Desember 2014


Libur panjang kini sedang dinikmati sebagian besar anak-anak di Indonesia. Ya, liburan sekolah tahun ini bertepatan dengan libur Natal dan tahun baru.Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun mengajak masyarakat agar bijak dalam mengatur rencana liburan anak terkait liburan sekolah, Natal, dan Tahun Baru.

“Kami mengingatkan masyarakat luas agar berhati-hati memilih objek wisata, terutama untuk anak-anak menghadapi liburan panjang ini,” kata Komisioner KPAI Susanto seperti yang dikutip dari situs KPAI.

Dia mengharapkan orang tua selalu memastikan anak selalu didampingi atau dipantau saat berkunjung ke area wisata. Terutama anak di bawah usia 14 tahun. Kemudian, kata Susanto, ia mengimbau agar masyarakat menghindari tempat wisata yang berbahaya. “Pilih tempat wisata sesuai minat si kecil dan juga memertimbangkan aspek manfaat untuk memicu tumbuh dan berkembangnya potensi anak,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik menghindari berlibur di area yang syarat dengan permain game bermuatan kekerasan, karena akan berdampak negatif bagi anak. “Jika tempat wisata yang diinginkan si kecil penuh atau kurang memungkinkan, bisa juga berlibur ke area yang syarat dengan nilai-nilai budaya, agar anak bermain sambil belajar,” kata dia.

Susanto juga menyarankan agar memilihkan tempat yang ramah anak. “Sebelum berangkat, pastikan mencari tempat wisata yang tidak terlalu padat karena berpotensi membuat anak lelah dan kurang bersemangat. Pilih juga akomodasi yang cocok untuk si kecil, terutama jika usianya masih di bawah 10 tahun,” kata dia.

Tidak kalah penting, Susanto mengharapkan agar anak dihindarkan dari area wisata yang sedang konflik, tingkat kriminalitasnya tinggi, dan berpotensi bencana. “Terakhir, pilih lokasi atau daerah yang sehat, bukan yang banyak penyakit atau sumber datangnya penyakit menular,” katanya.

Selain itu, dia menyarankan agar anak tidak mudah membeli makanan atau jajan di area wisata yang tidak terjamin kesehatannya. Selamat berlibur.

Sumber : http://parentsindonesia.com/




Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, jutaan ibu di Indonesia masih menggunakan pola pengasuhan yang tidak ramah anak. “Jutaan kaum Ibu di Indonesia masih menggunakan pola pengasuhan berdasarkan warisan, bukan konsep pengasuhan yang ramah anak,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Susanto seperti yang dikutip dari web resmi KPAI.

Susanto menjelaskan, pola pengasuhan yang salah itu amat berbahaya. Hingga kini banyak ibu yang masih sering membentak anak, mencubit, dan membanding-bandingkan anaknya. “Anak juga dibiarkan main game bermuatan kekerasan, dibiarkan makan yang mengandung zat pewarna berbahaya dan MSG,” ucap Susanto.

Susanto menyebut, hasil survei KPAI di 9 provinsi Indonesia 2 tahun lalu, 38 persen anak mengaku sering mengalami kekerasan oleh ibunya. Sementara, 35 persen dilakukan ayah, dan sisanya oleh para saudara.
Menurut catatan Susanto, lebih dari 60 ribu ibu di Indonesia menjadi kepala keluarga. Ibu-ibu itu menghidupi anaknya, memenuhi kesehatan, dan pendidikan tanpa kenal rasa lelah. Jiwanya selalu dipenuhi oleh semangat ‘perubahan’ nasib anaknya di kemudian hari.

“Sangat banyak kaum ibu menjadi ‘pencari nafkah utama’ bagi keluarga, meski secara formal masih ada suami. Ratusan ribu kaum Ibu di Indonesia yang menjadi TKW merupakan bagian kecil dari contoh betapa mereka menjadi penafkah utama, sementara suami mengurus anak di rumah. Lalu, ribuan kaum Ibu bekerja di daerah pesisir. Umumnya mereka bukan sebagai pelaku ekonomi mandiri, namun sekadar bekerja, bekerja dan bekerja. Ia minim gagasan, minim modal, minim keberanian untuk mengelola dan mengembangkan potensi pesisir secara mandiri,” jelas Susanto.

Susanto menambahkan, dirinya berharap agar kritik yang dia sampaikan mengenai ibu bekerja dapat dapat menjadi perhatian kaum ibu di Indonesia. Ia pun meminta agar ibu mengasuh anak dengan pola pengasuhan yang ramah anak.

“Semoga momentum peringatan Hari Ibu, semoga dapat menjadi refleksi, penyatuan gagasan dan konsolidasi aksi untuk memajukan dan menguatkan serta mencegah beragam masalah yang dihadapi oleh kaum ibu,” jelas Susanto.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Sebagai panca indra yang paling vital, tak terbayang jika kesehatan mata terganggu, terutama pada anak-anak. Sebagai generasi yang hidup di era modern, batita masa kini sudah diperkenalkan dengan beragam gadget dan teknologi. Tak heran jika angka miopia (rabun jauh) kini banyak ditemukan pada anak di usianya yang lebih awal. Peningkatan minusnya pun menjadi lebih cepat.

Apa penyebabnya? Penyebab terbesar bisa jadi adalah gadget. Si kecil yang dibiarkan terus menerus menatap layar gadget, kemampuannya untuk fokus melihat benda yang jaraknya jauh bisa menurun.

Nah, bila Anda termasuk salah satu orang tua yang suka memberi gadget pada anak, jangan tunggu hingga anak mengeluh matanya sakit. Rutinlah memeriksakan kesehatan mata anak. “Cek mata itu penting. Dengan memeriksakan kesehatan mata sejak dini, kita bisa mengurangi sembilan penyakit mata, seperti katarak, gangguan refraksi (mata minus), mata juling, kemunduran retina, dan glaukoma,” demikian diucapkan Dr. Imsyah Satari, SpM, Chief Executive Officer SMEC Group, yang baru saja meluncurkan program ‘Cek Mata, Yuk!’ bagi keluarga di Jakarta.

Berikut beberapa gejala yang bisa Anda jadikan alarm untuk segera memeriksakan indra penglihatan anak:
•    Sering mengeluh matanya sakit.
•    Mengeluh kepalanya sakit, sakit yang dirasakan bisa sampai ke kepala bagian belakang.
•    Reflek berkedip yang terlalu sering (akibat mata kering).
•    Mata merah.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Otak adalah orang paling penting dalam tubuh manusia. Namun cara kerja otak paling sulit dipahami dibanding organ tubuh lainnya. Otak mengontrol setiap fungsi utama tubuh, dan bagian paling penting supaya memiliki kehidupan yang sukses dan bahagia. Karena terlalu kompleks, faktor gaya hidup bisa memengaruhi kinerjanya. Makanan adalah salah satu faktor utama dalam mengoptimalkan fungsi otak dan mencegah penyakit otak, namun banyak orang tidak menyadari makanan apa yang harus disantap untuk memaksimalkan kinerja otak. Berikut ini makanannya:

1. Minyak ikan sangat penting bagi otak dan sistem saraf. Ikan seperti sarden, teri, dan salmon mengandung asam omega-3 dan lemak esensial, yang bisa memengaruhi fungsi otak, meningkatkan komunikasi antara sel-sel otak, dan menjaga kesehatan otak.

2. Cabai sebenarnya makanan terbaik otak karena mengandung jumlah vitamin C yang sangat besar (melebihi kadar vitamin C jeruk).

3. Biji labu kaya dengan zinc atau seng, kandungan mineral yang berfugsi meningkatkan memori. Ada banyak cara untuk menikmati biji labu. Anda membutuhkan sekitar satu gemggaman biji labu per hari untuk menjaga otak Anda tetap dalam keadaan prima.

4. Tomat berguna untuk mencegah penyakit otak. Itu karena tomat mengandung antioksidan lycopene, yang menghancurkan radikal bebas dalam tubuh. Mengonsumsi tomat dapat membantu melindungi penyakit otak seperti Sindroma Alzheimer.

5. Brokoli merupakan makanan otak yang bagus. Tamanan hijau ini mengandung vitamin K, vitamin C dan antioksidan. Vitamin K yang menjaga fungsi otak dan dapat membantu mencegah demensia.

6. Kacang jenis apapun mengandung vitamin E, yang bisa mencegah kehilangan memori. Kacang juga mengandung banyak lemak sehat.

7. kacang kakao (kacang dari mana coklat dibuat) telah terbukti meningkatkan kesehatan otak. Faktanya cokelat kebanyakan mengandung jumlah kacang yang sangat kecil. Solusinya makanlah beberapa kotak cokelat hitam hitam sehari dengan persentase kakao seperti 85 persen. Memang rasanya agak pahit, tapi cukup menyehatkan.

8. Blueberry telah dinyatakan sebagai makanan super. Bukan saja mereka baik untuk kesehatan tubuh Anda, tetapi juga mengandung banyak antioksidan dan vitamin yang bisa membentengi kesehatan otak Anda.
9. Biji rami mengandung banyak lemak yang sangat sehat, yang bisa meningkatkan fungsi otak. Di pasaran biji Ramj banyak dijual dalam bentuk roti untuk bubur. Cara menikmatinya campurlan mereka dengan makanan lain.

10. Nutrisi Kolin Kolin sebenarnya diproduksi tubuh namun dalam jumlah yang kecil. Makan telur dapat membuat perbedaan yang sangat signifikan untuk kesehatan otak Anda.

Sumber : http://parentsindonesia.com/



Menggendong atau memeluk adalah salah satu ekspresi kasih sayang. Menurut Psikolog Anak Alzena Masykouri MPsi, menggendong tidak akan membuat anak manja. Menurut dia, lingkungan, yaitu orang-orang yang berada di sekitar anak, adalah faktor utama yang membuat anak menjadi manja. Manja adalah sikap ingin selalu dipenuhi dan dituruti segala keingannya.

Manja karena orangtua

Jangan sepenuhnya menyalahkan si kecil jika dia tumbuh menjadi anak yang manja. Coba simak beberapa hal berikut. Jika Anda melakukannya, berarti sudah saatnya untuk mengubah sikap.
  1. Merasa bersalah. Anda dan suami adalah pasangan bekerja? Perasaan bersalah karena merasa waktu berkualitas yang dihabiskan bersama si kecil sangat kurang, membuat waktu yang tersisa menjadi dibuat sedemikian menyenangkan. Anda melakukan segala cara untuk membuatnya senang, termasuk menuruti segala keinginannya.
  2. Tidak konsisten. Walaupun jargon peraturan dibuat untuk dilanggar terdengar familiar, tapi percayalah, sebaiknya jangan lakukan. Misalnya hari ini Anda tidak mengizinkan si kecil minum susu dingin untuk sarapan, keesokan harinya juga jangan memberikannya. Kendati dengan pertimbangan bahwa hal itu bisa menenangkan amukannya saat sudah hampir terlambat masuk sekolah. Ini membuatnya berpikir Anda tidak serius dengan peraturan disiplin dan tidak konsistensi.
  3. Terbiasa dibantu dan dilayani. Seringkali orangtua ingin langsung terjun membantu jika buah hatinya tidak bisa melakukan sesuatu. Jika dia ingin mencoba mengikat sepatunya sendiri dengan susah payah, biarkan. Tugas Anda adalah mendorongnya berusaha mengikat denganc ara yang benar, bukan mengikatkan tali sepatunya setiap saat dan menjadikannya tergantung pada Anda.
  4. Pelimpahan kasih sayang. Hati-hati dengan yang satu ini. Kadang, orangtua melimpahi buah hatinya dengan membelikannya benda-benda yang tidak bisa dimiliki semasa kecil, hanya karena tidak ingin si anak merasakan hal serupa. Namun terlalu banyak melimpahi si kecil malah dapat membuatnya tidak puas. Dia akan selalu menginginkan benda baru karena tahu bisa mendapatkannya dengan mudah dan tidak menghargai benda yang sudah dimilikinya.
Biarkan Dia Mandiri

Tip kecil berikut mungkin bisa menjadi bekal Anda membuat si kecil menjadi lebih mandiri.
  • Latih anak melakukan aktivitasnya sendiri, meskipun kualitas yang dia hasilkan masih belum sempurna. Biarkan saja dia makan sendiri, walaupun masih berantakan.
  • Tumbuhkan dan kembangkan perasaan yakin akan kemampuannya dengan memberikan kesempatan untuk latihan dan menghargai hasil usaha anak. Beri pujian saat dia berhasil tetapi jangan berlebihan.
  • Melayani anak dilakukan jika anak sama sekali tidak dapat melakukan suatu aktivitas sendiri. Misalnya memotong-motong ayam atau daging ketika makan atau mengambilkan mainan dari atas lemari yang tinggi.
Sumber : 


Anak Anda berubah menjadi pemberontak? Atasi  ‘si pemberontak’ dengan kata-kata berikut. 

Bila si remaja bilang: “Mama bukan bos aku!”
Jangan katakan: “Yah…, tapi sayangnya, Mama memang bos kamu.”
Tapi, katakan: “Mama mengerti perasaan kamu. Aturan mama yang mana, sih, yang mengganggu kamu?”

Bila si remaja bilang: “Tapi semua orang pergi nonton konser itu, Ma!”
Jangan katakan: “Mama tidak peduli dengan orang lain.”
Tapi, katakan: “Sepertinya kamu merasa tersisih, ya. Tapi, Mama punya alasan sendiri kenapa mama melarang kamu pergi nonton konser bersama teman-temanmu.”

Bila si remaja bilang: “Kenapa aku nggak boleh punya handphone?”
Jangan katakan: “Karena kamu baru saja menghilangkan handphone-mu minggu lalu.”
Tapi, katakan: “Yah, handphone memang membuat hidup lebih mudah. Tapi di keluarga kita, kamu tidak akan mendapatkannya sampai kamu kelas 1 SMP.”

Bila si remaja bilang: “Kenapa mama nggak percaya sama aku, sih?”
Jangan katakan: “Memang kenapa mama harus percaya sama kamu?”
Tapi, katakan: “Jika itu berkaitan dengan video games, mama tahu betapa sulitnya menyuruh kamu berhenti memainkannya padahal ada PR yang harus dikerjakan.”

Bila si remaja bilang: “Mama tidak mengerti aku!”
Jangan katakan: “Mama mengerti. Kan mama juga pernah anak-anak seperti kamu.”
Tapi, katakan: “Kamu benar. Mama tidak mengerti apa tepatnya keinginan kamu saat ini. Coba ceritakan pada Mama!”

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Makan makanan cepat saji atau fast food tidak pernah menguntungkan bagi siapapun termasuk anak-anak. Sebuah penelitian baru-baru ini yang diterbitkan di Clinical Pediatrics pada 21 Desember 2014 menungkapkan bahwa fast food dapat menyebabkan seorang anak mendapatkan nilai rendah pada mata pelajaran matematika, IPA, dan membaca.

Peneliti menambahkan menurut survei yang dilakukan terhadap 8.544 anak kelas lima SD di Amerika Serikat menyatakan bahwa konsumsi makanan cepat saji di kelas lima dapat menurunkan prestasi akademik di kelas delapan.

"Hasil penelitian ini memberikan bukti awal bahwa konsumsi makanan cepat saji berkaitan penurunan nilai akademik anak," kata peneliti dari Ohio State University dan University of Texas.

Dalam hal pertumbuhan prestasi, para peneliti menemukan bahwa anak kelas delapan yang makan makanan cepat saji setiap hari memiliki nilai empat poin lebih rendah daripada anak yang tidak makan makanan cepat saji. Mereka juga tertinggal tiga poin dalam mata pelajaran matematika dan empat poin dalam mata pelajaran IPA.

Menurut peneliti penurunan nilai mungkin disebabkan nutrisi yang rendah dalam makanan cepat saji terutama zat besi. Tingginya kadar lemak dan gula dalam makanan cepat saji juga dapat mempengaruhi perhatian dan waktu reaksi anak.

Peneliti menyatakan hubungan antara makan makanan cepat saji dengan prestasi akademik tetap sama meskipun variabel seperti aktivitas fisik, menonton televisi dan status sosial ekonomi dikaitkan.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Menonton televisi adalah cara paling mudah menenangkan anak. Namun itu mungkin kurang bermanfaat. Berinteraksi, membaca, dan bermain mendatangkan lebih banyak manfaat dibandingkan dengan menonton televisi. Aktivitas-aktivitas tersebut penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan intelektual. Parents as Teacher National, wadah pendidikan tumbuh kembang anak dan duklungan terhadap orang tua yang bermarkas di St. Louis, Amerika Serikat merekomendasikan alternatif kegiatan yang bisa Anda lakukan bersama si batita selain menonton teve:

Eksplorasi. Ciptakan lingkungan rumah ramah-anak dan letakkan berbagai jenis mainan di ruang-ruang dalam rumah.

Mengamati. Alam sekitar bisa menjadi obyek menarik bagi anak. Buat kandang burung lengkap dengan makanan di dalamnya, tanam pohon, pelihara binatang, dan biarkan si kecil menjadi pengamat yang baik.

Mendengarkan. Mainkan musik dengan volume sedang dan pancing anak untuk menyanyi dan menari.

Menyentuh. Batita suka meraba, menggali, dan membuat aneka benda untuk mengasah kemampuan motorik halus. Sediakan mainan lilin, mangkok setengah penuh berisi kacang-kacangan dan gelas kecil agar anak bisa menyendok kacang di dalam mangkuk.

Main air. Biarkan anak bermain di bathtub. Namun jangan biarkan dia bermain tanpa pengawasan meskipun hanya sesaat.

Akrab dengan buku. Anda dan si kecil bisa membaca atau sekadar lihat gambar di dalam buku. Perbarui koleksi buku secara berkala yang bisa menarik perhatian anak.

Merapikan rumah. Ajak anak mengumpulkan dan mengemasi mainan atau perlengkapan lain ke dalam koper atau tas besar. Pastikan perabotan yang dipegang aman bagi anak.

Tidur. Tanamkan kebiasaan tidur siang dan tidur malam yang sehat bagi anak dan Anda tentu saja.

Membantu. Karena batita senang menjadi saksi dari berbagai peristiwa, biarkan dia bermain di sisi Anda yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Akan lebih baik jika Anda menemukan cara agar anak bisa melakukan tugas sederhana yang membantu Anda.

Berteman. Kenalkan dia dengan sebanyak mungkin teman sebaya. Interaksi langsung seperti itu berperan dalam tumbuh kembang anak.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang tua dan membuat Anak kurang menyukai makanan sehat. Kesalahan yang dilakukan mungkin sederhana. Namun hal itu berpengaruh besar terhadap cara makan anak. Inilah beberapa kesalahan tersebut.

Perangkap dessert. Kalau anda menggunakan cake sebagai hadiah karena makan sayuran, batita Anda akan belajar bahwa dessert lebih bagus daripada sayuran. Dan itulah diinginkan semua anak-anak.

Membicarakan diet Anda. Anda tahu kalau si kecil adalah peniru sejati dan dia akan akan meniru semua yang orang tua katakan. Jadi apakah Anda benar-benar ingin anak khawatir soal kalori dan lemak? Sebaiknya jangan bicarakan kekhawatiran Anda di depan anak.

Tidak ikut serta dalam percakapan. Kalau batita Anda benar-benar merasa diberi perhatian dan dia merasa mendapatkannya keterampilan sosial dan table manner-nya akan berkembang dengan cepat.

Tawar menawar. Anda berkata, “Ambil saja tiga potong, dan kamu bisa menonton Dora.” Kemudian anak Anda akan bertanya, “Sebesar apa? dan boom – Anda terperangkap dalam negosiasi yang tidak berkesudahan. Jadi sebaiknya, tawarkan pilihan, sehingga batita Anda tahu batasan: Kamu mau apel atau pir? Kacang polong atau wortel?

Matikan TV. Anak-anak perlu fokus pada makananya, bukan pada layar TV. Ada penelitian yang menyatakan bahwa makan sambil menonton televisi cenderung akan memerbesar risiko obesitas pada anak.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Seorang ayah biasanya berkata, jangan cepat-cepat bereaksi ketika anak jatuh karena ia khawatir anaknya menjadi manja. Ibu umumnya tak setuju. Apa yang dikatakan Claire Lerner, LCSW, seorang spesialis tumbuh kembang anak di Zero to Three, organisasi nirlaba di New York?

Q: Saya mempunyai anak lelaki  usia 13 tahun. Ketika ia jatuh atau menangis dan ingin digendong, suami saya tidak mau menggendong atau menenangkannya karena ia khawatir anak kami menjadi ‘anak mami’. Saya tak setuju. Akibatnya, anak saya cenderung ingin selalu bersama saya yang semaki memperkuat kesimpulan suami saya. Apakah benar bereaksi terhadap tangisan anak akan membuatnya ‘lunak’?

A: Tidak ada acuan yang sama tentang tantangan menjadi orang tua, termasuk dilema yang Anda hadapi. Suami Anda berfokus kepada kemampuan anak lelaki Anda untuk mandiri dan menghadapi tantangan yang ada. Ini keyakinan yang diterimanya dari keluarga atau masyarakat tentang identitas jender lelaki, yang harus tangguh. Di sisi lain, Anda merasa bahwa memenuhi kebutuhannya untuk ditenangkan justru akan memuat anak lelaki Anda lebih kuat. Anda khawatir dia merasa tidak aman dan tidak percaya kepada Anda.

Yang terbaik, Anda berdua bisa bekerja sebagai tim. Ketika anak jatuh atau menangis, sang ayah bisa mengucapkan sesuatu yang memahami perasaan anak dengan suara yang lembut namun tidak panik atau bereaksi mengasihani. Kemudian Anda yang memberikan ketenangan secara fisik, misalnya memeluk atau mengusap lembut bagian yang sakit dan mendorongnya untuk bermain kembali. Kerja tim inilah yang disebut ‘parenting’.

Sumber : http://parentsindonesia.com/



Anak usia 8 – 12 tahun mulai menunjukkan identitas siapa dirinya, kata Mary Ann Lowry, parenting coach khusus untuk anak praremaja di Dalas. Namun, mereka juga merasa sangat senang menjadi bagian dari suatu kelompok. Nah, hormon-hormon yang penuh gejolak membuat anak-anak usia ini suka bersikap teatrikal, terutama anak perempuannya.

Lalu, bagaimana cara menghadapinya? Tentukan dulu apa yang ingin Anda lakukan dan ajak si kecil berdiskusi untuk membicarakan segala sesuatunya dengan tenang. Tanyakan pada anak, “Apakah kamu bisa membantu saya memahami mengapa kamu melakukan hal ini? Apa pun yang kamu katakan akan tetap mama terima.” Tujuannya adalah memulai percakapan tentang apa yang sedang mengganggunya dan apa yang ingin dilakukannya, kata Lowry. Berempatilah dan bantulah dia ke luar dari situasi yang mendera. Tentu saja, ada waktu-waktu di mana dia akan membanting pintu kamarnya, menangis, dan menolak untuk mendengarkan Anda. Kalau sudah begini, tinggalkan dia dan biarkan hingga tenang sendiri.
Sumber : http://www.parenting.co.id/


Menerapkan gaya hidup sehat bisa berdampak positif bagi tubuh secara keseluruhan. Kebiasaan-kebiasaan sehat yang Anda lakukan setiap hari secara tidak langsung akan memberikan energi positif bagi tubuh untuk menjalankan aktivitas sepanjang hari, juga berdampak pada keluarga Anda. Anak Anda dapat belajar untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan ini yang akan berguna bagi kesehatannya dewasa kelak.

Jika masalah kesehatan sampai diabaikan, bisa memicu munculnya berbagai gangguan kesehatan dan penyakit yang membahayakan bagi orang tua.

Berikut adalah kebiasaan sehat yang patut dilakukan secara rutin:

• Tidak melewatkan sarapan.
Sarapan pagi akan memberikan energi pada tubuh dan juga berfungsi untuk   mengontrol berat badan Anda.

• Olahraga.
Lakukan olahraga secara rutin, akan membantu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang berbagai penyakit.

• Minum air.
Rutin minum air harus menjadi salah satu prioritas utama yang sebaiknya anda lakukan. Saat anda makan dan minum, pilihlah asupan air yang terbaik untuk mempertahankan kesehatan anda.

Minumlah air minum yang mengandung tingkat pH> 8 atau bersifat alkali/basa yang bermanfaat untuk menyeimbangkan tingkat keasaman tubuh.

Beberapa manfaat air minum yang bersifat alkali/ basa :

1. Menjaga Keseimbangan Asam.
Air minum alkalin menjaga keseimbangan asam-basa normal dalam tubuh dan mengeluarkan  racun dari tubuh dan menjaga kesehatan usus dan lambung.

2. Sebagai antioksidan.
Air minum alkalin bersifat antioksidan yang membantu menangkal radikal bebas.

3. Efek Relaksasi.
Air alkalin mengandung ion yang bisa meredakan rasa sakit, menetralkan racun, memerangi penyakit, serta membantu menyerap dan memanfaatkan oksigen. Ion negatif dalam aliran darah akan mempercepat pengiriman oksigen ke dalam sel dan jaringan.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Banjarnegara Berduka , Puluhan rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 keluarga di Dusun Jemblung RT 05 RW 01, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, tertimbun tanah longsor pada Jumat (12/12/2014) sekitar pukul 17.30 WIB.

SDIT Yayasan Wakaf Bina Amal menyalurkan bantuan kepada korban tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Uang sejumlah Rp 12 706 600 berhasil dikumpulkan dari penggalangan dana yang dilakukan tanggal 16 Desember 2014 tersebut.

Bantuan tersebut diharapkan dapat bermanfaat dan sedikit meringankan beban para korban selamat dari bencana tanah longsor yang menimpa Banjarnegara.


Kegiatan belajar dan mengajar bukan hanya berkutat pada buku pelajaran dan duduk di belakang meja kelas, namun juga penggalian potensi, minat dan hoby siswa. Untuk itu Bina Amal menyediakan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuller yang menarik dan dapat mengasah potensi emosional siswa, salah satunya ekskul sepakbola.

Seorang anak biasanya memiliki imajinasi terhadap apa yang mereka cita-citakan atau yang mereka idolakan. Sepakbola adalah salah satu olah raga yang paling populer, tidak cuma orang dewasa, saat ini anak-anakpun banyak yang menggilai sepakbola. Imajinasi mereka tentang sepakbola juga ikut berkembang, mewujudkan imajinasi mereka dapat membantu menguatkan emosional mereka agar terus berkembang.


Segera masukkan anak ke kelas musik sedini mungkin. Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Psychology pada 16 Desember 2014 menemukan bahwa kelas musik bermanfaat bagi perkembangan bahasa anak-anak.

Untuk mengetahui hubungan kelas musik dan perkembangan bahasa anak, para peneliti menginvestigasi anak-anak yang tergabung di lembaga non provit Harmony Project. Lembaga ini menyediakan pendidikan musik dan instrumen untuk anak-anak miskin di Los Angeles.

Peneliti menemukan anak-anak yang mengikuti kelas musik lebih dari dua tahun menunjukkan perkembangan yang pesat dalam proses berbicara dan membaca. Sementara anak yang tidak tergabung dalam kelas musik memiliki kemampuan bahasa yang kurang.

"Dalam kelompok siswa yang memiliki motivasi besar terlibat dalam kelas musik menunjukkan perkembangan kekuatan pengolahan saraf di otak setelah mengikuti pelatihan musik," penulis penelitian Nina Kraus, profesor ilmu komunikasi, neurobiologi, dan fisiologi di Northwestern University. "Hasil penelitian kami mendukung pentingnya pengalaman aktif dan keterlibatan aktivitas terkait dengan suara untuk merangsang perubahan di otak," tambahnya.

Kraus mengatakan berpartisipasi dalam kelas musik dapat "merombak" otak anak dengan cara meningkatkan kemampuan untuk memproses kata. Studi ini penting bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu karena akan menurunkan rasa khawatir orang tua tentang kinerja anak di sekolah.

"Penelitian kami menunjukkan suara memiliki efek pada sistem saraf," kata Kraus. "Menghabiskan waktu belajar memainkan alat musik dapat memiliki efek mendalam pada sistem saraf," jelasnya.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Semua orang pasti ingin menang, tapi dalam hidup tak mungkin selalu menang. Kalah memang mengecewakan, tak heran kalau si kecil tak suka kalah (bahkan orang dewasa pun demikian). Karena itu anak sebaiknya belajar menerima kekalahan dengan sportif.

Salah satu aspek terbesar dari sportivitas adalah bisa menerima kekalahan, walaupun sebenarnya ada aspek lain dari sikap sportif, yaitu mampu menghormati lawan, rekan satu tim, pelatih dan tim official. Anak-anak belajar bersikap sportif tentu saja dari orang dewasa yang berpengaruh dalam hidupnya, seperti orang tua dan pelatih. Kalau sehari-hari ia menyaksikan mama-papa dan orang dewasa lainnya bersikap sportif, perlahan-lahan ia akan memahami bahwa pemenang sejati dalam olahraga (dan dalam kehidupan) adalah mereka yang mempunyai kegigihan dan mampu bersikap penuh martabat serta menghormati orang lain – saat kalah maupun saat menang.

•    Perlihatkan juga bahwa sikap sportif bisa dimulai dari ‘hal-hal kecil’ seperti saling bersalaman dengan lawan sebelum pertandingan, mengakui bahwa lawan dan rekan setim telah bertanding dengan baik dan mau menerima keputusan wasit atau official pertandingan.

•    Saat si kecil kalah atau menang, tetaplah berkomentar positif, tak perlu menjelek-jelekkan lawan atau pihak lain. Hindari kebiasaan menyalahkan pihak lain atas kegagalan kita. Sekalipun wasit atau official memang tidak adil, tekankan bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita menerima kekalahan dengan sikap terhormat.

•    Si kecil menangis saat kalah? Nggak papa, itu wajar kok saat ia merasa kecewa. Tapi ingatkan ia untuk mengakui bahwa lawannya memang bertanding dengan baik. Tanyakan apa yang dirasa menjadi kelemahannya dan ajak ia berlatih meningkatkan kemampuan. Yakinkan si kecil bahwa lain waktu ia masih bisa menang.

•    Beri contoh pada si kecil. Selalu salami anak yang menjadi lawan tanding si kecil serta orangtuanya. Kalau si kecil kalah, Anda harus memberi selamat pada lawannya dan kalau si kecil menang beri pujian pada kegigihan bertanding lawannya.

•    Perhatikan juga sikap Anda sehari-hari. Apakah mama-papa berteriak-teriak kecewa dan menyalahkan wasit saat tim olahraga kesayangan kalah bertanding? Menyalahkan orang lain atau lawan tender saat proyek di kantor tidak sukses? Selalu mencerca dan menyalahkan pemerintah saat menonton berita politik?  Hmmm, kalau begitu mungkin Anda bisa sama-sama belajar bersikap sportif bersama si kecil.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Ilmu pendidikan dan psikologi anak terus saja mempunyai definisi yang berbeda soal anak berbakat. Ini karena bias budaya, tingkat ekonomi, batasan bahasa dan sebagainya, bisa memengaruhi penilaian. Maka, definisi soal anak berbakat memang cukup luas dan beragam. Tetapi, ada beberapa hal yang bisa jadi penanda. Biasanya seorang anak dianggap berbakat bila :

•Ia bukan saja selalu punya jawaban akan berbagai pertanyaan dan menikmati proses sekolahnya. Tapi  juga punya sudut pandang atau ide yang selangkah lebih maju dibanding teman-temannya.
• Ia menikmati segala bentuk metode pengajaran.
•Ia punya ide-ide ‘liar’ dan imajinasi tinggi serta sangat suka bergaul dengan orang-orang yang usianya lebih tua.
•Selain punya daya ingat yang baik dan mampu belajar dengan segala cara, anak berbakat punya pondasi pengetahuan yang mendalam. Ia juga bisa berkembang walaupun menghadapi tantangan masalah yang kompleks.
•Anak cerdas bisa saja menyerap informasi dengan cepat dan senang akan hal yang dipelajarinya. Tapi anak berbakat akan menggunakan informasi itu untuk meraih informasi lain dan selalu ingin belajar lagi lebih dalam.


Seperti sekolah lainnya, Sekolah Islam Terpadu terutama Bina Amal juga memiliki ekstra kulikuler Pramuka. Namun di Bina Amal bukanlah Pramuka yang biasa, apa yang berbeda?

Pramuka sebenarnya adalah wadah untuk membentuk karakter seorang pemuda yang mandiri, bermanfaat bagi yang lain juga beriman dan bertaqwa kepada Allah. Namun Bina Amal menerapkan kegiatan Pramuka lebih dari pada itu namun lebih mendalam, sehingga apa yang sudah di praktekan saat latihan di kepramukaan dapat teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak cuma mengajarkan namun juga memberikan pemahaman kenapa mereka harus mandiri, bermanfaat kepada orang lain dan juga bertaqwa kepada Allah. Bukan patuh yang diharapkan namun kefahaman dan kesadaran sehingga tanpa di perintahpun ia bisa melakukan seuatu yang baik.

Yayasan Bina Amal
Menghadapi tahun ajaran baru, Guru dan Staf Yayasan Wakaf Bina Amal telah melaksanakan rapat kerja tahunan untuk melakukan evaluasi dan melakukan perbaikan program-program agar di tahun-tahun mendatang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar.

Perkembangan teknologi dan budaya di masyarakat tentu saja menuntut dunia pendidikan untuk menyesuaikan diri untuk mendapatkan metode yang tepat dalam belajar mengajar. Tantangan dunia pendidikan saat ini lebih berat karena kemajuan zaman dan kebebasan yang cenderung tidak terkontrol. Namun Yayasan Wakaf Bina Amal telah menyiapkan program-program perbaikan metode pembelajaran yang lebih baik.


Kamis- 15 November 2012, SMPIT Bina Amal mengikuti Kemwil VI JSIT Regional IV Jateng – DIY, di Perkemahan Bumi Munjuluhur, Purbalingga selama empat hari. Siswa -siswi yang mengikuti lomba masing-masing terdiri 12 anak dalam 1 regu putra dan putri. Kelompok Putra terdiri atas Ulinnuha, Syarif Mumtaza Fahmi, Alief Abdurrahman Ihsan, M Habib Maulana, Thufail Addausi, Abdul Hafiz, Jakfar Shiddiq, M Adil Mubarok, RM Imam Fadhil, Luqman Ismail, Abdul Fakhmi, dan Faris Husamudin, sedangkan untuk kelompok putri terdiri atas Kurnia Zuni, Karina Khairunnisa, Anada Cahaya Aisyah, Khodijah Wafiya’, Sarah Azizah, Dwi Laily Satiti, Chirunnisa Tamara, Bilqis Sholihah, Afifa Thohiroh, Zahra Putri F, Maharani Bella P, Auliyah Zahra. Adapun lomba yang diadakan  bermacam-macam,  yakni:Tahfiz Quran, Simaphore, LKBB, Adventure, PUPK, Kebersihan Tenda, Piyonering (Menara Pandang).

Akhirnya, dalam Kemwil VI JSIT Regional IV tersebut siswa-siswi SMPIT Bina Amal meraih tujuh kejuaraan, yaitu juara I Semaphore Putra, Juara II Semaphore putri, Jura III Tahfiz AlQuran putra , Juara II LKBB putri dan 2 juara dalam  Adventure.


Sebagai panca indra yang paling vital, tak terbayang jika kesehatan mata terganggu, terutama pada anak-anak. Sebagai generasi yang hidup di era modern, batita masa kini sudah diperkenalkan dengan beragam gadget dan teknologi. Tak heran jika angka miopia (rabun jauh) kini banyak ditemukan pada anak di usianya yang lebih awal. Peningkatan minusnya pun menjadi lebih cepat.

Apa penyebabnya? Penyebab terbesar bisa jadi adalah gadget. Si kecil yang dibiarkan terus menerus menatap layar gadget, kemampuannya untuk fokus melihat benda yang jaraknya jauh bisa menurun.

Nah, bila Anda termasuk salah satu orang tua yang suka memberi gadget pada anak, jangan tunggu hingga anak mengeluh matanya sakit. Rutinlah memeriksakan kesehatan mata anak. “Cek mata itu penting. Dengan memeriksakan kesehatan mata sejak dini, kita bisa mengurangi sembilan penyakit mata, seperti katarak, gangguan refraksi (mata minus), mata juling, kemunduran retina, dan glaukoma,” demikian diucapkan Dr. Imsyah Satari, SpM, Chief Executive Officer SMEC Group, yang baru saja meluncurkan program ‘Cek Mata, Yuk!’ bagi keluarga di Jakarta.

Berikut beberapa gejala yang bisa Anda jadikan alarm untuk segera memeriksakan indra penglihatan anak:
•    Sering mengeluh matanya sakit.
•    Mengeluh kepalanya sakit, sakit yang dirasakan bisa sampai ke kepala bagian belakang.
•    Reflek berkedip yang terlalu sering (akibat mata kering).
•    Mata merah.


Tidak ada yang salah dengan memanjakan anak. Namun jika Anda terlalu memanjakan atau memberikan kasih sayang berlebihan, hal itu mungkin bisa berbahaya bagi perkembangan anak Anda. “Jika kasih sayang berlebihan terjadi terus menerus, maka saat anak beranjak dewasa, dia akan menjadi orang yang sulit mengambil keputusan dan dapat pula berpengaruh negatif pada perkembangan emosi. Ada kemungkinan dia juga akan berkembang sebagai individu egosentris dan kurang dapat mempertimbangkan  kepentingan orang lain. Dia juga sulit menjadi pemimpin karena kurang bertanggung jawab,” kata penasihat Parents Dra. Miranda D, Zafriel, MPsi.

Satu hal yang sulit dilakukan adalah memberi batasan jelas kepada anak, yang berarti menetapkan peraturan, larangan, dan memegang teguh kesepakatan bersama antara anak dan orang tua. Batasan tersebut bisa Anda terapkan ketika anak menginjak usia batita dan transisi itu bisa menjadi masa yang amat sulit. Jika Anda bisa memberi limpahan kasih sayang kepada si bayi, kini Anda perlu mencoba memberi larangan kepada si batita. Tentu pada awal pelatihan, anak akan tampak sangat sedih. Di sinilah keteguhan Anda sebagai orang tua diuji.

Dalam kultur masyarakat perkotaan yang super sibuk, orang tua kerap menyerah terhadap rengekan anak karena cara itu dianggap paling mudah dan paling cepat. Padahal, anak menemukan rasa aman dalam pembatasan dan konsistensi. Jika anak tidak ditegur karena memecahkan vas bunga suatu hari, tapi di lain hari dia dimarahi habis-habisan, dia tidak akan mengerti batasan yang bisa dia jadikan pegangan.

Selalu menuruti keinginan anak akan menjadi bumerang bagi orang tua dan anak. Dimulai dari “Aku mau es krim,” lalu berteriak dan menjerit hingga es krim sudah benar-benar di tangan, bisa saja berkembang menjadi, “Jika saya ditangkap polisi, Ayah dan Ibu pasti menyewa pengacara terbaik untuk membebaskan saya dari tuduhan,” ketika anak beranjak dewasa. Sebuah penelitian di Stanford University, California, menyatakan bahwa remaja dengan orang tua yang permisif dan selalu memanjakan mereka cenderung menunjukkan prestasi akademik yang buruk dan mengonsumsi alkohol serta narkoba, dibandingkan dengan remaja dengan orang tua yang mendidik anak penuh kemandirian dan tanggung jawab.

Ada juga kasus orang tua yang selalu ingin ‘melayani’ anak. Ketika tiba saat belajar berjalan, orang tua masih menggendongnya kemanapun. Ibu selalu menyuapi meskipun anak ingin belajar makan sendiri. Seharusnya orang tua menangkap sinyal dan keinginan anak untuk mandiri, dan mendorong perilaku positif tersebut demi mengasah kemampuan dan kepercayaan diri anak.

Namun, tidak semua ahli berpendapat orang tua masa kini terlalu memanjakan anak. Isu kompleks seperti itu tidak bisa digeneralisasi. Orang tua modern telah melakukan perubahan besar dalam pola pengasuhan anak yang mengarah ke sisi positif. Para pakar berpendapat, hubungan orang tua-anak kini lebih dekat secara emosional dibandingkan dengan hubungan serupa empat atau lima dekade lalu. Anak menikmati kedekatan dengan orang tua. Yang menjadi masalah adalah orang tua terkadang tidak bisa menerapkan keakraban dan memberi batasan kepada anak dalam saat bersamaan.

Sumber : http://parentsindonesia.com/

 
Belajar sambil ngemil sebenarnya berguna untuk menjaga anak agar tetap fokus pada apa yang sedang dipelajarinya. Namun, tidak semua cemilan menyehatkan dan bermanfaat. Hanya beberapa jenis cemilan sehat yang mampu menjadi teman belajar anak.

Simak saran kami berikut sebelum Anda memilih cemilan sehat yang tepat sebagai penambah semangat dan konsentrasi anak ketika belajar.

1. Cemilan sehat yang mudah untuk dimakan


Anda sudah susah payah menyiapkan satu porsi roti isi yang berisi sayuran dan telur, sebuah contoh cemilan sehat. Tapi anak Anda malah lebih memilih makan biskuit atau keripik kentang yang full MSG.

Kesal nggak sih? Jangan buru-buru marah, Bunda. Bisa jadi alasan anak tak menyentuh cemilan sehat yang telah Anda buat adalah karena ukurannya terlalu besar, atau karena makanan bisa mengotori buku mereka.

Jika Anda memang ingin menghidangkan roti isi sebagai cemilan sehat untuk menemani anak belajar, jangan lupa memotong-motongnya agar lebih mudah dimakan. Sediakan pula tisyu makan agar anak dapat membersihkan tangan mereka sesudah menyantap cemilan sehat mereka.

2. Manis dan kenyal

Ada beberapa anak yang mengaku suka makan permen waktu belajar untuk menghalau rasa bosan. Namun, permen bukanlah termasuk cemilan sehat. Ini  karena permen mengandung banyak sekali gula yang bisa mengakibatkan masalah obesitas dan hiperaktifitas pada anak.

Jika buah hati Anda termasuk penggemar makanan manis, Anda dapat menggantikan permen kesukaannya itu dengan beberapa jenis buah-buahan segar. Beberapa jenis buah seperti stroberi, apel, pir atau rambutan yang telah dikupas dan dibuang isinya dapat Anda hidangkan sebagai cemilan sehat yang bisa mengusir kebosanannya.

3. Mempunyai efek menenangkan

Adalah wajar jika anak merasa cemas dan gugup menjelang event besar dalam bidang akademisnya, seperti ulangan akhir semester atau presentasi tugas di depan kelas.

Dalam situasi seperti ini anak membutuhkan sesuatu yang dapat membuat perasaan mereka lebih tenang. Beberapa jenis cemilan sehat seperti susu, sup atau oat instan merupakan pilihan yang tepat.

Berikan segelas susu hangat pada anak dapat membuat mereka tidur lebih nyenyak di malam hari sebelum ujian. Alternatif lain adalah sup kaleng hangat atau oat instan yang dicampur sedikit madu dan buah-buahan.

4. Tidak menyebabkan kantuk


Anak harus berada dalam kondisi segar bugar dan terjaga agar mereka bisa mengingat dengan baik semua yang telah dipelajarinya. Dan otak membutuhkan glukosa yang didapatkan dari karbohidrat agar dapat tetap terjaga.

Pilihlah cemilan dengan bahan dasar biji-bijian, sayuran dan buah-buahan, karena bahan-bahan ini mampu menghasilkan energi dalam jumlah stabil yang dibutuhkan oleh otak.

Hindari memberikan kopi, soda atau minuman berkafein lainnya, meski minuman semacam ini ampuh membuat Anda melek dan begadang semalaman. Sebotol air putih di meja belajar anak akan membuat ia tetap segar dan terhindar dari dehidrasi.

Atau, bisa juga jus buah segar seperti jus jeruk, jus alpukat, jus tomat. Selain bervitamin, jus buah lebih baik daripada minuman berkafein dan mampu meningkatkan energi sehingga mereka pun akan terjaga lebih lama. Makanan berat dan berlemak sebaiknya dihindari agar anak tidak mudah mengantuk.

Sumber : http://id.theasianparent.com/


Pada dasarnya, anak kecil senang menghitung, memilah, menyusun puzzle, dan menemukan pola. Tapi, begitu semua aktivitas ini diberi label ‘matematika,’ ditambah tiap hari metode tambah, kali, bagi, kurang, banyak anak kehilangan minat dan rasa percaya diri. Para ahli mengatakan, tes matematika terstandardisasi akan menambah tantangan. Untuk memastikan kesiapan mereka, sekolah cenderung mengenalkan siswa pada soal-soal rumit sebelum menguasai soal-soal dasar. Tak heran, banyak anak menganggap pelajaran ini membuat frustasi, atau nilai matematika anak-anak Amerika merosot dibanding siswa di negara lain. “Penting bagi anak untuk cerdas dalam matematika, sehingga dia tidak merasa terintimidasi ketika kurikulum dipercepat dan menjadi lebih menantang,” kata Patricia Clark Kenschaft, PhD, penulis Math Power: How to Help Your Child Love Math, Even If You Don’t. Untuk memastikan ini terjadi, jangan menjadwalkan les tambahan setengah jam setiap hari karena anak akan kehilangan minat. Lebih baik cari cara untuk menjadikan ini terasa menyenangkan.

Berbelanja. Untuk meningkatkan kecakapan matematika Jake, putranya yang berusia 8 tahun, Beth Brody dari Stockton, New Jersey, meminta anaknya untuk melingkari benda-benda yang dia ingin beli di kalatog. Setelah selesai, dia meminta Jake untuk menjumlah semua harga. Tantangan bagi Jake? Menemukan item yang perlu disingkirkan dari daftar demi mendapatkan jumlah kurang dari $100. Cobalah! Anda bisa membolehkan anak memakai kalkulator. Meski dia tidak menghitung sendiri, setidaknya Anda mempromosikan matematika kepadanya.

Membangun toko. Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam hal uang, buat toko bohong-bohongan yang menjual beberapa benda kesukaannya. Beri dia anggaran dan sejumlah uang asli untuk “dihabiskan” (tentunya Anda ingin dia belajar hubungan nilai uang dengan tagihan). Tentukan harga, dan agar permainan ini lebih menarik, kombinasikan dengan kupon. Tantang dia untuk bertahan dengan anggarannya selama berbelanja. Setelah selesai, bertukarlah tempat dan biarkan dia yang menjadi kasir.

Memasak. Alat-alat dapur bisa menyediakan kesempatan besar untuk mengajarkan anak mengenai pembagian. Minta koki kecil Anda untuk membantu menyiapkan makan malam, tapi daripada menyiapkan satu cangkir beras, tunjukkan bagaimana ⅓ cangkir beras yang diambil 3 kali sama dengan 1 cangkir. Gunakan gelas ukur untuk menjelaskan bahwa 3/8 kurang dari 1½, meski terdengarnya lebih. Menunjukkan cara mengikuti resep juga akan membantu kecakapan matematika, dan merasa nyaman dengan angka akan membantu konsep abstrak menjadi lebih konkrit.

Menguasai jam. Mengajarkan anak untuk menyebut waktu memberinya lebih dari sekadar kecakapan hidup. Itu juga melibatkan metode tambah, bagi, dan kurang. Pastikan Anda mempunyai jam klasik, bukan digital, di rumah. Jadikan latihan ini sebuah permainan. Sebut jam lalu minta si kecil menggeser jarum ke posisi yang benar, lalu tambah dan kurangi menit maupun jam. Agar lebih menantang, bertukarlah posisi dan biarkan dia menyebut waktu. Ingatkan dia bahwa Anda akan sengaja membuat kesalahan dan dia harus membetulkannya.

Menghitung berdasarkan kelompok. Menambah lima dan sepuluh sampai 100 akan membantu anak membangun pengertian terhadap hubungan antar angka serta perkalian. Manfaatkan waktu senggang, misalnya saat sedang mengendarai mobil. Anda mungkin ingin minta “bantuan” ketika terjebak kemacetan. Carilah kesempatan untuk mengajarkan matematika di manapun Anda berada. Di supermarket, menghitung kaleng sup dengan mengelompokkannya dalam hitungan empat, dan ketika menunggu di restoran, tambah dan kurangi gula sachet dengan tiga. Dan, jangan lupakan pola tadi. Cari benda-benda seperti wallpaper geometris, lantai, bahkan bata. Semua itu berguna untuk menemukan repetisi yang menarik.

Bersikap positif. Bila Anda menggerutu setiap kali menghitung tagihan, Anda akan mengirim pesan negatif. Jadi, ketika anak Anda mengeluh bahwa dia benci matematika, jangan ekspresikan simpati Anda dengan berkata, “Ya. Mama juga.” Lebih baik, temukan alasan mengapa si kecil merasa demikian. Mungkin dia malu karena tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukan gurunya. Mungkin juga dia merasa terintimidasi dengan tabel perkalian, atau sebaliknya, dia bosan karena pelajaran di kelas berjalan lambat. Guna mengubah sikap anak, ingatkan dia semua hal penting yang melibatkan matematika. Matematika itulah yang menentukan pemenang dalam permainan catur ataupun menghitung rata-rata pukulan dalam permainan bisbol. Pengukuran dalam matematika memastikan bahwa kue favoritnya selalu terasa lezat. Selain itu, sebutkan karir keren seperti astronot, video game programmer, ilmuwan, atau pembalap yang menggunakan formula matematika.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Pada awal tahun 2014, sebuah survey penggunaan smartphone dan tablet oleh anak-anak telah dilakukan di Asia Tenggara. Sebanyak 2500 orang tua di Singapura, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Malaysia yang memiliki anak berusia 3-8 tahun telah menjadi responden survey ini.

Hasilnya mengungkapkan bahwa hampir seluruh responden merasa khawatir dengan pola penggunaan smartphone / tablet oleh anak-anaknya, dan mereka berharap dapat mengendalikan perilaku tersebut.

Sara Pinel, Direktur Marketing and Operasional Tekkie Help, sebuah perusahaan teknologi, informasi dan komunikasi di Singapura, memberikan beberapa tips yang berkaitan dengan penggunaan smartphone / tablet oleh anak :

1. Memilih aplikasi yang berkualitas

Bila smartphone / tablet Anda sering digunakan oleh anak, pemilihan aplikasi sangatlah penting. Pilihlah aplikasi yang sesuai dengan kesukaan dan bakat anak, sehingga mereka bersemangat untuk melakukan eksplorasi dan belajar hal-hal baru.

Sisihkan sedikit waktu untuk mencari dan mengetesnya. Variasinya bisa beraneka ragam, misalnya cerita, puzzle, musik, permainan alfabet, game matematika, seni, dll.

2. Dampingi anak-anak Anda

Luangkan waktu untuk mendampingi mereka bermain gadget. Lihatlah bagaimana mereka bermain game atau melakukan browsing. Pancing dengan sedikit pertanyaan untuk melatih mereka untuk berpikir kritis. Bila yang game edukatif yang mereka sering mainkan sudah menjadi terlalu mudah, tanyakan apakah mereka ingin mencoba dengan yang lebih sulit.

3. Jadilah contoh yang baik
Perilaku Anda terhadap teknologi adalah contoh yang mudah sekali ditiru oleh anak-anak Anda. Apakah Anda sering ‘terhipnotis’ dengan smartphone / tablet sehingga komunikasi dengan anak-anak jadi berkurang?

Selain tips dari Sarah di atas, berikut adalah berbagai tips lainnya agar penggunaan smartphone / tablet menjadi lebih berarti bagi Anda dan anak-anak:
  • Batasi penggunaannya yaitu hanya 30 menit hingga 1 jam per hari.
  • Imbangi penggunaan smartphone / tablet dengan aktivitas lain misalnya bermain di luar rumah, berjalan kaki bersama, membacakan mereka cerita, dll,
  • Usahakan agar smartphone / tablet tidak menjadi ‘baby sitter’ bagi anak-anak Anda. Kita memang butuh waktu untuk diri sendiri, tetapi janganlah terus menerus memberikan smartphone / tablet kepada anak hanya untuk membuat mereka ‘anteng’ sendiri.
  • Ajarkan keamanan berinternet sejak dini kepada mereka, misalnya tentang pertukaran informasi dan konten yang tidak baik dan mencurigakan.
  • Ajak mereka berdiskusi. Ajak mereka untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka ketahui.
  • Untuk anak yang lebih besar, tetapkan peraturan penggunaan smartphone / tablet, misalnya lama penggunaan dan konten yang dapat dilihat.
  • Ketahuilah aplikasi-aplikasi yang aman dan sesuai untuk usia anak, yang juga memiliki fitur kontrol untuk orang tua.

Parents, kemajuan tidak dapat kita hindari dan akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita harus selalu menambah wawasan tentang gadget, aplikasi-aplikasi terbaru, jejaring sosial, dll.

Teknologi memang memiliki dampak buruk, namun bila digunakan dengan tepat, manfaatnya untuk pendidikan dan sumber informasi sangatlah luar biasa.

Sumber : http://id.theasianparent.com/

 
Anak bertubuh tinggi sepertinya tidak punya kendala, tapi terlalu tinggi juga mendatangkan kesulitan. Mereka terlihat lebih tua dari usianya, orang dewasa –bahkan teman sebaya–sering menuntut mereka bersikap lebih matang. Marissa Cooper, saat masih berumur 3 tahun, menangis keras di sebuah mal di Greenwood, Indiana. Ibunya, Heather, mendapat komentar sinis dari orang yang mengira si kecil berusia paling tidak 5 tahun. “Seorang wanita berbicara keras kepada temannya, ‘Anak sebesar itu kok masih merengek?’” kata Heather. Kini, usia 6 tahun, tinggi badan Marissa setara dengan anak 9 tahun, dan hal itu menyulitkan pergaulannya. Anak-anak seusia Marissa menganggap anak yang “lebih besar” tidak akan mau bermain dengan mereka, dan merasa tidak nyaman dengan tubuh tinggi Marissa. Sementara anak yang sama tingginya menganggap dia belum matang. “Sulit menjadi anak jangkung. Dan, akan lebih sulit saat mulai berkencan,” kata Heather, 178 cm, yang punya pengalaman sama dengan putrinya.

Hidup tidak hanya seputar slam-dunk bagi anak laki-laki bertubuh tinggi. Orang dewasa kerap mengharapkan mereka berprestasi di bidang olahraga, tapi tidak selamanya hal itu benar. Menghadapi pertanyaan bertubi-tubi tentang kemampuan atletis bisa membuat anak, yang sering dikucilkan karena tinggi badan, merasa frustrasi.

Belum lagi gencetan. “Jika anak usia 8 tahun tampak seperti anak 10 tahun, para senior biasanya menantang berkelahi. Mereka akan mengatakan, ‘Kamu kira kamu sama kuat? Mana buktinya?’,” kata Carleton Kendrick, terapis keluarga dari Boston, yang pernah menjadi anak bertubuh paling tinggi di kelas. Namun, tetap saja anak berpostur tinggi suka menonjolkan diri. Studi di University of Southern California menyebutkan, anak laki-laki atau perempuan yang pada usia 3 tahun minimal lebih tinggi 1,2 cm dibanding teman sebayanya, cenderung lebih agresif ketika menginjak usia 11 tahun. Para ahli berspekulasi anak laki-laki atau perempuan yang tinggi, memiliki kadar testosteron lebih tinggi, yang memicu agresivitas. Atau, bisa juga anak yang tinggi biasa menggunakan kekuatan untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Jika anak mulai jengah dengan tubuhnya yang tinggi, coba taktik ini.

Anggap sebagai pujian. Buat anak merasa bangga dengan tinggi badannya. Dia bisa berkata: “Terima kasih. Saya mewarisi postur ayah,” atau “Nenek saya juga tinggi.”

Ceritakan pengalaman. Anda tentu paham bagaimana rasanya dikucilkan. Bagi pengalaman seputar manfaat dari tubuh tinggi: Bisa duduk di bangku paling belakang dan masih bisa melihat jelas ke panggung pementasan. Anda juga bisa mencoba semua wahana di taman hiburan.

Keluar dari stereotip. Putra Anda tidak perlu menjelaskan bahwa dia tidak bergabung dalam klub basket atau olahraga lain. Dia cukup berkata, “Aku tidak main basket,” dan sebutkan hal yang gemar ia lakukan: “Aku suka main sepeda,” atau “Aku bisa matematika.”

Tidak peduli anak Anda bertubuh tinggi, pendek, atau rata-rata, katakan bahwa semua anak pasti pernah diejek untuk alasan tertentu, saran Dr. Dreyer. Dan bantu dia memandang bahwa tinggi badan bukan masalah besar. Hal yang penting –seperti kebaikan, murah hati, kepintaran, dan kasih sayang – ada dalam dirinya.


Sejak Jum'at (5/12) - Kamis (11/12) para siswa SMPIT Bina Amal mengikuti Ulangan Akhir Semester 1. Ulangan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena tempat duduk siswa diatur seperti saat Ujian Nasional. Soalpun dibuat 2 paket yaitu paket 01 dan paket 02, sehingga para siswa belajar lebih giat agar nantinya bisa mengerjakan soal dengan benar. Jadwal UAS hari ini untuk kelas 7 dan 8 adalah IPS dan Bahasa Arab, sedangkan untuk kelas 9 hanya satu mapel saja yaitu IPS. Pada hari terakhir nanti jadwal UAS siswa adalah PKn dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Semangat untuk para siswa.. Semoga kalian dapat mengerjakan soal dengan baik dan benar sehingga dapat meraih prestasi yang maksimal. Aamiin................ :)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget