April 2016



Ustadz Zuber Safawi memberikan taujih pada ratusan guru dan pegawai LPIT Bina Amal


"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu beruntung.” (QS Ali Imron : 200).

Yayasan Waqaf Bina Amal menyelenggarakan Bina Kembang Yayasan, Sabtu (30/4) di Aula SDIT Bina Amal 01 Semarang. Agenda rutin bulanan tersebut menghadirkan Ustadz Zuber Safawi sebagai pembicara tunggal dengan materi tentang Dakwah di sekolah dan peran seorang dai.Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan guru dan pegawai di lembaga pendidikan Islam Terpadu Bina Amal.
SDIT Bina amal merupakan bagian dari dakwah. Salah satu tujuan dakwah adalah membentuk masyarakat islami. Selain itu, target dakwah di tengah masyarakat adalah harus mampu memberi solusi atas penyimpangan-penyimpangan tauhid.
Menurut Ustadz Zuber, sebagai seorang dai, minimal harus memiliki enam sifat yaitu amanah, shidiq, ikhlas, sabar, penyayang, dan tsiqoh. Berkenaan dengan amanah, SDIT Bina amal adalah badan waqaf yang memiliki amanah untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya.
Ustadz Zuber menjelaskan bahwa Rosululloh memiliki sifat benar. Guru sebagai seorang dai pun juga harus memiliki sifat kalam yaitu jujur dalam berbicara dan sikap. “Jika tidak pengting lebih baik diam,” tuturnya. Selain kalam, seorang dai juga harus memiliki azzam (tekad) yang kuat, amal (baik dalam beramal). Sabar memiliki banyak pengertian yaitu sabar dalam ibadah, sabar dari perbuatan maksiat, sabar dalam berjuang, dan sabar terhadap musibah.
Peran Seorang Dai
          “Barang siapa yang menunjukkan kebenaran dan mendapat pahala, maka seorang dai juga akan mendapatkan pahala sebagaimana yang diajarinya,” tutur Ustadz Zuber.  Menurut Ustadz Zuber, guru adalah seorang dai yang memiliki peran diantaranya menunjukkan sikap yang benar, mencegah anak didik berbuat maksiat, memberi contoh yang baik pada siswa, menjaga ketertiban lingkungan sekolah, dan menyerukan kepada walimurid untuk berbuat baik pula. Berkenaan dengan dakwah islam, Sekolah IT adalah bingkai dakwah yang tidak pernah punah. (Bu Syamsi, Humas SDIT Bina Amal)



Apresiasi Yayasan Bina Amal, Eka Hariani, S.Pd kepada wisudawan Tahfidz Juz 30





Kepala Sekolah SDIT Bina Amal, Eko Suryanto, S.Pd menyematkan Badge Juz 30 kepada wisudawa tahfidz Juz 29 dan 30

Sebanyak 83 siswa SDIT BIna Amal Semarang wisuda juz 30, Jumat (29/4) di Lapangan SDIT Bina Amal. Wisuda tersebut adalah perdana untuk hafalan juz 30. Tidak hanya juz, ada 6 siswa yang lulus juz 30 dan 29. Dalam pengarahannya, Kepala Sekolah SDIT Bina Amal yakni Eko Suryanto, S.Pd memberikan semangat pada siswa untuk berlomba menghafal Alquran. Dikatakan oleh beliau bahwa akan ada ujian tahfidz setiap semester, jika dinyatakan lulus maka aka diwisuda. “Yang belum diwisuda, semangatlah untuk menghafal. Jangan kalah dengan adek kelas 1. Bagi yang sudah wisuda, pertahankan dan tambah terus hafalannya. Kedepannya tiap semester aka nada ujian tahfidz.,” paparnya dihadapan ratusan siswa yang menyaksikan wisuda juz 30.
Dari 83 siswa tersebut ada 3 siswa yag berasal dari kelas 1 Usamah yaitu Rumaisya Marwa Qonitah, Syifa Rufaida Ramadhani, Queen Khanifa Amarilis. Dari tiga siswa tersebut, sebelum diwisuda ada yang diminta untuk melantunkan hafalannya yaitu Syifa Rufaida Ramadhani. Ia melantunkan surat ‘Abasa dengan benar. Usai dibacakan ‘Abasa, riuh tepuk tangan siswa dan guru mengudara di tengah lapangan. Kelancaran dalam menghafal Alquran menambah semangat untuk menghafal bagi siswa gan guru.

Syifa kelas 1 Usamah (tengah) melantunkan QS 'Abasa secara lancar

Menurut Nur H, ibu dari Queen Khanifa Amarilis menjelaskan bahwa putrinya bisa lulus juz 30 di kelas 1 karena sudah mulai menghafal sejak PAUD. Ia juga sering belajar bersama dan mendengarkan murotal. Prestasi tiga jagoan kecil itu menunjukkan bahwa untuk menghafal tidak bisa sekali dengar. Butuh waktu dan proses yang berulang-ulang.

Sebanyak 83 siswa SDIT Bina Amal menyematkan badge juz 30 di dada kiri

Hal tersebut sejalur dengan program Waka 4 SDIT Bina Amal yaitu tahfidz setiap hari untuk menambah hafalan dan setoran sedikitnya sekali dalam seminggu. Harapannya siswa SDIT Bina Amal setelah lulus sekolah bisa hafal minimal Juz 30. Untuk tahun ajaran 2015/2016 ditargetkan setelah lulus hafal 4 juz. (Bu Syamsi, Humas SDIT Bina Amal).

Mendekati ajaran baru, Bina Amal menyiapkan pendaftaran siswa siswi baru tahun 2016/2017. 
Bagi orangtua yang ingin memilih sekolah yang tepat bagi putra putrinya dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

Visi Misi Sekolah
Melihat visi misi sekolah menjadi gambaran putra putri anda dididik.

Fasilitas pendidikan
Sekolah yang baik memiliki fasilitas pendidikan yang bukan hanya lengkap, tetapi juga aman digunakan. Dengan demikian, anak-anak dapat menggunakannya dengan nyaman.

Rekam jejak
Sebelum memilih sebuah sekolah untuk putra-putri Anda, sebaiknya Anda mempelajari rekam jejak sekolah tersebut. Prestasi apa saja yang pernah diraih siswa dan gurunya.

Perhatikan lingkungan sekolah
Sekolah yang baik terlihat rapi dan bersih, dengan anak-anak yang memiliki disiplin dan perilaku positif.

Orangtua mana yang tak ingin melihat anak-anaknya tumbuh cerdas, pintar dan saleh. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.  Berbagai cara dilakukan untuk mewujudkan anak menjadi saleh dan pintar.

Namun di zaman modern ini kiranya sulit, melihat pengaruh dari media yang buruk, dan lingkungan yang sudah tergores oleh gaya hidup kebarat-baratan. Hal ini sehingga membutuhkannya peran penting orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Anak adalah titipan Allah Swt., perhiasan hidup dan penerus harapan dan cita-cita orang tuanya.
Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja. Peran orangtua sangatlah vital. Karena melalui orang tualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak. Rasulullah SAW, sebagai teladan paripurna, telah memberikan tuntunan bagaimana mendidik dan mempersiapkan anak. Dan hal yang paling penting adalah keteladanan dalam melakukan hal-hal yang utama. Inilah yang harus dilakukan orangtua. Bukan hanya memerintah dan menyalahkan, tapi yang lebih penting adalah memberikan contoh kongkret. Secara simultan hal itu juga harus ditopang oleh lingkungan, pergaulan, dan masyarakat. (hal. 15-34)

Banyak orang tua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya, sehingga anak mereka hidup tanpa tuntunan. Buku ini hadir sebagai panduan lengkap para orangtua tentang cara mendidik anak ala Rasulullah SAW semenjak dalam Kandungan hingga 18 tahun.

Berbagai cara mendidik anak ala Rasulullah, Sejak dalam kandungan, misalnya dengan cara mendoakan anak sejak masih dalam tulang Sulbi sang Ayah, hingga memberikan dzikir doa keselamatan saat akan lahir. Ketika anak lahir sampai usia 3 tahun, anak membutuhkan banyak stimulasi atau rangsangan agar saraf-saraf di otaknya berkembang sehingga mendorong kecerdasan dan pembentukan jiwa sang anak (hal 49). Pada usia 4-10 hingga 18 tahun, anak hendaknya diajari belajar mengenali dirinya dan mengajari sesuatu dengan kejujuran. Biasanya orangtua kerap mengiming-iming anak agar anak itu senang dengan berkata bohong kepada anaknya, mengajarkan dan memperlakukan anak dengan mencela dan sering memberikan ketidakadilan pada anak-anak mereka serta memanjakan anak secara berlebihan (hal 69, 101). Hal inilah yang menjadi permasalahan anak seringkali menjadi nakal, psikologi mental anak menjadi rendah serta membuat anak kehilangan percaya pada dirinya. Imam Ghazali menyatakan bahwa sesungguhnya anak adalah amanah yang harus dijaga dan dibekali ilmu agama untuk terwujudnya anak-anak yang shalih dan shalihah.

Buku ini sangat menarik untuk menjadi pedoman bersama bagi para orangtua dalam mendidik putra-putri mereka. Dan dibumbui dengan cara/pola mendidik ala rasulullah yang paling mudah dan efektif dalam mengajari anak tentang berbagai macam perilaku Islami di zaman sekarang. Selamat membaca.

Sumber: www.dakwatuna.com

Ujian Nasional untuk SMP yang akan dilaksanakan tanggal 9 Mei 2016. Tinggal beberapa hari yang tersisa untuk siswa mempersiapkan diri.

Suport utama agar siswa merasa tenang dan tidak stres adalah orang tua. Sebagai siswa boarding school, siswa tidak dapat bertemu dengan orang tuanya setiap hari. Tetapi suport orang tua terlihat saat menghadiri  Family Gathering yang diadakan pada tanggal 23 April 2016 bertempat di The Fountain Park.

Doa dan restu orang tua dapat menyemangati siswa, agar dapat menyelesaikan soal dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan pula.

FAMILY GATHERING



Water War, perjuangan orangtua untuk melindungi anaknya


 Agenda sukses Ujian Nasional yang dilakukan SMP Islam Terpadu Bina Amal ini sangat menarik. Selain memberikan program bimbingan belajar bagi siswa-siswa kelas 9, Pihak sekolah juga mengadakan acara Family Gathering yang diikuti siswa kelas 9 beserta orangtuanya. Family Gathering tahun ini diadakan Sabtu, 23 April 2016 bertempat di The Fountain Park. Tujuan acara ini adalah menguatkan ikatan batin orangtua dan siswa untuk bersama-sama saling mendukung agar meraih hasil Ujian Nasional yang maksimal. Acaranya terdiri dari berbagai games yang melibatkan orangtua dan siswa seperti Water War, Moving Ball, dan Blowing Ball.  

Water War diikuti semua siswa dan orangtuanya. Siswa memakai mahkota dari kertas dan dilindungi orangtuanya yang membawa semprotan air. Semprotan air ini untuk menyemprot mahkota siswa lain sampai berlubang. Jika sudah berlubang, peserta kalah. Pemenang adalah pasangan orangtua yang bertahan yang mahkota kertasnya tidak rusak dan bisa mengambil bendera yang dijaga oleh guru. Moving Ball juga pasangan orangtua dan anak. Mereka harus memindahkan bola sebanyak mungkin dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan jidat. Lalu Blowing Ball berupa  gelas di atas papan yang dibawa oleh orangtua, sedangkan anaknya mengisi air di gelas tersebut dan meniup bola dari satu gelas ke gelas yang lain sampai bola bisa melewati 5 gelas.

Setelah mengikuti games, siswa memohon doa restu orangtua agar sukses menghadapi Ujian Nasional, diikuti pemberian doa restu dan kado spesial dari orangtua ke anak. Acara diakhiri dengan pengumuman juara lomba dan makan siang bersama.
 Foto-foto:
Orangtua melindungi anaknya dari semprotan air

Orangtua dan anaknya saling memberi make up sebelum Water War

Blowing Ball, meniup bola dari satu gelas ke gelas lain

Moving Ball, memindahkan bola dengan dahi

Moving Ball, berusaha memindahkan bola sebanyak-banyaknya

Permohonan  doa restu anak ke orangtua, sesi paling termehek-mehek

PERINGATAN HARI KARTINI
SMP IT BINA AMAL


Salah satu pemenang lomba masak peringatan Hari Kartini SMP IT Bina Amal


Kamis, 21 April 2016 adalah hari yang ditunggu-tunggu siswa SMP IT Bina Amal. SMP IT Bina Amal memperingati Hari Kartini dengan nuansa yang berbeda dengan sekolah kebanyakan. Jika sekolah lain Hari Kartini marak dengan siswa berkebaya dan bersanggul, di SMP IT Bina Amal memperingatinya dengan lomba masak seluruh siswa. Setelah melaksanakan upacara bendera, Siswa kelas 7,8, dan 9 dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan didampingi seorang guru baik guru putra maupun guru putri memasak dengan menu ikan bakar&nasi bakar, roti bakar&pisang bakar, sosis bakar&jagung bakar. 

Siswa mengikuti lomba dengan antusias. Meskipun siswa putra dan pendampingnya juga guru putra, kreasi menunya tidak kalah dengan siswa putri dengan pendamping guru putri. Setelah lomba, hasil kreasi masakannya dimakan bersama-sama. "Kalah atau menang tidak jadi masalah, yang penting kebersamaan dalam memasak dan menikmati hasil masakan", ujar salah seorang siswa saat ditanya pendapatnya tentang lomba memasak ini.

Foto-foto:




Tanggal 21 April diperingati Hari Kartini. SD IT Bina Amal tidak lupa memperingatinya dengan berbagai acara berupa pentas seni seperti menyanyi, membaca puisi dan lainnya. Salah satu momentum untuk menampilkan bakat siswa.

Setiap anak menggunakan baju daerah untuk mengenalkan budaya asli Indonesia sejak dini. Sehingga budaya Indonesia tetap dilestarikan oleh generasi muda. Untuk tema kali ini adalah habislah gelap terbitlah terang.

Secara keseluruhan acara berjalan lancar dan siswa sangat antusias. Meskipun terdapat siswa yang masih malu-malu,  tetapi terdapat siswa lainnya yang percaya diri dalam pentas seni kali ini.



 Galeri Kegiatan :





TK IT Bina Amal Semarang memperingati hari Kartini yang bertetapan pada tanggal 21 April. Pelaksaan acara di taman KB Semarang. Beberapa kegiatan dilaksanakan seperti fashion show menggunakan baju daerah.

Seperti judul buku kumpulan surat Kartini yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang, perjuangan kartini bukanlah melalui peperangan tetapi mampu membawa perubahan bangsa Indonesia lebih baik.

Inilah pelajaran bagi generasi muda agar terus berprestasi serta tidak berpuas diri sehingga menjadi harapan bangsa untuk melakukan perubahan di masa depan.


Guru dikenal dikenal sebagai profesi seseorang di sekolah yang bertugas mengajar anak-anak. Tetapi pada hakikatnya semua manusia merupakan seorang guru apabila ia dapat mengajarkan sesuatu yang bermanfaaat kepada orang lain. Tentulah salah satu peran guru berada pada orang tua. Tugas orang tua sebagai guru bersifat alami dan natural. Hal inilah yang akan membentuk bagaimana karakter seorang anak nantinya. Maka sangat penting bagi orang tua untuk memahami pendidikan karakter untuk anak.

Pendidikan karakter adalah pendidikan dalam membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya (Thomas Lickona, 1991).

Karakter seorang anak terbentuk dari kebiasaannya sehari-hari. Karena kontinuitas inilah yang membentuk karakter secara permanen dan tahan lama. Teori-teori pendidikan pun bermunculan. Teori yang mengatakan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh faktor lingkungan yang dipelopori oleh Jhon Locke yang dikenal sebagai teori Empirisme, Teori yang mengatakan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh faktor hereditas atau pembawaan yang dipelopori oleh Arthur Schopen Hauer yang dikenal sebagi teori Nativisme, dan banyak lagi teori-teori yang mengemukakan perkembangan seorang anak serta faktor-faktornya.

Padahal apabila kita cermati, semua faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain, dari mulai keluarga, pembawaan serta lingkungan dimana anak itu tinggal. Apabila kita melihat dari pendidikan Islam untuk anak, sebenarnya kita bisa melatih karakter anak-anak itu pada kegiatan sehari-harinya sesuai dengan anjuran dan kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Beberapa hal yang dapat melatih karakter anak-anak antara lain:

Pertama, biasakan anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan, minum, menulis dan menerima tamu. Mengajarkannya untuk mengawali setiap pekerjaan dengan bacaan basmalah terutama untuk makan dan minum. Dan harus dilakukan dengan duduk serta mengakhirinya dengan membaca hamdalah. Membiasakan anak-anak jujur dalam perkataan dan perbuatan. Hendaknya kita juga tidak berbohong kepada mereka, meskipun kita hanya bergurau. Jika kita menjanjikan sesuatu hendaknya kita penuhi.

Kedua, membiasakan anak untuk selalu menjaga kebersihan, memotong kukunya, mencuci kedua tangannya sebelum dan sesudah makan, dan mengajarinya untuk bersuci ketika buang air kecil dan buang air besar, sehingga tidak meninggalkan kotoran atau najis pada pakaiannya dan shalatnya menjadi sah.

Ketiga, berlemah lembut dalam memberi nasehat kepada mereka dengan cara rahasia. Tidak membuka kesalahan mereka di di depan umum. Jika mereka tetap membandel maka kita diamkan selama tiga hari, dan tidak boleh lebih dari itu. Ingatkan juga mereka supaya tidak kafir mencela dan melaknat orang serta berbicara yang jelek. Kita juga hendaknya menjaga ucapan di depan mereka agar menjadi teladan yang baik bagi mereka.

Keempat, memberi kasur pada setiap anak jika memungkinkan, jika tidak maka setiap anak diberikan selimut sendiri-sendiri. Akan lebih utama jika anak perempuan mempunyai kamar sendiri dan anak laki-laki mempunyai kamar sendiri, guna menjaga akhlak dan kesehatan mereka. Melarang anak membaca majalah dan gambar porno serta cerita-cerita komik persilatan dan seksualitas. Membatasi tontonan mereka di Televisi karena tontonan sekarang ini berbahaya bagi akhlak dan masa depan anak-anak.

Kelima, membiasakan untuk tidak membuang sampah di tengah jalan. Beritahu juga mereka akibat apabila membuang sampah jangan sembarangan. Berpesan juga kepada anak-anak untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakiti mereka serta membiasakan anak bersikap hormat dan memuliakan tamu serta menghidangkan suguhan baginya.

Keenam, mengajarkan mereka untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran , tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak menakut-nakuti mereka dengan cerita yang menakutkan serta mewaspadai pergaulan mereka dengan kawan-kawan yang nakal, mengawasi mereka, dan melarang mereka duduk-duduk di pinggir jalan.

Ketujuh, memberi salam kepada anak-anak di rumah, di jalan, dan di kelas dengan lafadzh Assalamualaikum, jangan biasakan menyapa dengan kata Hai, Hallo, ataupun ucapan salam lainnya, karena ucapan itu merupakan sebuah doa. Jangan mendoakan kejelekan kepada anak , karena doa baik maupun buruk kadang-kadang dikabulkan, dan mungkin menambah kesesatan mereka. Lebih baik jika kita mengatakan kepada anak, Semoga Allah Memperbaikimu. Biasakan juga budaya 5S kepada anak-anak (Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun).

Kedelapan, membiasakan anak-anak untuk memakai pakaian sesuai jenisnya sehingga pakaian wanita tidak sama dengan laki-laki, memberikan kain penutup aurat kepada anak perempuan sejak kecil supaya terbiasa pada saat dewasa serta menjauhi pakaian-pakaian ala Barat seperti celana dan baju yang sempit dan terbuka. Berikan juga pengetahuan kepada mereka tentang pentingnya menjaga aurat

Kesembilan, menyuruh anak-anak untuk diam ketika adzan berkumandang dan menjawab bacaan-bacaan adzan serta untuk anak laki-laki dibiasakan shalat berjamaah di masjid. Beritahu mereka juga dengan janji surga, bahwa surga akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan shalat, puasa, menaati kedua orang tua dan berbuat amalan yang diridhai oleh Allah serta menakut-nakuti mereka dengan neraka, bahwa neraka diperuntukkan bagi orang yang meninggalkan shalat, menyakiti orang tua, membenci Allah, melakukan hukum selain hukum Allah dan memakan harta orang dengan menipu, korupsi dan lain sebagainya.

Terakhir, memberikan cerita-cerita yang mendidik, bermanfaat dan islami, seperti serial cerita-cerita dalam alQuran dan sejarah Islam lainnya serta ceritakan juga perjuangan para sahabat-sahabat nabi yang terus semangat melawan kejahatan meskipun nyawa taruhannya.

Sumber : www.dakwatuna.com

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget