Sampai anak-anak memasuki usia balita, sebenarnya terjadi proses alami yang besar, yaitu mencerna dan menyerap prinsip-prinsip hidup meski dalam level yang sederhana. Dan banyak di antara kita sering tak menyadari bahwa anak-anak mempelajari semua itu dari kebiasaan hidup orang tuanya.
Tanpa penanaman nilai dengan sengaja, anak-anak bisa menyimpan dan menjadikan karakter ‘tak bersyukur’ hingga masa remaja dan bahkan dewasa mereka. Terlebih saat ini anak-anak berada pada masa bergelut dengan konsumerisme. Serbuan ajaran konsumtif dari televisi membuat pergaulan dengan teman-teman sebaya tak lagi mudah. Mereka ditarik-tarik untuk meniru, saling bersaing dalam kepemilikan benda-benda fisik, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktualisasi dan eksistensi diri secara salah kaprah.
Oleh karena itu, manfaatkan setiap momentum bersama anak untuk mengajarkan syukur, terutama dengan contoh dari diri kita sendiri. Obrolan kecil di saat senggang dengan mereka, saat mereka sedang merasa aman ditemani orang tua, bisa bergelayut manja dan bebas bicara, adalah salah satunya. Saat itulah anak-anak bisa diajak mengamati sekitar, mengingat-ingat anugerah yang sudah mereka dapatkan, membandingkannya jika hal itu hilang, dan membandingkannya dengan teman-temannya yang mungkin tidak memilikinya. Ajak mereka ber-’hamdalah’ atas semua karunia itu karena hakikatnya, Dia-lah Allah yang telah memberi karunia tersebut.
Sumber : http://duniaparenting.com/
Posting Komentar