Mei 2014

Siswa Bina Amal di siapkan agar memiliki kekuatan Iman dan totalitas dalam Amal
Persiapan menyambut tamu agung bulan suci Ramadhan sudah dimulai sejak bulan Sya’ban atau bulan Rajab. Malah para sahabat Rasulullah melakukan persiapan menjelang Ramadhan setengah tahun sebelumnya.

Di milis-milis yang saya ikuti pun banyak berseliweran email-email tentang Ramadhan. Kami saling unjuk kegembiraan dalam menyambut bulan yang dinanti-nantikan itu. Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan lagi penuh kebahagiaan. Ganjaran pahala yang berlipat ganda diberikan kepada orang-orang yang beramal saleh.

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana orang-orang sibuk. Sibuk memperbanyak amalan, membenahi diri, sibuk membenahi rumah lalu sibuk mempersiapkan mudik. Ada kesibukan lain lagi, yaitu membayar puasa (qadha) yang belum dilakukan dan memperbanyak puasa sunat.

Anas Bin Malik ra. berkata,’ ‘Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.”

Selama 6 tahun tinggal di Jepang, baru sekali saya dan anak-anak merasakan berpuasa dan berlebaran di tanah air. Selebihnya puasa Ramadhan kami lalui di negeri yang minoritas pemeluk agama Islamnya. Sepi. Sedih dan sendiri. Perasaan itulah yang dominan mewarnai hari-hari pertama berpuasa. Tak ada suara bedug atau adzan Maghrib pertanda saat berbuka. Tak ada suara ramai anak-anak pergi sholat tarawih ke masjid. Apalagi lomba adzan anak-anak, belum ada. Riuh pikuk anak-anak, remaja putri dan ibu-ibu yang memakai mukena, tak ada. Hanya terlihat hilir mudik orang Jepang yang bergegas pulang atau pergi.

Menjelang bulan suci Ramadhan, banyak persiapan yang ingin dilakukan. Kesiapan fisik dan mental dicanangkan, amalan-amalan sunat pun dimemokan, surat-surat Al-Quran yang ingin dihapal pun dituliskan. Selain itu membenahi hapalan surat-surat pendek Al-Quran dan sibuk menuliskannya ke huruf Hiragana, agar anak-anak saya mudah menghapalkannya.

Menjauhkan mata dari pandangan yang diharamkan Allah, menyiapkannya untuk mencermati ayat-ayat Al-Quran.

Menyiapkan telinga untuk mendengarkan murottal Qur’an, untaian merdu ayat-ayat Allah dilantunkan dan menjauhkan telinga dari yang tak layak didengar.

Menyiapkan mulut untuk membaca Al-Quran dan berdzikir serta menjauhi dari berkata-kata tak bermanfaat apalagi membicarakan tentang orang lain, yang dengan itu tidak disukainya.
Menjaga tangan, kaki dan anggota badan agar terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Mempersiapkannya supaya tetap sehat dan kuat untuk melakukan ibadah sholat malam.
Menjauhkan hati dari pikiran-pikiran kotor dan prasangka buruk. Memenuhi hati dengan mengingat-NYA, merindukan-NYA dan harapan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Janji Allah kepada orang-orang yang berpuasa adalah mereka akan bertemu dengan-Nya untuk menerima balasan puasanya itu. Dan janji Allah adalah pasti.

***

Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardhu, dan amalan fardhu diberi ganjaran 70 kali lipat. Puasa fiisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun.
Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir. Terbukanya pintu surga Ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu.

"Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain," sabda Rasulullah. Siapa yang tak tergiur dengan balasan sebesar itu?
Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?" "Ya Abul Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla," jawab Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. (HR Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban dan Baihaqi).

Jelang Ramadhan dengan mengoptimalkan upaya, memotivasi diri melakukan banyak amalan-amalan selama bulan Ramadhan, yang penuh dengan kebaikan.

Menjelang bulan suci penuh berkah dan rahmat, kita ingin berada dalam keadaan hati yang jernih, ikhlas, lapang dan tenang.

Semoga kita jelang Ramadhan dengan kesiapan fisik yang kuat dan hati yang ikhlas, dan mendapatkan malam Lailatur Qadar, amiin.

Olar Raga Murid Bina Amal mengajarkan sportivitas dan kejujuran
Jari jemari anak-anak terkadang gemar mengumpulkan benda asing misterius dan berakhir ke dalam kantong mereka. Sebelum  Anda emosi karena telah menemukan  seorang pencuri kecil di rumah, luangkan waktu untuk memahami mengapa anak-anak mencuri dan bagaimana menanganinya dengan cara tepat.

1. Memahami mengapa anak mencuri
 
Seperti berbohong, "mencuri" merupakan istilah orang dewasa yang mungkin tak berarti apa-apa bagi anak-anak. Permen  yang tergenggam di kepalan  setelah melalui kasir, atau mobil mainan yang ada dalam saku anak empat tahun setelah bertamu, bukanlah bukti  anak Anda berbuat nakal. Bagi anak prasekolah, posesi dapat berarti kepemilikan. Dalam pikiran, mereka memiliki hak atas apa pun dalam yang dapat diambil. Anak di bawah empat tahun mengalami kesulitan membedakan antara "milikku" dan "milikmu." Semuanya berpotensi jadi "milikku." Mereka tidak tahu  menggenggam  permen di toko adalah mencuri. Mereka hanya mengetahuinya setelah Anda memberi tahu. Dan dalam pikiran anak, ini bukan sebuah kesalahan sehingga orang tua berhak memberikan penilaian.

Banyak anak usia prasekolah tidak dapat menahan dorongan terutama soal kepemilikan. Ketika mereka melihat mainan  (dan merasa  harus memilikinya) mereka dapat membawanya tanpa menyadari  tindakannya benar atau tidak. Alih-alih rasa bersalah, mereka merasa lega keinginannya terpenuhi. Semakin impulsif, semakin besar kemungkinan anak terdorong memiliki barang yang bukan miliknya.

Anak berusia  lima hingga tujuh tahun  kerap mengelak dari kesalahan  mencuri. Kendati sebenarnya mereka  paham konsep kepemilikan dan hak milik. Mereka juga telah mengetahui  kenyataan jika  seluruh dunia bukan milik mereka  dan mencuri barang  yang bukan milik mereka adalah perbuatan yang salah.
Sayangnya, pada usia ini anak justru dapat menjadi seorang pencuri  yang pintar. Mereka takut hukuman orang dewasa namun belum paham benar tentang moralitas.

Hentikan sang pencuri kecil, dan ajarkan jika kekeliruan  ini bukanlah hal kecil. Mereka perlu belajar, jika kejujuran merupakan  hal kecil yang akan membuka jalan kesuksesan  kelak mereka dewasa. Seorang anak harus belajar  mengendalikan dorongan hasratnya, menahan diri, dan menghormati hak-hak orang lain.

2. Praktek parenting
 
Anak-anak yang dekat dengan orangtua kerap lebih sensitif, dan mereka juga mampu memahami serta menghormati hak-hak orang lain. Mereka dikatakan memiliki kematangan mental lebih baik dalam usia yang masih dini. Anak-anak  ini mampu merasakan perasaan menyesal ketika melakukan kesalahan sehingga mereka lebih berhati nurani.

Lebih mudah mengajarkan nilai-nilai ketika pola pengasuhan terhadap anak juga tepat. Anak-anak akan memiliki kemampuan berempati dan memahami dampak tindakannya terhadap orang lain ketika memiliki komunikasi yang baik dengan orangtuanya. Cobalah beri waktu yang cukup pada anak, untuk mencegah penyimpangan perilaku. Selain berguna memantau perkembangan anak,  kedekatan juga mampu memelihara kepercayaan anak-orangtua. Beberapa pengalaman  membuktikan, akibat hubungan orangtua-anak yang kurang dekat dapat memicu anak suka berbohong, mencuri dan  berbuat curang.

Orangtua yang dekat dengan anak juga  umumnya memiliki kemampuan membaca isyarat bahasa wajah dan tubuh sehingga mampu  mengungkap perilaku tersembunyi anak. Hubungan orangtua-anak, karenanya, dianggap lebih efektif ketimbang memberi nasihat dan menanamkan nilai-nilai.

3. Beri  pelajaran tentang keuangan
 
Anak-anak yang mengambil uang dari anggota keluarga,  seolah-olah itu adalah milik umum, mereka  mungkin merasionalisasi "Toh, aku akan mengembalikannya nanti" . Ajarkan anak  untuk menjaga urusan keuangan pribadinya. Uang harus disimpan dalam kotak terkunci yang disimpan di tempat tersembunyi.
Ketika uang dipinjamkan, ajarkan anak membuat  catatan untuk membantu mereka mengingat kepada siapa uangnya dihutangkan dan kapan harus dikembalikan. Orangtua sendiri sebaiknya  menyimpan uang di tempat yang tidak dapat diakses anak. Terkecuali uang dalam jumlah  kecil yang dapat disimpan dalam tas atau dompet.

4. Ajarkan kepemilikan
 
Ketika anak masih menginjak usia balita, mereka tak memiliki konsep kepemilikan. Tak heran jika anak berusia dua tahun kerap menganggap semua adalah miliknya. Saat usia dua hingga empat tahun, anak mulai memahami kepemilikan (misal, mainan milik orang lain), tetapi tidak  sepenuhnya percaya  jika itu bukan miliknya.

Ketidakpahaman anak akan prinsip kepemilikan ini bukanlah kendala untuk mengajarkannya semenjak dini. Ini dapat dimulai ketika anak menginjak usia 2 tahun. Misal, cobalah menjadi wasit yang adil saat anak berebut mainan dengan saudaranya. Tunjukkan jika pemilik sah adalah orang yang lebih berhak memainkan mainan.  Katakan, “mainan ini milik kakak”, “boneka ini milik kakak”, juga bisa menanyakan, “sepatu ini punya siapa?”  dan seterusnya. Seiring anak mendapatkan ide kepemilikan, mereka akan memahami soal hak di dalam kepemilikan.

Ketika orangtua memergoki anak membawa mainan yang tak dikenali, lalu anak berkata “ini milikku”, bedakan antara pernyataan yang jujur dan yang mencurigakan. Bisa jadi itu hanya, harapan anak untuk memiliki mainan tersebut. Coba tanyakan baik-baik “apakah itu benar milikmu atau kamu  berharap itu jadi milikmu?” lalu beri anak gambaran tentang mencuri “kalau si Amir mengambil mainanmu, dan kamu benar-benar menyukainya, apakah kamu akan sedih mainanmu hilang?”.

Cara terbaik mengajarkan nilai-nilai adalah dengan penggambaran, ketimbang memaksakan pendapat Anda. Orangtua pasti ingin anaknya mengembalikan mainan dan tak mencuri mainan orang lain. Sayangnya, anak bisa mendapatkan pesan yang salah soal “mengembalikan” jika tak ditangani dengan benar.

5. Koreksi tindakan mencuri  
 
Mendorong dan membantu anak  mengembalikan barang curian bukan hanya mengajarkan  jika mencuri itu salah, tetapi kesalahan juga  harus dikoreksi. Jika Anda menemukan bungkus permen kosong,  segeralah ajak anak ke penjaga toko dan lakukan pembayaran serta meminta maaf.

6. Identifikasi pemicu
 
Cari tahu apa yang mendorong anak mencuri. Anak yang kerap mencuri  kendati  Anda telah mengajarkan tentang kejujuran, biasanya memiliki masalah mendalam yang harus diperbaiki. Apakah anak marah? Apakah dia mencuri untuk melampiaskan kemarahan? Apakah anak membutuhkan uang dan merasa  jika mencuri adalah satu-satunya cara  untuk mendapatkan yang dibutuhkan? Jika demikian, cobalah menawarkan uang saku. Atau, untuk anak yang lebih besar, dorong anak untuk melakukan pekerjaan sambilan. Intinya, bantu anak belajar etika bekerja sehingga anak dapat memiliki hal yang diinginkan tanpa harus mencuri.

Kebanyakan  anak yang sering mencuri,  menderita kekurangan citra diri. Mereka perlu mencuri untuk meningkatkan perekonomian sehingga mendapatkan perhatian teman sebaya. Dan sebagaimana menangani semua masalah perilaku,  diperlukan  inventarisasi situasi  keluarga sebelum melakukan terapi. Apakah anak  membutuhkan pengawasan lebih? Atau mungkin, anak perlu  mendefinisikan kembali prioritas dan membangun hubungan lebih baik orangtua-anak.

7. Identifikasi risiko anak  mencuri
 
Perhatikan faktor-faktor risiko yang dapat mendorong anak mencuri, diantaranya:
  • Kurang harga diri
  • Impulsif: keinginan yang kuat, namun kontrol diri  lemah
  • Anak kurang sensitif terhadap orang lain
  • Tidak akrab
  • Pemarah
  • Perubahan situasi keluarga, misalnya, perceraian
  • Bosan 
  • Sering merasa sendiri
Jika orangtua ingin  mencegah anak mencuri, fokuskan pada faktor-faktor risiko ini sehingga mencuri dan berbohong dapat dihindarkan.
Sedangkan mencuri menahun dan kebiasaan anak berbohong yang tak dapat dikoreksi, akan bergulir dan semakin besar. Dengan pengulangan perbuatan yang salah, anak justru seolah meyakinkan dirinya jika mencuri tidak benar-benar tindakan yang salah. Ini kemudian disintesis dalam hatinya. Anak tanpa penyesalan ini sangat berisiko menjadi orang dewasa tanpa kontrol nilai-nilai. Anak-anak seperti ini membutuhkan pendekatan parenting .

8. Beri pujian atas kejujuran anak
 
Saat anak balita Anda menemukan dompet  dan membawanya kepada Anda, pujilah anak untuk aksinya. "Terima kasih sayang, sudah membawa dompet temuanmu ke mommy.. Sekarang, yuk  kita lihat apakah kita bisa mencari siapa pemiliknya..  pasti orang itu akan sangat senang, kita sudah menemukannya..”. Dan, hindari mengatakan, "Terima kasih sudah jujur ya sayang." Karena beberapa anak  mungkin tak terpikir soal  mengamankan dompet temuan.

Memuji perbuatan jujur anak akan menanamkan kemampuan memilih sikap jujur. Apapun pujian yang diberikan, ini juga menyampaikan pesan jika anak telah memenuhi harapan orangtua. Hal ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak.

Laili/ dari berbagai sumber

Murid Bina Amal membaca Qur'an saat acara Malam Bina Iman dan Taqwa
Miris memang jika kita memperhatikan anak-anak kecil sekarang, bukan Al-Qur’an yang mereka baca, bukan Sholawat yang mereka lantunkan melainkan lagu-lagu band lebih parah lagi lagu-lagu cinta yang entah apa itu manfaatnya.

Dikota-kota besar banyak sekali pemuda yang belum mampu membaca Al-Qur’an. Ironisnya di bangku sekolah mereka bisa mendapatkan prestasi yang membanggakan namun disisi lain mereka tidak lancar dan bahkan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Berikut bebrapa tips dari Yahya Ayyas agar anak cinta kepada Al-Qur’an, mudah-mudahan cita-citanya kelak menjadi seorang Hafidz/Hafidzah (penghafal) Al-Qur’an


1 – Memperdengarkan Al-Quran ketika masih dalam Janin

Janin dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan spiritual dari ibu dan sekitarnya selama kehamilan. Jika wanita hamil tetap dalam mendengarkan Al Qur’an, mereka akan merasa nyaman dan kenyamanan psikologis ini akan berpengaruh secara positif pada status embrio. Karena Al-Quran memiliki pengaruh rohani kepada pendengarnya dan meskipun ia tidak mengetahui bahasa Arab.
Kenyamanan Anda ketika mendengarkan Al-Quran adalah kenyamanan pula bagi bayi Anda. Aktifitas Anda mendengarkan Al-Quran walau dalam waktu yang relatif singkat akan mempengaruhi Anda dan bayi sepanjang hari.

2 – Memperdengarkan Al-Quran Ketika Masa Menyusui

Telah ditetapkan secara ilmiah bahwa bayi yang masih dalam menyusui akan sangat terpengaruh terhadap alam sekitar dan pada saat itu pendengaran sudah mulai bekerja. Akan tetapi pada waktu itu  Si bayi, hanya bisa menyimpan informasi dan kosa kata tapi tidak dapat mengembalikan atau menggunakan pada masa bayi tapi dia bisa melakukannya setelah masa kanak-kanak. Oleh karena itu, jika bayi mendengarkan Al-Quran setiap hari selama 5-10 menit (katakanlah 5 menit pagi dan sore) akan meningkatkan kosakata yang disimpan dengan membuatnya lebih mudah untuk mengambil dan bahkan untuk menghafal Al-Quran nantinya.

3 – Membacakan Al-Quran Di Depannya (naluri mengikuti)

Poin ini akan meningkatkan kesenangan anak untuk mengikuti sesuatu yang telah menjadi fitrahnya. Setiap anak dilahirkan secara fitrah (suci), selanjutnya kedua orang tuanyalah …)

4 – Memberikannya Mushaf Khusus Untuknya (naluri memiliki).

Pemberian hadiah Anda kepada buah hati akan memberikan rasa cinta memiliki terhadap sesuatu kepadanya. Meskipun naluri ini akan tampak jelas dengan hubungan anak terhadap mainannya, namun hal dapat ditemukan juga terhadap hadiah yang ia terima. Kaitkanlah ia selalu dengan Al-Quran sehingga ia dapat membaca dan membolak-balikkannya kapanpun ia mau.

5 – Buatlah Kesepakatan Dengannya Untuk Menghatamkan Al-Quran dengan Memberinya Pesta Kecil

Poin ini adalah untuk mempererat hubungan si buah hati dengan Al-Quran. Hal ini akan dapat terus berlanjut dengan menghatamkan salah satu juz tertentu dari Al-Quran. Kemudian berikanlah ia pesta kecil untuk merayakannya sebagai hadiah sederhana dan untuk menepati janji kepadanya. Ide ini juga akan merangsang anak dan mendorong yang lainnya sesuai dengan apa yang telah disepakati untuk dicapai.

6 – Ceritakanlah Kepadanya tentang Kisah-Kisah di Dalam Al-Quran

Anak sangat senang dengan cerita-cerita. Maka ceritakanlah untuknya kisah-kisah yang ada di dalam Al-Quran sesuai dengan kemampuan bahasanya. Cerita-cerita harus dibatasi dengan apa yang tercantum dalam Al-Quran saja, kemudian di akhir cerita adalah membaca teks Al-Quran tentang kisah itu agar semakin kuat daya ingatnya.

7 – Buatlah Perlombaan dengan Surat-surat Pendek (bagi mereka yang berada dalam usia 5 atau lebih).

Kontes ini adalah antara dia dan saudara-saudara, atau antara dia dan dirinya sendiri.
Seperti pertanyaan dan jawaban yang sepadan dengan tingkat.
Sebagai contoh, ibu dapat bertanya padanya untuk:
Firman yang artinya perjalanan dalam surat Quraisy? Jawab : Rihlatun
Dua musim yang ada di dalam surat Quraisy? Jawab : Sebuah musim dingin dan musim panas. Dan lain sebagainya. Jadi, sepadan dengan usia dan pemahaman anak.

8 – Ikatlah Unsur-unsur Lingkungan dengan Ayat Al-Quran

Kosakata ini: air / langit / bumi / matahari / bulan / malam / hari / kelapa / anggur / spider / dll
Anda dapat menggunakan indeks atau meminta kepadanya untuk mencari setiap pembicaraan tentang langit misalnya, atau yang lainnya.

9 – Tebak-tebakan, “Di manakah Terdapat Kata Ini?”

Ini adalah permainan yang menyenangkan bagi Anak dan bermanfaat baginya untuk meningkatkan kosa katanya. Hal ini juga dapat meningkatkan daya ingatnya terhadap ayat Al-Quran.

10 – Jadikanlah Al-Quran Sebagai Temannya Di mana saja.

Anda dapat menerapkan ide ini dengan meletakkan juz amma misalnya, di dalam tasnya. Hal ini akan dapat memberikan angin segar dan menambah kelekatannya dengan Al-Quran terutama dalam situasi ketegangan dan ketakutan, maka ia merasa aman selama ada Al-Quran di dekatnya.

11 – Kaitkanlah Ia Selalu dengan Sarana-sarana Al-Quran

(Saluran Televisi Al-Quran, kaset, DVD, radio, dll)
Ide ini merangsang keinginan dan persaingan dalam tradisi membaca dan menghafal, terutama jika kontestan/yang membacanya adalah anak yang usianya sama dengannya.

12 – Beli DVD tentang Pendidikan

Anda dapat menggunakan beberapa program dalam komputer untuk tujuan ini. Intinya adalah hal-hal membantu untuk mengoreksi bacaan serta hafalannya

13 – Dorong ia untuk berpartisipasi dalam kompetisi (di rumah / masjid / perpustakaan / sekolah / dll ….)

Kompetisi adalah kebiasaan alami pada anak-anak dan dapat mengambil keuntungan dari naluri ini dengan menghafal Al-Quran. Sebagai anak mungkin ia akan menolak untuk membaca atau menghafal Al-Quran sendirian. Akan tetapi ia akan terdorong dan termotivasi, jika masuk dalam kontes atau sejenisnya. Hadiah dan hadiah, salah satu hal yang mendorong anak untuk menghafal Al-Quran.

14 – Rekam Suaranya Ketika Membaca Al-Quran

Rekaman ini dapat mendorong dia dalam menghafal Al-Quran bahkan jika ia lupa sesuatu dari ayat-ayat atau surat, maka mendengar suaranya sendiri dapat membuatnya merasa mampu untuk menghafalkannya lagi.

15 – Dorong Ia Untuk Berpartisipasi Dalam Acara Sekolah dan perayaan lainnya.

Partisipasi anak Anda di sekolah terutama dalam pembacaan Al-Quran, dapat mendorong anak untuk berusaha menjadi berbeda dan kreatif dalam membaca ini. Terutama jika ia mendengar kata-kata pujian dari guru dan rekan-rekannya. Perlu para orangtua berkomunikasi dengan guru yang bertugas di sekolah untuk memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi.

16 – Dengarkan Dia Saat Menceritakan Kisah Al-Quran

Kesalahan yang dibuat oleh beberapa pendidik adalah ketidakpedulian mereka ketika anak memotong pembicaraannya kemudian malah memintanya untuk diam pada saat kita sedang berbicara kepadanya. Maka hendaknya, ketika anak bercerita tentang kisah di dalam Al-Quran kita mendengarkannya sekaligus membenarkan kesalahan yang terjadi karena kurangnya pemahaman atau kosa kata yang ia miliki.
Anak lebih suka bercerita sendiri daripada ia harus mendengarkan cerita dari yang lain. Hal ini juga akan meningkatkan seni menyampaikan dan bercerita baginya.

17 – Menjadikannya Imam Shalat  (khususnya shalat dalam nafilah)

Ibu bisa melakukannya dengan anaknya di rumahnya secara bergantian terutama dalam shalat-shalat sunnah.

18 – Ikutkan Ia Dalam Pertemuan Keluarga

Pertemuan keluarga untuk membaca Al-Quran dapat membuat anak merasakan rasa dan efek yang lain dari Al-Quran. Usahakanlah ada walalupun hanya 5 menit.

19 – Dorong Ia Untuk Mengikuti TPA di Masjid

Poin ini sangat penting bagi kemampuan membaca anak dan tajwidnya di samping adanya kompetisi.

20 – Perhatikan Tentang Pertanyaannya Seputar Al-Quran

Upayakan untuk dapat menjawab pertanyaannya secara sederhana dan mudah sesuai dengan pemahaman, dan mungkin Anda bisa menukilkan sebuah kisah untuk dapat memperjelasnya.

21 -Sediakan Sebuah Kamus Bahasa yang Sederhana (10 tahun ke atas)

Hal ini dapat memperkaya kosakata orangtua dan anak.


22 – Belajar dengan Para Ulama

Bergurunya anak dengan para ulama akan dapat menghilangkan rasa takut dan malu. Sehingga ia akan dapat langsung bertanya dan berdiskusi dengannya.

23 – Menghubungkan Kurikulum Pelajaran Al-Quran

Hendaknya seorang pendidik dapat menghubungkan pelajaran-pelajaran dengan ayat-ayat Al-Quran.

24 – Menghubungkan Kosakata Harian dan Peristiwa dengan Al-Quran

Misalnya, ketika anak melakukan pemborosan, maka ingatkanlah ia dengan larangan yang ada di dalam Al-Quran dan begitu seterusnya.

Semoga Para Orang Tua Dapat Mengambil Manfaat Yang ada Dan Dapat Menerapkannya Kepada Buah Hatinya…Semoga Menjadi Anak yang Soleh & Solehah.. Amin..Wallahu A’lam

Murid Bina Amal Berwudhu Sebelum Sholat Berjamaah
Ramadhan tinggal menunggu detik riang rasanya hati ini bisa bertemu lagi dengan Ramadhan. Andai setiap bulan sepanjang tahun bisa menjadi Ramadhan..
Semoga Keriangan ini juga bisa dirasakan oleh anak anak kita. Tahun ini adalah tahun ke empat dia menunaikan ibadah shoum, dia sendiri sudah tak sabar menanti sejak sepekan yang lalu. Ia sudah menyiapkan jam weker untuk membangunkannya sahur. Shalat berjamaah di masjid pun tak perlu menunggu abinya pulang kantor.

Kali ini saya ingin berbagi tips melatih anak berpuasa dengan gembira berdasarkan pengalaman pribadi saja.

1. Ceria sambut Ramadhan
Sebelum Ramadhan tiba buatlah suasana rumah dan keluarga penuh keceriaan. Tradisi nyekar dan sungkem pada keluarga menjelang Ramadhan bisa membangun suasana hati anak. Sering bercerita betapa tak sabar seluruh anggota keluarga menanti datangnya Ramadhan adalah awal membangun suasana hati anak bahwa yang dinanti adalah sesuatu yang istimewa.

2. Hias Rumah dengan pernik pernik
Libatkan Anak untuk membuat berbagai poster dan tulisan yang menyemangati misalnya : "Anak Sholeh rajin Puasa " " Allah cinta anak berpuasa " "Anak ummi abi kuat menahan goda " dsb.

3. Buat papan prestasi.
Buatlah papan/karton yang berisi target Ramadhan anak dalambentuk tabel misalnya Puasa, Sholat 5 waktu, tarawih, bantu ibu, mengaji, sayang adik/kakak ( kalau mereka tidak bertengkar ) dll sesuai yang kita inginkan. Kemudian tandai tiap kolom yang sukses dilakukan dengan bintang. Bicarakan dengan ayah bentuk imbalan apa yang akan diberikan bila mereka sudah mencapai beberapa bintang. Jangan menunggu sampai Ramadhan usai karena waktunya terlalu lama buat anak.

4. Reward
Berikan imbalan pada setiap kebajikan yang mereka lakukan meski mereka hari itu gagal menyempurnakan puasa. Jangan mengejek atau memvonis bila mereka tak sanggup puasa pada hari itu tapi motivasikan mereka.

5. Sediakan makanan Kesukaan anak menjelang berbuka.
Anak juga dapat dilibatkan pada aktifita menyiapkan makanan berbuka. Ajak mereka menyiapkan makanan berbuka kesukaan mereka. Kalau mereka ingin menicipi tanggapi dengan senyum dan pengertian bahwa ibu tahu mereka lapar tapi nanti kalau sudah waktu berbuka akan lebih nikmat dinikmati bersama keluarga.

6. Sediakan alternatif kegiatan
Alihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus dengan menyiapkan alternatif kegiatan yang tidak membuat mereka berkeringat. Melukis besama teman temannya bisa jadi alternatif atau menyediakan tontonan CD anak anak sholeh.

7 Atur waktu tidur anak agar dapat bangun sahur pada waktunya
Jangan bangunkan anak terlalu awal sehingga mereka akan ngantuk di sekolah. Bangunkan anak menjelang pukul 4 dini hari. Sediakan menu yang menunjang aktifitasnya selama berpuasa. Usahakan anak minum susu pada saat sahur dan berbuka.

8. Pengghargaan hari kemenangan
Buatlah Piagam atau Piala sendiri, ajak ayah untuk terlibat membuat hadiah istimewa bagi anak. Piagam Penghargaan akan lebih lama diingat anak. Pajanglah Piagam Penghargaan itu sampai Ramadhan tahun depan.

Nah Anak Anak Sholeh Selamat Berpuasa..

Bina Amal Salurkan Beasiswa
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh dengan berkah, bulan dimana pahala di lipat gandakan. Yayasan Wakaf Bina Amal telah menyiapkan banyak program untuk mengisi bulan Ramadhan. Salah satu di antaranya adalah penyaluran santunan pendidikan Bina Amal. Yang mendapatkan Santunan Pendidikan di Bulan Ramadhan diantaranya :
  1. Beasiswa anak asuh Bina Amal 
  2. Santunan Guru Berprestasi 
  3. Santunan Guru / Ustad / Ustadzah TPQ 
Jika anda berminat untuk ikut berpartisipasi dalam program Yayasan Wakaf Bina Amal ini,  anda dapat menghubungi. Call Center 085641023867 atau datang langsung ke Kantor Yayasan Wakaf Bina Amal Jl. Kyai Saleh No .8 Mugassari -  Mugas Semarang.

Murid Bina Amal kunjungan sosial di Panti yatim
Menumbuhkan rasa berbagi pada anak hendaknya dilakukan sejak awal. Tapi hendaknya itu tidak hanya dilakukan sebatas ucapan. Orang tua pun harus ikut memberikan contoh bagaimana seharusnya anak bertindak. Dan, yang tak kalah penting, jangan lupa untuk memuji ketika mereka bertindak baik. Biar masih kanak-kanak, pujian bisa bermakna banyak bagi cara pandangnya.
Berikut adalah tips dari beberapa sumber yang bisa dijadikan panduan untuk meningkatkan rasa berbagi pada anak:

Doronglah anak untuk berbagi dengan Anda. Ini akan lebih mudah karena dia tahu bahwa Anda tidak akan merebut miliknya atau membuatnya marah. Pastikan juga padanya bahwa Anda akan mengembalikan -katakanlah, mainan yang ia pinjamkan.

Cobalah mengunjungi taman bermain. Taman merupakan tempat terbaik bagi anak untuk belajar berbagi. Ini karena semua permainan yang tersedia bukan miliknya. Dengan demikian anak akan belajar bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan giliran, apakah itu bermain perosotan atau ayunan.

Jangan memaksa anak untuk berbagi semua yang ia miliki. Sebelum ia bermain dengan kawannya, biarkan anak memilih mainan atau benda apa yang boleh dimainkan bersama. Dengan demikian anak akan sadar, berbagi tidak berlaku untuk segala hal. Ini memudahkannya untuk memahami bahwa ada hal-hal yang harus dibagi dan ada juga yang tidak perlu.

Anak-anak biasanya menginginkan mainan yang tidak ia miliki. Ketika ia mulai merengek, carilah cara agar ia tetap bisa memainkannya. Kalau anak lain memiliki mobil-mobilan dan anak Anda memiliki mainan kereta api, ajaklah mereka bermain bersama. Dengan demikian, anak Anda bisa ikut bermain mobil-mobilan dan anak yang lain bisa mencoba mainan kereta api.

Anda juga bisa memakai patokan tertentu untuk membujuk anak agar berbagi. Misalnya dengan mengatakan, ''Indah main boneka selama lima menit, lalu setelah itu Kiki main selama lima menit.'' Sebenarnya anak usia pra-sekolah belum memahami waktu. Tapi bujukan seperti ini biasanya ampuh untuk meyakinkan mereka bahwa miliknya pasti kembali. Dan yang terjadi, mereka bisa bermain bersama hingga lupa waktu.

Ketika anak tengah menunggu giliran untuk bermain dengan sesuatu, ajak ia melakukan aktivitas lain. Bisa bermain dengan boneka berbeda, mewarnai buku atau memberi makan binatang jika ada.

Ajarkan cara untuk berunding. Ketika terjadi keributan kecil di antara anak-anak, jangan pernah meneriaki mereka atau melempar barang yang diperebutkan. Sebagai gantinya, ajak anak-anak untuk duduk bersama dan bicara secara baik-baik bahwa mereka harus bergiliran.

Jangan sungkan untuk memuji. Anda mengharapkan anak-anak memiliki rasa berbagi yang tinggi. Nah, ketika melakukan itu, jangan sungkan untuk memujinya. Semisal, ''Kakak hebat ya, tadi Bunda lihat kakak meminjamkan bonekanya buat adik Kiki.'' Pujian akan lebih mengena. Anak menjadi paham bahwa yang dilakukannya adalah perbuatan baik.

Kunjungan sosial murid Bina Amal
Memuliakan anak yatim adalah pahala yang besar, sebaliknya menghinakan anak yatim adalah dosa besar. Allah  berfirman , “Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa besar (An-Nisaa:2).

Dalam momentum Ramadhan kami dari Yayasan Wakaf Bina Amal mengajak untuk ikut berpartisi pasi dalam program yatim di bulan Ramadhan. Acara ini sebagai wujud kecintaan kami kepada para Yatim dan dalam rangka mendapatkan berkah dan keridhoan Allah Swt.

Program-program yatim di antaranya :
  1. Santunan Anak Yatim di bulan Ramadhan
  2. bingkisan/Paket Lebaran Anak yatim
  3. Ifthar (buka puasa) Yatim dan Dhuafa (Program pemberian makanan untuk berbuka puasa bagi dhuafa dan anak yatim. Terdiri dari Ta'jil (makanan pembuka) dan makanan berat untuk berbuka.
Jika anda berminat untuk ikut berpartisipasi dalam program Yayasan Wakaf Bina Amal ini,  anda dapat menghubungi. Call Center 085641023867 atau datang langsung ke Kantor Yayasan Wakaf Bina Amal Jl. Kyai Saleh No .8 Mugassari -  Mugas Semarang.


Bagi sebagian besar orang tua yang anak-anaknya bersekolah baik di SD ataupun SMP, hari ini Sabtu 22 Juni menjadi satu hari bersejarah karena mereka harus menghadiri acara pengambilan raport anak di sekolah.
Sebagian menjadikannya sebagai suatu hari yang penting (seperti ayahnya Ikal dalam nover Laskar Pelangi), sebagian yang lain menganggapnya biasa-biasa saja. Kita abaikan dulu bahwasanya sikap orang tua terhadap perkembangan sekolah anaknya bisa menjadi ukuran kepedulian mereka terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka, mari kita bicara yang lebih praktis namun tak kalah strategis yaitu respon orang tua terhadap nilai yang terdapat dalam buku raport sekolah tersebut.

Tak jarang kita mendapati orang tua yang begitu berbahagia karena anaknya mendapatkan nilai sebagaimana yang diharapkannya, bahkan menjadi juara di kelasnya. Namun kebahagiaan tersebut hanya sebatas di sekolah saja, tak sampai terbawa ke rumah. Karena ternyata ada yang perlu diperbaiki dalam persepsi orang tua tentang prestasi anaknya.

Ada orang tua lain, yang begitu terpukul menerima kenyataan anaknya juara terakhir. Jauh dari yang ia bayangkan, bahkan jauh dari yang pernah ia dapatkan. Lalu mulai membanding-bandingkan.Kemudian muncul penilaian-penilaian negatif yang tak perlu dilakukan.

Duhai orang tua, sikap kita terhadap suatu peristiwa dalam tumbuh kembang anak kita berdampak tak hanya sesaat saja, tapi bisa terbawa sampai ia dewasa. Karena itu moment mengambil raport sekolah anak, dan menerima kenyataan nilai yang tertulis di dalam buku tersebut harus disikapi dengan tepat.
Karena itu, beberapa persepsi tentang nilai raport sekolah yang selama ini ada perlu diperbaiki agar anak semakin semangat belajar dan orang tua pun semangat baik memberi perhatian.

Hal mendasar yang harus diingat adalah bahwa nilai raport sekolah anak bukanlah gambaran kemampuan anak didik. Bukan pula menunjukkan tingkat intelegensia apalagi gambaran dari masa depan mereka. Nilai raport sekolah adalah gambaran kemampuan belajar anak yang terekam oleh guru lewat aktifitas belajar juga jawaban ketika ujian. Hanya itu, tidak lebih tidak kurang.

Jadi bila anak kita mendapat nilai yang baik tentu tidak membuat kita terlena sehingga tidak lagi memacunya untuk giat belajar, atau bila nilai anak kita kurang baik atau bahkan terjelek di kelasnya jangan lantas melabelkan dia dengan label yang tidak memberdayakan.

Apapun nilai raport sekolah anak, berilah respon terbaik untuk semangat belajar mereka. Bila nilai raportnya bagus dan memuaskan INGATlah untuk memberi apresiasi, pengakuan, dan bila perlu beri penghargaan. Semua itu akan membantu anak merasa ada perhatian dan kepedulian dari kedua orang tuanya.

Namun sebaliknya, bila nilainya rendah dan tak sesuai harapan, HINDARI menjudge anak sebagai anak yang terbelakang, apalagi memberi label-label yang bisa merusak masa depan. Justru karena nilai sekolah anak rendah jadi pengingat buat orang tua bahwa perhatian harus lebih ditambah. Temukan kelemahan yang perlu ditunjang, cari kekurangan yang perlu dilengkapkan, gali terus keterlambatan sehingga bisa diberi dorongan.

Jadi, momen mengambil raport sekolah bisa dimanfaatkan sebagai moment untuk menguatkan bonding antara orang tua dan anak. Apresiasi, pengakuan, dan penghargaan pada pencapaian anak menjadikan anak semakin semangat berprestasi. Evaluasi dan refleksi diri atas kekurangan anak kan sadarkan kita ada sesuatu yang belum dilakukan.

Dan yang perlu diingat sekali lagi, nilai potensi yang dimiliki oleh anak dan yang mampu ia kembangkan lebih dari apa yang tertera di atas lembar kertas raport sekolah.

Selamat mengambil raport sekolah anak, selamat membangun keakraban lebih dekat bersama anak.





Beberapa langkah ini bisa dilakukan saat anak demam ya, Ma:

1. Amati dan pikirkan penyebabnya. Bila disusul dengan batuk pilek, Anda pun lega karena jelas penyebabnya adalah ISPA.

2. Amati tanda kegawatdaruratan. Misalnya, penurunan kesadaran (perilaku anak  merupakan parameter kuat untuk menentukan ada tidaknya kegawa daruratan), dehidrasi, kejang, sesak napas, dan sakit kepala hebat (pada anak yang sudah bisa mengkomunikasikan keluhannya).

3. Berikan cairan lebih sering dari biasanya, karena kebutuhan akan cairan akan meningkat saat demam. Demam akan meningkatkan risiko dehidrasi (kekurangan cairan tubuh), padahal dehidrasi akan membuat suhu tubuh lebih meningkat lagi. Ketika sakit, wajarlah jika selera makan anak menurun. Jadi, tawarkan makanan ringan, yang segar, rasanya enak, dan tampilannya menarik. Oya, makan tidak harus nasi, ya. Juga, jangan galau begitu anak menolak makan. Yang penting pada saat ini adalah asupan cairannya.

4. Berikan obat demam, bila perlu. Obat demam tidak akan menormalkan suhu dan tidak menyembuhkan penyebab demam, melainkan agar anak merasa agak nyaman (karena efek pain killer-nya) dan untuk menurunkan 1 atau 2 derajat saja.  Obat demam diberikan saat anak sangat rewel karena merasa tak nyaman atau saat suhu tinggi (sedikitnya di atas 38,5°C). Dengan atau tanpa obat demam, suhu akan naik turun sesuai siklusnya.

5. Kadang, bila suhu sangat tinggi, anak merasa sangat tidak nyaman. Anda bisa mencoba menurunkan suhu tubuh dengan menyeka tubuh anak atau mengompres dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Kompres air dingin sejenak seolah menurunkan suhu tubuh, padahal selain membuat anak menggigil tak nyaman, kompres dingin justru akan meningkatkan suhu tubuh. Mengapa? Karena saat dikompres dingin, informasi yang diperoleh tubuh adalah di luar suhu dingin. Otomatis termostat pusat pengatur suhu tubuh di otak akan meningkatkan suhu tubuh agar tidak kedinginan.


Di Bulan Ramadhan Yayasan Wakaf Bina Amal Semarang siap menyalurkan Ziswaf  (Zakat, Infaq, Shodaqoh dan wakaf) kepada mereka yang berhak terutama di lingkungan Bina Amal.  Seperti yang telah dilaksanakan di tahun-tahun sebelumnya, Bina Amal ingin mengajak masyarakat Kota Semarang dan Jawa Tengah untuk berbagi berkah di Bulan Ramadhan.

Zakat merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu. zakat terdiri atas zakat harta (zakat Maal) dan zakat fitrah. Zakat Harta di kenakan terhadap harta yang telah memenuhi syarat, seperti emas/perak, penghasilan (gaji), tabungan, investasi, dan lain lain. Zakat fitrah berupa bahan makanan pokok sesuai dengan kadar yang ditentukan. Sedangkan infak/shodaqoh ibadah hrata sunah sebagai wujud syukur dan keimanan kepada Allah Swt. yayasan wakaf bina amal turut berperan serta dalam pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, shodaqoh dan wakaf (Ziswaf) kepada mustahik yang berhak menerima.

Jika anda berminat untuk menyalurkan Ziswaf anda melalui Yayasan Wakaf Bina Amal anda dapat menghubungi. Call Center 085641023867 atau datang langsung ke Kantor Yayasan Wakaf Bina Amal Jl. Kyai Saleh No .8 Mugassari -  Mugas Semarang.

 



Bulan Ramadhan adalah bulan suci dimana amal ibadah akan di lipatgandakan pahalanya. Yayasan Wakaf Bina Amal memiliki program Ramadhan 1435 H. Program tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :

Penyaluran Zakat dan Infaq/Shodaqoh dan Wakaf (Ziswaf)

Zakat merupakan kewajiban setiap muslim yang mampu. zakat terdiri atas zakat harta (zakat Maal) dan zakat fitrah. Zakat Harta di kenakan terhadap harta yang telah memenuhi syarat, seperti emas/perak, penghasilan (gaji), tabungan, investasi, dan lain lain. Zakat fitrah berupa bahan makanan pokok sesuai dengan kadar yang ditentukan. Sedangkan infak/shodaqoh ibadah hata sunah sebagai wujud syukur dan keimanan kepada Allah Swt. yayasan wakaf bina amal turut berperan serta dalam pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, shodaqoh dan wakaf (Ziswaf) kepada mustahik yang berhak menerima di lingkungan Bina Amal.

Bina Amal cinta Anak Yatim 

Sebagai wujud kepedulian dan kecintaan para muzakki dan Bina Amal terhadap anak-anak Yatim di lingkup Bina Amal dan Kota Semarang maka di gulirkan program.

  1. Santunan Anak Yatim di bulan Ramadhan
  2. bingkisan/Paket Lebaran Anak yatim
  3. Ifthar (buka puasa) Yatim dan Dhuafa (Program pemberian makanan untuk berbuka puasa bagi dhuafa dan anak yatim. Terdiri dari Ta'jil (makanan pembuka) dan makanan berat untuk berbuka. 

Ramadhan peduli Pendidikan 

  1. Beasiswa anak asuh Bina Amal 
  2. Santunan Guru Berprestasi 
  3. Santunan Guru / Ustad / Ustadzah TPQ

Prgram Ramadhan yang bisa anda pilih dan ikuti adalah sebagai berikut :











Kreatifitas Bina Amal
Manusia di dalam alam semesta ini bagaikan anak kecil yang lemah tapi dicintai. Dia menyimpan sebuah kekuatan yang besar di balik kelemahannya; dia menyimpan kemampuan yang luar biasa di balik ketidak-mampuannya. Karena dengan kekuatan rasa lemahnya dan kemampuan rasa ketidak-mampuannya, banyak sekali makhluk di bumi ini yang ditundukkan untuk membantunya.

Maka jika manusia menyadari kelemahannya, lalu memohon kekuatan kepada Allah SWT; menyadari ketidak-mampuannya, lalu memohon kemampuan dan pertolongan kepada Allah SWT, baik dengan ucapan ataupun perbuatan; dan dia juga mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka Allah SWT akan memudahkannya mendapatkan apa yang diinginkan. Semua keperluannya akan diperoleh, bahkan akan mendatanginya dengan sukarela.

Padahal semua itu mustahil akan didapatkannya bila dia hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri yang sangat terbatas. Bahkan sepersepuluh tujuan itu pun tak akan didapatkannya. Namun kadang manusia melakukan kesalahan, jika dia berhasil mendapatkan sesuatu melalui doa perbuatannya, dia kadang mengalamatkan kemampuan itu kepada dirinya sendiri.

Aku akan memberikan sebuah contoh. Kekuatan yang ada di balik kelemahan anak ayam yang masih kecil membuat induknya berani melawan singa untuk mempertahankan dan membelanya. Kekuatan yang berada di balik kelemahan seekor anak singa telah menundukkan induknya yang buas untuk mencarikan makanan. Sehingga kadang terjadi sesuatu yang ironis, induk singa yang buas dan kuat itu bisa saja kelaparan, padahal di waktu yang sama, anaknya yang masih lemah malah sedang kekenyangan. Oleh karena itu, harus diperhatikan betul bahwa tenyata ada kekuatan yang sangat besar di balik sebuah kelemahan. Bahkan harus kita akui bahwa rahmat Allah SWT akan selalu berada pada kelemahan itu.

Seorang anak kecil yang lembut dan disayang akan mendapatkan kasih sayang dari orang lain akibat kelemahannya. Jika menangis, dia akan mendapatkan apa yang diinginkan. Orang-orang yang perkasa, bahkan raja sekalipun akan tunduk kepadanya. Jika yang didapatkan dengan kasih sayang itu adalah seribu, maka dia tidak akan mendapatkan satu pun jika hanya mengandalkan kekuatannya yang sangat kecil. Kelemahan dan ketidak-mampuannyalah ternyata yang telah menggerakkan dan menimbulkan perasaan kasihan dan keinginan untuk melindunginya. Bahkan jarinya yang sangat mungil akan dapat menundukkan orang-orang dewasa, baik raja atau penguasa sekalipun.

Jika saja anak kecil itu mengingkari dan tidak mengakui kasih sayang itu, lalu dengan bangga mengucapkan sebuah kebodohan, “Akulah yang telah menundukkan orang-orang kuat itu dengan kekuatan dan kemampuanku sendiri.” Maka tidak mengherankan jika dia malah akan mendapatkan caci maki dan tamparan. Demikian juga manusia, jika tidak mengakui rahmat Penciptanya, dan berkata seperti perkataan Qarun, “Sesungguhnmya semua ini kudapat karena ilmuku” maka tidak diragukan lagi bahwa dia akan disiksa Allah SWT.

Oleh karena itu, kedudukan, kemajuan, dan cakrawala peradaban yang dimiliki manusia tidaklah timbul karena kehebatan manusia. Semua itu adalah pemberian dari Allah SWT karena kelemahannya. Itu adalah pertolongan dari Allah SWT karena memang manusia tidak mampu. Itu adalah pemberian dari Allah SWT karena memang manusia sangat fakir dan memerlukan.

Kekuasaan manusia juga bukan berasal dari kekuatan yang dimilikinya, juga bukan dari ilmu yang didapatkannya. Kekuasaan itu melainkan berasal dari rasa kasihan, iba, rahmat, dan hikmah Allah SWT yang menundukkan semua hal itu untuk keperluan manusia.

Benar, manusia akan kalah dengan hewan seperti kalajengking yang tidak bermata, atau ular yang tidak berkaki. Manusia yang lemah seperti itu tidak akan mungkin dapat membuat sehelai kain sutera dari seekor ulat yang kecil, atau mendapat setetes madu manis dari seekor serangga beracun. Semua itu didapatkan berkat kelemahannya yang berasal dari penundukkan Allah SWT atas segala sesuatu yang dikehendakiNya.
Wahai manusia, jika keadaannya demikian, maka hendaklah kau jauhi perasaan egois dan berbangga dengan dirimu. Tunjukkanlah kelemahan dan kemiskinanmu di depan gerbang ketuhananNya. Tunjukkanlah kelemahan itu dengan cara meminta dan memohon. Tunjukkanlah kemiskinanmu itu dengan doa dan perasaan hina. Katakanlah bahwa engkau benar-benar hamba Allah SWT yang sebenarnya. Katakanlah: “Hasbunallahu Wanikmal Wakil.” Maka engkau akan segera menaiki tangga-tangga kemuliaan dan ketinggian.

Janganlah engkau berkata, “Siapakah diriku. Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak mempunyai sebuah kelebihan yang membuat Allah SWT secara sengaja menundukkan semesta alam untukku, kemudian memintaku untuk melakukan syukur.” Karena engkau, jika yang dipandang adalah wujud dirimu dan bentukmu, maka engkau tidaklah mempunyai nilai apa-apa.

Tapi jika dilihat dari tugasmu dalam kehidupan, engkau adalah seorang saksi yang cerdas; seorang penonton yang pandai. Engkau bersaksi atas alam semesta yang sangat luas ini. engkau adalah lisan yang pandai dalam bercakap, mengungkapkan apa yang dimaksud alam semesta ini. Engkau adalah pembaca yang cerdik dan teliti, yang mengungkap isi alam semesta ini. Engkau adalah pemimpin yang turut memikirkan semua alam yang selalu melaksanakan tasbih kepada Allah SWT. Engkaulah guru dan arsitek bijak pada ciptaan Allah SWT yang semuanya selalu melaksanakan ibadah kepadaNya.

Benar, wahai manusia. Dari segi tubuh dan dirimu adalah bagian yang sangat kecil dan hina; makhluk yang miskin; hewan yang lemah, yang terombang-ambing di antara gelombang lautan besar makhluk-makhluk Allah SWT yang sangat banyak dan beragam ini. Tetapi, dari segi engkau adalah manusia yang diciptakan sempurna dengan tarbiyah Islamiyah, yang disinari cahaya keimanan yang mengandung cinta Allah SWT, engkau adalah raja atas semua hambaNya. Engkau sangat sempurna dalam kekuranganmu; engkau berpengetahuan luas dalam kekecilanmu; engkau berkedudukan sangat mulia dengan kehinaanmu; engkau pengawas yang berpandangan tajam atas semua yang berada di alam semesta yang sangat luas ini.
Sehingga engkau dapat berkata, “Tuhanku yang Maha Penyayang telah menjadikan bumi sebagai rumah dan tempat tinggalku; menjadikan matahari dan bulan sebagai lentera dan penerangku; menjadikan musim semi sebagai setangkai bunga yang harum semerbak; menjadikan musim panas sebagai hidangan yang sangat lezat; menjadikan hewan-hewan sebagai pelayan; dan terakhir menjadikan tumbuh-tumbuhan sebagai hiasan dan perangkat yang menyejukkan pemandangan rumahku.”

Kesimpulannya, jika engkau menuruti perintah nafsu dan setan, engkau akan jatuh kepada derajat yang paling rendah. Tapi jika engkau turuti perintah Allah SWT dan Al-Qur’an, maka engkau akan dinaikkan kepada derajat yang paling tinggi. Dengan itu, maka engkau adalah benar-benar makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan sebaik-baik bentuk. (msa/dakwatuna/disarikan dari Rasailun Nur karya Sa’id Nursi)

Persahabatan Siswi Bina Amal
Pernahkah Bunda mengalami kejadian saat anak pulang dari rumah tetangga dengan bercucuran air mata karena berkelahi dengan anak tetangga?

Kejadian seperti itu sebenarnya lumrah dan seringkali terjadi pada anak-anak. Nah, hal pertama yang perlu bunda lakukan adalah, jangan langsung memberikan teguran, baik kepada anak bunda, maupun kepada anak tetangga. Bunda lebih baik meminta dulu anak untuk menceritakan secara kronologis kejadian yang telah terjadi di rumah tetangga.

Biarkan anak mengeluarkan ‘unek-unek’-nya terlebih dahulu. Dari ceritanya tersebut, Bunda dapat memberikan pengarahan mengenai apa yang sebaiknya anak lakukan di kemudian hari. Jangan sampai Bunda malah ikut terbawa emosi dan langsung menegur anak tetangga, padahal belum tentu cerita yang disampaikan anak Bunda benar 100%.

Bukan berarti anak mencoba memfitnah temannya, tapi memang begitulah anak-anak. Mereka masih sangat egosentris sehingga belum mampu mengenali kesalahannya dan selalu menganggap orang lain yang bersalah.

Nah, jika keadaan sudah lebih baik, Bunda juga dapat mencoba menghubungi orang tua si anak tetangga dan menanyakan kejadian yang sebenarnya terjadi di rumahnya. Namun, tetap berhati-hati dalam bertanya dan berkomentar, ya, Bun.

Jangan sampai terkesan menuduh atau menghakimi karena justru akan menimbulkan konflik baru di antara orang tua. Katakan pada orang tua anak tersebut bahwa Bunda hanya bermaksud untuk mengetahui yang sebenarnya, agar di lain waktu, kedua pihak orang tua dapat menasihati anak masing-masing untuk berperilaku lebih baik.

Siswa Bina Amal Berolahraga

 Dengan cuaca yang kini semakin tidak menentu, anak semakin mudah terserang batuk dan gejala flu, seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin.

Sedih memang, namun tahukah Mama bahwa Anda bisa membantu tubuh anak lebih cepat sembuh dengan memperhatikan hal-hal berikut.


  1. Pastikan ia cukup tidur. Ini membantu tubuhnya mendapat sistem imun tubuh yang lebih baik, sehingga bisa melawan virus penyebab batuk dan pilek.
     
  2. Jauhkan dari area berdebu. Bila Anda sedang melakukan renovasi rumah, debu yang berlebihan akan membuat batuk dan pilek anak tak kunjung sembuh karena saluran pernapasannya terganggu. Ada baiknya, Anda mengungsikan anak untuk sementara waktu.

  3. Cukupi kebutuhan anak akan makanan bergizi. Kurangnya asupan makanan bergizi juga merupakan salah satu alasan melemahnya sistem imun tubuh anak Anda. Berikan anak cukup asupan vitamin dari sayur dan buah segar. Juga, jauhkan ia dari makanan cepat saji, permen dan cokelat favoritnya, dll.

Siswi Bina Amal berlatih kerajinan tangan
Kegagalan dialami siapa dan kapan saja serta menimbulkan efek positif atau negatif, termasuk pada anak. Agar kegagalan tak menggerogoti kemauan anak untuk terus berkembang, orangtua perlu jeli memanfaatkan momen tumbuh kembang anak.

Dalam momen tumbuh kembang, yakni saat anak berhasil atau gagal melakukan keterampilan secara mandiri untuk pertama kali, orangtua bisa menumbuhkan sikap positif dalam diri anak. Salah satunya berani menghadapi kegagalan dan mengatasi berbagai emosi negatif yang muncul karenanya. Caranya dengan merayakan momen tumbuh kembang itu termasuk merayakan kegagalan.

Psikolog keluarga, Roslina Verauli, atau akrab dipanggil Vera, mengatakan, tidak hanya dalam hal yang menyenangkan, ada masanya si kecil harus menemui kekecewaan di awal perkembangannya.

Misalnya, ketika anak tidak berhasil memenangkan pertandingan atau permainan. Seringkali, seorang anak belum bisa memahami rasa kecewa, sedih ataupun marah yang ia rasakan. Karenanya, dalam momen ini, orangtua sebaiknya memberikan semangat ataupun pujian terhadap apa yang telah diupayakan si kecil, meski ia tidak berhasil menjadi juara. Semangat atau pujian ini merupakan bentuk sederhana dari sebuah perayaan kegagalan.

Menurut Vera, pemahaman mengenai menang dan kalah sejak usia dini merupakan satu dasar baik untuk membentuk mental anak yang selalu berani mencoba. Selain itu, melalui hal seperti ini ia akan melatih kemampuan empati terhadap orang lain.

“Perayaan atas momen pertumbuhan anak tidak hanya dimaksudkan untuk memperingati hal-hal pertama yang berhasil dilakukannya, akan tetapi untuk memberikan suatu motivasi kepada si kecil untuk berani mencoba lagi hingga ia menguasai kemampuannya dan pada suatu saat ia menguasai kemampuan itu secara sempurna,” kata Vera.

Ia mengatakan, merayakan tahap tumbuh kembang semudah memberi pelukan, pujian, membacakan cerita istimewa hingga membuatkan makanan kesukaan anak diyakini mampu menjadi stimulan yang baik untuk mendorong rasa percaya diri anak dan memperkuat citra diri mereka.

Jika anak mampu melihat dirinya sebagai sosok yang dicintai dan didukung, ia tidak merasa ragu untuk mengulangi kembali hal yang menjadi keberhasilan maupun kegagalan mereka, dengan lebih baik lagi.

Ekskul di Bina Amal

 Saat ayah bunda menjaga si kecil agar tidak terserang penyakit, bukan berarti si kecil harus tinggal di dalam rumah terus. Sistem kekebalan tubuh mereka harus di aktivasi dan dilatih, salah satunya dengan memberikan kesempatan pada tubuhnya untuk berinteraksi dengan lingkunganya. Jadi kalau si buah hati bermain debu atau kotor-kotoran sedikit, tidak apa-apa hanya setelahnya pastikan si kecil membersihkan dirinya.

Anak yang terlalu diproteksi dalam rumah justru cenderung lebih mudah sakit karena sistem kekebalan mereka tidak pernah berlatih menghadapi dunia luar. Agar si kecil terhindar dari serangan penyakit berbahaya tanpa harus mengekang aktifitasnya, berikut adalah saran-saran dari ahli kesehatan untuk ayah bunda.

1. Mencuci tangan. Ajari dan biasakan si kecil mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah bermain di luar, dan setelah memegang binatang peliharaan. Ajari mereka cara mencuci tangan yang benar menggunakan sabun. Jaga kebersihan tubuh mereka dengan membiasakan mandi minimal dua kali sehari, saat pagi dan sore.

2. Asupan nurtisi bergizi. Tidak bisa dipungkiri bahwa asupan nutrisi yang cukup, lengkap, dan berimbang sangat diperlukan mereka, bukan hanya sekedar untuk memacu perkembangan dan pertumbuhan mereka, namun juga agar daya tahan tubuh mereka tetap terjaga sehingga mampu menahan serangan penyakit dari luar.

3. Pakailah masker. Jika ada anggota keluarga atau teman bermain si kecil yang sedang sakit flu, biasakan si kecil untuk menggunakan masker untuk menurunkan resiko tertular. Membiasakan si kecil menggunakan masker mungkin tidak mudah karena dirasa kurang nyaman dan membatasi aktifitas mereka. Berikan penjelasan logis dan sederhana kenapa harus mengenakan masker.

4. Cukup waktu tidur. Salah satu peran tidur adalah memberikan waktu pada tubuh untuk mengembalikan staminanya setelah seharian berakifitas, termasuk menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap aktif. Banyak anak yang jatuh sakit atau tertular flu karena kurang istirahat. Pastikan si kecil mendapatkan jam tidur yang cukup sesuai dengan tahapan usia perkembangannya.

5. Istirahat jika sedang sakit. Jika si kecil terserang penyakit semisal flu atau batuk, kondisikan agar mereka mengurangi aktifitas bermain dan memperbanyak istirahat disamping mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Berikan jus buah atau sayur untuk mempercepat masa penyembuhan mereka.

6. Ajarkan untuk aktif bergerak. Aktif bergerak termasuk berolahraga dapat memicu laju metabolisme agar selalu berada pada keadaan optimal. Berolahraga adalah salah satu alternatif mudah untuk menjaga agar sistem kekebalan tubuh tetap berada pada kondisi puncak.

Siswa Bina Amal Beristirahat setelah berolah raga di Sekolah
Suatu hari usai shalat Zhuhur, seorang saudari mengingatkanku akan sebuah kisah indah… Bahwa pada saat hari pembaiatan khalifah Al Mansur Rahimahullah, masuklah “Muqatil bin Sulaiman” rahimahullah.
Kemudian sang khalifah pun berkata kepadanya, “Berilah saya nasihat wahai Muqatil…”
Beliau pun menjawab, “Saya beri nasihat dengan yang pernah saya lihat ataukah yang saya dengar?”
Khalifah: “… dengan yang engkau lihat…”

Muqatil: “Wahai amirul mukminin..! Umar bin Abdil aziz (khalifah yang terdahulu) memiliki 11 orang anak. Beliau meninggalkan warisan hanya 18 dinar, 5 dinar untuk membeli kafan dan 4 dinar untuk membeli pekuburan beliau, sisanya 9 dinar dibagikan kepada 11 anaknya. Dan Hisyam bin Abdul Malik (khalifah setelahnya) punya 11 orang anak juga, dan jatah warisan tiap anaknya 1 juta dinar. Demi Allah wahai amirul mukminin… Sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri di suatu hari salah seorang anak Umar bin Abdul Azis bersedekah 100 kuda perang untuk jihad fii sabilillah, dan salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik, sedang mengemis di dalam pasar…”

Beliau melanjutkan nasihatnya,

“Orang-orang pernah bertanya kepada Umar bin Abdul Azis (sebelum wafatnya), “Apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?!” (Karena Umar terkenal dengan sedekahnya yang luar biasa)
Maka beliau (Umar bin Abdul Azis) pun menjawab, “Saya meninggalkan untuk mereka ketaqwaan kepada Allah, Jika mereka adalah orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih… Jika mereka bukan orang yang shalih, maka tidak akan saya tinggalkan sedikit pun yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah…” Masya Allah!”

Renungkanlah duhai diri, kita yang berperan menjadi orang tua, atau calon-calon orang tua, penerus generasi harapan umat… Berapa banyak orang yang sibuk, bekerja keras, bersusah payah di dunia ini hanya demi menjamin kehidupan anaknya di masa depan. Mereka mengira, dengan uang atau harta yang ada setelah kematiannya adalah jaminan kehidupan bagi anak cucu keturunan. Namun mereka lupa akan jaminan yang agung dan hakiki yang telah dijanjikan sang pencipta dalam kitab-Nya… naudzubillahi minzaliik, faghfirlana…

Setelah saya mendengar nasihat itu, masya Allah, kekuatan dan kepercayaan diri seolah kian diteguhkan-Nya, tubuh lelah tak pernah terasa lemah ketika bersama teman-teman mendatangi majelis-majelis ilmu, setiap hari, di beberapa lokasi berjauhan, online, maupun offline. Terasa sebegitu pendek usia ini, waktu amat cepat berlari, sayang jika sisa usia tidak dipergunakan untuk membekali warisan yang paling berharga, yaitu ketaqwaan kepada-Nya dalam memegang teguh Quran dan sunnah rasul-Nya Sallallahu Alaihi Wasallam.

Setelah saya mendengarkan pula banyak nasihat dari kisah pendahulu kita yang shalih sebagaimana keteladanan kisah di atas, saya ‘tidak minder’ dengan “jumlah benda” yang dinikmati keluarga kami setelah sekian masa bekerja. Maklumlah, kita manusia sering lalai dan lupa, meskipun suami, orang tua, atau sahabat terdekat senantiasa mengingatkan di sisi kita. Ada kalanya di lingkungan tempat kita tinggal, orang-orang melakukan penilaian pantas – tak pantas berdasarkan status kedudukan, serta peranan yang melekat pada kita. Misalkan celetukan seorang teman kepada sobatku, “Masa’ sih, dua puluh tahun kerja di luar negeri, kok cuma bisa beli rumah kecil di desa?” Astaghfirullah, padahal tak tampak di matanya bahwa sang empunya rumah memilik alasan penting untuk tinggal di desa tersebut, membantu kemajuan penduduk di tempat terpencil itu.

Sewaktu saya tinggal di Polandia, kalian mungkin tak menduga bahwa penduduk Poland sangat ‘perhitungan meski dengan se-sen dua sen pun hartanya’:-D, ‘salary’ kami tidaklah sebesar jumlah gaji teman-teman yang ada di middle east— namun nama Abu Azzam ‘tembus’ menolong krisis Eropa sebagai orang Asia yang kulitnya coklat, apalagi sebagai keluarga muslim, adalah keistimewaan tersendiri dalam perjalanan hidup. Insya Allah, memang amat berlimpah karunia dan hikmah-Nya.

Suatu hari ada teman non-muslim yang doyan bergosip, mengajak berkunjung ke kota lain, (dan di kota ini, ada warga Indonesia, baru nikah, dengan warga Poland yang manula dan dia punya kehidupan nan tersentak berubah—dari seorang akuntan, wanita karir di perusahaan internasional di Jakarta, kemudian harus berkebun dan mengolah banyak bahan pertanian di sudut terpencil, sebuah desa di Polandia. ‘ceritanya gak pernah ngemall lagi, gak bisa shopping-an lagi. Tiap hari bikin selai sendiri, bikin yogurt, dan kue-kue sendiri, dll). Saya kagum pada mbak tersebut, meskipun kita beda agama, saya support pilihan hidupnya sebagai teman yang baik, dia mau meninggalkan hobi lama di ibu kota yang ‘merdeka’ demi menghargai suaminya—bersuami setelah usia hampir 40 tahun, dia buktikan kesabarannya. Namun temanku yang satu tadi, dengan kalimat candaan (terkesan mencemo’oh), dia bilang “Bertahun-tahun kerja, cuma kebeli apartemen kecil begini?! Huuu, jauh pula di dusun kecil begini?!!!” Sambil ketawa-ketiwi.

Iya memang di antara mereka special-gank ini sering saling pamer harta, kadang percakapan ‘bunyinya saling membanggakan harta’. Saya beristighfar, jadi bersyukur karena memiliki bahan renungan… Sungguh renungan dahsyat yang dapat membuat air mata tumpah kalau ‘curhat’ pada-Nya di tengah malam. Di sisi lain, teman yang usianya lima tahun-an lebih tua di atas usiaku, dan tinggal di middle east waktu itu, ‘memberi kabar bahwa tabungannya terkumpul  rumah berjumlah empat buah, beda lokasi di tanah air’ (Weeeew! Mikirin ngebangunin anak-anak rumah, supaya anak-anak ‘aman’ nyaman di dunia). Apalagi tambahan sekian dana di rekening banknya. Subhanallah, walhamdulillah, teman-teman yang ada di dekatnya turut bahagia, sekaligus ada rasa iri, iri yang membangkitkan rasa ingin memiliki ilmu manajemen dana rumah tangga sebaik dirinya.

Namun ketika Allah azza wa jalla melimpahkan hidayah-Nya yang deras, bertubi-tubi kucuran karunia rezeki-Nya kepada hamba, tersadar diri ini bahwa suamiku senantiasa berusaha mengajak hidup berkah, sakinah mawaddah warahmah… “Tabungan yang real” bukanlah deposito, rumah-rumah, logam mulia, ternak, mobil-mobil mewah, dll tersebut. Astaghfirullah…

Warisan terbaik yang merupakan tabungan kita adalah amalan dalam dua pedoman hidup: Al-Quran (Kitabullah) dan as -Sunnah(hadits rasul-Nya Sallallahu ‘Alaihi Wasallam). Masya Allah, dulu di zaman sekolah, kita hanya memperoleh teorinya. Sekarang kita mengemban amanah sebagai orang tua, menyadari hal itu secara betul-betul diresapi, memantapkan hati untuk “mengajak anak-anak agar sama-sama belajar”. Belajar meningkatkan kualitas diri dengan ‘berpegangan’ pada warisan utama ini. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaha illallahu Allahu Akbar, bersyukur kita adalah muslim, kita punya kenikmatan iman dalam cahaya hidayah-Nya.

Sungguh amat bersyukur kita punya ‘tabungan akhirat’ di setiap keikhlasan dan kerelaan hati memberikan segala titipan-Nya yang kita punya, dan dengan hal ini, justru banyak orang Poland, dan Eropa secara umum, menjadi ‘terhipnotis’ dan amat tertarik dengan kehidupan muslim. Sehingga mereka ‘terheran2′ kalau melihat anak-anak/remaja Indonesia (yang notabene mayoritas muslim), ‘kok sampai segitu ngefans dengan kaum musyrikin Amrik kayak ladyangagal dan bibir? Naudzubillahiminzaliik…
Kita resapkan kembali dalam diri, mengenai kalimat beliau (Umar bin Abdul Azis) saat menjawab, “Saya meninggalkan untuk mereka ketaqwaan kepada Allah, Jika mereka adalah orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih… Jika mereka bukan orang yang shalih, maka tidak akan saya tinggalkan sedikit pun yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah…” 

Masya Allah…

Terngiang selalu sebuah Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendoakannya.”

Sering tak menyadari khilaf diri, kita melihat sepasang suami istri yang sibuk dengan dunia Facebook atau Twitter masing-masing (berkilah dengan alasan silaturahim tiada henti), dan anak-anak mereka juga sibuk bermain sendiri aneka games dengan perlengkapan modern seperti iPad atau gTab, sementara adzan berkumandang, tak peduli pada panggilan shalat, meskipun jarak masjid amat dekat. Seringkali kita habiskan uang satu juta rupiah, terasa jumlah yang kecil ketika berbelanja keperluan makanan, minuman, dan pakaian di pusat perbelanjaan. Namun pada saat ada berita sahabat yang menderita sakit serius dan perlu perawatan intensif, satu juta rupiah itu terasa amat besar jika dipergunakan untuk memberikan secuil sumbangsih dana rawatannya.

Juga pada saat membayarkan les piano, biola, atau les renang anak-anak, kita dengan santai meluncurkan cost- tiga ratus ribu rupiah per-jam, guna membayar bea jasa guru les tersebut. Namun tatkala berinfaq kepada guru mengaji mereka, jumlah itu seolah terasa terlalu besar, meluangkan waktu dalam skill-tadabur Quran seolah tak perlu dihargai. Begitulah suasana hati kita, tanyakan pada nurani sendiri, kecondongan terhadap warisan harta dunia, ataukah memahami warisan terbaik buat kehidupan nan hakiki? Wallahu a’lam bisshawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/15/49628/warisan-apakah-yang-terbaik-untuk-anak-kita/#ixzz30VoQGo5e

Guru Bina Amal berfoto ceria bersama Murid
Rasulullah SAW bersabda kepada Asyaj Abul Qais, “Sesungguhnya pada dirimu ada dua ifat yang disukai Allah, yaitu KESABARAN dan KETABAHAN” (HR. Imam Muslim)

Menjadi ibu adalah amanah yang luar biasa…tak mudah untuk mengeja setiap peran yang harus dilakoni.. Madrasatul aulad… ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya sehingga menjadi seorang ibu memang membutuhkan banyak hal yang perlu dipelajari. Apalagi bagi para ibu baru yang masih terbata mengeja setiap peran barunya tersebut.

Rasanya belumlah cukup tempaan bagi seorang calon ibu saat janin itu hadir. Kepayahan yang dirasakan selama mengandung. Keadaan lemah dan bertambah lemah ditambah dengan perjuangan hebat ketika melahirkan ternyata masih terus berlanjut setelah sang buah hati lahir. Seiring dengan tumbuh kembang sang buah hati, ibu pun dihadapkan dengan berbagai hal baru dalam kehidupannya. Terkadang ia harus mendapati kerewelan-kerewelan, pembangkangan, keinginan-keinginan dan sebagainya.  Padahal bisa jadi semua itu berada di saat yang sama dengan rasa lelah yang teramat sangat setelah bergelut dengan berbagai aktivitasnya.

Bersabarlah!!

Kata itu yang kemudian menjadi salah satu solusi konkret untuk menjalani semua. Sabar bukan berarti pasrah begitu saja tanpa ada ikhtiar optimal yang dilakukan. Sabar ibarat dua sisi mata uang di mana sebuah sikap menahan diri di satu sisi dan sikap aktif di sisi yang lain. Misalnya ketika menghadapi sikap anak yang susah diatur atau diarahkan, sikap pasrah dan membiarkan anak mengikuti kata keinginannya tentu bukan termasuk kepada sikap sabar. Akan tetapi, menghadapinya dengan tenang, bijak, menahan diri untuk tidak marah yang meledak-ledak sambil mencari solusi yang efektif dan positif Dengan pendekatan, kelembutan, komunikasi yang efektif, sehingga akhirnya masalahpun terselesaikan itulah pengertian sikap sabar yang dimaksudkan.

Dengan kesabaranlah ibu tidak akan mudah berkata dengan nada tinggi, apalagi diikuti oleh tindakan-tindakan yang negatif seperti mencubit, menjambak, memukul dan lain-lain yang tentu merusak mental dan tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikis.

Kesabaran ini akan muncul jika seorang ibu memiliki kebeningan hati dan tangki cinta yang penuh. Kebeningan hati bisa dimiliki dengan cara senantiasa memenuhi hak ruhiyah (rohani) seorang ibu. Ada beberapa hal yang bias dilakukan untuk memberikan suplai energi bagi ruhiyah seorang ibu di antaranya adalah sebagai berikut :
  1. Menghidupkan malam dengan qiyamul lail.
  2. Menjalin persahabatan dengan Al-Quran
  3. Berpuasa
  4. Bersama orang-orang shalih
  5. Menghadiri majelis-majelis ilmu
Sedangkan berbicara dengan tangki cinta sang ibu ini akan berkitan dengan orang-orang yang berada di sekitar sang ibu. Seorang suami perlu terus belajar untuk memberikan kenyamanan dan ketenangan hati istrinya yang kini menjadi seorang ibu dengan segala tugas dan perannya. Sampaikanlah cinta dengan bahasa yang dimengerti istri sehingga tangki cinta itu terisi dan tidak bocor. Berikanlah perhatian dan pengertian yang akan menuangkan aliran cinta pada tangki cinta ibu. Begitupun dengan dukungan dan energi positif dari orang-orang yang berada di sekitar ibu : keluarga, sahabat, rekan kerja akan membantu ibu tugas-tugas keibuan. Berikanlah dukungan-dukungan yang membuat tangki cinta itu penuh seperti waktu berkualitas, memberi hadiah atau sebuah tepukan di pundak maka akan penuhlah tangki cintanya. Jika tangki cinta itu penuh maka ibu akan lebih bias bersabar, lebih tenang dan menjadi semakin produktif dalam mendidik putra-putrinya. Insya Allah..
Save Mom’s Hearth…

Guru Bina Amal selalu ajarkan kesederhanaan




Kemajuan teknologi yang diiringi kemajuan ekonomi kapitalis telah mendorong orang-orang untuk mengeluarkan harta mereka di luar batas kemampuan mereka. Boros dan bermegah-megahan telah menjadi hal biasa. Sesungguhnya sifat tersebut sama sekali tidak menunjukkan sifat kepedulian terhadap sesama, tetapi lebih kepada sifat kesombongan. Allah berfirman:


Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya.” (Al-Israa’: 26-27)

Keluarga islami tentu harus memiliki gaya hidup yang Islami. Islam mensyariatkan umatnya untuk zuhud. Zuhud dalam artian meninggalkan keinginan terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat, yaitu berlebih-lebihan dalam hal-hal mubah. Jika seseorang menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah, berarti ia telah  bermaksiat kepada Allah. Di sinilah tanggung jawab orang tua terhadap penanaman nilai-nilai zuhud dan kesederhanaan dalam diri anak-anak mereka. Nilai-nilai yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua akan melekat di diri anak-anak mereka.

Banyak orang tua yang sibuk dengan tipu daya dunia. Mereka berlomba-lomba mengumpulkan harta, menyembah dunia, memenuhi segala keinginan duniawi istri dan anaknya dengan pakaian mahal nan indah, menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup orang lain supaya terlihat kaya dan tidak ketinggalan jaman. Allah tidak lagi dijadikan alasan utama untuk mencari nafkah. Mereka telah menjadi hamba dunia dengan alih-alih memberikan yang terbaik untuk keluarga besar, anak-anak dan pasangan mereka. Memang benar ungkapan yang mengatakan bahwa “Seseorang akan merasa merdeka selagi ia qanaah dan orang merdeka akan menjadi budak selagi ia tamak.”

Orang tua hendaklah menanamkan nilai-nilai yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat anaknya. Zuhud yang baik adalah beribadah kepada Allah dan menaati Rasul-Nya, menjadikan setiap amalan yang dilakukan sebagai ibadah yang dilakukan karena Allah. Insya Allah, ketika setiap keluarga muslim menanamkan sifat zuhud dalam keluarganya, akan membawa kebaikan yang luar biasa, baik untuk dunia maupun akhirat keluarga tersebut.


Sering berinteraksi dengan anak, orang tua tak akan kesulitan memantau bakat anandanya. Bisa jadi, sang anak suka dan terampil menyanyi, bercerita, memasak, atau menggambar. “Kalau anak malu untuk mengobrolkan aktivitas kegemarannya itu, ajak saja ia berkumpul dengan anak-anak lain yang memiliki minat sejenis,” saran ibu berputra empat, Dewi Yasmarina.

Pelatihan untuk mengasah bakat anak tak selalu mahal untuk diakses. Asalkan, orang tua mau mencari informasi sebanyakbanyaknya, kursus gratis pun ada untuk anandanya. “Kalaupun anak tidak ikut kursus, orang tua dapat menstimulasi dengan mendampingi, bersikap proaktif, menanggapi keluhan-keluhannya, dan membantu mencarikan solusi saat anak kesulitan dalam mengembangkan bakatnya tersebut,” ujar ibu yang akrab disapa Yas.

Ketika mendampingi anak mengasah bakatnya, berikan pujian penyemangat atas setiap kemajuan yang anak capai. Di saat anak gagal menampilkan karyanya yang ter baik, janganlah mencercanya. Pujian dan dukungan dari orang tua akan melahirkan kepercayaan diri anak. “Seiring waktu, anak akan mampu mengoreksi sendiri hasil usahanya,” ujar Erwina Faisal, ibu dari pemain biola cilik.

Orang tua perlu menyediakan waktu untuk menemani buah hati untuk memperdalam bidang yang digemarinya. Berikan motivasi agar anak menghasilkan karya yang nyata dari bakatnya. Tentunya, anak yang sangat berbakat pun tak boleh tereksploitasi demi mendulang materi. “Mikdad yang jago nyanyi tidak kami arahkan untuk mengikuti ajang perlombaan untuk melejitkan artis cilik secara instan,” kata Yuliana.
Memiliki anak yang berbakat di bidang seni peran, Yuliana pun sering kali menolak permintaan Mikdad untuk ikut serta dalam pengambilan gambar sinetron yang dinilainya tidak cocok bagi anaknya. “Agar ia memiliki karya yang terekam, kami membuatkan album lagu dan mengedarkannya sendiri.” Inspiratif, bukan?

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget