Mei 2016

Penglepasan, Pentas Akhirussanah dan Khotmil-Qur'an TK IT - SD IT Bina Amal Semarang  tahun pelajaran 2015/2016 telah dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2016 .

Meluluskan siswa siswinya untuk melanjutkan sekolah merupakan kebahagiaan tersendiri. Bina Amal hanya menjadi salah satu proses untuk meraih cita-cita. 

Selamat meraih masa depan yang gemilang...



Galeri Kegiatan :













Berikut tahap perkembangan moral pada anak yang perlu Anda ketahui:

1. Bayi

Seorang bayi belum memiliki kapasitas untuk mengembangkan kecerdasan moralnya. Yang ia miliki hanyalah rasa benar dan salah terhadap sesuatu yang berlaku untuk dirinya sendiri. Contohnya: Bagi bayi, rasa lapar itu adalah salah, sehingga ia menangis saat lapar.

2. Batita

Menginjak satu tahun, anak belum memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu sebagai benar atau salah. Patokan baginya hanyalah apa yang mama dan papa katakan padanya.

3. Prasekolah (3 - 7 tahun)

Inilah saat di mana anak mulai memasukkan nilai-nilai keluarga ke dalam dirinya. Apa yang penting bagi mama dan papa juga akan menjadi penting baginya. Di sinilah Anda mulai dapat mengarahkan perilakunya, sehingga sesuai dengan aturan dalam keluarga. Dalam tahap inilah seorang anak mulai memahami bahwa apa yang mereka lakukan akan memengaruhi orang lain.

4. Usia sekolah (7 - 10 tahun)

Otoritas orang dewasa (mama, papa, guru, dsb) tidak lagi terlalu ‘menakutkan’ buat anak usia sekolah. Mereka tetap tahu bahwa orang tua adalah sosok yang harus ditaati, tetapi mereka juga tahu bahwa jika melanggar aturan, maka mereka harus memperbaikinya.

Perasaan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’ sudah mulai tertanam kuat dalam diri mereka. Dan, satu lagi seperti yang telah dikatakan Nessi di atas, anak usia sekolah ini juga mulai memilah mana saja perilaku yang akan mendatangkan ‘keuntungan’ buat mereka.

5. Praremaja dan remaja

Di usia ini, anak akan berusaha untuk menjadi populer. Tekanan teman sebaya dan nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya akan membuat mereka terus memilah mana nilai-nilai akan menjadi bagian dari diri mereka.

Praremaja dan remaja mungkin akan terombang-ambing dan mencoba nilai yang berbeda dengan nilai keluarga untuk melihat mana yang cocok. Bisa jadi, nilai keluarga yang telah dianutnya sejak lama justru dibuang karena ‘kalah’ dengan nilai baru yang dikenalnya di luar.
Sumber : parenting.co.id

Orangtua harus mengajarkan pelajaran hidup kepada anak. Pelajaran hidup ini merupakan pengalaman pribadi yang pernah dialami orangtua. Jika Anda ingin mengajarkan tentang kehidupan, Anda harus mulai sejak mereka anak-anak. Inilah beberapa pelajaran hidup yang penting diajarkan kepada anak.

Menghormati orang lebih tua. Ini adalah salah satu pelajar paling penting dalam hidup. Mengajar anak-anak untuk menghormati orang lebih tua akan membuat mereka berperilaku baik. Perilaku anak Anda akan mencerminkan apa yang telah Anda ajarkan kepada mereka.

Kejujuran. Anda mungkin telah mendengar "Kejujuran adalah kebijakan terbaik". Jika Anda tidak mengajari kejujuran masa depan anak bisa tidak baik. Sifat jujur akan tertanam pada anak sampai mereka dewasa.

Kegagalan adalah bagian dari hidup. Anak-anak harus diajarkan bahwa mereka pasti akan merasakan kegagalan pada beberapa titik kehidupan. Tapi banyak orang tua justru resah jika anak mereka mengalami kegagalan. Baik itu dalam hal pendidikan, olahraga atau kegiatan lain. Buatlah anak Anda bisa menerima kegagalan yang merupakan bagian dari kehidupan. Kegagalan adalah kunci keberhasilan, demikian kata-orang-orang yang sudah sukses. Jadikan kegagalan sebagai motivasi anak untuk bekerja lebih keras dan supaya mental lebih kuat.

Empati. Anak harus diajarkan untuk tidak berpikir tentang diri mereka sendiri, tetapi juga memikiran orang lain. Jangan lupa menekankan kalimat seperti ini:  Jika kamu egois, kamu akan sendirian dan tidak akan mendapatkan bantuan dari orang lain. Pelajaran empati ini akan membuat mereka menjadi orang yang dermawan sampai mereka dewasa.

Berbagi adalah Peduli. Anak-anak harus diajarkan untuk selalu menawarkan makanan, mainan dan lain-lain kepada siapapun yang ada di sekitar mereka. Hal ini akan membuat mereka sebagai individu sosial yang aktif karena mereka telah memelajari cara berbaur dengan orang lain.

Kerja Keras. Kemalasan saat kecil membuat anak menjadi pemalas saat dewasa. Anak tidak boleh dimanjakan untuk semua hal. Buat mereka lebih bertanggung jawab pada hal-hal yang mereka lakukan dalam hidup. Memanjakan baik untuk beberapa hal. Tapi memanjakan berlebihan hanya akan membuat mereka malas.

Sopan di tempat umum. Anak harus diajarkan untuk berperilaku baik di depan umum dan menahan diri dari berteriak dan membuat tindakan yang tidak perlu. Jika anak bisa berperilaku baik di tempat umum Ini akan membuktikan bahwa mereka telah dilatih dengan baik dari orangtua.

Sebagian siswa berpendapat sekolah merupakan hal yang menyeramkan terutama saat bertemu dengan guru killer maupun pelajaran yang susah.

Inilah tantangan terbesar guru yaitu menciptakan sekolah merupakan tempat belajar yang menyenangkan. Dengan menciptakan suasana  belajar yang menyenangkan maka akan melahirkan semangat belajar dari para siswa dan pastinya akan menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih baik

Seperti yang telah dijelaskan pula dari Quantum Learning sendiri bahwa belajar itu haruslah mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira  sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekam dengan baik. Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati. Ini diperoleh melalui perlakuan guru dan orang tua melalui dorongan dan motivasi mereka. Sebenarnya yang diperlukan oleh siswa dalam belajar adalah rasa percaya diri.

Guru pun tidak perlu menjadi killer agar siswa mau mengerjakan PR, tidak ribut dan lainnya. Keberhasilan guru adalah membuat siswa merasa pelajaran sulit menjadi mudah, bukan momok yang menakutkan.


Anak yang tidak memiliki rasa percaya diri akan mengalami berbagai macam kesulitan dan hambatan dalam proses interaksi sosialnya. Sifat pemalu pada anak akan menghambat mereka untuk bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, anak yang tidak percaya diri akan memiliki rasa takut ketika harus berinteraksi dengan lingkungan di luar keluarga. 

Tips meningkatkan anak untuk percaya diri :

Pujian. Semakin sering memuji anak, semakin ia menjadi percaya diri. Hindari untuk terlalu sering menunjukkan keburukannya dan perbanyak memuji perilaku baiknya. Alihkan sikap kritis Anda kea rah yang lebih baik-selalu katakana padanya, bahwa Anda yakin dia pasti bisa.

Penerimaan. Berusaha menerima anak Anda apa adanya dan selalu menyampaikan kata-kata yang mendorongnya untuk maju. Melihat anak lain tampil lebih “bersinar” daripada anak Anda sendiri kadang-kadang bisa membuat Anda jadi cenderung ingin menuntut anak Anda lebih banyak. Padahal, tekanan yang terlalu besar malah akan membuat anak Anda frustasi.

Pemahaman. Tempatkan diri Anda pada posisi anak, Anda pun dulu juga pernah seusia dia, dan ingat kembali hal-hal yang bisa membuat Anda menjadi kurang percaya diri, ingat kembali perasaan apa yang bisa membuat Anda bisa demikian. Lalu, terapkan pada balita.

Positif. Segala hal yang positif akan membawa hasil yang positif pula. Jika Anda memberi perhatian lewat senyuman tulus, selalu menatap matanya dengan semangat, dan menunjukkan rasa tertarik akan apa yang ia lakukan itu membuatnya merasa aman dan nyaman, sehingga dengan sendirinya bisa berkreasi tanpa hambatan emosional apa pun. 

Sebenarnya, anak yang percaya diri memiliki keinginan yang kuat, hobi, dan ambisi. Terdengar bagus, kan? Sebaliknya, anak yang kurang percaya diri akan tetap tergantung pada orang lain, bossy, dan secara terus menerus merasa tidak puas.

Jenis anak apa yang akan Anda hasilkan? Semua ini tergantung pada bagaimana Anda membimbingnya. Untuk menghindari anak yang terlalu permisif atau ia bermetamorfosa menjadi monster kecil, pertimbangan 6 hal berikut ini:

1.Berikan anak apa yang dibutuhkan, dan bukan semua yang diinginkannya. Membanjiri anak dengan hadiah memang membuat Anda merasa senang, namun hal ini sekaligus akan membuat anak merasa boleh meminta hadiah kapan pun. Padahal, semakin banyak hadiah yang didapat, anak akan semakin kurang menghargainya, serta semakin banyak meminta. Jadi, begitu berurusan dengan hadiah, paling baik, ya, berikan secukupnya.

2.Jangan biarkan anak bersikap atau berkata tidak sopan. Anak yang berbicara tidak sopan pada orang tuanya sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang rendah, hubungan dengan peer-nya buruk, dan merasa depresi. Jadi, bila anak Anda sering berkata tidak sopan pada Anda, jangan berharap apa pun. Segera hentikan kebiasaan itu. Bersikap tegaslah pada perilakunya yang tidak bisa diterima itu.

3. Jangan menjadi ‘orang tua yang bisa memperbaiki apa pun’. Ini adalah superhero yang akan melakukan apa pun untuk anaknya, termasuk menyelamatkan anak dalam situasi yang penuh frustrasi. Akibatnya? Anak menjadi tergantung padanya, kehilangan berbagai peluang untuk berkembang, dan menciptakan gap dalam perkembangan emosinya. Anak dengan orang tua seperti ini tidak perlu berpikir dua kali untuk bersikap bossy atau memanipulasi orang tuanya. Sebaiknya, Anda mengajari anak untuk mengatasi frustasinya dan mencari solusi terbaik. Ingat, frustrasi akan membuat anak lebih matang kepribadiannya. Jadi, bantulah anak melalui frustrasinya, bukan menyelamatkannya dari frustrasi.Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

4. Tidak pernah mendapat hadiah, misalnya, bisa membuat anak tidak percaya diri. Keinginan merupakan awal dari timbulnya ambisi dan kreativitas. Doronglah anak untuk mendapatkan apa yang diinginkan sendiri, lalu bantulah untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dan berusaha mencapai tujuan tersebut.

5. Jangan takut untuk tidak populer. Menjadi orang tua yang baik juga termasuk membuat keputusan tidak popular. Bila Anda menyerah pada tantrum anak atau menghindari konflik agar segalanya tetap tenang dan damai, sebenarnya Anda membuat masalah yang lebih besar di masa mendatang. Ia belajar bahwa berperilaku negatif akan membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi, jangan khawatir untuk tidak popular, Ma! Pada akhirnya, anak akan memahaminya dan juga lebih menghargai Anda.

6. Tunjukkan siapa yang memimpin. Menjadi orang tua membutuhkan sikap kepimpinan yang kuat. Semakin percaya diri Anda dengan keputusan Anda, semakin anak akan menghargai Anda. Bagaimana pun, anak yang menghargai orang tuanya akan membangun landasan yang kuat, yakni menghargai diri sendiri, membuat keputusan yang dipikirkan secara matang, serta menunjukkan perhatian saat berhubungan dengan orang lain.

Jadi, akhiri perilaku anak yang terlalu percaya diri, Ma. Ciptakan lingkungan yang saling mendukung dalam keluarga dan dorong anak untuk memiliki kebiasaan yang baik sepanjang hidupnya.
sumber : parenting.co.id

Semua orang tahu, pendidikan pertama anak berawal dari rumah. Artinya, Andalah guru anak yang sesungguhnya. Sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak di sekolah formal, akan lebih baik jika Anda telah membekalinya dengan kemampuan dasar yang dibutuhkannya di sekolah nanti.

Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd, psikolog anak dan keluarga, memberi contoh, “Ketika akan masuk TK, anak harus dilatih kemandiriannya, agar setidaknya bisa makan dan minum sendiri, atau pergi ke kamar kecil tanpa bantuan. Karena di TK anak juga akan belajar menulis, Anda harus mempersiapkan motoriknya. Latih ia untuk menjumput yang membutuhkan keterampilan ibu jari dan telunjuknya, serta melempar bola yang akan melatih otot bahunya.”

Bagaimana dengan pengetahuan dini, seperti berhitung, bernyanyi, mengenal angka dan abjad, bahkan membaca? Hmm, kalau sekadar masuk TK, sepertinya pengetahuan seperti itu belum diperlukan, ya. Menurut Diana, percuma anak hafal deretan angka dan abjad kalau ia belum mengerti fungsi dari deretan angka dan abjad tersebut. Anda pun sia-sia mengajarkannya membaca kalau pada akhirnya anak tak memiliki minat membaca.

Maryani Anita, mama satu anak yang sekaligus guru di sebuah TK berbasis Montessori, di tahun ajaran baru sering menemukan beberapa anak yang masuk TK dalam keadaan sudah mahir berhitung, mengenal warna, bahkan mengeja. “Memang, sih, tak ada ketentuan bahwa anak masuk TK harus sudah bisa ini dan itu. Tapi, mungkin karena orang tua zaman sekarang lebih ‘rajin’, sehingga semakin banyak anak-anak yang masuk TK sudah ‘pandai’. Tapi, masalahnya, orang tua anak-anak ‘pandai’ ini sangat menekan kami, para guru, agar bisa membuat anaknya ‘lebih pandai’ lagi.

Kalau tidak, kami dianggap gagal. Padahal, kami, kan, harus mengikuti kurikulum dan memerhatikan kesetaraan kemampuan dengan anak-anak lainnya,” kata guru yang biasa disapa Miss Yani ini. Berangkat dari pengalamannya sebagai guru TK, Yani berkesimpulan bahwa ‘bekal’ orang tua dari rumah memang penting. Tapi, jangan berlebihan juga, ya, Ma.

Sumber: www.parenting.co.id

Meski sudah tahu bahwa olah raga baik untuk kesehatan, namun beberapa keluarga tetap saja belum aktif bergerak. The US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa hanya sekitar 20 persen orang dewasa yang telah melakukan aktivitas fisik sesuai anjuran. Tren ini juga diikuti oleh anak-anak yang sekarang lebih suka menghabiskan waktu di depan layar ketimbang berkegiatan di area terbuka.

Bibit-bibit malas bergerak ini jangan dibiarkan tumbuh subur. Anak-anak yang sedari kecil tidak dibiasakan berolah raga biasanya akan malas bergerak saat tumbuh dewasa. Penting bagi mama dan papa menjadikan olah raga sebagai sebuah kebiasaan baik yang menyenangkan. Berikut tipnya agar keluarga Anda tetap fit.

1. Rencanakan Permainan Berburu
Salah satu cara cerdas agar anak tak terpaku pada gadget adalah dengan berburu mencari benda. Mama bisa melakukannya di rumah, di taman, atau saat berlibur ke tempat wisata. Perburuan dapat dilakukan dengan mencari benda tertentu yang ada di lingkungan sekitar atau menemukan binatang dengan ciri-ciri khusus saat di kebun binatang.

2. Olimpiade Keluarga
Tak harus menjadi atlet kelas dunia jika ingin berpartisipasi dalam Olimpiade Keluarga. Yang penting semua anggota keluarga mau bergerak. Pilih cabang olah raga yang tak membutuhkan banyak biaya seperti lari. Mama cukup mencari area terbuka seperti lapangan.

3. Membersihkan Rumah Bersama-sama
Menyapu, mengepel, mencuci piring, menjemur pakaian, membersihkan halaman, dan sebagainya adalah cara lain agar seluruh keluarga dapat bergerak aktif. Pasang musik yang menyenangkan supaya acara bersih-bersih ini jadi semakin seru.

4. Hari Olah Raga Keluarga
Pilih satu hari dalam seminggu sebagai Hari Olah Raga. Setiap minggu, masing-masing anggota keluarga secara bergantian memilih olah raga yang akan dilakukan bersama-sama. Misalnya minggu pertama berenang, minggu kedua jogging, minggu ketiga yoga, minggu keempat basket, dst.

5. Rancang Kegiatan Outdoor
Habiskan akhir pekan bersama keluarga bukan cuma di mal. Pilih kegiatan luar ruangan agar Anda sekeluarga mendapat banyak asupan vitamin D, misalnya bersepeda, berenang, bermain bola, dll.

6. Family Fun Day
Cara lain untuk bergerak adalah mengajak anak pergi ke museum, kebun binatang, atau bermain di taman rekreasi. Tanpa sadar, Anda sekeluarga sudah banyak menghabiskan waktu dengan berjalan kaki.

7. Menjadi Volunteer
Banyak sekali manfaat menjadi relawan, yaitu menghabiskan waktu bersama sebagai sebuah keluarga sekaligus mendapat kebahagiaan karena bisa membantu orang lain. PIlih kegiatan yang disukai anak. Bila ia senang dengan binatang, ia dapat menjadi volunteer untuk memberi makan kucing di shelter. Atau, jika anak Anda senang dengan kegiatan berbau lingkungan, ia bisa ikut menanam pohon atau membersihkan sungai. Bisa berbuat baik sekaligus berolah raga.
sumber : www.parenting.co.id

Soft skill adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Ada kriteria baru di masa kini yang dipersyaratkan agar sumber daya manusia lebih berkualitas. Kemampuan tersebut diperoleh melalui proses pembelajaran yang intensif seumur hidup (long life learning) menyangkut perilaku, ahlak dan moral individu.

Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)

Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Bina Amal bukan hanya melahirkan siswa berakademik baik tetapi juga memiliki kemampuan soft skill. Kesuksesan tanpa memiliki soft skill akhirnya siswa akan sulit mengahadapi masa depannya.

Sejauh mana bakat anak dapat terwujud, tergantung pada beberapa faktor pribadi, seperti minat, motivasi, nilai, kepribadian, dan faktor lingkungan seperti pengalaman dan kesempatan pendidikan. Sebagai orangtua, kita tentu memiliki harapan yang besar pada anak dalam berbagai aspek kehidupannya. Termasuk misalnya, keberhasilan di sekolah maupun luar sekolah.Bakat anak sebenarnya tidak bisa diketahui persisnya, kita hanya bisa mengetahui potensi bakat anak. Mengapa? Bakat menurut Howard Gardner adalah aktivitas teratur yang dihargai masyarakat dan dapat dinilai berdasakan tingkat keahliannya. 

Tips mengetahui bakat anak dilansir dari temantakita.com

Stimulasi anak untuk melakukan eksplorasi 
Pancing ketertarikan anak untuk melakukan suatu aktivitas, dan jangan langsung memberi perintah. Apabila anak bertanya, jelaskan seperlunya. Sebagaimana tugas perkembangan bakat pertama, anak perlu mencoba berbagai aktivitas dari keseluruhan ragam kecerdasan majemuk. 

Beri kesempatan anak beraktivitas

Jika anak tertarik, beri kesempatan pada anak melakukan aktivitas tersebut. Awalnya orangtua bisa mendampingi anak, namun usahakan agar anak tetap merasa mandiri dalam melakukan aktivitasnya. Ketika merasa didikte orangtua, perilaku anak tidaklah mengacu pada kecerdasan majemuknya, tetapi lebih karena mengikuti perintah orangtua.
 
Kenali perilaku seru anak

Lakukan pengamatan terhadap perilaku anak: sebelum, selama, dan setelah melakukan aktivitas. Bagaimana sikap anak sebelum melakukan aktivitas? Apa saja sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh anak selama melakukan aktivitas tersebut? Bagaimana pula sikap anak setelah melakukan aktivitas? Perilaku lebih mudah diamati karena terlihat jelas. Orangtua juga perlu lebih jeli dalam mengamati sikap anak yang subtil, seperti dahi yang mengernyit atau perubahan ekspresi wajah. Usai melakukan aktivitas, ajukan pertanyaan agar anak bercerita mengenai pengalamannya melakukan aktivitas tersebut.

Lakukan penilaian terhadap perilaku seru anak

Bila sudah mengenali perilaku seru anak, orangtua bisa memeriksa perilaku seru tersebut termasuk kacerdasan majemuk yang mana. Periksa daftar perilaku ke delapan kecerdasan majemuk.

Bercocok tanam merupakan kegiatan menyenangkan. Proses bercocok tanam membuat siswa belajar arti kesabaran dan keuletan. Setiap benih membutuhkan waktu yang panjang hingga bisa dipanen.

Siswa sekaligus belajar sains dengan bercocok tanam. Mengenal berbagai jenis tumbuhan yang memiliki bantuk akar, daun, dan sebagainya yang berbeda-beda.

Manfaat lainnya siswa dapat belajar mencintai lingkungan, sehingga dapat menjaga bumi kita dari kerusakan.

17 Mei diperingati hari buku nasional yang bertepatan dengan diresmikannya perpustakaan nasional, 17 Mei 1980, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Abdul Malik Fajar. Tujuan diadakan hari buku adalah untuk meningkatkan minat baca buku pada masyarakat Indonesia.

Untuk meningkatkan minat baca siswa, Bina Amal menyediakan perpustakaan yang dilengkapi dengan berbagai buku. Serta ruang yang bersih membuat siswa betah berlama-lama di perpustakaan.

Ungkapan terkenal yaitu buku adalah jendela dunia. Dengan membaca, wawasan kita semakin luas. Hal yang memprihatinkan adalah minat baca berkurang di generasi muda. Momentum ini memberikan kita kesadaran bahwa buku memberikan ilmu tanpa batas. Sehingga kita harus menyempatkan diri membaca.



Camilan yang enak belum tentu menyehatkan. Inilah beberapa camilan yang enak di mulut tapi buruk bagi kesehatan anak di masa depan. Jika sudah terlanjur memberikan camilan tidak sehat ini segera kurangi.

BURGER

Fakta: Isi tangkup roti, selembar keju ditambah selada dan acar akan menyetor 540 kalori, yang terbesar berasal dari lemak jenuh sebanyak 41 persen. Lemak jenuh sulit diuraikan oleh tubuh dan depat diubah menjadi kolestrol. Kandungan natrium atau sodiumnya mencapai 33 persen dari kebutuhan sehari

Pertimbangkan: Dengan pasokan kolestrol sebanyak 122 mg, sebuah burger sudah memasok lebih dari sepertiga jatah kolestrol harian. Kelebihan kolestrol akan menimbulkan risiko gangguan tekanan darah dan penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah.

NUGGET AYAM INSTAN

Fakta: enam potong nugget ayam menghasilkan 285 kalori, dimana 163 kalori berasal dari lemak dengan kolestrol sebanyak 52,8 mg. Kandungan natriumnya mengambil jatah 23 persen dari kebutuhan harian. Sedangkan proteinnya tinggi, yakni 30 persen dari kebutuhan harian.

Pertimbangkan: meski memunyai lemak tak jenuh yang baik bagi tubuh, makanan ini memasok kalori yang cukup besar. Nugget dibuat dari cabikan daging ayam dan digoreng dalam minyak yang sangat banyak. Mengandung zat tambahan seperti pengawet, untuk membuatnya tahan lama.

KENTANG GORENG

Fakta: dalam 30 batang kentang goreng terdapat 201 kalori dengan kandungan karbohidrat sebanyak 50 persen. Terdapat juga serat sebanyak 1,4 gram—masih jauh dari kebutuhan asupan per hari, yakni 36 g. Kandugan lemak yang aman kurang dari 25 persen dari jumlah kalori yang dikandungnya.

Pertimbangkan: Diabetes and Obesity Center of Excellence di University of Washington in Seattle menemukan kandungan lemak yang tinggi berisiko mengacaukan sel-sel saraf otak yang mengontrol berat badan. French Fries juga mengandung garam, lemak trans dan lemak jenuh yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Pada 2006, American Journal of Clinical Nutrition memuat penelitian yang menyimpulkan kentang dan french fries meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

GRANOLA COKELAT SUSU DENGAN KACANG

Fakta: Dalam 1 potong granola bar berlapis cokelat (28 g) terdapat 150 kalori. Karbohidrat menyumbang 40 persen, yang setengahnya berasal dari gula tambahan. Kandungan lemaknya 52 persen dari jumlah kalori, dan 80 persen adalah lemak jenuh. Proteinnya 10,8 g yang menghasilkan hanya 7,2 persen dari jumlah kalorinya.

Pertimbangkan: mengandung kalori yang tinggi hanya dari sepotong kecil. Konsumsi lemak jenuh bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler. Meski terdapat protein, kandungan granola cokelat ini tidak banyak mengandung asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh.

MINUMAN BERSODA

Fakta: sekaleng minuman bersoda 355-470 ml mengandung 128 kalori. Sebanyak 127 kalori bersal dari karbohidrat. Tidak ada zat gizi penting yang membantu tumbuh kembang anak dalam sekaleng soda.

Pertimbangkan: kandungan gula yang tinggi membuat anak merasa kenyang namun sebenarnya tidak mendapatkan gizi. Penelitian dalam International Journal of Clinical Practice menyebutkan bahwa minuman soda juga dapat melemahkan otot serta tulang. Ada minuman bersoda yang mengandung 35 mg kafein, sama dengan batasan asupa kafein untuk anak per hari. American Psychological Association menyatakan, konsumsi kafein dalam jangka panjang akan meningkatkan kecemasan dan gangguan tidur.

Sumber : parentsindonesia.com

Semangkuk mi instan ditambah irisan cabai dan telur pasti akan menggugah selera. Meskipun banyak yang menyatakan bahwa mi instan tidak baik untuk kesehatan namun nyatanya masih banyak yang memakannya.

Sebaiknya Anda menanggapi serius tentang bahaya mi instan. Menurut penelitian yang baru saja diterbitkan di Journal of Nutrition pada 12 Agustus 2014, mi instan mampu meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama pada wanita.

Karena konsumsi mi instan relatif tinggi di Asia, penelitian ini difokuskan di kawasan Asia terutama Korea Selatan, yang memiliki jumlah konsumen mi instan per kapita tertinggi di dunia. Ya, dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan mengalami peningkatan masalah kesehatan, khususnya penyakit jantung dan obesitas orang dewasa. Perubahan tersebut menyebabkan peningkatan angka kematian akibat penyakit jantung serta peningkatan biaya perawatan kesehatan.

"Berhubungan konsumsi mi instan sangat besar di kawasan Asia, hubungan antara konsumsi mi instan dan penyakit jantung belum dipelajari secara luas," kata Pemimpin penelitian, Hyun Joon Shin, MD, seirang kardiolog klinis di Baylor University Medical Center di Harvard School of Public Health. "Jadi saya memutuskan melakukan penelitian untuk mengungkapkan lebih banyak perihal konsumsi mi instan," katanya.

Dr Shin menemukan bahwa makan mie instan dua kali atau lebih dalam seminggu dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Dr. Shin juga menemukan peningkatan risiko lebih banyak terjadi pada wanita.

"Penelitian ini sangat penting karena banyak orang yang mengkonsumsi mie instan tanpa mengetahui risiko kesehatan yang mungkin terjadi," kata Dr. Shin. "Harapan saya adalah penelitian ini dapat meletakkan dasar untuk penelitian di masa depan tentang efek kesehatan dari konsumsi mi instan."

Jadi berapa banyak mi instan yang sudah Anda makan dalam seminggu ini?

Sumber : http://parentsindonesia.com/

Akhir-akhir ini terdapat berita kekerasan pada anak. Karena anak dalam posisi lemah maka tidak mampu melawan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Berita lainnya mengungkapkan anak menjadi pelaku kejahatan. Seharusnya anak sibuk belajar untuk menyongsong masa depannya.

2 hal yang memprihatinkan karena anak harus tumbuh di lingkungan yang baik dan aman yaitu di rumah, sekolah dan masyarakat. Dalam lingkungan tersebut anak membentuk karakter sehingga orang di sekitarnya menjadi panutan.

Hal yang ditakutkan karena lingkungan kita tidak menjamin hal tersebut. Orang tua harus memilihkan lingkungan yang baik. Menciptakan lingkungan rumah yang damai dan ramah, serta orang tua harus memilih sekolah yang tidak hanya bermutu tetapi juga berkarakter. Lingkungan sekolah menjadi tempat pertama anak menghabiskan waktunya sehingga guru dan siswa lainnya menjadi komponen yang perlu diperhatikan.

Bina Amal menyadari tantangan tersebut. Guru yang terpilih merupakan guru berintegritas tinggi. Melewati tes dan wawancara serta membaca dan hafalan Al-Qur'an. Sekolah yang menawarkan keamanan dan lingkungan yang baik sehingga orang tua tidak khawatir. Bina Amal juga memberikan bekal ilmu agama sebagai benteng keamanan anak dalam bersosial masyarakat sehingga tidak terpengaruh. Membentuk karakter berakhlakul karimah

Sebagai sekolah berbasis boarding school, waktu lebih banyak dilakukan di asrama dan sekolah. Sehingga memiliki kedekatan yang berbeda di banding dengan sekolah yang tidak berbasis boarding school.

Hubungan seperti anak dan orang tua memiliki ikatan batin. Perasaan cemas dan khawatir bukan hanya dirasakan iswa tetapi juga guru dalam menghadapi Ujian Nasional. Meskipun UN bukan penentu kelulusan tetapi mengharapkan hasil terbaik menjadi tujuan utama.

3 tahun bersama dengan memiliki kenangan bahagia dan sedih berbaur menjadi satu. Harapan yang sama bahwa siswa lulus dan melanjutkan ke sekolah yang diimpikan.

One Day One Juz, Strategi Menaklukkan UN




Jika kebanyakan siswa saat pagi hari melakukan persiapan UN dengan membaca buku pelajaran di depan kelas menjelang detik-detik pelaksaan UN, maka pemandangan berbeda dijumpai di SMP IT Bina Amal. Sekolah yang menerapkan sistem boarding school ini mempunyai cara unik untuk menyiapkan mental dan psikis siswa dalam menghadapi Ujian Nasional yaitu One Day One Juz.

Senin (9/5),  terlihat peserta UN duduk berjajar rapi di depan kelas melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Kegiatan tersebut merupakan program rutin tahunan sukses UN. Aktivitas membaca Al Qur’an dimulai pukul 06.30 dan diakhiri tepat pukul 07.00 saat bel tanda masuk ruang UN berbunyi.

“Program One Day One Juz merupakan program rutin tahunan. Siswa diminta membaca Al Qur’an satu juz sebelum memasuki ruangan ujian agar diberi kemudahan mengerjakan soal ujian ”, papar Muhammad Bajuri selaku Kepala SMP IT Bina Amal.
“Bina Amal adalah sekolah Islam Terpadu yang menyeimbangkan antara sisi fikriyah (IQ) dan ruhiyah (SQ).

Program One Day One Juz merupakan salah satu program untuk meningkatkan sisi ruhiyah siswa menghadapi UN,” lanjutnya. Program One Day One Juz diharapkan mampu menunjang prestasi siswa SMP IT Bina Amal untuk mencapai rata-rata NEM 32,00.



UMT (Ucapan Minta Maaf dan Terima kasih)





Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional 2016, siswa kelas IX SMP IT Bina Amal pada hari Sabtu 7 Mei 2016 jam 13.00 menyelenggarakan acara UMT (Ucapan Minta Maaf dan Terima kasih) untuk seluruh guru dan karyawan SMP IT Bina Amal. Pelaksanaan acaranya sangat unik. Siswa memakai sarung ala ninja dan membawa guru-guru yang ditutup matanya ke salah satu ruang. Dari ruang tersebut, guru-guru bisa melihat anak-anak di lapangan yang bernyanyi dan mengucapkan minta maaf dan terima kasih kepada guru-guru dan karyawan. 

Menurut Akhyar, siswa kelas IX yang merupakan ketua panitia acara tersebut, teman-temannya sangat berterima kasih kepada semua guru dan karyawan atas jasa-jasanya mendampingi siswa-siswa selama ini. Acara ditutup dengan permintaan maaf, doa restu dan bersalam-salaman antara siswa dan guru-guru beserta karyawan SMP IT Bina Amal.







Belajar adalah kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, siswa akan dapat menikmati proses belajar.

Bina Amal Semarang berkomitmen menyediakan tempat yang bersih dan nyaman. Karena lingkungan belajar yang efektif adalah sebuah lingkungan belajar yang produktif, dimana sebuah lingkungan belajar yang didesain atau dibangun untuk membantu siswa meningkatkan produktifitas belajar mereka sehingga proses belajar mengajar tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial yang baik, sekolah akan menjadi tempat ternyaman kedua setelah di rumah. Oleh sebab itu semua warga sekolah perlu menumbuh kembangkan budaya baik di sekolah. Baik lingkungan fisik sekolah, juga lingkungan sosial.

Ujian Nasional untuk siswa SMP akan dilaksanakan hari Senin 9 Mei 2016. Mata pelajaran yang akan diujiankan yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA.

Siswa siswi Bina Amal Semarang siap menghadapi ujian hari ini dengan percaya diri. Dengan menyiapkan diri dari peralatan ujian, memasuki kelas ujian dengan tertib serta tidak lupa meminta kepada Allah SWT untuk dimudahkan dalam menjawab soal.

Bina Amal berharap siswa memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapan. Dan berusaha jujur dalam mengerjakannya.





Memberi hadiah atas kerja keras anak dengan cara yang berbeda ternyata meberikan dampak yang baik bagi anak.

Grace Yong, pendiri Character Montessori di Singapura, mengingatkan keburukan memberi hadiah pada anak atas kerja kerasnya. Pesan terselubung yang diberikan orang tua: “Berusaha keras dan senangkan hati saya, maka saya akan memberi kamu hadiah”. Anak-anak kemudian bekera keras untuk hadiah, sehingga ia tidak pernah menikmati buah dari kerja kerasnya yang justru penting untuk kesuksesannya di masa depan.

Sebagai gantinya, Grace menyarankan agar Anda memberi afirmasi secara lisan. Contoh, katakan: “Kamu selama ini berlatih keras, makanya kamu terpilih mewakili sekolah untuk perlombaan menari. Kamu hebat, ya!”. Kita perlu membuat anak-anak fokus pada pencapaian yang mereka rasakan secara alami saat mereka bekerja keras dan membuat kemajuan. Dalam proses ini, anak-anak membangun rasa penghargaan terhadap diri sendiri dan juga penghargaan terhadap kesuksesan.

Tapi walau menyarankan penghargaan lisan, Grace juga percaya bahwa pencapaian anak perlu dirayakan. Saat salah satu dari empat anaknya, yang berusia antara 12 – 21 tahun, melakukan sesuatu dengan baik, mereka pergi makan ke tempat spesial. Pesannya: Sebagai keluarga, kita mendukung kesuksesan salah satu anggota keluarga.

Tan Meng Wei, direktur utama pusat penitipan anak Star Learner’s Group di Singapura, juga percaya akan pentingnya pemberian penghargaan kepada empat anaknya yang berusia antara 4 – 12 tahun. Tapi ia menyarankan orang tua untuk menempatkan pesan dengan hati-hati. Contohnya, kata Meng Wei, mereka membawa anaknya ke restoran Perancis yang lezat setelah memenangkan lomba mewarnai di sekolah. Mereka tidak menghubungkan hadiah tersebut dengan “Jika kamu menang, kami akan membawa kamu makan di luar.” Tapi, lebih seperti, “Usaha yang bagus, ayo kita rayakan!”

Lita Lunanta, psikolog anak dan pengajar pada Universitas Esa Unggul, sepakat bahwa hadiah tidak harus melulu dalam bentuk materi, tapi bisa dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. " Permainan di malam hari, membuat pizza bersama-sama, dan kegiatan seru lainnya bisa menjadi reward, seperti yang sering kami lakukan dalam keluarga kami," kata Lita.

Sumber : www.parenting.co.id


Ekspolitasi anak atau bukan?

Tidak jarang kita jumpai anak-anak di usia sangat kecil sudah mengikuti ragam les seperti piano, KUMON, sempoa, berenang, bahasa Inggris atau Mandarin, dan ‘seabrek’ les yang berhubungan dengan mata pelajaran.

Belum lagi undangan ulang tahun dari teman sekelas, atau saudara sepupu mereka. Orang tua mungkin menganggap bahwa anak harus dibentuk sedemikian rupa, sejak kecil demi tumbuh kembang otak mereka.

Siapapun tahu, otak anak mampu menyerap ribuan informasi dengan cepat. Namun jika mereka dibebani dengan macam-macam kegiatan, apakah hal ini bukan termasuk bentuk eksploitasi anak?
Berlebihan atau tidak?

Beberapa orang tua menganggap bahwa batita berusia 3 tahun sudah seharusnya mengikuti kompetisi atau kursus yang menawarkan kegiatan stimulasi otak.

Nah, hal ini sebenarnya yang dimanfaatkan oleh para pemilik kursus musik, seni, olahraga, matematika, bahasa Inggris, Mandarin, motivasi, asah otak dan banyak lagi.

Si kecil kita memang ajaib karena kerap melakukan hal-hal yang tidak terduga. Namun, tidak berarti bahwa kita harus membuat otak mereka terus bekerja untuk mengikuti ‘kursus’ sesuai pilihan kita.

Apa kata pakar psikologi anak?

Mana yang harus dilakukan: Membuang waktu berharga atau eksploitasi anak?

Jika dibilang eksploitasi anak, banyak ibu mengatakan bahwa mereka tidak ingin membuang waktu berharga dengan membiarkan anak nonton televisi sembari mengudap makanan kecil seusai sekolah, dan juga bermain ‘secara kuno’ dengan rekan-rekan sebaya mereka di sekitar rumah atau saudara sepupu. Mana sebenarnya yang lebih efektif dalam tumbuh kembang anak?

Salah seorang pakar psikologi anak, Dr Harriet Tenebaum, mengatakan bahwa penelitian menyarankan kegiatan ekstra untuk anak, selama kegiatan tersebut berkaitan erat dengan perkembangan rasa percaya diri dan pencapaian akademis.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak disarankan menjejali anak dengan jadwal kegiatan ekstra yang terlalu padat. Anak perlu bermain dan melakukan kegiatan yang sifatnya spontan.

Bermain secara spontan membantu anak belajar mengatur emosi dan keinginannya secara mandiri, meningkatkan daya imajinasi, sekaligus meningkatkan perkembangan kognitifnya. Semuanya itu membantu mereka untuk belajar bertindak sesuai situasi dan orang-orang sekitar yang berbeda.

(pendapat dari Dr. Tenebaum, ibu satu anak, University of California, Santa Cruz dan pasca-sarjana Harvard Graduate School of Education)

Nah, tindakan apa yang harus dilakukan supaya tidak terjadi eksploitasi anak?

Agar tidak terjadi eksploitasi anak, lakukanlah beberapa hal berikut:

1. Hati-hati menghindari eksploitasi

Anak-anak membutuhkan waktu istirahat dan permainan yang spontan di rumah bersama teman atau saudara. Kegiatan ekstra di luar rumah memang bisa meningkatkan kecerdasan anak, namun keduanya bisa dilakukan secara seimbang. Jangan lupa, masih ada pekerjaan rumah dari sekolah yang harus dikerjakan.

2. Hindari kompetisi terlalu dini


Para orang tua di Indonesia dan beberapa negara di Asia masih memiliki kekhawatiran akan persaingan antar anak. Mengikuti kompetisi atau lomba memang wajar, namun bukan berarti anak dipaksa ikut, karena rekannya juga ikut.

Anak kadang lelah usai seharian bersekolah. Saat ia ingin main di rumah, tentu tak salah. Serangkaian kursus yang menghibur, entah itu menari, menyanyi, atau piano, tidak serta merta membuat mereka gembira.

Saat mereka menginjak usia sekolah dasar, mereka akan memiliki banyak aktivitas bersama teman dan guru. Jadi, biarkan mereka menikmati indahnya bermain secara spontan saat masih balita.

3. Jadwal yang baik
Orang tua harus memiliki jadwal yang baik dalam hal memberi kursus tambahan kepada anak. Sebaiknya, anak tidak mengikuti lebih dari tiga kegiatan dalam sepekan.


Ingat bagaimana Anda ketika masih di kelas 1 SD? Dan ternyata, Anda mungkin saja tidak jauh berbeda pada saat ini. Menurut penelitian yang dilakukan di University of California, ciri-ciri kepribadian yang ditunjukkan pada saat Anda berada di kelas 1 tidak akan terlalu berubah.

Penelitian membandingkan evaluasi guru terhadap murid-muridnya dari tahun 1960 hingga wawancara via video yang dilakukan 40 tahun kemudian dengan 144 topik yang sama. Penelitian meliputi apakah anak suka bicara, bagaimana kemampuannya beradaptasi, apakah ia impulsif atau mengikuti kata hatinya, dan apakah ia termasuk anak yang rendah hatiatau sombong.

Hasilnya? Penelitian menunjukkan, anak yang senang bicara cenderung menunjukkan minat pada masalah intelektual, berbicara secara fasih, mencoba mengendalikan situasi, dan menunjukkan kecerdasan yang tinggi saat dewasa.

Anak yang keterampilan berbicaranya rendah akan menjadi orang dewasa yang sering mencari nasihat, menyerah ketika menghadapi berbagai hambatan, dan agak kaku saat bersosialisasi dengan orang lain. Lalu, anak yang mudah beradaptasi, sebagai orang dewasa setengah baya nantinya akan berperilaku ceria, fasih berbicara, dan menunjukkan minat pada masalah intelektual.

Mereka yang kemampuan beradaptasinya rendah akan menjadi orang dewasa yang akan berbicara berbagai hal negatif tentang dirinya, mencari nasihat, dan kurang pandai bersosialisasi.

Bagaimana dengan anak yang impulsif? Mereka akan vokal, memiliki banyak minat dan sedang berbicara saat dewasa. Sebaliknya, anak yang kurang impulsif cenderung takut atau malu-malu, menjaga jarak dengan orang lain, dan merasa tidak aman saat dewasa.

Nah, anak yang rendah hati cenderung menunjukkan rasa bersalah, mencari pembenaran, mengatakan hal negatif  tentang dirinya, dan menunjukkan rasa tidak aman saat dewasa. Sementara mereka yang agak sombong, cenderung vokal, menunjukkan minat terhadap masalah intelektual, dan rendah saat dewasa.



Mungkin masih banyak yang menganggap belajar sains identik dengan mata pelajaran IPA di sekolah, berhubungan dengan hafalan mati, rumus-rumus, dan hitungan yang panjang serta ribet. Bagi mereka yang tidak berminat, sains seringkali hanya dipandang sebagai mata pelajaran yang menyusahkan semasa sekolah, tidak menarik karena hanya menghafal dan menghitung tanpa tahu nantinya akan digunakan untuk apa.

Padahal, sains sebenarnya lebih dari sekedar mata pelajaran. Demikian menurut Dr. Neil de Grasse Tyson, direktur Hayden Planetarium di American Museum of Natural History New York, AS. “Sains memberikan ‘seperangkat alat’ untuk memahami bagaimana dunia di sekitar kita berjalan. Intinya, belajar sains bukanlah bertujuan agar anak nantinya menjadi seorang ahli kimia atau ahli astronomi (walaupun bagus juga kalau ia nanti menjadi ilmuwan), tapi lebih pada pemahaman bahwa sains itu selalu ada di mana-mana dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Belajar sains untuk anak bukanlah belajar secara textbook, dengan hapalan, rumus dan hitungannya.  Bukan juga sekedar konsep atau pengetahuan. Berbekal rasa ingin tahu yang besar, anak bisa didorong untuk belajar sains dengan cara mengamati, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menyelidiki, mencatat ‘penemuan’ mereka, dan mengeksplorasi dunia sekitarnya untuk menemukan jawaban.

Jadi penekanannya adalah doing science, agar anak mampu berpikir dan bertindak secara logis. Keterampilan ini akan sungguh bermanfaat di kemudian hari karena walau kelak ia tidak berprofesi sebagai ilmuwan, keterampilan tersebut tetap bisa diterapkan dalam semua aspek kehidupan.

Memang dalam proses belajar terdapat rasa bosan, hal tersebut memang merupakan suatu hal yang manusiawi. Biasanya jika sudah merasakan rasa bosan, para Orang tua seharusnya mengarahkan lagi betapa pentingnya belajar. Motivasi belajar adalah kunci utama siswa atau pelajar akan mempunyai semangat lagi dalam proses belajar. Biasanya motivasi belajar di berikan pada anak ketika anak malas dalam belajar.
Nah untuk anda yang memperlukan bagaiamana cara untuk memotivasi semangat belajar pada anak, berikut adalah tips pintar mengenai Meningkatkan Motivasi Belajar Anak :

Memberikan Hadiah

Hadiah memang paling di sukai oleh anak apalagi jika yang memberikan adalah orang tua. Dengan cara ini anda sebagai orang tua dapat meningkatkan semangat belajar pada anak, namun anda perlu memberikannya setelah anak anda mendapatkan nilai memuaskan dalam sekolahnya. Dengan begitu biasanya anak akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan hadiah yang menarik dari orang tua.

Membentuk Kebiasaan Belajar Secara Baik dan Efektif

Cara ini memang dapat meningkatkan motivasi untuk belajar apalagi jika dengan kebiasaan yang baik dan benar saat belajar. Sehingga apabila anak mulai malas dalam belajar dia mempunyai sebuah motivasi baru dalam proses belajarnya.

Menggunakan Berbagai Metode yang Bervariasi

Metode yang di gunakan dalam belajar jangan tersudut pada satu buah metode saja, melainkan mempunyai banyak variasi dalam proses belajar. Hal ini memang bertujuan agar sang anak dalam belajarnya tidak terlalu bosan dan terasa menjenuhkan. Apalagi jika guru di sekolah mempunyai banyak metode untuk membuat motivasi belajar anak menjadi tinggi.

Membantu Anak Ketika Kesulitan Dalam Belajar

Orang tua dan guru memang di haruskan dalam mendampingi anak dalam belajar. Hal ini bertujuan agar memperhatikan proses belajar si anak dan bagaimana hasil dari belajarnya tersebut. Biasanya anak akan menyukai dengan adanya gambar dan beberapa macam warna untuk proses belajarnya. Cara ini merupakan metode menarik untuk mengajak anak supaya dia mau untuk mempelajari pelajaran tersebut, dan mencatatnya.

Memberikan Hukuman

Cara meningkatkan motivasi belajar pada anak selanjutnya adalah memberikan hukuman. Hukuman ini akan di berikan kepada siswa bagi yang melakukan kesalahan atau pelanggaran yang ada. Contohnya siswa tidak mengerjakan Pekerjaan Rumah yang di berikan gurunya maka siswa tersebut akan mendapatkan hukuman dari guru. Hukuman yang di berikan harus bersifat mendidik misalnya dengan cara membuat kliping dalam bahasa inggris dengan tema pendidikan, mencari artikel dengan tema cara belajar efektif, mengarang, dan lain sebagainya. Tujuan dari hukuman ini adalah supaya siswa mau belajar dengan rajin dan meningkatkan kedisiplinan dalam belajar.

Memberikan Ulangan Materi Pelajaran

Biasanya jika sudah menyelesaikan suatu Bab guru akan memberikan penilaian dalam bentuk ulangan atau praktek bagi pelajaran tertentu. Dengan cara ini maka anak di haruskan mendapatkan nilai baik dan jika mendapatkan nilai jelek maka guru wajib melaporkan dan meminta tanda tangan kepada orang tua setelah penilaian ulangan di lakukan. Dengan ini siswa akan merasa mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan nilai yang bagus dan mempunyai motivasi baru dalam belajarnya.

Motivasi belajar ini memang sangat di perlukan bagi setiap pelajar yang ada entah itu di bangku Kelas Dasar atau SD, SMP, SMA bahkan di Perguruan Tinggi. Namun cara belajar yang baik dan efektif alangkah baiknya jika di perkenalkan anak sejak usia dini, sehingga anak akan terbiasa belajar dengan baik dan benar ketika dia sudah besar.
Sumber : media-online.id

Tanggal 21 April memperingati Hari Kartini menjadi mementum perjuangan perempuan memperoleh pendidikan yang sama seperti laki-laki. Dan tanggal 2 Mei diperingati Hari Pendidikan Nasional, mengingat perjuangan  Ki Hadjar Dewantara untuk mewujudkan pendidikan untuk semua kalangan tanpa memandang status.

Pendidikan sangat penting terutama bagi generasi muda. Di tangan-tangan merekalah masa depan bangsa di perjuangkan. Mari mengisi perjuangan para pahlawan yang mengantarkan kita memperoleh pendidikan seperti saat ini. Meraih cita-cita tertinggi serta menjadi kebanggaan orang tua, guru, bangsa dan agama.



Pasukan pengibar bendera siap mengibarkan bendera Merah Putih


Berdasarkan edaran pedoman pelaksanaan upacara bendera hari Senin tanggal 2 Mei dalam rangka Hardiknas, pemerintah Indonesia menyajikan tema “Nyalaka Pelita, Terangkan Cita-cita” sementara Hari jadi kota Semarang mengusung
tema “Bulatkan Tekat, Semarang Hebat.” Kedua tema tersebut terangkum dalam amanat Pembina upacara hari Senin (2/5) di Aula dan lapangan SDIT Bina Amal 01 Semarang. SDIT Bina Amal mengadakan upacara berdera diikuti seluruh civitas academia dari kelas I – VI dan guru serta pegawai SDIT Bina Amal 01 Semarang.

Amanat Pembina Upacara, Ustadz Nurdin menyampaikan kisah teladan Ibnu Hajar

Pembina upacara, Ustadz Nurdin menyampaikan amanat tentang kisah teladan  seorang anak yang kurang bisa memahami pelajaran. Di tertinggal jauh dengan teman-temannya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan berat hati sang guru mengijinkan pulag dengan syarat tidka berhenti belajar.
Dalam perjalanan pulang, Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Dia terpaksa berteduh dalam sebuah gua. Pada saat di gua, dia mendengar suara gemercik air, lalu dia mendatangi sumber suara tersebut. Ternyata itu suara gemercik air yang menetes pada sebongkah batu yang sangat besar.Batu besar itu berlubang karena telah bertahun tahun terkena tetesan air. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya anak itu merenung. “Batu yang besar dan keras ini lama lama berlubang hanya karena tetesan air. Kenapa aku kalah dengan batu? Padahal akal pikiranku tidak sekeras batu, itu artinya aku kurang lama dan tekun belajar,” pikir anak itu.
Setelah berpikir, akhirnya anak itu kembali ke sekolah untuk menemui sang guru. Ia pun belajar lagi dengan penuh semangat. Usaha tersebut tidak sia sia. Dia berhasil menjadi orang alim, bahkan dapat mengarang beberapa kitab. Dari asal mula cerita batu di dalam gua, anak itu diberi sebutan Ibnu Hajar (Anak Batu). Itulah kisah seorang anak teladan bernama Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan sebuatan ibnu hajar.
Berkenaan dengan itu, Ustadz Nurdin menyampaikan agar anak didik SDIT Bina Amal bisa terus semangat belajar apalagi menjelang ujian. Tekatkan bulat agar menjadi anak yang hebat, dan nyalakan pelita dengan nilai yang sempurna agar dapt meraih cita-cita seperti kisah teladan dari Ibunu Hajar.
Di Akhir Upacara, diumumkan berbagai kejuaraan seperti lomba Kartini, lomba Mapsi (TIK, Cerita Islami, dll) dan Nilai Try Out tertinggi untuk siswa kelas 6. Siswa yang mewakili kejuaraan adalah contoh kecil hasil cetakan Bina Amal untuk jagi generasi robbani dan generasi emas yang akan mengharumkan nama Bina Amal. Bu Syamsi, Humas SDIT Bina Amal.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget