September 2015


Semua orang tahu, pendidikan pertama anak berawal dari rumah. Artinya, Andalah guru anak yang sesungguhnya. Sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak di sekolah formal, akan lebih baik jika Anda telah membekalinya dengan kemampuan dasar yang dibutuhkannya di sekolah nanti.


Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd, psikolog anak dan keluarga, memberi contoh, “Ketika akan masuk TK, anak harus dilatih kemandiriannya, agar setidaknya bisa makan dan minum sendiri, atau pergi ke kamar kecil tanpa bantuan. Karena di TK anak juga akan belajar menulis, Anda harus mempersiapkan motoriknya. Latih ia untuk menjumput yang membutuhkan keterampilan ibu jari dan telunjuknya, serta melempar bola yang akan melatih otot bahunya.”

Bagaimana dengan pengetahuan dini, seperti berhitung, bernyanyi, mengenal angka dan abjad, bahkan membaca? Hmm, kalau sekadar masuk TK, sepertinya pengetahuan seperti itu belum diperlukan, ya. Menurut Diana, percuma anak hafal deretan angka dan abjad kalau ia belum mengerti fungsi dari deretan angka dan abjad tersebut. Anda pun sia-sia mengajarkannya membaca kalau pada akhirnya anak tak memiliki minat membaca.

Maryani Anita, mama satu anak yang sekaligus guru di sebuah TK berbasis Montessori, di tahun ajaran baru sering menemukan beberapa anak yang masuk TK dalam keadaan sudah mahir berhitung, mengenal warna, bahkan mengeja. “Memang, sih, tak ada ketentuan bahwa anak masuk TK harus sudah bisa ini dan itu. Tapi, mungkin karena orang tua zaman sekarang lebih ‘rajin’, sehingga semakin banyak anak-anak yang masuk TK sudah ‘pandai’. Tapi, masalahnya, orang tua anak-anak ‘pandai’ ini sangat menekan kami, para guru, agar bisa membuat anaknya ‘lebih pandai’ lagi.

Kalau tidak, kami dianggap gagal. Padahal, kami, kan, harus mengikuti kurikulum dan memerhatikan kesetaraan kemampuan dengan anak-anak lainnya,” kata guru yang biasa disapa Miss Yani ini. Berangkat dari pengalamannya sebagai guru TK, Yani berkesimpulan bahwa ‘bekal’ orang tua dari rumah memang penting. Tapi, jangan berlebihan juga, ya, Ma.

Sumber: www.parenting.co.id

Anak Anda telah bekerja keras selama setahun demi mendapatkan ilmu dan keterampilan baru, serta nilai yang baik. Ia telah bekerja keras mengembangkan dirinya, dan itu juga perlu apresiasi, misalnya dengan:

-Membuat galeri. Pajang hasil karya terbaik anak Anda di dinding yang bisa dilihat semua orang di rumah. Sertakan hasil ulangan dengan nilai-nilai yang bagus, hasil prakarya mereka, gambar dan penghargaan lain yang mereka peroleh selama satu tahun ajaran tersebut. Kerjakan saat anak tidur di malam sebelum hari terakhir masuk sekolah sehingga menjadi kejutan saat ia bangun di pagi harinya.

-Scrapbook berisi foto-foto anak dalam kegiatan sekolah, hasil karya anak, dan quotes atau komentar-komentar lucu tentang sekolah yang ia katakan. Jadikan tradisi di tiap akhir tahun ajaran dansaat anak menjadi orang dewasa yang sukses kelak, Anda punya kenang-kenangan indah berisi perjalanan anak menuntut ilmu.

-Goodie bag perlengkapan liburan. Anak mana yang tidak senang mendapat hadiah kenaikan kelas? Siapkan goodie bag atau keranjang berisi mainan, buku,camilan atau perlengkapan lain yang bisa ia gunakan untuk mengisi liburan sekolah. Berikan saat ia pulang dari hari terakhir masuk sekolah di tahun ajaran itu.
Sumber : parenting.co.id

Ada banyak hal yang mempengaruhi kehidupan kita dengan adanya internet, salah satunya adalah mempermudah seseorang dalam melakukan banyak hal, termasuk dalam hal berkomunikasi. Dengan hadirnya internet, seseorang yang berada dibelahan dunia yang berbeda dapat dan mampu melakukan komunikasi secara langsung, dengan adanya internet sumber informasi menjadi semakin mudah didapat dan diakses.

Internet memang menyimpan sejuta manfaat yang baik untuk kehidupan. Namun disamping itu, juga adapula sejuta ancaman yang bisa diberikan internet dalam kehidupan ini, salah satunya adalah kejahatan dalam internet dan penyalah gunaan fungsi internet yang dapat membawa dampak negatif dalam kehidupan seseorang

Jika tak diawasi dan dikontrol dengan baik, penggunaan internet dapat menjerumuskan seseorang pada kesesatan. Dunia di internet bak sebuah hutan belantara dimana didalamnya terdapat banyak jalan. Jika seseorang menggunakannya untuk tujuan yang baik dan memiliki tujuan yang pasti, maka mereka akan mampu mecapai tujuan mereka dan tidak tersesat di belantara hutan tersebut. Sebaliknya, bagi seseorang yang tidak punya arah dan tujuan internet dapat menjerumuskan dan menjebak seseorang dalam kesesatan.

Jaringan internet bukan hanya dapat diakses lewat komputer dan laptop saja. Apalagi saat ini sudah hadir ponsel cerdas yang telah dilengkapi dengan fitur didalamnya yang memungkinkan si ponsel untuk dapat mengakses internet. Nah, mengingat ada banyak ancaman yang tersimpan di internet, membuat kekhawatiran pada orangtua untuk memberikan fasilitas ponsel kepada anak-anaknya semakin besar. Mereka takut, jika keputusan mereka memberikan ponsel cerdas pada anak-anaknya bisa menjadi awal penyimpangan moral dan perilaku anak-anak. Belum lagi, banyak kasus saat ini ketika orangtua memberikan fasilitas ponsel pada anak-anaknya, tumbuh kembang mereka khususnya perkembangan sosialisasi anak bersama dengan lingkungannya semakin terganggu.

Sementara itu, jika melihat dari sisi manfaat, internet saat ini bak kebutuhan setiap orang untuk mempermudah kehidupan sehari-harinya. Terutama dalam hal mengakses informasi dan komunikasi. Nah, jika sudah dihadapkan pada permasalahan seperti ini, terkadang orangtua dibuat bingung. Manfaat dari ponsel terutama ponsel cerdas sebenarnya banyak, salah satunya adalah membantu anak dalam belajar, karena ponsel dilengkapi dengan aplikasi yang menarik seperti halnya puzzle.

Selain itu, memiliki ponsel juga membantu orangtua untuk dapat mengawasi anaknya di rumah sementara mereka berada di kantor. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan disini adalah kemampuan anak dalam mengadopsi tekhnologi yang begitu cepat tidak sejalan dengan kemampuannya dalam mengemban tanggung jawab saat mereka menggunakannya. Lantas, apa sajakah yang perlu dilakukan orangtua sewaktu anak mereka meminta fasilitas ponsel?

1. Menunda dan Mengulur Waktu

Seorang edukator Parenting bernama Judy Arnall menunjukan untuk para orangtua yang berhubungan dengan generasi digital, menyarankan agar mereka sebisa mungkin menunda dan mengulur waktu selama mungkin ketika memberikan fasilitas ponsel atau gadget untuk anak-anak mereka.

Ada begitu banyak alasan mengenai hal ini, selain alasan finansial dan sosial. Sebab hal yang perlu diingat dan dipelajari dari banyak kasus terdahulu adalah, bukan hanya pada anak-anak, secara nyata kehadiran ponsel pintar nyatanya mampu membuat orang dewasa kecanduan dan bahkan berubah menjadi "anti-social" sewaktu mereka menggunakannya. Untuk itulah, ketika anda memberikannya kepada anak-anak maka bukan hal mustahil bagi mereka mengalami hal yang serupa.

Dengan demikian, sewaktu si buah hati meminta anda untuk memfasilitasi mereka dengan ponsel pintar, ada baiknya pertimbangkan banyak hal dan sebisa mungkin ulur-ulur waktu ini selama keinginan si kecil bisa diredam dan dialihkan pada sesuatu hal yang lain yang lebih membuat mereka tertarik. Sebab kami yakin, anda para orangtua tidak ingin menyaksikan masa kecil anak-anak anda hanya dihabiskan dikamar dan tidak mampu bersosialisasi.

2. Pertimbangkan Faktor Finansial

Bukan hanya biaya yang dihabiskan sewaktu membeli ponsel. Hal ini yang perlu dipertimbangkan adalah masa depan si kecil bersama dengan ponsel pintarnya. Ada kalanya, biaya pulsa pada anak bisa membengkak dan tak terkendali, meskipun orangtua sudah mengawasinya. Jika hal ini terus-menerus terjadi pada si kecil, maka siapkah anda untuk membiayai hal tersebut? Nah, hal inilah yang penting diperhatikan dengan seksama. Untuk itu, perlu sekali bagi orangtua untuk mengevaluasi sejauh mana ponsel yang dipegang anak itu memang mereka butuhkan.

Selain itu, pertimbangkan pula apakah anda perlu untuk menghapus beberapa aplikasi internet dan email pada ponsel pintarnya atau mungkin mengganti ponsel pintar dengan ponsel biasa saja. Untuk hal ini, sebaiknya diskusikan hal ini bersama dengan anak anda agar mereka memahami bahwa ponsel tersebut tidak bisa digunakan sepuasnya mengingat biaya yang dikeluarkan untuk hal tersebut sangatlah mahal.

3. Jika Setuju Membeli, Berikan yang Sesuai

Jika setelah anda menunda-nunda terlalu lama dan keinginan anak sudah tidak bisa lagi dialihkan pda hal yang lain. Maka, jika saja anda setuju untuk memfasilitasi mereka dengan ponsel, maka berikan ponsel yang sesuai dengan anak. Carilah model yang tepat untuk mereka, cermati pula fitur-fitur yang ada didalamnya dan upayakan hal untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul.

Selain itu, bila perlu anda juga bisa memberikan mereka nomor ponsel pra-bayar sehingga anda bisa mengontrol tagihan pulsa yang mereka keluarkan setiap bulannya. Hanya karena ini adalah zaman yang canggih, anda lantas menuruti keinginan anak untuk dibelikan ponsel paling canggih dan mahal. Ingatkan kembali, anak-anak umumnya masih begitu ceroboh, jika anda memberikan fasilitas mewah dengan membelikan ponsel mahal. Tidakkah anda khawatir jika mereka bisa menghilangkannya? Untuk itu, sebaiknya belikan ponsel yang sesuai untuk anda dengan dilengkapi fitur yang mereka butuhkan, buka mereka inginkan.

4. Ajari Penggunaan yang Tepat dan Awasi

Mengajari anak cara mengoperasikan ponsel yang benar adalah hal yang penting. Hal ini selain untuk membuat anak bisa dengan benar menggunakan ponsel yang telah anda belikan, juga sekaligus memberikan tanggung jawab untuk mereka. Misalkan, ajarkan anak untuk mengenal tatakrama dan sopan santun saat mengoperasikannya. Beritahukan pada mereka bahwa mengoperasikan ponsel dihadapan lawan bicara adalah hal yang tidak terpuji.

Selain itu, tetap awasi penggunaan dan tidak ada salahnya sesekali mengecek ponsel anak untuk mengetahui jika saja ada aplikasi atau hal yang tidak seharusnya ada diponsel mereka.

Kehadiran ponsel memang bak kebutuhan yang memudahkan seseorang untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Termasuk pada si kecil. Akan tetapi sebagai orangtua terkadang kita bingung memfasilitasi anak dengan barang ini karena takut di salah gunakan. Nah, mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan sewaktu anak meminta ponsel untuk fasilitas mereka adalah solusi yang baik untuk anda dalam mendidik, mengurus dan membesarkan anak di era digital.

Demam, merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja termasuk oleh anak-anak. Beberapa orang tua sering kali kebingungan ketika mendapati anaknya mengalami peningkaan suhu tubuh. Kecemasan yang dialami oleh orang tua akan menimbulkan beberapa tindakan yang berlebihan dalam penanganan demam. Padahal demam merupakan suatu mekanisme yang terjadi di dalam tubuh dalam mengatasi infeksi.

Demam tidak membahayakan asalkan tidak menimbulkan dehidrasi, kesadaran menurun ataupun kejang. Demam dapat sebagai tanda pertahananan tubuh yang terjadi dikarenakan adanya benda asing dalam sistem tubuh, misalnya saja anak anda demam setelah diberikan imunisasi . Ini merupakan kondisi yang tidak memerlukan penanganan medis. Selain itu demam dapat pula disebabkan karena adanya virus yang masuk ke dalam tubuh sehingga memerlukan antibiotika. Anda tidak perlu cemas ketika anak demam, pertama kali anda harus mengetahui penyebab demam pada anak. Penanganan yang berlebihan terhadap demam anak, misalnya saja langsung diberikan obat antibiotika dan langsung melakukan cek darah justru sering kali merugikan anak dibandingan dengan menghilangkan demam pada anak.
Berikut adalah beberapa langkah pertolongan pertama pada anak demam :

1.    Salah satu gejala yang tampak

Pertama demam dapat disebabkan karena infeksi virus, salah satu yang tampak lesu dan tidak mempunyai gairah untuk bermain. Infeksi virus ditandai dengan batuk, pilek atau diare tanpa darah. Ciri khas infeksi demam yang disebabkan oleh virus adalah demam yang tinggi pada hari 1-2 hari, biasanya pada hari ke 4-5 naik tetapi tidak setinggi pada hari pertama, umumnya pada hari ke 6-7 akan pulih sesuai dengan kondisi sebelumnya, sehingga dalam penanganan demam yang terinfeksi virus tidak memerlukan antibiotika ataupun cek darah.

2.    Kompres dengan air hangat

Apabila penyebab demam adalah infeksi virus, anda dapat memberikan pertolongan pertama dengan cara mengompres menggunakan air hangat. Air hangat dapat langsung pada pusat tubuh sehingga akan menurunkan suhu secara otomatis. Hindari menggunakan alkohol atau air dingin. Alkohol akan berbahaya karena uapnya berdampak buruk ketika terhirup oleh bayi. Anda juga dapat menggunakan plaster kompres yang sering kali banyak ditemui dipasara.

3.    Selalu Periksa suhu tubuh

Anda dapat mengontrol suhu tubuh anak dengan menggunakan termometer, suhu normal pada anak berkisar antara 36-37 derajat celcius,sehingga apabila anak anda memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi 37 derajat maka dapat diberikan terapi ringan terlebih dahulu, misalnya dengan banyak minum air putih sehingga anak anda tidak mengalami kekurangan cairan.

4.    Berikan obat penurun demam

Anda dapat memberikan obat penurun demam khusus anak sesuai dengan usia, salah satunya adalah dengan memberikan parasetamol. Parasetamol merupakan obat penurun demam yang dianggap memiliki efek samping yang rendah pada tubuh bayi. Meskipun begitu sebaiknya anda membaca petunjuk dokter agar tidak mengalami resiko gangguan fungsi hati, bila diberikan dengan dosis yang tidak tepat.

5.    Penanganan dokter

Apabila bayi anda demam pada usia 3 bulan, suhu tubuhnya melebihi 37,5 derajat celcius sebaiknya segera diperiksakan ke dokter anak. Selain itu apabila anak demam dengan kondisi urinnya kental dan kakinya sering kali menggerak-gerakan, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan infeksi saluran kemih atau demam yang tidak turun-turun selama 3 hari lebih disertai dengan mimisan atau bintik merah,sebaiknya segera bawa anak anda ke dokter untuk melakukan tes kesehatan.

Sumber : Bidanku.com

Setiap orangtua tentunya ingin jika anak mereka bisa tumbuh menjadi seseorang yang cerdas dan mampu menguasai segala bidang ilmu pengetahuan.

Betapa tidak, memiliki anak yang cerdas dan berbakat akan tentu saja mengantarkan orangtua pada kesuksesannya dalam mendidik dan membesarkan buah hatinya. Anak-anak yang cerdas dan berbakat tidak akan sulit diterima didunia pekerjaan. Begitupun dengan lingkungannya, mereka yang cerdas akan cenderung lebih berguna dan dibutuhkan bagi lingkungannya. Serta tentunya, kecerdasan dan bakat pada diri anak tentu saja melahirkan generasi baru yang lebih berkualitas.

Akan tetapi melahirkan generasi yang cerdas dengan bakat yang hebat tentunya tidak didapat dengan mudah semudah membalikan telapak tangan. Diperlukan perjuangan dan dedikasi yang tinggi dari orangtua mereka untuk mendidik dan membantu anak mengembangkan bakatnya. Adalah kesabaran dan ketekunan yang harus dimiliki oleh orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka agar tumbuh cerdas dan berbakat.

Bukan hanya mengembangkan bakat akademis dengan mengirimkan anak ke sekolah. Di sisi lain orangtua juga memegang peranan yang besar dalam membimbing dan membantu anak mengembangkan minat dan bakatnya. Sebab dikeluargalah anak-anak umumnya banyak menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Untuk itulah, orangtua harus mampu mengupayakan segala hal yang bisa mendukung dan membantu anak dalam menumbukan bakat anak.

Nah, dalam upaya menumbuhkan bakat anak, peran orangtua akan sangat menentukan. Sebab, orangtua merupakan pondasi pengembangan bakat anak-anaknya. Untuk itulah, segala bentuk sikap dan perilaku pada diri orangtua akan berpengaruh pada anak, terutama mempengaruhi anak dalam menumbuhkan bakatnya. Dalam arti lain, ketika anda menginginkan anak anda sukses, maka beberapa bagian kesuksesan pada diri anak tersebut akan ditentukan dalam lingkungannya di keluarga, apakah linkungan keluarganya mampu mendukung kesuksesannya tersebut atau tidak.

Tidak banyak orangtua yang tidak sadar jika perilaku keseharian mereka, ikut menyumbang setiap pundi-pundi yang menentukan anak dimasa depannya kelak. Untuk itulah, sudah saatnya kini orangtua merubah segala hal buruk dan kebiasaan dalam keluarga yang seringkali tak disadarinya. Hal ini tentunya semata-mata demi membantu anak mereka untuk bisa mengembangkan bakatnya.

Lantas, hal apa sajakah dari perilaku orangtua yang dapat menumbuhkan bakat pada buah hatinya? Yuk, kita simak dibawah ini.

1. Menjadi Pendengar yang Baik

Seringkali sebagai orangtua kita menganggap bahwa peraturan dan kebijakan sepenuhnya berada ditangan kita. Dan tanpa disadari, hal ini membuat kita mengabaikan anak-anak dan tidak mendengarkan apa yang mereka inginkan. Sehingga pada akhirnya, tak jarang kita terkesan terlalu mendikte anak-anak menjadi apa yang kita inginkan. Namun, jika hal ini terus-terusan dilakukan, tentunya mustahil bagi orangtua bisa mengenali dan mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat pada anak.

Untuk itulah, belajarlah untuk membuka diri dan mendengarkan isi hati mereka. Betatapun dengan mendengarkan anak-anak tidak akan menjadikan orangtua menjadi satu langkah lebih rendah atau setara dengan anak-anak. Justru sebaliknya, orangtua yang mampu memposisikan diri menjadi teman anak untuk mencurahkan hatinya akan cenderung lebih mudah memahami anak-anaknya dan mengenali apa yang menjadi minat si anak. Nah, dari sinilah ketika orangtua memahami minat dan bakat si anak, maka akan semakin mudah untuk kita membantu mereka mengembangkan bakatnya.

2. Nikmatilah Setiap Waktunya!

Tidak semua orangtua menjalani aktivitas sehari-hari mereka dengan penuh kesadaran dan menikmatinya. Sebagian dari orangtua menganggapnya sebagai rutinitas sehari-hari yang dilakukan berulang-ulang sebagai kebiasaan, bahkan tak sedikit diantaranya yang menggangap hal tersebut sebagai sesuatu yang melelahkan dan membosankan. Akan tetapi, membangun kesadaran diri adalah hal yang bermanfaat untuk membina hubungan yang baik dan efektif bersama dengan anak-anak, serta membangun situasi yang kondusif untuk semain menumbuhkan bakat pada si anak.

Untuk itulah, jangan pernah menganggap rutintas sehari-hari anda menjadi sebuah beban yang terpaksa anda jalankan. Sebaliknya, nikmatilah setiap momennya dan jalin komunikasi lewat hubungan baik bersama dengan anak-anak untuk mengenali apa bakat dan minat yang mereka miliki.

3. Membangun Kepedulian

Tidak sedikit orangtua yang seringkali mengabaikan anak-anak mereka. Umumnya, hal ini lebih banyak menimpa orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter. Dimana orangtua menganggap harus ada batasan antara anak dan orangtuanya.

Rasa peduli yang dimiliki oleh orangtua terhadap anak-anaknya akan memudahkan anda dalam memberikan ruang dan dukungan yang tepat bagi mereka, sehingga rasa percaya diri pada anak-anak untuk mengembangkan bakatnya akan secara otomatis bisa mereka dapatkan. Untuk itu, jadilah orangtua yang mampu memberikan dukungan pada anak-anaknya agar mereka lebih mampu mengembangkan bakatnya dengan lebih mudah.

4. Hindari Memaksakan Obsesi Pada Anak

Seringkali cita-cita orangtua dimasa lampau yang belum tercapai membuat obsesi mereka ditanamkan pada anak-anaknya. Hal ini seringkali mereka lakukan dengan melakukan segala dan mengarahkan anak mereka agar mencintai dan memintati cita-cita anda. Seringkali orangtua tidak menyadari bahwa sesungguhnya hal ini dilakukan dengan mengabaikan minat anak-anaknya sendiri. Untuk itulah, jadilah orangtua yang bijak dengan memberikan anak-anaknya kebebasan untuk memilih dengan leluasa apa yang menjadi bakat dan keinginannya. Dengan begini anak-anak akan dengan senang hati menjalani dan mengembangkan hal tersebut jika itu adalah pilihan hatinya.

Daripada memaksakan kehendak anda, akan lebih baik jika anda mendukung mereka dan terus membimbing anak anda.

5. Menjadi Contoh dan Teladan yang Baik

Sudah bukan hal yang asing ditelinga kita bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung. Segala hal yang mereka lakukan umumnya sebagian besar mereka adaptasi dari lingkungannya. Dimana hal ini juga terjadi dilingkungan keluarganya, anak-anak akan cenderung melihat dan secara otomatis meniru segala perilaku yang dilakukan oleh orangtuanya.

Untuk itulah, guna membangun dan membantu anak dalam membangun minat dan bakatnya, maka menjadi contoh dan teladan yang baik adalah hal yang penting untuk dilakukan. Usahakan dan upayakan segala cara agar sebisa mungkin segala perilaku dan sikap yang anda tunjukan pada anak adalah sesuatu hal yang positif, sehingga ketika hal ini diadaptasi oleh anak-anak akan baik pula untuk dirinya.

6. Memuji Keberhasilan Anak

Memberikan anak sebuah penghargaan atas pencapaian dan kerja keras yang telah ia lakukan adalah hal yang penting untuknya. Dengan begini, anak-anak akan lebih termotivasi untuk melakukan lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Tidak perlu memberikan mereka dengan hadiah yang mewah dan berhaga maha. Memberikan Penghargaan seperti bentuk pujian akan membuat mereka senang dan semakin termotivasi semangatnya. Selain itu, belajarlah untuk menghargai kerja keras yang anak lakukan, bukanlah hasil akhir yang mereka dapatkan.

Minat dan bakat pada diri anak sebagian besar dipengaruhi oleh perilaku dan sikap orangtua. Untuk itulah, memperhatikan dan menjadi tauladan yang baik untuk anak-anak adalah hal yang harus senantiasa dimiliki oleh orangtua.

Sumber : Bidanku.com

Sewaktu akhir pekan, ketika semuanya berkumpul dirumah adalah kegiatan yang menyenangkan bisa bercengkrama dan berkumpul bersama dengan semua anggota keluarga. Apalagi, jarang sekali mendapatkan momen seperti ini ketika si ayah harus bekerja dan si kakak sudah mulai masuk sekolah dasar. Dirumah, ibu hanya ditinggal berdua bersama dengan si adik yang masih balita. Itulah mengapa, kegiatan berkumpul bersama-dama menjadi momen jarang yang sangat menggembirakan.

Akan tetapi, ketika si kakak dan si adik disatukan dalam sebuah ruangan dan bermain bersama, selalu ada saja perselisihan yang terjadi. Hal tersebut terjadi tak jarang karena disulut dengan saling berebut barang yang masing-masing bersih kukuh ingin memilikinya. Si kakak yang masih kecil dan si adik yang terlalu kecil, seringkali susah untuk mengatur mereka dan meminta salah satunya mengalah. Alhasil, rumah yang tadinya begitu hangat dengan kebersamaan, berubah menjadi kegaduhan dan pecah seketika dengan perselisihan keduanya.

Jika sudah begini, ibu dan ayah langsung mengusap kening dan menghela nafas seolah sudah terlalu sering dihadapkan pada kondisi demikian. Namun demikian, sebagai orangtua tentunya, kita tidak ingin jika si kakak dan si adik terus-terusan terjebak dalam perselisihan akan hal sepele. Alih-alih, nantinya akan sulit bagi orangtua mengajak serta kedua buah hatinya berpegian keluar rumah. Apalagi saat bertemu dengan sanak saudara atau teman-teman ayah dan ibu. Perkelahian anak-anak yang saling berebut barang akan tentu saja membuat kita merasa malu dan canggung dengan oranglain yang melihat sikap dua buah hati kita.

Anak-anak yang berebut barang atau mainan memang hal yang lumrah. Apalagi jika mengingat ego mereka ketika masih anak-anak masih begitu tinggi dan sikapnya masih meleda-ledak. Disamping itu, umumnya tindakan anak-anak sulit sekali diprediksi, sebentar dia menginginkan itu dan sebentar lagi anak-anak sudah menginginkan barang milik oranglain, termasuk milik saudaranya sendiri. Akan tetapi, jika sikap ini sudah tak lagi dapat dimaklumi dimana keduanya sudah berntindak diluar batas dengan menyakiti satu sama lain ketika berselisih dan berebut barang, maka perlu sekali tindakan orangtua untuk bisa menghentikan perbuatan anak-anak. Apalagi mereka berdua terikat dengan hubungan sedarah. Jangan sampai, sikap dan perilaku keduanya terbawa hingga mereka besar dan dewasa nanti, yang mana dikhawatirkan akan tumbuh persaingan dalam diri anak-anak dan membuat kebencian hadir dalam dirinya.

Adalah hal yang wajar, ketika si kakak dan si adik berebut barang, si adik kecil seringkali menangis dan berteriak, begitupun dengan si kakak. Orangtua perlu menjadi penengah dalam pertengkaran anak dan dituntut untuk bisa berlaku bijak menyikapi perselisihan ini.

Nah, agar ibu bisa mengatasi anak-anak yang seringkali berebut barang atau mainan. Kali ini kami akan berikan tips mudah agar mereka tak lagi berebut mainan dan tidak terjebak dalam perselisihan yang tiada akhirnya.

Bersikap Objektif Terhadap Anak-Anak

Ketika ibu mendapati anak-anak sedang berselisih karena berebut mainan, maka jangan lantas menyalahkan salah satu anak yang paling tua untuk mengalah dan membela si kecil dengan alasan adiknya masih begitu kecil untuk memahami semua itu. Sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu pangkal permasalahannya pada salah satu. Dan tanyakan pada yang lain apakah benar demikian atau tidak.

Dari sinilah anda akan tahu apa yang harus anda lakukan selanjutnya. Jika barang tersebut memanglah milik si kakak, maka mintalah anak anda yang paling kecil untuk memberikan pada kakaknya. Setelah itu, ajak anak yang paling kecil untuk ikut bersama anda. Dari sini, anda bisa memberikan pengertian pada anak anda yang masih kecil, bahwa mereka harus belajar menghargai milik oranglain. Hal ini tentunya bukan hanya berlaku saat anak menggunakan atau berusaha mengambil barang si kakak saja, namun juga barang-barang miliki orang lain.

Jangan Memaksa

Ketika anak bermain dengan teman-temannya atau saudaranya, sebaiknya jangan pernah memaksa anak untuk membagi semua yang ia miliki. Biarkan anak memilih sendiri mainan atau barang mana yang ingin ia mainkan bersama dengan oranglain. Dengan begini, anak juga akan belajar bahwa tidak semua hal bisa ia bagi dengan orang lain. Selain itu, ketika anak mengikuti nalurinya sendiri untuk dapat memilih apa yang boleh ia bagi, maka ia akan dapat memberikannya dengan lebih lapang dada. Sehingga tidak ada alasan untuknya bisa merebut barang tersebut secara paksa dari teman atau saudaranya.

Berikan Aturan yang Tegas Pada Anak

Salah satu cara untuk menghindari perselisahan karena berebut barang pada anak adalah dengan memberikan atau memberlakukan aturan yang tegas pada anak-anak. Hanya saja, tentunya aturan tersebut sesuai dengan usia anak. Jangan sampai anda memberlakukan aturan yang tagas dengan sanksi yang kejam seperti memukul anak, mengurung anak dan lain sebagainya. Yang terpenting dari poin ini adalah membuat anak jera atau merasa takut merebut barang milik oranglain karena anda telah membuat kesepakatan sebelumnya dengan si kecil. Dengan demikian, perselisihan dan pertengkaran pada anak bisa dihindari.

Tunjukan Sikap Pengertian

Ketika anak mengadukan teman atau saudaranya merebut mainan sendiri atau mereka tidak ingin berbagi dengan anak anda, anda lantas mengatakan "Sudah, biarkan saja." Kata-kata ini justru akan lebih menunjukan bahwa anak juga diajarkan untuk mengabaikan perasaan dan keinginannya untuk memainkan sebuah barang.

Untuk itu, sebaiknya tanggapi curahan hati anak dan tanyakan dulu pada temannya mengapa ia tidak ingin berbagi permainan tersebut atau mengapa ia merebut mainannya. Dengan begini, anak-anak akan merasa dihargai dan diperhatikan.

Ajak Anak Bersosialisasi

Teori mengajarkan anak agar mau berbagi tidak hanya cukup membuat anak mengerti. Pada akhirnya, anak-anak pun akan membutuhkan praktek yang jelas yang akan membuatnya mengalami hal tersebut. Untuk itulah, ibu bisa mengajak anak bersosialisasi dengan lingkungan bermain anak yang baru dimana didalamnya terdapat anak-anak sesuai dengan anak anda, seperti misalkan playgroup atau taman kanak-kanak. Disini anak-anak akan langsung mengalami sendiri bagaimana berbagi dan tidak saling berebut. Mintalah anak-anak untuk bisa berbagi dengan teman dan sahabat-sahabatnya agar mereka bisa bermain bersama dan menikmati hari-harinya.

Berikan Contoh yang Baik

Dalam segala hal orangtua adalah figur yang akan senantiasa ditiru oleh anak-anaknya. Baik dalam segi perilaku maupun sifat. Untuk itulah, orangtua harus mampu memberikan contoh yang baik dan menjadi tauladan untuk anak-anaknya. Ketika anda menginginkan anak-anak tidak selalu berebut barang atau mainan dengan teman-teman dan saudaranya, maka ajarkan pula konsep berbagi dengan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begini, anak-anak secara tidak langsung aka menyerap dan mempraktikan apa yang mereka lihat dari kedua orangtuanya.

Dunia anak adalah dunia bermain yang dihiasi dengan keceriaan. Akan tetapi, ketika keceriaannya terenggut karena sikap anak-anak saling berebut barang, tentu saja hal ini akan membuat kita kewalahan menghadapi anak-anak. Nah, beberapa tips diatas diharapkan mampu membantu ibu mendapatkan solusi agar anak-anaknya tak selalu berebut barang dengan saudara atau teman-temannya.

Sumber : Bidanku.com

Bukan saja terjadi pada orang dewasa, gigi kuning juga banyak dijumpai pada Anak dan balita. Seperti halnya orang dewasa, anak dan balita yang memiliki gigi berwarna kuning akan merasa minder, karena diusia balita mereka sudah mulai senang memperhatikan penampilannya. Lantas bagaimana saat gigi anak berwana kuning, perlukah kita membawanya ke dokter? Sebelum membawanya kedokter, kita kenali terlebih dahulu apa sebabnya. Warna gigi amat bervariasi, sehingga perlu dilihat terlebih dahulu apakah kuningnya gigi termasuk kepada warna kuning yang normal atau tidak.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan gigi anak menjadi kuning, seperti misalnya akibat konsumsi air minum yang berasal dari pompa air dengan kadar zat besi yang begitu tinggi atau penyebab lainnya bisa juga dipicu karena terdapat kandungan stain yang mengkontaminasi air yang kemudian diminum oleh anak, konsumsi vitamin yang mengandung zat besi serta cara menggosok gigi yang kurang tepat, akibatnya terjadi penumpukan plak dan sisa makanan. Jika hal ini terus dibiarkan, bukan saja warna kuning yang bisa menjadi permasalahan, gigi berlubang dan sakit gigi juga bisa timbul. Selain itu, ternyata antibiotik yang dikonsumsi oleh si anak juga ikut berperan pada pembentukan warna kuning digiginya. Sebab antibiotik yang diminum dibawa melalui pembuluh darah yang sebagian diendapkan pada gigi.

Adapun antiboitik yang amat menmpengaruhi pembentukan warna kuning pada gigi terutama pada gigi bayi adalah tetrasiklin yang dapat membuat gigi berwarna kuning keabu-abuan. Apabila hal ini terjadi pada masa gigi susu tumbuh pada anak, maka kemungkinanan penyebabnya bisa dikarenakan konsumsi tetrasiklin pada saat masa kehamilan anda. Hanya saja, dewasa ini penemuan kasus kelainan gigi pada anak akibat konsumsi tetrasiklin amatlah jarang. Hal ini dikarenakan, saat ini penggunaan tetrasiklin dilarang keras saat masa kehamilan dan usia anak dibawah usia 12 tahun.

Lantas Bagaimana Mencegah timbulnya gigi kuning untuk buah hati selanjutnya? Berikut tips yang bisa anda lakukan :

1. Selektif memilih Vitamin untuk sikecil
Beberapa vitamin yang beredar, banyak mengandung zat besi yang begitu tinggi. Untuk itu, untuk mencegah timbulnya warna kuning pada gigi sikecil adalah dengan selektif memilih vitamin dengan kandungan zat besi yang seimbang dengan kandungan vitamin lainnya.

2. Hindarkan Sikecil Dari Makanan dan Minuman Manis
Selain merusak gigi yang dapat membuatnya berlubang, kandungan pemanis dalam makanan dan minuman yang disantap oleh sikecil ikut berperan dalam pembentukan warna kuning pada giginya. Untuk itulah, ada baiknya mulai membatasi makanan dan minuman manis pada sikecil yang pada akhirnya lambat laun sikecil dapat sedikit dihindarkan dari konsumsi makanan dan minuman manis yang terlalu.

3. Terapkan Aturan Rajin Menggosok Gigi
Malas menggosok gigi bukan hanya dijumpai pada anak-anak, bahkan orang dewasapun kerap kali menyepelekan manfaat dari menggosok gigi. Padahal, ketika beraktifitas dan banyak makanan yang dimasukan kemulut, plak dan kuman akan bersarang pada gigi, jika tidak dibersihkan maka plak dan kuman ini akan menumpuk yang bisa menimbulkan sakit gigi dan juga karang gigi. Untuk membeiasakan anak rajin menggosok gigi, maka anda sebagai orang tua tentunya harus bisa dijadikan sebagai contoh yang baik. Pribadi anak-anak cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang tua mereka, agar anak rajin menggosok gigi, maka andapun harus serta merta rajin menggosok gigi.

Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah timbulnya warna kuning pada gigi. Namun cara yang terbaik untuk mengetahu seberapa parah gigi kuning pada sikecil adalah dengan memeriksakannya kedokter gigi minimal 6 bulan sekali.
Sumber : bidanku.com

Anak-anak akan mudah tertarik pada hal-hal yang mereka anggap menakjubkan, salah satunya adalah televisi. Seorang anak dapat dikatakan menggalami kecanduaan televisi saat mereka bersedia mengorbankan hal-hal yang disukainya dulu dan mengalihkan perhatian sepenuhnya terhadap televisi.

Sekarang ini, setiap orang tua yang menghabiskan hidupnya di perkotaan banyak mengalami masalah serupa, yakni adalah bagaimana menghentikan kecanduan anak-anak mereka dari menonton televisi secara terus-menerus. Waktu belajar, waktu makan atau melakukan aktivitas lain, anak-anak sering menggunakan banyak waktunya didepan televisi. Televisi bak candu yang dapat menambah pengetahuan dan juga dapat mengakibatkan rusaknya rutinitas serta tingkah laku seorang anak.

Televisis sudah seperti pusat dari kehidupan anak-anak, hal ini dikarenakan televisi kerap bertindak sebagai guru, tutor, babysitter, serta penghibur yang berhimpun jadi satu. Segalanya bergantung pada televisi. Efek negatifnya, terkadang anak mengukiti apa yang dilihatnya ditelevisi seperti sinetron, adegan kriminal, kekerasan dan kata-kata yang tidak sebaiknya diucapkan oleh anak seusianya. Untuk itu, menghentikan anak-anak dari kecanduan televisi adalah hal yang harus sedini mungkin diterapkan padanya.
Berikut tips yang bisa anda lakukan untuk menghentikan anak dari kecanduan yang bisa membawa mereka pada pergaulan yang salah.

1.    Mulailah Dari Sekarang
Kecanduan anak dari televisi berawal dari kebiasaannya berada dekat dengan televisi. Bahkan, tak jarang ditemui dalam beberapa kasus, anak berusia 2 tahun sudah mulai tertarik memperhatikan televisi. Jika hal ini dibiarkan dan tidak segera ditangani, maka kebiasaanya ini akan berubah menjadi kecanduan yang akan semakin sulit untuk dihilangkan. Untuk itu, mulailah menghentikan kebiasaanya ini dari sekarang

2.    Jadilah Contoh yang Baik
Dalam hal menghentikan anak dari kecanduannya terhadap televsi, maka peran orangtua amat dibutuhkan. Jika anda tidak terbiasa menghabiskan waktu didepan televisi, maka anak tidak akan secara otomatis tergoda untuk menghabiskan waktunya disana.

3.    Mendrong Anak Untuk Bersosialisasi
Anak yang introvert cenderung akan menghabiskan banyak waktunya dikamar atau dirumah. Ketika tidak banyak kegiatan yang mereka temukan dirumah, maka televisi akan menjadi pelampiasan kegiatannya. Dengan begini anak akan terbiasa menyendiri dan hanya bertemankan dengan televisi.

4.    Habiskan Waktu Berkualitas
Salah satu cara untuk menghentikan kecanduan akan televisi adalah dengan menghabiskan waktu berkualitas dengan anak, yang hendaknya hal ini dijadikan sebagai rutinitas. Sebisa mungkin luangkan waktu berkualitas untuk sekedar mengobrol, membacakan cerita, bahkan mendampingi anak bermain. Hal ini juga akan semakin menumbuhkan kedekatan anda dengan sikecil.

5.    Merencakan Bayi Lain
Seorang anak tunggal selalu lebih rentan berakhir menjadi seorang pecandu televisi dan tekhnologi canggih lainnya. Hal ini semata-mata mereka lakukan untuk menyirnakan rasa kesepiannya karena tidak memiliki teman atau sodara lain yang bisa diajaknya untuk bermain. Untuk itu, memiliki sodara adalah solusi terbaik untuk membuat anak dapat berkomunikasi dan membuatnya dapat menghabiskan waktu dengan saudara kandungnya. Untuk itulah menghadirkan satu anak lagi akan dapat menghentikan kecanduan anak dari televisi.

6.    Tidak Menyediakan Televisi Dikamar Anak
Menyediakan televisi dikamar anak sama artinya dengan mengarahkan anak untuk menjadi seorang pecandu televisi. Membuat mereka nyaman dan senang, tidak berarti harus selalu memenuhi setiap keinginan anak. Namun, memenuhi segala kebutuhannya adalah hal yang bijak. Diusianya yang masih begitu dini, sebenarnya anak tidak terlalu membutuhkan fasilitas televisi dikamarnya, untuk itu baiknya tidak menyediakan fasilitas ini dikamarnya untuk menghindarkan dan menghentikan kecanduan televisi pada anak.

Televisi bukanlah sesuatu hal yang buruk untuk anak anda. Televisi bisa dijadikan media pembelajaran untuk anak. Ada banyak pelajaran yang bisa anak dapatkan dari televisi. Hanya saja jika waktu dan kebiasaan anak ini sudah menjadi candu, maka hal ini dapat membuat rutinitas mereka yang tak kalah penting menjadi berantakan. Untuk itu, sebaiknya kontrol kebiasan anak agar tidak berlebihan.

Sumber : Bidanku.com

Sebagian besar orang tua pendengar yang buruk bagi anak-anaknya. Benarkah? bila ada suatu masalah yang terjadi pada anak, orang tua, ia merasa suka menyela langsung menasehati tanpa mau bertanya permasalahannya serta asal-usul kejadiannya.

salah satu contoh, anak kita baru saja pulang sekolah mestinya siang ternyata baru pulang sore hari. Kita tidak mendapat keterangan apapun darinya atas keterlambatan tersebut. Tentu saja kita merasa kesal menuggu, sekaligus juga khawatir. Lalu pada saat anak kita sampai dan masih lelah, kita langsun menyambutnya dengan serentatan pertanyaandan omelan. Bahkan setiap kali anak hendak berbicara, kita selalu memotongnya. Akibatnya ia malah tidak mau bicara dan marah pada kita.

Pada saat seperti itu, yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak adalah ingin didengarkan terlebih dahulu dan ingin diprhatikan. Keterlambatannya ternyata disebabkan adanya tugas mendadak dari sekolah. Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berbicara, ia merasa tidak dihargai dan akhirnya dia juga berbalik untuk tidak mau mendengarkan kata-kata kita.
Tips

Jika kita tidak menghendaki hal ini terjadi, maka mulai saat ini jadilah pendengar yang baik. Perhatikan setiap ucapan ceritanya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menunjukan ketertarikan kita akan persoalan yang dihadapinya. Dengan demi oleh kian, kita mengetahui prmasalahan secara utuh dan benar. ingatlah pesan yang disampaikan oleh Sang Pencipta melalui anggota tubuh kita, yaitu Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut; yang tuhan menghendaki kita dua kali mendengarkan dan satu kali berbicara. Dan jangan dibalik. Berikan kepada anak waktu yang seluas-luasnya untuk mengungkapkan segalanya. Cukup dengarkan dahulu dengan meberi tanggapan antusias dan empati. Tahanlah untuk tidak berkomentar apapun sampai saatnya tiba.

Sumber :  Bidanku.com

Seringkali para orangtua dibuat frustasi sewaktu anak-anak mereka sulit sekali dinasihati dan dilarang melakukan sesuatu hal.

Dinasihati tidak mendengar, diberikan pengertian tidak masuk sama sekali,  apalagi sewaktu diberikan perintah, jangankan mendengar, mereka malah menolak mentah-mentah perintah kita dan berlalu begitu saja. Namun lagi-lagi, meski diperlakukan demikian seringkali sebagai orangtua kita kalah dengan ego anak yang begitu tinggi dengan alasan mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa. Namun tahukah anda, jika pola asuh yang demikian terus-terusan anda terapkan pada anak-anak, hal ini bukannya menyelesaikan masalah dan membuat anak anda menjadi patuh. Sebaliknya, sikap anda yang terus-terusan memberikan kesempatan pada anak sewaktu mereka melakukan kesalahan dengan berharap suatu hari nanti mereka bisa berubah menjadi patuh dan penurut adalah hal yang keliru.

Memang benar, anak adalah buah hati tercinta yang kita lahirkan dengan susah payah yang sudah seharusnya kita cintai dan kita sayangi, namun ada begitu banyak cara yang tepat dalam mencintai anak dan menyayangi mereka. Memberikan mereka semua keinginannya dan terus-terusan mengalah pada anak bukanlah tindakan yang tepat dalam mencintai buah hati kita. Semua orangtua tentunya ingin jika anak yang dimilikinya tumbuh menjadi anak yang baik penuh kasih sayang, namun juga berbakti pada kedua orangtuanya. Untuk itulah, ada masaya dimana anda harus dengan tegas mendidik mereka menjadi anak yang baik seperti yang anda harapkan. Semua tahapan yang akan anda lalui tentu akan sangat melelahkan dan mungkin membuat anda susah payah mendidik mereka. Namun pada akhirnya nanti, ketika anak anda telah tumbuh menjadi seseorang yang baik seperti yang anda harapkan, maka masa depan yang cerahlah yang akan mereka dapatkan.

Tidak ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya pada lembah kesalahan, namun tentunya pola asuh dan cara mendidik anak harus anda perhatikan. Mendidik anak agar tumbuh menjadi seseorang yang patuh dan penurut tidak berarti harus dilakukan dengan keras seperti pola didikan para militer, yang terpenting adalah konsisten dan tegas. Buat anak bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya dan apa yang telah diperbuatnya. Dengan begini mereka akan mampu memelihara apa yang mereka miliki.

mendidik anak agar patuh pada perintah orangtua

Namun juga tidak berarti dengan memberikan pola didikan keliru yakni dengan mengabulkan semua keinginan anak dan menghujaninya dengan harta benda mewah sebagai wujud kasih sayang anda yang tak terkira. Pola asuh yang seperti ini tentu saja tidak akan berhasil, sebab anak akan tumbuh menjadi seseorang yang manja dan merasa segala keinginannya harus dipenuhi, disamping itu sifat egoisme-nya juga akan semakin tinggi. Maka jangan heran jika ketika anda memberikan perintah atau meminta bantuan anda, mereka akan berlaku sesuka hati mereka dengan menolak atau mengabaikan anda.

Nah, cara berikut ini penting sekali diterapkan pada anak-anak ketika anda mendidik mereka agar bisa patuh sewaktu anda memberikan perintah.

1. Panggil Nama Mereka

Ketika anda membutuhkan bantuan anak-anak atau sewaktu anda hendak memberikan perintah kepada buah hati, hendaknya tidak usah berteriak atau mengomel dengan tidak jelas. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, hal ini tidak akan membuat anak anda seger menghampiri anda dan melakukan perintah yang anda berikan pada mereka. Sebaliknya, kondisi anak-anak malah akan terkejut, takut dan bahkan kesal dengan tidak mau menghampiri atau bahkan berpura-pura tidak mendengar. Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi bukan? Nah, untuk itulah sebuah teriakan bukanlah cara yang baik mendidik anak.

Ada baiknya ketika anda membutuhkan mereka atau hendak memberikan perintah, segera hampiri mereka atau hampiri keluar saat mereka bermain diluar. Lalu dekati mereka dan katakan jika anda membutuhkan mereka dirumah. Ingatlah jaga citra anak-anak dihadapan teman mereka, jangan sampai anda memberikan perintah atau meneriaki anak-anak didepan teman-temanya. Hal ini akan membuat mereka malu dan malah jengkel pada diri anda. Ketika anak jengkel, maka bisa ditebak hal lain yang akan terjadi adalah pertengkaran dengan anak yang malah akan memperburuk suasana.

2. Dengarkan Anak-Anak Anda

Meski anda memberikan perintah pada anak-anak atau pada saat anda benar-benar membutuhkan mereka, ini bukan berarti anda harus mengabaikan mereka dan tidak mendengarkan keluahannya. Perilaku anak-anak yang menolak atau tidak mengabulkan perintah anda bisa dilatarbelakangi karena mereka capek sepulang sekolah, tidak enak hati dengan lingkungannya atau merasa tidak enak badan. Untuk itu, sebaiknya maklumi dan berikan perintah sesuai dengan kapasitas anak.

3. Kondisikan Perintah dengan Waktu Anak-Anak

Sewaktu anda memberikan perintah dan anak-anak terlihat malas melakukannya, jangan terlalu dini menghakimi bahwa anak anda malas dan sulit diberikan perintah. Kondisikan terlebih dahulu dengan waktu anak, apakah kala itu anda memberikan perintah saat anak baru saja pulang sekolah, pulang les atau saat anak lelah pulang bermain. Hal ini tentu saja akan menguras tenaga anak sewaktu anda memberikan perintah. Untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk beristirahat sejenak dan meminta mereka saat tenaganya sudah kembali pulih. Selain itu, mintalah dengan sopan, kondisi lelah pada anak akan membuat segala hal yang membebaninya menjadi sebuah tekanan untuk dirinya. Dengan meminta lewat cara yang sopan akan membuat tekanan dalam diri anak memudar dan membuat mereka lebih mungkin mau melakukan perintah anda.

4. Tatapan Mata Anda Pada Mereka

Sebuah tatapan matamemiliki kekuatan untuk menunjukan sebuah perasaan. Ketika orangtua menatap mata anaknya, maka mereka akan melihat bahwa kita memberikan perhatian, bukannya amarah dan perintah yang telak yang mendikte mereka. Dengan menatap mata anak, mereka akan paham betapa anda membutuhkan mereka dan ingin anak anda memberikan bantuannya. Selain itu, tatapan mata akan membuat anak merasa dipedulikan dan diperhatikan. Untuk itu, jangan lupa tatap mata anak dan letakan tangan anda dibahunya sewaktu anda ingin memberikan perintah pada mereka.

5. Bercermin Diri

Terkadang orangtua lupa bahwa mereka pun sebenarnya sering ingkar janji entah pada lingkungan atau anak-anak mereka sendiri. Dari semua teori cara mendidik anak, introspeksi diri atau bercermin diri seringkali menjadi hal yang terabaikan. Bagaimana mungkin seorang anak mau mendengarkan perintah orangtua dan patuh pada semua perintahnya, jika orangtua mereka seringkali tidak tegas dan konsisten terhadap ucapannya. Apalagi diperparah dengan sikap orangtua yang seringkali memarahi anak-anaknya atas hal yang sebenarnya sering mereka lakukan sendiri. Untuk itu, penting sekali memperbaiki sikap dan perilaku sendiri sebagai orangtua sebelum mengajarkan anak tentang sesuatu hal.

Memiliki anak yang penurut dan patuh pada perintah orangtuanya tentu saja menjadi kebahagiaan yang tak terhingga untuk orangtua itu sendiri. Dan cara diatas diharapkan mampu membantu orangtua mendidik anaknya.
Sumber : bidanku.com

Orangtua mana yang tidak menginginkan jika buah hati yang dimilikinya tumbuh menjadi seorang yang pintar dan cemerlang serta berani tampil dengan prestasi yang gemilang.

Sudah pasti ini menjadi anugerah terbesar yang membuat bangga setiap orangtua. Hanya saja, memiliki anak yang cerdas dan tumbuh menjadi seseorang yang cemerlang tidak didapat dengan mudah seperti menjentikan ibu jari dan jari tengah, semuanya perlu pengorbanan dan perjalanan panjang. Melalui didikan dan pola asuh orangtualah seorang anak yang hebat dengan kecerdasan yang cemerlang bisa lahir. Untuk itu, peran kedua orangtua terutama pola asuh anda adalah hal yang akan menentukan mau dibawa kemana masa depan anak anda dan karakter seperti apa yang ingin anda tumbuhkan pada diri anak-anak.

Ada banyak faktor yang akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak, baik tumbuh kembang secara mental ataupun etika dan moralnya dimasyarakat yang tentunya kesemua hal tersebut ditunjang dengan cara mendidik dan pola asuh anda sebagai orangtua. Walaupun nantinya kecerdasan dan perkembangan akademik seorang anak akan diasah disekolah, namun pendidikan dirumah sebelum anak-anak masuk sekolah akan menjadi hal yang sangat penting. Kemampuan ibu dan ayah dalam menumbuhkan ketertarikan anak dan interaksinya dilingkungan anak akan menentukan kemampuan sosialisasinya dimasyarakat.

Semua orangtua tentunya menginginkan jika anak yang dimilikinya adalah anak yang cerdas, cemerlang dan mampu bergaul dimasyarakat sehingga ia bisa diterima dilingkungannya dengan baik. Nah, untuk itu mendidik anak dengan beberapa hal berikut ini akan mampu menumbuhkan kecerdasan dan menjadikan anak tumbuh menjadi cemerlang.

Beberapa hal ini tentunya perlu diterapkan saat anak-anak masih bayi terutama di tahun kedua periode anak atau yang sering disebut dengan periode emas anak dimana periode inilah yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak secara optimak demi masa depan anak yang cemerlang. Dimasa ini, nutrisi yang lengkap akan dapat menunjang pertumbukan otak anak sebagai modal masa depannya. Namun, kendati demikian, stimulus juga tidak kalah mengambil peranan yang sangat penting untuk menunjang kecerdasannya.

1.  Jalin Ikatan Emosional yang Erat Sejak Anak Masih Bayi

Menjalin ikatan emosional dengan anak akan dapat memberikan naluri rasa yang aman dengan begini mereka akan merasa terlindungi tanpa merasakan ancaman bahaya yang mengancam diri mereka. Untuk itu, upayakan untuk menjalin ikatan emosional yang erat bersama dengan si anak sewaktu mereka masih bayi. Hal ini tentu saja bukan hanya berlaku bagi ibu, peranan ayah juga tak kalah pentingnya untuk memberikan sentuhan skin to skin contact kepada bayi. Berikan mereka belaian yang lembut dengan penuh kasih.

Selain sentuhan anda juga bisa mengaplikasikan kontak ini dengan cara memberikan pijatan yang lembut pada tubuh bayi, memakaikan pakaian bayi sendiri pada tubuhnya serta mengajak bayi berbicara sejak awal. Hal ini difungsikan ujntuk memicu rasa aman untuk naluri bayi. Dan satu hal yang penting adalah hindarkan pertengakaran dan segala bentuk perselisihan dihadapan bayi. Meskipun anda berpikiran tubuh bayi yang mungil dan jiwa mereka yang masih kecil tidak akan mengerti semua hal yang terjadi dihadapannya, namun kegaduhan dan ketegangan yang anda nampakan dihadapan mereka akan memberikan tekanan yang hebat sehingga membuat bayi anda shock dan naluri rasa aman tidak lagi mereka dapatkan dari anda.

2. Optimalkan Ekspresi Wajah Sewaktu Berkomunikasi dengan Anak Saat Masih Bayi

Meskipun mereka belum mengerti semua perkataan dan ucapan yang kita sampaikan pada bayi, namun bayi akan dapat menangkap ekspresi wajah yang ada disekitar mereka. Hal ini terjadi sewaktu bayi sudah menginjak usia 3 hingga 4 bulan dimana kemampuan membaca ekspresi wajah inilah yang disebut dengan dasar komunikasi non verbal pada anak. Dengan demikian ketika anda memunculkan ekspresi senang atau lucu pada bayi mereka akan cenderung terlihat gembira karena membaca ekspresi wajah anda meskipun mereka belum mengerti apa yang anda ucapkan. Untuk itulah, optimalkan memberikan ekspresi wajah pada bayi sewaktu anda berkomunikasi dengan mereka.

3. Seringlah Mengajak Anak Berbicara Bahkan Sewaktu Mereka Masih Bayi

Sewaktu anak masih bayi tidak ada salahnya jika ibu mulai 'cerewet'. Cerewet disini maksudnya bukanlah berarti negative, melainkan cerewet dengan sering mengajak ngobrol bayi anda. Meskipun mereka belum memahami semua ucapan dan perkataan yang anda sampaikan padanya, namun dengan semakin banyak kosa kata yang mereka dengan sejak awal, maka akan semakin dini untuk anak dalam mengembangkan kemampuan bicaranya. Selain itu, mereka juga akan dengan lebih cepat belajar segala hal yang baru termasuk ucapan dan ekspresi wajah ibu dan lingkungannya. Hal ini tetu saja akan membuat anak banyak belajar yang membuatnya tumbuh lebih cemerlang.

4. Hindari Terlalu Sering Menggunakan Stroller dan Car Seat

Kebanyakan ibu modern saat ini lebih memilih memberikan fasilitas stroller dan car seat sewaktu membawa serta buah hati mereka yang masih bayi untuk berpegian. Namun alangkah lebih baik jika ibu menggendong mereka dibandingkan dengan menggunakan peralatan ini. Menggunakan stroller dan car seat saat membawa buah hati berpergian memang terkesan lebih praktis dan lebih simple, namun dampak yang lebih baik akan lebih dirasakan bayi sewaktu ibu menggendong mereka. Dengan menggendong si bayi saat berpergian, mereka akan mampu berotasi sesuka hati mereka dan bergerak lebih leluasa serta dapat melihat ke banyak sisi seperti yang mereka inginkan dimana hal inilah yang tentunya akan membuat si bayi belajar banyak dari lingkungan sekitarnya dan membuatnya semakin cerdas dan cemerlang.

5. Membacakan Cerita Pada Anak

Umumnya anak-anak akan memiliki ketertarikan tertentu saat mereka sudah mulai mengerti dengan lingkungannya, hal ini biasanya berlangsung sejak anak berusia 3 atau empat tahun hingga sebelum remaja. Anak-anak diusia ini cenderung sudah mulai memiliki ketertarikan dan imajinasinya sendiri. Nah, dengan memberikan mereka cerita atau dongeng bukan hanya membantu mereka mengenal ketertarikan saja, namun juga ikut megembangkan imajinasi anak-anak dan memperkaya perbendaharaan katanya serta melatih keterampilan berbahasanya. Dengan demikian, tidak ada salahnya jika ibu atau ayah membacakan cerita pada buah hatinya terutama saat mereka hendak tidur dimalam hari.

Nah, demikianlah beberapa kiat dan tips penting dalam mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang baik dengan kecerdasan yang cemerlang. Anak yang baik, penurut dan tumbuh menjadi seseorang yang berprestasi tentunya menjadi dambaan untuk orangtua. Untuk itulah, memberikan pendidikan yang baik adalah kewajiban yang harus senantiasa diberikan orangtua kepada buah hati tercintanya. Semoga kiat dan tips diatas bermanfaat untuk semua orangtua dan bunda dirumah.
Seperti : bidanku.com

Memiliki dan mengasuh anak kembar, memang menjadi kegiatan yang gampang-gampang susah.

Dalam hal medidik anak, orangtua bukan hanya dituntut untuk bisa mendisiplinkan dan membuat anak-anak mereka patuh pada apa yang diperintah oleh orangtua. Akan tetapi, hal yang paling penting dalam mengurus anak-anak adalah mendidik dan ikut serta dalam membangun karakter dalam diri anak. Dimana hal inilah yang seringkali membuat para orangtua kerepotan. Apalagi sewaktu mereka dihadapkan pada anak-anak kembar. Semakin banyak kepala yang harus diatur dan dididik, maka akan semakin membuat orangtua dituntut untuk ekstra cerdas mendidik anak-anaknya.

Pada anak kembar, seringkali timbul berbagai permasalahan, yang mungkin sebagian diantaranya dihadapi pula pada anak-anak tunggal. Meskipun terkadang seringkali kita menganggap bahwa melihat ketika anak kembar pergi bersamaan dan selalu melakukan berbagai hal bersama adalah kegiatan yang mengasyikan dan terlihat menarik. Namun pada kenyataannya, cukup banyak permasalahan yang dihadapi pada anak-anak kembar. Salah satunya adalah kecemburuan yang mungkin timbul pada si anak.

Walaupun kita beranggapan anak kembar adalah pribadi yang terikat satu sama lain, namun bukan berarti ini mengharuskan si kembar untuk bisa selalu bersama-sama dalam hal apapun, seperti berpakaian serupa, berdandan sama, dan bahkan pergi kemanapun harus bersama dengan saudara kembarnya. Hal inilah yang mempengaruhi timbulnya kecemburan pada anak-anak kembar.

Orang-orang yang ada di sekitar si anak mungkin beranggapan bahwa hal ini akan membuat si kembar makin mencintai saudaranya, namun sebenarnya belum tentu. Kita tidak pernah tahu kondisi mental dan tekanan yang dirasakan si anak, apakah mereka merasa nyaman bersama-sama dan sewaktu berpakaian serupa, atau bahkan hal tersebut malah membuat mereka merasa terbayang-bayangi oleh satu sama lain.

Nah untuk itulah, penting sekali bagi para orangtua untuk dapat mengambil tindakan dan solusi, jika anda mendapati anak-anak kembar anda mulai menunjukan kecemburuannya satu sama lain. Selain itu, kecemburuan yang hadir pada diri anak, tentunya muncul tidak dengan tiba-tiba. Selalu ada alasan dan motif dibalik sikap yang mereka tunjukan, meskipun sebagai orangtua kita merasa sikap yang kita berikan pada mereka sudah cukup adil, namun sebaiknya telaah kembali.

Ketika anak-anak mulai marah atau kesal dengan menunjukan sikap yang kurang baik, sebaiknya segera atasi dan hampiri anak-anak. Ajak mereka untuk berbicara dan mengungkapkan kekesalannya pada diri anda. Dengan begini, anda bisa mengevaluasi sikap anda untuk kemudian diperbaiki. Atau jika semua adalah kesalah pahaman dan cara anak menangkap sikap yang anda berikan, maka anda tahu apa yang harus dilakukan, yakni dengan menjelaskan pada anak anda maksud dan tujuan anda.

Nah, berikut ini ada pula beberapa hal dan tips dalam menghindarkan kecemburuan antara si anak kembar agar mereka tetap merasa nyaman dengan keluarga dan lingkungannya. Seperti apa tipsnya? Mari kita langsung simak saja dibawah ini.

1. Jangan Perlakukan Anak Kembar Sebagai Sebuah Kesatuan

Paras yang sama, perawakan yang mirip dan segala hal yang hampir sama antara kakak beradik yang kembar, tidak berarti membuat mereka harus terikat satu sama lain menjadi sebuah kesatuan dimana mereka tidak bisa terpisah. Kita mungkin mengatakan bahwa ketika si kembar pergi bersama dan melakukan segala hal berduaan adalah sebuah pemandangan yang indah dan menyentuh hati. Akan tetapi, bagaimanapun si kembar adalah dua pribadi yang harus kita didik dan bangun karakternya.

Meskipun keduanya terlihat sama, bukan berarti karakter dan identitas pada si kembar harus dibangun semirip mungkin. Mereka pun perlu untuk bisa hidup mandiri dengan identitas diri mereka sendiri.

Ketika orangtua mengajarkan anak-anak kembarnya untuk saling terikat satu sama lain, maka yang terjadi adalah anak-anak akan saling tergantung dan sulit untuk bisa mandiri sedini mungkin. Misalkan, ketika salah satu dari si kembar tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya sementara si kembar lainnya mengerjakan pekerjaan rumah dengan rapih, maka tidak sebaiknya ibu menghukum keduanya. Hal ini tentunya akan menumbuhkan kecemburuan pada si kembar yang menjalankan tugas, yang menganggap bahwa keadilan tidak bisa ditegakan dikeluarganya. Untuk itulah, hindarkan pemikiran bahwa anak kembar harus selalu bersama dan menjadi kesatuan, sebaliknya mulailah mengembangkan minat dan bakat sesuai dengan keinginan si anak.

2. Indentitas Kepemilikan yang Jelas

Mungkin sewaktu si kembar masih kecil, anda seringkali melihat mereka berebut barang satu sama lain, memukul atau bahkan menggigit. Sebagai orangtua yang baik, kita bisa memberitahu mereka sejak mereka masih dini bahwa barang tersebut adalah milik si A, bukanlah milik si B. Akan tetapi, usia yang masih begitu dini akan membuat mereka kesulitan memahaminya.

Namun, anda bisa mulai membuat perencanaan untuk mencegah dan menghindari perselisihan pada anak-anak. Salah satu ide yang efektif untuk menghidari hal ini adalah dengan mengadakan pertemuan keluarga dan mengidentifikasi barang-barang atau harta benda dengan baik, yang mana ini berarti anda bisa mengadakan kumpulan bersama dengan anak dan membicarakan secara terbuka barang dan peralatan mana yang menjadi miliki si A dan si B.

Jadi ketika si A hendak meminjam atau menggunakan benda atau barang miliki si B, maka si A harus meminta izin terlebih dahulu pada si B. Dengan begini anak-anak akan paham betul mana yang menjadi haknya mana yang menjadi hak saudaranya. Selain mereka akan menjadi lebih akur, perselisihan antara saudara kembar akan juga bisa dihindari.

3. Tanamkan Nilai Kerja Sama, Bukanlah Kompetisi!

Memang menjadi kegiatan yang gampang-gampang susah dalam mengurus dan mendidik anak-anak kembar. Nah, untuk itulah orangtua perlu memberikan contoh dan tauladan yang baik dalam bekerja sama, bukan membentuk kompetisi meskipun mereka hidup berdampingan. Ketika ibu sedang memasak, ayah mereka akan mengawasi anak-anak atau sebaliknya. Dengan begini, secara tidak langsung anak-anak akan melihat dan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Hal ini akan secara perlahan membentuk pemahaman dalam diri anak-anak bahwa bekerja sama adalah hal yang indah dan membuat mereka tentram sementara pekerjaan dan masalah bisa diselesaikan dengan lebih baik.

4. Tidak Memilih Salah Satu Sebagai Kesayangan

Meskipun anda cenderung lebih tertarik dengan kepribadian salah satu dari kedua anak kembar anda. Hal ini tidak sebaiknya ditunjukan pada anak lewat sikap. Sebaliknya, kontrol emosi anda dihadapan mereka. Upayakan segala hal yang membuat anda bisa bersikap netral pada mereka.

Dengan menunjukan sikap kasih sayang pada salah satu anak, akan menumbuhkan kecemburuan pada salah satu anak kembar anda. Ketika rasa cemburu sudah tertanam dalam diri mereka, maka yang terjadi adalah perselisihan dan kompetisi antara masing-masing anak adalah hal yang akan anda saksikan setiap harinya.

Mendidik dan mengasuh anak kembar memang menjadi hal yang gampang-gampang susah. Akan tetapi jika kita tahu solusi dan tips menghadapi segala sikap dan tindakan anak yang kurang baik, maka akan semakin mudah untuk kita mendisiplinkan mereka. Semoga tips diatas bermanfaat untuk ibu semua dalam mendidik anak-anak kembarnya.

Sumber : Bidanku.com

Anak laki-laki yang cenderung menjalin kedekatan yang lebih bersama dengan ibunya dibanding dengan ayah mereka, seringkali dijuluki dengan "anak mama".

Predikat "anak mama" pada anak laki-laki seringkali diidentikan dengan sesuatu yang kurang indah. Lain halnya dengan julukan "anak papa". Julukan ini umumnya sering tergambar sebagai seseorang yang hebat, maskulin, berjiwa tangguh seperti sering bermain dan menghabiskan waktu dengan ayahnya yang membuat mereka terlihat seolah benar-benar hebat.

Akan tetapi, ketika anak laki-laki mendapatkan julukan "anak mama", julukan ini seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Anak laki-laki yang cenderung lebih dekat dengan ibunya dan meniru segala pekerjaan ibunya dirumah, seperti halnya belajar memasak, mencuci pakaian sendiri atau bermain peran dengan boneka. Tak sedikit orang yang akan mengeryitkan dahinya dan merasa seolah anak laki-laki seperti ini dianggap kurang maskulin.

Apalagi sewaktu si ibu seringkali dibuat khawatir ketika anak laki-lakinya berada jauh dari si ibu. Tak pelak, akhirnya si ibu sering mengunjungi si anak atau terus-terusan menanyakan kabar putranya. Dari sinilah, tak perlu menunggu lama streotip “Anak Mama pun” langsung akan melekat erat pada diri si anak.

Saking dihindarinya, bahkan di beberapa daerah ada nasihat yang menyatakan agar anak laki-laki tidak terlalu dengan dengan ibunya dan para ibu tak perlu terus-terusan mengkhawatirkan anak mereka dimana pun mereka berada dan kemana pun perginya mereka. Sikap ibu yang seringkali menanyakan kabar atau memanjakan anak laki-lakinya dengan kasih sayang dianggap sebagai perilaku yag mengekang, terlau melindungi atau bahkan memanjakan si anak. Yang membuat si anak laki-laki pada akhirnya tak bisa mandiri sejak dini. Hal ini tentu saja terjadi dikarenakan anak laki-laki seringkali digambarkan sebagai sosok yang gagah berani, kuat, tanggu dan juga bebas. Untuk itulah, seringkali terasa aneh bagi masyarakat bila anak laki-laki mengerjakan tugas rumah tangga.

Akan tetapi, kita semua paham betul bahwa memberikan predikat pada anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya dengan sebutan "anak mama" bukanlah sikap yang bijak. Kita semua tahu, bahwa apapun jenis kelamin si anak, baik laki-laki maupun perempuan, semua anak akan tumbuh dengan baik apabila mereka memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Bahkan sebuah studi yang dilakukan pada pengamatan terhadap sebanyak hampir 6000 anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka menunjukan bahwa terjadi perkembangan sikap yang lebih destruktif dan agresif pada anak-anak. Dalam studi ini para peneliti mengungkapkan bawa anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan dekat dengan ibu mereka akan berpengaruh pada pembentukan kepribadiannya. Anak-anak akan membawa rasa takut terhadap kedekatan dan cenderung menjadi pembangkang saat mereka dewasa kelak.

Untuk itulah, menghadirkan sosok ibu dan menjalin kedekatan dengan anak secara lebih intens sewaktu mereka masih kecil adalah hal yang penting. Selain itu ada banyak nilai lebih ketika hubungan anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya. Apa sajakah nilai lebih itu? Kita simak berikut ini.

Memunculkan Kecerdasan Emosi dan Rasa Empati Pada Anak

Kedekatan yang dijalin ibu bersama dengan anak laki-laki mereka sewaktu mereka masih kecil akan membuat si anak bebas mengenali dan mengeksprsikan emosinya. Dengan kasih sayang yang diberikan oleh si ibu, kelak anak-anak pun akan lebih peka pada rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Begitu pula saat mereka melihat emosi tertentu yang ditunjukan oleh oranglain sehingga akan lebih mudah baginya untuk berempati karena ia memahami betul bagaimana perasaa orang lain tersebut. Hal ini pun akan membuat si anak mudah mendapatkan teman dilingkungannya, karena ia dibekali dengan kemampuan untuk membaca perasaan dan kondisi lingkungan sekitarnya karena rasa peka yang lebih dalam yang mereka dapatkan dari ibu mereka.

Memiliki Paham yang Seimbang Mengenai Maskulinitas

Berbeda dengan anak laki-laki yang lebih dekat dengan ayah mereka dibandingkan dengan ibunya. Anak laki-laki yang dekat dengan ibu sejak mereka masih kecil akan memiliki pandangan yang berbeda mengenai maskulinitas.

Anak laki-laki yang lebih dekat dengan si ayah mungkin akan memaknai bahwa bersikap dingin, tegas, gagah adalah bagian dari maskulinitas. Akan tetapi, jika anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, mereka akan lebih memaknai bahwa definisi dari maskulin tersebut tidaklah harus gagah, dingin atau tegas. Namun lebih kepada bertanggung jawab dan menghargai orang lain. Hal ini tentunya akan berguna bagi mereka dimasa depan, apalagi saat mereka sudah berumah tangga. Tanggung jawab mereka terhadap keluarga tentunya akan lebih besar.

Lebih Menghargai Perempuan

Seringkali seorang pra sulit dalam memahami seorang perempuan. Hal ini tentunya dilatar belakangi karena sensitifitas seorang pria berbeda dengan wanita. Nah, untuk mengerti seorang wanita, maka seorang pria setidaknya harus mengetahui bagaimana cara pandang dan isi hati wanita itu sendiri agar mereka lebih mudah memahami perempuan. Nah, bagi anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya, kemampuan ini akan dengan mudah mereka dapatkan, karena secara tidak langsung waktu yang mereka habiskan bersama dengan ibunya akan membuat mereka memiliki gambaran bagaiman seorang wanita untuk bisa dimengerti.

Memiliki Kesempatan Lebih Sukses Dalam Pekerjaan

Kondisi ekonomi saat ini rupanya lebih cenderung membutuhkan pekerja dengan kemampuan komunikasi yang kuat dan kecerdasan emosi yang tinggi untuk memahami keinginan klien dibandingkan dengan kemampuan fisik dan sikap kepemimpinan bak seorang pejuang. Untuk itulah, anak laki-laki yang lebih dekat dengan ibunya tentu akan dengan mudah mendapatkan hal ini berdasarkan pengalaman yang ia dapatkan dari ibunya sendiri.

Kesempatan Mendapatkan Nilai Akademik yang Lebih Tinggi

Sebuah penelitian yang melibatkan sebanyak hampir 400 orang anak usia sekolah menengah umum di kota New York mengindikasikan bahwa anak laki-laki yang memiliki kedekatan dan jalinan yang lebih dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya, terbukti menjadi anak-anak yang tidak mudah dirundung dengan rasa panik, cemas dan juga depresi.

Oleh karena itu, sewaktu mereka diberikan masalah atau test secara mendadak, rasa panik lebih bisa mereka redam dan mereka mampu berfokus pada bagaimana caranya berhasil dan menyelesaikan test tersebut lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menjalin kedekatan dengan ibu mereka sama sekali.

Memberikan predikat pada anak laki-laki yang memiliki kedekatan lebih pada ibu mereka dengan sebutan "anak mama" tentunya bukanlah hal yang bijak. Pada kenyataannya, ada begitu banyak nilai lebih yang bisa mereka dapatkan dari dekat bersama dengan ibu. Akan tetapi ini pun tidak berarti mendukung bahwa seorang laki-laki deasa harus berpaling kepada ibu mereka saat mereka menghadapi masalah. Karena bagaimanapun, hal ini bukanlah hal yang sebijaknya terjadi ketika mereka menghadapi masalah.  Semoga artikel ini bisa memberikan pengetahuan dan bermanfaat untuk ibu semua dalam mendidik anak-anaknya dirumah.

Sumber : Bidanku.com

Memiliki teman ataupun sahabat adalah salah satu pondasi dalam kehidupan.

Seorang teman yag baik akan dapat memberikan pengaruh dan mengubah kehidupan anda kearah yang lebih baik. Untuk dapat memiliki teman, seseorang harus memiliki keterampilan sosial yang harus dilatih sejak usia dini, begitupun dengan anak-anak. Usia mereka yang masih begitu dini, terkadang membuat anak-anak kesulitan bersosialisasi dan mendapatkan teman dilingkungannya yang baru.

Saat mudik liburan tiba adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi kampung halaman dan bersilaturahmi dengan keluarga besar, yang mana anda akan membawa serta buah hati anda. Kegiatan ini sebelumnya telah direncanakan akan menjadi kegaitan yang menyenangkan dan membuat si kecil senang bereksplorasi dengan lingkungannya yang baru.

Akan tetapi, sesampaianya di kampung halaman, ketika kegiatan bersilaturahmi selesai dan tibanya untuk bersantai, si kecil malah terlihat muram di pojok kursi. Meskipun ada banyak keponakan anda dan anak saudara anda yang bermain ceria, anak anda malah terlihat lesu dan tidak bergairah. Dan sewaktu dihampiri, anak-anak malah menjadi rewel dan merengek bosan. Kebosanan yang menimpa anak-anak terjadi karena suasana yang baru membuat mereka belum terbiasa, selain itu pada intinya adalah mereka merasa kesepian karena tidak ada teman bermain.

Nah, untuk mengatasi hal ini maka orangtua perlu sekali mengupayakan dan membantu anak-anak agar bisa bergabung dan bermain bersama yang lainnya. Anda sebagai orangtua, bisa meminta anak-anak untuk bergabung bersama dengan anak yang lain. Jika anak-anak lain masih terikat hubungan keluarga dengan anda, maka beri tahukan pada anak anda bahwa mereka adalah saudara anak anda yang mana menjalin hubungan baik dengan keluarga anda hal yang harus senantiasa dijaga.

Anak-anak mungkin akan merasa canggung dan menarik diri untuk bisa bersosialisasi dengan teman-teman dilingkungannya yang baru. Akan tetapi, percayalah, hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Hanya diperlukan sedikit kerja keras dan bantuan dari orangtua untuk menjembatani perkenalan anak dengan teman-temannya, selepas itu mereka akan menemukan kecocokannya dan pada akhirnya bisa bermain bersama-sama.

Anak-anak yang pandai bersosialisasi dengan lingkungannya yang baru, tentunya tidak hanya membuat mereka akan muda memiliki teman. Namun juga, akan membuat mereka tidak akan kesulitan dibawa berkunjung ke tempat-tempat yang baru. Salah satu faktor yang mudah membuat anak bersosialisasi dengan lingkunganya juga dipengaruhi oleh kepribadian si anak. Akan lebih mudah bagi anak bisa menjadi pertemanan dengan lingkungannya tanpa bantuan orangtua jika anak anda memiliki kepribadian yang menyenangkan. Lain halnya, dengan anak yang pemalu. Mereka akan cenderung kesulitan bisa bergabung dan berbaur dengan anak lainnya. Untuk itulah, sudah menjadi tugas seorang orang tua dalam membantu anak mengatasi masalahnya, termasuk masalah untuk bersosialisasi.

Nah, bagaimana sudahkah anda melatih dan mangajarkan anak bersosialisasi sejak mereka masih berusia dini? Jika belum, maka ajarkan mereka mulai saat ini juga yang bunda. Untuk mengetahui beberapa tips mengajarkan anak untuk bersosialisasi, berikut ini kami akan berbagi tipsnya.

Jadilah Role Model Untuk Anak Anda

Anak-anak biasanya akan mencontoh segala perilaku dan sikap yang mereka lihat dari lingkungannya, yang mana disini lingkungan terdekat anak adalah keluarga, maka jangan heran jika anak akan cenderung meniru dan mengadaptasi sikap anda para orangtunya. Nah, dalam membantu anak untuk bisa bersosialisasi lebih mudah dengan lingkungannya, maka orang tua perlu menjadi role model yang baik untuk anak-anak.

Berikan contoh yang baik pada anak-anak bagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain. Ketika anak-anak melihat kedua orangtuanya mampu menjalin persahabatan dan pertemanan dengan lingkungannya, maka akan secara otomatis hal ini juga diadaptasi oleh anak-anak. Perlihatkan pada anak bagaimana menyapa dan memulai percakapan dengan oranglain. Buat mereka memahami bagaimana bersosialisasi yang baik dengan oranglain.

Ikut Sertakan Anak Dalam Berbagai Kegiatan

Anak-anak umumnya akan dapat menikmati dan menunjukan minatnya dalam sebuah kegiatan jika didalamnya ada anak-anak lain. Hal ini bisa dijadikan sebagai media yang menjembatani anak agar mudah bersosialisasi dengan teman-temannya. Untuk itu, carilah kegiatan yang bisa dilakukan oleh si anak bersama dengan teman-temannya. Selain akan mendapatkan keterampialn baru untuknya, anak juga akan memiliki kesempatan utnuk dapat berinteraksi dan menemukan teman baru.

Kegiatan tersebut tidak perlu hal yang susah atau memerlukan dana yang mahal, anda tetap bisa merancang sebuah kegiatan yang mudah dan murah, seperti mengikut sertakan anak dalam playgroup, mengikut sertakan mereka dalam kegiatan camp musim dan lain sebagainya. Permainan atau kegiatan yang diambil juga bisa anda seleksi, semisal kegiatan yag interaktif dimana anak-anak dituntut untuk melatih dan mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan teman barunya.

Jelaskan Pada Anak Makna Penting Memiliki Teman

Jelaskan pada anak akan arti penting memiliki teman dalam kehidupan. Hal ini akan membuat anak menyadari bagaimana pentingnya bersosialisasi dan mendapatkan teman. Hanya saja, jika anak anda adalah tipikal anak yang pemalu, maka anda tidak perlu memaksakan mereka. Anak yang pemalu umumnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuka diri dan memulai berinteraksi, apalagi dengan lingkungannya yang baru. Untuk itulah, orangtua harus mengerti dan memberikan mereka apa yang mereka inginkan. Akan ada waktunya, dimana mereka sudah merasa nyaman dengan lingkungannya, mereka akan mulai bersosialisasi dengan lingkungannya.

Latih Anak

Anda dapat melatih si buah hati bagaimana membuat dan berinteraksi dengan orang lain. Terkadang, tidak sedikit orangtua yang merasa greget dan kesal saat anak-anak mereka hanya berdiam diri dan tidak mencoba berbaur dengan teman lainnya. Sehingga anda malah akan memaksakan anak untuk terburu mendapatkan teman. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil dan tidak membuat anak-anak dengan mudah mendapatkan teman. Sebaliknya, hal ini malah akan memberikan tekanan dan membuat anak-anak semakin mundur untuk mulai bersosialiasi dengan orang lain.

Nah, untuk itulah, sebaiknya kontrol emosi anda. Daripada anda memaksakan kehendak, akan lebih baik terus memberikan dorongan dan memfasilitasi anak agar bisa berteman dan berinteraksi dengan yang lainnya.

Biarkan Anak Untuk Berekspresi

Membantu anak untuk mudah bersosialisasi tidak berarti harus terus menerus mendorong anak dan menyeret mereka kelingkungan yang ramai dimana terdapat banyak anak-anak didalamnya. Berikan kesempatan bagi anak untuk dalam berkumpul dengan teman-temannya sesuai dengan keinginan mereka. Akan ada waktu dimana mereka memulai interaksi sesuai dengan minat dan keinginannya. Selain anak akan dapat memulai pertemanan, mereka juga akan mudah untuk dapat mendapatkan teman yang sesuai dan sejalan dengan pemikirannya.

Membantu anak-anak untuk bersosialisasi sejak mereka usian dini adalah hal yang baik. Dengan begini, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan mereka dan mendapatkan teman dengan lebih mudah meski dilingkungan yang baru mereka singgahi.

Sumber : Bidanku.com

Bisa jadi, Anda merasa bingung ketika anak 6 tahun Anda bilang kalau dia bosan. “Banyak sekali yang harus dilakukan,” begitu alasannya. Seorang mama sampai melihat anaknya menghibur dirinya dengan berpura-pura menjadikan tongkat golf sebagai roket. “Ya, kedengarannya mustahil anak usia ini benar-benar merasakan bosan,” kata

Susan Zuckerman, Ph.D., psikolog anak di White Plains, New York. "Masih banyak hal yang menarik di dunia ini untuk dieksplorasi dan benar-benar baru untuk si kecil.” Nyatanya, ketika anak mengatakan bahwa dirinya bosan, bisa jadi ia bahkan tidak tahu arti bosan itu sendiri. Yang ia tahu bahwa frase ini – yang dipelajarinya dari orang dewasa dan TV – menyatakan rasa tidak puas terhadap sesuatu. “Anak menggunakannya sebagai ekspresi kalau ada sesuatu yang mengganggunya,” kata Zuckerman. Jadi, apa yang sebenarnya ingin dikatakan anak? Berikut ini beberapa kemungkinan:

"Project ini terlalu susah.”
Kebanyakan anak tidak mau (atau benci) mengakui ketika ia sedang berusaha menyelesaikan suatu project. Ketimbang mengakui kalau bingung dengan soal matematika, misalnya, ia memilih bilang, “Aku bosan,” dan mendorong bukunya. “Hal ini akan melindungi egonya sekaligus membuatnya terlepas dari sesuatu yang tidak menyenangkan,” kata Zuckerman.

"Aku sendirian."

Bisa jadi, anak mengatakan, “Aku bosan” ketika ingin Anda bermain dengannya. “Kata-kata tersebut sebenarnya berarti ‘Aku mau cinta dan perhatian Mama,” kata Laurie Segal, pakar perkembangan anak usia dini di Great Neck, New York. Apakah si kecil mau Anda menutup telepon, mengajaknya jalan-jalan, atau Anda bertanya apa yang dilakukannya pada hari itu, ia mungkin tidak akan mengatakannya secara langsung karena ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan apa yang disukainya dan bagaimana caranya mengatakannya pada Anda.

"Aku kecapekan."

Orang dewasa tahu bila tiba waktunya untuk berhenti melakukan sesuatu dan pergi ke kamar untuk membaca buku, misalnya. Tidak demikian halnya dengan anak-anak. Jadi, apa yang dibutuhkannya diekspresikannya dalam bentuk mengatakan bahwa dirinya bosan.

"Aku sedih" or "Aku marah."

Anak tidak selalu bisa memahami apa yang dirasakan, terutama merasa sedih atau marah. Dan, rasa tidak nyaman ini diekspresikannya sebagai “Aku bosan.”

Untuk memahami apa yang sebenarnya anak sedang rasakan, amati saja bahasa tubuhnya: Apakah dia murung atau termenung? Bisa jadi, ini berarti ada masalah yang cukup berat. Apakah ia mengeryitkan dahi dengan kedua tangan terlipat? Ya, tebakan Anda benar. Ia sedang marah. Atau, bertanyalah padanya apa yang dimaksudkannya. Jika ia tidak memberi jawaban yang jelas, berikan beberapa pertanyaan: “Apakah ada sesuatu di sekolah yang membuat kamu frustrasi? Apakah kamu ingin istirahat dulu?” Begitu menemukan faktor penyebabnya, Anda bisa membantunya mengatasi masalah yang dihadapi.
Sumber : parenting.co.id

Optimisme adalah perasaan dan semangat positif yang harus dimiliki oleh setiap anak agar dapat berhasil dalah kehidupannya. Jiwa optimis merupakan jiwa seorang juara yang senantiasa berani dalam menghadapi setiap tantangan dan rintangan untuk meraih tujuan hidup dan kesuksesan. Sifat optimis dalam diri seseorang sudah selayaknya ditanamkan sejak dini. Sebab hal ini akan terus melekat dalam diri anak sebagai modal utama yang penting yang amat ia perlukan di masa depannya nanti.

Sikap optimis dapat melahirkan banyak manfaat. Orang yang optimis diketahui memiliki kemampuan dalam mengendalikan stres yang lebih baik dibandingkan dengan rekan-rekannya yang kurang memiliki sifat optimis. Sehingga demikian, orang optimis akan terhindar dari depresi dan stress yang menyiksa.
Nah, lantas bagaimana cara menumbuhkan sifat optimis pada anak agar mereka terhindari dari depresi?

1. Latih Anak Untuk Behadapan dengan Situasi dimana Terdapat "Resiko dan Kegagalan" Didalamnya.

Untuk menumbuhkan sifat optimis pada anak, orangtua perlu melatih anak berhadapan dengan berbagai situasi dan kondisi yang didalamnya terdapat "resiko dan kegagalannya". Dengan demikian, anak yang terbiasa dilatih dalam kondisi-kondisi tersebut akan melahirkan mental anak yang lebih baik dan tidak mudah putus asa ketika menghadapi suatu masalah. Ketika anak berhadapan dengan kondisi yang beresiko, orang tua perlu mendodong anaknya untuk mengganggap resiko dan kegagalan yang mungkin terjadi sebagai sebuah tantangan yang harus bisa ditaklukan dan dilewati atau dihindari. Selain itu, anak yang dilatih pada kondisi seperti ini akan melahirkan anak yang lebih matang secara mental dan membuat jiwa mereka tidak mudah rapuh sehingga anak tidak akan mudah mengalami depresi ketika ia harus dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.

2. Jangan Berikan Anak 'Citra yang Buruk'

Orang tua sebaiknya tidak memberikan citra yang buruk terhadap anak, seperti dengan memberikan sebutan tertentu pada anak. Sebab secara disadari atau tidak, anak akan menyerap citra yang diberikan oleh orangtua. Citra tersebut akan menempel dalam diri anak menjadi sebuah identitas dan karakter anak. Tahukah anda citra negatif yang anda berikan kepada anak akan terus menempel dan diingat oleh anak sehinga membuat anak terhambat dalam melakukan segala hal yang membuat mereka tidak percaya diri. Misalkan ketika anda memberikan anak citra 'si penakut' disadari atau tidak hal ini akan diserap anak dan membuat mereka memiliki batasan untuk melakukan segala hal akibat citra yang ibu berikan.

3. Bantu Anak Untuk Menggapai Kesuksesannya

Meski memberikan tantangan agar anak dapat merasakan resiko dan kegagalan dari hal yang dikerjakannya adalah hal yang harus dilakukan. Namun membantu anak untuk menggapai kesuksesannya merupakan peranan penting yang harus dilakukan oleh orang tua. Bantuan anda disini tentu akan lebih mengarah pada dukugan dan dorongan pada anak untuk meraih impian anak dan menggapai kesuksesannya. Sehingga anak akan menjadi lebih percaya diri dengan keyakinan akan mimpi yang telah diidamkannya. Dukungan atau dorongan untuk menggapai kesuksesanya bisa anda lakukan dengan memberikan penghargaan kecil sewaktu anak berhasil dengan hal yang ia kerjakan. Dengan demikian anak akan termotivasi untuk melakukan lebih dan pada akhirnya impiannya akan tercapai.

Itulah dia beberapa cara menumbuhkan sifat optimis pada anak. Kita tentu tahu bahwa kehidupan tidaklah selalu indah. Tantangan dan cobaan serta masalah kerap kali datang silih berganti. Dan sikap yang terbaik dalam menghadapi berbagai masalah serta kesulitan dalam hidup adalah dengan sikap optimis.

Sumber :Bidanku.com

Sangatlah tidak bisa dipisahkan mengenai perkembangan dan pertumbuhan anak saat lahir. Perkembangan motorik dan fisik anak sangatlah berhubungan dengan pertumbuhan psikis anak. Oleh karena itu psikologli perkembangan anak usia dini berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.

Anak akan mengalami suatu periode yang dinamakan sebagai masa keemasan anak saat usia dini dimana saat itu anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar. Laju perkembangan dan pertumbuhan anak mempengaruhi masa keemasan dari masing-masing anak itu sendiri. Saat masa keemasan, anak akan mengalami tingkat perkembangan yang sangat drastis di mulai dari pekembangan berpikiri, perkembangan emosi, perkembangan motorik, perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Lonjakan perkembangan ini terjadi saat anak berusia 0-8 tahun, dan lonjakan perkembangan ini tidak akan terjadi lagi di periode selanjutnya. Saat perkembangan anak khususnya saat perkembangan dini, orang tua harus betul menjadikannya sebagai perhatian khusus, karena hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa yang akan datang. Guna mendukung hal tersebut berikut adalah beberapa hal yang harus di perhatikan orang tua mengenai perkembangan anaknya.
Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap:
  • Tahap Sensorimotor, pada tahap ini kemampuan anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal, mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru. Tahap sensorimotor terjadi saat usia 0-2 tahun.
  • Tahapan Pra-operasional, pada tahap ini anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa anak mulai berkembang, meskipun pola pikirnya masih bersifat statsi dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap terbatas. Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun.
  • Tahap konkret operasional, pada tahap ini anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan pemisahan, penggabungan, menderetkan dan membagi sudah dapat dilakukan oleh anak. Tahap konkret operasional berlangsung pada usia 7-11 tahun.
  • Tahap Formal Operasional, dalam tahap ini anak sudah mulai beranjak sebagai seorang remaja. Dalam tahap ini, anak sudah mulai berpikir secara hipotetik, yaitu penggunaan hipotesis yang relevan sudah dilakukan anak guna memecahkan berbagai masalah. Sudah mampu menampung atau berpikir terhadap hal-hal yang menggunakan prinsip-prinsip abstrak, sehingga anak sudah bida menerima pelajaran-pelajaran yang bersifat abstrak seperti matematika, agama dan lain-lain.
Perkembangan Fisik Anak

Mengenai perkembangan fisik anak bisa dilihat dari perkembangan motroik anak. Perkembangan motorik anak ini terbagi lagi ke dalam perkembangan motorik halus dan perkembangan motorik kasar. Untuk lebih jelasnya bisa di baca di: Perkembangan Motorik Anak
Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa anak usia dini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
  •  Periode prelingual, usia anak 0-1 thn, ciri utama adalah anak mengoceh untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua, anak masih bersifat pasif saat menerima stimulus dari luar tapi anak akan menerima respon yang berbeda. Contoh: bayi akan senyum kepada orang yang dikenalnya dan menangis kepada orang yang tidak dikenal dan ditakutinya.
  • Periode Lingual, usia antara 1-2,5 tahun, dalam taha ini anak sudah mampu membuat sebuah kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain.
  • Periode Diferensiasi, usia anak 2,5 - 5 thn, anak sudah memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Permbendaharaan katanya sudang berkembang secara baik dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
Perkembangan sosio emosisonal anak terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
  • Tahap percaya versus curiga (trust vs mistrust), usia anak 0-2 tahun, dalam tahap ini anak akan tumbuh rasa percaya dirinya jika mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, namun akan tumbuh rasa curiga jika anak mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan.
  • Tahap Mandiri versus Ragu ( Autonomy vs Shame), usia anak 2-3 tahun, perasaan mandiri mulai muncul tatkala anak sudah mulai menguasai seluruh anggota tobuhnya, sifat ragu dan malu akan muncul pada tahap ini ketika lingkungan tidak memberinya sebuah kepercayaan.
  • Tahap berinisiatif versus bersalah (initiative versus guilt), usia anak 4-5 tahun. Pada masa ini anak sudah mulai lepas dari orang tuanya, anak sudah mampu bergerak bebas dan berhubungan dengan lingkungan. Kondisi ini dapat menimbulkan inisiatif pada diri anak, namun jika anak masih belum bisa terlepas dari ikatan orang tuanya dan belum bisa berinteraksi dengan lingkungan, rasa bersalah akan muncul pada diri anak.
Sumber : parenting.co.id

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget