Juni 2016

Secara harfiyah, I’tikaf adalah tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Dengan demikian, I’tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Penggunaan kata I’tikaf di dalam Al-Qur’an terdapat pada firman Allah Swt: “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.” (QS 2: 187).

Di dalam Islam, seseorang bisa beri’tikaf di masjid kapan saja, namun dalam konteks bulan Ramadhan, maka dalam kehidupan Rasulullah Saw, I’tikaf itu dilakukan selama sepuluh hari terakhir. Di antara rangkaian ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah SAW adalah I’tikaf. I’tikaf merupakan sarana muhasabah dan kontemplasi yang efektif bagi muslim dalam memelihara dan meningkatkan keislamannya, khususnya dalam era globalisasi, materialisasi dan informasi kontemporer.

Hukum I’tikaf

Para ulama telah berijma’ bahwa I’tikaf khususnya 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan suatu ibadah yang disyariatkan dan disunnahkan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama 10 hari. Aisyah, Ibnu Umar dan Anas Radlhiallahu ‘Anhum meriwayatkan :”Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini dilakukan oleh beliau hingga wafat, bahkan pada tahun wafatnya beliau beri’tikaf selama 20 hari. Demikian pula halnya dengan para sahabat dan istri Rasulullah Saw senantiasa melaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata :”Sepengetahuan saya tidak ada seorang pun dari ulama yang mengatakan bahwa I’tikaf itu bukan sunnah”.

Keutamaan Dan Tujuan I’tikaf

Abu Daud pernah bertanya kepada Imam Ahmad: Tahukah Anda hadits yang menunjukkan keutamaan I’tikaf ? Ahmad menjawab: tidak, kecuali hadits yang lemah. Namun demikian tidaklah mengurangi nilai ibadah I’tikaf itu sendiri sebagai taqarrub kepada Allah SWT. Dan cukuplah keutamaannya bahwa Rasulullah, para Sahabat, para Istri Rasulullah SAW dan para ulama salafusholeh senantiasa melakukan ibadah ini.

I’tikaf disyariatkan dalam rangka mensucikan hati dengan berkonsentrasi semaksimal mungkin dalam beribadah dan bertaqorrub kepada Allah pada waktu yang terbatas tetapi teramat tinggi nilainya. Jauh dari rutinitas kehidupan dunia, dengan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Kholiq (Pencipta). Bermunajat sambil berdoa dan beristighfar kepada-Nya sehingga saat kembali lagi dalam aktivitas keseharian dapat dijalani secara lebih berkualitas dan berarti. Ibnu Qayyim berkata : I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.


Macam–macam I’tikaf

I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam :

1. I’tikaf sunnah yaitu I’tikaf yang dilakukan secara sukarela, semata mata untuk bertaqorrub kepada Allah, seperti I’tikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan.

2. I’tikaf wajib yaitu yang didahului dengan nadzar atau janji, seperti ucapan seseorang “kalau Allah ta’ala menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beri’tikaf di masjid selama tiga hari”, maka I’tikaf tiga hari itu menjadi wajib hukumnya.


Waktu I’tikaf

Untuk I’tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan, sedangkan I’tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja, pada malam atau siang hari, waktunya bisa lama dan juga bisa singkat, minimal dalam mazhab Hanafi : sekejap tanpa batas waktu tertentu, sekadar berdiam diri dengan niat. Atau dalam mazhab Syafi’i : sesaat atau sejenak (yang penting bisa dikatakan berdiam diri), dan dalam mazhab Hambali, satu jam saja.

Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tadi, waktu I’tikaf yang paling afdhal pada bulan Ramadhan ialah sebagaimana dipraktekkan langsung oleh Baginda Nabi SAW yaitu 10 hari terakhir bulan Ramadhan.



Tempat I’tikaf

Ahli fiqih berbeda pendapat tentang tempat yang boleh dijadikan untuk I’tikaf, Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat bahwa I’tikaf harus dilakukan di masjid yang selalu digunakan untuk shalat berjamaah, sedangkan Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa I’tikaf boleh dilakukan di masjid manapun baik yang digunakan untuk shalat berjamaah ataupun tidak, sedangkan pengikut syafi’iyah berpendapat bahwa sebaiknya I’tikaf itu dilakukan di masjid jami’ yang biasa digunakan untuk shalat Jum’at, agar ia tidak perlu keluar masjid ketika mau melakukan shalat Jum’at, dan lebih afdhol lagi bila I’tikaf itu dilaksanakan di salah satu dari tiga masjid; masjid al haram, masjid Nabawi atau masjid Aqsha. (lihat: Al Mughni 4/462, Fiqh Sunnah 1/402)


Syarat Syarat I’tikaf

Orang yang I’tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Muslim

2. Berakal

3. Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas

Oleh karena itu I’tikaf tidak sah dilakukan oleh orang kafir, anak yang belum mumayyiz (mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas.

Sumber : Dakwtuna.com

Apakah sedang berada di supermarket atau di ruang praktik dokter, Anda pasti tahu bahwa Anda harus menunggu. Ini biasanya bukan merupakan hal besar–kecuali, tentunya, Anda membawa batita. Si kecil akan bersuara lantang, gelisah, dan merengek-rengek walau menunggu sebentar saja, dan mungkin sebuah tangisan akan muncul. “Di usia ini, anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menunggu,” kata Pete Stavinoha, PhD, psikolog anak di Children’s Medical Center di Dallas. Karena itulah, menunggu sebentar saja mungkin seperti tidak berujung baginya. Mengikuti berbagai tip berikut akan membantunya untuk mulai mengembangkan kesabaran–dan memungkinkan Anda untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan menyenangkan.

lakukan aktivitas fisik

Biarkan anak mengeluarkan energinya sambil menunggu antrean. Tanya apakah dia bisa berbaris seperti tentara, melompat seperti kodok, atau berayun seperti pohon saat diterpa angin, saran Annie Fox, penulis Teaching Kids to Be Good People. Permainan “Simon Says” adalah aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian anak batita yang lebih besar. Anak Anda akan sangat fokus pada gerakan sehingga dia akan melupakan penantian–paling tidak untuk sebentar.

bermain

Anak-anak batita suka belajar dan, seperti halnya orang dewasa, mereka bangga untuk berbagi apa yang mereka ketahui dengan orang lain, kata Maureen Dawn Healy, penulis Growing Happy Kids. Biarkan anak Anda menunjukkan kepandaiannya dengan memberikannya kategori, seperti binatang-binatang atau makanan, dan biarkan dia memberi nama beberapa contoh. Anda juga bisa memintanya untuk menunjukkan bagian tubuh saat dia bernyanyi “Kepala, Lutut, Pundak”.

bertingkah lucu

Bertingkah lucu bersama batita Anda adalah cara bagus untuk mengalihkan perhatiannya. Coba ubah lirik lagu kesukaan anak dengan kreatif (“Row, row, row your shoe, gently down the street”) atau berikan rima (“Humpty dumpty sat on a cat”). Karena anak-anak mengetahui kata-kata aslinya, dia akan terbahak-bahak dengan kata yang Anda ubah. Ekspresi wajah lucu juga bisa berhasil. Tampilkan ekspresi wajah gembira, sedih, marah, dan mengantuk secara bergantian. Anda bisa mengerutkan hidung dan menaikkan alis. Efek suara juga bisa berhasil: Menggonggong seperti anak anjing dan mendengung seperti lebah bisa membuat si kecil senang. (Catatan: Tidak usah pedulikan pandangan aneh dari orang-orang di antrean!)

bersiaplah

Anda mungkin sudah tahu cara mengemas kudapan atau mainan favorit untuk situasi terjebak dalam antrean. Membawa serta buku bergambar atau papan permainan mini yang hanya dikeluarkan untuk saat-saat menunggu yang lama, juga merupakan ide bagus. Ini agar anak merasakannya sebagai hal spesial. Masukkan juga barang-barang aneh, saran Joni Levine, penulis 365 Toddler Activities That Inspire Creativity. Tempel lakban pada sebuah bola dan biarkan anak mencoba melepaskannya, atau buatlah bentuk berbeda-beda dari selembar aluminium foil bergantian dengannya.

berikan pujian 

Ketika anak Anda berperilaku baik saat menunggu, Anda harus memujinya, kata Dr. Stavinoha. Katakan, “Wow. Mama tahu anak yang berusaha dengan hebat karena bisa bersabar menunggu.” Si kecil akan berteriak lantang kegirangan, “Aku!” Anda dan dia akan sama-sama senang: Dia merasa bangga terhadap dirinya sendiri, dan karena Anda mendukung perilaku positifnya, kemungkinan dia akan mengulanginya lagi saat lain kali Anda menunggu.


Kita tahu bahwa asam lemak omega-3, seperti DHA, baik untuk perkembangan otak bayi, tetapi penelitian baru dari University of Oxford, Inggris, menemukan bahwa lemak itu juga dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak yang sedang berlatih untuk meningkatkan kemampuannya. Dalam studi tersebut, anak-anak berusia 7 sampai 9 tahun diberi suplemen 600 mg DHA setiap hari selama 16 minggu.

Anak-anak yang terdeteksi memiliki kemampuan membaca rendah mengalami peningkatan sebanyak 20 persen dalam kemampuan membaca secara signifikan dalam jangka waktu 16 minggu percobaan. Tak ada rekomendasi tentang asupan omega-3 bagi anak-anak secara harian, tapi Sarah Krieger, RD, seorang ahli diet yang bersertifikat menunjukkan bahwa anak-anak dapat terpenuhi gizinya dengan mengonsumsi 3 ons ikan setiap minggu, seperti salmon atau tuna kalengan. Jika ikan sulit didapatkan, cobalah telur atau susu yang telah difortifikasi omega-3.

Pada dasarnya, manusia itu suka ngemil, jadi memperkenalkan kebiasaan snacking kepada anak seharusnya tidak terlalu sulit. Perkenalkan secara perlahan, misalnya dengan menyiapkan snack di 3-4 jam setelah makan besar, lalu bawakan ke sekolah/ taruh di meja makan tanpa paksaan. Dengan demikian, anak akan menyadari bahwa jika dia lapar atau butuh camilan saat dia sedang belajar, yang dia perlukan sudah tersedia. Cara ini termasuk pasif, namun paling aman, sehingga tidak menimbulkan tekanan kepada orang tua maupun anak. Di sini bisa dilatih motto bahwa orang tua yang menentukan jam dan pilihan makan, sementara anak yang memilih untuk makan dan porsinya.

Tidak kalah penting adalah secara aktif mengajak anak menikmati snack time. Jika anak enggan, mama atau papa bisa mengonsumsi snack sambil ngobrol dengan anak, sehingga melibatkan anak dalam pola snacking. Dengan demikian, anak juga bisa melihat bahwa orang tuanya menikmati snacking, dan bisa tertarik untuk ikut mencoba.

Untuk anak-anak yang lebih besar, mengubah snack mereka menjadi lebih sehat tentu perlu trik juga, apalagi jika dia tidak terbiasa atau di sekolah sudah ada pengaruh dari teman-temannya yang membawa atau jajan snack tidak sehat. Apa yang harus Anda lakukan? Untuk anak besar maupun anak usia dini yang lebih memilih jajanan tidak sehat, cara bernegosiasinya adalah dengan menyiapkan 2 atau 3 pilihan snack untuk mereka. Salah satunyanya adalah snack yang dia pasti suka. Awalnya dari 2 atau 3 pilihan tersebut berjumlah sama banyak, setelah seminggu atau 2 minggu, mulai dikurangi porsi snack yang kurang sehat, sehingga pilihannya adalah untuk memakan pilihan lainnya.

Namun, snacking tidak dapat menggantikan makanan utama. Jika Anda menyadari di jam snacking anak justru dapat makan lebih banyak/ dengan porsi besar, sebaiknya diakomodasi dengan mengganti jam itu menjadi makanan utama dan jam makan berikutnya menjadi snacking. Karena, mungkin saja anak lebih merasa paling lapar saat pulang sekolah, misalnya, sementara waktu menunjukkan pukul 3 sore. Ikuti insting Anda dan tanda yang diberikan anak.

Anak-anak adalah individu yang harus didengar dan dihargai keinginan serta pendapatnya. Tak terkecuali dalam hal makanan, sebaiknya orang tua menghormati keputusan anak. Tentu saja, anak-anak masih memerlukan bantuan orang tuanya untuk membuat keputusan terbaik. Yang perlu Anda ingat adalah bahwa masing-masing mempunyai tugas. Tugas orang tua adalah menyiapkan dan memilih makanan (tentu yang sehat mengandung gizi seimbang, ya), serta menentukan jam makan. Sementara, tugas anak adalah menentukan akankah dia makan dan seberapa banyak porsi yang akan dimakan. Mama tidak perlu khawatir dan memaksa anak yang tidak mau makan atau hanya makan sedikit. Mungkin saat itu dia memang sedang tidak lapar. Anak perlu mengenali sendiri sinyal lapar dalam dirinya.

Anda merasa khawatir jika anak akan menolak makan sama sekali jika tidak diomeli atau dengan paksaan? Jangan khawatir. Anak akan dengan sangat cepat belajar untuk makan jika dia tahu bahwa orang tuanya konsisten hanya mengeluarkan makanan di jam makan. Lewat dari jam makan, harus tunggu ke jam makan berikutnya. Dengan saling menghormati tugas masing-masing pihak, kegiatan makan akan menjadi lebih sehat dan relaks.
Sumber : parenting.co.id


Definisi cerdas sudah berkembang pesat. Patokan kecerdasan seseorang tak lagi dilihat dari IQ (Intellegence Quotient) semata, tetapi telah merambah ke EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), hingga CQ (Creativity Quotient).

Seperti belum cukup itu semua, kini muncul aspek baru yang akan menambah kualifikasi kecerdasan seseorang, yang disebut MQ (Moral Quotient) atau kecerdasan moral.

Michele Borba, Ed.D, dalam bukunya Building Moral Intelligence, mendefinisikan kecerdasan moral sebagai kemampuan untuk memahami benar dan salah, serta  pendirian yang kuat untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan norma moral.

Sederet kualifikasi di atas mungkin terdengar bagai PR berat bagi orang tua. Selain mengisi otak anak dengan berbagai ilmu dan pengetahuan, Anda juga dituntut mengisi hatinya dengan sederet kebaikan. Empati, jujur, adil, dan masih banyak lagi. Akan menjadi ringan jika Anda mulai konsisten mengajarkannya sejak dini.

‘Bekal’ sukses seorang anak kelak tak hanya ditentukan oleh isi otaknya, tetapi juga ‘isi hatinya’.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari perbedaan. Keberagaman membuat pikiran kita semakin terbuka. Jika anak Anda berada satu kelas dengan anak yang normal/berkebutuhan khusus, hal-hal berikut ini perlu Anda pertimbangkan.

Jika anak Anda berkebutuhan khusus, sebaiknya Anda…
  • Memahami anak. Tahu betul di mana kekurangan dan kekuatan anak Anda. Jangan menaruh harapan yang melebihi kemampuan anak karena ia bisa merasa terbebani dengan target yang Anda patok.
  • Meneruskan pelajaran yang didapat anak di sekolah. “Jam sekolah hanya sebentar, anak paling banyak menghabiskan waktunya di rumah,” kata Dra. Satiti Sabarwati, guru inklusi di SDN Pela Mampang 01 Pagi. Karena itu, anak bisa berkembang optimal jika orang tua meneruskan materi yang diberikan di sekolah. “Murid saya yang menderita keterbelakangan mental maju pesat karena ibunya telaten. Dia sekarang sudah bisa menulis berkat ibunya yang tidak pernah lelah mengulang pelajaran ketika di rumah,” ujarnya.
  • Jaga hubungan baik dengan sekolah. Komunikasi dengan pengajar dan manajemen sekolah harus dijaga agar Anda dapat mengetahui perkembangan anak, punya kesempatan memberi dan menerima masukan.
  • Jangan jadikan sekolah sebagai tempat penitipan anak. Keikutsertaan Anda dalam kegiatan pembelajaran akan membawa dampak yang sangat positif. Partisipasi Anda bisa diwujudkan dengan menyumbangkan gagasan dalam berbagai kegiatan sekolah, menjadi donatur, atau mulailah dengan hal-hal yang tampaknya sepele, seperti mendampingi anak ketika ia ambil bagian dalam acara yang diadakan di sekolah.
  • Jangan membandingkan anak Anda dengan teman sebayanya. Kalimat seperti, “Tuh, si Andi saja bisa, kenapa kamu tidak? Padahal kalian kan satu kelas,” bisa menyakiti anak Anda. Lebih jauh lagi, perkataan tersebut bisa mematahkan semangat, membuat anak merasa minder, dan enggan bersosialisasi.
  • Beri si kecil pujian. Sekecil apapun kemajuan yang dibuat anak, hargai usahanya. Beri dia pujian atas prestasinya dan umumkan di depan seluruh anggota keluarga. Penghargaan Anda akan memacu semangatnya untuk terus belajar.

Jika anak Anda normal, sebaiknya Anda…
  • Jangan paranoid. Membiarkan anak Anda yang normal belajar satu atap dengan anak berkebutuhan khusus sama sekali tidak merugikan. Keadaan itu justru membantu Anda menanamkan sifat-sifat terpuji kepada anak.
  • Meringankan beban orang tua anak berkebutuhan khusus. Bercakap-cakap dengan orang tua yang anaknya menderita autisme ketika menjemput anak Anda pulang, membuktikan bahwa Anda tidak memandang rendah orang lain dan itu amat membantu.
  • Memberi pengertian kepada anak. Sikap anak di sekolah tentunya dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditanamkan di rumah. Karena itu, teruslah ingatkan anak Anda untuk bersikap baik terhadap siapapun di sekolah. Dan, jangan lupa, Anda juga harus memberi contoh sikap toleransi karena anak adalah peniru ulung.
  • Lebih bersyukur. Kesempatan berinteraksi dengan orang tua dengan anak berkebutuhan khusus bisa membuat Anda lebih bersyukur dengan keadaan anak Anda. Membesarkan anak berkebutuhan khusus jelas tak mudah dan memerlukan kesabaran ekstra. Petik hikmahnya dari kesempatan itu dan jadikan sebagai pengalaman yang semakin mendekatkan Anda dengan buah hati.

Psikolog anak, Amelia Hirawan, dalam satu kesempatan menegaskan, ada dua faktor yang memengaruhi perilaku anak, yaitu faktor internal (pembawaan) dan eksternal (lingkungan, orang tua dan keluarga, budaya). Faktor internal ini bersifat potensi, sehingga bila tidak mendapatkan stimulus dari luar, maka lazimnya tetap akan terpendam. “Karena itu, saya cenderung berkeyakinan, bahwa faktor eksternal-lah yang lebih penting,” tandasnya. Ada banyak hal yang dapat dilakukan orang tua, sebagai faktor eksternal terpenting bagi anak. Contoh peran orang tua untuk mengontrol rivalitas:

♥ Orang tua bukan juru damai
Bisa dimengerti bila orang tua ingin segera turun tangan melerai ketika anak bertikai. Namun, ada baiknya kita menahan diri dan memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih menyelesaikan konflik antar mereka sendiri. Kapan orang tua boleh terjun? Tergantung usia anak dan perkembangan konfliknya. Adu mulut itu biasa, biarkan saja. Apabila situasi sudah mulai memanas, orang tua dapat mengingatkan tentang aturan dan batas yang sudah disepakati, kemudian memberikan beberapa opsi penyelesaian masalah dan meminta anak-anak memilih sendiri. Bilamana kondisi berkembang jadi membahayakan, maka kita sebaiknya memisahkan anak yang bertengkar antar keluarga.

Bagaimana pun, anak-anak ini saudara sekandung, tinggal serumah, tiap hari hidup bersama. Semestinya, ada ikatan emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan temanbiasa di luar sana. Tugas orang tualah untuk terus-menerus memupuk ikatan kasih sayang tersebut. Terkait dengan hal ini, coba membiasakan anak menyebut nama saudaranya ketika membaca doa sebelum tidur.  Akan lebih baik lagi jika mendoakan saudara, orang tua, juga keluarga atau teman yang disayangi. Dengan cara demikian, secara tidak langsung anak diingatkan, bahwa mereka bersaudara dan saling menyayangi satu sama lain, walaupun kadang berselisih paham.

♥ Tidak memicu rivalitas
Kadang, justru orang tualah penyebab munculnya rivalitas di dalam rumah. Tanpa disadari, bisa jadi kita mengeluarkan kalimat-kalimat yang memaksa anak membandingkan dirinya sendiri dengan saudaranya. Seperti, “Kakakmu bisa, kenapa kamu tidak?” Dhian, mama Damian (9) dan Dimitri (7) mengaku, sebagai anak sulung, orang tua sering menjadikannya teladan bagi adik-adiknya. Belakangan dia mengetahui, bahwa adik-adiknya ternyata tidak menyukai hal itu, dan justru akhirnya memilih melakukan yang sebaliknya. “Tiap anak memiliki potensi masing masing, dan tugas orang tua membimbing dan bantu mengembangkannya,” tutur Dhian.

♥ Adil
“Idealnya, memang orang tua harus berlaku adil,” ujar Amelia. Adil bukan berarti harus sama rata untuk tiap anak, melainkan sesuai porsi kebutuhan masing-masing. Menurut Ajeng, mama Lisa (8) dan Shelly (7) Lisa yang perfeksionis dan kritis sering protes kenapa jatah waktu Mama untuk Shelly (misalnya untuk membantu mengerjakan PR) harus lebih banyak dibandingkan dengan jatah waktunya. “Saya berikan pengertian kepadanya, bahwa memang Shelly lebih memerlukan bantuan, karena kebutuhan khususnya. Setelah itu, Lisa bisa mengerti.” Ajeng juga memiliki jadwal me-time berdua, bersama tiap anak. Tidak perlu kegiatan mewah dan canggih, cukup seperti yang sederhana seperti makan es krim berdua dan ngobrol. Yang penting adalah anak merasa mama sepenuhnya milik dia pada waktu yang berharga tersebut. Lain lagi dengan Dhian, yang selalu konsisten memosisikan dirinya di antara kedua anak, manakala mereka sedang bersama-sama, sehingga tidak ada yang merasa dikesampingkan.
Sumber : www.parenting.co.id

TV dan video games adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masa kini. Apalagi, TV sekarang ini hadir dengan berbagai fitur canggih yang memanjakan mata dan telinga, bahkan terkoneksi dengan internet dan perangkat canggih lainnya. Games pun tak kalah heboh. Beragam console, seperti Wii, Nintendo, XBox, PlayStation (PS), PSP, hingga games yang bisa di-download secara online utk PC dan tablet bertebaran.
Sayangnya, baik TV dan games sering kali --entah sengaja maupun tidak—menampilkan adegan yang tidak mendidik, bahkan berbau kekerasan, yang tak pantas dilihat anak, baik fisik atau verbal. Reality show yang harusnya cuma menghibur, tak lepas dari adegan dan candaan yang tak pantas. Bahkan, nonton berita saja tak aman! Adegan kekerasan ditayangkan secara nyata dan berulang-ulang. TKP bunuh diri dengan bekas-bekas alat bunuh diri pun ditayangkan.

Untuk video games, tayangan kekerasan dan berbau pornografi bertebaran.  Misalnya, games Tomb Raider yang dirilis Mei lalu. Dalam ulasannya, dengan gamblang menyebutkan memiliki unsur kekerasan yang kuat, seperti kesakitan dan kematian sosok Lara bisa menyeramkan, lengkap dengan teriakan yang kuat. Alasan Tomb Raider memerlukan unsur kekerasan, menurut Ian Livingstone sebagai bos perilis games, agar cerita yang ingin disampaikan serta petualangan Lara menjadi penuh perjuangan, dan penderitaannya bisa dirasakan nyata oleh gamers.

Jika pengaruh TV dan games begitu kuat, apakah perangkat TV dan games harus dibuang dari rumah? Tidak perlu seekstrim itu! Di sinilah pengawasan dan kontrol orang tua terhadap kebiasaan anak menonton TV dan bermain games perlu dilakukan. Tak hanya sebagai mandor, orang tua juga siap menjadi pembimbing untuk memilih tayangan yang pas.

1. Buat pembatasan waktu, yakni:- Anak di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak boleh menonton atau main games yang ada di layar, termasuk iPad, tablet, dll. - Usia 2 - 6 tahun: Diperbolehkan sampai 1 jam, tapi dipecah-pecah. Misalnya, 15 - 30 menit menonton atau main, lalu istirahat. Setelah itu, baru main lagi. - Di atas usia itu: Maksimal 3 jam. Sebaiknya, dipecah-pecah sebab anak butuh melakukan hal lain dan beraktivitas fisik.

2. Pembatasan konten. Larang anak menonton tayangan mengandung unsur horor, seksual, dan pornografi. Pilih tayangan dan video games yang bermanfaat dan mendidik bagi anak.

3. Jika anak sudah terlanjur terpapar? Mau tak mau orang tua harus berupaya mengembalikan anak kembali ke track-nya. Secara konsisten (bukan galak ya. Ma...), tegaskan pada anak bahwa perilaku dia tidak benar. Selanjutnya, dampingi secara intensif. Saat menonton, tanyakan: Menurut dia, apakah perilaku itu pantas dilakukan atau tidak? Apa akibatnya? Dan seterusnya. Diskusi semacam ini bisa mendewasakan anak sekaligus mendengar pandangannya, yang kadang-kadang bisa di luar dugaan. Cara ini untuk anak yang usianya lebih besar, ya.

4. Untuk pembatasan menonton TV dan main video games, terutama untuk usia anak yang lebih besar, bisa juga dengan cara menunjukkan hak dan kewajibannya. Misalnya, Ia boleh main games setelah belajar, membuat PR, dan membereskan barang-barangnya untuk sekolah. Jika sudah beres, buat perjanjian hingga jam berapa Ia boleh bermain. Tegas, konsisten, tapi tetap ramah, ya. Aturan pembatasan ini jangan mundur atau batal hanya karena rengekan anak.

5. Kenalkan anak pada aktivitas yang real, seperti berenang, bermain bola, sepeda, bulutangkis, berenang, permainan tradisional (petak umpet, gobak sodor, dll), ballet, dll.


Sumber : www.parenting.co.id

Apakah Anda tahu anak tetangga yang sepertinya tidak pernah sakit? Apakah orangtuanya tahu cara menjaga kesehatan anaknya sementara Anda tidak? Para ahli menyarankan untuk mengikuti enam kebiasaan anak-anak sehat di bawah ini untuk menghindari penyakit.

Menjaga kebersihan tangan

Mencuci tangan secara rutin secara drastis akan mengurangi penyakit yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan pencernaan. Segerakan anak-anak Anda untuk menyikat tangan (atau menggunakan pembersih tangan) ketika mereka meninggalkan tempat penitipan anak, setelah bermain, dan sebelum mereka makan. Ajarkan anak-anak menyanyikan "selama ulang tahun" untuk diri mereka sendiri sehari dua kali sebelum membilas tangan. Mencuci tangan selama 15-20 detik sudah bisa membuat tangannya bersih.

Jadilah anak yang aktif

Studi menunjukkan bahwa olahraga ringan dapat mengurangi risiko terkena penyakit pilek dan flu mencapai angka 25-50 persen per tahun. Mungkin olahraga bisa meningkatkan sirkulasi sel yang melawan infeksi. Olahraga lebih baik daripada obat di iklan atau mukjizat.

Tidur Cukup

Pastikan anak-anak tetap dalam jadwal tidur lebih awal. Kurang tidur bisa meningkatkan risiko terkena pilek dan flu hampir dua kali lipat. Kebanyakan bayi membutuhkan waktu tidur selama 14 jam per hari. Sementara anak-anak prasekolah membutuhkan 11-13 jam tidur.

Hindari Menyentuh wajah

Virus flu masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Pastikan tangan anak Anda tetap jauh dari daerah tersebut. Memang hal itu sulit dilakukan. Mencuci tangan pada saat-saat strategis adalah hal yang paling penting. Ajarkan anak Anda untuk tidak pernah berbagi sedotan, gelas, atau sikat gigi.

Mengonsumsi makanan sehat

Makanan seperti buah dan sayuran berwarna akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak Anda. Carilah makanan yang kaya vitamin C (brokoli, stroberi, dan jeruk) dan vitamin D (tuna, susu, dan sereal). Makan yogurt yang mengandung probiotik juga dapat membantu membangun sistem pertahanan tubuh.

Vaksinasi

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah flu. Jadi apa yang Anda tunggu?

Sumber : parentsindonesia.com

Menonton televisi tidak selamanya buruk bagi anak. Namun sebaiknya dibatasi. Menurut penelitian anak-anak yang menonton televisi setidaknya selama 1,5 jam sehari bisa mengalami kurang tidur dibandingkan anak yang tidak menonton televisi atau menonton televisi kurang dari 1,5 jam sehari.

Menurut penelitian yang dilakukan lebih dari 1.700 anak ini, jam menonton televisi di kalangan anak semakin meningkat. Dan hal ini mulai berdampak pada penurunan waktu tidur mereka.

"Televisi bisa mengubah waktu tidur pada anak-anak," kata pemimpin penelitian Marcella Marinelli yang melakukan penelitian bersama peneliti dari Center for Research in Environmental Epidemiology di Barcelona. Kurangnya waktu tidur bisa menjadi faktor penyebab obesitas dan masalah perilaku seperti ADHD, tambah Marinelli.

Menurut Dr. Adriana Cadilla, dokter anak di Miami Children's Hospital di Florida, menonton televisi juga memengaruhi banyak perilaku pada anak-anak, termasuk kegiatan belajar di sekolah, berat badan, dan perkembangan. Dr. Cadilla menyarankan orang tua tidak menggunakan TV sebagai babysitter untuk membuat anak diam dan teruslah memantau acara yang mereka tonton.

"Ada banyak teori tentang televisi. Salah satunya adalah warna-warna cerah dapat memengaruhi pikiran anak sebelum tidur. Belum lagi ada banyak adegan kekeran, bahkan dalam film kartun. Hal itu tentu dapat mempengaruhi tidur anak," katanya.

Orang tua harus bisa menawarkan alternatif lain selain televisi.  Seperti melibatkan anak-anak dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berbeda seperti kegiatan olahraga atau musik. Atau menghabiskan banyak waktu bersama keluarga.

"Beberapa kartun bertema pendidikan bisa membantu anak-anak meningkatkan kemampuan bahasa mereka dan harus digunakan untuk tujuan pendidikan. Tetapi orang tua harus bersama anak-anak mereka saat menonton dan berkomunikasi dengan mereka selama menonton," kata Marinelli .

Sumber : parentsindonesia.com


 
Syeich Mahmoud Hamdan Hamdaqa memotivasi siswa Bina Amal untuk lebih bersyukur dan meningkatkan amalan ramadhan terutama menghafal Alquran

“Anak-anak gaza mampu hafal 30 juz karena setiap hari menghafal minimal satu lembar dan murojaah dua lembar alquran setiap harinya. Padahal mereka belajar di bawah reruntuhan tembok dan ancaman serangan penjajah yang bisa datang kapan saja,” tutur Syeich Mahmoud Hamdan Hamdaqa dari Palestina dalam bahasa Arab yang diterjemahkan Ustadz Malikhan LC alumni Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).
Syeich Mahmoud hadir dalam pesantren kilat SDIT Bina Amal untuk memotivasi siswa agar semangat menuntul ilmu, belajar dengan sungguh-sungguh terutama alquran dan bahasa arab sebagai pedoman masa depan Bangsa Indonesia, serta meningkatkan amalan di bulan Ramadhan. Selain itu Syeich Mahmoud sebagai hafidz 30 juz juga menceritakan kisah anak-anak Palestina ketika Ramadhan. Mereka semangat menghafal alquran dan melaksanakan puasa. Sayangnya, mereka tidak seenak siswa Bina Amal yang punya waktu banyak untuk menghafal dan bisa sahur serta buka dengan makanan yang tersedia.
“Jika bulan Ramadhan, anak-anak Palestina tidak sepenuhnya bisa sahur dan buka puasa. Jika tidak ada makanan, mereka sahur dengan air dan garam,” ungkapnya saat menceritakan kisah anak-anak Palestina, Jumat (10/06) di lapangan SDIT Bina Amal.
Haru dan kagum menyelimuti ratusan siswa ketika Syeich Mahmoud menceritkaan anak-anak Palestina yang berjuang melawan tentara di jalur Gaza. “Ketika pagi mereka belajar cara memegang senjata, memegang batu agar lemparan kuat dan sorenya hafalan alquran,” ungkapnya di hadapan ratusan siswa Bina Amal.

Adiba Sanie Nayyara menbacakan puisi tentang Batu Anak-anak Palestina
Puisi yang dibacakan Adiba Sanie Nayyara kelas V berjudul “Batu Anak-anak Palestina” juga menyisakan keharuan bagi ustadzah Fitriyani, Guru SDIT Bina Amal. “Saya terharu mendengar puisi tentang perjuangan anak-anak Palestina dan tak pernah menyerah melawan tentara meski bersenjata hanya dengan batu-batu,” kata ustadzah Fitriyani sambil menyeka air mata.
Ratusan siswa juga terketuk hatinya untuk membantu anak-anak Palestina lewat doa dan infak ketika Orasi dari Ustadz Wainim, Yayasan LPIT Bina Amal. “Sebagai saudara muslim, kita tidak patut hanya berpangku tangan. Minimal kita mendoakan mereka, salurkan bantuan infak lewat uang saku kita,” nasehatnya kepada siswa.
Motivasi Ramadhan yang menghadirkan Ustadz Mahmoud sebagai relawan kemanusiaan di bidang relief dan development di Teka Foundation diawali dengan sholat dhuha berjamaah dan diakhiri dengan pengumpulan infak dari civitas akademia SDIT Bina Amal sejumlah Rp. 11.710.000,00. Infak tersebut akan disalurkan ke Palestina bekerjasama dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap) Indonesia. Kegiatan aksi solidaritas terhadap Palestina merupakan rangkaian dari Pesantren kilat di SDIT Bina Amal.(HMS)


Bermain internet bisa menjadi satu kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Tapi Anda juga harus waspada. Jika Anda menemukan minimal satu perilaku anak di bawah ini terjadi pada anak, Anda perlu waspada dan mengajak dia berdiskusi. Karena bisa saja, anak sedang mengobrol dengan orang asing di chat room atau mengunduh konten kategori berbahaya.

Inilah perilaku di depan komputer yang harus Anda curigai.
  • Online larut malam.
  • Menggunakan internet dengan durasi panjang secara konstan.
  • Menutup aplikasi komputer ketika Anda atau orang lain melintas di dekat layar monitor.
  • Mengunduh program dengan ekstensi .jpg, .gif, .bmp, .tif, .pcx, .png, .psd, yang mengindikasikan gambar atau foto.
  • Kerap mendapat telepon atau email dari orang asing.
Risiko yang Bisa Timbul dari Internet

Mungkin pornografi adalah hal yang paling Anda khawatirkan dari pemberian akses internet kepada anak. Selain itu, ternyata masih ada beberapa hal yang perlu Anda waspadai.
  • Anak bisa terpapar berbagai konten yang tidak layak (pornografi, materi SARA, hasutan berbuat negatif, iklan merokok atau meminum minuman beralkohol, bahkan cara membuat materi berbahaya seperti racun dan bahan peledak). Konten berbahaya dan tidak pantas dikonsumsi anak bisa datang dari manapun melalui Internet. Melalui email atau pesan instan, pop-up yang tiba-tiba muncul di layar monitor, chatroom, atau advertorial berbagai situs.
  • Eksploitasi atas anak dalam berbagai bentuk, dari penipuan hingga pelecehan seksual.
  • Dengan semakin mudah dan semakin banyaknya konten musik dan game yang bisa diunduh, maka semakin tinggi pula risiko terkena serangan virus.
  • Tanpa disadari, beberapa aktivitas download berbagai materi dari Internet merupakan pencurian hak atas kekayaan intelektual (hak cipta).

Ramadhan menjadi momentum yang pas untuk mengajarkan anak bersedekah. Orang tua dapat menjelaskan keutamaan bersedekah. Sehingga meningkatkan rasa empati dalam diri anak.

Lalu apa sajakah manfaat bersedekah yang luar biasa untuk hidup kita? seperti dilansir dari ummi-online.com :

1. Menyembuhkan penyakit

Benarkah sedekah dapat menyembuhkan diri kita dari penyakit?

Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani)

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah!” (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’).

Ada sebuah kisah dalam Shahih At Targhib, Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat, ia telah bertanya kepada para dokter, namun tidak menghasilkan apa-apa.

Ibnu al-Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergi dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh.”

Cobalah bersedekah dengan niat minta disembuhkan dari penyakit, sesungguhnya Allah Maha Pemberi Kesembuhan.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan Prof. David M Clelland, ditemukan hasil bahwa dengan melakukan sesuatu yang positif untuk orang lain seperti bersedekah akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ini menyebabkan tubuh lebih kuat menghadapi penyakit. Maka, perbanyaklah bersedekah untuk menyehatkan diri kita!

2. Memberi rasa bahagia

Siapa yang lebih bahagia? Orang yang menerima sedekah, atau justru yang memberi sedekah?

Yap, tentu saja orang yang memberi sedekah akan lebih berbahagia. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian.

Berdasarkan sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Public Health pada 2013, ditemukan bahwa orang yang membantu orang lain dapat lebih terlindungi dari dampak negatif stres.

Selain itu, dalam bukunya, Allan Luks mengatakan bahwa dengan menolong orang lain akan meringankan rasa sakit kita sendiri, mengurangi stres, dan memberi rasa bahagia.

Dengan memberikan bantuan secara sukarela akan meningkatkan produksi hormon endorfin, hal itu baik untuk kesehatan jiwa kita. Penelitian yang dilakukan Allan Luks ini melibatkan 3000 sukarelawan, dan 90%-nya merasakan betul manfaat berbagi dengan orang lain.

3. Memperpanjang usia dan meringankan sakaratul maut

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sedekah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois. (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

4. Mendekatkan pada terkabulnya hajat

“Barang siapa berniat sedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari kecepatan gerakan sedekahnya.” (Hadist Qudsi)

5. Menolak bencana

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan: “Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim atau bahkan orang kafir, karena Allah SWT akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantara sedekah tersebut…”

Hadits lainnya, "Bersegeralah bersedekah! Sebab, musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah.”

6. Menambah rezeki

Rasulullah SAW pernah bersabda “Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sedekah.” (HR. Al-Baihaqi)

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain yang dinarasikan oleh Abu Hurairah r.a., Nabi SAW pernah bersabda: “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan di sana ada dua malaikat yang turun, sala satunya berkata: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq.” Sedangkan (malaikat) yang lainnya berkata: “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya).” (H.R. Bukhari – Muslim)

7. Mendapat naungan di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

Dari Uqbah bin Amir ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Setiap individu berada dalam naungan sedekahnya sampai dia diadili di antara manusia."

Nabi pernah menyebutkan bahwa tujuh hal yang akan menjadi payung yang menaungi pada hari kiamat antara lain seseorang yang bersedekah secara rahasia sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya. (HR. Bukhari Muslim)

“Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah As-Shahihah, 3484)

Demikian banyak manfaat sedekah untuk hidup kita, semoga kita dipermudah untuk mengeluarkan sedekah.

Anak terbiasa dengan pola makan sehari-hari, bahkan ngemil di waktu-waktu tertentu. Itulah sebabnya belajar berpuasa akan mengubah kebiasaan mereka. Tak hanya perubahan perilaku, ibadah puasa juga membutuhkan perubahan kesadaran pada anak. Biasanya anak masih terarah pada pemuasan kesenangan. Namun saat belajar berpuasa, anak belajar menahan diri. Itulah sebabnya melatih anak berpuasa perlu memperhatikan kesiapan fisik maupun psikologis mereka.

Apa yang perlu Ayah Ibu perhatikan saat melatih anak berpuasa untuk pertama kalinya? Sebaiknya kita lebih fokus pada kesiapan anak, ketimbang menuntut hasil yang harus diraihnya selama belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Nah, berikut ini adalah 6 tips yang dilansir dari temantakita.com dapat dimanfaatkan Ayah Ibu dalam melatih anak berpuasa.

1. Bercerita Makna Puasa

Melatih anak berpuasa dapat diawali dengan bercerita kepada mereka tentang makna puasa itu sendiri. Ayah Ibu dapat mengemasnya dalam berbagai cerita yang menarik, termasuk pengalaman Ayah Ibu berpuasa saat masih kecil.

2. Jelaskan Pengertian Puasa

Anak bisa menerima perubahan apabila ia siap menghadapi perubahan tersebut, termasuk saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, Ayah Ibu perlu menjelaskan pengertian puasa dan mengingatkan pada anak beberapa hari sebelum bulan puasa dimulai. Gunakan kata-kata sederhana pada anak yang baru pertama kali belajar berpuasa, seperti tidak makan dan tidak minum setelah sahur sampai waktu berbuka. Ceritakan juga apa saja yang Ayah Ibu lakukan di rumah saat berpuasa, agar anak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Ekspresikan ibadah puasa dengan positif dan menyenangkan, sehingga anak tertarik melakukannya juga.

3. Tawarkan Anak untuk Belajar Berpuasa

Saat makna dan pengertian puasa telah disampaikan kepada anak, Ayah Ibu dapat menawarkan anak berpuasa untuk pertama kalinya. Tidak dengan memerintah, namun tawarkan sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan. Mengajak anak dengan cara yang menyenangkan itu seperti saat mengajak anak bermain. Mengajak anak dengan cara yang membanggakan itu seperti menantangnya melakukan kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Pesannya tetap sama, mengajak anak belajar berpuasa.

4. Ciptakan Suasana Berpuasa yang Menyenangkan

Selain kesadaran diri, anak juga akan melihat bagaimana orangtuanya menjalani ibadah puasa. Menciptakan suasana berpuasa yang menyenangkan dapat membuat anak mau terlibat. Ayah Ibu dapat memulainya dengan sahur yang menyenangkan, dengan persiapan dan waktu yang tidak terburu-buru. Lakukan sahur dengan gembira dan penuh syukur agar anak pun menikmati sahur, dan tidak melihat orangtuanya lesu. Selama seharian berpuasa, tunjukkan pada anak bahwa Ayah Ibu pun dapat melakukan berbagai kegiatan dengan semangat meskipun tidak makan dan tidak minum.

5. Menyiapkan Makanan yang Tepat

Makanan yang tepat untuk anak yang belajar berpuasa itu sesuai dengan kebutuhan dan kesukaannya. Siapkan makanan kesukaan anak yang sekaligus bisa memenuhi kebutuhan energinya, dan jika memungkinkan, sajikan di piring favorit anak agar anak semangat makan saat sahur dan buka puasa.

6. Apresiasi Tiap Capaian Anak

Saat anak belajar berpuasa untuk pertama kalinya, ia mungkin tak langsung berhasil berpuasa sehari penuh. Anak mungkin hanya bisa bertahan sampai pukul 9 pagi, 12 siang, atau 3 sore. Apapun capaian anak, beri apresiasi bahwa anak telah berusaha, dari belum pernah berpuasa menjadi berpuasa selama beberapa jam. Saat anak berhasil berpuasa lebih lama di hari berikutnya, apresiasi kemajuannya. Apresiasi adalah upaya menumbuhkan perilaku positif anak, termasuk saat anak belajar berpuasa. Gunakan kata-kata positif yang mengacu pada perilaku spesifik. Jangan menjanjikan hadiah pada anak. Pemberian hadiah hanya akan membuat kenikmatan berpuasa berpindah menjadi kenikmatan mendapat hadiah.

Puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi kaum muslim yang sudah baliq. Tidaklah mudah menjalankan puasa untuk pertama kali, apalagi untuk anak-anak. Untuk itu ada baiknya jika kita dapat mengajarkan puasa pada anak sejak dini. Berikut beberapa tips mendidik anak untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
  1. Ajaklah anak-anak kita sahur bareng bersama keluarga, ini untuk membiasakan diri agar mereka dapat memahami waktu sahur. Pastikan untuk selalu melakukan sahur agar mendapatkan sumber energi.
  2. Menu makanan sahur dibuat sesuai dengan kesukaan anak, tentunya dengan mengutamakan kandungan gizi, karbohidrat dan nutrisi yang cukup. Ini untuk merangsang anak agar mau makan sahur.
  3. Buat suasana saat sahur menyenangkan buat anak karena pada saat ini anak masih terasa sangat mengantuk.
  4. Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung lemak untuk membantu menghindari rasa lapar dan serat untuk memperlancar buang air besar.
  5. Berikan minuman yang mengandung gula seperti teh manis, susu, atau jus buah. Karena gula mudah larut dan diserap oleh tubuh sehingga dapat dengan cepat digunakan sebagai sumber energi.
  6. Tidak memberikan vitamin penambah nafsu makan saat sahur karena dapat membuat anak cepat lapar.
  7. Di siang hari jika anak kita merasa lapar dan tidak bisa menahan lapar, biarkan mereka makan lalu dilanjutkan puasanya sampai waktu berbuka.
  8. Berikan motivasi dan penghargaan kepada anak-anak jika mereka berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa tambahan uang saku tapi bisa juga dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka.
  9. Saat berbuka puasa, mulailah dengan memakan atau minum yang manis seperti buat kurma atau teh manis. Dianjurkan untuk minum yang hangat tidak dingin (es).
  10. Makan saat berbuka jangan sampai kekenyangan karena akan membuat perut sakit sehingga anak menjadi trauma. Makanlah secara bertahap. Misalnya setelah sholat magrib lalu dilanjutkan setelah sholat isya.

Sumber : kambingaqiqah.com

Bisa jadi, Anda merasa bingung ketika anak 6 tahun Anda bilang kalau dia bosan. “Banyak sekali yang harus dilakukan,” begitu alasannya. Seorang mama sampai melihat anaknya menghibur dirinya dengan berpura-pura menjadikan tongkat golf sebagai roket. “Ya, kedengarannya mustahil anak usia ini benar-benar merasakan bosan,” kata

Susan Zuckerman, Ph.D., psikolog anak di White Plains, New York. "Masih banyak hal yang menarik di dunia ini untuk dieksplorasi dan benar-benar baru untuk si kecil.” Nyatanya, ketika anak mengatakan bahwa dirinya bosan, bisa jadi ia bahkan tidak tahu arti bosan itu sendiri. Yang ia tahu bahwa frase ini – yang dipelajarinya dari orang dewasa dan TV – menyatakan rasa tidak puas terhadap sesuatu. “Anak menggunakannya sebagai ekspresi kalau ada sesuatu yang mengganggunya,” kata Zuckerman. Jadi, apa yang sebenarnya ingin dikatakan anak? Berikut ini beberapa kemungkinan:

"Project ini terlalu susah.”
Kebanyakan anak tidak mau (atau benci) mengakui ketika ia sedang berusaha menyelesaikan suatu project. Ketimbang mengakui kalau bingung dengan soal matematika, misalnya, ia memilih bilang, “Aku bosan,” dan mendorong bukunya. “Hal ini akan melindungi egonya sekaligus membuatnya terlepas dari sesuatu yang tidak menyenangkan,” kata Zuckerman.

"Aku sendirian."

Bisa jadi, anak mengatakan, “Aku bosan” ketika ingin Anda bermain dengannya. “Kata-kata tersebut sebenarnya berarti ‘Aku mau cinta dan perhatian Mama,” kata Laurie Segal, pakar perkembangan anak usia dini di Great Neck, New York. Apakah si kecil mau Anda menutup telepon, mengajaknya jalan-jalan, atau Anda bertanya apa yang dilakukannya pada hari itu, ia mungkin tidak akan mengatakannya secara langsung karena ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan apa yang disukainya dan bagaimana caranya mengatakannya pada Anda.

"Aku kecapekan."

Orang dewasa tahu bila tiba waktunya untuk berhenti melakukan sesuatu dan pergi ke kamar untuk membaca buku, misalnya. Tidak demikian halnya dengan anak-anak. Jadi, apa yang dibutuhkannya diekspresikannya dalam bentuk mengatakan bahwa dirinya bosan.

"Aku sedih" or "Aku marah."

Anak tidak selalu bisa memahami apa yang dirasakan, terutama merasa sedih atau marah. Dan, rasa tidak nyaman ini diekspresikannya sebagai “Aku bosan.”

Untuk memahami apa yang sebenarnya anak sedang rasakan, amati saja bahasa tubuhnya: Apakah dia murung atau termenung? Bisa jadi, ini berarti ada masalah yang cukup berat. Apakah ia mengeryitkan dahi dengan kedua tangan terlipat? Ya, tebakan Anda benar. Ia sedang marah. Atau, bertanyalah padanya apa yang dimaksudkannya. Jika ia tidak memberi jawaban yang jelas, berikan beberapa pertanyaan: “Apakah ada sesuatu di sekolah yang membuat kamu frustrasi? Apakah kamu ingin istirahat dulu?” Begitu menemukan faktor penyebabnya, Anda bisa membantunya mengatasi masalah yang dihadapi.
Sumber : parenting.co.id

Beberapa hari lagi Ramadhan akan tiba. Sejak dini, kita harus mengenalkan puasa dan manfaatnya. Dengan kesabaran, kita melatih anak untuk menahan lapar dan haus.

Berikut ini ada beberapa cara mendidik atau melatih anak belajar puasa di bulan Ramadhan sejak dini seperti dikutip dari hikmahkebersamaan.blogspot.co.id :
  • Sosialisasikan kepada anak tentang manfaat dan pentingnya berpuasa secara perlahan dan singkat sehingga anak bisa memahami apa itu puasa dan manfaatnya.
  • Mulai mengajak anak anda sahur berbarengan bersama keluarga, cara ini  dilakukan supaya  membiasakan diri agar mereka dapat memahami waktu sahur dan pastikan untuk selalu melakukan sahur agar mendapatkan sumber energi sehingga nantinya daya tahan tubuh akan kuat
  • Membuat menu makanan sahur sesuai dengan kesukaan anak anda, dan tentunya dengan mengutamakan kandungan gizi, karbohidrat dan nutrisi yang cukup. cara ini dilakukan untuk merangsang anak agar mau makan sahur.
  •  Membuat suasana atau momen sahur menyenangkan buat anak karena pada saat ini anak masih terasa sangat mengantuk.Apabila tidak dilakukan demikian anak akan cepat bosan dan memilih untuk tidur kembali
  • Tingkatkan konsumsi makanan yang mengandung lemak untuk membantu menghindari rasa lapar dan serat untuk memperlancar buang air besar. Hal ini supaya anak tetap bugar sehat sehingga dapat melaksanakan ibdah puasa
  • Beri minuman yang mengandung gula seperti teh manis, susu, atau jus buah. Karena gula mudah larut dan diserap oleh tubuh sehingga dapat dengan cepat digunakan sebagai sumber energi kepada anak anda.
  • Jangan  memberikan vitamin penambah nafsu makan saat sahur karena hal ini dapat membuat anak cepat lapar dan nantinyya memilih untuk berbuka sebelum waktunya tiba.
  • Apabila siang hari anak merasa lapar dan tidak bisa menahan lapar, Biarkan mereka makan lalu dilanjutkan puasanya sampai waktu berbuka.
  • Berikan motivasi dan penghargaan kepada anak-anak jika mereka berhasil berpuasa satu hari penuh. Penghargaan tidak harus berupa tambahan uang saku tapi bisa juga dengan memberikan menu spesial kesukaan anak saat berbuka.
  • Biarkan anak beraktifitas atau main seperti biasa dan usahakan jangan terlalu capek dan juga hindari dari kebanyakan tidur karena akan membuat fisik anak lesu.
  • Saat berbuka puasa, mulailah dengan memakan atau minum yang manis seperti buat kurma atau teh manis. Dianjurkan untuk minum yang hangat tidak dingin atau air es
  • Apabila saat berbuka jangan sampai kekenyangan karena hal ini akan membuat perut sakit sehingga anak menjadi trauma.
  • Makanlah secara bertahap. Misalnya setelah sholat magrib lalu dilanjutkan setelah sholat isya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya”.

Karena ilmu itu lebih didahulukan dari perkataan dan perbuatan.Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah.

Dengan menimba ilmu, Allah akan mempermudah jalan menuju syurga.  “Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget