Maret 2015


Seseorang sering merasa dikucilkan ketika anak yang bermain bersama, jumlahnya ganjil, tapi Anda bisa membuat aturan main untuk mencegah munculnya masalah saat bermain  bertiga. 

Putri bungsu saya, Flora, 7 tahu, ikut bermain dengan anak tetangga kami, Audrey. Ketika teman ketiga bergabung dengan mereka, saya menggertakkan gigi. Saya tahu, saya hanya mendapatkan waktu setengah jam yang damai sebelum mendengar ucapan “Itu tidak adil!”, “Aku tidak mau bermain itu!” atau ultimatum yang membuyarkan playdate: “Kamu bukan temanku!”

Dibandingkan dengan hanya dua orang anak bermain atau bermain dalam kelompok lebih besar, tiga anak yang bermain bersama menghadapi kondisi yang lebih kompleks, dramatis, dan cenderung memicu konflik, kata penasihat Parents Michael Thompson, PhD, coauthor buku Best Friends, Worst Anemies: Understanding the social Live f Children. Secara khusus, sulit bagi tiga orang anak usia 7-8 tahun bermain bersama. Karena kedekatan satu sama lain tidak sama, dan mereka berada pada usia dimana problem dikucilkan sering terjadi. Lalu, apa solusi terbaiknya? Pertama coba biar anak-anak Anda menyelesaikan konflik dengan cara mereka sendiri. Namun, bila mereka tidak bisa melakukannya, ikuti panduan dari pakar berikut ini.

Terimalah bahwa teman tidak diciptakan samaAnda mengajarkan si kecil untuk “berteman dengan semua orang”, itu tidak realistis, kata Dr. Thompson. Maka bicarakan dengan anak Anda untuk berbuat baik kepada teman ketiga–biarkan mereka bergiliran memilih permainan, tidak berbisik dengan teman kedua di depan teman ketiga, dan begitu seterusnya. Tetapi jangan pernah memaksa anak untuk menyukai kedua temannya sama rata, atau memaksa mereka bermain bersama. Satu pengecualian: dalam keluarga besar Anda. Jika tiga sepupu tertarik untuk bersama dalam sebuah acara keluarga dan main permainan dua lawan satu, tidak apa-apa untuk memaksa mereka tetap bersama sampai permainan selesai. Jika mereka tidak bisa, berikan mereka mainan yang bisa mereka mainkan secara terpisah dan damai.

Perbesar kelompok bermainJika Anda mengadakan playdate di rumah, hindari kelompok bermain yang hanya terdiri dari tiga anak. “Lebih banyak anak, dan dalam jumlah genap, akan menurunkan kesempatan dua anak berkelompok melawan satu anak dan dapat menurunkan risiko bertengkar,” kata Eileen Kennedy-Moore, PhD, coauthor buku Smart Parenting for Smart Kids: Nuturing Your Child’s True Potential.

Cegah posesifDr. Kennedy-Moore mengatakan kepada anak-anak bahwa tidak cerdas menjadi seorang “octopus friend.” Fenomena ini menggambarkan bahwa seorang anak yang menekan seorang teman dan mencoba mencegahnya untuk memiliki teman lain. “Ajarkan kepada anak bahwa dia tidak bisa memaksa seseorang untuk berteman dengannya,” kata Kennedy-Moore. “Juga, jika teman baiknya pergi dengan teman baru, dia harus berusaha untuk bermain dengan keduanya atau pindah bermain dengan teman baru, meski itu mungkin menyakitkan baginya.

Memecah keteganganBeberapa trio dapat bermain bersama dengan baik-baik saja, hanya sedikit ketegangan di sana sini. Cara mudah untuk menarik anak-anak pada suasana damai semula adalah: mengubah suasana. Biarkan anak berlari di halaman belakang atau masuk ke dapur mengambil air minum untuk menyela ketegangan yang sedang berlangsung.


Menurut penelitian yang dilakukan American Academy of Pediatrics (AAP) penggunaan layar terutamasmartphone dan komputer tablet meningkat pada usia anak-anak batita. Pada 2013, 75 persen anak-anak memiliki akses ke perangkat mobile di rumah. Padahal dua tahun lalu jumlah anak yang memiliki akses ke perangkat mobile hanya 52 persen.

Televisi, laptop, tablet, dan smartphone bisa menjadi "racun" bagi anak jika penggunaannya tidak diawasi oleh orangtua. Menurut Dra. Ratih Andjayani Ibrahim MM, psikolog dari lembaga psikologiPersonal Growth, seperti yang dikutip dari Parents Indonesia, orangtua harus techno-ready. Artinya, orangtua harus mengajarkan kepada anak bagaimana cara tepat menggunakan gadget agar anak tidak kecanduan.

“Lakukanlah diet gadget,” kata Ratih. Anak-anak yang terlalu dalam terlibat dengan gadget akan terganggu konsentrasinya. Sebagai contoh, layar yang berkedip begitu memanjakan mata, namun begitu lepas dari gadget akan membuat mereka bosan. Meski begitu anak masih boleh bersentuhan dengan gadget. Misalnya, 2 jam per akhir pekan. Jika si anak merenggek meminta bermain gadget, berikan waktu selama satu jam.

Suruh anak melakukan aktivitas-aktivitas fisik di dunia nyata ketimbang sibuk bersama komputer tablet atau smartphone. Atau lakukan aktivitas fisik bersama. Hal itu bagus untuk kebersamaan dan juga kesehatan. "Tidak memberikan waktu menatap layar kepada anak di bawah usia 2 tahun. Hal ini mungkin sulit dilakukan tapi Anda harus berusaha demi kebaikan anak di masa depan," katanya.


Setiap pagi anak pergi ke sekolah dan kembali ke rumah ketika siang datang. Semua Mama pasti tahu betul jadwal itu. Tapi apa saja yang terjadi selama ia di sekolah dan bagaimana cara mengetahuinya?

Berikut ini sejumlah pertanyaan yang dapat diajukan pada anak untuk memancingnya lebih banyak bercerita tentang sekolah:

1. Apa kejadian yang bikin kamu tertawa atau menurut kamu lucu banget hari ini?

2. Tempat paling asik di sekolah, di mana, sih?

3. Kasih tahu Mama, dong, ada nggak hal yang kamu dengar di sekolah hari ini dan menurut kamu aneh? Atau yang dikatakan teman atau guru kamu?

4. Hari ini, kamu membantu siapa di sekolah? Bantu apa? Bagaimana ceritanya?

5. Sebutkan satu hal yang kamu pelajari di sekolah tadi (atau apa yang kamu ingat banget dari pelajaran bahasa/matematika!)

6. Ceritakan apa yang terjadi hari ini di sekolah yang sebelumnya belum pernah ada.

7. Menurut kamu, seharusnya kalian lebih banyak melakukan kegiatan apa di sekolah?

8. Ada nggak, yang bikin kamu sedih atau kesal di sekolah tadi? Ceritakan ke Mama, dong …

9. Kalau kamu besok jadi guru satu hari saja, kira-kira kamu mau melakukan apa?

10. Kalau bisa bertukar tempat duduk di kelas, mau bertukar dengan siapa? Kenapa?

11. Kalau misalnya ada alien datang ke sekolah untuk mengambil satu orang teman, siapa yang menurut kamu harus diambil?

12. Kalau misalnya ada peri yang baik hati datang ke sekolah untuk menggantikan satu orang guru, siapa yang menurut kamu harus diganti?


Obsesi anak awalnya memang menyenangkan. Tentu Anda suka si kecil punya fokus dan ingin mengeksplorasi satu topik secara mendalam. Namun ketika anak sudah terpikat dengan sesuatu, rentetan pertanyaan yang membombardir Anda (“Mana yang bisa mengangkut lebih banyak tanah: Backhoe atau bulldozer?”) dan permintaan (“Boleh aku minta baju Barbie lagi?”) akan menguji kesabaran orang tua manapun.

Namun para pakar tetap meminta Anda untuk belajar memahami hobi anak. Untuk satu alasan, hobi membuat anak bahagia. “Plus, ketertarikan mendalam bisa memicu rasa penasaran yang baik untuk mengasah kecerdasan anak,” kata Lisa Spiegel, codirector Soho Parenting, pusat pendampingan keluarga dan dukungan emosional di New York City.

Alexa Chaplin dari Vestal, New York, mengatakan bahwa ketertarikan putranya, Campbell, terhadap budaya Mesir kuno pada usia 3 tahun menjadi pintu masuk memelajari piramida dan arkeologi. Campbell betah duduk manis selama 45 menit mendengarkan Mummies in the Morning, bagian dari serial Magic Tree House dan perbendaharaan katanya bertambah dengan cepat.

 Obsesi anak juga dapat membangun hubungan sosial. Andrea Facio dari Linden, North Carolina, menyadari bahwa putrinya yang berusia 3 tahun, Cali, dapat menepis rasa malu di hadapan orang dewasa ketika membicarakan seputar boneka bayi. “Dia senang menjawab pertanyaan tentang boneka itu,” kata Facio.

Bahkan hobi anak bisa mendekatkan seluruh anggota keluarga Anda. Dengan mendukung hobi, orang tua (dan terkadang saudara kandung) ikut mendalami topik tersebut dan ketertarikan anak bisa menular. Dr. DeLoache menyebutkan, melalui riset dia menemukan bahwa ketertarikan seorang anak perempuan terhadap kostum membuat seluruh anggota keluarga asik memeragakan pasukan Perang Sipil. Dan berkat kecintaan sang putri, Olivia, terhadap dinosaurus, keluarga Arnold dari Worcester, Massachusetts, sudah dua kali berkunjung ke New York City’s American Museum of Natural History untuk melihat langsung tulang-belulang T-rex dan stegosaurus.


Ketika Anda menyaksikan anak menghabiskan waktu berjam-jam membangun kota dari balok susun atau menghapal spesies kucing, mungkin Anda bertanya apa arti ketertarikan itu bagi masa depannya. Jangan langsung menyimpulkan kelak dia akan berkarir menjadi arsitek atau dokter hewan. Memang benar, Rafael Nadal mulai menampakkan kecintaan bermain tenis pada usia 4 tahun dan pada usia itu juga Rachel Ray sudah bisa membalikkan makanan dengan spatula. Namun rata-rata, hobi balita hanya bertahan kurang dari setahun, kata Dr. Alexander. Sebagian anak meninggalkan hobinya saat mereka masuk sekolah dasar, ketika dia berkenalan dengan obyek-obyek lain yang mungkin lebih menarik minatnya. Sementara ada kelompok anak yang mengubah ketertarikan dengan obyek lain yang masih berhubungan (berubah dari dinosaurus menjadi reptil).

Di luar semua itu, obsesi bisa menjadi petunjuk potensi tersembunyi anak. Jika dia suka bermain puzzle, bisa jadi kelak dia menyerap pelajaran matematika dengan cepat. Anak yang suka menggambar dan bermusik cenderung tumbuh menjadi anak berjiwa bebas dan tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain terhadap pekerjaan mereka. Dan anak yang senang mengingat fakta (misalnya statistik olahraga) akan mendalami sebuah topik dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang kuat.

Titik-titik tersebut akan lebih mudah dihubungkan di masa depan–ketika anak Anda sudah beranjak dewasa dan punya tujuan karir serta ketertarikan dalam hidup yang tertata. Untuk saat ini, biarkan dia terobsesi dan nikmati semua pembelajaran–entah itu soal jembatan, serangga, atau Titanic–yang Anda dan si kecilkan dapatkan dalam keseharian.


Setiap orang memerlukan hobi, tapi mengapa anak Anda memilih mumi, dinosaurus, atau singa laut? Temukan cara memetik manfaat optimal dari ketertarikan si balita. Dan waspadai jika anak terobsesi. Ruth Anan, PhD, seorang psikolog klinis, mengatakan bahwa ketertarikan mendalam anak bisa menjadi sinyal gangguan obsessive-compulsive. Bicarakan kepada dokter anak jika Anda khawatir.

Menurut Anda “Dia benar-benar terpusat pada hobinya.”

Tidak Perlu Khawatir
  • Dia protes ketika Anda mencoba mengganti aktivitas tapi tidak menangis keras.
  • Dia bermain dengan cara kreatif dan dalam situasi sosial (misalnya menggunakan mobil-mobilan dalam lintasan halang rintang ciptaannya dan bermain pompa bensin bersama teman).

Khawatir Jika
  • Obsesinya mengarah kepada menjaga urutan (membariskan mobil dengan sempurna) dibandingkan bermain.
  • Dia terlalu fokus pada minatnya sehingga tidak menikmati kegiatan atau permainan lain.
Menurut Anda “Minatnya tampak aneh.”

Tidak Perlu Khawatir
  • Dia cepat menangkap bahwa orang lain tidak punya minat yang sama, dan dia dengan cepat mengganti topik pembicaraan.
  • Obsesinya tidak menghalangi pertemanan.
Khawatir Jika
  • Dia terus membicarakan ketertarikannya meskipun teman-temannya menyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak tertarik.
  • Ketika topik pembicaraan berganti, dia kembali mengangkat obsesinya.
Menurut Anda “Obsesi anak dengan senjata sepertinya menakutkan.”

Tidak Perlu Khawatir
  • Minatnya berawal dari sang kakak atau dari tayangan kartun yang mengandung kekerasan (hentikan kebiasaan anak menonton film tersebut).
  • Ketika temannya ingin melakukan kegiatan lain, dia dengan mudah berpindah aktivitas.

Khawatir Jika
  • Menjadi penjahat atau polisi adalah satu-satunya jenis permainan imajinatif yang dilakukan anak.
  • Dia tidak bisa berhenti pura-pura menembak teman-teman di sekolah meskipun guru sudah memeringatkan berkali-kali.


Setelah tahun 2009 pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun (SD dan SMP) pada Juni tahun ini rencananya pemerintah akan mencanangkan wajib belajar 12 tahun. Demikian Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan.

Dengan dicanangkannya program tersebut, berarti setiap anak Indonesia wajib masuk sekolah hingga tingkat SMU/sederajat dan pemerintah wajib membiayai serta menyediakan fasilitasnya. Sebenarnya program wajib belajar 12 tahun sudah dirintis pemerintah sejak tahun 2012, namun saat itu masih lebih berfokus pada pemenuhan wajib belajar 9 tahun antara lain lewat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SD dan SMP.

Nanti sebagai langkah awal wajib belajar 12 tahun, rencananya pemerintah juga akan mulai menyalurkan dana BOS untuk SMA/SMK dan Madrasah Aliyah.

Banyak pihak mendukung rencana tersebut, apalagi masih banyak lulusan SMP yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMA dengan alasan terkendala biaya. Namun disadari juga bahwa rencana ini akan mengalami banyak tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran pemerintah, kurangnya jumlah sekolah dan guru serta fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan lainnya. Walau bagaimana pun, yuk, Ma, kita dukung terus upaya pemerintah memenuhi hak anak-anak Indonesia untuk mendapat pendidikan.



Coba saja bicarakan dengan anak-anak Anda tentang kebiasaan hidup sehat, besar kemungkinan mereka tak peduli. Tapi, tunjukan beberapa percobaan sederhana ini, mereka akan benar-benar belajar arti penting mencuci tangan dan memakai krim pelindung.

Mengapa kita perlu mencuci tangan

Lakukan: Oleskan glitter warna di tangan anak yang agak basah, lalu minta dia menggosokkan kedua telapak tangannya hingga glitter menempel. Lalu ajak dia bersalaman, membuka pintu, atau memegang mainan. Tunjukkan jejak “kuman” glitter yang ia tinggalkan. Setelah itu, minta dia membasuh tangan dengan air untuk melihat bahwa hanya sedikit bekas glitter yang hilang. Percobaan itu mengajarkan dia untuk menggunakan lebih banyak air hangat dan sabun agar tangan benar-benar bersih.

Katakan: “Biarpun tidak kelihatan, kuman menempel di tangan dan menyebar ke semua benda yang kamu sentuh, sama seperti glitter. Glitter tidak bisa membuat kamu sakit, tapi kuman bisa. Itulah kenapa cuci tangan sampai bersih sangat penting.”

Mengapa kita perlu mengenakan sabuk pengaman


Lakukan: Pilih mainan plastik berbentuk manusia atau hewan, dan sebuah truk mainan. Letakkan mainan itu di atas truk, lalu minta si kecil meluncurkan truk hingga menabrak dinding. Tunjukkan bahwa hewan terpelanting dari truk. Sekarang, ikat si hewan dengan tali karet, selotip, atau senar. Luncurkan truk sekali lagi dan biarkan ia melihat hewan kesayangannya tidak lagi terpental.

Katakan: “Meski Ayah dan Ibu sangat hati-hati mengemudi, bisa saja mobil kita menabrak sesuatu atau berhenti mendadak. Jadi, kamu harus selalu memakai sabuk pengaman. Sabuk itu akan menjaga kamu seperti karet menjaga bebek kecil itu agar tetap aman.”

Mengapa kita perlu makan dengan benar


Lakukan: Bacakan cerita “Tiga Anak Babi”. Lalu bantu anak membangun dua “rumah”. Rumah pertama terbuat dari tumpukan keripik kentang dan permen. Rumah kedua dari potongan apel dan selai kacang. Selanjutnya, minta dia meniup dan lihat rumah mana yang roboh.

Katakan: “Lihat, rumah keripik-permen gampang sekali roboh, tapi rumah yang kedua tetap kokoh. Nah, makanan juga begitu. Kalau kamu makan makanan yang sehat, seperti apel dan selai kacang, badan jadi kuat. Sebaliknya, kalau makan junk food, seperti keripik dan permen, kamu jadi lemah dan kekurangan tenaga.”

Mengapa kita perlu menutup hidung dan mulut


Lakukan: Ajak si kecil berdiri di depan cermin sambil memegang tisu untuk menutupi hidung dan mulut. Minta dia pura-pura batuk dan tunjukkan bahwa tisu tertiup menjauhi mulut.

Katakan: “Saat batuk atau bersin, kamu meniupkan angin yang membawa kuman dari mulut atau hidung. Kamu harus bisa menahan kuman-kuman itu supaya tidak menyebar dengan cara menutup mulut dan hidung dengan tisu atau tangan. Kalau pakai tangan, jangan lupa cuci tangan dengan air dan sabun untuk menghilangkan kuman.”

Mengapa kita perlu memakai tabir surya


Lakukan: Stiker yang semula berwarna kuning di dalam ruangan akan berubah menjadi oranye gelap jika lama terkena sinar matahari. Oleskan krim atau losion pelindung pada 2-3 lembar stiker dan selebihnya biarkan polos. Jemur semuanya di bawah matahari sekitar lima jam, lalu amati apa yang terjadi.

Katakan: “Sinar matahari mengubah warna stiker yang tidak diberi sunscreen. Sementara stiker yang diberi lotion tidak berubah warna. Begitu juga kulit kamu. Kalau terlalu lama terkena sinar matahari, kulit bisa terbakar dan berubah warna. Tapi, kalau diberi sunblock, warna kulit tidak akan berubah.”

Mengapa kita perlu minum air

Lakukan: Potong ujung batang seledri yang sudah didiamkan beberapa jam, lalu celupkan ke dalam segelas air dingin. Tambahkan 4-5 tetes pewarna makanan warna merah, diamkan semalam. Keesokan hari, angkat batang seledri dan kupas perlahan bagian kulit terluar. Tunjukkan kepada anak bahwa tinta merah sudah meresap dari pangkal hingga ujung batang.

Katakan: “Lihat, air berwarna ini ’merayap’ sepanjang batang. Itu karena seledri terlalu kering dan butuh minum. Sama halnya kalau kamu berlarian lalu kehausan. Kamu perlu air untuk menjaga tubuh tetap sehat. Air akan berjalan dari mulut ke jari-jari lalu turun sampai ke kaki, seperti air yang merayap dari pangkal hingga ujung batang seledri.”

Mengapa kita perlu memakai helm


Lakukan: Taruh bola lilin, misalnya Play-Doh, ke dalam kotak plastik. Minta anak menjatuhkan, menggulingkan, bahkan menimpa wadah itu dengan buku kecil. Keluarkan bola lilin dan perlakukan serupa. Perhatikan betapa mudah bola lilin terbentur, tergilas, dan berubah bentuk.

Katakan: “Kotak plastik ini melindungi bola lilin sama seperti helm melindungi kepala saat naik sepeda. Kalau kamu tidak pakai helm lalu terjatuh, kepala akan terbentur keras seperti lilin itu.”

Mengapa kita perlu tidur cukup

Lakukan: Tantang anak untuk mengadu kekuatan mata. Gunakan stopwatch untuk menghitung berapa lama Anda dan anak bisa bertahan tanpa berkedip. Ketika mata Anda sudah tidak kuat lagi, berkediplah, dan katakan bahwa Anda merasa amat lega.

Katakan: “Susah ya menahan mata terbuka begini lama?” Saat kamu berkedip, mata kamu beristirahat. Itulah pentingnya tidur: Setelah lelah bermain sehari penuh, badan perlu istirahat. Karena itu, kamu perlu tidur tepat waktu. Kalau terlalu malam, kamu akan merasa lelah seperti yang kamu rasakan dengan membuka mata terlalu lama.”


Selain aktivitas yang berkaitan dengan artistik, creative play juga memainkan peran yang sangat penting dalam tahapan perkembangan anak. Aktivitas ini membantu meningkatkan daya imajinasi, serta juga mengembangkan keterampilan berpikir, memecahkan masalah, dan motorik anak.

Nah, anak usia sekolah mulai belajar bahwa beberapa masalah memiliki 1 solusi. Hal ini juga mengembangkan keterampilan untuk mencari jalan keluar terbaik dari masalah yang diberikan. Nah, creative play membantu proses belajar dan perkembangan, dengan cara membiarkan anak terlibat dalam problem-solving. Di sini, proses yang harus dilalui anak jauh lebih penting dari produk yang dihasilkan.

Mereka perlu belajar ini sebab sekarang mereka terpapar berbagai info baru. Mereka juga lebih percaya pada dirinya dan di sekeliling orang lain. Anda bisa mendorong anak melakukan creative play  dan mengembangkan daya imajinasinya dengan cara merangsang keinginan anak untuk berkreasi. Bagaimana caranya?

- SENI. Melalui warna dan bentuk, mereka mengekspreasikan perasaan, ide, dan pesan. Mudah, kok, untuk mengetahui minat anak. Anda perhatikan saja dia saat menggambar atau melukis sesuatu. Temanya mungkin sama, yakni mobil. Namun, gambarnya akan menjadi lebih detail ketimbang waku prasekolah.

- DRAMA. Untuk memecahkan masalah, anak sering menggunakan role play alias bermain dan juga mendongeng. Pada saat masih kecil, ia berharap akhir cerita yang selalu sama dari cerita favoritnya. Sekarang, ia mungkin saja mulai mengubah karakter, setting cerita, jalan cerita, hingga akhir cerita. Mereka juga biasanya bermain menggunakan properti yang simple (seperti topi, sepatu, dll) dan berdandan sesuai tuntutan cerita. Kadangkala, drama musikal menjadi pilihan. Di sini, mereka akan bernyanyi, menari, dll.

- MUSIK. Anak-anak usia ini biasanya mulai bereksperimen dengan musik untuk mengekspresikan perasaannya. Musik digunakan untuk berbagai fungsi, seperti  membangun karakter tokoh dalam drama, suasana, misalnya. Tak jarang, mereka ingin menciptakan musiknya sendiri. Caranya? Menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya.

- MENARI. Anak menikmati musik sambil menggerakkan tubuhnya. Mereka akan lebih bersemangat lagi menari bila ada musik. Tarian yang mereka lakukan sudah tidak terlalu sederhana, kadang kala terbagi dalam beberapa sequence.


Program Zona Selama Sekolah (ZoSS) adalah program yang diluncurkan pemerintah melalui Kementrian Perhubungan. Program ini bertujuan untuk melindungi anak sekolah dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Dengan program ZoSS maka:

- Jalan di depan sekolah dicat berwarna merah untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan bahwa mereka memasuki zona selamat sekolah juga dibuatkan zebra cross sebagai jalur menyeberang bagi anak-anak.

- Kecepatan berkendara maksimal 20 km/jam untuk mengantisipasi jika ada anak yang menyeberang mendadak. Biasanya di area ZoSS dipasang juga rambu dilarang menyalip.

- Bila diperlukan dipasang juga lampu lalu lintas untuk mengatur kepadatan lalu lintas di sekitar sekolah.

- Yang pasti, Anda juga harus mematuhi peraturan lalu lintas dan mengajari si kecil untuk mematuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan dirinya dan orang lain.


Tak perlu menetapkan standar terlalu tinggi pada kemampuan anak saat ia telah masuk TK. Seperti yang dikatakan Alzena Masykouri, MPSi., psikolog anak dan pendidikan, konsep taman kanak-kanak sebenarnya adalah mempersiapkan anak untuk bisa belajar. Jadi, anak memang belum waktunya untuk mempelajari hal-hal yang serius dan berat.

Nah, cara termudah untuk membuat anak suka sekolah dan menyenangi proses belajar adalah membuat proses belajar ini menjadi menarik dan menyenangkan. Dengan begitu, ia bahkan tidak menyadari  sedang belajar. Jika Anda ingin membantu anak dalam proses belajarnya, inilah ide-ide untuk mengubah momen belajar ke dalam permainan:

• Hitung ada berapa banyak mobil biru yang Anda lihat dalam perjalanan ke toko swalayan.

• Memberi nama warna dan bentuk segala benda yang Anda temui di dalam rumah.

• Tuliskan masing-masing huruf A sampai Z, serta angka 0 sampai 10 di secarik kertas, dan masukkan ke dalam topi. Minta dia mengambil secarik kertas dan menyebutkan angka atau huruf yang diambilnya.

• Urutkan mata uang logam mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Minta ia untuk menyebutkan nilainya.

• Ajak anak menghitung sampai 100 ketika Anda berdua sedang menunggu bathtub terisi penuh. 



Kita hanya butuh menerapkan beberapa peraturan, termasuk izin mengakses internet hanya pada hari libur, keharusan untuk ditemani mama/ papa, dan memberikan pengertian situs-situs apa yang tidak boleh dibuka karena tidak ada manfaatnya untuk dibuka, serta membatasi waktu untuk anak boleh ’berkelana’ di dunia maya.

Batasi penggunaan internet/komputer, misalnya hanya 30 menit setiap hari. Tentunya harus disesuaikan dengan usia anak dan kebutuhannya. Anak-anak itu juga harus diberi perngertian bahwa PR, tugas sekolah, maupun tugas-tugas lain harus diselesaikan dulu sebelum mereka main internet/komputer. Jadikan internet/komputer sebagai reward yang akan didapat sesudah melaksanakan kewajiban, sehingga mereka juga lebih menghargai waktu berkomputer/berinternet mereka.

Komputer sebaiknya juga diletakkan di ’tempat umum’ di dalam rumah, agar anak tidak mengisolasi diri dari orang-orang di sekitarnya, dan orangtua juga bisa sekaligus ’mengintip’ apa yang diakses anak. Bila perlu, Mutiara menganjurkan agar orangtua duduk bersama anak agar anak merasa mendapat dukungan, dan orangtua pun merasa yakin, apa yang dilakukan anak adalah hal-hal yang aman.

Agar anak tidak keasyikan di dunia maya, selalu hubungkan minat anak selama bermain komputer dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, bila ia menyukai permainan binatang di dalam sebuah game, ajaklah ia juga berkunjung ke kebun binatang atau memelihara binatang di rumah. Atau bila ia menyukai permainan polisi atau tentara di komputer, ajaklah ia sesekali berinteraksi dengan pak polisi atau tentara sungguhan.

Semua itu akan membuat anak ingin tetap bersosialisasi dengan lingkungan dan tidak hanya terpaku pada permainan yang ada di komputer/internet. Sebaiknya orangtua juga menyediakan alternatif kegiatan lain untuk mengisi waktu anak agar tidak hanya bergantung pada komputer seperti bermain sepeda, atau berkebun.

Orangtua sendiri tentunya jangan terus menerus berada di depan komputer, terus menerus main game di komputer, terus-menerus berselancar di internet, atau terus-menerus sibuk dengan Blackberry-nya tanpa batas. Anak-anak belajar dengan meniru, lho! Jika dilihatnya orangtua bisa melakukan semua itu tanpa batas, ia pun akan melakukan hal yang sama.

Dunia maya dengan segala daya tariknya – game-game favorit, kesempatan untuk memainkan tokoh-tokoh tertentu, kesempatan untuk tidak menjadi diri sendiri, berpura-pura kuat, sakti, atau menemukan teman-teman baru tanpa harus bertatap muka -- semua itu bisa menjadi kesempatan yang sangat menyenangkan, terlebih bagi si pemalu, atau anak yang kurang percaya diri.

Namun, bagi anak yang tidak bermasalah sekalipun, image, animasi, atau bunyi-bunyian dari komputer atau internet yang bisa berubah-ubah dan berganti-ganti, tetaplah sangat menarik dan imajinatif. Menghadapi semua itu tentu Anda tak boleh lengah, seperti kata Cynthia Edwards, Ph.D., profesor psikologi di Meredith College di Raleigh, NC, “Mulailah berkomunikasi dengan anak sejak dini, dan jagalah agar komunikasi itu bisa tetap lancar.”

 
 Yuk bantu anak Anda untuk lebih mudah mengerjakan soal ujian! Ini lima tip mengerjakan soal ujian.

- Jika anak Anda khawatir lupa rumus-rumus yang telah ia pelajari, minta ia menuliskan semuanya segera di kertas soal begitu ujian dimulai. Karena rumus yang tersimpan di kepalanya sudah tercatat, ia dapat melepaskan kekhawatiran dan lebih fokus mengerjakan ujian, saran Laurie Rozakis, PhD dari Farmingdale, AS, pengarang buku Super Study Skills.
Kebiasaan mencatat rumus tersebut juga akan menyelamatkan anak Anda jika tiba-tiba ia blank di tengah ujian.

- Latih anak Anda untuk segera ‘memindai’ seluruh soal atau mengamatinya dengan cepat, dan mulai mengerjakan soal-soal yang ia anggap mudah terlebih dahulu (tak perlu mengerjakan soal secara urut). Keberhasilan memecahkan soal-soal yang mudah akan meningkatkan kepercayaan dirinya. Dengan begini, ia sekaligus menghemat waktu.

- Jika soal mempunyai 4 jawaban pilihan ganda, minta anak mengabaikan 2 pilihan jawaban yang jelas salah, ujar Richard Bavaria Ph.D dari Sylvan Learning Centers. Selanjutnya, ia tinggal memilih jawaban yang benar dari 2 jawaban tersisa.

- Setelah ujian, apalagi jika anak Anda merasa ia tak bisa mengerjakan ujian seperti yang diharapkan, telaahlah bersama-sama. Apakah ia salah mengerti petunjuk pengerjaan soal? Tidak mempelajari seluruh materi ujian? Anda bisa juga mendiskusikan dengan gurunya. Kebanyakan guru mau kok, memeriksa kembali hasil ujian muridnya demi perbaikan cara belajar dan peningkatan nilai kemudian.

- Malam setelah ujian besar, biarkan ia bermain lebih lama atau melakukan apapun yang ia anggap sebagai hadiah keberhasilan. “Ini tak ada kaitan dengan nilai, tapi soal merayakan keberhasilan anak menjalani tugas besar, dan memberinya pandangan positif terhadap ujian-ujian selanjutnya,” ujar Laurie.


Agar atlet kecil Anda tetap sehat dan aman saat berolahraga, coba langkah berikut

- Pemanasan dan pendinginan. Sendi tubuh anak akan kaget bila ia tidak melakukan pemanasan terlebih dulu sebelum berolahraga. Minta dia sekedar melakukan jogging di tempat atau melakukan stretching anggota-anggota tubuhnya sebelum benar-benar bermain bola atau olahraga berat lainnya.

- Ketahui tata cara permainan olahraga yang benar. Dengan mengetahui apa yang benar atau salah dilakukan, anak lebih terjaga dari cidera atau menciderai teman olahraganya. Ajarkan juga padanya nilai penting dalam permainan olahraga yaitu berperilaku sportif. Bila diperlukan. kenakan alat pengaman olahraga, seperti pelindung siku, lutut, atau kepala.

- Ajak anak mencoba berbagai olahraga. Tiap olahraga dapat melatih bagian tubuh yang berbeda. Coba ajak ia mencoba bermain basket di bulan ini, berenang di bulan depan, atau bela diri di lain kesempatan lagi. Ini akan membuatnya menjadi atlet yang lebih baik.

- Jangan berolahraga saat sedang cedera. Ini sangat penting, lho. Memang, bila sangat menyukai permainan olahraga, godaan untuk segera bermain setelah cedera sangatlah berat.Tapi, bila belum sembuh benar, cedera atau luka anak bisa bertambah parah atau membuat proses penyembuhan semakin lama. Beri anak pengertian dan ajak dia beraktivitas seru lain yang lebih aman.


Ini cara agar anak jadi jago matematika.

- Katakan dengan lantang. Mintalah anak Anda mempelajari konsep-konsep matematika yang harus ia kuasai dan lafalkan pengertian konsep tersebut keras keras; atau tuliskan di kartu indeks intisari dari tiap materi pelajaran. Misalnya: Faktor adalah dua buah angka yang jika dikalikan akan menghasilkan angka lain: 2 x 3 = 6, jadi 2 dan 3 adalah faktor dari 6.

- Latihan soal
. Mintalah anak Anda mengerjakan soal-soal yang ada di buku pelajarannya, atau Anda bisa mencari soal-soal latihan di internet. Coba klik: coolmath.com, funbrain.com, mathcats.com.

- Tambahkan warna. Anak sedang mengerjakan soal-soal yang membutuhkan penyelesaian bertahap? Cobalah gunakan pensil warna dan kerjakan tiap tahap dalam warna yang berbeda.

- Adu cepat.
Julie Murray, seorang mama dari Cary, North Carolina AS mencetak soal-soal latihan sebanyak jumlah soal yang akan diujikan pada ujian sekolah Jayden, anaknya. Ia memasang timer dan memberikan Jayden 5 kali kesempatan untuk menyelesaikan semua soal sebelum timer berbunyi. Jika anak Anda gagal, ingatkan bahwa ini hanya latihan dan ia akan mampu lebih cepat memecahkan soal-soal tersebut dengan makin seringnya latihan.

- Gunakan gambar.
Doronglah anak Anda untuk biasa menggambar bentuk-bentuk sederhana saat mengerjakan latihan soal dan saat ujian, terutama untuk membantu memecahkan soal cerita yang melibatkan ruang dan bidang serta ukuran.


Sebenarnya, ada 2 jenis penyebab rendahnya minat bidang akademis pada anak, yakni:

1. Unmotivated student terjadi ketika seorang anak tidak memiliki minat akademis karena ia tidak mampu mengembangkan keterampilan yang tepat. Misalnya, ada anak yang nilainya tidak memenuhi standar, secara konsisten, untuk seluruh pelajaran. Puncaknya adalah anak tersebut mogok sekolah.

Setelah ditelusuri, ternyata ia memiliki masalah dengan kepribadiannya yang tidak mampu menghadapi kegagalan. Hal ini menjadikan ia menghindari hal-hal berbau akademis, terutama sekolah.

2. Jenis kedua adalah anak yang memiliki minat di bidang lain atau perbedaan prioritas. Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting memberi contoh Kevin Aprilio, seorang musisi. Kevin memutuskan untuk berhenti sekolah karena ia memiliki prioritas lain, yaitu menjadi musisi. Kevin pun bertanggung jawab terhadap keputusannya dan berhasil menjadi seorang musisi terkenal. 

“Pada kasus unmotivated, anak biasanya tidak memiliki keterampilan yang sesuai atau tidak mendapat tuntutan untuk berprestasi dari orang tua. Dalam kasus Kevin, ia memiliki keterampilan dan dukungan orang tua, tetapi bidang akademis tidak menjadi prioritasnya,” jelas Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Erik Hanushek yang menyatakan, keterlibatan orang tua pada tugas-tugas sekolah anak akan meningkatkan kesuksesan anak di bidang akademis. Salah satunya adalah dengan memberikan standar dan menyampaikan harapan mengenai prestasi akademis.



Sewaktu masih duduk di kelas 1 SD, Danny mencoba berbagai jenis olahraga. Tapi tak ada yang membuatnya puas. “Dia hanya tak mau berlatih serius untuk mengembangkan kemampuannya,” keluh Bram, ayahnya. Setali tiga uang dengan pekerjaan rumah. “Dia berpotensi untuk menjadi murid nomor satu. Namun, dia tak berniat untuk fokus terhadap pelajaran,” kenang research qualitative manager yang tinggal di daerah Cinere ini.

Semua orang tua merasakan frustasi seperti itu ketika anak mereka tak berusaha cukup keras padahal si anak sebenarnya mampu. Apa yang bisa Anda lakukan? Satu cara untuk membangun jiwa pantang menyerah adalah dengan membantu anak belajar menetapkan tujuan dan cara untuk meraihnya melalui langkah-langkah kecil.

Jangan terlalu bersemangat. Belum tentu anak akan langsung terpancing untuk membidik nilai tertinggi. Tujuan macam ini merupakan tantangan besar bagi anak-anak usia praremaja. Namun, para ahli mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengenalkan anak pada konsep membangun target serta bekerja untuk meraihnya. Cobalah beberapa strategi di bawah ini untuk mengajarkan tentang kekuatan dengan menetapkan tujuan. Jadi, dia akan belajar untuk melakukan yang terbaik.

Mulai Menetapkan Tujuan

Mulailah mencari tahu apa yang sudah dilakukan anak Anda sebagai teknik untuk meraih targetnya. Misalnya, jika putra Anda sudah menabung sebagian uang sakunya untuk membeli video game, diskusikan langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Katakan kepada anak betapa senangnya jika berhasil meraih sesuatu setelah bekerja keras. Kemudian, diskusikan bahwa teknik-teknik tersebut  juga bisa digunakan untuk menghadapi tantangan yang lain.

Awali dengan Langkah Kecil

Bantu anak memikirkan target menyenangkan yang bisa diraih dalam waktu singkat. Mungkin dia bisa menyelesaikan pengerjaan buku yang sudah dimulainya, atau menuntaskan sebuah tugas prakarya. Tujuan-tujuan yang kecil adalah cara terbaik untuk mempersiapkan anak melangkah ke tujuan yang lebih besar. Niat untuk meraih target bisa memompa semangatnya.

Biarkan Dia Memilih

Jauh lebih baik jika Anda membiarkan anak menentukan apa yang ingin diraihnya. Kemudian, Anda bisa membantunya membuat perencanaan. Untuk target-target tertentu, kemungkinan besar perlu masukan dari Anda. Jika putri Anda bermimpi ingin belajar balet, maka Anda harus membantunya menetapkan target dan cara mencapainya. Tapi, bukan berarti Anda punya hak untuk mengintervensi. Sebaliknya, Anda perlu tahu kapan harus mundur, yakni ketika Anda mulai merasa kesal atau marah karena anak tidak berusaha cukup keras untuk mencapai tujuannya.

Mencari Kesempatan
Jika anak mengatakan, “Aku berharap bisa menang lomba baca puisi,” gunakan itu sebagai kesempatan untuk mendampinginya dalam membuat perencanaan. Bantu dia menuliskan langkah-langkah spesifik serta jadwal kerja untuk melakukannya. Kemudian, periksalah jadwal tersebut dari waktu ke waktu untuk membantunya fokus terhadap target.

Tunjukkan Caranya

Orang dewasa lebih mampu memprediksi apa yang harus dilakukan untuk mencapai target. Jadi, libatkan anak dalam menetapkan tujuan Anda. Ini untuk menunjukkan bagaimana proses pencapaiannya. Katakan bahwa Anda ingin membuat taman kecil. Maka sejak awal libatkan dia, mulai dari memilih jenis tanaman hingga mencangkul tanah. Orang dewasa tahu cara menguraikan sebuah tujuan ke dalam serangkaian langkah kecil. Itu adalah hal yang perlu dipelajari anak.

Hadapkan dengan Kenyataan
Anak-anak kerap menyepelekan proses kerja keras dalam mencapai suatu tujuan, dan mereka akan merasa frustasi atau patah semangat saat gagal meraih yang diinginkan. Jika anak memutuskan untuk belajar bermain gitar, misalnya, doronglah semangatnya dengan tetap bersikap realistis. Tunjukkan tantangan dan dedikasi yang dibutuhkan. Ini tidak dimaksudkan agar anak merasa seram dengan targetnya sendiri, melainkan untuk berbagi keseriusan yang dibutuhkan serta cara merencanakan untuk meraih tujuan tersebut.

Puji Usahanya


Begitu anak mulai menetapkan tujuan dan berusaha untuk mencapainya, jangan lupa memberi pujian. Katakan sesuatu seperti, “Mama sangat terkesan dengan semangatmu.” Itulah yang kemudian dilakukan Bram ketika putranya duduk di kelas 4 SD. Denny mantap ingin belajar gitar dan dia berusaha keras untuk menguasai alat musik tersebut.

“Saya tak pernah menyuruhnya agar berlatih,’” kata Bram. “Denny melakukannya sendiri. Saya hanya membantu dalam perencanaan.” Setelah sukses, dia menetapkan target yang lebih ambisius. Dan, disiplinnya itu terbawa juga ketika mengerjakan PR. “Denny, sekarang 12 tahun, mengatakan hal seperti, ‘Mana bisa aku dapat nilai bagus kalau cuma belajar semalam. Aku harus belajar seminggu sebelumnya,’ Perubahannya sungguh fenomenal,” tutur sang ayah dengan bangga.



Anak Anda tentu ingin mendapatkan nilai tinggi untuk matematika. Tapi nilai ulangannya yang terakhir masih di menunjukkan angka enam. Apakah itu dia gagal dalam ulangan matematika? Apa yang bisa Anda lakukan? Cobalah langkah-langkah berikut ini.

Tinjau ulang target anak. Mungkin targetnya masih kabur atau malah terlalu berlebihan.

Tanyakan saran anak Anda. Anak-anak cenderung untuk mengikuti keinginannya sendiri mengenai langkah selanjutnya.

Membantu membayangkan keuntungannya. Tanyakan, “Bagaimana perasaanmu jika mendapat nilai lebih baik di ulangan berikutnya?”

Berbagi rasa frustasi.
Anak mungkin akan merasa lebih baik jika Anda memberitahu bahwa dulu Anda juga sempat mengalami kesulitan ketika belajar pembagian.

Pujilah dia. Meski anak Anda tidak berhasil mendapatkan nilai yang diharapkannya, Anda tetap memuji usahanya (“Mama bangga kamu bisa serius belajar”).

Jangan gunakan ancaman atau sogokan. Menawarkan video game sebagai pengganti nilai 9, atau hukuman untuk nilai 5, tidak akan membantu anak Anda untuk memahami sikap pantang menyerah.


Anda bisa menciptakan hal-hal kecil yang membangkitkan keceriaan anak. Tidak perlu repot-repot berbelanja ke toko buku atau supermarket, Anda hanya perlu kreatif menyulap benda-benda sederhana menjadi sesuatu yang baru, unik, tanpa melupakan sisi edukasi. Berikut kami sajikan berbagai kiat yang bisa Anda lakukan bersama dengan si kecil, agar kegiatan sekolah menjadi lebih menyenangkan.

Tip berikut tetap bisa dipakai bahkan jika Anda tidak membeli kotak bekal makan siang di tahun ajaran baru kali ini. Selamat mencoba!

1. Menyusun Jadwal Pelajaran

Menulis dan mengkreasikan jadwal pelajaran ternyata bisa sangat menyenangkan. Jika selama ini Anda hanya melihat susunan mata pelajaran tergantung di atas kertas polos di dinding kamar anak, cobalah untuk membuat dengan desain yang lebih ceria. Anda bisa menyesuaikan nuansa gambar dengan kegemaran anak, seperti sepak bola, satwa, atau film kartun favorit. Anda bisa membuatnya dengan komputer atau memanfaatkan potongan gambar dari koran maupun majalah lama. Libatkan anak ketika membuat kreasi jadwal pelajaran dan selalu minta pendapatnya seputar desain yang Anda buat. Setelah selesai, gantung di dekat meja belajar si kecil atau di sisi dinding yang mudah terlihat. Anda bisa mengganti dengan kreasi yang baru kapan saja dan nikmati senyum ceria anak setiap kali ia memandang gambar badut di sebelah tulisan matematika. Bahkan, ia bisa menawarkan bantuan kepada wali kelas untuk membuat jadwal pelajaran yang ditempel di dinding kelas.

2. Menempel Stiker Nama

Stiker nama tidak sekadar berfungsi mencegah agar buku si kecil tidak tertukar dengan teman satu kelas. Stiker nama yang terpampang jelas di pojok buku dan alat-alat tulis, akan sangat menyenangkan jika dibuat secara khusus dengan bentuk yang lucu. Label sederhana namun unik bertuliskan “Angie Kelas IA, Buku Matematika” bisa menjadi sesuatu yang membanggakan yang bisa ia tunjukkan kepada teman satu kelas. Meskipun ia tidak membawa kotak makan siang yang baru seperti teman-teman lain, stiker-stiker kreatif yang lucu bisa membuat ia bangga.

3. Membuat Pembatas Buku
Apa gunanya setumpuk buku bacaan jika tidak pernah dibaca? Mungkin cara berikut bisa Anda pakai untuk merangsang minat baca anak di tahun ajaran baru kali ini. Buat kreasi beberapa pembatas buku dengan desain berbeda. Jangan lupa bubuhkan tulisan, seperti “I Love Reading”, “Books Are Cool”, kata-kata pepatah “Banyak Buku Banyak Ilmu”, hingga kalimat unik “Hari Ini Sampai Sini, Besok Lanjut Lagi” atau “Jangan Lupa Membaca Sisanya, Ya”. Katakan kepada anak agar menyelipkan pembatas buku tersebut setiap kali ia mengakhiri kegiatan membaca setiap hari. Dengan demikian, ia menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan membaca halaman demi halaman buku. Ajak anak untuk membuat lebih banyak pembatas buku sehingga ia termotivasi membaca lebih banyak buku.

4. Kupon PR
Siapkan sebuah kertas sebagai tempat menuliskan daftar pekerjaan rumah yang diberikan guru di kelas. Minta agar anak selalu membawa kertas tersebut ke sekolah dan agar ia tidak lupa biasakan untuk langsung menuliskan tugas yang diberikan guru. Supaya kertas tidak mudah rusak, Anda bisa me-laminating kertas tersebut. Sementara itu, Anda membuat “kupon” yang harus Anda berikan ketika anak selesai mengerjakan setiap pekerjaan rumahnya. Setelah itu, tempelkan kupon-kupon kecil yang bertuliskan “Done” atau tanda cek tersebut ke dalam kertas daftar pekerjaan rumah. Kegiatan itu menyenangkan sekaligus amat bermanfaat.

5. Menggambar Sampul
Bosan dengan sampul buku yang dibeli di toko? Sudah saatnya Anda mengajak anak membuat sampul buku sendiri. Beli kertas putih polos dalam ukuran besar (biasanya dijual dalam ukuran sebesar kertas koran) dan siapkan berbagai peralatan gambar. Bebaskan anak dalam berkreasi, semakin unik gambar yang ia buat semakin bagus khas karya yang ia hasilkan. Setelah itu beli sampul plastik untuk menutup bagian terluar buku agar masterpiece si kecil tidak mudah rusak. Bukan mustahil anak akan menyukai pembuatan sampul itu dan melakukan hal yang sama setiap tahun. Jangan buang hasil karya si kecil meskipun buku sudah tidak lagi terpakai. Gambar-gambar lucu yang menghiasi sampul buku bisa Anda simpan sebagai catatan sekaligus kenang-kenangan akan setiap langkah pertumbuhan anak.

6. Daftar Menu

Izinkan anak ikut memutuskan menu bekal makan siang yang akan ia bawa ke sekolah. Seperti menyusun jadwal pelajaran, buat sebuah daftar harian yang berisi aneka makanan sehat yang bisa ia bawa ke sekolah. Buat kreasi daftar menu makanan dengan desain yang unik dan enak dilihat. Diskusikan paket menu yang akan Anda siapkan dan tempel daftar tersebut di pintu lemari pendingin. Dijamin dia tidak akan sabar menunggu hari esok karena ia tahu kue dadar kesukaannya akan menjadi teman makan siang di sekolah.

7. Membuat Kliping

Jangan terburu-buru membuang halaman-halaman koran, majalah, atau data yang Anda kumpulkan dari internet. Sumber-sumber ilmu tersebut akan sangat baik jika disimpan dan dikelompokkan dalam bentuk kliping. Saat pelajaran sekolah sedang membahas hewan mamalia, ada baiknya Anda bersama anak mengumpulkan data dan gambar berbagai jenis mamalia sebanyak mungkin yang berguna bagi kegiatan belajar, lalu susun rapi menjadi bentuk kliping. Selain menambah pengetahuan, kegitan membuat kliping tersebut mengajari anak cara mencari, mengategorikan, dan menghargai informasi sekecil apapun. Selain itu, membuat kliping juga melatih ketekunan dan kerapian. Selalu ingatkan si kecil untuk membereskan guntingan koran setelah kliping selesai dibuat.



Meminta maaf bukan sesuatu yang mudah. Kebanyakan anak menolak mengakui kesalahan (“Saya tidak salah, mengapa harus minta maaf?”), atau mungkin saja mereka takut dan malu untuk minta maaf. Inilah beberapa hal yang bisa orang tua lakukan untuk mendorong anak meminta maaf kepada orang lain.

Bersikap netral. Jika dua anak terlibat konflik, sulit mengetahui siapa yang harus meminta maaf. Ketika Anda mendengar teriakan, “Dia mulai duluan!” jelaskan bahwa mereka tidak harus selalu berbuat kesalahan untuk meminta maaf. Katakan kepada masing-masing anak, “Saya menyesal sudah bertengkar.” Hal itu membantu anak menenangkan diri, memperbaiki kekecewaan, dan kembali melanjutkan permainan.

Lakukan bersama. Jelaskan kepada anak bahwa meminta maaf memang sulit, dan tawarkan bantuan. Jika ia masih terlalu kecil, Anda bisa mengatakan, ‘Ayo, kita katakan bersama’”. Sebagian anak memerlukan waktu untuk menenangkan diri, jadi ada baiknya Anda memberi dia kelonggaran (“Besok, ketika kita sampai di sekolah, Adik perlu meminta maaf kepada Willy. Mama mau kok membantu”). Akan lebih mudah bagi sebagian anak untuk menyampaikan permintaan maaf lewat gambar atau tulisan. Bahasa tubuh seperti membawa bunga atau pelukan saat bertemu juga bisa dijadikan media berekspresi.

Jangan memaksa. Dorong tapi jangan paksa anak untuk meminta maaf. Hal itu bisa memperkeruh suasana, anak merasa dipermalukan, dan tak seorangpun yang merasa nyaman dengan permintaan maaf yang dipaksakan. Jika anak bergumam, “maaf” hanya untuk memuaskan Anda, hal itu tidak ada artinya dan ia tidak akan mendapatkan apapun untuk dipelajari.

Redam amarah Anda. Daripada Anda berteriak, “Minta maaf sekarang atau kamu akan mendapat masalah!” lebih baik katakan, “Jika Adik punya cara untuk membuat Anna tidak marah lagi, Adik boleh main lagi sama Anna.”

Beri contoh. Jika anak terlalu marah atau tidak bisa mengucapkan kata “maaf”, Anda bisa meminta maaf untuk dia. Dengan begitu, Anda sudah memberi contoh baik sekaligus mengurangi kekecewaan anak lain. Setelah itu, ajari anak untuk mengikuti cara Anda. Anda bisa katakan kepada teman anak, “Maaf ya, tadi Danny salah. Tante janji akan membahas hal ini di rumah bersama Danny.”

Hati-hati jika terlalu mudah. Seringkali, anak menggunakan kalimat ajaib, “Aku minta maaf” sebagai tiket untuk keluar dari hukuman. Dengan mudah kalimat itu meluncur dari bibirnya setiap kali ia merasa telah berbuat kesalahan dan berharap semua orang segera melupakan kejadian itu. Dia merasa bingung ketika Anda masih merasa kecewa (Ia akan berkata, “Aku kan sudah bilang ‘Aku minta maaf!’”) dan boleh jadi ia akan mengulangi perilaku yang sama. Ketika hal itu terjadi, artinya anak sekadar belajar kata-kata. Tekankan bahwa permintaan maaf itu akan bermakna jika ia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

 
Sebenarnya, tersedia tes psikologis untuk mengetahui minat belajar anak pada saat ini hanya tersedia untuk remaja, saat minat sudah mulai mengkristal. Sedangkan untuk anak usia dini hingga sekolah, tidak perlu perangkat tes khusus karena pada usia tersebut minat anak masih mudah berubah. Jadi untuk meningkatkan minat belajar anak, Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting menyarankan orang tua untuk:

- Melakukan kegiatan eksplorasi bersama anak-anak. Misalnya, berjalan-jalan ke museum, mengenalkan berbagai profesi yang ada di masyarakat, dan mengikutkan anak ke kegiatan ekstrakurikuler.

- Tetap tenang. Masa depan anak tidak berakhir ketika nilainya turun. Bicarakan hal ini bersama anak dalam suasana santai dan menyenangkan.

- Konsultasi pada guru kelas. Guru adalah orang yang paling tahu sikap belajar anak selama di sekolah. Diskusikan perilaku dan sikap belajar anak yang menjadi masalah untuk menemukan penyebabnya.

-  Introspeksi diri. Orang tua juga harus melakukan introspeksi diri. Apakah Anda sudah membantu anak menciptakan mindset belajar sebagai kegiatan yang menyenangkan?

- Hubungi profesional yang bisa membantu Anda apabila merasa tidak dapat menangani masalah anak secara mandiri.


Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting, menekankan pentingnya menguasai keterampilan dasar akademis yang tepat, sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak. “Jika anak dipaksakan belajar dengan cara dan di waktu yang tidak tepat, bisa jadi ia belum siap, jadi cepat jenuh, tidak percaya diri, dan menjadi pribadi yang kaku.”

Ia mencontohkan metode belajar calistung (baca-tulis-hitung) di usia dini. “Belajar calistung di usia dini harusnya mengajarkan konsep, bukan cara menulis atau praktek berhitung. Misalnya, konsep letak, bentuk, ukuran, dan volume. Jadi, anak diajari kanan dan kiri, bentuk persegi atau lingkaran, besar dan kecil, serta banyak atau sedikit.”

Belajar keterampilan yang tepat di tahap perkembangan yang tepat akan membantu anak memupuk minat terhadap bidang akademis. Selain fisiknya yang lebih mendukung, ia juga akan memiliki modal kognitif yang membantunya lebih mudah menguasai keterampilan.

Apakah ada keterampilan lain yang dianggap penting untuk anak? World Health Organization (WHO) menyebutkan, ada 10 keterampilan hidup utama (core life skills) yang perlu dimiliki seseorang untuk mampu menjawab tantangan hidup sehari-hari, yaitu:
- Problem solving
- Critical thinking
- Effective sommunication
- Decision-making
- Creative thinking
- Interpersonal relationship
- Self-awareness building
- Empathy
- Coping with stress and emotions

Seluruh keterampilan hidup di atas saling berhubungan dan mendukung satu sama lain. Seorang anak yang memiliki self-awareness, self-esteem, dan self-confidence yang baik akan mampu menelaah kekuatan dan kelemahan pada dirinya.

Sehingga, ia akan mampu mengenali kesempatan yang terdapat di hadapannya, sekaligus menyiapkan dirinya untuk menghadapi ancaman dari luar. Pada akhirnya, anak bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang muncul dalam lingkungan dan menemukan pemecahan masalah yang tepat. Jadi, kenali keterampilan yang dimiliki anak, lalu kembangkan secara optimal.

 
Ketika menemukan anak tidak menunjukkan minat akademis, Ari Ahmadi, psikolog dari Essa Consulting menyarankan orang tua dan guru untuk melakukan langkah-langkah berikut:

1. Cari tahu akar masalah.

2. Tunjukkan cara belajar yang menyenangkan dengan mengenali cara belajar anak.

3. Ajak anak mengenali manfaat belajar dengan mengetahui aplikasi ilmu yang dipelajari anak.

4. Berikan standar pencapaian yang sesuai kemampuan anak.

5. Sampaikan harapan Anda dengan realistis dan tidak menekan.


Apakah anak Anda takut atau fobia pada serangga atau sesuatu? Inilah tip yang bisa membantunya untuk menghadapi rasa takut ala Dr. Morgyn Beckman, psikiater di  University of Illinois, Peoria:

- Jangan hanya fokuskan pada masalahnya. Jika Anda tidak tahu bagaimana caranya menghadapi fobia, jangan paksakan anak untuk menghadapi rasa takutnya. Paling baik, sih, membiarkannya mengatasi masalahnya sesuai kemampuan dirinya.

Pikirkan bagaimana rasanya ketika Anda dipaksa melakukan sesuatu. Mungkin saja, Anda akan berurusan dengan hal ini untuk waktu yang cukup panjang dan Anda tidak menyukainya. Kalau Anda secara perlahan memaparkan anak pada rasa takutnya, ia akan lebih mudah untuk ikut mengatasinya dan pada akhirnya melalui rasa takut tersebut.

- Lakukan secara bertahap. Dr. Beckman menyarankan untuk secara perlahan membantunya menghilangkan rasa takutnya. Misalnya, kalau ia takut serangga, perkenalkan melalui dongeng. Bisa juga, Anda belikan buku cerita atau membuat games tentang binatang tersebut sehingga ia tahu bahwa serangga yang ditakutinya ternyata tidak seseram yang dibayangkan.

- Jangan remehkan rasa takutnya. Ingat, jangan mentang-mentang hal itu bukan sesuatu yang menakutkan bagi Anda (sebagai orang dewasa!), itu berarti tidak menakutkan bagi anak kecil. Coba berbagi cerita pada anak Anda tentang bagaimana Anda menghadapi rasa takut dan cara mengatasinya.

- Dengarkan anak. Biarkan anak bercerita tentang apa yang ditakutkannya, tanpa Anda potong pembicaraannya. Kadangkala, rasa takut itu tidak seperti yang kita bayangkan. Misalnya, ia sebenarnya takut pada serangga yang bisa terbang dan bukan takut pada lebah. Jika Anda langsung menyimpulkan apa yang terjadi, Anda tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya anak lakukan. Yang penting, cari tahu penyebab di balik rasa takutnya.

- Beri pujian. Jika anak berhasil mengatasi rasa takutnya tahap demi tahap, beri pujian dan juga umpan balik yang positif. Jangan beri hadiah setiap kali ia berhasil melakukannya, sebab perhatiannya nanti bukan pada kesuksesan yang dilakukan melainkan pada hadiah yang didapat.

- Minta bantuan. Menurut Dr. Beckman, “Ingat, Anda tidak harus melakukan semua ini sendiri. Ada banyak buku baik untuk orang tua mau pun anak untuk mengatasi masalah ini. Bila perlu, Anda ajak anak ke psikolog untuk mencari solusi terbaik.”



Hari-hari menjelang ujian bisa jadi sangat melelahkan bagi anak karena mungkin saja anak sudah disuapi try out sejak jauh-jauh hari. Selain itu, keharusan lulus bisa menjadi tekanan yang akan menambah beban mental. Anak yang seharusnya berada dalam kondisi prima menjelang ujian mungkin justru mengalami stres.

Anda bisa membantu anak mengatasi perasaan tertekan yang berlebihan menjelang ujian. Berikut ini beberapa tip untuk membantu anak agar siap menghadapi hal itu.

Tunjukkan perspektif positif

Ujian memang menentukan tapi beri pengertian kepada anak agar tidak menganggap ujian sebagai persoalan hidup dan mati. Tunjukkan dukungan bahwa anak bisa mengerjakan semua soal dengan baik.

Persiapan optimal
Pastikan anak tahu betul bentuk tes yang akan diujikan sehingga dia bisa melakukan persiapan optimal. Misalnya, berapa lama waktu yang diberikan untuk masing-masing jenis mata pelajaran? Apakah ada rehat di antara dua ujian? Apakah bentuk soal berupa pilihan ganda atau esai?

Bersikap mendukung

Pagi di hari ujian, hindari bersikap terlalu bawel atau adu pendapat sehingga anak bisa memulai hari pentingnya dengan baik. Untuk meminimalkan keributan di pagi hari, minta anak untuk menyiapkan segala perlengkapan ujian pada malam sebelumnya. Jika perlu, bantu dia dalam menyiapkan perlengkapan penting seperti nomor ujian.

Menawarkan strategi menghadapi ujian

Meskipun persiapan di malam sebelumnya sudah cukup, anak tetap harus memiliki strategi saat menghadapi ujian. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda beritahu kepada anak agar dapat mengerjakan ujian secara optimal.

* Membaca pertanyaan dengan cermat. Minta anak agar membaca kalimat pertanyaan dengan hati-hati. Ajarkan dia agar cermat terhadap kata yang diketik tebal, miring, atau diberi garis bawah. Selain itu, minta dia untuk memerhatikan kata-kata seperti ‘tidak’, ‘semua’ atau ‘kecuali’.

* Menebak dengan cerdas. Untuk ujian dengan soal pilihan ganda, ingatkan anak agar tidak mengosongkan jawaban. Sebab, selama sistem penilaian adalah tidak memberi penalti terhadap jawaban yang salah, maka bukan masalah jika anak menebak jawaban.

* Jawab yang mudah dulu. Ingatkan anak untuk tidak membuang-buang waktu memikirkan jawaban dari pertanyaan yang sulit. Sebaliknya, minta dia mengerjakan soal-soal yang mudah terlebih dahulu. Tetapi jangan sampai terlena karena waktu akan terus berjalan. Selain itu, beritahu anak agar tidak perlu panik jika tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan dengan benar. Karena, untuk mendapat nilai bagus bukan berarti harus menjawab semua pertanyaan dengan benar.

* Jangan terburu-buru. Meskipun berhasil menjawab semua soal, ingatkan anak agar tidak tergesa-gesa mengumpulkan soal beserta lembar jawaban. Gunakan sisa waktu yang ada untuk kembali memeriksa lembar jawaban, termasuk kolom nama dan nomor ujian yang ada kalanya terlewat tanpa sadar. Khususnya untuk soal bertipe pilihan ganda, periksa kembali semua jawaban. Siapa tahu, karena terlampau terburu-buru, ada jawaban yang terlewat atau malah dibubuhkan pada soal yang salah.

* Tidak ambil pusing terhadap ujian yang telah berlalu. Tak jarang karena penasaran, anak masih membahas soal-soal yang tak bisa dijawab dengan baik di waktu istirahat. Padahal, ini hanya akan membuang-buang waktu karena tidak akan mengubah keadaan. Yakinkan anak agar dia tetap santai dan tak perlu ambil pusing apabila bisa mengerjakan soal sebelumnya dengan baik atau tidak. Karena dia harus fokus untuk menghadapi soal ujian selanjutnya.



Anda bisa menciptakan hal-hal kecil yang membangkitkan keceriaan anak. Tidak perlu repot-repot berbelanja ke toko buku atau supermarket, Anda hanya perlu kreatif menyulap benda-benda sederhana menjadi sesuatu yang baru, unik, tanpa melupakan sisi edukasi. Berikut kami sajikan berbagai kiat yang bisa Anda lakukan bersama dengan si kecil, agar kegiatan sekolah menjadi lebih menyenangkan.

Tip berikut tetap bisa dipakai bahkan jika Anda tidak membeli kotak bekal makan siang di tahun ajaran baru kali ini. Selamat mencoba!

1. Menyusun Jadwal Pelajaran


Menulis dan mengkreasikan jadwal pelajaran ternyata bisa sangat menyenangkan. Jika selama ini Anda hanya melihat susunan mata pelajaran tergantung di atas kertas polos di dinding kamar anak, cobalah untuk membuat dengan desain yang lebih ceria. Anda bisa menyesuaikan nuansa gambar dengan kegemaran anak, seperti sepak bola, satwa, atau film kartun favorit. Anda bisa membuatnya dengan komputer atau memanfaatkan potongan gambar dari koran maupun majalah lama. Libatkan anak ketika membuat kreasi jadwal pelajaran dan selalu minta pendapatnya seputar desain yang Anda buat. Setelah selesai, gantung di dekat meja belajar si kecil atau di sisi dinding yang mudah terlihat. Anda bisa mengganti dengan kreasi yang baru kapan saja dan nikmati senyum ceria anak setiap kali ia memandang gambar badut di sebelah tulisan matematika. Bahkan, ia bisa menawarkan bantuan kepada wali kelas untuk membuat jadwal pelajaran yang ditempel di dinding kelas.

2. Menempel Stiker Nama


Stiker nama tidak sekadar berfungsi mencegah agar buku si kecil tidak tertukar dengan teman satu kelas. Stiker nama yang terpampang jelas di pojok buku dan alat-alat tulis, akan sangat menyenangkan jika dibuat secara khusus dengan bentuk yang lucu. Label sederhana namun unik bertuliskan “Angie Kelas IA, Buku Matematika” bisa menjadi sesuatu yang membanggakan yang bisa ia tunjukkan kepada teman satu kelas. Meskipun ia tidak membawa kotak makan siang yang baru seperti teman-teman lain, stiker-stiker kreatif yang lucu bisa membuat ia bangga.

3. Membuat Pembatas Buku


Apa gunanya setumpuk buku bacaan jika tidak pernah dibaca? Mungkin cara berikut bisa Anda pakai untuk merangsang minat baca anak di tahun ajaran baru kali ini. Buat kreasi beberapa pembatas buku dengan desain berbeda. Jangan lupa bubuhkan tulisan, seperti “I Love Reading”, “Books Are Cool”, kata-kata pepatah “Banyak Buku Banyak Ilmu”, hingga kalimat unik “Hari Ini Sampai Sini, Besok Lanjut Lagi” atau “Jangan Lupa Membaca Sisanya, Ya”. Katakan kepada anak agar menyelipkan pembatas buku tersebut setiap kali ia mengakhiri kegiatan membaca setiap hari. Dengan demikian, ia menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan membaca halaman demi halaman buku. Ajak anak untuk membuat lebih banyak pembatas buku sehingga ia termotivasi membaca lebih banyak buku.

4. Kupon PR

Siapkan sebuah kertas sebagai tempat menuliskan daftar pekerjaan rumah yang diberikan guru di kelas. Minta agar anak selalu membawa kertas tersebut ke sekolah dan agar ia tidak lupa biasakan untuk langsung menuliskan tugas yang diberikan guru. Supaya kertas tidak mudah rusak, Anda bisa me-laminating kertas tersebut. Sementara itu, Anda membuat “kupon” yang harus Anda berikan ketika anak selesai mengerjakan setiap pekerjaan rumahnya. Setelah itu, tempelkan kupon-kupon kecil yang bertuliskan “Done” atau tanda cek tersebut ke dalam kertas daftar pekerjaan rumah. Kegiatan itu menyenangkan sekaligus amat bermanfaat.

5. Menggambar Sampul

Bosan dengan sampul buku yang dibeli di toko? Sudah saatnya Anda mengajak anak membuat sampul buku sendiri. Beli kertas putih polos dalam ukuran besar (biasanya dijual dalam ukuran sebesar kertas koran) dan siapkan berbagai peralatan gambar. Bebaskan anak dalam berkreasi, semakin unik gambar yang ia buat semakin bagus khas karya yang ia hasilkan. Setelah itu beli sampul plastik untuk menutup bagian terluar buku agar masterpiece si kecil tidak mudah rusak. Bukan mustahil anak akan menyukai pembuatan sampul itu dan melakukan hal yang sama setiap tahun. Jangan buang hasil karya si kecil meskipun buku sudah tidak lagi terpakai. Gambar-gambar lucu yang menghiasi sampul buku bisa Anda simpan sebagai catatan sekaligus kenang-kenangan akan setiap langkah pertumbuhan anak.

6. Daftar Menu


Izinkan anak ikut memutuskan menu bekal makan siang yang akan ia bawa ke sekolah. Seperti menyusun jadwal pelajaran, buat sebuah daftar harian yang berisi aneka makanan sehat yang bisa ia bawa ke sekolah. Buat kreasi daftar menu makanan dengan desain yang unik dan enak dilihat. Diskusikan paket menu yang akan Anda siapkan dan tempel daftar tersebut di pintu lemari pendingin. Dijamin dia tidak akan sabar menunggu hari esok karena ia tahu kue dadar kesukaannya akan menjadi teman makan siang di sekolah.

7. Membuat Kliping

Jangan terburu-buru membuang halaman-halaman koran, majalah, atau data yang Anda kumpulkan dari internet. Sumber-sumber ilmu tersebut akan sangat baik jika disimpan dan dikelompokkan dalam bentuk kliping. Saat pelajaran sekolah sedang membahas hewan mamalia, ada baiknya Anda bersama anak mengumpulkan data dan gambar berbagai jenis mamalia sebanyak mungkin yang berguna bagi kegiatan belajar, lalu susun rapi menjadi bentuk kliping. Selain menambah pengetahuan, kegitan membuat kliping tersebut mengajari anak cara mencari, mengategorikan, dan menghargai informasi sekecil apapun. Selain itu, membuat kliping juga melatih ketekunan dan kerapian. Selalu ingatkan si kecil untuk membereskan guntingan koran setelah kliping selesai dibuat.


Jujur deh, siapa dari kita yang rutin menyiapkan sarapan tiap pagi untuk anak? Bila Anda sendiri terbiasa sarapan, mungkin Anda akan menerapkan hal yang sama pada anak. Tapi ngaku deh, kadang-kadang, Anda sengaja melewatkan sarapan demi berbagai alasan, kan? Takut gemuk, tidak ada waktu, bangun kesiangan, tidak lapar, malas, tidak biasa, dll.

Padahal, sarapan banyak manfaatnya, lho! Tubuh punya simpanan energi dalam bentuk glikogen yang disimpan di otot dan hati. Saat tidur, bukan berarti badan berhenti bekerja. Glikogen dijadikan bahan bakar sebagai proses biokimia dalam tubuh. Karena itu, kadar gula tubuh akan turun pada saat Anda bangun. Anda butuh energi baru untuk menggantikan energi yang hilang. Nah, disinilah sarapan berperan, yaitu menggantikan energi secara optimal. Sayangnya, menurut survei independen Radani Edutainment, ternyata hanya 1 dari 10 anak yang memperoleh sarapan bergizi lengkap dan seimbang.

Lalu, apa dong, yang sebaiknya dikonsumsi saat sarapan agar kecukupan gizi terpenuhi? Hindari makanan yang hanya mengandung kalori kosong (karbohidrat saja). Sarapan terbaik adalah yang memenuhi pola makan seimbang. Sarapan harus memenuhi 6 kelompok zat gizi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta air. Setiap jenis makanan ini saling melengkapi dan diperlukan bagi tubuh.

Tantangan bagi Andalah untuk menyiapkan sarapan pagi yang lezat dan bergizi buat anak. Orangtua biasanya ingin agar sarapan dapat dikonsumsi dalam perjalanan, berbahan natural, mudah menyiapkannya, dan berserat tinggi.

Salah satu bahan yang baik untuk ada dalam menu sarapan si kecil adalah keju. Keju dapat diolah menjadi aneka makanan yang menggugah selera makan si kecil. Sebagai sumber kalsium selain susu, keju bisa dimanfaatkan sebagai sisipan makanan, dan selingan untuk memenuhi kecukupan asupan kalsium dalam sehari. Keju juga tidak menggemukkan jika disusun dalam masakan yang memenuhi gizi seimbang.

Peduli akan hal ini, Keju Kraft mengkampanyekan "Tiga Cara Enak Dapatkan Gizi untuk TulangMOOO!!" Nah, salah satu cara dari selalu tampil prima di pagi hari adalah dengan sarapan di pagi hari. sarapan ibarat bensin bagi kendaraan. JIka kita melewatkan sarapan, badan akan terasa lemas dan stamina pun tidak terjaga. Karenanya, Anda justru akan sering mengemil makanan yang sarat gula dan karbohidrat saja. untuk itulah sarapan si kecil harus terpenuhui gizinya.

Contoh menu sarapan berbahan olahan keju: roti meises keju, bubur ayam, sandwich keju, mie rebus dengan telur dan sayur, roti pisang keju, dan masih banyak lagi. Berkreasilah dengan variasi sarapan si kecil. Selamat mencoba!

Sumber : http://www.parenting.co.id/


binaamal.or.id - Siswa Bina Amal kembali meraih prestasi , kali ini prestasi itu datang di bidang olahraga. SDIT Bina Amal berhasil meraih juara lomba futsal se-Kota Semarang yang diadakan di SMP Al-Azzar Semarang.

Pelatih Futsal SDIT Bina Amal dedi mengatakan bangga meskipun tidak meraih juara pertama , yang terpenting dari itu semua adalah kerja keras dan kekompakan dari tim.

"Anak-anak sudah berlatih keras dan bermain bagus,jadi hasil ini sudah membanggakan" Pangkas Dedi

 
Siswa Bina Amal Memperbaiki Bacaan Quran
Siswa Bina Amal Memperbaiki Bacaan Quran



binaamal.or.id - Setiap Paginya , Siswa Siswi Bina Amal memiliki kegiatan rutin untuk memperbaiki bacaan quran mereka dengan dibimbing oleh guru guru Bina Amal.

Karena Al Quran merupakan salah satu cara untuk mendidik akhlak anak ,  dengan adanya kegiatan rutin memperbaiki bacaan quran seperti ini diharapkan lahir generasi generasi yang rabbani seperti visi yang dimiliki oleh Bina Amal.



Perilaku anak-anak dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya kondisi lingkungan, biologis, dan genetik. Dalam banyak kasus sulit sekali mengetahui faktor penentu perilaku anak tanpa melakukan terapi atau tes psikologi sebelumnya.

Lalu apa saja faktor yang bisa memengaruhi perkembangan perilaku anak? Simak penjelasan di bawah ini.

Biologi Faktor biologis memainkan peran yang kuat dalam membentuk perilaku anak. “Sebagai contoh, genetika dapat membentuk temperamen dan psikofisiologi anak,” kata Barbara Kaiser dalam bukunya “Challenging Behavior in Elementary and Middle School.”  Selanjutnya, beberapa ciri kepribadian, seperti keterbukaan adalah sifat diwariskan. Selain itu, genetika dapat memainkan peran penting dalam perkembangan kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar dan kecemasan, yang semuanya mempengaruhi cara anak berperilaku. Selanjutnya, paparan alkohol pada saat masih di kandungan dan cacat lahir juga dapat mempengaruhi interaksi antar anak.

Pengasuhan Gaya pengasuhan juga memiliki efek kuat pada perilaku anak. Misalnya, orang tua yang menaruh harapan terlalu tinggi pada anak-anak mereka mungkin akan membesarkan anak-anak yang memiliki perilaku cemas atau pemberontak karena mereka tidak bisa mengikuti keinginan orangtua. Demikian juga, orangtua yang menetapkan harapan yang terlalu rendah pada anak-anak akan memiliki anak yang tidak berprestasi karena anak tidak mampu menunjukkan potensi terbaiknya. Sedangkan orangtua yang mengasuh anaknya secara kasar bisa menumbuhkan sifat antisosial pada anak-anak mereka, seperti sifat agresif dan tertutup. Orangtua yang memberikan batas-batas realistis serta menegakkan aturan dalam rumah juga dapat menumbuhkan perilaku positif pada anak-anak mereka.

Lingkungan Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang tidak aman, seperti lingkungan dengan tingkat kejahatan dan kekerasan yang tinggi serta tingginya aktivitas obat terlarang dapat menunjukkan perilaku cemas, khawatir atau perilaku antisosial. Demikian juga, anak-anak tumbuh dalam kemiskinan dan kurangnya sumber pendidikan akan membuat anak memiliki rasa percaya diri, mudah putus asa atau depresi. Selainnya itu kurangnya sumber daya keluarga diantara kurangnya makanan bergizi, dan kondisi hidup yang tidak sehat dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan sikap depresi atau perilaku melawan.

Hidup tertekan Perceraian orangtua, hidup yang selalu pindah-pindah, penggencetan, dan interaksi negatif dengan rekan-rekan sebaya, semuanya dapat memengaruhi perilaku anak
. Jika anak-anak terus menerus mengalami hidup tertekan mereka akan mengembangkan perilaku depresi, sering menangis, minder. Namun efek stres akibat hidup tertekan ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Dalam beberapa kasus, anak-anak mungkin perlu berkonsultasi dengan profesional untuk mengatasi perilakunya.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik cenderung  belajar lebih baik sambil bergerak.  Duduk tenang dan menyalin untuk berlatih membentuk huruf selama beberapa waktu  bisa menjadi tantangan yang besar bagi anak-anak dengan gaya belajar kinestetik. Hm, sebenarnya gaya berlatih menulis dengan duduk tenang dan menyalin kata atau kalimat adalah sebuah tantangan bagi anak-anak, terutama bagi orang dewasa yang menemani mereka belajar.

Saya belajar beberapa hal dari murid-murid saya tentang berlatih menulis bagi pemula. Beberapa hal berikut ini mungkin bisa Anda coba bersama anak-anak di rumah.

1. Menulis harus Bermakna
Menyalin kalimat berulang-ulang adalah kegiatan yang kurang bermakna untuk anak-anak. Pendeknya, mungkin mereka bertanya-tanya, “Kenapa sih, aku harus menulis yang itu-itu terus?” 
Maka membuat kegiatan menulis yang bermakna untuk mereka menjadi penting. 

Pada dasarnya, menulis adalah salah satu cara berkomunikasi. Minta anak menulis surat pendek atau kartu ucapan.  Minta anak menuliskan daftar mainan atau makanan yang mereka suka. Esok hari, minta anak mencatat bagian-bagian dari seri mainan atau tokoh kartun yang mereka suka. Lain hari, diktekan daftar belanjaan Anda untuk ditulis anak.

2. Menulis harus Menyenangkan
Ubahlah waktu berlatih menulis menjadi waktu bermain yang seru.  Umumkan waktu permainan bernama Super Paper. Tidak boleh bicara, tapi harus menulis di kertas. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan lucu yang membuat anak tertarik menuliskan jawabannya di kertas. 
Ciptakan permainan-permainan yang baru. Tulislah sebuah kata, kemudian minta anak menulis kata lain yang dimulai dengan huruf terakhir dari kata yang Anda tulis.

Misalnya, saya menulis : BUKU. Binar akan menulis ULAR. Saya lanjutnya dengan RAMAI. Binar bisa melanjutkan dengan kata lain berawalan I.

3. Menulis dengan Target Kecil

Murid-murid kecil saya mengeluh bila diminta menulis satu halaman. “Panjang sekali, Bu.” “Aku kan sudah capek, Bu.” Suatu hari, saya buatkan pola daun sebagai tempat menulis. Saya beri beberapa lembar daun dan minta mereka menulis cerita.

Daun-daun ditempelkan menjadi sebuah pohon yang cantik. Hari itu, mereka menulis sebanyak dua halaman tanpa mengeluh dan tanpa mereka sadari. Yang mereka ketahui, delapan lembar daun yang mereka punya sudah penuh dengan cerita.

4. Stasiun Menulis
Buat sebuah pojok istimewa untuk menulis. Lengkapi dengan kertas dan aneka alat tulis berwarna. Barangkali, kotak surat kecil untuk setiap anggota keluarga akan memberi semangat baru. Jika Mama atau Papa ikut terlibat saling mengirim atau berbalas kartu, anak-anak tentu bersemangat turut serta.

5. Kreatif dengan aneka barang
Anak-anak yang sedang belajar menulis huruf akan senang sekali jika boleh menulis dengan jari di atas baki berlapis tepung. Membuat huruf di lantai dengan bekas-bekas amplop atau selebaran dari bank juga akan menyenangkan.

6. Sedikit Kritik, Banyak Pujian
Ingat, Ma. Anak-anak tidak bisa serta merta menulis dengan sempurna. Beri mereka waktu untuk berkembang menjadi penulis yang handal. Anda tidak perlu memperbaiki semua hal dalam satu waktu.

Minggu ini, fokuskan kegiatan menulis untuk berlatih membuat bentuk huruf yang benar. Maka biarkan saja jika tulisan anak anda tak sama besarnya, atau ia lupa memberi spasi antar kata. Minggu depan, pilih satu hal lagi sebagai fokus latihan.

Biarkan anak menyelesaikan tugas menulisnya. Jika terlalu panjang, pecahlah menjadi beberapa bagian. Pada akhir setiap bagian, ajak anak mengevaluasi kembali hasilnya. Apa yang kamu tulis? Apa yang bisa dilakukan agar tulisanmu lebih baik? Bagaimana membuat huruf “y” yang benar? Dengan demikian, Anda tidak perlu mengomentari setiap langkahnya dalam berlatih menulis.

Jangan lupa, beri pujian bila anak anda membuat kemajuan meskipun kecil.

Tak ada yang lebih menyenangkan bagi anak-anak dibanding melakukan kegiatan yang sama dengan Mama dan Papa. Jika Anda sedang mengajak anak-anak belajar menulis, Anda perlu bermain dan menulis bersama mereka. Polisi yang ngomel dan mengkritik semua gerakan anak saat sedang menulis, apalagi sambil sibuk dengan gadget, tentu bukan partner menulis yang menyenangkan! 

Belajar, tidak harus selalu duduk tenang. Belajar bisa dilakukan sambil bersenang-senang!

Sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget