September 2016

Hanun, Siswa Kelas 4 SDIT Bina Amal Menerima Penghargaan

Barokallah, Alhamdulillah...kembali SDIT Bina Amal Berprestasi di Tingkat Nasional pada ajang National Young Inventor Awards (NYIA), yang merupakan kerja sama LIPI dengan British Council melalui program Newton Fund dan didukung Intel Indonesia serta PT. Aneka Fermentasi Industri (AFI).

Meski baru duduk di kelas empat Sekolah Dasar, namun Hanun Dzatirrajwa memiliki tingkat kepedulian tinggi. Rupanya justru hal itu lah yang membawa dirinya menjadi salah satu dari 29 invensi terpilih dari 868 karya usulan peserta lain, dalam ajang National Young Inventor Award (NYIA) 2016 di LIPI Pusat, Jakarta pada Senin (26/09/2016).

Karya Hanun, ular tangga Braille
Munculnya ide ‘Ulang Tangga Tuna Netra’ berawal dari perhatiannya pada teman-temannya yang memiliki keterbatasan dalam melihat atau tuna netra. Kehadiran permainan tersebut diharapkan mampu menolong teman-temannya.

Menurut Hanun, kaum tunanetra terutama anak-anak pasti membutuhkan sarana bermain yang memadai, tapi selama ini dari riset yang mereka lakukan, belum ada media permainan ular tangga khusus untuk kalangan tunanetra.

“Keberadaan permainan saat ini kurang menfasilitasi penderita tuna netra untuk bermain seperti layaknya anak-anak normal lainnya. Itulah mengapa saya mempunyai ide untuk menciptakan permainan ini,”

"Kami berinovasi membuat produk bernama ular tangga tunanetra yang khusus digunakan untuk anak tuna netra, media ini menggunakan simbol-simbol berbentuk angka braille," kata Hanun siswa SD IT Bina Amal Semarang itu.

Cara bermainnya seperti pada umumnya. Dadu cukup dilempar ke atas, setelah jatuh di lantai bagian atas dadu menunjukkan jumlah langkah poin. Sementara alur berupa ular dan tangga diganti menjadi alur panah.

Hanun sedang menjelaskan karyanya
Sejumlah kelebihan yang menjadi inovasi dari permainan ular tangga tuna netra karya Hanun ini adalah adanya penggunaan huruf braile timbul. Dengan begitu, pemain akan mampu meraba pergerakan tangan mereka mengikuti ular dan tangga yang ada.

“Supaya permainan berjalan, alurnya yang berupa tangga dan ular diganti denan alur panah,” jelas Hanun ketika menunjukkan cara pengunaan papan permainan itu.

Sekali lagi , barokallah ananda Hanun. Terus berkarya dan berprestasi..semoga menjadi sumber inspirasi bagi yang lain...


humas@binaamal.info (us)

Seorang anak mengalami gangguan belajar apabila prestasi akademiknya tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya. Anak mungkin mengalami gangguan membaca, menulis, mengeja, berbicara, mendengarkan, berpikir, atau melakukan perhitungan matematika. Di bawah ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah merangkum gangguan belajar yang biasa terjadi pada anak.

Disleksia atau kesulitan membaca adalah gangguan belajar yang sering dialami. Umumnya anak dengan disleksia kesulitan memenggal kata (memecah suatu kata menjadi suku-suku kata) dan mengenali bunyi yang tepat dari kombinasi huruf tertentu. Akibatnya, anak seperti membaca terbalik-balik (misal: “pesawat” dibaca “eswapat,” “matahari” dibaca “atmarahi”).

Disgrafia adalah kesulitan berekspresi dalam bentuk tulisan, termasuk kesulitan dalam membuat tulisan tangan, mengeja, dan mengorganisasikan pikiran.

Diskalkulia adalah kesulitan dalam memelajari konsep-konsep matematika mendasar, (misal jumlah, nilai, dan waktu), menghapal angka (misal tanggal), mengorganisasikan angka, dan memahami sistem penomoran.

Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD) dahulu dianggap sebagai salah satu bentuk gangguan belajar. Saat ini anggapan tersebut sudah ditinggalkan. Walaupun anak GPPH sulit duduk diam di kelas, sebagian besar dapat belajar secara normal terutama bila GPPH sudah mendapat terapi yang memadai.

Apabila anak mengalami gejala-gejala gangguan belajar, baik dikeluhkan oleh anak sendiri maupun oleh gurun, segeralah mencari bantuan profesional, baik itu dokter spesialis anak, psikolog, atau psikiater anak. Beberapa sekolah memiliki psikolog sekolah yang bisa mengevaluasi anak. Diagnosis dini penting agar anak cepat mendapat penanganan dan terbebas dari cap negatif seperti “bodoh,” “malas,” atau “nakal.”

 parentsindonesia

Mengetahui usia anak dan minatnya akan membantu kita sebagai orang tua dan guru untuk mendidik secara tepat.

Gambaran secara umum usia anak dan minatnya di usia 6- 12 tahun.

Anak Usia 6 - 7 Tahun
  1. Mulai membaca dengan lancar
  2. Cemas terhadap kegagalan
  3. Peningkatan minat pada bidang spiritual
  4. Kadang Malu atau sedih
Anak Usia 8 – 9 Tahun
  1. Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
  2. Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
  3. Ketrampilan lebih individual
  4. Ingin terlibat dalam sesuatu
  5. Menyukai kelompok dan mode
  6. Mencari teman secara aktif.
Anak Usia 10 – 12 Tahun
  1. Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh yang berhubungan  dengan pubertas mulai tampak.
  2. Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri, dll.
  3. Adanya keinginan anak untuk menyenangkan dan membantu orang lain.
  4. Mulai tertarik dengan lawan jenis

Image result for kartun anak pemarah dan cengeng
ilustrasi anak marah

Bingung melihat perilaku anak yang mendadak menjadi sangat sensitif. Disaat bermain dan tidak bisa mengambil sepatunya yang jatuh di kolong meja, tiba-tiba ia marah atau pada saat kita memberi tahu sesuatu yang tidak boleh dilakukannya, tiba-tiba ia menangis. Setiap dihadapkan dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya, mendadak anak menjadi pemarah dan cengeng. Padahal kita sudah memberitahu selembut mungkin dengan pemilihan kata-kata yang baik.


Perkembangan emosi anak seperti ini lumrah terjadi pada anak usia 2,5-3,5 tahun kemudian 5-6 tahun.  Pada fase ini anak mudah sekali terbawa ledakan-ledakan emosinya, sehingga seringkali sulit untuk diarahkan.

Berikut adalah beberapa faktor yang membuat anak menjadi mudah marah atau emosinya mudah sekali berubah, ayahbunda bisa mempelajari ini mungkin saja ini yang terjadi kepada anak anda.

1. Frustrasi
Anak sudah mengungkapkan keinginannya, tapi tidak dipenuhi orang tua, maka lazimnya ia akan melampiaskan kekesalan lewat tangisan. Misal, ia menginginkan makanan atau mainan yang dilihatnya di supermarket, tapi tidak dikabulkan, maka sepanjang jalan anak akan menangis terus dan menjadi rewel.

Atasi sikap ngambek nya dengan bujukan yang tenang dan pelan. Lalu dengan tegas katakan kepadanya, ia tidak dapat memiliki benda-benda tersebut jika masih bersikap seperti itu. Atau katakan kepadanya, Anda tidak mau mendengarkan permintaannya jika ia masih menangis. Jika tangisnya berhenti, peluk ia erat-erat sambil memberikan benda favoritnya. Katakan juga padanya, banyak cara untuk mendapatkan apa yang ia mau tanpa harus bersikap tidak baik seperti itu. Sikap rewel di jalan sebetulnya bisa dikurangi jika sebelum mengajaknya pergi anak sudah dalam keadaan kenyang.

2. Situasi baru
Situasi maupun kondisi baru kadang membuat anak-anak tidak betah, karena di situ ia belum dapat meluapkan emosinya untuk bermain. Umpamanya, anak diajak ke pesta bersama orang tua dimana orang-orangnya tidak ia kenal. Belum lagi suasana hiruk-pikuk sering membuat anak tak betah. Namun ia sulit mengungkapkan ketidakbetahannya, jadi yang dilakukan adalah menangis.

Mengatasinya, buatlah suasana yang asing dan hiruk pikuk itu menjadi akrab baginya. Kenalkan ia dengan rekan atau teman-teman kita. Apalagi jika mereka membawa anak kecil juga. Setelah itu, biarkan anak-anak bermain bersama agar tidak bosan dan merasa senang.

3. Suasana tidak nyaman
Suasana yang tidak nyaman, seperti hawa panas, udara kotor, ruangan sempit dan suara bising sering membuatnya menjadi cengeng. Salah satunya adalah suasana dalam angkutan umum. Suhu panas disertai suara derungan mobil sering membuat anak tidak betah. Anak lalu mencoba mengungkapkan perasaan tidak nyamannya dengan terus-menerus menangis.

Agar tak terjadi hal demikian, jelaskan dulu gambaran situasi dan kondisi yang akan ia temui. Sebelum mengajaknya naik angkutan umum, misal, beri ia pengertian bahwa di dalamnya hawa mungkin panas dan orang-orangnya tidak dikenal. "Namun, cobalah mengalihkan kondisi tak nyaman itu dengan hal-hal menarik, seperti melakukan komunikasi atau menunjukkan tempat-tempat menyenangkan dan menarik kepada anak sepanjang perjalanan."

4. Sakit
Karena sakit, anak merasakan kondisi tubuhnya tidak nyaman. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Kondisi tubuhnya juga lemas dan lemah. Semua itu tak jarang membuat anak jadi cengeng, termasuk anak yang tadinya tidak cengeng. Belum lagi, sikap orang tua yang lebih protektif kepada anak sakit ternyata bisa menambah sikap cengeng itu.

Tak ada jalan selain menganggapnya wajar. Lakukan sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih enak. Misal, memutarkan film atau lagu kesukaannya, atau mendongeng kan cerita yang menarik.

5. Kelelahan
Sama halnya dengan sakit, kelelahan juga bisa membuat anak cengeng. Misalnya, sehabis bermain seharian. Jika orang dewasa bisa langsung mengungkapkan kondisi tubuhnya yang lelah, maka tidak demikian dengan anak. Apalagi orang tua belum tentu langsung tanggap. Akhirnya, anak mengungkapkan kondisinya dengan sikap rewel dan cengeng. Kerewelan anak sebetulnya merupakan ungkapan bahwa ia menginginkan istirahat. Ajak anak ke tempat tidur lalu bacakan dongeng untuknya.

6. Butuh perhatian
Pada saat perhatian orang tua untuknya terpecah, anak akan merasa terbuang. Kondisi ini umumnya muncul saat ia baru saja memiliki adik yang menyita perhatian orang tua. Perasaan terbuang membuat anak rewel yang tak jarang disertai tindakan untuk memancing perhatian orang tua. Salah satunya mengganggu si adik.

Untuk mengatasinya, bersikaplah adil. Curahkan perhatian kita kepada si kakak, sama besarnya dengan kepada si adik. Tumbuhkan rasa sayang dan memiliki, misalnya dengan menyuruh kakak menjaga adiknya.

7. Kehilangan figur tersayang
Hal ini akan dialami jika orang tua meninggalkan anak dalam jangka waktu lama. Bagaimanapun, di usia ini anak sangat tergantung pada kehadiran figur yang dekat dengannya. Ketika figur itu pergi, ia merasa sangat kehilangan yang diungkapkannya dalam bentuk kecengengan.

Untuk mengatasinya, orang yang kebetulan dipercaya sebagai pengasuh harus menunjukkan sikap yang dapat membuatnya nyaman. Alihkan perhatiannya dari ingatan terhadap orang tua dengan aktivitas-aktivitas yang sangat menyenangkan. Umpamanya, mengajak ia bermain bersama teman-teman sebaya.

8. Terlalu banyak larangan
Terlalu banyak melarang akan membuat anak berang. Di usia ini perkembangan motoriknya sedang pesat. Setiap saat dia akan berlari-lari, menaiki kursi, maupun melompat-lompat. Nah, sikap orang tua yang selalu melarang, seperti "Awas, nanti jatuh," atau, "Jangan dipegang-pegang, nanti pecah", tidak akan membuatnya jadi penurut, justru sebaliknya, anak ingin berontak. Asal tahu saja, saat itu anak ingin menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

Jadi, orang tua justru harus memberikan dukungan atas perkembangan anaknya. Misal, saat ia berusaha memanjat kursi, dukunglah dengan cara tidak melarangnya, tapi menjaganya kalau-kalau ia terjatuh.

9. Habis menonton film
Di usia ini anak belum bisa membedakan dunia khayalan dalam film dengan kenyataan. Anak akan menganggap nyata adegan seram atau kekerasan yang kebetulan ditontonnya. Jangan heran kalau setelah itu ia merasa ada hantu yang terus membayangi dirinya. Ia pun jadi merasa tidak nyaman dan gampang menangis. Perasaan tertekan itu juga berpengaruh terhadap aktivitasnya, seperti selalu minta diantar jika ingin pergi ke kamar mandi.

asuhanak


Psikolog Nurina, S.Psi., CHA., CGA

SD IT Bina Amal Semarang mengadakan Seminar Smart Parenting dengan tema " Pentingnya Membangun Komunikasi dengan Anak untuk menjadi Generasi Juara bersama psikolog Nurina, S.Psi., CHA., CGA.

Seminar diadakan pada Sabtu, 24 September 2016 dengan peserta merupakan wali murid siswa, khususnya kelas 1 dan kelas 2. Secara umum, seminar berlangsung dengan lancar. Di awali dengan tilawah dari siswa kelas 1 dan kelas 2. Kemudian ada persembahan gerak dan lagu dari siswa kelas 2 serta pembacaan puisi.
Penampilan Gerak dan Lagu Siswa Kelas 2

Acara kemudian dilanjutkan penyampaian materi dan diskusi. Alhamdulillah orang tua juga aktif berpatisipasi dalam tanya jawab.

Diharapkan dari seminar ini, orang tua memiliki gambaran dan wawasan terkait pentingnya membangun komunikasi dengan anak. Diawali dengan mengenal gaya belajar anak.

Dengan mengenal gaya belajar anak, maka di harapkan orang tua lebih mudah dalam membimbing dan menggali potensi anak secara maksimal.

Tipe belajar merupakan gaya belajar yang dimiliki oleh setiap anak yang merupakan cara termudah dalam menyerap, mengatur dan mengolah informasi, tipe belajar anak di bagi menjadi tiga hal, yaitu :
  1. Gaya visual, dimana ia akan secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/dilihatnya. 
  2. Gaya auditori, dimana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal. 
  3. Gaya kinestetik, dimana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila informasi yang harus diserapnya terlebih dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan orang lain melakukan hal yang akan dipelajarinya. 
Selain ketiga tipe belajar tersebut, ada juga tipe campuran dari tiga tipe belajar diatas, misalnya Auditori-visual atau Visual-kinestetik atau bisa ketiga-tiganya tapi biasanya satu tipe belajar lebih mendominasi

KENALI CIRI-CIRINYA

Gaya Auditory

- Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
- Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplet.
- Cenderung banyak omong.
- Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
- Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
- Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.

Gaya Visual

- Senantiasa berusaha melihat bibir guru yang sedang mengajar.
- Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
- Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan dan menggantikan kata-kata) saat mengungkapkan sesuatu.
- Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
- Biasanya kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
- Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
- Biasanya dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.

Gaya Kinesthetic

- Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
- Amat sulit untuk berdiam diri/duduk manis.
- Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif.
- Memiliki koordinasi tubuh yang baik.
- Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
- Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dan sebagainya) dirasa amat sulit oleh anak dengan gaya belajar ini.
- Cenderung terlihat “agak tertinggal” dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim diterapkan di sekolah-sekolah.

Selain itu, pola asuh juga memegang peran penting dalam kemunculan gaya belajar anak. Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya. Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya. Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya. Sementara anak seorang pelukis yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual.

Dan yang terpenting, apapun tipe belajar anak, sebagai orang tua harus yakin bahwa anak adalah anugerah, anak adalah amanah dari Allah yang harus di jaga, di didik dengan kasih sayang dan kesabaran. Nah, bagaimana dengan anak Anda?

Galeri Gambar :
Ibu-Ibu MS menyambut dengan senyum
Tilawah dan terjemah kelas 2

Gerak dan lagu kelas 2

Lagu dan Puisi
Lagu dan Puisi
Orang Tua Wali

Orang Tua Wali





Sholat Dhuha, Doa bersama dan Penggalangan Dana Anak-Anak SDIT Bina Amal

Pagi ini, Jumat 23 September 2016, Anak-Anak SDIT Bina Amal bersama-sama memanjatkan doa bagi korban bencana Garut. Di awali dengan sholat Dhuha bersama, anak-anak kemudian mulai berdonasi, berharap bantuan yang sedikit ini bisa meringankan penderitaan saudara-saudara yang sedang di timpa musibah di Garut.

Hujan lebat yang mengguyur Garut pada Selasa (20/9/2016) mulai pukul 20.00 hingga pukul 23.00, menyebabkan semua jembatan yang menghubungkan Garut Kota lumpuh total dikarenakan air sungai cimanuk meluap sampai bibir jembatan. Bahkan 15 rumah di Rengganis, yaitu rumah-rumah yang ada dipinggir sungai Cimanuk hanyut terbawa arus yang begitu besar dan deras.

Beberapa bangunan fasilitas publik juga tidak luput dari amukan banjir bandang tersebut. Tercatat beberapa bangunan yang hancur di terjang banjir, RSU dr Slamet, Kantor Polsek Tarogong Kidul, Kantor Kec Tarogong Kidul, Kantor arsip, Kantor BKKBN.

Saat ini sebagian besar korban banjir telah dievakuasi dibeberapa tempat, diantaranya Makorem 062, RS Guntur, Posko di Setda.

Kepada seluruh siswa-siswi, bapak ibu wali murid,bapak ibu guru dan karyawan SDIT Bina Amal atas partisipasi,support dan kerja sama dalam:

Penggalangan Dana Peduli Bencana Garut,jumat 23 September 2016

Alhamdulillah terkumpul dana Rp.11.950.500.

Semoga dana yang terkumpul memberikan kemanfaatan bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah.

Aamiin.

Sekolah masih menerima infak bencana sd selasa 27 Sept 2016.

Galeri Gambar












Anak-anak yang sukses,  bukanlah dibesarkan oleh orangtua yang hebat ataupun cerdas melainkan oleh orangtua―terutama ibu―yang penuh cinta dan tulus dalam mendidik anak-anaknya.

“Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?” kata Siti Hajar kepada Nabi Ibrahim.

Mereka berjalan hingga ke tempat yang tandus pun panas. Di sebuah lembah yang hanya ada batu dan pasir.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasan Siti Hajar saat itu. Seorang wanita yang baru saja melahirkan anak laki-laki dambaan suaminya. Malah ia dibawa pergi ketempat tandus tanpa ada satu orang pun. Dan dengan pertanyaan yang tak kunjung ada jawabannya.

“Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?” ulang Siti Hajar. Nabi Ibrahim masih bungkam.

Ia berjalan terus tanpa menoleh atas panggilan istrinya itu. Saya membayangkan langkahnya gontai, mungkin pula hatinya tak tega.

Ibrahim masih saja membisu. Lantas Siti Hajar mengganti pertanyaannya, “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”

“Benar,” jawab Ibrahim.

“Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami.”

Siti Hajar lalu berbalik. Sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.

Inilah perpisahan yang sangat memilukan bagi keduanya. Nabi Ibrahim sadar bahwa semua ini adalah perintah Allah yang harus ia jalankan. Dengan berat hati ia berjalan hingga sampai Tsaniah, ditempat dimana istri dan anaknya tak lagi bisa melihatnya.

Bagaimana perasaan Nabi Ibrahmi kala itu? Saya tak tahu. Namun kita bisa membayangkan betapa berat beban yang harus ia emban sebagai Rasul. Betapa teguh dan kokohnya iman dan keyakinan Ibrahim atas ketentuan Allah.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki pepohonan, yaitu di sisi rumah-Mu yang suci. Mudah-mudahan mereka berterima kasih,” itulah doa yang diucapkan Nabi Ibrahim saat meninggalkan anak dan istrinya.

Sementara itu, Siti Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia masih kehausan. Demikian juga Ismail. Ia menangis. Berguling-guling. Minta air. Padahal tak terlihat tanda-tanda air di padang pasir dan berbatu itu.

Ya, Allah. Ibu mana yang tega melihat anaknya menangis.

Ia lalu pergi mendaki Bukit Shafa. Mencari-cari pertolongan. Tidak ada seorang pun. Bahkan tak terlihat sebatang pohon pun ditempat itu. Siti Hajar lalu berlari mendaki bukit Marwah. Nihil. Hasilnya sama saja.

Ismail terdengar masih menangis.

Bila saya berada di posisi Siti Hajar, tentu saya akan bingung. Bertanya-tanya, apa yang mesti saya lakukan? Bagaimana mencari air di tempat yang gersang ini? Ditempat yang hanya ada batu dan pasir?

Mungkin saya akan duduk. Sambil menangis. Karena tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.

Namun Siti Hajar tidak. Ia terus saja berusaha mencari air untuk Ismail. Ia berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwah terus menerus. Hingga tujuh kali.

Tak dinyana ternyata pertolongan Allah datang di tempat yang tidak terduga. Air itu tiba-tiba keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang sedang menangis. Bukan di jalur antara bukit Shafa dan Marwah, bukan ditempat dimana Siti Hajar mencarinya. Tapi air itu mengalir dibawah kaki Ismail..!

“Kok ya gak dari tadi tho, kenapa mesti berlari-lari dulu sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwah,” mungkin saya akan berkata begitu. Namun dari kejadian ini saya mengerti bahwa, tugas kita hanya berusaha maksimal dan pertolongan Allah bisa datang dari tempat yang tidak disangka-sangka.

“Zamzam, zamzam. Berkumpul-berkumpul,” kata Siti Hajar takjub dan gembira. Ia segera membuat kolam kecil agar air -yang kini dikenal sebagai air zamzam- tak lari kemana-mana. Ia minum dengan penuh rasa syukur lalu menyusui Ismail.

Di lembah tandus itulah kemudian saat ini orang-orang pada berkumpul. Banyak orang yang kemudian berkumpul dan menetap di lembah itu.

Ismail tumbuh menjadi anak cerdas. Penuh bakti kepada ibu dan ayahnya. Saat ia akan dikurbankan oleh Nabi Ibrahim aras perintah Allah, ia tak menentang. Tapi melakukannya dengan penuh keimanan. Setelah dewasa ia diangkat menjadi Rasul.

Dan peristiwa yang dialami Siti Hajar ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam rukun haji. Dan peristiwa pengorbanan Ismail kita kenang selamanya dalam hari raya idul adha. Pengorbanan yang sungguh besar dilakukan oleh keluarga Ibrahim. Dan itu dilakukan dengan penuh keimanan pada Allah dan penuh kecintaan pada anaknya.

Cinta.

Ya, inilah kekuatan emosi yang bisa membuat orang melakukan apa pun. Dan dari Siti Hajar kita belajar untuk menjadi seorang ibu yang penuh cinta. Hati yang penuh rasa cinta kasih, kata sebuah artikel, dan mampu mencurahkannya untuk orang-orang yang dikasihinya. Sesungguhnya sifat inilah yang Allah kehendaki bertakhta di hati kita agar kita mampu mendidik anak-anak sehingga mereka tumbuh cemerlang.

tuturma


Alhamdulillah...Barokallah semua siswa-siswi Bina Amal. Teruslah berprestasi, teruslah berkarya, teruslah berusaha menjadi yang terbaik...

Siswa-siswi Bina Amal kembali menorehkan prestasi di berbagai ajang kejuaraan. Baik di bidang olah raga, Seni dan Budaya, Sains  maupum kejuaraan Keagamaan..

Hasil lomba MAPSI 10 September 2016  Tingkat Kecamatan Semarang Selatan
Lomba TIK :

Putra
Juara 1 Majid Reza Siswa SDIT Bina Amal
Juara 2 Gazia Rifa Siswa SDIT Bina Amal

Putri
Juara 1 Millati Siswa SDIT Bina Amal
Juara 3 Nailah Siswa SDIT Bina Amal

Dan berikut hasil lomba MAPSI gelombang sebelumnya, 3 September 2016.

# Khot dan Kaligrafi :
Juara 1 Putri : Callysta

#Tilawatil dan Hifdzil Quran :

Juara 1 Putra : M. Akmal
Juara 2 Putra : M.Hilman Shidqi
Juara 3 Putra : Ibrahim
Juara 2 Putri : Syifa

#Cerita Islami :

Juara 1 Putra : Lutfi Sabran
Juara 3 Putra : Rafli Lazuardi
Juara 1 Putri : Laura Salima

Seolah tak mau kalah dengan adik-adiknya di SDIT, Kakak SMPIT pun menorehkan prestasi pada
lomba MAPSI tingkat SMP . Berikut hasilnya :

1. Tahfidz putri juara 3 (Afina Ghaida / 9)
2. Tartil putri 3 (Habibah Vera / 9)
3. Kaligrafi putri 3 (Diah Permata / 9)

Dan untuk  lomba NSO (Natural science Olimpiade), Kakak SMPIT berhasil meloloskan  1 orang, syahlila masuk final.

Tim Basket SMPIT Bina Amal
Tim Basket Putra SMPIT Bina Amal pun ikut berprestasi dengan menjadi juara 1 dalam kejuaran bola basket SMANDA antar SMP se Kota Semarang tahun 2016. Dan ini termasuk prestasi yang membanggakan karena berhasil mempertahankan gelar 3 kali berturut.turut.

Dan bagi yang  belum diberi kesempatan juara, semoga di lain kesempatan  masih diberi kesempatan menjadi yg terbaik. Aamiin

Tetaplah semangat...apapun yang teradi kalian semua adalah juara di hati Bapak dan Ibu Guru.....

humas@binaamal.info

Siswa SDIT Bina Amal sedang Tadarus

Anak yang terlahir dari rahim ibu, ternyata membawa berbagai macam perasaan bagi orangtuanya. Hal ini bisa dipahami karena tidak semua anak seperti yang kita harapkan, karena membawa karakter, sifat sendiri yang satu sama lain berbeda. Akan tetapi sebagai orang tua tentu tidak begitu saja menyerah dengan keadaan yang menyertai anak. Entah ia menjadi anak yang bandel, anak yang sering menyusahkan orangtuanya, anak yang lemah dari segi kesehatan maupun akalnya atau bahkan di kemudian hari menjadi ‘musuh’ bagi keluarga dan orangtuanya. Na’udzubillah…

Anak yang penurut, manis dan baik hati, sehat jasmani dan rohani adalah dambaan setiap orang tua apalagi memiliki anak yang shalih. Didalam Islam, ternyata ada beberapa tipe anak yang dikategorikan oleh para ulama, yakni:

1. Anak sebagai hiasan hidup dan penyejuk bagi orang tuanya


Tentu hal iniakan sangat menyenangkan memiliki anak sehat lahiriyah dan batiniyah dan kehadiran yang sangat ditunggu-tunggu ini menjadi hiasan hidup yang sangat indah dipandang mata. Kedatangannya bukan musibah melainkan anugerah. Menjadi hiasan yang baik sekaligus penyejuk tidak akan terjadi jika ada kesalahan dalam pola asuh anak.

Untuk itu dalam hal ini orang tua harus cermat dan mengambil kendali utama menjadikan anak seperti yang diinginkan. Hingga menjadi putih, hitam atau abu-abu jiwa dan kehidupan mereka, itu sebenarnya berkat didikan orang tua. Jika berhasil, maka orang tua akan menabung surga kelak saat mempunyai anak shalih yang pandai mendoakan orangtuanya.

Allah berfirman: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali Imron: 14)

Juga terdapat dalam ayat-Nya: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Furqon: 74)

2. Anak sebagai cobaan hidup


Akan sangat berbeda dengan hal pertama tadi jika kehadiran anak menjadi cobaan hidup keluarganya. Bukan hanya karena cacat bawaan yang dideritanya, namun juga perlakuan anak yang tidak menyenangkan atau bahkan cenderung amoral. Han ini, pada dasarnya akan menjadi pukulan terberat juga cobaan hidup yang tidak ringan bagi orangtuanya.

Allah berfirman: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Qs. Al Anfal: 28)

3. Anak yang lemah

Mempunyai keturunan anak yang lemah merupakan hal yang cukup menyedihkan. Lemah disini bisa berarti lemah tubuh atau akalnya, bisa jadi lemah dalam ilmu pengetahuan, lemah dalam wawasan hidup, lemah segi kemampuan fighting dalam menjalani kehidupan, lemah dalam segi akidah dan lain sebagainya.

Allah berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Qs. An Nisa’: 9)

Agar tidak menjadi seperti yang disitir dalam Al-Qur’an, hendaknya orangtua membekali anaknya dengan sistem imun terbaik baik bagi tubuhnya, banyak wawasan pengetahuan dan kehidupan, kemampuan yang mumpuni, memantau perkembangan mentalnya agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan juga bekali dengan akidah yang baik. Karena bisa jadi, sesuatu yang bersifat lemah menjadi cikal bakal cacat tubuh dan mental yang permanen, kriminalitas anak dan tindakan amoral lainnya.

4. Anak sebagai musuh

Allah berfirman: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs At Taghabun: 14)

Musuh dalam arti saat anak menjadi pembangkang tidak lagi menuruti nasihat orang tua dan mendengarkan petuah bijak orang-orang sekelilingnya, belajar menjadi pembohong, tidak malu lagi melakukan hal tercela dan maksiat dan mulai melupakan untuk beribadah kepada Allah. Dan hal ini merupakan puncak kesedihan dan kegagalan dari pola asuh orang tua.

Oleh sebab itu sahabat Ummi, apapun tipe anak, ia adalah lembaran putih, orangtualah yang sebenarnya memberi torehan istimewa pada lembaran putih anak. Ia akan menjadi Muslim, Nasrani atau Yahudi adalah campur tangan orang tua. Jadilah orang tua terbaik dalam membentuk pribadi anak. Semoga kitalah yang menjadi pemenang memperoleh anak yang shalih penyejuk hati keluarga, aamiin.

ummi online




Agenda Rutin Siswa-Siswi SDIT Bina Amal

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.

Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” (al-Jabiri, 2014: 19).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.

Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.

Menyambut Hidayah Islam

Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.

Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.

Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.

Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat

Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.

Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.

Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.

Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).

Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).

Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh dengan keimanannya.

Peranan Mush’ab Dalam Islam

Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi penduduk Yatsrib, Madinah.

Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang tenang dan tidak terburu-buru.

Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya Alquran.

Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?” “Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan Mush’ab.

Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.

Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”

Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman kecuali Ushairim.

Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab, Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).

Wafatnya

Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah), lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu Mush’ab membaca ayat:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).

Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).

Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy, ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.

Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).

Kemudian beliau mempersaksikan bahwa sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.

Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab, “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.”

Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idkhir.”

Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.

Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair

Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.

Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka. Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).

Penutup

Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk mendapatkan ridha Allah.

Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.








Asyiknya menanam mangrove

Puncak tema kelas 3 & 4 “ Menanam Mangrove
Rabu, 14 September 2016 di Tambak Lorok, Semarang Utara

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pagi ini, seluruh siswa kelas 3 dan kelas 4 SDIT Bina Amal 02 sangat bersemangat. Ya, pasalnya hari ini adalah hari yang sangat ditunggu. Puncak Tema.

Puncak tema adalah kegiatan istimewa di setiap kelasnya pada awal tema pembelajaran yang diselenggarakan di dalam maupun di luar sekolah dengan tema tertentu. Setiap anak selalu menanti-nanti hari itu.

Puncak tema di adakan dalam seharian penuh untuk menggali potensi atau bakat siswa selain bidang akademis. Outbond, rekreasi, berenang, drama teater, peetunjukan musik dan seni, berkunjung ke tempat rekomended, bakti sosial, games, bertani, berternak, bermain dan masih banyak lagi merupakan kegiatan dalam puncak tema.

Kali ini kelas 3 dan kelas 4 SDIT Bina Amal 02 mengadakan puncak tema ke Tambak Lorok, Semarang Utara untuk menanam mangrove. Di awali pembukaan di lapangan sekolah dengan Tahfidz klasikal sampai pada keseruan di lokasi kegiatan.

Kegiatan yang dilakukan adalah perkenalan dengan tim pemandu, menikmati asyiknya suara ombak dan angin laut, menuju laut dan mendengarkan penjelasan tentang mangrove dan manfaat serta cara menanam mangrove.

Setelah rangkaian kegiatan tersebut diikuti, para siswa mulai membersihkan diri dari lumpur-lumpur yang menyenangkan dan di lanjutkan makan bekal yang dibawa. Berbagi adalah kegiatan tersirat penuh makna. Ya, mereka tidak hanya makan bekal nya sendiri tetapi juga berbagi bekal yang dibawa dengan teman-teman serta para guru.


humas@binaamal.info

galeri foto





Spanduk menyambut Idul Adha Kampus Bina Amal 
Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar....takbir menggema bersahut-sahutan di Kampus Bina Amal. Alhamdulillah Kampus Bina Amal tiap tahun selalu menyelenggarakan penyembelihan hewan Qurban.

Anak-Anak  Bina Amal menyaksikan hewan qurban
Di Kampus Bina Amal 1, antusias anak-anak dalam mengikuti kegiatan ini sungguh luar biasa. Mereka tidak hanya memberi makan hewan qurban di kampus, bahkan ada yang berani membantu untuk membawa kambing. Kemudian untuk siswa kelas 6 melakukan pembelajaran dengan mencacah langsung hewan qurban yang telah di sembelih.

Anak- Anak membantu mencacah hewan qurban
Untuk anak-anak KBIT-TKIT Kampus Bina Amal 1, mereka di suguhi drama operet kisah nabi Ibrahim. Bagaimana Nabi Ibrahim dan keluarga menjadi contoh dalam ketaatan kepada Allah.

Begitu juga untuk kampus Bina Amal 02, bapak dan ibu guru serta anak-anak TKIT dan SDIT bersama-sama merayakan Idul Qurban dengan melakukan penyembelihan hewan Qurban. Anak-anakpun bergembira dan bersemangat untuk merayakan dan membantu mencacah hewan qurban.

Lain lagi di kampus SMPIT-SMAIT, malam harinya anak-anak ikut takbir keliling di perkampungan sekitar kampus. Kemudian pagi harinya sholat Ied bersama-sama. Dan yang seru, habis sholat Ied semua guru, pegawai dan murid dapat hadiah nasi tumpeng...Alhamdulillah anak-anak tambanh semangat lagi saat proses penyembelihan. Mereka dilibatkan, sebagai bagian proses pembelajaran. Ada yang pegang kaki kambing / sapi saat penyembelihan. Ada yang mencacah, ada yang bagian membungkus dan membagi. Pokoknya seru....ungkap salah satu siswa...

Alhamdulillah untuk tahun ini Bina Amal dapat menyalurkan hewan Qurban, dengan rincian :

- Hewan Qurban dari Kampus Bina Amal 1 yaitu 6 sapi dan 53 kambing
- Hewan Qurban dari Kampus Bina Amal 2 yaitu 1 sapi  dan 11 kambing
- Hewan Qurban dari SMPIT-SMAIT  Bina Amal yaitu 3 Sapi dan 16 kambing

Seluruh rangkaian perayaan Hari Raya Idul Adha yang diadakan oleh Bina Amal mendapatkan apresiasi yang positif dari seluruh warga sekolah dan Wali Murid. Kedepannya acara peringatan hari raya seperti ini akan terus dilaksanakan oleh Bina Amal.



galeri foto

Anak-anak antusias mengikuti agenda Idul adha di Bina Amal

Siswa KBIT-TKIT Bina Amal menyaksikan operet Nabi Ibrahim

Pemain Operet Kisah Nabi Ibrahim
Siswa Bina Amal 02
Siswa Bina Amal 02 

Takbir Keliling Siswa-Siswi SMPIT-SMAIT Bina Amal

Sholat Ied SMPIT-SMAIT Bina Amal

Sarapan bareng SMPIT-SMAIT Bina Amal usai sholat Ied
Siswa-Siswi SMPIT-SMAIT Bina Amal mencacah daging Qurban


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget