahan.



MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget