Januari 2015



Anak-anak terutama remaja di Amerika Serikat, menurut survei, masih menghabiskan berjam-jam di depan TV dan komputer setiap hari. Ya, dalam dua survei nasional anak usia 12 sampai 15 tahun, para peneliti di Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa hampir tiga perempat remaja di AS menghabiskan setidaknya dua jam sehari menonton TV dan menggunakan komputer.

Survei nasional ini juga menemukan bahwa 15 persen remaja AS menonton TV selama empat jam atau lebih setiap hari. Dan hampir 12 persen anak AS menggunakan komputer selama empat jam atau lebih sehari. Sayang survei ini tidak membahas tentang penggunaan smartphone.

"Hasil survei  ini memprihatinkan, tapi tidak mengejutkan," kata Dr. Marjorie Hogan, seorang dokter anak yang membantu menulis pedoman waktu layar anak-anak di American Academy of Pediatrics (AAP).

AAP telah lama merekomendasikan bahwa anak-anak dan remaja tidak boleh lebih dari dua jam menatap layar setiap hari. Saran itu didasarkan pada penelitian yang menyatakan bahwa menatap layar dalam waktu lama bisa menyebabkan obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol, kurang tidur, dan masalah di sekolah.

Dr. Hogan mengatakan orang tua memiliki tugas berat dalam membatasi waktu menonton TV dan komputer untuk anak-anak dalam rentang usia 12 sampai 15, terutama di era media sosial.

"Itulah mengapa sangat penting bagi orangtua untuk memulai diskusi tentang penggunaan media pada usia dini," kata Dr. Hogan.

Dia menambahkan bahwa rekomendasi AAP tidak dimaksudkan untuk meniadakan TV atau internet pada kehidupan. Sebaliknya, konsumsi media harus dilihat dengan cara yang sama seperti konsumsi makanan.

"Saya suka konsep diet media yang sehat," kata Hogan. "Ini semua tentang memilih konsumsi dengan bijak," katanya.

Hasil survei ini diterbitkan oleh NCHS Data Brief edisi Juli 2014.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Sebenarnya, menyontek banyak terjadi pada anak usia besar, seperti SD kelas akhir, SMP, atau SMA. Ini bukanlah salah satu fase dalam perkembangan si kecil, dan banyak efek buruknya. Jadi, tentu saja ini bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.

Tak selalu anak menyontek karena malas belajar atau malas berpikir. Bisa juga, ia terpengaruh budaya instan ‘yang penting nilai bagus’, tak peduli ilmu yang didapat. Kadang anak sudah belajar, tapi kurang percaya diri saja.

Ada pula anak yang menyontek karena berusaha memenuhi tuntutan berlebihan dari orang tuanya. Guru juga bisa mendorong anak menyontek. Misalnya, guru kurang jelas dalam mengajar atau karena soal ulangan harus hafal mati dan bukanlah pengertian. Juga, guru yang kurang tegas akan memperparah anak yang menyontek.

Agar anak tak sampai menyontek, guru harus berperan besar. Ia mesti menjelaskan sekonkrit mungkin agar anak paham, memberi soal ulangan essay daripada pilihan ganda, serta terus mengingatkan anak agar percaya pada kemampuannya sendiri.

 
Pengawasan di kelas sangat penting sehingga anak sulit menyontek. Coba konsultasikan ini pada guru kelas. Tentunya, bukan marah-marah padanya, namun bersama-sama mencari solusi agar seluruh anak di kelas tak menyontek.

Anda bisa membantu agar anak tak menyontek. Daripada menuntut nilai yang tinggi, lebih baik ikut bersusah-payah mendampingi ia belajar. Coba cermati hal apa yang belum anak pahami, dan usahakan sebaik-baiknya agar anak tertarik pada pelajaran tersebut dan semakin paham.

Boleh, kok, memanggil guru les, namun Anda tetap perlu tahu apa saja yang dilakukan guru les untuk membuat anak mengerti, dan tetaplah terlibat dalam proses belajarnya. Yakinkan anak bahwa ia bisa mengerjakan ulangannya sendiri, dan berulangkali sampaikan bahwa orang tua lebih bangga kalau ia mendapatkan nilai hasil kerja kerasnya dibandingkan akibat menyontek.

Kalau pun Anda dulu menyontek, sampaikan kerugian apa yang dialami akibat menyontek. Misalnya, pada saat ujian jadi harus belajar mati-matian karena sebetulnya masih kurang paham.

Anak Anda nilainya lebih rendah daripada yang menyontek? Selama masih di atas nilai rata-rata, yakinkan bahwa Anda bangga terhadap nilai jujur dibandingkan nilai menyontek. Yakinkan anak bahwa teman itu nantinya justru akan mengalami kerugian gara-gara menyontek.

Beri pujian bahwa anak hebat karena tetap berusaha bersikap jujur walau pun teman menyontek. Ingat, yang penting di dunia ini bukan hanya nilai akademis, namun karakter baik yang akan lebih bermanfaat di kemudian hari.


Selain guru di sekolah, orang tua seharusnya menjadi orang yang paling mengerti gaya belajar anak. Ketika anak mengalami kesulitan dalam mata ajaran matematika, orang tua harusnya bisa diandalkan untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut.

Bisa saja, caranya dengan mencarikan guru privat atau mendaftarkan anak ke lembaga kursus matematika. Tapi, ada baiknya orang tua mengetahui terlebih dulu masalah yang dihadapi anak. Jangan-jangan masalahnya bukan sekadar pada kemampuan numerik anak yang rendah, tetapi ada faktor lain, seperti sulit berkonsentrasi, atau bahkan tidak suka pada gurunya.

Angie Siti Anggari, SPd., MSc., Direktur Pendidikan di Sekolah Tara Salvia, Bintaro sependapat bahwa memang orang tualah yang seharusnya memberi bantuan pertama kali ketika anak mengalami kesulitan dalam bermatematika. Untuk mendukung peran orang tua ini, Angie menerapkan program pelatihan matematika untuk orang tua murid di Tara Salvia.

“Di tahun pertama anak bersekolah di sini, orang tua akan diundang untuk diberi penjelasan seputar kurikulum sekolah, khususnya matematika. Orang tua akan dijelaskan bagaimana cara kami mengajarkan matematika pada murid-murid, dan mengapa kami melakukannya dengan cara ini. Dengan begitu, akan timbul pemahaman yang sama antara sekolah dan orang tua. Kemudian di tahun keempat, pelatihan akan diberikan kembali agar para orang tua ini bisa membantu mengajarkan matematika yang sesuai kurikulum sekolah pada anak-anaknya,” jelas Angie.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Seni punya pengaruh besar dalam kecerdasan anak saat ia dewasa. Berbagai penelitian menyatakan bahwa semakin dini perkenalan anak dengan seni, semakin besar pengaruhnya. Pelajaran seni bagi anak usia dini, tidak sekadar membentuk kreativitas anak, juga membantu mengembangkan kemampuan kognitif, kemampuan memecahkan masalah, mengasah motorik halus, mengembangkan kemampuan berbahasa, konsentrasi, kepekaan indera, toleransi, serta mengembangkan keunikan diri.

Pendidikan seni juga berperan besar dalam prestasi akademik dan kemampuan sosial. Riset yang dipublikasikan oleh Americans for the Arts, menyatakan bahwa anak yang mengikuti program atau kursus seni, empat kali lebih punya dorongan memimpin, empat kali lebih tertarik kepada matematika dan sains, serta empat kali lebih sering menjadi pemenang lomba menulis, dibandingkan dengan anak yang tidak berpartisipasi aktif dalam kegiatan berkesenian. “Banyak sekali manfaat yang bisa dipetik dari belajar seni sejak usia dini. Yang jelas, kepekaan terhadap lingkungan sangat diasah. Intelegensia, belajar disiplin, melatih empati, dan segala aspek perkembangan emosi,” kata penasihat Parents Indonesia, Dra Diennaryati Tjokrosuprihatono MPsi. Dia menambahkan, seni membuat anak merasa gembira, itu yang terpenting.

MENDETEKSI BAKAT SENI


Percayakah Anda bakat seni anak sudah terlihat sejak tahun pertama kehidupannya? Cara paling mudah mendeteksi bakat anak adalah mengamati ketertarikannya. “Ada bayi usia 1 tahun yang tampak sangat bahagia saat memukul-mukul drum mainan atau sangat suka menggumamkan lagu,” kata Diennaryati.

Selain itu, masih ada tanda lain yang bisa Anda jadikan patokan untuk mengenali bakat seni anak usia dini.

Lebih tanggap. “Seringkali orang tua tidak tahu bahwa anak punya bakat seni yang besar. Begitu mengikuti kursus, ternyata anak ini mudah sekali menangkap materi dibandingkan anak-anak lain. Itu tandanya anak tersebut berbakat,” kata Budi Agustina, pimpinan sanggar seni Ayodya Pala Indonesian Art Center.

Lebih antusias. Anak yang memiliki bakat seni cenderung lebih antusias saat dikenalkan pada jenis kesenian tertentu. Dia tidak mudah bosan dan selalu ingin mengulang aktivitas berkesenian tersebut.

Lebih peka. Seni identik dengan keindahan. Anak yang punya bakat seni memberikan apresiasi tinggi terhadap keindahan yang dia lihat di lingkungan sekitar. Misalnya, dia selalu tertarik melihat kupu-kupu yang cantik atau merasa damai saat mendengarkan suara air mengalir.

Namun, bukan berarti seni milik anak berbakat saja. “Yang penting anak tertarik. Ketertarikan itu seringkali tidak tampak karena kurang rangsangan dari luar. Karena itu, orang tua perlu memberi berbagai stimulasi, misalnya dengan menyanyi atau menari bersama anak,” kata Diennaryati.

KONSEP BERMAIN

Banyak cara mengenalkan dan memupuk minat anak terhadap seni. Salah satunya dengan pendekatan bermain yang juga dilakukan di Ayodya Pala. “Kami membuka kelas terpadu, yang menggabungkan latihan menari, menyanyi, dan modelling untuk anak dari usia 3 tahun,” kata Etin, sapaan Budi Agustina. Berdasarkan riset panjang yang dilakukan Ayodya Pala – karena sanggar tersebut sudah berdiri sejak 1981 – anak-anak yang masih terlalu kecil sulit diajarkan satu jenis kesenian saja. Dan sejak kelas terpadu dibuka pada 1997, terbukti minat anak untuk belajar seni semakin bertambah.
 
Variasi jenis kesenian yang dikenalkan dalam suasana bermain yang ceria, terbukti efektif memupuk kecintaan anak terhadap seni. Untuk kelas tari, Ayodya Pala memberi materi tarian daerah dan tari modern dengan irama yang mudah diikuti anak. Sementara untuk kelas menyanyi, dilakukan dalam suasana riang sambil menyisipkan mater-materi dasar, seperti pengaturan napas, tanpa disadari anak. Dan kelas modelling diajarkan untuk memupuk rasa percaya diri anak saat tampil di depan audiens. “Kelas terpadu juga kerap mengajarkan materi kesenian yang lain. Jika kami hendak mengadakan pertunjukan teater, kami membekali anak dengan seni peran. Kelas ini lebih fleksibel dan menyenangkan, sehingga peminatnya paling banyak di antara kelas-kelas yang lain,” jelas Etin.

Konsep mengenalkan seni sambil bermain juga diterapkan di Taman Pengembangan Anak Makara (TPAM), yang berlokasi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. “Anak-anak diajak menyanyi bersama atau menonton DVD Barnie yang mengandung unsur gerak dan lagu. Selain itu, ada juga mainan berbentuk instrumen musik sehingga anak bisa pura-pura memainkan alat musik sungguhan,” kata Diennaryati, yang ikut memprakarsai pendirian TPAM, Februari 2008 lalu.


Selama ini ujian nasional (UN) dijadikan alat penentu kelulusan siswa. Hal tersebut membuat sebagian besar siswa menganggap UN sebagai sesuatu yang menakutkan dan bisa membuat stres. Namun, mulai tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak lagi membuat UN sebagai alat penentu kelulusan.

Mendikbud Anies Baswedan, mengatakan akan ada perbaikan terkait UN salah satunya adalah desakralisasi UN yang akan dimulai tahun ini. “Saya menggarisbawahi UN digunakan untuk mengembangkan potensi dan evaluasi siswa, UN bukan sebagai sesuatu yang sakral atau menakutkan melainkan sebagai sesuatu hal yang positif,” kata Anies seperti yang dikutip dari situs resmi Kemendikbud.

Mendikbud menekankan, UN yang banyak kecurangan di tahun-tahun sebelumnya harus berhenti. UN tahun ini, kata dia, merupakan kesempatan bagi sekolah sebagai cermin untuk mengembangkan siswa-siswanya dari seluruh aspek. “Kenyataan di lapangan bukan siswa yang sering manipulasi tetapi justru ekosistem pendidikan,” ujarnya.

Mendikbud menegaskan pendidikan bukan soal tarik menarik kepentingan politik tetapi justru harus dibebaskan dari kepentingan politik. Pendidikan, kata dia, adalah soal mengembangkan seluruh potensi anak didik. “Konsentrasinya adalah UN dapat membentuk perilaku yang baik pada seluruh aktor pendidikan baik siswa, orang tua, guru, sekolah, dinas pendidikan daerah hingga pemerintah pusat,” tuturnya.

Mendikbud mengimbau seluruh komponen pendidikan di Indonesia agar tidak merusak mentalitas anak didik dalam menghadapi UN. UN tahun ini, kata dia, akan dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan potensi para siswa. “Bila ini dirusak maka kita tidak sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik,” ucap Anies.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Masalah penglihatan bisa menggangu proses belajar anak Anda, entah itu menyebabkan kesulitan membaca atau membuatnya tidak bisa melihat guru dengan jelas. Jagalah kesehatan mata anak sebelum dia kembali ke kelasnya. Ikuti tip berikut ini untuk menghindari kerusakan yang lebih parah pada mata si kecil:

Pergi ke Dokter

Melalukan pemeriksaan mata dan penglihatan secara teratur anak ke dokter mata sampai berusia 5 tahun adalah hal penting yang harus dilakukan setiap tahun. Perawatan ini untuk memonitor perubahan dalam penglihatannya seiring waktu, serta memastikan tidak ada masalah penglihatan yang luput.

Jeli melihat gejala

Jika anak Anda memicingkan mata, menoleh, menunduk atau mengadahkan kepalanya untuk fokus atau menunjuk sesuatu, ini bisa menandakan adanya masalah penglihatan. Hal lainnya yang bisa menandakan matanya perlu diperiksa: Dia tidak tertarik membaca atau bermain dengan puzzle, atau dia kesulitan menangkap bola.

Memilih kacamata yang cerdas

Jika anak Anda memang membutuhkan kecamata, belilah kacamata dengan lensa polikarbonat yang anti-pecah dan memberikan perlindungan terhadap sinar UV. Bingkai kacamata dengan gagang yang menempel pas di atas telinga adalah yang terbaik untuk anak aktif. Anak-anak pun disarankan untuk memakai kacamata berbentuk google dari resep dokter jika mereka bermain bola atau berolahraga dengan kontak fisik.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Dalam hal pemahaman internet, usia lebih penting dibanding riwayat dan frekuensi penggunaan internet. Idealnya, orang tua melakukan penyaringan program dan penggunaan internet agar buah hati Anda hanya mengunjungi situs-situs ramah anak saja, terutama mereka yang masih tergolong anak usia dini.

Panduan “Internet Sehat” yang dikeluarkan oleh Yayasan Center for ICT Studies–ICT Watch juga menyarankan orang tua agar menyesuaikan pengenalan Internet dengan usia anak. Berikut panduan yang dipaparkan oleh lembaga non-profit yang bergerak di bidang riset dan aktivitas sosial terutama yang terkait dengan informasi dan teknologi komunikasi tersebut.

Usia 3-5 tahun

Dalam usia balita, anak yang memulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi oleh orang tua atau orang dewasa. Saat mengakses situs yang sesuai dengan usia balita, berselancar di internet bersama orang tua adalah hal terbaik. Hal tersebut bukan sekadar persoalan keselamatan anak, tetapi juga untuk meyakinkan bahwa anak bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua.

Sejak masuk usia ketiga, beberapa anak akan mendapatkan keuntungan jika mendapatkan lebih banyak kebebasan untuk melakukan eksplorasi, menemukan pengalaman baru, dan belajar dari kesalahan yang dibuatnya sendiri. Namun bukan berarti mereka dibiarkan menggunakan internet secara bebas. Yang terbaik adalah orang tua tetap memilihkan situs yang cocok untuk mereka kunjungi dan tidak membiarkan anak untuk keluar dari situs tersebut ketika masih menggunakan internet.

Usia 5-7 tahun

Anak mulai tertarik untuk melakukan eksplorasi sendiri. Meskipun demikian, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan internet. Pada usia ini, orang tua perlu mempertimbangkan pemberian batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi berdasarkan pengamatan orang tua sebelumnya. Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah direktori atau search engine khusus anak-anak sebagai situs yang wajib dibuka saat pertama kali terhubung dengan internet (default).

Anak akan mendapatkan pengalaman yang positif jika berhasil mendapatkan temuan-temuan baru dari internet. Sebaiknya Anda tidak terpaku pada bagaimana menghindari situs-situs negatif, tetapi bagaimana caranya agar anak dapat leluasa mengeksplorasi internet dan mengunjungi sejumlah situs yang bermanfaat tanpa timbul rasa frustrasi atau ketidaknyamanan pada diri anak.

Usia 7-10 tahun

Pada usia ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosial di luar keluarga mereka. Inilah saat dimana faktor pertemanan dan kelompok bermain memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan seorang anak. Pada usia ini pula anak mulai meminta kebebasan lebih banyak dari orang tua. Anak memang harus didorong untuk melakukan eksplorasi sendiri, meskipun bukan berarti orang tua lepas tangan begitu saja.  Sebaiknya, jangan pernah meletakkan komputer, apalagi yang terhubung dengan jaringan internet di dalam kamar pribadi anak. Letakkan komputer di ruang di ruang keluarga sehingga orang dewasa mudah mengawasi interaksi anak dengan komputer.

Pertimbangkan pula untuk menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak. Selain itu, beri batasan yang jelas soal durasi penggunaan komputer dan internet. Jangan sampai anak enggan bersosialiasi langsung dengan teman sebaya dan melupakan aktivitas luar ruang maupun bentuk kegiatan lain. Membatasi waktu online anak bisa dilakukan dengan cara menyepakati aturan bersama atau dengan memasang software yang dapat membatasi waktu online. Penting pula diperhatikan bahwa saat anak berselancar di dunia maya, upayakan agar mereka mengunjungi berbagai macam situs, tidak sekedar satu atau dua situs favorit mereka saja demi memperluas wawasan.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Jam sudah menunjukkan lewat waktu tidur dan si kecil yang berusia 6 tahun menangis karena belum bisa mengingat kata-kata ejaannya. Beberapa jam sebelumnya, Anda memintanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Kini, Anda menyuruhnya menutup buku dan tidur. Dia terlalu lelah, sangat tidak siap, dan cemas.

Jangan putus asa. Si kecil baru saja memulai hubungan jangka panjang dengan belajar, dan Anda juga terlibat di dalamnya. Jika melihatnya sebagai suatu proses pengenalan pada kebiasaan positif, Anda akan segera menemukan jalan untuk sesi mengerjakan tugas yang produktif, tenang, dan menyenangkan.

Ajarkan Konsistensi
Hindari pengacau jadwal belajar, misalnya bermain sepulang sekolah. Anak harus mencoba mengerjakan tugasnya di waktu yang sama setiap hari. “Tanpa rutinitas,  tugas akan sangat mudah untuk ditunda,” ujar Jeanne Shay Schumm, PhD, penulis How to Help Your Chilc With Homework. Untuk mencari waktu yang optimal, pertimbangkan juga jadwal keluarga dan temperamen anak. Kebanyakan anak membutuhkan kesempatan bersantai sepulang sekolah, dan banyak yang berhasil dengan adanya aktivitas fisik. Kenyataannya, penelitian menunjukkan olahraga dapat meningkatkan konsentrasi anak.
Setelah menetapkan waktu, ciptakan ruang belajar yang mendukung. Memiliki tempat belajar yang tetap membantunya menyiapkan diri belajar. Namun lupakan soal meja belajar yang diletakkan di kamar anak. Pada tahap awal sekolah dasar akan lebih baik menempatkannya di ruang tengah rumah, agar Anda bisa mudah membantunya jika diperlukan. Buatlah ruang di dapur atau meja makan yang bisa membuatnya bebas menaruh buku dan kertas. Siapkan juga alat tulis jika Anda tidak ingin membuat kegiatan tertunda, karena waktu yang dihabiskan untuk mencari sebatang pensil bisa sampai berjam-jam!

Kurangi Distraksi

Salah satu cara untuk membuat lingkungan yang tenang adalah menjadikan waktu belajar menjadi ‘urusan keluarga’. Jika mungkin, biarkan kakak atau adiknya juga mengerjakan PR di waktu bersamaan, sementara Anda juga mengerjakan PR sendiri seperti mengecek tagihan, membaca, membalas email, atau memisahkan cucian. Jika Anda terlihat sibuk mengerjakan apapun, anak akan menangkap getarannya. Membuat aturan mematikan TV atau permainan video sampai semua anggota keluarga selesai dengan tugasnya, juga akan membuat anak fokus pada tugasnya.

Targetkan pada Kemandirian

Anak usia sekolah biasanya akan membutuhkan bantuan. Namun sebelum memutuskan berapa banyak bantuan yang diberikan, cek dulu dengan gurunya. Kebanyakan guru lebih suka anak mengerjakan sendiri tugasnya sehingga tugas bisa dijadikan patokan kemajuan. Ini berarti Anda harus menahan diri mengoreksi ejaan anak atau menjelaskan soal matematika sulit untuknya.

Di sisi lain, membaca hasil pekerjaannya dan menantang untuk menemukan 3 kata yang salah eja adalah cara bagus untuk membiasakannya mengecek kembali pekerjaannya.

Juga tidak pernah ada kata terlalu dini untuk mulai mengajarinya nilai riset. Tunjukkan bagaimana cara mencari jawaban di buku referensi seperti kamus, atlas, atau di internet, atau carilah solusi yang lebih membumi. Semakin Anda mendidiknya bahwa mengerjakan tugas adalah waktunya bereksplorasi dengan bebas, si kecil juga akan semakin menikmati waktu belajar.

Jangan Tonjolkan Perfeksionisme

Berusaha keras agar semuanya berjalan dengan baik adalah bagus, tapi pastikan dia tahu bahwa tidak mungkin menjadi sempurna. Jika dia sibuk mengkritik dirinya sendiri, kerjakan setiap tugas dan sepakati berapa lama waktu yang dihabiskannya—misalnya 10 menit—dan bantulah dia menepati jadwal itu. Jika perlu, atur pertemuan dengan guru, yang bisa menjelaskan pada anak bahwa pekerjaan rumah adalah suatu latihan, bukan sebuah kesempurnaan. “Seringkali, anak-anak akan lebih mendengarkan nasihat  guru daripada orang tuanya,” kata Dr. Schumm.

Selidiki Berbagai Resistensi

Jika Anda sudah sangat berusaha tapi anak tetap bersikeras menolak mengerjakan pekerjaan rumahnya, perlu dicari penyebabnya. “Mungkin terlihat seperti masalah perilaku, tapi keengganannya bisa merupakan tanda dia mengalami kesulitan dengan materi ajarnya,” jelas Jed Baker, Phd, penulis No More Meltdowns. Bicarakan dengan gurunya bagaimana dia di dalam kelas. Jika dia kesulitan saat di kelas, mungkin secara umum dia memang membutuhkan bantuan. Jika dia hanya enggan mengerjakannya, cobalah membagi tugas dalam beberapa bagian tugas kecil dan menantangnya untuk menyelesaikannya, paling tidak satu saja. “Sekali dia mencapai tujuan awal, momen yang tepat mungkin bisa menggiringnya menyelesaikan semuanya,” kata Dr. Baker.

Jangan lupa bahwa semua anak akan senang mendengar beberapa dukungan tulus atas tugas yang sudah diselesaikannya. Pengenalan Anda atas usahanya—bahkan jika hasilnya tidak mendapat A—adalah bonus terhebat dari semuanya, serta merupakan cara kuat untuk menyampaikan pentingnya berusaha semampunya.
 
Sumber : http://parentsindonesia.com/


Ini cara agar anak jadi jago matematika.
- Katakan dengan lantang. Mintalah anak Anda mempelajari konsep-konsep matematika yang harus ia kuasai dan lafalkan pengertian konsep tersebut keras keras; atau tuliskan di kartu indeks intisari dari tiap materi pelajaran. Misalnya: Faktor adalah dua buah angka yang jika dikalikan akan menghasilkan angka lain: 2 x 3 = 6, jadi 2 dan 3 adalah faktor dari 6.

- Latihan soal. Mintalah anak Anda mengerjakan soal-soal yang ada di buku pelajarannya, atau Anda bisa mencari soal-soal latihan di internet. Coba klik: coolmath.com, funbrain.com, mathcats.com.

- Tambahkan warna. Anak sedang mengerjakan soal-soal yang membutuhkan penyelesaian bertahap? Cobalah gunakan pensil warna dan kerjakan tiap tahap dalam warna yang berbeda.

- Adu cepat. Julie Murray, seorang mama dari Cary, North Carolina AS mencetak soal-soal latihan sebanyak jumlah soal yang akan diujikan pada ujian sekolah Jayden, anaknya. Ia memasang timer dan memberikan Jayden 5 kali kesempatan untuk menyelesaikan semua soal sebelum timer berbunyi. Jika anak Anda gagal, ingatkan bahwa ini hanya latihan dan ia akan mampu lebih cepat memecahkan soal-soal tersebut dengan makin seringnya latihan.
- Gunakan gambar. Doronglah anak Anda untuk biasa menggambar bentuk-bentuk sederhana saat mengerjakan latihan soal dan saat ujian, terutama untuk membantu memecahkan soal cerita yang melibatkan ruang dan bidang serta ukuran.
 Sumber : http://www.parenting.co.id/



Akses anak-anak kepada gadget saat ini semakin mudah. Tidak ada salahnya mengenalkan gadget seperti tablet dan smartphone kepada anak-anak asalkan selalu diawasi agar mereka tidak mengakses hal-hal negatif. Tapi orangtua juga perlu mengenalkan barang-barang elektronik itu sesuai dengan umurnya. Silakan intip tulisan di bawah ini mengenai jenis teknologi dan gadget apa yang pas dengan anak-anak tentunya yang sesuai usia.

Bayi dan balita

Usia bayi dan balita sangat tertarik dengan suara dan sinar. Kedua hal itu tersedia dalam handphone. Tapi sebelum mengenalkan bayi dengan handphone Anda harus memerhatikan radiasinya. American Association of Pediatrics menyarankan anak-anak tidak menonton televisi atau memandang layarkcomputer sampai usia mereka 2 tahun. Tapi hal itu sepertinya tidak mungkin dilakukan karena anak butuh ransangan yang sifatnya pasif seperti dari televisi.

Pra sekolah dan Taman Kanak-kanak

Anak usia ini sudah mulai pandai memainkan jarinya, sehingga mereka sangat tertarik dengan tablet PC dan gadget touchscreen lain. Respon layar sentuh memang menyenangkan bagi anak, tapi si kecil juga butuh pengalaman memegang pensil, kertas, dan buku sebagai bagian dari proses belajar. Anak juga bisa dikenalkan kepada eReaders sebagai sarana belajar, tapi tetap kenalkan buku sebagai sarana belajar yang utama.

Sekolah dasar

Di usia ini anak-anak menggunakan teknologi lebih serius. Mereka mulai mahir memakai tablet, PC, dan laptop. Orangtua harus memastikan konten yang dikonsumsi anak sesuai dengan usianya. Penggunaan internet juga harus dibatasi, agar tidak menganggu waktu belajar. Mulailah edukasi mereka dengan cara-cara menjaga privasi, keamanan, dan etika berinternet. Saat bermain games online pastikan tidak mengandung materi kekerasan.

Menjalang remaja

Usia ini anak sudah berhak memiliki akun Facebook, terutama yang berusia di atas 13 tahun. Mereka juga sudah pantas memiliki tablet, PC atau laptop sendiri. Jangan lupa untuk menginsal filter internet karena predator internet mengincar anak usia ini. Menurut penelitan yang dilakukan The Online Mom sebanyak 92 persen anak kena tipu daya penjahat internet melalui Facebook.

Remaja

Usia ini anak sudah berhak memiliki semua perangkat elektroniknya sendiri. Baik itu ponsel, tablet, laptop, PC, konsol games, dan lainnya. Mereka juga membutuhkan lebih banyak kebebasan untuk berselancar di internet. Namun tetap monitor semua perilaku online-nya, sebab ancaman kekerasan internet bisa datang kapan saja.



Kita hanya butuh menerapkan beberapa peraturan, termasuk izin mengakses internet hanya pada hari libur, keharusan untuk ditemani mama/ papa, dan memberikan pengertian situs-situs apa yang tidak boleh dibuka karena tidak ada manfaatnya untuk dibuka, serta membatasi waktu untuk anak boleh ’berkelana’ di dunia maya.

Batasi penggunaan internet/komputer, misalnya hanya 30 menit setiap hari. Tentunya harus disesuaikan dengan usia anak dan kebutuhannya. Anak-anak itu juga harus diberi perngertian bahwa PR, tugas sekolah, maupun tugas-tugas lain harus diselesaikan dulu sebelum mereka main internet/komputer. Jadikan internet/komputer sebagai reward yang akan didapat sesudah melaksanakan kewajiban, sehingga mereka juga lebih menghargai waktu berkomputer/berinternet mereka.

Komputer sebaiknya juga diletakkan di ’tempat umum’ di dalam rumah, agar anak tidak mengisolasi diri dari orang-orang di sekitarnya, dan orangtua juga bisa sekaligus ’mengintip’ apa yang diakses anak. Bila perlu, Mutiara menganjurkan agar orangtua duduk bersama anak agar anak merasa mendapat dukungan, dan orangtua pun merasa yakin, apa yang dilakukan anak adalah hal-hal yang aman.

Agar anak tidak keasyikan di dunia maya, selalu hubungkan minat anak selama bermain komputer dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, bila ia menyukai permainan binatang di dalam sebuah game, ajaklah ia juga berkunjung ke kebun binatang atau memelihara binatang di rumah. Atau bila ia menyukai permainan polisi atau tentara di komputer, ajaklah ia sesekali berinteraksi dengan pak polisi atau tentara sungguhan. Semua itu akan membuat anak ingin tetap bersosialisasi dengan lingkungan dan tidak hanya terpaku pada permainan yang ada di komputer/internet. Sebaiknya orangtua juga menyediakan alternatif kegiatan lain untuk mengisi waktu anak agar tidak hanya bergantung pada komputer seperti bermain sepeda, atau berkebun.

Orangtua sendiri tentunya jangan terus menerus berada di depan komputer, terus menerus main game di komputer, terus-menerus berselancar di internet, atau terus-menerus sibuk dengan Blackberry-nya tanpa batas. Anak-anak belajar dengan meniru, lho! Jika dilihatnya orangtua bisa melakukan semua itu tanpa batas, ia pun akan melakukan hal yang sama.

Dunia maya dengan segala daya tariknya – game-game favorit, kesempatan untuk memainkan tokoh-tokoh tertentu, kesempatan untuk tidak menjadi diri sendiri, berpura-pura kuat, sakti, atau menemukan teman-teman baru tanpa harus bertatap muka -- semua itu bisa menjadi kesempatan yang sangat menyenangkan, terlebih bagi si pemalu, atau anak yang kurang percaya diri. Namun, bagi anak yang tidak bermasalah sekalipun, image, animasi, atau bunyi-bunyian dari komputer atau internet yang bisa berubah-ubah dan berganti-ganti, tetaplah sangat menarik dan imajinatif. Menghadapi semua itu tentu Anda tak boleh lengah, seperti kata Cynthia Edwards, Ph.D., profesor psikologi di Meredith College di Raleigh, NC, “Mulailah berkomunikasi dengan anak sejak dini, dan jagalah agar komunikasi itu bisa tetap lancar.”

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Bermain internet bisa menjadi satu kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Tapi Anda juga harus waspada. Jika Anda menemukan minimal satu perilaku anak di bawah ini terjadi pada anak, Anda perlu waspada dan mengajak dia berdiskusi. Karena bisa saja, anak sedang mengobrol dengan orang asing di chat room atau mengunduh konten kategori berbahaya.

Inilah perilaku di depan komputer yang harus Anda curigai.
  • Online larut malam.
  • Menggunakan internet dengan durasi panjang secara konstan.
  • Menutup aplikasi komputer ketika Anda atau orang lain melintas di dekat layar monitor.
  • Mengunduh program dengan ekstensi .jpg, .gif, .bmp, .tif, .pcx, .png, .psd, yang mengindikasikan gambar atau foto.
  • Kerap mendapat telepon atau email dari orang asing.
Risiko yang Bisa Timbul dari Internet

Mungkin pornografi adalah hal yang paling Anda khawatirkan dari pemberian akses internet kepada anak. Selain itu, ternyata masih ada beberapa hal yang perlu Anda waspadai.
  • Anak bisa terpapar berbagai konten yang tidak layak (pornografi, materi SARA, hasutan berbuat negatif, iklan merokok atau meminum minuman beralkohol, bahkan cara membuat materi berbahaya seperti racun dan bahan peledak). Konten berbahaya dan tidak pantas dikonsumsi anak bisa datang dari manapun melalui Internet. Melalui email atau pesan instan, pop-up yang tiba-tiba muncul di layar monitor, chatroom, atau advertorial berbagai situs.
  • Eksploitasi atas anak dalam berbagai bentuk, dari penipuan hingga pelecehan seksual.
  • Dengan semakin mudah dan semakin banyaknya konten musik dan game yang bisa diunduh, maka semakin tinggi pula risiko terkena serangan virus.
  • Tanpa disadari, beberapa aktivitas download berbagai materi dari Internet merupakan pencurian hak atas kekayaan intelektual (hak cipta).


Menanamkan kebiasaan tidur sehat bisa dilakukan sejak dini. Kebiasaan tidur yang sehat dapat membuat anak terhindar dari gangguan tidur. Dr. Andreas Prasadja RPSGT, sleep technologist dari Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran membocorkan beberapa tip kecil untuk Anda. Tidak ada salahnya menerapkan kebiasaan di bawah ini sekarang.
  • Lakukan ritual sebelum tidur. Misalnya dimulai dari berganti piyama, cuci kaki, menggosok gigi, meredupkan lampu, berdoa atau membacakan cerita.
  • Membiasakan waktu tidur yang teratur.
  • Jangan melakukan kegiatan yang membuat Anda bersemangat sebelum tidur.
  • Ajari dan biasakan anak untuk tidur sendiri. Yakinkan juga bahwa Anda tidak berada jauh dari kamar tidurnya.
  • Jika anak terbangun dan menangis, jangan langsung mendatangi kamarnya. Lakukan metode Ferber. Metode Richard Ferber dikenal dengan membantu bayi untuk “menenangkan diri sendiri” agar tidur.
  • Jangan mengunci kamar tidur.
  • Kamar tidur anak harus nyaman, menarik, tetapi tidak boleh ada TV, video games, atau terlalu banyak mainan.


Sekolah memang penting, tapi sekolah bukan satu-satunya tempat untuk anak memeroleh pendidikan. Di luar sekolah ada tempat-tempat yang bisa meningkatkan pendidikan anak. Inilah cara meningkatkan pendidikan anak di luar sekolah

Kenalkan pada perpustakaan umum
Perpustakaan umum adalah sumber ilmu paling berharga yang menyediakan pendidikan gratis melalui koleksi buku atau arsip. Perpustakaan adalah jembatan untuk mendapatkan informasi dan topik menarik. Di perpustakaan umum semuanya tersedia dab siap dibagikan kepada anak. Anda bisa meminta bantuan profesional untuk membimbing anak pada ilmu pengetahuan.

Jelajahi dunia di setiap kesempatan
Ketika Anda bepergian dengan anak-anak—apakah itu perjalanan sehari atau liburan selama seminggu—mereka dapat belajar banyak tentang dunia. Anda dapat mengajarkan anak tentang sejarah, geografi, keragaman budaya, tradisi, dan adat istiadat. Cara Anda melakukan perjalanan bersama keluarga dapat memicu rasa ingin tahu anak.

Pendidikan setiap hari
Kegiatan sehari-hari dapat membuka pintu untuk pelajaran baru yang menarik. Misalnya, memanggang kue dapat mempraktikan ilmu matematika, fisika, dan gizi. Menonton pertandingan olahraga dapat mengajarkan statistik, sejarah, dan kerja sama tim.

Kenalkan kepada Kebudayaan
Kenalkan anak-anak pada sesuatu yang bersifat artistik dan sosial sebanyak mungkin. Museum, kebun binatang, situs sejarah, dan acara budaya seperti drama, opera, balet, dan konser adalah cara yang bagus untuk mengajar dan menghibur anak. Sering kali, anak-anak menemukan petualangan lebih menyenangkan daripada duduk di meja kelas. Plus, mereka dapat memerluas wawasan dan mungkin membangkitkan hobi dan passion.

Ikuti kegiatan keagamaan
Jika keluarga Anda merupakan bagian dari komunitas agama, ajak anak-anak Anda terlibat dalam kelas keagamaan, retret, dan kelompok pemuda. Anak-anak akan belajar tentang agama melalui konteks sejarah serta konsep religius dan spiritual.


Kemampuan bermatematika setiap anak dipengaruhi oleh kemampuan numerik, yang berbeda antar setiap anak. Tapi, tak semua anak yang memiliki kemampuan numerik tinggi secara otomatis akan jago matematika, lho. Kemampuan numerik yang tinggi sekalipun, bisa jadi tak berkembang karena faktor gangguan dari luar, seperti metode belajar matematika yang tak sesuai minat anak.

Kemampuan numerik yang rendah pun ternyata bisa diasah dengan latihan. Soal matematika itu cukup ajaib. Satu buah rumus bisa dibolak-balik hingga menjadi berbagai variasi soal. Dengan latihan, anak tak akan lagi kebingungan bila suatu saat menemukan soal-soal yang telah ‘dimodifikasi’.  

Dengan banyak berlatih, bukan tak mungkin anak akan menemukan ‘rumus’-nya sendiri. “Sebenarnya, ada banyak cara menyelesaikan soal matematika. Anak tak perlu berpatokan hanya pada satu rumus tertentu. Jika logika bermatematika seorang anak sudah jalan, ia akan mampu mengerjakan soal matematika sesulit apapun,” kata Angie Siti Anggari, SPd., MSc., Direktur Pendidikan di Sekolah Tara Salvia, Bintaro.

Itulah sebabnya, di Tara Salvia, Angie sangat mendorong anak-anak untuk bisa menemukan ‘rumus’-nya sendiri. “Kami punya program yang namanya ‘5 minutes week math’, dimana anak akan diberi beberapa soal matematika yang harus dikerjakan dalam waktu 5 menit di awal jam sekolah, saat otak mereka masih fresh.

Mereka boleh mengerjakan dengan cara apapun, tidak harus berpatokan pada rumus yang ada. Dan yang unik, soal matematika yang diberikan bisa berbeda antar murid, bahkan di kelas yang sama sekalipun. Hal ini karena kami mendesain soal-soal tersebut sesuai perkembangan kemampuan masing-masing anak,” kata Angie.


Ketika anak Anda memelajari suatu keterampilan baru, puji prosesnya (bagaimana dia bekerja keras), bukan hasilnya (tendangannya bagus, misalnya). Begitu saran Dr. David Marshal, MD, direktur medis olahraga kesehatan di  Children’s Healthcare of Atlanta. Singkirkan kecemasan pada diri anak Anda dengan komentar yang membangkitkan semangat seperti di bawah ini.
  • Konsentrasi kamu sangat bagus.
  • Mama bangga dengan cara kamu mencoba.
  • Mama tahu ini sulit, jadi Mama pikir luar biasa sekali kamu tidak frustasi.
  • Sungguh, Mama suka sekali dengan caramu memikirkan bagaimana kamu akan melakukan hal itu.
  • Menyenangkan sekali, kamu mendapatkan hasil atas upayamu, kamu perlu bangga pada dirimu sendiri.


Cobalah beberapa aktivitas yang sederhana dan menyenangkan ini untuk membantu mengembangkan kognitif (kecerdasan) anak Anda yang direkomendasikan oleh Jamie Loehr, M.D. dan Jen Meyers, pengarang buku Raising Your Child.

Membaca 20 menit setiap hari

Ajak Anak anda membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi sangat mungkin bagi anak Anda mendengarkan apa yang anda baca. Setidaknya ajak membaca selama 20 menit sehari. Sambil membaca buku, tanyakan kepadanya gambar-gambar yang ada di buku.

Mendengarkan Musik

Bernyanyilah bersama anak Anda. Biasakan mendengarkan music saat di rumah atau di mobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan walaupun diputar terus menerus. Jika Anda bernyanyi otomatis anak akan ikut bernyanyi. Lama-lama Anak Anda akan bernyanyi sendiri walaupun tidak ada music yang mengiringi.

Ajarkan tentang bentuk benda dan angka

Ajarakan si kecil tentang bentuk benda, warna dan angka seharian penuh. Jika di tumpukan mainannya ada bola bilang “ini bola bulat berwana merah. Jika sedang makan pisang bilang “ ini pisang kita tinggal satu” atau jika sedang memakai kaus berwarna biru bilang “kaus kamu warnanya biru.”

Ajarkan Bagian tubuh

Ajarkan juga anak Anda nama-nama bagian tubuhnya. SAabil mengenalkan bagian tubuhnya tunjuklah bagian tubuh yang dimaksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan bagian tubuh lainnya.

Gunakan instruksi

Saat bermain berikanlah instruksi. Dengan begitu si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruki sederhana adalah memintanya menutup pintu atau mengambilkan bola.

Minta memilih mainan kesukaannya

Pergilah ke toko mainan. Gunakan buku katalog kemudian minta si anak menunjuk mainan yang ia suka di catalog tersebut. Setelah itu ajak anak Anda mencari mainan tersebut di rak mainan.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Dalam beberapa tahun ke depan, ketika anak Anda telah melewati masa tidur siang, Anda tetap harus memberikannya kesempatan beristirahat. Coba strategi berikut ini.

Jangan sebut tidur siang, sebut waktu istirahat, Dengan begitu anak Anda tidak akan merasa dipaksa tidur ketika ia merasa tidak capek. Minta ia tetap di kamar atau ranjangnya untuk melakukan kegiatan yang tenang, misalnya mewarnai atau melihat buku.

Rancang suasana tenang. Rencanakan kegiatan relaksasi agar anak Anda mudah beristirahat, misalnya dengan ritual: Membaca buku, merangkulkan boneka kesayangannya, atau memutar musik lembut.

Hargai jadwalnya. Hindari rencana menyuruhnya tidur saat Anda akan bepergian. Sebaliknya, amati ia saat mengantuk. Kalau ia tampak tidak mengantuk, tunda satu jam. Namun jangan terlalu lama. Jika ia tidur pada jam 3-4 sore, Anda akan menghadapi masalah menidurkannya saat malam.

Tawarkan pilihan. Berikan ia kendali untuk menentukan waktu tidur siangnya” “Kamu mau tidur siang sekarang atau 5 menit lagi?”. Ini akan membuatnya memegang kendali.

Dampak Kurang Tidur 
Jangan mengabaikan pentingnya tidur. Banyak enelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak cukup tidur dalam periode 24 jam akan bermasalah dalam hal berikut:

Belajar. Tidur membantu anak mengubah pengalamannya ke dalam memori jangka panjang. Anak yang lelah mengalami penurunan dalam kemampuan verbal, sulit konsentrasi, dan kurang bisa dalam abtraksi.

Mood. Kurang tidur sering mengarah ke perilaku mudah tersinggung, hiperaktivitas, agresif, dan impulsif.

Kesehatan. Para peneliti menduga kurang tidur terkait dengan masalah mulai penurunan kekebalan tubuh sampai peningkatan insiden kecelakaan.
Sumber : http://parentsindonesia.com/



Suatu saat anak pulang dari sekolah dengan sangat gembira. Saat lainnya ia menangis dan berteriak, “Aku benci sekolah!”

Kenapa anak Anda bisa berubah secara tiba-tiba?

“Ketika anak memasuki kelas tiga atau kelas empat SD, sekolah akan lebih menonjolkan sisi akademiknya dibandingkan tingkat kelas lainnya,” kata Cynthia Tobias, penulis I Hate School: How to Help Your Child Love Learning.

Ulangan merupakan kunci pengukuran tentang apa yang sudah dipelajari, dan fokus pada perubahan sesuatu yang belum bisa mereka lakukan.

Gabungan pertumbuhan tekanan sosial secara tiba-tiba tentunya mengakibatkan banyak anak pada tingkat ini kurang senang dengan kelasnya.

Untuk membuat sekolah lebih menyenangkan:

- Ketahui problem

Identifikasikan apa yang sebenarnya membuatnya frustasi –hal ini akan membutuhkan percakapan lebih banyak dan cobalah diskusikan solusi bersama. Anak tidak tahan dengan segala pelajaran dan catatan? Gagaskan kelompok belajar di rumah bersama teman.

Atau, anak kehilangan fokus sebelum makan siang? Berikan sarapan dengan protein yang tinggi. Atau anak merasa tidak populer? Biarkan dia mengundang beberapa temannya setelah sekolah untuk sekedar bermain.

- Biarkan gurunya mengetahui dan turut ikut campur


Share isu anak Anda, namun jangan salahkan gurunya. "Mulailah percakapan dengan ‘Apa yang dapat saya lakukan’?” kata Tobias.

- Jujurlah

Wajar jika subjek tertentu akan menjadi sangat membosankan dan susah. “Anda perlu mengetahui bahwa anak mungkin saja tidak suka semua pelajaran yang ada, namun sekolah sangatlah penting,” kata Tobias. Jelaskan pada anak bahwa tanpa melewati sekolah terlebih dahulu, mereka tidak akan bisa mencapai cita-cita mereka
Sumber : http://www.parenting.co.id/

 
Anak seringkali tergoda pada warna makanan yang mencolok. Masalahnya, ada isu muncul beberapa jenis pewarna makanan disinyalir bertanggung jawab dalam memicu gejala hiperaktif pada anak.

Adalah Dr. Ben F. Feingold, seorang dokter spesialis anak di Amerika, yang di tahun 1970-an pertama kali mencetuskan pernyataan bahwa pewarna makanan memiliki korelasi dengan gejala hiperaktif pada anak. Dr Feingold lah yang kemudian memperkenalkan diet tanpa pewarna dan pengawet (Feingold Diet) untuk anak-anak hiperaktif atau ADHD.  Dalam websitenya, www.feingold.com, pria pendiri Asosiasi Feingold ini membeberkan teori dan hipotesa dari pengalamannya sekian lama  berurusan dengan kasus alergi, termasuk hiperaktivitas.

Program diet bagi penderita hiperaktif – anak dan dewasa – yang ditawarkan melalui organisasi nonprofit yang berdiri sejak 1976 ini akan memberikan foodlist bagi para anggota. Berisi ratusan halaman yang memuat daftar merek-merek makanan yang aman dari Bahan Tambahan Pangan pemicu alergi yang merangsang tercetusnya gejala hiperaktif.

“Alergi menunjukkan adanya reaksi berlebih dari tubuh, antara lain karena jenis makanan tertentu. Reaks  ini sifatnya sangat individual, dipengaruhi oleh kondisi dan level sehat seseorang”, tutur Emilia E. Achmadi,  Cilinical Dietitian, Food and Nutrition Expert. Hal ini menjadi salah satu alasan yang membuat beberapa ahli masih belum sepakat mengamini dampak food coloring terhadap hiperaktivitas.

Dalam bahasa kedokteran, perilaku hiperaktif dan impulsif tergolong sebagai gangguan perkembangan yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Mengukur gejala hiperaktif pada anak bukanlah hal mudah dan sangat mungkin dipengaruhi subjektivitas. Anak-anak, terutama di usia balita, memang berada dalam masa eksplorasi yang mencari kepuasan dengan aktivitas fisik. Karenanya, diagnosa ADHD harus dilakukan oleh tim ahli. Seperti yang ditekankan Emilia, “Sebaiknya tidak bermain diagnosa sendiri. Apabila ada kecurigaan, berkonsulasilah pada ahlinya”.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Sebagian orangtua mungkin mampu meredam amarah dan tidak melakukan tindak kekerasan pada putra-putrinya yang dianggap melakukan kesalahan atau bertindak nakal. Namun, sedikit sekali orangtua yang yang mampu menahan suaranya dan tidak membentak anak untuk menunjukkan kekesalannya.

Membentak anak ataupun berteriak merupakan hal spontan yang biasa dilakukan orangtua untuk menunjukkan superioritasnya dan untuk menarik perhatian anak agar memperhatikan dan mendengarkan ucapannya.

Tahukah anda, bahwa bentakan yang merupakan gelombang suara ini, bila disertai dengan gelombang emosi yang dihasilkan oleh otak kiri akan berkolaborasi menghasilkan gelombang baru dengan efek negatif. Efek ini bersifat destruktif terhadap sel-sel otak, terutama bagi anak yang menjadi sasaran bentakan tersebut.
Apa yang terjadi ketika membentak anak?

Dalam hal ini, penelitian Lise Gliot yang dilakukannya pada anaknya sendiri, adalah yang paling populer. Ia melakukan penelitian dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya.

Dari hasil penelitian tersebut, Gliot bisa melihat rangkaian indah yang terbentuk ketika sang anak disusui dengan sentuhan lembut di kepalanya. Namun, pada saat anaknya sedang terkejut dan mendengar bentakan, rangkaian indah itu berubah menjadi gelembung, lalu pecah berantakan dan menyebabkan perubahan warna.

Dari penelitian ini jelas menunjukkan bahwa marah dan suara bentakan terhadap anak akan mempengaruhi perkembangan otak anak. Selain mempengaruhi perkembangan otak, suara bentakan juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh sang anak.

Baca juga : Membentak Anak, Perlukah Ibu Melakukannya?

Bila pada saat berlangsungnya bentakan, maka 1 milyar otak anak akan mengalami kerusakan, maka apakah yang terjadi apabila anak sering mendengar suara bentakan dari orangtuanya?

Dampak jangka panjang membentak anak :

    Anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal-hal baru.
    Anak tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan tidak percaya diri
    Anak akan memiliki sifat pemarah dan egois
    Anak cenderung memiliki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat orangtua.
    Anak akan memiliki pribadi yang tertutup
    Anak cenderung apatis, dan tidak peduli terhadap lingkungan

Mendidik anak dengan cinta dan kelembutan kadangkala tidak semudah mengucapkannya. Pola  dan tingkah laku anak sendiri kerap menjerumuskan orangtuanya untuk mengambil tindakan paling praktis yang bisa dilakukan.

Namun mengingat dahsyatnya dampak yang bisa diakibatkan oleh bentakan yang berkelanjutan dalam jangka panjang ada baiknya, kita berusaha untuk meminimalisir membentak anak.

Mungkin anda bisa mengikuti tips berikut :
  • Jangan terpengaruh untuk menghentikan teriakan anak dengan bentakan yang lebih hebat.
  • Sebelum membentak anak, ingatlah, bahwa anak adalah peniru ulung. Ia akan meniru setiap serpihan kata-kata yang kita teriakan di benaknya.
  • Ingatlah, kepribadian anak di masa depan adalah hasil bentukan kita di masa sekarang.
  • Segeralah mengubah posisi tubuh anda, seperti dari berdiri menjadi duduk. Hal ini akan menurunkan ketegangan emosi anda.
  • Palingkan sejenak wajah anda dari anak yang telah membuat dada anda terasa meledak.
  • Tarik napas dan hembuskan pelahan sambil memejamkan mata. Hal ini akan membuat dada yang sesak terasa longgar dan lapang.
Sumber : http://id.theasianparent.com/


Aktif berolahraga baik untuk kesehatan raga dan jiwa anak, terutama olahraga beregu. Bergabung dengan tim sangat baik bagi anak untuk menjaga kebugaran, bersenang-senang, membangun rasa percaya diri, dan belajar nilai-nilai kerja sama dan sportivitas. Tapi, berlaga di depan orang banyak yang bersorak mendukung (atau mengumpat) merupakan tekanan bagi atlet-atlet cilik, dan anak Anda harus siap menghadapi rasa frustasi, cemoohan, dan kritik –begitu pula Anda. Tapi, selama Anda ingatkan dia bahwa tujuan utama adalah bersenang-senang dan pertemanan, olahraga basket, hoki, baseball, atau sepakbola, bisa menjadi pengalaman yang luar biasa. Strategi jitu dari kami akan membantu Anda mengatasi masalah-masalah tim yang paling sulit.

MASALAH: Putra Anda, 6 tahun, lebih sering duduk di kursi cadangan sementara teman-temannya tidak pernah beristirahat. Sekalinya diturunkan, pelatih meneriakinya, ”Ayo, lebih sigap!”


Strategi Anda:
Pada tingkat permainan ini, pelatih yang bagus akan berlaku adil kepada semua pemain dan menghargai upaya dan kemajuan mereka –bukan menghukum, mempermalukan, atau mengkritisi saat mereka berbuat salah atau kalah bermain. Sempatkan melihat beberapa sesi latihan agar Anda dapat mengantisipasi berbagai masalah potensial, saran Daniel Gould, PhD, direktur the Institute for the Study of Youth Sports, di Michigan State University. Jika Anda tidak senang dengan taktik sang pelatih, bicarakan empat mata di luar pertandingan tentang kepedulian Anda. Buatlah pernyataan seperti, “Saya ingin melihat anak saya lebih banyak bermain di lapangan.” Komentar seperti, ”Anda tidak memerhatikan anak saya” hanya akan membuatnya defensif. Jika dia terkesan tidak mau mendengarkan atau mengubah sikap, bicarakan dengan pengelola liga.

MASALAH: Salah satu orang tua pemain sibuk memberikan instruksi layaknya pelatih dari tepi lapangan dan bahkan menyalahkan anak Anda karena gagal merebut bola.

Strategi Anda: Selalu ada saja orang yang menganggu: orang tua yang terobsesi dengan kemenangan. Suporter semacam ini bisa menjatuhkan moral tim, oleh sebab itu belakangan ini semakin banyak kompetisi olahraga anak-anak yang meminta para orang tua menandatangani perjanjian untuk mendukung semua pemain dan tidak mengkritisi wasit. Idealnya, wasit atau pelatih mengingatkan orang tua yang fanatik untuk bersikap santun dan tidak berlebihan. Atau, bicarakan dengan pelatih atau wasit secara pribadi saat rehat, dan minta agar salah satu dari mereka mengingatkan penonton untuk menjunjung tinggi sportivitas. Jangan hadapi sendiri penonton yang menjengkelkan tadi. ”Anda tidak tahu reaksinya seperti apa. Kalau sampai ribut, hanya akan merugikan anak Anda dan teman-temannya,” tandas Dr. Gould.

MASALAH: Anak Anda, 8 tahun, pelempar bola, kecewa berat karena timnya kalah –dan dia merasa itu gara-gara dia.

Strategi Anda:
Merasa bertanggung jawab atas kekalahan tim, tentu berat bagi anak seusianya. Adalah penting bagi Anda untuk mengingatkan anak Anda bahwa dia hanya salah satu anggota tim dan siapapun bisa membuat kesalahan. Tekankan bahwa seluruh anggota tim punya andil –pemain tengah mungkin luput menangkap bola, dan tidak ada yang berhasil membuat pukulan telak. Semua anak harus belajar mengatasi kekecewaan, frustasi, dan amarah dengan kepala dingin, dan pertandingan adalah medium bagus untuk mengajarkan pelajaran hidup yang berharga ini. Anda bisa membantu dengan tidak bereaksi berlebihan saat tim menang –dan beri dukungan serta berbanggalah atas upayanya setiap kali dia bertanding, apapun hasilnya. “Katakan kepadanya bahwa Anda bangga dia telah berusaha keras dan pujilah saat dia melakukan sesuatu dengan baik,” saran psikolog olahraga Joel Fish, PhD, penulis 101 Ways to Be a Terrific Sports Parent dan direktur Center for Sport Psychology di Philadelphia. Misalnya, ”Lemparanmu tadi strikes dan kamu mementahkan line drive.” Di rumah, berikan contoh sikap sportif saat Anda sekeluarga menonton pertandingan pro di televisi. Berikan juga contoh sikap yang buruk dan jelaskan mengapa itu tidak bisa diterima.

MASALAH: Putri Anda, 6 tahun, minta diizinkan bermain sepakbola. Sekarang dia merengek minta berhenti.
Strategi Anda: Pertama, cari tahu alasannya. Jika dia ingin keluar karena kesulitan menguasai ketrampilan baru, jangan biarkan dia menyerah. Ingatkan dia, berbeda dengan kelas melukis, misalnya, dia sudah sepakat bukan sekadar untuk bermain tetapi menjadi bagian dari sebuah grup. Bicarakan situasi ini dengan pelatih yang bisa bekerja sama erat dengan putri Anda dan menyemangatinya. Berlatihlah bersama anak Anda di rumah untuk membangkitkan rasa percaya dirinya dan mengasah ketrampilannya. Jika taktik ini tidak berhasil – dia menangis, dan Anda berteriak, sebelum latihan atau bertanding– turuti keinginannya. Sekali itu saja. “Lain kali dia minta didaftarkan cabang olahraga lainnya, ingatkan bahwa rekan-rekan satu tim dan pelatihnya akan membutuhkan ia untuk berpartisipasi penuh dan ia akan dituntut menjalani pilihannya ini hingga tuntas.” saran Dr. Gould.

Sumber :http://parentsindonesia.com/



Biasanya, saat jalan-jalan ke Mal akan akan langsung memilih makanan junk food, seperti hamburger, pizza, french fries, dan sebagainya. Mengapa? Ada beberapa alasan anak lebih menyukai junk food, dan solusi agar anak mau mengonsumsi makanan lebih menyehatkan dibandingkan junk food.

1. Hal ini karena anak-anak familiar dengan makanan itu. Anak senang bereksperimen dengan makanan baru, namun tetap ingin ada makanan yang dikenalnya di atas piring setiap kali makan.

Solusi: Perkenalkan makanan sehat secara bertahap dan dalam porsi kecil. Bila perlu, selipkan sayur dalam makanan anak.

2. Tak mau repot-repot mengunyah. Banyak anak yang menolak makan sesuatu yang susah dikunyah atau ditelan, seperti sayur atau buah yang berserat. ‘Kebiasaan’ ini bisa dimengerti, karena anak berada hanya satu tahapan di atas tahapan bayi. Ketika bayi, sebagian besar makanannya berbentuk cair.

Solusi: Makanan sehat bisa disajikan sesuai keterampilan makan anak. Kalau Anda ingin anak makan sayur, sajikan sup yang ditambah bola-bola daging, atau potongan brokoli dalam saus pasta.

3. Warna makanan jadi daya tarik utama. Dan, ini banyak didapatnya dari junk food. Misalnya, kentang goreng berwarna keemasan, merahnya saus tomat, dan lain-lain.

Solusi: Sajikan makanan secara atraktif, serta perbanyak penggunaan buah dan sayur yang berwarna-warni (potong kecil-kecil ya).

4. Harus ada rasanya. Anak suka makanan yang enak dan cepat belajar bahwa makanan yang berlimpahan garam dan gula (dalam kebanyakan junk food) adalah yang paling oke. Padahal, ini kan salah.

Solusi: Buat sendiri makanan dengan rasa alami dan bahan baku makanan yang sehat. Misalnya, pilih buah yang rasanya lebih manis, tebu mentah, dan madu untuk membuat dessert. Dan, kurangi asupan makanan anak yang asin dan manis secara bertahap. Lidah anak bisa dilatih lagi untuk menerima makanan yang sudah dikurangi garam dan gula beberapa minggu setelahnya.
  
Lalu, pada kenyataannya, banyak juga makanan yang Anda pikir benar-benar junk, sebenarnya mengandung berbagai gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Sayangnya, kebanyakan makanan tersebut diberi ekstra ini-itu, sehingga jauh dari menyehatkan. Jadi, ketimbang ‘berantem’ dengan anak gara-gara ia ingin makan hamburger dan kentang goreng di resto A, misalnya, buat saja sendiri makanan tersebut.

Cara lain adalah batasi jajanan anak. Selain tinggi garam dan gula, makanan yang dijual di pasaran seringkali diberi bahan tam-bahan makanan, seperti zat pewarna atau zat pengawet, secara berlebihan. Juga, banyak makanan yang (sangat) tinggi lemak jenuh dan trans fat-nya. Padahal, makanan seperti ini amat erat kaitannya dengan penyakit jantung dan obesitas ketika mereka dewasa kelak. Jadi? Pilih-pilih jajanan anak.
  
Yang pasti, pikirkan diet anak Anda sebagai sesuatu yang sedang Anda coba sempurnakan. Jadi, hasilnya bisa saja tidak langsung oke. Namun, paling tidak, Anda tahu persis bahwa rasa amat penting bagi anak. Juga, rasa bisa dimanipulasi sedikit demi sedikit melalui pendekatan yang ‘sangat halus’.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Risiko umum kekurangan serat adalah konstipasi atau kesulitan buang air besar. Masalah ini bisa berlanjut menjadi wasir yang membuat balita tidak nyaman dan kesakitan. Tidak hanya wasir, risiko yang lebih fatal juga mengintai. Kekurangan serat makanan yang terjadi terus menerus, akan menjadi pemicu terjadi kanker kolon, yaitu rusaknya usus besar dan meningkatnya kadar kolesterol darah, kata ahli gizi Tuti Soenardi.

Pada anak usia balita, usus pencernaannya sedang dalam masa transisi. Setelah melewati usia 5 tahun, baru usus anak akan bekerja sempurna seperti usus orang dewasa. Karena itu, seratnya harus sesuai dengan kekuatan usus dalam mencernanya. 

 “Serat dalam makanan berfungsi mengikat air dalam jumlah banyak, sehingga memungkinkan sisa makanan dapat lebih mudah dicerna dan cepat keluar,” ujar Tuti Soenardi.
Setidaknya ada 5 manfaat serat:
  • Dapat mengontrol lipid darah dan mencegah terkena penyakit jantung.
  • Mengontrol gula darah agar stabil.
  • Mencegah terjadinya diare.
  • Membantu tubuh menurunkan berat badan.
  • Mencegah hemoroid atau penyakit wasir.
Macam-macam Serat Makanan

Dilihat dari manfaat serat dalam makanan, serat dalam makanan terbagi menjadi 2 kategori:
  • Serat larut dalam air atau soluble. Jenis serat ini dapat memperlambat perjalanan makanan dalam sistem pencernaan. Serat ini akan membentuk jaringan seperti gel atau gummy sehinggga perut terasa penuh. Jenis serat ini: sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan.
  • Serat tidak larut dalam air atau insoluble. Serat ini berperan meningkatkan jumlah volume tinja dan membantu menstabilkan gerakan perut. Bahan makanan yang mengandung serat makanan adalah biji-bijian (produk gandum: wheat bran, oat,  berbagai produk sereal, dan beras merah).

American Dietetic Association merekomendasikan asupan fiber per hari  untuk anak usia 3 sampai 18 tahun dengan rumus “usia + 5”. Misalnya anak usia 4 tahun, maka kebutuhan seratnya “4 + 5”, yakni 9 gram per hari.

Jangan mengonsumsi serat berlebihan karena anak akan merasa cepat kenyang sehingga berisiko kekurangan kalori. Serat yang terlalu banyak juga menghalangi penyerapan vitamin dan mineral.
Kiat agar anak tidak kekurangan serat:
  • Kreasikan bahan makanan yang kaya serat hingga penampilannya menarik. Perhatikan pemilihan warna dan tekstur makanan, dan teknik memasak yang pas. Kombinasikan warna sayuran minimal 3 macam dalam satu hidangan. Pemilihan tekstur bahan makanan yang kaya serat harus sesuai dengan kemampuan mengunyah dan mencerna anak balita.
  • Pilih makanan dengan serat yang dapat dicerna oleh usus untuk usia balita, yakni serat yang tidak larut dalam air. 
  • Bila anak Anda sudah terlanjur kekurangan serat makan, Anda bisa tambahkan suplemen serat yang dapat larut dalam air (pelengkap serat ini hanya dapat dikonsumsi untuk anak-anak usia di atas 2 tahun).


Umumnya, orang tua memberikan dosis obat untuk anak berdasarkan usia. Tapi, tahukah Ma, berat badan anak adalah patokan terbaik untuk menentukan dosis obat anak.

"Jika ia lebih besar dari rata-rata anak seumurnya, dosis obat yang direkomendasikan untuk anak seusianya mungkin tak mempan baginya," kata Richard Gorman, M.D, mantan ketua Committee on Drugs for American Academy of Pediatrics.

Sebaliknya, jika anak tergolong kecil untuk anak seusianya, ia malah bisa overdosis dan timbul efek samping, seperti sakit perut akibat ibuprofen atau mengantuk karena antihistamin.

Bagaimana kalau hanya ada data umur pada kemasan obat? Tanyakan pada dokter atau apoteker apakah anak Anda termasuk besar atau kecil untuk usianya.

Bila mungkin, tanyakan pada dokter anak Anda seputar dosis - berdasarkan berat badan dan umur - untuk obat-obat yang dijual bebas.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Tak ada istilah terlalu dini untuk mendidik anak untuk menjadi lebih santun. Dan jangan batasi anak hanya sampai pada berkata “tolong” dan “terima kasih”. Kata “maaf atau permisi” adalah kata yang juga harus diketahui anak-anak. Beberapa trik berikut ini dapat membuat kebiasaan berperilaku santun melekat dalam benak si kecil.

Jelaskan semua penggunaannya

Ajari buah hati Anda mengatakan “permisi” atau “maaf” kalau tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan di depan orang lain seperti bersendawa, mengupl, atau memotong pembicaraan orang lain atau tanpa sengaja bertabrakan dengan orang lain.

Jangan lupa mempraktikkannya sendiri.
Anak lebih mudah belajar tata krama jika orang tuanya juga bertata krama yang baik. Kebiasaan orang tua adalah yang pertama akan ditiru si kecil. Jadi jagalah perilaku Anda di hadapan anak.

Gunakan dalam permainan
Misalnya saja, bonekanya mengucapkan “maaf” jika berlaku kurang pantas dalam pesta jamuan rekaan si kecil. Dengan menerapkannya menggunakan mainan secara tidak langsung anak akan mencoba menerapkannya.

Jangan Memaksa
Akan lebih efektif jika Anda memuji anak yang mengucapkan kata “maaf” atau “permisi”. Dibandingkan berdebat dengan anak ketika dia tidak mengucapkan hal itu memuji adalah tindakan yang tepat untuk memotivasi anak berperilaku sopan.
 
Sumber : http://parentsindonesia.com/


Orangtua harus mengajarkan pelajaran hidup kepada anak. Pelajaran hidup ini merupakan pengalaman pribadi yang pernah dialami orangtua. Jika Anda ingin mengajarkan tentang kehidupan, Anda harus mulai sejak mereka anak-anak. Inilah beberapa pelajaran hidup yang penting diajarkan kepada anak.

Menghormati orang lebih tua. Ini adalah salah satu pelajar paling penting dalam hidup. Mengajar anak-anak untuk menghormati orang lebih tua akan membuat mereka berperilaku baik. Perilaku anak Anda akan mencerminkan apa yang telah Anda ajarkan kepada mereka.

Kejujuran. Anda mungkin telah mendengar "Kejujuran adalah kebijakan terbaik". Jika Anda tidak mengajari kejujuran masa depan anak bisa tidak baik. Sifat jujur akan tertanam pada anak sampai mereka dewasa.

Kegagalan adalah bagian dari hidup. Anak-anak harus diajarkan bahwa mereka pasti akan merasakan kegagalan pada beberapa titik kehidupan. Tapi banyak orang tua justru resah jika anak mereka mengalami kegagalan. Baik itu dalam hal pendidikan, olahraga atau kegiatan lain. Buatlah anak Anda bisa menerima kegagalan yang merupakan bagian dari kehidupan. Kegagalan adalah kunci keberhasilan, demikian kata-orang-orang yang sudah sukses. Jadikan kegagalan sebagai motivasi anak untuk bekerja lebih keras dan supaya mental lebih kuat.

Empati. Anak harus diajarkan untuk tidak berpikir tentang diri mereka sendiri, tetapi juga memikiran orang lain. Jangan lupa menekankan kalimat seperti ini:  Jika kamu egois, kamu akan sendirian dan tidak akan mendapatkan bantuan dari orang lain. Pelajaran empati ini akan membuat mereka menjadi orang yang dermawan sampai mereka dewasa.

Berbagi adalah Peduli. Anak-anak harus diajarkan untuk selalu menawarkan makanan, mainan dan lain-lain kepada siapapun yang ada di sekitar mereka. Hal ini akan membuat mereka sebagai individu sosial yang aktif karena mereka telah memelajari cara berbaur dengan orang lain.

Kerja Keras. Kemalasan saat kecil membuat anak menjadi pemalas saat dewasa. Anak tidak boleh dimanjakan untuk semua hal. Buat mereka lebih bertanggung jawab pada hal-hal yang mereka lakukan dalam hidup. Memanjakan baik untuk beberapa hal. Tapi memanjakan berlebihan hanya akan membuat mereka malas.

Sopan di tempat umum. Anak harus diajarkan untuk berperilaku baik di depan umum dan menahan diri dari berteriak dan membuat tindakan yang tidak perlu. Jika anak bisa berperilaku baik di tempat umum Ini akan membuktikan bahwa mereka telah dilatih dengan baik dari orangtua.


Mendisiplinkan anak terutama batita memang tidak mudah. Jika Anda salah menerapkan teknik disiplin, si kecil akan terus membuat kesalahan yang sama. Inilah trik mendisiplinkan anak yang perlu Anda ketahui.

Jangan memukul. Anda mengirim pesan bahwa boleh menggunakan paksaan jika memukul anak. Plus, anak kecil belum bisa menghubungkan kesalahannya dengan respons Anda. Memukul juga bisa membuat anak trauma dan di kemudian hari dia bisa berpikir kalau orang tuanya kejam.

Jangan terlalu sering mengatakan “tidak”. Batita yang sering mendengar kata ini akan mengulang kata ini kembali. Sebaiknya fokuskan untuk melakukan apa yang ia bisa: “Mengapa kamu tidak melompat saja ke lantai, bukan ke tempat tidur?”

Jangan memeluknya bila ia menangis. Jika Anda melakukannya, berarti Anda sudah mempersiapkan diri untuk sebuah “kontes menangis” di masa yang akan datang. Sebaiknya biarkan tangisanya reda setelah itu baru memeluknya

Tetap tenang. Teriakan akan membuatnya terkejut atau ketakutan, tapi tak mengubah kebiasaan buruknya.

Perlakukan dia dengan baik. Beri ia ciuman, pelukan, dan pujian saat ia berkelakuan baik.Namun saat berkelakuan tidak baik Anda tidak perlu menghukumnya dengan berat. Berilah hukuman sesuai dengan usianya.

Buat kontak mata. Ini menunjukkan rasa hormat dan perhatian. Kontak mata akan membuat Anda disegani oleh anak bukan ditakuti.

Sumber : http://parentsindonesia.com/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget