Agustus 2015

 
Begitu banyak orang tua merasa bingung dan bertanya mengapa anak tidak suka membaca? Kita semua tentu sepakat bahwa membaca adalah alat untuk menimba ilmu yang akan terus dipakai seumur hidup. Sehingga tidak mengherankan begitu pentingnya kemampuan membaca untuk seorang anak. Telah terbukti bahwa anak yang suka membaca sejak kecil, memiliki IQ verbal yang tinggi karena kayanya perbendaharaan kata dan pengetahuan yang dimilikinya. Namun sayangnya tidak semua anak suka membaca. Apakah yang menyebabkan anak tidak suka membaca?

Dalam dunia parenting, kita sebagai orang tua perlu mengetahui penyebab kenapa anak tidak suka membaca adalah karena ia tidak menikmati kegiatan membaca akibat kurang pemahaman. Ia biasanya harus membaca sebuah paragraf berulang-ulang untuk bisa memahaminya. Kadang pemahamannya pun tidak tepat. Sehingga tidaklah mengherankan jika ia tidak suka membaca. Kunci keberhasilan membaca adalah anak tersebut harus bisa menikmati bacaannya.

Jika anak anda tidak suka membaca, janganlah memaksakan atau menghukumnya. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu mengetahui cara meningkatkan minat baca anak, yaitu :

1. Beri materi bacaan yang sesuai dengan kemampuan anak.
Setiap anak memiliki kemampuan membaca yang berbeda, walaupun usianya sama. Jika bacaan yang diberikan terlalu sulit bagi anak tersebut, maka ia akan mengalami kesulitan dalam memahaminya. Pilihlah materi bacaan yang pas dengan kemampuan anak agar ia bisa menikmatinya dan tidak menolak untuk membacanya.

2. Perhatikan kualitas bacaan.
Hampir semua anak tidak menolak membaca komik. Mengapa demikian? Karena membaca komik tidak membutuhkan konsentrasi dan analisa, kata – kata yang digunakan dalam komik pun tidak banyak, kalimatnya pendek. Oleh karena itu membaca komik biasanya sebagai hiburan bagi pembacanya. Terlebih didukung oleh ilustrasi yang lucu.

Memberikan komik kepada anak boleh boleh saja. Tetapi ketahuilah bahwa untuk meningkatkan kemampuan membaca, kualitas bacaannya sangat penting diperhatikan. Pilihlah bahan bacaan yang sarat akan perbendaharaan kata yang baru. Bacaan yang mengandung konten akademik atau novel yang sesuai dengan usia anak merupakan pilihan yang baik. Setidaknya anak akan terlatih menganalisa kalimat panjang dan mengasah pemahamannya.

3. Lakukan pengecekan visual anak.
Kemampuan visual (mata) tidak dapat kita pisahkan dengan kemampuan belajar, dan daya tahan belajar seorang anak. Terdapat dua poin terkait dengan kemampuan visual seorang anak. Yaitu kesehatan mata anak, dan kemampuan treking visual anak.

Kemampuan visual bukan hanya meliputi kondisi optik mata, apakah minus atau silinder. Tapi juga apakah anak bisa melihat sebuah objek dengan jelas atau tidak. Yang mana tentu saja perlu diperiksakan ke dokter mata terlebih dahulu.

Selain itu, faktor kecepatan treking visual juga perlu diperhatikan. Jika treking visual lambat bisa menyebabkan kesalahan dalam membaca tulisan yang banyak, dan pemahaman bacaan pun terhambat. Apapun usaha yang dilakukan untuk mendorong dan memotivasi anak dalam membaca menjadi semakin sulit karena terhambat oleh kemampuan treking visual.

Namun jangan khawatir karena kemampuan treking visual ini pun bisa ditingkatkan lewat latihan latihan khusus.
Anak yang sulit berkonsentrasi biasanya juga tidak suka membaca. Karena untuk membaca dibutuhkan stamina mental yang mampu bertahan lama. Ibarat mobil yang kehabisan bensin dan akhirnya mogok di tengah perjalanan, begitulah pula dengan anak yang sulit berkonsentrasi, akan kehabisan ‘stamina’ untuk bertahan berusaha bisa memahami apa yang dibacanya sampai selesai.

Penting bagi orang tua dan guru untuk membantu anak meningkatkan kemampuan konsentrasinya terlebih dahulu, agar stamina belajarnya naik, barulah ia bisa sukses dalam membaca.

Pertumbuhan konten negatif di internet sangat tinggi. Tiap menit, ada 30.000 halaman pornografi baru yang muncul! Menurut Donny Budi Utoyo, Direktur Eksekutif Indonesian ICT Partnership Association (ICT Watch), bahaya pornografi yang mengintai dunia digital adalah puncak gunung es yang perlu diwaspadai para orang tua. Tak sedikit konten pornografi itu muncul secara tidak sengaja.

Lalu, ada ancaman pedofilia online. Menurut Donny, ada modus yang disebut sexual online grooming, yakni ‘pemangsa’ yang mengajak berteman dengan anak lewat media sosial, sebelum mulai beraksi meminta foto-foto anak.

Terkait isu privasi, studi yang dilakukan Kominfo dan UNICEF pada tahun 2014 menemukan, banyak anak dan remaja di Indonesia yang memberi informasi pribadi, seperti alamat rumah, nomor telepon, atau alamat sekolah. Masalah privasi ini berkaitan dengan keamanan anak dari kejahatan target penculikan. 

Lalu, ada ancaman cyberbullying. Tahun 2014 lalu, seorang gadis usia remaja di India melakukan bunuh diri setelah mengalami cyberbullying yang dilakukan oleh temannya di Facebook. Survei yang dilakukan situs nobullying.com terhadap 10 ribu anak dan remaja mengungkap, 7 dari 10 anak dan remaja menjadi korban cyberbullying.
Sumber : parenting.co.id

Anemia merupakan kondisi ketika seseorang mengalami penurunan jumlah darah pada tubuhnya, terutama hemoglobin (Hb). Kondisi anemia tidak saja menyerang orang dewasa, remaja dan bahkan anak-anak sekalipun bisa mengalaminya. Kondisi anemia tidak bisa dianggap remeh dan dibiarkan begitu saja, terutama jika terjadi pada anak-anak sebab dampaknya sendiri cukup mengkhawatirkan yakni dapat menurunkan semangat dan prestasi anak saat belajar. Untuk itu, penting sekali segera mengatasi jika timbul gejala anemia pada anak agar prestasinya disekolah maupun dilingkungannya tetap baik.

Menurut sumber dari organisasi kesehatan dunia (WHO) menjelaskan anak balita akan dinyatakan mengidap anemi (kurang darah) apabila kadar hemoglobinnya ada dibawah 11 g/dl, sementara untuk anak-anak dengan usia mulai dari 5 tahun hingga usia remaja akan dinyatakan menderita anemia jika kadar hemoglobinnya berada dibawah angka 12 g/dl. WHO juga mengatakan jika kemungkinan anak balita menderita anemia berada diangka persentasi sekitar 39 %, dan 24 % pada anak usia 5-11 tahun. Angka persentase ini tentunya bukanlah jumlah yang sedikit, untuk itu penting sekali mewaspadai setiap gejala dan keluhan pada anak dan balita termasuk ketika timbul gejala anemia.

Salah satu penyebab terbesar timbulnya anemia adalah kurangnya asupan zat besi dari dalam tubuh. Anak yang kekurangan zat besi akan menunjukan beberapa gejala seperti mudah lesu, lelah, pucat, kurang bersemangat dan menurunnya nafsu makan. Itulah sebabnya mengapa anak yang mengalami anemia akan berpengaruh pada menurunnya semangat belajarnya yang membuat prestasinya ikut menurun. Selain itu, daya tahan tubuh anak yang menderita anemia akibat kekurangan zat besi akan menjadi lemah dan membuatnya mudah terserang penyakit. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan lagi apabila anemia akibat kekurangan zat besi apabila terjadi pada anak balita, sebab hal ini akan mengganggu tingkat kecerdasan anak.

Pada dasarnya, sejak lahir bayi memiliki cadangan zat besi dalam tubuhnya. Hanya saja, jumlahnya begitu terbatas. Cadangan zat besi pada bayi yang lahir cukup bulan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sampai si bayi berusia 6 bulan. Berbeda dengan bayi yang lahir prematur atau tidak cukup bulan, pada bayi dengan kondisi prematur cadangan zat besi dalam tubuhnya hanya mampu memenuhi kebutuhannya sampai bayi berusian 2 hingga 3 bulan.
Nah, berikut ini ada beberapa cara mencegah anemia atau zat besi pada anak.

1. Tingkatkan Pemberian ASI Ekslusif

ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi. Meskipun kandungan zat besi dalam ASI terbilang rendah, namun penyerapannya relatif tinggi. Pemberian ASI yang cukup minimal hingga usia bayi 6 bulan akan membuat anak terhindar dari kemungkinan menderita anemia. 

2. Upayakan Anak Tidak Terkena Cacing Tambang

Penularan cacing tambang dapat terjadi ketika anak mengkonsumsi makanan yang telah terkontaminasi cacing tambang melalui tangannya yang kotor. Untuk itu, pastikan jika tangan anak selalu dalam keadaan higienis terutama ketika ia hendak makan dan minum. Mintalah anak untuk mencucui tangannnya dengan sabun setiap kali mereka akan menyentuh makanan.

Itulah dia wawasan mengenai bahaya anemia terhadap anak. Selain itu, berikan pula makanan dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang untuk menjamin terpenuhinya zat-zat baik untuk tubuh anak, termasuk dengan zat besi untuk menghindarikan anak dari anemia.

Sumber : Bidanku.com

Homeschooling merupakan alternatif baru yang hadir dalam dunia pendidikan di dunia. Terutama di Indonesia, Homeschooling mulai dikenal dan dilirik sebagai salah satu alternatif pelaksanaan pembelajaran yang cukup efektif. Banyak orang yang beranggapan bahwa homeschooling lebih baik dibandingkan dengan sekolah formal pada umumnya, namun jika dibandingkan dan dilihat lebih seksama, kedua lembaga pembelajaran ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bagi setiap keluarga yang memutuskan anaknya untuk menjalani homeschooling maka hasil yang didapat akan bervariasi tergantung pada kondisi dan metode pembelajaran yang dipilih apakah memang sesuai dengan mereka atau tidak. Nah, sebelum anda memutuskan menyekolahkan anak dengan metode homeschooling, ada baiknya jika anda mempertimbangkan beberapa keuntungan dan kerugian yang berdampak pada anak. Seperti apa? kita simak berikut ini.

Apa Sajakah Keuntungan atau Dampak positif yang didapat Anak Saat Homeschooling?

1. Kebebasan Dalam Belajar

Homeschooling adalah metode pembelajaran secara invidual dan dilakukan dirumah atau lingkungannya sendiri. Dengan demikian orang-orang yang akan ditemui anak adalah orang-orang yang familiar dengan mereka. Dengan demikian mereka tidak akan merasa canggung atau kesulitan dalam beradaptasi. Selain itu homeschooling tidak akan menekan anak dengan tuntutan sistem pembelajaran seperti yang ada pada sekolah formal. Anak akan dapat belajar sesuai dengan keinginan mereka sendiri dan anakpun tidak akan dibebani dengan berbagai tugas.

2. Pergaulan Anak Lebih Terjaga

Dengan program homeschooling anak akan lebih terlindungi dari pergaulan menyimpang yang mungkin didapat atau terjadi di sekolah seperti merokok, mengkonsumsi narkoba dan lain sebagainya. Pendidikan ‘sekolah rumah’ akan membantu mereka dalam jangkawaktu yang cukup panjang untuk tidak terhindar dari ancaman-ancaman pergaulan tersebut. Sebaliknya, lingkungan yang hangat dan penuh kasih, dengan belajar di 'rumah' akan memberikan benteng atau dasar yang aman untuk anak ketika mereka berada diluar rumah.

3. Membuat Semangat Belajar Anak Meningkat

Hal ini dikarenakan anak memiliki dan mendapatkan ruang bebas untuk melakukan eksperimen dengan lebih serius dengan hal-hal yang memang mereka minati sehingga membuat proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan menyenangkan.
Apa Sajakah Kerugian atau Aspek Negatif yang didapat Anak Saat Homeschooling?

1. Anak Menjadi Kurang Bergaul

Dampak pertama yang akan dirasakan pada anak yang mendapat homeschooling adalah kurangnya sosialisasi dan bergaul pada si anak. Sehingga anak merasa individualis dan terkadang merasa paling hebat akan mungkin dirasakan sebab anak tidak merasakan bagaimanan berkompetisi dan berlomba dengan oranglain untuk mendapatkan peringkat terbaik. Sehingga pada akhirnya anak menjadi tidak dapat mengukur kemampuan dirinya sendiri dibandingkan dengan siswa lainnya.

2. Menjadikan Anak Tidak Mandiri

Kebiasaan orang tua yang selalu memberikan perlindungan berlebih pada anak dan menempatkan anak selalu pada situasi serupa seperti dirumah akan mempengaruhi kejiwaan anak menjadi tidak baik. Sehingga pada akhirnya akan melahirkan anak yang selalu bergantung pada anda dan membuat mereka menjadi tidak mandiri.

3. Melahirkan Anak yang Tidak Mampu Bersaing

Keputusan memilih sistem pembelajaran homeschooling akan melahirkan anak yang tidak mampu untuk bersaing, hasilnya anak tidak akan mengetahui sampai mana batas kemampuannya dibandingkan dengan oranglain.

Itulah dia beberapa penjelasan mengenai dampak positif dan negatif yang akan didapat anak ketika anda memutuskan untuk memberikan metode pembelajaran homeschooling. Pada dasarnya homeschooling melibatkan dua orang yakni orang tua dan anak. Keputusan akhir berada pada orangtua, apapun mtode pembelajarannya, semoga sistem pembelajaran yang anda terapkan pada anak sesuai dengan anak dan keluarga.

Melakukan Parenting Control memang sangat penting. Jika Anda ingin menerapkan hal tersebut pada anak, sebaiknya lakukan tip berikut:

• Jelaskan pada anak tentang perlunya keamanan di online. Buatlah batasan dan aturan yang tegas tentang jam online, game dan aplikasi apa saja yang boleh ia unduh, situs web apa saja yang boleh dan terlarang untuk dilihat. Jelaskan pula konsekuensinya internet digunakan tidak pada tempatnya.

• Alih-alih serba melarang, pastikan anak nyaman berdiskusi tentang pengalaman mereka berinternet dan hal-hal yang mereka temui di online. Sehingga, jika  mengalami kesulitan, mereka akan bertanya pada orang tuanya, bukan pada pihak luar.

• Jangan sungkan untuk mencoba game anak atau main game bersama. Ini bisa menjadi cara yang tepat untuk membangun family techno system dan mengajarkan online safety pada anak.

• Biasakan menggunakan password. Ajari anak untuk melengkapi gadget mereka dengan password dan tekankan untuk tidak sembarangan memberi password pada orang lain. 

• Dalam bermain media sosial, ajarkan hal-hal apa yang bisa di-share dan mana yang tidak perlu. Ajarkan cara berkomunikasi yang baik. Tanamkan ‘golden rule’: Kalau sesuatu itu tidak baik kita ucapkan di depan seseorang, itu berarti sebaiknya tidak kita lakukan juga di online.

• Jangan sembarangan memunggah dan berbagi foto.

• Manfaatkan setting privacy. Ajarkan anak mengatur privacy setting di akun media sosial. Sebaiknya, tidak berteman dengan orang yang tidak ia kenal di dunia nyata. Ajak juga ia mempelajari cara memblokir follower atau report user yang mem-posting konten yang tidak pantas.

• Gunakan software antivirus dan rajin meng-update.
Sumber : parenting.co.id

Tinta emas kembali ditorehkan siswa-siswi SMP IT Bina Amal dalam ajang  perlombaan MAPSI di SMP N 33 Semarang (22/8). Sebuah lomba Mata Pelajaran dan Seni  Islam  yang diperuntukan bagi siswa-siswi tingkat SMP/ MTs sederajat se – kota Semarang.

Dalam ajang yang rutin diselenggarakan tiap tahun oleh Dinas Pendidikan kota Semarang ini, delegasi SMP IT Bina Amal berhasil membawa lima piala atas nama Salma Kamila Salsabila (Juara 1 Pidato Putri), Ashilina Amimah S. (Juara 2 Tilawah Alqur’an Putri), M. Hamzah (Juara 2 Pidato Putra), M. Fathii Farhat (Juara 3 Tahfidz Putra), dan Fauzan Fathul Huda (Juara 3 Kaligrafi Putra).

Wakil kepala Sekolah bidang kesiswaan SMP IT Bina Amal, ustadzah Ani Wahyuni mengatakan, “Delegasi SMP IT Bina Amal pada tahun ini telah memberikan usahanya yang terbaik, dan Alhamdulillah mendapatkan hasil yang terbaik pula, dengan izin Allah”. Beliau juga menuturkan bahwa hasil ini tak lepas dari kerja keras dan doa para delegasi dan pelatih lomba yang telah menyiapkannya dalam dua pekan terakhir ini.

Pada hari Ahad (23/8) SMP IT Bina Amal juga tak ketinggalan berpartisipasi dalam lomba mata pelajaran yang bertajuk “Smansa Spartacus” di SMAN 1 Semarang. Dalam ajang ini SMP IT Bina Amal juga berhasil memperoleh  2 kejuaraan yaitu Juara 1 Bahasa Inggris atas nama Shafira Salma Azzahra, dan Juara 3 IPA atas nama Ulya Munfarida. Tak berhenti disitu, pada Ahad (30/8) SMP IT Bina Amal akan mendelegasikan siswa - siswi kebanggaannya lagi dalam perlombaan PMR di SMAN 1 Semarang.

Sedih memang, jika anak ditinggalkan temannya untuk teman yang lain. Jika ini terjadi, lakukan hal ini untuk membuatnya merasa lebih enak:

1. Berempatilah.

Ini merupakan masalah yang cukup besar untuknya, sehingga jangan dikurangi atau dihilangkan begitu saja apa yang dirasakannya. Biarkan dia tahu kalau Anda untuk mendengarkan apa saja yang ingin dikatakannya, dan Anda bisa juga berbagi cerita di masa lalu Anda.

2. Jangan menjelek-jelekkan anak lain.

Ya, jangan memperburuk keadaan dan biarkan anak-anak menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapi. (Jangan heran, kalau nantinya mereka malah berbaikan dan berteman lagi!)

3. Lihat apa yang terjadi.

Kadangkala anak tidak menyadari bahwa ia memainkan peran yang buruk dalam pertemanan. Tanyalah apakah mereka bertengkar atau si teman akhir-akhir ini sering marah.

4. Berbicaralah soal pertemanan.

Teman sejati tidak akan meninggalkan seseorang untuk orang lain yang dianggap lebih cool. Ingatkan anak dan doronglah dia untuk mengganti fokusnya pada teman yang lebih setia.


Bila anak Anda yang bersalah:
  • Katakan padanya bahwa Anda tidak merasa senang dengan cara dia mengatasi berbagai masalah yang timbul
  • Tanyakan padanya apa yang akan dirasakan jika ia diperlakukan buruk.
  • Beritahu dia bahwa anak lain tidak akan berteman dengan seseorang yang tidak bisa dipercaya.
  • Ingatkan anak kalau Anda tetap berharap dia bersikap manis pada siapa pun
Sumber : parenting.co.id

Menurut Dr. Phil Koehler dari University of Florida, ada beberapa tipe keunikan dari tubuh anak yang membuatnya sering diincar nyamuk. Apakah anak mengalami salah satu di antaranya?

• Golongan darah O. Anak yang bergolongan darah O berpotensi 2 kali lebih besar diincar nyamuk dibanding anak lain yang bergolongan darah A, demikian menurut sebuah hasil studi yang pernah dilakukan di Jepang.  Konon, nyamuk mengidentifikasi darah dari setiap gigitannya.

• Berkeringat banyak. Ketika berkeringat, tubuh memroduksi karbondioksida dan asam laktat yang membuat nyamuk tertarik. Jadi, peluang anak digigit nyamuk lebih besar saat ia sedang beraktivitas dibanding ketika berdiam diri. Karena saat beraktivitas, anak akan berkeringat dan bernapas lebih sering.

• Berpakaian warna gelap. Nyamuk ternyata lebih memilih mereka yang berpakaian warna gelap dibanding mereka yang berpakaian warna terang atau cerah. Dalam salah satu studi ditemukan urutan warna dari yang paling atraktif hingga yang tidak diminati nyamuk, yaitu hitam, merah, abu-abu, biru, khaki, hijau, dan kuning.
Sumber : parenting.co.id

Anak Anda kehilangan uang makan siangnya di sekolah – dan sekarang waktu bermain bersamanya harus dibatalkan. Seketika Ia melempar mainan legonya ke dinding sehingga hancur dan terserak dimana-mana. Jantung Anda seakan berhenti berdetak. Apakah perilakunya saat marah tadi akan menjadikannya menyukai kekerasan saa Ia besar nanti? Heather Shumaker, penulis buku It’s Ok Not To Share, berkata bahwa, “Frustasi dan kemarahan merupakan emosi yang normal, dan anak-anak memerlukan tindakan fisik yang kuat untuk membebaskan amarah mereka.” Namun, agar anak dapat mengarahkan perasaannya dengan baik, minta anak mencoba hal-hal di bawah ini:
 
  1. Berlari-lari mengelilingi ruang tamu atau ruangan lain di rumah yang paling besar sebanyak 30-50 kali putaran; begitu Ia menghitung sudah berapa kali putaran, Ia akan lupa dengan amarahnya, dan Ia sudah terlanjur lelah.
  2. Masuk ke dalam kamar mandi, atau basement rumah (jika ada), atau tempat tertutup lain di rumah, lalu menarik napas dan membuang napasnya sambil berteriak kencang. Hal ini akan memberikannya kelegaan tanpa harus menakuti saudaranya, atau tetangga.
  3. Seolah-olah sedang melakukan karate-chop (memotong batu bata dengan tangan), tapi ganti batu bata dengan kertas kado. Tindakan ini akan membuat anak merasa powerful dan dapat melepaskan rasa kesalnya.
  4. Berlari mengelilingi rumah, dan lakukan berulang kali. (Setelah beberapa kali, rasa marahnya mungkin akan berubah menjadi tawa).
  5. Melemparkan sesuatu ke atas pohon. Ini akan sedikit berantakan, tapi Ia tidak akan menyakiti siapapun.
Sumber : parenting.co.id

Si kecil memang sering terlihat bermain. Tapi, apakah Anda yakin dia benar-benar bermain? Mudah kok, untuk mengeceknya. Telaah saja ciri-ciri dari aktivitas bermain berikut ini yang disimpulkan dari penelitian oleh Smith, Garvey, Fein & Vandenberg, 1999.
  1. Dilakukan berdasarkan motivasi dari dalam diri anak, dan untuk kepentingan sendiri. Artinya, tidak ada paksaan dari orang lain.
  2. Emosi positif yang dirasakan anak, seperti: senang, antusias, bahagia, dll.
  3. Fleksibel. Artinya, anak mudah beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tidak ada batasan.
  4. Lebih menekankan proses daripada hasil akhir. Tidak ada tekanan untuk mencapai nilai atau prestasi tertentu.
  5. Bebas memilih. Anak bebas menentukan acara mainnya, bebas memilih mainan apa yang akan dimainkan, dan bebas menentukan kapan beralih pada aktivitas lain.
  6. Ada kualitas pura-pura. Ketika bermain, anak seolah terpisah dari dunia nyata. Jadi terlihat asyik sendiri dengan imajinasinya.
  7. Jika semua ciri terpenuhi, berarti si kecil memang sudah benar-benar bermain!
Risiko bermain

Kendati menyenangkan, waspadai risiko bermain yang bisa mengarah ke dampak yang justru tidak diinginkan. Mayke S. Tedjasaputra, seorang psikolog yang berkecimpung dalam kajian psikologi bermain, menguraikan tentang risiko ini dalam bukunya, Bermain, Mainan dan Permainan.
  1. Waktu bermain berlebihan. Jika anak terlalu banyak bermain, akan timbul kebosanan dan waktu untuk melakukan aktivitas lain yang bermanfaat juga berkurang.
  2. Porsi main sendiri dan main bersama teman tidak seimbang. Main bersama teman sebaya memang penting untuk mengasah sosialisasi anak, tapi anak juga butuh waktu untuk bermain seorang diri. Dengan bermain sendiri, anak juga berkesempatan untuk mengembangkan diri secara personal dan bebas berimajinasi. Jadi, keduanya harus seimbang.
  3. Ada penekanan berlebihan untuk main sesuai jenis kelamin anak. Misalnya, anak perempuan hanya boleh main boneka, bukan mobil-mobilan. Padahal, anak di usia dini perlu dipaparkan dengan berbagai jenis permainan dan mainan. 
  4. Alat permainan tidak tepat: berbahaya (mengandung cat beracun, misalnya), pilihan orangtua yang dipaksakan, terlalu sedikit jenisnya, terpaku pada label usia pada kemasan mainan (padahal kebutuhan tiap anak beda), terlalu rumit atau sebaliknya terlalu mudah, dan terlalu rapuh sehingga mudah rusak (membuat anak enggan memainkannya lagi).
  5. Terlalu banyak atau terlalu sedikit campur tangan orangtua. Ada orangtua yang menganggap anak sudah tahu cara memainkan mainannya sehingga merasa tak perlu memberikan arahan. Ada yang merasa anaknya tidak tahu apa-apa, sehingga perlu diajari secara detil. Keduanya tidak baik bagi anak. Yang pertama, anak akan cepat bosan karena tidak tahu cara lain untuk memainkannya. Sedangkan yang kedua, anak akan merasa tidak bermain, karena terlalu banyaknya hal yang diajarkan.
Sumber : parenting.co.id

Melon kulit berjaring (netted melon)
Kulit buah keras, kasar, berurat dan berpola seperti jaring, aromanya harum.
 
Yang termasuk jenis melon tipe ini:

  1. Melon Hijau : Biasa disebut melon lokal, daging buahnya berwarna hijau, tekstur keras, berair, harum, rasanya manis
  2. Melon Jingga (Cantaloupe) : Daging buahnya berwarna jingga, berair, teksturnya lebih empuk dan rasanya lebih manis dari melon hijau
Melon kulit halus
Kulit buah halus dan mengilap, tetapi aromanya tidak harum
 
Yang termasuk jenis melon tipe ini:
  1. Golden Melon. Kulitnya berwarna kuning muda mengilap. Daging buahnya berwarna putih, bercita rasa manis, berair, tetapi tidak harum.
  2. Honeydew Melon. Merupakan jenis melon yang rasanya paling manis. Kulitnya halus berwarna hijau keputihan. Daging buahnya kehijauan, mirip melon hijau.
Keunggulan Melon
  1. Vitamin C : Antioksidan sekaligus meningkatkan daya tahun tubuh.
  2. Adenosin : Antikoagulan yang bermanfaat menghentikan penggumpalan darah yang dapat memicu timbulnya penyakit stroke.
  3. Air : Seperti halnya semangka, kandungan air yang tinggi pada buah melon selain menyegarkan juga bersifat diuretik

Menangis selalu jadi senjata andalan anak saat keinginannya tidak dituruti. Orang tua mana, sih, yang tega mendengar anaknya menangis? Apalagi jika tangisannya semakin keras, ditambah raungan, teriakan, hingga berguling-guling di lantai. Hati pun menjadi luluh seketika.

Sayang anak tidak berarti mengabulkan semua keinginan atau permintaannya. Ada kalanya Anda perlu mengatakan “tidak” kepada si kecil. Hal ini bukan tanpa alasan, lho. Terbiasa dituruti semua permintaannya, bisa menyebabkan si kecil tumbuh menjadi pribadi yang manja dan keras kepala. Sebagian anak, akibat pemanjaan yang berlebihan, akhirnya tumbuh dengan daya juang yang rendah, dan memiliki daya tahan terhadap stres yang rendah pula.

Akibatnya, ia menjadi mudah tertekan saat keinginannya tidak tercapai, merasa orang tuanya tidak lagi peduli dan menyayanginya seperti dulu (ketika keinginannya dituruti!).

Nah, untuk itulah, sejak dini, anak harus diajarkan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan, meski hal yang berguna sekalipun, seringkali membutuhkan kesabaran dan perjuangan untuk mendapatkannya. Bagaimana caranya?

Belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan
Tak mudah bagi anak, terutama balita, untuk memahami apa itu keinginan dan kebutuhan. Pengaruh teman, sering kali membuatnya  meminta sesuatu yang nampak menarik baginya. Anda perlu menjelaskan apa saja yang masuk dalam kategori keinginan atau kebutuhan.

Berikan alasan mengapa Anda tidak memenuhi keinginannya
Katakan padanya bahwa sikap Anda ini didasari oleh perasaan sayang dan bertanggung jawab terhadapnya.

Membuat daftar prioritas
Dalam satu periode tertentu, ada kalanya Anda diperkenankan untuk berkata “ya”, misalnya sebulan sekali, sehabis pembagian rapor, atau setelah ia mengerjakan tugas tertentu. Meski begitu, tetap harus ada aturannya. Anda bisa mengajak si kecil  membuat skala prioritas keinginan. Minta ia menyebutkan apa saja keinginannya, urutkan mulai dari yang paling diinginkan sampai yang paling tidak diinginkan. Dari daftar itu, Anda dan si kecil bisa berkompromi mengenai keinginan mana yang bisa ia dapatkan dalam waktu dekat ini.
Sumber parenting.co.id

Jangan keburu senang jika anak tampak lahap mengonsumsi makanan apa pun yang Anda hidangkan. Apalagi, jika ia hampir tak pernah berhenti mengunyah, atau terus-menerus merasa lapar.

Seperti yang terjadi pada 3 anak asal India, yang pada akhirnya didiagnosa mengalami sindroma Prader-Willi. Ini merupakan kondisi genetik yang langka dan menyebabkan berbagai macam masalah, seperti rasa ingin makan terus-menerus, yang dipicu oleh perasaan lapar yang menetap, dan bisa mengarah pada kenaikan berat badan yang berbahaya. Lalu, pertumbuhan menjadi terbatas sehingga perawakan tubuh pun menjadi pendek.

Sindroma ini juga mengurangi massa otot, membuat penderitanya mengalami kesulitan belajar, kurang perkembangan seksual, dan masalah perilaku, seperti mudah marah atau keras kepala. Sindroma ini disebabkan oleh cacat genetik pada kromosom nomor 15, yang terjadi murni secara kebetulan, dan biasanya didiagnosis dengan melakukan tes genetik. Sayangnya, tidak ada obat untuk kondisi tersebut.

Seorang dokter anak di Mandavia Children's Hospital, Gujarat, India, dr. Akhsay Mandavia, mengatakan, "Ada akumulasi abnormal lemak pada anak yang menderita sindroma ini. Mereka akhirnya tidak mampu bernapas secara normal"
Sumber : parenting.co.id

Hal-hal berikut harus  diperhatikan agar anak dapat tidur dengan nyenyak:

- Pilihan kasur.
Banyak sekali jenis kasur yang bisa Anda pilih: pegas, kapuk, busa dan sebagainya. Apapun pilihan Mama, pastikan kasur tersebut cukup kokok sehingga tubuh anak tak melesak ke dalamnya. Pilih juga bahan yang tak membuatnya alergi atau mengundang debu dan tungau.

- Suhu ruangan.
Terlalu dingin atau terlalu panas tentu akan membuat anak tidak nyaman. Saat menggunakan AC, pasang pada suhu 24 derajat Celcius. Meskipun kita tinggal di iklim tropis namun biasanya pada malam hari suhu cenderung turun.

- Pencahayaan.
Biasakan untuk mematikan lampu kamar saat tidur. Atau pasang lampu tidur di dekat kasur. Pilih lampu tidur berwarna kuning teduh agar suasana kamar mendukung untuk tidur.
Sumber : parenting.co.id

Seringkali orangtua merasa pusing menghadapi kenakalan dan perilaku yang tidak terpuji dari anak-anak mereka yang masih kecil.

Sulit dinasihati, berlarian kesana-kemari dan bahkan membangkang pada semua nasihat yang kita berikan, apalagi saat perilaku anak sudah mulai merugikan oranglain dan bahkan menyakiti teman-temannya, rasanya ingin sekali menjewer anak dan melampiaskan semua kekesalan kita dan berharap anak bisa seketika menurut dan patuh pada semua perintah yang kita berikan.

Namun ahukah anda memukul atau melakukan tindakan kekerasan pada anak bukanlah cara yang tepat dalam mendisiplinkan mereka dan membuat mereka mematuhi semua perkataan kita. Sebaliknya, hal ini justru dapat berdampak buruk dan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan mental anak.

Sayangnya, masih ada banyak orangtua yang mengasumsikan hukuman dan kekerasan adalah solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak mereka. Hal ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya berdasarkan pengalaman. Anda mungkin pernah melihat atau mendengar teman anda yang memiliki anak yang bandel, menjadikan pukulan pada anak sebagai hukuman yang membuat anak mudah jera dan rupanya hal tersebut memang berhasil. Namun benarkah demikian? Jawabannya tentu saja tidak.

Dampak buruk memukul

Setiap anak memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Selain itu pola didikan dan asuhan yang diberikan oleh orangtua terhadap anak-anak masing-masingnya tidak sama. Dengan demikian sewaktu anda melihat teman anda mendisiplinkan anaknya dengan jalan kekerasan dan hal tersebut terbukti berhasil, tidak berarti hal yang sama bisa terjadi dengan anak anda. Mungkin saja, teman anda menerapkan pola didikan tersebut karena didukung dengan mental anak yang akan melemah sewaktu diberikan kekerasan atau bisa juga karena hal tersebut sudah merupakan peraturan turun temurun dalam keluarga teman anda, sehingga semua anggota keluarga sudah menjadikan hal tersebut sebagai peraturan mutlak yang harus dijalankan semua keluarga.

Sementara dengan anak anda, mungkin saja karakter yang dimiliki anak anda adalah karakter yang keras sehingga menghadapinya dengan kekerasan lagi tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, hal ini malah akan semakin menambah masalah dan membuat hubungan anda bersama dengan buah hati semakin memburuk.

Selain itu, para dokter anak memperingatkan oratua untuk tidak memukul anak-anaknya. Peringatan ini dilatarbelakangi dengan alasan bahwa jika sekali orangtua memberikan kekerasa pada anak, maka hal yang lebih buruk bisa mereka lakukan dilain waktu terhadap anak-anaknya. Para ahli juga mengungkapkan bahwa hubungan yang setara dengan serangan fisik merupakan perilaku buruk yang amat tidak efektif, sebab kekerasan yang dilakukan bukan malah mendisiplinkan anak dan membuat mereka merasa jera, justru malah akan memperburuk perilaku yang dimiliki si anak.

Perilaku memukul dan mempraktikan kekerasan terhadap anak bukan hanya dilakukan oleh orangtua. Meskipun orangtua sudah dengan berusaha keras tidak melakukan perlakukan ini pada anaknya dan dengan sekuat tenaga melindungi anak-anak mereka. Namun tidak bisa dipungkiri, perlakuan yang buruk yang diterima anak-anak terkadang datang dari orang terdekatnya yang setiap hari selalu bersama-sama dengan mereka, misalkan seperti kakak mereka yang sudah besar atau pengsuh mereka. Nah, jika anda mendapati hal ini terjadi pada anak-anak anda, maka segeralah atasi sebab ada begitu banyak dampak buruk yang bisa dihasilkan dari perlakuan memukul anak. Nah, guna membuat orangtua lebih waspada, berikut ini beberapa dampak buruk yang dihasilkan dari memukul anak.

1. Memukul Anak Malah Akan Melahirkan Anak yang Suka Memukul

Cukup banyak penelitian yang menunjukan bahwa anak-anak yang sering dihukum dengan kekerasan dan pukulan sering banyak melahirkan anak yang memiliki perilaku yang agresif dan menyimpang. Hal ini mungkin tidak akan berimbas pada anak seketika saat mereka masih kecil. Namun hal yang lebih buruk akan terjadi pada perilaku anak saat mereka menginjak usia remaja dan saat dewasa. Sebab hal ini terjadi sewaktu mereka masih kecil, anak-anak akan secara alami belajar bagaiman harus bersikap melalui pengamatan da meniru sikap orangtua mereka.

Jika ayah mereka seringkali memukul anak-anaknya saat mereka masih kecil, terutama anak tersebut adalah perempuan, maka akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak menghargai orang lain dan menganggap kekerasan adalah cara menaklukan seseorang.

Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi pada putra dan putri anda bukan? Untuk itulah, hindari memberikan hukuman dan kekerasan yang bisa menyakiti anak-anak. Kami memahami betul, rasa kesal kita seringkali membuat kita tenggelam dalam amarah yang sulit dikendalikan. Namun  setidaknya, lihatlah dan pikirkan kembali betapa kerugian yang akan anda dapatkan dengan memukul mereka.

2. Tidak Menyelesaikan Masalah, Sebaliknya Memperburuk Hubungan Orangtua dan Anak

Ikatan antara orangtua dengan anak seharusnya didasari dengan cinta dan kasih sayang. Bukanlah kebencian bak musuh dengan musuh. Setiap kali anak anda melakukan kesalahan dan melanggar peraturan dan setiap kali itu juga anda memberikan pukulan sebagai hukuman, hal ini tentu saja menghilangkan cinta dan kasih antara anak dengan orangtua dan sebaliknya.

Daripada memberikan pukulan, menjewer atau mencubit anak saat mereka melakukan kesalah. Ada baiknya, jika anda menghampiri mereka dan menanyakan mengapa mereka sampai berbuat hal demikian. Setelah diketahui alasannya, baru pertimbangkan untuk memberikan hukuman pada anak jika kesalahan tersebut dengan sengaja mereka lakukan. Hanya saja, hindari memberikan hukuman yang menyakitkan dan sadis, sebaliknya berikan hukuman mendidik yang membuat anak jera untuk melakukan kesalahan yang serupa.

3. Membuat Anak Mengasumsikan Kekerasan Adalah Solusi Menyelesaikan Masalah

Ketika anda memberikan hukuman dengan jalan kekerasan, hal ini bukan malah menyelesaikan masalah dan membuat anak patuh pada anda. Malah mungkin sebaliknya, hal ini bisa saja ditangkap dan diasumsikan anak bahwa memukul dan menyakiti orang yang lebih kecil dari mereka adalah tindakan yang benar. Selain itu, anak juga akan mengasumsikan bahwa kekerasan adalah jalan terbaik dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Nah, jika hal ini telah tertanam dalam diri anak, maka siap-siaplah dengan watak keras yang akan tumbuh dalam diri mereka. Jangan heran pula jika ketika anak besar nanti mereka seringkali bertengkar dan mengalami percekcokan dengan teman-temannya yang lain.

4. Pada Anak yang Mudah Marah, Hal Ini Akan Menumbuhkan Dendam

Perilaku anda yang sering menghukum dan memukul anak-anak anda, terutama anak-anak yang mudah marah bukan saja akan membuat mereka kesal. Hal ini juga akan membuat kemarahan yang tidak berani mereka ungkapkan akan dipendam dalam hati. Yang mana jika hal ini terus-terusan terjadi, amarah anak akan terus terakumulasi dan menjadi dendam terhadap orangtuanya.

Ketika mereka sudah besar nanti, bukan tidak mungkin mereka akan melakukan hal serupa dan memperlakukan orangtua mereka dengan tidak hormat karena mereka berpikir orangtua mereka adalah musuh yang harus dilawan.

Untuk itulah, memperhatikan pola asuh anda pada anak-anak sejak mereka masih kecil adalah hal yang haru senantiasa anda perhatikan. Anda tentu tidak ingin jika buah hati yang anda besarkan dengan susah payah malah berbalik menyerang anda dan membalas anda dengan tidak sepantasnya.

Demikian beberapa dampak yang bisa dihasilkan dari kebiasaan memukul anak. Beberapa dampak diatas hanyalah segelintir akibat dari kebiasaan sering memukul anak. Semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan orangtua untuk tidak mengaplikasikan kekerasan terhadap buah hati yang dicintainya.

Sumber : Bidanku.com





Sebagai Sekolah Islam Terpadu yang terintegrasi dengan asrama, SMP IT Bina Amal selalu berusaha meningkatkan mutu pembelajaran siswa-siswinya. Pengembangan kemampuan berbahasa asing (Arab dan Inggris) adalah salah satu target pilihan yang hendak dicapai selain kematangan akhlak yg menjadi prioritas dalam setiap pembelajaran. Hesyam Sherif, Seorang Mahasiswa Mesir yang menguasai bahasa Arab dan Inggris serta tengah tergabung dalam program Association Internationale et Studiant Sociale Economic Commerciale (AIESEC), dihadirkan SMP IT Bina Amal sebagai guru tamu bahasa asing dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut.

 “Hesyam akan berada di sini (SMP) selama enam pekan, dan akan menyukseskan program kebahasaan yang kita miliki. Selain itu dia juga akan diikutsertakan dalam pembelajaran bahasa, serta berinteraksi langsung dengan siswa-siswi di luar kelas”, Jelas Kepala Sekolah kepada tim bahasa selaku penyukses kegiatan ini.


Tim bahasa sendiri sangat berharap agar  kegiatan berbahasa asing di SMP IT Bina Amal dapat terlaksana dengan maksimal. Terciptanya budaya berbahasa asing di dalam dan di luar kelas menjadi target penting yang harus segera dirancang dan dilaksanakan dengan baik. Kehadiran Hesyam inilah yang diharapkan menjadi motivasi bagi  para siswa maupun guru untuk bersermangat dan tidak malu dalam mempraktekkan kemampuan mereka berbahasa asing, Arab ataupun Inggris, walaupun dengan perlahan/ terbata-bata. Jika budaya sudah tercipta, maka kemampuan akan berkembang, tutur mereka.


Kegiatan yang sudah berlangsung selama sepekan ini, disambut dengan sangat antusias oleh warga SMP IT Bina Amal, khususnya para siswa-siswi. Banyak pengalaman baik formal di dalam kelas, maupun informal ketika berinteraksi di luar kelas, yang mereka peroleh dari Hesyam. Selain itu Hesyam juga memiliki ketertarikan yang besar untuk mempelajari  banasa Indonesia.


Telah banyak pula pengalaman unik dan berkesan di hati para siswa-siswi SMP IT Bina Amal. Siswi kelas VIII Maryam contohnya, mereka mengaku pernah memberikan apresiasi kepada Hisyam, ketika usai mengajar dalam kelas, dengan menyanyikan satu lagu berbahasa Arab. “Senang sekali, bisa nyanyi Arab dan bisa dipahami orang Arabnya. Apalagi kalau dia dan ustadz bertepuk tangan dan bangga kalau kita bisa nyanyi Arab. Rasanya itu jadi semangat lagi belajar, biar kemampuan kita bertambah”, komentar salah satu siswi kelas tersebut.


Aji dan Firman, Siswa kelas VIII Abu Bakar juga menuturkah hal yang senada. Mereka memiliki pengalaman yang unik ketika sharing dan mengajari Hesyam berbanasa Indonesia. Hesyam sempat mengatakan “I Love You”, dan ingin diajari cara mengatakannya dalam banasa Indonesia. Walaupun dengan perlahan, tapi akhirnya dia bisa melafalkan dengan lancar.


Malik, salah satu siswa kelas VIII Abu Bakar juga sempat berbincang-bincang dengannya, bertanya tentang berbagai hal, bahkan bermain basket dan futsal bersama. Dia mengaku merasa nyaman dan menganggap Hisyam laiknya teman sebayanya.


Tentunya waktu yang singkat ini tidak akan dibiarkan sia-sia oleh para siswa SMP IT Bina Amal untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pengalaman, yang sangat berharga. Siswa-Siswi yang aktif dan berani serta seorang Native Speaker yang ramah, semoga menjadi sismbiosis mutualisme. Saling menguntungkan, saling memberi motivasi, serta menjalin komunikasi yang baik. Dan semoga kedepannya SMP IT Bina Amal akan berkembang semakin baik. Allahu Akbar!

Setiap orangtua tentu menginginkan buah hati tercinta mereka bisa tumbu menjadi seorang anak yang mandiri, cerdas dan senantiasa optimis dalam menjalani hidup guna mendapatkan masa depan yang cemerlang untuk generasi yang lebih gemilang.

Untuk itu, perlu sekali ditanamkan berbagai pendidikan pada anak sebagai bekal mereka menyongsong masa depan yang lebih cerah. Namun tahukah ibu, kecerdasan akamedis yang ada dalam diri anak saja tak cukup untuk membuat mereka menjadi calon penerus bangsa yang gemilang. Perlu sekali membentuk karakter positif dari dalam diri anak agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dengan karakter yang berkualitas.

Seringkali kita sebagai orangtua bertanya-tanya kapankah waktu terbaik yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang terutama buah hati kita. Jawaban yang tepat tentu saja sejak mereka masih berusia dini. Mengapa demikian? Hal ini sudah banyak dibuktikan para ahli dimana mereka mengungkapkan bahwa usia anak dari 0 hingga 6 tahun perkembangan otak pada anak berkembang begitu pesat hingga 80%. Dimana pada usia inilah otak anak akan menyerap dan menerima berbagai macam informasi tanpa mampu melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Disinilah masa-masa dimana perkembangan fisik, spiritual maupun mental pada anak akan mulai terbentuk. Untuk itulah, banyak yang menyebut usia ini merupakan periode emas anak-anak.

Begitu juga sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari US bernama Brazelton, ia mengatakan bahwa pada bulan dan tahun pertama pengalaman dalam kehidupan anak akan berimbas dan menjadi penentu apakah si anak tersebut mampu menghadapai rintangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan mampu menunjukan semangat yang tinggi utnuk belajar dan berhasil dalam apa yang ia kerjakan.

membangun karakter positif pada anak

Nah, dengan demikian orangtua hendaknya mampu memanfaatkan masa emas ini untuk dapat memberikan pendidikan karakter guna membentuk karakter positif dari dalam diri anak-anak. Sehingga mereka mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya dimasa kelak.

Sebagai seorang manusia yang tak luput dari kesalahan kita sebagai orangtua seringkali mengalami hal yang keliru dalam mendidik anak. Meskipun tujuan kita baik dalam menasuh dan mendisiplinkan mereka, namun tanpa disadari ada banyak kekeliruan yang serig kita lakukan dalam menerapkan pola asuh pada mereka, seperti misalkan sering memarahi, memukul, terlalu kaku dan tidak bisa memahami anak dengan baik. Hal inilah yang pada akhirnya membuat pola asuh yang diterapkan pada anak tidak selaras dengan hasil kita harapkan. Sebenarnya ada beberapa hal penting yang bisa anda terapkan dalam hal mendidik anak guna membangun karakter positif dari dalam dirinya sejak ia masih dini. Nah, poin-poin berikut ini penting sekali untuk anda simak.
Beberapa Hal yang Patut Diterapkan Dalam Hal Membangun Karakter Positif Pada Diri Anak Sejak Usia Dini

Umumnya sebuah karakter akan terbentuk sebagai buah dari pemahaman yang ia dapatkan dari 3 hubungan yang pasti dialami oleh setiap manusia, hubungan inilah yang disebut dengan triangle relationship, yakni hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkuangan dan hubungan manusia itu dengan Tuhannya. Dimana setiap hasil hubungan ini akan memberikan pemahaman dan pemaknaan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah keyanikan pada diri anak. Cara anak memahami bentuk hubungan inilah yang  akan menentukan cara mereka dalam memperlakukan dunianya yang mana akan berlaku pola pemahaman postif akan berimbas pada perlakuan positif dan pemahaman negatif akan berlaku perlakukan negatif. Untuk itu, kita simak beberapa hal penting dalam menumbuhkan pendidikan karakter dalam diri anak sejak mereka berusia dini:
Bangun Pemahan Positif Dalam Diri Anak Sejak Mereka Masih Berusia Dini

Hal yang pertama yang paling penting dalam membangun karakter positif dalam diri anak adalah dengan menumbuhkan pemahaman positif pada diri anak-anak salah satunya dengan memberikan kepercayaan pada diri anak untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bantu anak untuk mengarahkan potensi dirinya sendiri, dengan begitu mereka akan lebih mudah mengeksplorasi apa yang mereka miliki. Tidak bijak rasanya jika harus terus-terusan mendikte anak dan menekannya secara langsung demi memuluskan harapan anda pada mereka. Dengan memberikan anak-anak kesempatan untuk mengembangkan dan memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, hal ini akan membuat anak merasa diberikan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.
Ingatlah Anak-Anak Adalah Peniru yang Baik

Apa yang mereka lihat itulah yang mereka tiru, tidak heran jika predikat anak adalah peniru yang baik amat melekat pada diri mereka. Untuk itu, sebagai orangtua perlu sekali kita memberikan contoh dan menjadi teladan yang baik. Tidak bijak rasanya jika harapan kita terhadap anak-anak tidak selaras dengan tingkah laku dan sifat kita sebagai orangtua.

 Ketika anda menginginkan anak-anak memiliki karakter yang baik dan positif dalam dirinya, maka penting sekali mengawalinya dari dalam diri kita. Berikan contoh yang baik dalam segala hal, dengan begini anda akan membuat anak-anak tidak memiliki alasan lain untuk menolak dan meyangkal nasihat yang anda berikan pada mereka.
Ajarkan Anak Bersosialisasi dengan Lingkungannya

Jika ruang lingkup kehidupan sosial anak hanya terbatas sekitar rumah dan keluarganya saja, hal ini tentu akan memuat anak tidak dapat mengenal dan merasakan kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, pilihan terhadap lingkungan akan dapat menentukan pembentukan karakter anak. Untuk itulah, sebagai orangtua kita dituntut untuk bisa lebih pintar dalam hal mendidik dan membesarkan mereka. Waktu yang lebih banyak dihabiskan dalam kehidupan anak-anak umumnya lebih cenderung dihabiskan dilingkungan dan keluarganya.

Untuk itu, menjadi pembimbing yang baik dengan memberikan pengarahan pada anak tentang hal apa yang boleh mereka lakukan dan tidak boleh mereka lakukan adalah pelajaran penting yang harus mereka dapatkan dari anda para orangtuanya. Dengan begini anak-anak akan memiliki batasan dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Berikan Pendidikan Keagamaan

Hal ini merupakan poin terakhir yang begitu penting, dalam hal menerapkan dan membangun karakter dalam diri anak terlebih dahulu mereka perlu mengnali siapa Tuhan mereka, dengan begini hidup seorang anak akan memiliki tujuan dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata bukan untuk diri mereka sendiri namun juga untuk Tuhan mereka.

Selain itu, tunjukan pada mereka bagaimana beribadah kepada Tuhannya dan bagaimana caranya mengucap syukur. Untuk hal ini, anda bisa memberikan buku, gambar dan cerita-cerita yang bisa menginspirasi mereka yang tentunya berkaitan dengan keagamaan. Atau juga anda bisa mulai memberikan pendidikan keagamaan sejak mereka usia dini dengan mengenalkan mereka pendidikan agama.

Menumbuhkan dan membangun karakter positif pada diri anak-anak adalah hal penting untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dan lebih cemerlang sebab pendidikan akademis saja tidak cukup membuat mereka menjadi benih unggulan.

Sumber :  Bidanku.com

Setiap orangtua tentu menginginkan buah hati tercinta mereka bisa tumbu menjadi seorang anak yang mandiri, cerdas dan senantiasa optimis dalam menjalani hidup guna mendapatkan masa depan yang cemerlang untuk generasi yang lebih gemilang.

Untuk itu, perlu sekali ditanamkan berbagai pendidikan pada anak sebagai bekal mereka menyongsong masa depan yang lebih cerah. Namun tahukah ibu, kecerdasan akamedis yang ada dalam diri anak saja tak cukup untuk membuat mereka menjadi calon penerus bangsa yang gemilang. Perlu sekali membentuk karakter positif dari dalam diri anak agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dengan karakter yang berkualitas.

Seringkali kita sebagai orangtua bertanya-tanya kapankah waktu terbaik yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang terutama buah hati kita. Jawaban yang tepat tentu saja sejak mereka masih berusia dini. Mengapa demikian? Hal ini sudah banyak dibuktikan para ahli dimana mereka mengungkapkan bahwa usia anak dari 0 hingga 6 tahun perkembangan otak pada anak berkembang begitu pesat hingga 80%. Dimana pada usia inilah otak anak akan menyerap dan menerima berbagai macam informasi tanpa mampu melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Disinilah masa-masa dimana perkembangan fisik, spiritual maupun mental pada anak akan mulai terbentuk. Untuk itulah, banyak yang menyebut usia ini merupakan periode emas anak-anak.

Begitu juga sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari US bernama Brazelton, ia mengatakan bahwa pada bulan dan tahun pertama pengalaman dalam kehidupan anak akan berimbas dan menjadi penentu apakah si anak tersebut mampu menghadapai rintangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan mampu menunjukan semangat yang tinggi utnuk belajar dan berhasil dalam apa yang ia kerjakan.

Membangun karakter positif pada anak

Nah, dengan demikian orangtua hendaknya mampu memanfaatkan masa emas ini untuk dapat memberikan pendidikan karakter guna membentuk karakter positif dari dalam diri anak-anak. Sehingga mereka mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya dimasa kelak.

Sebagai seorang manusia yang tak luput dari kesalahan kita sebagai orangtua seringkali mengalami hal yang keliru dalam mendidik anak. Meskipun tujuan kita baik dalam menasuh dan mendisiplinkan mereka, namun tanpa disadari ada banyak kekeliruan yang serig kita lakukan dalam menerapkan pola asuh pada mereka, seperti misalkan sering memarahi, memukul, terlalu kaku dan tidak bisa memahami anak dengan baik. Hal inilah yang pada akhirnya membuat pola asuh yang diterapkan pada anak tidak selaras dengan hasil kita harapkan. Sebenarnya ada beberapa hal penting yang bisa anda terapkan dalam hal mendidik anak guna membangun karakter positif dari dalam dirinya sejak ia masih dini. Nah, poin-poin berikut ini penting sekali untuk anda simak.

Beberapa Hal yang Patut Diterapkan Dalam Hal Membangun Karakter Positif Pada Diri Anak Sejak Usia Dini

Umumnya sebuah karakter akan terbentuk sebagai buah dari pemahaman yang ia dapatkan dari 3 hubungan yang pasti dialami oleh setiap manusia, hubungan inilah yang disebut dengan triangle relationship, yakni hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkuangan dan hubungan manusia itu dengan Tuhannya. Dimana setiap hasil hubungan ini akan memberikan pemahaman dan pemaknaan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah keyanikan pada diri anak. Cara anak memahami bentuk hubungan inilah yang  akan menentukan cara mereka dalam memperlakukan dunianya yang mana akan berlaku pola pemahaman postif akan berimbas pada perlakuan positif dan pemahaman negatif akan berlaku perlakukan negatif. Untuk itu, kita simak beberapa hal penting dalam menumbuhkan pendidikan karakter dalam diri anak sejak mereka berusia dini:
Bangun Pemahan Positif Dalam Diri Anak Sejak Mereka Masih Berusia Dini

Hal yang pertama yang paling penting dalam membangun karakter positif dalam diri anak adalah dengan menumbuhkan pemahaman positif pada diri anak-anak salah satunya dengan memberikan kepercayaan pada diri anak untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bantu anak untuk mengarahkan potensi dirinya sendiri, dengan begitu mereka akan lebih mudah mengeksplorasi apa yang mereka miliki. Tidak bijak rasanya jika harus terus-terusan mendikte anak dan menekannya secara langsung demi memuluskan harapan anda pada mereka. Dengan memberikan anak-anak kesempatan untuk mengembangkan dan memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, hal ini akan membuat anak merasa diberikan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

Ingatlah Anak-Anak Adalah Peniru yang Baik

Apa yang mereka lihat itulah yang mereka tiru, tidak heran jika predikat anak adalah peniru yang baik amat melekat pada diri mereka. Untuk itu, sebagai orangtua perlu sekali kita memberikan contoh dan menjadi teladan yang baik. Tidak bijak rasanya jika harapan kita terhadap anak-anak tidak selaras dengan tingkah laku dan sifat kita sebagai orangtua.

 Ketika anda menginginkan anak-anak memiliki karakter yang baik dan positif dalam dirinya, maka penting sekali mengawalinya dari dalam diri kita. Berikan contoh yang baik dalam segala hal, dengan begini anda akan membuat anak-anak tidak memiliki alasan lain untuk menolak dan meyangkal nasihat yang anda berikan pada mereka.

Ajarkan Anak Bersosialisasi dengan Lingkungannya

Jika ruang lingkup kehidupan sosial anak hanya terbatas sekitar rumah dan keluarganya saja, hal ini tentu akan memuat anak tidak dapat mengenal dan merasakan kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, pilihan terhadap lingkungan akan dapat menentukan pembentukan karakter anak. Untuk itulah, sebagai orangtua kita dituntut untuk bisa lebih pintar dalam hal mendidik dan membesarkan mereka. Waktu yang lebih banyak dihabiskan dalam kehidupan anak-anak umumnya lebih cenderung dihabiskan dilingkungan dan keluarganya.

Untuk itu, menjadi pembimbing yang baik dengan memberikan pengarahan pada anak tentang hal apa yang boleh mereka lakukan dan tidak boleh mereka lakukan adalah pelajaran penting yang harus mereka dapatkan dari anda para orangtuanya. Dengan begini anak-anak akan memiliki batasan dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Berikan Pendidikan Keagamaan

Hal ini merupakan poin terakhir yang begitu penting, dalam hal menerapkan dan membangun karakter dalam diri anak terlebih dahulu mereka perlu mengnali siapa Tuhan mereka, dengan begini hidup seorang anak akan memiliki tujuan dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata bukan untuk diri mereka sendiri namun juga untuk Tuhan mereka.

Selain itu, tunjukan pada mereka bagaimana beribadah kepada Tuhannya dan bagaimana caranya mengucap syukur. Untuk hal ini, anda bisa memberikan buku, gambar dan cerita-cerita yang bisa menginspirasi mereka yang tentunya berkaitan dengan keagamaan. Atau juga anda bisa mulai memberikan pendidikan keagamaan sejak mereka usia dini dengan mengenalkan mereka pendidikan agama.

Menumbuhkan dan membangun karakter positif pada diri anak-anak adalah hal penting untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dan lebih cemerlang sebab pendidikan akademis saja tidak cukup membuat mereka menjadi benih unggulan.

Sumber : Bidanku.com

Kita dan semua orangtua tentunya sudah tahu betul bahwa sebuah kepribadian seseorang akan menentukan sikap dan perbuatannya, begitupun yang terjadi pada diri anak-anak.

Inilah sebabnya mengapa orang yang pemalu tidak akan banyak berbicara sewaktu bertemu dengan orang yang baru. Hal ini pula lah yang menjadikan orang yang percaya diri tidak akan memiliki masalah untuk mengekspresikan diri mereka dan bergaul dengan mudah bersama dengan lingkungannya.

Untuk itulah, penting sekali bagi semua orangtua dalam mendidik dan menumbuhkan karakter yang berkualitas pada diri anak-anak sehingga mereka tumbuh menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang baik dan perilaku yang terpuji, baik terhadap lingkungannya maupun terhadap dirinya sendiri.

Dengan begini tentu saja bukan hanya membuat anak akan mudah diterima oleh teman-teman dan masyarakat saja, namun juga membuat mereka akan dengan mudah menjalin koneksi dengan lingkungannya yang baru. Selain itu, tentunya semua orangtua mendamba memiliki anak yang seperti demikian, pasalnya bukan hanya citra sang anak yang akan baik dimasyarakat namun juga penilaian yang baik akan ikut melibatkan kita orangtuanya yang dianggap berhasil dan beruntung memiliki anak yang baik dan berperilaku terpuji.

agar buah hati menjadi pribadi yang baik

Sebaliknya, anak yang tidak memiliki kepribadian yang baik dan berperilaku sembrono akan pula membawa dampak yang buruk terhadap diri sang anak dan juga penilaian masyarakat terhadap diri kita. Anda tentu tidak ingin jika setiap kali menghadiri rapat orangtua, nama anak anda seringkali disebut sebagai si tukang buat onar bukan? Untuk itulah mendidik dan membangun kepribadian yang baik penting sekali diajarkan pada anak sejak mereka usia dini.

Mendidik dan membentuk kepribadian anak tentu akan menjadi perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk ibu dan ayah, namun ini adalah kewajiban yang harus senantiasa ditunaikan. Akan ada banyak rintangan dan cobaan yang mungkin ibu hadapi yang mana salah satunya banyak datang dari diri si anak sendiri dan dari lingkungannya. Apalagi saat anak sudah mulai tumbuh besar dan memiliki pendapat sendiri. Kesulitan untuk mengarahkan anak seperti yang ibu inginkan adalah hal yang paling sering dihadapi. Namun dengan kesabaran dan telaten akan membuat mereka perlahan mengerti dan menerima nasihat serta didikan diberikan. Nah, untuk membantu ibu mendidik anak dan menumbuhkan pribadi yang baik dalam diri anak agar mereka bisa berperilaku terpuji dilingkungannya, maka simaklah poin-poin berikut ini.
1. Tanamkan Nilai-Nilai Agama Sewaktu Mereka Masih Kecil

Begitu pentingnya penanaman nilai keagaaman dalam diri anak, sehingga hal ini perlu sekali diberikan sejak anak masih berusia dini. Bahkan penanaman nilai-nilai ini harus dilakukan sejak anak masih bayi bahkan saat mereka masih berada dalam kandungan. Anak harus diajarkan untuk mengenal Tuhan mereka lewat beberapa kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya dirumah.

Berikan anak pengenalan dan pemahaman keagamaan sejak mereka berusia dini bahkan sejak baru saja lahir. Jika anak sudah dibiasakan menjalankan kegiatannya sesuai dengan nilai-nilai agama yang mereka anut, maka orangtua pun akan mampu menemukan kemudahan dalam mendidiknya. Hal ini dikarenakan anak sudah memeiliki pondasi dasar yang baik dengan nilai-nilai keimanan dari dalam dirinya. Dengan dasar keagamaan yang baik anak akan senantiasa melakukan hal-hal yang positif dan berperilaku terpuji dengan tidak merugikan orang lain.
2. Memahami Perasaan Anak dengan Baik

Sebelum mengarahkan anak dengan lebih spesifik dan memberikan larangan dan nasihat tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupannya, maka penting sekali memahami dan menyentuh perasaan anak dengan baik. Ketika perasaan mereka sudah kita pahami, maka orangtua akan lebih mudah mengatur dan mengarahkan anak-anak mereka. Dalam hal ini orangtua harus mampu bersikap empati dan simpati kepada anak-anak mereka. Yang mana hal ini bisa dilakukan dengan memahami sinyal atau tanda-tanda yang disampaikan oleh anak.

Misalkan, ketika sepulang sekolah, anak-anak pulang dengan wajah yang cemberut atau bahkan sedih. Sebagai orangtua tidak semestinya jika kita memberikan beban pekerjaan atau meminta anak melakukan kewajiban belajar mereka yang lainnya. Akan lebih baik jika kita menghampiri mereka setelah mereka berganti pakaian, buatlah komunikasi yang lembut dan tanyakan pada mereka mengapa mereka cemberut.

Atau tanyakan bagaimana kegiatannya disekolah, buatlah mereka berbagi kesedihan dan kekesalannya sehingga membuat mereka kesal dan cemberut. Dengan begini anak-anak akan merasa dihargai dan diberikan perhatian. Ketika anak diberikan simpati dan empati akan lebih sulit bagi mereka membangkang dan menolak anda, dengan begini anda akan lebih mudah mendidik dan mengarahkan mereka.
3. Menerapkan Disiplin Pada Diri Anak-Anak

Membiasakan kedisiplinan pada diri anak adalah yang amat penting yang mana hal ini juga perlu diterapkan pada mereka saat mereka masih kecil. Baik perilaku disiplin dilingkungan keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah.

Hal penting yang bisa dilakukan untuk menerapkan kedisiplinan pada anak-anak adalah dengan melakukan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak, tingkat kematangan dan keselarasan sikap antara guru dan orangtuanya dalam mendidik mereka. Dengan tumbuhnya sikap disiplin pada diri anak akan membuat mereka mampu menghargai waktu danbelajar mengelola waktu menjadi hal-hal yang berguna dimana hal ini tentunya akan terbawa hingga anak-anak dewasa kelak.
4. Berikan Waktu Untuk Anak

Kurangnya pendidikan karakter yang tumbuh dalam diri anak bisa jadi dipengaruhi oleh faktor orangtua itu sendiri. Seperti yang diketahui bahwa peran orangtua adalah sebagai seorang pengasuh dan sekaligus pendidik yang akan menentukan perilaku dan pribadi seorang anak. Pekerjaan orangtua dan kesibukannya ditempat kerja membuat mereka tak mampu menyisakan dan meluangkan waktu untuk bisa mendidik anak-anak mereka dengan baik.

Untuk itulah, sesibuk apapun ayah dan ibu sebaiknya sisakan waktu dan luangkan momen untuk mengawasi dan mengetahui perkembangan anak-anak. Seperti mengetahui bagiamana lingkungan pergaulannya, bagaimana perilaku mereka diluar dan mengetahui siapa saja teman-teman anak. Apalagi alangkah lebih baik jika anda mampu meluangkan waktu berkualitas bersama dengan anak seperti bermain bersama dengan mereka, dan memberikan mereka perhatian. Dengan begini anak akan merasa senang dan membuat mereka menghargai anda.
5. Jadilah Contoh yang Baik

Menumbuhkan kepribadian dan perilaku yang baik pada diri anak tidak hanya terbatas pada teori dan semua nasihat saja. Salah satu pendidikan yang paling jitu diberikan pada anak-anak adalah apa yang mereka alami dan mereka lihat dengan jelas. Jadi sewaktu anda mengharapkan anak-anak menjadi pribadi yang baik dengan perilaku yang terpuji, maka hal yang serupa harus mampu anda miliki dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana bisa seorang anak menjadi baik dan berperilaku terpuji jika orangtua mereka saja tak mampu menjadi contoh dan tauladan yang baik. Untuk itulah, berikan contoh yang baik pada anak-anak, dengan begini perlahan namun pasti mereka akan mulai meniru dan melakukan hal baik yang anda lakukan. Sehingga anda tak perlu repot-repot selalu mengajarkan anak dan mendikte mereka menjadi sosok anak yang anda harapkan setiap waktunya.

Anak-anak yang memiliki kepribadian yang baik akan secara otomatis mampu menjaga tindakan dan perbuatannya agar selalu baik dan terpuji dengan demikian pendidikan karakter dan kepribadian yang baik adalah hal penting yang harus senantiasa diajarkan pada mereka sejak dini.

Sumber : Bidanku.com

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget