Oktober 2014



Jam sudah menunjukkan lewat waktu tidur dan si kecil yang berusia 6 tahun menangis karena belum bisa mengingat kata-kata ejaannya. Beberapa jam sebelumnya, Anda memintanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Kini, Anda menyuruhnya menutup buku dan tidur. Dia terlalu lelah, sangat tidak siap, dan cemas.

Jangan putus asa. Si kecil baru saja memulai hubungan jangka panjang dengan belajar, dan Anda juga terlibat di dalamnya. Jika melihatnya sebagai suatu proses pengenalan pada kebiasaan positif, Anda akan segera menemukan jalan untuk sesi mengerjakan tugas yang produktif, tenang, dan menyenangkan.

Ajarkan Konsistensi


Hindari pengacau jadwal belajar, misalnya bermain sepulang sekolah. Anak harus mencoba mengerjakan tugasnya di waktu yang sama setiap hari. “Tanpa rutinitas,  tugas akan sangat mudah untuk ditunda,” ujar Jeanne Shay Schumm, PhD, penulis How to Help Your Chilc With Homework. Untuk mencari waktu yang optimal, pertimbangkan juga jadwal keluarga dan temperamen anak. Kebanyakan anak membutuhkan kesempatan bersantai sepulang sekolah, dan banyak yang berhasil dengan adanya aktivitas fisik. Kenyataannya, penelitian menunjukkan olahraga dapat meningkatkan konsentrasi anak.

Setelah menetapkan waktu, ciptakan ruang belajar yang mendukung. Memiliki tempat belajar yang tetap membantunya menyiapkan diri belajar. Namun lupakan soal meja belajar yang diletakkan di kamar anak. Pada tahap awal sekolah dasar akan lebih baik menempatkannya di ruang tengah rumah, agar Anda bisa mudah membantunya jika diperlukan. Buatlah ruang di dapur atau meja makan yang bisa membuatnya bebas menaruh buku dan kertas. Siapkan juga alat tulis jika Anda tidak ingin membuat kegiatan tertunda, karena waktu yang dihabiskan untuk mencari sebatang pensil bisa sampai berjam-jam!

Kurangi Distraksi


Salah satu cara untuk membuat lingkungan yang tenang adalah menjadikan waktu belajar menjadi ‘urusan keluarga’. Jika mungkin, biarkan kakak atau adiknya juga mengerjakan PR di waktu bersamaan, sementara Anda juga mengerjakan PR sendiri seperti mengecek tagihan, membaca, membalas email, atau memisahkan cucian. Jika Anda terlihat sibuk mengerjakan apapun, anak akan menangkap getarannya. Membuat aturan mematikan TV atau permainan video sampai semua anggota keluarga selesai dengan tugasnya, juga akan membuat anak fokus pada tugasnya.

Targetkan pada Kemandirian

Anak usia sekolah biasanya akan membutuhkan bantuan. Namun sebelum memutuskan berapa banyak bantuan yang diberikan, cek dulu dengan gurunya. Kebanyakan guru lebih suka anak mengerjakan sendiri tugasnya sehingga tugas bisa dijadikan patokan kemajuan. Ini berarti Anda harus menahan diri mengoreksi ejaan anak atau menjelaskan soal matematika sulit untuknya.

Di sisi lain, membaca hasil pekerjaannya dan menantang untuk menemukan 3 kata yang salah eja adalah cara bagus untuk membiasakannya mengecek kembali pekerjaannya.

Juga tidak pernah ada kata terlalu dini untuk mulai mengajarinya nilai riset. Tunjukkan bagaimana cara mencari jawaban di buku referensi seperti kamus, atlas, atau di internet, atau carilah solusi yang lebih membumi. Semakin Anda mendidiknya bahwa mengerjakan tugas adalah waktunya bereksplorasi dengan bebas, si kecil juga akan semakin menikmati waktu belajar.

Jangan Tonjolkan Perfeksionisme


Berusaha keras agar semuanya berjalan dengan baik adalah bagus, tapi pastikan dia tahu bahwa tidak mungkin menjadi sempurna. Jika dia sibuk mengkritik dirinya sendiri, kerjakan setiap tugas dan sepakati berapa lama waktu yang dihabiskannya—misalnya 10 menit—dan bantulah dia menepati jadwal itu. Jika perlu, atur pertemuan dengan guru, yang bisa menjelaskan pada anak bahwa pekerjaan rumah adalah suatu latihan, bukan sebuah kesempurnaan. “Seringkali, anak-anak akan lebih mendengarkan nasihat  guru daripada orang tuanya,” kata Dr. Schumm.

Selidiki Berbagai Resistensi

Jika Anda sudah sangat berusaha tapi anak tetap bersikeras menolak mengerjakan pekerjaan rumahnya, perlu dicari penyebabnya. “Mungkin terlihat seperti masalah perilaku, tapi keengganannya bisa merupakan tanda dia mengalami kesulitan dengan materi ajarnya,” jelas Jed Baker, Phd, penulis No More Meltdowns. Bicarakan dengan gurunya bagaimana dia di dalam kelas. Jika dia kesulitan saat di kelas, mungkin secara umum dia memang membutuhkan bantuan. Jika dia hanya enggan mengerjakannya, cobalah membagi tugas dalam beberapa bagian tugas kecil dan menantangnya untuk menyelesaikannya, paling tidak satu saja. “Sekali dia mencapai tujuan awal, momen yang tepat mungkin bisa menggiringnya menyelesaikan semuanya,” kata Dr. Baker.

Jangan lupa bahwa semua anak akan senang mendengar beberapa dukungan tulus atas tugas yang sudah diselesaikannya. Pengenalan Anda atas usahanya—bahkan jika hasilnya tidak mendapat A—adalah bonus terhebat dari semuanya, serta merupakan cara kuat untuk menyampaikan pentingnya berusaha semampunya.

Sumber : http://parentsindonesia.com/



Menjadi ‘aktor’ atau ‘aktris’ di tempat bermain berarti mengetahui jenis emosi yang dapat ditunjukkan dan emosi yang lebih baik disimpan sendiri, untuk dikeluarkan kemudian.

Dengan kata lain, mereka sebaiknya belajar untuk tidak terlalu jujur demi menjaga perasaan orang lain. Contoh sederhana adalah mengajarkan si kecil berterimakasih pada Eyangnya karena membelikan hadiah kaos kaki, padahal sebenarnya ia menginginkan hadiah lain. Walaupun si kecil kecewa, ia bisa berujar, “Terima kasih, Eyang. Kaos kaki ini bagus sekali,”. Ini disebut bersikap sopan. Prinsip yang sama dapat diterapkan ketika si kecil berurusan dengan anak lain, kata Rich.

Untuk anak yang lebih kecil: Pada usia ini, belajar menjadi sopan adalah upaya si kecil untuk mengendalikan dorongan. Berikan dia contoh cara berlaku sopan dengan jelas, kata Schiller. Misalnya, “Kapan pun kamu dapat hadiah, Mama ingin kamu bilang ‘terima kasih’ walaupun kamu tak menyukainya”.  Jangan hanya berkata, “Baik-baik dong, ke Eyang?” karena bisa jadi itu tidak  cukup jelas baginya.

Setelah Eyangnya pergi, jelaskan kepada si kecil mengapa menyimpan perasaannya itu penting (“Eyang ‘kan berusaha keras untuk memberi kamu barang yang mungkin kamu akan suka”). Sesudahnya, biarkan ia mengomel apa pun yang ia mau tentang kaos kaki itu.

Untuk anak yang lebih besar: Jelaskan mengapa “akting” bisa menguntungkan dia. Misalnya, “Semua orang kadang diganggu, tapi kalau kamu nggak menunjukkan padanya bahwa kamu kesal, dia akan berhenti. Daripada kamu kelihatan kesal, lebih baik terlihat cuek dan jalan pergi.”

Di usia ini, penting untuk membantu si kecil membedakan antara berbohong untuk tujuan yang benar dan tujuan yang salah. Ketika ia ditanya “Apa pendapatmu tentang rambutku?”, akan menyakiti perasaan si penanya jika ia menjawab “Jelek!” Tetapi saat Anda bertanya padanya “Apakah PR kamu sudah selesai?”, berkata ‘ya’ walaupun ia belum selesai adalah jenis kebohongan yang salah.

Sumber : http://parenting.co.id/

Sabtu-Minggu (25-26/10), SMP IT Bina Amal mengikuti OMP JSIT 2 (Olimpiade Mata Pelajaran) JSIT 2 yang diadakan di UNY, Yogyakarta. Pelaksanaan lomba tersebut diikuti kurang lebih 40 sekolah di sekitar Jawa Tengah-Yogyakarta. 

Cabang lomba yang diikuti SMP IT Bina Amal sebagai berikut :
  • LCCI
  • OSN IPA
  • Tahfiz Putra/ Putri
  • MTQ Putra/Putri
  • Pidato Bahasa Inggris
  • Pidato Bahasa Indonesia
  • Olimpiade IPS
  • Cerpen (Wawancara dan Menulis kembali cerpen yang telah dikirimkan)
  • Tes tertulis Bahasa Inggris
  • Debat Bahasa Inggris
  • Muhadasah Bahasa Arab

Adapun untuk cabang lomba LCCI, Olimpiade IPS, dan Muhadasah Bahasa Arab SMP IT Bina Amal berhasil lolos ke babak final.

Pengumuman kejuaraan pun dilaksanakan pada hari Minggu (26/10), mulai pukul 11.00-14.30. Akhirnya, SMP IT Bina Amal pun meraih juara, sebagai berikut :
  • Juara III Muhadasah Bahasa Arab atas nama Alif Ario S
  • Juara II Cerpen atas nama Aulal Muna
  • Juara Piadato Bahasa Indonesia atas nama Salma Kamila S

Minggu (26/10), SMPI IT  Bina Amal mengikuti  OASIS 2 (Olimpiade Al’Qur’an dan Sains) yang diadakan di Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Brebes. Pelaksanaan lomba tersebut diikuti oleh 21 sekolah berbasis pondok pesantren tingkat Jawa Tengah yang diadakan dari pukul 08.00-18.30 WIB.  
Adapun cabang-cabang lomba tersebut adalah: 
  • Musabaqoh Hifdzhil Qur’an
  • Musabaqoh Tiawatil Qur’an
  • Tartil, Musabaqoh Fahmil Qur’an
  • Musabaqoh Khottil Qur’an
  • Pidato Bahasa Arab
  • Pidato Bahasa Inggris
  • Pidato Bahasa Indonesia
  • Pidato Bahasa Jawa
  • Rebana
  • Olimpiade IPS
  • Olimpiade Matematika
  • Olimpiade Biolog
  • Olimpiade Fisika
Dalam perlombaan OASIS 2 SMP IT Bina Amal meraih empat kejuaraan, sebagai berikut :
  • Juara 1 Olimpiade Fisika atas nama Hanif Sefa Al Kautsar, 
  • Juara 2 Musabaqoh Hifzdil Qur’an (Putri) atas nama Maila Ashfiya, 
  • Juara 1 Musabaqoh Hifzdil Qur’an (Putra) atas nama M. Rafli Agusta, 
  • Juara 2 Tartil atas nama M. Fathi Farhat.


Entah apakah anak melemparkan bajunya saat dia tidak menang Candy Land atau menangis keras ketika si kakak mengalahkannya adu cepat ke pintu depan. Hal itu sangat wajar. Dimulai saat berusia 4 tahun, anak-anak mempergunakan segala kesempatan untuk menjadi yang terbaik. ”Sementara batita hanya bisa berfantasi menjadi yang terbaik atas segalanya, balita mulai fokus pada pencapaian hidup sesungguhnya,” kata George Scalett, PhD, deputy chair Eliot-Pearson Department of Child Development di Tufts University, Medford, Massachusetts. ”Saat itu terjadi, jiwa kompetitif mereka muncul.

Walaupun kemenangan memberikan balita rasa kontrol dan kebanggaan, mereka juga perlu mengambil hikmah dari kekalahan. ”Kekalahan membantu anak mulai mengembangkan empati dan keteguhan hati,” kata Carolyn Landis, PhD, psikologi klinis di UH Rainbow Babies & Children’s Hospital di Cleveland.

Jadi saat lain waktu anak Anda yang berusia 5 tahun menangis karena tersingkir dari permainan bernyanyi mengelilingi kursi atau tarian beku, tetap ingat hal ini: ”Anak kecil mungkin terlihat patah hati saat itu tapi biasanya mereka bisa melalui kekalahan mereka dengan cukup cepat,” tutur Dr. Landis. ”Daripada memanjakan anak yang kesal karena tidak menang, biarkan dia merasakan sakitnya kekalahan—dan kemudian lupakanlah.” Anda bisa melakukannya persis seperti itu dengan taktik penyesuaian berikut.

UNGKAPAN KEKALAHAN ”AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAINKAN PERMAINAN BODOH INI LAGI.”

TAKTIK KEMENANGAN JELASKAN PADANYA BAHWA SESEKALI SEMUA ORANG MENGALAMI KEKALAHAN.

Wajar bila anak-anak hanya ingin memainkan permainan yang mereka tahu pasti akan bisa dimenangkan. Namun tugas Anda adalah mengingatkan bahwa jika mereka ingin maju, maka ada saatnya harus mengalami kekalahan. ”Anda bisa mengatakan, terkadang bintang baseball atau seluncur es favorit mereka sesekali akan mengalami kekalahan juga saat menghadapi lawan yang lebih kuat,” ujar Dr. Landis. ”Sangat pas ketika kukatakan pada putriku bahwa pahlawannya, Miley Cyrus, seringkali ditolak mendapatkan peran sebelum akhirnya berhasil mendapatkan peran Hannah Montana.” Katakan kepadanya, orang-orang sukses tetap berlatih untuk meningkatkan kemampuan mereka—bukannya malah menyerah. Lalu tanyakan padanya apakah dia ingin terus bermain agar bisa menjadi lebih baik dalam permainan. Kemungkinan jawaban yang tercetus adalah, ”Iya!”

UNGKAPAN KEKALAHAN ”AKU BURUK DALAM PERMAINAN INI.”

TAKTIK KEMENANGAN PUJILAH PERMAINANNYA

Anak-anak di usia ini tidak menikmati kompetisi hanya untuk mendapatkan tantangan. Mereka menyukai kemenangan karena merasa berprestasi dan berjaya, ujar John Wechter, Ed.D, psikologis klinis di Cambridge Health Alliance di Cambridge, Massachusettes. Jadi jangan hanya memuji anak saat dia menang, tunjukkan antusiasme saat dia kalah. Berikan selamat kepadanya pada sesuatu yang spesifik. Misalnya, katakan ”Permainan yang bagus! Mama sangat bangga akan cara kamu mengoper bola ke teman satu tim” atau ”Kamu menyimak dengan sangat baik selama bermain Simon Says.” Dan saat menonton acara olahraga, tunjukkan bagaimana para pemain  berjabat tangan di akhir permainan. Semakin anak melihat sportivitas yang bagus, semakin mereka akan berusaha menyamai atau melebihi hal itu.

UNGKAPAN KEKALAHAN ”AKU BENCI PERMAINAN INI”

TAKTIK KEMENANGAN JANJIKAN PERTANDINGAN ULANG

Hindari menutupi atau tidak mengacuhkan kekalahan tapi juga jangan mengungkit-ungkitnya. Lebih baik katakan sesuatu seperti: ”Ada hal-hal yang tidak  berjalan seperti yang kita inginkan. Ada saat-saat dimana Mama juga kecewa.” Ini berbeda dengan mengatakan, ”Tidak masalah’, yang tidak mengetahui perasaan anak,” ujar Maureen O’Brien, PhD, penulis Watch Me Grow.

Lalu ingatkan anak bahwa ada saat lain dimana dia bisa menang, ujar Dr. Wechter. ”Ini akan membuatnya keluar dari keadaan sekarang dan memberikan dia sesuatu untuk dinantikan,” ujarnya. Jika hasil permainan bergantung pada strategi daripada keberuntungan, pikirkan bersamanya hal berbeda apa yang bisa dilakukannya. Katakan sesuatu seperti, ”Hmm, Mama ingin tahu apa yang akan terjadi jika kamu memindahkan buah catur ini” daripada mengatakan apa yang harus dilakukannya. Dengan begini, anak-anak tidak merasa Anda menjadi kritis, dan mereka akan lebih suka mengingat strategi baru jika bisa mendapatkan penyelesaian mereka sendiri.

UNGKAPAN KEKALAHAN ”AKU MENYERAH”

TAKTIK KEMENANGAN TEKANKAN BAHWA MENYELESAIKAN PERMAINAN MERUPAKAN HAL PENTING

Jika anak merasa tidak akan memenangkan permainan, dia mungkin akan menyudahinya sebelum permainan berakhir. Namun Anda harus mendorongnya untuk tetap bertahan sampai akhir. ”Katakan kepada anak-anak bahwa berhenti di tengah permainan seperti mengingkari janji pada teman—dan jika melakukannya, mungkin teman-teman tidak akan mau bermain denganmu lagi,” Dr. Landis menyarankan. Katakan bahwa tim sepak bola dan baseball tetap bermain sampai akhir permainan, entah berapapun skornya atau betapa kecewa para pemainnya.

Anda juga harus bertanya kepadanya apa yang akan dirasakannya jika lawannya mundur dan menghilangkan kesempatan baginya untuk memenangkan permainan. ”Bahkan anak yang masih sangat kecil akan mengatakan betapa mereka merasa sedih karena hal itu,” kata Dr. Landis. ”Mendorong balita untuk memahami pemikiran ini akan membuat mereka menjadi warga negara dan teman yang lebih baik.”

UNGKAPAN KEKALAHAN ”AKU TIDAK AKAN PERNAH MENANG”

TAKTIK KEMENANGAN MELONGGARKAN ARTI KEMENANGAN

Mencari cara untuk menjelaskan bahwa kemenangan bukanlah segalanya bisa membuat permainan berada dalam perspektif. ”Dalam keluarga kami, pemenanglah yang membersihkan papan permainan,” kata Dr. O’Brien. Ini akan menghentikan setiap orang terjebak dalam perayaan kemenangan—dan membual bahwa merekalah yang terbaik.

UNGKAPAN KEKALAHAN ”PERMAINAN INI UNTUK ANAK PEREMPUAN”

TAKTIK KEMENANGAN BUATLAH MENJADI NETRAL TERHADAP GENDER

Yang mengejutkan, menurut studi terbaru, reaksi anak terhadap kekalahan mungkin banyak terkait dengan jenis kelamin lawannya. ”Dalam studi kami, anak-anak bereaksi paling negatif saat mereka dikatakan tidak tampil sebaik kelompok lawan jenisnya,” jelas Marjorie Rhodes, PhD, asisten profesor psikologi di New York University di New York.

Karena anak-anak usia ini mengenali banyak aktivitas sebagai ”untuk anak lelaki” atau ”untuk anak perempuan”, mereka mungkin akan kehilangan minat dalam permainan jika ada anak dari lawan jenisnya yang lebih unggul. Untuk memastikan anak tidak menggunakan alasan ini saat kalah, coba katakan sesuatu seperti, ”Saudara perempuanmu kali ini menang karena dia sudah pernah memainkannya. Begitu kamu sudah pernah memainkannya beberapa kali, kamu akan melakukannya dengan baik.”

Sumber : https://parentsindonesia.com/


Memberi hadiah atas kerja keras anak dengan cara yang berbeda ternyata meberikan dampak yang baik bagi anak.

Grace Yong, pendiri Character Montessori di Singapura, mengingatkan keburukan memberi hadiah pada anak atas kerja kerasnya. Pesan terselubung yang diberikan orang tua: “Berusaha keras dan senangkan hati saya, maka saya akan memberi kamu hadiah”. Anak-anak kemudian bekera keras untuk hadiah, sehingga ia tidak pernah menikmati buah dari kerja kerasnya yang justru penting untuk kesuksesannya di masa depan.

Sebagai gantinya, Grace menyarankan agar Anda memberi afirmasi secara lisan. Contoh, katakan: “Kamu selama ini berlatih keras, makanya kamu terpilih mewakili sekolah untuk perlombaan menari. Kamu hebat, ya!”. Kita perlu membuat anak-anak fokus pada pencapaian yang mereka rasakan secara alami saat mereka bekerja keras dan membuat kemajuan. Dalam proses ini, anak-anak membangun rasa penghargaan terhadap diri sendiri dan juga penghargaan terhadap kesuksesan.

Tapi walau menyarankan penghargaan lisan, Grace juga percaya bahwa pencapaian anak perlu dirayakan. Saat salah satu dari empat anaknya, yang berusia antara 12 – 21 tahun, melakukan sesuatu dengan baik, mereka pergi makan ke tempat spesial. Pesannya: Sebagai keluarga, kita mendukung kesuksesan salah satu anggota keluarga.

Tan Meng Wei, direktur utama pusat penitipan anak Star Learner’s Group di Singapura, juga percaya akan pentingnya pemberian penghargaan kepada empat anaknya yang berusia antara 4 – 12 tahun. Tapi ia menyarankan orang tua untuk menempatkan pesan dengan hati-hati. Contohnya, kata Meng Wei, mereka membawa anaknya ke restoran Perancis yang lezat setelah memenangkan lomba mewarnai di sekolah. Mereka tidak menghubungkan hadiah tersebut dengan “Jika kamu menang, kami akan membawa kamu makan di luar.” Tapi, lebih seperti, “Usaha yang bagus, ayo kita rayakan!”

Lita Lunanta, psikolog anak dan pengajar pada Universitas Esa Unggul, sepakat bahwa hadiah tidak harus melulu dalam bentuk materi, tapi bisa dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. " Permainan di malam hari, membuat pizza bersama-sama, dan kegiatan seru lainnya bisa menjadi reward, seperti yang sering kami lakukan dalam keluarga kami," kata Lita.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Patah tulang mungkin cedera paling parah yang bisa dialami anak-anak. Namun apakah Anda tahu obat yang cocok menghilangkan rasa sakit akibat patah tulang? Jika belum Anda mungkin perlu mencoba ibuprofen. Sebuah penelitian baru menyatakan bahwa ibuprofen merupakan pilihan paling baik untuk menghilangkan rasa sakit daripada morfin.

 
Meskipun kedua obat itu efektif meringankan rasa sakit akibat patah tulang, namun menurut peneliti morfin memberikan risiko atau efek samping negatif.

"Bukti menunjukkan bahwa morfin dan obat penghilang rasa sakit narkotika lainnya semakin sering diresepkan," kata penulis penelitian Dr. Naveen Poonai dari London Health Sciences Center di Ontario, Kanada. "Namun, bukti pemberian morfin dalam mengurangi rasa sakit pada anak sangat terbatas. Dengan demikian, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui pemberian morfin terhadap anak-anak yang harus dirawat jalan," lanjutnya.

Menurut peneliti seperempat anak-anak di Amerika Serikat yang cedera mengalami patah tulang. Dua hari pertama setelah cedera patah tulang adalah yang paling menyakitkan. Anak-anak memiliki pilihan terbatas untuk menghilangkan rasa sakit. Namun karena masalah keamanan akhirnya anak-anak diberikan morfin.

Pada studi ini 134 anak-anak, usia 5 sampai 17 tahun dilibatkan. Mereka mengalami patah tulang tetapi tidak memerlukan operasi. Anak-anak tersebut kemudian dipilih secara acak untuk menerima morfin atau ibuprofen untuk membantu meringankan rasa sakit. Peneliti mencatat anak-anak yang diberikan morfin mengalami efek samping diantaranya mengantuk, mual, dan muntah.

"Mengingat bahwa morfin dikaitkan dengan efek negatif, kita menyimpulkan bahwa ibuprofen bisa menjadi obat yang aman dan efektif untuk mengelola rasa sakit akibat patah tulang anak-anak," tulis Dr. Poonai dalam penelitiannya.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Konsumsi buah terlebih dahulu sebelum makan nasi memang dianjurkan, namun hal ini berlaku untuk mereka yang kelebihan berat badan atau menderita obesitas.
 
Dengan mengonsumsi buah terlebih dahulu, perut akan terasa lebih kenyang sehingga konsumsi nasi tidak terlalu banyak. Buah-buahan baik untuk mengganjal perut sebab rendah kalori dan tidak mengandung lemak.
 
Sedangkan pada anak, buah sebaiknya tetap diberikan pada jam snack atau setelah makan. Jika buah diberikan sebelum makan dikhawatirkan anak akan merasa kenyang terlebih dahulu dan hanya sedikit mengonsumsi nasi dan lauknya.
 
Padahal di dalam nasi dan lauk terkandung zat gizi yang diperlukan anak untuk mendukung tumbuh kembangnya. Kreasikan penyajian buah agar anak tidak bosan.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


SMP IT  BINA AMAL MERAIH JUARA DALAM OASIS 2 BREBES

Minggu (26/10), SMPI IT  Bina Amal mengikuti  OASIS 2 (Olimpiade Al’Qur’an dan Sains) yang diadakan di Pondok Pesantren Al Hikmah 2, Brebes. Pelaksanaan lomba tersebut diikuti oleh 21 sekolah berbasis pondok pesantren tingkat Jawa Tengah yang diadakan dari pukul 08.00-18.30 WIB.  Adapun cabang-cabang lomba tersebut adalah: Musabaqoh Hifdzhil Qur’an, Musabaqoh Tiawatil Qur’an, Tartil, Musabaqoh Fahmil Qur’an, Musabaqoh Khottil Qur’an, Pidato Bahasa Arab, Pidato Bahasa Inggris, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Jawa, Rebana, Olimpiade IPS, Olimpiade Matematika, Olimpiade Biologi, Olimpiade Fisika. Dalam perlombaan OASIS 2 SMP IT Bina Amal meraih empat kejuaraan, sebagai berikut; Juara 1 Olimpiade Fisika atas nama Hanif Sefa Al Kautsar, Juara 2 Musabaqoh Hifzdil Qur’an (Putri) atas nama Maila Ashfiya, Juara 1 Musabaqoh Hifzdil Qur’an (Putra) atas nama M. Rafli Agusta, Juara 2 Tartil atas nama M. Fathi Farhat.

            SMPIT BINA AMAL MERAIH JUARA DALAM  OMP JSIT 2 YOGYAKARTA

Sabtu-Minggu (25-26/10), SMP IT Bina Amal mengikuti OMP JSIT 2 (Olimpiade Mata Pelajaran) JSIT 2 yang diadakan di UNY, Yogyakarta. Pelaksanaan lomba tersebut diikuti kurang lebih 40 sekolah di sekitar Jawa Tengah-Yogyakarta.  Cabang lomba yang diikuti SMP IT Bina Amal sebagai berikut; LCCI, OSN IPA, Tahfiz Putra/ Putri, MTQ Putra/Putri, Pidato Bahasa Inggris, Pidato Bahasa Indonesia, Olimpiade IPS, Cerpen (Wawancara dan Menulis kembali cerpen yang telah dikirimkan), Tes tertulis Bahasa Inggris, Debat Bahasa Inggris, dan Muhadasah Bahasa Arab.  Adapun untuk cabang lomba LCCI, Olimpiade IPS, dan Muhadasah Bahasa Arab SMP IT Bina Amal berhasil lolos ke babak final.

Pengumuman kejuaraan pun dilaksanakan pada hari Minggu (26/10), mulai pukul 11.00-14.30. Akhirnya, SMP IT Bina Amal pun meraih juara, sebagai berikut; Juara III Muhadasah Bahasa Arab atas nama Alif Ario S, Juara II Cerpen atas nama Aulal Muna, dan terakhir  Juara Piadato Bahasa Indonesia atas nama Salma Kamila S.






Anak yang bisa menyusun argumen sopan dan kuat, misalnya, mengapa ia harus punya sepatu basket hitam seperti yang dimiliki anak-anak lain dan bukan sepatu putih yang ketinggalan zaman, lebih mungkin mendapatkan apa yang ia mau tanpa membuat orang lain tersinggung. Ini adalah anak yang akan tumbuh menjadi orang yang dihormati dan bisa diajak bernegosiasi oleh orang lain.


Untuk anak yang lebih kecil: Misi utama balita dalam hidup adalah mempertanyakan peraturan, dan besar kemungkinan caranya tidak sopan dan tanpa bisa menahan diri, karena (seperti yang sudah Anda pahami) anak umur 2 tahun belum bisa mengendalikan emosinya. Pada tahap usia ini, tujuan utamanya adalah untuk mengajarinya bagaimana meminta sesuatu dengan sopan.


Menurut Rich, bila memungkinkan, iyakan saja setiap permintaannya, khususnya saat anak meminta sesuatu yang wajar dengan sopan. Tentu saja, tidak berarti Anda harus  mengabulkan setiap kali anak minta permen atau mainan, Ma. Namun, katakan ‘ya’ saat permintaannya tidak terlalu penting. Strategi ini memungkinkan Anda untuk menyimpan energi pada saat Anda harus benar-benar mengatakan ‘tidak’ dan hal ini menunjukkan kepada anak bahwa ia dapat memperoleh puding cokelat karena ia memintanya baik-baik dan tidak  dengan cara meraung-raung.


Untuk anak yang lebih besar: Ketika hendak menawarkan ide, katakan, “Mama punya ide…,” atau “Bagaimana kalau…,” yang akan mendorong anak untuk melakukan hal yang sama. “Ajarkan anak bahasa yang tepat untuk mengemukakan perasaan mereka dengan sopan,” jelas Schiller. “Beberapa anak terlalu takut mempertanyakan keputusan orangtua atau gurunya dan mereka tidak pernah tahu apakah mereka berani melakukan hal tersebut.”


Hindari membuat anak harus menurut pada Anda tanpa alasan. Misalnya saat Anda tidak mungkin mengajaknya menonton film karena telah berencana mengunjungi kakek dan neneknya. Jika Anda hanya berkata “Mama bilang tidak, sudah sana jangan ganggu Mama lagi”, itu tidak mendorong anak untuk bertanya. Cobalah berkata “Ayo, kamu tahu ‘kan, kita sudah janji pada Eyang kita akan ke rumahnya hari ini, Nak. Kalau kamu minta nonton saat kita belum ada rencana apa-apa, MKacang bisa menjadi salah satu pencetus alergi. Menurut Food Allergy Research & Education (FARE), hampir 3 juta orang di Amerika Serikat dilaporkan alergi pada kacang. Reaksinya pun beragam, mulai dari  gatal-gatal hingga yang paling parah: kematian. Untuk orang yang alergi kacang, kekhawatiran terbesar mereka adalah makan makanan yang mengandung kacang namun tersembunyi. Misalnya: eggroll yang dilekatkan dengan selai kacang, roti yang dibuat menggunakan tepung almond atau chilli sauce dengan kacang sebagai pengentalnya.

Tidak semua makanan yang mengandung kacang mudah dikenali. Meskipun lembaga Food Allergen Labeling dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengamanatkan bahwa makanan yang mengandung kacang harus diungkapkan pada label produk, tapi tidak ada pedoman untuk makanan yang disajikan di restoran, toko roti, atau di toko es krim.

Marion Groetch, MS, RD, direktur layanan gizi Jaffe Food Allergy Institute di Icahn School of Medicine di Mount Sinai in New York City, telah menangani banyak pasien yang memiliki alergi makanan yang parah. Dia menginstruksikan pasiennya untuk cermat membaca label makanan dan mendorong pasiennya untuk berlaku seperti orang normal. Untuk Anda atau anak yang alergi kacang, dia merekomendasikan menghindari tempat-tempat ini.

Toko roti. Roti atau makanan yang dipanggang membawa risiko kontaminasi silang. Meskipun Anda memilih sesuatu yang biasa, mungkin saja kue atau atau peralatan yang digunakan telah mengalami kontak dengan kacang. Terlebih lagi, sejumlah toko roti menggunakan tepung almond daripada tepung terigu.

Toko es krim. Kontaminasi silang juga menjadi masalah di toko es krim. Anda mungkin berpikir memesan satu sendok es krim vanili aman. Tetapi karena sendok es krim telah digunakan untuk rasa lain, jejak kacang bisa masuk ke dalam sendok itu. Bahkan jika Anda meminta pelayan menggunakan sendok es krim bersih, jejak kacang dari hari sebelumnya masih bisa terdapat dalam es krim yang Anda pesan.

Restoran masakan Asia, India, dan Meksiko . Kacang biasanya ditemukan dalam makanan etnis yang berbeda. Diantaranya sate , panang curry, dan pad Thai. Banyak restoran Cina juga memasak dengan bahan kacang-kacangan. Wajan yang digunakan juru masak biasanya tidak dicuci antara pesanan, sehingga hidangan dari kacang pada masakan sebelumnya membawa risiko kontaminasi silang. Dan kacang-kacangan merupakan bagian dari beberapa masakan Meksiko seperti mole dan saus enchilada.

Restoran makanan campuran yang menyajikan beragam saus. Banyak saus menggunakan selai kacang atau tepung kacang sebagai pengental. Waspadai chilli sauce dan saus pasta. Anda tidak pernah tahu persis apa yang akan Anda makan, ketika makan di luar.  Makanan sederhana  tanpa bumbu macam-macam adalah yang paling aman. Groetch mengatakan jika anak Anda memiliki alergi makanan yang sangat parah lebih baik tidak memesan apa pun dari menu. Sebaliknya, buat permintaan khusus seperti, "Bisakah saya memesan dada ayam yang dimasak menggunakan minyak zaitun dan bawang putih dan dimasak dalam panci terpisah?"

Restoran dessert. Kacang-kacangan merupakan bahan umum dalam makanan pencuci mulut. Sehingga ada resiko memesan menu kacang tersembunyi. Buat makanan penutup, buah segar adalah pilihan paling aman.ama akan setuju, kok.”

Sumber : http://parentsindonesia.com/

Anak yang bisa menyusun argumen sopan dan kuat, misalnya, mengapa ia harus punya sepatu basket hitam seperti yang dimiliki anak-anak lain dan bukan sepatu putih yang ketinggalan zaman, lebih mungkin mendapatkan apa yang ia mau tanpa membuat orang lain tersinggung. Ini adalah anak yang akan tumbuh menjadi orang yang dihormati dan bisa diajak bernegosiasi oleh orang lain.
 
Untuk anak yang lebih kecil: Misi utama balita dalam hidup adalah mempertanyakan peraturan, dan besar kemungkinan caranya tidak sopan dan tanpa bisa menahan diri, karena (seperti yang sudah Anda pahami) anak umur 2 tahun belum bisa mengendalikan emosinya. Pada tahap usia ini, tujuan utamanya adalah untuk mengajarinya bagaimana meminta sesuatu dengan sopan.
 
Menurut Rich, bila memungkinkan, iyakan saja setiap permintaannya, khususnya saat anak meminta sesuatu yang wajar dengan sopan. Tentu saja, tidak berarti Anda harus  mengabulkan setiap kali anak minta permen atau mainan, Ma. Namun, katakan ‘ya’ saat permintaannya tidak terlalu penting. Strategi ini memungkinkan Anda untuk menyimpan energi pada saat Anda harus benar-benar mengatakan ‘tidak’ dan hal ini menunjukkan kepada anak bahwa ia dapat memperoleh puding cokelat karena ia memintanya baik-baik dan tidak  dengan cara meraung-raung.
 
Untuk anak yang lebih besar: Ketika hendak menawarkan ide, katakan, “Mama punya ide…,” atau “Bagaimana kalau…,” yang akan mendorong anak untuk melakukan hal yang sama. “Ajarkan anak bahasa yang tepat untuk mengemukakan perasaan mereka dengan sopan,” jelas Schiller. “Beberapa anak terlalu takut mempertanyakan keputusan orangtua atau gurunya dan mereka tidak pernah tahu apakah mereka berani melakukan hal tersebut.”
 
Hindari membuat anak harus menurut pada Anda tanpa alasan. Misalnya saat Anda tidak mungkin mengajaknya menonton film karena telah berencana mengunjungi kakek dan neneknya. Jika Anda hanya berkata “Mama bilang tidak, sudah sana jangan ganggu Mama lagi”, itu tidak mendorong anak untuk bertanya. Cobalah berkata “Ayo, kamu tahu ‘kan, kita sudah janji pada Eyang kita akan ke rumahnya hari ini, Nak. Kalau kamu minta nonton saat kita belum ada rencana apa-apa, Mama akan setuju, kok.”

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Apakah Anda tahu anak tetangga yang sepertinya tidak pernah sakit? Apakah orangtuanya tahu cara menjaga kesehatan anaknya sementara Anda tidak? Para ahli menyarankan untuk mengikuti enam kebiasaan anak-anak sehat di bawah ini untuk menghindari penyakit.

Menjaga kebersihan tangan

Mencuci tangan secara rutin secara drastis akan mengurangi penyakit yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan pencernaan. Segerakan anak-anak Anda untuk menyikat tangan (atau menggunakan pembersih tangan) ketika mereka meninggalkan tempat penitipan anak, setelah bermain, dan sebelum mereka makan. Ajarkan anak-anak menyanyikan "selama ulang tahun" untuk diri mereka sendiri sehari dua kali sebelum membilas tangan. Mencuci tangan selama 15-20 detik sudah bisa membuat tangannya bersih.

Jadilah anak yang aktif

Studi menunjukkan bahwa olahraga ringan dapat mengurangi risiko terkena penyakit pilek dan flu mencapai angka 25-50 persen per tahun. Mungkin olahraga bisa meningkatkan sirkulasi sel yang melawan infeksi. Olahraga lebih baik daripada obat di iklan atau mukjizat.

Tidur Cukup

Pastikan anak-anak tetap dalam jadwal tidur lebih awal. Kurang tidur bisa meningkatkan risiko terkena pilek dan flu hampir dua kali lipat. Kebanyakan bayi membutuhkan waktu tidur selama 14 jam per hari. Sementara anak-anak prasekolah membutuhkan 11-13 jam tidur.

Hindari Menyentuh wajah

Virus flu masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Pastikan tangan anak Anda tetap jauh dari daerah tersebut. Memang hal itu sulit dilakukan. Mencuci tangan pada saat-saat strategis adalah hal yang paling penting. Ajarkan anak Anda untuk tidak pernah berbagi sedotan, gelas, atau sikat gigi.

Mengonsumsi makanan sehat


Makanan seperti buah dan sayuran berwarna akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak Anda. Carilah makanan yang kaya vitamin C (brokoli, stroberi, dan jeruk) dan vitamin D (tuna, susu, dan sereal). Makan yogurt yang mengandung probiotik juga dapat membantu membangun sistem pertahanan tubuh.

Vaksinasi

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah flu. Jadi apa yang Anda tunggu?


Hampir semua anak sepertinya memang melewati berbagai masalah makan. Mulai dari terlalu senang makan, atau sebaliknya, tidak suka makan sama sekali, atau terlalu pemilih.  

Apapun bentuknya, masalah makan bisa membuat orang tua maupun anak sama-sama frustrasi. Berikut beberapa hal yang  tabu untuk dilakukan terhadap anak yang susah makan:

- Memaksa anak menghabiskan makanan. Sebaiknya sajikan porsi kecil-kecil dulu pada anak. Toh, kalau kurang, dia selalu bisa minta tambah.

- Mengharuskan anak makan tanpa berantakan. Koordinasi tangan yang belum lancar pasti akan membuat mereka menjatuhkan makanan keluar piring.

- Memaksa anak makan apa yang sudah disediakan. Sebaiknya tetap sediakan pilihan bagi anak. Tapi bukan berarti anak bebas memilih makanan apapun yang ia suka seperti di restoran. Batasi pilihannya.

- Menyamakan waktu makan anak dengan waktu makan orang dewasa. Waktu makan orang dewasa bisa jadi kurang tepat untuk kebutuhan anak yang masih aktif. Jadi kenali waktu-waktu yang tepat untuk pemberian makan pada anak.



LOMBA SELEKSI OLIMPIADE MATA PELAJARAN (OMP) JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadau) KORDA SEMARANG 1
=====================================
DAN LOMBA MAPSI KEC. SEMARANG SELATAN (UPTD. KECAMATAN SEMARANG SELATAN)
=====================================
Lomba Seleksi OMP JSIT Korda Semarang 1 di SDIT Bina Insani dilaksanakan pada hari Sabtu 27 Sepetember 2014.

Kebetulaan pada hari itu juga sedang dilaksanakan lomba MAPSI Tingkat Kecamatan Semarang Selatan , Sehingga siswa yang memiliki prestasi ada yang melaksanakan beberapa lomba (doble lomba).

Lomba ini diikuti oleh 10 sekolah di bawah jaringan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Kota Semarang,Demak dan Kendal. Dalam lomba ini peserta yang berhasil menjadi juara 1 akan mewakili di lomba OMP Tingkat Regional IV ( JATENG & DIY ).

Semua delegasi lomba berusaha dengan segenap kemampuannya sehingga membuahkan prestasi. Hasil lengkapnya yaitu :

Juara I Lomba Pidato Bahasa Arab : Najma Amira
Juara I Lomba Mapel IPS : Pratisthita Najwa
Juara I LCC PAI putra : Ahmad Aziz Yasin
Yuan Nadhif A
Albin Fachreza
Juara III Tahfidz : Rafif Sultanul Falah
Juara III MTQ : Indiani
Juara III SBK : Salma, Salsabila,….
Juara III IPA : Nadia Ayesha

Barokalloh buat semua delegasi. Mudah-mudahan bisa meraih prestasi di tingkat Regional (Jateng dan DIY)
----------------------------------------------------------------------
============================================
Sedangkan Lomba MAPSI tingkat Kecamatan Semarang selatan diikuti SD se-Kec. Semarang Selatan yang diselenggararakan di SD Lamper Kidul 02 (sompok).

Di hari itu, banyak siswa yang dilibatkan demi menggali potensi dan memberikan pengalaman kepada mereka.

Karena ada pepatah mengatakan, "guru terbaik" adalah pengalaman. dan Alhamdulillah, Barokallah kepada :

Juara I Cerita Islami : Khairina Safrani
Juara II Cerita Islami :Rafli Lazuardi
Juara I Tilawatil Quran : Lamia Salma Amara H
Juara II Tilawatil Quran : Zacky Ubaidillah Rachulhaq
Juara I Khot : Akmal Zufar
Juara I TIK Islam Putri : Aisyah Nada Imtihan
Juara I TIK Islam Putra : Reza Majid Herlambang
Juara II TIK Islam Putri : Millati Azka
Juara II Khitobah Putri : Najma Amira Mumtaz
Juara III Khitobah Putri : Syifana Aulia
Juara III Khitobah Putra : M. Alif Auriansyah
Juara II Kewirausahaan : Salfa Zahirah A
Juara III Rebana : M. Fajri Al Hafidz
Ashim
Fatihan Akbar
M. Haidar Yahya S
Ahmad Hilaludin A
Abdullah Zindan
Bunayya Firaus Isa
Zufar Nabil Akram
Alwi Ahmad Fallah
Faiz Romadhon Ar Royyan
Fahrezi Naufal Syafiqi

Barokalloh buat semua delegasi. Juara 1 pada setiap lomba akan melanjutkan ke tingkat berikutnya. Mudah-mudahan bisa meraih prestasi di tingkat Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah... Aamiiiin.






Hari itu Sabtu, 13 September 2014 jam 7 pagi sudah banyak siswa-siswi kelas 6 yang datang. Siswa kelas 6 rupanya sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke Hutan Wisata Tinjomoyo untuk kegiatan Puncak tema “Aku Bisa”.  Akhirnya rombongan berangkat 07.30 dengan 7 mobil antar jemput. Bismillah …Setelah sampai dan istirahat sebentar, acara dimulai.  Diawali dengan do’a bersama dilanjutkandengan pengarahan tentang beberapa game/rintangan yang harus mereka lalui.  Semua harus dengan keyakinan aku bisa dengan ijin Allah.

Korlap utama Pak Eko mengomando gerakan pemanasan. Setelah itu, Bu Adzki memberi instruksi game kekompakan kelompok.  Wah .. suasana jadi menyenangkan, tidak ada yang bersedih.  Game yang pasti membekas dalam ingatan siswa yaitu meniup balon sampai meletus. Ada yang cepat, ada yang lama, bahkan ada yang sudah menyerah sebelum meniup.  

Guru-guru yang hadir ikut mensuport siswa yang belum berhasil. Ternyata melelahkan juga meniup balon.  siswa yang sudah terbagi dalam kelompok melanjutkan aktivitasnya. Ada yang game “menjinakkan bom”, “estafet kelereng”, memanjat dan meniti tali.  Semua guru, bu Marah, bu Yuni,bu Ikha, pak Beni, Pak Nur, pak Eka, Pak Miko, P Nurdin,P Eko dan pak Faris mengarahkan dan membantu siswa.  Yang paling menantang adalah jaring-jaring mendarat. ada yang sudah sampai atas jaring malah minta turun.  Berteriak-teriak ketakutan… dengan sabar guru memotivasi agar tidak menyerah.Semua siswa harus mencoba semua game..

Sesi selanjutnya adalah bermain di lumpur dan air. Awalnya takut kotor, akhirnya tidak mau berhenti. Lihatlah fotonya. Ekspresi bahagia ketika bajunya penuh dengan lumpur.  Karena hari sudah siang, maka mau tidak mau kegiatan basah-basahan dan main lumur dihentikan. Siswa berebut kamar ganti untuk ganti baju.  Siswa antri untuk ganti baju dan sholat. 

Hari itu begitu melelahkan sehingga ketika nasi gudangan dihidangkan langsung diserbu rame-rame.  Acara penutup diisi refleksi oleh pak eko dan  pak Eka. Beberapa siswa menangis mendengar tausiyah pak Eka.  Jam 15.30 acara selesai. Siswa pulang dengan perasaan senang dan keyakinan aku bisa dalam segala hal.  

Alhamdulillah,mudah-mudahan kegiatan ini menjadi penyemangat dalam kesuksesan KBM di kelas 6.  BRAVO ! !




Bagi sebagian anak, TK hanyalah kelanjutan dari prasekolah atau playgroup. Tapi bagi sebagian anak lain, hari pertama masuk sekolah adalah hal yang mengerikan. Kami merangkum delapan kiat yang bisa mengobati rasa takut si calon murid TK.

1. Bicara Seputar Sekolah

Mulailah pembicaraan seputar sekolah beberapa minggu sebelum hari pertama masuk sekolah. Bicarakan aktivitas seru—seperti sesi pembacaan cerita, sesi bermain di taman, dan sesi makan bersama—yang akan ditemui anak di sekolah. “Mintalah kakak, sepupu, atau anak tetangga, untuk berbagi suka-cita seputar hari-hari mereka dulu di TK,” tulis penasihat Parents sekaligus penulis buku How To Behave So Your Children Will, Too!, Sal Severe, PhD dalam situs yang dia kelola, howtobehave.com.

2. Gladi Resik Rute Perjalanan


Orang dewasa maupun anak-anak punya kesulitan menghadapi perubahan. Dan memulai sekolah adalah sebuah perubahan besar! Anda bisa membantu si kecil mengalahkan rasa takut terhadap hal-hal baru—salah satunya rute perjalanan baru—dengan cara melakukan gladi resik sebelum hari besar datang.

Sebelum hari H, tempuh rute perjalanan dari rumah menuju sekolah bersama anak. Tunjukkan hal-hal menarik yang Anda temui, misalnya landmark kota atau perumahan, rumah-rumah kerabat atau sahabat yang searah dengan rute tersebut, bahkan rambu-rambu lalu lintas.

Setelah beberapa kali mengajak si kecil melintasi rute rumah-sekolah, ajukan pertanyaan seperti, “Setelah ini, kita belok ke mana ya supaya bisa sampai ke sekolahmu?” Pertanyaan Anda memastikan si kecil hapal rute yang akan dia tempuh setiap hari. Kegiatan itu juga melatih anak mengenal konsep arah.

Ingatkan anak tempat Anda mengantar dan menjemput dia setiap hari.

3. Kunjungi Guru dan Ruang Kelas

Jangan ragu untuk bertanya kepada pihak sekolah apakah Anda boleh mengajak anak ke sekolah sebelum hari H. Dengan demikian, Anda dan si kecil berkesempatan bertemu guru dan melihat ruang kelas. “Umumnya, sekolah memang menyediakan waktu untuk open house atau classroom visit. Dengan menghadiri acara itu, anak bisa berkenalan dengan guru dan bertemu beberapa calon teman sekelas sebelum hari pertama masuk sekolah,” kata psikolog anak dari Sekolah Cikal, Lestari Sandjojo. Ketika tiba saat masuk sekolah, anak tidak lagi merasa asing dengan orang-orang yang akan berinteraksi dengan dia di TK.

4. Membeli Peralatan Sekolah


Luangkan waktu khusus pergi ke toko untuk membeli peralatan sekolah yang dibutuhkan anak. Sebelum pergi, buatlah daftar barang belanjaan (tas ransel, kotak makan, dan alat gambar). Si kecil akan sangat bersemangat memilih sendiri keperluan sekolahnya. Ada baiknya Anda bertanya kepada pihak sekolah, perlengkapan yang wajib dibawa dan benda-benda yang tidak diizinkan dibawa murid ke sekolah.

5. Pakaikan Kostum Ramah Anak

Anak TK baru saja belajar menalikan sepatu, menutup ritsleting, dan membuka celana dengan cepat demi mencegah insiden buang air kecil di celana. Berikut kiat berpakaian aman di hari-hari pertama masuk sekolah.

    Pilihlah jaket dengan ritsleting yang mudah dibuka-tutup dan tidak ada bagian yang macet.
    Pilih sepatu dengan perekat Velcro jika anak belum bisa menalikan sepatu dengan lancar.
    Pilih baju berbahan sejuk dan menyerap keringat karena anak yang antusias akan banyak bergerak di hari-hari pertama masuk sekolah.
    Hindari model baju terusan atau overall. Meskipun menggemaskan, model baju itu menyulitkan anak saat hendak buang air kecil.

6. Sesuaikan Jadwal Sehari-hari

Prasekolah tentu punya ritme yang berbeda dengan TK. Anak akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan jadwal baru jika Anda menciptakan jadwal tidur, bangun tidur, dan sarapan, yang berpatokan pada jam masuk sekolah. Mulailah ritual baru itu beberapa saat sebelum hari pertama masuk sekolah.

7. Bermain Pura-pura

Siapkan bekal makan siang, masukkan ke dalam kotak makan. Lalu duduklah di meja makan bersama anak dan lakukan permainan pura-pura makan siang di sekolah. Menyenangkan, bukan? Ajari anak untuk mengeluarkan kotak makan dari dalam tas, serta membuka sendiri kotak makan dan botol minum. Jangan lupa katakan bahwa dia boleh meminta bantuan guru jika menemui kesulitan membuka wadah makanan.

8. Bagaimana dengan Diri Anda?


Apa yang Anda rasakan: Takut? Khawatir? Meskipun Anda berusaha keras menyembunyikan kekhawatiran, anak bisa menangkap nada bicara dan sikap Anda. “Apa yang dirasakan anak adalah refleksi dari perasaan orang tua,” kata Lestari Sandjojo. Jika Anda antusias dan berpikir positif seputar hari pertama masuk sekolah, suka-cita Anda menjadi bagian dari pengalaman anak. Maka selain menyiapkan fisik dan mental anak, Anda juga perlu menyiapkan diri Anda menyambut momen berharga dalam perjalanan hidup si kecil.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Tidak ada mama yang ingin anaknya menjadi orang yang kalah, misalnya tidak memiliki kemampuan apa-apa, makan siang sendirian, atau bahkan terkucil dari teman-temannya. Namun, belajar untuk kalah secara harfiah, menerima kekalahan, dan kemudian bangkit kembali adalah kunci penting kebahagiaan.

Untuk anak lebih kecil:  Berilah contoh berulang kali untuk menerima kekalahan dengan baik. Katakan, “Aduh, Mama kalah lagi, deh. Tapi senang, ya. Main lagi, yuk!” Boleh saja membiarkan anak usia prasekolah untuk sering menang, tetapi perlahan ia harus belajar untuk kalah, jelas Erika Rich, Ph.D., seorang psikolog anak dari Los Angeles yang membentuk kelompok keahlian sosial untuk anak-anak.

Ketika Anda menang, katakan padanya, “Kali ini Mama yang menang, tapi tadi kamu hebat, kok.” Jika si kecil merajuk, jelaskan padanya bahwa tidak ada orang yang ingin kalah, tetapi kekalahan adalah bagian dari permainan. Orang yang benar-benar kalah adalah orang yang tidak berusaha bermain dengan baik. “Sejak usia lima tahun, ia tidak boleh memenangkan setiap permainan, dan harus mulai mengalami kekalahan, walaupun akibatnya ia akan mengamuk,” kata Rich.

Untuk anak yang lebih besar: Sejak berusia 8 tahun, kata Rich, kebanyakan anak cenderung bisa menerima kekalahan dengan tenang. Sebelumnya, mereka merajuk ketika kalah karena terlalu fokus pada hasil akhir sebuah proses (dipilih untuk masuk sebuah tim, mencetak angka paling banyak) sehingga hal-hal menyenangkan yang terjadi dalam prosesnya luput dari perhatian mereka, kata Pam Schiller, Ph.D., pengarang buku “Seven Skills for School Success”.

Kuncinya, alihkan perhatian si kecil dari hadiah. Misalnya, jika ia kalah dalam pertandingan bola, katakan: ”Nggak apa-apa kok, kamu tidak menang”, “Gimana tadi pertandingannya?”, “Kamu senang nggak bermain dengan teman-teman?”, “Senang ya, disemangati teman-teman?”, dan sebagainya.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Anda mungkin ingin anak memiliki identitas dan tidak menjadi anak seragam dengan kelompoknya.

Namun, memahami cara bergabung dalam suatu aktivitas atau kelompok adalah pelatihan yang baik untuk masa depan. “Dalam setiap aspek kehidupan, si kecil harus bekerja sama dalam kelompok, baik untuk kerja kelompok di sekolah atau dalam pekerjaannya nanti,” ujar Erika Rich, Ph.D., seorang psikolog anak dari Los Angeles yang membentuk kelompok keahlian sosial untuk anak-anak.

“Anak-anak dan orang dewasa seringkali harus bergabung dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, dan mereka harus dapat menyelaraskan ide-ide yang berbeda. Mereka yang dapat menyatukan sebuah kelompok biasanya memiliki bakat pemimpin.”

Untuk anak lebih kecil:

Pertama-tama, ajari anak untuk mengenali jalan masuk ke sebuah kelompok, kata psikolog anak Lawrence E. Shapiro, Ph.D., penulis buku “How to Raise a Child with a High EQ”  “Masalahnya, kadang si kecil malah berusaha berbicara ke seluruh kelompok, bukannya memilih satu anak di kelompok tersebut,” ujarnya.

Karena itu, beri petunjuk pada anak, anak mana yang menunjukkan sinyal-sinyal ramah dan mudah didekati. Sinyal-sinyal itu umumnya adalah non-verbal, misalnya seorang anak yang ramah akan melihat ke arah anak dan tersenyum.

Untuk anak lebih besar:

Anak usia sekolah biasanya sudah mengerti sinyal-sinyal non-verbal tetapi mereka cenderung berpikir hitam dan putih. Karena itu, bantu dia untuk fokus terhadap anak-anak yang menyukainya. Anak mungkin hanya perlu bantuan untuk memilih kelompok yang tepat baginya. “Anak biasanya akan bergaul baik dengan anak yang mirip dengan dirinya,” ujar Shapiro. Jika dia pemalu, pasangkan dia dengan anak-anak lain yang juga pemalu; jika ia menyukai Star Wars, arahkan dia untuk bergaul dengan anak-anak yang suka Star Wars.


Menderita batuk dan hidung tersumbat memang sangat membuat sengsara, tapi lebih parah lagi jika Anda melihat si kecil terkena 6-10 kali pilek tahun ini. Semua hal juga jadi lebih sulit karena dokter kini mengatakan bahwa membeli obat bebas di apotek bukanlah ide yang bagus. Tahun lalu, US Food and Drug Adminitstration (FDA) mengatakan bahwa bayi dan batita berusia di bawah 2 tahun tidak boleh mengonsumsi obat batuk dan obat flu yang beredar bebas di pasaran. Ini  karena adanya efek samping potensial yang terjadi, seperti kejang, detak jantung cepat, tekanan darah tinggi, napas pendek, dan bahkan kematian.

Tidak ada studi yang menunjukkan bahwa obat-obatan ini efektif bagi anak-anak. Oktober tahun lalu—atas persetujuan FDA—Consumer Healthcare Products Association mengumumkan bahwa produsen-produsen besar akan memodifikasi label obat batuk dan flu untuk menyatakan bahwa produk tersebut tidak diperuntukkan bagi anak berusia di bawah 4 tahun. FDA masih berusaha meluaskan peringatannya untuk juga memasukkan golongan anak yang lebih besar ke dalamnya, dan American Academy of Pediatrics (AAP) juga mengimbau untuk tidak memberikan obat batuk dan flu pada semua anak berusia di bawah 6 tahun. Jadi apa yang harus diperhatikan orang tua? Kami bertanya pada para ahli bagaimana membantu anak menangkis kuman secepatnya dan agar dia bisa cepat sembuh jika sedang sakit.

Rencana Pencegahan


Anak-anak melewatkan hampir 22 juta hari sekolah setiap tahun karena selesma. Walaupun Anda tidak bisa melindungi si kecil dari setiap virus, berikut adalah kebiasaan sehat yang bisa meningkatkan daya tahannya.

Pastikan dia cukup tidur. Setiap kali si kecil merasa lelah, sistem kekebalan tubuhnya mungkin akan terlalu lamban untuk memerangi kuman jahat. Sayangnya, sepertiga anak tidak mendapatkan tidur selayaknya yang dibutuhkan. Idealnya, bayi membutuhkan 18 jam sehari, batita dan anak prasekolah 12-14 jam, serta anak usia sekolah membutuhkan sampai dengan 11 jam sehari. Mungkin tidak praktis bagi si kecil untuk bangun lebih siang, tapi jika dia tidak memenuhi jumlah jam yang dibutuhkan, usahakan dia tidur lebih cepat.

Ajari untuk sering mencuci tangan. Sekitar 80% penyakit infeksi, termasuk selesma, menular melalui sentuhan. Jadi sangat penting bagi anak untuk sering mencuci tangannya. Demi memastikan dia sering mencuci tangan, buatlah dia bernyanyi “Old MacDonald” selama dia menyabuni kedua sisi tangannya dan di sela-sela jemarinya. Tisu beralkohol atau larutan pembersih tangan steril adalah pilihan tepat untuk dibawa saat bepergian.

Jaga kebersihan rumah. Satu orang anggota keluarga saja yang terkena flu, berarti mengharuskan Anda untuk ekstra berhati-hati membersihkan rumah agar virus tidak tertular pada yang lain. Inilah tantangannya: Virus bisa bertahan hidup sampai dengan 2 jam pada benda-benda seperti cangkir, permukaan meja, dan handuk. Jadi, sterilkan daerah dan benda lain yang sering disentuh dengan bleach atau tisu antibakteri. “Kuman hidup pada remote TV, peralatan permainan video, pegangan kulkas, dan pegangan pintu,” kata Daniel Frattarelli, MD, anggota Committee on Drugs AAP. Ajari anak bagaimana cara bersin dan batuk di sela-sela lekukan sikunya, bukan di tangan, jadi dia tidak akan terlalu menyebarkan kuman di penjuru rumah. Gunakan cangkir karton di kamar mandi, pisahkan juga sikat gigi agar tidak disentuh anak, dan jangan pernah berbagi gelas, piring, atau peralatan makan lainnya.

Kotak Obat

Sebelum ada peringatan terbaru FDA, sekitar 1 dari 10 orang anak mengonsumsi obat batuk atau pilek dalam jangka waktu tertentu. Kini sejak obat-obatan tidak lagi diperuntukkan bagi bayi dan batita, dan dipertanyakan untuk anak yang lebih besar, cobalah beberapa alternatif aman berikut. 

BATUK DAN SAKIT TENGGOROKAN


Batuk membantu anak bernapas lebih lega karena membersihkan lendir hidung dari saluran udara, jadi jangan menghentikannya. “Penekan batuk bisa berbahaya. Mereka membuat beberapa anak menjadi hiperaktif, pusing, dan sulit tidur,” ujar Catherine Tom-Revzon, Pharm D, manajer klinik farmasi anak Children’s Hospital di Montefiore, New York. Meski demikian, semua batuk itu  bisa membuat tenggorokan anak teritasi.

Siapkan pereda yang manis. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa madu lebih baik daripada obat batuk untuk meredakan batuk dan membantu anak yang sedang sakit agar bisa tidur lebih nyenyak. “Madu aman bagi anak berusia 1 tahun ke atas, dan anak-anak juga senang mengonsumsi karena rasanya yang manis,” jelas peneliti Ian Paul, MD, anggota komite farmasi dan terapi klinis AAP. Madu hitam, sepeti buckwheat, lebih manjur karena mengandung antioksidan yang lebih tinggi. Berikan setengah sendok teh pada anak berusia 1-5 tahun dan 1 sendok teh untuk anak berusia 6-11 tahun. Namun jangan memberikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun, mereka bisa mengalami keracunan makanan karena bakteri yang ada di dalamnya.

Sajikan sup. Sup lebih dari sekedar pengobatan cara lawas. Penelitian menunjukkan bahwa sup ayam memiliki kandungan antiperadangan.

Cairan pendorong. Cairan hangat atau sangat dingin bisa mengurangi lendir hidung, sehingga mudah dikeluarkan. Selain itu, cairan juga meringankan keluhan sakit tenggorokan dan membuat anak tidak kekurangan cairan. Suruhlah anak minum air dingin, jus dingin/hangat, atau teh tanpa kafein yang dicampur madu.

Tawarkan sesuatu untuk dihisap. Anak-anak berusia 4 tahun ke atas bisa mengisap obat sakit tenggorokan atau obat batuk tablet, permen keras non-gula, atau bahkan buah berry beku. Es batangan atau es batu bisa menjadi pilihan bagus untuk anak kecil yang tenggorokannya gatal.

HIDUNG TERSUMBAT ATAU PILEK

Anda mungkin akan menghabiskan begitu banyak tisu, tapi semua lendir hidung itu membantu mengeluarkan virus flu dari hidung dan saluran sinus anak. Jangan panik jika Anda mendapati cairan hidungnya berubah warna dari bening menjadi kuning atau hijau. Ini adalah tanda bahwa daya tahan tubuhnya sedang memerangi virus, dan bukan berarti dia memerlukan antibiotik.

Keluarkan cairan hidungnya. Cairkan lendir hidung yang mampet dengan beberapa tetes garam, lalu sedotlah dengan pipet.

Lembapkan udara. Jagalah suhu udara di kamar anak agar lembap untuk meringankan hidungnya yang mampet. Suhu hangat alat pelembap udara dan alat penguap bisa menyebabkan panas yang berbahaya. Bakteri dan jamur tumbuh dengan cepat, jadi gantilah air setiap hari dan bersihkan benar-benar tempat penyimpanannya. Ikuti instruksi yang tertera. Pilihan baik lainnya adalah biarkan anak duduk di ruangan beruap atau mandi dengan air hangat.

Mengganjal. Ganjal kepala anak dengan bantal tambahan di malam hari, sehingga cairan hidung dapat mengering. Untuk bayi, tinggikan kasur bagian kepala di tempat tidurnya dengan mengganjalnya menggunakan ganjalan atau bantal di bawah kasurnya.

DEMAM

Jika suhu tubuh anak meningkat, inilah tanda sistem daya tahan tubuhnya sedang bekerja keras memerangi kuman flu. Jadi lebih baik biarkan saja demamnya keluar, kecuali dia terlihat tidak nyaman. Kecuali jika bayi Anda berusia di bawah 3 bulan dan demam dengan suhu 38 derajat celsius atau di atasnya. Telepon dokter. Demam pada bayi bisa berbahaya.

Mandikan dia. Mandi selama 5 menit menggunakan spons dalam air suam-suam kuku bisa membuat anak merasa lebih dingin dan menurunkan suhu tubuhnya.

Coba penurun demam. Ibuprofen atau acetaminophen seharusnya menurunkan demam anak dan meringankan nyeri tubuh. Namun jangan berlebihan. Menurut studi terbaru John Hopkins Children’s Center, kebanyakan orang tua tidak menunggu jangka waktu yang disarankan untuk dosis pemberian obat dan berakhir dengan pemberian obat yang berlebihan untuk anak mereka yang demam. Selalu berikan acetaminophen—jangan ibuprofen—untuk bayi di bawah 6 bulan, dan jangan pernah memberikan aspirin pada anak. Memberikan aspirin bisa menyebabkan penyakit yang langka dan fatal bernama Reye’s syndrome.

Jangan sampai kekurangan cairan. Si kecil kehilangan banyak cairan saat tubuhnya sedang melawan demam. Jadi pastikan Anda memberikannya banyak asupan cairan agar dia tidak mengalami dehidrasi. Coba berikan rehidrasi oral, yang mengandung campuran air dan garam yang bisa membantu anak mendapatkan cairan tubuh lagi, serta cairan elektrolit.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa anak-anak Amerika di Amerika Serikat menggunakan obat stimulan 30 persen lebih tinggi selama satu tahun ajaran sekolah. Menurut peneliti anak-anak AS menggunakan stimulan untuk membantu mereka mendongkrak prestasi akademis.

Peneliti mengungkapkan obat stimulan bisa meningkatkan konsentrasi dan membantu mengelola gejala yang berhubungan dengan attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD). Obat stimulant adalah obat yang paling banyak digunakan di kalangan remaja. Peneliti mengungkapkan, saat ini, sekitar 6 persen anak-anak AS menggunakan obat stimulan. Jumlah itu naik dari sekitar 2,4 persen dari tahun 1996.

Dalam studi ini, peneliti analisis resep obat stimulan yang diberikan dokter selama tahun ajaran 2007/2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat stimulan selama sekolah tertinggi di antara anak-anak dari keluarga kaya. Penggunaan stimulan selama sekolah juga lebih besar di negara-negara yang memiliki standar akademik yang lebih tinggi.

Meskipun studi ini menemukan hubungan penggunaan obat stimulan dengan sekolah namun penelitian ini tidak dirancang untuk mengetahui alasan mengapa hal itu terjadi. Namun, para peneliti menduga bahwa orang tua—baik sengaja atau tidak—memberikan anak obat stimulan untuk mendapatkan keuntungan pendidikan.

"Banyak orang tua yang dihadapkan pada keputusan sulit. Mereka memberikan anak-anak obat untuk untuk membantu meningkatkan prestasi karena sekolah semakin menuntut prestasi dari siswa," kata penulis penelitian Marissa King, asisten profesor perilaku organisasi di Yale University School of Management.

Menurut King daripada memberikan anak obat-obatan lebih baik melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di sekolah.

Penelitian ini dipublikasikan pada 13 Oktober 2014 di jurnal American Sociological Review.

Sumber : http://parentsindonesia.com/


Menjelang pembagian rapor anak, biasanya pada akhir tahun, Anda harus mengevaluasi apa yang sudah dilakukan anak di sekolahnya.  Selain itu, Apalagi yang harus dilakukan?

1. Review rapor anak. Berikan atensi untuk perkembangan rapor anak. Tanyakan guru anak bagaimana ia di kelas? Apakah Anda bisa bantu? Atau kurang di manakah anak Anda? Coba bahas semua pernyataan guru mereka dengan anak Anda dan berikan solusi bagi anak Anda.

2. Dorong kreativitas anak Anda dengan menyuruhnya ikut berbagai kontes kreatif. Misalnya seperti melukis, menggambar, menkolase, fotografi, menari, dan lain-lain.

3. Manfaatkan undangan konseling dari guru untuk memperoleh masukan tentang nilai anak, sekaligus gunakan kesempatan untuk meminta bantuan guru agar ikut menumbuhkan konsep diri positif dalam diri anak.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Setelah beberapa bulan anak belajar di sekolah, sekitar Oktober dan November, saatnya Anda menjalin hubungan dengan guru anak Anda.

Lakukan tips ini:
1. Jadilah orang tua kelas anak. Bangunlah hubungan yang lebih dekat dengan guru maka Anda dapat melihat apa yang terjadi di kelas tanpa harus bersusah payah. Orangtua kelas biasanya mengorganisasikan sukarelawan orangtua untuk pesta dan acara sekolah, membantu guru untuk membuat surat, ataupun dokumen foto dalam buku tahunan sekolah. Tanyakan guru apa yang benar-benar mereka perlukan tahun ini.

2. Koneksikan anak dengan guru. Banyak sekolah yang merencanakan pertemuan antara orang tua dan guru sekitar bulan Oktober dan November. Datang ke pertemuan tersebut merupakan prioritas untuk orang tua dan wali.

Ini merupakan kesempatan Anda untuk melihat apa yang terjadi dengan anak Anda dan untuk bersama-sama memajukan anak Anda. Tanyakan kepada guru Anda: “Apa yang dapat dilakukan di rumah untuk dapat melatih apa yang sudah mereka pelajari?” Susun pertanyaan yang dapat didiskusikan dalam pertemuan orang tua dan guru.

3. Kenali masalah anak di sekolah. Apakah anak Anda memiliki masalah di sekolahnya? Tanyakan gurunya tentang program bimbingan belajar untuk membantu pemahaman anak Anda tentang pelajarannya di sekolah.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Tahukah Mama bahwa meski lampu tidur dapat membuat anak terjaga dan menghindarkan anak dari rasa takut, ternyata lampu tidur memiliki dampak yang buruk terhadap kesehatan anak loh Ma! Menurut penelitian yang dilakukan Ohio State University Medical Center yang dipublikasikan pada Juli 2013, tidur dengan lampu menyala bisa menimbulkan perubahan struktur pada otak dan menyebabkan depresi.

Ohio State University melakukan penelitian dengan seekor hamster yang terus diberikan lampu menyala pada malam hari. Setelah beberapa hari hamster itu menunjukkan tanda-tanda depresi. Namun gejala depresi itu hilang dalam dua pekan setelah si hamster kembali tidur dengan lampu mati pada malam hari.

Sementara itu, peneltian lain menyimpulkan bahwa tidur dengan lampu menyala dapat menyebabkan berat badan naik. Penelitian tentang hal tersebut dilakukan oleh  American Medical Association (AMA). Saat orang tidak punya waktu yang cukup berada dalam kegelapan, ternyata tubuh tidak memproduksi hormon melatonin, hormon yang membuat kantuk.

Hormon tersebut juga bisa mempengaruhi seberapa nyenyak kita tidur dan pukul berapa kita bangun. Nah, karena tidur tidak nyenyak maka seseorang akan sering bangun dan menimbulkan keinginan untuk makan pada malam hari.
Dalam penelitian ini AMA juga melaporkan penggunaan barang elektronik seperti komputer, laptop, dan telepon genggam bisa mengakibatkan gangguan tidur terutama pada anak dan remaja. Itu karena layar elektronik memancarkan banyak cahaya biru, yang dikenal bisa menghambat produksi hormon melatonin.

Dari hasil penelitian tersebut bisa disimpulkan bahwa tidur dengan lampu menyala memang kurang baik bagi anak. Daripada anak mengalami gangguan tidur, depresi, dan kenaikan berat badan, lebih baik biasakan anak Anda tidur dengan lampu dimatikan.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Tidak ada mama yang ingin anaknya menjadi orang yang kalah, misalnya tidak memiliki kemampuan apa-apa, makan siang sendirian, atau bahkan terkucil dari teman-temannya. Namun, belajar untuk kalah secara harfiah, menerima kekalahan, dan kemudian bangkit kembali adalah kunci penting kebahagiaan.

Untuk anak lebih kecil:  Berilah contoh berulang kali untuk menerima kekalahan dengan baik. Katakan, “Aduh, Mama kalah lagi, deh. Tapi senang, ya. Main lagi, yuk!” Boleh saja membiarkan anak usia prasekolah untuk sering menang, tetapi perlahan ia harus belajar untuk kalah, jelas Erika Rich, Ph.D., seorang psikolog anak dari Los Angeles yang membentuk kelompok keahlian sosial untuk anak-anak.

Ketika Anda menang, katakan padanya, “Kali ini Mama yang menang, tapi tadi kamu hebat, kok.” Jika si kecil merajuk, jelaskan padanya bahwa tidak ada orang yang ingin kalah, tetapi kekalahan adalah bagian dari permainan. Orang yang benar-benar kalah adalah orang yang tidak berusaha bermain dengan baik. “Sejak usia lima tahun, ia tidak boleh memenangkan setiap permainan, dan harus mulai mengalami kekalahan, walaupun akibatnya ia akan mengamuk,” kata Rich.

Untuk anak yang lebih besar: Sejak berusia 8 tahun, kata Rich, kebanyakan anak cenderung bisa menerima kekalahan dengan tenang. Sebelumnya, mereka merajuk  ketika kalah karena terlalu fokus pada hasil akhir sebuah proses (dipilih untuk masuk sebuah tim, mencetak angka paling banyak) sehingga hal-hal menyenangkan yang terjadi dalam prosesnya luput dari perhatian mereka, kata Pam Schiller, Ph.D., pengarang buku “Seven Skills for School Success”.

Kuncinya, alihkan perhatian si kecil dari hadiah. Misalnya, jika ia kalah dalam pertandingan bola, katakan: ”Nggak apa-apa kok, kamu tidak menang”, “Gimana tadi pertandingannya?”, “Kamu senang nggak bermain dengan teman-teman?”, “Senang ya, disemangati teman-teman?”, dan sebagainya. 

Sumber : http://www.parenting.co.id/

Anda mungkin ingin anak memiliki identitas dan tidak menjadi anak seragam dengan kelompoknya.

Namun, memahami cara bergabung dalam suatu aktivitas atau kelompok adalah pelatihan yang baik untuk masa depan. “Dalam setiap aspek kehidupan, si kecil harus bekerja sama dalam kelompok, baik untuk kerja kelompok di sekolah atau dalam pekerjaannya nanti,” ujar Erika Rich, Ph.D., seorang psikolog anak dari Los Angeles yang membentuk kelompok keahlian sosial untuk anak-anak.

“Anak-anak dan orang dewasa seringkali harus bergabung dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, dan mereka harus dapat menyelaraskan ide-ide yang berbeda. Mereka yang dapat menyatukan sebuah kelompok biasanya memiliki bakat pemimpin.”

Untuk anak lebih kecil:

Pertama-tama, ajari anak untuk mengenali jalan masuk ke sebuah kelompok, kata psikolog anak Lawrence E. Shapiro, Ph.D., penulis buku “How to Raise a Child with a High EQ”  “Masalahnya, kadang si kecil malah berusaha berbicara ke seluruh kelompok, bukannya memilih satu anak di kelompok tersebut,” ujarnya.

Karena itu, beri petunjuk pada anak, anak mana yang menunjukkan sinyal-sinyal ramah dan mudah didekati. Sinyal-sinyal itu umumnya adalah non-verbal, misalnya seorang anak yang ramah akan melihat ke arah anak dan tersenyum.

Untuk anak lebih besar:

Anak usia sekolah biasanya sudah mengerti sinyal-sinyal non-verbal tetapi mereka cenderung berpikir hitam dan putih. Karena itu, bantu dia untuk fokus terhadap anak-anak yang menyukainya. Anak mungkin hanya perlu bantuan untuk memilih kelompok yang tepat baginya. “Anak biasanya akan bergaul baik dengan anak yang mirip dengan dirinya,” ujar Shapiro. Jika dia pemalu, pasangkan dia dengan anak-anak lain yang juga pemalu; jika ia menyukai Star Wars, arahkan dia untuk bergaul dengan anak-anak yang suka Star Wars.

Sumber : http://www.parenting.co.id/


Ada cara tepat agar piranti rumah tangga, ketenangan, dan energi Anda tidak habis terkuras.

Baru-baru ini, kami merenovasi rumah, dan kelihatannya kedua putri kami punya cara baru menguji otoritas mereka. Hanya beberapa menit setelah kami pindah ke rumah lagi seusai renovasi, Lucy, 4 tahun, sudah main perosotan di pegangan tangga bergaya awal tahun 1900-an, sementara Olivia, 9 tahun, langsung menuju ruang tamu yang masih kinclong sambil membawa sekantong cracker dan remah-remahnya pun langsung berjatuhan selagi ia berjalan.

Melihat ulah mereka, saya langsung terpana, wah, harus ada beberapa aturan baru, nih. Tapi, larangan seperti apa yang bisa diterima oleh semuanya?

Haruskah main perosotan di pegangan tangga dilarang? Atau, ada gunanya nggak ya, melarang sesuatu yang sangat menggoda untuk dilakukan?

Bagaimana dengan larangan makan di ruang keluarga? Konyolkah kalau menganggap aktivitas menonton TV tidak boleh digabung dengan ngemil?

Dan apakah saya dan suami, harus mematuhi aturan yang sama seperti yang kami terapkan pada anak-anak?
Mengingat proses pembentukan peradaban memang tidak selalu berjalan mulus, berikut ini beberapa cara—bila memang Anda perlukan—untuk menerapkan peraturan di rumah.

Menjadi diri sendiri

Tentu saja saya akan senang seandainya rumah saya seindah rumah-rumah di majalah desain dan interior. Tetapi dengan dua anak, saya tak bisa membayangkan apa yang harus saya korbankan demi mewujudkannya. Suami dan saya memang mengenal beberapa orangtua yang bisa mempertahankan rumahnya tetap bersih mengilat. Tetapi karena kami tak punya kekuatan untuk mewujudkannya, kami bahkan tidak mencoba melakukannya.

Jujurlah pada diri sendiri tentang apa yang Anda anggap paling penting. “Kadang-kadang, orang menerapkan aturan karena dulu orangtua mereka  juga menerapkannya saat mereka masih kanak-kanak, atau karena sepertinya itulah hal yang tepat untuk dilakukan. Tapi, peraturan yang dipaksakan akan sulit ditegakkan,” kata Marvin Berkowitz, Ph.D., pengarang Parenting for Good. “Fokuskan pada beberapa peraturan yang terpenting saja, yang memprioritaskan keselamatan.”

Aprilia Kirana dari Kota Wisata, Cibubur, sama sekali tak mengizinkan putrinya, Sharen, 5 tahun, main lompat-lompatan di tempat tidur. Dan itu memang beralasan. “Neneknya pernah membiarkan dia pecicilan di tempat tidur, dan akibatnya dia terlempar dari kasur dan terluka,” kata Aprilia.

Tentunya Anda tak perlu menerapkan aturan tertentu karena terlanjur ada kejadian yang kurang menyenangkan. Intinya, masing-masing orangtua bisa menerapkan disiplin yang berbeda tergantung kebutuhan. Jadi, lakukan apa yang paling sesuai untuk keluarga Anda.

Bersikaplah logis

Apakah seharusnya ada satu set aturan untuk semua anak di rumah Anda? Tidak juga. “Pertimbangkan perkembangan masing-masing anak,” saran Karen Gouze, Ph.D., psikolog anak di Children’s Memorial Hospital di Chicago, yang juga ibu tiga anak.

Sarah dari Green Garden, misalnya, membolehkan sulungnya, Carla, 8 tahun, untuk mencuci piringnya sendiri sehabis makan, tetapi hal itu terlarang bagi adiknya. Caren, 5 tahun belum diijinkan membantu, karena takut piring yang sedang dicucinya justru meluncur jatuh. Biasanya Caren hanya akan berdiri di samping Carla dan sesekali ikut menjulurkan tangan untuk bermain-main dengan air yang mengucur dari keran.

Sesuaikan hukuman dengan pelanggaran

Anak-anak di bawah 8 tahun memiliki rasa keadilan yang kaku, dan tampaknya akan bersedia menerima konsekuensi asalkan terlihat adil dan berhubungan langsung dengan pelanggarannya, kata Gouze. “Jika seorang anak tidak mau berbagi mainan ketika temannya main ke rumah, konsekuensi yang logis adalah mencoret acara main bareng sampai beberapa hari,” katanya.

Mungkin Anda dapat mencoba memasang peraturan agar semua terlihat jelas. “Jika Anda bisa menjaga untuk tidak memakai suara otoriter Anda sebagai orangtua, posisi Anda akan lebih baik, dan Anda dapat menghindari ribut-ribut soal wewenang,” ujar Gouze. “Anak-anak tidak semudah itu melanggar peraturan yang tertulis hitam di atas putih.”

Bersikaplah fleksibel

Jika Anda memutuskan untuk mengubah suatu aturan—entah membuatnya lebih tegas atau lebih longgar—sebaiknya Anda menjelaskan alasannya. (“Mama tahu Mama pernah mengizinkan kalian makan di ruang keluarga, tapi karena ada ‘kecelakaan’ jus anggur tumpah, Mama sekarang memutuskan makan di ruang keluarga itu bukan ide yang bagus.”)  “Anda bisa menunjukkan simpati atas kekecewaan anak-anak, tapi tetap tegas dengan keputusan Anda,” kata Virginia Shiller, Ph.D., pengarang Rewards for Kids! Ready-to-Use Charts & Activities for Positive Parenting.

Sebaliknya, anak-anak yang usianya lebih besar, bisa saja ‘melobi’ agar peraturan berubah. “Kami punya peraturan ‘makanan tidak boleh dibawa ke lantai atas’, tapi baru-baru ini putri saya, 9 tahun, mengajak temannya menginap, dan ia bertanya apakah boleh makan di atas kalau mereka mengalasi lantai dengan karpet plastik terlebih dulu. Saya mengizinkan, karena solusi itu langsung mengatasi masalah yang telah memunculkan peraturan tersebut," kata seorang ibu di Virginia.

Lakukan hal yang sama

Agar menjadi panutan yang baik dan Anda tidak terlihat munafik, lakukan apa yang Anda ajarkan (meski jelas orang dewasa berhak punya beberapa kelonggaran, misalnya menonton TV sampai larut, semata karena mereka sudah dewasa).

Maria dari Serpong ingat ketika ia dan suaminya tertangkap basah bicara dengan mulut penuh oleh putri mereka, Jasmine, 5. Padahal Jasmine tahu peraturan di meja makan melarang hal itu. “Sesekali kami juga melanggar, dan sudah mengaku kami salah,” ujar Marietta, seorang ibu asal Georgia. “Saya rasa akan sangat membantu bagi anak-anak untuk percaya bahwa peraturan di rumah berlaku untuk semua anggota keluarga.”
Suami dan saya pun berusaha untuk selalu hati-hati menaati peraturan-peraturan baru yang kami buat bagi kedua putri kami, khususnya setelah Lucy menangkap basah saya main perosotan di pegangan tangga. Percaya, deh, tertangkap basah itu ternyata sungguh tidak enak.

Tamu boleh tak patuh?

Anda tidak dapat mengontrol apa yang diizinkan (atau tidak diizinkan) keluarga lain di rumah mereka sendiri, tapi Anda punya hak untuk menegakkan peraturan di rumah Anda.

Ketika Anda melihat ada anak yang melanggar peraturan, katakan dengan tenang, “Di rumah ini, kami berbuat A.” Kalau ia protes, bilang bahwa orangtuanya mengizinkan ia berbuat B, “ jelaskan padanya, ‘Di rumahmu, orangtuamu yang membuat peraturan. Tapi di rumah ini, kami yang membuatnya’,” jelas Marvin Berkowitz, Ph.D., pengarang Parenting for Good.

Sebagian besar anak akan patuh begitu mereka diberitahu aturannya, yang sebaiknya sudah Anda jelaskan sebelumnya. Namun, jika si anak tetap membangkang, berarti sudah saatnya untuk bicara pada orangtuanya (misalnya, saat si anak dijemput), atau bilang padanya ia takkan diundang bermain lagi ke rumah Anda, kecuali ia mau mematuhi aturan keluarga Anda.

Sumber : http://www.parenting.co.id/

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget