Februari 2018



Hari itu Sabtu 24 Februari 218, SMP IT Bina Amal mengirim Tim Basket yang terdiri dari lima siswa kelas delapan yaitu : Izzanul Rashif, Rayhan Ghifari Eka A, Miky Atmaja Tri W, Muiz Ali M, dan Rakan Mufti W. pada ajang Olimpiade Sains Kreativitas 2018. Ajang kompetisi bidang sains, seni, agama, dan olah raga ini diikuti oleh 326 siswa dari perwakilan SMP/MTs negeri dan swasta di Kota Semarang.

Kampus Merah Putih SMA Nasima di Jl. Yos Sudarso No 17 Kawasan Puri Anjasmoro Semarang Sabtu pagi tampak berbeda dari biasanya. Puluhan umbul-umbul, spanduk, dan ucapan selamat datang terpasang memenuhi halaman depan gedung. Ratusan anak-anak berseragam SMP datang bergelombang memasuki kampus yang bercat merah putih itu.

Ketua Panitia Pelaksana OSKREA 2018 Muhammad Nur Wahid S. Pd. mengatakan tujuan kegiatan ini untuk mengasah kemampuan siswa sekaligus memberi ruang kompetisi dan kreativitas bagi pelajar-pelajar khususnya jenjang SMP.

Jenis lomba yang dipertandingkan antara lain Olimpiade Sains, Matematika, Desain Web, Karikatur Kritik, Lomba Cerdas Tangkas (LCT) Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Basket Three on Three.

“Antusiasme peserta luar biasa. Tercatat lebih dari 29 sekolah ikut dalam ajang ini. Tidak hanya dari Semarang saja tetapi juga dari Ungaran juga. Basis sekolah peserta juga merata. Ada yang dari sekolah negeri, sekolah swasta berbasis agama Islam, Kristen, Katolik, dan sekolah Nasional. Indonesia banget lah pokoknya” kata Wahid.

Kegiatan OSKREA 2018 ini merupakan kegiatan kedua. Kegiatan pertama digelar tahun 2017. Para pemenang berhak mendapatkan piala, sertifikat, dan uang pembinaan. Dalam ajang ini juga diperebutkan Trophy Juara Umum Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Alhamdulillah dalam pertandingan Basket Three On Three meraih juara 1. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungannya untuk Tim Basket Bina Amal.



SEMARANG - Sebanyak 119 siswa Kelas 4 SDIT Bina Amal mengikuti kegiatan puncak tema mengeksplore keragaman negeri di Puri Maerokoco, Kota Semarang. Keragaman budaya, adat, pariwisata, makanan khas di setiap daerah di Provinsi Jawa Tengah menjadi sebuah keindahan untuk negeri.

Wakil Kepala Sekolah I bidang Kurikulum, ustadzah Agustin Budi menuturkan, "Banyak siswa kelas 4 yang belum begitu mengenal ke-khas-an masing masing kota dan kabupaten di Jawa Tengah. Oleh karena itu, di kesempatan yang baik ini, siswa diajak untuk mengenal lebih dekat keragaman di Jawa Tengah. Siswa juga sangat antusias mengikuti puncak tema ini, karena hanya dalam waktu beberapa jam saja mereka bisa berkeliling Jawa Tengah."

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 22 Februari 2018, menjadi pengalaman yang mengesankan bagi para siswa. Selain dapat mengeksplore keragaman kota dan kabupaten di Jawa Tengah, para siswa juga dapat menikmati alam, danau, hutan mangrove dan bermain outbond bersama.




Semarang, tanggal 23 Februari 2018 Tim Olimpiade SMA IT Bina Amal terbang ke Makassar untuk mengikuti sesi final Olimpiade Matematika Tingkat Nasional. Acara mulai dari tanggal 24-26 Februari 2018. Pelaksana kegiatan ini adalah Himpunan Mahasiswa Matematika Universitas Muhammadiyah Makassar.

Olimpiade ini berlangsung di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. SMA IT Bina Amal Sendiri mengirim satu tim yang terdiri dari dua siswi yakni Hanifah Az Zahra dan Rizki Amelia Hadi dengan pendamping Rico Prasetyo K, M.Pd. Sebelum ke Makassar tim SMA IT Bina Amal menjalani babak penyisihan tingkat Rayon Semarang dan lolos menjadi juara 1. Sehingga mengikuti sesi berikutnya di Makassar.

Di Makassar mereka harus bersaing dengan 76 Tim dari Seluruh Indonesia. Dan semua peserta adalah kelas XII, sedang Hanifah Az Zahra dan Rizki Amelia Hadi masih duduk di kelas X. Meskipun demikian, mereka berdua tidak patah semangat.

Sampai berita ini ditulis kompetisi masih berlangsung dan semoga perjuangan mereka membawa harum nama Bina Amal. Menurut Rico Prasetyo lomba kali ini sungguh luar biasa. Pesertanya dari seluruh Indonesia. Kami dalam membimbing selalu memotivasi anak-anak agar berjuang dengan sungguh-sungguh dan menanamkan keyakinan bahwa semua bisa dilalui.

Dengan segala daya dan upaya mereka akhirnya masuk dua puluh besar. Bagi kami pencapaian anak-anak cukup memuaskan mengingat mereka baru kelas sepuluh. Insya Allah di waktu mendatang kita akan berusaha untuk lebih baik lagi, Imbuhnya. 

Teruslah berprestasi, tetap semangat..karena apapun yang terjadi, kalian adalah juara di hati kami...(Kiswanto)


.
Anak kita adalah amanah. Kita hanyalah fasilitator yang ditugasi memastikan ia mengenal tempat kembalinya : Allah swt. 

Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya agar baik fisik dan jiwanya. 

Lalu, bagaimana agar kita menjadi fasilitator yang baik?

Yang paling utama adalah terus mengenal diri sendiri dan mengenal anak kita. Mengenal perasaan diri sendiri dan anak kita, mengenal kecenderungan diri sendiri dan anak kita, mengenal pola pikir diri sendiri dan anak kita, mengenal kemampuan diri sendiri dan anak kita, mengenal tingkat dan jenis kecerdasan diri sendiri dan anak kita, mengenal gaya belajar diri sendiri dan anak kita, dan segala seluk beluk tentang diri kita sendiri dan anak kita.

Bagaimana caranya? 

1. BACA BAHASA TUBUH DAN SAPA PERASAAN

Perhatikan baik-baik mimik wajah dan bahasa tubuhnya, terutama saat kita sedang bersamanya.

Dari mimik dan bahasa tubuh yang tertangkap, sapa perasaan anak kita.
“Wah, kayaknya lagi girang banget nih?”
“Duh mukanya kusut banget, BeTe di sekolah?”
“Bau acemmmm.. abis main bola ya? Capek banget dong”.

2. WAKTU YANG BERKUALITAS

Milikilah waktu bersama BERDUA SAJA dengan anak kita, minimal 2 jam setiap pekan. Dating time.

Manfaatkan kebersamaan itu untuk saling terbuka dan saling mendengarkan. Ngobrol.

Pastikan kita tidak berkomunikasi dengan siapapun melalui media apapun ketika sedang berdua saja dengan anak kita. Seperti buka whatsapp, buka facebook, buka sosmed lainnya, BIG NO!

Jangan disambil-sambil, bisa-bisa anak kita merasa tidak dihargai.

Kadang ada hal-hal yang kelu bagi anak kita untuk menceritakannya. Hadiahi ia buku diary yang hanya dia dan orangtua saja yang tau isinya.

Pada saat dating time, kita bisa membahas isi buku tersebut.

Apresiasi keterbukaannya pada kita. Beri semangat ketika ia membutuhkan. Terima ia ketika ia berbuat kesalahan. Dukung nilai perjuangan anak meski sepele apa yang dikerjakannya menurut kita.

3. FALSAFAH KI HAJAR DEWANTARA

Fasilitator yang baik adalah seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara :

Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Di depan memberi contoh/teladan, di tengah memberi motivasi, dan di belakang memberi dorongan/dukungan.

Fasilitator yang baik mengarahkan anak dengan teladan perbuatan, bukan perkataan. Elly Risman mengatakan 1 teladan bersuara lebih nyaring daripada berjuta kata-kata.

Allah swt pasti punya tujuan mengapa telinga kita diciptakan lebih banyak dari pada mulut kita. Dan ternyata menurut ahli komunikasi dunia, kata-kata hanya ditangkap 7% saja oleh yang mendengarkan!

4. MENDENGARKAN DENGAN HATI

Jika kita ingin anak kita patuh dan mendengarkan kata-kata kita, mulailah dengan mendengarkan perasaan dan kata-katanya.

Jika kita ingin anak kita melakukan sesuatu, mulailah dengan melakukannya terlebih dahulu. Anak kita bisa saja salah mengerti maksud kata-kata kita, tapi ia tidak pernah gagal meniru perilaku kita.

5. BERIKAN VALIDASI DAN APRESIASI
Fasilitator yang baik memotivasi anak dengan memberi validasi bahwa anak adalah BINTANG.

Setiap anak perlu diakui potensi dan kemampuannya yang unik, yang berbeda dengan anak lainnya maupun orangtuanya. Ia perlu diterima dan dihargai, bagaimanapun dan seberapapun kemampuannya.

Fasilitator yang baik juga selalu memberi dukungan berupa apresiasi dan kesempatan untuk mencoba atau melakukan sesuatu.

Beri dia kepercayaan untuk mengerjakan hal yang sesuai dengan kemampuannya. Misal, biarkan anak kita mengancingkan sendiri bajunya meski agak lama ia mengerjakan. Biarkan ia menalikan tali sepatunya meski panjang sebelah memitanya. Lalu, puji hasil kerjanya.

Jika rumah kita berantakan karena ia sedang asyik ‘mengerjakan proyek’ yang sedang menjadi minatnya, biarkan saja. Percayalah, saat ia beranjak remaja, kita akan merindukan masa-masa rumah yang superberantakan itu.

Validasi dan apresiasi tak selalu hadiah yang berupa materi, bisa juga pujian yang tulus dan pelukan yang hangat.

Pelukan tak hanya efektif membuat anak merasa diterima. Virginia Satir, seorang psikolog dan terapis keluarga mengatakan :
“4 pelukan dibutuhkan seseorang untuk bertahan hidup
8 pelukan dibutuhkan seseorang untuk memperbaiki diri dan hidupnya
12 pelukan dibutuhkan seseorang untuk tumbuh”

6. LIBATKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Ketika akan membuat keputusan apapun tentang anak kita, libatkan dia dengan menanyakan pendapatnya.

Anak akan merasa sangat berharga ketika diminta pendapatnya meski keputusan akhir selalu di tangan orangtua.

Selain merasa dihargai, menanyakan pendapat anak dalam pengambilan keputusan dapat menstimulus kematangan otak bagian Pre Frontal Cortex (PFC), yaitu bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang karena berfungsi membentuk kepribadian, menimbang benar-salah, baik-lebih baik, pengelolaan adab nilai dan moral, mengelola emosi, merencanakan masa depan, memperkirakan konsekuensi dari tindakan, serta pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, melibatkan anak dalam pembuatan keputusan yang sesuai usia, misalnya dalam membuat menu selama seminggu, memilih pakaian yang akan dikenakan, memilih sepatu yang akan dibeli, dll, merupakan satu langkah memanusiakan kemanusiaannya. Tidak dijadikan robot yang siap menjalankan program.

Selamat menjadi fasilitator terbaik. Semoga Allah bangga dan memperkenankan kita memasuki surgaNya berkat susah payahnya kita menjaga amanahNya dengan baik.



yayasankitadanbuahhati



Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai guru juga, saya sering kali menjumpai siswa yang "berulah" (baca: bermasalah). Biasanya saya menemukan hal ini ketika sedang mengajar ataupun saat berpapasan dengan siswa saat waktu istirahat maupun waktu lain selama di sekolah. Beberapa di antara masalah yang terlihat yakni: nyeletuk, berbicara kasar, baju seragam di keluarkan atau dicoret-coret, rambut laki-laki yang terlalu panjang, atau banyak pelanggaran lain yang tentunya tak mungkin saya sebutkan semuanya.

Lalu, bagaimana sikap kita sebaiknya? Berikut hasil pengalaman saya yang dirangkum menjadi tips agar bisa dipraktekkan dalam mengajar siswa zaman now. Tips ini saya tulis spesial untuk para guru semua, berkenaan dengan Hari Guru Nasional. Cara ini juga bisa dilakukan oleh ayah bunda di rumah, karena ayah bunda juga merupakan guru kehidupan bagi anak-anaknya. Silahkan simak tips berikut :

1. LAKUKAN PENDEKATAN


Seringkali saya melihat guru menegur siswa dari jauh jika melakukan suatu pelanggaran.

Misalnya:
"Hai Jono (sambil menunjuk siswa) jangan bercanda di belakang!"

"Ardi (sambil menunjuk siswa yang berada di depan pintu kelas) kenapa kamu terlambat?"

Padahal siswa zaman now sangat mementingkan yang namanya connect (hubungan) dekat. Yaps, soalnya mereka terbiasa terkoneksi dengan media sosial dan lebih sering menatap gadget begitu dekat. Jadi, mendekatlah ke siswa tersebut dan rendahkanlah volume bicara kita. Jangan sampai terdengar siswa lain, karena bisa membuat harga diri siswa ini menjadi tercerabut.

2. GUNAKAN KALIMAT TANYA


Ketika siswa melakukan pelanggaran, maka tugas guru sebaiknya memberikan penyadaran bahwa apakah perbuatan yang dilakukan boleh atau tidak boleh. Selain itu siswa juga harus mempertimbangkan baik buruknya perilaku yang dilakukan. Beberapa kali saya melihat guru yang langsung mengatakan kesalahan anak.

Seperti:

"Jono, kamu ini baju seragam di keluarin! Masukin sekarang!"

Kalimat-kalimat seperti itu justru membuat siswa di awasi dan kurang menyadari kesalahannya. Buatlah siswa sadar dan berpikir apa yang salah terhadap dirinya dengan mengajukan kalimat tanya. Kalimat tanya membuat anak menjadi Berpikir, Memilih dan Memutuskan (BMM) serta introspeksi terhadap dirinya.

Contoh yang Benar :

Guru : "Jono, menurutmu jika berada di sekolah sebaiknya baju seragam di keluarkan atau di masukkan?"

Siswa : "Di masukkan Pak."

Guru : "Terima kasih kamu sudah berkata benar. Lalu bagaimana keadaan seragammu saat ini?"

Siswa : (melihat kondisi/memeriksa seragamnya) "Oh iya Pak ini keluar bajunya"

Guru : "Lalu sekarang apa yang harus kamu lakukan?"

Siswa : (otomatis memasukkan baju)

Setelah terjadi perubahan perilaku maka tugas kita yakni memberikan harapan agar siswa tersebut tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Contoh :
"Sebenernya Bapak/Ibu sedih melihat kamu berpakaian tidak rapih dengan mengeluarkan baju seragam. Bapak/ibu berharap kamu bisa selalu berpakaian dengan rapih, memasukkan baju seragammu setiap saat."

Hal ini perlu disampaikan agar siswa memahami apa yang kita harapkan. Jadi, setelah siswa menyadari kekeliruannya dan memahami harapan kita, ajaklah untuk berperilaku sesuai yang kita harapkan.

3. BERIKAN PENGUATAN POSISTIF


Penguatan positif merupakan reward yang sangat efektif untuk merubah perilaku. Berikan kata-kata positif untuk menguatkan perilaku positif.

Rumusnya :
"Kalo kamu (perilaku perubahan) kamu terlihat (kata-kata positif)"

Sebagai contoh :

"Nah, kalo kamu berpakaian rapih memasukkan seragam, kamu terlihat keren banget Jon. Bapak bangga banget sama kamu jika seperti ini."

Ulangilah perkataan tersebut setiap kali kita memergoki anak yang berubah perilakunya menjadi lebih baik. Jadi, jangan hanya siswa yang bermasalah saja yang ditegur atau diperingati. Kita juga harus memberikan penguatan positif saat kita melihat siswa yang melakukan perubahan perilaku yang baik.

Selamat menjadi Guru Zaman Now semoga pendidikan Indonesia semakin berkembang dan maju di kancah Dunia!



Dari pembahasan sebelumnya, kita sudah memahami bahwa anak adalah amanah Allah.

Ia bukanlah milik kita. Bukan semata-mata hadiah yang dapat diperlakukan sesuka kita. Bukan. Kita sebagai pihak yang dititipi akan diminta pertanggungjawaban atas titipan tersebut.

Dengan cara apa? Apakah cukup dengan menjamin kebutuhan materinya, makanannya, dan menyekolahkannya dan mefasilitasinya dengan les tambahan?

Banyaknya kasus kenakalan dan kejahatan yang dilakukan anak dan remaja, seakan menceritakan kenyataan bahwa anak dan remaja kita sehat badannya, cerdas otaknya, namun hampa jiwanya. Adriano Rusfi, seorang praktisi pendidikan, menyebut mereka dengan sebutan “Aqilnya tidak berbarengan (lebih lambat) dengan Balighnya”.

Yang kita inginkan adalah saat kita harus mempertanggungjawabkan anak kita kepada Pemiliknya, hati kita bangga dan tenang karena anak kita kembali dalam keadaan yang terbaik (BEST). Baik iman, budi, dan perilakunya (BEHAVE), baik hati dan kata-katanya (EMPHATIC), baik otaknya (SMART), serta baik fisik, mental, dan jiwanya (TOUGH).

Yaitu anak yang kokoh keimanannya, baik ibadahnya, dan mulia akhlaknya. Anak yang merasa dirinya berharga dan percaya diri. Anak yang cerdas : berfikir kritis dan solutif.

Anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan tutur katanya menghargai orang lain, mandiri, bertanggung jawab pada Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, serta bijak berteknologi.

Jadi, dengan cara apa kita melaksanakan tanggungjawab sebagai orangtua?

Pertama, yang perlu kita sadari bahwa mengasuh adalah aktifitas menunaikan amanah sang Pencipta yang dilakukan orangtua dalam rangka mempersiapkan anaknya menjadi dewasa, yaitu mampu berpikir, memilih, dan mengambil keputusan dengan dilandasi ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akhlak yang baik sebelum anak kita baligh (bagi anak laki-laki) dan hingga menikah (bagi anak perempuan).

Kesadaran kedua adalah bahwa anak kita membawa takdirnya sendiri. Kita hanyalah babysitter terpilih yang ditugasi memenuhi kebutuhannya. Peran kita sebatas FASILITATOR yang membantu anak kita menemukan jalan hidup yang Allah takdirkan kepadanya. Tak lebih dari itu.

Kita sama sekali tidak punya mandat memilihkan jalan hidup bagi anak kita. Sekali lagi, kita sama sekali tidak diberi mandat menentukan jalan hidup anak kita oleh Penciptanya.

Tidak dibenarkan jika kita menitipkan mimpi-mimpi kita yang tak tercapai kepada hidup anak kita. Masa depan laksana dinding putih yang anak itu sendiri yang mewarnainya.

Oleh karena itu, kenali anak kita. Bagaimana mungkin kita bisa mendampinginya jika kita tidak mengenali anak kita sendiri.

Kita juga perlu terus mengenali diri sendiri dan jalan hidup yang digariskan Allah pada kita, agar kita bisa menjadi fasilitator terbaik yang siap mengawal anak kita sepanjang ia berproses menemukan jalan hidupnya sendiri.

Akhirnya, kita menyadari tugas mengasuh adalah tanggungjawab yang sangat serius. Olehkarena itu, rasanya kita tidak lagi bisa menggunakan gaya populer : mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak kita ke tangan orang lain.

Jika oleh karena satu dan lain hal kita menitipkan anak kita pada pengasuh (babysitter, kakek nenek, Asisten Rumah Tangga), sebelum meninggalkannya di pagi hari, pastikan anak tercukupi kebutuhan jiwanya hingga orangtuanya kembali ke rumah.

Pastikan kita tetap menjadi guru pertama dan penjaga utama dari makhluk mungil yang kita bangga-banggakan itu.

Pastikan kita tidak kehilangan momen-momen berharga anak kita. Jika direnungkan kembali, sesungguhnya kita-lah yang merugi jika momen-momen berharga anak kita terlewat sedangkan ia terus tumbuh hari demi hari.

...they won't be kids forever, which makes today that much more important.

Menjadilah orangtua yang ada, ibu yang ada, ayah yang ada. Yang siap memberikan kebutuhan pada saat yang diperlukan, dalam jumlah yang cukup.



Ada kalanya anak tumbuh tidak sesuai dengan harapan, suka melawan, tak betah di rumah, pemalas, dan berbagai perangai buruk lainya. Kondisi ini kerap memunculkan rasa sesal, bingung, dan kecewa pada diri orangtua.

Ironisnya, orangtua sering lupa bahwa hulu dari semua kekecewaan itu adalah diri mereka sendiri. Saat sang buah hati hadir, kebanyakan orang menganggap dirinya sedang mendapatkan “kado” dari Tuhan untuk bisa mereka nikmati. Ia terlupa bahwa hakikatnya ia baru saja dibebani tugas, amanah, dan ujian yang amat berat di pundaknya.

Tugas Mendidik

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS At-Taghabun [64]: 14).

Anak yang shalih adalah amanah untuk dijaga agar tidak menjadi nakal. Anak yang tidak shalih adalah amanah untuk dididik dengan benar. Anak yang shalih adalah anugerah untuk bersyukur kepada Allah.” Karena itulah, yang seharusnya pertama kali dipikirkan oleh orangtua saat dianugerahi seorang anak bukanlah bagaimana membahagiakan anak itu tapi bagaimana mendidiknya agar dapat memenuhi tujuan penciptaan, yaitu menjadi penghamba kepada Allah dan pemakmur bumi (khalifah).

Untuk bisa memenuhi tujuan ini hanya ada satu jalan, yaitu mendidiknya dengan sungguh-sungguh. Prinsip utama yang harus dipegang oleh orangtua saat mendidik adalah keteladanan. “Dalam mendidik, prinsip yang paling utama adalah memberikan keteladanan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw,” .Adanya keteladanan,“Memang tidak menjamin anak otomatis menjadi shalih. Namun tanpa keteladanan akan lebih sulit lagi mendidik anak untuk menjadi shalih.”

Selanjutnya, yang juga harus diperhatikan dalam mendidik adalah lebih banyak memberikan “setoran” kebaikan daripada “penarikan” keburukan. “Setoran kebaikan maksudnya bersikap positif pada anak, memberikan apresiasi, bantuan sewajarnya, dan komunikasi dengan positif. Sedangkan penarikan keburukan sebaliknya, lebih sering memberikan ancaman, kecaman, dan hukuman yang membuat anak merasa sakit hati.

Hadapi Ujian

Saat ikhtiar dalam mendidik belum memperlihatkan hasil yang memuaskan, jangan pernah berkata gagal. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana cerita hidup anak-anak kita akan ditutup. Hayatilah setiap kendala dan belum tercapainya cita dalam mendidik sebagai sebuah ujian yang berpotensi menaikkan derajat kita, terlepas dari apa pun hasilnya. Karena sampai kapan pun anak tetap menjadi ujian, amanah, dan anugerah bagi orang tuanya. Ketika anak menjadi nakal maka orangtua harus menjalani ujian kesabaran.”

Ketika anak menjadi ujian dengan berbagai permasalahannya, mungkin muncul rasa nelangsa yang membuat kita terpuruk, merasa seperti orang paling sengsara di dunia. Padahal, banyak orang yang diberi ujian serupa bahkan jauh lebih berat, para nabi, misalnya. “Dari Mush’ab bin Sa’id dari ayahnya, ia berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau saw menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa,” (HR Tirmidzi).

Maka, kita lihat, bagaimana Nuh as diuji lewat putranya, Kan’an. Terekam juga kisah Ya’qub as dengan anak-anaknya yang mencoba membunuh Yusuf as. Serta Luth as yang dikhianati istri dan anaknya. Namun, apakah perilaku anak-anak itu menurunkan derajat orangtua mereka? Tidak, ayah mereka tetap menjadi Nabi yang mulia.

Jadi, fokus kita adalah bagaimana meneladani para utusan Allah itu.

Di antara yang perlu diteladani antara lain:

1. Tak henti menasihati
Jangan pernah putus asa memberikan nasihat. Lihatlah Nuh as yang terus menasihati sang anak hingga detik-detik terakhir ketika air bah menenggelamkannya. Kekukuhan yang sama pun terlihat ketika Ya’qub dengan lembut berkata pada anak-anaknya yang mencelakakan Yusuf as, “…Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka hanya bersabar itulah yang terbaik bagiku,..” (QS Yusuf [12]: 18).

2. Maafkan anak
Allah telah memfirmankan dengan jelas pada surat At-Taghabun di atas, “Jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Pemaaf adalah karakter mutlak seorang dai, seperti yang tertera di surat Al-A’raf ayat 199, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” Sedangkan kita tahu, orangtua adalah dai bagi anak-anaknya.

3. Koreksi diri
Koreksi diri diperlukan karena setiap masalah sebenarnya tergantung bagaimana seorang hamba menyikapinya. Setiap perubahan sikap ke arah yang lebih positif dan diiringi kesungguhan doa, Insya Allah mendatangkan hasil terbaik.

4. Dekati Allah
Jadikanlah ujian pengasuhan itu sebagai bahan aduan kepada Allah. "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi," (QS Al-Munafiqun [63]: 9).

ummi online



Semarang 15 Februari 2018 SMA IT Bina Amal mengadakan Camping / Kemah bertajuk “Youth Islamic Camp” di Promasan Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Acara berlangsung selama dua hari mulai tanggal 15-16 Februari 2018. Dalam acara tersebut sejumlah 42 siswa putra dan 9 pendamping.

Dalam acara tersebut agenda utamanya adalah pelantikan pengurus OSIS dan MPK 2018/2019. Pemberangkatan sekitar pukul 14.30 dengan kendaraan bak terbuka menuju medini (pos pemberangkatan). Guyuran hujan dan angin kencang mengiringi para peserta menuju tempat camping. Sampai di Promasan peserta dan pendamping mendirikan tenda dilanjutkan makan malam dan istirahat. Pada pagi harinya dilanjutkan pelantikan pengurus OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas). Ketua OSIS dan pengurus mengucapkan janji yang dipandu M.Bajuri selaku Wakil Kepala Sekolah.

Hari kedua cuaca cukup cerah dan kadang disertai dengan kabut. Anak-anak begitu menikmati perjalanan kali ini. Setelah selesai acara pelantikan dan melihat Goa Jepang mereka beres-beres tenda kemudian dilanjutkan jalan kaki menuju Medini untuk sholat Jumat. Selesai sholat anak-anak dan pendamping melanjutkan perjalanan menuju Nglimut Gonoharjo dan naik kendaraan menuju sekolah.

Menurut Akhyar (ketua OSIS SMA IT Bina Amal). Acaranya cukup melelahkan tapi seru karena kami bisa menikmati indahnya perkebunan Teh dan Air Terjun. Dalam perjalanan kami juga belajar bagaimana bekerja sama dengan yang lainnya, membantu teman ketika ada yang sakit karena kelelahan dan sebagainya, tandasnya.

Panitia mengadakan agenda ini bertujuan agar anak-anak dapat menikmati anugrah Allah dan bersyukur atas semua karunianya. Selain itu dalam agenda ini juga diharapkan hubungan antar siswa dan guru semakin akrab. Melihat agenda kali ini berjalan lancar, ada kemungkinan agenda serupa dapat dilaksanakan tahun depan. (Kiswanto)



SURAT KEPUTUSAN
KEPALA SEKOLAH TAMAN KANAK-KANAK  ISLAM TERPADU BINA AMAL
No. 036/SK.TKIT BA/2018
Tentang
PENGUMUMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TKIT BINA AMAL
 TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Menimbang     :
1.      Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah kegiatan awal proses pembelajaran TKIT Bina Amal.
2.   Bahwa kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan untuk mendapatkan data awal siswa yang memiliki kesiapan untuk mengikuti pendidikan TKIT Bina Amal.
3.   Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) harus memenuhi prinsip obyektivitas, akuntabilitas dan profesional sekolah.
Mengingat       :
1.      Grand design TKIT Bina Amal.
2.      Visi, misi dan tujuan TKIT Bina Amal.
3.      Program kerja TKIT Bina Amal Tahun Didik 2018/2019
4.      Proposal Panitia PPDB TKIT Bina Amal Tahun Didik 2018/2019
Memutuskan   :
Pertama        :  Berdasarkan hasil kegiatan observasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) TKIT Bina Amal Jumat-Sabtu, 2 dan 3 Februari 2018 memutuskan nama nama siswa sebagaimana (terlampir) dinyatakan diterima di TKIT Bina Amal.
Kedua          : Orang tua/wali siswa sebagaimana terlampir melakukan proses selanjutnya yaitu daftar ulang dan penyelesaian administrasi.
Ketiga          : Demikian surat keputusan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami dan   agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Informasi Tambahan:

1.    Nama-nama tersebut di atas dimohon untuk melakukan Daftar Ulang dengan cara :
a.    Mengambil Nomor Keuangan dan Penjelasan Alur Pembayaran di bendahara penerimaan ( di ruang TU ) mulai hari senin tanggal 19 Februari 2018 jam 08.00 – 14.00 WIB
b.   Membayar Biaya Awal Masuk Siswa dimulai hari Senin tanggal 19 Februari 2018 sampai dengan hari senin 26 Februari 2018
2. Apabila tidak melakukan daftar ulang sampai dengan tanggal tersebut, maka dianggap mengundurkan diri.





SURAT KEPUTUSAN
KEPALA SEKOLAH DASAR   ISLAM TERPADU BINA AMAL 02
No. 020/SK/SDIT-BA02/II/2018
Tentang
PENGUMUMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
SDIT BINA AMAL 02
 TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Menimbang     :
1.    Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah kegiatan awal proses pembelajaran SDIT Bina Amal 02
2.   Bahwa kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan untuk mendapatkan data awal siswa yang memiliki kesiapan untuk mengikuti pendidikan SDIT Bina Amal 02
3.  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) harus memenuhi prinsip obyektivitas, akuntabilitas dan profesional sekolah.
Mengingat       :
1.    Grand design SDIT Bina Amal 02
2.    Visi, misi, dan tujuan SDIT Bina Amal 02
3.    Program kerja SDIT Bina Amal 02 Tahun Pelajaran 2017/2018
4.    Proposal Panitia PPDB SDIT Bina Amal  02 Tahun Pelajaran 2017/2018
Memutuskan   :
Pertama       :  Berdasarkan hasil kegiatan observasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SDIT Bina Amal 02 Jumat-Sabtu, 9-10 Februari 2018 memutuskan nama-nama siswa sebagaimana (terlampir) dinyatakan diterima di SDIT Bina Amal 02
Kedua          : Orang tua/wali siswa sebagaimana terlampir melakukan proses selanjutnya yaitu daftar ulang dan penyelesaian administrasi.
Ketiga           : Demikian surat keputusan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami dan agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.


Silahkan donlot link berikut




SURAT KEPUTUSAN
KEPALA TAMAN KANAK KANAK   ISLAM TERPADU BINA AMAL 02
No. 038/SK/TKIT-BA02/II/2018
Tentang
PENGUMUMAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
TKIT BINA AMAL 02
 TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Menimbang     :
1.    Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah kegiatan awal proses pembelajaran TKIT Bina Amal 02
2.   Bahwa kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilakukan untuk mendapatkan data awal siswa yang memiliki kesiapan untuk mengikuti pendidikan TKIT Bina Amal 02
3.  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) harus memenuhi prinsip obyektivitas, akuntabilitas dan profesional sekolah.
Mengingat       :
1.    Grand design TKIT Bina Amal 02
2.    Visi, misi, dan tujuan TKIT Bina Amal 02
3.    Program kerja TKIT Bina Amal 02 Tahun Pelajaran 2017/2018
4.    Proposal Panitia PPDB TKIT Bina Amal  02 Tahun Pelajaran 2018/2019
Memutuskan   :
Pertama       :  Berdasarkan hasil kegiatan observasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) TKIT Bina Amal 02 Jumat-Sabtu, 9-10 Februari 2018 memutuskan nama-nama siswa sebagaimana (terlampir) dinyatakan diterima di TKIT Bina Amal 02
Kedua          : Orang tua/wali siswa sebagaimana terlampir melakukan proses selanjutnya yaitu daftar ulang dan penyelesaian administrasi.

Ketiga           : Demikian surat keputusan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban kami dan agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Silahkan download link berikut !


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget