Maret 2016

Sekolah memang penting, tapi sekolah bukan satu-satunya tempat untuk anak memeroleh pendidikan. Di luar sekolah ada tempat-tempat yang bisa meningkatkan pendidikan anak. Inilah cara meningkatkan pendidikan anak di luar sekolah

Kenalkan pada perpustakaan umum
Perpustakaan umum adalah sumber ilmu paling berharga yang menyediakan pendidikan gratis melalui koleksi buku atau arsip. Perpustakaan adalah jembatan untuk mendapatkan informasi dan topik menarik. Di perpustakaan umum semuanya tersedia dab siap dibagikan kepada anak. Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membimbing anak pada ilmu pengetahuan.

Jelajahi dunia di setiap kesempatan
Ketika Anda bepergian dengan anak-anak—apakah itu perjalanan sehari atau liburan selama seminggu—mereka dapat belajar banyak tentang dunia. Anda dapat mengajarkan anak tentang sejarah, geografi, keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat. Cara Anda melakukan perjalanan bersama keluarga dapat memicu rasa ingin tahu anak.

Pendidikan setiap hari
Kegiatan sehari-hari dapat membuka pintu untuk pelajaran baru yang menarik. Misalnya, memanggang kue dapat mempraktikan ilmu matematika, fisika, dan gizi. Menonton pertandingan olahraga dapat mengajarkan statistik, sejarah, dan kerja sama tim.

Kenalkan kepada Kebudayaan
Kenalkan anak-anak pada sesuatu yang bersifat artistik dan sosial sebanyak mungkin. Museum, kebun binatang, situs sejarah, dan acara budaya seperti drama, opera, balet, dan konser adalah cara yang bagus untuk mengajar dan menghibur anak. Sering kali, anak-anak menemukan petualangan lebih menyenangkan daripada duduk di meja kelas. Plus, mereka dapat memerluas wawasan dan mungkin membangkitkan hobi dan passion.


Mendidik anak di zaman sekarang memiliki tantangan sendiri. Apalagi teknologi semakin maju sehingga anak dapat mencari informasi dan budaya yang tidak sesuai dengan Islam. Bahkan tontonan di televisi banyak yang tidak layak untuk anak.

Bina Amal menyadari anak merupakan aset bangsa dan agama. Menyiapkan generasi muda yang mencintai Al-Qur'an tidaklah muda. Tapi kita sadari. peran guru dan orang tua menjadi pendorong cita-cita tersebut dapat terlaksana.

Karena Al-Qur'an merupakan pedoman hidup manusia. Oleh karena itu mempelajari dan mengamalkannya menjadi penting. Serta membacanya di sela-sela kegiatan atau kesibukan. Dimanapun dan kapappun.

ACHIEVEMENT MOTIVATION TRAINING (AMT)
SUKSES UN 2016
SMP IT BINA AMAL

Lomba Mencari Koin
Ini dia salah satu agenda Sukses UN 2016 yang dinanti-nanti siswa kelas 9, AMT yang dilaksanakan di Curug 7 Bidadari, Sumowono, akhir bulan Januari 2016 kemarin. Untuk mencapai kesuksesan dalam UN, bukan hanya diperlukan belajar giat, tetapi juga kerjasama, militansi, dan kekompakan antara siswa kelas 9. Kegiatan yang diikuti 100 siswa ini penuh dengan kegiatan yang membutuhkan kerjasama dan kekompakan, seperti lomba memasak, lomba mencari koin, lomba jaring laba-laba, lomba estafet air, dll. Khusus untuk memasak, kegiatan yang dilakukan selama 2 hari satu malam ini mereka selalu memasak untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. 
Selain lomba fisik, di malam harinya juga diadakan sholat malam dan muhasabah untuk lebih melunakkan hati-hati dan semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, Rabb Semesta Alam. Harapannya, setelah mengikuti AMT, fisik mereka semakin prima, pribadi menjadi lebih sholih, di antara siswa semakin kompak sehingga bisa bersama-sama mencapai kesuksesan dalam UN 2016 ini.

Puncak tema merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan Bina Amal baik TK, SD maupun SMP. Puncak tema dilaksanakan untuk mengokohkan tema-tema terdahulu. Selain itu juga perlu melakukan pengaitan tema sebelumnya dengan tema yang akan datang.

Puncak tema dilakukan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Pilihan kegiatan disesuaikan dengan usia siswa. Agenda puncak tema termasuk kegiatan favorit siswa. Belajar tidak selamanya dikelas dan sekedar teori. 

Contohnya siswa SMP Bina Amal diajarkan dapat berwirausaha. Siswa di ajak untuk belajar memilih bahan secara langsung di pasar dan mengelolanya. Tidak hanya sampai, siswa menjajakan jualannya secara langsung.

 ASYIKNYA PROGRAM SUKSES UN
SMP IT BINA AMAL

Membuat wingko babad

Bagi banyak siswa, bulan-bulan menjelang Ujian Nasional sangatlah membuat stress, bukan hanya karena suasana hati deg-degan menjelang pelaksanaan UN, tetapi karena program yang padat seperti jam ke-0, bimbingan belajar, les privat maupun pemadatan mapel UN. Namun tidak demikian halnya dengan siswa SMP IT Bina Amal. Selain program jam ke0, bimbingan belajar, dan pemadatan, pihak sekolah juga mengadakan kegiatan-kegiatan lain yang seru, membuat fresh, tetapi tetap dengan tujuan tertentu. Seperti kegiatan yang telah dilaksanakan Selasa, 23 Februari yang lalu. Siswa kelas 9 mengadakan Puncak tema dengan agenda utama memasak. Selain untuk refreshing, kegiatan memasak ini bertujuan meningkatkan kerjasama dan ukhuwah di antara siswa. Kerjasama ini penting karena untuk mencapai sukses UN, tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri melainkan kerjasama di antara siswa, guru, dan orangtua.

Kegiatan memasak ini dibagi dua kelompok, kelompok putra dan putri. Kelompok putra bertempat di rumah orangtua dari siswa yang bernama Abu Bakar Ash Shidiq. Anak putra memasak jagung bakar, pisang bakar, es buah, dan rujak. Kegiatan memasak anak putra ditutup dengan makan siang bersama-sama Ayam Penyet Surabaya, kebetulan tuan rumah adalah pemilik Ayam Bakar Wong Solo dan  Ayam Penyet Surabaya yang terkenal dengan citarasa masakannya yang luarbiasa itu.

Kelompok putri bertempat di rumah Nusaibah Latifah Ahmad. Anak putri memasak wingko babad dan membuat rujak. Kegiatan memasak dilanjutkan taujih tentang perjuangan untuk mencapai kesuksesan yang diambil dari sejarah Umar Bin Khatab dan ditutup dengan makan siang bersama. Semua siswa terlihat bergembira dan siap untuk menyongsong perjuangan untuk menggapai hasil UN maksimal. (DE)

Galeri Foto:



Hasil masakan siap dinikmati

Makan rujak yang maknyusss

Makan siang Ayam Penyet Surabaya

Menikmati hasil kreasinya, Wingko Babad dan Rujak yang sedaaaap

Wajah-wajah ceria siap menyingsong UN

Bakar-bakar jagung

Sebagai orang tua kita akan prihatin dengan kondisi masyarakat. Karena bagaimanapun anak akan berinteraksi dengan orang lain yang berbeda latar belakang. Kondisi ini bisa membawa dampak positif maupun negatif bagi perkembangan anak.

Bagaimanapun kita tidak akan mengekang anak agar dirumah saja. Membatasi pertemanan di lingkunggannya agar anak tidak salah jalan. Ini akan memicu anak akan minder, malu bahkan memberontak.

Ketakutan- ketakutan yang berkecamuk di hati orang tua sangatlah wajar. Cara menanganinya yaitu bentengin anak kita dengan agama. Agama menjadi penghalang untuk anak untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang.

Bina Amal mendidik siswanya agar siap menghadapi tantangan ini. Sesungguhnya Islam memerlukan generasi yang berpendidikan dengan akhlak yang baik. Bisa jadi di lingkungan sekolah terjaga, tetapi anak terpengaruh oleh pertemanan di lingkungan rumahnya atau tontonan acara tv.

Disinilah letak peran orangtua untuk mengontrol. Mengontrol bukan berarti mengikat. Kerjasama guru dan orang tua dapat menjaga generasi muda Indonesia untuk tetap di koridor sesuai ajaran agama Islam.

Agar anak tidak mendapatkan efek negatif dari menonton TV dan video games, ini rambu-rambunya

1. Buat pembatasan waktu, yakni:
- Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh menonton atau main games yang ada di layar, termasuk iPad, tablet, dll.

- Usia 2 - 6 tahun: Diperbolehkan sampai 1 jam, tapi dipecah-pecah. Misalnya, 15 - 30 menit menonton atau main, lalu istirahat. Setelah itu, baru main lagi.

- Di atas usia itu: Maksimal 3 jam. Sebaiknya, dipecah-pecah sebab anak butuh melakukan hal lain dan beraktivitas fisik.

2. Pembatasan konten. Larang anak menonton tayangan mengandung unsur HOROR, SEKSUAL dan PORNOGRAFI. Pilih tayangan dan video games yang bermanfaat dan mendidik bagi anak.

3. Jebakan kekerasan selalu ada, meski dalam tayangan film kartun. Jebakan ini bisa berupa perilaku atau kata-kata yang tak sopan. Bisa juga, sesuatu yang belum dimengerti anak karena usianya. Jadi, pendampingan orang tua sangat diperlukan.

4. Bagaimana jika mama dan papa bekerja? Tetap sempatkan waktu untuk sesekali menonton. Atau, Mama merekam film kesukaan anak, lalu melihatnya dulu. Jika ada unsur kekerasan, laranglah menonton. Cobalah menggali topik-topik kekerasan yang umum dialami dan akibatnya di dunia nyata.

5. Berikan kegiatan dan fasilitas pengalih untuk mengalirkan energi anak. Mungkin saja, anak belum tahu apa yang bisa dilakukannya. Fasilitas ini tak harus barang, tapi bisa berupa taman, sepeda, atau teman untuk bermain. 

6. Jika anak sudah terlanjur terpapar? Mau tak mau orang tua harus berupaya mengembalikan anak kembali ke track-nya. Secara konsisten, tegaskan pada anak bahwa perilaku dia tidak benar. Selanjutnya, dampingi secara intensif.

Saat menonton, tanyakan: Menurut dia, apakah perilaku itu pantas dilakukan atau tidak? Apa akibatnya? Dan seterusnya. Diskusi semacam ini bisa mendewasakan anak sekaligus mendengar pandangannya, yang kadang-kadang bisa di luar dugaan. Cara ini untuk anak yang usianya lebih besar, ya. 

7. Untuk pembatasan menonton TV dan main video games, terutama untuk usia anak yang lebih besar, bisa juga dengan cara menunjukkan hak dan kewajibannya. Misalnya, ia boleh main games setelah belajar, membuat PR, dan membereskan barang-barangnya untuk sekolah.

Jika sudah beres, buat perjanjian hingga jam berapa ia boleh bermain. Tegas, konsisten, tapi tetap ramah, ya. Aturan pembatasan ini jangan mundur atau batal hanya karena rengekan anak.

8. Kenalkan anak pada aktivitas yang real, seperti berenang, bermain bola, sepeda, bulutangkis, berenang, permainan tradisional (petak umpet, gobak sodor, dll), ballet, dll.

Saat anak mengalami trauma terhadap suatu hal, mungkin beberapa orang tua akan bingung  memikirkan bagaimana cara untuk mengatasinya. Jangan khawatir, berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma yang dialami oleh anak.

1.Perbolehkan anak untuk mengekspresikan kesedihannya lewat permainan, seperti boneka atau koleksi robotnya.

Mungkin saja, tema yang menyebabkan trauma pada dirinya akan mengisi permainannya. Misalnya, hal yang menyebabkan anak trauma adalah kematian salah satu keluarga. Saat bermain mungkin anak akan menjadikan salah satu bonekanya mati.

Ini wajar saja sebagai bagian dari proses usaha menerima kematian. Dalam permainan itu, ia juga bisa diingatkan untuk memperhatikan dan menjalin hubungan lebih baik dengan mereka yang masih hidup. Dengan begitu, anak tak terus berduka.

2. Anak tak harus dibawa ke psikolog.

Anak yang mengalami trauma tak selalu harus dibawa ke psikolog. Namun, jika ia terus-menerus menunjukkan hal negatif berlebihan lebih dari 2 minggu berturut-turut tanpa memperlihatkan perubahan ke arah positif ada baiknya dipertimbangkan mengajaknya berkonsultasi ke psikolog anak.

Selain itu, Kita bisa kembali mengingatkannya bahwa orang yang telah meninggal tak akan kembali bermain bersamanya. Kita juga bisa memberi contoh ketika menemukan ada binatang atau tumbuhan yang mati.

Jelaskan pula bahwa kita biasanya menyebut binatang atau tumbuhan mati, sementara pada manusia kita sebut meninggal. Itu artinya sama, kok. Yang penting,  anak mampu memahami kematian lewat apa yang terjadi pada binatang dan tumbuhan.

Anak Anda yang agak penakut sewaktu masih kecil kini sangat aktif dan pemberani. Bahkan ia menyukai kegiatan-kegiatan outdoor yang ekstrem, seperti teman-temannya yang lebih besar.

Lingkungan berpengaruh besar bagi si praremaja. Bila kebetulan ia berada di lingkungan yang mendukung, ia akan tertantang mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah atau tidak berani ia lakukan sebelumnya. Selama yang ia lakukan bukan sesuatu yang negatif, berikan ia dukungan. Jiwa mudanya yang penuh semangat memerlukan penyaluran yang positif. Yang penting, mintalah anak memerhatikan hal-hal berikut:

> Pastikan yang ia lakukan sudah memenuhi standar keamanan yang disyaratkan oleh kegiatan/olahraga tersebut.

> Jangan ambil risiko dengan mengizinkan ia melakukan tantangan yang tidak bijaksana, seperti kebut-kebutan dengan motor di jalan raya. Meski memacu adrenalin, risiko yang menanti bisa
fatal, lho.

> Ingatkan ia untuk tidak melalaikan pelajaran dan tugas sekolah. Berani menghadapi tantangan memang membanggakan, tapi meraih prestasi di sekolah juga penting. Dengan dukungan Anda, ia akan mampu melewati masa-masa yang rentan dan penuh gejolak ini dengan baik.
Sumber : parenting.co.id

Setiap siswa kelas 3-5 SDIT Bina Amal wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang di adakan oleh sekolah. Berbagai jenis kegiatan ekstrakurikuler yang ada yaitu pramuka, tahfidz, rebana, qiroah, musik, teater, lukis, sastra, taekwondo, futsal, bulutangkis, robotik, sains/KIA, bahasa inggris dan bahasa arab.

Kegiatan ekstraurikuler diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang diminati siswa untu memperoleh pengetahuan dan pengalaman terhadap berbagai mata pelajaran yang pada suatu saat nanti bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari

Secara khusus kegiatan ektrakurikuler bertujuan untuk :
  1. Menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa didik untuk mengembangkan potensi, bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan masyarakat.
  2. Memandu (artinya mengidentifikasi dan membina) dan memupuk (artinya mengembangkan dan meningkatkan) potensi-potensi siswa secara utuh.
  3. Pengembangan aspek afektif (nilai moral dan sosial) dan psikomotor (ketrampilan) untuk menyeimbangkan aspek kognitif siswa.
  4. Membantu siswa dalam pengembangan minatnya, juga membantu siswa agar mempunyai semangat baru untuk lebih giat belajar serta menanamkan rasa tanggungjawabnya sebagai seorang manusia yang mandiri (karena dilakukan diluar jam pelajaran).


SD IT Bina Amal Semarang mengadakan Seminar Smart Parenting dengan tema " Menyiapkan Anak di Masa Pubertas " bersama psikolog Nurina, S.Psi., CHA., CGA.

Seminar diadakan pada Sabtu, 19 Maret 2016 dengan peserta merupakan wali murid siswa. Secara umum, seminar berlangsung dengan lancar. Dari sambutan Damar Warsihanto, S.Sos (Ketua MS SDIT Bina Amal) dan  Eko Suryanto, SP.d (Kepala SDIT Bina Amal). Dilanjutkan penyampaian materi dan diskusi. Orang tua juga aktif  berpatisipasi dalam tanya jawab.

Diharapkan dari seminar ini, orang tua memiliki gambaran dan wawasan terkait masa pubertas anak. Usia anak SD yaitu 7-13 tahun merupakan masa-masa peralihan ke remaja. Usia yang rentan karena rasa ingin tahu yang besar dan bersamaan ditandai transisi fisik dari masa kanak-kanak ke remaja. Masa pubertas dibagi dalam 3 kategori masa, masa pra-pubertas (dari 11 - 14 tahun), masa pubertas (14-16 tahun) dan masa pasca-pubertas (16-18 tahun dan bisa panjang berlangsung sampai 24 tahun).

Pada umumnya pengaruh masa pubertas lebih banyak pada anak perempuan daripada laki-laki, sebagian disebabkan karena anak perempuan biasanya lebih cepat matang daripada laki-laki dan sebagian karena banyak hambatan-hambatan sosial.

Komunikasi yang efektif wajib diterapkan oleh orangtua dalam menghadapi masa pubertas anaknya. Untuk itu orangtua juga perlu memperbanyak pengetahuan dengan membaca informasi tentang perkembangan remaja. Orang tua harus memiliki formula yang tepat menghadapi anak di masa pubertasnya. Dan yang paling utama adalah bekal ilmu agama yang membentengi anak dari hal-hal yang dilarang agama.







Anak memerlukan pendidikan fisik dan pembinaan karakter, bukan pendidikan kognitif. Pendidikan fisik diberikan melalui kesempatan untuk bermain. Oleh karena itu pendidikan TK memiliki perbedaan mendasar dengan pendidikan SD.

TK Bina Amal menerapkan sistem belajar bermain sambil belajar melalui 6 sentra bermain bebas. Pola belajar berpindah (Moving Class) dengan mengembangkan pembelajaran aktif, kreatif, atraktif, inovatif, menyenangkan dan bermanfaat yang bertujuan menstimulasi tumbuhnya kecerdasan jamak dengan waktu belajar 5 hari belajar.

Sentra Pendidikan Bina Amal yang menunjang pendidikan anak anatara lain
  1. Sentra Balok
  2. Sentra Bahan Alam dan Benda Cair
  3. Sentra Bermain Peran
  4. Sentra Persiapan
  5. Sentra Kreatifitas
  6. Sentra Ibadah



Bina Amal tidak hanya unggul dalam proses belajar mengajar dengan program-program untuk mencapai visi misi sekolah. Bina Amal menyediakan fasilitas bermain untuk anak.

Karena pada dasarnya usia KB dan TK yaitu usia bermain. Dengan permainan dapat penyesuain diri yang membantu anak dalam menguasai konflik dan cemas. Bahkan permainan dapat membantu anak mengalami perkembangan kognitif. Permainan anak dan usia anak harus mengalami keseimbangan dalam pemilihan permainan yang tepat. Semakin usianya bertambah maka keterampilan permainan dapat semakin rumit. Dan intinya bermain anak dapat bersosialisasi dengan lingkungannya dan mengatasi ketakutannya.

Sebagai siswa siswi berasrama yang jauh dari orangtua menjadikan kesibukan hal terpenting untuk menghilangkan rasa rindu. Salah satunya bercocok tanam. Memanfaatkan lahan dengan menanam berbagai jenis tanaman.

Merawat tanaman bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan ketelatenan. Dari penyiraman, pemupukan, tanaman harus sehat, pemangkasan serta repotting. Jika tidak telaten merawat tanaman bisa mati karena kehabisan air atau kena hama.

Dengan menamam tanaman kita belajar mencintai lingkungan sekitar. Sehingga dilatih tidak membuang sampah sembarangan, tidak membakar hutan bahkan belajar membuat pupuk alami.

Dengan belajar sederhana kita mencapai sesuatu yang besar. Inilah tujuan mengajarkan siswa siswi belajar bercocok tanam.


Kegiatan upacara bendera di sekolah melatih anak untuk belajar disiplin, seperti dalam hal tepat waktu mengikuti upacara, teratur ketika berbaris. Selain itu, kepatuhan akan aturan juga dilatih melalui upacara bendera.

Manfaat positif lainnya, anak distimulus untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Ketika upacara tentu ada ketua kelas yang mengatur barisan, tim pengibar bendera, pamandu lagu dan juga pemimpin upacara. Di saat itulah anak melihat contoh dari kepimpinan yang bisa ditiru.

DAmapk positih bagi siswa secara keseluruhannya yaitu para peserta upacara selalu diingatkan tentang jasa-jasa para pahlawan. Bahwa para pahlawan dulu berjuang dengan penuh pengorbanan demi memperoleh kemerdekaan Indonesia. Hal itulah yang kemudian menjadi tanggung jawab bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperoleh ini dengan hal-hal yang positif.

Anak-anak memiliki konsentrasi yang tinggi. Mampu menyerap ilmu dengan cepat. Hal yang paling penting adalah guru mampu menarik minat anak untuk tetap fokus. Proses belajar mengajar yang menyenangkan akan membuat anak menjadi fokus.

Masalah konsentrasi pada anak dapat diindikasikan bila perhatian mereka mudah pecah dan teralih. Anak mengalami kesulitan untuk fokus dalam menyimak satu hal.

Anak perlu distimulasi untuk mempertahankan fokusnya. Anak perlu dibiasakan untuk mengerjakan satu hal terlebih dahulu, baru berpindah ke kegiatan yang lain. Misalnya ketika bermain lego, anak akan membuat bentuk mobil. Maka ia perlu menyelesaikan mobilnya terlebih dahulu sebelum berpindah ke bentuk yang lain.

Bina Amal berkomitmen untuk menjada asupan siswa selama sekolah. Oleh karena itu, Bina Amal menyediakan kantin sehat. Kantin sekolah sehat yang dilansir dari  parenting.co.id memiliki syarat sebagai berikut:
  • Ada persediaan air bersih untuk mengolah makanan, mencuci tangan dan mencuci peralatan makan.
  • Mempunyai tempat penyimpanan bahan makanan dan peralatan makan yang bebas dari serangga dan hewan pengerat.
  • Ada tempat khusus penyimpanan bahan bukan pangan (sabun cuci piring, cairan anti serangga) yang terpisah dari tempat penyimpanan bahan pangan.
  • Tempat yang bersih dan tertutup untuk pengolahan dan persiapan penyajian makanan. Kasir berada di tempat khusus, minimal orang yang bertugas di kasir tidak bertugas menyiapkan makanan karena kuman penyakit dapat tersebar ke makanan melalui tangan yang habis memegang uang.
  • Mempunyai tempat pembuangan sampah padat, cair dan gas.
  • Pastikan juga jajanan kemasan yang dijual di kantin belum kadaluarsa dan sudah lolos sertifikasi BPOM.

Ponsel tidak terlepas pada orang dewasa maupun anak-anak. Tetapi sebagai orang tua kita harus bijak mengatasi permasalahan ini. Beberapa tips bagi orang tua yang dilansir dari merdeka.com dapat menjadi panduan bagi kita untuk mengawasi anak dalam penggunaan ponsel.

Tidak ada ponsel berkamera
Penyalahgunaan ponsel sering terjadi pada anak. Jadi, jangan pernah memberikan ponsel berkamera kepada anak Anda. Jika anak tertarik pada fotografi, belikan dia kamera betulan bukan ponsel berkamera.
 
 Non-aktifkan internet di tab
Anak boleh memegang tablet setelah Anda menonaktifkan internet. Penggunaan internet yang terlalu dini bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.

Melacak penggunaan internet
Anda dapat memblokir situs-situs dewasa dengan menggunakan sistem Walling di koneksi Internet Anda. Pastikan Anda juga selalu melacak penggunaan internet anak.

Batasi waktu bermain
Banyak anak mulai kecanduan game online atau video games. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain di depan layar komputer, ponsel, maupun TV. Maka, sebaiknya batasi kebiasaan buruk itu pada anak. Jangan sampai anak kehilangan waktu bersosialisasinya di luar.

Bermain sambil belajar
Alih-alih membiarkan anak terus bermain, Anda bisa mengarahkannya untuk bermain sambil belajar. Pilih game yang bisa melatih kecerdasan dan ketajaman otak, sehingga anak bisa belajar.






Mas Kariim sedang mengelus kepala kuda

Beberapa siswa melintasi jembatan kampung Jepang

Siswa belajar memberi makan kambing

Beberapa siswa bercakap-kacap dengan kuda
Belajar tidak selalu di dalam kelas. Belajar bisa dilakukan di luar kelas. Seperti itulah yang dilakukan siswa kelas 1 Salman dan Usamah SDIT Bina Amal. Siswa belajar sambil bermain di lembah Kalipancur, Senin (07/03).


Siswa merasa lebih senang dan seru. Mereka bisa menyaksikan secara langsung benda-benda alam yang hidup dan mati. Siswa bisa melihat aneka binatang sepert ikan, rusa, kambing, angsa, kalkun, kuda, dan tumbuhan yang hidup di air dan daratan. Ada ikan yang berenang di air, rusa yang sedang makan rumput, tumbuhan jambu yang sudah berbuah, dan bunga yang mekar.
Selain pengamatan hewan dan tumbuhan yang lebih jelas, mereka juga bisa menemukan hal-hal baru seperti melihat anak ular yang berenang di air kolam.  berdasarkan penemuan itu muncul pertanyaan dari beberapa siswa. Kenapa ular tidak punya sirip bisa berenang di air, apa yang dilakukan anak ular itu, apakah anak ular itu sendang mencari induknya?
Pertanyaan seperti itu akan sulit terungkap manakala siswa belajar di kelas dan hanya melihat buku teks tanpa melihat langsung aslinya. Tidak hanya sikap ilmiah yang akan muncul pada siswa tetapi juga keberanian. Beberapa siswa berlatih memberikan makan pada hewan dan menyentuh hewan secara langsung. Bahkan ada yang mengajak berbicara seolah-olah paham dengan bahasa binatang.
Banyak hal yang ditemukan saat belajar di luar kelas. Siswa bisa bermain sambil belajar. Bisa juga refreshing dan aktif seru seruan dalam permainan. Tidak salah lagi jika pembelajaran di luar kelas adalah kegiatan yang sudah diagendakan SDIT Bina Amal tiap semester. Kegiatan itu sering disebut puncak tema. Dalam satu semester ada tiga puncak tema. Seperti yang dilakukan kelas 1 Salman dan Usamah ke lembah kalipancur dalam rangka puncak tema lingkungan di semester genap tahun pelajaran 2015/2016. (Bu Samsi)

Anak memiliki kemampuan kreativitas yang tinggi. Kita berkewajiban mendorong anak untuk mau mengeksplorasinya.

Rasa percaya diri adalah hal pertama yang harus dimiliki supaya anak dapat berpikir dan kreatif. Bila ia malu-malu dan tidak percaya diri, ia tidak berani mengekspresikan diri di luar kebiasaan yang dilihat sehari-hari.

Oleh karena itu untuk membangkitkan rasa percaya dirinya, hasil karya seni anak perlu mendapatkan apresiasi dari semua pihak, sehingga mereka semakin bersemangat untuk menghasilkan atau menciptakan karya-karya seni yang lebih baik. Jadi jangan remehkan hasil karya siswa dan berilah pujian.

Siswa memiliki pemahaman yang sederhana di usia mereka menginjak remaja. Cita-cita merupakan wujud dalam bentuk perasaan muncul karena kekaguman misalnya dokter hebat yaa atau keren loh jadi polisi.

Mereka dapat mengartikan tujuan dari profesi secara umum dokter menyembuhkan orang sakit dan polisi menjaga keamanan.

Dengan siswa memilih salah satu profesi menjadi cita-citanya, siswa belajar menoropong masa depannya. Karena dengan memilih menjadi dokter, siswa memiliki harapan di masa depannya membantu masyarakat yang sedang sakit, seperti juga dengan profesi lainnya.

Saat anak mengalami trauma terhadap suatu hal, mungkin beberapa orang tua akan bingung  memikirkan bagaimana cara untuk mengatasinya. Jangan khawatir, berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma yang dialami oleh anak.

1.Perbolehkan anak untuk mengekspresikan kesedihannya lewat permainan, seperti boneka atau koleksi robotnya.

Mungkin saja, tema yang menyebabkan trauma pada dirinya akan mengisi permainannya. Misalnya, hal yang menyebabkan anak trauma adalah kematian salah satu keluarga. Saat bermain mungkin anak akan menjadikan salah satu bonekanya mati.

Ini wajar saja sebagai bagian dari proses usaha menerima kematian. Dalam permainan itu, ia juga bisa diingatkan untuk memperhatikan dan menjalin hubungan lebih baik dengan mereka yang masih hidup. Dengan begitu, anak tak terus berduka.

2. Anak tak harus dibawa ke psikolog.

Anak yang mengalami trauma tak selalu harus dibawa ke psikolog. Namun, jika ia terus-menerus menunjukkan hal negatif berlebihan lebih dari 2 minggu berturut-turut tanpa memperlihatkan perubahan ke arah positif ada baiknya dipertimbangkan mengajaknya berkonsultasi ke psikolog anak.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget