Oktober 2016

Dari Kiri ke Kanan : Ustadzah Asih Djumaeni, S.Pd, Ika Fauziyah, S.Pd, Sri Lestari, S.Pd, Tutik Haryanti, S.Pd

Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia di Jawa Tengah, Koordinator Daerah (Korda) Semarang 1 yang terdiri atas Demak, Semarang, dan Kendal menggelar lomba kreativitas guru JSIT. Lomba dilaksanakan di KBIT-TKIT-SDIT Permata Bunda Pucang Gading Demak, Sabtu (29/10).

Lomba diikuti 60 peserta dari tiga Kota tersebut. Ketua JSIT Jawa Tengah, Sigit Cayantoro menjelaskan, kegiatan ini memiliki beberapa tujuan, yakni meningkatkan daya inovasi dan kreativitas guru dalam mengembangkan alat peraga pendidikan, penelitian tindakan kelas, dan buku penunjang pembelajaran.

Disamping itu juga meningkatkan kualitas pembelajaran agar dapat dilakukan memenuhi prinsip pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermanfaat. ”Kegiatan ini juga untuk memberikan apresiasi terhadap pengabdian dan dedikasi guru di lingkungan JSIT. Guru JSIT harus selalu meningkatkan kualitas,” katanya.

Lomba guru untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini Islam Terpadu (PAUDIT) terdiri atas cabang lomba inovasi pembelajaran, membuat buku cerita, mendongeng, APE, dan mengarang lagu.

Pelaksanaan lomba guru jenjang PAUDIT merupakan seleksi tingkat korda, memilih tiga terbaik mewakili ke tingkat provinsi. Waktu pelaksanaan final tingkat provinsi pada 19-20 November mendatang, sekaligus menyambut Hari Guru Nasional (HGN).

Dan Alhamdulillah Perwakilan dari KBIT-TKIT Bina Amal berhasil menjadi Juara Umum. Berikut kategorinya :

· Juara 1 Membuat Buku Cerita Ustadzah Tutik Haryanti, S.Pd

· Juara 2 Kreativitas PBM Ustadzah Ika Fauziyah, S.Pd

· Juara 3 APE Ustadzah Asih Djumaeni, S.Pd

· Juara 2 Mendongeng Ustadzah Sri Lestari, S.Pd

Sekali Lagi Barokallah, semoga bisa berbagi ilmu dan pengalaman dengan Bapak Ibu guru yang lain. Dan semoga bisa terus berprestasi di tingkat selanjutnya. Amin...

humas@binaamal.info
humas KBIT-TKIT Bina Amal

Gambar Ilustrasi

Sahabat apakah kalian sudah tahu bagaimana nabi Muhammad mendidik putra putrinya? apakah kalian mengenal putra putri nabi Muhammad SAW? Mari kita bahas sekilas tentang putra-putri nabi Muhammad SAW dan bagaimana beliau mendidik anaknya yang nakal meskipun dalam keluarganya putra putri nabi Muhammad sangat patuh pada ayahandanya.

Nabi Muhammad hanya memiliki 6 anak itupun dari Siti khadijah. Anak pertamanya bernama Qasim yang meninggal pada usia 2 tahun. Anak kedua bernama Abdullah, Abdullah juga meninggal pada waktu masih kecil setelah nabi Muhammad SAW diangkat Allah SWT menjadi nabi. Anak ketiga yang dilahirkan oleh Siti khadijah diberi nama Zainab, Zainab meninggal pada tahun ke 8 hijriah.

Anak keempatnya bernama Ruqayyah yang dipersunting oleh Utbah bin Abu lahab orang yang paling membenci nabi Muhammad SAW namun pernikahan tak berlangsung lama. Kebenciannya pada nabi Muhammad SAW membuat pernikahan mereka berakhir. Ruqayyah kemudian menikah dengan Utsman bin affan tetapi hal tersebut tak begitu lama karena Ruqayyah telah dipanggil oleh Allah lantaran penyakit demam yang dideritanya.

Anak kelimanya bernama Umi kalsum. Sepeninggal kakaknya Ruqayyah, Umi kalsum dinikahkan oleh baginda nabi dengan Utsman bin Affan. Sebelumnya Umi kalsum telah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab sama persis dengan kisah hidup kakaknya akhirnya Umi Kalsum bercerai dengan suaminya. Pernikahan Utsman bin Affan juga tak berlangsung lama, Umi kalsum kembali ke yang Maha Pencipta, Utsman bin Affan kembali berduka.

Anak Nabi Muhammad SAW yang terakhir adalah Fatimah, Fatimah merupakan anak bungsu kesayangan Rasulullah SAW. Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib pemuda yang miskin namun Fatimah tetap ridho menjadi pendampingnya. Fatimah memiliki kehidupan yang lebih lama dari saudara-saudaranya, Fatimah menghadap Allah SWT setelah ayahandanya menghadap Allah 6 bulan sebelumnya.

Begitulah kisah anak-anak Rasulullah, tapi apakah kalian tahu bagaimana cara mendidik Rasulullah SAW agar anak bisa patuh pada orang tua? Begini caranya:

1. Menasihati

Anak yang nakal hanya perlu dinasihati tentang kesalahan mereka sehingga mereka tahu kesalahan mereka dan mereka tidak akan mengulanginya. Nasihati baik-baik sampai mereka mengerti seperti yang dilakukan Rasulullah pada anak paman beliau yang diterangkan dalam hadistnya, Rasulullah SAW besabda kepada Abdullah bin Abbas ra, “wahai anak kecil, sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka dia akan menjagamu, jagalah batasan-batasan (syariat) maka kamu akan mendapati-Nya dihadapnmu.

2. Mengantung alat pemukul di dalam rumah

Menggantung pemukul di rumah bukan berarti kita menerapkan jika melakukan kesalahan atau kenakalan maka akan dipukul, menggantung alat tersebut di rumah hanya untuk mendidik mereka agar takut jika melakukan perbuatan tercela. Seperti yang dikatakan Imam Ibnu Anbari, “Rasulullah SAW tidak memaksudkan perintah untuk mengantungkan cambuk (alat pemukul) untuk memukul, karena Rasulullah SAW tidak memerintahkan hal itu pada seorangpun. Akan tetapi yang beliau maksud adalah agar hal itu menjadi pendidikan bagi mereka.

3. Menampakkan muka masam


Menampakkan muka masam merupakan salah satu cara Rasulullah SAW dalam mendidik anak yang nakal, dengan menampakkan muka masam diharapkan anak sadar akan kesalahannya yang membuat orang tuanya kecewa.

4. Menegur dengan suara keras

Pertama kali menasihati anak dengan menegur yang halus namun jika anak tidak bisa ditegur secara halus maka tegurlah secara keras agar anak bisa mengerti bahwa perbuatannya bisa berdampak pada hal yang berbahaya.

5. Tidak menegur

Diamkan anak untuk beberapa saat hingga anak menyadari kesalahannya. Jika anak tetap melakukan hal yang tercela meskipun sudah ditegur maka biarkan anak merasakan dampak yang ditimbulkannya, tetapi kalau memang dampaknya membahayakan nyawa anak lebih baik dihukum sebelum terlambat dan tunjukkan akibat apa yang akan itimbulkannya semisal dia melakukan perbuatan tersebut.

6. Memberi hukuman ringan yang tidak melanggar syariat


Hukuman adalah cara yang paling ampuh membuat anak jera dan tidak mengulangi lagi perbuatannya yang tercela. Hukuman yang orang tua berikan jangan sampai melewati batas syariatnya.


ummionline



 Anak adalah buah hati impian jiwa untuk seluruh orang tua. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya berjalan ke jalan yang tidak diridhoi oleh Allah Swt. Tidak juga ingin melihat anak-anaknya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. 

Akan tetapi yang namanya kehidupan, tidak semuanya dapat berjalan baik sesuai dengan yang kita inginkan. Seorang anak selaku manusia kadang juga melaksanakan hal-hal yang kita anggap tidak baik selaku orang tua.

Bagaimana cara menasehati anak secara baik ? 
Dalam menasehati atau menegur anak hendaknya orang tua memperhatikan hal-hal berikut ini :

1. Pendekatan Emosional. 

Orang tua harus pintar pintar dalam melakukan pendekatan kepada anak saat anaknya melaksanakan kesalahan, jangan lansung dimarahi saat ia selesai melaksanakan kesalahan, tegur dengan tegas dan ajak ia duduk serta arahkan dengan baik, disaat inilah orang tua bisa mengistal dalam otak anak sebuah aplikasi kebaikan dan tatacara prilaku baik dan benar, sebab dalam keadaan ini sang anak tidak dalam keadaan tertekan. 

2. Berikan Motivasi 

Salah satu yang membuat anak untuk berbuat baik adalah motivasi dari orang tua, nah dalam hal ini bisa dicontohkan jika anak berprestasi dikelas nanti bapak kasih meja belajar, atau jika anak hafal AlQuran 10 Juz akan bapak umrohkan, dan sebaginya, ini adalah motivasi orang tua yang sangat ngefek dari pada motivasi yang ia dapat dari sekolah. dahulukan reward baru punishiment. 

3. Jangan Pernah Membohongi Anak 

Janganlah bohong kepada anak-anak, ketika anak tahu bahwa apa yang dikatakan orang tuanya adalah bohong, maka anak itu akan mencari orang yang lebih dipercaya di luar rumah. Nabi Muhammad SAW telah melarang orang tua berbohong kepada anaknya. Secara tidak lansung wibawa dari orang tua akan berkurang sebab kebohongan yang dilakukan orang tua, hal ini mengakibatkan anak sulit untuk dinasehati oleh orang tuanya. 

4. Meninggikannya Baru Merendahkannya 

Saat sang anak melakukan kesalahan, hal yang sangat dilarang adalah menyebarkan keburukan anak itu, anak akan depresi jika mendengar keburukannya telah tersebar, orang tua sebagai pengayom anak wajib tahu carannya menghilangkan depresi pada anak. yaitu dengan cara membuatnya tinggi (dengan cara memuji kelebihannya) dan lalu menjatuhkannya (mengungkit kejelekan yang baru ia lakukan secara rahasia dan lemah lembut), ini berfungsi sebagai pancingan motivasi anak, agar ia semakin malu dengan hal buruk dan bangga dengan hal baik. jika caranya terbalik maka hasilnya pun kemungkinan akan terbalik. ingat meninggikan dulu baru dijahtuhkan. 

5. Dengarkan dia, Baru Bicara 

Yang paling utama juga ini, orang tua membuka dengan pertanyaan sederhana lalu biarkan anak menjelaskan apa yang terjadi dan yang menurut ia benar. jika orang tua menemukan kesalahan dalam prilaku yang telah dijelaskannya, maka orang tua baru memberikan masukan dan petunjuk kepada anak, ini juga jangan sampai terbalik. maka dengarkan ia bicara baru orang tua yang bicara. 

Itulah tips memberikan masukan kepada anak, semoga orang tua bisa lebih mudah dalam memberikan nasehat kebaikan kepada anaknya dan menjaga anak anaknya dalam kebaikan. 

Rasulullah bersabda :

 مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ 

Artinya : Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan suci. maka orang tuanyalah yang mejadikan anak itu yahudi atau nashrani atau majusi (penyembah api). (H.R. Bukhari).

Ayah, Bunda semoga Allah memberikan kemudahan dalam mendidik anak-anak kita, menjadi anak yang sholih sholihah....





Banyak orang tua mengeluh bahwa perkataanya tidak didengar oleh anaknya. Bahwa nasehat yang ia ingin anak dengarkan, cuma masuk lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.

Sebegitu sulitkah memberi nasehat pada anak?

Padahal kan cuma ngomong doang. “ Nak.. Kalau bicara sama orang tua gak boleh sambil berteriak yaa,” misalnya begtiu.

Mudah bukan? Saya yakin siapa saja bisa melakukannya. Anak akan manggut-manggut mendengarkan, sambil berkata, “Iya, Bunda.. Saya dengar dan patuh.”

Apakah kenyataannya begitu? Tanyakan saja pada mamah-mamah muda itu, saya yakin jawabnya adalah; tidak.

Sekadar ngomong memang mudah, tapi ngomong sebuah omongan yang menghujam dan bakal di ingat di hati anak bukan soal gampang.

Maka tak heran bila banyak ibu yang merasa omongannya tak didengar anak, lalu ia berubah menjadi marah-marah pada anaknya. Tak heran banyak orang tua yang galak, memukul, membentak, yang sebenarnya tujuannya cuma satu; agar omongannya dituruti oleh anak.

Duh, tapi bukankah kita tak ingin jadi orang tua yang seenaknya memukul anak bukan? Kita ingin jadi orang tua yang ngomong lembut saja, nasehat itu sudah dilakukan oleh anak.


Lantas bagaimana cara agar omongan atau nasihat ibu itu mudah diterima anak?

Berikut tips yang mudah dilakukan oleh para orang tua saat memberi nasehat pada anaknya. 


Pertama, nasihatilah mereka, ketika hati mereka sedang lapang atau senang. Jangan memberi nasihat ketika mereka marah atau menangis, karena itu akan sia-sia.

Kedua, ingatkan selalu, jangan pernah bosan. Apabila nasihat itu belum mereka laksanakan.

Ketiga, nasihat juga bisa kita sampaikan lewat cerita perjuangan ataupun buku-buku penumbuh budi pekerti.

Keempat, nasihat disampaikan dengan sikap dan perilaku kita. Orangtua dan pendidik (guru) adalah model bagi anak atau siswanya.

Kelima, nasihat kita sampaikan dengan ilmiah, contohnya ketika kita menasihati tentang adab makan dan minum harus duduk. Kita sampaikan kepada mereka bahwa makan dan minum dengan duduk membuat kerja ginjal jadi maksimal karena racun tersaring dengan baik. Bukan dengan menakut-nakuti anak dengan kebohongan.


Bunda, menasehati bukan menakuti anak.

Siswa-siswi SMPIT Bina Amal Lomba OASIS Tingkat Provinsi


Alhamdulillah, Barokallah kepada Siswa-Siswi SMPIT Bina Amal yang menjadi Juara pada Lomba Olimpiade Al Quran dan Sains (Oasis) Tingkat Provinsi yang digelar di SMP IT Assaidiyyah Kudus.

Oasis merupakan kegiatan yang diikuti Ribuan santri dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kegiatan rutin ini  diselenggarakan secara tahunan untuk mewadahi para santri dalam bidang keagamaan, Alquran dan sains.

Peserta olimpiade adalah siswa SMP berbasis pesantren di seluruh Jawa Tengah.mengikuti Olimpiade Alquran dan Sains (Oasis) tingkat provinsi yang digelar di SMP IT Assaidiyyah Kudus, Jumat- Sabtu (21-22/10)

Seluruh siswa SMP berbasis pesantren di seluruh Kota Se Jawa Tengah ini antara lain, Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), Hifdil Quran, Kaligrafi, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Arab, dan Bahasa Jawa serta Stand Pameran. 

Alhamdulillah perwakilan dari SMPIT Bina Amal Semarang berhasil menjuarai lomba :

Juara 1 Stand Pameran

Juara 2 Pidato Bahasa Jawa: Salma Nuri

Juara 2 Kaligrafi: Dyah Permata H.

Juara 3 Olimpiade IPA: Syahlila Umaya A.

Juara 3 Olimpiade Matematika: Alya N.Indiarso

Barokallah..., tetap semangat, terus belajar , semoga bisa menginspirasi yang lain.

humas@binaamal.info, humassmpit

Galeri Foto








gambar ilustrasi





Dalam sebuah hadits, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda,“Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.”

Nabi pun mencontohkan, bahkan ketika beliau sedang disibukkan dengan urusan menghadap Allah SWT (shalat), beliau tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih kanak-kanak, Hasan dan Husain. Bagi Nabi, setiap waktu yang dilalui bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika beliau sedang shalat.

Saat ini banyak keluarga di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Ayah sudah berangkat kerja saat pagi buta, ketika si kecil masih tidur. Ketika ayah pulang malam hari, sering kali anak sudah tertidur.

“Tak heran jika anak ditanya, ‘Bagaimana ayahmu?’, jawabnya, ‘Auk, ah gelap’. Karena memang mereka hanya bertemu waktu gelap, saat dini hari dan tengah malam,” kata Bendri Jaisyurahman, salah satu penggagas Komunitas Sahabat Ayah.

Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak mengalami beberapa masalah psikologis. Di antaranya, anak yang rendah harga dirinya, anak laki-laki yang cenderung feminin dan anak perempuan yang cenderung tomboy, anak yang lambat dalam mengambil keputusan, serta anak yang cenderung reaktif. Termasuk juga, maraknya generasi alay.


Lalu bagaimana idealnya peran seorang ayah dalam pendidikan anak? Menurut Bendri setidaknya ada 7 waktu yang perlu diluangkan ayah untuk anaknya.

1. Pagi Hari
Ayah bisa memulai dengan membangunkan anak. Luangkan 5 menit untuk bermain atau mendengar cerita anak mengenai mimpinya.

2. Siang Hari
Luangkan 5 menit saja untuk menelepon anak di siang hari. Mulailah dengan cerita ringan mengenai aktivitas ayah di kantor dan pancing anak untuk bercerita mengenai kegiatannya hari itu.

3. Malam Hari
Sediakan waktu untuk bermain serta mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya seharian. Beri komentar dan arahkan anak secara positif. Malam hari merupakan waktu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik.

4. Liburan
Saat hari libur, ayah bisa secara total melakukan aktivitas bersama anak. Tidak harus pergi berlibur, bisa juga dengan mencuci mobil bersama, memancing, pergi ke toko buku. Aktivitas tersebut akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah dan anak.

5. Di Kendaraan
Saat mengantar anak ke sekolah atau ke tempat lain, terutama jika menggunakan mobil, tersedia kesempatan untuk ngobrol dengan buah hati. Selipkan nasihat, misalnya mengenai pentingnya berkendara dengan santun, menghormati hak orang lain, mengikuti aturan lalu lintas, dan lain-lain.

6. Saat Anak Sedih
Saat anak mengalami kesedihan, ia membutuhkan tempat untuk curhat dan menyampaikan keresahan hatinya. Jika ayah mampu hadir dalam situasi ini, anak tidak akan melabuhkan kepercayaan pada orang yang salah. Karena pahlawan bagi anak adalah mereka yang ada di dekat mereka, menghibur, mendukung dan menguatkan ketika mereka sedih dan mengalami masalah.

7. Saat Anak Unjuk Prestasi
Luangkan waktu untuk hadir saat anak mengikuti lomba atau tampil di panggung. Kehadiran ayah dan ibu dalam momen itu merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan anak. Tepuk tangan, foto, dan rekaman yang dibuat ayah atau ibu akan menjadi kenangan yang terus mereka bawa hingga besar nanti.

Hal yang perlu diperhatikan, anak tidak hanya butuh ayah, namun juga ibu. Sebagaimana pepatah Arab, al-umm madrasatun, ibu adalah sekolah bagi anak. Maka, ayah kepala sekolahnya. Ayahlah yang bertanggung jawab agar ‘sekolah’ tersebut berjalan dengan baik dengan menyediakan sarana dan prasarana, mengambil peran, serta membuat instrumen evaluasi. Sedangkan ibu menjadi sumber ilmu, hikmah, dan inspirasi bagi anak dalam proses tumbuh dan berkembang.

Jika masing-masing fungsi tersebut tidak dijalankan dengan baik, pengasuhan anak akan menjadi ‘pincang’. Minimnya keterlibatan ayah, membuat anak cenderung penakut dan lambat mengambil keputusan. Sementara jika peran ibu yang hilang dalam rumah tangga, anak cenderung mengedepankan logika, tapi tidak memiliki kepekaan.


ummi online


“Waktunya mandi, Nak…” kata seorang ibu. Ia sudah menyiapkan keperluannya; ember besar, air hangat, sampo, sabun, dan handuk.


Anak yang dipanggilnya, usianya sudah lima tahun. Malah terlihat makin asyik di depan televisi. Ia mendengar suara ibunya, namun tak menyahut. Pura-pura tak mendengar.

“Adek… ini airnya sudah siap…” panggil ibunya sekali lagi.

Si anak bergeming. Ia khusyuk menonton film kartun yang diputar pada jam sore. Film yang ia tonton memang film kesukaanya. Dan banyak anak-anak lain seusianya. Bahkan kaos yang ia pakai bergambar tokoh. Tas. Hingga buku gambar dan mewarnai.

Ibunya berjalan dari kamar mandi. Langkahnya cepat.

“Kok dipanggil gak dengar sih, Dek..? Ayo sudah waktunya mandi,” kata si ibu sambil mendengus.

“Nantiiii….,” kata si anak tanpa menoleh pada ibunya.

“Sekarang, udah jam berapa ini?”

“Tapi filmnya belum habis. Mamah berisik ih..” jawabnya.

Wajah ibunya merah. Ia marah.

***

Bunda bisa jadi akan mendapati kejadian di atas. Karena pada masa pertumbuhan anak, pasti ada masa ketika anak-anak mulai membangkang dan membantah. Tidak menuruti perkataan orang tuanya. Walaupun itu hanya sekadar hal sederhana. Untuk mandi, misalnya.

Kalau tidak disikapi dengan baik, tak jarang hal itu membuat orang tua marah. Jengkel. Merasa perintahnya tak dituruti. Tak jarang, banyak ibu-ibu yang kemudian main bentak. Main cubit. Saat anak tidak patuh.

Bunda..

Sebenarnya menghadapi anak yang membangkang. Yang tak mendengar perintah Bunda, itu perlu cara khusus. Dan anak membangkang, ngeyel, atau tak mendengar perintah ini bisa terjadi pada usia kapan saja.

Bisa terjadi di usia balita. Usia prasekolah. Bahkan usia remaja dan dewasa.
Maka saat anak menunjukkan tanda-tanda suka ngeyel, jangan dibiarkan sikap itu. Karena hal itu bisa berdampak negatif bagi pertumbuhan karakter dan mentalnya.

Lantas bagaimana cara menghadapi anak yang suka membangkang ini?

Nah, ini yang penting. Saya coba bagikan informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber ya Bunda..

Pertama, sikapi dengan lembut, apalagi bila usia anak masih balita.
Anak yang ngeyel, akan makin ngeyel bila dikerasi. Apalagi bila orang tua malah marah-marah pada anak. Perilaku marah orang tua ini bisa ditiru dan dijadikan pola bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya.

Seperti saya kutip dari berbagai literatur, maka “cara bijaksana yang bisa dilakukan adalah jangan mudah terpancing emosi oleh penolakan anak. Berikan penjelasan dengan lemah lembut dan tidak mudah mengumbar kemarahan.”

Kedua, selalu berikan pilihan.
Jangan mendikte anak terus menerus. Paling tepat adalah memberikan perintah dengan gaya mengajak. Atau bisa juga dengan bertanya.

Misalnya begini, “Mau mandi jam empat atau jam setengah lima, Nak?” Begitu bisa. Kreatiflah dalam membujuk anak, jangan “sak-klek” terus-terusan.

Ketiga, Menghargai perilaku positif

Nah, Bunda harus fair ya. Bila anak menunjukkan perbuatan baik, maka berikan pujian pada anak seperlunya.

Keempat, komunikasi aktif.

Ini saya dapatkan dari situs parenting, bahwa “Sikap membangkang anak bisa direndam dengan selalu mengajaknya berkomunikasi aktif. Ajukan setiap peraturan dengan disertai penjelasan. Komunikasi semacam itu akan menyurutkan sikap membangkang anak karena ia paham akan konsekuensi bila ia tak melakukan peraturan itu.”

Kelima, konsisten terhadap aturan yang telah dibuat.

Terapkan peraturan dengan jelas dan menetap, misalnya kalau sudah ditentukan tidur jam 8 malam, patuhi jadwal tersebut dari hari ke hari. Jelaskan apa dampak atau risikonya kalau tidur larut malam. Menerapkan aturan yang konsisten juga melatih anak agar tahu bahwa hidup tak bisa diatur semau-maunya sendiri.

Terakhir, cobalah intropeksi.

Coba dilihat kembali bagaimana selama ini orang tua bersikap pada anak. Jangan-jangan perilaku anak hanya meniru orang tua. Jangan-jangan selama ini kita lebih banyak membentak anak, mendikte, marah-marah pada anak. Intropeksi diri bisa membuat kita lebih memahami diri kita sebagai orang tua.

Nah, kesimpulan yang bisa diambil adalah komunikasi antara orangtua dan anak serta saling mau mendengar adalah poin penting dalam mendidik dan mengajarkan anak. Pembangunan karakter dan mental yang kuat, pasti akan berbuah bagi kehidupan dan kesuksesan anak kelak.

Begitu bunda bila anak ngeyel dan suka membantah. Bila perilaku itu ada dalam diri anak, segera lakukan penanganan sejak dini yaa.. Sebelum terlambat.

Happy parenting yaa… ^_^

Jangan Biarkan TV mencuri kebersamaan Ananda bersama Ayah Bunda

Inilah Beberapa Keuntungan Rumah Tanpa TV 

TV memang bisa menjadi sarana pembelajaran, tapi TV juga bisa menjadi sumber 'masalah' dalam keluarga, terutama bagi yang tak dapat mengontrol penggunaan TV bahkan 24 jam terus menyetel tayangan TV. Bagi yang berani memutuskan rumah tanpa TV, berikut ini beberapa hal positif yang bisa dirasakan:

1. Waktu bersama keluarga lebih hangat

Jika ada TV, banyak anggota keluarga yang melakukan segala aktivitas sambil menonton. Akan tetapi jika TV dimatikan, misalnya saat makan bersama keluarga, rasakanlah perbedaannya. Tiap anggota keluarga bisa lebih aktif terlibat pembicaraan dan saling interaksi.

2. Anak lebih kreatif

Jika tak ada TV, orangtua sebaiknya memberi pilihan hiburan lainnya untuk anak, misalnya saja permainan lego, buku gambar dan peralatan melukis, buku-buku cerita, alat sulam, dan lain sebagainya yang bisa merangsang anak berkreativitas lebih banyak daripada sekadar pasif mematung di depan TV.

3. Terbebas dari berita negatif dan gosip infotainment yang kurang bermanfaat

Hampir setiap stasiun TV memiliki program infotainment, dan kebanyakan hanya berisi iklan terselubung atau gosip yang kurang bermanfaat untuk dikonsumsi publik. Oleh sebab itu jika tak ada TV di rumah, keluarga dan anak-anak kita terbebas dari tayangan negatif yang kurang mendidik, apalagi banyak berita kriminal yang disajikan secara 'vulgar' yang juga tak layak jadi tontonan anak.

4. Lebih fokus ibadah


Waktu untuk menonton TV diarahkan untuk hal lain yang lebih membawa pahala atau kemaslahatan, misalnya bersilaturahim ke keluarga dekat, atau menghafal quran, dan ibadah lainnya yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang.

Perlu diperhatikan bahwa seluruh anggota keluarga harus sama-sama bersepakat jika memang ingin meniadakan TV di rumah, semuanya perlu mengetahui manfaat yang bisa diperoleh jika tak ada TV, atau sebelumnya lakukan percobaan dengan hanya memperbolehkan TV hidup 2 jam dalam sehari. Juga perlu diingat bahwa tidak ada TV sebaiknya diimbangi juga dengan menyerap informasi penting dari media lainnya seperti surat kabar atau majalah, agar keluarga tidak kudet (kurang update) dengan info yang terjadi di masyarakat saat ini. 

Selamat mencoba!

ummionline

Anak-Anak Sholih Sholihah SDIT Bina Amal 

Banyak orang tua yang mengeluhkan betapa sulit mengasuh anak di masa sekarang ini. Apalagi jika tidak sekedar ingin mendapatkan anak yang pintar, tetapi juga shalih. Bukan saja sikap anak-anak sekarang yang memang lebih berani dan agak “sulit” di atur, tetapi juga tantangan globalisasi budaya, informasi dan teknologi yang turut andil dalam mewarnai sikap dan perilaku anak. Ibarat seperti membuat istana pasir di tepi pantai, begitu tersapu ombak maka akan hanyut hilang begitu saja. Apa yang sudah diupayakan orang tua rasanya sia-sia. Keadaan yang demikian tidak jarang kemudian menimbulkan stress. Repot, capai, dua hal ini yang sering terucap oleh para ibu ketika sudah merasa jenuh dengan anak-anak. Apalagi bila anak sudah cenderung bertindak semaunya. Tidak mau diatur, susah tidur, rewel, tidak mau makan, berantem dengan kakak adiknya, mengacak-acak apa saja yang ada di rumah, atau segala macam perilaku “menjengkelkan” anak-anak. Rumah yang sudah ditata rapi akan kembali bagaikan kapal pecah.

Stress merupakan reaksi tubuh pada seseorang akibat berbagai persoalan yang dihadapi. Masalah anak-anak merupakan salah satu persoalan yang dapat menimbulkan stress. Gejala-gejalanya mencakup mental, sosial dan fisik. Bisa berupa kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan. Stress akan merubah cara kerja sistem kekebalan tubuh, menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Banyak penelitian yang menemukan adanya kaitan sebab-akibat antara stress dengan penyakit, seperti jantung, gangguan pencernaan, darah tinggi, maag, alergi, dan beberapa penyakit lainnya. Oleh karenanya, perlu kesadaran penuh setiap orang untuk mempertahankan tidak hanya kesehatan dan keseimbangan fisik saja, tetapi juga psikisnya agar tidak mudah dihinggapi stess. 

Lalu bagaimana mengurangi tekanan agar dapat mengasuh anak tanpa stress?

1. Pahami Cara Pandang Islam Tentang Anak

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan kalian mengkhianati amanat-amanat kalian, sedang kalian mengetahui. Ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal: 27-28)

Anak adalah amanah sekaligus ujian dari Allah SWT. Sebagaimana amanah maka harus dididik dan diasuh dengan baik. Ujian yang diberikan lewat anak sangat beragam. Ketika ajaran Islam tentang anak dapat dipahami dengan baik, maka Insya Allah kita akan dapat mendidik dan mengasuh anak-anak dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

2. Kenali Potensi Anak

Allah SWT menciptakan manusia sekaligus dengan potensinya berupa akal, kebutuhan jasmani, dan naluri. Pada masa anak-anak ketiga potensi ini masih terus tumbuh dan berkembang. Disinilah perlunya bimbingan dan pengarahan. Ketidak mampuan orang tua dalam mengenali potensi anak dan penampakannya seringkali menimbulkan masalah. Karena sejatinya, permasalahan manusia termasuk anak-anak berkisar tentang pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri. Sebelum memasuki usia baligh akal anak masih belum sempurna, sehingga terkadang belum mampu menyelesaikan problemnya dengan pemahaman yang benar. Banyak orang tua (ibu) yang tidak mengenal dengan baik potensi-potensi anak. Tidak mampu membedakan antara kebutuhan jasmani dan naluri. Akibatnya, sering merasa kesulitan ketika harus menangani masalah perilaku anak.

Sebagai contoh, anak yang terus menerus menangis sering membuat ibunya kesal. Ketika anak menangis, hal pertama yang semestinya dilakukan adalah mencari tahu kenapa anak terus menangis. Bisa jadi lapar, sakit, ngantuk, haus, atau ingin digendong. Disinilah dibutuhkan analisa yang tepat. Anak yang menangis karena lapar, tidak bisa dihentikan tangisnya dengan gendongan, karena lapar merupakan kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi tidak bisa dialihkan. Anak lapar membutuhkan makan, bukan gendongan, maka saat itu juga anak harus segera diberi makan. Belajar mengenali potensi anak dapat dimulai dengan melakukan analisa-analisa kecil dari setiap masalah anak. Bagaimana mungkin penyelesaian masalah akan didapat kalau akar masalahnya sendiri tidak dikenali.

3. Pelajari Tumbuh Kembang Anak

Setiap anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya. Ketidak tahuaan orang tua tentang tumbuh kembang anak sesuai usia, bisa menimbulkan tekanan. Apalagi jika orang tua terlalu ambisius dalam menuntut hasil bukan proses. Pendidikan dan pengasuhan yang baik harus dilakukan sesuai dengan usia anak. Pengetahuan tentang tumbuh kembang akan sangat membantu dalam melakukan penanganan terhadap masalah anak, sehingga tidak sempat stress karena salah memperlakukan anak. Anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, maka ibu harus siap dengan nasi yang tercecer dimana-mana. Karena anak usia 3 tahun tentu belum bisa terampil memakai sendok atau memasukkan makanan tepat di mulutnya. Atau ia ingin mengambil minum memakai wadah gelas kaca, karena dia sering melihat ibunya minum dengan gelas seperti itu. Biarkan saja, sampaikan dengan lembut untuk memegangnya dengan hati-hati dan awasi dari jauh. Banyak ibu yang tidak memahami masalah ini, dan tidak jarang pula yang menimbulkan stress. Padahal sesungguhnya dengan mencoba-coba, anak sedang melakukan proses belajar.

4. Kerjasama

Mengasuh dan mendidik anak memang tugas utama ibu, tapi diperlukan juga kerjasama untuk meringankan tugasnya. Sekali waktu suami membantu atau menghendel pekerjaan rumah dan anak-anak dengan mengajak orang-orang terdekat yang bisa diminta bantuannya. Luangkan waktu khusus bersama suami untuk membicarakan persoalan anak-anak dan mencari solusinya, terutama yang sekiranya bisa menimbulkan stress. Mempekerjakan pembantu rumah tangga juga akan sangat membantu meringankan pekerjaan rutin. Sehingga ibu bisa punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak. Tetapi jika tidak, cobalah untuk bekerja efektif dan efisien dengan manajemen waktu yang baik. Banyak ibu yang merasa sangat capai dengan pekerjaan rumah tangga hanya karena sebenarnya tidak pandai mengatur waktu. Jika mempunyai anak yang relatif lebih besar, dapat ditanamkan pengertian pada mereka untuk ikut membantu mengelola tugas rumah tangga sehari-hari. Ajarkan prinsip kerja sama dan tanggung jawab sejak dini pada anak, agar ia terbiasa bersikap mandiri, berinisiatif dan dapat diandalkan.

5. Jauhkan Anak Dari Situasi yang Menekan

Anak rewel terkadang hanya karena merasa tidak nyaman. Maka perlu diperhatikan saat-saat anak mengalami kelelahan. Kapan dia harus makan dan beristirahat. Ketika merasa tidak nyaman, capai, lelah, ngantuk, lapar maka gampang sekali anak menimbulkan masalah.

6. Cari teman Untuk Berbagi

Teman merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Bayangkan jika banyak sekali masalah yang dihadapi, tetapi tidak ada teman curhat yang dapat dipercaya. Ibarat gelas jika diisi air terus menerus, maka akan tumpah luber kemana-mana. Pastikan bahwa teman yang dipilih benar-benar yang bisa membantu bukan teman yang justru akan menambah masalah baru. Mengunjungi atau berbagi pengalaman dengan para ibu yang sukses dalam melakukan pengasuhan terhadap anak-anak akan sangat membantu. Suami tentu saja diharapkan dapat menjadi teman (sahabat) terbaik buat isteri untuk menumpahkan segala masalahnya termasuk urusan anak-anak. Insya Allah curhat dengan suami rahasia akan lebih terjaga. .

7. Sabar

Sabar merupakan cara mengatasi stress yang paling jitu. Jika tidak dengan kesabaran, bagaimana mungkin akan sanggup menghadapi setiap masalah anak-anak dengan baik dari sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Sabar disertai dengan niatan ikhlas hanya semata-mata untuk mencari ridlo Allah SWT akan menjadi energi yang luar biasa dalam menjalani kehidupan. Maka seberat apapun beban dan ujian yang diberikan lewat anak-anak Insya Allah akan dapat dihadapi dengan ringan.

8. Tawakal dan Doa

Tak ada masalah yang tidak ada penyeselesaian. Begitu pula dengan persoalan anak-anak. Bertawakallah kepada Allah, maka akan diberi jalan yang kadang di luar perkiraan. Saat sudah merasa sangat tertekan dengan persoalan anak-anak, rasanya sudah tidak ada jalan keluar, tanpa diduga terjadi perubahan yang luar biasa pada anak-anak kita. Kepasrahan puncak kepada Allah perlahan akan meringankan beban dan tidak menimbulkan stress. Berdoalah selalu minta bantuan Allah SWT dalam menyelesaikan masalah anak-anak. Kadang kita sudah berusaha optimal untuk memperlakukan dan memberikan yang terbaik. Tetapi sejatinya hanya Allah jualah yang membukakan mata, hati dan pikiran anak-anak kita untuk mau mengerti seperti yang kita inginkan. Sebutkan namanya satu persatu ketika mendoakan mereka. Mintalah jalan kepada Allah sesuai dengan apa yang kita inginkan untuk masing-masing anak. Doa akan memberikan kekuatan ketika kita menghadapi anak-anak dan permasalahannya. Karena hanya Allah jualah yang paling mengerti apa yang terbaik untuk anak-anak kita. Doa akan menguatkan kita dalam menghadapi masalah seberat apapun.



Anak-Anak SDIT Bina Amal

Bunda.. Tentu kita menginginkan anak yang percaya diri, tidak pemalu, dan membanggakan. Setiap orang tua pastinya tak ingin anaknya disakiti orang lain. Ia ingin anaknya tumbuh dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tangguh.

Apakah Bunda ingin anaknya begitu..? Tentu saja. Saya juga kok.. ^_^

Tapi kebanyakan para orang tua banyak yang “salah jalan.” Dikiranya membangun mental anak yang penuh percaya diri itu sulit, padahal amatlah mudah.

Dikiranya mendidik anak tangguh itu harus dengan memaksa anak untuk ikut lomba sana sini, harus dipaksa tampil di depan gemerlap cahaya panggung, harus diperhatikan oleh sorot mata orang-orang banyak. Padahal bukan sekadar dengan cara itu.

Ukurannya jadi; kalau banyak deretan piala maka makin berharga seorang anak.

Salahkah..? Tentu saja tidak salah anak berprestasi dan punya piala yang banyak. Kita juga menginginkan hal itu. Yang kurang tepat adalah bila orang tua memaksa anak untuk itu hanya demi mendidik anak yang penuh percaya diri, dan melupakan pondasi yang sebenarnya lebih penting.

Mendidik anak percaya diri itu sangatlah mudah. Ya, benar. Bunda tidak salah baca. Sangat mudah! Tapi kadang kala kita sebagai orang tua tidak menyadarinya. Kadang malah lupa. Kadang malah terlanjur, dan akhirnya menyesal.

Dan hal itu bisa dimulai dari orang tuanya lho Bunda…

Kepercayaan dan kebanggaan diri itu dibangun oleh pengasuhan sehari-hari, lewat pemilihan kata-kata orang tua dan sekitanya. Maksudnya juga bukan anak harus sibuk dipuji dan dipuja, tapi kata-kata yang tidak menjatuhkan, mengancam dan menghakimilah yang merupakan pondasinya.
Ya. Jadi sesimpel itu bukan Bunda..?

Setiap kata-kata yang keluar dari mulut orang tua, lanjut Sarra Risman, adalah batu bata yang menentukan apakah bangunan tersebut akan rubuh hanya karena angin saja atau kuat melewati goncangan gempa.

Sayangnya ya Bunda.. kebanyakan dari kita suka tidak sadar. Saat emosi meletup melihat tingkah anak, yang kurang nurut, yang rewel, yang kadang kala menyebalkan, tiba-tiba saja keluar ucapan-ucapan yang justru bisa menghalangi anak untuk tumbuh percaya diri.

Anak gak mau makan saja, banyak orang tua yang jadi emosi. Malah membentak anak. Memaksanya. Mengancam anak.

Andaikan setiap ibu sadar, maka mungkin akan lebih banyak ibu yang diam, menahan emosi pada anak, daripada meluapkannya saat itu juga.

Sumber untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada anak adalah dari kata-kata, maka baiknya kita lebih sabar. Lebih pandai mengelola emosi. Karena anak usia balita belum mampu melakukannya. Kita yang harus dituntut untuk lebih cerdas dan kreatif.

Kata-kata, kata sebuah ungkapan, lebih tajam daripada pedang. Apalagi di hati anak yang masih rapuh. Maka jangan hancurkan hati anak itu dengan kata-kata kasar, menghakimi, mengancam dan menjatuhkan.

Tidak mesti harus selalu dengan puja puji, karena anak yang terlalu banyak dipuji juga bisa tumbuh menjadi anak yang rapuh jiwanya. Tapi pilihlah kata yang terbaik.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat dari Rebbecca Eanes, bahwa “Kata-kata Adan menabur benih di hati anak-anak Anda. Dari benih tersebut, bermunculan kepercayaan diri atau ketidakpastian, martabat atau aib, rasa layak atau ketidakberhargaan. Kata-kata Anda membangun awal dari kisah hidup mereka, dan mereka akan membawa cerita ini pada dirinya selamanya.”


tuturma

Bismillahirrahmaanirrahim. Rasul saw adalah contoh suri tauladan kita dalam setiap urusan kehidupan, termasuk dalam hal mendidik dan berinteraksi dengan anak anak .

Suatu kali beliau bertemu dengan sekelompok anak yang sedang bermain semacam jual beli dengan sesama. Saat melintasi mereka, beliau lantas berdoa dengan tulus: Semoga Allah memberkahi daganganmu . Lihatlah, meski hanya permainan, tapi Rasul saw benar benar mendoakan aktivitas anak-anak, karena memang dunia anak adalah dunia belajar sambal bermain, bermain sambal belajar.

Filosofi semacam ini harus dipahami oleh para orang tua dan pendidik pada umumnya.

Memposisikan anak sesuai dengan kondisi perkembangan perilakunya. Memperhatikan kebutuhan dan kecenderungan minat keahliannya. Mencermati perilaku keseharian dan perubahan kecil yang mungkin terjadi. Ini semua penting, agar orang tua bisa mengambil sikap yang tepat , baik cara ataupun waktunya, jika ada hal hal kurang menyenangkan yang terjadi pada anak.

Mendekatkan diri kepada anak dengan cara bermain bersamanya sesuai usia anak, adalah salah satu cara yang cukup efektif.

Misalnya ajak anak kita yang masih usia TK atau kelas 1 SD untuk bersama bermain congklak dengan santai, asyik memindahkan mata batu congklak dari lubang satu ke lubang lainnya, demikian dilakukan secara akrab dan menyenangkan. Kesempatan ini bisa digunakan oleh orang tua untuk berbincang segala hal dengan anak, menanyakan teman temannya di sekolah, siapa temannya yang paling dia suka, menanyakan pendapat anak tentang makanan yang disukainya, meminta pendapat anak tentang sikap kita sebagai orang tua, apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka, termasuk mengecek kesehatannya, mengasah keterampilannya dalam berhitung melalui biji congklak, memastikan dan menuntun akan kejujuran sikap , serta sportifitas dan kesiapan mental untuk menang dan kalah. Ini semua sangat penting bagi kehidupan, bagi pembentukan sikap dan perilaku anak di masa depan, dan membuat hubungan dan komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak.

Di tengah maraknya jenis permainan dan game online yang cenderung membuat anak menjadi individualis, kita perlu menata ulang interaksi dengan anak, memperkenalkan kembali permainan permainan tradisional yang membentuk sikap mampu bersosialisasi dengan baik. Hal ini bukan berarti anak tidak boleh sama sekali berinteraksi dengan dunia online, tapi orang tua perlu bijak cermat memberikan permainan pada anak.

Orang tua tidak boleh meremehkan kesempatan bermain bersama anak.

Manfaatkan waktu kebersamaan dengan anak untuk mendekatkan hubungan dan menjalin komunikasi efektif dengannya, Jadikan hari hari anak adalah hari-hari yang penuh makna. Belajar dari kehidupan, belajar dari pengalaman, belajar dari keteladanan orang tua dan orang dewasa di sekitarnya, belajar dari kegagalan dan kesusksesan, belajar memaknai semua yang terjadi dalam kehidupan dirinya, dan kehidupan orang orang di sekitarnya.

Kemampuan mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap hal, inilah salah satu yang harus kita ajarkan kepada anak anak kita. Rabbana Hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatinaa qurrota ayun wajalanaa lilmuttaqiina imaama. Aamin. Wallahu alam bishowwab.

dakwatuna


Membersamai anak....
Bunda terkadang kita sibuk dengan pekerjaan atau kesenangan pribadi, sementara ada hak anak yang harus dipenuhi, salah satunya adalah perhatian dalam bentuk menemani mereka belajar. Ketahuilah, ada beberapa manfaat luar biasa yang didapat dari kegiatan rutin ini, antara lain:

1. Menumbuhkan rasa emosional yang hangat antara orangtua dan anak

Menemani anak belajar membuat kepekaan dan rasa empati antara anak dengan orangtua menjadi lebih dalam.

2. Menumbuhkan kecerdasan bagi orangtua


Orangtua yang menemani putra-putrinya belajar pasti akan dituntut untuk ikut belajar memahami soal yang dikerjakan buah hatinya. Disela mengerjakan soal biasanya sang anak menanyakan beberapa pertanyaan yang sulit diterima olehnya, maka dari mencoba mengingat pelajaran yang sudah pernah kita lalui saat masih sekolah dapat mengasah kembali ilmu pengetahuan serta menumbuhkan kecerdasan serta wawasan orangtua.

3. Mengetahui kelemahan dan kelebihan anak


Terbiasa menemani anak belajar akan membuat orangtua mudah menangkap kelemahan dan kelebihan anak. Misalnya sang anak lemah dalam urusan matematika atau berhitung, tetapi ia mahir dalam menggambar.

4. Menjaga mood anak tetap baik


Anak-anak yang sering belajar bersama orangtuanya akan memiliki mood yang baik, bahkan sampai ia akan tidur dan setelah bangun tidur. Mood yang baik dapat meningkatkan semangat anak bersekolah di pagi harinya.

5. Mengarahkan anak

Saat belajar bersama, orangtua dapat mengarahkan hal-hal bersifat positif pada anak karena biasanya pada beberapa kesempatan sang anak berceloteh tentang kesehariannya di sekolah, menceritakan kenakalan temannya, dan sejenisnya. Saat itulah orangtua dapat memberikan arahan yang baik bagaimana anak harus menghadapi hari-hari mereka.

6. Mengurangi kenakalan negatif pada anak


Hampir semua anak yang sering belajar serta bermain bersama orangtua mereka, memiliki sifat yang lebih hangat, ceria, tidak banyak membuat ulah, serta lebih mudah dinasehati. Hal-hal seperti itu dapat mengurangi kenakalan dini pada anak-anak yang bersifat negatif karena pada dasarnya anak-anak sangat aktif sehingga terkadang kita mendefinisikan mereka nakal.

Ayah..Bunda...yuk atur ulang jadwal kita...mulailah untuk mengutamakan kebersamaan bersama ananda. Hari ini kita menemani mereka...Insyaallah mereka yang akan menemani kita di hari tua nanti. Insyaallah mereka yang akan mendoakan kita, menolong kita di akhirat kelak. Amiin



Berdoalah untuk anak-anak kita. Doakanlah mereka, lalu perhatikan keajaiban yang akan terjadi.


“Anakmu pintar sekali ya. Masih kecil tapi rajin ke masjid ikut shalat jamaah. Antum mengajaknya tiap hari?” kata seorang ikhwan kepada temannya sesama kader dakwah.
“Alhamdulillah, dia berangkat sendiri tanpa disuruh.”
“Hebat. Gimana tipsnya?”
“Wallahu a’lam. Ana nggak merasa ada tips khusus. Hanya saja, sejak sebelum menikah aku selalu berdoa: Rabbij’alni muqimash shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du’a’.”

Masya Allah… Doa yang dimaksud ikhwan tersebut adalah

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ


“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dan anak cucu kami orang-orang yang tetap mendirikan sholata. Ya Tuhan kami, perkenankan doa kami.” (Q.S. Ibrahim: 40)

“Alkisah dulu waktu masih SMA, ia jarang pulang. Ikut genk yang nggak jelas. Shalatnya juga malas,” seorang ibu bercerita tentang anaknya yang kini telah menikah, “Lalu aku berdoa setiap selesai shalat fardhu dan shalat malam. Agar ia jadi anak yang shalih”

Setelah sekian lama mendawamkan doa, keajaiban mulai terlihat.

“Dini hari itu, setelah tahajud dan berdoa aku tertidur,” lanjut ibu itu, “aku bermimpi tubuh anakku dipenuhi ulat. Lalu aku mengambilnya satu per satu.”

Tak lama setelah mimpi itu, sang anak perlahan berubah. Sedikit demi sedikit ia menjaga jarak dengan genk-nya. Jika tak ada perlu ia berada di rumah, belajar. Di bangku kuliah, akhlaknya kian membaik, shalat lima waktu dipenuhinya dan ia meraih 10 besar IPK di fakultasnya.

***

Kadang sebagai orang tua kita melupakan senjata utama; doa. Kita lupa, di saat ada masalah dengan anak kita, di saat mereka jauh dari harapan kita, kita melupakan doa. Bukankah anak-anak kita sesungguhnya adalah milik Allah? Bukankah yang menggenggam hati mereka adalah Allah? Dan bukankah yang kuasa untuk mengubah dan memperbaiki mereka adalah Allah? Lalu mengapa kita tidak berdoa dan berdoa memohon kepada-Nya?

Ud’uunii astajib lakum. Allah sudah berfirman, berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan. Maka jika kita ingin akan kita shalih, anak kita taat, anak kita dekat dengan Allah, jalan utamanya adalah berdoa. Mintalah kepada Allah. Siapapun mukmin yang berdoa kepada Allah, Dia akan mengabulkannya. Apalagi jika yang berdoa adalah orang tua dan yang didoakan adalah anaknya.

Dalam sejumlah hadits, Rasulullah menegaskan bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang akan dikabulkan. Doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Azza wa Jalla.

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud; hasan)

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi; shahih)

Maka mulai malam ini, berdoalah untuk anak-anak kita. Doakanlah mereka, lalu perhatikan keajaiban yang akan terjadi. [Muchlisin BK/bersamadakwah]



Membelikan anak buku yang di sukai

Saat penerimaan rapor adalah hari curhat bagi yang menjadi guru di sebuah. Bermacam keluhan dilontarkan orangtua, mulai dari anaknya yang belum bisa membaca padahal sudah mengikuti les tambahan, anak yang justru mengajak adu mulut saat diminta belajar, hingga orangtua yang membandingkan anaknya dengan dirinya di masa lalu. “Padahal saya dulu selalu mendapat rangking 3 besar di kelas lho, Ustadzah. Kenapa ya, anak saya seperti ini?” keluh si ibu.

Setiap anak dibekali potensi kebaikan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat anak belum bisa menulis dan membaca dengan lancar orangtua harus memahami bahwa segalanya berproses. Orangtua atau guru harus benar-benar sabar dengan terus berusaha menemukan cara kreatif agar anak bisa melalui proses itu.

Saat masuk SD, anak yang belum lancar membaca tentunyam menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sebagian orang tua. Belum bisa membaca tentu jadi penghalang anak memahami pelajaran. Dan berbagai cara biasanya dilakukan,ada yang mencoba mengajak anak membaca modul buku pintar membaca, ikut les dan lain-lain. Tetapi terkadang ada anak yang ogah-ogahan dengan berbagai alasan. Ya capeklah, mengantuk, bosan, dan lain-lain.

Membelikan buku yang anak sukai

Salah satu cara merangsang anak untuk membaca adalah dengan membelikan buku yang di sukai atau buku cerita bergambar. Atau ajak si kecil ke toko buku. Kemudian ajak dia memilih 2-3 buku yang minim tulisan dan banyak gambarnya.

Setiap Maghrib usai mengaji, ajak si kecil untuk membaca buku-buku tersebut bersama. InsyaAllah karena seringnya diulang, nanti si kecil akan mengenal huruf dan hafal isi buku tersebut. Dan kemampuan membacanya akan meningkat drastis

Membelikan Buku diary

Lain membaca, lain pula menulis. Karena belum lancar membaca, si kecil juga terhambat menulis. Belikanlah ananda buku diary dengan gambar-gambar kesukaannya. Setiap hari ajak menulis dua tiga kalimat. Lama-lama,tanpa disuruh, ananda akan menulis sendiri diary-nya. Kosakatanya pun bertambah.

Kita harus menghargai sebuah proses. Dahulu, untuk bisa membaca dan menulis, kita butuh waktu juga, kan? Bersabarlah dengan proses itu. Dampingi anak-anak melewatinya tanpa menekan, mengancam, apalagi membanding-bandingkan. Dan yang terpenting adalah keistiqamahan serta doa bunda untuk buah hati tercinta.

ummionline

Ilustrasi Rapor


Dulu, saat pembagian rapor, adalah hari yang mendebarkan untuk orang tua. Beberapa hal yang terkadang membuat cemas adalah mengenai bagaimana nilainya, apakah ada tinta merah tergores atau tidak, meraih peringkat berapa di kelas. Dan setelah pembagian rapor semua yang dicemaskan hilang, maka sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. namun apabila ada satu pelajaran saja yang tidak memuaskan, biasanya anak-anak, akan dijejalkan les ini dan itu untuk mendongkrak nilai.

Dulu, penilaian anak selama satu tahun pelajaran hanya tercermin dalam sebuah buku tipis bernama rapor. Angka-angka yang tertulis dianggap cukup untuk mewakili 'perkembangan' anak dalam satu tahun pelajaran tersebut. Dulu, mata pelajaran yang paling disorot adalah pelajaran-pelajaran teori kelas atas, bukan pelajaran semisal olahraga, kesenian, ataupun keterampilan. Dulu nilai pelajaran agama dianggap mewakili karakter anak, apakah sudah baik atau belum. Dulu pelajaran IPA, matematika, bahasa Inggris dianggap pelajaran yang mewakili kecerdasan anak. Dulu tiap anak diberikan peringkat satu sampai terakhir sesuai jumlah murid, untuk menunjukkan bahwa si A peringkat pertama adalah terpandai di kelas, dan si B peringkat terakhir adalah tertidak pandai di kelas.

Alhamdulillah saat ini ada perbaikan dalam penilaian rapor . Jika dulu rapor yang dibagikan hanya nilai, saat ini anak-anak mendapat tiga jenis rapor, yaitu rapor nilai, rapor narasi, dan rapor Al Quran. Rapot nilai untuk menuliskan nilai yang dicapai tiap mata pelajaran. Yang kedua rapor narasi berisi daftar perilaku atau karakter anak selama semester berjalan, yang masing-masing diberi indikator dari 'belum muncul' sampai 'mandiri'. Yang ketiga adalah rapor Al Quran, yang berisi penilaian terhadap pelajaran membaca Al Quran  dan hafalan suratnya.

Selain jumlah rapor yang dibagikan, orientasi orang tua dan guru pun sama saat bertemu mendiskusikan rapor, yaitu mencari kelebihan anak, mendiskusikan kekurangan anak untuk dicarikan solusi, dan mengevaluasi perkembangan anak dari awal hingga akhir tahun pelajaran. Sebagai orang tua tentu saja senang, karena ini adalah dialog untuk perbaikan terus menerus untuk kedua belah pihak, baik untuk sekolah, maupun untuk anak-anak. Tidak membicarakan si A peringkat pertama sehingga anak yang lain harus meningkatkan belajarnya, Anak-anak hanya dibandingkan dengan dirinya, antar awal tahun pelajaran sampai akhir tahun pelajaran. Dan ini sungguh adil. Karena tiap anak memiliki kecerdasan masing-masing. Dan setiap anak memiliki kebutuhan yang sama untuk dikembangkan perilaku dan karakter yang baik.

Semoga rapor tidak dijadikan satu-satunya acuan untuk menggambarkan milestone perkembangan anak. Karena sejatinya setiap hari pasti ada kemajuan dan perkembangan yang dicapai anak-anak kita

ummi online

Si Kecil, Peniru Hebat

Anak-anak adalah peniru terhebat sepanjang masa. Tidak perlu waktu lama sekali, lihat atau dengar pasti akan segera ditiru.

Sebagai orang tua pasti tidak ingin buah hati kita jadi orang yang gagal. Kita selalu ingin supaya buah hati kita jadi orang hebat yang sukses dalam segala hal. Bahkan sejak dini si kecil sudah 'dijejali' dengan berbagai kemampuan yang sebenarnya hal tersebut belum waktunya atau terkesan dipaksakan. Apakah ini benar? 

Sejatinya otak anak di masa emas mampu menampung beribu informasi. Hanya saja kemampuan anak untuk mengembalikannya masih terbatas. Lalu apakah benar jika kita sebagai orang tua terus 'memasukkan' informasi ke dalam otak anak secara berlebihan? Sesuatu yang berlebih pasti berdampak buruk. Sekalipun itu sesuatu yang baik. Sebenarnya yang dibutuhkan si kecil adalah kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya. Sebanyak apapun informasi yang 'dimasukkan' jika tanpa adanya kasih sayang hal ini tidak akan berhasil.

Ingin si kecil jadi anak yang pintar? Cobalah ajarkan dengan cinta juga kasih. Ajarkan sambil bermain agar si kecil nyaman dan mampu menyerap informasi dengan sempurna. Tanamkan akhlak yang baik agar si kecil tumbuh jadi manusia yang berakhlak baik. Jangan lupa untuk ajarkan pendidikan agama sejak dini agar iman si kecil kuat tak tergoyahkan. Ajarkan sesuai dengan usia dan kemampuannya, jangan memaksakan kehendak jika si kecil mulai terlihat jenuh atau perhatiannya teralihkan dengan mainan yang lain. Biarkan si kecil bermain lalu jika sudah siap ajak kembali si kecil belajar. 

Yang paling penting orang tua harus memberikan contoh kepada si kecil bagaimana bersikap yang baik karna si kecil adalah peniru terhebat. Jika memberikan contoh yang baik pasti si kecil akan menjadi manusia sesuai dengan harapan kita.

Semoga menjadi inspirasi untuk semua.

ummionline

Anak Sholih/sholihah berawal dari keteladanan orang tua

Anak adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada para orang tua. Pemberian anugerah ini tentu disertai tanggung-jawab dalam merawat dan membimbing mereka untuk menjadi manusia yang memahami akan dirinya dan Penciptanya. Peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan akhlak dan karakter anak. Namun, hal yang sering terjadi adalah orang tua menyerahkan tanggung-jawab ini sepenuhnya kepada pihak sekolah. Orang tua berharap anaknya menjadi anak yang baik sepulang mereka menimba ilmu disana.

Sesungguhnya, anak bukanlah pakaian kotor yang diantar ke tempat pencucian ellite (laundry) yang diantar kotor-kotor lalu diterima kembali dalam keadaan sudah bersih, rapi dan wangi. Bukan. Memang benar, sekolah adalah tempat menambah pengetahuan, keterampilan, pendidikan dan tempat awal mula bersosialisasi. Meskipun begitu, tidak menjadikan orang tua berlepas diri dari tanggung-jawabnya menjadi hamba yang Allah titipkan amanah tersebut. Karakter sesungguhnya pertama kali terbentuk di rumah. Kewajiban orang tua lah membentuk karakter tersebut sejak usia dini.

Sikap dan tingkah laku anak adalah cerminan pola asuh orang tua di rumah. Hakikatnya, setiap orang tua hanyalah manusia biasa yang juga tidak selamanya selalu benar dalam ucapan maupun tindakan. Hal inilah yang semestinya disadari oleh kedua pihak, Ayah dan Bunda. Keinginan yang tak selalu sejalan dengan kemauan sang anak, kerap menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik antara orang tua dan anak. Kenyataan untuk bisa menjadi orang tua yang baik, bijaksana dan teladan bagi anaknya memang tak selalu menjadi hal yang mudah untuk diwujudkan karena jika salah atau tergelincir sedikit saja, bukan efek positif yang didapat akan tetapi justru sebaliknya. Orang tua merupakan sosok yang semestinya menjadi panutan dan dihormati bagi anaknya, bukan menjadi sosok yang menakutkan dan harus ditakuti. Hal ini tentu memerlukan kesadaran dalam berpikir dengan proses yang tidak sebentar.

Lantas bagaimana caranya untuk menjadi sosok orang tua yang baik, bijaksana dan panutan bagi anaknya? Perlu rasanya kita galakkan pola hidup sakinnah mawaddah warrahmah dalam tuntunan Al Qur’an dan sunnah Rasulillah s.a.w, sebagaimana yang telah beliau contohkan dalam kehidupan berkeluarganya. Berikut beberapa tips bagaimana menjadi orang tua teladan bagi anak-anak :

1. Spiritual Orang Tua Teladan
Disebut juga spiritual parenting yaitu orang tua yang selalu berusaha melingkupi rumah tangga dengan suasana Illahiyah-menghidupkan lentera islam dalam rumah tangga-begitu lebih tepatnya. Mengerjakan perintah-Nya dengan penuh kehambaan dan berkesinambungan, menjauhi larangan-Nya dengan kesadaran penuh takut dan tunduk, menghidupkan sunnah Rasulullah dalam setiap aktivitas berkehidupan baik di dalam rumah maupun aktivtas di luar rumah. Mengajarkan dan mengajak anak-anak untuk mengamalkan doa-doa amalan harian; seperti doa masuk dan keluar kamar mandi, doa hendak dan bangun tidur, doa akan dan setelah makan, doa bercermin, doa masuk dan keluar rumah, doa berkendaraan, dll.

Apakah kita lebih sering menonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?

Tidak peduli benar atau salah, setiap yang lahir dari kebiasaan orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya. Maka, perbanyaklah melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat membangun kekuatan spiritual anak sebab orang tua adalah ‘model’ bagi anaknya.

2. Intelektual Orang Tua Teladan

Meskipun gen kecerdasan diwariskan dari Ibu, tidak menutup keharusan untuk Ayah memiliki kecerdasan intelektual dalam membina rumah tangga harmoni yang dicita-citakan. Senantiasa banyak belajar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan, bukan untuk konsumsi pribadinya sendiri, tetapi juga menjadi contoh bagi anak-anaknya di rumah bahwa orang tua mereka tidak berhenti belajar meski di usia yang sudah mulai menua.

Selain itu, sebagai muslim kita juga meyakini bahwa Islam adalah agama yang sangat mengutamakan kecerdasan intelektual dengan menyeru kepada ilmu. Dan bukanlah suatu kebetulan jika ayat petama yang diturunkan (QS. Al-‘Alaq ; 1-5) sebagai wahyu kepada Rasulullah saw adalah ayat tentang itu. Ayat ini berbicara tentang pengetahuan dan perangkat-perangkatnya seperti membaca, menulis (qalam), dan belajar.

Dan kita harus yakin bahwasanya orang yang meneliti dan berpengetahuan ikhlas kepada Allah dengan tinta yang dia gunakan untuk menulis itu lebih mulia daripada orang yang syahid di dalam medan peperangan. Hal itu telah dijelaskan dalam hadits Nabi Saw :
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu sebagai kerelaan apa yang dia buat dan bagi tinta yang mengalir dari pena ulama lebih baik dari pada darah orang-orang yang syahid di jalan Allah.” (Hadits Syarij)
Sebagian ulama telah mengaitkan hadits ini dengan perkataan mereka: Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa nilai tertinggi bagi orang yang mati syahid adalah darahnya, sedangkan nilai terendah bagi yang berilmu adalah tintanya.

Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda akan keutamaan menuntut ilmu, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu (syar’i), maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga.” (HR. Muslim no: 2699 dari Abi Hurairah)
Emosional Orang Tua Teladan

Hal yang perlu kita pahami dalam Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient/EQ) ini adalah keseluruhan kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan orang lain serta kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain. Kecerdasan emosional akan mempengaruhi beberapa hal dalam kehidupan kita, sehingga EQ merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia sebagai makhluk sosial.

Mereka yang memiliki EQ lebih baik, akan lebih mudah setuju dan sepakat dibandingkan individu yang lemah EQ-nya. Kecerdasan emosional yang rendah, masalah yang biasa terjadi berkisar pada permasalahan rumah tangga, problematika pengasuhan anak di rumah, penurunan prestasi dan jenjang karir hingga kesehatan fisik yang juga ikut menurun. Kecerdasan Emosional yang rendah juga dapat menyebabkan timbulnya stress dan depresi yang berkepanjangan, penyakit-penyakit hati, gangguan jiwa, serta kekerasan dan kejahatan-kejahatan mental dan fisik lainnya.

Mengingat pentingnya peningkatan kecerdasan emosional ini, maka perlu kiranya dilakukan tindakan pencerdasan se-dini mungkin, oleh orang tua kepada anak maupun orang tua itu sendiri. Dibutuhkannya peran orang tua dalam pembentukan kecerdasan EQ ini pada anak, agar masa depannya lebih terarah dan agar mereka dapat menjadi problem solver baik bagi permasalahannya sendiri maupun terhadap masalah-masalah yang dihadapinya dimanapun mereka berada. Konon, anak yang punya EQ tinggi memiliki kepribadian yang disukai, lebih mudah bergaul dan lebih sehat jasmaninya berkat kemampuannya mengontrol emosi.

Kecerdasan emosional dalam pribadi anak-anak tentu tidak dapat terbentuk dengan sendirinya secara spontanitas, melainkan pelatihan berkepanjangan dimulai dari diri Ayah dan Bunda di rumah sebagai figur yang selalu dicontoh oleh anak, masyarakat lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Beberapa hal yang dapat kita galakkan dalam mendidik kecerdasan emosional pada anak maupun dalam diri orang tua sendiri :

  • Mengajarkan tata krama dalam keseharian anak, seperti; bersyukur atas setiap apa yang dia miliki dan berterimakasih pada setiap orang yang sudah melakukan kebaikan kepadanya, memaafkan orang lain dengan penuh keikhlasan dan meminta maaf jika bersalah, berlaku jujur dan berani bertanggung-jawab atas setiap perbuatannya yang merugikan orang lain, mengajarkan kepada anak untuk mau peduli atas setiap kesulitan orang lain dan memberikan pertolongan semampunya, serta memberi salam kepada setiap orang yang dijumpai. 
  • Membangun dan mengembangkan rasa empati anak kepada siapa saja dan dari kalangan mana saja. Rasa empati ini dapat berlaku bagi siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa dan orang tua. Misalnya, ajarkan kepada anak untuk memenuhi hak-hak sesama seperti; menjenguk yang sedang sakit, memenuhi undangan, bermasyarakat dan bersedekah. 
  • Hal yang paling penting dalam pedidikan emosional ini adalah menciptakan hubungan yang harmonis dan komunikatif dengan anak, memberi pujian dan reward atas perkembangan-perkembangan positifnya, tidak serta merta menjadikan amarah sebagai transformasi bahasa didikan, karena pendekatan yang paling jitu dalam melangsungkan proses pendidikan karakter anak adalah dengan menyentuh hatinya, agar anak mau selalu terbuka dengan kita atas setiap permasalahan yang menimpa dirinya ataupun permasalahan yang ia temui di luar rumah untuk diambil hikmahnya dan agar mereka tidak mencari tempat-tempat atau melakukan perbuatan-perbuatan tercela untuk mengekspresikan gejolak emosionalnya sebagai wujud pelampiasan dan kepuasan.
ummionline


Siswa Bina Amal Pawai Menyambut Tahun Baru Islam

Untuk mengenalkan Tahun Baru Islam pada anak usia dini, KBIT-TKIT Bina Amal , menggelar pawai taaruf keliling Kampus.

Puluhan Siswa KBIT-TKIT Bina Amal Sabtu Pagi 1 Oktober 2016 mengikuti pawai taaruf, untuk memperingati Tahun Baru Islam atau Hijriah 1438 . Pawai Tahun Baru Islam ini dilakukan dengan berjalan kaki mengeliling kampus Bina Amal Jl Kyai Saleh No 8 Semarang.

siswa-siswi gembira menyambut tahun baru Islam
Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar, semua siswa pun tampak gembira dan bersemangat dalam mengikuti pawai ini. Setelah keliling kampus siswa akan masuk kekelas masing-masing dan menikmati nasi tumpeng bersama-sama yang telah di sediakan.

Menurut Kepala Sekolah, Ibu Sakdiyah, SPd, peringatan 1 Muharram atau tanda awal Tahun Baru Hijriah belum banyak diketahui oleh siswa. Mereka hanya mengetahui, tahun baru itu hanya Masehi, sesuai dengan penanggalan yang mereka miliki di rumah .

Untuk itu, peringatan Tahun Baru Islam atau Hijriah perlu dikenalkan sejak anak usia dini, sehingga kelak saat memasuki dewasa anak - anak akan mengetahui, Islam memiliki Tahun Baru Hijriah.

Rencananya acara serupa akan terus digelar setiap tahunnya, untuk melestarikan dan mengenalkan Tahun Baru Islam di kepada siswa.

humas@binaamal.info (us)












M. Hilman S

Alhamdulillah, Barokalloh (Semoga diberkahi Alloh) kepada ananda M. Hilman Sidqi Kelas 6 Utsman Bin Affan , SDIT Bina Amal 01 Semarang . Yang berhasil mendapat Juara 3 Putra Cabang Tartil Lomba Mutsabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Kota Semarang 11 Mei 2016.


Siswa yang selalu menjadi pemimpin tilawah menjelang sholat Jumat di Masjid sekolah ini, tidak menyangka berhasil meraih juara 3 dalam lomba tersebut.

Dalam lomba tersebut, Ananda M. Hilman Sidqi harus bersaing dengan seluruh anak-anak SD se Kota Semarang. Berbagai perasaan tumpah ruah dan Alhamdulillah akhirnya berhasil mendapatkan juara.  

Dan bagi delegasi lomba yang belum mendapat juara, teruslah semangat. Karena juara sejati tidak akan pernah berhenti di satu titik. Juara sejati adalah yang selalu semangat, juara sejati adalah yang selalu menginspirasi...

Apapun yang terjadi kalian semua adalah juara di hati Bapak dan Ibu Guru. Kalian adalah juara dan harta tak ternilai di hati Kedua Orang Tua...

Semoga menginspirasi kebaikan & bermanfaat untuk ummat, aamiin...







MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget